BAB 2.TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Evaluasi Program
2.3.3 TahapanEvaluasi Program
Dimensi utama evaluasi diarahkan kepada hasil, manfaat, dan dampak dari program. Pada prinsipnya yang perlu dibuat perangkat evaluasi yang dapat diukur melalui empat dimensi yaitu (Muninjaya, 2004)
a. Indikator masukan (Input)
Masukan (input) adalah sumber-sumber daya manajemen yang dapat dikelompokkan atas sumber daya manusia (human resource) dan sumber daya non manusia (non human resource) yang meliputi sumber daya finansial (financial), sumber daya fisik (physical resource), serta sumber daya sistem dan teknologi (system and technologicalresource) (Sulaeman, 2011).
Semua masukan ini dievaluasi sebelum kegiatan program dilaksanakan, bertujuan untuk mengetahui apakah sumber daya yang dimanfaatkan sudah sesuai dengan standar dan kebutuhan.Kegiatan evaluasi ini juga bersifat pencegahan (Muninjaya, 2004).
b. Proses (Process)
Dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung, untuk mengetahui apakah metode yang dipilih sudah efektif, bagaimana dengan motivasi staf dan komunikasi diantara staf dan sebagainya. Proses ini dapat dikaitkan dengan fungsi manajemen yaitu Planning, Organizing, Actuating, dan Controling (POAC).
1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah sebuah proses yang di mulai dengan merumuskan tujuan organisasi, sampai dengan menetapkan alternative kegiatan untuk mencapainya. Tanpa ada fungsi perencanana tidak akanada kejelasan kegiatan yang akan di lakukan oleh staf untuk mencapai tujuan organisasi.
Melalui funsi perencanaan akan dapat di tetapkan tugas-tugas pokok staf, dan dengan tugas-tugas ini seorang pemimpin akan mempunyai pedoman supervise dan menetapkan sumber daya yang di butuhkan oleh staf untuk menjalankan tugas-tugasnya .
2. Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian adalah suatu rangkaian kegiatan manajemen untuk menghimpun semua sumber daya (potensi) yang dimiliki oleh organisasi
dan memanfaatkannya secara efisien untuk mencapai tujuan organisasi.Atas dasar pengertian tersebut fungsi pengorganisasian juga meliputi langkah untuk menetapkan, menggolong-golongkan dan mengatur berbagai macam kegiatan, menetapkan tugas-tugas pokok dan wewenang, dan pendelegasian wewenang oleh pimpinan kepada staf dalam rangka mencapai tujuan organisasi.secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan organisasi (Muninjaya, 2004).
Keefektifan organisasi terlihat dari struktur organisasi yang dibentuk.
Dengan menempatkan orang-orang sesuai dengan keahliaan dan pengalamanya akan mampu membuat organisasi mencapai tujuannya danTugas-tugas staf dan mekanisme pelimpahan wewenang dapat diketahui melalui struktur organisasi yang dianut(Robbins, 2007).
3. Pelaksanaan (Actuasiting)
Pelaksanaan adalah usaha untuk menciptakan iklim kerja sama diantara staf pelaksana program sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien dan proses bimbingan kepada staf agar mereka mampu bekerja secara optimal menjalankan tugas-tugas pokoknya sesuai dengan keterampilan yang telah dimiliki, dan dukungan sumberdaya yang tersedia (Muninjaya, 2004).
Prinsip pembagian kerja dan pelimpahan wewenang sangat berkaitan dengan hubungan pribadi. Mekanisme komunikasi antara pimpinan dengan
staf akan sangat mempengaruhi keberhasilan dalam pelaksanaan program yang sudah disusun sebelumnya(Muninjaya, 2004).
4. Pengawasan dan Pengendalian (Controling)
Pengawasan dan pengendalian merupakan fungsi dari proses untuk mengamati secara terus menerus pelaksanaan kegiatan sesuai denagn pelaksanaan kegiatan seseui dengan rencana kerja yang sudah di susun dan mengadakan koreksi jika terjadi penyimpangan. Fungsi pengawasan dan pengendalian bertujuan agar penggunaan sumber daya dapat lebih diefisienkan, dan tugas-tugas staf dapat dipantau secara berkelanjutan dengan perumusan standar kinerja staf (standard performance sesuai dengan prosedur tetap) oleh Direktur yang disesuaikan dengan pencapaian tujuan dari organisasi (Muninjaya, 2004).
c. Keluaran (Output)
Dilaksanakan setelah pekerjaan selesai dilaksanakan untuk mengetahui efek dari program yang sudah dikerjakan.
2.4 Faktor-faktor yang di Butuhkan dalamPelaksanaan Pencegahan Infeksi Nosokomial
2.4.1 Organisasi
Faktor- faktor yang termasuk didalam organisasi adalah struktur organisasi, uraian tugas dan program kerja.
a. Struktur Organisasi
Struktur organisasi adalah sebagai penentuan bagaimana pekerjaan dibagi, dibagi dan dikelompokkan secara formal.Sedangkan organisasi merupakan unit sosial yang dikoordinasikan secara sadar, terdiri dari dua orang atau lebih dan berfungsi dalam suatu dasar yang relatif terus-menerus guna mencapai serangkaian tujuan bersama (Robbins, 2007).
Kemampuan implementing agency untuk menjalankan peranya sangat dipengaruhi oleh kapasitas organisasi tersebut. Kapasitas organisasi itu sendiri merupakan fungsi dari berbagai macam hal seperti: ketetapan struktur, jumlah dan kualitas SDM yang dimiliki, businesss process yang dirancang untuk menjalankan peran yang harus diemban oleh organisasi, dan last but not leastdukungan lingkungan dimana tugas organisasi tersebut harus dilakukan(Purwato dan Sulistyastuti, 2012).
Struktur organisasi merupakan wadah atau wahana interaksi di mana para petugas, birokrasi, atau pejabat yang berwenang mengola implementasi kebijakan dengan berbagai kegiatanya sertakapasitas organisasi sebagai suatu kesatuan unsur organisasi yang melibatkan:
1. Struktur
2. Mekanisme kerja atau koordinasi antar unit yang terlibat dalam implementasi.
3. Sumber daya manusia yang ada dalam organisasi.
KOMITE PPI
TIM PPI
KOMITE DIREKTORAT DIREKTORAT DIREKTORAT
DIREKTUR UTAMA
4. Dukungan finansial serta sumber daya yang dibutuhkan organisasi tersebut untuk bekerja (Purwato dan Sulistyastuti, 2012).
Proses implementasi yang menggunakan mekanisme kerja yang bersifat sequential terjadi ketika implementasi suatu kebijakan melibatkan banyak organisasi dengan kelompok sasaran tertentu dan Hubungan antar organisasi (interorganizational) dipahami sebagai interaksi diantara berbagai organisasi yang terlibat dalam proses implementasi untuk mewujudkan tujuan kebijakan yang telah ditetapkan (Purwato dan Sulistyastuti, 2012).
Struktur organisasi komite pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial di rumah sakit atau pasilitas kesehatan lainnya.
Gambar 2.1 Struktur Organisasi Komite PPIRS
Sumber : Pedoman Manjerial Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya (Depkes RI, 2007)
Gambar 2.2 Struktur Organisasi Komite PPIRS RSUP H. Adam Malik Sumber : Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit Umum
Pusat H. Adam Malik Medan (Komite PPIRS, 2015).
Struktur organisasi komite pencegahan dan pengendalian IN bervariasi dan sangat bergantung pada situasi dan kondisi rumah sakit.Prinsipnya ada dua tingkatan organisasi yaitu tingkat penentu atau penyusun kebijakan dan tingkat pelaksanaan kebijakan pencegahan dan pengendalian infeksi nosocomial. Direktur dan komite PPI merupakan tingkat penentu atau penyusun kebijakan sedang tim PPI merupakan pelaksana kebijakan.
Organisasi/ komite dibentuk dari sebanyak mungkin perwakilan departemen di rumah sakit dan secara berkala mengadakan pertemuan untuk menangani perkembangan dan masalah terkini. Alasan yang mendasari pentingnya ada perwakilan dari tiap departemen :
Direktur Utama
Komite- komite Direktur-Direktur
Komite PPIRS
Ketua: dr.Yosia Ginting SpPD,KPTI Wk. Ketua:dr.Ricke Loesnihari SpPK(K)
Sekretaris IPCN
1 Permasalan dalam upaya pencegahan dan pengendalian IN sering lalai lintas departemen sehingga untuk penyelesaiannya membutuhkan peran serta dari semua departemen di rumah sakit.
2 Pelaksanaan kebijakan yang telah diambil lebih efektif apabila peran serta setiap departemen untuk memberikan pengaruhnya terhadap anggota departemennya masing-masing.
3 Perwakilan dari setiap departemen di Komite PPIRS memberikan dukungan yang kuat bagi otoritasnya sebagai advokat bagi keseluruhan rumah sakit.
b. Uraian Tugas
Uraian tugas merupakan uraian tertulis tentang apa yang menjadi konstribusi tiap pemegang jabatan kepada organisai. Kata kunci dari pengertian ini adalah kontribusi. Ini berarti bahwa uraian tugas haruslah memuat hal-hal apasaja yang merupakan konstribusi dari sebuah jabatan
Adapun uraian tugas Komite PPIRS adalah sebagai berikut menurut Depkes RI, 2008.
a. Direktur
Direktur adalahpimpinan tertinggi yang ada di dalam organisasi rumah sakit (Perpres, 2015).
Adapun tugas direktur sebagai berikut:
1. Membentuk Komite dan Tim PPIRS dengan Surat Keputusan.
2. Bertanggung jawab dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap penyelenggaraan upaya pencegahan dan pengendalian IN.
3. Bertanggung jawab terhadap tersedianya fasilitas sarana dan prasarana termasuk anggaran yang dibutuhkan.
4. Menentukan kebijakan pencegahan dan pengendalian IN.
5. Mengadakan evaluasi kebijakan pencegahan dan pengendalianIN berdasarkan saran dari Komite PPIRS.
6. Mengadakan evaluasi kebijakan pemakaian antibiotika yang rasional dan disinfektan di rumah sakit berdasarkan saran dari Komite PPIRS.
7. Dapat menutup suatu unit perawatan atau instalasi yang dianggap potensial menularkan penyakit untuk beberapa waktu sesuai kebutuhan berdasarkan saran dari Komite PPIRS.
8. Mengesahkan Standar Prosedur Operasional (SPO) untuk PPIRS.
b. Komite PPI
Komite PPI adalah unsur organisasi yang mempunyai tanggung jawab untuk menerapkan tata kelola dalam melaksanankan tugasnya di dalam PPI yang baik (good clinical governance). (Perpres, 2015)
a. Kriteria Anggota Komite PPI : 1. Mempunyai minat dalam PPI.
2. Pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar PPI.
b. Tugas dan Tanggung Jawab Komite PPI :
1. Menyusun dan menetapkan serta mengevaluasi kebijakan PPI.
2. Melaksanakan sosialisasi kebijakan PPIRS, agar kebijakan dapat dipahami dan dilaksanakan oleh petugas kesehatan rumah sakit.
3. Membuat SPO PPI.
4. Menyusun program PPI dan mengevaluasi pelaksanaan program tersebut.
5. Bekerjasama dengan Tim PPI dalam melakukan investigasi masalah atau KLB infeksi nosokomial.
6. Memberi usulan untuk mengembangkan dan meningkatkan cara pencegahan dan pengendalian infeksi.
7. Memberikan konsultasi pada petugas kesehatan rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dalam PPI.
8. Mengusulkan pengadaan alat dan bahan yang sesuai dengan prinsip PPI dan aman bagi yang menggunakan.
9. Mengidentifikasi temuan di lapangan dan mengusulkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) rumah sakit dalam PPI.
10. Melakukan pertemuan berkala, termasuk evaluasi kebijakan.
11. Menerima laporan dari Tim PPI dan membuat laporan kepada Direktur dan berkoordinasi dengan unit terkait lain.
12. Memberikan usulan kepada Direktur untuk pemakaian antibiotika yang rasional di rumah sakit berdasarkan hasil pantauan kuman dan resistensinya terhadap antibiotika dan menyebar-luaskan data resistensi antibiotika.
13. Menyusun kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja (K3).
14. Turut menyusun kebijakan clinical governance dan patient safety.
15. Mengembangkan, mengimplementasikan dan secara periodik mengkaji kembali rencana manajemen PPI apakah telah sesuai kebijakan manajemen rumah sakit.
16. Memberikan masukan yang menyangkut konstruksi bangunan dan pengadaan alat dan bahan kesehatan, reno-vasi ruangan, cara pemrosesan alat, penyimpanan alat dan linen sesuai dengan prinsip PPI.
17. Menentukan sikap penutupan ruangan rawat bila diperlukan karena potensial menyebarkan infeksi.
18. Melakukan pengawasan terhadap tindakan-tindakan yang menyimpang dari standar prosedur / monitoring surveilans proses.
19. Melakukan investigasi, menetapkan dan melaksanakan penanggulangan infeksi bila ada KLB di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
c. IPCO / Infection Prevention and Control Officer a. Kriteria IPCO :
1. Ahli atau dokter yang mempunyai minat dalam PPI.
2. Mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar PPI.
3. Memiliki kemampuan leadership.
b Tugas IPCO :
1. Berkontribusi dalam diagnosis dan terapi infeksi yang benar.
2. Turut menyusun pedoman penulisan resep antibiotika dan surveilans.
3. Mengidentifikasi dan melaporkan kuman patogen dan pola resistensi antibiotika.
4. Bekerjasama dengan Perawat PPI memonitor kegiatan surveilans infeksi dan mendeteksi serta menyelidiki KLB.
5. Membimbing dan mengajarkan praktek dan prosedur PPI yang berhubungan dengan prosedur terapi.
6. Turut memonitor cara kerja tenaga kesehatan dalam merawat pasien.
7. Turut membantu semua petugas kesehatan untuk memahami pencegahan dan pengendalian infeksi.
d. IPCN (Infection Prevention and Control Nurse) a. Kriteria IPCN :
1. Perawat dengan pendidikan min D3 dan memiliki sertifikasi PPI.
2. Memiliki komitmen di bidang pencegahan dan pengendalian infeksi.
3. Memiliki pengalaman sebagai Kepala Ruangan atau setara.
4. Memiliki kemampuan leadership, inovatif dan convident.
5. Bekerja purna waktu.
b. Tugas dan Tanggung Jawab IPCN :
1. Mengunjungi ruangan setiap hari untuk memonitor kejadian infeksi yang terjadi di lingkungan kerjanya, baik rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
2. Memonitor pelaksanaaan PPI, penerapan SPO, kewaspadaan isolasi.
3. Melaksanakan surveilans infeksi dan melaporkan kepada Komite PPI.
4. Bersama Komite PPI melakukan pelatihan petugas kesehatan tentang PPI di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
5. Melakukan investigasi terhadap KLB dan bersama-sama Komite PPI memperbaiki kesalahan yang terjadi.
6. Memonitor kesehatan petugas kesehatan untuk mencegah penularan infeksi dari petugas kesehatan ke pasien atau sebaliknya.
7. Bersama Komite menganjurkan prosedur isolasi dan memberi konsultasi tentang pencegahan dan pengendalian infeksi yang diperlukan pada kasus yang terjadi di rumah sakit.
8. Audit Pencegahan dan Pengendalian Infeksi termasuk terhadap limbah, laundry, gizi, dan lain-lain dengan mengunakan daftar tilik.
9. Memonitor kesehatan lingkungan.
10. Memonitor terhadap pengendalian penggunaan antibiotika yang rasional.
11. Mendesain, melaksanakan, memonitor dan mengevaluasi surveilans infeksi yang terjadi di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
12. Membuat laporan surveilans dan melaporkan ke Komite PPI.
13. Memberikan motivasi dan teguran tentang pelaksanaan kepatuhan PPI.
14. Memberikan saran desain ruangan rumah sakit agar sesuai dengan prinsip PPI.
15. Meningkatkan kesadaran pasien dan pengunjung rumah sakit tentang PPIRS.
16. Memprakarsai penyuluhan bagi petugas kesehatan, pengunjung dan keluarga tentang topik infeksi yang sedang berkembang di masyarakat, infeksi dengan insiden tinggi.
17. Sebagai koordinator antara departemen / unit dalam mendeteksi, mencegah dan mengendalikan infeksi di rumah sakit.
e. IPCLN (Infection Prevention and Control Link Nurse) a. Kriteria IPCLN :
1. Perawat dengan pendidikan min D3 dan memiliki sertifikasi PPI.
2. Memiliki komitmen di bidang pencegahan dan pengendalian infeksi.
3. Memiliki kemampuan leadership.
b. Tugas IPCLN :
IPCLN sebagai perawat pelaksana harian / penghubung bertugas:
1. Mengisi dan mengumpulkan formulir surveilans setiap pasien di unit rawat inap masing-masing, kemudian menyerahkan-nya kepada IPCN ketika pasien pulang.
2. Memberikan motivasi dan teguran tentang pelaksanaan kepatuhan pencegahan dan pengendalian infeksi pada setiap personil ruangan di unit rawatnya masing-masing.
3. Memberitahukan kepada IPCN apabila ada kecurigaan adanya IN pada pasien.
4. Berkoordinasi dengan IPCN saat terjadi infeksi potensial KLB, penyuluhan bagi pengunjung di ruang rawat masing-masing, konsultasi prosedur yang harus dijalankan bila belum faham.
5. Memonitor kepatuhan petugas kesehatan yang laindalam menjalankan standar isolasi.
3.1.2 Program Kerja
Program pencegahan dan pengendalian IN adalah kegaiatan yang meiputi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan serta pembinaan dalam upaya menurunkan angka kejadian IN di rumah sakit (Depkes RI, 2008). Prosedur baku perlu dibuat untuk setiap tindakan-tindakan yang berkaitan dengan pencegahan dan pengendalian INkerena kegiatan ini melibatakan berbagai disiplin ilmu dan tingkatan personil di rumah sakit.
Tujuan program pencegahan dan pengendalian IN adalah untuk melindungi pasien, petugas dan pengunjung.Program pencegahan dan pengendalian IN dicapai melalui kegiatan survailans, menerapkan kewaspadaan isolasi, pendidikan dan pelatiahan, pengembangan kewajiban kebijakan atau prosedur.Untuk perlu ditujang oleh perencanaan secara rinci dalam membuat strategi dan langkah yang memerlukan
koordinasi dari banyak pihak, baik individu, bagian, ataupun unit pelayanan disarana kesehatan tersebut.Program harus dijabarkan secara tertulis dan menjadi dasar perencanaan pencegahan dan pengendalian IN, serta memuat unsur standar akreditasi rumah sakit dan juga ketentuan pemerintah yang berlaku (Depkes RI, 2008).
2.3.1 Organisasi/ Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit
Organisasi dapat digunakan dalam menilai keberhasilan pelaksanaan program pengendalian IN mengingat sistematikanya sesuai dengan langkah-langkah kegiatan pengendalian IN. dalam rangkaian pelaksanaan kegiatan yang saling berhubungan, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan. Setiap sistem terdiri atas lima unsure yaitu :input, proses, output, control dan mekanisme unpan balik (feedback).
a. Input
Input dalam pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian IN ditinjai dari manajemen dan organisasi.Dalam mengembangkan penerapan pencegahan dan pengendalian IN maka langkah yang harus ditempuh (Depkes RI, 2008).
1. Advokasi pada penentu kebijakan tentang pentingnya penerapan pencegahan dan pengendalian IN.
2. Membentuk organisasi yang bertanggung jawab dalam pencegahan dan pengendalian IN.
3. Mengembangkan pedoman dan standar operasional procedure.
4. Melaksanakan pelatihan dan supervisi.
5. Menyediakan bahan, alat dan instalasi yang diperlukan.
6. Memantau dan mengawasi pelaksanaannya.
7. Melaksanakan survailans dan pencatatan dan pelaporan.
Didalam pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian IN memerlukan koordinasi dari berbagai pihak oleh karena itu diperlukan jalur komunikasi dan garis komando yang tergambar jelas di dalam struktur organisasi dan dikomunikasikan kepada seluruh staf. Hal terpenting dalam melaksanakan semua kegiatan dalam rangka pencegahan dan pengendalian IN adalah apa yang dinyatakan Haley, 1985 seperti dikutip Wirjoatmodjo, 1988 pencegahan IN sesungguhnya adalah masalah pengawasan dan peningkatan kemampuan manusia, bukannya membunuh kuman dengan lebih sempurna atau membeli peralatan yang lebih baik.
b. Proses
Proses pada umunya melibatkan kelompok pimpinan hingga pelakasana.
Tahap proses merupakan kegiatan yang sangat penting dalam suatu sistem sehingga dapat mempengaruhi hasil yang diiharapkan oleh suatu organisasi. Proses adalah interaksi profesional antara pemberi pelayanan dengan konsumen (pasien, masyarakat). Setiap tindakan medik atau keperawatan harus selalu memepertimbangkan nilai yang dianut pada diri pasien.Keluhan pasien merupakan indikasi adanya ketidaksesuaian antara harapannya dengan pelayanan yang diberikan.
Dengan mengacu pada keluhan pasien, setiap tindakan korektifbuat dan meminimalkan resiko terulangnya keluhan atau ketidakpuasan pada pasien.
Indikator proses memberikan petunjuk tentang pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan, prosedur asuhan yang ditempuh oleh tenaga kesehatan dalam menjalankan tugasnya.
c. Output
Output merupakan hasil atau kualitas pelayanan kesehatan, pengembangan staf, serta kegiatan penelitian untuk menindaklanjuti hasil atau keluaran. Tanpa mengukur hasil kinerja rumah sakit tidak dapat diketahui apakah input dan proses yang baikakanmenghasilkan output yang baik pula. Indicator outcomes merupakan indicator hasil yaitu input dan proses dan output.
Output dalam pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian IN adalah laporan pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian IN.
d.Umpan Balik (feedback)
Mekanisme umpan balik (feedback) diperlukan untuk menyelaraskan hasil dan perbaikan kegiatan yang akan datang. Mekanisme umpan balik dapat dilakukan melalui laporan keuangan, audit dan survei kendali mutu.
2.2 Landasan Teori
Landasan teori adalah menggunakan metode CIPP(contex,input, proses, product). metode ini mengkaji suatu objek penelitian dengan membandingkan kondisi yang ada (actual) dengan ketetapan perencanan yang ada. Dengan demikian program pencegahan terhadap IN di rumah sakit.
Kegiatan evaluasi yang dapat menyumbangkan nilai yang besar dan dapat pula membantu menyempurnakan pelaksannan kebijakkan beserta perkembangannya.Pengertian tersebut menjelaskan bahwa kegiatan evaluasi tersebut dapat menjadi tolak ukur apakah suatu kebijakan atau kegiataan dapat diteruskan, perlu di perbaiki atau di hentikan kegiatannya.
Evaluasi program adalah proses penetapan secara sistematis tentang nilai, tujuan, efektifitas atau kecocokan sesuatu sesuai dengan kriteria dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Pencegahan dan pengendalian IN adalah suatu sistem mengendalikan perkembangbiakan dan penyebaran mikroba patogen (Darmadi, 2008).
Mengendalikan perkembangan mikroba pathogen berarti upaya mengeliminasi reservoil mikroba pathogen yang sedang atau akan melakukan kontak dengan penderita baik langsung maupun tidak langsung. Program pencegahan dan pengendalian IN adalah kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan serta pembinaan dalam upaya menurunkan angka kejadian IN dirumah sakit (Depkes RI, 2008).
Pendekatan manajemen dapat digunakan dalam menilai keberhasilan pelaksanaan program pengendalian IN mengingat sistematikanya sesuai dengan langkah-langkah kegiatan pengendalian IN.
Manajemen merupakan seuatu pandekatan yang dinamis dan proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Manajemen mencakup kegaiatan POAC
(Planning, organizing, actuating, controlling) terhadap staf, sarana, dan prasarana dalam mencapai tujuan organisasi (Muninjaya, 2004)
Program pencegahan dan pengendalian IN dirumah sakit merupakan indikator mutu pelayanan kesehatan, sehingga program tersebut harus direncanakan, dilaksanakan, diawasi dan dibina dengan melibatkan seluruh anggota rumah sakit.Dalam pelaksanaannya diperlukan suatu sistem yang dapat dipakai untuk menilai keberhasilan program. Pada penelitian ini yang sesuai adalah teori manajemen dari (Muninjaya, 2004)
Rangkaian pelaksanaan kegiatan yang saling berhubungan, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan. Setiap sistem terdiri lima unsure yaitu :input, proses, output, control, dan mekanisme umpan balik (Feedback) (Muninjaya, 2004)
Berdasarkan teori tersebut, maka landasan teori dapat di gambarkan dalam gambar di bawah ini:
Gambar 2.3 Evalusi Program terhadap IN Lingkungan
Output Process
Input Effect Outcome
Umpan Balik
2.6 Kerangka Pikir Penelitian
Kerangka pikir dalam penelitian ini mengacu kepada landasan teori yang telah di uraikan di atas dapat dilihat pada gambar 2.4 berikut ini :
INPUT PROSES OUTPUT
Gambar 2.4Kerangka Pikir Penelitian Sumber :(Muninjaya,2004)
Penelitian ini akan membahas tahapan input, proses, output yang berkaitan dengan organisasi yang meliputi struktur organisasi, uraian tugas dalam program kerja.
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1.Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan observasi dengan design penelitian adalah studi kasus (case study) untuk mengidentifikasiprogram pencegahan terhadap kejadian IN di RSUP H. Adam Malik.
3.2.Lokasi Penelitian dan Jadwal Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik, adapun waktu penelitian di lakukan pada bulan Februari sampai Juni 2016. Mulai dari pengajuan judul, penelusuran pustaka, sampai seminar proposal, seminar hasil dan ujian tesis.
3.3.Informan Penelitian
Informan yang dianggap berkompeten memberikan informasi internal rumah sakit adalah :
a. informan I adalah Direktur dikarenkan direktur tidak ada ditempat maka diwakilkan dengan Kepala bidang pelayanan medik.
b. Informan 2adalahKetua Komite PPIRS c. Informan 3 adalah IPCO
d. Informan 4adalah IPCN
e. informan 5 sampai 10 adalah IPCLN
3.4.Sumber Data 3.4.1.Data Primer
Merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya dan dicatat untuk pertama kalinya.Teknik pengumpulan data primer dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (indepth interview) yang dilakukan oleh peneliti sendiri dengan menggunakan panduan wawancara. Alat yang digunakan pada saat wawancara adalahtape recorder.
3.4.2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti.Data untuk penelitian ini berasal dari laporan-laporan yang berasal dari RSUP H. Adam Malik.
3.5. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara mendalam (indepth interview) kepada Direktur, Ketua Komite, IPCO, IPCN, dan IPCLN sebagai informan dengan menggunakan panduan wawancara yang disiapkan oleh peneliti.
3.6. Metode Analisa Data
Metode analisa data dalam penelitian ini difokuskan dalam proses penelitian di lapangan. Menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2012) langkah-langkah dalam menganalisis data penelitian kualitatif dengan tahapan sebagai berikut :
1) Reduksi data
Proses reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan,
Proses reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan,