i
KOSTUM PENARI PRIA DALAM TARI RUMANGKANG DENGAN SUMBER IDE SURJAN
PROYEK AKHIR
Diajukan Kepada Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Ahli Madya
Program Studi Teknik Busana
Disusun Oleh : SITI KHUSNIYATUN
07514131031
PROGRAM STUDI TEKNIK BUSANA
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK BOGA DAN BUSANA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011
ii
iii ABSTRAK
KOSTUM PENARI PRIA DALAM TARI RUMANGKANG DENGAN SUMBER IDE SURJAN
Oleh : Siti Khusniyatun
07514131031
Proyek akhir ini bertujuan untuk : 1). Menciptakan desain Kostum Penari Pria Dalam Tari Rumangkang Dengan Sumber Ide Surjan 2). Membuat Kostum Penari Pria Dalam Tari Rumangkang Dengan Sumber Ide Surjan 3). Menampilkan Kostum Penari Pria Dalam Tari Rumangkang Dengan Sumber Ide Surjan pada pagelaran tari dengan tema
”Gelar Kolaborasi SENDIKAR (Seni Pendidikan Karakter)”.
Desain kostum tari tercipta dengan mengkaji tema tari Rumangkang, tari ini termasuk dalam tema kesombongan. Tari tersebut dibawakan oleh penari empat penari putra dan lima penari putri. Pada tari Rumangkang memiliki karakter angkuh, gagah dan tegas.
Kostum tari ini tercipta dengan mengambil sumber ide Surjan yang merupakan pakaian adat pria Yogyakarta. Untuk memperkuat karakter dari Tokoh Rumangkang, unsur – unsur dan prinsip desain diterapkan dalam kostum tersebut. Setelah mengkaji proses penciptaan, hal berikutnya adalah proses penyajian desain sketching, presentation drawing tampak muka dan belakang. Pembuatan kostum tari ini meliputi tiga tahap yaitu : Tahap persiapan, yang terdiri dari pembuatan gambar kerja kostum, gambar kerja hiasan kostum dan gambar kerja pelengkap kostum, pengambilan ukuran, pembuatan pola kostum, perancangan bahan dan harga. Tahap pelaksanaan, yang terdiri dari peletakan pola pada bahan, pemotongan dan pemberian tanda pada jahitan, penjelujuran, pengepasan I, perbaikan, penjahitan, pengepasan II dan pemberian hiasan busana. Tahap evaluasi hasil meliputi pembahasan tentang masalah yang dihadapi pada proses pembuatan kostum dan evaluasi hasil secara keseluruhan mengenai kesesuaian antara desain dan kostum tari yang dihasilkan. Penyelenggarakan pagelaran tari, melalui tiga tahap yaitu tahap persiapan yang terdiri dari pembentukan panitia, penentuan tema, penentuan tujuan pelaksanaan, penentuan waktu dan tempat serta anggaran. Tahap pelaksanaan yaitu penyelenggaraan pagelaran tari yang bertema “ Kolaborasi SENDIKAR (Seni Pendidikan Karakter)”. Tahap berikutnya berupa evaluasi akhir dari keseluruhan yang meliputi persiapan, pelaksanaan sampai dengan pagelaran tari.
Pagelaran tersebut diikuti oleh mahasiswa Fakultas Teknik Busana dan Tata Rias yang berkolaborasi dengan mahasiswa Fakultas Seni Tari Universitas Negeri Yogyakarta.
Hasil dari Proyek Akhir ini adalah 1). Terciptanya desain Kostum Penari Pria Dalam Tari Rumangkang Dengan Sumber Ide Surjan 2). Pembuatan Kostum Penari Pria Dlam Tari Rumangkang Dengan Sumber Ide Surjan yang terdiri dari Kemeja dengan gaya surjan , menggunakan bahan tenun lurik motif Prajurit Mantrirejo berwarna hijau, hitam, kuning kecoklatan dengan motif garis vertikal dipadukan dengan kain Satin Manohara.
celana panjang tiga perempat menggunakan bahan kain Satin Manohara berwarna coklat keemasan, Celemek panggul yang dilengkapi dengan wiru engkol menggunakan bahan batik motif Parang Menang berwarna coklat dan hijau, iket kepala 3). Ditampilkannya Kostum Penari Pria Dalam Tari Rumangkang Dengan Sumber Ide Surjan dalam pagelaran tari dengan tema “Gelar Kolaborasi SENDIKAR (Seni Pendidikan Karakter)”
pada tanggal 4-5 juni 2010 di stage Tedjakusuma Universitas Negeri Yogyakarta.
iv ABSTRACT
MALE PERFORMERS COSTUME IN RUMANGKANG DANCE WITH SURJAN AS SOURCE IDEA
By Siti Khusniyatun
07514131031 The purposes of this final project are :
1) To create the design of male performers costume in Rumangkang dance with surjan as source idea.
2) To make male dancer costume in Rumangkang dance with surjan as source idea.
3) To feature male dancer costume Rumangkang dance with surjan as source idea on dance performances with the theme “SENDIKAR (The Art Education Of Character) Collaboration Performance “.
The design of dance costume is created by examining the theme of Rumangkang dance. This kind of dance belongs to the theme of vanity. The dance is performed by four male dancers and five female dancers. Rumangkang dance is characterized by the image of pride, gallantry and resoluteness. This dance costume is created with surjan as source idea. Surjan is the Yogyakarta man’s costume clothing. To strengthen the character of Rumangkang’s figure, this costume applied the elements and principles of design. After studying the process of creation, the next thing is the preparation process of sketching designs, the rear ang front façade of presentation drawings that is in the form of surjan stylish shirt, three-quarter length of pants, and pelvic apron equipped with an engkol pleat.
There are three phases in making of this dance costume: preparatory phases consisting of the work drawing of costume, those of costume ornate, and costume complements, taking size, costum pattern making, material and price planning.
Implementation phase consisting of pattern laying on the fabric, cutting and marking off the seamed fabric, basting, fitting I, repairing, tailoring, fitting II, decoration setting. Evalution phases includes a discussion of the encountered problems in the process of costumes making and overall evaluation of the results includes the appropriateness (suitability) of the design with the dance costumes produced. The dance performance is conducted through three phases : preparation phases consisting of the committee formation, theme setting, performance objectives the time, place and budget setting. The implementation phase that is the organization of dance performance with the theme of “SENDIKAR (Art Character Education) Collaboration “. The next phase is final evaluation of the entire activities including preparation, execution up to the dance performances. The performance was attended by students of the faculty of clothing and Make Up Technique collaborating with students of the Faculty of Dance Arts, State University of Yogyakarta.
The results of this final project are :
1) The creation of costume design of male performers in Rumangkang dance with surjan as source idea.
v
2) Dance costume making for male performers in Rumangkang dance with surjan as source idea consisting of surjan style shirt with manohara satin material, and prajurit mantrirejo striated motifs, three-quarter length trousers using satin manohara, pelvic apron equipped with iket kepala (bundle head) using batik material with parang menang ang satin manohara motif.
3) The display of man performer costume in Rumangkang dances with surjan as source idea on dance performances with the theme of “SENDIKAR (Art Character Education) Collaboration “ in 4-5 june 2010 at the Tedjakusuma Stage of Yogyakarta State University.
vi
MOTTO
Bila Allah mengabulkan keinginan kita, BerartiAllah ingin mempertebal iman kita, Namun kadang mereka lupa akan imannya,
Larut dalam keinginan masing-masing
Bila Allah menunda keinginan kita, Berarti Allah sedang menguji keinginan kita,
Namun kadang mereka menganggap Allah tidak peduli mereka, Padahal ia belum melihat hikmah dari semua itu
Bila Allah tidak mengabulkan keinginan kita,
Berarti Allah menmpunyai kehendak lain yang lebih baik dari permohonan kita, Namun mereka tidak tahu bahea bahwa Allah akan memberi kebutuhan kita
bukan keinginan kita
vii
9HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya Proyek Akhir ini penyusun persembahkan untuk:
Bapak dan Ibu tercinta yang selalu menyayangiku dengan penuh kasih saying, terimakasih atas segala doa , dukunyan dan pengorbanannya yang begitu besar.
Kakak dan Adikku tercinta yang selalu menemaniku dan mensuport aku.
Ibu Eny Zuhni Khayati, M. Kes yang selalu memberi semangat dan dukungan.
Temen-temenku yang selalu bersama dalam suka dan duka.
Teman-teman D3 Reguler angkatan 2007, ayo semangat!
Almamaterku UNY
viii
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya. Sholawat dan salam senantiasa tercurah pada junjungan Nabi Muhammad SAW, sehingga penyusun dapat menyelesaikan Proyek Akhir ini dengan baik.
Proyek Akhir ini disusun sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Ahli Madya. Dalam penyusunan karya Proyek Akhir ini tidak terlepas dari bantuan semua pihak, oleh karena itu penyusun menyampaikan terimakasih kepada:
1. Wardan Suyanto, Ed. D selaku Dekan Fakultas Teknik UNY 2. Dr. Sri Wening selaku Kepala Jurusan PTBB FT UNY
3. Sri Widarwati, M. Pd selaku Ketua Program Studi Teknik Busana FT UNY
4. Eny Zuhni Khayati, M. Kes selaku Dosen Pembimbing Proyek Akhir yang telah memberi bimbingan selama pembuatan kostum tari serta Penyusunan Proyek Akhir
5. Wdjiningsih, M. Pd selaku Penasehat Akademik D3 Reguler 6. Tim Dosen mata kuliah Proyek Akhir
7. Tim Penguji Proyek Akhir
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan laporan Proyek Akhir ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan. Penyusun berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan mahasiswa Teknik Busana pada khususnya.
Yogyakarta, Maret 2011 Penyusun
ix DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
ABSTRAK ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Batasan Istilah ... 4
C. Rumusan Masalah ... 5
D. Tujuan ... 5
E. Manfaat ... 6
BAB II KAJIAN TEORI ... 8
A. Karakteristik Tari Rumangkang ... 8
1. Definisi Tari ... 8
2. Jenis-Jenis Tari ... 9
3. Karakteristik Tari Rumangkang ... 11
B. Sumber Ide ... 12
1. Pengertian Sumber Ide dan Penggolongan Sumber Ide ... 12
2. Sumber Ide Surjan ... 14
C. Desain ... 6
1. Unsur dan Prinsip Desain ... 16
2. Desain Busana ... 37
3. Desain Hiasan Busana ... 46
x
4. Desain Pelengkap Busana ... 48
D. Koastum Tari ... 50
1. Definisi Kostum ... 50
2. Definisi Kostum Tari ... 20
3. Karakteristik Kostum Tari ... 50
E. Penciptaan Kostum Tari Rumangkang Untuk Tokoh Pria Dengan Sumber Ide Surjan ... 73
1. Penerapan Karakteristik Tari Pada Desain ... 73
2. Penerapan Sumber Ide Pada Desain ... 74
3. Penerapan Unsur dan Prinsip Pada Desain ... 75
F. Pagelaran Tari ... 87
BAB III PROSES PEMBUATAN KOSTUM DAN PAGELARAN TARI ... 92 A. Pembuatan Kostum Tari ... 92
1. Persiapan ... 92
a. Pembuatan Gambar Kerja Kostum Tari, Hiasan Kostum Tari Dan Pelengkap Kostum Tari ... 93
b. Pengambilan Ukuran ... ... 104
c. Pembuatan Pola Kostum Tari ... ... 106
d. Rancangan Bahan Dan Harga ... ... 120
2. Pelaksanaan ... ... 131
a. Peletakan Pola Pada Bahan ... ... 131
b. Pemotongan Dan Pemberian Tanda Jahitan ... ... 132
c. Penjelujuran Dan Penyambungan ... ... 132
d. Evaluasi Proses I ... ... 134
e. Penjahitan ... ... 135
f. Evaluasi Proses II ... ... 136
3. Evaluasi hasil ... ... 136
B. Penampilan Kostum ... ... 137
1. Persiapan ... ... 138
xi
a. Pembentukan Panitia ... ... 138
b. Penentuan Tema ... ... 138
c. Penentuan Tujuan Pelaksanaan ... ... 139
d. Penentuan Waktu Dan Tempat ... ... 139
e. Menentukan Anggaran ... ... 140
2. Pelaksanaan ... ... 142
3. Evaluasi ... ... 143
C. Hasil Dan Pembahasan ... ... 145
1. Mencipta Desain Kostum Tari ... ... 145
2. Proses Pembuatan Kostum Tari ... ... 146
3. Penampilan Kostum Tari ... ... 147
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ... ... 148
A. Kesimpulan ... ... 148
B. Saran ... ... 149 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1 BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Busana merupakan kebutuhan pokok bagi manusia disamping kebutuhan akan pangan dan papan. Manusia mengenal busana sejak zaman purba tetapi pada saat itu manusia menutupi tubuhnya hanya dengan menggunakan bahan-bahan yang ada disekitar mereka. Bahan-bahan tersebut antara lain kulit kayu, daun, kulit binatang dan lain sebagainya.
Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan yang begitu cepat, terutama sejak pecahnya revolusi industri pada abad 18 yang telah menyebabkan dunia fashion dipandang sebagai salah satu fenomena kebudayaan manusia yang cukup menarik. Hal ini membuat manusia semakin sadar bahwa selain busana berfungsi untuk menutupi bagian tubuh, busana juga mempunyai fungsi untuk memperindah diri, sehingga berkembanglah mode-mode busana sesuai dengan perkembangan zaman.
Menurut Prapti Karomah dan Sicilia Sawitri (1998 : 2) tujuan manusia dalam berbusana antara lain : untuk memenuhi adab kesusilaan dan kebudayaan, untuk memenuhi syarat kesehatan serta untuk memenuhi rasa keindahan.
Begitupun dalam suatu acara pagelaran tari para penari tidak menggunakan pakaian biasa. Tetapi menggunakan pakaian yang indah dan menarik serta menggunakan aksesoris pelengkapnya sehingga dapat menunjukkan penokohan yang sedang diperankan
2
Indonesia merupakan negara kepulauan yang setiap daerah memiliki kebudayaan yang beragam. Masing-masing daerah. memiliki beragam kesenian yang setiap saat selalu berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Hal ini mendorong seseorang untuk selalu mengasah dan mengembangkan bakat serta kemampuan untuk menciptakan kreasi karya seni yang baru tanpa meninggalkan prinsip-prinsip yang ada.
Karakteristik atau penokohan dalam suatu pementasan tari akan terlihat menarik dan indah apabila kostum tari yang digunakan sesuai dengan tokoh yang diperankan. Selain kostum juga perlu memperhatikan hiasan wajah, hiasan rambut, serta aksesoris pendukung lainnya. Dalam pembuatan kostum tari sebelumnya harus mengetahui karakteristik tokoh yang diperankan, hal ini agar busana dapat semakin memperkuat penokohan.
Sesuai dengan tema “Gelar Kolaborasi SENDIKAR (Seni Pedidikan Karakter) maka dalam pembuatan tugas Proyek Akhir ini dilakukan kolaborasi antara mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Seni Tari, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) dengan prodi Pendidikan Teknik Busana serta Tata Rias dan Kecantikan, Fakultas Teknik (FT). Hal ini dilakukan untuk melatih mahasiswa berkolaborasi dari segi tarian, busana dan riasan. Pada Proyek Akhir ini penulis mencipta kostum tari rumangkang dengan sumber ide surjan.
Dengan terlaksananya pagelaran yang dilakukan secara kolaboratif tersebut, mahasiswa dapat lebih menambah pengetahuan tentang penciptaan dan pembuatan tari rumangkang yang berkualitas sesuai dengan karakter tari.
3
Setelah mengkaji karakter dan alur cerita tari rumangkang penyusun menggunakan sumber ide surjan. Sumber ide ini dipilih karena surjan memiliki citra yang sederhana tetapi memiliki kharismatik. Garis-garis pada surjan mencerminkan ketegasan kekuatan sehingga sangat cocok untuk penari pria dalam tari rumangkang. Mode surjan belum dapat mencerminkan tokoh penari yang memiliki karakter sombong dan angkuh, sehingga perlu dilengkapi dengan ikat kepala dengan segitiga mengarah kebawah terbuat dari bahan batik. Selain itu juga dilengkapi dengan gelang tangan dan gelang kaki berwarna emas, hal ini menguatkan bahwa tokoh tersebut memiliki karakter yang sombong. Tokoh pria dalam tari rumangkang ini juga digambarkan sebagai tokoh yang pemberani dan bersikap dinamis maka kostum bagian bawah perlu diwujudkan dalam celana yang mudah untuk bergerak.
Hasil karya cipta ini ditampilkan dalam pagelaran tari kontemporer agar melatih mahasiswa untuk dapat mengolah kepanitian suatu pagelaran busana sehingga mampu mengadakan suatu pagelaran tari. Dalam pagelaran tari, seorang desainer tidak saja dituntut untuk mengerahkan talentanya menciptakan model pakaian tertentu, akan tetapi dia juga harus bisa mengorganisasi suatu pagelaran busana serta mampu menciptakan tata panggung yang apik. Pagelaran tari bukan hanya sebuah ”tempat pajang pakaian” (window mannequin), akan tetapi berkaitan erat juga dengan gerak dan teknik menari yang lues dari model/penari. Lewat gabungan mode, setting, serta gerak, sebuah pagelaran tari akan mampu menunjukkan sisi
”magic” yang mampu menunjukkan alternatif ekspresi, mengilhami trend
4
baru kostum tari, dan pada akhirnya mendorong penikmat fashion untuk semakin tertarik menampilkan keunikan budaya Indonesia.
B. BATASAN ISTILAH
Untuk memperjelas judul dan maksud maka perlu diajukan batasan istilah sebagai berikut:
1. Kostum Tari
“Kostum tari adalah sandangan dan perlengkapan yang dikenakan dalam pentas tari” (Nugroho, 1094:4). Dalam Proyek Akhir ini penyusun membuat Kostum Penari Pria Dalam Tari Rumangkang Dengan Sumber Ide Surjan, terdiri dari kemeja dengan gaya surjan, celana tiga perempat dan hiasan pinggang berupa draperi yang dilengkapi dengan jabot..
2. Tari Rumangkang
Tari Rumangkang kontemporer yang menggambarkan sekelompok wanita yang ingin disejajarkan derajatnya seperti kaum pria. Sebuah gambaran bahwa wanita ingin hdup bebas dan keberadaannya diakui oleh kaum pria. Sedangkan bagi kaum pria sendiri beranggapan bahwa wanita kodratnya adalah dibelakang pria sehingga tidak pantas menjadi pemimpin. Dari sinilah muncul pemberontakaan dari kaum wanita untuk membuktikan bahwa mereka bisa menjadi pemimpin.
3. Sumber Ide
“Sumber ide adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan ide seseorang untuk menciptakan desain baru atau kreasi baru”. (Sri
5
Widarwati, 1996:58). Dalam Proyek Akhir ini sumber ide yang digunakan adalah surjan.
4. Surjan
Surjan adalah busana daerah Yogyakarta yang dikenakan oleh kaum pria. Surjan ini merupakan busana luar bagian atas yang mempunyai bagian badan dengan penutup kancing overlap yang diberi bef bagian dalam, lengan yang dipasangkan pada bahu agak lebar, kerah cina yang agak tinggi yang diberi kancingbungkus yang dillit benang serta memakai saku tempel. Bahan yang dipergunakan yaitu bahan lurik atau bahan satin bermotif kembang batu. Surjan bila dipakai dipadukan dengan kain panjang atau kain batik.
Dari batasan istilah diatas dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Koatum Penari Pria Dalam Tari Rumangkang Dengan Sumber Ide Surjan adalah sandangan dan papan yang digunakan penari pria dalam tari rumangkang yang mode kostumnya diilhami oleh surjan dan sebagai pelengkap kostumnya menggunakan ikat kepala, gelang tangan serta gelang kaki.
C. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana mencipta desain kostum penari pria dalam tari rumangkag dengan sumber ide surjan?
2. Bagaimana membuat dan menyelesaikan kostum penari pria dalam tari rumangkang dengan sumber ide surjan?
6
3. Bagaimana menampilkan Kostum Penari Pria Dalam Tari Rumangkang Dengan Sumber Ide Surjan pada pagelaran tari dengan tema “Kolaborasi SENDIKAR (Seni Pendidikan Karakter)”
D. TUJUAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam proyek akhir ini adalah sebagai berikut :
1. Dapat mencipta desain kostum penari pria dalam tari rumangkang dengan sumber ide surjan?
2. Dapat membuat dan menyelesaikan kostum penari pria dalam tari rumangkang dengan sumber ide surjan?
3. Dapat menampilkan Kostum Penari Pria Dalam Tari Rumangkang Dengan Sumber Ide Surjan pada pagelaran tari dengan tema “ Gelar Kolaborasi SENDIKAR (Seni Pendidikan Karakter)”?
E. MANFAAT
Proyek Akhir ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain sebagai berikut:
1. Bagi Penulis
a. Dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta keterampilan tentang pembuatan busana kostum tari
b. Dapat mendorong dan melatih untuk menjadi lebih kreatif dan menciptakan karya-karya baru terutama model busana tari.
c. Sebagai wahana belajar keorganisasian dalam bentuk kepanitiaan pagelaran kesenian tari
7 2. Bagi Program Studi
a. Memperkenalkan kepada masyarakat Program Studi Teknik Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta.
b. Mensosialisasika hasil karya cipta mahasiswa Program Studi Teknik Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta kepada masyarakat dan dunia Industri.
3. Bagi Masyarakat Umum
a. Memperoleh pengetahuan dan wawasan tentang model busana terutama busana tari.
b. Mengetahui hasil karya cipta busana mahasiswa Program Studi Teknik Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta melalui pagelaran busana dengan tema ”Kolaborasi Sendikar”.
c. Memperoleh informasi tentang kualitas mahasiswa Program Studi Teknik Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta melalui pagelaran busana dengan tema ”Gelar Kolaborasi SENDIKAR (Seni Pendidikan Karakter”.
8 BAB II KAJIAN TEORI
A. KARAKTERISTIK TARI RUMANGKANG 1. Definisi Tari
Menurut Soedarsono (1972”30), bahwa tari mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, baik secara individu dan kelompok. Tari merupakan salah satu bentuk kesenian yang memiliki media ungkapan substansi gerak, dan gerak yang terungkap adalah gerak manusia. Gerak-gerak dalam tari bukanlah gerak realistis dan gerak keseharian, melainkan gerak yang telah diberi bentuk ekspresif.
“Tari adalah desakan perasaan manusia didalam dirinya yang mendorongnya untuk mencari ungkapan yang berupa gerak-gerak ritmis”.
Tari juga merupakan pengalaman fisik yang paling elementer dalam kehidupan manusia. Gerak tidak hanya terdapat pada denyutan diseluruh tubuh manusia untuk tetap dapat memungkinkan manusia hidup, tetapi gerak juga terdapat pada ekspresi dari segala pengalaman emosional manusia (Martin 1965:8).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tari adalah ragam bentuk ungkapan perasaan manusia yang diekspresikan melalui gerak. Oleh karena itu seni tari berperan sebagai media untuk menyalurkan ide-ide kreatif. Sebagaimana dicontohkan dalam tarian-tarian tradisional yang
9
bersifat magis dan sacral, merupakan ekspresi jiwa manusia yang didominir oleh kehendak.
2. Jenis Tari
Menurut Soedarsono ( 1978:12) jenis tari terbagi menjadi 4 kelompok, antara lain:
a. Jenis Tari Berdasarkan Pola Garapannya 1). Tari tradisional
Tari Tradisional adalah semua tarian yang telah mengalami perjalanan sejarah yang cukup lama yang selalu bertumpu pada pola-pola yang telah ada.
Tari tradisional terbagi menjadi 3 berdasarkan atas gerak artistic garapannya, antara lain:
a). Tari Primitif
Tari Primitif adalah tarian yang memiliki gerakan-gerakan, iringan musik dan pakain yang sederhana.
b). Tari Rakyat
Tari Rakyat merupakan ungkapan kehidupan rakyat yang masih berpijak pada unsur budaya primitif.
2). Tari Kreasi Baru (Modern)
Tari Kreasi Baru adalah tari yang mengarah pada kebebasan dalam pengungkapan, tidak berpijak pada pola tradisi.
b. Jenis Tari Menurut Temanya 1) Tari dramatik
10
Tarian yang isinya menyampaikan sebuah cerita atau drama.
2) Tari non dramatik
Aalah tari yang tidak menyampaikan cerita atau drama.
c. Jenis Tari Menurut Fungsi Dan Tujuannya 1) Tari upacara
Tari Upacara adalah tari yang khusus berfungsi sebagai sarana upacra agama dan adat dan banyak terdapat didaerah-daerah yang masih bertradisi kuat, serta diwilayah yang masih kuat memelihara agama hindu seperti bali.
2) Tari gembira
Tari Gembira adalah tari yang berfugsi sebagai sarana untuk mengungkapkan rasa gembira.
3) Tari pertunjukan atau treatikal
Tari Pertunjukan merupakan tari yang garapannya khusus untuk pertunjukan.
d. Jenis Tari Dilihat Dari Cara Penyajiannya 1) Tari tunggal
Tari Tunggal adalah tari yang dilakukan oleh satu orang saja.
2) Tari berpasangan atau duet
Tari Berpasangan adalah tari yang dilakukan oleh dua orang atau berpasangan.
3) Tari kelompok
11
Tari Kelompok adalah tari yang dilakukan oleh beberapa orang atau secara masal.
Dari uraian diatas dapat dijelaskan bahwa tari rumangkang dilihat dari jenis tari berdasarkan pola garapannya termasuk dalam tari kreasi baru, berdasarkan temanya termasuk dalam tari dramatik, berdasarkan fungsi dan tujuannya termasuk dalam tari pertunjukan dan berdasarkan cara penyajiannya termasuk dalam tari kelompok.
3. Karakteristik Tari Rumangkang
Tari rumangkang merupakan tari kerakyatan yang menceritakan tentang keangkuhan seseorang yang Mempunyai kedudukan. Gerakan tari pada tari rumangkang berpijak pada gerakan tari jaipong yang ditarikan oleh penari pria dan wanita. Jumlah penari dalam tari rumangkang adalah 9 orang yang terdiri dari empat penari pria dan lima penari wanita.
Alur cerita dalam tari rumangkang yaitu gejolak jiwa wanita yang kehidupannya selalu dikekang, diremehkan dan dianggap tidak bisa menjadi pemmpin seperti halnya kaum pria. Sedangkan bagi kaum lelaki wanita tidak pantas didepan atau menjadi pemimpin. Wanita hanya pantas berada dibelakang kaum lelaki. Tetapi dengan keterbelakangan itu kaum wanita dapat membuktikan bahwa wanita juga bisa menjadi pemimpin.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik taru rumangkang adalah pertentangan antara kaum laki-laki dan wanita yang ingin hdup bebas dan memiliki derajat yang sama. Dan pada akhirnya
12
wanita dapat membuktikan kepada kaum pria bahwa wanita juga bisa menjadi pemimpin seperti halnya kaum lelaki.
B. SUMBER IDE
1. Pengertian Sumber Ide
“Sumber ide adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan ide seseorang untuk menciptakan desain baru” (Sri Widarwati, 1996 : 58) Menurut Widjiningsih (1990 : 70) “Sumber ide adalah segala sesuatu yang dapat merangsang lahirnya suatu kreasi”. Sedangkan menurut Chodiyah dan Wisri A.Mamdy (1982 : 171), “Sumber ide adalah sesuatu yang dapat merangsang lahirnya kreasi baru”.
Secara garis besar, menurut Chodiyah dan Wisri A.Mamdy (1982), dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :
a) Sumber ide dari pakaian penduduk dunia atau pakaian daerah-daerah di Indonesia.
b) Sumber ide dari benda-benda alam, seperti bentuk dan warna dari tumbuh-tumbuhan, binatang, gelombang laut, bentuk awan, dan bentuk-bentuk benda geometris.
c) Sumber ide dari peristiwa-peristiwa nasional, maupun internasional.
Misalnya pakaian olahraga dari peristiwa ASEAN Games, 17 Agustus dan lain sebagainya.
Sedangkan menurut Sri Widarwati (1993), secara garis besar sumber ide dalam menciptakan busana digolongkan dalam empat kelompok besar, yaitu :
13
1) Sumber ide dari pakaian penduduk dunia.
2) Sumber ide dari benda-benda alam, seperti bentuk dan warna dari tumbuh-tumbuhan, binatang, gelombang air laut, bentuk awan dan bentuk-bentuk benda geometris.
3) Sumber ide dari peristiwa penting nasional ataupun internasional, misalnya: pakaian olah raga dari peristiwa PON, SEA GAMES, dan lain-lain.
4) Sumber ide dari pakaian kerja misalnya pakaian rohaniawan, hakim, dokter, dan lain-lain.
Dari keempat sumber ide tersebut tidak perlu diambil secara keseluruhan tetapi dapat diambil bagian-bagian tertentu yang menjadi ciri khas atau keistimewaan dari sumber ide tersebut.
Hal-hal yang dapat dijadikan sumber ide menurut Sri Widarwati (1993) antara lain :
a) Ciri khusus dari sumber ide, misalnya kimono Jepang, dimana ciri khususnya terletak pada lengan dan leher.
b) Warna dari sumber ide, misalnya bunga matahari yang berwarna kuning.
c) Bentuk atau siluet dari sumber ide, misalnya sayap burung merak.
d) Tekstur dari sumber ide pakaian wanita Bangkok, misalnya bahannya terbuat dari sutera.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan sumber ide adalah segala sesuatu yang terdapat di alam, pakaian penduduk dunia,
14
peristiwa penting nasional ataupun internasional, dan dari pakaian kerja yang dapat diambil ciri-cirinya sehingga dapat menimbulkan ide-ide yang baru.
2. Sumber Ide Surjan Yogyakarta
Sumber ide yang dipilih dalam pembuatan kostum tari dalam proyek akhir ini diambil dari salah satu busana penduduk dunia yaitu surjan dari yogyakrta drengan judul ” Kostum Tari Rumangkang Untuk Tokoh Laki- laki Dengan Sumber Ide Surjan Yogyakarta”.
Surjan adalah busana daerah Yogyakarta yang dikenakan oleh kaum pria. Surjan ini merupakan busana luar bagian atas yang mempunyai bagian badan dengan penutup kancing overlap yang diberi bef bagian dalam, lengan yang dipasangkan pada bahu agak lebar, kerah cina yang agak tinggi yang diberi kancingbungkus yang dillit benang serta memakai saku tempel. Bahan yang dipergunakan yaitu bahan lurik atau bahan katun bermotif bunga batu. Surjan bila dipakai dipadukan dengan kain panjang atau kain batik.
Jas tutup atau surjan adalah pakaian adat Yogyakarta yang dikenakan oleh laki-laki terbuat dari bahan lurik, yussor, kain jas, dsb. Diujung bawah dibuat runcing yang jatuh tepat dibagian tengan muka. Adapun perlengkapan lain yang dikenakan saat mengenakan surjan adalah:
a. Kain batik
Kain batik yang digunakan adalah kain batik cap atau batik tulis. Kain batik diberi wiru selebar tiga jari atau lebih kurang 4 cm. jumlah wiru
15
antara tujuh sampai Sembilan lipatan. Letak wiru selalu berada ditengah muka. Kain dieratkan pada pinggang menggunakan stagen atau ikat pinggang.
b. Blangkon
Adalah penutup kepala yang dibuat dari batik . bentuk blangkon antara Yogyakarta dan Solo terdapat perbedaan pada bagian belakang blangkon. Untuk pria Yogyakarta pada bagian belakang blangkon terdapat mondolan berbentuk telur dan untuk pria Solo tidak terdapat mondolan.
Surjan Yogyakarta adalah surjan yang dikenakan oleh masyarakat Yogyakarta. Sumber ide tersebut diterapkan dalam bentuk kostum bagian atas yang sudah dikembangkan dalam bentuk modern
Sumber Ide yang diambil dari Surjan adalah bentuk siluet dari surjan yang menggunakan siluet H serta garis-garis yang terdapat pada surjan yang dapat menunjukkan karakteristik penari pria yang tegas dan kokoh.
16
Contoh gambar surjan dari yogyakarta tampak muka
Gambar 1. surjan tampak muka
Sumber (http/tjokrosuharto.com/catalog/adat_busana) Berdasarkan uraian diatas dapat dijelaskan bahwa Surjan adalah pakaian adat Yogyakarta yang dikenakan oleh kaum pria. Surjan ini merupakan busana luar bagian atas yang mempunyai bagian badan dengan penutup kancing overlap yang diberi bef bagian dalam, lengan yang dipasangkan pada bahu agak lebar, kerah cina yang agak tinggi yang diberi kancingbungkus yang dillit benang serta memakai saku tempel. Bahan yang dipergunakan yaitu bahan lurik atau bahan satin bermotif kembang batu.
Sumber Ide yang diambil dari Surjan adalah bentuk siluet dari surjan yang menggunakan siluet H serta garis-garis yang terdapat pada surjan yang dapat menunjukkan karakteristik penari pria yang tegas dan kokoh.
17 C. DESAIN
“Desain adalah rancangan sesuatu yang dapat diwujudkan pada benda nyata atau perilaku yang dapat dirasakan, dilihat, didengar, dan diraba”
(Arifah A. Riyanto, 2003 : 1). Menurut Sri Widarwati (1994 : 2), “Desain adalah suatu rancangan atau gambaran suatu obyek atau benda yang dibuat berdasarkan susunan garis, bentuk, warna dan tekstur”. Desain menurut Prapti Karomah (1998 : 12), “Adalah pola rancangan yang menjadi dasar pembuatan suatu benda buatan”. Sedangkan menurut Widjiningsih (1982 : 1), “Desain adalah suatu rancangan gambar yang nantinya dilaksanakan dengan tujuan tertentu yang berupa susunan garis, bentuk, warna dan tekstur”.
Berdasarkan beberapa pengertian desain di atas dapat disimpulkan desain adalah suatu rancangan benda nyata atau perilaku manusia yang dapat dirasakan, dilihat, didengar, dan diraba berdasarkan susunan garis, bentuk, warna dan tekstur
Untuk membuat desain busana diperlukan adanya penyusunan unsur desain dan prinsip desain.
1. Unsur dan Prinsip Desain a. Unsur-Unsur Desain
”Unsur-unsur desain adalah segala sesuatu yang dipergunakan untuk menyusun suatu rancangan” (Sri Widarwati, 2000 : 7). Menurut Chodiyah dan Wisri A.Mamdy (1982 : 8) ”Unsur-unsur desain adalah garis, arah, ukuran, bentuk, nilai gelap terang, warna dan tekstur”.
18
Dari uraian diatas dapat dijelaskan bahwa unsur desain adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyusun suatu rancangan yang dapat berupa garis, arah, bentuk, ukuran, nilai gelap terang dan tekstur.
1) Garis
”Garis merupakan unsur tertua yang digunakan untuk mengungkapkan emosi dan perasaan seseorang dalam desain busana” (Sri Widarwati, 1993 : 7). Menurut Lanawati Basuki (2004) ”Garis adalah hasil goresan dari satu titik ke titik lain”.
Menurut Atisah Sipahelut Petrussumardi (1991 : 24) yang dimaksud dengan garis adalah ”hasil goresan dengan benda keras diatas benda alam (tanah, pasir, daun, batang pohon dan sebagainya)”.. Sedangkan menurut Enny Zuhny Khayati (1997 : 3)
”Garis adalah hasil gerak atau titk ke titik lain sesuai dengan arah dan tujuan”.
Menurut Prapti Karomah dan Sicilia Sawitri (1986:35), garis dapat dibedakan menjadi :
a) Garis Lurus
Garis lurus berdasarkan arahnya dapat dibedakan menjadi garis vertical, horizontal, dan diagonal. Garis lurus pada suatu busana akan memberikan kesan tinggi bagi orang yang memakai busana tersebut.
b) Garis Melengkung
Garis melengkung dapat dibedakan menjadi garis sedikit melengkung, garis melengkung biasa, dan garis sangat melengkung sehingga merupakan setengah lingkaran.
19
Garis mempunyai sifat yang dapat memberikan kesan pada suatu desain busana yaitu :
a) Garis lurus memberikan kesan tegang, pasti, kau, tegas dan keras.
Garis lurus tegak dapat memberikan kesan langsing dan tinggi.
Sedangkan garis lurus datar memberikan kesan lebar atau memendekkan.
b) Garis lengkung memberikan kesan luwes, lembut, riang, indah, feminine atau gembira
Dalam desain busana garis mempunyai fungsi sebagai berikut yaitu :
a) Membatasi bentuk strukturnya (siluet).
b) Membagi bentuk struktur menjadi bagian-bagian yang merupakan hiasan dan menentukan model. Misalnya : garis empire, garis princess, longtorso, yoke (pas)
c) Menentukan periode suatu busana (siluet, periode empire, periode princess)
d) Memberi arah dan pergerakan (Chodiyah dan Wisri A.Mamdy, 1982 : 8)
Gambar 2. Beberapa jenis dan karakter garis
Sumber (http/mazgun.wordpress.com/2009/10/12unsur-rupa-dan- komposisi)
20
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa garis adalah hasil goresan benda keras diatas permukaan yang digunakan untuk mengungkapkan emosi dan perasaan seseorang sesuai arah dan tujuannya.
2) Arah
”Setiap garis mempunyai arah yaitu mendatar (horizontal), tegak lurus (vertikal) dan miring ke kiri dan miring ke kanan (diagonal)” (Sri Widarwati, 2000 : 8 ). Menurut Arifah A. Riyanto (2003 : 32) ”Antara garis dan arah saling berkaitan, karena semua garis mempunyai arah vertikal, horizontal, diagonal dan lengkung”.
Sedangkan menurut Atisah Sipahelut dan Petrus Sumadi (1991)
”Arah adalah wujud benda yang dapat dirasakan dan mampu menggerakkan rasa”.
Arah garis yang akan digunakan dalam suatu desain busana akan memberi kesan tertentu pada hasil rancangannya. Menurut Widjingsih (1982 : 4) setiap arah memberi kesan yang berbeda yaitu :
a) Arah mendatar atau horizontal memberi kesan tenang, tentram, dan pasif.
b) Arah tegak lurus atau vertikal memberi kesan aguung, kokoh, stabil dan berwibawa.
c) Arah diagonal memberi kesa lincah, gembira dan melukiskan gerak perpindahan yang dinamis.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa arah dan garis sangat berkaitan. Dapat dikatakan demikian karena garis memiliki arah vertikal, horizontal, diagonal dan lengkung,
21
misalnya garis lipit yang dibuat vertikal, garis empire yang dibuat horizontal dan lain sebagainya.
3) Bentuk
”Unsur bentuk ada dua macam yaitu bentuk dua dimensi dan bentuk tiga dimensi. Bentuk dua dimensi adalah bidang datar yang dibatasi oleh garis, sedangkan bentuk tiga dimensi adalah ruang yang bervolume dibatasi oleh permukaan”. (Sri Widarwati, 1993 : 10). Menurut Soekarno dan Linawati Basuki (2004) ”Bentuk merupakan rancangan bentuk dasar yang mudah dipahami, yang akan dituangkan kedalam bentuk pola rancangan dan nantinya diwujudkan ke bentuk pakaian sebenarnya”.
Menurut sifatnya bentuk juga dibedakan menjadi dua yaitu
a) Bentuk geometris. Misalnya segitiga, kerucut, segiempat, trapesium, lingkaran, silinder.
b) Bentuk bebas. Misalnya bentuk daun, bunga, pohon, titik air, batu-batuan dan lain-lain.
Menurut Arifah A. Riyanto (2003 : 242) bentuk dibedakan menjadi lima yaitu :
a) Bentuk segi empat dan segi panjang.
b) Bentuk segitiga dan kerucut.
c) Bentuk lingkaran dan setengah lingkaran.
d) Bentuk yang mempunyai sisi dan ruang.
e) Bentuk sebgai hiasan.
22
Gambar 3. Beberapa contoh bentuk
Sumber (http/mazgun.wordpress.com/2009/10/12unsur -rupa-dan-komposisi)
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk ada dua macam yaitu bentuk dua dimensi dan bentuk tiga dimensi.
Bentuk dua dimensi dibatasi dengan garis misalnya gambar desain busana, sedangkan bentuk tiga dimensi mempunyai volume.
4) Ukuran
”Ukuran adalah dimensi benda yang menyangkut ruang dan dimensi manusia” (Atisah Sipahelut dan Petrus Sumadi, 1991 : 34) Menurut Prapti Karomah (1990 : 10) ”Ukuran adalah ukuran-ukuran bagian busana. Ukuran yang kontras (berbeda) pada suatu desain dapat menimbulkan perhatian dan menghidupkan suatu desain, tetapi dapat pula menghasilkan ketidakserasian apabila ukuran tidak sesuai”
(Widjiningsih, 1982 : 5). Menurut, Sri Widarwati (2000 : 10) Ukuran digunakan untuk menentukan panjang rok. Ada lima ukuran panjang rok yaitu
23
a) Mini : rok yang panjangnya 10-15 cm di atas lutut.
b) Kini : rok yang panjangnya sampai lutut
c) Midi : rok yang panjangnya 10-15 cm di bawah lutut.
d) Maxi : rok yang panjangnya di atas pergelangan kaki.
e) Longdress : rok yang panjangnya sampai lantai / tumit.
Menurut Goet Poespo ada delapan macam ukuran yang panjang rok yaitu :
a) Peplum yaitu ukuran paling pendek dari variasi panjang rik, umumnya panjang peplum ini dihubungkan dengan busana bagian atas.
b) Macro yaitu rok yang panjangnya hanya cukup untuk menutupi bgaian pantat.
c) Mini yaitu rok yang panjangnya sampai pertengahan paha.
d) Kini yaitu rok yang panjangnya sampai lutut.
e) Midi yaitu rok yang panjangnya sampai pertengahan betis.
f) Maxi yaitu rok yang panjangnya di ats pergelangan kaki.
g) Ankle yaitu rok yang panjangnya sampai mata kaki.
h) Floor yaitu rok yang panjangnya sampai mata lantai.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ukuran dapat menentukan panjang pendek dan besar kecil bentuk yang dapat menghidupkan desain, tetapi juga dapat menghasilkan ketidakserasian.
5) Nilai Gelap Terang
”Nilai gelap terang adalah suatu sifat warna yang menunjukkan apakah warna mengandung hitam dan putih” (Sri Widarwati 2000 : 10). ”Untuk sifat gelap digunakan warna hitam dan untuk sifat terang digunakan warna putih”. Menurut Widjiningsih (1982 : 6), penggunaan nilai gelap terang yang harmonis tergantung pada penempatan bidang yang baik dan hubungan yang baik antara bentuk- bentuk. Apabila sebuah bidang kecil berisi warna terang berada pada sebuah bidang yang lebar berwarna gelap, akan tampak ketidak
24
harmonisan, jadi nilai gelap sangat mempengaruhi keserasian berbusana.
Gambar 4. Beberapa contoh nilai gelap terang
Sumber (http/mazgun.wordpress.com/2009/10/12unsur-rupa-dan- komposisi)
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa untuk menghasilkan nilai gelap terang yang harmonis harus disesuaikan pada penempatan bidang yang baik karena sangat mempengaruhi keserasian dalam berbusana.
6) Warna
” Disadari atau tidak, kita saat membeli pakaian, rumah, makanan, mobil dan lain-lain sebagian besar dengan mempertimbangkan warnanya. Anggapan kita tentang suatu warna tertentu, hubungan antara warna dengan kepribadian seseorang, ternyata banyak mempengaruhi tingkah laku manusia. Hampir setiap manusia
25
mempunyai warna kesukaannya sendiri. Bahkan kenyataanya, pilihan warna seseorang dapat menggambarkan ciri-ciri kepribadiaannya.
Seringkali reaksi manusia terhadap warna didasarkan pada keadaan emosionalnya (Eileen Rachman : 1986)
Kutipan diatas menunjukkan bahwa peran warna dalam kehidupan manusia sangat penting, sehingga mempengaruhi terhadap emosi dan keputusan-keputusan yang berkaitan dengan segala perilaku hidupnya.
Masyarakat bahkan menghubungkan segi warna ini dengan masalah iklim atau ketika musim liburan. Misalnya merah dan hijau untuk warna usim dingin, lalu warna pastel untuk warna musim semi, dan putih untuk warna musim panas (Gini Stephen Frings, h.129).
Didalam warna ini terdapat dimensi warna dan sifat warna. Warna mempunyai tiga dimensi warna yang berbeda yaitu :
a) Hue ialah istilah yang berkaitan tentang warna itu sendiri yang memungkinkan kita dapat menyebutkan warna merah diantara warna biru dan hijau.
b) Value ialah istilah warna yang berhubungan dengan kekuatan terang gelapnya suatu warna sebagai akibat variasi kekuatan warna cahaya. Skala nilai warna ditentukan oleh deret putih ke deret hitam. Pencampuran warna putih akan mencerahkan warna sementara pencampuran warna hitam akan menggelapkanya.
Warna yang ke arah putih disebut tint, sementara warna yang lebih ke arah hitam disebut shade.
26
c) Intensity ialah istilah yang berhubungan dengan tingkat kecerahan warna sebagai akibat dari perbedaan cerah dan pucatnya warna karena perbedaan komposisi air.
Selain warna mempunyai dimensi, warna juga mempunyai sifat.
Sifat warna diantaranya adalah sebagai berikut
a) Warm Colour ialah warna-warna yang dapat memberi kesan hangat atau panas, seperti warna kuning, merah dan jingga karena warna tersebut dapat dapat diasosiasikan kepada sifat api dan matahari.Dalam teori fisika warna jenis warna ini adalah warna yang mempunyai gelombang cahaya paling panjang dan paling cepat sampai mata. Kelompok warna ini dapat memberi kesan agresif, bersemangat dan hidup.
b) Cool Colour ialah kelompok warna dingin yang mengasosiasikan kita ke dalam alam, seperti pohon, laun, langit dan lain-lain.
Warna ini diwakili oleh warna biru, hijau, dan ungu. Warna biru bersifat menenangkan, warna hijau mengesankan kedamaian, tenang, sejuk dan sepi, sedangkan warna ungu berkesan mewah, agung dan dramatik.
c) Neutrals ialah warna-warna yang cenderung tidak memancing perhatian dan biasanya dipakai untuk menjembatani kita dalam mengkomposisikan warna-warna, seperti warna beige (senada waran krem), coklat, putih, abu-abu dan hitam.
27
Menurut Prapti Karomah (1990) warna dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
a) Warna primer adalah warna yang merupakan dasar dari semua warna. Misalnya warna merah, biru dan kuning.
b) Warna sekunder adalah campuran diantara warna primer.
Misalnya warna violet, hijau dan jingga.
c) Warna tertier adalah campuran warna primer dengan warna sekunder. Misalnya warna biru, hijau, biru violet, merah jingga dan lain-lain.
Menurut Sri Widarwati (2000 : 14), terdapat berbagai kombinasi warna yaitu :
a) Kombinasi warna analogous yaitu perpaduan dua warna yang letaknya berdekatan di dalam lingkaran warna. Misalnya kuning dan hijau, biru dengan biru ungu, merah dengan merah jingga dan lain-lain.
b) Kombinasi warna monochromatis yaitu perpaduan dari satu warna tetapi berbeda tingkatannya. Misalnya biru tua dengan biru muda, merah tua dengan merah muda, dan lain-lain.
c) Kombinasi warna komplemen (pelengkap) terdiri dari dua warna yang letaknya berseberangan di dalam lingkaran warna. Misalnya biru dengan jingga, ungu dengan kuning, hijau dengan merah.
d) Kombinasi warna segitiga terdiri dari tiga warna yang jaraknya sama di dalam lingkaran warna. Misalnya merah, biru, kuning.
Gambar 5. Kombinasi warna segitiga (www.wikipedia.com)
28
Adapun diagram warna menurut Brewster adalah sebagai berikut :
Gambar 6Diagram warna brewster (www.wikipedia.com)
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pemilihan warna sangat penting dalam busana karena warna mempunyai pengaruh sesuai atau tidak warna yang dipakai dalam busana. Warna dapat berfungsi untuk menyamarkan kekurangan ataupun menonjolkan kelebihan pada suatu desain.
7) Tekstur
”Tekstur adalah sifat permukaan dari suatu benda yang dapat dilihat dan dirasakan. Sifat-sifat permukaan tersebut anatara lain kaku, lembut, kasar, halus, tebal, tipis dan tembus terang (transparan)”’ (Sri Widarwati : 14 ). Menurut Widjiningsih (1982 : 5) ”Tekstur adalah sifat permukaan dari garis, bidang maupun bentuk”’. Menurut Chodiyah dan Wisri S. Mamdy (1982 : 22) ”Tekstur adalah garis, bidang dan bentuk mempunyai suatu tekstur atau sifat permukaan, selain dapat dilihat juga dapat dirasakan”. Misalnya sifat permukaan
29
yang kaku, lembut, kasar, halus, tebal, tipis, dan tembus terang.
Menurut Achmad Haldani, tekstur adalah istilah untuk merujuk pada sifat dari suatu permukaan, yaitu dalam hal ini kain. Permukaan dapat bersifat licin, polos, kasar atau bergelombang.
Menurut Sri Widarwati (1993), untuk mengetahui tekstur bahan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu :
a) Diraba : licin, lemas, tipis, dan tebal.
b) Dilihat : kusam, berkilau, tembus terang, kasar, bermotif, dan berbulu.
c) Diraba dan dilihat : kaku.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas disimpulkan tekstur adalah sifat permukaan dari garis, bidang maupun bentuk yang dapat dilihat dan dirasakan.
Bahan mempunyai berbagai macam tekstur diantaranya adalah tekstur bahan berkilau yang memberikan kesan menggemukkan bagi si pemakai, karena bahan yang berkilau dapat memantulkan cahaya.
Tekstur bahan kusam memberikan kesan mengurangi ukuran suatu obyek. Bahan yang polos lebih melangsingkan daripada bahan yang bercorak. Corak yang besar dari suatu bahan juga akan memberikan efek lebih gemuk daripada bahan dengan corak yang kecil.
b) Prinsip-Prinsip Desain
”Prinsip-prinsip desain meliputi kesatuan, pusat pehatian, keseimbangan, perbandingan dan irama ” (Prapti Karomah, 1990).
Menurut Widjiningsih (1982 : 11), ”Prinsip-prinsip desain adalah suatu cara menggunakan dan mnengkombinasikan unsur-unsur desain
30
menurut prosedur tertentu”. Sedangkan menurut Sri Widarwati (2000 : 15) ”Prinsip-prinsip desain adalah suatu cara untuk menyusun unsur- unsur sehinggga tercapai perpaduan yang memberi efek tertentu”
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip desain adalah suatu cara yang meliputi kesatuan, pusat perhatian, keseimbanngan, perbandingan dan irama sesuai prosedur sehingga terjadi perpaduan yang memberi efek tertentu.
Adapun prinsip-prinsip desain menurut Sri Widarwati (2000 : 15- 21) adalah sebagai berikut :
1) Keselarasan (Keserasian)
”Suatu desain dikatakan baik apabila, perbandingannya baik, keseimbangan baik, mempunyai sesuatu yang menarik perhatian dan mempunyai irama yang tepat. Keselarasan adalah suatu asa dalam seni yang mencerminkan kesatuan melalui pemilihan dan susunan obyek dan ide-ide” (Chodiyah dan Wisri A. Mamdy, 1982 : 25). Menurut Lanawati dan Soekarno (2004 : 29) ”Keselarasan adalah kesesuaian antara unsur pada suatu susunan atau komposisi”. Sedangkan menurut Sri Widarwati (2000 : 15)
”Keselarasan adalah kesatuan diantara macam-macam unsur desain walaupun berbeda tetapi membuat tiap-tiap bagian kelihatan bersatu”.
Hal-hal yang harus diperhatikan untuk mencapai keselarasan (keserasian) yaitu :
31
a) Keselarasan dalam garis dan bentuk.
b) Keserasian dalam tekstur.
c) Keserasian dalam warna.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keselarasan adalah keserasian dan kesesuaian antara bagian yang satu dengan bagian yang lain dalam suatu benda yang mencerminkan kesatuan melalui pemilihan dan susunan obyek serta ide-ide.
Desain yang baik perlu memiliki keselarasan antara macam- macam unsur desain yaitu selaras anatara garis dan bentuk, selaras dalam tekstur dan selaras dalam warna sehingga merupakan suatu kesatuan desain yang harmonis. Dengan adanya keharmonisan dalam suatu desain maka bagian-bagian yang terdapat pada desain tidak terpisah-pisah, tetapi merupakan suatu kelompok atau kesatuan yang terikat dan nyaman dilihat.
2) Perbandingan (Proporsi)
”Perbandingan digunakan untuk menampakkan lebih besar atau lebih kecil, dan memberi kesan adanya hubungan satu dengan yang lain yaitu pakaian dan pemakainya” (Sri Widarwati 2000 : 17).
Menurut Prapti Karomah (1990), ”Perbandingan adalah bagaimana cara menempati satu unsur dengan unsur lainnya dalam perbandingan yang baik agar tercapai suatu keselarasan yang menyenangkan penglihatan dan perasaan serta menambah kesan
32
tampak indah”. Sedangkan menurut Widjiningsih (1982 : 13)
”Proporsi adalah hubungan suatu bagian dengan bagian yang lain dalam suatu susunan”.
Untuk memperoleh proporsi yang baik harus diperhatikan hal- hal sebagai berikut
a) Mengetahui bagaimana menciptakan hubungan jarak yang baik agar memperoleh susunan yang menyenangkan.
b) Harus dapat membuat perubahan dalam rupa sesuai dengan yang diinginkan agar memperoleh ukuran dan bentuk yang baik.
c) Supaya dipertimbangkan apakah ukuran itu dapat dikelompokkan bersama-sama dengan baik (Prapti Karomah, 1990)
Pada dasarnya perbandingan proporsi pada desain busana dapat dilakukan pada satu sampai empat tingkatan seperti dikemukan oleh Arifah A. Riyanto (2003 : 52-56).
a) Proporsi pada tingkatan pertama yaitu proporsi pada satu bagian, seperti membandingkan panjang ke lebar dalam satu benda proporsi segi empat, bujur sangkar atau parabola.
b) Proporsi yang kedua yaitu proporsi diantara bagian-bagian desain, seperti proporsi dalam satu model rok dan blus atau celana dengan kemeja sporthem, proporsi ini dapat berupa proporsi warna yang dikombinasikan dengan warna lain dan dapat juga berupa proporsi lengan dengan tubuh keseluruhan.
c) Proporsi yang ketiga yaitu proporsi dari keseluruhan bagian suatu desain busana. Misalnya dengan membandingkan keseluruhan busana dengan adanya warna yang gelap dan terang yang polos dengan yang bercorak.
d) Proporsi yang keempat yaitu tatanan busana dengan berbagai pelengkapnya, seperti pada bentuk dan ukuran suatu desain dan pelengkapnya ketika sebuah busana dikenakan.
Berdasarkan penjelasan di atas proporsi merupakan susunan dari unsur-unsur busana antara bagian yang satu dengan yang lain sehingga mencapai keselarasan.
33
Proporsi bisa terlihat pada perbandingan bahan yang polos dengan bahan tembus terang atau bahan yang polos dengan bahan yang mempunyai motif atau bercorak.
3) Keseimbangan (Balance)
”Keseimbangan atau balance adalah pengaturan susunan unsur- unsur desain busana secara baik sehingga serasi dan selaras pada pemakainya. Suatu keseimbangan akan terwujud apabila penggunaan unsur-unsur seperti garis, bentuk, warna dan yang lain dalam suatu desain dapat memberi rasa puas” (Widjiningsih, 1982). Menurut Atisah Sipahelut dan Petrussumadi (1991 :23),
”Keseimbangan merupakan prinsip desain yang paling banyak menuntut kepekaan perasaan”.
”Ada dua cara untuk memperoleh keseimbangan yaitu keseimbangan simetri dan keseimbangan asimetri” (Sri Widarwati, 1993 : 17). Keseimbangan simetri tercipta jika unsur bagian kanan dan kiri suatu desain sama jaraknya dari pusat.Sedangkan keseimbangan asimetri tercipta jika unsur-unsur bagian kanan dan kiri jaraknya dari pusat tidak sama.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa keseimbangan atau balance adalah pengaturan unsur-unsur desain secara baik sehingga serasi dan selaras.
4) Irama
34
”Irama adalah pergerakan yang dapat mengalihkan pandangan mata dari suatu bagian ke bagian lain” (Sri Widarwati, 2000 : 17).
Menurut Enny Zuhny Khayati (1997 : 3) ”Irama adalah suatu keteraturan dengan sendirinya merupakan suatu yang ajeg atau monoton dan statis”. Menurut Atisah Sipahelut dan Petrussumadi (1991 : 20), ”Irama adalah untaian kesan gerak yang ditimbulkan oleh unsur-unsur yang dipadukan secara berdampingan dan secara keseluruhan dalam suatu komposisi”. Sedangkan menurut Lanawati Basuki dan Soekarno (2004) ”Irama merupakan gerak yang menimbulkan kesan selaras atau tidaknya suatu busana”.
Ada empat macam cara untuk menghasilkan irama dalam desain busana yaitu :
a) Pengulangan adalah suatu cara yang digunakan untuk menghasilkan irama melalui pengulangan garis.
b) Radiasi adalah garis pada pakaian yang memancar dari pusat perhatian menghasilkan irama.
c) Peralihan ukuran adalah pengulangan dari ukuran besar ke ukuran kecil atau sebaliknya.
d) Pertentangan adalah pertemuan antara garis tegak lurus dan garis mendatar pada lipit-lipit atau garis hias.
Irama dapat berupa warna yang diulang, lipit-lipit yang diulang, garis yang bertentangan seperti garis vertikal dan garis horizontal, ukuran besar, kecil dan lain sebagainya.
35 5) Pusat Perhatian
Desain busana harus mempunyai satu bagian yang lebih menarik dari bagian yang lainny, dan ini disebut pusat perhatian.
Pusat perhatian pada busana dapat berupa kerah, ikat pinggang, kerutan, bros, syal warna dan lain-lain. Pusat perhatian ini hendaknya ditempatkan pada suatu yang baik dari si pemakai (Sri Widarwati, 2000 : 21). Menurut Prapti Karomah (1990), tekanan atau pusat perhatian dapat berupa :
a) Kumpulan atau kelompok hiasan pada busan misalnya bentuk kerah yang indah, lipit pantas, kerutan dan lain-lain.
b) Hiasan berupa pita atau kembang, bros, ikat pinggang, syal dan lain-lain.
c) Warna-warna yang kontras dan bentuk-bentuk yang berbeda.
d) Pusat perhatian ini hendaknya ditempatkan pada suatu yang baik dari si pemakai busana.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pusat perhatian adalah sesuatu yang diletakkan pada bagian busana yang dapat menarik perhatian bagi yang melihat. Dalam rancangan busana ini penyusun meletakkan pusat perhatian pada rok yang penuh dengan kerutan kain jala emas dan paduan warna coklat keemasan serta manik-manik yang berwarna merah.
2. Desain Busana
a) Pengertian Desain Busana
”Desain busana yaitu rancangan model busana yang berupa gambar dengan mempergunakan unsur garis, bentuk, siluet (silhouette), ukuran, tekstur yang dapat diwujudkan menjadi busana”
36
(Arifah A. Riyanto, 2003 : 1). Menurut Sri Widarwati (1994) desain busana adalah rancangan atau gambaran busana yang sesuai dengan unsur-unsur desain dan fungsi, sehingga desain busana yang akan dikenakan seseorang harus dapat menutup kekurangan dan menonjolkan suatu keindahan. Sedangkan menurut Lanawati dan Soekarno (2004 : 1) desain adalah pola rancangan yang menjadi dasar pembutan sutau benda, seperti busana. Desain dihasilkan melalui pemikiran berbagai pertimbangan.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa desain busana adalah rancangan atau gambaran yang sesuai dengan unsur- unsur desain dan fungsi yang dapat diwujudkan menjadi busana yang dapat menonjolkan dan menutupi kekurangan dan menonjolkan keindahan.
b) Penggolongan Desain
Menurut Sri Widarwati (2000), penggolongan desain busana terdiri dari dua macam desain yaitu :
1) Desain Struktur (Structure Design)
Desain struktur adalah susunan yang berdasarkan bentuk, ukuran, warna dan tekstur dari suatu benda. Desain dapat berbentuk benda yang memiliki tiga ukuran atau dimensi maupun gambaran dari suatu benda dan dikerjakan diatas kertas. Desain struktur pada desain busana mutlak harus dibuat dalam suatu desain yang disebut siluet. Berdasarkan garis yang digunakan
37
dibedakan berbagai macam struktur dasar siluet yaitu siluet S, A, H, I, Y dan bustle.
Menurut Arifah A. Riyanto (2003 : 71) ”Desain struktur adalah suatu susunan garis, bentuk yang dapat dipadukan menjadi suatu rancangan atau model busana yang dapat berbentuk siluet”.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan desain struktur adalah suatu susunan yang berdasarkan bentuk, ukuran, warna dan tekstur dari suatu benda yang dapat dipadukan menjadi suatu rancangan atau model busana yang dapat berbentuk siluet.
Adapun syarat-syarat yang perlu diperhatikan untuk memperoleh desain struktur yang baik adalah sebagai berikut : a) Bentuk sederhana dan indah.
b) Disesuaikan dengan tujuan.
c) Proporsinya baik.
d) Dibuat dari bahan yang sama.
Berdasarkan penjelasan di atas desain struktur adalah desain yang berdasarkan bentuk, ukuran, warna dan tekstur dari suatu benda yang mempunyai ruang maupun gambaran dari suatu benda.
2) Desain Hiasan (Decorative Design)
”Desain hiasan adalah bagian-bagian dalam bentuk struktur yang tujuannya untuk mempertinggi keindahan desain strukturnya seperti kerah, renda, sulaman, lipit, anyaman, dan lain-lain” (Sri Widarwati (1993 : 2). Menurut Widjiningsih (1992 : 2) ”Desain
38
hiasan pada desain busana adalah bagian-bagian dalam bentuk struktur yang tujuannya untuk mempertinggi keindahan desain strukturnya”. Sedangkan menurut Arifah A.Riyanto (2003 :72)
”Desain hiasan juga dapat diartikan sebagai desain dekoratif yaitu suatu desain yang dibuat untuk memperindah desain struktur baik sebagai hiasan saja maupun mempunyai fungsi ganda”.
Adapun syarat-syarat desain hiasan meliputi : a) Penggunaan hiasan tidak berlebihan.
b) Letak hiasan mempertimbangkan dengan bentuk srukturnya.
c) Memperhatikan efek-efek yang dapat ditimbulkan dari luar belakang desain strukturnya.
d) Pola hiasan disesuaikan dengan bahan desain strukturnya.
e) Hiasan harus sesuai dengan bahan desain strukturnya.
Dari beberapa pendapat di atas desain hiasan dapat disimpulkan bahwa desain yang digunakan untuk memperindah suatu benda dengan tujuan mempertinggi keindahan desain strukturnya. Desain hiasan pada desain busana adalah bagian-bagian dalam bentuk struktur yang tujuannya mempertinggi keindahan desain strukturnya.
c) Teknik Penyajian Gambar
Menurut Lanawati Basuki dan Soekarno (2004), dalam menampilkan desain busana desainer hendaknya tidak mengabaikan kenyataan yang sebenarnya sehingga dapat menghasilkan gambar yang ideal, proporsional dan menarik. Bnayak cara untuk
39
menampilkan gambar desain busana, tetapi perancang busana dapat memilih salah satu cara yang paling cocok dan serasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan menurut Sri Widarwati (1993 : 72) teknik penyajian gambar adalah cara menyelesaikan gambar desain busana yang telah diciptakan di atas tubuh sehingga bagian- bagian gambar tersebut dapat terlihat, bagian-bagian tersebut antara lain :
1) Bahan dan permukaan tekstil serta warna yang dipakai.
2) Hiasan pada pakaian yang dijahitkan.
3) Teknik penyelesaian yang digunakan dalam busana.
Adapun tujuan dari penyajian gambar adalah sebagai berikut : 1) Sebagai alat untuk menggambarkan ide si pemakai yang akan
menjadi gambaran tentang sebuah busana yang diinginkan.
2) Sebagai bahan agar apa yang ingin diciptakan sesaui dengan keinginanya, dapat dimengerti oleh orang lain dan dapat diselesaikan atau diwujudkan dalam bentuk busana yang sebenarnya.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa teknik penyajian gambar adalah suatu cara penyelesaian desain busana yang bertujuan untuk memberikan penjelsan tentang desain yang dibuat.
Menurut Sri Widarwati (1993 : 72), dalam membuat atau menggambar sketsa-sketsa untuk menciptakan desain pakaian, ada beberapa teknik penyajian gambar yaitu :
40
1. Design Sketching (Menggambar Sketsa)
Design sketching atau desain sketsa adalah desain yang dibuat untuk mengembangkan ide-ide dan menerapkannya pada kertas secepat mungkin (Sri Widarwati, 1996 : 72). Sedangkan menurut Soekarno dan Linawati Basuki (2004 : 2) design sketching adalah suatu garis besar atau outlime dari rancangan mode menggunakan pensil, pena atau alat tulis lain.
Maksud dari design sketching atau menggambar sketsa adalah untuk mengembangkan ide-ide dan penerapannya pada kertas secepat mungkin. Dalam design sketching ini kita harus dapat mengembangkan style dengan cara kita sendiri. Menurut Sri Widarwati (1992 : 72) ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggambar sketsa yaitu :
1) Gambar sketsa harus jelas, tidak menggunakan detail detail yang tidak berguna. Misalnya tangan, kaki serta kepala tidak perlu digambar lengkap.
2) Dapat dibuat langsung di atas kertas
3) Sikap atau pose lebih bervariasi, memperlihatkan segi-segi yang menarik dari desain.
4) Menggambar semua detail bagian busana seperti kerh, lengan, saku dan hiasan pada kertas sheet.
5) Pengembangan gambar dikerjakan di ats kertas sheet yang sama, dimungkinkan terjadi perubahan siluet atau variasi pada detail.
6) Jangan menghapus apabila timbul ide baru. Jadi dalam kertas sheet terdapat beberapa model.
7) Memilih desain yang disukai.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa design sketching adalah desain yang dibuat untuk mengembangkan ide- ide dan menerapkannya pada kertas.
41 2. Production Sketching.
Production sketching adalah suatu sketsa yang akan digunakan untuk tujuan produksi suatu busana (Sri Widarwati, 1996 : 75).
Sedangkan menurut Arifah A. Riyanto (2003 : 139) production sketching adalah suatu desain yang akan digunakan untuk tujuan produksi garment.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam production sketching yaitu :
a) Semua detail harus digambarkan dengan jelas dan disertai dengan keterangan.
b) Sikap atau pose depan dan belakang dengan proporsi yng sebenarnya.
c) Penempatan kup, saku, kancing dan lain sebagainya harus lebih teliti.
d) Desain bagian belakang harus ada.
e) Apabila terdapat detail yang rumit harus digambar tersendiri.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa production sketching adalah sketsa yang digunakan untuk tujuan produksi suatu busana, sehingga detail busana harus tergambar jelas.
3. Presentation Drawing.
Presentation drawing adalah suatu sajian gambar atau koleksi yang ditujukan kepada pelanggan atau buyer (Ari Widarwati, 1996
42
: 77). Sedangkan menurut Arifah A. Riyanto (2003 : 144) presentation drawing adalah desain model busana yang digambar lengkap dengan warna atau corak kain pada suatu pose tubuh tertentu yang dapat dilihat pada bgain muka dan belakang. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : a) Proporsi tubuh lengkap.
b) Membuat gambar model busana bagian belakang.
c) Memberi keterangan pada kertas kerja dengan jelas dan lengkap.
d) Memberi detail model dengan jelas.
e) Menempelkan contoh bahan disebelahnya atau pada bagain bawah desain.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa presentation drawing merupakan suatu sajian gambar atau koleksi yang ditunjukkan kepada pelanggan (buyer).
4) Fashion Illustration.
Fashion Illustration adalah menggambar busana dengan proporsi tubuh panjang yang biasanaya untuk dewasa 8 kali tinggi kepala, tetapi menggambar dengan cara illustrasi menjadi 10 hingga 11 tinggi kepala (Arifah A. Riyanto, 203 : 247). Seorang fashion illustrator bertugas membuat suatu ilustrasi untuk suatu promosi desain dan biasanya bekerja untuk suatu majalah, koran,
43
buku dan lain-lain. Fashion illustration harus dibuat semenarik mungkin agar menarik perhatian masyarakat.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa fashion illustrator adalah suatu sajian gambar dengan tujuan promosi suatu desain dengan ukuran untuk dewasa yang biasanya 8 kali tinggi kepala menjadi 10 sampai dengan 11 kali tinggi kepala.
5) Three Dimention Drawing.
Three Dimention Drawing merupakan suatu sajian gambar yang menampilkan ciptaan disain busana dengan bahan sebenarnya dibuat dalam tiga dimensi (Sri Widarwati : 1993).
Three dimention drawing biasanya digunakan untuk mempromosikan bahan atau jenis kain tekstil yang baru darai sutau industri. Selain itu three dimention drawing juga digunakan oleh sebuah butik maupun rumah produksi untuk mempromosikan hasil karyanya.
Langkah-langkah menggambar tiga dimensi sebagai berikut.
a) Menggambar desain busana di atas proporsi tubuh yang lengkap
b) Menyelesaikan gambar (memberi warna)
c) Memotong pada bagian-bagian tertentu, misalnya pada panjang bahu sampai batas panjang lengan atas dan bawah, sisi badan kanan dan kiri. Untuk bagian lubang leher, lubang
44
lengan dan batas bawah rok tidak dipotong. Bagian ini diselesaikan dengan penyelesaian jahitan yang sesungguhnya d) Menggunting bahan sesuai model ditambah 1 cm untuk
penyelesaian gambar. Pada bagian tertentu ditambah beberapa cm untuk penyelesaian jahitan
e) Menjahit dan menyelesaikan kerung leher, lubang lengan, bagian bawah rok dan melengkapinya sesuai model
f) Memberi lem pada bagian-bagian yang nantinya tertutup bahan
g) Menempelkan kapas sebagian agar tidak mengenai bahan h) Memasukkan bahan pada bagian yang terpotong, kemudian
lem pada bagian buruk (sebaliknya)
i) Memasukkan sejumlah kapas agar berkesan timbul dan tampak lebih menarik. Penambahan kapas menyesuaikan bentuk tubuh dan model
j) Memberi lapisan kertas yang kuat untuk menutupi dan merapikan sajian gambar pada bagian buruk
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa three dimention drawing merupakan suatu cara untuk mencipta suatu busana dengan menggunakan bahan sebenarnya dengan cara tiga dimensi.
3. Desain Hiasan Busana