BAB II KAJIAN TEORI
B. Sumber Ide
2. Sumber Ide Surjan
Sumber ide yang dipilih dalam pembuatan kostum tari dalam proyek akhir ini diambil dari salah satu busana penduduk dunia yaitu surjan dari yogyakrta drengan judul ” Kostum Tari Rumangkang Untuk Tokoh Laki-laki Dengan Sumber Ide Surjan Yogyakarta”.
Surjan adalah busana daerah Yogyakarta yang dikenakan oleh kaum pria. Surjan ini merupakan busana luar bagian atas yang mempunyai bagian badan dengan penutup kancing overlap yang diberi bef bagian dalam, lengan yang dipasangkan pada bahu agak lebar, kerah cina yang agak tinggi yang diberi kancingbungkus yang dillit benang serta memakai saku tempel. Bahan yang dipergunakan yaitu bahan lurik atau bahan katun bermotif bunga batu. Surjan bila dipakai dipadukan dengan kain panjang atau kain batik.
Jas tutup atau surjan adalah pakaian adat Yogyakarta yang dikenakan oleh laki-laki terbuat dari bahan lurik, yussor, kain jas, dsb. Diujung bawah dibuat runcing yang jatuh tepat dibagian tengan muka. Adapun perlengkapan lain yang dikenakan saat mengenakan surjan adalah:
a. Kain batik
Kain batik yang digunakan adalah kain batik cap atau batik tulis. Kain batik diberi wiru selebar tiga jari atau lebih kurang 4 cm. jumlah wiru
15
antara tujuh sampai Sembilan lipatan. Letak wiru selalu berada ditengah muka. Kain dieratkan pada pinggang menggunakan stagen atau ikat pinggang.
b. Blangkon
Adalah penutup kepala yang dibuat dari batik . bentuk blangkon antara Yogyakarta dan Solo terdapat perbedaan pada bagian belakang blangkon. Untuk pria Yogyakarta pada bagian belakang blangkon terdapat mondolan berbentuk telur dan untuk pria Solo tidak terdapat mondolan.
Surjan Yogyakarta adalah surjan yang dikenakan oleh masyarakat Yogyakarta. Sumber ide tersebut diterapkan dalam bentuk kostum bagian atas yang sudah dikembangkan dalam bentuk modern
Sumber Ide yang diambil dari Surjan adalah bentuk siluet dari surjan yang menggunakan siluet H serta garis-garis yang terdapat pada surjan yang dapat menunjukkan karakteristik penari pria yang tegas dan kokoh.
16
Contoh gambar surjan dari yogyakarta tampak muka
Gambar 1. surjan tampak muka
Sumber (http/tjokrosuharto.com/catalog/adat_busana) Berdasarkan uraian diatas dapat dijelaskan bahwa Surjan adalah pakaian adat Yogyakarta yang dikenakan oleh kaum pria. Surjan ini merupakan busana luar bagian atas yang mempunyai bagian badan dengan penutup kancing overlap yang diberi bef bagian dalam, lengan yang dipasangkan pada bahu agak lebar, kerah cina yang agak tinggi yang diberi kancingbungkus yang dillit benang serta memakai saku tempel. Bahan yang dipergunakan yaitu bahan lurik atau bahan satin bermotif kembang batu.
Sumber Ide yang diambil dari Surjan adalah bentuk siluet dari surjan yang menggunakan siluet H serta garis-garis yang terdapat pada surjan yang dapat menunjukkan karakteristik penari pria yang tegas dan kokoh.
17 C. DESAIN
“Desain adalah rancangan sesuatu yang dapat diwujudkan pada benda nyata atau perilaku yang dapat dirasakan, dilihat, didengar, dan diraba”
(Arifah A. Riyanto, 2003 : 1). Menurut Sri Widarwati (1994 : 2), “Desain adalah suatu rancangan atau gambaran suatu obyek atau benda yang dibuat berdasarkan susunan garis, bentuk, warna dan tekstur”. Desain menurut Prapti Karomah (1998 : 12), “Adalah pola rancangan yang menjadi dasar pembuatan suatu benda buatan”. Sedangkan menurut Widjiningsih (1982 : 1), “Desain adalah suatu rancangan gambar yang nantinya dilaksanakan dengan tujuan tertentu yang berupa susunan garis, bentuk, warna dan tekstur”.
Berdasarkan beberapa pengertian desain di atas dapat disimpulkan desain adalah suatu rancangan benda nyata atau perilaku manusia yang dapat dirasakan, dilihat, didengar, dan diraba berdasarkan susunan garis, bentuk, warna dan tekstur
Untuk membuat desain busana diperlukan adanya penyusunan unsur desain dan prinsip desain.
1. Unsur dan Prinsip Desain a. Unsur-Unsur Desain
”Unsur-unsur desain adalah segala sesuatu yang dipergunakan untuk menyusun suatu rancangan” (Sri Widarwati, 2000 : 7). Menurut Chodiyah dan Wisri A.Mamdy (1982 : 8) ”Unsur-unsur desain adalah garis, arah, ukuran, bentuk, nilai gelap terang, warna dan tekstur”.
18
Dari uraian diatas dapat dijelaskan bahwa unsur desain adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyusun suatu rancangan yang dapat berupa garis, arah, bentuk, ukuran, nilai gelap terang dan tekstur.
1) Garis
”Garis merupakan unsur tertua yang digunakan untuk mengungkapkan emosi dan perasaan seseorang dalam desain busana” (Sri Widarwati, 1993 : 7). Menurut Lanawati Basuki (2004) ”Garis adalah hasil goresan dari satu titik ke titik lain”.
Menurut Atisah Sipahelut Petrussumardi (1991 : 24) yang dimaksud dengan garis adalah ”hasil goresan dengan benda keras diatas benda alam (tanah, pasir, daun, batang pohon dan sebagainya)”.. Sedangkan menurut Enny Zuhny Khayati (1997 : 3)
”Garis adalah hasil gerak atau titk ke titik lain sesuai dengan arah dan tujuan”.
Menurut Prapti Karomah dan Sicilia Sawitri (1986:35), garis dapat dibedakan menjadi :
a) Garis Lurus
Garis lurus berdasarkan arahnya dapat dibedakan menjadi garis vertical, horizontal, dan diagonal. Garis lurus pada suatu busana akan memberikan kesan tinggi bagi orang yang memakai busana tersebut.
b) Garis Melengkung
Garis melengkung dapat dibedakan menjadi garis sedikit melengkung, garis melengkung biasa, dan garis sangat melengkung sehingga merupakan setengah lingkaran.
19
Garis mempunyai sifat yang dapat memberikan kesan pada suatu desain busana yaitu :
a) Garis lurus memberikan kesan tegang, pasti, kau, tegas dan keras.
Garis lurus tegak dapat memberikan kesan langsing dan tinggi.
Sedangkan garis lurus datar memberikan kesan lebar atau memendekkan.
b) Garis lengkung memberikan kesan luwes, lembut, riang, indah, feminine atau gembira
Dalam desain busana garis mempunyai fungsi sebagai berikut yaitu :
a) Membatasi bentuk strukturnya (siluet).
b) Membagi bentuk struktur menjadi bagian-bagian yang merupakan hiasan dan menentukan model. Misalnya : garis empire, garis princess, longtorso, yoke (pas)
c) Menentukan periode suatu busana (siluet, periode empire, periode princess)
d) Memberi arah dan pergerakan (Chodiyah dan Wisri A.Mamdy, 1982 : 8)
Gambar 2. Beberapa jenis dan karakter garis
Sumber (http/mazgun.wordpress.com/2009/10/12unsur-rupa-dan-komposisi)
20
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa garis adalah hasil goresan benda keras diatas permukaan yang digunakan untuk mengungkapkan emosi dan perasaan seseorang sesuai arah dan tujuannya.
2) Arah
”Setiap garis mempunyai arah yaitu mendatar (horizontal), tegak lurus (vertikal) dan miring ke kiri dan miring ke kanan (diagonal)” (Sri Widarwati, 2000 : 8 ). Menurut Arifah A. Riyanto (2003 : 32) ”Antara garis dan arah saling berkaitan, karena semua garis mempunyai arah vertikal, horizontal, diagonal dan lengkung”.
Sedangkan menurut Atisah Sipahelut dan Petrus Sumadi (1991)
”Arah adalah wujud benda yang dapat dirasakan dan mampu menggerakkan rasa”.
Arah garis yang akan digunakan dalam suatu desain busana akan memberi kesan tertentu pada hasil rancangannya. Menurut Widjingsih (1982 : 4) setiap arah memberi kesan yang berbeda yaitu :
a) Arah mendatar atau horizontal memberi kesan tenang, tentram, dan pasif.
b) Arah tegak lurus atau vertikal memberi kesan aguung, kokoh, stabil dan berwibawa.
c) Arah diagonal memberi kesa lincah, gembira dan melukiskan gerak perpindahan yang dinamis.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa arah dan garis sangat berkaitan. Dapat dikatakan demikian karena garis memiliki arah vertikal, horizontal, diagonal dan lengkung,
21
misalnya garis lipit yang dibuat vertikal, garis empire yang dibuat horizontal dan lain sebagainya.
3) Bentuk
”Unsur bentuk ada dua macam yaitu bentuk dua dimensi dan bentuk tiga dimensi. Bentuk dua dimensi adalah bidang datar yang dibatasi oleh garis, sedangkan bentuk tiga dimensi adalah ruang yang bervolume dibatasi oleh permukaan”. (Sri Widarwati, 1993 : 10). Menurut Soekarno dan Linawati Basuki (2004) ”Bentuk merupakan rancangan bentuk dasar yang mudah dipahami, yang akan dituangkan kedalam bentuk pola rancangan dan nantinya diwujudkan ke bentuk pakaian sebenarnya”.
Menurut sifatnya bentuk juga dibedakan menjadi dua yaitu
a) Bentuk geometris. Misalnya segitiga, kerucut, segiempat, trapesium, lingkaran, silinder.
b) Bentuk bebas. Misalnya bentuk daun, bunga, pohon, titik air, batu-batuan dan lain-lain.
Menurut Arifah A. Riyanto (2003 : 242) bentuk dibedakan menjadi lima yaitu :
a) Bentuk segi empat dan segi panjang.
b) Bentuk segitiga dan kerucut.
c) Bentuk lingkaran dan setengah lingkaran.
d) Bentuk yang mempunyai sisi dan ruang.
e) Bentuk sebgai hiasan.
22
Gambar 3. Beberapa contoh bentuk
Sumber (http/mazgun.wordpress.com/2009/10/12unsur -rupa-dan-komposisi)
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk ada dua macam yaitu bentuk dua dimensi dan bentuk tiga dimensi.
Bentuk dua dimensi dibatasi dengan garis misalnya gambar desain busana, sedangkan bentuk tiga dimensi mempunyai volume.
4) Ukuran
”Ukuran adalah dimensi benda yang menyangkut ruang dan dimensi manusia” (Atisah Sipahelut dan Petrus Sumadi, 1991 : 34) Menurut Prapti Karomah (1990 : 10) ”Ukuran adalah ukuran-ukuran bagian busana. Ukuran yang kontras (berbeda) pada suatu desain dapat menimbulkan perhatian dan menghidupkan suatu desain, tetapi dapat pula menghasilkan ketidakserasian apabila ukuran tidak sesuai”
(Widjiningsih, 1982 : 5). Menurut, Sri Widarwati (2000 : 10) Ukuran digunakan untuk menentukan panjang rok. Ada lima ukuran panjang rok yaitu
23
a) Mini : rok yang panjangnya 10-15 cm di atas lutut.
b) Kini : rok yang panjangnya sampai lutut
c) Midi : rok yang panjangnya 10-15 cm di bawah lutut.
d) Maxi : rok yang panjangnya di atas pergelangan kaki.
e) Longdress : rok yang panjangnya sampai lantai / tumit.
Menurut Goet Poespo ada delapan macam ukuran yang panjang rok yaitu :
a) Peplum yaitu ukuran paling pendek dari variasi panjang rik, umumnya panjang peplum ini dihubungkan dengan busana bagian atas.
b) Macro yaitu rok yang panjangnya hanya cukup untuk menutupi bgaian pantat.
c) Mini yaitu rok yang panjangnya sampai pertengahan paha.
d) Kini yaitu rok yang panjangnya sampai lutut.
e) Midi yaitu rok yang panjangnya sampai pertengahan betis.
f) Maxi yaitu rok yang panjangnya di ats pergelangan kaki.
g) Ankle yaitu rok yang panjangnya sampai mata kaki.
h) Floor yaitu rok yang panjangnya sampai mata lantai.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ukuran dapat menentukan panjang pendek dan besar kecil bentuk yang dapat menghidupkan desain, tetapi juga dapat menghasilkan ketidakserasian.
5) Nilai Gelap Terang
”Nilai gelap terang adalah suatu sifat warna yang menunjukkan apakah warna mengandung hitam dan putih” (Sri Widarwati 2000 : 10). ”Untuk sifat gelap digunakan warna hitam dan untuk sifat terang digunakan warna putih”. Menurut Widjiningsih (1982 : 6), penggunaan nilai gelap terang yang harmonis tergantung pada penempatan bidang yang baik dan hubungan yang baik antara bentuk-bentuk. Apabila sebuah bidang kecil berisi warna terang berada pada sebuah bidang yang lebar berwarna gelap, akan tampak ketidak
24
harmonisan, jadi nilai gelap sangat mempengaruhi keserasian berbusana.
Gambar 4. Beberapa contoh nilai gelap terang
Sumber (http/mazgun.wordpress.com/2009/10/12unsur-rupa-dan-komposisi)
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa untuk menghasilkan nilai gelap terang yang harmonis harus disesuaikan pada penempatan bidang yang baik karena sangat mempengaruhi keserasian dalam berbusana.
6) Warna
” Disadari atau tidak, kita saat membeli pakaian, rumah, makanan, mobil dan lain-lain sebagian besar dengan mempertimbangkan warnanya. Anggapan kita tentang suatu warna tertentu, hubungan antara warna dengan kepribadian seseorang, ternyata banyak mempengaruhi tingkah laku manusia. Hampir setiap manusia
25
mempunyai warna kesukaannya sendiri. Bahkan kenyataanya, pilihan warna seseorang dapat menggambarkan ciri-ciri kepribadiaannya.
Seringkali reaksi manusia terhadap warna didasarkan pada keadaan emosionalnya (Eileen Rachman : 1986)
Kutipan diatas menunjukkan bahwa peran warna dalam kehidupan manusia sangat penting, sehingga mempengaruhi terhadap emosi dan keputusan-keputusan yang berkaitan dengan segala perilaku hidupnya.
Masyarakat bahkan menghubungkan segi warna ini dengan masalah iklim atau ketika musim liburan. Misalnya merah dan hijau untuk warna usim dingin, lalu warna pastel untuk warna musim semi, dan putih untuk warna musim panas (Gini Stephen Frings, h.129).
Didalam warna ini terdapat dimensi warna dan sifat warna. Warna mempunyai tiga dimensi warna yang berbeda yaitu :
a) Hue ialah istilah yang berkaitan tentang warna itu sendiri yang memungkinkan kita dapat menyebutkan warna merah diantara warna biru dan hijau.
b) Value ialah istilah warna yang berhubungan dengan kekuatan terang gelapnya suatu warna sebagai akibat variasi kekuatan warna cahaya. Skala nilai warna ditentukan oleh deret putih ke deret hitam. Pencampuran warna putih akan mencerahkan warna sementara pencampuran warna hitam akan menggelapkanya.
Warna yang ke arah putih disebut tint, sementara warna yang lebih ke arah hitam disebut shade.
26
c) Intensity ialah istilah yang berhubungan dengan tingkat kecerahan warna sebagai akibat dari perbedaan cerah dan pucatnya warna karena perbedaan komposisi air.
Selain warna mempunyai dimensi, warna juga mempunyai sifat.
Sifat warna diantaranya adalah sebagai berikut
a) Warm Colour ialah warna-warna yang dapat memberi kesan hangat atau panas, seperti warna kuning, merah dan jingga karena warna tersebut dapat dapat diasosiasikan kepada sifat api dan matahari.Dalam teori fisika warna jenis warna ini adalah warna yang mempunyai gelombang cahaya paling panjang dan paling cepat sampai mata. Kelompok warna ini dapat memberi kesan agresif, bersemangat dan hidup.
b) Cool Colour ialah kelompok warna dingin yang mengasosiasikan kita ke dalam alam, seperti pohon, laun, langit dan lain-lain.
Warna ini diwakili oleh warna biru, hijau, dan ungu. Warna biru bersifat menenangkan, warna hijau mengesankan kedamaian, tenang, sejuk dan sepi, sedangkan warna ungu berkesan mewah, agung dan dramatik.
c) Neutrals ialah warna-warna yang cenderung tidak memancing perhatian dan biasanya dipakai untuk menjembatani kita dalam mengkomposisikan warna-warna, seperti warna beige (senada waran krem), coklat, putih, abu-abu dan hitam.
27
Menurut Prapti Karomah (1990) warna dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
a) Warna primer adalah warna yang merupakan dasar dari semua warna. Misalnya warna merah, biru dan kuning.
b) Warna sekunder adalah campuran diantara warna primer.
Misalnya warna violet, hijau dan jingga.
c) Warna tertier adalah campuran warna primer dengan warna sekunder. Misalnya warna biru, hijau, biru violet, merah jingga dan lain-lain.
Menurut Sri Widarwati (2000 : 14), terdapat berbagai kombinasi warna yaitu :
a) Kombinasi warna analogous yaitu perpaduan dua warna yang letaknya berdekatan di dalam lingkaran warna. Misalnya kuning dan hijau, biru dengan biru ungu, merah dengan merah jingga dan lain-lain.
b) Kombinasi warna monochromatis yaitu perpaduan dari satu warna tetapi berbeda tingkatannya. Misalnya biru tua dengan biru muda, merah tua dengan merah muda, dan lain-lain.
c) Kombinasi warna komplemen (pelengkap) terdiri dari dua warna yang letaknya berseberangan di dalam lingkaran warna. Misalnya biru dengan jingga, ungu dengan kuning, hijau dengan merah.
d) Kombinasi warna segitiga terdiri dari tiga warna yang jaraknya sama di dalam lingkaran warna. Misalnya merah, biru, kuning.
Gambar 5. Kombinasi warna segitiga (www.wikipedia.com)
28
Adapun diagram warna menurut Brewster adalah sebagai berikut :
Gambar 6Diagram warna brewster (www.wikipedia.com)
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pemilihan warna sangat penting dalam busana karena warna mempunyai pengaruh sesuai atau tidak warna yang dipakai dalam busana. Warna dapat berfungsi untuk menyamarkan kekurangan ataupun menonjolkan kelebihan pada suatu desain.
7) Tekstur
”Tekstur adalah sifat permukaan dari suatu benda yang dapat dilihat dan dirasakan. Sifat-sifat permukaan tersebut anatara lain kaku, lembut, kasar, halus, tebal, tipis dan tembus terang (transparan)”’ (Sri Widarwati : 14 ). Menurut Widjiningsih (1982 : 5) ”Tekstur adalah sifat permukaan dari garis, bidang maupun bentuk”’. Menurut Chodiyah dan Wisri S. Mamdy (1982 : 22) ”Tekstur adalah garis, bidang dan bentuk mempunyai suatu tekstur atau sifat permukaan, selain dapat dilihat juga dapat dirasakan”. Misalnya sifat permukaan
29
yang kaku, lembut, kasar, halus, tebal, tipis, dan tembus terang.
Menurut Achmad Haldani, tekstur adalah istilah untuk merujuk pada sifat dari suatu permukaan, yaitu dalam hal ini kain. Permukaan dapat bersifat licin, polos, kasar atau bergelombang.
Menurut Sri Widarwati (1993), untuk mengetahui tekstur bahan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu :
a) Diraba : licin, lemas, tipis, dan tebal.
b) Dilihat : kusam, berkilau, tembus terang, kasar, bermotif, dan berbulu.
c) Diraba dan dilihat : kaku.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas disimpulkan tekstur adalah sifat permukaan dari garis, bidang maupun bentuk yang dapat dilihat dan dirasakan.
Bahan mempunyai berbagai macam tekstur diantaranya adalah tekstur bahan berkilau yang memberikan kesan menggemukkan bagi si pemakai, karena bahan yang berkilau dapat memantulkan cahaya.
Tekstur bahan kusam memberikan kesan mengurangi ukuran suatu obyek. Bahan yang polos lebih melangsingkan daripada bahan yang bercorak. Corak yang besar dari suatu bahan juga akan memberikan efek lebih gemuk daripada bahan dengan corak yang kecil.
b) Prinsip-Prinsip Desain
”Prinsip-prinsip desain meliputi kesatuan, pusat pehatian, keseimbangan, perbandingan dan irama ” (Prapti Karomah, 1990).
Menurut Widjiningsih (1982 : 11), ”Prinsip-prinsip desain adalah suatu cara menggunakan dan mnengkombinasikan unsur-unsur desain
30
menurut prosedur tertentu”. Sedangkan menurut Sri Widarwati (2000 : 15) ”Prinsip-prinsip desain adalah suatu cara untuk menyusun unsur-unsur sehinggga tercapai perpaduan yang memberi efek tertentu”
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip desain adalah suatu cara yang meliputi kesatuan, pusat perhatian, keseimbanngan, perbandingan dan irama sesuai prosedur sehingga terjadi perpaduan yang memberi efek tertentu.
Adapun prinsip-prinsip desain menurut Sri Widarwati (2000 : 15-21) adalah sebagai berikut :
1) Keselarasan (Keserasian)
”Suatu desain dikatakan baik apabila, perbandingannya baik, keseimbangan baik, mempunyai sesuatu yang menarik perhatian dan mempunyai irama yang tepat. Keselarasan adalah suatu asa dalam seni yang mencerminkan kesatuan melalui pemilihan dan susunan obyek dan ide-ide” (Chodiyah dan Wisri A. Mamdy, 1982 : 25). Menurut Lanawati dan Soekarno (2004 : 29) ”Keselarasan adalah kesesuaian antara unsur pada suatu susunan atau komposisi”. Sedangkan menurut Sri Widarwati (2000 : 15)
”Keselarasan adalah kesatuan diantara macam-macam unsur desain walaupun berbeda tetapi membuat tiap-tiap bagian kelihatan bersatu”.
Hal-hal yang harus diperhatikan untuk mencapai keselarasan (keserasian) yaitu :
31
a) Keselarasan dalam garis dan bentuk.
b) Keserasian dalam tekstur.
c) Keserasian dalam warna.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keselarasan adalah keserasian dan kesesuaian antara bagian yang satu dengan bagian yang lain dalam suatu benda yang mencerminkan kesatuan melalui pemilihan dan susunan obyek serta ide-ide.
Desain yang baik perlu memiliki keselarasan antara macam-macam unsur desain yaitu selaras anatara garis dan bentuk, selaras dalam tekstur dan selaras dalam warna sehingga merupakan suatu kesatuan desain yang harmonis. Dengan adanya keharmonisan dalam suatu desain maka bagian-bagian yang terdapat pada desain tidak terpisah-pisah, tetapi merupakan suatu kelompok atau kesatuan yang terikat dan nyaman dilihat.
2) Perbandingan (Proporsi)
”Perbandingan digunakan untuk menampakkan lebih besar atau lebih kecil, dan memberi kesan adanya hubungan satu dengan yang lain yaitu pakaian dan pemakainya” (Sri Widarwati 2000 : 17).
Menurut Prapti Karomah (1990), ”Perbandingan adalah bagaimana cara menempati satu unsur dengan unsur lainnya dalam perbandingan yang baik agar tercapai suatu keselarasan yang menyenangkan penglihatan dan perasaan serta menambah kesan
32
tampak indah”. Sedangkan menurut Widjiningsih (1982 : 13)
”Proporsi adalah hubungan suatu bagian dengan bagian yang lain dalam suatu susunan”.
Untuk memperoleh proporsi yang baik harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut
a) Mengetahui bagaimana menciptakan hubungan jarak yang baik agar memperoleh susunan yang menyenangkan.
b) Harus dapat membuat perubahan dalam rupa sesuai dengan yang diinginkan agar memperoleh ukuran dan bentuk yang baik.
c) Supaya dipertimbangkan apakah ukuran itu dapat dikelompokkan bersama-sama dengan baik (Prapti Karomah, 1990)
Pada dasarnya perbandingan proporsi pada desain busana dapat dilakukan pada satu sampai empat tingkatan seperti dikemukan oleh Arifah A. Riyanto (2003 : 52-56).
a) Proporsi pada tingkatan pertama yaitu proporsi pada satu bagian, seperti membandingkan panjang ke lebar dalam satu benda proporsi segi empat, bujur sangkar atau parabola.
b) Proporsi yang kedua yaitu proporsi diantara bagian-bagian desain, seperti proporsi dalam satu model rok dan blus atau celana dengan kemeja sporthem, proporsi ini dapat berupa proporsi warna yang dikombinasikan dengan warna lain dan dapat juga berupa proporsi lengan dengan tubuh keseluruhan.
c) Proporsi yang ketiga yaitu proporsi dari keseluruhan bagian suatu desain busana. Misalnya dengan membandingkan keseluruhan busana dengan adanya warna yang gelap dan terang yang polos dengan yang bercorak.
d) Proporsi yang keempat yaitu tatanan busana dengan berbagai pelengkapnya, seperti pada bentuk dan ukuran suatu desain dan pelengkapnya ketika sebuah busana dikenakan.
Berdasarkan penjelasan di atas proporsi merupakan susunan dari unsur-unsur busana antara bagian yang satu dengan yang lain sehingga mencapai keselarasan.
33
Proporsi bisa terlihat pada perbandingan bahan yang polos dengan bahan tembus terang atau bahan yang polos dengan bahan yang mempunyai motif atau bercorak.
3) Keseimbangan (Balance)
”Keseimbangan atau balance adalah pengaturan susunan unsur-unsur desain busana secara baik sehingga serasi dan selaras pada pemakainya. Suatu keseimbangan akan terwujud apabila penggunaan unsur-unsur seperti garis, bentuk, warna dan yang lain dalam suatu desain dapat memberi rasa puas” (Widjiningsih, 1982). Menurut Atisah Sipahelut dan Petrussumadi (1991 :23),
”Keseimbangan merupakan prinsip desain yang paling banyak menuntut kepekaan perasaan”.
”Ada dua cara untuk memperoleh keseimbangan yaitu keseimbangan simetri dan keseimbangan asimetri” (Sri Widarwati, 1993 : 17). Keseimbangan simetri tercipta jika unsur bagian kanan dan kiri suatu desain sama jaraknya dari pusat.Sedangkan
”Ada dua cara untuk memperoleh keseimbangan yaitu keseimbangan simetri dan keseimbangan asimetri” (Sri Widarwati, 1993 : 17). Keseimbangan simetri tercipta jika unsur bagian kanan dan kiri suatu desain sama jaraknya dari pusat.Sedangkan