• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA PROGRAM PEMBELAJARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RENCANA PROGRAM PEMBELAJARAN"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

RENCANA PROGRAM PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMP Negeri 4 Batang Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/ Semester : IX /1

Alokasi Waktu : 2 JP

Materi Pokok : Teks Cerpen I. Kompetensi Inti

KI-1 : Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya

KI-2 : Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.

KI-3 : Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata.

KI-4 : Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori

II. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian 4.5 Menyimpulkan unsur-unsur

pembangun karya sastra dengan bukti yang mendukung dari cerita pendek yang dibaca atau didengar

4.5.1

4.5.2 4.5.3 4.5.4

- Menjelaskan cara

menyimpulkan unsur-unsur cerpen

- Menyimpulkan tema cerpen yang dibaca

- Menyimpulkan latar cerpen yang dibaca

- Menyimpulkan sudut pandang pengarang cerpen yang dibaca

NILAI KARAKTER YANG DITUMBUHKAN Gotong royong

Berpikir kritis Kreatif

III. Tujuan Pembelajaran

Setelah membaca cerpen, peserta didik dapat:

1. Menyimpulkan tema cerpen disertai bukti yang mendukung dengan benar 2. Menyimpulkan latar cerpen disertai bukti yang mendukung dengan benar 3. Menyimpulkan penokohan cerpen disertai bukti yang mendukung dengan benar

4. Menyimpulkan sudut pandang pengarang disertai bukti yang mendukung dengan benar 5. Menyimpulkan amanat cerpen disertai bukti yang mendukung dengan benar

IV. Materi Pembelajaran

 Cara menyimpulkan unsur-unsur cerpen membaca teks cerpen dengan saksama

memahami unsur intrinsik dan ekstrinsik teks cerpen menulis ide pokok teks cerpen

menemukan kesimpulan teks cerpen

 Cara menyimpulkan tema

Baca dan pahami keseluruhan cerita

Tentukan tokoh utama yang mengalami masalah/kejadian Tentukan masalah yang dihadapi tokoh utama

 Latar tempat menunjukkan semua tempat yang ada dalam kejadian ketika kejadian/masalah berlangsung

(2)

 Latar waktu menunjukkan setiap waktu yang disebutkan pada saat kejadian/masalah berlangsung

 Latar suasana menunjukkan keadaan psikis atau batin yang menaungi tokoh ketika kejadian atau adegan berlangsung

 Sudut pandang pengarang dilihat dari kata ganti yang digunakan dalam cerpen.

V. Metode Pembelajaran

Discovery-inquiry

VI. Media Pembelajaran perbedaan

 Slide / PPT

Naskah cerpen

VII. Sumber Belajar perbedaan

1. Trianto, Agus dkk. 2018. Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas IX. Karanganyar: CV Bintang Timur.

2. Trianto, Agus dkk. 2018. Buku Guru Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas IX. Surakarta: CV Putra Nugraha.

3. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2017. Kamus Besar Bahasa Indonesia Jilid V.

Jakarta: Balai Pustaka.

4. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2016. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia . Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

5. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2020. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi IV. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

VIII. Kegiatan Pembelajaran

Langkah/

Tahap

Kegiatan Pembelajaran Waktu

Pendahuluan 1. Guru mengucapkan salam

2. Guru mempresensi kehadiran peserta didik .

3. Guru membacakan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam pembelajaran.

4. Guru memberikan apersepsi berupa menanyakan pada peserta didik tentang unsur-unsur instrinsik cerpen.

1 1 menit

Kegiatan Inti

1. Guru menampilkan contoh cerpen

2. Guru bertanya jawab tentang cara menyimpulkan unsur- unsur instrinsik cerpen ( tema, penokohan, latar, sudut pandang, dan amanat).

3. Peserta didik membaca cerpen dengan teliti.

4. Guru membagikan lembar kerja peserta didik

5. Peserta didik menyelesaikan LKPD secara kelompok 6. Peserta didik mengumpulkan hasil diskusi kelompok

6 menit

Penutup 1. Guru dan peserta didik merefleksi proses KBM yang berlangsung

2. Guru beserta peserta didik mengakhiri kegiatan belajar mengajar dengan mengucap syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.

1 menit

IX. Penilaian 9.1Pengetahuan

Bentuk : tes tertulis sebagai berikut:

9.1.1 Bacalah cerpen yang berjudul “Bully Terukir di Dinding”, kemudian isilah kotak yang kosong!

No. Unsur instrinsik Uraian Kalimat Pendukung

1 Tema 2 Latar tempat 3 Latar waktu 4 Latar suasana 5 Sudut pandang

(3)

Pedoman Penskoran

No Aspek dan kriteria Skor

1 a. Peserta didik dapat mengerjakan 5 unsur disertai 5 kalimat pendukung dengan benar.

b. Peserta didik dapat mengerjakan 5 unsur disertai 4 kalimat pendukung dengan benar.

c. Peserta didik dapat mengerjakan 4 unsur disertai 4 kalimat pendukung dengan benar.

d. Peserta didik dapat mengerjakan 4 unsur disertai 3 kalimat pendukung dengan benar.

e. Peserta didik dapat mengerjakan 3 unsur disertai 3 kalimat pendukung dengan benar.

f. Peserta didik dapat mengerjakan 5 unsur tanpa kalimat pendukung,

g. Peserta didik dapat mengerjakan 2 unsur disertai 2 kalimat pendukung dengan benar.

h. Peserta didik dapat mengerjakan 4 unsur tanpa kalimat pendukung,

i. Peserta didik dapat mengerjakan 3 unsur tanpa kalimat pendukung,

j. Peserta didik dapat mengerjakan 2 unsur tanpa kalimat pendukung,

k. Peserta didik dapat mengerjakan 1 unsur disertai 1 kalimat pendukung dengan benar.

l. Peserta didik dapat mengerjakan 1 unsur tanpa kalimat pendukung,

10

9

8

7

6

5

4

4

3

2

2 1

Penilaian Sikap

Teknik : Pengamatan Sikap Bentuk : Lembar Pengamatan

Instrumen :

Jurnal Perkembangan Sikap Peserta Didik Nama Sekolah : SMP Negeri 4 Batang Kelas/ Semester : IX/I

Tahun : 2021/2022

No Waktu Nama Siswa Catatan perilaku Butir sikap Tindak lanjut Ttd 1

2 3

Mengetahui

Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran,

Sri Mulyatno, S.Pd Sukhanifah, S.Pd

NIP 196612141990031012 NIP 197210301997022002

(4)

Lampiran cerpen

Bully Terukir di Dinding Karya Sukhanifah

Pagi hari nan cerah, sang surya tersenyum lebar. Kicau burung bersahut-sahutan menyambut datangnya pagi. Aku melangkahkan kaki untuk menjemput rezeki. Hari ini adalah jadwal piketku di sekolah. Setiap guru yang piket diharapkan datang lebih awal dibanding guru yang lain. Aku memacu sepeda motorku agar kedatanganku tidak didahului siswa-siswa. Aku memarkir sepeda motorku di area parkir guru. Aku mengambil buku pelanggaran juga thermogram. Bersama dengan guru piket yang lain aku mengecek suhu tubuh siswa-siswa.

Saat itu jalanan masih sepi. Siswa-siswa yang datang pun tidak seberapa. Aku berdiri di depan gerbang menunggu kedatangan siswa-siswa. Aku mengukur suhu tubuh setiap siswa yang datang.

Setelah itu mereka mencuci tangan dengan sabun menggunakan air yang mengalir. Itulah kebiasaan di sekolah kami setiap pagi sejak pembelajaran tatap muka terbatas diberlakukan. Apabila ada siswa yang tidak tertib seperti rambut gondrong, seragam tidak sesuai atau kurang lengkap mereka mengisi catatan pelanggaran di buku pelanggaran.

Tepat pukul 6.55 WIB semua siswa sudah berada di dalam kelas. Aku memasuki kelas 9E.

Sebelum pembelajaran siswa dan guru membaca Al-quran dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya, yel-yel sekolah, dan semangat pagi.

Aku mengucapkan salam kepada siswa-siswa. Pertanyaan yang setiap pagi selalu aku lontarkan pada mereka.

“Apakah pagi ini kalian sudah sarapan?’’

“Sudah Bu, ....belum Bu,” suara riuh siswa-siswa menjawab pertanyaanku.

“Biasakan sarapan setiap pagi agar kita siap beraktivitas. Apalagi kantin di sekolah kita belum diizinkan dibuka.”

“Siap Bu,’ jawab siswa-siswa serempak.

“Siapa yang tadi pagi bangun jam 06.00?” kulanjutkan pertanyaanku.

“Saya Bu.” Rizal menjawab dengan penuh kejujuran.

“Anak-anak, coba kalian ingat sekarang jadwal sholat subuh jam berapa?”

“Jam empat lebih sepuluh menit Bu,” jawab Anggun.

“Pintar sekali kamu.”

“Kalau Rizal bangun jam enam, sholat subuh dilakukan jam berapa?”

“Tadi tidak sholat subuh Bu,” jawab Rizal dengan suara lirih.

“Anak-anak, kalian sudah berumur empat belas tahun, menjalankan sholat lima waktu sudah menjadi kewajiban. Paling akhir kita bangun pagi pukul lima pagi sehingga bisa menjalankan sholat subuh. Kalau bangun pukul enam pagi sudah masuk waktu dhuha,” aku mencoba memberikan pengertian pada siswa-siswaku.

“Ya Bu,” jawab mereka hampir bersamaan.

“Ibu sekadar mengingatkan kalau sebelum berangkat sekolah kita hendaknya berwudhu karena sampai di sekolah kita harus membaca Alquran. Tadi siapa yang lupa berwudhu?” tanyaku sambil melihat sekeliling kelas.

Tidak ada seorang siswa pun yang tunjuk jari. Apakah mereka benar-benar sudah berwudhu atau takut karena lupa berwudhu dari rumah.

“Alhamdulillah kalau imbauan ibu pada pertemuan sebelumnya sudah kalian laksanakan.”

Aku memulai pelajaran bahasa Indonesia. Pada pembelajaran kali ini aku mengajarkan materi menulis cerpen. Aku membawa siswa-siswa kelas IXE untuk belajar di perpustakaan. Siswa-siswa membaca contoh-contoh cerpen yang ada di perpustakaan. Aulia dan Azizah mencari cerpen di internet. Anak-anak asyik membaca cerpen sesuai dengan tema yang menarik bagi mereka. Bagas dan Damar memilih cerpen dari majalah MOP. Devinta dan Leni membaca cerpen dari kumpulan buku cerpen. Gantang dan Indra memilih cerpen dari koran Suara Merdeka.

Aku mengelilingi seluruh ruangan di perpustakaan. Di pojok perpustakaan aku melihat Azam duduk menyendiri. Aku menghampiri dia. Aku mencoba bertanya kepadanya.

“Azam membaca cerpen berjudul apa?”

“ E e e belum menemukan Bu,” jawabnya dengan sedikit gugup.

(5)

Azam tidak menyangka kalau Bu Rina akan menghampirinya. Dia sengaja memilih tempat sendiri yang jauh dari teman-teman agar Bu Rina tidak mengetahui keberadaannya. “ Sudah mencari cerpen belum,” lanjut Bu Rina.

“Belum Bu,’ jawabnya dengan tertunduk.

“Ayo bergabung dengan teman-temanmu, kamu cari cerpen dari majalah, koran atau buku,”

ajak Bu Rina.

“Tapi Bu....,” Azam tidak melanjutkan kata-katanya.

“Ada apa Zam, kamu tidak mau bergabung dengan teman-temanmu,” Bu Rina mendekati Azam.

“Malas Bu, saya mau di sini saja.”

“Boleh kamu tetap di sini, tetapi kamu harus mengambil contoh cerpen untuk kamu baca. Ayo ibu antar kamu mencari cerpen.”

Dengan langkah malas-malas Azam mengikuti langkahku, dia mengambil majalah dan membaca cerpen yang ada. Dia bergabung dengan teman yang lain.

Setengah jam berlalu aku meminta siswa-siswa untuk mengembalikan buku, majalah, dan koran ke tempat semula. Internet juga ditutup. Aku meminta siswa-siswa untuk memresentasikan sinopsis cerpen dari cerpen yang dibaca. Beberapa siswa antusias membacakan hasil sinopsis cerpen.

Pembelajaran bahasa Indonesia hari ini berakhir dengan berjuta manfaat yang diperoleh siswa. Siswa mengetahui beberapa sinopsis cerpen serta pesan moral yang terkandung dalam cerpen. Siswa-siswa kelas 9E kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran berikutnya. Aku meninggalkan perpustakaan untuk melanjutkan mengajar kelas delapan.

Keesokan harinya aku kembali ke kelas 9E. Dalam satu minggu setiap kelas mendapat enam jam pelajaran yang dibagi dalam tiga kali pertemuan. Pertemuan kali ini aku mengajak siswa-siswa untuk menggali pengalaman diri sendiri atau pengalaman orang lain untuk dijadikan sebuah cerpen.

Siswa-siswa juga dapat menulis cerpen dari imajinasi atau keadaaan di sekitar yang mereka jumpai.

Awalnya siswa-siswa bingung, dia akan menulis apa. Aku tidak kehabisan akal. Aku mengajak siswa- siswa untuk keluar kelas. Aku membawa siswa-siswa ke taman sekolah. Mereka bebas memilih tempat untuk mencari inspirasi.

Saat berjalan ke taman sekolah, aku berpapasan dengan guru IPA. Dia menyapaku.

“Mau dibawa ke mana Bu Rina anak-anak?”

“Ke taman Pak, agar anak-anak mendapat situasi baru, biar segar apalagi siang-siang seperti ini.”

Aku memberi kebebasan pada siswa-siswa untuk memilih tempat yang nyaman untuk mencari inspirasi. Aku mengamati anak-anak yang sedang sibuk mencari inspirasi. Semua asyik dengan kegiatannya sendiri-sendiri. Aku mendatangi mereka satu persatu. Langkahku terhenti pada sosok anak yang tidak asing bagiku. Nama lengkapnya Khalifatullah Azam. Siswa kelas 9E yang sering tidak masuk sekolah tanpa alasan. Aku mendekati dia. Aku melihat kertas yang dia bawa masih kosong. Satu pun goresan pena tidak tertuang di sana. Aku duduk di sampingnya. Dia diam membatu, tetap pada posisi semula tak bergerak.

“Zam, apakah sudah mendapat ide menulis?” tanyaku memecahkan keheningan.

Azam diam membisu, tidak sepatah katapun terucap dari bibirnya. Aku tidak tinggal diam. Aku ulangi pertanyaan yang sama.

“Azam sudah mulai menulis belum?” kucoba merendahkan volume suaraku.

“Coba ibu lihat apa yang sudah kamu tulis. Bawa ke sini kertas hvsmu.”

Azam tetap diam. Matanya tertunduk, entah apa yang dipandangnya aku tidak tahu. Semut- semut yang melewati taman itu tidak menghiraukan pandangan Azam. Aku melihat Azam memegangi kertas hvs di tangan kanan, sementara tangan kirinya kosong.

“Kamu tidak membawa bolpen ya, makanya kertas hvsmu masih kosong. Ini Ibu pinjami bolpen agar kamu bisa menulis,” aku mengulurkan standard A E 7.

“Sekarang kamu tulis peristiwa apa saja yang pernah kamu alami.”

“Malas Bu, pengalaman yang menyebalkan.”

“Mengapa menyebalkan Zam, pengalaman dengan siapa. Apa Ibu boleh tahu?” tanyaku dengan nada yang lembut.

“Teman-teman Bu, aku suka dibully, mereka mengatakan aku anak bodoh, aku anak malas, anak tunggakan.” kata Azam penuh emosi.

“Oh itu.”

“Makanya Bu, saya malas berangkat ke sekolah,” lanjut Azam.

(6)

“Mengapa kamu tidak mengatakan semua sejak awal. Ketika ibu bertanya mengapa kamu sering tidak masuk sekolah, jawabnya kesiangan. Sekarang ibu tahu menyebabnya. Nanti ibu sampaikan pada teman-temanmu agar tidak membully kamu lagi. Mulai sekarang rajin-rajinlah masuk sekolah. Kalau ada permasalahan sampaikan pada Ibu.”

“Tapi Bu, teman-teman nanti mengancamku karena aku sudah mengadu pada Ibu,” kata Azam dengan nada ketakutan.

“Tidak akan terjadi. Ibu memberikan pembinaan di kelas secara klasikal. Ibu tidak akan menyebut nama, tetapi pembinaan secara umum. Yakinlah setelah ini tidak ada anak yang membullymu,” aku mencoba meyakinkan pada Azam.

“Sekarang kamu menulis cerpen. Pengalaman tadi bisa kamu jadikan sebuah cerpen. Kamu tulis pengalaman yang menyebalkan itu dengan tokoh yang kamu samarkan pasti menarik ceritanya.”

Azam memandangku seolah-olah belum yakin dengan perkatakaanku.

“Kamu pasti bisa, kamu anak yang hebat. Tetap semangat. Ibu tinggal dulu ya, mau melihat teman-temanmu yang lain.”

Aku mengecek siswa satu per satu. Aku mendatangi anak-anak yang sibuk menggoreskan pena di kertas hvs. Sepuluh menit sebelum berakhirnya pelajaran bahasa Indonesia, aku mengumpulkan anak-anak. Wajah-wajah ceria terpancar. Mereka sudah bisa menuangkan ide, perasaan, pengalaman dalam lembar kertas putih.

Suara mikrofon terdengar. Saatnya anak-anak harus kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran berikutnya. Aku melangkah ke kantor guru untuk rehat sejenak.

Pagi ini pertemuan ketiga untuk kelas 9E. Anak-anak sudah menyiapkan cerpen yang dibuat dua hari sebelumnya. Semua siswa sudah memegang kertas hvs bertuliskan cerpen hasil goresan pena mereka. Sambutan ceria dari anak-anak begitu aku memasuki kelas. Semua berharap cerpen yang dibuat terpilih menjadi cerpen yang terbaik yang akan dipasang di majalah dinding sekolah.

Pada pertemuan sebelumnya, aku sudah memberikan iming-iming pada siswa bahwa cerpen yang orisinil dan bagus akan dipasang di majalah dinding sekolah. Aku melibatkan semua siswa dalam penilaian cerpen. Semua cerpen dibaca di depan kelas. Hasil penilaian ada sepuluh cerpen yang layak terbit di majalah dinding sekolah. Salah satu cerpen adalah karya Azam yang berjudul ‘Bully Siapa Takut’. Aku melihat Azam tersenyum bahagia. Cerpen yang dia buat menghiasi majalah dinding sekolah. Sejak saat itu tidak ada bully di kelas 9E. Tidak hanya itu kegiatanku bersama siswa kelas 9E di taman dan majalah dinding hasil karya 9E menghiasi website sekolah kami.

Kunci Jawaban soal uraian

No. Unsur instrinsik Uraian Kalimat Pendukung

1 Tema Menghentikan ‘bully’ di kelas 9E Sejak saat itu tidak ada bully di kelas 9E.

2 Latar tempat

Latar waktu

Latar suasana

Di sekolah/ perpustakaan

Pagi hari

Menyenangkan

Aku mengelilingi seluruh ruangan di perpustakaan. Di pojok perpustakaan aku melihat Azam duduk menyendiri.

Aku mengucapkan salam kepada siswa-siswa. Pertanyaan yang setiap pagi selalu aku lontarkan pada mereka.

Sambutan ceria dari anak-anak begitu aku memasuki kelas.

3 Sudut pandang Orang pertama pelaku utama Aku mengecek siswa satu per satu.

Aku mendatangi anak-anak yang sibuk menggoreskan pena di kertas hvs.

Referensi

Dokumen terkait

Suara tersebut akan dipanggil oleh perangkat lunak komputer jika data konversi laju paparan sama dengan atau lebih dari 2,5 mR/h dan pada indikator lampu akan

3.1.1 Peserta didik dapat mengidentifikasi kata, frasa atau kalimat yang diperdengarkan tentang salam, kabar dan identitas dengan benar. 3.1.2 Peserta didik dapat

 Peserta didik mengumpulkan informasi yang ada di Lembar Kerja Peserta Didik 2 dan Buku Paket tentang bagaimana sifat- sifat operasi penjumlahan dan

Buku yang telah dikatalog dan diedit rekod bibliografi pada sistem serta dicatit nombor panggilan pada buku akan dihantar kepada pembantu perpustakaan untuk

Dalam pengembangan ushul-fiqh, pendekatan fenomenologi tidak dipenga- ruhi secara langsung oleh filsafat feno- menologi, tetapi oleh perkembangan dalam pende-finisian

Dan keunggulan dari produk ini dari produk sebelumnya adalah dalam segi waktu pembersihan dan hal kenyamanan dan keamanan yang menjelaskan bahwa produk

Sedangkan, respon negatif terhadap kepuasan situasi kerja yang dapat mengakibatkan penurunan motivasi karyawan untuk hadir ke tempat kerjanya akan timbul jika kebijakan

Hasil pengujian untuk variabel Pendapatan Perkapita, secara parsial pendapatan perkapita berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas (ROA) bank syariah, hal