• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Perancangan Kampanye Sosial Pencegahan Perilaku Binge Watching, Erin Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

20 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Pengumpulan Data

Dalam perancangan ini, metode yang digunakan untuk pengambilan data adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan dengan wawancara dan studi eksisting, tujuannya untuk mendapatkan data mengenai binge watching juga cara penyampaian pesan yang tepat dalam perancangan kampanye. Sedangkan pendekatan kuantitatif dilakukan dengan menyebar kuesioner melalui google form, tujuannya untuk mengetahui kebiasaan menonton, dampak yang dirasakan, dan juga media yang akan digunakan untuk melakukan perancangan kampanye.

3.1.1 Wawancara

Wawancara dilakukan dengan psikolog klinis untuk mendapatkan data mengenai binge watching untuk memperkuat data penelitian. Penulis melakukan wawancara terhadap 2 orang psikolog untuk mendapatkan pandangan yang berbeda. Wawancara pertama dilakukan terhadap Fiona Valentina Damanik, M.Psi. sebagai psikolog di Universitas Multimedia Nusantara melalui Zoom untuk mengetahui relevansi dan proses dari binge watching yang berdampak secara mental maupun fisik. Wawancara kedua dilakukan terhadap Nur Andini Sudirman, M.Psi. yang juga seorang psikolog klinis melalui aplikasi Alodokter. Isi wawancara tidak berbeda jauh, namun pada wawancara kedua, penulis lebih fokus terhadap penyebab dan akibat pada bidang akademis, dan juga cara penanganannya.

3.1.1.1 Wawancara dengan Fiona Valentina Damanik, M.Psi.

Wawancara dengan ahli dilakukan dengan Fiona Valentina Damanik sebagai salah psikolog student support di Universitas Multimedia Nusantara. Wawancara ini dilakukan secara daring via aplikasi Zoom pada

(2)

Perancangan Kampanye Sosial Pencegahan Perilaku Binge Watching, Erin Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

21

tanggal 20 September 2021. Data yang dibutuhkan adalah hal mengenai binge watching dalam sudut pandang psikologis.

Gambar 3. 1 Wawancara dengan Fiona Valentina Damanik, M.Psi.

Pertanyaan wawancara dimulai dengan binge watching sebagai fenomena yang terjadi pada masyarakat Indonesia saat ini. Fiona menjawab bahwa memang benar fenomena ini relevan dengan kondisi saat ini, apalagi di kala pandemi aktivitas di luar rumah menurun dan kegiatan daring yang semakin meningkat. Pada kondisi seperti ini, menonton menjadi salah satu opsi menarik untuk dilakukan sebagian besar orang di rumah.

Ia juga menjelaskan bahwa binge watching merupakan sebuah fenomena, namun belum sampai ke tahap diagnosis. Tapi jika perilaku ini terus dilakukan secara berulang, maka hal ini dapat membawa seseorang ke diagnosis adiksi yang akan berakibat buruk pada orang tersebut. Binge watching dapat mengarahkan seseorang menjadi adiksi, karena secara biologis tubuh mempelajari bahwa hormon hanya akan diproduksi dengan cara memenuhi kebutuhan menonton.

Binge watching juga terbukti dapat menurunkan kualitas otak hingga mengganggu kesehatan mental seseorang. Ketika seseorang melakukan kegiatan yang disukai, maka otak akan mengeluarkan neurotransmitter seperti dopamin. Namun ketika binge watching sering dilakukan, ada kemungkinan bahwa dopamin yang dihasilkan memenuhi prefrontal cortex dan menyebabkan otak sulit untuk berproses. Bahayanya

(3)

Perancangan Kampanye Sosial Pencegahan Perilaku Binge Watching, Erin Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

22

adalah ketika binge watching menjadi sumber kebahagiaan seseorang dan menjadi pelarian dari masalah, kemudian tidak diimbangi dengan aktivitas yang lain. Karena mental yang sehat adalah ketika segala emosi marah, bahagia, dan sedih diproses dan dirasakan secara konstruktif.

Binge watching yang mengarahkan seseorang pada tahap adiksi dapat diatasi dengan penanganan profesional ke psikiater dan psikolog.

Penanganan psikiater dilakukan dengan diberi obat yang menenangkan sarafnya sehingga orang tersebut dapat menyeimbangkan kegiatannya yang lain. Sedangkan dengan bantuan psikolog, orang tersebut dapat melakukan terapi untuk merubah mindset dan perilakunya.

Menurut Fiona perancangan kampanye sosial tentu dapat mencegah perilaku binge watching, karena banyak yang mengetahui bahaya binge watching, namun ditegur oleh orang lain melalui judgement saja, padahal judgement tidak bisa merubah apapun. Mungkin orang-orang mengetahui bahwa menonton dengan durasi yang panjang berbahaya, namun mereka perlu informasi lebih lanjut bagaimana cara menonton yang baik dan tidak membahayakan kesehatan mereka. Maka dari itu, kampanye sosial dapat bantu menginformasikan mengenai batasan dalam menonton, gejala, dan dampaknya, sehingga orang-orang bisa lebih aware dan menjadi self assessment tersendiri.

3.1.1.2 Wawancara dengan Nur Andini Sudirman, M.Psi.

Wawancara kedua dilakukan terhadap Nur Andini Sudirman sebagai psikolog. Wawancara dilakukan secara daring via aplikasi Alodokter pada tanggal 10 November 2021. Pertanyaan wawancara berfokus pada orang yang memiliki perilaku binge watching.

(4)

Perancangan Kampanye Sosial Pencegahan Perilaku Binge Watching, Erin Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

23

Gambar 3. 2 Wawancara dengan Nur Andini Sudirman, M.Psi.

Wawancara dimulai dengan bagaimana cara binge watching mempengaruhi seseorang sampai mengalami kesepian, merasa ingin menyendiri, hingga kecanduan. Menurut Nur, setiap orang memiliki latar situasi yang berbeda-beda hingga mengalami kecanduan menonton. Pada saat pandemi, orang-orang mungkin menggunakan kesempatan menonton untuk mendapatkan rasa nyaman dan senang. Pada awalnya hanya coba menonton untuk mengisi waktu luang, tapi dikemudian hari mereka ingin mendapatkan kembali rasa senang tersebut dan mengulangi lagi.

Ketika ditanya penanganan, Nur berkata bahwa penanganan psikologis dan fisik sangat berbeda. Secara psikologis, penanganan setiap orang tergantung pada penyebab yang memicu seseoang melakukan binge

(5)

Perancangan Kampanye Sosial Pencegahan Perilaku Binge Watching, Erin Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

24

watching, sehingga perlu paham terlebih dahulu penyebabnya untuk dapat menangani masalah tersebut agar tidak dapat terulang kembali.

Menurut Nur, orang yang memiliki perilaku binge watching hingga mengarah kearah kecanduan akan sulit untuk mengontrol dirinya, seperti berbohong, menunda hal yang harus dilakukan, dan fokus terus terhadap film yang di tonton tanpa peduli terhadap hal-hal disekitarnya. Apabila seseorang masih bisa berhenti di akhir episode, maka orang tersebut masih berada di taraf yang ringan. Namun jika seseorang menonton keseluruhan episode hingga selesai dalam satu periode/waktu dan ingin melanjutkan ke film selanjutnya hingga mengganggu waktu tidur dan menjadi tidak produktif, maka hal tersebut termasuk dalam perilaku binge watching dalam taraf yang berat dan harus segera ditangani.

Nur juga berkata bahwa isu binge watching dapat dicegah dengan dirancangnya kampanye sosial. Kampanye dapat dilakukan dengan memberikan edukasi agar audiens memahami dampak yang dapat terjadi apabila tidak dapat mengontrol agresinya dalam menonton. Untuk pelajar/mahasiswa dapat mencegah dengan manajemen waktu dan memprioritaskan kebutuhan primer dibandingkan menonton. Sebagai pelajar, hal yang harus diprioritaskan adalah belajar dan mengerjakan tugas dengan menyisakan waktu untuk istirahat agar kehidupan menjadi seimbang.

3.1.1.3 Kesimpulan Wawancara

Berdasarkan kedua wawancara, binge watching bukan sebuah diagnosa, namun merupakan perilaku yang jika dilakukan berulang kali dapat mengarahkan pada dampak negatif. Binge watching dapat memberi dampak buruk pada seseorang karena hormon dopamin secara terus- menerus memenuhi bagian otak dan menurunkan kualitas otak. Hal tersebut akhirnya berdampak pada pengendalian diri, rasa adiksi, pengabaian terhadap lingkungan, hingga mengganggu kehidupan sehari-hari. Binge

(6)

Perancangan Kampanye Sosial Pencegahan Perilaku Binge Watching, Erin Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

25

watching dapat dicegah dengan dilakukannya kampanye, karena masyarakat memiliki kesadaran yang rendah terhadap isu binge watching sehingga perlu ada edukasi agar masyarakat mengetahui dampak buruk yang dihasilkan.

3.1.2 Studi Eksisting

Studi eksisting dilakukan terhadap kampanye sejenis yang telah dilakukan sebelumnya. Studi eksisting dilaksanakan dengan mempelajari kekurangan dan kelebihan, serta cara penyampaian pesan kampanye yang telah dilakukan sebelumnya agar dapat mempertimbangkan kampanye seperti apa yang akan dirancang untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Penulis menggunakan kampanye #SummerUnplugged yang diselenggarakan oleh Its Time to Log Off di Britana Raya untuk memperkenalkan keseimbangan kehidupan offline dan online pada masyarakat. Kampanye ini dilaksanakan pada musim panas dengan tujuan agar masyarakat bisa menikmati liburan musim panas untuk mengeksplor kehidupan tanpa terikat pada teknologi dan berbaur dengan keluarga juga teman-teman.

Kampanye ini bukan dimaksudkan untuk menghindari penggunaan teknologi smartphone sama sekali, namun tujuannya agar masyarakat mengerti untuk menggunakannya pada saat yang tepat. Kampanye ini membantu masyarakat untuk melakukan digital detox di rumah agar dapat mendekatkan hubungan dengan orang terdekatnya dengan tantangan

#SummerUnplugged. Kampanye ini disebarkan melalui media digital dengan platform utama website dan media pendukung media sosial, poster, podcast dan merchandise.

(7)

Perancangan Kampanye Sosial Pencegahan Perilaku Binge Watching, Erin Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

26

Gambar 3. 3 Website Kampanye Summer Unplugged

Sumber: https://www.itstimetologoff.com/2016/07/19/summer-unplugged-challenge/

Kampanye disebarluaskan pertama kali melalui website dengan menghubungkan juga media lainnya. Pada website, terdapat informasi mengenai latar belakang kampanye dan urgensinya. Terdapat juga berbagai artikel yang menjelaskan mengenai adiksi smartphone, podcast, dan juga poster yang dapat diunduh untuk membantu melepaskan adiksi smartphone dan menyeimbangkan kehidupan online dan offline.

Gambar 3. 4 Instagram Kampanye Summer Unplugged

Kampanye lebih banyak menggunakan fotografi pada website, namun berbanding terbalik dengan media sosial yang lebih banyak menggunakan ilustrasi. Visual yang ditampilkan menggunakan warna-warna

(8)

Perancangan Kampanye Sosial Pencegahan Perilaku Binge Watching, Erin Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

27

cerah dan bentuk yang tidak kaku. Sedangkan untuk typeface yang digunakan sangat beragam dan terlihat tidak konsisten.

Tabel 3. 1 SWOT Kampanye Summer Unplugged

Strength Weakness

- Memiliki website dengan informasi yang dapat diakses oleh siapa saja

- Memiliki seri kampanye yang berbeda-beda mengenai adiksi teknologi dalam beberapa bulan

- Visual antar media tidak konsisten sehingga terlihat tidak professional

Opportunities Threats

- Informasi di website disajikan per poin sehingga mudah untuk dipahami

- Informasi yang disajikan

lengkap, dari buku, podcast, dan artikel sehingga dapat

membangun kepercayaan audiens

- Visual pada media sosial tidak konsisten dan sumber visual diambil dari internet secara acak sehingga audiens

berkemungkinan tidak tertarik

3.1.3 Kuesioner

Kuesioner yang dilakukan merupakan salah satu pengumpulan data kualitatif yang tujuannya untuk meneliti studi demografi, psikografi, dan hal yang sedang terjadi mengenai binge watching. Kuesioner disebarkan kepada target responden berusia 15-21 tahun, lebih tepatnya kepada pelajar SMA dan mahasiswa di wilayah DKI Jakarta melalui Google Form.

Gambar 3. 5 Rumus Slovin

Keterangan

n = besaran sampel N = besaran populasi e = derajat ketelitian

(9)

Perancangan Kampanye Sosial Pencegahan Perilaku Binge Watching, Erin Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

28

Gambar 3. 6 Hasil Perhitungan Sampel

Penelitian ini dikalkulasikan dengan rumus Slovin untuk mengetahui jumlah responden yang dibutuhkan dalam kuesioner. Pada rumus tersebut, besaran populasi diisi dengan angka 8.928.485 sebagai jumlah populasi masyarakat Jakarta yang memiliki akses internet dan derajat ketelitian memiliki angka sebesar 0,1. Setelah dihitung, jumlah responden yang harus dicapai untuk memenuhi kuesioner ini adalah sebanyak 100 orang.

(10)

Perancangan Kampanye Sosial Pencegahan Perilaku Binge Watching, Erin Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

29

Gambar 3. 7 Hasil Kuesioner Demografis

Demografis sebagai target sasaran kampanye perlu diteliti dan analisis agar pesan kampanye dapat tersampaikan secara efektif.

Berdasarkan kuesioner, 61% memiliki jenis kelamin perempuan, dan 39%

lainnya memiliki jenis kelamin laki-laki. 73% responden merupakan pelajar/mahasiswa, sedangkan 27% lainnya ada yang bekerja dan ada yang sedang tidak bekerja dengan didominasi oleh responden yang berada di Kota Jakarta. Sedangkan persentase tingkat pendapatan/uang sakunya sangat beragam dan tidak berbeda jauh antara satu dengan yang lain.

(11)

Perancangan Kampanye Sosial Pencegahan Perilaku Binge Watching, Erin Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

30

Gambar 3. 8 Hasil Kuesioner Kebiasaan Menonton

Seperti yang diketahui, binge watching umumnya dilakukan pada aplikasi video on demand. Berdasarkan kuesioner, 99% responden berlangganan pada aplikasi tersebut, yang artinya ada kemungkinan kegiatan binge watching bagi yang berlangganan. 42% responden juga mengaku bahwa mereka menonton 3-4 episode dalam satu periode/waktu, bahkan 46% responden menonton lebih dari 4 episode dalam satu periode/waktu dengan didominasi oleh responden yang menonton 2-3 kali dalam satu minggu. Yang artinya sebagian besar dari responden yang berlangganan pada aplikasi VoD (Video on Demand) memiliki perilaku binge watching.

Gambar 3. 9 Hasil Kuesioner Alasan Perilaku Binge Watching

Ketika ditanya alasan melakukan binge watching, 47% responden menjawab untuk menghindari perasaan negatif dan juga karena telah menjadi kebiasaan. Sementara 32% responden melakukan binge watching karena film yang ditonton populer, dan 30% responden menjawab karena orang disekitarnya juga melakukan binge watching. Dapat disimpulkan bahwa perilaku ini dapat dipengaruhi dari diri sendiri maupun orang lain,

(12)

Perancangan Kampanye Sosial Pencegahan Perilaku Binge Watching, Erin Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

31

yang awalnya untuk menghindari perasaan negatif ataupun karena film yang sedang ditonton oleh banyak orang yang lama-kelamaan menjadi suatu kebiasaan yang melekat di masyarakat.

Gambar 3. 10 Hasil Kuesioner Akibat Binge Watching

Ketika ditanya hal yang mereka rasakan setelah melakukan binge watch, jawaban terbanyaknya adalah mereka lebih menyendiri sebesae 47%, kemudian urutan selanjutnya adalah kesulitan tidur sebanyak 37%, banyak pikiran sebesar 32%, merasa kesepian sebanyak 26%, dan merasa kecewa/sedih sebanyak 23%. Ketika menonton film yang disenangi, otak mengeluarkan dopamin yang mendorong rasa bahagia dan jantung juga berpacu dengan meningkatkan adrenalin sehingga ketika film selesai Sebagian orang akan merasa kecewa dan ingin mencari kesenangan tersebut kembali tanpa memikirkan dampaknya. Maka dari itu banyak yang menjawab bahwa setelah melakukan binge watching, mereka ingin kembali melakukannya.

(13)

Perancangan Kampanye Sosial Pencegahan Perilaku Binge Watching, Erin Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

32

Gambar 3. 11 Hasil Kuesioner Adiksi Binge Watching

Sebanyak 91% responden mengaku bahwa mereka setuju menonton keseluruhan serial dalam satu periode/waktu lebih menyenangkan dan 84%nya mengaku apabila mereka mengetahui binge watching dapat membuat kecanduan, mereka tetap ingin melakukannya. Dari sini dapat dilihat bahwa binge watching menjadi salah satu bentuk adiksi dan dapat berdampak buruk apabila dianggap sebagai hal yang sepele.

(14)

Perancangan Kampanye Sosial Pencegahan Perilaku Binge Watching, Erin Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

33

Gambar 3. 12 Hasil Kuesioner Dampak Akademis

Jawaban didominasi oleh responden yang setuju bahwa binge watching dapat mengganggu keseharian mereka tanpa disadari. 82%

responden mengaku bahwa perilaku binge watching dapat membuat mereka mengabaikan tugas dari sekolah/kuliah. Tentunya dari hal yang kecil dapat mempengaruhi hal lainnya dalam akademis, dibuktikan dengan 81%

responden yang menjawab bahwa binge watching mempengaruhi akademisnya dan 94% responden merasa kegiatannya juga menjadi tidak teratur.

(15)

Perancangan Kampanye Sosial Pencegahan Perilaku Binge Watching, Erin Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

34

Gambar 3. 13 Hasil Kuesioner Perancangan Kampanye

Kuesioner diatas dilakukan untuk mengetahui pendapat responden terhadap perancangan kampanye yang akan dilakukan agar nantinya penyebaran sosialisasi melalui media kampanye dapat tepat dan efektif.

Berdasarkan kuesioner diatas, poin-poin yang dapat disimpulkan adalah sebagai berikut:

4) Sebagian besar responden menyetujui bahwa perlu adanya sosialisasi untuk mengubah kebiasaan masyarakat dalam perilaku binge watching.

5) Responden setuju dengan adanya kampanye sosial, dapat membantu masyarakat untuk mengubah pola menontonnya menjadi lebih baik.

6) Sebagian besar memiliki media digital sebagai media yang dapat menarik perhatian saat melakukan kampanye binge watching.

Kesimpulannya, masih banyak yang menonton lebih dari 3 episode pada satu periode/waktu yang artinya banyak dari mereka yang memiliki perilaku binge watching. Hal ini dapat dipengaruhi dari dalam diri dan juga lingkungan, terutama bagi pelajar SMA atau mahasiswa yang mengikuti tren, sehingga lama-kelamaan menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.

Bahkan sebagian besar mengaku bahwa ketika mengetahui binge watching dapat membuat kecanduan, mereka tetap akan melakukannya. Masih banyak yang memiliki kesadaran yang rendah terhadap bahaya binge watching sehingga perilaku ini dianggap sepele. Padahal mereka merasa bahwa perilaku tersebut dapat menurunkan prestasi mereka pada bidang akademik dan membuat kegiatan sehari-hari menjadi berantakan.

(16)

Perancangan Kampanye Sosial Pencegahan Perilaku Binge Watching, Erin Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

35 3.2 Metode Perancangan

Metode perancangan yang digunakan penulis adalah metode perancangan Robin Landa. Menurut Landa (2010), terdapat enam tahapan dalam melakukan perancangan, yaitu overview, strategy, ideas, design, production, dan implementation. Keenam tahapan tersebut tertulis pada bukunya yang berjudul Advertising by Design.

1) Overview

Overview merupakan tahap awal dalam sebuah perancangan, yaitu pengumpulan informasi dari berbagai sumber. Terdapat beberapa informasi yang harus dilenkapi, yaitu tujuan dan sasaran, manfaat, identifikasi target audiens, analisis kompetitor, penentuan budget, penyusunan jadwal perancangan, dan parameter lainnya. Ada banyak cara untuk mengumpulkan informasi, mulai dari sticky notes, buku tulis, hingga perangkat digital. Berkembangnya jaman dapat memudahkan pencarian informasi, seperti misalnya melalui situs internet.

2) Strategy

Setelah mengumpulkan sejumlah informasi, fokus selanjutnya adalah menyusun strategi. Dalam tahap ini, yang harus dilakukan adalah menguji, menafsirkan, menemukan, dan merencanakan hal-hal yang berhubungan dengan perancangan. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa strategi perancangan dapat dilakukan dengan bantuan creative brief, yaitu sebuah dokumen tertulis untuk membuat strategi kreatif.

Dengan adanya strategi, sebuah perancangan dapat dimaksimalkan keberhasilannya.

3) Ideas

Desain memerlukan pesan yang dikomunikasikan melalui sebuah ide, yang kemudian diekspresikan melalui copywriting dan visual.

Menghasilkan sebuah ide perlu mengumpulkan informasi, menganalisis, menginterpretasi, menyimpulkan informasi, dan berfikir

(17)

Perancangan Kampanye Sosial Pencegahan Perilaku Binge Watching, Erin Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

36

kreatif. Tahap ini akan menghasilkan ide dengan melakukan mindmapping, brainstorming, dan membuat moodboard berdasarkan data yang telah dikumpulkan.

4) Design

Pada tahap design, ide yang telah dihasilkan dituangkan menjadi bentuk visual. Tahap ini memerlukan beberapa langkah untuk menghasilkan desain, yaitu membuat sketsa awal untuk melakukan eksplorasi, memperjelas sketsa, dan komprehensif. Umumnya, langkah-langkah tersebut diperlukan hingga perancang dapat menemukan langkah- langkah tersendiri untuk menciptakan sebuah desain.

5) Production

Production adalah mengimplementasikan salah satu solusi desain yang dapat mewakili beberapa bentuk media. Dalam tahap produksi, perancang perlu mengetahui teknik produksi sesuai dengan target yang dituju. Pada dunia profesional, tahap produksi umumnya melibatkan web producers, technology directors, developers, media directors, media-activation leads, code developers, dan IT.

6) Implementation

Pada tahap implementation, solusi tersebut diimplementasikan dan didistribusikan. Setelah semua tahap dilakukan, perancang perlu mendapatkan feedback dari target perancangan. Feedback tersebut berguna untuk koreksi mengenai kelebihan dan kekurangan perancangan agar dapat memperbaiki perancangan selanjutnya.

Gambar

Gambar 3. 1 Wawancara dengan Fiona Valentina Damanik, M.Psi.
Gambar 3. 2 Wawancara dengan Nur Andini Sudirman, M.Psi.
Gambar 3. 3 Website Kampanye Summer Unplugged
Tabel 3. 1 SWOT Kampanye Summer Unplugged
+7

Referensi

Dokumen terkait

Metodologi yang digunakan meliputi: evaluasi kinerja jalan Pantura menggunakan MKJI 1997; analisa lalu lintas yang teralihkan ke jalan tol menggunakan kurva

Ibu Analisa Fitria, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin sekaligus selaku Dosen pembimbing

panjangnya ukuran akar lamun dibandingkan dengan stasiun C, karena Ketika kondisi unsur hara dalam substrat lebih tinggi dibandingkan dengan kolom perairan, maka

Menyebutkan Dan Menjelaskan Dampak Dari Perjanjian Internasional Mengenai Dasar Konseptual Dalam Konsep Dasar HKI KRITERIA PENILAIAN : Orisinalitas Materi (20%) Penguasaan Materi

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus karena skripsi dengan judul “Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan, Kompensasi, Corporate Governance terhadap Manajemen Laba (Studi

Setelah kita menelusuri secara singkat sejarah praktek perbankan yang dilakukan oleh umat muslim, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa meskipun kosa kata fikih Islam

Berdasarkan paparan tersebut di atas, maka masalah penelitian ini adalah “Adakah hubungan antara persepsi orangtua dengan perilaku kekerasan pada anak di Desa Parereja

Peta rupabumi lembar Soreang dan Pasirjambu tahun 2001, citra satelit 2007 yang kemudian di digit oleh peneliti dengan menggunakan map info programme seri 7.8 dengan