• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 Upaya Bergabung ke Uni Eropa Pada Awal Era Republik Turki

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 2 Upaya Bergabung ke Uni Eropa Pada Awal Era Republik Turki"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

42

BAB 2

Upaya Bergabung ke Uni Eropa Pada Awal Era Republik Turki

2.1 Syarat Bergabung ke Uni Eropa Syarat Umum Untuk Masuk Pengajuan Keanggotaan Uni Eropa (Copenhagen Criteria)

Munculnya kebijakan ini sebenarnya berawal pada era 1990-an, dimana berakhirnya perang dingin yang menyebabkan jatuhnya Uni Soviet. Uni Soviet jatuh, maka otomatis beberapa negara satelitnya yang sejatinya sejak awal menginginkan adanya kedaulatan negara untuk lepas dari bayang-bayang Uni Soviet. Maka kemudian beberapa mantan negara satelit mendeklarasikan kemerdekaan dan merubah total sistem pemerintahannya. Kebanyakan dari mereka menginginkan sistem demokrasi yang menjadi “gaya mutakhir” saat itu untuk mengikuti sistem oleh kebanyakan negara Eropa saat itu, terkhususnya Eropa Barat. Oleh sebab itu prospek untuk semakin mengintegerasikan beberapa negara Eropa lainnya setelah banyaknya negara baru selepas Uni Soviet semakin menggeliat, dan itu juga memantik program dari Copenhagen Criteria.1

Uni Eropa pastinya mengambil momen ini untuk bisa mengikat negara-negara lain untuk bisa masuk ke sistem mereka, agar satu Kawasan salain kompak dalam

1 Tanja Marktle, “The Power of the Copenhagen Criteria,” Croatian Yearbook of European Law and Policy 2, no. 2 (December 30, 2006), https://doi.org/10.3935/cyelp.02.2006.23.

(2)

43

ideologi akan tetapi lebih stabil antar negara-negara Eropa dalam segi politik. Hal ini menciptakan keamanan politik untuk mencegah adanya gangguan ideologi lainnya yang terjadi pada saat awal perang dingin, dalam arti kata ideologi “asing” khususnya komunisme sebisa mungkin dicegah. Maka dari itu aturan dari Copenhagen Criteria tersebut bukan hanya untuk memaksa beberapa calon anggota untuk mengikuti sistem mereka, tetapi itu juga merupakan sebuah bentuk perlindungan untuk Kawasan serta negara anggota atau calon anggota itu sendiri. Untuk bisa menciptakan kestabilan politik, keamanan, dan juga ekonomi secara berkelanjutan, maka dari itu demokratisasi untuk negara calon anggota menjadi ujung tombak dalam kestabilan seluruh Eropa.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, sejak dari awal berdirinya sistem Republik pemimpin pertama mereka Mustapha Kemal Ataturk sangat-sangat menginginkan ideologi negara tersebut berhubungan dengan Eropa. Sistem sebelumnya yang dianggap kaku tersebut, telah menutup pintu pencerahan Turki tidak seperti Eropa yang sudah melakukan hal tersebut satu abad yang lalu sebagai tindakan pembrontakan terhadap sistem kerajaan, begitu juga dengan Kesultanan Utsmaniyah yang memakai sistem tersebut. Maka dari itu hal pertama yang dilakukan oleh pemerintahan Mustapha Kemal adalah dengan melakukan hubungan baik terhadap negara-negara barat, tidak terkecuali Eropa. Salah satu tujuan perbaikan utamanya adalah di bidang perekonomian, tentu saja dengan pendekatan dengan Eropa, Turki berusaha untuk menjadi komunitas ekonomi Eropa dan kemudian kesepakatan itu terjadi pada tahun

(3)

44

1963 yang akhirnya menandatangani “kesepakatan Ankara” dimana salah satu hasilnya adalah dapat mengintegrasikan impor dan ekspor di negara-negara Eropa.2

Namun tahun-tahun berjalan, ketika Uni Eropa secara resmi dibentuk untuk melebarkan fungsi dari organisasi tersebut (selain untuk perekonomian). Turki sangat sulit untuk bisa bergabung secara penuh bahkan permasalahan domestiknya sendiri merupakan yang paling utama disorot Uni Eropa dalam penilaian calon keanggotaannya. Situasi politik yang seringkali melibatkan militer disini, menjadi jegalan besar Turki untuk bisa masuk ke Uni Eropa. Selain itu faktor eksternal yang menghambat Turki menuju Uni Eropa adalah hubungan panas dengan negara tetangganya yaitu Yunani, selain itu juga permasalahan sosial juga disorot oleh UE terutama dengan penduduk Kurdi.

Pada bab ini, penulis akan menjelaskan secara dasarnya bagaimana syarat- syarat apa saja untuk menjadi negara anggota Uni Eropa di berbagai bidang seperti politik, ekonomi, dan juga legislatif atau administrasi lainnya yang mendukung persyaratan tersebut. Serta menghubungkannya dengan permasalahan internal yang memaksa Turki untuk mengurungkan niat untuk bergabung. Kemudian aspek historis yang akan menjelaskan upayanya sejak tahun 1950 dan dihubungkan ke permasalahan politik dalam negeri mereka.

2 Abdullah Yuhannan, “A Way Too Far: Analyzing the Dilemma of Turkey to Joining the European Union,” Open Journal of Social Sciences 05, no. 07 (2017): 165–85,

https://doi.org/10.4236/jss.2017.57011.

(4)

45 2.1.1 Bidang Politik

Dalam persyaratan yang dituang oleh Copenhaggen Criteria disebutkan bahwa calon negara anggota harus bisa menjamin tegaknya demokrasi, hak asasi manusia dan perlindungan terhadap minoritas.3 Maka secara langsung maupun tidak langsung mengharuskan negara-negara Eropa untuk mereformasikan keseluruhan sistem demokrasinya secara formal, maupun substansial ataupun yang ingin berpindah sistem ke demokrasi khususnya karena dampak dari perang dingin (khususnya bagi beberapa negara Eropa timur yang ingin bergabung dengan EU). Dengan penyamarataan sistem, terlebih lagi dengan metode Top Down. Memaksa negara calon anggota untuk tetap mengikuti persyaratan tersebut apabila ingin menjadi bagian dari organisasi integrasi Eropa. Sebuah persyaratan bagi negara yang ingin bergabung dengan Uni Eropa, tidak terkecuali Turki. Dalam syarat tersebut, sudah jelas organisasi benua biru tersebut secara eksplisit mengarahkan negara anggota maupun calon negara anggota untuk berpegang penuh terhadap sistem negara demokrasi, dalam arti benar-benar menganut sistem tersebut. Serta akan menilai langsung

3 Danijela Dudley, “European Union Membership Conditionality: The Copenhagen Criteria and the Quality of Democracy,” Southeast European and Black Sea Studies 20, no. 4 (October 1, 2020): 525–

45, https://doi.org/10.1080/14683857.2020.1805889.

(5)

46

bagaimana aspek demokrasi tersebut dinilai, bukan hanya formalitas, akan tetapi secara substansi pengimplikasian sistem tersebut.

Ada beberapa instrumen demokrasi yang dinilai yaitu, secara prosuderalnya ini menggambarkan apakah ada sistem pemilihan kepala pemerintah beserta legislatifnya, kemudian partisipasinya yang berkaitan seberapa banyak masyarakat yang ikut dalam pemilihan tersebut, atau ada pemaksaan dari pihak tertentu yang membuat beberapa pihak merasa terancam. Kemudian adanya fokus terhadap kebebasan dan kesetaraan, berkaitan juga dengan partisipasi bukan hanya pemilihan namun terlebih lagi ikut bagian dari sistem politik itu sendiri. Terakhir adanya aturan dan akuntabilitas yang menjadi fondasi utama pada sistem demokrasi, apakah dijalankan dengan baik tanpa ada campur tangan pihak ketiga, dalam arti sejak awal sistem demokrasi ini dibentuk harus dijalankan dari pihak sipil.4

Dari beberapa indikator penilaian tersebut, bagian aturan dan akuntabilitas menjadi permasalahan utama dari pemerintahan Turki sejak niat mereka untuk bergabung pada tahun 1950-an hingga awal pemerintahan Erdogan. Karena salah satu yang disorot dari indikator tersebut adalah bagaimana sistem demokrasi yang sudah ada, namun tercemar oleh pihak ketiga yang dimana itu adalah dari militer. Militer sudah sering sekali mangambil alih pemerintahan sipil yang sah dengan berbagai alasan tertentu dengan melakuakan kudeta.

4 Ibid

(6)

47

Maka itulah alasan mengapa menjadi hambatan terbesar Turki untuk bisa bergabung dengan Uni Eropa. Serta menjadi perhatian utama pada saat pemerintahan Erdogan sejak menjadi Perdana Menteri untuk membatasi peran militer dalam politik praktis.

2.1.2 Bidang Ekonomi

Sementara itu dalam bidang ekonomi juga menjadi salah satu syarat penting dalam proses integrasi ke Uni Eropa. Turki juga melakukan hal itu sejak pertama kali menjajakan kerjasamanya dengan komunitas Eropa sejak tahun 1950, yang saat itu Bernama European Economic Community. Kekuatan ekonomi dalam negeri menjadi hal yang paling penting, untuk bisa mensejajarkan diri dengan negara anggota Uni Eropa yang bisa dikatakan lebih maju, khususnya di wilayah Barat. Perlu diketahui sejak Turki Republik sudah mulai perubahan ekonomi secara besar-besaran dan pemerintah pada saat itu sangat memfokuskan pada pertanian dan industry modern.5 Selain itu secara prinsip, dalam bidang ekonomi ini mengharuskan atau mau tidak mau mengikuti sistem ataupun proses integrasi ekonomi dalam Uni Eropa. Paling jelas adalah, setiap negara anggota memberikan sedikit kedaulatan

5 Fitri Nayana, “KEBIJAKAN LUAR NEGERI TURKI DENGA UNI EROPA PADA MASA PEMERINTAHAN RECEP TAYYIP ERDOGAN (TAHUN 2002-2010),” n.d., 14.

(7)

48

perekonomiannya, khususnya dalam mata uang yang harus sama semua yaitu dalam sistem Euro.6

Namun untuk era sekarang, terlebih pada saat pemerintahan Erdogan naik, persyaratan dan dinamikan integrasi regional berubah dengan cepat dengan dinamika yang selalu berubah. Beberapa persyaratan umum ini sebenarnya menyesuaikan dengan era globalisasi. Hal yang paling penting pada bidang ekonomi ini adalah dengan penguatan pasar perdagangan dan ekonomi domestic, yang bukan hanya berdampak besar secara internal, namun itu juga sangat berpengaruh secara regional untuk mengimbangi kompetisi pasar bebas.7 Secara spesifik dalam aturan tersebut disebutkan, bahwa pada fokus perekonomian calon negara anggota harus mempunyai fondasi ataupun menguatkan pasar ekonomi ataupun perdagangan yang kuat, serta meningkatkan kapasitas untuk bertahan dalam atmosfir kompetisi pasar bebas.8 Perlu ditekankan soal pasar bebas, karena sudah disebutkan sebelumnya bahwa untuk era globalisasi dinamika perekonomian khususnya di benua biru sangat cepat perubahannya.

Turki harus melalui tantangan berat, karena permasalahan yang selalu menghalangi setelah kematian presiden pertama Mustapha Kemal Ataturk

6 Adhi Wardana, “UPAYA PEMERINTAH TURKI UNTUK BERGABUNG DENGAN UNI EROPA” 1 (2017): 17.

7 Birol A. Yesilada, “Turkey’s Candidacy for EU Membership,” Middle East Journal 56, no. 1 (2002):

94–111.

8 Ibid

(8)

49

adalah pergolakan politik dalam negeri, khususnya perebutan kekuasaan antar pemerintahan sipil dan pihak militer hampir setiap dekade, dan itu yang membuat Turki sangat sulit membangun Kembali perekonomiannya dan selalu berulang dari nol lagi. Tentang persyaratan masuk Uni Eropa pada sektor ekonomi, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya pasar bebas harus menjadi kunci kestabilitas perekonomian domestic dan mempengaruhi secara regional, jika Turki pada akhirnya berhasil bergabung ke Uni Eropa.

Berkaitan dengan hal tersebut dengan adanya pasar bebas akan lebih leluasa dalam meningkatkan perdagangan sekaligus perekonomian negara maupun Kawasan. Maka ada 4 fondasi pasar bebas yang harus dilakukan dan dipenuhi oleh negara calon anggota Uni Eropa, khususnya Turki yang terdiri dari:9

1. Kemudahan melalui aturan ekspor dan impor

2. Pengendalian perdagangan yang tidak hanya dari pemerintah saja, yang artinya keterlibatan dari pihak ketiga (swasta) lebih sering diikutsertakan.

3. Pelayanan terhadap investor, dalam arti pemerintah akan atau harus dengan terbuka lebar menerima investasi dari luar guna meningkatkan persaingan pasar bebas

4. Kemudahan perpindahan penduduk, yang berarti berkaitan dengan poin sebelumnya bahwa banyaknya investor dan masyarakat luar untuk kepentingan tertentu yang berkaitan juga dengan visa dan izin kerja/tinggal.

9 Ibid

(9)

50

Seperti yang dijelaskan juga, untuk bergabung ke Uni Eropa penguatan perekonomian menjadi sangat penting untuk Turki. Memastikan kestabilan perekonomian negara, serta dilakukan dengan percepatan yang tepat, dan melakukan kerja sama aktif dengan beberapa negara Eropa (ini juga yang telah dilakukan oleh pemerintahan Erdogan). Namun itu semua tidak bisa berjalan harmonis, jikalau permasalahan politik dan intrik sipil dan militer tidak pernah berakhir.

Alih-alih ingin meningkatkan kualifikasi syarat Uni Eropa dengan salah satunya adalah melalui perekonomian. Akan tetapi tetap saja pergelutan kekuasaan sejak tahun 1960 dan bahkan pada era Erdogan pada tahun 2016, tidak membuat Uni Eropa sangat-sangat mempertimbangkan Turki sebagai negara anggota dan beberapa negara Eropa lainnya juga menentang Turki selain hal substansial persyaratan UE namun dirasa perbedaan identitas antara Turki dan Eropa serta permasalahan dalam negeri, semakin Turki semakin menjauh dengan cita-cita awal republik sebagai negara yang bisa disejajarkan dengan barat.

2.2 Sejarah Usaha Turki Untuk Bergabung dengan EU

(10)

51

Pada sub-bab ini, penulis akan menjelaskan bagaimana Turki memulai usahanya untuk bisa bergabung dengan Uni Eropa sejak tahun 1950-an. Ini bertujuan untuk setidaknya memberikan gambaran awal bagaimana, rumitnya perjalanan pemerintahan Turki dahulu untuk bisa mencapai suatu visi politiknya agar bisa mencapai kesetaraan dengan negara-negara Eropa, yang ternyata mengalami gejolak di dalam negerinya sendiri.

Karena seperti yang di jelaskan sebelumnya, bahwa permasalahan utamanya adalah sistem demokrasi dalam negerinya yang dianggap bermasalah.

Sebenarnya Turki sudah mulai melakukan pendekatan dengan dunia Eropa pada akhir tahun 1950-an, tepatnya pada 31 Juli 1959 dengan bergabungnya organisasi ekonomi Eropa atau disebut dengan European Economic Community (EEC).10 Menjadi salah satu keanggotaan pertama dalam kegiatan regional khususnya di Eropa, dan masih berfokus pada sistem ekonomi karena pada saat itu program awal republik sendiri sangat berfokus pada kebangkitan perekonomian dan pembangunan negara tersebut.

Pada saat itu Perdana Menteri saat itu Adnan Menderes dan Menteri Luar Negeri Turki Fatin Rustu Zorlu yang menjadi inisiator sekaligus menandatangani perjanjian ini.11 Merupakan titik awal perjalanan pemerintahan Turki untuk bergabung dengan organisasi regional Eropa.

Namun pada tahun 1960 tepatnya pada tanggal 27 Mei, menjadi malapetaka pertama untuk Turki pada era Republik, karena terjadi kudeta besar terhadap pemerintahan

10 Yesilada, “Turkey’s Candidacy for EU Membership.”

11 chronology-_en-_1959-_ocak2020.pdf (ab.gov.tr) diakses pada tanggal 11 Agustus 2021

(11)

52

Adnan Menderes yang membuat usaha Turki untuk melanjutkan penjajakan dengan organisasi Eropa menjadi terhambat. Akan tetapi bisa dilanjutkan kembali perjanjiannya dengan EEC setelah tiga tahun pasca kudeta tersebut, maka diadakan Ankara Agreement sebagai “episode” terbaru dari perjalanan Turki menuju Eropa.

Dalam perjanjian tersebutkan dan dijelaskan mengenai ketetapannya sebagai anggota dan kesepakatan soal bea cukai/ pabean (berkaitan dengan ekspor dan impor).12 Lalu setahun kemudian 1 Desember 1964 Perjanjian Ankara tersebut dilanjutkan dengan memfokuskan tiga tahap yaitu persiapan, transisi, dan juga pembentukan pabean, untuk memenuhi Kembali standar keanggotaan.13

Setelah perubahan fungsi keanggotaan dari EEC menjadi European Community, Turki tetap melanjutkan inisiatifnya untuk menjadi bagian dari keanggotaan tersebut. Melalui Joint Parliamentary Committee (JPC) Turki terus berupaya dengan mengikuti

pertemuan pertamanya pada tanggal 16 sampai 17 Mei 1966 yang digelar di Brussels, Belgia. Tidak berhenti disitu saja, Turki dan European Community saat itu telah menggelar beberapa pertemuan di berbagai tempat. Setelah di Belgia, tanggal 6 sampai 7 Januari 1967 digelar di Ibukota Turki, Ankara. Lalu 23 sampai 24 Mei di tahun yang sama di Luxemburg, di bulan September juga digelar Kembali di Turki namun kali ini di Izmir.

12 Perjanjian Ankara yang disepakati pada 12 September 1963

13 Ibid

(12)

53

Sebenarnya pertemuan JPC ini sudah berulang kali digelar hampir setiap tahun, kesepakatannya pun mengenai memastikan Turki sudah cukup siap dalam arti persyaratan, namun juga dalam jangka panjang untuk bisa berintegrasi dalam komunitas Eropa. Namun tetap saja dalam rentang waktu 1970-an hingga 1980-an setidaknya, belum ada hasil yang benar-benar memastikan bahwa Turki segera mendapatkan status keanggotaan komunitas Eropa. Ini dikarenakan permasalahan politik dalam negeri (militer dan sipil) yang berpengaruh pada fluktuatifnya perekonomian Turki, juga pergantian pemerintahan antara militer dan sipil (disebabkan oleh kudeta) juga membuat perjanjian ataupun kesepakatan Kembali pada “mode reset”.

Terlalu sering bergelut pada politik antara pemerintahan sipil dan institusi militer dalam negeri membuat persiapan perencanaan untuk berintegrasi dengan UE, berdampak pada perekonomian Turki yang carut marut. Dua permasalahan tersebut pada puncaknya di awal dekade 1990-an dimana perekonomian Turki berada di titik kritisnya, dan menyebabkan UE memutuskan tidak menerima proposal keanggotaan yang sebenarnya sudah sering kali diberikan sejak tahun 1960-an, dengan alasan krisis perekonomian Turki saat itu.

Namun setelah tahun 1990, pemerintah Turki saat itu masih belum menyerah untuk terus berdialog dengan Uni Eropa. Telah banyak pertemuan dengan Uni Eropa melalui JPC dan juga Komite Eropa sebagai perwakilan Uni Eropa untuk membahas kembali pertimbangan Turki sebagai negara calon anggota. Akan tetapi pada Desember tahun

(13)

54

1997 pertemuan yang digelar di Luxemburg, pihak UE mengatakan bahwa Turki tidak akan disebutkan sebagai negara anggota, diantara beberapa negara calon anggota lainnya, implikasinya adalah hubungan antara Uni Eropa dan Turki merenggang.

Semua usaha Turki sejauh ini untuk menjadi bagian integrasi Eropa, mengalami pasang surut. Terlebih lagi saat Copenhagen Criteria diterapkan. Perlu ada sebuah perubahan yang cukup besar dilakukan oleh Turki untuk bisa kembali dilirik oleh Uni Eropa dengan beberapa negara anggota besarnya seperti Jerman dan Perancis. Isu demokratisasi menjadi persoalan yang paling penting dalam tubuh pemerintahan Turki, disamping itu juga perekonomian yang stabil menjadi sisi krusial lainnya untuk benar- benar memastikan satu tempat di Uni Eropa dan juga mewujudkan visi utamanya sejak berdirinya Republik Turki.

Referensi

Dokumen terkait

keempat menganalisa faktor-faktor domestik yang mempengaruhi kebijakan luar negeri Belanda terhadap proposal keanggotaan Turki ke Uni Eropa pada tahun 2005

Kebijakan untuk ikut serta dalam upaya penyelesaian konflik separatisme di Moldova merupakan kebijakan yang diambil oleh Uni Eropa pada tahun 2003 ketika Uni Eropa secara resmi

Tidak berhenti disitu saja, tahun 2016 lalu Inggris telah menarik diri dalam keanggotaan Uni Eropa yang dikenal sebag ai peristiwa “Brexit”., kemudian memanaskan sumbu populisme yang

Posisi masing-masing negara anggota Uni Eropa didukung oleh argumen yang pada akhirnya bertumpu pada masalah politik dan ekonomi, hal itu merupakan konsekuensi dari

(European Commission- Enlargement Policy, 2015) Sikap Uni Eropa yang kerap menangguhkan beberapa bab dari persyaratan negosiasi dengan Turki dan keputusan

Berdasarkan Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI) menunjukkan bahwa hingga tahun 2010 Uni Eropa konsisten merupakan kawasan tujuan ekospor Indonesia

Membatalkan tindakan-tindakan hukum Uni Eropa (Actions for Annulment), jika tindakan Uni Eropa diyakini melanggar perjanjian Uni Eropa, Mahkamah Eropa dapat diminta

Karena jika Turki diputuskan untuk menjadi anggota Uni Eropa, sementara kehidupan dalam negerinya masih belum layak untuk hal ini, maka kredibilitas Uni Eropa akan dipertanyakan