• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. mampu berkembang dan siap menghadapi kehidupan nyata yang akan. dihadapinya. Dunia pendidikan telah banyak melakukan usaha demi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. mampu berkembang dan siap menghadapi kehidupan nyata yang akan. dihadapinya. Dunia pendidikan telah banyak melakukan usaha demi"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

1

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin pesat, sangat menuntut kita untuk berkembang seiring perkembangan itu.

Perkembangan IPTEK tersebut mendatangkan tuntutan kehidupan yang semakin tinggi yang banyak menimbulkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam hal ini, dunia pendidikan merupakan salah satu sarana pembentuk sumber daya manusia yang lebih baik dan menciptakan pribadi seseorang untuk lebih mampu berkembang dan siap menghadapi kehidupan nyata yang akan dihadapinya. Dunia pendidikan telah banyak melakukan usaha demi meningkatkan mutu pendidikan, salah satunya adalah memperbaiki kurikulum pendidikan. Seperti pada saat ini telah diberlakukannya kurikulum 2013.

Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.

Dalam pendidikan disekolah, matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang memiliki peranan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga matematika perlu dipahami dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama siswa, mahasiswa dan ilmuan lainnya. Dalam hal ini, Hudojo (2005:37) mengatakan bahwa matematika adalah suatu alat untuk mengembangkan cara berpikir. Karena itu matematika sangat diperlukan baik

(2)

untuk kehidupan sehari-hari maupun dalam menghadapi kemajuan IPTEK sehingga matematika perlu dibekalkan pada setiap peserta didik sejak SD bahkan sejak TK. Hal ini sejalan dengan pendapat Ruseffendi (1991:94) yang menyatakan bahwa “kita harus menyadari bahwa matematika itu penting baik bagi alat bantu, sebagai ilmu (bagi ilmiyawan), sebagai pembimbing pola berpikir, maupun sebagai pembentuk sikap. Oleh karena itu kita harus mendorong siswa untuk belajar matematika dengan baik”. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan matematika merupakan sarana pembentuk pola pikir seseorang untuk lebih mampu berkembang. Berkenaan dengan hal ini National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) menetapkan lima standart proses kemampuan sebagai kompetensi yang harus dimiliki dan dikuasai oleh siswa dalam pembelajaran matematika yaitu kemampuan pemecahan masalah (problem solving), kemampuan komunikasi (communication), kemampuan koneksi (connection), kemampuan penalaran (reasoning), dan kemampuan representasi (representation) NCTM (2000:29).

Namun pada kenyataan kebanyakan siswa menganggap matematika sebagai bidang studi yang sulit dipelajari, dengan karekteristik matematika yang bersifat abstrak sehingga banyak siswa menganggap matematika merupakan momok yang menakutkan, yang mengakibatkan siswa malas dan tidak ada keinginan untuk berusaha serta berpikir tingkat tinggi mencari solusi pada setiap kesulitan yang ditemukan dalam mempelajari matematika tetapi malah sedapat mungkin siswa selalu menghindar dari kesulitan yang dialaminya yang mengakibatkan hasil belajar matematika siswa sangat rendah. Sebagaimana

(3)

menurut Abdurahman (2009:252) bahwa dari berbagai bidang studi yang diajarkan disekolah, matematika merupakan bidang studi yang dianggap paling sulit oleh para siswa, baik yang tidak berkesulitan belajar dan lebih-lebih bagi siswa yang berkesulitan belajar. Hal yang senada disampaikan oleh Marti (Sundayana, 2014:3) bahwa obyek matematika yang bersifat abstrak tersebut merupakan kesulitan tersendiri yang harus dihadapi peserta didik dalam mempelajari matematika.

Kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan komunikasi merupakan dua hal yang terdapat dalam tujuan pembelajaran matematika menurut NCTM.

Oleh karena itu, kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan komunikasi merupakan kemampuan dasar matematika yang perlu dikembangkan dan harus dimiliki oleh siswa. Pemecahan masalah merupakan proses menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya ke dalam situasi baru yang belum dikenal sehingga siswa lebih tertantang dan termotivasi untuk mempelajarinya.

Dalam proses pembelajaran maupun penyelesaian, siswa dimungkinkan untuk menggunakan keterampilan dan pengalaman yang mereka miliki untuk diterapkan dalam penyelesaian soal-soal yang tidak rutin. Dengan demikian, kemampuan pemecahan masalah sangat penting untuk dikuasai oleh siswa. Turmudi (2008:29) menjelaskan bahwa problem solving dalam pembelajaran matematika merupakan bagian tak terpisahkan dalam pembelajaran matematika.

Menurut National Council of Teachers of Mathematics (2000:52) mengungkapkan tujuan pengajaran pemecahan masalah secara umun adalah untuk (1) membangun pengetahuan matematika baru, (2) memecahkan masalah yang

(4)

muncul dalam matematika dan di dalam konteks-konteks lainnya, (3) menerapkan dan menyesuaikan bermacam strategi yang sesuai untuk memecahkan permasalahan dan (4) memantau dan merefleksikan proses dari pemecahan masalah matematika.

Rendahnya tingkat kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu faktor yang menyebabkan hasil belajar matematika siswa rendah, karena matematika sangat erat kaitannya dengan tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Jonassen (Purnomo, 2014:25) menegaskan bahwa seharusnya fokus utama dalam pembelajaran adalah belajar menyelesaikan masalah. Hal ini juga dijelaskan oleh Branca bahwa kemampuan memecahkan masalah adalah tujuan utama dalam pembelajaran matematika, oleh karena itu kemampuan memecahkan masalah hendaknya diberikan, dilatihkan, dan dibiasakan kepada peserta didik. Kemudian Loretta Ohnemus Omaha, Nebraska (2010:5) menegaskan “Problem solving is an essential part of mathematics, yet many students spend much of their mathematics career copying and reproducing algorithms”. Yang artinya pemecahan masalah adalah bagian yang terpenting dalam Matematika, tetapi masih banyak pelajar yang mencontek dan memproduksi algoritma dalam pelajaran matematika mereka.

Namun faktanya adalah kemampuan siswa dalam pemecahan masalah masih tergolong rendah, hal ini dapat dilihat setelah dilalakukan tes kepada siswa disalah satu sekolah, menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam pemecahan masalah masih tergolong rendah, siswa terlihat kesulitan dalam memahamai soal- soal cerita sehingga siswa tidak dapat meyelesaikannya dengan baik dan benar.

(5)

Sesuai dengan tes uraian yang diberikan kepada siswa untuk melihat kemampuan pemecahan masalah siswa, seperti contoh berikut:

1. Harga sebuah buku adalah dua kali harga sebuah pensil. Seorang anak membeli sebuah buku dan dua pensil, anak tersebut harus membayar Rp.

2000,-. a) tuliskan informasi yang diperlukan untuk menentukan harga pensil?

b) Berapakah harga sebuah pensil?

2. Seorang pedagang membeli 2 keranjang mangga dan 3 keanjang salak dengan biaya Rp. 40000,-. Setiap keranjang berisi 10 buah. Harga sekeranjang salak sama dengan dua keranjang mangga. a) apakah informasi yang diperlukan untuk menentukan harga sekeranjang mangga cukup? b) bagaimana cara menghitung harga sekeranjang mangga? Dan berapakah harganya?

Terdapat 26 orang dari 40 orang siswa (65%) siswa tidak dapat menyelesaikan soal dengan benar dan di dapati (7,5%) lembar jawaban yang kosong. Dalam hal ini siswa belum dapat memahami masalah pada soal yang diberikan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa pola hasil jawaban yang telah diselesaikan siswa kelas VII SMP berikut ini.

Gambar 1.1.a Kesalahan Siswa dalam memahami dan Langkah Menyelesaikan Soal Pemecahan Masalah

(6)

Gambar 1.1.b Kesalahan Siswa dalam Langkah Menyelesaikan Soal Pemecahan Masalah

Pada gambar 1.1.a. siswa sudah hampir mampu memahami masalah itu siswa telah mampu menyajikan informasi yang dibutuhkan, namun pada penyelesaiannya dalam menjawab tidak lengkap dan siswa juga tidak dapat menuliskan perencanaan dalam menyelesaikan masalah tersebut. Dan pada gambar 1.1.b. siswa kurang mampu memahami masalah begitu juga dalam pelaksanaan pemecahan masalah siswa belum mampu menyelesaikan masalah tersebut dengan baik. Hal ini terlihat dari lembar jawaban siswa yang tidak memberikan penyelesaian atas masalah tersebut..

Dari masalah di atas dalam menyelesaikan masalah tersebut dibutuhkan kemampuan pemecahan masalah, sehingga siswa dapat merumuskan informasi yang disajikan dalam masalah serta dapat menjelaskan apakah informasi yang disajikan dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah tersebut atau tidak.

Disamping. itu siswa harus mampu menentukan perencanaan dan menyelesaikannya dengan baik. Seperti yang dikemukakan oleh NCTM (2000:52) By learning problem solving in mathematics, students should acquire ways of

(7)

thinking, habits of persistence and curiosity, and confidence in unfamiliar situations that will serve them well outside the mathematics classroom. In everyday life and in the workplace, being a good problem solver can lead to great advantages. Dengan kata lain dengan mempelajari kemampuan pemecahan masalah siswa akan memperoleh cara berpikir, ketekunan, rasa ingin tahu, serta dapat mengaplikasi matematika dalam kehidupan sehari-harinya.

Selain mengembangkan kemampuan pemecahan masalah, kompetensi yang dianggap penting di dalam tujuan pembelajaran matematika adalah kemampuan komunikasi. Dalam pembelajaran matematika komunikasi merupakan bagian penting karena dengan komunikasi siswa dapat mengungkapkan gagasan, ide matematika atau pendapat baik lisan ataupun tulisan dalam merespon pertanyaan atau masalah yang diajukan. Pengembangan komunikasi juga merupakan salah satu tujuan pembelajaran matematika dan menjadi salah satu standar kompetensi lulusan dalam bidang matematika.

Seperti yang disampaikan oleh Baroody (Ansari, 2009:4) bahwa sedikitnya ada dua alasan penting mengapa komunikasi dalam pembelajaran matematika perlu ditumbuhkembangkan dikalangan siswa, pertama adalah matematika tidak hanya sekedar alat bantu berpikir, alat untuk menemukan pola, menyelesaikan masalah atau mengambil keputusan tetapi matematika juga sebagai alat untuk mengkomunikasikan berbagai ide dengan jelas, tepat dan ringkas, kedua adalah sebagai aktivitas sosial dalam pembelajaran matematika di sekolah, matematika juga sebagai wahana interaksi antar siswa dan juga sebagai sarana komunikasi guru dan siswa.

(8)

Matematika juga dipandang sebagai bahasa atau alat komunikasi (bahasa matematika) dalam arti matematika sebagai bahasa simbol yang terlukis dalam proses simbolisasi dan formulasi yaitu mengubah pernyataan kedalam bentuk rumus, simbol atau gambar. Dengan adanya bahasa simbol dalam matematika, maka komunikasi antar individu atau komunikasi antar individu dengan suatu objek menjadi lebih mudah dipahami. Seperti yang diungkapkan oleh Johnson dan Myklebust (Sundayana, 2014:2) bahwa matematika merupakan bahasa simbolis yang mempunyai fungsi praktis untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan. Proses komunikasi terjadi apabila terjadi interaksi dalam pembelajaran. Guru merancang pembelajaran yang memungkinkan terjadinya interaksi positif sehingga memungkinkan siswa dapat berkomunikasi dengan baik.

Kemampuan berkomunikasi merupakan dasar untuk segala yang kita kerjakan. Grafik, bagan, peta, lambang-lambang, diagram, persamaan matematik dan demonstrasi visual sama baiknya dengan kata-kata yang ditulis atau dibicarakan, semuanya adalah cara komunikasi yang sering kali digunakan dalam ilmu pengetahuan. Menurut NCTM (2000:56) kemampuan komunikasi matematika merupakan 1) recognize reasoning andproof as fundamental aspects of mathematics; 2) make and investigate mathematical conjectures; 3) develop and evaluate mathematical arguments and proofs; 4) select and use various types of reasoning and methods of proof.

Pentingnya komunikasi matematis membantu siswa untuk mengatur dan mengaitkan proses berpikir mereka secara koheren dan jelas kepada teman-

(9)

temannya, guru dan orang lain, menggunakan bahasa matematika serta mengekspresikan ide-ide matematika secara benar. Dalam pembelajaran matematika di kelas komunikasi merupakan bagian penting. Kegiatan bertanya, menjelaskan, dan berdiskusi harus menjadi kebiasaan siswa dalam kegiatan pembelajaran.

Pada kenyataan dan dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan, terlihat bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa tergolong rendah, hal ini dapat dilihat dari hasil jawaban siswa kelas VII SMP untuk soal sebagai berikut: 1).

Sebuah lapangan berukuran 100 m x 80 m. ditepi lapangan itu dibuat jalan dengan lebar 3m mengelilingi lapangan. Tentukan: a) kemukakan bagaimana caramu untuk dapat menentukan luas jalan tersebut. b) berapakah luas jalan tersebut. c) Berapakah biaya yang dibutuhkan, jika jalan tersebut akan dibuat dengan biaya Rp. 35.000,- per meter. 2). Seorang petani mempunyai sebidang tanah dengan keliling 60 m dan lebar 10 m. tanah tersebut akan dibuat sebuah kolam berbentuk belah ketupat dengan panjang diagonalnya 5 m dan 8 m, sedangkan sisinya akan ditanami pohon pisang. a) dari informasi yang disajikan apakah kamu dapat menntukan luas tanah petani! berapakah luasnya?, b) berapakah luas tanah yang ditanami pohon pisang tersebut?, c) gambarkanlah sketsa dari masalah ini.

Terdapat 26 orang dari 40 orang siswa (65%) siswa tidak dapat menyelesaikan soal dengan benar dan di dapati (7,5%) lembar jawaban yang kosong. Dalam hal ini siswa belum dapat memahami masalah pada soal yang diberikan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa pola hasil jawaban yang telah diselesaikan siswa kelas VII SMP berikut ini.

(10)

Gambar 1.2.a Kesalahan Siswa dalam memahami dan Langkah Menyelesaikan Soal Komunikasi

Gambar 1.2.b Kesalahan Siswa dalam Langkah Menyelesaikan Soal Komunikasi

Pada gambar 1.2.a. tampak bahwa siswa belum mampu menuliskan idenya dalam menentukan luas jalan pada lapangan tersebut, walau siswa sudah terlihat dapat melakukan perhitungan dengan rumus. Dan pada gambar 1.2.b. tidak berbeda dengan jawaban siswa pada gambar 1.2.a siswa mengalami kesulitan dalam mengemukakan ide matematikanya secara tertulis serta menjelaskan ide matematika ke dalam kata-kata sendiri, siswa mengalami kesulitan merubah soal tersebut ke dalam gmbar, ditemukannya kesalahan siswa dalam menafsirkan soal sehingga jawaban yang diberikan tidak sesuai yang ditanyakan, jawaban siswa tersebut nampak kemampuan komunikasi siswa masih sangat rendah sekali.

(11)

Hal ini juga didukung oleh Penelitian dari Demikian juga dengan hasil penelitian Suryadi (Usdiyana, 2009:2) terhadap siswa kelas dua SMP di kota dan kabupaten Bandung yang menemukan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam mengajukan argumentasi, menemukan pola dan pengajuan bentuk umumnya.. Hal ini juga diperkuat oleh hasil laporan TIMSS menyebutkan bahwa kemampuan siswa indonesia dalam komunikasi matematik sangat jauh tertinggal dengan negara-negara lain, yaitu untuk permasalahan matematika yang menyangkut komunikasi matematika, siswa indonesia berhasil menjawab benar hanya 5% dan jauh tertinggal dari negara seperti Singapura, Korea, dan Taiwan yang mancapai lebih dari 50%.

Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan komunikasi matematis siswa adalah rendahnya kemampuan awal siswa, seperti terlihat pada penguasaan siswa terhadap materi sebelumnya atau materi prasyarat yang dapat dilihat dari penyelesaian siswa pada tes awal yang diberikan pada studi pendahuluan di atas. Hal ini didasarkan pada materi yang dipelajari dalam pembelajaran matematika tersusun secara hierarkis dimana setiap konsep dalam matematika itu saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya dan akhirnya membentuk konsep baru yang lebih kompleks.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ruseffendi (1991:268) menyatakan bahwa:

“topik-topik dalam matematika itu tersusun secara hierarkis mulai dari yang mendasar atau mudah sampai kepada yang paling sukar. Setiap orang yang ingin belajar matematika dengan baik harus melalui jalur-jalur pasti yang telah tersusun secara logis”. Hal senada juga diungkapkan oleh Hudojo (2005:64) yang

(12)

mengatakan bahwa hakekat matematika berkenaan dengan ide-ide, struktur- struktur dan hubungan-hubungannya yang diatur menurut aturan yang logik.

Sehingga untuk mempelajari matematika pengetahuan tentang materi sebelumnya sangat berguna untuk mempelajari materi selanjutnya. Seiring dengan matematika merupakan dasar dari berbagai ilmu, dan merupakan ilmu yang tersusun secara hierarkis maka kemampuan awal yang dimiliki siswa akan berdampak pada keberhasilan siswa dalam belajar selanjutnya. Seseorang yang mengalami kesulitan pada pokok bahasan awal, maka secara otomatis dia akan mengalami kesulitan untuk mempelajari pokok bahasan selanjutnya. Dan siswa yang memiliki kemampuan awal yang baik, maka dia akan mampu mengikuti pelajaran berikutnya dengan baik.

Dalam kegiatan belajar mengajar dalam suatu ruang kelas, para siswa memiliki latar belakang kemampuan awal yang berbeda-beda, dimana kemampuan siswa dalam mengikuti pelajaran juga akan berbeda. Kemampuan awal siswa adalah kemampuan yang telah dimiliki oleh siswa sebelum ia mengikuti pembelajaran yang akan diberikan. Kemampuan awal (entry behavior) ini menggambarkan kesiapan siswa dalam menerima pelajaran yang akan disampaikan oleh guru. Kemampuan awal siswa penting untuk diketahui guru sebelum ia mulai dengan pembelajarannya, agar guru mengetahui apakah siswa telah mempunyai pengetahuan yang merupakan prasyarat (prerequisite) untuk mengikuti pembelajaran dan sejauh mana siswa telah mengetahui materi apa yang akan disajikan.

(13)

Faktor lain yang menyebabkan rendahnya kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan komunikasi matematis siswa adalah cara mengajar guru yang masih menggunakan pembelajaran konvensional, dimana pada saat mengajar matematika guru langsung menjelaskan topik yang akan dipelajari, dilanjutkan pemberian contoh dan soal untuk latihan, dan guru sering mencontohkan pada siswa bagaimana menyelesaikan soal. Hal ini juga mempengaruhi cara siswa dalam menyelesaikan suatu masalah, yang membuat proses jawaban siswa dalam menyelesaikan masalah monoton dan kurang bervariasi. Disamping itu dalam pembelajaran siswa lebih banyak pasif dan siswa belajar dengan cara mendengar dan guru monoton melakukan pembelajaran matematik kemudian guru mencoba memecahkan masalah yang ada secara sendiri dan dengan pembelajaran konvensional ini siswa juga akan mudah bosan dan menganggap matematika itu sulit untuk dipecahkan sebab siswa kurang di tuntut untuk menggunakan kemampuan pemecahan masalah yang mereka miliki dalam menyelesaikan persoalan matematika dan siswa juga tidak terlibat dalam mengemukakan ide dan gagasan yang dimilikinya.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam menyikapi hal tersebut adalah pemilihan model pembelajaran yang tepat. Sebagaimana dijelaskan oleh Hamruni (2012:7) salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam pembelajaran adalah keterampilan memilih metode. Pemilihan metode terkait langsung dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi, sehingga pencapaian tujuan pengajaran diperoleh secara optimal. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu diterapkan suatu

(14)

model pembelajaran yang dapat meningkatatkan kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematis. Salah satu model yang dapat merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi berbasis masalah termasuk belajar bagaimana belajar, dan dapat mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka adalah pembelajaran investigasi kelompok.

Pembelajaran investigasi kelompok merupakan pembelajaran yang menekankan pengembangan pemecahan masalah dalam suasana yang demokratis dimana pengetahuan tidak diajarkan secara langsung kepada peserta didik melainkan diperoleh melalui proses pemecahan masalah soal matematika. Sebagai bagian dari investigasi, para siswa mencari dan menemukan informasi dari berbagai macam sumber di dalam maupun di luar kelas. Kemudian para siswa mengevaluasi dan mensintesiskan semua informasi yang disampaikan oleh masing-masing anggota kelompok dan akhirnya dapat menghasilkan produk berupa laporan kelompok. Group Investigsi dapat melatih siswa untuk menemukan hal baru serta melatih siswa mengeluarkan ide dan gagasannya, hal tersebut ditekankan oleh Istarani (2011:87) dalam kelebihan model pembelajaran group investigasi, antara lain: (1) dapat memadukan antara siswa yang berbeda kemampuan melalui kelompok yang heterogen, (2) melatih siswa untuk meningkatkan kerjasama dalam kelompok, (3) melatih siswa untuk bertanggung jawab sebab ia diberi tugas untuk diselesaikan dalam kelompok, (4) siswa dilatih siswa untuk menemukan hal-hal baru dari hasil kelompok yang dilakukannya, (5) melatih siswa untuk mengeluarkan ide dan gagasan baru melalui penemuan yang

(15)

ditemukannya”. Dengan demikian melalui penerapan model pembelajaran investigasi kelompok, diharapkan hasil pembelajaran matematika siswa akan lebih baik terlebih dalam kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematis siswa.

Melengkapi penelitan-penelitian yang terdahulu, beberapa hal yang masih perlu diungkap lebih jauh yaitu berkaitan dengan pembelajaran matematika yang berdasarkan kemampuan awal matematika siswa yang dibedakan ke dalam kelompok tinggi, sedang, dan rendah terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan komunikasi matematis siswa. Dugaan bahwa kemampuan awal matematika siswa yang dibedakan ke dalam kelompok kemampuan tinggi, sedang dan rendah adanya interaksi dengan kemampuan pemecahan masalah siswa dan kemampuan komunikasi matematis yang pada akhirnya dapat mempengaruhi hasil belajar matematika. Disebabkan oleh pemahaman materi atau konsep baru harus mengerti dulu konsep sebelumnya hal ini harus diperhatikan dalam urutan proses pembelajaran. Hal ini senada dengan Ruseffendi (1991:268) yang mengatakan objek langsung dalam matematika adalah fakta, ketrampilan, konsep dan aturan (prinsipal). Berdasarkan pernyataan tersebut maka objek dari matematika terdiri dari fakta, keterampilan, konsep, dan prinsip yang menunjukkan bahwa matematika merupakan ilmu yang mempunyai aturan, yaitu pemahaman materi yang baru mempunyai persyaratan penguasaan materi sebelumnya.

Menurut Ruseffendi (1991) setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda, ada siswa yang pandai, ada yang kurang pandai serta ada yang biasa-

(16)

biasa saja serta kemampuan yang dimiliki siswa bukan semata-mata merupakan bawaan dari lahir (hereditas), tetapi juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Oleh karena itu, pemilihan lingkungan belajar khususnya model pembelajaran menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan artinya pemilihan model pembelajaran harus dapat meningkatkan kemampuan matematika siswa yang heterogen.

Berdasarkan pemaparan latar belakang masalah di atas, maka perlu dilakukan penelitian yang berjudul “Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Komunikasi Matematis Siswa Melalui Pembelajaran Investigasi Kelompok di Kelas VII SMP Negeri 1 Sayur Matinggi”.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi identifikasi masalah adalah:

1. Siswa menganggap matematika sebagai bidang studi yang sulit dipelajari dan momok yang menakutkan.

2. Kemampuan siswa dalam pemecahan masalah matematika masih tergolong rendah.

3. Kemampuan siswa dalam komunikasi matematis masih tergolong rendah.

4. Pembelajaran yang berlangsung bersifat konvensional, sehingga siswa lebih banyak pasif di dalam pembelajaran.

5. Rendahnya penguasaan siswa terhadap materi sebelumnya atau materi prasyarat (kemampuan awal siswa).

(17)

6. Proses jawaban siswa dalam menyelesaikan masalah matematika selama pembelajaran monoton atau tidak bervariasi.

1.3. Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka masalah yang akan diteliti difokuskan pada:

1. Penerapan model pembelajaran investigasi kelompok untuk peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematis siswa.

2. Interaksi antara pembelajaran dan kemampuan awal matematik terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematis siswa.

3. Mendeskripsikan bagaimana proses jawaban yang dibuat siswa dalam menyelesaikan masalah pada model pembelajaran investigasi kelompok dengan pembelajaran konvensional.

1.4. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dari penelitian ini adalah:

1. Apakah peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajarkan melalui pembelajaran investigasi kelompok lebih tinggi dari pada siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional?

(18)

2. Apakah peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang diajarkan melalui pembelajaran investigasi kelompok lebih tinggi dari pada yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional?

3. Apakah terdapat interaksi antara model pembelajaran investigasi kelompok dan kemampuan awal siswa terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa?

4. Apakah terdapat interaksi antara model pembelajaran investigasi kelompok dan kemampuan awal siswa terhadap peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa?

5. Bagaimana proses jawaban kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematis siswa yang diajar melalui pembelajaran investigasi kelompok dan siswa yang diajar melalui pembelajaran konvensional?

1.5. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk:

1. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar melalui model pembelajaran investigasi kelompok lebih baik dari pada yang diajar dengan pembelajaran konvensional.

2. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang diajar melalui model pembelajaran investigasi kelompok lebih baik dari pada yang diajar dengan pembelajaran konvensional.

(19)

3. Untuk menganalisis ada atau tidaknya interaksi antara model pembelajaran investigasi kelompok dan kemampuan awal siswa terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.

4. Untuk menganalisis ada atau tidaknya interaksi antara model pembelajaran investigasi kelompok dan kemampuan awal siswa terhadap peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa.

5. Untuk mendeskripsikan bagaimana ragam jawaban siswa yang diajar melalui Pembelajaran Investigasi Kelompok.

1.6. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat dan konstribusi bagi perkembangan dan peningkatan mutu pendidikan, dan menghasilkan temuan- temuan yang merupakan masukan yang berarti bagi pembaharuan kegiatan pembelajaran yang dapat memperbaiki cara mengajar guru di dalam kelas

1. Untuk peneliti.

Sebagai pengalaman dalam penulisan karya ilmiah dan melaksanakan penalitian dalam pendidikan matematika untuk menambah pengetahuan, khususnya untuk mengetahui sejauh mana peningkatan minat dan aktivitas siswa setelah diterapkannya pembelajaran investigasi kelompok.

2. Untuk guru.

Sebagai informasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, sekaligus sebagai informasi tentang penerapan pembelajaran investigasi kelompok.

(20)

3. Untuk Bagi siswa.

Meningkatkaningn minat dan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran matematika.

4. Untuk sekolah.

Sebagai sumbangan bahan pemikiran untuk memperbaiki pembelajaran dalam rangka peningkatan kualitas sekolah.

1.7. Defenisi Operasional

Untuk menghindari kerancuan pemahaman beberapa istilah dalam penelitian ini, perlu adanya penjelasan dan pendefenisian secara operasional sebagai berikut:

1. Kemampuan pemecahan masalah adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk menyelesaikan masalah dalam situasi baru yang belum dikenal dengan menggunakan pengetahuan, ketrampilan dan pemahaman yang telah dimilikinya, dengan memperhatikan proses menemukan jawaban berdasarkan langkah-langkah: 1) memahami masalah, 2) membuat rencana pemecahan masalah, 3) melaksanakan penyelesaian soal, 4) memeriksa ulang jawaban yang diperoleh.

2. Komunikasi matematis adalah suatu kemampuan menyampaikan pesan dalam menyelesaikan masalah matematik dengan bentuk tulisan, dan kesanggupan siswa menyampaikan ide matematika ke dalam bentuk gambar, simbol-simbol dan model matematika atau sebaliknya, melalui: (1) menuliskan ide matematika dengan kata-kata, (2) menuliskan ide matematika ke dalam model

(21)

matematika, (3) menghubungkan gambar ke dalam ide matematika (4) menjelaskan prosedur penyelesaian

3. Pembelajaran investigasi kelompok adalah pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: 1) pemilihan topik, 2) cooperative learning, 3) implementasi, 4) analisis dan sintesis, 5) presentasi produk akhir, dan 6) evaluasi.

4. Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang berpusat pada guru dengan menyampaikan materi pelajaran kepada siswa dengan bentuk jadi, melalui langkah-langkah: 1) Menyampaikan tujuan, 2) Menyajikan informasi, 3) Membimbing pelatihan, 4) Mengecek pemeahaman dan memberikan umpan balik, 5) Memberikan kesempatan latihan lanjutan (tugas tambahan)

5. Kemampuan awal matematik adalah penguasaan matematika sebelum penelitian dilaksankan, dalam hal ini mengacu kepada hasil jawaban tes yang diberikan kepada siswa.

Gambar

Gambar 1.1.a Kesalahan Siswa dalam memahami dan Langkah  Menyelesaikan Soal Pemecahan Masalah
Gambar 1.1.b Kesalahan Siswa dalam Langkah Menyelesaikan Soal  Pemecahan Masalah
Gambar 1.2.a Kesalahan Siswa dalam memahami dan Langkah  Menyelesaikan Soal Komunikasi

Referensi

Dokumen terkait

Melalui hasil penelitian ini diharapkan Kepala Madrasah mengetahui kendala yang dihadapi guru dalam meningkatkan kemampuan membaca bagi siswa pada mata pelajaran bahasa

Dalam perjanjian sewa beli barang elektronik permasalahan yang paling banyak terjadi adalah debitur menunggak pembayaran angsuran dan sering terjadi barang elektronik

Berdasarkan hal tersebut, maka resistensi bakteri MRSA ini dipengaruhi oleh gen mecA yang menghasilkan agen resistensi, dimana golongan antibiotik β- laktamase

Menurut Abdul Hakim selaku programme manager ILO di Jakarta, keselamatan para ABK di atur juga pada Konvensi ILO nomor 188 tahun 2007 tentang Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan,

Slamet Langgeng menerapkan pengawasan mutu dengan cara untuk mempertahankan mutu dari bahan baku gula yaitu melakukan pengemasan dengan karung- karung dan meletakkanya di

Industri batik belakangan ini banyak menggunakan zat warna sintetis pada proses produksi batiknya seperti industri batik rumah tangga di kawasan Kelurahan Jenggot, Kecamatan

Dalam bidang mikrobiologi pangan dikenal istilah bakteri indikator  sanitasi. Bakteri indikator sanitasi adalah bakteri yang keberadaannya dalam  pangan menunjukkan

Saya melihat, setelah kematian dan tubuhnya hancur, orang tersebut terlahir kembali dalam keadaan yang tidak menyenangkan, di alam yang tidak bahagia, alam neraka.’ Ia