1
REFRESHING COVID19 DAN
ISOLASI MANDIRI DI RUMAH
2
Perjalanan Penyakit
DAMPAK COVID-19 PADA BERBAGAI ORGAN
4
Sumber: Satgas COVID Pertamina, Worldometer by Country, Indonesia, active case
q Selaras dengan nasional, Desember peningkatan rata-rata kasus positif aktif55%dibanding kasus aktif tertinggi bln Okt 20 (Nasional 67%)
q Positifity Rate PCR Test Pertamina Group by Data Health Alert Form Desember 2020 meningkat menjadi7.1%(sebelumnya 5.3%). Standart WHO <5%. Nasional 23.5%
A P R I L M A Y J U N I J U L I A G T S E P T O K T N O P D E S
28 43 155 367 534 763 796 630
1.235
52 71 245
809 944
1099 869 1.024 1433
JUMLAH KASUS BARU & RATA-RATA KASUS POSITIF AKTIF PERTAMINA GROUP PER BULAN
VS TREND KASUS AKTIF NASIONAL
Rata-rata Kasus Positif Aktif Total Kasus Positif
Trend kasus aktif Nasional
UPDATE KONDISI KASUS COVID PERTAMINA GROUP (akhir DESEMBER 2020)
• Tingkat Hunian RS Rujukan COVID
meningkat (R isolasi dan ICU terbatas)
• BOR Pertamedika Group rata-rata Desember 85%
(nilai aman 70%).
• Per 30 Des 2020 : BOR RSPP 95%, RSPJ 90%, ICU 100% (full)
44%
40%
16%
DISTRIBUSI KASUS COVID MENINGGAL PERTAMINA GROUP
Pekerja Mitra Kerja Keluarga
75%
24% 1%
DISTRIBUSI KASUS POSITIF AKTIF PERTAMINA GROUP MENURUT
GEJALA PER DES 2020
Tanpa Gejala Gejala Ringan Gejala Berat
0 2 4 6 8 10 12
Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nop Des
1 1 2 1
7 7 11
3 5 12 JUMLAH KASUS KEMATIAN COVID-19
PERTAMINA GROUP VS NASIONAL
5
TREND KASUS COVID-19 LINGKUP PERTAMINA GROUP
SITUASI COVID-19 LINGKUP PT PERTAMINA
5 6 7 7 10 10 14 12 11 9
20 23 21 13 11 16
10 21
45
16 28
11 24
15 12
23
16 26
14 11 26 25
20 30
21 30
52 53 38
61
27 22
29 35
30 87
46 68
44 40 71
36 115
41
89
39
9
3 7 5
16 1
24 27
8 9
5 34
20 16 13 14
7 5
27
10
5 9
20 10 10
16
11
17
0 20 40 60 80 100 120
1-Jan 2-Jan 3-Jan 4-Jan 5-Jan 6-Jan 7-Jan 8-Jan 9-Jan 10-Jan 11-Jan 12-Jan 13-Jan 14-Jan 15-Jan 16-Jan 17-Jan 18-Jan 19-Jan 20-Jan 21-Jan 22-Jan 23-Jan 24-Jan 25-Jan 26-Jan 27-Jan 28-Jan 29-Jan
Distribusi Kasus COVID-19
Pekerja Mitra Kerja Keluarga
74
36 59 53
92 71
113
84 69
90 97 116110
81 56
67 60 60 167
74 101
67 84
97
58 146
88 123
72
113 140
21 66
48 49 44 154
29 93
18 59 58
45 56
44 52 32
118
67 72 83
55 34
55 87 10694
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180
1-Jan 3-Jan 5-Jan 7-Jan 9-Jan 11-Jan
13-Jan 15-Jan
17-Jan 19-Jan
21-Jan 23-Jan
25-Jan 27-Jan
29-Jan
Trend Status Pasien Kasus COVID-19
Kasus Baru Sembuh Meninggal
9.784
(+77 kasus) TERKONFIRMASI
170
SUSPEK7.795
(+87 Kasus) SEMBUH
KAB/KOTA
117
(+1Kasus)
65
MENINGGAL
UO/AP
45
Rekap Kasus COVID-19 Lingkup UO/AP PERTAMINA
Data Update : 29/01/2021
Last Update 30/01/21 10:00 WIB
PERTAMINA
NASIONAL
.146
SEBARAN PERTAMINA
TERKONFIRMASI +13.695 Kasus
1.111.671
905.665
MENINGGAL
30.770
PERTAMINA
@pertamina
CALL CENTRE MEDICAL 0813 8830 8844SUMMARY
§ Persentase kesembuhan naik menjadi 79.7% (kemarin 78.6%), masih dibawah angka Nasional (Nasional 81.5%). Persentase kematian tetap yakni 0.67% (kemarin 0.67%), masih di bawah angka Nasional dan Global (Nasional 2.81%, Global 2.1%)
0 200 400 600 800 1.000 1.200 1.400 1.600 1.800 2.000 2.200
0 20.000 40.000 60.000 80.000 100.000 120.000 140.000 160.000 180.000
2-Jan 4-Jan 6-Jan 8-Jan 10-Jan 12-Jan 14-Jan 16-Jan 18-Jan 20-Jan 22-Jan 24-Jan 26-Jan 28-Jan
Akumulatif Kasus COVID-19 Nasional VS Pertamina
Aktif Nasional (Perawatan) Aktif Pertamina
NASIONAL
SEMBUH
7
Ø Sifat Virus :
• Transmission Rate
• Fatality Rate relatif rendah, banyak OTG
Ø Mobilitas
Ø Pandemic Fatigue
Ø Sosial budaya, kedisiplinan terhadap protokol
Ø Cakupan Skrining test
FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PENINGKATAN KASUS COVID-19
• Sumber penularan sebagian besar dari eksternal perusahaan, termasuk keluarga
Sumber : Satgas COVID-19 Pertamina
8
LESSON LEARNT KASUS KEMATIAN COVID-19 PERTAMINA GROUP
13%
57% 30%
MENURUT KOMORBID
Tanpa Komorbid Komorbid Single Komorbid Multiple
4% 20%
28%
48%
MENURUT USIA
≤ 30 thn 30 - 40 thn 40 - 50 thn ≥50 thn
39%
29%
16%
9%2%3%2%
MENURUT JENIS KOMORBID
Diabetes Hipertensi
Obese Penyakit Jantung
Hepatitis Autoimmune
PPOK
4% 8%
88%
MENURUT PERAWATAN SAAT KEMATIAN
Isolasi Mandiri Rawat Inap < 2 hari Rawat Inap
9
LESSON LEARNT KASUS COVID-19 PERTAMINA GROUP
Kasus Pekerja dan keluarga relatif meningkat 2 bulan terakhir
Kedisiplinan pemenuhan protokol kembali perlu ditingkatkan, terdapat fenomena pandemic
fatique.Cluster keluarga :
• Terdapat anggota keluarga Sakit, namun tidak dilakukan isolasi mandiri
• Terdapat aktifitas yang berisiko tinggi 5 M, terdapat penularan (Wisata ke tempat umum, makan bersama silaturahmi keluarga besar, penggunaan transportasi publik)
• Isolasi Mandiri anggota keluarga kurang dilakukan dengan benar
• Tidak melakukan isolasi mandiri dan skrining test, saat terdapat risiko tertular (Riwayat perjalanan, protokol tidak maksimal, dll)
• Kurang peka terhadap adanya keluhan kesehatan
Cluster Internal Perusahaan :
• Karantina Mandiri terkendali min 3 hari sebelum skrining PCR
• Interaksi dengan masyarakat umum
(aktifitas keluar masuk area closed operation kurang terkendali)
• Terdapat aktifitas yang berisiko tinggi (seremonial, makan bersama, meeting banyak orang dalam jangka waktu lama di ruang tertutup)
• Sakit atau terdapat riwayat kontak erat masih masuk kerja
• Hasil Rapid test reaktif, kembali ke kantor.
• Tidak mematuhi ketentuan Isolasi Mandiri
• Terdapat aktifitas Pekerja bersama Luar Kantor (Olah raga bersama, wisata bersama)
16%33%
51%
CASE FINDING COVID-19 PERTAMINA GROUP
Ada keluhan kesehatan
Kontak Tracing (ada kontak dengan penderita konfirmasi positif)
Skrining Perusahaan
Berbagai metode skrining test diterapkan Perusahaan: PCR, Pooling PCR, Rapid Antibody, Rapid Antigen, GeNose
Proporsi Dirawat vs Isolasi Mandiri per 28 Januari 2021
1812; 92%
157;
8%
ISOLASI MANDIRI DIRAWAT
Distribusi AP/UP
Latar Belakang :
1 . Kapasitas kamar perawatan khususCovid di RS terbatas
2. Sebagian besar pasien tanpa gejala dan gejala ringan
Tujuan :
1 . Melindungi pasien dan keluarga dari dampak infeksi yang lebih berat
2. Mempertahankan produktivitaspasien pekerja
3. Mengurangi beban perawatan di Rumah Sakit
Panduan Isolasi Mandiri di Rumah
Flow Pengelolaan COVID19 Pertamina
Pekerja/Keluarga
Skrining
Positif Negatif
Gejala sedang - berat OTG – Gejala Ringan
Rumah Safe House/Hotel jaringan PBM Perawatan
Rumah Sakit Call Center 135
Isolasi Mandiri RS/Klinik
• Kontak Erat
• Skrining WFO
• Mandiri
Kriteria Pasien Isolasi Mandiri
• Tanpa gejala
• Batuk Ringan
• Tidak Sesak
• Tidak Demam
• Hilang Indra Penciuman atau Pengecapan
• Sudah berkonsultasi dan
ditentukan oleh dokter untuk isolasi mandiri
• Sudah mendapatkan paket pengobatan yang diperlukan selama isolasi
• Menyiapkan Kit Isolasi Mandiri
• Menyampaikan hasil monitoring kepada Call Center 135 pagi dan sore berupa :
• Hasil pemeriksaan suhu
• Hasil pemeriksaan saturasi Oksigen
• Keluhan jika ada
• Mendapatkan konsultasi, edukasi dan follow up oleh 135
• Ruangan terpisah/tersendiri
sebaiknya satu kamar satu pasien
• Fasilitas komunikasi/Sinyal
Jaringan Internet yang baik untuk koordinasi dengan perawat dan dokter
• Tersedia support makan dan laundry
• Ventilasi/Tata Udara Exhaust Fan
• Kamar Mandi Terpisah / Tersendiri
Syarat Ideal Ruangan Isolasi Mandiri Yg harus dilakukan Pasien
Isolasi Mandiri
Kit Isolasi Mandiri
• Oxymeter *
• Termometer **
• Masker ***
• Alat makan
• Hand Soap
• Hand Sanitizer
• Face Shield
• Demam ≥ 38 Celcius
• Saturasi Oksigen ≤ 94%
• Sesak nafas
• Keluhan memberat
Kriteria Kontrol ke Fasilitas Kesehatan
* Estimasi harga Rp. 150rb-750rb
** Estimasi harga Rp.50rb – Rp. 350rb
*** Di utamakan 3M N95 8210 Rp 20-25rb/pcs
• Oxymeter adalah alat untuk mengukur tingkat kelarutan oksigen dalam darah
• Digunakan untuk menilai efektivitas oksigenasi ke seluruh jaringan sebagai salah satu parameter dari fungsi paru
• Nilai normal : 95 – 100%
• Hal yg harus diperhatikan dlm menggunakan
oximeter :
• Hindari cat kuku atau pewarna
• Hindari cahaya berlebih
• Pergerakan
Bagi pasien isolasi mandiri yg tidak
memungkinkan untuk dilakukan
isolasi di rumah akan di lakukan
isolasi di hotel/safe house jaringan
Pertamedika
• Sebesar 85-90% penderita COVID-19 Pertamina Group tidak memiliki gejala dan bergejala ringan
• Penderita COVID-19 tanpa gejala dan gejala ringan secara umum tidak memerlukan perawatan di Rumah Sakit, cukup melakukan isolasi mandiri di rumah/safe house
• Penderita yang melakukan isolasi mandiri perlu dilakukan monitoring agar kondisi
kesehatan selalu terpantau dan dapat dilakukan penanganan segera bila dibutuhkan (panas tinggi, saturasi turun <95%, muncul sesak napas atau gejala yang memberat)
• Tmt. 04 Februari 2021 dalam aplikasi My Attencance ditambahkan pertanyaan terkait isolasi mandiri, agar dijawab secara jujur sesuai kondisi yang sebenarnya
• Informasi isolasi mandiri dari My Attendance setiap hari akan dimonitor dan ditindaklanjuti
oleh Call Center 135 / PIC Fungsi Health/Medical masing-masing perusahaan/Unit Operasi
https://drive.google.com/file/d/13e_05UXzqQ9hRw4OXOY9LSHxxYwJATnP/view?usp=sharing
16
Sumber :Materi Pers conference Menteri Kesehatan 29 Desember 2020
qVaksin bertujuan membentuk kekebalan kelompok (Herd immunity)
qKeberhasilan vaksin tergantung efektifitas vaksin, cakupan vaksinasi dan kondisi individu
qPerlu kerjasama Pekerja untuk proses pendataan, jenis pekerjaan, kelengkapan NIK termasuk keluarga dll 3T : Testing, Tracing, Treatment (Isolasi)
3M : Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan Hindari 3 K : Kamar Tertutup, Kontak Dekat, Kerumunan
18
LESSON LEARNT KASUS KEMATIAN COVID-19 PERTAMINA GROUP
1. Screening WFO-WFH
Bila ditetapkan WFH, konsisten dan konsekuen WFH. Bila kebutuhan operasional harus ke kantor (WFO), lakukan risk assessment yang ketat dengan mitigasi yang adekuat serta disetujui oleh pejabat yang berwenang.
2. Temuan MCU/Co Morbid
Walaupun AMCU terakhir 2019, setiap temuan tetap harus ditindaklanjuti sampai “satisfactory acceptable”. Perpanjangan AMCU s/d Juni 2021 bukan berarti tanpa monitoring dan tindak lanjut MCU, apalagi untuk penyakit kronis yang masuk ke dalam Co-Morbid.
3. Gejala/keluhan
Bila ada gejala ILI (Influenza Like Illness: demam, batuk, pilek) atau keluhan lain ke dokter perusahaan/135/Daily Monitoring. Keterlambatan pelaporan, atau meremehkan keluhan bisa memperlambat tindakan diagnosis dan penanganannya. Dalam kondisi pandemic, semua keluhan dan gejala harus dianggap sebagai COVID Related until proven otherwise.
4. Kepatuhan kepada saran Medis
Semua pekerja harus mematuhi saran dari fungsi medical/dokter perusahaan, jangan ada penundaan/penolakan. Menolak/menunda pemeriksaan PCR à menunda pengobatan à virus menyerang organ lain dan menularkan ke orang lain. Perawatan ke Rumah Sakit/ICU atas indikasi medis, apalagi ketersediaan RS (terlebih ICU) sangat terbatas, sehingga penundaan bisa menghilangkan kesempatan perawatan RS/ICU dan juga menularkan virus ke orang lain.
5. Kondisi Kesehatan
Jangan pernah merasa lebih sehat dan kebal daripada orang lain yang berusia lebih tua, memiliki Co Morbid dan/atau yang terkesan tidak berperilaku sesehat perilaku kita. Ini mungkin memperkuat daya tahan tubuh kita, tapi virus yang dihadapi juga mungkin lebih ganas. Respon tubuh sangat individual dan bisa berbeda satu sama lain.
6. Penularan di tempat non-kerja
Penularan non tempat kerja ternyata jauh lebih banyak, baik dari keluargan maupun dari kegiatan di luar kedinasan. Kedisiplinan pelaksanaan WFH-WFO dan Prokes lainnya sangat penting. Apalagi, pertemuan dengan orang lain tidak bisa kita pastikan status kesehatannya, dengan banyaknya OTG (Orang Tanpa Gejela) yang merasa sehat tapi tetap potensial menularkan virus.
7. Validitas dan kejujuran
Validitas pengisian daily monitoring (keluhan, aktifitas, pertemuan dengan orang dari luar daerah, bepergian ke luar daerah). Dalam banyak hal, temuan tentang hal ini baru diketahui aftermath (setelah kejadian).