• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebutuhan Dasar Manusia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Kebutuhan Dasar Manusia"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

Kebutuhan Dasar Manusia

Ir. Henky Hermantoro, M.U.R.P./M.P.A.

ebutuhan dasar manusia sering dibahas berkenaan dengan kebutuhan dasar universal menyangkut hal kebutuhan fisik dan psikologis sebagaimana disampaikan oleh Maslow (1954)1. Bila Maslow hanya menyinggung kebutuhan dasar secara umum, Mill & Morrison (2009)2 mengembangkannya sesuai dengan pemikirannya atas jenjang kebutuhan dasar wisata. Menurut mereka, kebutuhan dasar wisata tidak cukup dipahami sebagai kebutuhan dasar fisik dan psikologis, namun juga intelektual. Pada tingkat ini, walaupun tidak secara eksplisit, kreativitas juga merupakan bagian dari bahasan Mill & Morrison.

Dalam hierarki kebutuhan dasar Maslow secara spesifik menyebutkan bahwa kreativitas adalah bagian dari aktualisasi diri, tahap tertinggi dari kebutuhan dasar manusia. Kreativitas tersebut bukan hanya sekadar ide dan gagasan, namun sebuah ide yang telah dituangkan dalam bentuk produk yang dapat memecahkan sebuah solusi.

Untuk dapat memahami pengertiannya lebih lanjut, materi di atas akan dijelaskan secara lebih rinci ke dalam dua topik kegiatan belajar berikut.

1. Rekreasi dan wisata menjelaskan posisi mereka dalam struktur kebutuhan dasar manusia. Ia tidak berhenti pada kebutuhan dasar psikologis namun intelektual. Dijelaskan pula pengertian kreativitas sebagai bagian penting dari produk yang dihasilkan dalam proses kebutuhan dasar manusia.

1 Maslow, A.H, Motivation and Personality, (New York: Harper & Row, 1954), in Goble, F.G, Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow, trans., (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1987), 69-92.

2 Mill, R.C. & Morrison, A.M, The Tourism System, edisi keenam., (Dubuque: Kendall Hout Publishing Company, 2009), 288-289.

K

PEN D A HU L UA N

(2)

2. Waktu luang dan wisata menjelaskan bahwa wisata tidak saja merupakan kebutuhan dasar, namun juga sebagai bagian dari hak dasar dan hak asasi manusia yang diakui secara universal. Ini kemudian mendorong tumbuhnya produktivitas dan kreativitas manusia.

Dengan mempelajari dan terutama memahami materi yang disampaikan dalam Modul 1 ini maka mahasiswa/mahasiswi diharapkan dapat menguasai pengertian dasar mengenai peran para pemangku kegiatan pariwisata.

Pemahaman ini penting diketahui karena berhasil tidaknya pembangunan pariwisata sangat tergantung pada seberapa erat hubungan koordinasi antar pemangku kegiatan tersebut.

(3)

Kegiatan Belajar 1

Rekreasi dan Kreativitas

aslow (1954)3 dikenal karena teori kebutuhan dasar manusia yang menjelaskan tentang jenjang kebutuhan dasar manusia secara umum dalam dua kelompok utama, yaitu fisik dan psikologis. Menurutnya, hierarki kebutuhan dasar manusia dimulai dari kebutuhan fisik dan psikologis.

Kebutuhan psikologis dibedakan atas kebutuhan atas keamanan, cinta, penghargaan, dan aktualisasi diri sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1.1 berikut. Kebutuhan tersebut berjenjang. Ketika tahap awal telah dipenuhi maka manusia akan termotivasi untuk mencapai tahap selanjutnya. Motivasi untuk mencapai tingkat kebutuhan dasar yang lebih tinggi di atas didorong oleh faktor-faktor escape, relaksasi, prestige, kebersamaan dengan keluarga dan teman, pengetahuan, olahraga, petualangan, menikmati alam, dan sebagainya (Alghamdi, 2007)4.

Sumber: Maslow, 1954

Gambar 1.1

Hierarki Kebutuhan Dasar Manusia

3 Maslow, A.H., Motivation and Personality, (New York: Harper & Row, 1954), in Goble, F.G, Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow, trans., (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1987), 69-92.

4 Alghamdi, A., Explicit and Implicit Motivation Towards Outbound Tourism: A Study of Saudi Tourists, (2007): 46. Dikutip dari Waluya, D.H.B., Analisis Faktor-faktor Pendorong Motivasi Wisatawan Nusantara terhadap Keputusan Berkunjung ke Kebun Raya Bogor.

Tourism and Hospitality Essentials (THE) Journal, Vol.II, no.1 (2012): 245.

M

(4)

Teori Maslow tersebut menjelaskan kebutuhan dasar manusia yang dibagi atas tingkatan kebutuhan (hierachy of needs) dengan penjelasan sebagaimana berikut.

1. Pada tahap awal seseorang memerlukan kebutuhan dasar fisik untuk mempertahankan hidupnya, seperti bernafas, makan, minum, sex, tidur dan homeostatis5. Jenjang ini merupakan tahap penting agar manusia dapat tetap mempertahankan hidupnya sebelum naik ke jenjang kebutuhan berikutnya.

2. Tahap kebutuhan akan keamanan dapat berupa permintaan akan tersedianya jaminan terhadap lapangan kerja, akses ke sumber daya, moral, keluarga, kesehatan, dan kepemilikan (properti). Tahap ini merupakan kebutuhan dasar yang dijamin oleh negara agar masyarakat merasakan bahwa negara benar-benar dapat menjamin kebutuhannya.

Realisasinya dapat berupa pemberian jaminan kesehatan dan bahkan sampai dengan jaminan pendidikan.

3. Tahap kebutuhan akan cinta berupa kebutuhan akan persahabatan, kekeluargaan, dan intimacy6. Ini tahap di mana seseorang sebagai makhluk sosial akan membutuhkan kehadiran orang lain dalam mengisi kehidupannya.

4. Tahap kebutuhan akan penghargaan berupa kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan, keyakinan, pencapaian, menghormati orang lain, dan dihormati orang lain. Pada tahap ini seseorang memerlukan bentuk penghargaan tertentu untuk dapat diakui oleh komunitasnya yang membedakan dirinya dengan orang lain; dan

5. Tahap kebutuhan aktualisasi diri berupa moral, kreativitas, spontanitas, pemecahan masalah, berpikir positif, dan mau menerima fakta.

Aktualisasi diyakini merupakan alasan adanya kebutuhan-kebutuhan dasar lain. Dalam teori ini, Maslow juga meyakini bahwa kreativitas adalah inti dari aktualisasi diri.

5 Kata homeostasis merujuk pada sebuah pengertian mekanisme pengaturan lingkungan terhadap keseimbangan dinamis (dalam badan organisme) yang berlangsung secara konstan. Misalnya, seseorang akan otomatis mengeluarkan keringat sehabis berolahraga untuk menurunkan suhu tubuh ke suhu normal.

6 Intimacy menjelaskan kedekatan emosional antara seseorang dengan orang lainnya yang terjadi karena adanya saling percaya, saling peduli, dan dapat saling menerima. Bentuk intimacy ini dapat berupa fisik, estetis, rekreasional, intelektual, spiritual, emosional, sexual, dan unconditional.

(5)

Teori Maslow di atas menjelaskan dua hal penting terkait dengan materi pembelajaran ini, yaitu wisata dan kreativitas. Teori tersebut memang tidak menjelaskan secara eksplisit kebutuhan wisata. Namun, Dumazier (1976)7 menjelaskan bahwa wisata dibutuhkan pada setiap jenjang kebutuhan dasar.

Bahkan Zohar & Marshall (2004)8 menyebutkan bahwa Maslow sendiri pun sepakat bahwa kebutuhan wisata ada pada setiap jenjang kebutuhan dasar tersebut. Pernyataan ini menjelaskan bahwa wisata dibutuhkan oleh setiap orang bahkan sejak mereka belum selesai dengan kebutuhan fisiknya. Dalam pengertian ini, rekreasi dibutuhkan pada setiap jenjang kebutuhan dasar.

Rekreasi adalah kebutuhan dasar manusia yang diperlukan sejak kebutuhan fisik sampai psikologis. Pengertian rekreasi secara sederhana adalah “...refreshment of strength and spirits after work” (Merriemwebster, nd)9. Cara rekreasi dapat bermacam-macam dan salah satu bentuknya adalah wisata karena tujuan dasar wisata adalah rekreasi. Ini dijelaskan oleh UU No.

10 Tahun 200910 bahwa wisata adalah kegiatan perjalanan untuk “…tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara”.

Maslow memang tidak secara eksplisit menyampaikan wisata sebagai kebutuhan dasar manusia walaupun penulis lain, seperti Dumazier, sebagaimana dijelaskan di atas menginterpretasikan bahwa wisata adalah bagian penting dalam kehidupan manusia. Penulis yang secara spesifik menjelaskan bahwa wisata masuk dalam kebutuhan dasar manusia adalah Mill & Morrison (2009)11. Mereka menjelaskan bahwa kebutuhan wisata tidak cukup berhenti pada tingkat kebutuhan dasar fisik dan psikologis saja, namun juga intelektual.

Dalam pandangannya, kebutuhan wisata dimulai dari sekadar memenuhi kebutuhan fisik untuk melepaskan diri dari beban pekerjaan rutin, kebutuhan psikologis untuk memenuhi kebutuhan penghargaan, dan sebagainya kemudian pada kebutuhan intelektual. Proses perubahan kebutuhan dasar wisata ini menjelaskan terjadinya perubahan paradigma dan minat wisata.

7 Dumazier, (1967). Dalam Hermantoro, H., Creative-Based Tourism: Dari Wisata Rekreatif menuju Wisata Kreatif (Depok: Aditri, 2011), 60.

8 Zohar, D. & Marshall, I. Spiritual Capital: Wealth We Can Live By, (2004). Dalam Kotler, P., et al. Marketing 3.0. (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2010), 20.

9 Recreation. Dikutip dari https://www.merriam-webster.com/dictionary/recreation pada 19 Oktober 2019.

10 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, Pasal 1.

11 Mill, R.C. & Morrison, A.M., The Tourism System (edisi keenam), (Dubuque: Kendall Hout Publishing Company, 2009), 288-289.

(6)

Kebutuhan intelektual ini menjadi bagian penting pada perubahan paradigma dan minat wisatawan saat ini terkait dengan perubahan paradigma wisata dari bersenang-senang, pelayanan, dan pengetahuan. Jadi, wisata saat ini tidak sekadar dipahami hanya untuk tujuan bersenang-senang namun juga pengetahuan12.

Pendapat Mill & Morrison ini kemudian dijabarkan dalam puncak kebutuhan dasar wisata dalam uraian memahami dan estetika sebagaimana terlihat pada Gambar 1.2 berikut. Gambar ini merupakan perkembangan dari pemikiran Maslow mengenai hierarki kebutuhan manusia. Hal penting yang disampaikan oleh Mill & Morrison adalah mereka secara eksplisit menjelaskan teori Maslow tersebut ke dalam kebutuhan dasar wisata yang dianggap belum tampak secara eksplisit dalam teori Maslow.

Sumber: Mill & Morrison, 2009

Gambar 1.2 Kebutuhan Dasar Wisata

Menurut Mill & Morrison, kebutuhan dasar wisata tertinggi yang ingin dicapai oleh wisatawan adalah kebutuhan intelektual. Pada tahap ini seorang wisatawan memerlukan wisata tidak hanya untuk melepas lelah, namun untuk tujuan pengayaan dan pemenuhan diri (self enrichment dan self fulfillment).

12 Perubahan-perubahan minat terkait dengan pendapat Mill & Morrison ini dapat dipelajari lebih dalam pada Modul 2.

(7)

Kebutuhan ini direalisasikan dalam bentuk mencari ilmu pengetahuan dan mengapresiasi keindahan daya tarik wisata.

Kebutuhan dasar wisata pada jenjang sebelumnya adalah kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan psikologis. Kebutuhan psikologis yang diperlukan adalah dalam bentuk permintaan akan kesehatan, kebersamaan dengan keluarga, prestasi, dan kepuasan batin. Pada tingkat paling dasar, kebutuhan wisata adalah relaksasi yang digambarkan dalam bentuk mencari hiburan, dan sebagainya. Tahapan ini dijelaskan oleh Mill & Morrison sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 1.1 berikut.

Tabel 1.1

Kebutuhan Dasar dan Kepustakaan Pariwisata

Kebutuhan Dasar Motivasi Kepustakaan Pariwisata

Fisik Fisik Relaksasi

Hiburan, relaksasi, lepas dari ketegangan, sunlust13, fisik, relaksasi mental.

Psikologis

Keselamatan Keamanan Kesehatan, rekreasi, tetap aktif, dan sehat untuk masa depan.

Memiliki Cinta

Kebersamaan bersama keluarga, peningkatan kekerabatan, persahabatan, fasilitasi interaksi sosial, memelihara hubungan personal dan hubungan interpersonal, kasih sayang terhadap keluarga, memelihara kontak sosial.

Penghargaan Prestasi

Meyakinkan seseorang pada prestasi, kehormatan, pengakuan sosial, peningkatan ego, profesional, status dan kehormatan.

Aktualisasi diri Kebenaran diri

Eksplorasi dan evaluasi terhadap alam, penemuan diri, kepuasan batin.

13 Sunlust adalah motivasi wisata pada destinasi yang menawarkan sesuatu yang unik, spesifik, dan menantang.

(8)

Kebutuhan Dasar Motivasi Kepustakaan Pariwisata

Intelektual

Mengerti dan memahami

Ilmu pengetahuan

Budaya, pendidikan, wanderlust14, berkepentingan pada lingkungan asing.

Apresiasi terhadap keindahan

Apresiasi terhadap keindahan

Mengapresiasi lingkungan hidup, pemandangan alam

Sumber: Mill & Morrison, 2009

Penjelasan tabel di atas sebagai berikut.

1. Motivasi wisata pada tahap fisik adalah relaksasi yang direpresentasikan dalam bentuk kegiatan untuk mencari hiburan, relaksasi, dan penyegaran fisik.

2. Motivasi wisata pada tahap psikologis dapat dibedakan atas beberapa hal, yaitu:

a. motivasi keamanan dalam bentuk, antara lain untuk mencari kesehatan dalam bentuk wisata kebugaran;

b. motivasi cinta dalam bentuk wisata bersama keluarga dan membangun kontak sosial dengan teman serta masyarakat lokal;

c. motivasi prestasi dalam bentuk keinginan wisata untuk mendapatkan penghargaan dan pengakuan sosial;

d. motivasi kebenaran diri dalam bentuk keinginan wisata untuk mencari kepuasan batin.

3. Motivasi wisata pada tahap intelektual dapat dibedakan atas:

a. motivasi mencari ilmu pengetahuan yang direperesentasikan dalam bentuk wisata edukasi dan wisata kreatif;

b. motivasi apresiasi terhadap keindahan alam direpresentasikan dalam bentuk wisata minat khusus berbasis alam dan juga keberagaman budaya lokal.

Menurut teori di atas, pada puncaknya wisatawan melakukan sebuah perjalanan wisata tidak lagi bertujuan untuk sekadar melepas beban kehidupan kerja ataupun istirahat fisik, demikian pula mereka tidak bertujuan sekadar untuk hanya untuk bersenang-senang dan sekadar mengikuti tren masa kini bahwa berwisata itu adalah suatu keharusan (gaya hidup). Pada

14 Wanderlust adalah motivasi wisata pada destinasi yang belum pernah dikunjungi.

(9)

tahap intelektual, wisatawan akan melakukan pilihan bukan lagi pada pemenuhan kebutuhan fisik, namun intelektual. Mereka akan melakukan pilihan pada jenis-jenis wisata yang lebih bermakna dalam mengisi kehidupan dan pengalaman baru, bahkan dapat meningkatkan daya kreativitasnya.

Motivasi merupakan faktor penting dalam menghasilkan sebuah perjalanan wisata. Mill & Morrison (2009)15 menggambarkan posisi penting motivasi tersebut sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 1.3 berikut.

Sumber: Mill & Morrison, 2009

Gambar 1.3

Kebutuhan, Keinginan, Motivasi Penjelasan Gambar 1.3 di atas sebagaimana berikut.

1. Setiap manusia memerlukan wisata sebagai bagian dari kebutuhan dasarnya (needs). Namun perjalanan wisata hanya akan terjadi ketika seseorang mulai disadarkan (atau sadar) bahwa ia berkeinginan (wants) untuk berwisata. Misalnya, seseorang memiliki kebutuhan dasar fisik maka ia perlu disadarkan bahwa ia memerlukan bepergian ke pantai untuk bersenang-senang melepas beban fisiknya. Bentuk penyadaran

15 Mill, R.C. & Morrison, A.M., The Tourism System (edisi keenam), (Dubuque: Kendall Hout Publishing Company, 2009), 285.

(10)

(awareness) tersebut adalah berupa informasi dan promosi produk yang sesuai dengan kebutuhan dasar orang yang bersangkutan.

2. Sebuah keinginan masih belum akan menjadi sebuah perjalanan bila belum ada motivasi di dalamnya. Motivasi dapat bersifat intrinsik, yaitu faktor pendorong dari diri sendiri (self-directed motivation) ataupun ekstrinsik, yaitu faktor dari luar (other-directed motivation). Jenis-jenis motivasi sebagaimana dijelaskan di bagian depan kegiatan belajar ini.

3. Ditambah dengan anjuran maka seseorang akan secara riil melakukan perjalanan pada tujuan destinasi pariwisata pilihannya. Hasilnya adalah ia akan mendapat kepuasan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya atau sebaliknya, ia mendapatkan ketidakpuasan ketika realita yang diterima tidak sama dengan ekspektasinya.

Motivasi wisata tidak terlepas pula dari dua faktor motivasi, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik melibatkan keterlibatan dalam perilaku karena secara pribadi bermanfaat. Motivasi ini mendorong seseorang melakukan suatu kegiatan untuk kepentingannya sendiri dan bukan atas keinginan untuk imbalan eksternal. Pelaku akan mendapatkan kepuasan bagi dirinya sendiri. Dalam wisata, motivasi ini berbentuk dorongan untuk melakukan wisata. Misalnya, seseorang berwisata karena ingin memperluas pengalamannya.

Sebaliknya, motivasi ekstrinsik terjadi ketika seseorang termotivasi untuk melakukan perilaku atau terlibat dalam suatu kegiatan atas pengaruh dari luar, misalnya karena tugas, untuk mendapatkan hadiah, atau menghindari hukuman. Berbeda dengan motivasi intrinsik, dalam motivasi ekstrinsik pelaku belum tentu mendapatkan kepuasan karena kegiatan yang dilakukan bukan atas kemauannya sendiri. Dalam wisata, motivasi ekstrinsik berbentuk dorongan untuk melakukan wisata karena pengaruh luar. Misalnya, seseorang berwisata karena urusan pekerjaan (MICE) ataupun karena mendapatkan insentif atas prestasi kerjanya atau karena mendapatkan undian wisata atau adanya promosi paket wisata murah (Mill & Morrison, 2009)16 dalam Gambar 1.4 berikut.

Gambar 1.4 menjelaskan adanya pengaruh internal dan eksternal akan kebutuhan wisata. Pada tahap awal (relaksasi) kebutuhan yang mendorong seseorang untuk berwisata adalah kebutuhan pemulihan fisik dan relaksasi,

16 Mill, R.C. & Morrison, A.M., The Tourism System (edisi keenam), (Dubuque: Kendall Hout Publishing Company, 2009), 293.

(11)

sedangkan dorongan dari luar berupa kebutuhan untuk keluar dari rutinitas.

Demikian selanjutnya sampai pada puncak tangga kebutuhan wisata digambarkan sebagai kebutuhan untuk mendapatkan kepuasan diri sendiri, lebih memahami diri sendiri. Ini bentuk dari kontemplasi diri dan menurut Maslow juga merupakan tahap aktualisasi diri yang di dalamnya termasuk unsur kreativitas.

Sumber: Mill & Morrison, 2009

Gambar 1.4 Jenjang Perjalanan Wisata

Satu hal yang jarang disinggung adalah bahwa Maslow sebetulnya tidak hanya menjelaskan kebutuhan dasar mengenai wisata, namun juga kreativitas. Menurutnya kreativitas merupakan bentuk dari kebutuhan aktualisasi diri sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 1.2 berikut. Kreativitas, bersama-sama dengan moral dan spontanitas merupakan salah satu bentuk kebutuhan manusia pada tingkatan kebutuhan aktualisasi.

(12)

Tabel 1.2

Hierarki Kebutuhan Dasar Manusia

Kebutuhan Dasar Kegiatan/Ekspresi

Psikologis

Aktualisasi diri Moral, kreativitas, spontanitas, pemecahan masalah, berpikir positif, menerima fakta.

Penghargaan Penghargaan, keyakinan, pencapaian, menghormati orang lain, dihormati orang lain.

Cinta/dibutuhkan Penghargaan, kekeluargaan, sexual intimacy.

Keamanan Jaminan terhadap pekerjaan, sumber daya, moral, keluarga, kesehatan, kepemilikan (property).

Fisik Fisik Bernapas, makan, minum, seks, tidur, homeostatis excretion

Sumber: Hermantoro, 201517

Pada Tabel 1.2 di atas Maslow menjelaskan bahwa kreativitas, di samping moral dan spontanitas adalah salah satu bentuk dari aktualisasi diri.

Pengertian umum kreativitas adalah kemampuan untuk memproduksi sesuatu yang baru (Dictionary Cambridge, nd)18. Gerlovina (2011)19 menjelaskan bahwa kreativitas terjadi ketika seseorang dapat menciptakan hal-hal baru dan memberikan pengaruh pada lingkungan.

Kreativitas juga tidak berhenti pada sebuah ide sebagaimana sering dipahami oleh orang awam. Sebetulnya, kreativitas demikian pula inovasi adalah aksi untuk mengubah sebuah imaginasi menjadi sebuah realitas dan memiliki karakteristik kemampuan untuk melihat suatu hal dengan cara baru guna mencari solusi. Dengan pengertian ini maka kreativitas mengandung dua unsur utama, yaitu berpikir dan kemudian memproduksinya. Ia tidak berhenti pada ide karena ide tanpa realisasi hanya bentuk imajinasi dan bukan kreativitas (Creativitywork, nd)20.

Pengertian-pengertian di atas menjelaskan bahwa kreativitas adalah kombinasi dari pengetahuan, wawasan, informasi, inspirasi dan semua pemikiran yang diolah untuk menghasilkan satu cara baru untuk sebuah

17 Hermantoro, H., Kepariwisataan, Destinasi Pariwisata, Produk Pariwisata, (Depok: Aditri, 2015), 31.

18 Creativity. Dikutip dari https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/creativity pada 15 Agustus 2019.

19 Gerlovina, Z., EuReka! Unraveling The Mystery Behind Creativity (Spring, 2011). Dikutip dari https://academiccommons.columbia.edu/doi/10.../download pada 15 Agustus 2019.

20 Creativity. Dikutip dari http://www.creativityatwork.com, pada 19 Oktober 2019.

(13)

solusi. Jadi, proses kreativitas tidak hanya menggunakan otak kanan dengan fungsi kreativitas dan seni, namun juga otak kiri dengan fungsi sains dan matematik secara bersama-sama. Ini menyebabkan proses kreativitas akan mencakup empat tahap (Futureland)21:

1. penyiapan di mana seseorang mencari atau mendapatkan informasi karena kreativitas tumbuh tidak dari sesuatu yang kosong sama sekali;

2. inkubasi di mana seseorang membiarkan pikirannya mengembara dan mengembangkan berbagai ide;

3. iluminasi di mana semua ide-ide yang ada dikoneksikan;

4. verifikasi di mana ide kreatif dikemas melalui pemikiran yang kritis untuk disampaikan kepada audiens atau konsumen.

Dengan pengertian ini sebuah kreativitas dapat berkembang sangat luas dan menghasilkan produk yang bermanfaat bagi manusia. Ia dapat berupa penemuan sebuah peniti sampai dengan komputer dan robot. Semua ini akan memudahkan kehidupan manusia. Itu sebabnya sering dikatakan bahwa kreativitas itu tanpa batas. Setiap saat manusia akan menemukan temuan- temuan baru dalam berbagai bentuk yang mewarnai kehidupan manusia sehari-hari termasuk terkait dengan wisata. Penemuan teknologi ponsel pintar (smartphone), misalnya telah mendorong seseorang melakukan foto diri dan ini mengenalkan bentuk wisata swafoto (selfie tourism).

1) Maslow menjelaskan tentang kebutuhan dasar manusia. Apa yang ingin dijelaskan olehnya tentang teorinya ini?

2) Ketika teori Maslow tersebut berlaku untuk umum, bagaimana Mill &

Morrison mengembangkannya untuk menjelaskan kebutuhan wisata secara spesifik?

21 https://www.futurelearn.com/courses/creative-problem-solving/0/steps/43756 LAT IH A N

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!

(14)

3) Maslow juga menjelaskan bahwa kreativitas merupakan kebutuhan manusia pada saat seseorang mencapai tahap aktualisasi. Walaupun banyak pendapat yang berbeda karena kreativitas dapat tumbuh di mana saja, namun apakah sebenarnya yang disebut sebagai kreativitas tersebut?

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Maslow menjelaskan tentang tingkatan kebutuhan dasar dari kebutuhan fisik ke psikologis. Dari kebutuhan biologis ke kebutuhan keamanan, cinta, penghargaan, dan aktualisasi diri. Tahapan kebutuhan dasar tersebut juga menjelaskan terbentuknya motivasi seseorang untuk menggapai tingkatan kebutuhan dasar yang lebih tinggi dan berpuncak pada aktualisasi diri.

2) Bagi Mill & Morrison kebutuhan wisata tidak hanya sekadar terbatas pada tingkatan aktualisasi diri. Untuk melengkapinya, mereka kemudian menambahkan unsur estetika yang terdiri dari mengerti dan memahami dan apresiasi terhadap keindahan. Kedua hal ini dianggap sebagai pengkayaan pengalaman bagi wisatawan untuk mengembangkan kebutuhan akan pengetahuan dan menikmati keindahan.

3) Kreativitas tidak berhenti pada sekadar ide, namun adalah suatu kondisi di mana ide direalisasikan menjadi sebuah produk. Ia merupakan sebuah cara baru untuk memberi solusi atas suatu permasalahan yang ada.

Misalnya, ketika penemuan Ipod dapat menjawab kebutuhan orang untuk menikmati lagu dalam jumlah banyak, namun dalam kemasan kecil yang mudah dibawa-bawa. Dengan demikian, sebuah kreativitas akan memerlukan proses mulai dari penyiapan sampai dengan verifikasi pada konsumen.

Maslow menjelaskan teorinya mengenai jenjang kebutuhan dasar manusia dari fisik ke psikologis dan Mill & Morrison menambahkan secara spesifik kebutuhan dasar untuk wisatawan berupa kebutuhan intelektual. Walaupun Maslow tidak secara spesifik menyebutkan kebutuhan wisata dalam jenjang kebutuhan dasar yang disebutkan,

RA NG KU M AN

(15)

namun Dumazier menjelaskan bahwa dalam teori Maslow tersebut sudah tersirat hadirnya kebutuhan dasar rekreasi atau wisata.

Kebutuhan dasar wisata itu ada, namun untuk menjadikannya sebagai sebuah perjalanan wisata diperlukan faktor lain. Kebutuhan dasar tersebut harus dapat “diubah” menjadi keinginan. Ini dilakukan melalui efektifnya informasi atas sebuah destinasi pariwisata. Ketika keinginan sudah ada maka diperlukan dorongan motivasi untuk dapat merealisasikan kegiatan perjalanan. Motivasi tersebut dapat bersifat intrinsik ataupun ekstrinsik.

Walaupun banyak yang berbeda pandangan, Maslow sebetulnya telah menjelaskan bahwa kreativitas tumbuh di saat manusia mencapai jenjang kebuthan aktualisasi diri. Kreativitas yang dimaksud tidak hanya sekadar berupa ide atau gagasan, namun telah dalam bentuk sebuah produk yang bermanfaat memenuhi kebutuhan manusia. Ini menjelaskan perbedaan mendasar antara pengertian ide dengan kreativitas.

1) Urutan jenjang kebutuhan dasar manusia menurut Maslow adalah ....

A. fisik, cinta, penghargaan, keamanan, dan aktualisasi diri B. fisik, keamanan, penghargaan, cinta, dan aktualisasi diri C. fisik, keamanan, cinta, penghargaan, dan aktualisasi diri D. fisik, penghargaan, cinta, keamanan, dan aktualisasi diri 2) Hal yang tidak tersirat dalam teori Maslow tersebut adalah ….

A. kebutuhan dasar tersebut mendorong perjalanan wisata B. kebutuhan psikologis terjadi ketika kebutuhan fisik terpenuhi C. manusia memiliki kebutuhan dasar yang bersifat universal, baik

disadari ataupun tidak

D. setiap orang termotivasi untuk mencapai kebutuhan dasar pada jenjang yang lebih tinggi

3) Hal yang dimaksudkan oleh Maslow sebagai kebutuhan dasar fisik adalah kebutuhan ….

A. untuk memenuhi penampilan fisik B. untuk dapat diakui keberadaannya

C. bersifat biologis untuk mempertahankan hidup D. untuk dihormati

TES F ORM AT IF 1

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

(16)

4) Hal yang dimaksudkan oleh Maslow sebagai kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan ….

A. untuk dapat dihargai

B. materi untuk memenuhi kegiatan yang diperlukan C. untuk dicintai dan dihormati oleh orang lain

D. untuk lebih kreatif, spontan, berpikir positif, peduli pada lingkungan

5) Teori Maslow berlaku untuk kondisi umum. Menurut Mill & Morrison, kebutuhan dasar yang secara spesifik menjelaskan kebutuhan dasar wisata adalah kebutuhan dasar untuk ….

A. bersenang-senang B. intelektual C. kebahagiaan D. rekreasi

6) Menurut Mill & Morrison, prasyarat sebuah kebutuhan dasar wisata dapat menjadi keinginan untuk berwisata adalah ….

A. membangkitkan kesadaran orang yang bersangkutan melalui pemasaran produk pariwisata dan tujuan wisata

B. memberikan anjuran kepada yang bersangkutan C. mendorong motivasi untuk bepergian

D. menjanjikan kepuasan setelah terjadinya kunjungan wisata 7) Motivasi intrinsik adalah motivasi wisata .…

A. yang terjadi akibat dorongan dari luar

B. karena mendapatkan undian untuk mengunjungi sebuah destinasi pariwisata

C. karena mendapat tugas dari kantor untuk melakukan riset pada sebuah destinasi pariwisata

D. yang tumbuh dari keinginan dirinya sendiri 8) Motivasi ekstrinsik adalah motivasi seseorang ….

A. untuk berwisata yang terjadi akibat dorongan dari luar B. berwisata karena ingin menambah pengalaman diri C. berwisata karena ingin mendapatkan wawasan yang luas D. untuk berwisata karena sadar akan kebutuhan dasarnya

9) Bentuk kepuasan diri dalam jenjang pariwisata sebagaimana disampaikan oleh Mill & Morrison adalah mendapatkan ....

A. kesegaran fisik

B. kesadaran atas keselamatan diri

(17)

C. pengalaman dalam harmoni D. kemewahan dalam perjalanan 10) Kreativitas adalah ….

A. setiap ide dan gagasan yang dimiliki oleh manusia B. ide yang telah diaplikasikan dalam bentuk sebuah produk C. keinginan untuk mendapatkan solusi atas persoalan yang ada D. semua produk yang dihasilkan oleh manusia

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.

Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.

Tingkat penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar Jumlah Soal ×100%

(18)

Kegiatan Belajar 2

Waktu Luang, Rekreasi, dan Wisata

aktu luang (leisure time) memiliki banyak definisi, di antaranya sebagaimana berikut.

1. “…largerly discretion time, to be use as one chooses. It includes existence and subsistence time, time spent in socially or group determined activities in which the individual would prefer not to participate” (Clawson & Knetsch, 1974)22;

2. “…the time which an individual has free from work or other duties and which may be utilise for the purposes of relaxation, diversion, social achievement, or personal development” (Gist & Fava, 1964)23;

3. “...time when you are not working and you can relax and do things that you enjoy” (Collins dictionary.com, nd)24.

Memang banyak pandangan bahwa waktu luang adalah waktu sisa (residual time), namun waktu luang sebetulnya adalah waktu penting dalam kehidupan manusia. Waktu luang bukan hanya diartikan sebagai waktu sisa;

di luar waktu wajib, seperti kerja, makan, minum, tidur, dan sebagainya;

namun sebagai waktu untuk melakukan berbagai aktivitas secara bebas dan penyegaran pikiran (Hurd & Anderson, nd)25. Waktu luang dapat dimanfaatkan oleh seseorang untuk berkegiatan ataupun tidak berkegiatan (ACHPER, 1980)26. Berkegiatan ketika ia melakukan kegiatan rekreasi dan wisata dan tidak berkegiatan ketika hanya bersantai di rumah.

22 Clawson, M. & Kentsch, J.L., Leisure in Modern America. Dalam Murphy, J.F., (ed).

Concept of Leisure, (Engelwoof Cliffs: Prentice Hall, 1974), 78-90. Dalam Veal A.J.,

“Defintion of Leisure and Recreation” Australian Journal of Leisure and Recreation, vol. 2 no.4 (1992): hal 44-48, 52.

23 Gist, N.P. & Fava, S.F., Urban Society (New York: Crowell, 1964), 411. Dalam Veal A.J.,

“Definition of Leisure and Recreation” Australian Journal of Leisure and Recreation, vol. 2 no.4 (1992): 44-48, 52.

24 Leisure Time. Dikutip dari https://www.collinsdictionary.com/dictionary/english/ leisure- time.

25 Hurd, A.M. & Anderson, D.M. (nd), Definition of Leisure, Play, and Recreation. Dikutip dari www.humankinetics.com pada 29 Desember 2015.

26 Australian Council for Health, Physical Education and Recreation/Royal Australian Institute of Parks and Recreation (1980) Recreation Working Paper (Adelaide: ACHPER Publications): 3. School of Leisure, Sport and Tourism Working Paper no. 4 Definitions of

W

(19)

Dalam pengertian sebagai waktu bebas, McLean (2013)27 menjelaskan kata bebas tersebut dalam tiga pengertian, yaitu:

1. seseorang harus bebas dari keinginan bersifat material;

2. seseorang harus paham bagaimana memanfaatkan waktu luangnya; dan 3. waktu luang bukan digunakan untuk mencari ketenaran, kekayaan

ataupun faktor ekstrinsik lainnya untuk kebebasan.

Dalam waktu bebas, kegiatan yang dapat dilakukan oleh seseorang dapat bermacam-macam, sebagian memilih untuk berolahraga, bersilaturahmi, atau menyalurkan hobi, seperti fotografi, dan sebagainya. Intinya mereka tidak bertujuan untuk mencari penghasilan atau pekerjaan yang berbayar. Waktu luang juga dapat digunakan untuk tidak berkegiatan. Melihat TV di rumah, misalnya dianggap sebagai bukan kegiatan.

Batasan waktu luang di setiap negara dapat berbeda-beda. Penelitian Gershuny & Fisher (2000)28 menunjukkan bahwa waktu luang rata-rata penduduk London adalah sebesar 21% dalam satu harinya. Sisanya digunakan untuk bekerja dengan menerima bayaran (17%), bekerja tanpa menerima bayaran (17%), dan sisanya untuk pemeliharaan tubuh (47%).

Angka tersebut tentu saja akan selalu berbeda tidak hanya atas perbedaan budaya namun juga waktu. Di masa depan, era industri 4.0, ketika robotik berperan besar menggantikan waktu kerja seseorang maka waktu luang seseorang dapat saja berkurang, tetap, atau bahkan bertambah. Ketika robot menggantikan waktu rutin manusia maka manusia akan dapat menggunakan waktu yang diganti robot dengan berkegiatan lain atau ia akan memanfaatkan kehadiran robot untuk tujuan meningkatkan waktu rekreasinya.

Pengertian waktu luang dalam struktur pemanfaatan waktu seseorang dalam kehidupan sehari-harinya dapat diilustrasikan sebagaimana Gambar 1.5 berikut (Hermantoro, 2016)29. Waktu luang tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan rekreasi dan wisata serta kegiatan bukan rekreasi.

Leisure and Recreation. Dalam A. J. Veal Reproduced from: Australian Journal of Leisure and Recreation, vol. 2, no. 4 (1992): 44-48, 52.

27 McLean, D.J., Philosophy and Leisure. Dalam Kassing, G., Introduction to Recreation &

Leisure (Champaign: Human Kinetics, 2013).

28 Gershuny, J. & Fisher, K., “Leisure in the UK across the twentieth century” Institute of Social and Economic Research Working Paper 99-3 (1999), published as a chapter in Halsey, A.H. (ed), British Social Trends: The Twentieth Century (London: MacMillan, 2000). Dalam Broadhurst, R., Managing Environment for Leidure and Recreation (2001).

Dikutip dari http://www.iser.essex.ac.uk/pubs/workpaps/wp99-03.php, pada 24 September 2000.

29 Hermantoro, H., Pariwisata Perkotaan (Depok: Aditri, 2016), 80. Ilustrasi atas dasar riset Gershuny, J., & Fisher, K., (1999) di atas.

(20)

Sumber: Hermantoro, 2016

Gambar 1.5

Pembagian Waktu Luang dalam Kehidupan Manusia

Waktu luang merupakan konsep dari aktualisasi diri dan realisasi diri, Cuellar (1987)30 yang mengatakan bahwa waktu luang (termasuk untuk tujuan wisata) merupakan kebutuhan primer yang melekat pada setiap diri manusia. Pernyataan mengenai pentingnya waktu luang dan wisata sebagai hak dasar dan hak asasi manusia tersebut juga diakomodasikan dalam berbagai kesepakatan internasional sebagaimana tersurat pula dalam Piagam WLO (2000)31 demikian juga oleh UNO (1948)32 yang menegaskan dua hal, yaitu:

1. “Everyone has the right to freedom of movement and residence within the borders of each State”; dan

2. “Everyone has the right to leave any country, including his own, and to return to his country”.

30 Cuellar, P., (1987). Dalam Veal, A.J., Leisure and Tourism Policy and Planning (edisi kedua), (New York: CABI Publishing, 2002), 27.

31 WLO, (2000). Charter for Leisure. World Leisure Organization. Dalam Veal, A.J., Leisure and Tourism Policy and Planning (edisi kedua), (New York: CABI Publishing, 2002), 27.

32 UNO, (1948). Universal Declaration of Human Right. United Nations Organization.

Artikel 13.

(21)

Waktu luang dibedakan atas rekreasi dan wisata. Menurut Hermantoro (2016)33 rekreasi dan wisata tidak hanya sekadar bertujuan memberikan kesegaran setelah bekerja keras, namun bertujuan mendapatkan kebahagiaan.

Pernyataan tersebut didukung oleh hasil riset Lyubomirsky (2005)34 bahwa 40% kebahagiaan manusia didapat dari kegiatan-kegiatan yang disengaja, termasuk rekreasi dan wisata.

Ada lebih dari 20 definisi tentang kebahagiaan (lifehack.com)35, namun intinya bahwa kebahagiaan menjelaskan tentang kesenangan, kepuasan, dan kegembiraan (the freedictionary.com)36. Dua definisi mengenai kebahagiaan adalah:

1. “…(a) largerly discretion time, to be used as one chooses. It includes existence and subsistence time, time spent in socially or group determined activities in which the individual would prefer not to participate” (Clawson & Knetsch, 1974)37; dan

2. “…the time which an individual has free from work or other duties and which may be utilise for the purposes of relaxation, diversion, social achievement, or personal development” (Gist & Fava, 1964)38.

Bahasan tentang kebahagiaan itu sendiri telah dimulai sejak 360 SM oleh Plato dalam karyanya “The Republic” (McLean, 2013)39 dan terus berkembang sampai saat ini. Ada tiga paham kebahagiaan dan ini sangat terkait dengan kegiatan rekreasi dan wisata berikut (Hermantoro, 2016)40.

33 Hermantoro, H., Pariwisata Perkotaan (Depok: Aditri, 2016), 62-63.

34 Lyubomirsky, S. et al. “Pursuing Happiness: The Architecture of Sustainable Change”

Review of General Psychology, 9(2), (2005): 111-131. Dalam Liu, K., “Happiness and Tourism” International Journal of Business and Social Science vol. 4 no. 15 (2013), (special issue, November 2013).

35 Happiness. Dikutip dari https://www.lifehack.org/articles/communication/20-definitions- happiness-you-need-know.html.

36 Happines. Dikutip dari https://www.thefreedictionary.com/happiness.

37 Clawson, M. & Knetsch, J.L., Leisure in Modern America. Dalam Murphy, J.F., (ed) Concept of Leisure (Englewood Cliffs: Prentice Hall, 1974), 78-90. Dalam Veal, A.J.

(2002). Leisure and Tourism Policy and Planning (edisi kedua) (New York: CABI Publishing, 2002), 44-48, 52.

38 Gist, N.P. & Fava, S.F., Urban Society (New York: Crowell, 1964), 411. Dalam Veal, A.J., Leisure and Tourism Policy and Planning (edisi kedua), (New York: CABI Publishing, 2002).

39 McLean, D.J. (2013). Philosophy and Leisure. Dalam Kassing, G. (2013). Introduction to Recreation & Leisure. Champaign: Human Kinetics.

40 Hermantoro, H., Pariwisata Perkotaan (Depok: Aditri, 2016), 64-65.

(22)

1. Paham eudomonia. Penganut paham ini memercayai bahwa kebahagiaan akan didapat ketika seseorang merasa lebih berguna daripada orang lain.

Dalam pariwisata, penganut paham ini merepresentasikan tindakan ke dalam bentuk, antara lain membantu menjaga lingkungan hidup pada destinasi pariwisata yang dikunjunginya atau membantu masyarakat lokal untuk bagaimana cara menjaga kesehatan lingkungan.

2. Paham hedonism. Penganut paham ini lebih mencari kesenangan sesaat yang tidak ada ujungnya. Mereka diibaratkan seperti berjalan di atas treadmill, berlari, tetapi tetap berada di tempatnya. Dalam pariwisata, penganut paham ini merepresentasikan tindakan pada pilihan wisata massal yang hanya mengejar kesenangan sesaat. Tujuan wisata bukan pada mencari pengalaman dan pencerahan, namun sekadar kesenangan;

3. Paham epicureanisme. Penganut paham ini lebih mementingkan dan kehidupan untuk pengkayaan batin dan rohani. Mereka lebih mementingkan kepuasan batin daripada materi dan kesenangan duniawi.

Dalam pariwisata, penganut paham ini merepresentasikan pilihan pada bentuk-bentuk wisata spiritual dan wisata ziarah.

Upaya mencari kebahagiaan terjadi pada setiap tingkatan kebutuhan dasar manusia. Hal ini memang tidak terkait langsung dengan jenjang kebutuhan dasar wisata di atas, namun mencerminkan pula perilaku seseorang pada cara mencapai kebahagiaan pada setiap jenjang kebutuhan dasar tersebut. Pada tingkat kebutuhan paham bentuk hedonism lebih kuat, pada bentuk psikologikal paham eudoimonia lebih menonjol, dan pada tingkat intelektual maka paham epicureanisme lebih dominan.

Pengertian rekreasi dan wisata sering dianggap sama, namun pandangan lain menyebutkan perbedaannya. Rekreasi adalah tujuan, sedangkan wisata adalah bentuk perjalanan dengan tujuan rekreasi sebagaimana disebutkan dalam UU No. 10 Tahun 2009, yaitu “…kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara”.

Demikian pula Hall & Page (1999)41 membedakan istilah rekreasi dengan wisata dalam pembedaan istilah urban recreation dan urban tourism. Dalam

41 Hall, C.M. & Page, S.J., The Geography of Tourism and Recreation: Environment, Place, and Space (London: Routledge, 1999).

(23)

konteks ini, rekreasi diartikan sebagai memenuhi kebutuhan kesenangan pada daerahnya sendiri, sedangkan wisata diartikan sebagai menikmati rekreasi di destinasi lain di luar daerahnya sendiri.

Perbedaan antara rekreasi dan wisata dijelaskan pula oleh Williams (2009)42 sebagaimana terlihat pada Gambar 1.6. Menurut Williams, waktu luang dibedakan atas dua kelompok kegiatan wisata dan rekreasi. Rekreasi, bersama-sama dengan wisata masuk dalam kelompok wisata untuk mengisi waktu luang (leisure). Rekreasi juga tidak hanya untuk kegiatan bersenang- senang, namun juga dapat sebagai kegiatan yang serius (serious leisure).

Misalnya, ketika seseorang dengan hobi fotografi mengambil foto-foto di sekitar tempat tinggal atau seorang dengan keahlian sketsa (urban sketcher) melakukan kegiatan menggambar di kotanya.

Di sisi lain wisata tidak hanya untuk mengejar kesenangan, namun juga dapat bersifat lebih serius, yaitu dalam bentuk wisata bisnis (business travel) dalam bentuk wisata MICE (Meeting, Incentives, Convention, Event). Bahkan bentuk wisata pun saat ini sangat beragam. Tidak hanya bisnis, namun wisata juga merambah pada kesehatan dan bahkan religi.

Sumber: Williams, 2009

Gambar 1.6

Waktu Luang, Rekreasi, dan Wisata

42 Wiliams, S. (2009). Tourism Geography: A New Synthesis (edisi kedua) (London:

Routledge, 2009).

(24)

Berikut ini dijelaskan lebih spesifik pengertian rekreasi dan wisata.

Rekreasi, menurut Dumadezier (1967)43 adalah kebutuhan dasar manusia yang dilakukan pada waktu luang; atau dipahami sebagai “…(a way of) enjoying yourself when you are not working” (Dictionary Cambridge, nd)44. Menurut John Ap (1986)45 rekreasi adalah “…experiences and activities chosen and pursued by the individual in his/her free time; the basis being that the experience sought and activities pursued, in the real sense of the word, 're-creates' the individual so that helshe may be refreshed to enable him/her to resume daily obligations, whatever those may be”.

Rekreasi juga diartikan sebagai setiap kegiatan untuk kesenangan yang dilakukan diluar waktu kerja. Beberapa definisi spesifiknya berikut ini.

1. Fairchild (1970)46 “Any activity pursued during leisure, either individual or collective, that is free and pleasureful, having its own immediate appeal, not impelled by a delayed reward beyond itself, or any immediate neccessity;

2. Yukic (1970)47 “…an art of experience, selected by the individual during his leisure time, to meet a personal want or desire, primarly for his own satisfaction”

Wisata juga merupakan bagian dari waktu luang yang dapat digunakan bebas dimanfaatkan untuk apa saja. Di mana posisi wisata dalam struktur waktu luang tersebut? Bila rekreasi dikonotasikan sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luang tanpa ada batasannya, wisata adalah perjalanan rekreasi ke destinasi diluar lingkungan kesehariannyadalam waktu sementara (UU No. 10 Tahun 2009). Dengan pengertian ini rekreasi adalah kegiatan pada

43 Dumazier, (1967). Dikutip dari

www.authenticholidayfilms.com/tourist_motivation_35.html, pada 22 September 2010.

44 Recreation. Dikutip dari https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/recreation, pada 15 Juni 2019.

45 John Ap, Recreation Trends and Implications for Government. In R. Castle, D. Lewis & J.

Mangan (eds), Work, Leisure and Technology (Melbourne, Longman Cheshire 1986), 167- 83 (p. 167). Dalam A. J., Veal reproduced from: Australian Journal of Leisure and Recreation, vol. 2, no. 4 (1992): pp. 44-48, 52.

46 Fairchild, H. (ed), (1970). Dictionary of Sociology (Westport: Greenwood Press, 1970), 251. Dalam Veal A.J., “Definition of Leisure and Recreation” Australian Journal of Leisure and Recreation, vol. 2 no.4 (1992).

47 Yukic, T.S. (1970). Fundamentals of Recreation (edisi kedua), (New York; Harper & Row, 1970), 5. Dalam Veal A.J., “Definition of Leisure and Recreation” Australian Journal of Leisure and Recreation, vol. 2 no.4 (1992).

(25)

waktu luang yang dilakukan di daerahnya sendiri, sedangkan wisata adalah kegiatan di waktu luang yang dilakukan di luar daerahnya sendiri.

Pertanyaannya adalah mengapa wisata itu sedemikian pentingnya diperhatikan dalam hampir setiap negara? Persoalan utamanya bukan hanya terkait dengan ekonomi yang dapat diterima oleh negara yang bersangkutan, namun juga manfaat bagi individu yang bersangkutan. Dengan wisata, seseorang diyakini akan dapat lebih produktif dan kreatif.

Rekreasi dan wisata telah mendorong produktivitas manusia (Cuellar, 1987)48 yang akan dapat mendorong tumbuhnya kreativitas manusia pula.

Kreativitas ini akan memberikan sumbangan besar pada kehidupan manusia dan telah memberikan sumbangan besar pada peningkatan kualitas hidup manusia. Apa yang dinikmati dunia saat ini, seperti otomotif, listrik, dan komputer adalah bentuk nyata dari berbagai produk yang dihasilkan dari sebuah kreativitas manusia.

Sama halnya dengan sejarah panjang perjalanan manusia, kreativitas juga hadir sejak awal kehidupan manusia dengan berbagai tingkatannya.

Sejarah pembangunan piramida Mesir, Babilonia, dan Roma beberapa abad yang lalu adalah bentuk produk kreatif di bidang arsitektur. Masih banyak pula produk-produk kreatif yang dihasilkan yang mampu mengubah kehidupan manusia seperti penemuan mesin uap, listrik, dan sebagainya.

1) Apakah yang disebut sebagai waktu luang dan mengapa ia penting dalam kehidupan manusia?

2) Berbagai pandangan menjelaskan bahwa tujuan wisata akan berujung pada mencari kebahagiaan. Bagaimana Anda menjelaskannya?

3) Sebutkan pemahaman Anda atas perbedaan pengertian antara rekreasi dan wisata!

48 Cuellar, P., (1987), Dalam Veal, A.J., Leisure and Tourism Policy and Planning (edisi kedua), (New York: CABI Publishing, 2002), 27.

LAT IH A N

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!

(26)

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Banyak orang masih menginterpretasikan bahwa waktu luang adalah waktu sisa dalam kehidupan manusia diluar waktu kerja, makan, minum, dan sebagainya. Pengertian ini menyebabkan mereka kemudian mengabaikan pentingnya waktu luang dalam kehidupan padahal justru pada waktu luang ini seseorang dapat melakukan pilihan kegiatannya secara bebas untuk rekreasi, wisata, dan sebagainya. Penelitian juga menyebutkan bahwa waktu luang justru dapat menyebabkan kebahagiaan dan kreativitas sehingga menyebabkan peningkatan produktivitas manusia.

2) Wisata menurut Lyubomirsky adalah cara untuk mencapai kebahagiaan.

Sifat kebahagiaan itu sendiri memang relatif, berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Namun, Hermantoro mencoba mengelompokkan ke dalam tiga paham, yaitu eudominia di mana seseorang merasa berbahagia bila hidupnya bermanfaat bagi orang lain, hedonism di mana hanya kesenangan yang dikejar, dan epicureanisme di mana orang lebih mementingkan kepuasan batin. Paham-paham ini dalam praktik akan berpengaruh pada pilihan jenis wisata. Penganut paham hedonism lebih memilih bentuk wisata lingkungan, hedonism pada wisata massal, dan epicureanisme pada wisata religi.

3) Rekreasi hadir sebagai kebutuhan dasar manusia yang paling penting dan menjadi hak mereka sejak dari kebutuhan dasar fisik, psikologis, dan intelektual. Bila rekreasi merupakan kebutuhan dasar maka wisata adalah proses perjalanan yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan dasarnya tersebut. Namun, untuk dipahami, pengertiannya juga sering tidak sama seperti itu. Rekreasi sering digunakan untuk istilah di mana seseorang melakukan perjalanan di dalam destinasinya sendiri, sebaiknya wisata digunakan untuk menjelaskan pergerakan seseorang keluar dari destinasi yang dihuninya sehari-hari.

Waktu luang adalah waktu diluar waktu wajib (bekerja, makan, minum, dan sebagainya) di mana seseorang mendapatkan kebebasan untuk melakukan kegiatan apapun yang dimauinya. Ada yang menggunakan waktu luang hanya untuk beristirahat saja, duduk-duduk

RA NG KU M AN

(27)

baca novel. Namun, ada yang menggunakan waktu luang itu untuk kegiatan rekreasi dan wisata.

Pengertian rekreasi dan literatur berbeda dalam konteksnya. Dalam UU No. 10 Tahun 2009 rekreasi diartikan sebagai tujuan atau kebutuhan dan wisata adalah kegiatan perjalanan untuk mencapai tujuan tersebut.

Literatur lain lebih menjelaskan mengenai wilayah kegiatan. Rekreasi adalah kegiatan yang dilakukan di dalam destinasi mereka tinggal dan wisata adalah kegiatan perjalanan di luar destinasi tinggalnya.

Rekreasi dan wisata merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia karena dapat meningkatkan produktivitas mereka, tidak sekadar melepaskan lelah. Ini sebabnya rekreasi dan wisata masuk dalam kelompok hak dasar dan hak asasi manusia. Tidak hanya itu, rekreasi dapat mendorong pula tumbuhnya ide dan gagasan yang dapat berujung pada kreativitas.

1) Hal yang bukan disyaratkan sebagai memenuhi pengertian waktu luang adalah ….

A. seorang harus bebas dari keinginan bersifat material

B. seseorang harus paham bagaimana memanfaatkan waktu luangnya C. waktu luang bukan digunakan untuk mencari ketenaran, kekayaan

ataupun faktor ekstrinsik lainnya namun untuk kebebasan D. waktu luang akan mengurangi produktivitas seseorang 2) Konsep waktu luang menurut Cuellar adalah ….

A. waktu sisa

B. kebutuhan primer manusia C. waktu istirahat diluar jam kerja D. syarat dalam menentukan waktu libur

3) Tidak hanya sebagai kebutuhan dasar, wisata juga merupakan hak asasi manusia yang ditetapkan dalam piagam UNO (PBB). Pernyataan yang terkait dengan ini adalah setiap orang ….

A. berhak untuk meninggalkan negaranya

B. berhak dan tidak boleh dilarang untuk berwisata di negara lain C. berhak untuk tinggal selamanya di negara lain

D. wajib melakukan perjalanan wisata TES F ORM AT IF 2

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

(28)

4) Tujuan utama wisata selain untuk tujuan bersenang-senang adalah ....

A. penghargaan dari lingkungan B. kebahagiaan

C. memberikan kontribusi pada ekonomi suatu negara D. memberikan lapangan kerja pada masyarakat

5) Yang dimaksud dengan paham eudomonia dalam kebahagiaan adalah ….

A. didapat ketika telah meraih status sosial yang lebih baik B. dicapai ketika status ekonomi meningkat

C. didapat ketika seseorang telah mencapai nilai spiritual yang tinggi D. didapat ketika merasa dapat lebih bermanfaat bagi orang lain 6) Maksud dari paham hedonism dalam kebahagiaan adalah ....

A. mengejar kesenangan B. dapat menolong sesama

C. dinilai dari status sosial yang tinggi di masyarakat D. dinilai dari status ekonomi

7) Maksud dari paham epicureanisme dalam kebahagiaan adalah ….

A. didapat dari kemapanan ekonomi

B. dicapai melalui pengkayaan batin dan rohani C. dicapai ketika status sosial meningkat D. dicapai ketika keinginan terkabul

8) Istilah rekreasi sering dibedakan dengan wisata.

Penjelasannya adalah ….

A. rekreasi berkunjung ke atraksi, sedangkan wisata terbatas pada pemanfaatan fasilitas pariwisata berupa akomodasi dan makan minum

B. rekreasi hanya untuk bersenang-senang, namun wisata untuk kegiatan yang lebih serius

C. rekreasi dilakukan pada daerah diluar seseorang tinggal, sedangkan wisata lebih menjelaskan kegiatan rekreasi di daerahnya sendiri D. rekreasi adalah tujuan, sedangkan wisata adalah proses untuk

mencapai kebutuhan tersebut

9) Maksud Dumadezier sebagai rekreasi adalah ….

A. kebutuhan psikologis setelah kebutuhan fisik terpenuhi B. bukan kebutuhan dasar manusia namun keinginan C. kebutuhan dasar manusia yang dilakukan diwaktu luang D. kebutuhan intelektual

(29)

10) Hal yang dikatakan oleh Cuellar tentang keluaran (outcome) utama dari rekreasi dan wisata adalah ….

A. kesenangan

B. penghargaan dari lingkungan

C. kemampuan meraih status sosial ekonomi lebih baik D. semua jawaban salah

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.

Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang belum dikuasai.

Tingkat penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar Jumlah Soal ×100%

(30)

Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif 1 1) C

2) A 3) C 4) D 5) B 6) A 7) D 8) A 9) C 10) B

Tes Formatif 2 1) C

2) B 3) D 4) B 5) A 6) B 7) D 8) D 9) A 10) B

(31)

Daftar Pustaka

Alghamdi, A. (2007). Explicit towards and implicit motivation outbound tourism: A study of Saudi tourists, hal. 46. Dikutip dari Waluya, D.H.B.

(2012). Analisis faktor-faktor pendorong motivasi wisatawan nusantara terhadap keputusan berkunjung ke Kebun Raya Bogor. Tourism and Hospitality Essentials (THE) Journal, Vol.II (1), 245.

Australian Council for Health, Physical Education and Recreation/Royal Australian Institute of Parks and Recreation. (1980). Recreation Working Paper, Adelaide: ACHPER Publications, p 3. School of leisure. Sport and Tourism Working Paper No. 4. Definitions of leisure and recreation.

Dalam A. J. Veal reproduced from: Australian Journal of Leisure and Recreation, 2(4), 1992, pp. 44-48, 52.

Clawson, M., & Kentsch, J.L. (1974). Leisure in modern America. Dalam Murphy, J.F., (ed). Concept of leisure (pp.78-90). Engelwoof Cliffs:

Prentice Hall. Dalam Veal A.J. (1992). Definition of leisure and recreation. Australian Journal of Leisure and Recreation, 2(4), 1992,44- 48, 52.

Creativity. Dikutip dari https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/

creativity pada15 Agustus 2019.

Cuellar, P. (1987). Dalam Veal, A.J. (2002). Leisure and tourism policy and planning (edisi kedua). New York: CABI Publishing.

Dumazier. (1967). Dikutip dari www.authenticholidayfilms.com/tourist_

motivation_35.html, pada 22 September 2010.

___________ (1967). Dalam Hermantoro, H. (2011). Creative-based tourism: Dari wisata rekreatif menuju wisata kreatif. Depok: Aditri.

Fairchild, H. (ed). (1970). Dictionary of sociology (pp.251). Westport:

Greenwood Press. Dalam Veal A.J. (1992). Definition of leisure and recreation. Australian Journal of Leisure and Recreation, 2(4), 1992.

(32)

Gerlovina, Z. (2011). EuReka! Unraveling the mystery behind creativity.

Spring. Dikutip dari https://academiccommons.columbia.edu/doi/

10.../download pada 15 Agustus 2019.

Gershuny, J., & Fisher, K. (1999). “Leisure in the UK across the twentieth century”. Institute of Social and Economic Research Working Paper 99- 3, published as a chapter in Halsey, A.H. (ed). (2000). British social trends: The twentieth century. London: MacMillan. In Broadhurst, R.

(2001). Managing environment for leisure and recreation. Dikutip dari http://www.iser.essex.ac.uk/pubs/workpaps/wp99-03.php, pada 24 September 2000.

Gist, N.P., & Fava, S.F. (1964). Urban society (pp.411). New York: Crowell.

In Veal A.J. (1992). Definition of leisure and recreation. Australian Journal of Leisure and Recreation, 2(4), 1992.

___________ (1964). Urban society (pp.411). New York: Crowell. Dalam Veal, A.J. (2002). Leisure and tourism policy and planning (edisi kedua). New York: CABI Publishing.

Hall, C.M., & Page, S.J. (1999). The geography of tourism and recreation:

environment, place, and space. London: Routledge.

Happiness. Dikutip dari https://www.lifehack.org/articles/communication/

20-definitions- happiness-you-need-know.html.

___________ Dikutip dari https://www.thefreedictionary.com/happiness.

Hermantoro, H. (2015). Kepariwisataan, destinasi pariwisata, produk pariwisata. Depok: Aditri.

___________ (2016). Pariwisata perkotaan. Depok: Aditri.

Hurd, A.M., & Anderson, D.M. (nd). Definition of leisure, play, and recreation. Dikutip dari www.humankinetics.com pada 29 Desember 2015.

(33)

John, Ap. (1986). Recreation trends and implications for government. In R.

Castle, D. Lewis, & J. Mangan (Eds.). Work, leisure, and technology.

Melbourne: Longman Cheshire, 167-83 (p. 167). In A. J. Veal reproduced from: Australian Journal of Leisure and Recreation, 2(4), 1992, pp. 44-48, 52.

Leisure time. Dikutip dari https://www.collinsdictionary.com/dictionary/

english/ leisure-time.

Lyubomirsky, S. et al. (2005). Pursuing happiness: The architecture of sustainable change. Review of General Psychology, 9(2), 111-131. In Liu, K. (2013). Happiness and tourism. International Journal of Business and Social Science, 4(15), (special issue, November 2013).

Maslow, A.H. (1954). Motivation and personality. New York: Harper &

Row. In Goble, F.G. (1987). Mazhab ketiga: Psikologi humanistik Abraham Maslow (Terj.). Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

McLean, D.J. (2013). Philosophy and leisure. In Kassing, G. (2013).

Introduction to recreation & leisure. Champaign: Human Kinetics.

___________ (2013). Philosophy and leisure. Dalam Kassing, G. (2013).

Introduction to recreation & leisure. Champaign: Human Kinetics.

Mill, R.C., & Morrison, A.M. (2009). The tourism system (edisi keenam).

Dubuque: Kendall Hout Publishing Company.

Recreation. Dikutip dari https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/

recreation pada 5 Juni 2019.

___________ Dikutip dari https://www.merriam-webster.com/dictionary/

recreation pada 19 Oktober 2019.

Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.

UNO. (1948). Universal declaration of human right. United Nations Organization. Artikel 13.

(34)

Wholebrain creativity. Dikutip dari https://www.futurelearn.com/courses/

creative-problem-solving/0/steps/43756.

Wiliams, S. (2009). Tourism geography: A new synthesis (edisi kedua).

London: Routledge.

WLO. (2000). Charter for leisure. World Leisure Organization. Dalam Veal, A.J. (2002). Leisure and tourism policy and planning (edisi kedua). New York: CABI Publishing.

Yukic, T.S. (1970). Fundamentals of recreation (edisi kedua) (pp.5). New York; Harper & Row. Dalam Veal A.J. (1992). Definition of leisure and recreation. Australian Journal of Leisure and Recreation, 2(4).

Zohar, D., & Marshall, I. (2004). Spiritual capital: Wealth we can live by.

Dalam Kotler, P. et al. (2010). Marketing 3.0. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Gambar

Gambar 1.4  Jenjang Perjalanan Wisata

Referensi

Dokumen terkait

Pengantar kebutuhan dasar manusia : aplikasi konsep dan proses keperawatan.. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia Teori

mendasar yang digunakan untuk kelangsuungan metabolisme sel tubuh, mempertahankan hidup dan aktivitas berbagai organ dan sel tubuh..  Oksigen merupakan kebutuhan dasar manusia

Buku Kebutuhan Dasar Manusia ini terdiri 14 bab, yaitu : Bab 1 : Praktikum pencegahan infeksi dalam praktik kebidanan Bab 2 : Praktikum fungsi berbagai alat instrumen kebidanan

Sesuai dengan pemenuhan kebutuhan berdasar teori Maslow, orang tua bukan sekedar memenuhi standar kebutuhan dasar akan fisiologis tapi juga kasih sayang yang tulus dari

antara salah satu seri iklan Coca-Cola dengan Teori Hierarki Kebutuhan

Konsep di nsep diri manus ri manusia memilik ia memiliki peran dala i peran dalam pemenu m pemenuhan kebu han kebutuhan d tuhan dasar.. Konsep diri yang sehat menghasilkan

Ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, sebetulnya saat itu kita sedang memenuhi satu atau lebih dari satu kebutuhan dasar kita, yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup survival,

Dari hipotesa Maslow 1993 tersebut, dapat disimpulkan bahwa manusia secara mendasar memiliki banyak kebutuhan dasar, diantaranya seperti kebutuhan yang bersifat fisiologis, kebutuhan