• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

29

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori

Landasan teori digunakan untuk memaparkan beberapa konsep dasar teori dari variabel yang akan diteliti. Dari variabel penelitian yang akan diteliti terdapat beberapa konsep dasar teori yang akan digunakan adalah sebagai berikut :

2.1.1 Teori Manajemen

Menurut Coulter & Robbin (2012), manajemen adalah proses pengkoordinasian dan pengintegrasian kegiatan-kegiatan kerja agar diselesaikan secara efektif dan efisien melalui orang lain. Manajer harus tahu bahwa koordinasi dan mengawasi pekerjaan orang lain agar tetap bekerja dan tidak banyak membuang waktu serta membantu manajer untuk mengkoordinasikan kegiatan kerja tim dengan orang-orang dari departemen yang berbeda.

Menurut Terry (1956), Seorang manajer memiliki empat fungsi manajemen yang harus mereka jalani yaitu: perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan mengontrol para karyawan dengan baik dan benar. Pertama yang manajer harus lakukan adalah perencanaan agar perusahaan menjadi lebih kompetitif dan berjalan sesuai visi dan misi perusahaan. Kedua, pengorganisasian sangat penting dilakukan oleh manajer agar para karyawan dapat bekerja sama dengan baik untuk mencapai visi dan misi perusahaan. Ketiga, kepemimpinan merupakan hal yang harus ada didalam diri seorang manajer untuk memimpin perusahaan dan memberikan

(2)

30 semangat kepada para karyawan agar dapat bekerja sama dengan baik lagi. Keempat, manajer harus dapat mengkontrol semua kegiatan atau tugas telah sesuai dengan tujuan visi dan misi yang telah direncanakan oleh perusahaan.

2.1.2 Teori Manajemen Operational

”operations Management is activities that relate to the creation of goods anda services through the transformation of inpits to outputs”. (Hiezer & Render, 2017)

Berdasarkan pengertian diatas, Manajemen operasi merupakan aktivitas yang berhubungan dengan penciptaan barang dan jasa melalui transformasi input ke output.

Yang maksudnya adalah, sebuah aktivitas dalam operasional perusahaan dalam membuat barang maupun jasa dengan mengembangkan ataupun memperbaruhi dari awal proses dimulai hingga menghasilkan suatu produk baik berbentuk sebuah barang maupun jasa yang diperlukan.

Menurut (Porter, 2009) manajemen operasi adalah sebuag cara tentang bagaimana perusahaan memproduksi ataupun mengirimkan barang dan jasa yang menjadi sebuah latar belakang atau alas an keberadaan mereka.

Berdasarkan dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa, Manajemen Operasi adalah sebuah aktivitas tentang bagaimana perusahaan melakukan produksi dari input ke output kemudian mengirimkan barang ataupun jasa untuk memenuhi kebutuhan konsumen sehingga perusahaan tersebut terus tumbuh dan berkembang. Hal ini merupakan salah satu alasan yang menjadi keberadaan mereka untuk tetap berdiri dan memenuhi kebutuhan dari konsumennya.

(3)

31 2.1.3 Fungsi Manajemen

Menurut Coulter & Robbin (2012), fungsi manajemen dapat diringkas menjadi empat yaitu:

1. Planning

Perencanaan, merupakan fungsi manajemen yang melibatkan proses pengaturan tujuan, menetapkan strategi yang dipakai untuk mencapai tujuan tersebut dan mengembangkan rencana-rencana untuk mengintegrasikan dan mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan.

2. Organizing

Pengorganisasian, merupakan fungsi manajemen yang melibatkan pengaturan dan penataan pekerjaan tentang apa yang dilakukan dan siapa yang akan melakukan pekerjaan tersebut untuk mencapai tujuan dari organisasi.

3. Leading

Kepemimpinan, merupakan fungsi manajemen yang melibatkan pekerjaan yang dilakukan dengan dan melalui orang lain termasuk motivasi, pengarahan dan kegiatan lainnya dalam rangka untuk menangani orang- orang dalam mencapai tujuan organisasi.

4. Controlling

Pengarahan, merupakan fungsi manajemen yang mencakup pengawasan, perbandingan, dan mengkoreksi performa kerja untuk memastikan semua kegiatan berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan.

(4)

32 2.1.4 Sepuluh Pengambilan Keputusan

Menurut Hiezer & Render (2017), terdapat sepuluh keputusan strategis yang berkaitan dengan manajemen operasional. Berikut merupakan sepuluh hal-hal keputusan strategis yang telah dirangkum:

1. Perencanaan Produk dan Jasa

Perencanaan barang dan jasa menetapkansebagian besar proses transformasi yang akan dilakukan. Keputusan biaya, kualitas dan sumber daya manusia bergantung pada keputusan perencanaan.

2. Pengelolaan Kualitas

Ekspetasi pelanggan terhadap kualitas harus ditetapkan, peraturan dan prosedur dibakukan untuk mengindentifikasi serta mencapai standard kualitas tersebut.

3. Perancangan Proses dan Kapasitas

Keputusan proses yang diambil membuat manajemen mengambil komitmen dalam hal teknologi, kualitas, penggunaan sumber daya manusia dan pemeliharaan yang spesifik. Komitmen pengeluaran dan modal ini akan menentukan struktur biaya dasar suatu perusahaan.

4. Strategi Lokasi

Keputusan lokasi organisasi manufaktur dan jasa menentukan kesuksesan perusahaan.

5. Strategi Tata Letak

Aliran bakan baku, kapasitas yang dibutuhkan, tingakt karyawan, keputusan teknologi dan kebutuhan persediaan mempengaruhi tata letak.

(5)

33 6. Sumber Daya Manusia dan Rancangan Pekerjaan

Manusia merupakan bagian yang integral dan mahal dari keseluruhan rancangan system. Karenanya, kualias lingkungan kerja diberikan, bakat dan keahlian yang dibutuhkan, dan upah yang harus ditentukan dengan jelas.

7. Manajemen Rantai Pasokan

Keputusan ini menjelaskan apa yang harus dibuat dan apa yang harus dibeli.

8. Persediaan, Perencanaan, Kebutuhan Bahan Baku, dan JIT (Just In Time) Keputusan persediaan dapat dioptimalkan hanya jika keputusan pelanggan, pemasok, perencanaan produksi dan sumber daya manusia dipertimbangkan.

9. Penjadwalan Jangka Menengah dan Jangka Pendek

Jadwal produksi yang dapat dikerjakan dan efesien harus dikembangkan.

10. Perawatan

Keputusan harus dibuat pada tingkat kehandalan dan stabilitas yang diinginkan.

2.1.5 Startegi Tata Letak

Tata letak merupakan salah satu keputusan yang menentukan efisiensi dan efektivitas operasional perusahaan jangka panjang. Tata Letak memiliki berbagai impilkasi strategis karena tata letak menentukan daya saing perusahan dalam hal kapasitas proses, fleksibilitas dan biaya. Menurut Hiezer

(6)

34

& Render (2017) desain tata letak harus mempertimbangkan bagaimana cara agar mencapai hal-hal sebagai berikut:

1. Utilitas ruang, peralatan dan orang yang lebih tinggi. Penataan layout hendaknya mempertimbangkan bagaimana memperoleh penggunaan pada masing-masing ruangan, peralatan dan tenaga kerja yang efesien.

Sehingga tidak diharapkan adanya ruang atau tempat dalam perusahaan yang tidak berfungsi secara maksimal.

2. Aliran informasi, barang atau orang yang lebih baik. Prinsip ini dilakukan untuk menghindari adanya hambatan atau gangguan pada sisrtem kerja. Sehingga, dalam layout perusahaan pada bagian yang memiliki hubungan hendaknya letaknya dibuat berdekatan untuk menjaga efesiensi pada semua aliran.

3. Moral karyawan yang lebih baik, juga kondisi lingkungan kerja yang aman. Desain layout yang baik harus mempertimbangkan bagaimana memberikan jaminan keselamatan bagi para karyawan atau pelanggan dan memberikan suasana yang menyenangkan dan nyaman bagi karyawan atau pelanggan, dimana hal ini dapat direncanakan dalam penataan layout yang baik.

4. Interaksi dengan pelanggan yang lebih baik. Dengan kata lain, bahwa perusahaan membangun relasi atau hubungan yang baik dengan pelanggan secara jangka panjang.

5. Fleksibilitas. Suatu layout yang baik dapat mengatasipasi berbagai perubahan dalam bidang teknologi, komunikasi maupun kebutuhan

(7)

35 konsumen. Produsen yang cepat tanggap akan adanya perubahan tersebut.

Menurut William J. Stevenson & Sum Chee Choung (2014) menyatakan bahwa tata letak mengacu pada susunan departemen, pusat pekerjaan, serta peralatan, dengan penekanan khusus pada gerakan kerja (pelanggan atau bahan baku) melalui sistem. Bagian ini menguraikan jenis- jenis desain dan model tata letak utama yang sering digunakan untuk mengevaluasi alternatif desain.

Seperti dalam bidang desain sistem lainnya, keputusan tata letak penting kerena tiga alasan dasar:

1. Keputusan tata letak memerlukan investasi dalam uang dan upaya yang besar.

2. Keputusan tata letak melibatkan komitmen jangka panjang sehingga membuat kesalahan sulit diatasi.

3. Keputusan tata letak memiliki dampak penting terhadap biaya dan efisiensi operasi.

Tujuan dasar dari desain layout adalah mempermudah kelancaran aliran kerja, bahan baku, serta informasi melalui sistem. Tujuan-tujuan pendukung biasanya meliputi beberapa hal sebagai berikut:

1. Mempermudah pencapain mutu produk dan jasa.

2. Menggunakan tenaga kerja dan ruang secara efisien.

3. Menghindari kemacetan.

4. Memperkecil biaya penanganan bahan baku.

(8)

36 5. Menghapuskan pergerakan tenaga kerja atau bahan baku yang tidak

diperlukan.

6. Memperkecil waktu produksi atau waktu pelayanan pelanggan.

7. Mendesain keselamatan.

2.1.6 Ergonomi

Menurut Tarwaka, Solichul, & Sudiajeng (2004), cara mempermudah pemahaman terhadap ergonomi yaitu dengan menggunakan konsep umum dari cara berpikir rasional yang biasa kita gunakan. Dengan mengadopsi istilah (5W + 1H) dapat mempermudah untuk kita berpikir secara sistematis dalam memahami dan menerapkan ergonomi. Berikut ini 5W + 1H menurut Tarwaka, Solichul, & Sudiajeng (2004):

1. What is ergonomics? Istilah ergonomi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu ”ergon” berarti kerja dan “nomos” berarti aturan atau hukum. Jadi definisi ergonomi adalah suatu aturan atau norma dalam system kerja. Di Indonesia memakai istilah ergonomi, sedangkan di beberapa Negara seperti Skandinavian menggunakan istilah

“Bioteknologi” dan di Amerika menggunakan istilah “Human Engineering” atau “Human Factors Engineering”. Namun dengan demikian semua istilah tersebut membahas hal yang sama yaitu tentang optimalisasi fungsi manusia terhadap aktivitas yang dilakukan.

2. Why is ergonomics? Dari pengalaman dapat menunjukkan bahwa setiap aktivitas atau pekerjaan yang dilakukan secara ergonomi, apabila tidak

(9)

37 dilakukan secara ergonomi akan mengakibatkan ketidaknyamanan, biaya tinggi, kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang meningkat, serta performa menurun yang berakibat kepada penurunan efisiensi dan daya kerja. Dengan demikian, penerapan ergonomi di segala bidang kegiatan adalah suatu keharusan.

3. Where is ergonomics applied? Secara umum penerapan ergonomi dapat dilakukan dimana saja, baik di lingkungan rumah, di perjalanan, di lingkungan sosial maupun di lingkungan tempat kerja.

4. When is ergonomics applied? Ergonomi dapat diterapkan kapan saja dalam putaran waktu 24 jam sehari semalam, sehingga baik pada saat bekerja, istirahat, maupun dalam berinteraksi sosial kita dapat melakukannya dengan sehat, aman, dan nyaman.

5. Who must apply ergonomics? Setiap komponen masyarakat baik masyarakat pekerja maupun masyarakat sosial harus menerapkan ergonomi dalam upaya menciptakan kenyamanan, kesehatan, keselamatan dan produktivitas kerja yang setinggi-tingginya.

6. How is ergonomics applied? Untuk dapat menerapkan ergonomi secara benar dan tepat, maka kita harus mempelajari dan memahami ergonomi secara detail. Dalam penerapan ergonomi diperlukan suatu seni, agar apa yang akan diterapkan dapat diterima oleh pemakainya dan memberikan manfaat yang besar kepadanya.

Menurut Internasional Ergonomics Association (2020), ergonomi atau faktor manusia merupakan disiplin ilmu yang berkaitan dengan pemahaman

(10)

38 interaksi diantara manusia dan unsur-unsur lain dari suatu sistem dan profesi yang menerapkan teori, prinsip data, dan metode yang dirancang untuk mengoptimalkan kesejahteraan manusia dan keseluruhan kinerja sistem.

Menurut Sanders & McCormick (1993), definisi ergonomi secara detail yaitu suatu ilmu yang mempelajari dan menerapkan informasi tentang perilaku manusia, kemampuannya, keterbatasannya serta karakter manusia lainnya guna mendesain suatu peralatan bantu, mesin, aktivitas, pekerjaan, dan lingkungannya agar semakin produktif, aman, nyaman, dan efektif pada penggunaan oleh manusia. Sedangkan definisi ergonomi menurut Alan Hedge (2016), yaitu ilmu pengetahuan tentang kerja, yang fokus mengatur pada peningkatan kemampuan manusia untuk mendapatkan performasi kerja yang baik.

Definisi ergonomi menurut Tarwaka, Solichul, & Sudiajeng (2004), ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik.

Dengan demikian pencapaian kualitas hidup manusia secara optimal, baik di tempat kerja, di lingkungan sosial maupun di lingkungan keluarga, menjadi tujuan utama dari penerapan ergonomi.

(11)

39 2.1.7 Ruang Lingkup Ergonomi

Ruang lingkup ergonomi menurut Sugiono, Wisnu, & Indah (2018), dibagi menjadi empat dari sudut pandang objek kajian yang dipelajari yaitu:

1. Ergonomi Fisik (Physical Ergonomics)

Ergonomi fisik merupakan suatu kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas fisik kerja manusia. Beberapa topik yang berhubungan dalam ergonomi fisik yaitu, anotomi tubuh manusia, karakteristik fisiologi dan biomekanika, antropometri, kekuatan fisik manusia kerja, postur kerja, beban fisik kerja, studi gerakan dan waktu kerja, Muscoleteral Disorder (MSD), pemindahan material, tata letak tempat kerja, keselamatan kerja, kesehatan kerja, ukuran/dimensi tempat atau alat kerja, fungsi indra dalam kerja, control & display, dan lain sebagainya. Sehingga sampai saat ini dan mungkin untuk masa yang akan datang, ergonomi fisik merupakan aspek terbesar dalam keilmuan atau profesi ergonomi.

2. Ergonomi Kognitif (Cognitive Ergonomics)

Ergonomi kognitif merupakan ilmu yang berkaitan dengan proses mental manusia kerja. Beberapa topik yang relevan dalam ergonomi kognitif yaitu, ingatan dalam kerja, reaksi dalam kerja, persepsi dalam kerja, beban kerja, pengambilan keputusan, human computer interaction, kehandalan manusia, motivasi kerja, performa kerja, dan stres kerja.

3. Ergonomi Organisasi (Organizational Ergonomics)

Ergonomi organisasi merupakan ilmu yang berkaitan dengan sosioteknik dalam sistem kerja. Beberapa topik yang relevan dalam ergonomi

(12)

40 organisasi yaitu, struktur organisasi kerja, kebijakan dan proses, manajemen SDM, komunikasi kerja, alokasi fungsi kerja, task analysis, teamwork, participatory approach, komunitas kerja, kultur organisasi, organisasi virtual, perancangan waktu kerja, produktivitas kerja tim/individu, dan lain sebagainya.

4. Ergonomi Lingkungan (Environmental Ergonomics)

Ergonomi lingkungan merupakan ilmu yang berkaitan dengan beberapa hal yang ada disekitar orang yang melakukan pekerjaan, biasanya berupa lingkungan fisik. Beberapa topic yang termasuk dalam ergonomi lingkungan yaitu, pencahayaan di tempat kerja, kebisingan di tempat kerja, getaran di tempat kerja, temperature di tempat kerja, dan lain sebagainya.

2.1.8 Tujuan Ergonomi

Menurut Tarwaka, Solichul, & Sudiajeng (2004), secara umum tujuan dari penerapan ergonomi yaitu:

1. Untuk meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cedera dan penyakit akibat kerja, menurunkan biaya kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.

2. Untuk meningkatkan kesejahteraan social melalui peningkatan kualitas kontak social, mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.

(13)

41 3. Untuk menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek yaitu, aspek teknis, ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap system kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.

2.1.9 Visual Display

Visual display menurut Iridiastadi & Yassierli (2014), yaitu merupakan alat penyampai informasi yang dirancang untuk ditangkap oleh manusia, meliputi spanduk, poster, rambu-rambu lalu lintas, petunjuk arah, papan pengumuman dan yang lain sebagainya.

Visual display dapat berfungsi sebagai suatu system komunikasi yang menghubungkan antara fasilitas dengan manusia. Dalam melakukan aktivitasnya, manusia bergantung pada penglihatan yang kemampuannya terbatas. Oleh karena itu, diperlukan visual display yang baik yang mampu memberikan informasi dengan waktu respon yang kecil dan mampu mentrasformasikan informasi yang ada kepada pembacanya. (Rudianto, 2017)

Menurut Palit et al., (2019), sekitar 80% dari input informasi ke otak manusia dihasilkan oleh rangsangan visual. Selain itu, menurut Kroemer (2017), ukuran huruf telah menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi seberapa cepat mata manusia dapat menerima informasi yang tertuang didalam perencanaan visual display. Salah satu bidang yang menganalisis tentang ukuran huruf adalah tipografi.

(14)

42 Menurut Sanders & McCormick (1993), tipografi mengacu pada serangkaian karakteristik huruf-huruf. Terdapat beberapa hal yang dapat mencirikan karakteristik huruf, yang kemudian parameter tersebut dapat mempengaruhi kemampuan manusia baca suatu tulisan. Beberapa parameter tersebut diantaranya yaitu rasio antara ketebalan huruf terhadap tinggi huruf (stroke width), jenis huruf, dan tinggi huruf. Faktor lain yang harus dipertimbangkan dalam mendesain visual display adalah konten. Konten atau informasi visual display harus bersifat informative, ringkas, jelas, mudah dibaca, menarik, dan proposional antara ukuran huruf dan gambar. Menurut Kroemer (2017), kegagalan pada aspek ergonomi visual display dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada mata manusia karena, mata manusia cenderung akomodatif.

2.1.10 Antropometri

Antropometri berasal dari kata “antro” yang berarti manusia dan

“metri” yang berarti ukuran. Secara definisi antropometri dapat dinyatakan sebagai suatu studi yang berkaitan dengan dimensi tubuh manusia. Menurut Panero & Zelnik (2003), antropometri merupakan ilmu yang secara khusus mempelajari tentang pengukuran tubuh manusia untuk merumuskan perbedaan-perbedaan ukuran pada tiap individu atau kelompok. Menurut Nurmianto (1991), antropometri merupakan suatu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia, ukuran, bentuk, dan kekuatannya. Antropometri membicarakan ukuran tubuh manusia dan

(15)

43 aspek-aspek mekanisme gerakan manusia maupun postur dan gerakan- gerakan yang diketahui. Manusia pada dasarnya memiliki bentuk dan ukuran (tinggi, berat, lebar, dan lain sebagainya) yang berbeda satu dengan lainnya.

Antropometri secara luas akan dijadikan pertimbangan ergonomi dalam penerapan proses perancangan (desain) produk maupun system kerja yang akan memerlukan interaksi manusia. Data antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas dalam hal:

a. Perencangan areal kerja (work station, interior design, dan lain sebagainya).

b. Perancangan peralatan kerja (mesin, perkakas, dan lain sebagainya).

c. Perancangan produk-produk konsumtif (pakaian, kursi, meja, dan lain sebagainya).

d. Perancangan lingkungan kerja fisik.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data antropometri akan menentukan bentuk, ukuran, dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoprasikannya atau yang akan menggunkananya.

Di ruang makan, studi antropometri diperlakukan tidak hanya pada kesesuaian meja dan kursi terhadap dimensi antropometri pengguna tetapi juga digunakan pada ruang diantara kursi dan meja. Selanjutnya, Panero &

Zelnik (2003), telah menyediakan data antropometri terhadap dimensi furnitur, ruang antara meja dan kursi, dan dimensi lainnya didalam ruang makan restoran. Pada dasarnya, pengukuran standard ruang antara meja dan

(16)

44 kursi dalam satu set meja terkait satu sama lain. Hal ini dapat dilihat dari ruang yang ada diantara meja dan kursi yang berfungsi tidak hanya untuk keperluan pelanggan untuk keluar masuk dari area meja dan kursinya. Tetapi juga memberikan ruang bergerak kepada server untuk melayani para pelanggannya.

2.1.11 Ergonomi Lingkungan

Menurut Kroemer (2017), lingkungan ergonomi merupakan studi ergonomi yang menyelidiki hubungan antara manusia dan keterbatasannya dalam lingkungan kerja fisik, yang meliputi: pencahyaan, suara, iklim, sirkulasi udara, serta getaran. Sedangkan menurut Sanders & McCormick (1993), ergonomik lingkungan memengaruhi kesehatan, kenyamanan, kemampuan, dan kemauan manusia untuk melakukan pekerjaannya.

Menurut Robbins (2003), lingkungan kerja fisik juga merupakan faktor penyebab stress kerja manusia yang berpengaruh pada prestasi kerja.

Faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja fisik, diantaranya:

a. Suhu

Suhu merupakan suatu variable dimana terdapat perbedaan individual yang besar. Dengan demikian untuk memaksimalkan produktivitas penting bahwa manusia bekerja atau beraktifitas di suatu lingkungan dimana suhu diatur sedemikian rupa sehingga berada diantara rentang kerja atau aktivitas yang dapat diterima setiap individu.

(17)

45 b. Kebisingan

Bukti dari telaah-telaah tentang suara menunjukkan bahwa suara-suara yang konstan atau dapat diramalkan pada umumnya tidak menyebabkan penurunan prestasi kerja, sebaliknya efak dari suara-suara yang tidak dapat diramalkan memberikan pengaruh negative dan mengganggu konsentrasi manusia.

c. Penerangan

Bekerja atau beraktivitas pada ruangan yang gelap dan samar-samar akan menyebabkan ketegangan pada mata. Intensitas cahaya yang tepat dapat membantu manusia dalam mempelancar aktivitas mereka. Tingkat yang tepat dari intensitas cahaya juga tergantung pada usia manusia. Pencapaian prestasi kerja pada tingkat penerangan yang lebih tinggi adalah lebih besar untuk manusia yang lebih tua dibandingkan dengan yang lebih muda.

d. Mutu udara

Mutu udara merupakan fakta yang tidak bias diabaikan bahwa, jika kita menghirup udara yang tercemar akan membawa efek yang merugikan pada kesehatan pribadi. Udara yang tercemar dapat mengganggu kesehatan pribadi manusia. Udara yang tercemar di lingkungan kerja atau aktivitas dapat menyebabkan timbulnya sakit kepala, mata perih, kelelahan, lekas marah, dan depresi.

(18)

46 Sedangkan menurut Sedarmayanti (2009), ada beberapa faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja fisik, diantaranya:

a. Penerangan/Cahaya

Cahaya atau penerangan sangat besar manfaatnya bagi manusia guna mendapat keselamatan dan kelancaran kerja. Oleh karena itu perlu diperhatikan adanya penerangan atau cahaya yang terang tetapi tidak menyilaukan. Cahaya yang kurang jelas, sehingga pekerjaan akan lambat, banyak mengalami kesalahan, dan pada akhirnya menyebabkan kurang efisien dalam melaksanakan pekerjaan atau aktivitasnya. Pada dasarnya, cahaya dapat dibedakan menjadi empat yaitu:

1. Cahaya langsung

2. Cahaya setengah langsung 3. Cahaya tidak langsung

4. Cahya setengah tidak langsung b. Temperature

Dalam keadaan normal, tiap anggota tubuh manusia mempunyai temperatur berbeda. Tubuh manusia selalau berusaha untuk mempertahankan keadaan normal, dengan suatu system tubuh yang sempurna sehingga dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi diluar tubuh. Tetapi kemampuan untuk menyesuaikan diri tersebut ada batasnya, yaitu bahwa tubuh manusia masih dapat menyesuaikan dirinya dengan temperature luar jika perubahan temperature luar tubuh

(19)

47 tidak lebih dari 20% untuk kondisi panas dan 35% untuk kondisi dingin, dari keadaan normal tubuh manusia.

c. Kelembaban

Kelembaban merupakan banyaknya kandungan air di dalam udara, baisa dinyatakan dalam persentase. Kelembaban ini berhubungan atau dipengaruhi oleh temperature udara, dan secara bersama-sama antara temperature, kelembaban, kecepatan udara bergerak dan radiasi panas dari udara tersebut akan mempengaruhi keadaan tubuh manusia pada saat menerima atau melepaskan panas dari tubuhnya. Suatu keadaan dengan temperature udara sangat panas dan kelembeban tinggi, akan menimbulkan pengurangan panas dari tubuh manusia secara besar-besaran dikarenakan system penguapan. Pengaruh lainnya yaitu, semakin cepat denyut jantung karena makin aktifnya peredaran darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen, dan tubuh manusia selalu berusaha untuk mencapai keseimbangan antar panas tubh dengan suhu disekitarnya.

d. Sirkulasi Udara

Oksigen merupakan gas yang dibutuhkan oleh mahluk hidup untuk menjaga kelangsungan hidup, yaitu untuk proses metabolisme. Udara di sekitar dikatakan kotor apabila kadar oksigen, dalam udara tersebut telah berkurang dan telah bercampur dengan gas atau bau-bauan yang berbahaya bagi kesehatan tubuh. Sumber utama adanya udara segar adalah adanya tanaman di sekitaran tempat kerja atau aktivitas. Tanaman merupakan penghasil oksigen yang dibutuhkan oleh manusia. Dengan

(20)

48 cukupnya oksigen disekitar tempat kerja, ditambah dengan pengaruh secara psikologis akibat adanya tanaman di sekitar tempat kerja, keduanya akan memberikan kesejukan dan kesegaran pada jasmani. Rasa sejuk dan segar selama bekerja atau beraktivitas akan membantu mempercepat pemulihan tubuh akibat lelah setelah kerja.

e. Kebisingan

Salah satu polusi yang cukup menyibukkan para pakar untuk mengatasinya adalah kebisingan, yaitu bunyi yang tidak dikehendaki oleh telinga. Tidak dikehendaki, karena terutama dalam jangka panjang bunyi tersebut dapat mengganggu ketenangan pada saat bekerja, merusak pendengaran, dan menimbulkan kesalahan komunikasi, bahkan menurut penelitian kebisingan yang serius bias menyebabkan kematian. Terdapat tiga aspek yang menentukan kualitas suatu bunyi, yang bias menentukan tingkat gangguan terhadap manusia, yaitu:

1. Lamanya kebisingan 2. Intensitas kebisingan 3. Frekuensi kebisingan

Semakin lama telinga mendengar kebidingan, akan semakin buruk akibatnya, salah satunya pendengaran dapat semakin berkurang.

f. Getaran Mekanis

Getaran mekanis artinya getaran yang ditimbulkan oleh alat mekanis, yang sebagian dari getaran ini sampai ke tubuh manusia dan dapat menimbulkan akibat yang tidak diinginkan. Getaran mekanis pada

(21)

49 umumnya sangat mengganggu tubuh karena keridak teraturannya, baik tidak teratur dalam intensitas maupun frekuensinya. Gangguan terbesar terhadap suatu alat dalam tubuh terdapat apabila frekuensi alam ini beresonasi dengan frekuensi dari getaran mekanis. Secara umum getaran mekanis dapat mengganggu tubuh dalam hal:

1. Konsentrasi

2. Datangnya kelelahan

3. Timbulnya beberapa penyakit, diantaranya gangguan terhadap mata, syaraf, peredaran darah, otot, tulang, dan lain sebagainya.

g. Aroma

Adanya bau tidak sedap di sekitar tempat kerja dapat dianggap sebagai pencemaran, karena dapat mengganggu konsentrasi bekerja, dan bau tidak sedap yang terjadi secara terus menerus dapat mempengaruhi kepekaan penciuman. Pemakaian “air conditioner” yang tepat merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menghilangkan aroma yang mengganggu di sekitar tempat kerja.

h. Tata Warna

Menata warna di tempat kerja perlu dipelajari dan direncanakan dengan sebaik-baiknya. Pada kenyataannya tata warna tidak dapat dipisahkan dengan penataan dekorasi. Hal ini dapat dimaklumi karena warna mempunyai pengaruh besar terhadap perasaan. Sifat dan pengaruh warna kadang-kadang menimbulkan rasa senang, sedih, dan lain sebagainya, karena dalam sifat warna dapat merangsang perasaan manusia.

(22)

50 i. Dekorasi

Dekorasi ada hubungannya dengan tata warna yang baik, karena itu dekorasi tidak hanya berkaitan dengan hasil ruang kerja saja tetapi berkaitan juga dengan cara megatur tata letak, tata warna, perlengkapan, dan lain sebagainya untuk bekerja atau beraktivitas.

j. Musik

Menurut para pakar, musik yang nadanya lembut sesuai dengan suasana, waktu dan tempat dapat membangkitkan dan merangsang manusia untuk bekerja atau beraktivitas. Oleh karena itu lagu-lagu perlu dipilih dengan selektif untuk dikumandangkan di tempat kerja.

k. Keamanan

Guna menjaga tempat dan kondisi lingkungan kerja tetap dalam keadaan aman maka perlu diperhatikan adanya keberadaannya. Salah satu upaya untuk menjaga keamanan di tempat kerja, dapat memanfaatkan tenaga Satuan Petugas Keamanan (SATPAM).

2.1.12 Kenyamanan (Convenience)

Konsep tentang kenyamanan (comfort) menurut Oborne (1995), sangat sulit didefinisikan karena lebih merupakan penilaian responsive individu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nyaman adalah segar; sehat, sedangkan kenyamanan adalah keadaan nyaman; kesegaran; kesejukan.

Kolcaba (2003) menjelaskan bahwa kenyamanan sebagai suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yang bersifat individual dan holistik.

(23)

51 Dengan terpenuhinya kenyamanan dapat menyebabkan perasaan sejahtera pada diri individu tersebut.

Kenyamanan dan perasaan nyaman merupakan penilaian komprehensif seseorang terhadap lingkungannya. Manusia menilai kondisi lingkungan berdasarkan rangsangan yang masuk kedalam dirinya melalui keenam indera melalui syaraf dan dicerna oleh otak untuk dinilai. Dalam hal ini, yang terlibat tidak hanya masalah fisik biologis manusia saja, namun juga perasaan mereka. Seperti suara, cahaya, bau, suhu, dan lain sebagainya rangsangan di tangkap sekaligus, lalu diolah oleh otak dan kemudian otak akan memberikan penilaian relative apaakh kondisi itu nyaman atau tidak bagi manusia.

Sanders & McCormick (1993), menggambarkan konsep kenyamanan bahwa kenyamanan merupakan suatu kondisi perasaan dan sangat bergantung pada orang yang mengalami situasi tersebut. Kita tidak dapat mengetahui tingkat kenyamanan yang dirasakan oleh orang lain secara langsung atau dengan observasi, melainkan harus menanyakan secara langsung pada orang tersebut mengenai seberapa nyaman diri mereka, biasanya dengan menggunakan istilah-istilah seperti agak tidak nyaman, mengganggu, sangat tidak nyaman, atau mengkhawatirkan.

Berdasarkan pada uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kenyamanan merupakan suatu kondisi perasaan dari paling nyaman sampai dengan paling tidak nyaman yang dapat dinilai berdasarkan persepsi masing-masing individu

(24)

52 pada suatu hal yang dimana nyaman pada individu tertentu mungkin berbeda dengan individu yang lainnya.

2.1.13 Aspek dalam Kenyamanan

Menurut Kolcaba (2003), terdapat beberapa aspek kenyamanan yang terdiri dari:

a. Kenyamanan fisik berkenaan dengan sensasi tubuh yang dirasakan oleh individu itu sendiri.

b. Kenyamanan psikospiritual berkenaan dengan kesadaran internal diri, yang meliputi konsep diri, harga diri, makna kehidupan, seksualitas hingga hubungan yang sangat dekat dan lebih tinggi.

c. Kenyamanan lingkungan berkenaan dengan lingkungan, kondisi dan pengaruh dari luar kepada manusia seperti temperature, warna, suhu, pencahayaan, suara, dan lain sebagainya.

d. Kenyamanan sosial kultural berkenaan dengan hubungan interpersonal, keluarga, dan sosial atau masyarakat (keuangan, perawatan kesehatan individu, kegiatan religious, serta tradisi keluarga).

2.1.14 Restoran

Menurut Gregoire (2016), yang mengemukakan berdasarkan tujuan bahwa restoran dibagi menjadi dua pengertian yaitu: Onsite foodservice yang secara operasional menjual makanan hanya untuk mendukung aktifitas utama dan biasanya tergolong non-profit, sedangkan commercial foodservice secara

(25)

53 operasional menjual makanan sebagai prioritas utama dan keuntungan diinginkan.

Menurut Gregoire (2016), komersial restoran terbagi dalam beberapa macam, antara lain:

a. Limited service, limited menu restaurant

Limited service, limited menu restaurant (biasa disebut dengan fast- food/quick-service) menyediakan menu yang terbatas kepada pelanggan dan sering kali pelanggan memesan makanan dan membayar langsung sebelum makan. Jenis restoran seperti ini menargetkan pelanggan yang ingin makan dengan cepat dengan harga yang terjangkau.

b. Full-service restaurant

Full-service restaurant menyediakan meja untuk makan dengan pelayanan. Pelanggan disapa dan dipersilahkan duduk oleh host/hostess dan melayani pemesanan makanan. Pembayaran dilakukan setelah makan.

c. Casual dining restaurant

Casual dining restaurant untuk menarik pelanggan dari ekonomi menengah yang menyukai makan di luar dan tidak menginginkan suasana yang formal dan harga yang mahal. Suasananya sederhana, santai, dan harga terjangkau.

d. Fine dining restaurant

Fine dining restaurant biasanya didekorasi dengan suasana yang elegan, expensive-looking, dan fine cuisine. Restoran akan memberikan pengalaman makan yang memorable.

(26)

54 2.2 Penelitian Terdahulu

Peneliti menggunakan beberapa referensi dan juga telah membaca beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, memiliki hubungan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengenai effect of ergonomic aspects yang mempengaruhi customer’s convenience. Berikut ini adalah tabel daftar penelitiannya:

(27)

55 Tabel 2. 1 Tabel Penelitian Terdahulu

No. Peneliti Publikasi Judul Penelitian Temuan Inti

1. Vincent C. S. Heung, Tianming Gu, (2012)

Elsevier Influence of restaurant atmospherics on patron satisfaction and behavioural

intentions

Hasil dari penelitian ini, untuk mengungkapkan jika atmosfer pada restoran memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan makan pelanggan dan niat perilaku mereka, khususnya niat mereka untuk

kembali ke restoran dan merekomendasikan restoran tersebut kepada orang terdekat mereka.

2. Marc D. Gentzler, Janan A. Smither, (2012)

IOS Press Using Practical Ergonomic Evaluations in The Restaurant Industry to

Enhance Safety and Comfor: a case study

Tujuan dari penelitian ini, adalah untuk menilai resiko cedera dan kecelakaan dari melakukan

berbagai tugas direstoran, khususnya membawa/mengangkat, manajemen meja, dan lainnya. Karena pegawai restoran harus berurusan

dengan suara keras, lingkungan yang sibuk,

(28)

56

No. Peneliti Publikasi Judul Penelitian Temuan Inti

pelanggan yang sulit, serta gangguan-gangguan lainnya yang dapat menyebabkan kecelakaan

terjadi.

3. Yan-Wen Xu, Andy S. K.

Cheng, (2014)

IOS Press An onsite ergonomics assessment for risk of work-

related musculoskeletal disorders among cooks in a

Chinese restaurant

Pada artikel ini menjelaskan presentasi kasus penilaian ergonomic di tempat kerja yang mengenai

faktor risiko gangguan musculoskeletal terkait dengan pekerjaan diantar para koki yang bekerja di

restoran Chinese.

4. Irwansyah, (2019) Waca Cipta Ruang

Tinjauan Antropometri kursi dan meja makan pada

restoran 4 Fingers Crispy Chicken.

Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa kuris dan meja yang digunakan pada restoran 4 fingers

crispy chicken tidak memenuhi standard antropometri dan ergonomic sehingga pelanggan

(29)

57

No. Peneliti Publikasi Judul Penelitian Temuan Inti

merasa tidak nyaman ketika beraktifitas makan di restoran tersebut. Ini disebabkan karena jarak antar

kursi dan meja satu dengan yang lainnya terlalu berdempetan sehingga pelanggan tidak merasa

nyaman pada saat makan di restoran tersebut.

Sumber: Data Olahan Penulis

(30)

58 2.3 Model Penelitian

Berikut ini adalah model yang digunakan oleh peneliti, menggunakan model yang digunakan oleh Christian et al., 2019 sebagai model utama penelitian ini:

Gambar 2. 1 Model Penelitian

Sumber: Herry Christian Palit, Monika Kristanti, & Yoel Wibowo, 2019 Model penelitian dalam penelitian ini diambil dari jurnal internasional Taylor & Francis yang berjudul “The Effect of Ergonomic Aspects on Customers’ Convenience at Restaurant in Surabaya” yang dibuat oleh Herry Christian Palit, Monika Kristanti, & Yoel Wibowo. Jurnal ini sudah di publish kedalam Internasional Journal of Quality Assurance in Hospitality & Tourism pada tahun 2019.

H1: Aspek visual display memiliki pengaruh positif terhadap kenyamanan pelanggan restoran.

H2: Aspek antropometri memiliki pengaruh positif terhadap kenyamanan pelanggan restoran.

(31)

59 H3: Aspek ergonomi lingkungan memiliki pengaruh positif terhadap kenyamanan pelanggan restoran.

Gambar

Gambar 2.  1 Model Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Variabel yang digunakan dalam perhitungan transformasi hujan-debit Tank Model dan GR2M adalah evapotranspirasi bulanan dan curah hujan bulanan wilayah yang disajikan dalam

Pada sistem informasi objek wisata yang ada di Garuda Wisnu Kencana ini bisa lebih bervariasi dengan adanya penambahan informasi dan penambahan menu-menu interaktif

Penulisan tugas akhir ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat mencapai derajat Sarjana Teknik di Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri,

Berdasarkan observasi, objek kajian belum memiliki sertifikasi dari Lembaga Ekolabel Indonesia, sehingga hasil yang dicapai dari kriteria kayu bersertifikat adalah

Hal ini dapat dilihat dari kecocokan hasil analisis komponen utama dengan analisis manual, di mana karakter warna kulit buah masak dan warna ibu tulang daun

(1) Ketentuan perizinan sebagaimana dimaksud pada 43 ayat (7) huruf b merupakan acuan bagi pejabat yang berwenang dalam pemberian izin pemanfaatan ruang

Keputusan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 85/KPTS/BPBD- SS/2017 tentang Status Keadaan Siaga Darurat Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi

Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa konsumsi air kelapa untuk persiapan sebelum dan rehidrasi selama latihan olahraga dapat meningkatkan ketahanan (endurance) dengan