• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sagacious Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Sosial Vol. 6 No. 1 Juli-Desember 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Sagacious Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Sosial Vol. 6 No. 1 Juli-Desember 2019"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN. 2355-8911 www.jurnalsagacious.net 51 MEINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MENULIS SURAT UNDANGAN

PADA TEMA PERISTIWA DALAM KEHIDUPAN DENGAN KOMBINASI MODEL EXAMPLE NON EXAMPLE, NUMBER HEADS TOGETHER (NHT), DAN TALKING

STICK PADA SISWA KELAS 5A SDN PELAMBUAN 2 BANJARMASIN

Ramadi, Muhammad Aliansyah Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Univeristas Lambung Mangkurat, Banjarmasin Kalimatan Selatan ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterlaksanaannya aktivitas guru, peningkatan aktivitas siswa, dan hasil belajar menulis surat undangan dengan menerapkan kombinasi model Example non Example, Number Heads Together (NHT), dan Talking Stick. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan sebanyak 2 siklus (4 kali pertemuan). Subjek penelitian ini melibatkan 17 siswa dan 9 siswi di kelas 5A SDN Pelambuan 2 Banjarmasin tahun ajaran 2018/2019. Hasil penelitiannya yaitu kombinasi model Example non Example, Number Heads Together (NHT), dan Talking Stick dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa

Kata Kunci: menulis surat undangan, example non example, number heads together (NHT), dan talking stick

PENDAHULUAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat begitu pula arus globalisasi yang menyebabkan banyak negara saling berlomba-lomba untuk bisa lebih maju dan unggul dari negara lainnya. Salah satu cara yang ditempuh oleh setiap negara untuk memajukan bangsanya yaitu melalui peningkatan mutu pendidikan karena sebagaimana disebutkan oleh Suriansyah, dkk.

(2014) menyatakan bahwa sumber daya manusia sangat ditentukan oleh proses pendidikan sebagai lembaga penghasil. Ini berarti bahwa pendidikan sangat mempengaruhi SDM suatu negara.

Pendidikan hadir sebagai wadah guna menumbuh kembangkan potensi dan bakat yang ada dalam seorang individu. Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan nasional Republik Indonesia dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 yang berbunyi pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan semua potensi yang dimiliki oleh setiap orang agar dapat menjadi warga negara yang beriman dan bertakwa, memiliki akhlak mulia, sehat secara fisik dan psikis, berilmu pengetahuan, cakap, kreatif, mandiri, serta memiliki sikap demokratis dan bertanggung jawab (Sukardjo & Komarudin, 2015).

Untuk dapat mewujudkan atau merealisasikan pendidikan yang berkualitas

pastinya tidak lepas dari peran dan jasa seorang guru karena menurut Susanto (2016) guru merupakan kunci utama dalam dunia pendidikan dan orang yang berperan penting serta memiliki pengaruh besar pada proses pembelajaran.

Artinya, guru dituntut sebagai seorang yang profesional dalam melaksanakan tugasnya.

Profesionalitas guru disini yaitu harus mampu menciptakan proses pembelajaran yang efektif.

Salah satunya adalah keefektifan dalam menentukan strategi, model, maupun media pada tiap-tiap mata pelajaran.

Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik masing-masing yang berbeda dengan pelajaran lainnya, begitu pula dengan Bahasa Indonesia. Susanto (2016) berpendapat bahwa pendidikan Bahasa Indonesia di SD bertujuan mengembangkan kemampuan bahasa Indonesia peserta didik secara lisan dan tulisan, hal ini sesuai dengan fungsi bahasa itu sendiri yakni sebagai tempat atau wahana untuk berfikir maupun berkomunikasi untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan sosial maupun emosional serta memperluas wawasan pengetahuan.

Salah satu keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menulis. Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang menghasilkan, artinya keterampilan ini dapat menghasilkan subuah karya berupa tulisan. Keterampilan

(2)

52 www.jurnalsagacious.net ISSN. 2355-8911 menulis ini membutuhkan kerajinan maupun

ketekunan dari si penulis. Oleh karena itu, kompetensi menulis itu sering dikembangkan melalui pembelajaran di lembaga pendidikan (Hapip; Khairiah, 2014).

Untuk menggapai tujuan pendidikan nasional tersebut dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, hendaknya proses belajar aktiflah yang harus dilaksanakan selama proses belajar mengajar di kelas yang mana proses pembelajaran harus berpusat kepada siswa sehingga dapat terciptanya keaktifan dan tercapainya tujuan yang hendak dicapai yaitu meningkatnya prestasi atau hasil belajar siswa.

Namun, kenyataan yang penulis temukan di kelas 5A SDN Pelambuan 2 Banjarmasin diketahui bahwa nilai pelajaran Bahasa Indonesia, terutama kompetensi dasar keterampilan menulis surat undangan tahun ajaran 2017/2018 masih banyak yang belum mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan yaitu 75, dari data yang didapat hanya ada 10 orang atau 47,61% dari 21 siswa yang mencapai ketuntasan KKM. Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidaktuntasan tersebut di antaranya yaitu pembelajaran yang hanya berpatokan pada transfer informasi atau pengetahuan semata dari guru ke peserta didik dengan model pembelajaran yang kurang bevariasi, pembelajaran yang kurang menekankan praktik langsung, dan pembelajaran yang kurang menyajikan kegiatan yang dapat menarik minat siswa dalam belajar.

Jika permasalahan tersebut diabaikan, maka tujuan pembelajaran bahkan tujuan pendidikan yang sudah dirancang sulit untuk dicapai dan berdampak buruk terhadap perkembangan potensi belajar yang akhirnya berimbas terhadap hasil atau prestasi belajar siswa. Lemahnya kualitas pembelajaran akan berpengaruh besar terhadap mutu pendidikan di masa depan. Ini dikarenakan hal tersebut dapat mempengaruhi prestasi belajar peserta didik di dalam kelas tersebut, kelas selanjutnya bahkan di jenjang pendidikan yang lebih lanjut berikutnya.

Berdasarkan permasalahan yang sudah disebutkan penulis tadi, maka diperlukan adanya upaya perbaikan dengan melakukan inovasi agar bisa meningkatkan kualitas pembelajaran yang ada. Salah satu tindakan atau upaya yang perlu dilaksanakan yaitu menerapkan model pembelajaran yang mampu membuat semua kemampuan peserta didik terlibat secara maksimal untuk memperoleh pengetahuan,

memupuk aktivitas dan menghasilkan pembelajaran yang bermakna. Dengan demikian, siswa mampu menciptakan aktivitas belajar aktif dan memperoleh peningkatan hasil belajar. Oleh sebab itu penelitian ini menggunakan kombinasi model Example non Example, Number Heads Together (NHT), dan Talking Stick.

Menurut Huda (2014) model Example non Example ialah sebuah model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk menganalisis dua buah gambar yang dapat membuat siwa berpikir jauh lebih mendalam untuk bisa memecahkan suatu persoalan yang ada pada gambar serta dapat melatih keaktifan dan kerjasama siswa dalam kelompok. Jadi dengan model ini siswa akan secara aktif terlibat langsung menggali informasi melalui gambar yang dianalisisnya sehingga pengetahuan tidak semata dari guru ke peserta didik saja.

Kemudian Shoimin (2016)

mengemukakan model pembelajaran Number Heads Together (NHT) setiap peserta didik memiliki peran dan tanggung jawab untuk menunjang kelompoknya mencapai suatu tujuan tertentu sehingga siswa lebih termotivasi untuk belajar. Jadi model ini dapat menambah motivasi siswa dalam belajar dan mengembangkan sikap tanggung jawab pada diri masing-masing siswa serta juga dapat memudahkan peserta didik memahami materi yang disajikan.

Sedangkan Talking Stick ialah suatu model pembelajaran kooperatif yang di dalamnya mengandung unsur permainan dengan bantuan sebuah tongkat. Kelebihan dari model ini adalah dapat melatih atau mencek seberapa siap siswa dalam belajar, membuat siswa menangkap materi dengan cepat serta memacu agar peserta didik lebih giat belajar. Model ini juga dapat membuat suasana belajar menjadi lebih menarik dan menyenangkan yang mana akan berdampak pada peningkatan motivasi dan minat siswa dalam pembelajaran dikelas (Shoimin, 2016).

Apabila ketiga model yang telah disebutkan di atas digabungkan dalam satu pelaksanaan pembelajaran, maka yang akan didapat adalah tercipta suatu kombinasi model (desain pembelajaran) yang saling mendukung satu sama lain sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia materi menulis surat undangan.

Berdasarkan landasan pemikiran yang telah dikemukakan oleh penulis tadi, maka

(3)

ISSN. 2355-8911 www.jurnalsagacious.net 53 dilakukan penelitian tindakan kelas dengan judul

“Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Menulis Surat Undangan pada Tema Peristiwa Dalam Kehidupan dengan Kombinasi Model Example non Example, Number Heads Together (NHT), dan Talking Stick pada Siswa Kelas 5A SDN Pelambuan 2 Banjarmasin”.

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan aktivitas guru, aktivitas siswa dan hasil belajar dalam pembelajaran tematik Peristiwa Dalam Kehidupan materi menulis surat undangan menggunakan kombinasi model Example non Example, Number Heads Together (NHT), dan Talking Stick pada siswa kelas 5A SDN Pelambuan 2 Banjarmasin.

Penelitian ini ditujukan untuk mendukung penelitian sebelumnya yang dilakuan oleh Nismarni (2014), Putri Suyanti, Nurdinah Hanifah dan Dede Tatang Sunarya (2017), Rosiana (2014) telah berhasil meningkatkan aktivitas maupun hasil belajar siswa menggunakan model pembelajaran Example non Example, Number Heads Together (NHT), dan Talking Stick.

METODOLOGI

Kejelasan metodologi akan menentukan hasil yang dicapai (Dalle, 2010). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif dengan jenis penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Prosedur PTK mencakup empat langkah mulai dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pada tahap perencanaan guru membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), membuat Lembar Kerja Siswa (LKS), menyusun alat evaluasi sesuai indikator hasil belajar dan menyiapkan instrumen pengamatan. Pada tahap pelaksanaan yaitu melakukan pembelajaran secara sadar dan penuh variasi sesuai dengan isi rancangan yang telah dibuat. Pada tahap observasi, guru melakukan perekaman data dengan mendokumentasikan atau pengumpulan data yang berupa proses perubahan kinerja Proses Belajar Mengajar (PBM). Sedangkan pada tahap refleksi, guru menganalisis hasil informasi yang telah didapat melalui observasi atau pelaksanaan tindakan.

Penelitian ini dilaksanakan dikelas 5A SDN Pelambuan 2 Banjarmasin semester genap tahun ajaran 2018/2019 yang beralamat di Jln. Stoyo.S Gang Purnawirawan RT 2A No. 64 Banjarmasin. Dengan melibatkan 17 siswa laki-

laki dan 9 siswi perempuan. Peneliti sebagai guru pengumpul dan penafsir data.

Jenis datanya yang dipaparkan pada penelitian ini yaitu kualitatif dan kuantitatif.

Data kualitatif yaitu data yang diuraikan secara deskriptif berupa kata-kata guna menyimpulkan atau mengklasifikasikan, dan data kuantitatif yaitu data yang diuraikan secara naratif dari hasil pengamatan atau dari angka-angka yang diklasifikasikan menjadi kata-kata. Pengamatan dilaksanakan saat pembelajaran berlangsung memakai lembar observasi. Sedangkan data kuantitatif yaitu data yang didapat dari hasil tes tertulis yang dipaparkan dalam angka atau nilai hasil belajar.

Sumber datanya yaitu guru dan siswa kelas 5A SDN Pelambuan 2 Banjarmasin yang didapat dari pengamatan selama pembelajaran dilaksanakan, yang mana semua itu dicatat dan didata menggunakan lembar observasi aktivitas guru dan siswa serta evaluasi hasil belajar setiap akhir pertemuan.

Analisis data kualitatif dilakukan dengan hasil data yang didapat dipaparkan ke dalam bentuk tabel persentasi. Dan analisis data kuantitatif diperoleh berdasarkan aspek yang menjadi penilaian dari hasil belajar siswa. Maka dilakukan observasi dan penilaian bersamaan dan disajikan dalam bentuk tabel.

Aktivitas guru dalam pembelajaran dikategorikan berhasil apabila mencapai skor pada lembar observasi dengan rentang antara 27 – 32 dengan kategori sangat baik. Indikator proses belajar mengajar adalah apabila aktivitas siswa sudah menjadi lebih aktif yakni apabila 80% dari total semua siswa di kelas mencapai rentang skor 21 – 24 dengan kategori sangat aktif. Dan ketuntasan belajar siswa mampu mencapai nilai ≥75 serta ketuntasan klasikal memperoleh ≥80% dari seluruh jumlah siswa mencapai nilai ≥ 75 dengan kategori tuntas.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil data yang didapat setelah melaksanakan penelitian proses pembelajaran dengan menggunakan suatu kombinasi model pembelajaran Example non Example, Number Heads Together (NHT), dan Talking Stick ternyata terjadi peningkatan aktivitas guru, aktivitas siswa dan hasil belajar siswa pada muatan Bahasa Indonesia keterampilan menulis surat undangan di kelas 5A SDN Pelambuan 2 Banjarmsin pada setiap siklusnya. Adapun untuk

(4)

54 www.jurnalsagacious.net ISSN. 2355-8911 kecenderungan hasil observasi aktivitas guru

dapat dilihat melalui tabel berikut:

Tabel 1. Rekapitulasi aktivitas guru

Pertemuan Skor Kriteria

1 22 Baik

2 25 Baik

3 29 Sangat Baik

4 32 Sangat Baik

Berdasarkan tabel 1 aktivitas guru dari setiap pertemuan mengalami peningkatan, ini menandakan bahwa pada setiap kegiatan

pelaksanaan yang dilakukan oleh guru berhasil.

Keberhasilan pencapaian guru ini dikarenakan guru selalu berusaha melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran dengan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Adapun hal-hal yang diperbaiki guru adalah melakukan perbaikan pada aspek-aspek yang masih kurang, sehingga pada pertemuan berikutnya guru mampu melaksanakan proses pembelajaran lebih efektif. Peningkatan pada aktivitas guru juga berdampak pada peningkatan aktiviatas siswa.

Tabel 2. Rekapitulasi aktivitas siswa

Pertemuan

Presentase Presentase

Keaktifan Klasikal Kriteria

KA CA A SA

1 4% 35% 42% 19% 19% Kurang Aktif

2 0% 31% 27% 42% 42% Cukup Aktif

3 0% 8% 27% 65% 65% Aktif

4 0% 0% 15% 85% 85% Sangat Aktif

Dalam penelitian ini aktivitas siswa juga meningkat yang mana saat siklus I pertemuan 1 ketuntasan siswa secara klasikal hanya mencapai 19% dengan kriteria “kurang aktif. Sedangkan pertemuan 2 secara klasikal siswa mencapai 42% dengan kriteria “cukup aktif. Pada pertemuan 3 mencapai 65% dengan kriteria

“aktif” dan meningkat di pertemuan 4 secara klasikal menjadi 85% dengan kategori “sangat aktif”. Penggunaan kombinasi model Example non Example, Number Heads Together (NHT), dan Talking Stick pada muatan Bahasa Indonesia keterampilan menulis surat undangan di kelas 5A telah meningkatkan aktivitas siswa dan hal ini berdampak positif pada hasil belajar siswa. Hal tersebut dapat dilihat melalui tabel dibawah ini:

Tabel 3. Rekapitulasi ketuntasan belajar

Pertemuan Persentase yang tuntas ≥75

Persentase yang tidak tuntas < 75

1 23% 77%

2 46% 54%

3 73% 27%

4 88% 12%

Berdasarkan tabel 3 tersebut, terlihat hasil belajar siswa juga terjadi kenaikan yang mana saat siklus 1 pertemuan 1 jumlah siswa yang tuntas sebanyak 23%, lalu siklus 1 pertemuan 2

hasil belajar siswa yang berhasil tuntas mengalami kenaikan menjadi 46%. Pada siklus 2 pertemuan 1 terjadi kenaikan lagi yakni siswa yang tuntas ialah sebanyak 73% dan terus mengalami kenaikan disiklus 2 pertemuan 2 menjadi 88% siswa yang melampaui nilai KKM.

Gambar 1. Grafik Kecenderungan Seluruh Aspek (Aktivitas Guru, Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa)

Berdasarkan gambar grafik diatas, terlihat kenaikan pada semua aspek seperti aspek aktivitas guru, aktivitas siswa, maupun hasil belajar pada setiap pertemuannya. Hal itu dapat menjadi patokan bahwa adanya keterkaitan antara ketiga aspek tersebut. Selain itu juga dapat dikatakan bahwa apabila aktivitas yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran dapat berjalan secara baik dan sesuai dengan

69.00%

78.00%

91.00%

100%

19.00%

42.00%

65.00%

85%

23.00%

46.00%

73.00%

88%

0.00%

20.00%

40.00%

60.00%

80.00%

100.00%

120.00%

S1 P1 S1 P2 S2 P1 S2 P2

Grafik Kecenderungan Seluruh Aspek

aktivitas guru

aktivitas siswa hasil belajar

(5)

ISSN. 2355-8911 www.jurnalsagacious.net 55 RPP maka akan berdampak pada peningkatan

aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran tersebut. Proses pembelajaran yang diikuti dengan semakin meningkatnya aktivitas siswa memberi pengaruh yang positif kepada hasil belajarnya, yaitu hasil belajar juga dapat mengalami peningkatan pada setiap pembelajaran.

Aktivitas guru saat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan kombinasi model Example non Example, Number Heads Together (NHT), dan Talking Stick yang diterapkan dalam pembelajaran muatan Bahasa Indonesia materi menulis surat undangan mengalami peningkatan setiap pertemuannya disebabkan karena adanya upaya perbaikan setelah mengajar yang selalu dilakukan oleh guru pada pertemuan selanjutnya, seperti guru meningkatkan peran dan orientasinya di kelas dengan lebih memperhatikan setiap siswa secara keseluruhan dan mampu menyampaikan arahan atau orientasi dengan jelas sehingga pada setiap pertemuan, semua proses pembelajaran yang berlangsung dapat berjalan lebih efektif. Semua ini tentunya dapat terjadi dikarenakan setelah kegiatan pembelajaran guru selalu melakukan refleksi diri yang dibantu dari arahan observer sehingga adanya peningkatan kualitas pembelajaran pada setiap tahap dalam kegiatan pembelajaran mulai Siklus 1 hingga ke Siklus 2.

Peningkatan ini dilakukan sebagai upaya mengoptimalkan proses belajar dan memperbaiki kualitas pembelajaran yang bukan hanya dari segi hasil belajar tetapi juga prosesnya yaitu aktivitas siswa karena kesuksesan maupun keprofesionalan seorang guru dalam membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar akan dapat menunjang kesuksesan seorang siswa dalam belajar. Ini sejalan dengan pemikiran Susanto (2016) menyebutkan guru adalah kunci utama dalam pelaksanaan pendidikan terutama dalam hal belajar mengajar dan merupakan ujung anak panah kesuksesan dalam proses pembelajaran.

Sukses atau tidaknya kelangsungan proses belajar di kelas bergantung pada skill atau kemampuan guru yang sangat menentukan.

Guru harus pandai dan profesional untuk dapat membimbing dan mengarahkan siswanya kepada tujuan pembelajaran yang ingin diraih.

Suriansyah, dkk. (2014) menyatakan guru memiliki berbagai peranan diantaranya bukan hanya sekedar panutan bagi seorang siswa, akan

tetapi juga berfungsi sebagai pengolah pembelajaran. Dengan demikian bisa dikatakan berhasil tidaknya pembelajaran di kelas ditentukan oleh kualitas maupun skill atau kemampuan seorang guru. Guru diwajibkan harus bisa mengolah dan mengatur kelas dengan baik agar bisa terbentuk suatu pembelajaran yag kondusif bagi siswa.

Dalam melaksanakan pembelajaran juga dibutuhkan adanya komunikasi dan interaksi yang harus berjalan secara baik antara guru dengan siswa. Karena Susanto (2016) mengatakan salah satu faktor yang dapat membuat siswa bisa berhasil dalam belajar adalah kondisi pada saat pembelajaran berlangsung yang mana ini harus diciptakan guru. kondisi pengajaran yang santai, tentram, adanyanya interaksi antara siswa dengan guru, dan adanya keterlibatan siswa yang seluruhnya aktif tentunya menambah nilai lebih saat proses pengajaran.

Pembelajaran yang berkualitas juga tidak pernah lepas dari peran serta guru untuk memilih model pembelajaran yang mengedepankan dan cocok dengan karakteristik anak, seperti karakteristik yang dikemukakan oleh Suryosubroto (Suriansyah dkk., 2014) bahwa anak SD sering suka membentuk kelompok diantara mereka yang bertujuan untuk bisa bermain secara bersama-sama dalam kelompoknya tersebut. Karena itu sebagai seorang guru tentunya harus pandai menyeimbangkan proses dan kegiatan pembelajaran yang memuat karakteristik tersebut. Guru juga harus mampu menentukan model mana yang cocok dengan materi dan tetap memperhatikan kebutuhan siswa.

Tercapainya aktivitas siswa selama pembelajaran juga tidak luput dari rancangan awal yang dilakukan guru untuk memilih model pembelajaran yang bisa memancing timbulnya keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Pemilihan model pembelajaran kooperatif yang digunakan oleh guru pada kegiatan mengajar ini terbukti dapat melibatkan siswa secara optimal dalam proses pembelajaran. Dan ini diperkuat oleh Parker (Huda, 2014) yang mana memandang bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu strategi untuk bisa membuat siswa aktif selama belajar dan mampu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menarik yang mana para siswa bekerjasama secara aktif di kelompok

(6)

56 www.jurnalsagacious.net ISSN. 2355-8911 masing-masing guna menyelesaikan tugas yang

diberikan.

Sementara itu Roger dan David Johnson (Rusman, 2014) menyatakan ada 5 unsur pada pembelajaran kooperatif, diantaranya adalah partisipasi dan komunikasi (participation communication) yaitu mengajarkan semua siswa untuk bisa berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran.

Ragam model pembelajaran kooperatif sangat bervariasi. Salah satu di antaranya adalah tipe examples non examples. Pemilihan metode pembelajaran ini dilandasi oleh presuposisi bahwa sebagai salah satu pendekatan group investigation, pembelajaran tipe ini dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi dan aktivitas siswa dalam membangun konsep dan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.

Dalam pelaksanaannya metode ini menggunakan contoh-contoh berupa gambar atau peragaan suatu prosedur yang harus dilakukan peserta didik (Lestiawan & Johan, 2018: 99).

Penggunaan metode pembelajaran examples non examples ini lebih menekankan pada kemampuan analisis siswa. Umumnya, metode ini lebih dominan digunakan di kelas tinggi, namun dapat juga digunakan di kelas rendah dengan menekankan aspek psikologis dan tingkat perkembangan siswa kelas rendah seperti: kemampuan berbahasa tulis dan lisan, kemampuan analisis ringan, dan kemampuan berinteraksi dengan siswa lainnya (Habibah, 2016: 57).

Komalasari, dkk (2011:61) berpendapat model pembelajaran kooperatif tipe examples non-examples adalah salah satu model pembelajaran yang membelajarkan kepekaan siswa terhadap permasalahan yang ada disekitarnya melalui analisis contoh-contoh berupa gambar, foto, atau kasus yang bermuatan masalah.

Eko (2011) menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe examples non- examples merupakan model pembelajaran dengan menggunakan media gambar dalam penyampaian materi pembelajaran yang bertujuan mendorong siswa untuk belajar berpikir kritis dengan cara memecahkan permasalahan-permasalahan yang terkandung dalam contoh-contoh gambar yang disajikan.

Aji & Sary (2018) dalam hasil penelitiannya yang menyebutkan bahwa terdapat keefektifan model Example Non Example terhadap hasil

belajar siswa. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Examples Non Examples adalah model belajar yang menggunakan contoh-contoh (contoh dan bukan contoh). Contoh-contoh dapat diperoleh dari kasus/gambar yang relevan dengan kompetensi dasar (Utri A, 2010:21).

Hasil penelitian Wardika, dkk. (2014) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara model examples non examples terhadap hasil belajar siswa.

Adapun Kagan (2012; Ibrahim, dkk., 2000:28) menyebutkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan, dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.

Pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) dikembangkan oleh Spencer Kagen untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam satu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Sebagai gantinya mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas. Siswa lebih banyak dilibatkan dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan menguji pemahaman mereka terhadap isi pelajaran, selain itu model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dapat digunakan untuk meningkatkan penguasaan akademik. (Nurhadi, dkk., 2004:66).

Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together yaitu; Setiap siswa menjadi siap semua, siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguhsungguh, siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai. Sedangkan kelemahan dari model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together yaitu; Kemungkinan nomor yang sudah dipanggil pendidik akan dipanggil lagi dan tidak semua kelompok dipanggil oleh pendidik (Hamdani, 2011: 90).

Karakteristik pembelajaran kooperatif tipe Numbered heads Together (NHT) yaitu;

Kelompok bersifat heterogen, setiap anggota kelompok memiliki nomor kepala yang berbeda-

(7)

ISSN. 2355-8911 www.jurnalsagacious.net 57 beda dan berpikir bersama (Heads Together)

(Yulia, 2012).

Arsini, dkk. (2015) menyatakan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. sejalan dengan Kholis (2017) yang menyebutkan pengimplementasian model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together pada pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar.

Yanti, dkk. (2016) menyebutkan bahwa pada saat guru memberikan pertanyaan semua siswa aktif angkat tangan dan mau berbicara untuk mengemukakan pendapat. Dalam proses pembelajaran semua siswa berantusias dan memiliki semangat untuk mengikuti kegiatan belajar, sehingga terlihat semua siswa aktif untuk mengikuti pembelajaran yang berlangsung.

Adapun menurut Jefri & Junaidi. (2019) secara keseluruhan partisipasi belajar siswa meningkat dengan menggunakan model talking stick. Model Talking Stick juga dirancang untuk membantu memupuk rasa percaya diri siswa, rasa tanggung jawab dan memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat di depan umum.

Model pembelajaran talking stick merupakan model pembelajaran yang menggunakan alat bantu tongkat dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan (Ramadhan, 2010). Model pembelajaran talking stick adalah model pembelajaran yag digunakan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan (Ode, 2010).

Adapun sintaks dari model pembelajaran Talking Stick menurut Suyatno (2009:71) yaitu (1) menyajikan informasi materi secara umum, (2) membentuk kelompok, (3) pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok, (4) bekerja kelompok, (5) tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain, (6) kelompok lain menjawab secara bergantian, (7) menyimpulkan materi yang telah dipelajari, dan (8) refleksi serta evaluasi yang dilakukan di akhir kegiatan pembelajaran.

Sadirman (2011:97) menyatakan bahwa, dalam kegiatan belajar, siswa harus aktif

berbuat, dengan kata lain bahwa dalam proses belajar sangat diperlukan adanya aktivitas.

Atas dasar itulah pembelajaran kooperatif tipe Example non Example, Number Heads Together (NHT), dan Talking Stick digunakan agar dapat membantu guru untuk dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar.

Hasil belajar merupakan hasil atau sesuatu yang diperoleh setelah dilaksanakannya semua kegiatan pembelajaran. Hasil belajar ini bisa dilihat dan diukur karena merupakan jenjang keberhasilaan sampai mana kemampuan siswa dalam menangkap materi yang sudah diajarkan di sekolah dan biasanya dinyatakan dalam skor yang didapat dari hasil tes yang diberikan diakhir pembelajaran (Susanto, 2016).

Rusman (2014) mengemukakan bahwa terjadinya peningkatan pada prestasi belajar siswa dikarenakan guru terampil dalam menyampaikan materi pembelajaran, bukan hanya dengan ceramah tetapi guru juga menggunakan kombinasi diskusi kelompok yang digunakan sebagai wadah mendapatkan informasi dan pengetahuan melalui komunikasi seperti saling tukar pendapat, dan disini guru hanya mengarahkan, membimbing dan menjaga agar pembahasan tidak keluar daari materi pada saat pembelajaran berlangsung.

Peningkatan hasil belajar ini disebabkan adanya diskusi kelompok secara kooperatif siswa dilatih untuk bisa mengemukakan pendapatnya dan berbagi dengan teman sebayanya, sejalan dengan pendapat itu maka menurut Suriansyah, dkk. (2014) berpendapat bahwa dua alasan mengapa pembelajaran kooperatif sangat dianjurkan untuk dipakai atau digunakan dalam pembelajaran yaitu: pertama, beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat menaikan prestasi belajar siswa, meningkatkan kemampuan hubungan sosial, memunculkan sikap baik diantaranya menyadari kekurangan diri dan menerima pendapat orang lain, serta bisa meningkatkan harga diri. Kedua, pembalajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam berpikir, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan.

Keberhasilan dalam meningkatkan hasil belajar siswa juga dikarenakan lebih menekankan pada belajar proses yang dilakukan oleh guru dalam setiap pertemuan. Belajar proses ini ternyata mampu memberikan hasil

(8)

58 www.jurnalsagacious.net ISSN. 2355-8911 yang positif dalam penelitian yang dilakukan.

Hal ini sesuai dengan pendapat Suriansyah, dkk (2014) yang menjelaskan pembelajaran hendaknya berlangsung dengan lebih menekankan peserta didik belajar melalui proses (learning by process), bukan belajar berdasarkan hasil/produk (learning product).

Dengan menggunakan kombinasi model yang tepat maka tentunya akan mendapatkan hasil yang baik pula. Hal ini tentu sangat berperngaruh dan saling berkaitan, dimana saat aktivitas guru dan aktivitas siswa semakin baik disetiap pertemuannya, maka hasil belajar juga mengalami peningkatan.

SIMPULAN DAN SARAN

Dari semua pemaparan hasil penelitian beserta pembahasan sebagaimana diungkapkan di atas, secara umum dapat dikatakan penerapan pembelajaran menggunakan kombinasi model Example non Example, Number Heads Together (NHT), dan Talking Stick dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas 5A SDN Pelambuan 2 Banjarmasin.

Secara khusus hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan pembelajaran menggunakan kombinasi model Example non Example, Number Heads Together (NHT), dan Talking Stick menghasilkan desain model pembelajaran yang baik dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Peningkatan aktivitas guru ternyata berdampak pada meningkatnya akivitas siswa dalam proses pembelajaran dan juga berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa. Ini semua dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil belajar dari pertemuan 1 sampai pertemuan 4 ketuntasan klasikalnya mencapai 88%.

Penelitian dengan menerapkan pembelajaran menggunakan kombinasi model Example non Example, Number Heads Together (NHT), dan Talking Stick pada mata pelajaran Bahasa Indonesia keterampilan menulis surat undangan di SDN Pelambuan 2 Banjarmasin ini dapat dikatakan berhasil dan mampu mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan sebelumnya yaitu, mencapai persentase klasikal

≥80%.

Saran peneliti sampaikan kepada guru agar nantinya model pembelajaran ini dapat dilaksanakan dalam proses pembelajaran, dan kepala sekolah dapat digunakan untuk

membimbing para guru dan melakuakn supervisi. Kemudian bagi peneliti lain, semoga bisa dijadikan bahan referensi.

DAFTAR RUJUKAN

Aji, G. W. & Sary,R. M. (2018). Keefektifan Model Example Non-Example Berbantu Media Visetaterhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Sekolah Dasar. MALIH PEDDAS, Volume 8 Nomor 1, h. 88-97.

Arsini, Ni N., Parmiti, D. P., & Sumantri, Made.

(2015). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) Terhadap Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV Semester II SD Gugus VI Kecamatan Kintamanitahun Pelajaran 2014/2015. e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD. Vol. 3 No. 1 h. 1-10.

Dalle, J. (2010). Metodologi Umum Penyelidikan Reka Bentuk Bertokok Penilaian Dalaman dan Luaran: Kajian Kes Sistem Pendaftaran Siswa Indonesia.

Thesis Ph.D Universiti Utara Malaysia.

Eko, R. (2011). Model Pembelajaran Example Non-Example.

http://raseko.blogspot.com/2011/05/model pembelajaran-example-nonexample.html.

Habibah, Syarifah. (2016). Penggunaan Model Pembelajaran Examples Non Examples Terhadap Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Tokoh-Tokoh Pergerakan Nasional Kelas V SDN 70 Banda Aceh.

Jurnal Pesona Dasar 3, no. 4 h. 54–64.

Hamdani. (2011). Strategi Belajar Mengajar.

Bandung: CV. Pustaka Seria.

Huda, M. (2014). Model-model Pembelajaran.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ibrahim, M., dkk. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA.

Jefri & Junaidi. (2019). Penerapan Model Talking Stick Untuk Meningkatkan Partisipasi Belajar Siswa Pada Pembelajaran Sosiologi Kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Bukittinggi 2019. Jurnal Perspektif: Jurnal Kajian Sosiologi dan Pendidikan Vol. 2, No. 3, h. 125-132.

Kagan. (2012). Model Pemblajaran Kooperatif

tipe NHT.

http://mi1kelayu.blogspot.com/2012/06/m odel-pembelajaran-kooperatif-tipen.html.

Khairiah, D. (2014). Meningkatkan Hasil Belajar Menulis Puisi Bebas dengan Pendekatan Contextual Teaching and

(9)

ISSN. 2355-8911 www.jurnalsagacious.net 59 Learning mealui metode Inquiri Siswa

Kelas V SDN Telaa Biru 8 Kecamatan Banjarmasin Barat. Skripsi tidak diterbitkan. Banjarmasin: PGSD Universitas Lambung Mangkurat.

Kholis, N. (2017). Penggunaan Model Pembelajaran Numbered Head Together Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa.

Iqra’ (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan).

Vol. 2. No.1, pp. 69-88.

Komalasari, K., dkk. (2011). Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi.

Bandung: PT Refika Aditama.

Lestiawan, F. & Johan, A. B. (2018). Penerapan Metode Pembelajaran Example NonExample Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Dasar-Dasar Pemesinan. Jurnal Taman Vokasi 6, no. 1 h. 98–106.

Nismarni. (2014). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas IVA SD Negeri 78 Pekanbaru Kecamatan Tenayan Raya.

Jurnal Primary Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau , 32-46.

Nurhadi, dkk. (2004). Pembelajaran Konstektual (Contextual Teaching and Learnin/CTL) dan Penerapannya dalam KBK Malang:

Universitas Negeri Malang.

Ode, Deden M. LA. (2010). Metode Talking Stick dan Hasil Belajar IPA kelas IV SD.

http://dedenbinlaode.blogspot.com/2 012/11metode-talking-stick-danhasil- belajar.html.

Ramadhan, Tarmizi. (2010). Metode Talking

Stick. http:// tarmizi

ramadhan.wordpress.com/2010/02/15/talk ingstick/.

Rosiana. (2014). Peningkatan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Metode Talking Stick dalam Pembelajaran PKn di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Tanjungpura Pontianak .

Rusman. (2014). Model-model Pembelajaran.

Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Sadirman, A. M. (2011). Interaksi Dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.

Shoimin, A. (2016). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013.

Yogyakarta: Ar-ruzz Media.

Sukardjo, & Komarudin, U. (2015). Landasan Pendidikan. Depok: Rajawali Pers.

Suriansyah, A., Aslamiah, & Sulaiman. (2014).

Strategi Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Susanto, A. (2016). Teori Belajar Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Suyanti, P., Hanifah, N., & Sunarya, D. T.

(2017). Penerapan Model Pembelajaran Example non Example pada Materi Tokoh-Tokoh Sejarah Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V SDN Gunungsari. Jurnal Pena Ilmiah , 2051-2060.

Suyatno. (2009). Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoharjo: Masmedia Buana Pustaka.

Utri A. (2010). Penerapan Model Pembelajaran Example Non Example untuk Meningkatkan Hasil dan Aktivitas Belajar Siswa di SMP N 6 Seluma. Bengkulu:

Universitas Bengkulu.

Wardika, Km. Sulastri, Md. & Dibia, Kt. (2014).

Pengaruh Model Examples Non Examples Terhadap Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas V SD di Gugus III Kecamatan Tampaksiring. Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD. Vol. 2 No. 1 h. 1-10.

Yanti, K. D., Parmiti, D. P., & Suwatra, Ignatius I W. (2016). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) Terhadap Hasil Belajar IPA. e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD. Vol.

4 No. 1 h. 1-10.

Yulia, M. (2012). Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered heads

Together (NHT)

http://mi1kelayu.blogspot.com/2012/06/m odel-pembelajarankooperatif-tipe-n.html.

Gambar

Tabel 3. Rekapitulasi ketuntasan belajar

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Alfred R. Lateiner dalam Imam Soejono,umumnya disiplin kerja karyawan dapat diukur dari karyawan,1.Para pagawai datang ke kantor dengan tertib, tepat waktu

Tiada kata dapat terucap selain ucapan Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa memberi kasih sayang dan karunia –Nya utamanya atas nikmat

Puji dan syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat, rahmat dan perlindungan-NYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul

Hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada kepala sekolah menunjukkan bahwa salah satu wujud kearifan lokal yang diterapkan di MIS Az Zuhri adalah seni Da’i

kegiatan pembangunan dalam lingkup wilayah Kabupaten Probolinggo yang. masih

Perkebunan Nusantara VIII (Persero) merupakan suatu tempat yang memproduksi daun teh yang siap untuk dikonsumsi, dimana dalam proses produksi nya terbagi dalam beberapa departemen

Berbeda dengan penelitian oleh Saleh, Rachmad dan Susilowati (2004), Hilmi dan Ali (2008), Renata (2011) dan Awalludin (2011) menyatakan bahwa ukuran perusahaan

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sidoarjo mempunyai tugas membantu Bupati dalam melaksanakan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan yang menjadi