• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERITA DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BERITA DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BERITA DAERAH

KOTA TANGERANG SELATAN

No.65,2018 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN.

Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian.

PROVINSI BANTEN

PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 65 TAHUN 2018

TENTANG

JABATAN FUNGSIONAL ANALIS KEPEGAWAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA TANGERANG SELATAN,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan pemerintahan daerah dibutuhkan rumpun jabatan fungsional analis kepegawaian yang bertanggung jawab penuh di bidang analis kepegawaian;

b. bahwa dibutuhkan pengembangan dan pembinaan jabatan fungsional analis kepegawaian agar menghasilkan pejabat fungsional analis kepegawaian yang kompeten dan profesional;

c. bahwa diperlukan pengaturan mengenai jabatan fungsional analis kepegawaian sebagai pedoman dalam pengangkatan, pemberhentian, dan pengangkatan kembali jabatan analis kepegawaian;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu menetapkan Peraturan Walikota tentang Jabatan Fungsional Analis kepegawaian;

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan Di Provinsi Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 188, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4935);

(2)

3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494);

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6037);

6. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur

Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor PER/36/M.PAN/2006 tentang Jabatan

Fungsional Analis Kepegawaian dan Angka Kreditnya

sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/14/M.PAN/2008 tentang Perubahan

Atas Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor PER/36/M.PAN/2006 tentang Jabatan

Fungsional Analis Kepegawaian dan Angka Kreditnya (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 1342);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA TENTANG JABATAN FUNGSIONAL ANALIS KEPEGAWAIAN.

(3)

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Walikota ini yang dimaksud dengan:

1. Daerah adalah Kota Tangerang Selatan.

2. Walikota adalah Walikota Tangerang Selatan.

3. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Kota Tangerang Selatan.

4. Perangkat Daerah adalah unsur pembantu Walikota dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah.

5. Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PNS adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai Aparatur Sipil Negara secara tetap oleh pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan.

6. Badan Kepegawaian, Pendidikan, dan Pelatihan yang selanjutnya disingkat BKPP adalah Perangkat daerah yang membidangi urusan kepegawaian, pendidikan dan pelatihan di Kota Tangerang Selatan.

7. Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak seorang PNS dalam suatu satuan organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian dan/atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri di bidang Analis kepegawaian.

8. Instansi Pembina Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian yang selanjutnya disebut Instansi Pembina adalah Badan Kepegawaian Negara.

9. Pejabat Fungsional Analis Kepegawaian yang selanjutnya disebut Analis Kepegawaian adalah PNS yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh Kepala BKPP untuk melakukan kegiatan manajemen PNS dan pengembangan sistem manajemen PNS.

10. Analis Kepegawaian Keterampilan adalah Analis Kepegawaian yang dalam pelaksanaan pekerjaannya menggunakan prosedur dan teknik kerja tertentu.

11. Analis Kepegawaian Keahlian adalah Analis Kepegawaian yang dalam pelaksanaan pekerjaannya didasarkan atas disiplin ilmu pengetahuan, metodologi, dan teknik analisis tertentu.

12. Angka Kredit adalah suatu angka yang diberikan berdasarkan penilaian atas prestasi yang telah dicapai oleh seorang Analis Kepegawaian dalam mengerjakan butir kegiatan yang digunakan sebagai salah satu syarat untuk pengangkatan dan kenaikan pangkat dalam jabatan fungsional Analis Kepegawaian.

(4)

13. Angka Kredit Kumulatif adalah akumulasi nilai Angka Kredit minimal yang harus dicapai oleh Analis Kepegawaian.

14. Penilaian adalah penentuan derajat kualitas berdasarkan kriteria atau tolok ukur yang ditetapkan.

15. Tim Penilai Angka Kredit Pusat yang selanjutnya disebut Tim Penilai Pusat adalah tim yang bertugas menilai prestasi kerja Analis Kepegawaian yang dibentuk dan ditetapkan di tingkat pusat.

16. Tim Penilai Angka Kredit Provinsi yang selanjutnya disebut Tim Penilai Provinsi adalah tim yang bertugas menilai prestasi kerja Analis Kepegawaian yang dibentuk dan ditetapkan di tingkat provinsi.

17. Tim Penilai Angka Kredit Daerah yang selanjutnya disebut Tim Penilai Daerah adalah tim yang bertugas menilai prestasi kerja Analis Kepegawaian yang dibentuk dan ditetapkan di tingkat Daerah.

18. Tim Penilai Angka Kredit Kabupaten/Kota yang selanjutnya disebut Tim Penilai Kabupaten/Kota adalah tim yang bertugas menilai prestasi kerja Analis Kepegawaian yang dibentuk dan ditetapkan di Kabupaten/Kota terdekat.

19. Formasi adalah jumlah dan susunan pangkat PNS yang diperlukan dalam suatu Perangkat Daerah untuk mampu melaksanakan tugas pokok dalam jangka waktu tertentu.

BAB II

KEDUDUKAN, TUGAS, DAN RINCIAN KEGIATAN Bagian Kesatu

Kedudukan Pasal 2

(1) Analis Kepegawaian berkedudukan sebagai pelaksana teknis fungsional di bidang Analis Kepegawaian pada Perangkat Daerah.

(2) Analis Kepegawaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggungjawab kepada Kepala Seksi, Kepala Bidang, atau Kepala Perangkat Daerah disesuaikan dengan jenjang jabatan fungsional Analis Kepegawaian.

Bagian Kedua Tugas Pasal 3

Analis Kepegawaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 bertugas:

a. melakukan kegiatan manajemen PNS; dan b. pengembangan sistem manajemen PNS

(5)

Bagian Ketiga Rincian Kegiatan

Pasal 4

Rincian Kegiatan Analis Kepegawaian terdiri atas kegiatan:

a. utama; dan b. penunjang.

Pasal 5

(1) Kegiatan utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a terdiri atas:

a. pendidikan;

b. manajemen PNS;

c. pengembangan sistem manajemen PNS; dan d. pengembangan profesi.

(2) Kegiatan penunjang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b merupakan kegiatan yang mendukung pelaksanaan tugas Analis Kepegawaian.

(3) Rincian kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB III

JENJANG JABATAN, PANGKAT, GOLONGAN RUANG, DAN ANGKA KREDIT KUMULATIF

Bagian Kesatu Umum Pasal 6

Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian terdiri atas:

a. Analis Kepegawaian Keterampilan; dan b. Analis Kepegawaian Keahlian.

Bagian Kedua Jenjang Jabatan

Pasal 7

Jenjang Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian Keterampilan yang ada di Daerah terdiri atas:

a. Analis Kepegawaian Pelaksana;

b. Analis Kepegawaian Pelaksana Lanjutan; dan c. Analis Kepegawaian Penyelia.

(6)

Pasal 8

Jenjang Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian Keahlian yang ada di Daerah terdiri atas:

a. Analis Kepegawaian Pertama;

b. Analis Kepegawaian Muda; dan c. Analis Kepegawaian Madya.

Bagian Ketiga

Pangkat dan Golongan Ruang Pasal 9

Pangkat dan Golongan Ruang Analis Kepegawaian Pelaksana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf a, terdiri atas:

a. Pengatur dengan Golongan Ruang II/c; dan b. Pengatur Tingkat I dengan Golongan Ruang II/d.

Pasal 10

Pangkat dan Golongan Ruang Analis Kepegawaian Pelaksana Lanjutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b, terdiri atas:

a. Penata Muda dengan Golongan Ruang III/a; dan b. Penata Muda Tingkat I dengan Golongan Ruang III/b.

Pasal 11

Pangkat dan Golongan Ruang Analis Kepegawaian Penyelia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf c, terdiri atas:

a. Penata dengan Golongan Ruang III/c; dan b. Penata Tingkat I dengan Golongan Ruang III/d.

Pasal 12

Pangkat dan Golongan Ruang Analis Kepegawaian Pertama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a, terdiri atas:

a. Penata Muda dengan Golongan Ruang III/a; dan b. Penata Muda Tingkat I dengan Golongan Ruang III/b

Pasal 13

Pangkat dan Golongan Ruang Analis Kepegawaian Muda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf b, terdiri atas:

a. Penata dengan Golongan Ruang III/c; dan b. Penata Tingkat I dengan Golongan Ruang III/d.

(7)

Pasal 14

Pangkat dan Golongan Ruang Analis Kepegawaian Madya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf c, terdiri atas:

a. Pembina dengan Golongan Ruang IV/a;

b. Pembina Tingkat I dengan Golongan Ruang IV/b; dan c. Pembina Utama Muda dengan Golongan Ruang IV/c.

Bagian Keempat Angka Kredit Kumulatif

Pasal 15

Angka Kredit Kumulatif Analis Kepegawaian Keterampilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 sampai dengan Pasal 11 terdiri atas:

a. Analis Kepegawaian Pelaksana dengan Golongan Ruang II/c dengan Angka Kredit Kumulatif paling kurang sebesar 60 (enam puluh);

b. Analis Kepegawaian Pelaksana dengan Golongan Ruang II/d dengan Angka Kredit Kumulatif paling kurang sebesar 80 (delapan puluh);

c. Analis Kepegawaian Pelaksana Lanjutan dengan Golongan Ruang III/a dengan Angka Kredit Kumulatif paling kurang sebesar 100 (seratus);

d. Analis Kepegawaian Pelaksana Lanjutan dengan Golongan Ruang III/b dengan Angka Kredit Kumulatif paling kurang sebesar 150 (seratus lima puluh);

e. Analis Kepegawaian Penyelia dengan Golongan Ruang III/c dengan Angka Kredit Kumulatif paling kurang sebesar 200 (dua ratus); dan

f. Analis Kepegawaian Penyelia dengan Golongan Ruang III/d dengan Angka Kredit Kumulatif paling kurang sebesar 300 (tiga ratus).

Pasal 16

Angka Kredit Kumulatif Analis Kepegawaian Keahlian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 sampai dengan Pasal 14 terdiri atas:

a. Analis Kepegawaian Pertama dengan Golongan Ruang III/a dengan Angka Kredit Kumulatif paling kurang sebesar 100 (seratus);

b. Analis Kepegawaian Pertama dengan Golongan Ruang III/b dengan Angka Kredit Kumulatif paling kurang sebesar 150 (seratus lima puluh);

c. Analis Kepegawaian Muda dengan Golongan Ruang III/c dengan Angka Kredit Kumulatif paling kurang sebesar 200 (dua ratus);

d. Analis Kepegawaian Muda dengan Golongan Ruang III/d dengan Angka Kredit Kumulatif paling kurang sebesar 300 (tiga ratus);

(8)

e. Analis Kepegawaian Madya dengan Golongan Ruang IV/a dengan Angka Kredit Kumulatif paling kurang sebesar 400 (empat ratus);

f. Analis Kepegawaian Madya dengan Golongan Ruang IV/b dengan Angka Kredit Kumulatif paling kurang sebesar 550 (lima ratus lima puluh); dan g. Analis Kepegawaian Madya dengan Golongan Ruang IV/c dengan Angka

Kredit Kumulatif paling kurang sebesar 700 (tujuh ratus).

BAB IV PENGANGKATAN

Bagian Kesatu Umum Pasal 17

Pengangkatan PNS sebagai Analis Kepegawaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dilaksanakan melalui pengangkatan:

a. pertama;

b. perpindahan dari jabatan lain; atau c. penyesuaian.

Bagian Kedua Pengangkatan Pertama

Pasal 18

Pengangkatan dalam Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian Keterampilan

melalui pengangkatan pertama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf a harus memenuhi persyaratan antara lain:

a. berstatus PNS;

b. memiliki integritas dan moralitas yang baik;

c. sehat jasmani dan rohani;

d. berijazah paling rendah Strata Satu atau Diploma III sesuai dengan kualifikasi yang ditentukan;

e. mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan fungsional Analis Kepegawaian Keterampilan; dan

f. nilai prestasi kerja paling sedikit bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir.

Pasal 19

Pengangkatan dalam Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian Keahlian

melalui pengangkatan pertama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf a harus memenuhi persyaratan antara lain:

a. berstatus PNS;

b. memiliki integritas dan moralitas yang baik;

c. sehat jasmani dan rohani;

(9)

d. berijazah paling rendah Strata Satu atau Diploma IV sesuai dengan kualifikasi yang ditentukan;

e. mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan fungsional Analis Kepegawaian Keahlian; dan

f. nilai prestasi kerja paling sedikit bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir.

Bagian Ketiga

Pengangkatan Melalui Perpindahan dari Jabatan Lain Pasal 20

Pengangkatan PNS dalam Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian Keterampilan dan Analis Kepegawaian Keahlian melalui perpindahan dari jabatan lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf b harus memenuhi persyaratan antara lain:

a. memenuhi syarat pengangkatan pertama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 dan Pasal 19;

b. memiliki pengalaman dalam kegiatan Manajemen PNS atau pengembangan sistem Manajemen PNS paling singkat 2 (dua) tahun; dan c. berusia paling tinggi:

1. 53 (lima puluh tiga) tahun untuk Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian Keterampilan, Analis Kepegawaian Pertama, dan Analis Kepegawaian Muda; dan

2. 55 (lima puluh lima) tahun untuk Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian Madya.

Bagian Keempat

Pengangkatan Melalui Penyesuaian Pasal 21

Pengangkatan dalam Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian Keterampilan melalui penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf c harus memenuhi persyaratan antara lain:

a. berijazah paling rendah Sekolah Menengah Umum atau yang sederajat;

b. memiliki pengalaman di bidang manajemen PNS paling singkat 2 (dua) tahun secara kumulatif sebelum diangkat menjadi Analis Kepegawaian;

c. memiliki Pangkat paling rendah Pengatur dengan Golongan Ruang II/c;

d. usia paling tinggi 56 (lima puluh enam) tahun;

e. unsur penilaian prestasi kerja paling rendah bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir;

f. telah mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan fungsional Analis Kepegawaian Keterampilan; dan

g. syarat lain yang ditetapkan oleh menteri.

(10)

Pasal 22

Pengangkatan dalam Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian Keahlian melalui penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf c harus memenuhi persyaratan antara lain:

a. berijazah paling rendah Strata Satu atau Diploma IV;

b. memiliki pengalaman di bidang manajemen PNS paling singkat 2 (dua) tahun secara kumulatif sebelum diangkat menjadi Analis Kepegawaian;

c. memiliki Pangkat paling rendah Penata Muda dengan Golongan Ruang III/a;

d. usia paling tinggi:

1. 56 tahun (lima puluh enam) tahun untuk Analis Kepegawaian Ahli Pertama dan Ahli muda

2. 58 tahun (lima puluh delapan) tahun untuk Analis Kepegawaian Ahli Madya

e. setiap unsur penilaian prestasi kerja paling rendah bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir;

f. telah mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan fungsional Analis Kepegawaian Keahlian; dan

g. syarat lain yang ditetapkan oleh menteri.

Bagian Kelima

Tata Cara Pengangkatan Pasal 23

(1) Kepala Perangkat Daerah mengusulkan PNS yang telah memenuhi syarat untuk diangkat dalam Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 sampai dengan Pasal 22 kepada Walikota melalui Kepala BKPP.

(2) Usulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disertai dengan rekomendasi dari Instansi Pembina.

(3) Pengangkatan Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian ditetapkan oleh Walikota.

Pasal 24

(1) Pengangkatan PNS dalam Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 dilakukan berdasarkan Formasi kebutuhan Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian.

(2) Formasi Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Walikota.

(11)

BAB V

PEMBEBASAN SEMENTARA, PENGANGKATAN KEMBALI, DAN PEMBERHENTIAN

Bagian Kesatu Pembebasan Sementara

Pasal 25

Analis Kepegawaian dibebaskan sementara dari jabatannya, apabila:

a. dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak dalam pangkat dan/atau jabatan terakhir tidak dapat mengumpulkan Angka Kredit yang ditentukan untuk kenaikan pangkat dan/atau jabatan setingkat lebih tinggi dari jabatan Analis Kepegawaian Pelaksana, pangkat Pengatur dengan Golongan Ruang II/c sampai dengan Analis Kepegawaian Penyelia, pangkat Penata Tingkat I dengan Golongan Ruang III/d;

b. dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak dalam pangkat dan/atau jabatan terakhir tidak dapat mengumpulkan Angka Kredit yang ditentukan untuk kenaikan pangkat dan/atau jabatan setingkat lebih tinggi dari jabatan Analis Kepegawaian Pertama, pangkat Penata Muda dengan Golongan Ruang III/a sampai dengan Analis Kepegawaian Madya, pangkat Pembina Utama Muda dengan Golongan Ruang IV/c;

c. ditugaskan secara penuh di luar jabatan Analis Kepegawaian;

d. tugas belajar lebih dari 6 (enam) bulan;

e. menjalani cuti di luar tanggungan negara; atau f. diberhentikan sementara sebagai PNS.

Bagian Kedua Pengangkatan Kembali

Pasal 26

(1) Analis Kepegawaian yang menjalani pembebasan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf a dan huruf b dan telah memenuhi Angka Kredit yang disyaratkan paling lama 1 (satu) tahun dapat diangkat kembali pada jabatan semula.

(2) Analis Kepegawaian yang telah selesai menjalani pembebasan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf c sampai dengan huruf f dapat diangkat kembali pada jabatan semula dengan menggunakan Angka Kredit terakhir yang dimiliki.

(3) Analis Kepegawaian yang telah selesai menjalani pembebasan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), dapat diangkat kembali pada jabatan semula apabila tersedia lowongan jabatan.

(12)

Bagian Ketiga Pemberhentian

Pasal 27

PNS diberhentikan dari Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian karena antara lain:

a. mengundurkan diri dari Jabatan; dan/atau

b. dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak dibebaskan sementara dari jabatannya tidak dapat mengumpulkan Angka Kredit yang ditentukan.

Bagian Keempat

Tata Cara Pembebasan Sementara, Pengangkatan Kembali, dan Pemberhentian

Pasal 28

(1) Pembebasan sementara, pengangkatan kembali, dan pemberhentian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 sampai dengan Pasal 27 diusulkan oleh Kepala BKPP untuk ditetapkan oleh Walikota.

(2) Tata cara pembebasan sementara, pengangkatan kembali, dan pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB VI

PENILAIAN DAN PENETAPAN ANGKA KREDIT Bagian Kesatu

Penilaian Angka Kredit Pasal 29

(1) Penilaian Angka Kredit Analis Kepegawaian keterampilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Analis Kepegawaian keahlian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dilaksanakan oleh Tim Penilai Daerah.

(2) Dalam hal Tim Penilai Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum dibentuk, maka penilaian Angka Kredit Analis Kepegawaian dilaksanakan oleh Tim Penilai Pusat.

Pasal 30

Syarat pengangkatan untuk anggota Tim Penilai Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) antara lain:

a. menduduki pangkat atau jabatan paling rendah setingkat dengan pangkat atau jabatan Analis Kepegawaian yang dinilai;

b. memiliki keahlian untuk menilai prestasi kerja Analis Kepegawaian; dan c. dapat aktif melakukan penilaian.

(13)

Pasal 31 (1) Tim Penilai Daerah terdiri atas unsur:

a. BKPP;

b. unsur kepegawaian pada Perangkat Daerah yang mengusulkan Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian; dan

c. Analis Kepegawaian.

(2) Tim Penilai Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf c merupakan unsur tetap.

(3) Tim Penilai Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan unsur tidak tetap.

Pasal 32

(1) Susunan keanggotaan Tim Penilai Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) terdiri atas:

a. seorang ketua merangkap anggota;

b. seorang wakil ketua merangkap anggota;

c. seorang sekretaris merangkap anggota; dan d. paling kurang 4 (empat) orang anggota.

(2) Anggota Tim Penilai Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berjumlah ganjil dan diutamakan lebih banyak berasal dari Analis Kepegawaian dari pada anggota yang berasal dari PNS atau pejabat lain.

(3) Sekretaris Tim Penilai Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, harus berasal dari unsur kepegawaian pada Perangkat Daerah.

(4) Anggota Tim Penilai Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, paling sedikit berjumlah:

a. 3 (dua) orang dari unsur Analis Kepegawaian; dan

b. 1 (satu) orang dari unsur kepegawaian pada Perangkat Daerah.

(5) Tim Penilai Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) ditetapkan dengan Keputusan Walikota.

Pasal 33

(1) Masa keanggotaan Tim Penilai Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 yaitu 3 (tiga) tahun, dan dapat diperpanjang paling banyak 1 (satu) kali masa jabatan.

(2) Apabila anggota Tim Penilai Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akan diangkat kembali dalam keanggotaan tim penilai yang sama harus melampaui tenggat waktu 1 (satu) masa jabatan.

(3) Apabila terdapat anggota Tim Penilai Daerah yang turut dinilai, ketua tim penilai wajib mengangkat pengganti anggota tim penilai yang bersangkutan, yang berlaku untuk 1(satu) kali penilaian.

(14)

Bagian Kedua Penetapan Angka Kredit

Pasal 34

(1) Usulan penetapan Angka Kredit diajukan oleh:

a. Kepala Perangkat Daerah kepada Sekretaris Daerah atau pejabat yang ditunjuk bagi Analis Kepegawaian Pelaksana, Analis Kepegawaian Pelaksana Lanjutan, Analis Kepegawaian Penyelia, Analis Kepegawaian Pertama, dan Analis Kepegawaian Muda, dengan Pangkat dan Golongan Ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 sampai dengan Pasal 13; dan

b. Kepala Perangkat Daerah kepada Instansi Pembina atau pejabat eselon 1 yang ditunjuk pada Instansi Pembina bagi Analis Kepegawaian Madya, dengan Pangkat dan Golongan Ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14.

(2) Usulan penetapan Angka Kredit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 35

(1) Angka Kredit yang telah ditetapkan oleh Walikota atau pejabat yang ditunjuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 digunakan sebagai bahan untuk mempertimbangkan kenaikan pangkat dan/atau jabatan Analis Kepegawaian.

(2) Penetapan Angka Kredit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat diajukan keberatan oleh Analis Kepegawaian yang bersangkutan.

BAB VII

TUNJANGAN JABATAN, KELAS JABATAN, DAN TAMBAHAN PENGHASILAN Bagian Kesatu

Tunjangan Jabatan Pasal 36

PNS yang menduduki Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian diberikan tunjangan jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bagian Kedua Kelas Jabatan

Pasal 37

Kelas Jabatan Fungsional Analis Kepegawaian di Daerah ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(15)

Referensi

Dokumen terkait

Yang dimaksud dengan time based conflict adalah konflik yang terjadi karena waktu yang digunakan untuk memenuhi satu peran tidak dapat digunakan untuk memenuhi peran

Sebelum gas alam didinginkan dan dicairkan pada Main Heat Exchanger 5E-1 pada suhu yang sangat rendah hingga menjadi LNG, proses pemisahan (fractination) gas alam

secara keseluruhannya iaitu Egypt. Ia adalah laluan penghubung antara Laut Mediterranean dan Laut Merah secara khususnya, bahkan ia menjadi laluan penghubung utama antara

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa Yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan

Pertamina EP Asset 3 Subang Field ini memiliki sistematis kegiatan pemberdayaan yang dilaksanakan melalui Program KOPI TAWAR adalah dimulai dari penyuluhan dan

untuk berbagai jenis Jam Grandfather clocks, Pendulum clocks, Wall clocks, Mantle clocks, Curio clocks, Cuckoo clocks, Tower clocks dan Street clocks menggunakan mesin jam

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah kesalahan kapitalisasi apa saja yang dibuat oleh mahasiswa semester enam dari jurusan pendidikan bahasa Inggris dalam

Sekali Dayung, Dua Pulau Terlampaui Sebagai tambahan dari berbagai tindakan yang telah dilakukan pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah limbah ini, proses gasifikasi