29-30 September 2021
i
Daftar Isi
KemenKopUKM Canangkan Ekosistem Transformasi Koperasi dan UMKM Masa Depan Dengan Peluncuran Logo Baru...…..1
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021
'Membaca' Peluang Usaha Ternak Jangkrik Warga Desa Bakung Kidul...……….…….….…4
Pandemi, Koperasi Mesti Terus Berinovasi...…6
Dorong Standarisasi Furnitur Eskpor, MenkopUKM Bakal
Bangun Factory Sharing di Sragen………...…..………7 Penyerapan Produk UMKM di Jaringan Hotel Accor
Group……….………..………...………..…..9 Gandeng Grup Accor, Produk UMKM Kini Bisa Mejeng di Hotel Berbintang...11 MenKopUKM Kawal Ketersediaan Produk UMKM di Jaringan Hotel Accor Group………..………..…..12 KemenKopUKM Gelontorkan Dana Rp 13 Miliar Bangun Factory Sharing di Sragen………...……….14 MenKopUKM Kawal Ketersediaan Produk UMKM di Jaringan Hotel Accor Group………..………..…. 16 MenKopUKM Kawal Ketersediaan Produk UMKM di Jaringan Hotel Accor Group...18 Mendongkrak UMKM Industri Kreatif dan Pariwisata
Papua……….………....20 Capai Rp68,35 Triliun, Dana PEN untuk UMKM dan Korporasi Terealisasi 42%...23 Capai Rp68,35 Triliun, Dana PEN untuk UMKM dan Korporasi Terealisasi 42%...…..24 MenKopUKM Kawal Ketersediaan Produk UMKM di Jaringan Hotel Accor Group...….25
ii
Daftar Isi
Produk UMKM Masuk Jaringan Accor Group, Diharapkan Mampu Memenuhi Selera Pasar Internasional………27
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021
Menkop UKM Kawal Ketersediaan Produk UMKM di Jaringan Hotel Accor Group...29 Standardisasi Furniture Ekspor, KemenKopUKM Siapkan
Pembangunan Factory Sharing di Sragen………...…31 UNIQLO Indonesia Bersama Kemenkop Resmikan Neighborhood Pamerkan Produk UKM...33
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021 1
Kementerian Koperasi dan UKM mencanangkan gerakan baru untuk melakukan percepatan koperasi modern dan UMKM naik kelas, yang disebut dengan Ekosistem untuk Transformasi Koperasi dan UMKM. Gerakan baru ini ditandai dengan peluncuran logo baru Kementerian Koperasi dan UKM."Saya ingin menyampaikan, bahwa untuk menjadikan Koperasi Modern dan UMKM Naik Kelas, maka kita sebagai pemangku utama kepentingan itu, harus terlebih dahulu membangun pola pikir yang modern, yaitu pola pikir yang mampu merancang ekosistem terbaik untuk Koperasi dan UMKM masa depan," kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam Peluncuran Ekosistem untuk Transformasi Koperasi dan UMKM secara daring, Senin, (27/9/2021).
Selama setahun lebih, pandemi mendorong pelaku Koperasi & UMKM untuk beradaptasi dan bertransformasi. Tidak hanya bertahan, namun juga mematangkan diri dan mempersiapkan UMKM menghadapi tantangan di masa depan.Selama setahun lebih ini pula, seluruh karyawan dan karyawati KemenKopUKM beserta Badan Layanan Umum (BLU) di bawah pimpinan MenKopUKM Teten Masduki telah bekerja keras, bekerja cerdas, serta bekerja tuntas, membuktikan komitmen untuk membantu dan mendukung sebanyak-banyaknya pelaku Koperasi & UMKM Indonesia bertahan, bangkit, serta pulih.Ekosistem ini merupakan perwujudan dari logo baru Kementerian Koperasi dan UKM yang menjadi simbol visi masa depan dan kemajuan yang modern. Rancangan masa depan dengan sebuah landscape baru melalui kekuatan sumber daya bangsa yakni future mobility, future food, future fashion, future craft dan lainnya."Melalui simbol kemajuan yang modern, mari bersama-sama kita bangun Ekosistem untuk Transformasi Koperasi dan UMKM masa depan," kata MenKopUKM.
Logo ini, sambung MenKopUKM, diluncurkan untuk menandai tranformasi UMKM masa depan, yang berbasis kreativitas dan inovasi teknologi. Ini bukan hanya sekadar logo.
KemenKopUKM juga mengubah banyak hal, mulai dari tata kelola, hingga cara kerja yang berbasis pada ekosistem.
KemenKopUKM Canangkan Ekosistem Transformasi Koperasi dan UMKM Masa Depan Dengan
Peluncuran Logo Baru
Inakoran.com Online Rabu, 29 September 2021
2
"Mudah-mudahn nanti UMKM dengan semangat baru dan logo baru, ada spirit, motivasi, dan inovasi baru. Mudah-mudahan UMKM bisa menjadi betul-betul tulang punggung ekonomi nasional dan lebih punya daya saing. Tulang punggung ekonomi nasional bukan hanya ketika krisis tapi juga penopang ekonomi nasional. Untuk itu produknya harus punya daya saing dan inovasi harus terus dilakukan," tegasnya.
MenKopUKM mengatakan, KemenKopUKM dalam ekosistem baru akan terus adaptif dan berinovasi dalam berbagai program dan kebijakan dengan melakukan perubahan- perubahan yang berorientasi pada kepentingan publik. Untuk itu, sudah menjadi kewajiban melakukan kolaborasi serta kerja sama yang dinamis dan terkoneksi antarekosistem lintas-kementerian, komunitas, profesional, insan koperasi, pelaku UMKM, serta masyarakat.Berbagai program prioritas telah dilakukan KemenKopUKM untuk mewujudkan kebijakan dan regulasi yang tepat, terukur, dan akuntabel. Antara lain, mendorong terwujudnya Basis Data Tunggal KUMKM serta melakukan kemitraan dan kolaborasi dengan BUMN melalui peningkatan peran koperasi dan UMKM dalam rantai pasok global (global value chain) dan berorientasi ekspor.
"Seluruh organ Kementerian Koperasi dan UKM bekerja bak sebuah rantai yang saling terpaut, menjadi sebuah ekosistem yang bergerak bersama untuk mencapai tujuan," kata MenKopUKM.Penciptaan wirausaha muda produktif merupakan program prioritas yang dijalankan melalui ekosistem kewirausahaan yang terintegrasi dengan model pelatihan, pendampingan, dan inkubator wirausaha. Hal ini juga didukung melalui Smesco Indonesia, sebagai Center of Excellence untuk melahirkan UKM Masa Depan.Smesco Indonesia juga telah mewujudkan inisiatif terbaru untuk solusi logistik bagi pelaku UMKM dalam hal pendistribusian produk melalui Smesco Fulfillment Center (SFC) dan Smesco Indonesia Retail Network (SIREN). Smesco juga menyediakan layanan usaha lain yakni Pusat KUR BRI, BNI Xpora, Pusat Wastra Nusantara, Apindo UMKM Akademi, Smesco Labo, dan Sky Eat Cloud Kitchen.Untuk tercapainya koperasi modern dilaksanakan melalui korporatisasi pangan, Factory Sharing, Koperasi Multi Pihak dan Penguatan kelembagaan serta usaha anggota koperasi melalui strategi amalgamasi serta dukungan pembiayaan melalui LPDB-KUMKM dengan menyalurkan 100 persen untuk koperasi."Tak ketinggalan, proses transformasi dari usaha informal menjadi formal dipercepat, melalui Gerakan Transformasi Formal Usaha Mikro (TRANSFUMI) untuk kemudahan akses, penyederhanaan perizinan dan perlindungan UMKM," kata MenKopUKM.
Teten juga menekankan peningkatan kualitas pelayanan publik di Kementerian Koperasi dan UKM juga dihadirkan melalui transformasi Pelayanan Terpadu Satu Pintu.Layanan ini menyediakan akses yang sebaik-baiknya bagi orang yang baru memulai usaha atau yang sudah berwirausaha."Jadi kita buka pintu seluas-luasnya untuk mereka bisa kapan saja datang berkonsultasi. Kita membuat sistem untuk mengatasi hambatan. Selain di Smesco, kita juga menyediakan ahli-ahli untuk diskusi dan memberikan solusi. Selain itu juga tersedia di daerah-daerah PLUT di 76 kabupaten. Kemudian juga kami sediakan di KemenKopUKM. Jika ada kendala di daerah, bisa langsung ditangani di kementerian secara terpusat," imbuh Teten.
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021
3
Selain itu, ada pula revitalisasi Perpustakaan yang memiliki kualitas layanan dan fasilitas yang lebih representatif serta berbasis digital serta perbaikan fasilitas penunjang kesehatan Klinik Pratama bagi para pegawai.Untuk diketahui, makna logo KemenKopUKM yang baru diluncurkan ini memiliki nilai utama yakni kerja sama, seperti anyaman yang saling memperkuat secara berkesinambungan, sehingga membentuk budaya kerja yang positif dan optimis menghadapi segala tantangan.Simbol Kerja Sama, dimaksudkan bekerja sama dalam kolaborasi, agar menjadi semangat gotong royong menjadi kekuatan utama KemenKopUKM. Simbol Anyaman, dimaksudkan saling mendukung dan produktif dalam berkarya dan saling mendukung antarsesama. Simbol Senyum, berarti bekerja optimis dan positif dimaksudkan budaya kerja KemenKopUKM yang optimis membangun energi positif.
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021 4
Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) memberikan perhatian lebih bagi produk-produk UMKM di berbagai wilayah di Indonesia memiliki potensi untuk ekspor.
Salah satu produk unggulan UMKM dinilai memiliki nilai jual tinggi dan potensial dikembangkan untuk pasar ekspor adalah produk UMKM dari desa Bakung Kidul, Jamblang, Cirebon. Produk-produk unggulan UMKM dari wilayah ini di antaranya budidaya ternak jangkrik.Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Arif Rahman Hakim, mengapresiasi inovasi usaha dilakukan oleh kelompok UMKM di desa Bakung Kidul tersebut lantaran dapat membaca peluang usaha dengan sangat baik yaitu dengan membuat usaha budidaya jangkrik.
Diketahui jangkrik menjadi salah satu komoditas unggulan yang memiliki demand sangat tinggi. Namun jumlah produsen secara nasional sangat terbatas. Akibatnya permintaan tinggi tersebut kerap tidak sebanding dengan pasokan yang ada.Menurutnya inisiasi dari Kuwu Desa Bakung Kidul dengan budidaya jangkrik dan menjadikan sebagai bahan pangan olahan akan membuka kesempatan bagi UMKM di wilayahnya tumbuh lebih agresif. Terlebih dari sisi permintaan jangkrik hidup untuk pakan ikan hias, burung dan lainnya di Jawa saja sangat tinggi."Kita komitmen untuk terus melakukan pendampingan usaha agar dari Desa tersebut muncul UMKM Champion bisa menembus pasar ekspor,"
ujar Arif Rahman Hakim saat melakukan kunjungan kerja ke Desa Bakung Kidul, Kecamatan Jamblang Cirebon, Jumat (24/9/21) lalu.Dukungan lain bisa diberikan oleh KemenkopUKM pada UMKM di wilayah ini adalah dari sisi pendanaan untuk penambahan modal kerja. Untuk itu dia berharap agar UMKM-UMKM di desa Bakung Kidul dapat terkonsolidasi dalam satu wadah koperasi agar Kementerian UMKM bisa membantu dari sisi permodalan.
"Kami punya lembaga namanya LPDB (Lembaga Pengelola Dana Bergulir) untuk membiayai UMKM dengan biaya sangat murah yaitu 3 persen. Namun syaratnya bisa akses ke lembaga ini harus dalam wadah koperasi. Sebagai UMKM bapak-ibu perlu membentuk satu organisasi berbentuk koperasi agar bisa akses pembiayaan, agar usaha kita bisa semakin berkembang," pungkasnya.Sementara itu Kuwu Desa Bakung Kidul, Bambang Setiawan, berharap pemerintah dapat membantu para UMKM lebih mudah mendapatkan pembiayaan untuk tambahan modal kerja."Kita ingin dibantu dari sisi penguatan SDM dan dari sisi permodalan untuk mengembangkan usaha kami. Selain itu juga perlu dukungan teknologi untuk memaksimalkan potensi ada di wilayah kami," ucap Bambang.
'Membaca' Peluang Usaha Ternak Jangkrik Warga Desa Bakung Kidul
Suratpemerintah.id Online Rabu, 29 September 2021
5
Terkait dengan hasil budidaya jangkrik, diakuinya bahwa saat ini permintaan pasar ekspor sangat tinggi. Namun pihaknya tidak berani mengambil kesempatan tersebut lantaran keterbatasan produksi. Sementara untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saja masih sangat kurang. Di Jawa sendiri pangsa pasarnya mencapai Rp50 miliar dalam sebulan."Kalau kita terima tawaran ekspor itu, dipastikan itu akan habis dan kebutuhan untuk wilayah Jawa saja tidak bisa ditutupi. Jadi jangan sampai jangkrik saja kita harus impor apa jadinya nanti," paparnya.Sementara itu Camat Kecamatan Jamblang, Tarsidi membenarkan bahwa potensi di wilayahnya salah satunya budidaya jangkrik.
Menurutnya hasil budidaya jangkrik dari desa Bakung Kidul tersebut dapat juga diolah menjadi aneka pangan olahan dan produk suplemen kesehatan."Jangkrik dulu tidak dilirik namun berkat kreatifitas dari UMKM kita sekarang ini sering kehabisan stok," terang Tarsidi.Dia berharap pemerintah pusat melalui KemenkopUKM dapat membantu UMKM di wilayahnya bisa lebih inovatif dan daya saing produknya unggul. Diakui kemampuan pemerintah daerah sangat terbatas untuk mendampingi seluruh UMKM di Kecamatan Jamblang."Kedatangan pak Sesmen ini kami harap bisa melihat langsung potensi apa ada di desa Bakung kidul. Kami akui ketidakberdayaan pemerintah daerah untuk suport UMKM secara keseluruhan, kalau hanya sebatas diklat (pelatihan) bisa diatasi namun untuk hal permodalan kami jujur belum bisa," pungkasnya.
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021 6
Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta mengharapkan pengelola koperasi dapat mengembangkan inovasi usaha dalam kondisi pandemi Covid-19.Bupati menekankan itu saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kabupaten Klungkung di Ruang Rapat Praja Mandala Kantor Bupati Klungkung, Selasa (28/9) pagi.
Hadir dalam acara itu, Kepala Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan Klungkung Wayan Ardiasa, Ketua (Demisioner) Dekopinda Klungkung, Ngakan Made Nata, dan undangan lainnya.Bupati Suwirta berharap koperasi bisa melakukan revitalisasi dan inovasi-inovasi usaha dimasa pandemi. Karena pandemi berdampak signifikan terhadap perkembangan koperasi di Klungkung. Antara lain, penjualan menurun, permodalan, hingga kredit macet. Melalui musda, Bupati berharap Dekopinda mampu meningkatkan perkembangan koperasi dan UKM di Kabupaten Klungkung serta meningkatkan kualitas koperasi dan SDM anggota koperasi.Bupati Suwirta mengingatkan jajaran Dekopinda memilih pengurus yang bisa mengkoordirnir dan membawakan Dekopinda ke arah lebuh baik kedepannya. Pengurus agar bisa mengembangkan koperasi zaman now sesuai perkembangan teknologi informasi dan tetap mempertahakan jati diri koperasi.
Musda diawali dengan pemaparan program kerja yang sudah berjalan oleh Ketua Dekopinda Klungkung (demisioner) Ngakan Made Nata. Di antaranya, program kerja pada Oktober 2020 Dekopinda Klungkung menggelar sosialisasi dan bimbingan teknis (bimtek) proposal Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM). Langkah ini untuk penguatan modal koperasi, terutama koperasi simpan pinjam. Karena banyak koperasi mengalami penurunan likuiditas di tengah pandemi Covid-19. Dekopinda memfasilitasi koperasi yang mengajukan pinjaman dana ke LPDB-KUMKM.Selanjutnya, jelas Nakan Nata, Dekopinda melakukan penyemprotan cairan disinfektan di kantor-kantor koperasi untuk mencegah penyebaran Covid-19.
Slain itu, mengimbau warga menerapkan prokes untuk mencegah kemunculan penyebaran Covid-19 dari klaster koperasi, dan kegiatan lain.Ketua Panitia Musda Komang Sri Andayani mengatakan Musda ini diselenggarakan untuk membahas dan mengesahkan laporan pertanggungjawaban dari seluruh anggota Dekopinda tahun buku 2020. Dia menambahkan, Musda ini dihadiri seluruh pengurus Dekopinda Kabupaten Klungkung. Musda juga untuk memilih Ketua Dekopinda periode 2021-2026.
Pandemi, Koperasi Mesti Terus Berinovasi
Nusabali.com Online Rabu, 29 September 2021
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021 7
Kementerian Koperasi dan UKM tengah mempersiapkan pembangunan factory sharing untuk klaster produk unggulan ekspor furniture di Sragen, Jawa Tengah. Dalam pembangunan factory sharing ini, KemenKopUKM siap menggelontorkan anggaran senilai Rp13 miliar.Hal tersebut diungkapkan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki saat meninjau lahan yang akan dipersiapkan untuk pembangunan factory sharing sekaligus mengunjungi workshop furniture milik Mardi Furniture di Sragen, Selasa (28/9/2021).
Dalam kesempatan tersebut, MenKopUKM juga didampingi Deputi bidang Usaha Kecil dan Menengah KemenKopUKM Hanung Harimba Rachman, Direktur Utama LPDB- KUMKM Supomo, dan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati.Teten menegaskan, factory sharing merupakan solusi bagi UMKM di klaster furniture agar para perajin memiliki standar dan mutu yang sama dengan industri. Dalam factory sharing ini, pengolahan kayu, pengeringan, hingga proses setengah jadi dikerjakan dengan standar industri. Mengingat furniture merupakan salah satu produk unggulan ekspor, standardisasi produk sangat penting.
"UMKM bisa maklon di sana (factory sharing) bersama-sama yang dikelolaTak hanya itu, ia menegaskan, bicara factory sharing juga tak luput dari pembangunan ekosistem berupa tempat pelatihan serta koperasi sebagai agregator dan offtaker. Agar produk UMKM masuk ke pasar ekspor, juga penting merekrut SDM yang berkompeten."Kelembagaan yang perlu diperbaiki. Jadi, diperlukan pelatihan vokasi untuk mencetak perajin yang berkualitas didukung pengembangan produk supaya bisa mengikuti selera market. Bukan hanya membangun factory sharing tapi semuanya, memperkuat UMKM berarti juga memperkuat tulang punggung ekonomi nasional," tegasnya.
Factory sharing, kata Teten, merupakan salah satu program prioritas kementeriannya.
Saat ini anggaran tersedia dan lahannya sudah ada. Namun catatannya, menurut Teten, dari kelembagaannya yakni koperasi perlu diperkuat. Koperasi bertugas mempertemukan UMKM dengan para buyer."UMKM tak bisa sendiri-sendiri dengan buyer karena posisi bargaining-nya lemah. Untuk itu perlu difasilitasi dengan koperasi lewat factory sharing,"
imbuh Teten.MenKopUKM turut mengapresiasi produk kursi dari Mardi Furniture yang sudah bisa menembus pasar Eropa dan Australia. Apalagi desain yang dibuat pun hasil inovasinya sendiri."Ini yang namanya membidik market demand yang ada, salah satunya furniture sebagai produk unggulan," jelas Teten.
Dorong Standarisasi Furnitur Eskpor, MenkopUKM Bakal Bangun Factory Sharing di Sragen
Industry.co.id Online Rabu, 29 September 2021
8
Di kesempatan yang sama, Deputi bidang Usaha Kecil dan Menengah KemenKopUKM Hanung Harimba Rachman menambahkan, untuk pembangunan satu factory sharing, kementerian telah mengalokasikan anggaran senilai Rp13 miliar."Sehingga diharapkan daya saing dan kualitas produk UMKM benar-benar memiliki standar mutu,"
tegasnya.Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati merinci, pembangunan lahan 7 ribu meter persegi dan ada 2 hektar lagi untuk pengembangan factory sharing. Di mana lahan ini merupakan aset milik Pemerintah Daerah (Pemda)."Setiap dana dari pemerintah pusat programnya kan harus jelas. Sehingga lebih diutamakan aset milik pemda. Jadi, kami pastikan untuk lahan ini tak bermasalah sudah clear," sebutnya.
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021 9
Kerja sama antara Kementerian Koperasi dan UKM dengan jaringan hotel global Accor Group telah membuahkan hasil. Terutama mayoritas di jaringan hotel Accor Group wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta seperti Novotel dan Ibis Hotel kini telah merasakan manfaatnya.KemenKopUKM berkolaborasi dengan Accor Group melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) penyerapan produk-produk UMKM di jaringan hotel milik Accor Group. Kerja sama ini sangat potensial bagi pelaku UMKM karena Accor Group memiliki lebih dari 5.000 jaringan hotel di seluruh dunia.Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam kunjungannya ke Solo, Jawa Tengah, menyaksikan sendiri bagaimana Novotel Solo Hotel, sebagai salah satu jaringan hotel Accor Group, teleh memberikan ruang promosi di lobi hotelnya. Ia mengapresiasi komitmen Accor Group dalam kerja sama tersebut."Saya pribadi sangat berterima kasih dan mengapresiasi langkah ini. Kalau bisa ini dijaga karena tak hanya menguntungkan bagi UMKM, tapi ini juga menjadi bisnis lain bagi Accor," ucap MenKopUKM Teten dalam acara Ramah Tamah dengan mitra UMKM binaan Novotel Solo di Solo, Jateng, Selasa (28/9) malam.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, General Manager (GM) Novotel Hotels & Resort Solo Toat Edi Wijaya, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah Ema Rachmawati, Deputi Bidang UKM KemenKopUKM Hanung Harimba Rachman, dan Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo.Untuk produk UMKM yang akan masuk dalam jaringan Accor Group, MenKopUKM meminta, agar mampu memenuhi standar atau selera pasar internasional. Selain perlu juga ditambah adanya storytelling pada produk tersebut."Bayangkan jika satu produk UMKM masuk ke seluruh jaringan itu, sangat besar sekali dampaknya. Terutama dalam memperkenalkan produk Tanah Air," katanya.Namun satu yang belum bisa dipenuhi pihaknya dari permintaan Accor adalah, untuk produk minyak kayu putih yang saat ini memiliki banyak permintaan. Lantaran belum banyak UMKM yang memenuhi standar ini."Kalau produk UMKM-nya tak sesuai tentunya akan membuat brand image jadi buruk. Kualitas dan standarisasi harus dijaga," pinta MenKopUKM.Selanjutnya, produk UMKM juga bisa memberikan cerita menarik pada produknya. Karena karakter pembeli global suka dengan produk yang memiliki value."Saat ini di produk wastra, sudah kami lakukan bersama Smesco dengan mencantumkan asal pembuatan produk tersebut. Ini menambah value pada wastra yang akan dijual karena ada cerita menarik di balik pembuatannya," imbuhnya.
Penyerapan Produk UMKM di Jaringan Hotel Accor Group
Portonews.com Online Rabu, 29 September 2021
10
Apalagi dengan perkembangan teknologi digital sekarang ini, semua terhubung dengan mudah. Begitu juga bisnis tak hanya melibatkan B2B (Business to Business) tetapi juga B2C (Business to Customer)."Tak heran kalau sekarang pembeli dari Eropa pesan langsung produk ke desa di Jawa Tengah," tegas Teten.
Terkait kendala logistik ekspor yang masih dihadapi sejumlah UMKM , KemenKopUKM kata Teten, telah membuat program bersama Smesco untuk membantu kendala logistik tersebut dengan menggandeng perusahaan logistik Tanah Air dengan biaya terjangkau.Menanggapi hal ini, General Manager (GM) Novotel Hotels & Resort Solo Toat Edi Wijaya menuturkan, ruang bagi UMKM di Novotel telah dilakukan sejak Agustus 2020.
Hingga hari ini, diakui Toat, adanya tempat promosi bagi UMKM membawa dampak positif tak hanya bagi UMKM sendiri, tapi juga bagi tamu dan pihak hotel."Bagi UMKM sudah pasti ada akses pemasaran yang pasti, omzet juga meningkat. Bagi tamu hotel ini menjadi alternatif jika tak sempat membeli oleh-oleh kini tersedia di hotel dengan harga terjangkau. Dan bagi pihak hotel sendiri juga biaya yang dikeluarkan juga lebih rendah karena hotel menggunakan produk UMKM langsung dari sumbernya bukan industri, sehingga harga lebih murah dan beban operasional hotel semakin berkurang," jelas Toat.
Toat menjelaskan, komitmen penyediaan ruang bagi UMKM ini sebagai upaya mengurangi bahan atau produk impor di hotel. Seperti kopi dan teh yang saat ini masih banyak dari luar. Maka ke depan, akan menggunakan produk UMKM. Saat ini kata Toat, prosesnya tengah mencari produk yang terbaik.Khusus untuk kopi dan teh jika itu memnag sesuai taste internasional, sebut Toat, maka akan disampaikan juga ke jaringan Accor yang ada di luar negeri."Secara nyata yang sudah dilakukan adalah produk yang dipakai harian terutama breakfast hotel sudah menggunakan produk UMKM, mulai dari jamu, cokelat, bahan-bahan rempah, susu hingga roti," rincinya.Selanjutnya untuk produk amenitis VIP menjadi produk UMKM.
Kemudian Novotel juga menyediakan ruang display di lobi hotel yang sesuai dengan fokus hotel. Misalnya di Novotel fokus ke UMKM makanan, Royal display khusus batik, dan Ibis dengan produk UMKM handycraft."Itu minimum setiap Sabtu dan Minggu ditampilkan, di mana tamu hotel di waktu tersebut cukup ramai. Bahkan setiap ada meeting kementerian selalu kami display produk UMKM," jelasnya.Sementara program yang tengah digalakkan adalah Ibis akan menjadi sentra kopi Jateng. Di mana ada satu kafe di sana, yang nanti akan di-set up produk unggulan kopi yang berasal dari 60 kota penghasil berbagai jenis, yang akan di-display di sana. Juga akan dibuat katalog, sehingga eksportir kopi bisa mencoba di kafe tersebut."Cita-cita kami dari 100 hotel Accor yang ada di Indonesia, perlahan berawal dari Jawa Tengah, begitu bagus disebarkan di seluruh Indonesia," ucapnya.
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021 11
Langkah Kementerian Koperasi dan UKM untuk mewujudkan UMKM Go Global sudah memasuki tahap baru. Salah satunya dengan menggandeng jaringan bisnis hotel global Accor Group .KemenKopUKM berkolaborasi dengan Accor Group melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) penyerapan produk-produk UMKM di jaringan hotel milik Accor Group.
Kerja sama ini sangat potensial bagi pelaku UMKM karena Accor Group memiliki lebih dari 5.000 jaringan hotel di seluruh dunia.Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam kunjungannya ke Solo, Jawa Tengah, menyaksikan sendiri bagaimana Novotel Solo Hotel, sebagai salah satu jaringan hotel Accor Group, teleh memberikan ruang promosi di lobi hotelnya. Ia mengapresiasi komitmen Accor Group dalam kerja sama tersebut."Saya pribadi sangat berterima kasih dan mengapresiasi langkah ini. Kalau bisa ini dijaga karena tak hanya menguntungkan bagi UMKM, tapi ini juga menjadi bisnis lain bagi Accor," ucap Teten dalam acara Ramah Tamah dengan mitra UMKM binaan Novotel Solo di Solo, Jateng, Selasa (28/9) malam.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, General Manager (GM) Novotel Hotels & Resort Solo Toat Edi Wijaya, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah Ema Rachmawati, Deputi Bidang UKM KemenKopUKM Hanung Harimba Rachman, dan Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo.Untuk produk UMKM yang akan masuk dalam jaringan Accor Group, MenKopUKM meminta, agar mampu memenuhi standar atau selera pasar internasional. Selain perlu juga ditambah adanya storytelling pada produk tersebut."Bayangkan jika satu produk UMKM masuk ke seluruh jaringan itu, sangat besar sekali dampaknya. Terutama dalam memperkenalkan produk Tanah Air," katanya.
Namun satu yang belum bisa dipenuhi pihaknya dari permintaan Accor adalah, untuk produk minyak kayu putih yang saat ini memiliki banyak permintaan. Lantaran belum banyak UMKM yang memenuhi standar ini."Kalau produk UMKM-nya tak sesuai tentunya akan membuat brand image jadi buruk. Kualitas dan standarisasi harus dijaga," pinta Teten.Selanjutnya, produk UMKM juga bisa memberikan cerita menarik pada produknya.
Karena karakter pembeli global suka dengan produk yang memiliki value."Saat ini di produk wastra, sudah kami lakukan bersama Smesco dengan mencantumkan asal pembuatan produk tersebut. Ini menambah value pada wastra yang akan dijual karena ada cerita menarik di balik pembuatannya," imbuhnya.
Gandeng Grup Accor, Produk UMKM Kini Bisa Mejeng di Hotel Berbintang
Idxchannel.com Online Rabu, 29 September 2021
12
Apalagi dengan perkembangan teknologi digital sekarang ini, semua terhubung dengan mudah. Begitu juga bisnis tak hanya melibatkan B2B (Business to Business) tetapi juga B2C (Business to Customer)."Tak heran kalau sekarang pembeli dari Eropa pesan langsung produk ke desa di Jawa Tengah," tegas Teten.Terkait kendala logistik ekspor yang masih dihadapi sejumlah UMKM , KemenKopUKM kata Teten, telah membuat program bersama Smesco untuk membantu kendala logistik tersebut dengan menggandeng perusahaan logistik Tanah Air dengan biaya terjangkau.
Menanggapi hal ini, General Manager (GM) Novotel Hotels & Resort Solo Toat Edi Wijaya menuturkan, ruang bagi UMKM di Novotel telah dilakukan sejak Agustus 2020. Hingga hari ini, diakui Toat, adanya tempat promosi bagi UMKM membawa dampak positif tak hanya bagi UMKM sendiri, tapi juga bagi tamu dan pihak hotel."Bagi UMKM sudah pasti ada akses pemasaran yang pasti, omzet juga meningkat. Bagi tamu hotel ini menjadi alternatif jika tak sempat membeli oleh-oleh kini tersedia di hotel dengan harga terjangkau. Dan bagi pihak hotel sendiri juga biaya yang dikeluarkan juga lebih rendah karena hotel menggunakan produk UMKM langsung dari sumbernya bukan industri, sehingga harga lebih murah dan beban operasional hotel semakin berkurang," jelas Toat.
Toat menjelaskan, komitmen penyediaan ruang bagi UMKM ini sebagai upaya mengurangi bahan atau produk impor di hotel. Seperti kopi dan teh yang saat ini masih banyak dari luar. Maka ke depan, akan menggunakan produk UMKM. Saat ini kata Toat, prosesnya tengah mencari produk yang terbaik.Khusus untuk kopi dan teh jika itu memnag sesuai taste internasional, sebut Toat, maka akan disampaikan juga ke jaringan Accor yang ada di luar negeri."Secara nyata yang sudah dilakukan adalah produk yang dipakai harian terutama breakfast hotel sudah menggunakan produk UMKM, mulai dari jamu, cokelat, bahan-bahan rempah, susu hingga roti," rincinya.Selanjutnya untuk produk amenitis VIP menjadi produk UMKM. Kemudian Novotel juga menyediakan ruang display di lobi hotel yang sesuai dengan fokus hotel. Misalnya di Novotel fokus ke UMKM makanan, Royal display khusus batik, dan Ibis dengan produk UMKM handycraft."Itu minimum setiap Sabtu dan Minggu ditampilkan, di mana tamu hotel di waktu tersebut cukup ramai. Bahkan setiap ada meeting kementerian selalu kami display produk UMKM,"
jelasnya.
Sementara program yang tengah digalakkan adalah Ibis akan menjadi sentra kopi Jateng.
Di mana ada satu kafe di sana, yang nanti akan di-set up produk unggulan kopi yang berasal dari 60 kota penghasil berbagai jenis, yang akan di-display di sana. Juga akan dibuat katalog, sehingga eksportir kopi bisa mencoba di kafe tersebut."Cita-cita kami dari 100 hotel Accor yang ada di Indonesia, perlahan berawal dari Jawa Tengah, begitu bagus disebarkan di seluruh Indonesia," ucapnya.
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021 12
Kerja sama antara Kementerian Koperasi dan UKM dengan jaringan hotel global Accor Group telah membuahkan hasil. Terutama mayoritas di jaringan hotel Accor Group wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta seperti Novotel dan Ibis Hotel kini telah merasakan manfaatnya.KemenKopUKM berkolaborasi dengan Accor Group melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) penyerapan produk-produk UMKM di jaringan hotel milik Accor Group. Kerja sama ini sangat potensial bagi pelaku UMKM karena Accor Group memiliki lebih dari 5.000 jaringan hotel di seluruh dunia.Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam kunjungannya ke Solo, Jawa Tengah, menyaksikan sendiri bagaimana Novotel Solo Hotel, sebagai salah satu jaringan hotel Accor Group, teleh memberikan ruang promosi di lobi hotelnya. Ia mengapresiasi komitmen Accor Group dalam kerja sama tersebut."Saya pribadi sangat berterima kasih dan mengapresiasi langkah ini. Kalau bisa ini dijaga karena tak hanya menguntungkan bagi UMKM, tapi ini juga menjadi bisnis lain bagi Accor," ucap MenKopUKM Teten dalam acara Ramah Tamah dengan mitra UMKM binaan Novotel Solo di Solo, Jateng, Selasa (28/9) malam.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, General Manager (GM) Novotel Hotels & Resort Solo Toat Edi Wijaya, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah Ema Rachmawati, Deputi Bidang UKM KemenKopUKM Hanung Harimba Rachman, dan Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo.Untuk produk UMKM yang akan masuk dalam jaringan Accor Group, MenKopUKM meminta, agar mampu memenuhi standar atau selera pasar internasional. Selain perlu juga ditambah adanya storytelling pada produk tersebut."Bayangkan jika satu produk UMKM masuk ke seluruh jaringan itu, sangat besar sekali dampaknya. Terutama dalam memperkenalkan produk Tanah Air," katanya.Namun satu yang belum bisa dipenuhi pihaknya dari permintaan Accor adalah, untuk produk minyak kayu putih yang saat ini memiliki banyak permintaan. Lantaran belum banyak UMKM yang memenuhi standar ini."Kalau produk UMKM-nya tak sesuai tentunya akan membuat brand image jadi buruk. Kualitas dan standarisasi harus dijaga," pinta MenKopUKM.
Selanjutnya, produk UMKM juga bisa memberikan cerita menarik pada produknya.
Karena karakter pembeli global suka dengan produk yang memiliki value."Saat ini di produk wastra, sudah kami lakukan bersama Smesco dengan mencantumkan asal pembuatan produk tersebut. Ini menambah value pada wastra yang akan dijual karena ada cerita menarik di balik pembuatannya," imbuhnya.Apalagi dengan perkembangan teknologi digital sekarang ini, semua terhubung dengan mudah. Begitu juga bisnis tak hanya melibatkan B2B (Business to Business) tetapi juga B2C (Business to Customer)."Tak heran kalau sekarang pembeli dari Eropa pesan langsung produk ke desa di Jawa Tengah," tegas Teten.
MenKopUKM Kawal Ketersediaan Produk UMKM di Jaringan Hotel Accor Group
Indoposco.id Online Rabu, 29 September 2021
13
Terkait kendala logistik ekspor yang masih dihadapi sejumlah UMKM , KemenKopUKM kata Teten, telah membuat program bersama Smesco untuk membantu kendala logistik tersebut dengan menggandeng perusahaan logistik Tanah Air dengan biaya terjangkau.Menanggapi hal ini, General Manager (GM) Novotel Hotels & Resort Solo Toat Edi Wijaya menuturkan, ruang bagi UMKM di Novotel telah dilakukan sejak Agustus 2020.
Hingga hari ini, diakui Toat, adanya tempat promosi bagi UMKM membawa dampak positif tak hanya bagi UMKM sendiri, tapi juga bagi tamu dan pihak hotel."Bagi UMKM sudah pasti ada akses pemasaran yang pasti, omzet juga meningkat. Bagi tamu hotel ini menjadi alternatif jika tak sempat membeli oleh-oleh kini tersedia di hotel dengan harga terjangkau. Dan bagi pihak hotel sendiri juga biaya yang dikeluarkan juga lebih rendah karena hotel menggunakan produk UMKM langsung dari sumbernya bukan industri, sehingga harga lebih murah dan beban operasional hotel semakin berkurang," jelas Toat.
Toat menjelaskan, komitmen penyediaan ruang bagi UMKM ini sebagai upaya mengurangi bahan atau produk impor di hotel. Seperti kopi dan teh yang saat ini masih banyak dari luar. Maka ke depan, akan menggunakan produk UMKM. Saat ini kata Toat, prosesnya tengah mencari produk yang terbaik.Khusus untuk kopi dan teh jika itu memnag sesuai taste internasional, sebut Toat, maka akan disampaikan juga ke jaringan Accor yang ada di luar negeri."Secara nyata yang sudah dilakukan adalah produk yang dipakai harian terutama breakfast hotel sudah menggunakan produk UMKM, mulai dari jamu, cokelat, bahan-bahan rempah, susu hingga roti," rincinya.
Selanjutnya untuk produk amenitis VIP menjadi produk UMKM. Kemudian Novotel juga menyediakan ruang display di lobi hotel yang sesuai dengan fokus hotel. Misalnya di Novotel fokus ke UMKM makanan, Royal display khusus batik, dan Ibis dengan produk UMKM handycraft."Itu minimum setiap Sabtu dan Minggu ditampilkan, di mana tamu hotel di waktu tersebut cukup ramai. Bahkan setiap ada meeting kementerian selalu kami display produk UMKM," jelasnya.Sementara program yang tengah digalakkan adalah Ibis akan menjadi sentra kopi Jateng. Di mana ada satu kafe di sana, yang nanti akan di-set up produk unggulan kopi yang berasal dari 60 kota penghasil berbagai jenis, yang akan di-display di sana. Juga akan dibuat katalog, sehingga eksportir kopi bisa mencoba di kafe tersebut."Cita-cita kami dari 100 hotel Accor yang ada di Indonesia, perlahan berawal dari Jawa Tengah, begitu bagus disebarkan di seluruh Indonesia," ucapnya
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021 14
Kementerian Koperasi dan UKM tengah mempersiapkan pembangunan factory sharing untuk klaster produk unggulan ekspor furniture di Sragen, Jawa Tengah. Dalam pembangunan factory sharing ini, KemenKopUKM siap menggelontorkan anggaran senilai Rp13 miliar.Hal tersebut diungkapkan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki saat meninjau lahan yang akan dipersiapkan untuk pembangunan factory sharing sekaligus mengunjungi workshop furniture milik Mardi Furniture di Sragen, Selasa (28/9/2021).
Dalam kesempatan tersebut, MenKopUKM juga didampingi Deputi bidang Usaha Kecil dan Menengah KemenKopUKM Hanung Harimba Rachman, Direktur Utama LPDB- KUMKM Supomo, dan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati.Teten menegaskan, factory sharing merupakan solusi bagi UMKM di klaster furniture agar para perajin memiliki standar dan mutu yang sama dengan industri. Dalam factory sharing ini, pengolahan kayu, pengeringan, hingga proses setengah jadi dikerjakan dengan standar industri. Mengingat furniture merupakan salah satu produk unggulan ekspor, standardisasi produk sangat penting."UMKM bisa maklon di sana (factory sharing) bersama-sama yang dikelola oleh koperasi. Sehingga produk UMKM punya kualitas yang tak kalah dengan industri. Ini membuat waktu produksi lebih cepat dan daya saing tinggi UMKM. Seperti pak Mardi tak perlu lagi menggunakan banyak alat karena bisa memberatkan ongkos produksi. Kalau di factory sharing, biaya ditanggung bersama sehingga lebih murah, mudah, dan cepat," imbuh Teten.
Tak hanya itu, ia menegaskan, bicara factory sharing juga tak luput dari pembangunan ekosistem berupa tempat pelatihan serta koperasi sebagai agregator dan offtaker. Agar produk UMKM masuk ke pasar ekspor, juga penting merekrut SDM yang berkompeten."Kelembagaan yang perlu diperbaiki. Jadi, diperlukan pelatihan vokasi untuk mencetak perajin yang berkualitas didukung pengembangan produk supaya bisa mengikuti selera market. Bukan hanya membangun factory sharing tapi semuanya, memperkuat UMKM berarti juga memperkuat tulang punggung ekonomi nasional,"
tegasnya.Factory sharing, kata Teten, merupakan salah satu program prioritas kementeriannya. Saat ini anggaran tersedia dan lahannya sudah ada. Namun catatannya, menurut Teten, dari kelembagaannya yakni koperasi perlu diperkuat. Koperasi bertugas mempertemukan UMKM dengan para buyer.
"UMKM tak bisa sendiri-sendiri dengan buyer karena posisi bargaining-nya lemah. Untuk itu perlu difasilitasi dengan koperasi lewat factory sharing," imbuh Teten.
KemenKopUKM Gelontorkan Dana Rp 13 Miliar Bangun Factory Sharing di Sragen
Inakoran.com Online Rabu, 29 September 2021
15
MenKopUKM turut mengapresiasi produk kursi dari Mardi Furniture yang sudah bisa menembus pasar Eropa dan Australia. Apalagi desain yang dibuat pun hasil inovasinya sendiri."Ini yang namanya membidik market demand yang ada, salah satunya furniture sebagai produk unggulan," jelas Teten.Di kesempatan yang sama, Deputi bidang Usaha Kecil dan Menengah KemenKopUKM Hanung Harimba Rachman menambahkan, untuk pembangunan satu factory sharing, kementerian telah mengalokasikan anggaran senilai Rp13 miliar."Sehingga diharapkan daya saing dan kualitas produk UMKM benar-benar memiliki standar mutu," tegasnya.Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati merinci, pembangunan lahan 7 ribu meter persegi dan ada 2 hektar lagi untuk pengembangan factory sharing. Di mana lahan ini merupakan aset milik Pemerintah Daerah (Pemda)."Setiap dana dari pemerintah pusat programnya kan harus jelas. Sehingga lebih diutamakan aset milik pemda. Jadi, kami pastikan untuk lahan ini tak bermasalah sudah clear," sebutnya.
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021 16
Kerja sama antara Kementerian Koperasi dan UKM dengan jaringan hotel global Accor Group telah membuahkan hasil. Terutama mayoritas di jaringan hotel Accor Group wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta seperti Novotel dan Ibis Hotel kini telah merasakan manfaatnya.KemenKopUKM berkolaborasi dengan Accor Group melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) penyerapan produk-produk UMKM di jaringan hotel milik Accor Group. Kerja sama ini sangat potensial bagi pelaku UMKM karena Accor Group memiliki lebih dari 5.000 jaringan hotel di seluruh dunia.Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam kunjungannya ke Solo, Jawa Tengah, menyaksikan sendiri bagaimana Novotel Solo Hotel, sebagai salah satu jaringan hotel Accor Group, teleh memberikan ruang promosi di lobi hotelnya. Ia mengapresiasi komitmen Accor Group dalam kerja sama tersebut."Saya pribadi sangat berterima kasih dan mengapresiasi langkah ini. Kalau bisa ini dijaga karena tak hanya menguntungkan bagi UMKM, tapi ini juga menjadi bisnis lain bagi Accor," ucap MenKopUKM Teten dalam acara Ramah Tamah dengan mitra UMKM binaan Novotel Solo di Solo, Jateng, Selasa 28 September 2021, malam.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, General Manager (GM) Novotel Hotels & Resort Solo Toat Edi Wijaya, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah Ema Rachmawati, Deputi Bidang UKM KemenKopUKM Hanung Harimba Rachman, dan Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo.Untuk produk UMKM yang akan masuk dalam jaringan Accor Group, MenKopUKM meminta, agar mampu memenuhi standar atau selera pasar internasional. Selain perlu juga ditambah adanya storytelling pada produk tersebut."Bayangkan jika satu produk UMKM masuk ke seluruh jaringan itu, sangat besar sekali dampaknya. Terutama dalam memperkenalkan produk Tanah Air," katanya.
Namun satu yang belum bisa dipenuhi pihaknya dari permintaan Accor adalah, untuk produk minyak kayu putih yang saat ini memiliki banyak permintaan. Lantaran belum banyak UMKM yang memenuhi standar ini."Kalau produk UMKM-nya tak sesuai tentunya akan membuat brand image jadi buruk. Kualitas dan standarisasi harus dijaga," pinta MenKopUKM.Selanjutnya, produk UMKM juga bisa memberikan cerita menarik pada produknya. Karena karakter pembeli global suka dengan produk yang memiliki value."Saat ini di produk wastra, sudah kami lakukan bersama Smesco dengan mencantumkan asal pembuatan produk tersebut. Ini menambah value pada wastra yang akan dijual karena ada cerita menarik di balik pembuatannya," imbuhnya.
MenKopUKM Kawal Ketersediaan Produk UMKM di Jaringan Hotel Accor Group
Bogordaily.net Online Rabu, 29 September 2021
17
Apalagi dengan perkembangan teknologi digital sekarang ini, semua terhubung dengan mudah. Begitu juga bisnis tak hanya melibatkan B2B (Business to Business) tetapi juga B2C (Business to Customer)."Tak heran kalau sekarang pembeli dari Eropa pesan langsung produk ke desa di Jawa Tengah," tegas Teten.
Terkait kendala logistik ekspor yang masih dihadapi sejumlah UMKM , KemenKopUKM kata Teten, telah membuat program bersama Smesco untuk membantu kendala logistik tersebut dengan menggandeng perusahaan logistik Tanah Air dengan biaya terjangkau.Menanggapi hal ini, General Manager (GM) Novotel Hotels & Resort Solo Toat Edi Wijaya menuturkan, ruang bagi UMKM di Novotel telah dilakukan sejak Agustus 2020.
Hingga hari ini, diakui Toat, adanya tempat promosi bagi UMKM membawa dampak positif tak hanya bagi UMKM sendiri, tapi juga bagi tamu dan pihak hotel."Bagi UMKM sudah pasti ada akses pemasaran yang pasti, omzet juga meningkat. Bagi tamu hotel ini menjadi alternatif jika tak sempat membeli oleh-oleh kini tersedia di hotel dengan harga terjangkau. Dan bagi pihak hotel sendiri juga biaya yang dikeluarkan juga lebih rendah karena hotel menggunakan produk UMKM langsung dari sumbernya bukan industri, sehingga harga lebih murah dan beban operasional hotel semakin berkurang," jelas Toat.
Toat menjelaskan, komitmen penyediaan ruang bagi UMKM ini sebagai upaya mengurangi bahan atau produk impor di hotel. Seperti kopi dan teh yang saat ini masih banyak dari luar. Maka ke depan, akan menggunakan produk UMKM. Saat ini kata Toat, prosesnya tengah mencari produk yang terbaik.Khusus untuk kopi dan teh jika itu memnag sesuai taste internasional, sebut Toat, maka akan disampaikan juga ke jaringan Accor yang ada di luar negeri."Secara nyata yang sudah dilakukan adalah produk yang dipakai harian terutama breakfast hotel sudah menggunakan produk UMKM, mulai dari jamu, cokelat, bahan-bahan rempah, susu hingga roti," rincinya.
Selanjutnya untuk produk amenitis VIP menjadi produk UMKM. Kemudian Novotel juga menyediakan ruang display di lobi hotel yang sesuai dengan fokus hotel. Misalnya di Novotel fokus ke UMKM makanan, Royal display khusus batik, dan Ibis dengan produk UMKM handycraft."Itu minimum setiap Sabtu dan Minggu ditampilkan, di mana tamu hotel di waktu tersebut cukup ramai. Bahkan setiap ada meeting kementerian selalu kami display produk UMKM," jelasnya.Sementara program yang tengah digalakkan adalah Ibis akan menjadi sentra kopi Jateng. Di mana ada satu kafe di sana, yang nanti akan di-set up produk unggulan kopi yang berasal dari 60 kota penghasil berbagai jenis, yang akan di-display di sana. Juga akan dibuat katalog, sehingga eksportir kopi bisa mencoba di kafe tersebut."Cita-cita kami dari 100 hotel Accor yang ada di Indonesia, perlahan berawal dari Jawa Tengah, begitu bagus disebarkan di seluruh Indonesia," ucapnya.***
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021 18
Kerja sama antara Kementerian Koperasi dan UKM dengan jaringan hotel global Accor Group telah membuahkan hasil. Terutama mayoritas di jaringan hotel Accor Group wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta seperti Novotel dan Ibis Hotel kini telah merasakan manfaatnya.KemenKopUKM berkolaborasi dengan Accor Group melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) penyerapan produk-produk UMKM di jaringan hotel milik Accor Group. Kerja sama ini sangat potensial bagi pelaku UMKM karena Accor Group memiliki lebih dari 5.000 jaringan hotel di seluruh dunia.Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam kunjungannya ke Solo, Jawa Tengah, menyaksikan sendiri bagaimana Novotel Solo Hotel, sebagai salah satu jaringan hotel Accor Group, teleh memberikan ruang promosi di lobi hotelnya. Ia mengapresiasi komitmen Accor Group dalam kerja sama tersebut."Saya pribadi sangat berterima kasih dan mengapresiasi langkah ini. Kalau bisa ini dijaga karena tak hanya menguntungkan bagi UMKM, tapi ini juga menjadi bisnis lain bagi Accor," ucap MenKopUKM Teten dalam acara Ramah Tamah dengan mitra UMKM binaan Novotel Solo di Solo, Jateng, Selasa (28/9) malam.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, General Manager (GM) Novotel Hotels & Resort Solo Toat Edi Wijaya, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah Ema Rachmawati, Deputi Bidang UKM KemenKopUKM Hanung Harimba Rachman, dan Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo.Untuk produk UMKM yang akan masuk dalam jaringan Accor Group, MenKopUKM meminta, agar mampu memenuhi standar atau selera pasar internasional. Selain perlu juga ditambah adanya storytelling pada produk tersebut."Bayangkan jika satu produk UMKM masuk ke seluruh jaringan itu, sangat besar sekali dampaknya. Terutama dalam memperkenalkan produk Tanah Air," katanya.Namun satu yang belum bisa dipenuhi pihaknya dari permintaan Accor adalah, untuk produk minyak kayu putih yang saat ini memiliki banyak permintaan. Lantaran belum banyak UMKM yang memenuhi standar ini."Kalau produk UMKM-nya tak sesuai tentunya akan membuat brand image jadi buruk. Kualitas dan standarisasi harus dijaga," pinta MenKopUKM.
Selanjutnya, produk UMKM juga bisa memberikan cerita menarik pada produknya.
Karena karakter pembeli global suka dengan produk yang memiliki value."Saat ini di produk wastra, sudah kami lakukan bersama Smesco dengan mencantumkan asal pembuatan produk tersebut. Ini menambah value pada wastra yang akan dijual karena ada cerita menarik di balik pembuatannya," imbuhnya.
MenKopUKM Kawal Ketersediaan Produk UMKM di Jaringan Hotel Accor Group
Globalnews.id Online Rabu, 29 September 2021
19
Apalagi dengan perkembangan teknologi digital sekarang ini, semua terhubung dengan mudah. Begitu juga bisnis tak hanya melibatkan B2B (Business to Business) tetapi juga B2C (Business to Customer)."Tak heran kalau sekarang pembeli dari Eropa pesan langsung produk ke desa di Jawa Tengah," tegas Teten.
Terkait kendala logistik ekspor yang masih dihadapi sejumlah UMKM , KemenKopUKM kata Teten, telah membuat program bersama Smesco untuk membantu kendala logistik tersebut dengan menggandeng perusahaan logistik Tanah Air dengan biaya terjangkau.Menanggapi hal ini, General Manager (GM) Novotel Hotels & Resort Solo Toat Edi Wijaya menuturkan, ruang bagi UMKM di Novotel telah dilakukan sejak Agustus 2020.
Hingga hari ini, diakui Toat, adanya tempat promosi bagi UMKM membawa dampak positif tak hanya bagi UMKM sendiri, tapi juga bagi tamu dan pihak hotel."Bagi UMKM sudah pasti ada akses pemasaran yang pasti, omzet juga meningkat. Bagi tamu hotel ini menjadi alternatif jika tak sempat membeli oleh-oleh kini tersedia di hotel dengan harga terjangkau. Dan bagi pihak hotel sendiri juga biaya yang dikeluarkan juga lebih rendah karena hotel menggunakan produk UMKM langsung dari sumbernya bukan industri, sehingga harga lebih murah dan beban operasional hotel semakin berkurang," jelas Toat.
Toat menjelaskan, komitmen penyediaan ruang bagi UMKM ini sebagai upaya mengurangi bahan atau produk impor di hotel. Seperti kopi dan teh yang saat ini masih banyak dari luar. Maka ke depan, akan menggunakan produk UMKM. Saat ini kata Toat, prosesnya tengah mencari produk yang terbaik.Khusus untuk kopi dan teh jika itu memnag sesuai taste internasional, sebut Toat, maka akan disampaikan juga ke jaringan Accor yang ada di luar negeri."Secara nyata yang sudah dilakukan adalah produk yang dipakai harian terutama breakfast hotel sudah menggunakan produk UMKM, mulai dari jamu, cokelat, bahan-bahan rempah, susu hingga roti," rincinya.Selanjutnya untuk produk amenitis VIP menjadi produk UMKM. Kemudian Novotel juga menyediakan ruang display di lobi hotel yang sesuai dengan fokus hotel. Misalnya di Novotel fokus ke UMKM makanan, Royal display khusus batik, dan Ibis dengan produk UMKM handycraft.
"Itu minimum setiap Sabtu dan Minggu ditampilkan, di mana tamu hotel di waktu tersebut cukup ramai. Bahkan setiap ada meeting kementerian selalu kami display produk UMKM,"
jelasnya.Sementara program yang tengah digalakkan adalah Ibis akan menjadi sentra kopi Jateng. Di mana ada satu kafe di sana, yang nanti akan di-set up produk unggulan kopi yang berasal dari 60 kota penghasil berbagai jenis, yang akan di-display di sana.
Juga akan dibuat katalog, sehingga eksportir kopi bisa mencoba di kafe tersebut."Cita-cita kami dari 100 hotel Accor yang ada di Indonesia, perlahan berawal dari Jawa Tengah, begitu bagus disebarkan di seluruh Indonesia," ucapnya.
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021 20
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno dalam Weekly Briefing virtual, 30 Agustus lalu, memastikan sekitar 25 ribu noken (tas asli Papua) produk ekonomi kreatif griya sudah siap menjadi merchanidise bagi atlet dan ofisial PON XX. Hal itu merupakan upaya pemerintah dalam mendongkrak ekonomi kreatif dalam momentum pergelaran olahraga nasional ini."PON Papua ini kita sambut baik dan diharapkan memberi dampak pada pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif, kita gunakan potensi budaya hingga ekonomi kreatif yang sangat kaya raya di Papua,"
kata Sandiaga.Menurut Sandiaga, Provinsi Papua merupakan salah satu prioritas dalam pengembangan destinasi wisata, khususnya dalam hal peningkatan 3A, yakni atraksi, aksesibilitas, dan amenitas. Sebagai upaya peningkatan dan pengembangan tersebut, Sandiaga menyebut, pihaknya bersama para stakeholder terkait berupaya meningkatkan kapasitas pengelolaan dan pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif melalui beberapa program. Antara lain, pemberdayaan masyarakat dan promosi pariwisata Papua di seluruh sosial media yang dimiliki oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
"Hal ini dilakukan agar Provinsi Papua dapat dikenal dan dikunjungi oleh wisatawan mancanegara dan tentunya wisatawan nusantara yang berkualitas, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada di sekitar daerah wisata," kata SandiagaKemenparekraf juga berkomitmen untuk menyukseskan pelaksanaan PON Papua melalui pelaksanaan side event, seperti festival Danau Sentani, konser musik nyanyian cenderawasih, dan festival noken.Sementara itu, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki optimistis gelaran ajang PON Papua mampu menggerakkan roda ekonomi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Papua. Oleh karena itu, pihaknya mendukung penuh pelaksanaan PON XX Papua di masa pandemi ini."Kami yakin PON sangat berdampak pada UMKM di sana karena banyak orang yang datang. Banyak yang diuntungkan juga, seperti pemillik penginapan, penjual makanan dan minuman, serta perajin, juga pemilik UMKM lainnya,"
kata Teten dalam sebuah Webinar, pada 2 September 2021.
Teten mengatakan Kemenkop UKM telah memberikan berbagai dukungan. Di antaranya, melalui program Smesco Hub Timur, mengkonsolidasi inisiatif terkait logistik serta Center of Excellence Smesco bagi kawasan timur Indonesia yang dijalankan oleh Smesco Indonesia. Sedangkan LPDB-KUMKM memberikan dana bergulir (permodalan) untuk koperasi. Selain itu juga ada pelatihan serta pendampingan yang telah menjangkau 1.740 pelaku UMKM di Papua dan Papua Barat.Ketika berbicara dalam acara webinar "PON Gerakan UMKM dan Wisata Papua“.
Mendongkrak UMKM Industri Kreatif dan Pariwisata Papua
Infopublik.id Online Rabu, 29 September 2021
21
Teten Masduki menjelaskan, sesuai PP nomor 7 tahun 2021 Bab VII Pasal 135, pengembangan inkubasi terpadu mengharuskan pemerintah daerah membentuk dan mengembangkan minimal satu inkubator di level provinsi dan satu di kota/kabupaten.
Maka direncanakan mulai 2022 pelaksanaan pengembangan inkubator terpadu ini juga sudah bisa mulai diselenggarakan di Papua.Ia mengatakan, program untuk Papua berupa transformasi informal ke formal dengan target 200 usaha mikro, displai dan penjualan produk UKM unggulan Provinsi Papua dan Papua Barat di paviliun provinsi SMESCO, dan Smesco Noken Movement, mengkampanyekan dan mendorong produk Provinsi Papua dan Papua Barat bisa dijual di department store.
Lebih lanjut, pihaknya akan mendorong digitalisasi pedagang pasar di Papua dan Papua Barat bekerja sama dengan berbagai pihak. Misalnya, Kemenkop UKM bisa membantu mengkurasi produk-produk UMKM yang akan dipasarkan di platform digital dan juga displai bandara-bandara.Teten menegaskan, kondisi UMKM dan Koperasi di Papua saat ini sesuai data BPS tercatat jumlah UMK 148. 647 usaha dan jumlah UMB 2.823 usaha.
Sementara itu, jumlah UMK dan UMB di empat kluster dengan angka Kota Jayapura, yakni UMK 28.355 dan UMB 1.097, lalu Kabupaten Jayapura dengan UMK 10.518 dan UMB 182, Kabupaten Merauke dengan UMK 14.076 dan UMB 342, serta Kabupaten Mimika dengan UMK 12.842 dan UMB 336.Koperasi bersertifikat NIK masih rendah di Papua 2,7% dan Papua Barat 6,64%. "Proporsi penyaluran kredit oleh bank rendah di bawah Rp15 triliun per tahun atau 1,4% dari total penyaluran kredit nasional sesuai RPJMD Papua 2019-2023. Sebagian besar belum go digital. Sebagian besar pelaku UMKM adalah mama-mama," jelasnya.
Dia mengungkapkan Papua memiliki potensi anak-anak muda kreatif berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang mengkombinasikan narasi kearifan budaya dan tradisi dengan teknologi. Sudah ada beberapa jejaring komunitas kreatif seperti Numbay Kreatif (JKON) di Jayapura yang baru saja menyelenggarakan Konferensi Orang Kreatif (KO-OKE).Sebelumnya, Sekretaris Menteri Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop-UKM) Arif Rahman Hakim pernah mengatakan, pihaknya sangat mendukung pelaksanaan atau pemberdayaan UMKM di Papua untuk suksesnya PON Papua. Secara spesifik, ungkapnya, dukungan Kemenkop UKM untuk pengembangan UMKM di Papua yaitu melakukan pembiayaan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) dalam rangka membina koperasi usaha mikro dan akses pembiayaan, khususnya melalui koperasi.Selanjutnya, Arif mengatakan, terdapat pula penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang jumlahnya cukup besar. Lalu, penyaluran Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) atau bantuan permodalan untuk wirausaha pemula. Selain itu, lanjutnya, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) koperasi dan UMKM, pembinaan prakoperasi, dan pendampingan UMKM. "Itu kegiatan-kegiatan spesifik yang kita lakukan di Papua," kata dia.
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021
22
Arif menyampaikan, di dalam Peraturan Presiden (PP) nomor 7 tahun 2021 disebutkan bahwa 40 persen belanja pemerintah pusat dan pemda dialokasikan untuk belanja produk-produk UMKM. "Ini sebenarnya salah satu hal yang bisa dimanfaatkan pemerintah daerah di sana (Papua), memberdayakan pelaku usaha mikro kecil," ucap dia.
Hal lain yang dapat dimanfaatkan, sebut Arif, adalah penyediaan tempat promosi dan pengembangan UMKM sebesar 30 persen. Dia menganggap hal tersebut dapat digunakan dalam rangka mendukung pelaksanaan PON. Kebijakan Kemenkop lainnya yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah di Papua, di antaranya penyediaan rumah produksi bersama dan model tata koperasi.Gelaran PON XX juga bisa menjadi ajang promosi UMKM Papua. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dengan mengajak endorsement ambassador untuk turut mempromosikan produk-produk UMKM Papua dengan lebih luas. Ribuan orang akan meramaikan PON XX di Papua mulai dari atlet, ofisial, wartawan, pejabat, hingga wisatawan.Ajang olahraga nasional terbesar ini bisa dijadikan sebagai momentum dalam mendorong UMKM on boardingke platform digital.
Pihaknya pun siap untuk melakukan pemberdayaan dan penyiapan UMKM agar bisa onboarding atau berjualan online.oduk yang menjadi unggulan UMKM di Papua yakni kopi, rumput laut, madu hitam, olahan sagu, serta aneka produk kerajinan seperti noken dan anyaman. Selain membangkitkan UMKM, gelaran PON XX diharapkan dapat menumbuhkan potensi pariwisata olahraga di Indonesia, khususnya di Papua.Sebagai informasi, PON Papua akan diselenggarakan pada 2--25 Oktober mendatang dan berpusat di Stadion Lukas Enembe, Kabupaten Jayapura. Ada 37 cabang olah raga yang akan dipertandingan di event olahraga terbesar di Indonesia tersebut.Penulis: Eri SutrisnoRedaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda SariSumber: indonesia.go.id
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021 23
Staf Ahli Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal Kementerian Keuangan Suminto mengatakan dana Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk mendukung UMKM serta korporasi terealisasi sebesar Rp68,35 triliun.Realisasi sampai 17 September 2021 itu setara 42 persen dari total anggaran PEN untuk UMKM dan korporasi sebesar Rp162 triliun pada 2021."Berbagai program dilakukan pemerintah sebagai dukungan terhadap UMKM, di antaranya penempatan dana di perbankan," terang Suminto dalam webinar, Rabu, 29 September 2021.
Pemerintah menempatkan dana di perbankan untuk mendorong penyaluran kredit modal kerja baru kepada pelaku usaha melalui dukungan likuiditas kepada perbankan. Sampai 17 September 2021, sebanyak 5,38 juta debitur telah memanfaatkan program ini.Di samping itu, pemerintah juga membuat program pembiayaan untuk usaha ultra mikro yang telah dimanfaatkan oleh sekitar 800 ribu debitur sampai April 2021. Pemerintah pun menyubsidi bunga UMKM dimana sampai 17 September 2021, sebanyak 10,5 juta UMKM telah memanfaatkan program ini."Pemerintah juga menjamin kredit baik bagi UMKM maupun non-UMKM. Untuk jaminan kredit bagi non-UKM pada 2020 sudah capai 0,9 juta debitur dan 2,1 juta debitur sampai 17 September 2021, sementara penjaminan kredit melalui KUR menjangkau lebih banyak lagi," imbuh Suminto.
Selanjutnya pemerintah juga membuat pembiayaan investasi melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan UMKM (LPDB-KUMKM) yang dimanfaatkan oleh 84 mitra koperasi dan 118,12 ribu UMKM pada 2020.Pemerintah juga membuat Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) yang telah dimanfaatkan oleh 12,7 juta usaha mikro per 17 September 2021. Sementara itu, insentif Pajak Penghasilan (PPh) final telah dimanfaatkan oleh 124 ribu Wajib Pajak UMKM pada 2021.
Capai Rp68,35 Triliun, Dana PEN untuk UMKM dan Korporasi Terealisasi 42%
Medcom.id Online Rabu, 29 September 2021
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021 24
Jakarta: Staf Ahli Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal Kementerian Keuangan Suminto mengatakan dana Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk mendukung UMKM serta korporasi terealisasi sebesar Rp68,35 triliun. Realisasi sampai 17 September 2021 itu setara 42 persen dari total anggaran PEN untuk UMKM dan korporasi sebesar Rp162 triliun pada 2021. "Berbagai program dilakukan pemerintah sebagai dukungan terhadap UMKM, di antaranya penempatan dana di perbankan,"
terang Suminto dalam webinar, Rabu, 29 September 2021.Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Pemerintah menempatkan dana di perbankan untuk mendorong penyaluran kredit modal kerja baru kepada pelaku usaha melalui dukungan likuiditas kepada perbankan. Sampai 17 September 2021, sebanyak 5,38 juta debitur telah memanfaatkan program ini. Di samping itu, pemerintah juga membuat program pembiayaan untuk usaha ultra mikro yang telah dimanfaatkan oleh sekitar 800 ribu debitur sampai April 2021. Pemerintah pun menyubsidi bunga UMKM dimana sampai 17 September 2021, sebanyak 10,5 juta UMKM telah memanfaatkan program ini.
"Pemerintah juga menjamin kredit baik bagi UMKM maupun non-UMKM. Untuk jaminan kredit bagi non-UKM pada 2020 sudah capai 0,9 juta debitur dan 2,1 juta debitur sampai 17 September 2021, sementara penjaminan kredit melalui KUR menjangkau lebih banyak lagi," imbuh Suminto. Selanjutnya pemerintah juga membuat pembiayaan investasi melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan UMKM (LPDB-KUMKM) yang dimanfaatkan oleh 84 mitra koperasi dan 118,12 ribu UMKM pada 2020. Pemerintah juga membuat Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) yang telah dimanfaatkan oleh 12,7 juta usaha mikro per 17 September 2021. Sementara itu, insentif Pajak Penghasilan (PPh) final telah dimanfaatkan oleh 124 ribu Wajib Pajak UMKM pada 2021.
Capai Rp68,35 Triliun, Dana PEN untuk UMKM dan Korporasi Terealisasi 42%
Medcom.id Online Rabu, 29 September 2021
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021 25
Kerja sama antara Kementerian Koperasi dan UKM dengan jaringan hotel global Accor Group telah membuahkan hasil. Terutama mayoritas di jaringan hotel Accor Group wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta seperti Novotel dan Ibis Hotel kini telah merasakan manfaatnya.KemenKopUKM berkolaborasi dengan Accor Group melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) penyerapan produk-produk UMKM di jaringan hotel milik Accor Group. Kerja sama ini sangat potensial bagi pelaku UMKM karena Accor Group memiliki lebih dari 5.000 jaringan hotel di seluruh dunia.Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam kunjungannya ke Solo, Jawa Tengah, menyaksikan sendiri bagaimana Novotel Solo Hotel, sebagai salah satu jaringan hotel Accor Group, teleh memberikan ruang promosi di lobi hotelnya. Ia mengapresiasi komitmen Accor Group dalam kerja sama tersebut."Saya pribadi sangat berterima kasih dan mengapresiasi langkah ini. Kalau bisa ini dijaga karena tak hanya menguntungkan bagi UMKM, tapi ini juga menjadi bisnis lain bagi Accor," ucap MenKopUKM Teten dalam acara Ramah Tamah dengan mitra UMKM binaan Novotel Solo di Solo, Jateng, Selasa (28/9) malam.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, General Manager (GM) Novotel Hotels & Resort Solo Toat Edi Wijaya, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah Ema Rachmawati, Deputi Bidang UKM KemenKopUKM Hanung Harimba Rachman, dan Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo.Untuk produk UMKM yang akan masuk dalam jaringan Accor Group, MenKopUKM meminta, agar mampu memenuhi standar atau selera pasar internasional. Selain perlu juga ditambah adanya storytelling pada produk tersebut."Bayangkan jika satu produk UMKM masuk ke seluruh jaringan itu, sangat besar sekali dampaknya. Terutama dalam memperkenalkan produk Tanah Air," katanya.Namun satu yang belum bisa dipenuhi pihaknya dari permintaan Accor adalah, untuk produk minyak kayu putih yang saat ini memiliki banyak permintaan. Lantaran belum banyak UMKM yang memenuhi standar ini."Kalau produk UMKM-nya tak sesuai tentunya akan membuat brand image jadi buruk. Kualitas dan standarisasi harus dijaga," pinta MenKopUKM.Selanjutnya, produk UMKM juga bisa memberikan cerita menarik pada produknya. Karena karakter pembeli global suka dengan produk yang memiliki value.
"Saat ini di produk wastra, sudah kami lakukan bersama Smesco dengan mencantumkan asal pembuatan produk tersebut. Ini menambah value pada wastra yang akan dijual karena ada cerita menarik di balik pembuatannya," imbuhnya.Apalagi dengan perkembangan teknologi digital sekarang ini, semua terhubung dengan mudah. Begitu juga bisnis tak hanya melibatkan B2B (Business to Business) tetapi juga B2C (Business to Customer)."Tak heran kalau sekarang pembeli dari Eropa pesan langsung produk ke desa di Jawa Tengah," tegas Teten.
MenKopUKM Kawal Ketersediaan Produk UMKM di Jaringan Hotel Accor Group
Liranews.com Online Rabu, 29 September 2021
26
Terkait kendala logistik ekspor yang masih dihadapi sejumlah UMKM , KemenKopUKM kata Teten, telah membuat program bersama Smesco untuk membantu kendala logistik tersebut dengan menggandeng perusahaan logistik Tanah Air dengan biaya terjangkau.Menanggapi hal ini, General Manager (GM) Novotel Hotels & Resort Solo Toat Edi Wijaya menuturkan, ruang bagi UMKM di Novotel telah dilakukan sejak Agustus 2020.
Hingga hari ini, diakui Toat, adanya tempat promosi bagi UMKM membawa dampak positif tak hanya bagi UMKM sendiri, tapi juga bagi tamu dan pihak hotel.
"Bagi UMKM sudah pasti ada akses pemasaran yang pasti, omzet juga meningkat. Bagi tamu hotel ini menjadi alternatif jika tak sempat membeli oleh-oleh kini tersedia di hotel dengan harga terjangkau. Dan bagi pihak hotel sendiri juga biaya yang dikeluarkan juga lebih rendah karena hotel menggunakan produk UMKM langsung dari sumbernya bukan industri, sehingga harga lebih murah dan beban operasional hotel semakin berkurang,"
jelas Toat.
Toat menjelaskan, komitmen penyediaan ruang bagi UMKM ini sebagai upaya mengurangi bahan atau produk impor di hotel. Seperti kopi dan teh yang saat ini masih banyak dari luar. Maka ke depan, akan menggunakan produk UMKM. Saat ini kata Toat, prosesnya tengah mencari produk yang terbaik.Khusus untuk kopi dan teh jika itu memnag sesuai taste internasional, sebut Toat, maka akan disampaikan juga ke jaringan Accor yang ada di luar negeri."Secara nyata yang sudah dilakukan adalah produk yang dipakai harian terutama breakfast hotel sudah menggunakan produk UMKM, mulai dari jamu, cokelat, bahan-bahan rempah, susu hingga roti," rincinya.
Selanjutnya untuk produk amenitis VIP menjadi produk UMKM. Kemudian Novotel juga menyediakan ruang display di lobi hotel yang sesuai dengan fokus hotel. Misalnya di Novotel fokus ke UMKM makanan, Royal display khusus batik, dan Ibis dengan produk UMKM handycraft."Itu minimum setiap Sabtu dan Minggu ditampilkan, di mana tamu hotel di waktu tersebut cukup ramai. Bahkan setiap ada meeting kementerian selalu kami display produk UMKM," jelasnya.Sementara program yang tengah digalakkan adalah Ibis akan menjadi sentra kopi Jateng. Di mana ada satu kafe di sana, yang nanti akan di-set up produk unggulan kopi yang berasal dari 60 kota penghasil berbagai jenis, yang akan di-display di sana. Juga akan dibuat katalog, sehingga eksportir kopi bisa mencoba di kafe tersebut."Cita-cita kami dari 100 hotel Accor yang ada di Indonesia, perlahan berawal dari Jawa Tengah, begitu bagus disebarkan di seluruh Indonesia," ucapnya.
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021
E-Kliping LPDB-KUMKM 2021 27
Kerja sama antara Kementerian Koperasi dan UKM dengan jaringan hotel global Accor Group telah membuahkan hasil. Terutama mayoritas di jaringan hotel Accor Group wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta seperti Novotel dan Ibis Hotel kini telah merasakan manfaatnya.KemenKopUKM berkolaborasi dengan Accor Group melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) penyerapan produk-produk UMKM di jaringan hotel milik Accor Group. Kerja sama ini sangat potensial bagi pelaku UMKM karena Accor Group memiliki lebih dari 5.000 jaringan hotel di seluruh dunia.Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam kunjungannya ke Solo, Jawa Tengah, menyaksikan sendiri bagaimana Novotel Solo Hotel, sebagai salah satu jaringan hotel Accor Group, teleh memberikan ruang promosi di lobi hotelnya. Ia mengapresiasi komitmen Accor Group dalam kerja sama tersebut.
"Saya pribadi sangat berterima kasih dan mengapresiasi langkah ini. Kalau bisa ini dijaga karena tak hanya menguntungkan bagi UMKM, tapi ini juga menjadi bisnis lain bagi Accor," ucap MenKopUKM Teten dalam acara Ramah Tamah dengan mitra UMKM binaan Novotel Solo di Solo, Jateng, Selasa (28/9) malam.Turut hadir dalam kegiatan tersebut, General Manager (GM) Novotel Hotels & Resort Solo Toat Edi Wijaya, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah Ema Rachmawati, Deputi Bidang UKM KemenKopUKM Hanung Harimba Rachman, dan Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo.Untuk produk UMKM yang akan masuk dalam jaringan Accor Group, MenKopUKM meminta, agar mampu memenuhi standar atau selera pasar internasional.
Selain perlu juga ditambah adanya storytelling pada produk tersebut."Bayangkan jika satu produk UMKM masuk ke seluruh jaringan itu, sangat besar sekali dampaknya. Terutama dalam memperkenalkan produk Tanah Air," katanya.
Namun satu yang belum bisa dipenuhi pihaknya dari permintaan Accor adalah, untuk produk minyak kayu putih yang saat ini memiliki banyak permintaan. Lantaran belum banyak UMKM yang memenuhi standar ini."Kalau produk UMKM-nya tak sesuai tentunya akan membuat brand image jadi buruk. Kualitas dan standarisasi harus dijaga," pinta MenKopUKM.Selanjutnya, produk UMKM juga bisa memberikan cerita menarik pada produknya. Karena karakter pembeli global suka dengan produk yang memiliki value."Saat ini di produk wastra, sudah kami lakukan bersama Smesco dengan mencantumkan asal pembuatan produk tersebut. Ini menambah value pada wastra yang akan dijual karena ada cerita menarik di balik pembuatannya," imbuhnya.
Apalagi dengan perkembangan teknologi digital sekarang ini, semua terhubung dengan mudah. Begitu juga bisnis tak hanya melibatkan B2B (Business to Business) tetapi juga B2C (Business to Customer)."Tak heran kalau sekarang pembeli dari Eropa pesan langsung produk ke desa di Jawa Tengah," tegas Teten.
Produk UMKM Masuk Jaringan Accor Group, Diharapkan Mampu Memenuhi Selera Pasar Internasional
Gempita.co Online Rabu, 29 September 2021
28
Terkait kendala logistik ekspor yang masih dihadapi sejumlah UMKM , KemenKopUKM kata Teten, telah membuat program bersama Smesco untuk membantu kendala logistik tersebut dengan menggandeng perusahaan logistik Tanah Air dengan biaya terjangkau.Menanggapi hal ini, General Manager (GM) Novotel Hotels & Resort Solo Toat Edi Wijaya menuturkan, ruang bagi UMKM di Novotel telah dilakukan sejak Agustus 2020.
Hingga hari ini, diakui Toat, adanya tempat promosi bagi UMKM membawa dampak positif tak hanya bagi UMKM sendiri, tapi juga bagi tamu dan pihak hotel."Bagi UMKM sudah pasti ada akses pemasaran yang pasti, omzet juga meningkat. Bagi tamu hotel ini menjadi alternatif jika tak sempat membeli oleh-oleh kini tersedia di hotel dengan harga terjangkau. Dan bagi pihak hotel sendiri juga biaya yang dikeluarkan juga lebih rendah karena hotel menggunakan produk UMKM langsung dari sumbernya bukan industri, sehingga harga lebih murah dan beban operasional hotel semakin berkurang," jelas Toat.
Toat menjelaskan, komitmen penyediaan ruang bagi UMKM ini sebagai upaya mengurangi bahan atau produk impor di hotel. Seperti kopi dan teh yang saat ini masih banyak dari luar. Maka ke depan, akan menggunakan produk UMKM. Saat ini kata Toat, prosesnya tengah mencari produk yang terbaik.Khusus untuk kopi dan teh jika itu memnag sesuai taste internasional, sebut Toat, maka akan disampaikan juga ke jaringan Accor yang ada di luar negeri."Secara nyata yang sudah dilakukan adalah produk yang dipakai harian terutama breakfast hotel sudah menggunakan produk UMKM, mulai dari jamu, cokelat, bahan-bahan rempah, susu hingga roti," rincinya.
Selanjutnya untuk produk amenitis VIP menjadi produk UMKM. Kemudian Novotel juga menyediakan ruang display di lobi hotel yang sesuai dengan fokus hotel. Misalnya di Novotel fokus ke UMKM makanan, Royal display khusus batik, dan Ibis dengan produk UMKM handycraft."Itu minimum setiap Sabtu dan Minggu ditampilkan, di mana tamu hotel di waktu tersebut cukup ramai. Bahkan setiap ada meeting kementerian selalu kami display produk UMKM," jelasnya.Sementara program yang tengah digalakkan adalah Ibis akan menjadi sentra kopi Jateng. Di mana ada satu kafe di sana, yang nanti akan di-set up produk unggulan kopi yang berasal dari 60 kota penghasil berbagai jenis, yang akan di-display di sana. Juga akan dibuat katalog, sehingga eksportir kopi bisa mencoba di kafe tersebut."Cita-cita kami dari 100 hotel Accor yang ada di Indonesia, perlahan berawal dari Jawa Tengah, begitu bagus disebarkan di seluruh Indonesia," tandasnya.