DIREKTORAT SEKOLAH DASAR ditpsd.kemdikbud.go.id
Pendidikan Bagi
Anak Komunitas Adat Terpencil (KAT)
BUKU SAKU PENDIDIKAN
LAYANAN
KHUSUS
SERI 3 :
Disusun oleh:
Tim Penyusun Direktorat Sekolah Dasar Ketua:
Agus Mardianto, M.Ak.
SERI 3 : PENDIDIKAN BAGI ANAK KOMUNITAS ADAT TERPENCIL (KAT)
Pengarah : Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd.
ISBN: 978-623-98588-5-8
Pembina : M. Aris Syarifuddin, S.T., M.M Ketua: Agus Mardianto, M.Ak.
Anggota:
1. Jauharul Maknun 2. Deden Muhidin 3. Yuyun Yuhanada, S.E.
4. Fachri Helmanto, M.Pd 5. Astika Purbasari, S.H.
6. Fadri Ari Sandi, M.P.A.
7. Roni Parulian Simamora, S.T.
Desain dan Tata Letak: Azinar Ismail Diterbitkan oleh:
Direktorat Sekolah Dasar
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Gedung E Lantai 17-18 Komplek Kemendikbudristek, Jl. Jend. Sudirman Senayan Jakarta 10270
Telp : (021) 5725635, Faks (021) 5725637 Laman : http://ditpsd.kemdikbud.go.id/
Jumlah Halaman: 28 Halaman Cetakan 1, 2021
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penulis.
BUKU SAKU PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga buku saku Pengelolaan Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Komunitas Adat Terpencil ini dapat diselesaikan. Buku saku ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Direktorat Sekolah Dasar untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan sekolah dasar di Indonesia.
Pendidikan dan penyelenggaraan pendidikan harus dikelola dengan baik agar kualitas peserta didik meningkat dan berkontribusi positif terhadap pembangunan nasional. Tata Kelola pendidikan yang baik merupakan salah satu dasar dalam upaya mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Faktor penentu dan penunjangnya adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), ketersediaan teknologi, penggunaan anggaran yang tepat sasaran, serta partisipasi pihak- pihak terkait.
Buku saku ini disusun bertujuan untuk memberikan layanan Pendidikan melalui pendampingan bagi anak-anak komunitas adat terpencil.
Akhir kata saya sampaikan terima kasih kepada para penyusun buku saku ini dan berharap buku saku ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait. Semoga Allah SWT memberikan pahala yang berlipat atas semua jerih payah yang telah dilakukan.
Direktur Sekolah Dasar
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... 3
Daftar Isi ... 4
Definisi dan Kategori Komunitas Adat Terpencil (KAT) 5
Pemangku Kepentingan ... 9
Asesmen Kebutuhan ... 11
Potensi Sumber Daya Pengelolaan Pendidikan Bagi Komunitas Adat Terpencil ... 14
Potensi Sumber Pembiayaan ... 16
Perencanaan Pengelolaan Pendidikan Komunitas Adat Terpencil (KAT) ... 18
Jenis-Jenis Pendampingan ... 20
Realisasi Pengelolaan Pendidikan Komunitas Adat Terpencil (KAT) ... 22
Implementasi Strategi Pembinaan ... 25
Daftar Pustaka ... 26
Peraturan ... 28
Definisi dan Kategori Komunitas Adat
Terpencil (KAT)
Komunitas Adat Terpencil (KAT)
M
enurut Peraturan Presiden nomor 186 tahun 2014 tentang pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT), KAT didefinisikan sebagai sekumpulan orang dalam jumlah tertentu yang terikat oleh kesatuan geografis, ekonomi, dan/atau sosial budaya, dan miskin, terpencil, dan/atau rentan sosial ekonomi.
KAT Kategori 1
KAT yang hidup dengan kondisi:
● hidup berpencar dan berpindah dalam komunitas kecil, tertutup, dan homogen (hidup berpindah-pindah, dalam orbitasinya, interaksi sosial yang masih terbatas dengan masyarakat lainnya, dan hidup dalam kesatuan suku yang relatif sama);
● bermata pencaharian tergantung pada lingkungan hidup dan sumber daya alam setempat yang relatif tinggi (berburu dan meramu dari berbagai potensi sumber daya alam setempat; menangkap ikan secara sederhana;
dan berladang berpindah di wilayah orbitasinya);
● hidup dengan sistem ekonomi subsisten (hasil mata pencaharian hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sendiri);
● sangat sederhana (menggunakan teknologi dan/atau peralatan yang masih sederhana dan/atau tradisional);
● marjinal di pedesaan (keterbatasan akses pemenuhan kebutuhan dasar dan pelayanan administrasi pemerintahan); dan
● mengalami berbagai kerentanan (rentan terhadap kesehatan, ketahanan pangan dan kecukupan gizi, serta permasalahan kesejahteraan sosial).
KAT Kategori 2
KAT yang pada umumnya hidup dengan kondisi:
● hidup menetap sementara, pada umumnya masih homogen, namun sudah lebih terbuka (tempat tinggal yang tetap walaupun sering ditinggal dikarenakan mengikuti mata pencahariannya sebagai peladang berpindah, masih hidup dengan suku yang relatif sama, namun sudah berinteraksi dengan masyarakat di luar komunitasnya);
● peladang berpindah (mata pencaharian sebagai peladang berpindah-pindah namun masih dalam wilayah orbitasinya);
● hidup dengan sistem ekonomi mengarah pada sistem pasar (adanya aktivitas pasar sederhana);
● kehidupannya sedikit lebih maju dari KAT kategori I (penggunaan teknologi dan peralatan yang lebih bervariasi);
● marjinal di pedesaan (keterbatasan akses pemenuhan kebutuhan dasar dan pelayanan administrasi pemerintahan); dan
● mengalami kerentanan (rentannya terhadap kesehatan, ketahanan pangan, kecukupan gizi, permasalahan kesejahteraan sosial, dan keterbatasan akses pelayanan dasar).
KAT Kategori 3
KAT yang pada umumnya hidup dengan kondisi :
● hidup menetap, sudah heterogen, dan lebih terbuka (hidup yang sudah tinggal menetap, sudah hidup dengan suku dan/atau warga masyarakat lain, interaksi dengan masyarakat lain lebih intensif);
● bermata pencaharian bertani, berkebun, nelayan, kerajinan dan/atau berdagang (kegiatan bertani dan berkebun menetap atau menangkap ikan bagi KAT yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, membuat kerajinan, serta berdagang bagi KAT yang tinggal di perkotaan);
● hidup dengan sistem ekonomi pasar (aktivitas pasar yang lebih intensif);
● pada umumnya hidup lebih maju dari KAT kategori II (cara penghidupan yang lebih bervariasi, sudah mengenal teknologi yang modern, serta interaksi dengan masyarakat di luar komunitasnya sudah intensif);
● marginal di pedesaan dan perkotaan (keterbatasan akses untuk pemenuhan kebutuhan dasar dan pelayanan administrasi pemerintahan); dan
● masih mengalami kerentanan (masih dialaminya kerentanan terhadap berbagai keterbatasan mengakses pemenuhan kebutuhan dasar).
Pemangku Kepentingan
Unsur Pemerintah (Pemerintah Pusat, Propinsi dan Kab/kota)
Perencana dan koordinator dalam penyediaan layanan pendidikan bagi KAT
Praktisi (individu maupun LSM)
● Berperan sebagai tenaga pendidik dan menjadi agen bagi masyarakat KAT dalam mendapatkan akses pendidikan formal maupun non formal
● membantu pengurusan dokumen legal bagi masyarakat KAT
Tenaga ahli (Pakar) Berfungsi sebagai konsultan dan perancang
penyelenggaran pendampingan
Lembaga kesejahteraan sosial (pemerintah
maupun swasta) Memberikan dukungan terhadap kondisi sosial
dan ekonomi KAT
Warga masyarakat Menciptakan lingkungan
yang kondusif dalam menerima KAT
Asesmen Kebutuhan
Proses Identifikasi Kebutuhan Layanan Pendidikan Bagi Anak KAT
1. Pembentukan kelompok kerja 2. Koordinasi antar pemangku
3. Penyelenggaraan Diskusi terpumpun (FGD) a. Penentuan kategori KAT
Bertujuan untuk membagi kelompok sasaran ke dalam 3 kategori KAT
b. Penentuan lokasi layanan
Pemetaan lokasi masing-masing sasaran dan pola tinggal setiap kategori sasaran
c. Penentuan jenis kebutuhan layanan
Jenis kebutuhan layanan pendidikan diberikan berdasarkan Kategori KAT
d. Perumusan permasalahan dan kebutuhan KAT e. Rencana tindak lanjut (Rekomendasi)
Jenis Layanan Pendidikan Bagi Anak KAT Kategori I (1) Literasi atau keaksaraan dasar baca, tulis dan hitung (2) Keterampilan hidup dalam konteks lokalitas, dan
kemampuan yang meliputi organizing, komunikasi, menejemen, teamwork dll
(3) menjaga keragaman hayati secara adil baik yang dimanfaatkan dan dilestarikan
Jenis Layanan Pendidikan Bagi Anak KAT Kategori II (1) Literasi atau keaksaraan dasar baca, tulis dan hitung (2) Pendidikan kesetaraan (nonformal)
(3) Pengetahuan potensi sumberdaya lokal
(4) Keterampilan hidup dalam konteks lokalitas, dan kemampuan yang meliputi organizing, komunikasi, menejemen, teamwork dll
(5) menjaga keragaman hayati secara adil baik yang dimanfaatkan dan dilestarikan
Jenis Layanan Pendidikan Bagi Anak KAT Kategori III (1) Literasi atau keaksaraan dasar baca, tulis dan hitung (2) Pendidikan kesetaraan (nonformal)
(3) Pendidikan Formal (Setiap jenjang) (4) Pengetahuan potensi sumberdaya lokal
(5) Keterampilan hidup dalam konteks lokalitas, dan kemampuan yang meliputi organizing, komunikasi, menejemen, teamwork dll
(6) menjaga keragaman hayati secara adil baik yang dimanfaatkan dan dilestarikan
Potensi Sumber Daya
Pengelolaan Pendidikan Bagi Komunitas Adat
Terpencil
Potensi Lembaga
1. Pemerintah Daerah/Bappeda
Membuat peraturan dan Perencanaan anggaran 2. Dinas Pendidikan Kab. /Kota
Sebagai perencana dan koordinator dalam rangka penyediaan akses pendidikan bagi anak KAT
3. Dinas Sosial
Dinas sosial mampu menyuplai data populasi dan informasi serta tingkat kesejahteraan masyarakat adat 4. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil
Memiliki potensi dalam menyediakan data-data legal yang dimiliki oleh kelompok keluarga KAT
Pemberian bantuan kepada KAT
1. Dinas terkait lainnya
Penyediaan kegiatan pendidikan melalui dinas yang bersinggungan langsung dengan KAT seperti dinas kehutanan
2. Masyarakat
Berpontensi sebagai calon-calon tenaga pendidik yang akan melayani di KAT
3. Pihak Swasta (Perusahaan dan LSM)
• Dana -dana CSR
• Tenaga kependidikan
Potensi Sumber Pembiayaan
1. APBN
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan Pemerintah negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat.
2. APBD
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah di Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. APBD ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
3. Bantuan Pemerintah
Bantuan yang tidak memenuhi kriteria bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah kepada perseorangan, kelompok masyarakat atau lembaga pemerintah/
non pemerintah. Sesuai Permendikbud no 32. Tahun 2019 tentang Pedoman Umum Penyaluran Bantuan Pemerintah di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan Peraturan Dirjen No. 8040/ C/HK/2020 Tentang
4. Bantuan Dana Hibah
Dana Hibah adalah pemberian uang/ barang/ jasa dari perseorangan maupun instansi baik asing maupun lokal.
5. CSR
CSR merupakan wujud dari tanggung jawab moral perusahaan/lembaga terhadap lingkungan sekitar termasuk bidang pendidikan.
Perencanaan Pengelolaan Pendidikan Komunitas
Adat Terpencil (KAT)
Anggaran
Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Penentuan SDM (tenaga pendidik, satgas, tokoh-tokoh adat)
Pendataan, pemetaan, distribusi tenaga pendidik yang ada di kab/kota yang dapat memberikan layanan kepada kelompok sasaran
Pola /strategi pembinaan
Strategi pembinaan untuk KAT Kategori I
1. Berkunjung langsung ke lokasi KAT sasaran untuk menemukan potensi anak-anak usia sekolah dasar 2. Sosialisasi mengenai manfaat pendidikan
3. Berdiskusi dengan KAT terkait metode pembelajaran disesuaikan dengan pola aktivitas KAT
4. Membentuk kader-kader pendidik yang berasal dari
Strategi pembinaan untuk KAT Kategori II
1. Berkunjung langsung ke lokasi KAT sasaran untuk menemukan potensi anak-anak usia sekolah dasar
2. Sosialisasi mengenai manfaat pendidikan
3. Berdiskusi dengan KAT terkait metode pembelajaran disesuaikan dengan pola aktivitas KAT
4. Mengumpulkan peserta didik di pusat kegiatan belajar 5. Membentuk kader-kader pendidik yang berasal dari
anggota komunitas itu sendiri
Strategi pembinaan untuk KAT Kategori III 1. Mendaftarkan anak KAT ke sekolah formal
2. Anak yang putus sekolah diupayakan untuk mengikuti paket A
3. Bagi anak yang menolak, diberikan kecakapan hidup dengan kerjasama balai latihan kerja
Jenis-Jenis
Pendampingan
Pendampingan bagi KAT Kategori I
Fasilitator menunggu kelompok anak yang hadir di lokasi belajar setelah anak selesai bekerja. Lokasi belajar berpindah-pindah mengikuti pola tinggal komunitas adat.
Pendampingan bagi KAT Kategori II
Fasilitator memberikan layanan pendidikan sesuai jadwal di lokasi pusat belajar.
Pendampingan bagi KAT Kategori III
● Bagi anak yang terdaftar di sekolah formal dan non formal, anak mengikuti jadwal sekolah.
● Bagi anak yang tidak bersekolah, pendampingan difokuskan kepada pemberian motivasi untuk
Aspek Pertimbangan dalam memberikan materi pelajaran dalam proses belajar mengajar
Materi pelajaran berdasarkan kesepakatan/
partisipatif dengan anak
Pembelajaran menyesuaikan dengan aspek sosial dan budaya
Memperhatikan aspek psikologis komunitas adat
Memperhatikan aspek ekologis (kondisi lingkungan hidup KAT)
Realisasi Anggaran
Untuk menentukan realisasi anggaran mempertimbangkan beberapa faktor:
a. Lokasi
Untuk menetapkan lokasi ditentukan oleh jarak, keadaan geografis, dan transportasi yang dibutuhkan b. Waktu
Lama pelaksanaan program
c. Materi/bahan/perlengkapan belajar
Alokasi anggaran untuk pembelian bahan-bahan ajar yang akan digunakan
d. Konsumsi
Alokasi anggaran untuk kebutuhan konsumsi selama pelaksanaan program
e. Komunikasi
Realisasi Pengelolaan
Pendidikan Komunitas
Adat Terpencil (KAT)
Membentuk Kerjasama/kemitraan
MITRA POTENSIAL PERAN DALAM KEMITRAAN 1. Direktorat SD • Pembinaan Kemitraan Bagi
Pemerintah Daerah dan Sekolah Dasar
• Pelaksan Kemitraan di tingkat Pusat
• Monitoring dan Evaluasi Kemitraan di tingkat Pusat, Kabupaten /Kota dan Sekolah Dasar
2. Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota • Inisiator Kemitraan di daerah
• Koordinasi Kemitraan
• Pelaksanan kemitraan di daerah
• Mendukung pelaksanaan program kemitraan di pusat dan sekolah
• Monitoring dan evaluasi Kemitraan di daerah
3. Lembaga/Organisasi • Inisiator Kemitraan di daerah
• Pelaksanan kemitraan di daerah
• Monitoring dan evaluasi Kemitraan di daerah
4. SKPD/ Dinas terkait • Koordinasi kemitraan pendidikan di Kab/kota
5. Institusi Pendidikan/
Perguruan Tinggi • Inisiator Kemitraan di daerah
• Pelaksanan kemitraan di daerah
• Monitoring dan evaluasi Kemitraan di daerah
6. Badan Usaha/Dunia
Usaha • Inisiator Kemitraan di daerah
• Koordinasi Kemitraan
• Pelaksanan kemitraan di daerah
• Monitoring dan evaluasi Kemitraan di daerah
7. Masyarakat
(Individu/Kelompok) • Inisiator Kemitraan
• Koordinasi Kemitraan
• Pelaksanan kemitraan di daerah
• Mendukung pelaksanaan program kemitraan di daerah
• Monitoring dan evaluasi Kemitraan di daerah
Dalam mengimplementasikan strategi pembinaan, perlu memperhatikan beberapa aspek, yaitu:
Implementasi Strategi
Pembinaan
Kualifikasi, kompetensi dan penguatan tenaga pendidik disesuaikan
dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat
adat
Pembelajaran yang memiliki fleksibiltas
tinggi
Sarpras disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik
setempat Materi diupayakan
berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup peserta
didik
Daftar Pustaka
• Eliza, F. R., Ridwan, M., & Noerjoedianto, D. (2018). Peran Pemerintah Terhadap Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil Suku Anak Dalam (Sad) Di Provinsi Jambi Tahun 2018. Jurnal Kesmas Jambi, 2(1), 40-49.
• Feryok, A. (2013). Teaching for learner autonomy: The teacher’s role and sociocultural theory. Innovation in Language Learning and Teaching, 7(3), 213–225.
• Mardiyati, A., & Gutomo, T. (2020). Kemandirian dan Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil di Kabupaten Marangin. Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial, 42(3), 263-274.
• Morgan, H. (2020). Best Practices for Implementing Remote Learning during a Pandemic. The Clearing House:
A Journal of Educational Strategies, Issues and Ideas, 93(5), 135–141.
• Mustansyir, R., & Munir, M. (2009). Konsep urang sabana urang dalam pepatah minangkabau. Jurnal Filsafat, 19(2), 165–177.
• Nurochim, & Ngaisah, S. (2020). ORGANISASI SEKOLAH DI MASA PANDEMI. ALIGNMENT:Journal of Administration and Educational Management, 3(2), 154–167.
• Panjaitan, A. P., Darmawan, A., Purba, I. R., Rachmad, Y., & Simanjuntak, R. (2014). Korelasi Kebudayan dan Pendidikan: Membangun Pendidikan Berbasis Budaya
• Pratiwi, N. K. (2017). Pengaruh Tingkat Pendidikan, Perhatian Orang tua dan Minat Belajar Siswa terhadap Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Siswa SMK Kesehatan di kota Tangerang. Pujangga, 1(2), 31.
• Sidiq, R. S. S. (2020). Analisis SWOT Dalam Persiapan Pemberdayaan Sosial Komunitas Adat Terpencil. Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial, 6(2), 119-126.
• Suardani, M. (2021). Media Lingkungan Sekitar dalam Pengembangan Minat Belajar Anak. TEMATIK: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Pendidikan Anak Usia Dini, 7(1), 44–51.
• Suharyat, Y. (2009). Hubungan antara Sikap, Minat dan Perilaku Manusia. Jurnal Region, 1(3), 1–19.
• Sujarwani, R., Wulandari, F. D., Husni, A., & Rianto, F. (2018).
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KOMUNITAS ADAT TERPENCIL (KAT) OLEH PEMERINTAH KABUPATEN LINGGA. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, 20(1), 17-31.
• Umam, M. K. (2019). Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Manajemen Peserta Didik. AL-Hikmah: Jurnal Kependidikan Dan Syariah, 6(2), 62–76.
PERATURAN
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 31 ayat 1
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 186 Tahun 2014 tentang Pemberdayaan Sosial Terhadap Komunitas Adat Terpencil
Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2015 Tentang Pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 186 Tahun 2014 tentang Pemberdayaan Sosial Terhadap Komunitas Adat Terpencil
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 72 tahun 2013 tentang penyelenggaraan pendidikan layanan khusus
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 67 tahun 2016 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 72 tahun 2013 tentang penyelenggaraan pendidikan layanan khusus
Direktorat Sekolah Dasar