V ALUASI EKONOMI OBYEK WISATA CIKOROMOY DI KABUPATEN PANDEGLANG
DENGAN MENGGUNAKAN
METODE BIA YA PERJALANAN (TRAVEL COST METHOD)
TESIS
RADEN RARA EULIS HENDRASWATI NPM: 0706299321
FAKULTAS EKONOMI PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
DEPOK APRIL 2009
V ALUASI EKONOMI OBYEK WISATA CIKOROMOY DI KABUPATEN PANDEGLANG
DENGAN MENGGUNAKAN
METODE BIA Y A PERJALANAN (TRAVEL COST METHOD)
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi
RADEN RARA EULIS HENDRASW A TI NPM: 0706299321
FAKULTAS EKONOMI PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK KEKHUSUSAN EKONOMI PERENCANAAN KOT A DAN DAERAH
DEPOK APRIL 2009
Tesis ini diajukan oleh Nama
NPM
ProgramStudi Judul Tesis
: Raden Rara Eulis Hendraswati : 0706299321
: Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik FEUI : V aluasi Ekonomi Obyek Wisata Cikoromoy di
Kabupaten Pandeglang dengan Menggunakan Metode Biaya Perjalanan (Travel Cost Method)
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi pada Program Studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Pembimbing
Penguji
Penguji
Ditetapkan di Tanggal
DEW AN PENGUJI
Dr. lr. Riyanto
(
~ )Hera Susanti, S.E., M.Sc.
(~·
)Dr. Ir. Widyono Soetjipto
~
..~
fV\.I ): Depok
Juni 2009
Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan tesis ini. Penulisan Tesis ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister Ekonomi Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pibak, dari masa perkuliahan sampai penyusunan tesis ini, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan tesis ini.
Oleb karena itu, saya mengucapkan terima kasib kepada
(1) Dr. Ir. Riyanto, selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam penyusunan tesis ini;
(2) Pusbindiklatren Bappenas atas beasiswa dan kesempatan yang telah diberikan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya PNS;
(3) Seluruh tenaga pengajar dan karyawan Program MPKP FE UI;
(4) Bappeda Kabupaten Pandeglang; BPKD Kabupaten Pandeglang; Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Pandeglang; Sekretariat Daerah Kabupaten Pandeglang beserta jajarannya yang telah banyak membantu dalam usaha memperoleb data yang saya perlukan;
(5) Pak Agung dan Pak Ai Budiman dari BPS Kabupaten Pandeglang, Pak Husin dari BPS Provinsi Banten, Kak Epul dari Bappeda Kabupaten Pandeglang, Pak Cep Dedy dari Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Pandeglang; yang telah banyak membantu dalam usaha memperoleb data yang saya perlukan;
(6) Keluarga saya: bapak (aim) R.H. Munahar Hadi Sumarto, ibu Hj. Siti Sumiyati Munahar dan seluruh anggota keluarga besar R.H. Munahar, bapak mertua (aim) H. Madais Amsir dan mama mertua lbu Eni Madais, Mas Agung-Mbak Dita dan keluarga, atas segala do'a, dukungan, bantuan moril dan materiil;
(7) Tesis ini secara khusus saya persembahkan kepada yang tercinta: suami Mob.
FE-U I.
(8) Yuni, Helena, Peggy, lis, Mas Muflihun dan teman-teman dari angkatan XVII Kelas Bappenas serta teman-teman dari angkatan XIX Kelas Bappenas yang telah banyak membantu saya dalam menyelesaikan tesis ini.
Akhir kata, saya berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga tesis ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu.
Depok, Mei 2009
Penulis
Tesis iai adalah llasil karya saya seadiri, daa semua sumber baik ya•g dikatip maupun dirujuk telah saya
ayatakan dengan benar
Nama : Raden Rara Eulis HendrciSWati : 07~~321
:
~~~
NPM
Tanda tangan
Tanggal 20 Mei 2009
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama Raden Rara Eulis Hendraswati
NPM 0706299321
Program Studi Pascasarjana Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas : Ekonomi Jenis Karya : Tesis
demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
"Valuasi Ekonomi Obyek Wisata Cikoromoy di Kabupaten Pandeglang dengan Menggunakan Metode Biaya Perjalanan (Travel Cost Method)"
beserta perangkat yang ada Uika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif m1 Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedialformatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebebnarnya.
Dibuat di : Depok Padatanggal:20 Mei2009
Yang me yatakan
_.t\\~
(Raden Rara Eulis Hendraswati)
Nama Raden Rara Eulis Hendraswati
Program Studi : Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik
Judul Valuasi Ekonomi Obyek Wisata Cikoromoy di Kabupaten Pandeglang dengan Menggunakan Metode Biaya Perjalanan (Travel Cost Method)
Cikoromoy merupakan obyek wisata alam dengan komoditas wisata utamanya adalah perairan darat atau biasa disebut obyek wisata tirta. Kabupaten Pandeglang sebagai daerah tujuan wisata utama di wilayah Propinsi Banten berusaha mengoptimalkan potensi-potensi wisata yang dimiliki antara lain adalah obyek wisata Cikoromoy. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi nilai ekonomi sumber daya wisata Cikoromoy dari sisi demand pengunjung. Dengan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian ekonomi sumber daya wisata Cikoromoy, maka dapat ditentukan hal-hal harus diperbaiki atau perlu diadakan agar mampu meningkatkan kepuasan I utility pengunjung sehingga frekuensi kunjungan wisata ke Cikoromoy meningkat.
Pada penelitian ini jumlah responden yang diobservasi adalah 197 orang wisatawan. Dengan menggunakan metode Travel Cost Method dapat diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi kunjungan wisata Cikoromoy adalah biaya perjalanan, waktu perjalanan, pendapatan, zona asal pengunjung, persepsi mengenai Cikoromoy sebagai bagian dari Gunung Karang berfungsi mengurangi polusi dan persepsi fungsi ekologi bahwa ekosistem Gunung Karang termasuk didalamnya Cikoromoy membantu mengurangi efek global warming. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai WTP wisatawan Cikoromoy adalah Rp 4.651, sedangkan harga tiket masuk Cikoromoy saat ini adalah Rp 2.000, terdapat selisih sebesar Rp 2.651,- per harga tiket per orang. Dengan memberikan peningkatan mutu layanan dan jenis fasilitas dalam kawasan wisata Cikoromoy maka akan meningkatkan kepuasan I utility pengunjung sehingga pada akhirnya nilai willingness to pay juga akan meningkat. Nilai WTP inilah yang dapat dijadikan alternatif dasar penentuan tariftiket masuk yang baru.
Kata Kunci:
Valuasi ekonomi, obyek wisata alam, TCM, Cikoromoy.
Universitas Indonesia
Programme of Study Magister of Planning and Public Policy
Title Economic Valuation of Cikoromoy Eco-tourism in Pandeglang District By Using Travel Cost Method (TCM)
Cikoromoy is one of eco-tourism destinations whose main commodity is land water or known as water tourism. Pandeglang District, the major tourism destination in Banten Province, had optimized its tourism competency such as Cikoromoy water tourism. This research tried to estimate economic value of Cikoromoy water tourism based on visitor's demand. There is a need to identify factors that influence economic value of Cikoromoy water tourism in order to improve visitor's satisfaction and to increase visiting frequency to this resort.
This research had 197 respondents as the same as visitors to Cikoromoy water tourism. Travel Cost Method has been used to identify factors that influence visiting frequency to this resort such as travel cost, travel schedule, income, visitor's place of origin, visitor's perception on Cikoromoy, and visitor's knowledge on other tourism destinations as a substitut( to Cikoromoy. The result of WTP value of Cikoromoy visitor's was Rp 4,651 while the present entrance ticket was Rp 2,000 there was a gap of Rp 2,651 in each person. By improving the quality of hospitality and varied facilities in Cikoromoy, it will improve the visitor's satisfaction and increase the willingness to pay among visitors. The WTP value can be used as an alternative to consider the basis of new entrance ticket.
Keyword:
Economic valuation, eco-tourism, TCM, Cikoromoy
HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR
SURA T PERNY ATAAN ORISINALITAS
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARY A ILMIAH
ABSTRAK ... i
DAFT AR lSI ... .ii
DAFT AR T ABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... : ... viii
DAFT AR LAMPIRAN ... X DAFTAR SINGKATAN ... xi
I PENDAHULUAN I.I. Latar Belakang ... I I.2. Perumusan Masalah ... 7
I.3. Tujuan Penelitian ... 8
I.4. Manfaat Penelitian ... 8
1.5. Hipotesis ... 8
1.6. Ruang Lingkup dan Batasan Studi.. ... 9
I. 7. Sistematika Penulisan ... I 0 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.I. Konsep dan Falsafah Sumber Daya Pariwisata ... 13
2.2. Valuasi Ekonomi Sumber Daya Alam pada Lokasi Wisata: Kcnsep dan Cara Perhitungannya ... 16
3 KERANGKA KONSEPTUAL DAN METODE ANALISIS 3 .I. Kerangka Konseptual ... 25
3.2. Metode Anal isis ... 27
3.2.I. Teknik Sampling ... 27
3.2.2. Kuisioner ... 28
3.2.3. Analisis Deskriptif ... 28
3.2.4. Model Pendugaan Biaya Perjalanan ... 29
3.2.5. Hipotesis Biaya Perjalanan ... .30
3.2.6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Ekonomi Sumber Daya Cikoromoy ... 34
4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Kondisi Umum Sosial Ekonomi Kabupaten Pandeglang ... 38
4.2. Data Konsumsi Penduduk Kabupaten Pandeglang dan Daerah Sekitarnya ... 42
4.3. Cikoromoy Saat ini ... 44
5 KARAKTERISTIK PENGUNJUNG, PERSEPSI PENGUNJUNG DAN FREKUENSI KUNJUNGAN WISA TA KE CIKOROMOY 5.1. Karakteristik Pengunjung ... .49
5.2. Persepsi Pengunjung Terhadap Obyek Wisata Cikoromoy ... 56
5.3. Hubungan Antara Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir Dengan Karakteristik dan Persepsi Responden ... 64 5.3.1. Hubungan Antara Frekuensi Kunjungan Dalam
Ekologi Cikoromoy ... 68 5.3.3. Hubungan Antara Frekuensi Kunjungan Dalam
Setahun Terakhir Dengan Pengetahuan Responden
Tentang Substitusi Cikoromoy ... 72 5.4. Uji Independensi Menggunakan Chi Square Antara
Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir Dengan
Karakteristik dan Persepsi Responden ... 76 5.4.1. Uji Independensi Menggunakan Chi~Square
Antara Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun
Terakhir Dengan Karakteristik Responden ... 76 5.4.2. Uji lndependensi Menggunakan Chi Square
Antara Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun
Terakhir Dengan Persepsi Responden ... 79 5.4.3. Uji Independensi Menggunakan Chi Square
Antara Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir Dengan Pengetahuan Responden
Tentang Substitusi Cikoromoy ... 84 5.5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi.. ... 88
6 V ALUASI EKONOMI SUMBER DAY A CIKOROMOY DENGAN
TRAVEL COST METHOD
6.1. Regresi Model Travel Cost Method ... 93 6.2 Surplus Konsumen ... 95 BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN
7 .1. Kesimpulan ... I 02 7.2. Saran ... 102 DAFTAR PUSTAKA ... I04 LAMP IRAN
iii Universitas Indonesia
Tabel 1.1.
Tabel 1.2.
Tabel 1.3.
Tabel 4.1.
Tabel 4.2.
Tabel 4.3.
Tabel 4.4.
Tabel 4.5.
Jenis dan Jwnlah Tujuan Wisata di Kabupaten Pandeglang
dan Provinsi Ban ten ... 3 Data Wisatawan di Kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten tahun 2000-2006 ... 3 Data Wisatawan di Cikoromoy dan Wisatawan Seluruh Pandeglang Tahun 2005-2006 ... · ... 5 Data Jumlah Penduduk Kabupaten Pandeglang
Tahun 2000-2007 ... 38 Data Penduduk Usia Sekolah Kabupaten Pandeglang
Tahun 2001-2006 ... 39 Data PDRB Kabupaten Pandeglang Tahun 2003-2007 ... .40 Data Income per kapita Penduduk Kabupaten Pandeglang
Tahun 2000-2007 ... 41 Data Konswnsi Penduduk Kabupaten Pandeglang pada
Sub Kelompok Aneka Barang dan Jasa
TahUJ1 2000-2007 ... 42 Tabel 4.6. Data Belanja Wisata Penduduk Kabupaten Serang,
Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Cilegon dan
Kota Tangerang Tahun 2000-2007 ... .43 Tabel 4.7. Data Wisatawan di Cikoromoy, wisatawan tirta dan total
wisatawan Pandeglang Tahun 2005-2007 ... .48 Tabel 5.1. Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir Berdasarkan
Pendidikan ... 65 Tabel 5.2. Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir Berdasarkan
Jenis Peketjaan ... 65 Tabel 5.3. Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir Berdasarkan
Zona ... 66 Tabel 5.4. Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir Berdasarkan
Income per Bulan ... 66 Tabel 5.5. Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir Berdasarkan
Biaya Petjalanan ... 67 Tabel 5.6. Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir Berdasarkan
Waktu Petjalanan ... 67
alam ... 68 Tabel 5.8. Tabulasi Silang Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir
Dengan Daya tarik utama Cikoromoy adalah udara yang bersih dan segar ... 69 Tabel 5.9. Tabulasi Silang Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir
Dengan Cikoromoy berfungsi sebagai sumber mata air ... 70 Tabel 5.1 0. Tabulasi Silang Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir
Dengan Cikoromoy sebagai bagian dari ekosistem
Gunung Karang berfungsi sebagai pengendali banjirllongsor ... 70 Tabel 5.11. Tabulasi Silang Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir
Dengan Cikoromoy sebagai bagian dari ekosistem
Gunung Karang berfungsi dalam mengurangi polusi ... 71 Tabel 5.12. Tabulasi Silang Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir
Dengan Ekosistem Gunung Karang ( didalammnya Cikoromoy) membantu mengurangi global warming ... 72 Tabel 5.13. Tabulasi Silang Frekuensi Kunjungan Dalam ~etahun Terakhir
Dengan Keadaan Cikoromoy lebih bersih dibandingkan
obyek wisata tirta lainnya ... 73 Tabel 5.14. Tabulasi Silang Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir
Dengan Cikoromoy mempunyai lebih banyak fasilitas
yang dapat dimanfaatkan ... 73 Tabel 5.15. Tabulasi Silang Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir
Dengan Fasilitas Cikoromoy (seperti toilet, tempat parkir, tempat sampah, tempat beribadah, dll) lebih banyak dan terpelihara dibandingkan dengan fasilitas yang sama di obyek wisata tirta lain ... 74 Tabel 5.16. Tabulasi Silang Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir
Dengan Pengunjung di Cikoromoy lebih banyak dibandingkan pengunjung ke obyek wisata tirta lain ... 75 Tabel 5.17. Tabulasi Silang Frekuensi Kunjungan Dalam Setahun Terakhir
Dengan Pelayanan di Cikoromoy lebih baik dibandingkan pelayanan di obyek wisata tirta lain ... 76 Tabel 5.18. Nilai Chi Square Variabel Bebas yang Dipergunakan pada Travel
Cost Method ... 77
Tabel 5.20. Nilai Chi Square Pengetahuan Responden Tentang Substitusi
Cikoromoy yang Dipergunakan pada Travel Cost Method ... 85
Tabel 6.1. Output Regresi Seluruh V ariabel Bebas ... 94
Tabel 6.2. Consumer Surplus dan Populasi Wisatawan ... 96
Tabel 6.3. Tabel Nilai Willingness To Pay pada Travel Cost Method ... 100
Gambar 1.1. Peta Lokasi Obyek Wisata Cikoromoy ... 6
Gambar 2.1. Kurva Permintaan dan Surplus Konsumen ... 23
Gambar 2.2. Bagan Nilai Ekonomi Sumber Daya ... 24
Gambar 2.3. Klasifikasi Valuasi Non Market ... 21
Gam bar 5 .1. Grafik Pengelompokan Responden Cikoromoy Berdasarkan Zona Asal ... 49
Gambar 5.2. Grafik Pengelompokan Responden Cikoromoy Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 50
Gambar 5.3. Grafik Pengelompokan Responden Cikoromoy Berdasarkan Profesi. ... 50
Gambar 5.4. Grafik Jumlah Kunjungan per Tahun Responden Cikoromoy ... 51
Gambar 5.5. Grafik Pengelompokan Responden Cikoromoy Berdasarkan Jarak ... 51
Gambar 5.6. Grafik Pengelompokan Responden Cikoromoy Berdasarkan Waktu Peijalanan ... 52
Gam bar 5. 7. Grafik Pengelompokan Responden Cikoromoy Berdasarkan Kendaraan yang Digunakan ... 52
Gambar 5.8. Grafik Pengelompokan Responden Cikoromoy Pengguna Kendaraan Pribadi Berdasarkan Biaya Transportasi.. ... 53
Gambar 5.9. Grafik Pengelompokan Responden Cikoromoy Pengguna Kendaraan Umum Berdasarkan Biaya Transportasi ... 53
Gambar 5.10. Grafik Pengelompokan Responden Cikoromoy Berdasarkan Pengeluaran Total per Bulan ... 54
Gambar 5.11. Grafik Pengelompokan Responden Cikoromoy Berdasarkan Alokasi Belanja Wisata per Bulan ... 55
Gambar 5.12. Grafik Prosentase Persetujuan Terhadap Persepsi Mengenai Cikoromoy ... 57
Gambar 5.13. Grafik Prosentase Pengetahuan Tentang Substitusi Cikoromoy ... 61
Gambar 5.14. Grafik Profil Alasan Peningkatan Frekuensi Kunjungan ke Cikoromoy ... 63
Gambar 6.1. Grafik Nilai Consumer Surplus pada Travel Cost Method ... 96
Gambar 6.2. Grafik Nilai WTP pada Travel Cost Method ... 98
Gambar 6.3. Gambar Area Consumer Surplus Cikoromoy ... ! 00
Lampiran 1. Tabel Persepsi Pengunjung Tentang Kondisi Cikoromoy ... 1 Lampiran 2. Tabel Pengetahuan Pengunjung tentang Perbandingan
Cikoromoy dengan Obyek Wisata Tirta Substitusinya ... 2 Lampiran 3. Tabel Profil Alasan Peningkatan Frek~ensi Kunjungan
ke Cikoromoy ... 2 Lampiran 4. Output Model Persamaan Travel Cost Method pada Eviews ... .3 Lampiran 5. Tabulasi Silang Frekuensi Kunjungan dengan Jenis Pekerjaan ... 3 Lampiran 6. Tabulasi Silang Frekuensi Kunjungan dengan
Tingkat Pendidikan ... 4 Lampiran 7. Tabulasi Silang Frekuensi Kunjungan dengan Zona Asal
Responden ... 4 Lampiran 8. Tabulasi Silang Frekuensi Kunjungan dengan
Biaya Perjalanan ... 4 Lampiran 9. Tabulasi Silang Frekuensi Kunjungan dengan Income
per bulan ... 5 Lampiran 10. Tabulasi Silang Frekuensi Kunjungan dengan Waktu Perjalanan ... 5 Lampiran 11. Nilai Hasil Uji Chi-Square Fungsi-fungsi Ekologi Cikoromoy ... 5 Lampiran 12. Nilai Hasil Uji Chi-Square Pengetahuan Responden
tentang Substitusi Cikoromoy ... 7 Lampiran 13. Nilai Hasil Uji Chi-Square Variabel Bebas yang
Dipergunakan pada TCM ... 8 Lampiran 14. Tabel Perhitungan Nilai Consumer Surplus dan Willingness To
Pay pada Travel Cost Method ... . 1 0 Lampiran 15. Tabel Perhitungan Kategori Consumer Surplus pada Travel Cost
Method ... 11 Lampiran 16. Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Pandeglang
Tahun 2000-2007 Dengan Tahun Dasar 2000 ... 13
ABRJ = Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Bapedal = Badan Pengelolaan Dampak Lingkungan BPS = Badan Pusat Statistik
C02 = Karbon dioksida
cs
= Consumer Surplus I Surplus Konsurnencv
= Compensating Variation CVM = Contingent Valuation Method dpl = Diatas pennukaan lautEV = Equivalent Variation Ho = Hipotesis nol
HI = Hipotesis satu IRT = lbu Rurnah Tangga Kab. = Kabupaten
KM2 = Kilometer persegi
M = meter
MTs = Madrasah Tsanawiyah
PDAM = Perusahaan Daerah Air Minurn
PS = Pegawai Swasta
Plj!Mhs = Pelajar/Mahasiswa PNS = Pegawai Negeri Sipil
Rp = Rupiah
RTRW = Rencana Tata Ruang dan Wilayah
SD = Sekolah Dasar
SDM = Surnber Daya Manusia SMA = Sekolah Menengah Atas SMP = Sekolah Menengah Pertama
Susenas = Sensus Sosial dan Ekonomi Nasional
TCM = Travel Cost Method (metode biaya perjalanan) UMP = Upah Minimum Propinsi
UMR = Upah Minimum Regional
we
= Water Closed (Kamar Mandi) WTA = Willingness To AcceptWTP = Willingness To Pay
1.1 Latar Belakang
Dalam Undang-Undang nomor 9 tahun 1990 tentang Kepariwisataan disebutkan bahwa usaha pariwisata adalah kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa pariwisata atau menyediakan atau mengusahakan obyek dan daya tarik wisata, usaha barang pariwisata dan usaha lain yang terkait dengan bidang tersebut. Pariwisata termasuk semua aktifitas dan dampak yang terjadi bagi wisatawan liburan, baik internasional maupun domestik (Hadinoto, 1996).
Sektor pariwisata sebagai industri jasa merupakan salah satu bidang yang dapat memberikan andil yang cukup besar dalam pembangunan. Kegiatan pariwisata yang dikelola dengan baik dapat menjadi salah satu penyumbang pendapatan yang potensial dalam pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah. Pariwisata bukan hanya sebagai sumber devisa tetapi juga dapat memperluas kesempatan kerja yang ditimbulkan dari sejumlah keterkaitan sektor-sektor lain.
Oleh karena itulah Kabupaten Pandeglang, dalam visinya tahun 2006- 20 I 0 menyatakan bahwa Pandeglang difungsikan sebagai daerah agribisnis dan tujuan wisata unggul di wilayah Propinsi Banten. Potensi Kabupaten Pandeglang sebagai tujuan wisata unggul didukung oleh topografi yang menguntungkan yaitu berada diantara pesisir pantai hingga pegunungan, dengan variasi ketinggian 0- 1.788 M dpl (diatas permukaan taut), luas daratan 233.678,71 ha atau sekitar 85,07% dari luas total kabupaten, sisanya sebesar 14,93% adalah lautan.
Perbedaan ketinggian daratan yang tajam mempengaruhi suhu mikro wilayah Kabupaten Pandeglang antara dingin hingga hangat. Suhu udara terdingin yaitu 22,5°C di Puncak Gunung Karang sedangkan suhu udara terhangat yaitu 27,9"C di sepanjang pesisir pantai Selat Sunda hingga pesisir selatan yang menghadap ke Samudera Indonesia. Kabupaten Pandeglang memiliki garis pantai sepanjang lebih kurang 230 km dengan pulau-pulau kecil yang tersebar atau berbentuk gugusan. Keunggulan inilah yang dijadikan dasar penentuan destinasi pariwisata Kabupaten Pandeglang. Daya tarik panorama alam merupakan dasar penentuan tujuan-tujuan wisata ini. Bentang ekosistem alam yang masih asri dan hijau,
Universitas Indonesia
udara segar, hawa dingin pegunungan, udara hangat pantai dan belum banyak campur tangan manusia merupakan daya tarik utama, kondisi ini berlawanan dengan kondisi pesisir Selat Sunda di Kota Cilegon dan sebagian pesisir utara Pulau Jawa di Kabupaten Serang Kota Serang dan Kabupaten Tangerang yang sudah padat dengan berbagai macam industri.
Kabupaten Pandeglang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Banten, dengan luas wilayah 274.689,91 ha atau 2.747 KM2 terdiri dari 33 kecamatan pada tahun 2007. Sisi utara kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Serang, sisi barat dengan selat Sunda, sisi selatan dengan Samudera Indonesia dan sisi timur berbatasan dengan Kabupaten Lebak. Sejak Indonesia merdeka tahun 1945 hingga akhir tahun 2000 Kabupaten Pandeglang merupakan salah satu kabupaten di wilayah administrasi Provinsi Jawa Barat, namun sejak ditetapkan Undang-Undang nomor 23 tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten Kabupaten Pandeglang masuk salah satu daerah otonom di wilayah administrasi Provinsi Banten bersama-sama dengan Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Cilegon, Kota Tangerang dan Kota Serang yang berdiri tahun 2007.
Menurut Undang-Undang nomor 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan dinyatakan bahwa daerah tujuan \\risata dikelompokkan menurut tema wisata, terdiri dari : Wisata Pantai Marina, Wisata Tirta, Wisata Sejarah dan Suaka Alam.
Kabupaten Pandeglang memiliki semua jenis tema tersebut, 4 lokasi Wisata Pantai Marina dari 25 lokasi yang ada diseluruh Provinsi Banten; 5 lokasi Wisata Tirta dari 18 lokasi di seluruh Provinsi Banten, 56 lokasi Wisata Sejarah dari 1 07 lokasi di seluruh Provinsi Banten, meliputi Museum, Situs Purbakala, Bangunan Bersejarah dan Makam bersejarah. Kabupaten Pandeglang memiliki 1 lokasi suaka alam dari I 0 suaka alam yang ada di seluruh Provinsi Banten, yaitu Taman Nasional Ujung Kulon sebagai tempat konservasi Badak Jawa (Rhinoceros Sundaicus). Data potensi wisata di Kabupaten Pandeglang dapat dilihat pada tabel 1.1.
Tabel1.1
Jenis dan Jumlah Tujuan Wisata di Kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten
Lokasi Pandeglang Ban ten
Wisata Pantai Marina 4 25
Wisata Tirta 5 18
Wisata Museum 1 1
Sejarah Situs Purbakala 13 25
Bangunan Bersejarah 21 28
Makam bersejarah 22 53
SuakaAlam 1 10
sumber: BPS Prov. Banten, 2005
Pada lokasi-lokasi wisata tersebut jumlah wisatawan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan terutama pada wisata tirta.
Tahun
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006
Tabel1.2
Data Wisatawan di Kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten tahun 2000-2006
Jumlah Wisatawan Jumlah Wisatawan pada Wisata Tirta
Pandeglang % Ban ten Pandeglang % Banten
(orang) Pandeglang (orang) (orang) Pandeglang (orang)
terhadap terhadap
Ban ten Banten
1.321.228 53,46 2.471.301 25.349 17,43 145.457
640.802 25,91 2.473.378 41.530 28,55 145.457
370.005 64,54 573.265 46.842 69,69 67.214
91.247 47,96 190.271 64.876 61,00 106.352
68.008 4,80 1.417.626 65.634 38,90 168.714
5.455.311 53,46 10.203.903 685.065 66,14 1.035.844 2.394.645 64,55 3.709.701 633.878 61,00 1.039.125
Sumber: BPS Provms1 Banten 2001-2007, d10lah ..
Dalam dokumen Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Pandeglang tahun 2003-2013, wilayah pengembangan pariwisata di Kabupaten Pandeglang saat ini berbasis pada panorama alam yang terbagi dalam 7 (tujuh) kawasan, yaitu :
1. Kawasan Pariwisata Gunung Karang
Kawasan pariwisata Gunung Karang terdiri atas tujuan-tujuan wisata berikut:
Sumur Tujuh, Makam Simpeureun, Pariwisata Kota Pandeglang, Pemandian
Air Panas Cisolong, Batu Lingga, Air Panas W ariang, Agrowisata Cihunjuran, Peziarahan Cibulakan, Batu Qur'an, Pemandian Cikoromoy dan Batu Tapak Pasir Peuteuy.
2. Kawasan Pariwisata Cikedal
Kawasan pariwisata Cikedal terdiri atas tujuan-tujuan wisata berikut: Situ Cikedal, Peziarahan Cikadueun, Batu Ranjang, Batu Tongtrong, Kerajinan Em ping, Prasasti Muruy, Batu Goong, Sanghyang Dengdek, Batu Saketeng dan Batu Tapak.
3. Kawasan Pariwisata Carita
Kawasan pariwisata Carita terdiri atas tujuan-tujuan wisata berikut: Pantai Carita, Perkemahan Perhutani, Taman Rekreasi Karangsari, Taman Rekreasi Perhutani, air terjun /Curug Gendang, Peziarahan Kyai Caringin dan Masjid Caringin.
4. Kawasan Pariwisata Barna
Kawasan pariwisata Barna terdiri atas tujuan-tujuan wisata berikut: Pantai Barna, Pantai Pulau Popole dan Pantai Panimbang.
5. Kawasan Pariwisata Tanjung Lesung
Kawasan pariwisata Tanjung Lesung terdiri atas tujuan-tujuan wisata berikut:
Pantai dan Resort Tanjung Lesung, Pulau Liwungan, Desa Wisata Cikadu, Pantai Cipanon, Pantai Cimahpar, Pantai/ Muara Cijalarang dan Pantai Mega Camara.
6. Kawasan Pariwisata Taman Nasional Ujung Kulon
Kawasan pariwisata Taman Nasional Ujung Kulon terdiri atas tujuan-tujuan wisata berikut: Taman Nasional Ujung Kulon, Pulau Handeuleum, Pulau Panaitan, Tanjung Sanghyang Sirah, Agrowisata Gunung Honje, Pantai Ciputih, Resort Pulau Umang, Desa Wisata Kertamukti dan Area Ganesha.
7. Kawasan Pariwisata Pantai Selatan
Kawasan pariwisata Pantai Selatan terdiri atas tujuan-tujuan wisata berikut:
Peziarahan Mantiung, Pantai Tanjungan, Pulau Tinjil, Pantai Cikiruh Wetan, Agrowisata Kutakarang, Wisata Pantai Citeluk, Pantai Sindangkerta dan Pulau Deli.
Obyek Wisata Cikoromoy masuk golongan obyek wisata tirta, yaitu suatu obyek wisata yang aktivitas wisata utamanya berada pada perairan darat, dapat berbentuk mata air, danau/situ/telaga, bendungan, air terjun, kolam pemandian alam, kolam pemandian buatan manusia dan danau mini buatan manusia. Selain Cikoromoy terdapat beberapa obyek wisata tirta lain di Pandeglang seperti situ Cikedal, Sumur Tujuh, pemandian air panas Cisolong, mata air panas Wariang, peziarahan Cibulakan, Batu Qur'an, peziarahan Cikadueun, air terjun /Curug Gendang, kolam pemandian alam yang berada di dekat Prasasti Muruy. Berikut ini adalah data wisatawan di Cikoromoy dan wisatawan total di Pandeglang tahun 2005 -2006.
Tabell.3
n w·
ata 1satawan 1 1 oromoy dan d" C"ks
e luruh p d an egJang Tah 1 un 2005 2006 -Tahun Jumlah Wisatawan
Cikoromoy % Cikoromoy Wisata % Wisata Tirta Pandeglang (orang) terhadap Tirta terhadap Total (orang)
Wisata Tirta (orang) Wisatawan
Pandeglang Pandeglang
2005 111.523 16,28 685.065 12,56 5.455.311
2006 212.834 33,58 633.878 26,47 2.394.645
Sumber : BPS Pandeglang dan BPS Provmsi Banten, 2007
Obyek wisata Cikoromoy merupakan salah satu tujuan wisata yang berada dalam satu kawasan pariwisata Gunung Karang bersama-sama dengan tujuan wisata lain yaitu: mata air Sumur Tujuh, Makam Simpeureum, Pariwisata Kota Pandeglang, Pemandian air panas Cisolong, Batu Lingga, mata air panas Wariang, agrowisata Cihunjuran, peziarahan Cibulakan, Batu Qur'an, dan Batu Tapak Pasir. Secara administrasi obyek wisata Cikoromoy berada di wilayah Desa Kadubungbang, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Berada diatas tanah seluas 43.020 M2 merupakan tanah aset pemerintah daerah Kabupaten Pandeglang. Berikut ini adalah peta lokasi obyek wisata Cikoromoy.
~-------·-·-------- -----·-·
0
t I
I J's,.
~- ·
- - - ';
-'~-KABUPATEN PANDEGLANG
\
I
- - .._ ·~I
' .
.:.·c~~,...
r~·· .. --,&":~\.~~
'·._!' ·~"'"_._r:"'(, •
. . ~·.
Gambar 1. Peta lokasi obyek wisata Cikoromoy
Saat ini kondisi obyek wisata Cikoromoy terkesan kurang terawat. Jalan akses masuk utama menuju lokasi terlihat rusak dan teijal. Fasllitas-fasilitas yang ada saat ini kurang memadai, lokasi parkir yang tidak teratur, bangunan- bangunan kios, warung-warung makan tidak tertata, jalan lingkungan pemukiman menyatu dengan jalan dalam lingkungan· obyek wisata dan keadaannya menjadi licin dan becek saat hujan turun. Saung-saungan/gubug makan yang dibangun diatas kolam-kolam ikan air tawar justeru menghalangi pemandangan ke arah lereng dan puncak Gunung Karang. Belum ada dinding pembatas kolam renang, kamar ganti dan kamar mandi terkesan sempit, kusam dan kumuh. Jumlah kamar ganti dan kamar mandi tidak proporsional dengan jumlah pengunjung terutama saat hari libur atau akhir minggu.
Oleh karena itu perlu dilakukan upaya peningkatan pelayanan baik mutu maupun kuantitasnya. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan kepuasan pengunjung/k.onsumen sehingga akan mendorong pengunjunglk.onsumen untuk mau membayar lebih daripada tarif yang ditetapkan saat m1.
Pengunjung/k.onsumen yang merasa puas biasanya akan datang kembali atau menceritakan kepada orang lain sehingga akan meningkatkan jumlah kunjungan.
Biaya peningkatan pelayanan yang dibutuhkan dapat dicukupi dengan membebankannya pada pengunjunglkonsumen melalui penentuan tarif baru atau mekanisme lainnya.
Namun sebelum pengelolaan dan penentuan tarif baru tersebut dilakukan, akan sangat membantu jika ada informasi tentang wisata Cikoromoy tersebut.
Salah satu informasi yang sangat berguna adalah nilai ekonomi sumber daya Cikoromoy saat ini. Oleh karena it~ diperlukan usaha untuk melakukan valuasi ekonomi sumber daya wisata Cikoromoy.
1.2 Perumusan Masalah
Sebagaimana diuraikan daam latar belakang, penelitian ini dilakukan sebagai upaya memberikan informasi mengenai nilai ekonomi sumber daya wisata Cikoromoy. Pengertian nilai ekonomi dari sumber daya alam seperti wisata Cikoromoy memang bisa berbeda jika dilihat dari sudut pandang berbagai disiplin ilmu. Namun salah satu tolok ukur yang relatif mudah dan bisa dijadikan persepsi bersama berbagai disiplin ilmu tersebut adalah pemberian price tag (harga) pada barang dan jasa yang dihasilkan sumber daya alam dan lingkungan terse but.
Persoalannya adalah seperti halnya sumber daya alam wisata lainnya yang nilai ekonominya tidak selalu bisa ditransaksikan dalam pasar, sehingga untuk menganalisis nilai sumber daya wisata Cikoromoy perlu dilakukan dengan pendekatan nilai ekonomi non-pasar (non market valuation). Inilah yang disebut nilai ekonomi sumber daya alam. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur nilai ekonomi sumber daya alam adalah dengan pendekatan willingness to pay, yaitu konsep kesediaan membayar seseorang terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumber daya alam dan lingkungan.
Oleh karena itu permasalahan yang ditelaah dalam penelitian ini adalah:
I. Berapa besar nilai ekonomi sumber daya wisata Cikoromoy?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi nilai ekonomi wisata Cikoromoy tersebut?
Dengan menelaah dua persoalan tersebu4 maka pengelolaan wisata Cikoromoy dan penetapan tarif baru ataupun mekanisme pengelolaan yang lain dapat dilakukan dengan berpedoman pada hasil riset ini.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengestimasi nilai ekonomi wisata Cikoromoy.
2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi nilai ekonomi sumber daya wisata Cikoromoy tersebut.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah:
1. Bagi pemerintah daerah Kabupaten Pandeglang dapat dijadikan dasar altematif pembuatan kebijakan dalam pengelolaan obyek wisata Cikoromoy yang lebih baik.
2. Bagi akademis dapat memperkaya khasanah penelitian tentang valuasi ekonomi sumber daya alam dan lingkungan.
1.5 Hipotesis
Diduga nilai ekonomi wisata Cikoromoy dipengaruhi oleh:
1. Faktor karakteristik obyek wisata:
- Daya tarik utama
- Kebersihan dan keamanan - Fasilitas penunjang
2. Faktor karakteristik wisatawan:
- Besaran pendapatan - Biaya perjalanan - Biaya waktu perjalanan - Persepsi pengunjung - Zona asal pengunjung
1.6 Ruang Lingkup dan Batasan Studi
Pada karya tulis ini akan dibahas mengenai valuasi ekonomi sumber daya dengan cara menghitung willingness to pay (WTP). Menurut Fauzi, 2004 willingness to pay dapat diartikan sebagai jumlah maksimal seseorang mau membayar untuk menghindari teijadinya penurunan terhadap sesuatu. Studi ini berbasis perilaku manusia (behavioural models). Dalam pengukuran WTP, Haab dan McConnel (2002) menyatakan bahwa pengukuran WTP yang dapat diterima (reasonable) harus memenuhi syarat:
1. WTP tidak memiliki batas bawah yang negatif 2. Batas atas WTP tidak boleh melebihi pendapatan
3. Adanya konsistensi antara keacakan (randomness) pendugaan dan keacakan perhitungan.
Sebagian barang dan jasa yang dihasilkan sumber daya alam dapat diukur nilainya karena diperdagangkan, namun ada sebagian barng dan jasa yang tidak diperdagangkan seperti keindahan pantai, kebersihan dan keaslian alam, sehingga sulit diukur nilainya, karena masyarakat tidak membayarnya secara langsung.
Selain itu masyarakat tidak familier dengan cara pembayaran jasa seperti ini, keinginan membayar mereka juga sulit diketahui. Dalam pengukuran nilai sumber daya alam yang nilainya tidak selalu diperdagangkan dengan mengukur nilai moneternya. Yang diperlukan adalah pengukuran seberapa besar kemampuan membayar (purcashing power) masyarakat untuk memperoleh barang danjasa dari sumber daya.
Studi tentang analisis valuasi ekonomi sumber daya dibatasi dengan Travel Cost Method Penelitian penentuan estimasi kesediaan membayar (willingness to pay!WTP) pengunjung obyek wisata menggunakan Travel Cost Method (l'CM). Travel Cost Method merupakan pendekatan WTP dan dilakukan dengan menggunakan informasi tentang (1) jumlah uang yang dikeluarkan dan (2) waktu yang digunakan untuk mencapai kawasan wisata tersebut, untuk estimasi besarnya nilai manfaat dari upaya perubahan kualitas lingkungan dari kawasan wisata yang dikunjungi. Travel Cost Method kebanyakan dipergunakan untuk menganalisis permintaan terhadap rekreasi di alam terbuka, seperti memancing, hiking, berburu, dan lain-lain. Metode ini mengkaji biaya yang
dikeluarkan setiap individu untuk mendatangi tempat rekreasi, sebagai contoh seorang konsumen akan mengorbankan biaya dalam bentuk waktu dan uang untuk mendatangi tempat rekreasi tersebut. Dengan mengetahui pola ekspenditur konsumen tersebut, bisa dikaji berapa nilai (value) yang diberikan konsumen kepada sumber daya alam dan lingkungan. Untuk menentukan nilai ekonomi sumber daya berdasarkan TCM digunakan dua teknik sederhana, yaitu pendekatan zonasi dan pendekatan individual TCM menggunakan data survei.
Pendekatan TCM melalui zonasi adalah pendekatan yang relatif simpel dan murah karena data yang diperlukan relatif banyak mengandalkan data sekunder dan beberapa data sederhana dari responden pada saat survei. Pendekatan individual TCM secara prinsip sama dengan sistem zonasi, namun pada pendekatan ini analisis lebih didasarkan pada data primer yang diperoleh melalui survei dan teknik statistik yang relatif kompleks. Kelebihan pendekatan individual TCM lebih akurat daripada metode zonasi.
Data yang dipergunakan dalam analisis nilai ekonomi sumber daya wisata Cikoromoy dengan metode TCM adalah data primer. Data diperoleh dengan cara survei menggunakan kuisioner pada wisatawan obyek wisata Cikoromoy pada minggu III- IV bulan Agustus 2008. Wisatawan yang dipilih sebagai responden ditetapkan secara acak namun memiliki pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan penelitian. Responden memiliki status sebagai pengunjung yang sedang melakukan kegiatan wisata, berumur minimal 18 (de Iapan belas) tahun, diharapkan sudah mampu membuat keputusan dengan logika yang sehat.
1. 7 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan karya tulis berjudul "Valuasi Ekonomi Obyek Wisata Cikoromoy di Kabupaten Pandeglang dengan Menggunakan Metode Biaya Peijalanan (Travel Cost Method) " adalah sebagai berikut :
Bah 1 PENDAHULUAN 1.1 . Latar Belakang 1.2. Perumusan Masalah 1.3. Tujuan Penelitian 1.4. Manfaat Penelitian
1.5.
1.6.
1.7.
Bah 2 2.1.
2.2.
Bah 3 3.1.
3.2.
3.2.1.
3.2.2.
3.2.3.
3.2.4.
3.2.5.
3.2.6.
Bah 4 4.1.
4.2.
4.3.
Bah 5
5.1.
5.2.
5.3.
5.3.1.
5.3.2.
5.3.3.
Hipotesis
Ruang Lingkup dan Batasan Studi Sistematika Penulisan
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep dan Falsafah Sumher Daya Pariwisata
V aluasi Ekonomi Sumber Daya Alam Pada Lokasi Wisata : Konsep dan Cara Perhitungannya
METODOLOGI PENELITIAN Kerangka Konseptual
Metode Analisis Teknik Sampling Kuisioner
Analisis Deskriptif
Model Pendugaan Metode Biaya Perjalanan Hipotesis Biaya Perjalanan
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Ekonomi Sumber Daya Cikoromoy
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
Kondisi Umum Sosial Ekonomi Kahupaten Pandeglang
Data Konsumsi Penduduk Kahupaten Pandeglang dan Daerah Sekitarnya
Cikoromoy Saat Ini
KARAKTERISTIK PENGUNJUNG, PERSEPSI PENGUNJUNG DAN FREKUENSI KUNJUNGAN WISAT A KE CIKOROMOY Karakteristik Pengunjung
Persepsi Pengunjung
Huhungan Frekuensi Kunjungan Wisata Dalam Setahun Terakhir dengan Karakteristik dan Persepsi Pengunjung
Huhungan Frekuensi Kunjungan Wisata Dalam Setahun Terakhir dengan Karakteristik Pengunjung
Huhungan Frekuensi Kunjungan Wisata Dalam Setahun Terakhir dengan Persepsi Pengunjung tentang Fungsi Ekologi Cikoromoy
Huhungan Frekuensi Kunjungan Wisata Dalam Setahun Terakhir dengan Pengetahuan Pengunjung tentang Suhstitusi Cikoromoy
5.4. Uji Indepedensi Menggunakan Chi-Square Antara Frekuensi Kunjungan Wisata Dalam Setahun Terakhir dengan Karakteristik dan Persepsi Pengunjung
5.4.1. Uji lndepedensi Menggunakan Chi-Square Antara Frekuensi Kunjungan Wisata Dalam Setahun Terakhir dengan Karakteristik Pengunjung 5.4.2. Uji Indepedensi Menggunakan Chi-Square Antara Frekuensi Kunjungan
Wisata Dalam Setahun Terakhir dengan Persepsi Pengunjung tentang Fungsi Ekologi Cikoromoy
5.4.3. Uji Indepedensi Menggunakan Chi-Square Antara Frekuensi Kunjungan Wisata Dalam Setahun Terakhir dengan Pengetahuan Pengunjung tentang Suhstitusi Cikoromoy
Bah 6 V ALUASI EKONOMI SUMBER DAY A CIKOROMOY DENGAN MENGGUNAKAN TRAVEL COST METHOD
6.1. Travel Cost Method
6.2. Regresi Model Travel Cost Method 6.3. Surplus Konsumen
Bah 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7 .1. Kesimpulan
7.2. Saran
Dahuri ( 1996) dalam Syakya (2005) menyatakan garis besar konsep pembangunan berkelanjutan mempunyai empat dimensi:
1. Dimensi ekologis yaitu bagaimana mengelola kegiatan pembangunan di suatu wilayah agar total dampaknya tidak melebihi kapasitas fungsionalnya.
2. Dimensi sosial ekonomi, yakni pola dan laju pembangunan harus dikelola sedemikian rupa, sehingga total permintaan (demand) terhadap sumber daya alam dan jasa lingkungan tidak melampaui keni.ampuan daya dukung.
3. Dimensi sosial politik, yaitu permasalahan lingkungan bersifat eksternalitas, untuk itu pembangunan berkelanjutan hanya dapat dilaksanakan dalam sistem dan suasana politik yang demokratis dan transparan.
4. Dimensi hukum dan kelembagaan, yaitu pembangunan berkelanjutan mensyaratkan pengendalian diri dari setiap warga untuk tidak merusak lingkungan.
Sektor pariwisata merupakan sektor yang sangat terkait dengan konsep pembangunan berkelanjutan, karena pada umumnya daya tarik wisata masih berlandaskan pada lingkungan. Pariwisata atau tourism didefinisikan sebagai seluruh kegiatan seseorang dalam melakukan perjalanan dan tinggal di suatu tempat di luar lingkungan kesehariannya untuk jangka waktu tidak lebih dari setahun dengan tujuan untuk bersantai (leisure), bisnis, atau berbagai maksud lain (Agenda 21, 1992).
2.1 Konsep dan Falsafah Sumber Daya Pariwisata
Menurut Dahuri (2003) dalam Syakya (2005) salah satu tipologi pariwisata yang menjadi alternatif pengembangan pariwisata adalah kegiatan ekoturisme (wisata alam) yang mengandalkan keindahan alam. Dari dimensi ekologi, kegiatan ini jelas mengandalkan keindahan alam sehingga kegiatan ini akan mendorong tindakan konservasi untuk mempertahankan daya tariknya agar keuntungan ekonomi dari kegiatan wisata ini dapat dipertahankan. Sementara itu aspek sosial masyarakat setempat dimana kegiatan ekoturisme ini berlangsung,
sering mendapat manfaat ekonomi dari pengembangan kegiatan jasa pendukung wisata, selain itu juga gangguan terhadap kehidupan tradisional masyarakat umumnya menjadi sangat kecil.
Menurut Hadinoto (1996) kualitas lingkungan perlu dipertimbangkan, karena sangat diperhatikan oleh wisatawan mancanegara. Mengenai ekoturisme, pariwisaata berkelanjutan, pariwisata altematif, syarat pertama untuk pengembangan pariwisata adalah formulasi dan penempatan rencana fisik komprehensif menyajikan suatu kerangka acuan bagi promosi dan pengembangan pariwisata yang dapat dilaksanakan. Rencana komprehensif mengenai pengembangan pariwisata harus memuat tiga (3) kriteria:
1. Batas daya dukung lingkungan, yaitu identitas konstruksi yang dapat didukung oleh panorama atau artistik penampilan kota.
2. Fisik batas perluasan wisata sesuai dengan sumber daya kawasan ( darat, perairan, termasuk sumber daya alami).
3. Kenyamanan, batas-batas dari kepadatan wisata terhadap lahan, kepadatan penduduk dan kesediaan fisik akan ruang untuk menghindarkan kepenuhan desakan dan menurunnya mutu sumber daya.
Ekowisata merupakan suatu model pengembangan pariwisata yang bertanggung jawab di daerah yang masih alami atau daerah yang dikelola secara kaidah alam untuk menikmati dan menghargai alam ( dengan segala bentuk budaya yang menyertainya) yaitu mendukung konservasi, melibatkan unsur pendidikan dan pemahaman, memiliki dampak yang rendah, serta secara aktif melibatkan sosio ekonomi masyarakat setempat (Bapedal, 2001 ). Sedangkan menurut Western (1995) dalam Rejeki (2005), ekowisata adalah perjalanan yang bertanggungjawab ke wilayah-wilayah yang melindungi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat. Dengan kata lain ekowisata menggabungkan suatu komitmen terhadap alam dengan tanggung jawab sosial.
Ekowisata dapat mendukung pembangunan ekonomi dan penciptaan lapangan pekerjaan di pedesaan sekitar obyek wisata, dan sebagai umpan baliknya adalah adanya dukungan masyarakat terhadap program-program konservasi (Lewis et a/, 1990) petualangan (adventourism), serta proses belajar (learning) yang terkait dengan obyek wisata yang dikunjungi.
Batasan ekowisata (Silver, 1997) adalah sebagai berikut (1) Menginginkan pengalaman asli, (2) Layak dijalani secara pribadi maupun social, (3) Tak ada rencana perjalanan yang ketat, (4) Tantangan fisik dan mental, (5) Interaksi dengan budaya dan penduduk setempat, (6) To1eran pada ketidaknyamanan, (7) Bersikap aktif dan terlibat, (8) Suka petualangan.
Sedangkan Low Choy dan Heillbronn ( 1996) merumuskan lima faktor batasan yang mendasar dalam penentuan prinsip utama ekowisata , yaitu:
1. Lingkungan, bertumpu pada lingkungan alam dan budaya yang belum tercemar,
2. Masyarakat, bermanfaat bagi eko1ogi, sosial, ekonomi masyarakat sekitar.
3. Pendidikan dan pengalaman, ekowisata harus dapat meningkatkan pemahaman akan 1ingkungan alam dan budaya dengan adanya pengalaman yang dimi1iki.
4. Berke1anjutan, ekowisata dapat memberikan sumbangan positif bagi keberlanjutan ekologi lingkungan baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek.
5. Manajemen, ekowisata harus dike1o1a secara baik dan menJamm sustainability dari lingkungan a1am dan budaya yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan generasi sekarang maupun generasi mendatang.
Berawal dari pandangan bahwa masyarakat pedesaan memiliki sedikit altematif kegiatan ekonomi yang mana kegitan tersebut pada umumnya dapat menurunk.an kualitas lingkungan dan merusak sumber daya. Kegiatan ekowisata dapat meningkatkan aksi konservasi bagi penduduk sekitar, yaitu dengan menunjukkan daerah-daerah alami yang penting sekaligus mendapatkan pemasukan dari wisatawan. Sehingga ekowisata merupakan sumber peluang kerja dan pendapatan yang cukup mewakili bagi masyarakat sekitar, yang berfungsi sebagai insentif untuk mencegah praktek-praktek yang merusak (Ceballos dan Lascurain, 1991 ; Brandon dan Wells, 1992 ).
2.2 Valuasi Ekonomi Somber Daya Alam pada Lokasi Wisata : Konsep dan Cara Perhitungannya
Sumber daya alam dan lingkungan selain menghasilkan barang dan jasa yang market based ada juga yang non market based. Barang dan jasa yang market based adalah yang dapat dinilai secara moneter dalam satuan nilai mata uang contohnya seperti ikan, kayu, air, bahkan pencemaran sekalipun, sehingga traksaksi barang dan jasa tersebut dapat dengan mudah dilaksanakan. Selain menghasilkan barang dan jasa yang dapat dikonsumsi secara langsung maupun tidak langsung (market based), sumber daya alam juga menghasilkan jasa-jasa lingkungan yang memberikan manfaat dalam bentuk lain (non market based) misalnya memberikan manfaat seperti keindahan, ketenangan, kesegaran udara dan sebagainya. Manfaat yang seperti ini sering lebih terasa dalam jangka panjang, seperti manfaat hutan bakau sebagai daerah pencegah banjir, pelindung terhadap angin dan tempat untuk memijah, dan lainnya. Manfaat tersebut baru disadari justeru setelah terjadi banjir atau dalam kondisi dimana ikan atau udang menjadi langka akibat hutan bakau tersebut hilang (Fauzi, 2004).
Mengingat pentingnya fungsi ekonomi dan non-ekonomi dari sumber daya alam, maka tantangan yang dihadapi oleh penentu kebijakan adalah bagaimana memberikan nilai yang komprehensif terhadap sumber daya alam itu sendiri. Dimana nilai tersebut tidak saja berupa nilai pasar (market value) melainkan juga nilai jasa lingkungan yang ditimbulkan oleh sumber daya tersebut. Kegagalan pasar (market failure) terjadi ketika pasar tidak dapat merefleksikan secara keseluruhan biaya sosial dan manfaat dari suatu barang.
Contoh dari kegagalan pasar adalah tidak memasukkan perhitungan manfaat fungsional, seperti fungsi dari suatu ekosistem sebagai pengendali banjir dan longsor, sebagai penyerap CO2 sehingga dapat meredam pemanasan udara, fungsi ekosistem dalam menjaga keberlangsungan rantai makanan, fungsi ekosistem sebagai warisan bagi generasi mendatang, dan fungsi-gungsi lainnya.
Manfaat-manfaat diatas yang disebut sebagai manfaat dari fungsi ekologis seringkali tidak terkuantifikasi dalam perhitungan nilai dari suatu sumber daya.
Kegagalan pasar sering kali terjadi pada barang publik (public good).
Suatu barang publik memiliki manfaat langsung dan manfaat tidak langsung atau intangible. Manfaat langsung pada umwnnya mudah diketahui nilainya melalui harga pasar dari barang tersebut, sedangkan manfaat tidak langsung sukar untuk diketahui nilainya akibat tidak ada harga pasarnya, untuk itu perlu di-proxy melalui metode-metode tertentu supaya dapat diketahui nilainya ( dimoneterisasi). Nilai merupakan makna tentang suatu objek bagi seseorang pada tempat dan waktu tertentu. Kegunaan, manfaat, kepuasan dan rasa senang merupakan ungkapan makna atau nilai sumebrdaya alam yang diperoleh.
Ukuran nilai ini diekspresikan berupa waktu, tenaga, barang atau uang, dimana seseorang bersedia memberikannya untuk memperoleh atau memiliki atau menggunakan barang tersebut.
Valuasi ekonomi merupakan salah satu cara untuk mengukur nilai dari suatu barang (goods). Valuasi ekonomi biasanya diperlukan untuk mepertimbangkan dalam memilih sesuatu pilihan. Hal ini disebabkan karena seringkali teijadi trade-off dalam mengalokasikan suatu sumber daya. Penilaian ekonomi didasarkan pada pilihan (preferences) dari seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari selalu didapati bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas banyaknya, sedangkan sumber daya yang tersedia dibandingkan kebutuhan/ keinginan tersebut sangatlah terbatas. Hal ini menyebabkan manusia harus melalukan pilihan- pilihan. Ilmu ekonomi mengasumsikan bahwa manusia adalah makhluk yang rasional. Pilihan yang dibuatnya berdasarkan pertimbangan untung rugi, dengan membandingkan biaya yang harus dikeluarkan dan hasil yang diperoleh.
Nilai ekonomi menghitung biaya ( dalam satuan mata uang) yang sanggup dikeluarkan oleh seseorang (konsumen) untuk mendapatkan sesuatu barang dengan mengorbankan pilihan-pilihan konsumen tersebut atas barang lain. Secara formal konsep ini disebut keinginan atau kesediaan membayar (willingness to pay) atau WTP seseorang terhadap barang ataujasa. WTP ini secara implisit akan menunjukkan manfaat atau benefit yang diperoleh konsumen atas barang yang dipilihnya.
Dalam hukum permintaan menyebutkan bahwa ketika harga sesuatu barang naik. ceteris paribus, maka jumlah pennintaan akan barang tersebut akan menurun dan berlaku juga untuk sebaliknya. Kurva pennintaan dapat diturunkan
dari premis bahwa permintaan akan suatu barang akan semakin meningkat jika harga barang tersebut semakin menurun atau sebaliknya. Fungsi permintaaan atau demand function adalah permintaan yang dinyatakan dalam hubungan matematis dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dengan harga sebagai variael bebas dan jumlah (quantity) sebagai variabel tidak bebas maka hubungan antara harga dan quantity adalah berbanding terbalik (untuk asumsi barang normal atau normal goods ). Perubahan permintaan terjadi karena dua sebab utama, yaitu pertama oleh perubahan harga dan kedua disebabkan oleh perubahan faktor ceteris paribus seperti pendapatan, selera dan faktor non harga lainnya.
Perubahan harga menyebabkan perubahan jumlah barang yang diminta, tetapi perubahan itu hanya terjadi dalam satu kurva yang sama. Ini yang disebut pergerakan permintaan sepanjang kurva permintaan (movement along the curve).
Sedangkan jika. yang berubah adalah faktor selain harga, maka akan terjadi pergeseran kurva permintaan (shifting). Misalnya jika terjadi peningkatan pendapatan maka kurva permintaan akan bergeser sejajar ke kanan atau sebaliknya.
Harga pasar merupakan biaya minimum yang konsumen rela keluarkan untuk mendapatkan sesuatu barang. Pada saat konsumen membeli suatu barang, maka konsumen tersebut akan membandingkan biaya yang rela dikeluarkan dengan harga pasar yang ada. Konsumen hanya bersedia membayar jika nilai WTP dia sama atau lenih besar dari harga pasar. Selisih antara kesediaan dari konsumen untuk membayar pada tingkat harga tertentu dengan harga pasar disebut surplus konsumen (net economic benefit). Economic benefit yang diterima sesorang, atau surplus konsumen akan berubah jika harga pasar atau kualitas dari barang tersebut berubah jika harga pasar atau kualitas dari barang terse but berubah. Contohnya jika harga barang naik tetapi WTP seseorang tetap, maka benefit yang diterima (maksimum WTP dikurangi harga) akan berkurang dari seelurnnya. Sedangkan jika kualitas dari suatu barang meningkat tapi harganya tetap maka WTP seseorang akan meningkat sehingga benefit yang diterima juga akan meningkat. Penjelasan mengenai surplus konsumen dapat dilihat pada Gambar 2.l.berikut ini:
p
Daerah Surplus Konsumen Po
0 Qo Q
Sumber: Sugiarto, dkk; 2002
Gambar 2.1. Kurva Pennintaan dan Surplus Konsumen
Nilai ekonomi juga dipengaruhi oleh perubahan harga dan kualitas dari barang substitusi atau barang kompleme-nya. Jika harga dari barang substitusi meningkat, maka nilai ekonomi atau surplus konsumen dari barang tersebut akan meningkat. Begitu pula terjadi sebaliknya. Sedangkan jika harga barang komplemen menigkat maka nilai ekonomi atau surplus konsumen dari barang terse but akan menurun, dan berlaku juga untuk kejadian sebaliknya.
Surplus Konsumen menunjukkan keuntungan yang diperoleh konsumen karena mereka membeli suatu komoditas. Keuntungan tersebut diperoleh oleh konsumen karena harga yang berlaku pada kondisi keseimbangan lebih rendah daripada harga yang mereka mau bayarkan. Surplus konsumen ditunjukan oleh daerah yang berada antara dibawah kurva pennintaan dan diatas harga yang ditetapkan. Dalam teori nilai guna, surplus konsumen menunjukkan terjadinya kelebihan kepuasan yang dinikmati oleh konsumen. Kelebihan kepuasan ini muncul akibat adanya perbedaan antara kepuasan yang diperoleh seseorang dalam mengkonsumsi sejumlah komoditas dengan pembayaran yang harus dikeluarkannya untuk memperoleh komoditas tersebut. Pada saat terjadi surplus konsumen, kepuasan yang diperoleh konsumen selalu lebih besar daripada pembayaran yang mereka keluarkan.
Keinginan membayar ini dapat juga diukur dalam bentuk kenaikan pendapatan yang menyebabkan seseorang berada dalam posisi indifferent terhadap perubahan eksogenus. Perubahan eksogenus ini bisa terjadi karena perubahan harga (misalnya akibat barang tertentu makin langka) atau karena perubahan kualitas dari barang tersebut. Dengan demikian konsep WTP ini terkait erat dengan konsep compensating variation (CV) dan equivalent variation (EV) dalam teori permintaan. Sehingga WTP dapat juga diartikan sebagai jumlah maksimal seseorang mau menerima penurunan sesuatu.
Sisi lain dari pengukuran nilai ekonomi dapat juga dilakukan melalui pengukuran Willingness To Accept I WTA, yang tidak lain adalah jumlah minimum pendapatan seseorang untuk mau menerima penurunan sesuatu.
Dalam prakteknya pengukuran nilai ekonomi WTP lebih sering digunakan daripada WT A, karena WT A bukan pengukuran yang berdasarkan insentif (incentive based) sehingga kurang tepat untuk dijadikan studi yang berbasis perilaku manusia (behavioural model). Lebih jauh lagi Garod dan Willis (1999) serta Hanley dan Splash (1993) menyatakan bahwa meski besaran WTP dan WT A sama, namun selalu terjadi perbedaan pengukuran, dimana umumnya besaran WT A berada 2 sampai 5 kali lebih besar daripada besaran WTP. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor:
1. Ketidaksempurnaan dalam rancangan kuisioner dan teknik wawancara
2. Pengukuran WT A terkait dengan endowment effect atau dampak pemilikan, dimana responden mungkin menolak untuk memeberikan nilai terhadap sumber daya yang ia miliki. Dengan kata lain responden bisa saja mengatakan bahwa sumber daya yang ia miliki tidak bisa tergantikan sehingga meninggikan harga jual. Fenomena ini sering juga disebut loss aversion atau menghindari kerugian, dimana seseorang cenderung memberikan nilai yang lebih besar terhadap kerugian.
3. Responden mungkin bersikap cermat terhadap jawaban WTP dengan mempertimbangkan pendapatan maupun preferensinya.
Secara faktual karena WTP terkait dengan pengukuran CV dan EV maka WTP lebih tepat diukur berdasarkan permintaan Hicks (kurva permintaan
terkompensasi) karena harga daerah dibawah kurva permintaan Hicks relevan untuk pengukuran kompensasi. Dengan demikian jika terjadi perubahan harga dari PO ke P 1 akibat perubahan lingkungan, maka WTP didefinisikan sebagai berikut:
WTP =
L
Pl X h ( P u ) dPp 0 '
= M ( P1 u) - M ( P0 u)
' '
Dimana M(~,U) adalah pendapatan setelah terjadi perubahan dengan utilitas konstan dan M(P0,u) adalah pendapatan awal. Persamaan diatas menyatakan bahwa WTP merupakan daerah ( digambarkan dengan integral) di bawah kurva permintaan Hicks yang dibatasi oleh harga pada kondisi baseline (PO) dan harga akibat perubahan (PI). Berdasarkan teori ekonomi neo klasik hal ini setara dengan selisih pendapatan (M) yang dibutuhkan agar utilitas seseorang tetap setelah adanya perubahan.
Dalam pengukuran WTP, Haab dan McConnel (2002) menyatakan bahwa pengukuran WTP yang dapat diterima :1arus memenuhi syarat sebagai berikut:
1. WTP tidak memiliki batas bawah yang negatif 2. Batas atas WTP tidak boleh melebihi pendapatan
3. Adanya konsistensi keacakan pendugaan dan keacakan perhitungannya.
Kondisi 1 dan 2 secara matematis dapat ditulis sebagai 0::;; WTPj::;; Mj Adanya beberapa kelemahan dalam pengukuran keinginan membayar, misalnya meskipun sebagian barang dan jasa yang dihasilkan terutama sumber daya alam dapat diukur nilainya karena dapat diperdagangkan, sebagian lagi tidak karena masyarakat tidak membayamya secara langsung seperti keindahan alam, kebersihan dan keaslian alam. Selain itu juga dikarenakan masyarakat tidak terbiasa dengan cara pembayaran jasa seperti ini, keinginan membayar mereka sulit diketahui. Walaupun demikian dalam pengukuran nilai sumber daya alam, nilai tersebut tidak sealu diperdagangkan untuk mengukur nilai monetemya.
Yang diperlukan disini adalah pengukuran seberapa besar kemampuan membayar (purchasing power) masyarakat untuk memperoleh barang dan jasa dari sumber daya. Dapat juga diukur dari sisi lain, yakni seberapa besar masyarakat harus
diberi kompensasi atas hilangnya barang dan jasa dari sumber daya alam dan lingkungan.
Konsep kesediaan membayar merupakan derivasi nilai kepuasan (utility) konsumen dari pembelian suatu barang. Ukuran kepuasan konsumen berada dibawah kurva permintaan barang. Jika kita dapat memperoleh kurva permintaan untuk barang-barang lingkungan maka kita dapat menjumlahkan keuntungan yang dihasilkan oleh barang-barang tersebut. Kesulitannya adalah permintaan barang lingkungan tidak dapat diperoleh secara langsung seperti barang-barang lain yang informasinya tersedia di pasar. Pada beberapa kasus metode WTP kurang memuaskan karena orang cenderung mengurangi WTP terhadap sebagian besar barang lingkungan karena mereka merasa dapat memilikinya tanpa mengeluarkan biaya. Beberapa tingkat keberhasilan telah ditemukan dengan beberapa metode tidak langsung dan yang paling populer adalah metode biaya perjalanan (Djajadiningrat, 1997).
Penilaian atau valuasi ekonomi sumber daya alam merupakan suatu peralatan ekonomi yang menggunakan teknik atau metoda penilaian sumber daya alam untuk mengestimasi nilai uang dari barang dan jasa yang dihasilkan sumber daya alam. Pemahaman tentang konsep ini memungkinkan para pengambil kebijakan untuk menentukan penggunaan yang efektif dan efisien terhadap sumber daya alam tersebut. Tiga hal penting yang perlu disadari mengenai permasalahan sumber daya alam yaitu:
1. Tidak dapat diperbaharuinya sumberdaya alam apabila sudah mengalami kepunahan. Bila sumber daya alam sebagai suatu aset tidak dapat dilestarikan terdapat kecenderungan akan musnah dengan atau tanpa adanya regenerasi.
2. Akibat diabaikannya ekosistem, maka akan memunculkan masa depan dengan ketidakpastian sehingga timbul biaya potensial apabila aset tersebut hi lang.
3. Keunikan, beberapa studi empiris mencoba menghitung nilai keberadaan dengan mengaitkan flora dan fauna jenis langka atau suatu kawasan yang memiliki pemandangan yang indah.
Sumber daya alam dan lingkungan tidak hanya memiliki nilai ekonomi tetapi juga mempunyai nilai ekologis dan nilai sosial. Dimana nilai ekonomi dari