HUBUNGAN PERAN KELUARGA DENGAN T INGKAT KEKAMBUHAN PADA PASIEN ASMA DI RSUD KOTA SURAKARTA
Totok Riyadi1, Meri Oktariani2, Galih Priambodo3
Progam Studi S1-Keperawatan STIKES Kusuma Husada Surakarta
ABSTRAK
Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan peran keluarga dengan tingkat kekambuhan asma. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian anggota keluarga dari pasien asma di ruang penyakit dalam RSUD Kota Surakarta. Sampel sebanyak 44 orang dengan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar observasi.
Analisis data menggunakan rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berusia 30-40 tahun sebanyak 22 orang (50,0%) dengan jenis kelamin laki- laki sebanyak 34 orang (77,3%) dengan tingkat pendidikan SMA sebanyak 29 orang (65,9%). Mayoritas responden cukup berperan dalam membantu pasien yaitu 21 orang (47,7%) dengan kekambuhan asmanya kadang-kadang yaitu 28 orang (63,6%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan peran keluarga dengan kekambuhan asma (r = -0,451) berada diantara (0,400 – 0,599) sehingga hubungan peran keluarga dengan tingkat kekambuhan asma adalah sedang dan secara statistik signifikan (p = 0,002).
Kata Kunci : peran keluarga, kekambuhan asma
ABSTRACT
The research objective was to determine the relationship of the family's role with a recurrence rate of patients with asthma. Type of this research is quantitative with cross sectional approach. Population at the study are family members of patients with asthma in the space of disease in RSUD Surakarta. A sample of 44 people with purposive sampling technique.
Collected data used questionnaires and observation sheets. Data analysis used rank spearman.
The results showed that the majority of respondents aged between 30 years to 40 years as many as 22 people (50.0%) with the male sex as many as 34 people (77.3%) with a high school education were 29 people (65.9 %). The majority of respondents were instrumental in helping patients as many as 21 people (47.7%) with a recurrence of asthma sometimes as many as 28 people (63.6%). Spearman rank correlation results indicate that there is a relationship between the role of the family with recurrence rate of asthma (r = -0.451) so that the role of family relationship with a recurrence rate of asthma is moderat and statistically significant (p = 0.002).
Kata Kunci : role of the family, recurrence rate of asthma
A. PENDAHULUAN
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran pernafasan yang melibatkan banyak sel dan elemennya
dengan gejala klasik asma ada 3 yaitu mengi, batuk, dan sensasi nafas tak normal atau dispeni, pengolongan asma terbaik seharusnya dilakukan pada saat
dini dengan berbagi tindakan pencegahan agar penderita tidak mengalami serangan. Pada dasarnya penyakit asma tidak kambuh bila tidak terpapar dengan pencetus asma, penderita asma masih dapat hidup produktif apabila pasien asma dapat mengendalikan asmanya dengan melakukan aktifitas pencegahan asma antara lain: menjaga kesehatan, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari faktor pencetus asma dan mengunakan obat obat anti asma, penyakit asma paling banyak ditemukan di negara maju terutama yang tingkat polusi udaranya tinggi baik dari asap kendaraan maupun debu padang pasir (Depkes RI, 2009).
Berdasarkan data WHO World Health Organization tahun 2009 sebanyak 300 juta orang menderita asma dan 225 ribu penderita meningal karena asma di seluruh dunia, angka kejadian asma 80% terjadi di negara berkembang akibat kemiskinan, kurang tingkat pendidikan, pengetahuan, dan fasilitas pengobatan. Angka kematian yang disebabkan oleh penyakit asma di seluruh dunia diperkirakan akan meningkat 20% untuk 10 tahun mendatang, jika tidak terkontrol dengan baik (WHO, 2009). Indonesia sendiri
saat ini penyakit asma masuk dalam 10 besar penyebab kesakitan dan kematian dengan jumlah penderita pada tahun 2010 sebanyak 15 juta. SKRT (Survei Kesehatan Rumah Tangga) tahun 2011 sebanyak 350 ribu orang meninggal karena asma (Depkes RI, 2010).
Menurut Riskesdas (2013), Provinsi Jawa Tengah menempati urutan ke 7 dengan persentase 4,3% dari jumlah penduduk, angka ini menunjukan bahwa penyakit asma di wilayah provinsi Jawa Tengah sangat tinggi dan rata-rata penyakit asma pertama kali mengalami sesak nafas pada saat usia lebih dari 40 tahun (Riskesdas, 2013). Dari data rekam medik RSUD Kota Surakarta selama periode April-Juni 2015 didapatkan sebanyak 150 dengan rata rata 50 per bulan pasien dengan asma berobat ke ruang penyakit dalam RSUD Kota Surakarta.
Peningkatan prevalensi penderita asma disebabkan polusi udara, gaya hidup masyarakat dan kurangnya pengetahuan keluarga mengenai kondisi penyakit dan pengobatan pasien asma tersebut (Iris, 2008). Menurut (Efendi, 2009), keluarga adalah unit kecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah
atap dalam saling ketergantungan. Peran keluarga merupakan suatu proses hubungan antara anggota keluarga dengan adanya hubungan timbal balik, umpan balik dan keterlibatan emosional. Peran keluarga dapat memberikan kekuatan satu sama lain dan kemampuan anggota keluarga menciptakan suasana saling memiliki, untuk memenuhi kebutuhan pada perkembangan keluarga, ini merupakan strategi preventif yang paling baik, untuk meningkatkan dukungan sosial keluarga yang adekuat dalam membantu anggota keluarga yang mengalami masalah dalam kesehatan dan membutuhkan perhatian. Keluarga yang baik akan berpengaruh positif, dan keluarga yang kurang baik akan berpengaruh negatif, misalnya keluarga yang melakukan perannya pada penderita penyakit maka akan muncul rasa lebih percaya diri (Efendi, 2009).
Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan keluarga mempunyai peran dan tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan, mengenal masalah kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak berarti, hal sekecil apapun keluarga perlu
mengenal perubahan yang dialami pada keluarga agar tidak sakit atau mengalami kekambuhan (Suprajitno, 2006).
Faktor pemicu asma antara lain debu, polusi rokok yang ada di lingkungan sehari-hari, dan asma merupakan penyakit kronis, sehingga pasien membutuhkan pengobatan yang perlu dilakukan secara teratur untuk mencegah kekambuhan (Ikawati, 2006).
Kekambuhan merupakan peristiwa timbulnya kembali gejala-gejala yang sebelumnya sudah diperoleh kemajuan atau sembuh (Yosep, 2006). Asma merupakan ganguan kronik pada paru- paru yang ditandai dengan sesak nafas.
Penderita asma memiliki saluran nafas yang sangat sensitif, Saluran nafas bereaksi dengan cara menyempit atau mengerut jika teriritasi sehinga menyulitkan keluar masuknya udara.
Gejala asma bisa berupa bersin-bersin, batuk, nafas pendek, serta dada sesak.
Pemicu kekambuhan berupa udara dingin, debu, asap rokok, gejolak emosi atau keletihan (Pramudianto 2009).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan menggunakan metode wawancara pada 6 pasien asma didapatkan sebanyak 5 pasien (83.33%) mengatakan peran kelurga sangat
penting untuk mengurangi tingkat kekambuhan, sedangkan sebanyak 1 pasien (16,67%) mengatakan peran keluarga tidak penting karena kekambuhan asma dapat diatasinya sendiri tanpa adanya peran dari keluarga.
B. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah anggota keluarga dari pasien asma di ruang penyakit dalam RSUD Kota Surakarta. Sampel sebanyak 44 orang dengan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Analisis data menggunakan spearman rank.
C. HASIL PENELITIAN
Karakteristik responden menurut umur dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Umur Responden
Umur f %
18-29 tahun 9 20.5 30-40 tahun 22 50.0
> 40 tahun 13 29.5
Total 44 100.0
Tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia antara 30
tahun sampai 40 tahun yaitu sebanyak 22 orang (50,0%).
Karakteristik responden menurut jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Jenis Kelamin Responden
Jenis Kelamin f %
Perempuan 10 22.7
Laki-laki 34 77.3
Total 44 100.0
Tabel 2 menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah laki-laki yaitu sebanyak 34 orang (77,3%).
Karakteristik responden menurut jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 3 sebagai berikut :
Tabel 3. Tingkat Pendidikan Responden Tingkat Pendidikan f %
SD 3 6.8
SMP 7 15.9
SMA 29 65.9
PT 5 11.4
Total 44 100.0
Tabel 3. menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pendidikan SMA yaitu sebanyak 29 orang (65,9%).
Hasil analisis univariat variabel peran keluarga dan kekambuhan asma dilihat pada tabel 4 dan 5.
Tabel 4. Peran Keluarga
Peran Keluarga f %
Baik 4 9,1
Cukup 21 47,7
Kurang 19 43,2
Total 44 100.0
Tabel 4 menunjukkan bahwa mayoritas responden mempunyai peran yang cukup dalam membantu pasien yaitu sebanyak 21 orang (47,7%).
Tabel 5. Kekambuhan Asma
Kekambuhan asma f %
Sering 0 0,0
Kadang-kadang 28 63,6
Jarang 16 36,4
Total 44 100.0
Tabel 5 menunjukkan bahwa mayoritas responden kekambuhan asmanya kadang-kadang yaitu sebanyak 28 orang (36,4%).
Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas (peran keluarga) dan variabel terikat (kekambuhan asma). Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Korelasi Spearman Rank dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Hubungan Antara Peran Keluarga dengan Kekambuhan Asma
Keterangan Korelasi Rank Spearman rs p value Hubungan peran
keluarga dengan kekambuhan asma
-0,451 0,002
Hasil penelitian menunjukkan nilai korelasi (r = -0,451) dengan p value (0,002 < 0,05), berarti ada hubungan ada hubungan antara peran
keluarga dengan tingkat kekambuhan pasien asma di RSUD Kota Surakarta.
Nilai koefisien korelasi bernilai negatif sehingga hubungannay adalah berlawanan arah yang berarti semakin baik peran keluarga maka semakin menurunkan tingkat kekambuhan asma.
Nilai koefisien korelasi sebesar (-,0451) yang berada diantara (0,400 – 0,599) sehingga kekuatan hubungan antara peran keluarga dengan tingkat kekambuhan asma pada pasien di RSUD Surakarta adalah sedang.
D. PEMBAHASAN 1. Umur responden
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia antara 30 tahun sampai 40 tahun yaitu sebanyak 22 orang (50,0%).
Umur orang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang tentang asma. Atmoko, dkk (2011) menyatakan tingkat pengetahuan tentang asma pada keluarga pasien membuat keluarga pasien akan mampu memberikan informasi kepada pasien untuk tingkat kontrol yang lebih baik pada asma pasien, dimana dengan umur yang dalam rentang usia produktif membuat pengalaman seseorang juga sudah
mengalami peningkatan sehingga mampu memperoleh informasi khususnya pengetahuan tentang asma.
2. Jenis Kelamin Responden
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa mayoritas responden adalah laki-laki yaitu sebanyak 34 orang (77,3%). Hal tersebut menunjukkan bahwa peranan antara laki-laki dan perempuan secara tradisional yang dalam pengambilan keputusan ditingkat keluarga adalah laki-laki. Di dalam keluarga, laki- lakilah yang paling sering banyak berbicara sehingga pengambilan keputusan terkahir di dalam keluarga adalah suami (Efendi &
Makhfudli, 2009).
Keluarga merupakan unit paling dekat dengan klien, dan merupakan “perawat utama” bagi klien. Keluarga berperan dalam menentukan cara atau asuhan keperawatan yang diperlukan klien di rumah. Keberhasilan perawat di rumah sakit dengan sia-sia jika tidak diteruskan di rumah yang kemudian mengakibatkan klien harus dirawat kembali (kambuh). Peran serta keluarga sejak awal asuhan di rumah sakit akan meningkatkan
kemampuan keluarga merawat klien di rumah sehingga kemungkinan kambuh dapat dicegah (Nurdiana, dkk, 2007).
Hasil tersebut menunjukkan bahwa peran serta keluarga dalam perawatan kondisi kesehatan keluarganya berpengaruh besar bagi anggota keluarganya, karena keluarga merupakan sistem pendukung utama yang memberikan perhatian langsung pada setiap keadaan pasien. Keluarga pasien merupakan ssitem pendukung utama yang memberi perawatan langsung pada setiap keadaan sehat dan sakit pasien, keluarga juga mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalah akan dapat menekan perilaku maladaptif (pencegahan sekunder) dan memulihkan perilku adaptif (pencegahan tertier) sehingga derajat kesehatan pasien dan keluarga dapat ditingkatkan secara optimal (Keliat, 2008).
3. Pendidikan responden
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pendidikan SMA sebanyak 29 orang (65,9%). Tingkat pendidikan responden yang cukup baik menyebabkan responden
memiliki kemampuan untuk menyerap berbagai informasi tentang penyakit asma dan cara pencegahannya. Informasi-informasi tentang penyakit asma tersebut diperoleh dari media massa, informasi orang yang dipercaya (keluarga, saudara dan lain-lain) serta petugas kesehatan, sehingga dengan pengetahuannya tersebut dapat digunakan untuk memberikan informasi kepada keluarganya selaku penderita asma sehingga dapat mencegah terjadinya kekambuhan asma.
Ningrum (2012) menyatakan bahwa pendidikan yang dimiliki dapat mempengaruhi pengetahuan responden. Pengetahuan yang diperoleh tentang penyakit asma menyebabkan keluarga pasien memberikan informasi kepada pasien asma, sehingga ketika pasien memahami tindakan-tindakan yang baik dalam pencegahan penyakit asma, maka pasien tersebut akan berperilaku benar dalam pencegahan penyakit asma, sehingga upaya yang dilakukan dalam pencegahan asma menjadi baik.
4. Peran Keluarga
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden mempunyai peran keluarga yang cukup dalam membantu pasien yaitu sebanyak 28 orang (63,6%).
Utami (2013) menyatakan bahwa adanya dukungan sosial dari keluarga, membuat individu yang memperoleh dukungan sosial yang tinggi akan menjadi individu yang lebih optimis. Dukungan sosial dapat secara efektif mengurangi stres yang dialami individu terlebih lagi pada individu yang mengalami sakit kronis, salah satunya adalah asma.
Dukungan emosional yang diberikan oleh keluarga seperti rasa empati, selalu ada mendampingi individu ketika mengalami masalah dan keluarga menyediakan suasana yang hangat di keluarga dapat membuat individu merasa diperhatikan, nyaman, diperdulikan dan dicintai oleh keluarga sehingga individu akan lebih mampu menghadapi masalah dengan lebih baik. Begitu juga dengan dukungan penghargaan yang diberikan oleh keluarga yang dapat berupa pemberian apresiasi ketika individu
mencapai suatu keberhasilan, pemberian semangat, persetujuan pada pendapat individu dan perbandingan yang positif dengan individu lain. Dukungan ini membantu individu dalam membangun harga diri dan kompetensi. Dukungan pemberian penghargaan sangat dibutuhkan oleh individu yang mengalami asma karena berbagai dampak yang ditimbulkan oleh asma cenderung dapat membuat rasa percaya diri individu yang mengalami asma menurun. Adanya penghargaan yang positif dari keluarga akan membantu pasien atau individu untuk meningkatkan rasa percaya dirinya (Utami, 2013).
5. Kekambuhan Asma
Hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas responden kadang-kadang dalam mengalami kekambuhan asma yaitu sebanyak 28 orang (63,6%). Ana (2015) menyatakan bahwa beberapa faktor yang menyebabkan kekambuhan asma antara lain adalah faktor genetik, faktor lingkungan, faktor medis, stres dan olahraga yang berlebihan.
Sundari (2007) menyatakan bahwa risiko munculnya asma meningkat pada anak yang terpapar sebagai perokok pasif. Asma pada anak juga dapat disebabkan oleh masuknya suatu alergen misalnya tungau debu rumah yang masuk ke dalam saluran nafas sehingga merangsang terjadinya reaksi hipersentitivitas tipe I.
6. Hubungan Antara Peran Keluarga dengan Kekambuhan Asma
Hasil penelitian diketahui bahwa nilai korelasi (r = -0,451) dengan p value (0,002 < 0,05), berarti ada hubungan ada hubungan antara peran keluarga dengan tingkat kekambuhan pasien asma di RSUD Kota Surakarta. Nilai korelasi bernilai negatif berarti semakin baik peran keluarga maka tingkat kekambuhan asma semakin menurun.
Hasil ini mendukung penelitian terdahulu dari Taufik (2014), bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kekambuhan skizofernia. Hasil penelitian Nurdiana, dkk (2007) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa ada hubungan antara peran serta keluarga terhadap tingkat
kekambuhan klien skizofrenia.
Peran serta keluarga adalah satu usaha untuk mengurangi angka kekambuhan, hal ini karena keluarga merupakan sistem pendukung utama yang dapat memberikan perawatan langsung pada setiap keadaan sehat sakit klien.
Imam (2005) dalam penelitiannya bahwa dalam perawatan klien dibutuhkan peran keluarga sebab keluarga merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan lingkungannya dan keluarga merupakan unit yang paling dekat dengan klien dan merupakan perawat utama bagi klien.
Hasil penelitian Liansyah (2014) menunjukkan bahwa komunikasi yang baik dan terbuka antara praktisi dokter keluarga dan pasien serta orang tua atau keluarga pasien adalah hal yang penting sebagai dasar penatalaksanaan asma. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Friedman (2010) yang menyebutkan bahwa keluarga memiliki beberapa fungsi yaitu dukungan informasional, dukungan penilaian, dukungan instrumental
dan dukungan emosional, jika dukungan tersebut ada pada keluarga pasien, maka akan berdampak positif pada pasien.
E. KESIMPULAN
Sebagian besar responden berusia antara 30 tahun sampai 40 tahun yaitu sebanyak 22 orang (50,0%) dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 34 orang (77,3%) dengan tingkat pendidikan SMA sebanyak 29 orang (65,9%).
Mayoritas responden cukup berperan dalam membantu pasien yaitu sebanyak 21 orang (47,7%). Mayoritas responden kekambuhan asmanya kadang-kadang yaitu sebanyak 28 orang (63,6%).
.Ada hubungan antara peran keluarga dengan kekambuhan asma (r = -0,451) dan secara statistik signifikan (p
= 0,002).
F. SARAN
Tenaga kesehatan hendaknya memberikan konseling kepada keluarga pasien yang mengalami asma untuk tidak terjadi kekambuhan asma.
Institusi pendidikan hendaknya menambah literatur tentang asma demi meningkatkan pemahaman mahasiswa.
Pasien hendaknya berkomunikasi atau menyampaikan keluhan dengan anggota keluarga bila mengalami gejala tejadinya gangguan asma, sehingga dapat secara dini mendapatkan pertolongan pertama pada pasien.
Keluarga pasien hendaknya tetap memberikan dukungan kepada pasien dengan cara menjaga kepatuhan berobat pada pasien asma apabila dibutuhkan.
DAFTAR PUSTAKA
Ana,. (2015). 6 faktor Penyebab Asma Paling Utama. Diakses http://halosehat.com, tanggal 20 Februari 2016.
Astuti. (2010). Paparan Asap Dalam Rumah, Hewan Peliharaan, Lingkungan Tempat Tinggal Dan Sosial Ekonomi Dengan Kejadian Asma Bronkial Pada Anak. Berita Kedokteran Masyarakat. Vol. 26, No. 3, September 2010.
Celedon, J.C. dkk, (2003). Day Care Attendance In Early Life, Maternal History Of Asthma, And Asthma At The Ageof 6 Years. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine. Volume 167, Issue 9
Depkes RI. (2009). Standar Pelayanan Minimal. Jakarta : Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
Friedman, M.M. (2010). Buku Ajar Keperawatan Keluarga : Riset, Teori dan Praktek. Jakarta : EGC
Hidayati. (2015). Hubungan Antara Pengetahuan Tentang Pencegahan Asma dengan Kejadian Kekambuhan Pada Penderita Asma di Wilayah Kerja Puskesmas Ngoresan Surakarta. Naskah Publikasi. Surakarta. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta
Lestari, NF dan Hartini, N. (2014).
Hubungan Antara Tingkat Stres dengan Frekuensi Kekambuhan pada Wanita Penderita Asma Usia Dewasa Awal yang Telah Menikah.
Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental. Volume 2, No.
1,
Liansyah, TM. (2014). Pendekatan Kedokteran Keluarga Dalam Penatalaksanaan Terkini Serangan Asma Pada Anak. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala. Vol 14 No 3.
Ningrum, AS. (2012). Hubungan Pengetahuan Tentang Asma Dengan Upaya Pencegahan Kekambuhan Pada Penderita Asma di Wilayah Kerja Puskesmas Gorang Gareng Taji Kabupaten Magetan. Naskah Publikasi.
Surakarta Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta
Nurdiana, dkk. (2007). Korelasi Peran Serta Keluarga Terhadap Tingkat Kekambuhan Klien Skizofrenia.
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan. Vol 3, No. 1
Taufik, Y. (2014). Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Kekambuhan Pasa Pasien Skizofernia di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Grhasia DIY. Naskah Publikasi. Yogyakarta : Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Aisyiyah Yogyakarta.
Utami, N.M.S. 2013. Hubungan Antara Dukungan Sosial Keluarga dengan Penerimaan Diri Individu yang Mengalami Asma. Jurnal Psikologi Udayana. Vol. 1, No. 1