• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PROGRAM PENINGKATAN AKREDITASI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI STT DUMAI TESIS. Oleh: SURYA INDRAWAN /TI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STRATEGI PROGRAM PENINGKATAN AKREDITASI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI STT DUMAI TESIS. Oleh: SURYA INDRAWAN /TI"

Copied!
161
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI PROGRAM PENINGKATAN AKREDITASI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI STT DUMAI

TESIS

Oleh:

SURYA INDRAWAN 137025003/TI

F A K U L T A S T E K N I K UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2016

(2)

STRATEGI PROGRAM PENINGKATAN AKREDITASI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI STT DUMAI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Teknik

dalam Program Studi Teknik Industri pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

Oleh:

SURYA INDRAWAN 137025003/TI

F A K U L T A S T E K N I K UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2016

(3)

ABSTRAK

Dunia pendidikan saat ini memang sangat kompetitif sehingga untuk mengharuskan lembaga pendidikan untuk terus-menerus melakukan perbaikan dan evaluasi diri, untuk itu Program Studi Teknik Industri STT Dumai, dituntut untuk meningkatkan mutu pendidikan agar dapat menghasilkan lulusan-lulusan atau sarjana yang berkompeten dalam persaingan global salah satu hal yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan pengukuran kinerja sesuai dengan penilaian akreditasi BAN PT.

Akreditasi BAN PT saat ini memberikan grade C pada Program Studi Teknik Industri, hal ini dikarenakan masih terdapat rendahnya kinerja ketujuh standar di Program Studi Teknik Industri STT Dumai. Oleh karena itu penulis mengangkat judul penelitian “Strategi Program Peningkatan Akreditasi Program Studi Teknik Industri STT Dumai”

Untuk meningkatkan kinerja ketujuh standar, maka dilakukan identifikasi indikator-indikator apa saja yang masih rendah kinerjanya dengan menggunakan pendekatan standar akreditasi BAN PT dan analisis SWOT. Didalam standar akreditasi BAN PT digunakan untuk mengidentifikasi indiator-indikator yang kinerjanya masih rendah. Setelah diketahui, dilakukan analisis SWOT untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman sehingga dapat diketahui strategi apa yang digunakan untuk meningkatkan kinerja variabel-variabel yang kritis atau kinerjanya masih rendah.

Setelah strategi masing-masing indikator yang kritis diketahui kemudian dibuat program-program dengan ditindaklanjuti mengadakan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan beberapa stakeholder, diantaranya untuk standar satu terdapat 3 program, standar dua terdapat 2 program, standar tiga terdapat 16 program, standar empat terdapat 10 program, standar lima 6 program, standar enam 12 program dan standar tujuh 11 program. Dengan diperoleh program-program ketujuh standar tersebut, tentunya dapat meningkatkan nilai akreditasi Program Studi Teknik Industri STT Dumai.

Kata Kunci: SWOT, BAN PT, FGD

(4)

ABSTRACT

STT is private universities that is there Dumai , Riau , having three course , namely: technique industry , information , and civil engineering .Course having customer very large is a technique industry , every year increased peneriman students .For that STT Dumai , forced to improve the quality of education to produce lulusan-lulusan or scholar competent in global competition

Accreditation BAN PT currently provides grade c , this is because there is still a performance seventh the low standards in engineering study program stt dumai industry .Hence writers lifting the title research “strategy of accreditation improvement program engineering study program stt dumai industry”.

To improve their performance seventh standard , then done by analysis training and standards pt accreditation the children .The concept of SWOT analysis which is to knows the , weakness , opportunities and the threat so that it can be known what strategy a used to improve their performance variables critical.Then in the standard accreditation pt each variable critical compared with the conditions real in engineering study program industry , so it can be seen target to be achieved The SWOT analysis to know strategy used that is one of them strategy used is strategy WO it means in improving the performance of variable weak or critical the course of study they can make use of opportunities have to improve their performance each variable weak.

Keywords: Strategy , SWOT Analysis , BAN PT

(5)

DAFTAR ISI

HALAMAN

ABSTRAK ... ii

ABSTRACT ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... ix

KATA PENGANTAR ... x

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Manfaat Hasil Penelitian ... 4

1.5 Ruang Lingkup dan Batasan ... 4

1.6 Asumsi-asumsi ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengukuran Kinerja ... 6

2.2 Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi ... 7

2.3 Standar Akreditasi Program Studi Sarjana. ... 8

(6)

2.4 SWOT . ... 14

2.5 Review Hasil Penelitian . ... 28

2.6 Resume Hasil-hasil Penelitian ... 30

BAB III KERANGKA KONSEPTUAL 3.1 Kerangka Konseptual ... 31

3.2 Definisi Operasional ... 32

BAB IV RANCANGAN PENELITIAN 4.1 Tipe Penelitian ... 39

4.2 Lokasi Penelitian ... 39

4.3 Metode Penelitian ... 39

4.3.1 Tahap Penelitian ... 40

4.4 Pengumpulan Data ... 41

4.5 Analisis SWOT ... 42

4.6 Rancangan Program... 44

BAB V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 5.1 Pengumpulan Data ... 45

5.2 Pengolahan Data ... 45

5.2.1 Evaluasi Internal ... 45

5.2.2 Analisis SWOT ... 62

5.2.3 Pembobotan IFAS dan EFAS ... 89

5.3 Perbandingan Kondisi Aktual Dengan BAN PT Setiap ... Indikator ... 101

(7)

BAB VI PERANCANGAN PROGRAM

6.1 Program ... 112 6.2 Bar Chart Program ... 121 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan ... 127 7.2 Saran ... 128 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(8)

DAFTAR TABEL

NO. JUDUL HALAMAN

2.1 Matriks SWOT ... 18

2.2 Pilihan Strategi ... 28

5.1 Bobot Variabel Standar Akreditasi BAN PT ... 46

5.2 Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran, serta Strategi Pencapaian ... 47

5.3 Tata Pamong, Kepemimpinan, Sistem Pengelolaan ... 47

5.4 Mahasiswa dan Lulusan ... 49

5.5 Sumber Daya Manusia ... 51

5.6 Kurikulum, Pembelajaran, dan Suasana Akademik ... 54

5.7 Pembiayaan, Sarana dan Prasarana serta Sistem Informasi ... 57

5.8 Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerjasama ... 59

5.9 Kinerja Jurusan dan Standar BAN PT ... 61

5.10 IFAS dan EFAS SWOT Visi, Misi, Tujuan ... 65

5.11 IFAS dan EFAS SWOT Tata Pamong, Kepemimpinan ... 68

5.12 IFAS dan EFAS SWOT Mahasiswa dan Lulusan ... 72

5.13 IFAS dan EFAS SWOT Sumber Daya Manusia ... 77

5.14 14 IFAS dan EFAS SWOT Kurikulum ... 81

5.15 IFAS dan EFAS SWOT Pembiayaan, Sarana dan Prasarana ... 85 5.16 IFAS dan EFAS SWOT Penelitian, Pengabdian KepadaMasyarakat 88

(9)

5.17 Pembobotan Kekuatan dan Kelemahan ... 90

5.18 Pembobotan Peluang dan Ancaman... 95

5.19 Pembobotan Hasil Kuisioner SWOT ... 98

5.20 Urutan Alternatif Strategi SWOT ... 99

5.21 Perbandingan Kondisi Program Studi Teknik Industri STT Dumai dengan Target BAN PT yang Ingin Dicapai ... 102

5.22 Perbandingan Kondisi Program Studi Teknik Industri STT Dumai dengan Target BAN PT yang Ingin Dicapai ... 103

5.23 Perbandingan Kondisi Program Studi Teknik Industri STT Dumai dengan Target BAN PT yang Ingin Dicapai ... 104

5.24 Perbandingan Kondisi Program Studi Teknik Industri STT Dumai dengan Target BAN PT yang Ingin Dicapai ... 105

5.25 Perbandingan Kondisi Program Studi Teknik Industri STT Dumai dengan Target BAN PT yang Ingin Dicapai ... 107

5.26 Perbandingan Kondisi Program Studi Teknik Industri STT Dumai dengan Target BAN PT yang Ingin Dicapai ... 108

5.27 Perbandingan Kondisi Program Studi Teknik Industri STT Dumai dengan Target BAN PT yang Ingin Dicapai ... 110

6.1 Program Visi, misi, Tujuan dan Sasaran, serta Strategi Pencapaian . 113 6.2 Program Tata pamong, kepemimpinan ... 113

6.3 Program Mahasiswa dan Lulusan ... 114

6.4 Program Sumber Daya Manusia ... 115

(10)

6.5 Program Kurikulum, Pembelajaran, dan Suasana Akademik ... 117 6.6 Program Pembiayaan, Sarana dan Prasarana serta Sistem Informasi 118 6.7 Program Penelitian, Pengabdian KepadaMasyarakat dan Kerjasama 119 6.8 Jadwal Program-Program Dalam Lima Tahun ... 121

(11)

DAFTAR GAMBAR

NO. JUDUL HALAMAN

2.1 Matriks Pilihan Strategi ... 24

3.1 Kerangka Konseptual Penelitian ... 31

4.1 Langkah-langkah Penelitian ... 40

5.1 Persentase Bobot BAN PT dan Standar Jurusan Teknik Industri ... 61

5.2 Jumlah Daya Tampung dan Jumlah Calon Mahasiswa ... 71

5.3 Posisi Program Studi Teknik Industri Dumai ... 100

(12)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T atas berkat dan rido-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

Dalam penyusunan tesis ini banyak mendapat dukungan moril dan usulan- usulan perbaikan serta masukan-masukan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Humala Napitupulu, DEA selaku Ketua Jurusan Teknik Industri Program Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Bapak Prof. Dr. Ir. Harmein Nasution, MSIE, selaku pembimbing utama dan Bapak Dr. Ir. Nazaruddin, MT sebagai anggota komisi pembimbing yang telah banyak memberikan dukungan, arahan, dan petunjuk dalam penyelesaian tesis ini.

Prof. Dr. Ir. Sukaria Sinulingga, M.Eng., Prof. Dr. Ir. Humala Napitupulu, DEA dan Dr. Ir. Juliza MT. Sebagai tim penguji yang telah banyak memberikan masukan serta saran yang membangun dalam penyempurnaan tesis ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak dr. H Sunaryo dan Ibu Dra. H Sirlyana, MP., selaku Ketua Yayasan YLPI dan Ketua STT Dumai yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di STT Dumai. Bapak Arif ST, MT, Bapak Ir. Yusrizal MM selaku Wakil Ketua I dan II dan Bapak Juni S, ST MT. Ketua Program Studi Teknik Industri STT Dumai yang telah berkenan memberikan saran dan pendapat kepada penulis dalam melakukan penelitian ini.

Terima kasih penulis sampaikan kepada semua dosen pengajar Magister Teknik Industri USU yang telah mendidik dan memberikan berbagai ilmu.

Terimakasih kepada staf Magister Teknik USU yang telah membantu penulis dalam memberikan informasi tentang perkuliahan dan tesis. Terimakasih juga untuk teman- teman seperjuangan dalam perkuliahan angkatan 18 (bang Zuanda, Juna, Doni, Bag,

(13)

pak Irfan, Kak Nita, Yusna dan Tiara), angkatan 17 (bang Justin, Indra, Erinsyah, Nunung, Yusnia dkk), dan Candidate Doctor Teknik Industri USU Ibu Melliana dan Ibu Syarifah.

Penulis juga menyampaikan terimakasih kepada Ibu Wakil Dekan Teknik Industri UMA dan Ibu Vica, ST. MT Ketua Program Studi Teknik Industri UMA yang telah memberikan arahan dan masukannya.

Penulis juga menyampaikan terimakasih kepada orang-orang tercinta yaitu istri dr. Lora Investisia, kedua putri kembar (Talita Raina Syakira dan Talita Raisa Syakira), dan orang tua (Syamsir). Terimakasih juga kepada pihak-pihak yang tidak dapat diebutkan satu persatu atas dukungan dan do’anya dalam penyusunan tesis ini.

Penulis menyadari tesis ini masih jauh dari sempurna, hal ini tidak terlepas dari keterbatasan penulis. Do’a dan harapan tesis ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Medan, Mei 2016 Penulis,

Surya Indrawan 137025003/TI

(14)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dunia pendidikan saat ini memang sangat kompetitif sehingga untuk mengharuskan lembaga pendidikan untuk terus-menerus melakukan perbaikan dan evaluasi diri, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan pengukuran kinerja.

Pengukuran kinerja sangat penting pada sumber daya manusia karena dengan melakukan pengukuran kinerja kita dapat melihat kemampuan atau kompetensi.

Kinerja seorang pegawai bisa kita ketahui baik atau buruk, apabila adanya suatu penilaian. Kinerja karyawan juga dapat dilihat dari tingkat keterlibatan karyawan (Diana, dkk. 2014). Penilaian kinerja merupakan evaluasi keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam menjalankan tugasnya (Diana, dkk. 2014). Seseorang mencapai kinerja yang tinggi di dalam pekerjaannya sangat didasari oleh karakteristik kompetensi bidang pekerjaan tersebut (Nasution, 2012).

Pengukuran kinerja sangat penting dilakukan untuk menjamin kualitas tidak hanya di dunia bisnis tetapi juga di dunia pendidikan. Direktur Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) menyadari pentingnya pengukuran kinerja dalam pengelolaan pendidikan tinggi.Peningkatan mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan dilakukan dengan memasukan penilaian akreditasi dan evaluasi diri institusi yang dilakukan terhadap Perguruan Tinggi baik Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta (Suhendro, 1996).

(15)

Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang merupakan proses penilaian yang dilakukan untuk menentukan kelayakan sebuah institusi atau program studi. Kriteria penilaian dikelompokkan dalam tujuh kriteria atau standar, yaitu: (1) visi, misi, tujuan dan sasaran, serta strategi pencapaian, (2) tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan dan penjaminan mutu, (3) mahasiswa dan lulusan, (4) sumber daya manusia, (5) kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik, (6) pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sistem informaasi, dan (7) penelitian, pelayanan atau pengabdian kepada masyarakat, dan kerjasama.

Sekolah Tinggi Teknologi (STT) adalah perguruan tinggi swasta yang bertempat di Kota Dumai yang berdiri berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor 123/D/O/2003 tanggal 5 Agustus 2003. Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Dumai, dituntut untuk meningkatkan mutu pendidikan agar dapat menghasilkan lulusan-lulusan atau sarjana yang berkompeten dalam persaingan global.

STT Dumai menyelenggarakan 3 (tiga) program studi, yaitu: Teknik Industri, Informatika, dan Teknik Sipil. Program studi yang memiliki peminat sangat besar adalah Teknik Industri, setiap tahun mengalami peningkatan peneriman jumlah mahasiswa. Jumlah mahasiswa yang diterima 3 tahun terakhir adalah 134 mahasiswa tahun 2012, 180 mahasiswa tahun 2013, dan 269 mahasiswa taun 2014.

Akreditasi BAN PT tahun 2009 dan 2015 memberikan grade C pada Program studi Teknik Industri sedangkan pihak Program studi Teknik Industri menginginkan akreditasi BAN PT grade B.Maka program studi melakukan strategi untuk

(16)

memperbaiki kualitasnya dengan harapan akreditasi tahun 2015 hasilnya menjadi grade B. Dimana didalam standar akreditasi BAN PT masih terdapat hambatan- hambatan yang belum bisa dipenuhi oleh Program Studi Teknik Industri Dumai, yaitu dalam standar 1 belum dijelaskan strategi pencapain dan kerangka waktu sesuai sasaran yang dituju, standar 2 sistem pengelolaannya belum sesuai dengan tahap- tahap manajemen dan belum terstruktur, standar 3 jumlah mahasiswa masih cukup besar dan belum dikelola dengan baik, standar 4 masih kurangnya jumlah dosen dan kualitas dosen yang keahliannya sesuai deng program studi, standar 5 masih kurangnya kegiatan-kegiatan akademik, standar 6 masih kurangnya dana untuk penelitian dan pengabdian masyarakat, standar 7 penelitian dan pengabdian masyarakat masih sangat minim.

Oleh karena itu, Perguruan Tinggi STT Dumai menginginkan adanya suatu program yang mampu meningkatkanakreditasi program studi yang dapat menilai performa perguruan tinggi menjadi lebih baik.

Berdasarkan permasalahan diatas, maka perlu dilakukan evaluasi sistem kinerjaProgram studi Teknik Industri yang sesuai dengan variabel-variabel BAN-PT.

1.2 Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang dan judul penelitian, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana membuat strategi program meningkatkan akreditasi sehingga dapat membantu meningkatkan akreditasi di Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Dumai.

(17)

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian yang dilakukan di Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Dumai mempunyai tujuan mendapatkan program-programuntuk meningkatan akreditasisehingga dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan di Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Dumai.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini secara teoritis adalah:

1. Pengembangan ilmu, menambah pengeahuan dan menngkatkan kemampuan dalam membuat strategi program peningkatanakreditasi.

Adapun Manfaat dari penelitian ini secara praktis adalah:

1. Sebagai pedoman dalam melakukan perbaikan akreditasidi Program studi Teknik Industri STT Dumai.

1.5 Ruang Lingkup dan Batasan

Adapun ruang lingkup dan batasan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Variabel-variabel yang digunakan adalah variabel yang sesuai dengan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT).

2. Penilaian skor berdasarkan kriteria dari standar penilaian instrumen akreditasi program studi sarjana.

3. Penelitian dilakukan pada Program studi Teknik Industri STT Dumai.

(18)

1.6 Asumsi-asumsi

Asumsi-asumsi yang digunakan agar tahapan penelitian ini dapat dilaksanakan adalah hipotesis sudah dapat diterima atau tidak perlu pembuktian karena variabel yang digunakan diambil dari variabel-variabel BAN PT yang telah standar dan telah diakui sejak lama di Indonesia.

(19)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1. Pengukuran Kinerja

Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat adalah perguruan tinggi, sebuah organisasi yang menciptakan hasil yang kompleks dengan menggunakan beberapa sumber daya.

Untuk tetap kompetitif di arena pendidikan, perguruan tinggi membutuhkan pemantauan terus menerus dan evaluasi.Umumnya, lembaga pendidikan dievaluasi oleh lembaga/institusi eksternl untuk; (1) kegiatan akademik dan (2) kegiatan administrasi dan keuangan. Proses penilaian internal mencakup gambaran yang luas dari kriteria kinerja seperti pengembangan dan revisi kurikulum. Oleh karena itu, beberapa faktor yang nyata atau tidak nyata di lingkungan harus dipertimbangkan selama peninjauan internal, sehingga menciptakan lingkungan masalah yang kompleks untuk evaluator/pengambil keputusan (Kongar, Pallis, & Sobh, 2010).

Terkait pengukuran kinerja institusi di dunia dikenal adanya pemeringkatan perguruan tinggi yang dilakukan oleh QS World Universities, yang melakukan penilaian kinerja terhadap 26 indikator yang dikelompokkan dalam tujuh kriteria, yaitu: kualitas belajar mengajar, kemudahan bekerja stelah lulus, penelitian, fasilitas, internasionalisasi, inovasi, dan kontribusi.

(20)

Di Indonesia dikenal adanya akreditasi yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang merupakan proses penilaian yang dilakukan untuk menentukan kelayakan sebuah institusi atau program studi. Kriteria penilaian kinerja dikelompokkan dalam tujuh kriteria atau standar, yaitu: (1) visi, misi, tujuan dan sasaran, serta strategi pencapaian, (2) tata pamong, kepemimpinan, system pengelolaan, dan penjaminan mutu, (3) mahasiswa dan lulusan, (4) sumber daya manusia, (5) kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik, (6) pembiayaan, sarana dan prasarana, serta system informasi, dan (7) penelitian, pelayanan/pengabdian kepada masyarakat, dan kerjasama.

2.2 Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi

Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1994 dengan tugas melakukan akreditasi terhadap perguruan tinggi. Pada awal pembentukannya BAN-PT telah memutuskan untuk melakukan terlebih dahulu akreditasi program studi, dengan alasan bahwa program studilah yang menentukan mutu hasil pendidikan dan kenyataan bahwa tingkat mutu program studi beragam.

Sejak dibentuk pada tahun 1994 sampai akhir tahun 2008, BAN-PT telah berhasil melakukan akreditasi terhadap 9288 program studi dari perguruan tinggi negeri, swasta, keagamaan, dan kedinasan, yang meliputi program diploma (1503 program studi), sarjana (6977 program studi), magister (749 program studi) dan

(21)

doktor (59 program studi). Dalam dua tahun terakhir telah pula dilakukan akreditasi terhadap 80 institusi perguruan tinggi negeri dan swasta.

Mengingat Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003, PP RI Nomor 19 tahun 2005 dan peraturan perundang-undangan lainnya serta kecenderungan perkembangan kebijakan tentang pendidikan tinggi yang menekankan pada mutu dan akuntabilitas publik institusi perguruan tinggi dan program studi maka diperlukan akreditasi program studi sarjana. Instrumen akreditasi tahun 2008 ini telah disusun dengan mempertimbangkan perkembangan aspek legal peraturan perundang-undangan dan tuntutan praktek-praktek proses akreditasi terbaik yang berlaku secara internasional (internationalbest practices).

2.3 Standar Akreditasi Program Studi Sarjana

Akreditasi merupakan salah satu bentuk penilaian (evaluasi) mutu dan kelayakan institusi perguruan tinggi atau program studi yang dilakukan oleh organisasi atau badan mandiri di luar perguruan tinggi. Bentuk penilaian mutu eksternal yang lain adalah penilaian yang berkaitan dengan akuntabilitas, pemberian izin, pemberian lisensi oleh badan tertentu. Ada juga pengumpulan data oleh badan pemerintah bagi tujuan tertentu, dan survei untuk menentukan peringkat (ranking) perguruan tinggi.

Standar akreditasi adalah tolok ukur yang harus dipenuhi oleh institusi program studi sarjana. Suatu standar akreditasi terdiri atas beberapa parameter

(22)

(elemen penilaian) yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mengukur dan menetapkan mutu dan kelayakan program studi sarjana untuk menyelenggarakan program-programnya.

Akreditasi merupakan suatu proses dan hasil. Sebagai proses, akreditasi merupakan suatu upaya BAN-PT untuk menilai dan menentukan status mutu program studi di perguruan tinggi berdasarkan standar mutu yang telah ditetapkan. Sebagai hasil, akreditasi merupakan status mutu perguruan tinggi yang diumumkan kepada masyarakat. Dengan demikian, tujuan dan manfaat akreditasi program studi adalah sebagai berikut:

1. Memberikan jaminan bahwa program studi yang terakreditasi telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh BAN-PT, sehingga mampu memberikan perlindungan bagi masyarakat dari penyelenggaraan program studi yang tidak memenuhi standar.

2. Mendorong program studi/perguruan tinggi untuk terus menerus melakukan perbaikan dan mempertahankan mutu yang tinggi

3. Hasil akreditasi dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam transfer kredit, usulan bantuan dan alokasi dana, serta mendapat pengakuan dari badan atau instansi yang berkepentingan.

Penilaian mutu dalam rangka akreditasi program studi sarjana harus dilandasi oleh standar yang lengkap dan jelas sebagai tolok ukur penilaian tersebut, dan juga

(23)

memerlukan penjelasan operasional mengenai prosedur dan langkah-langkah yang ditempuh, sehingga penilaian itu dapat dilakukan secara sistemik dan sistematis.

Asesmen kinerja program studi sarjana didasarkan pada pemenuhan tuntutan standar akreditasi. Dokumen akreditasi program studi sarjana yang dapat diproses harus telah memenuhi persyaratan awal (eligibilitas) yang ditandai dengan adanya izin penyelenggaraan program studi sarjana dari pejabat yang berwenang. Standar akreditasi program studi sarjana mencakup komitmen program studi sarjana untuk memberikan layanan prima dan efektivitas pendidikan yang terdiri atas tujuh standar seperti berikut.

Standar 1. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran, serta Strategi Pencapaian

Standar 2. Tata pamong, Kepemimpinan, Sistem Pengelolaan, dan Penjaminan mutu

Standar 3. Mahasiswa dan Lulusan Standar 4. Sumber daya manusia

Standar 5. Kurikulum, Pembelajaran, dan Suasana Akademik

Standar 6. Pembiayaan, Sarana dan Prasarana, serta Sistem Informasi

Standar 7. Penelitian, Pelayanan/Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerjasama

Deskripsi setiap standar akreditasi itu adalah sebagai berikut.

1. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran, serta Strategi Pencapaian.

Standar ini adalah acuan keunggulan mutu penyelenggaraan dan strategi program studi sarjana untuk meraih cita-cita di masa depan. Strategi dan

(24)

upaya pewujudan visi, pelaksanaan/penyelenggaraan misi, dan pencapaian tujuannya, difahami dan didukung dengan penuh komitmen serta melibatkan partisipasi seluruh pemangku kepentingannya. Seluruh rumusan yang ada mudah difahami, dijabarkan secara logis, sekuen dan pengaturan langkah- langkahnya mengikuti alur fikir (logika) yang secara akademik wajar.

2. Tata pamong, Kepemimpinan, Sistem Pengelolaan, dan Penjaminan mutu.

Standar ini adalah acuan keunggulan mutu tata pamong (governance), kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan sistem penjaminan mutu program studi sarjana sebagai satu kesatuan yang terintegrasi yang menjadi kunci penting bagi keberhasilan program studi sarjana dalam mewujudkan visi, menyelenggarakan misi, dan mencapai tujuan yang dicita-citakan.

3. Mahasiswa dan Lulusan.

Standar ini merupakan acuan keunggulan mutu mahasiswa dan lulusan yang terkait erat dengan mutu calon mahasiswa. Program studi sarjana harus memiliki sistem seleksi yang andal, akuntabel, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholders). Di dalam standar ini program studi sarjana harus memiliki fokus dan komitmen yang tinggi terhadap mutu penyelenggaraan proses akademik (pendidikan, penelitian, dan pelayanan/pengabdian kepada masyarakat) dalam rangka memberikan kompetensi yang dibutuhkan mahasiswa untuk menjadi lulusan yang mampu bersaing. Standar ini juga

(25)

mencakup bagaimana seharusnya program studi sarjana memperlakukan dan memberikan layanan prima kepada mahasiswa dan lulusannya. Termasuk di dalamnya segala urusan yang berkenaan dengan upaya program studi sarjana untuk memperoleh mahasiswa yang bermutu tinggi melalui sistem dan program rekrutmen, seleksi, pemberian layanan akademik/fisik/sosial-pribadi, monitoring dan evaluasi keberhasilan mahasiswa (outcome) dalam menempuh pendidikan di program studi sarjana, penelaahan kebutuhan dan kepuasan mahasiswa serta pemangku kepentingan, sehingga mampu menghasilkan lulusan yang bermutu tinggi, dan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan pemangku kepentingan.

4. Sumber daya manusia.

Standar ini merupakan acuan keunggulan mutu sumber daya manusia, serta bagaimana seharusnya program studi sarjana memperoleh dan mendayagunakan sumber daya manusia yang bermutu tinggi serta memberikan layanan prima kepada sumber daya manusianya untuk mewujudkan visi, melaksanakan dan menyelenggarakan misi, dan mencapai tujuan yang dicita-citakan. Sumber daya manusia program studi sarjana adalah dosen dan tenaga kependidikan yang mencakup pustakawan, laboran, teknisi, dan tenaga kependidikan lainnya yang bertanggung jawab atas pencapaian sasaran mutu keseluruhan program tridarma perguruan tinggi.

(26)

5. Kurikulum, Pembelajaran, dan Suasana Akademik.

Standar ini merupakan acuan keunggulan mutu sistem pembelajaran di program studi sarjana. Kurikulum adalah rancangan seluruh kegiatan pembelajaran mahasiswa sebagai rujukan program studi sarjana dalam merencanakan, melaksanakan, memonitor dan mengevaluasi seluruh kegiatannya untuk mencapai tujuan program studi sarjana. Pembelajaran (tatap muka atau jarak jauh) adalah pengalaman belajar yang diperoleh mahasiswa dari kegiatan belajar, seperti perkuliahan, praktikum atau praktek, magang, pelatihan, diskusi, lokakarya, seminar, dan tugas-tugas pembelajaran lainnya. Suasana akademik adalah kondisi yang dibangun untuk menumbuhkembangkan semangat dan interaksi akademik antara mahasiswa- dosen-tenaga kependidikan, pakar, dosen tamu, nara sumber, untuk meningkatkan mutu kegiatan akademik, di dalam maupun di luar kelas.

6. Pembiayaan, Sarana dan Prasarana, serta Sistem Informasi

Standar ini merupakan acuan keunggulan mutu sumber daya pendukung penyelenggaraan proses akademik yang bermutu mencakup pengadaan dan pengelolaan dana, sarana dan prasarana, serta sistem informasi yang diperlukan untuk mewujudkan visi, melaksanakan/menyelenggarakan misi, dan untuk mencapai tujuan program studi sarjana.

(27)

7. Penelitian, Pelayanan/Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerjasama

Standar ini adalah acuan keunggulan mutu penelitian, pelayanan pengabdian kepada masyarakat, dan kerjasama yang diselenggarakan untuk dan terkait dengan pengembangan mutu program studi sarjana.

2.4 SWOT

A. Sejarah SWOT

Asal-usulnya, teknik analisa SWOT ini pertama kali diperkenalkan oleh Albert Humphrey, akademisi yang memimpin proyek penelitian di Universitas Stanford pada tahun 1960-an dan 1970-an dengan menggunakan data dari banyak perusahaan terkemuka dunia. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi mengapa perencanaan perusahaan bisa gagal. Penelitian yang dihasilkan mengidentifikasi sejumlah area kunci dan alat yang digunakan untuk menjelajahi setiap area penting yang disebut analisa SOFT. Humphrey dan tim penelitian awal menggunakan kaidah berikut "Apa yang baik di masa sekarang ini disebut Satisfactory (memuaskan), yang baik di masa depan adalah Opportunity (peluang); buruk di masa sekarang adalah Fault (kesalahan) dan buruk di masa depan adalah Threat (ancaman)." Inilah yang dikenal dengan analisa SOFT (Satisfactory, Opportunity, Fault, Threat). Kemudian, pada tahun 1964 Urick dan Orr pada sebuah konferensi mengubah huruf F ke W, sehingga menjadi analisa yang kita kenal sekarang: SWOT.

(28)

B. Pengertian SWOT

Pearce dan Robinson menambahkan bahwa salah satu bagian dari proses manajemen strategik adalah analisis faktor intern perusahaan yang menghasilkan profil perusahaan, mengidentifikasikan kekuatan dan kelemahan utama perusahaan.

Kekuatan dan kelemahan ini dibandingkan dengan peluang dan ancaman ekstern sebagai landasan untuk menghasilkan alternatif-alternatif strategi suatu proses yang dinamakan analisis SWOT.

Yusanto dan Wijdajakusuma (2003), analisis SWOT merupakan salah satu instrumen internal dan eksternal perusahaan yang telah dikenal luas.Analisis ini bertumpu pada basis data tahunan dengan pola 3-1-5. Maksudnya, data yang adadiupayakan mencakup data perkembangan organisasi pada tiga tahun sebelum dilakukan analisis, apa yang akan diinginkan pada tahun dilakukannya analisis serta kecenderungan organisasi untuk lima tahun kedepan pascaanalisis. Hal ini dimaksudkan agar strategi yang akan diambil memiliki dasar dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Menurut Freddy, analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematif untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencana strategis (strategy planner) harus menganalisis faktor-faktor strategis

(29)

perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini.Hal ini dinamakan Analisis Situasi.Model yang paling populer untuk analisis situasi adalah Analisis SWOT.

Rais (2009:4), metode analisa SWOT dianggap sebagai metode analisa yang paing dasar, berguna untuk melihat suatu topik atau permasalahan dari 4 (empat) sisi yang berbeda.Hasil analisa biasanya adalah arahan atau rekomendasi untuk mempertahankan kekuatan dan menambah keuntungan dari peluang yang ada, sambil mengurangi kekurangan dan menghindari ancaman. Jika digunakan dengan benar, analisa SWOT akan membantu kita untuk melihat sisi-sisi yang terlupakan atau tidak terlihat selama ini. Analisa ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu:

S = Strengths, adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisasi atau program pada saat ini.

W = Weaknesses, adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dari organisasi atau program pada saat ini.

O = Opportunities, adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang di luar organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi di masa depan.

T = Threats, adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datang dari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi di masa depan.

Perbandingan antara empat komponen dasar (SWOT) dijelaskan dalam skema matriks SWOT. Matriks SWOT terdiri dari 8 sel:4 sel berisi inventori variable internal dan lingkungan bisnis (eksternal) dan empat sel lainnya berisi implikasi strategis yang ditimbulkannya. Sel 1 berisi berisi daftar (list) kekuatan (S) perusahaan

(30)

yang berhasil dibangun oleh manajemen dan sel 2 berisi daftar kelemahan (W) yang ingin dihilangkan. Oleh karena itu sel 1 dan 2 secara berturut-turut disebut sel S dan sel W. Sel 3 berisi daftar peluang (O) bisnis yang dimiliki pada masa sekarang dan yang akan datang dan sel 4 berisi daftar ancaman (T) yang sedang dihadapi sekarang dan yang akan datang. Oleh karena itu sel 3 dan 4 secara berturut-turut disebut sel O dan sel T.

Sel 5 merupakan pilihan strategi yang hendak dipilih oleh manajemen berdasar kombinasi kekuatan dan peluang bisnis yang ada pada sel S dan O dan oleh karena itu disebut sebagai sel atau stategi SO.Stategi pada sel tersebut juga sering disebut sebagai strategi maksi-maksi.Sel 6 adalah strategi yang hendak dipilih oleh manajemen berdasarkan kombinasi kelemahan dan peluang bisnis yang ada pada sel W dan O dan oleh karena itu disebut sel atau strategi WO.Startegi pada sel WO sering juga dinamai sebagai strategi mini-maksi. Sel 7 berisi pilihan strategi yang ditimbulkan oleh kombinasi sel S dan T dan oleh karena itu disebut sel atau strategi ST. Strategi pada sel ST sering juga disebut sebagai strategi maksi-mini. Sel 8 berisi strategi hasil kombinasi sel W dan T dan oleh karena itu disebut sel atau strategi WT.

Strategi tersebut sering juga diberi nama sebagai strategi mini-mini.Secara skematis, matriks SWOT dapat dilihat pada Tabel 2.1.

(31)

Tabel 2.1 Matriks SWOT

Tahapan Penyusunan Matriks:

Untuk mewujudkan matriks SWOT tersebut diperlukan pelaksanaan tahapan berikut ini (David, 1995:200-2; ten Have dkk., 2003: 185-9; Weihrich, 1982: 60-1; Wheelen, 1995: 173-6) :

Pertama, manajemen sendiri maupun bersama konsultan melakukan identifikasi dan inventori terhadap kekuatan dan kelemahan yang sekarang dimiliki oleh perusahaan (unit usaha strategis), dengan menggunakan salah satu pendekatan yang lazim digunakan dalam MS: manajemen fungsional, rantai nilai, kompetensi inti, 7S atau yang lain. Di samping itu manajemen juga perlu melakukan perbandingan dengan keunggulan dan kelemahan yang dimiliki oleh pesaing.Dalam praktik, tidak terkecuali di Indonesia, terdapat kecenderungan menghasilkan daftar yang begitu panjang.Sedapat mungkin kecenderungan ini dihindari.Diusahakan hendaknya hanya berisi daftar yang cukup ringkas, antara 3 sampai dengan 10 indikator saja. Semakin banyak indikator yang ditemukan bisa ditafsirkan sebagai tanda bahwa

(32)

manajementidak mengerti dan sekalipun tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang perusahaan yang dipimpinnya.

Kedua, manajemen mendeteksi lingkungan bisnis makro dan mikro ( industri dan pesaing ) yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan, kini dan masa yang akan datang. Manajemen dipersilahkan menggunakan bantuan salah satu atau kombinasi berbagai teknik yang biasa digunakan dalam MS, sejak analisis PEST, lima kekuatan bersaing (five competitive forces) Poter, sampai pada konstruksi scenario. Diharapkan manajemen mampu mengahasilkan daftar peluang dan ancaman bisnis yang tersedia dan ancaman bisnis yang menghadang.Tidak berbeda dengan langkah pertama, diharapkan manajemen tidak menghasilkan daftar panjang, (long list) yang tidak fokus.

Ketiga, manajemen mencoba merumuskan pilihan strategi yang mungkin dapat diimplementasikan dengan cara melakukan refleksi atas berbagai kemungkinan kombinasi dari indicator kekuatan (S), kelemahan (W), peluang (O), dan ancaman (T) yang telah ditemukan pada dua langkah sebelumnya. Tersedia empat macam strategi, yakni: SO (maksi-maksi), WO (mini-maksi), ST (maksi-mini), dan WT (mini-mini).

Pada tahapan ini juga terdapat kecenderungan untuk sebanyak mungkin menemukan rumusan strategi, yang jika dicermati lebih dalam biasanya justru berisi strategi yang tidak memiliki kemungkinan untuk diterapkan.Manajemen sedari mula hendaknya menyadari kecenderungan tersebut dan oleh karena itu harus dihindari.Jika berhasil dirumuskan dengan pas, manajemen dapat mengimplementasikan keempat jenis

(33)

strategi tersebut secara simultan, tidak hanya memilih salah satu.Dalam praktiknya, mungkin perlu penetuan skala prioritas.

Strategi SO dirumuskan dengan pertimbangan bahwa manajemen hendak memanfaatkan kekuatan perusahaan dan keunggulan bersaing yang dimiliki untuk mengeksploitasi peluang bisnis yang tersedia.Strategi ini bersifat agresif, memacu pertumbuhan perusahaan. Oleh karena itu strategi ini juga disebut maksi-maksi karena manajemen mencoba menggunakan apa yang serba positif ( maksimal) yang kini dimiliki. Manajemen tentu saja menyukai jika memiliki kesempatan untukmengimplementasikan strategi ini karena perusahaan sedang sehat dan di saat yang sama tersedia peluang bisnis yang menjanjikan.

Strategi WO diperoleh ketika manajemen mencoba memanfaatkan peluang bisnis yang tersedia untuk mengurangi bahkan mengeliminasi kelemahan perusahaan yang ada. Strategi ini disebut mini-maksi karena yang maksimal hanya satu variable, yakni peluang; sedangkan satu variable lainnya dinilai sebagai sesuatu yag minimal karena hanya berupa kelemahan. Strategi ini tidak seagresif yang disebut pertama, karena manajemen tidak sepenuhnya dapat memanfaatkan peluang bisnis yang tersedia.Ia lebih berkonsentrasi untuk menyehatkan perusahaan dengan cara mengeliminir kelemahan yang dimiliki atau outsourcing. Jika terpaksa manajemen dapat membiarkan peluang bisnis yang tersedia untuk diambil oleh perusahaan pesaingnya.

Strategi ST serupa dengan strategi WO karena variable yang ada tidak maksimal. Strategi ST lahir dari analisis manajemen yang hendak menggunakan

(34)

kekuatan dan keunggulan yang dimiliki untuk menghindari efek negatif dari ancaman bisnis yang dihadapi. Strategi ini disebut maksi-mini karena hanya memiliki satu variable maksimal, yakni kekuatan. Variabel yang lain bersifat minimal, yakni ancaman bisnis. Perusahaan memiliki keunggulan akan tetapi tidak dapat memanfaatkannya secara maksimal karena yang tersedia hanya ancaman bisnis.

Ancaman bisnis tersebut dapat menjadi sebab ketidaksehatan perusahaan jika manajemen jika manajemen keliru dalam mengantisipasinya.

Strategi WT pada dasarnya lebih merupakan strategi bertahan yakni strategi bisnis yang masih mungkin ditemukan dan dipilih dengan meminimalisasi kelemahan dan menghindari ancaman bisnis.Karena sifatnya yang pasif dan tidak kedua variable yang ada bersifat minimal, strategi WT disebut juga strategi mini-mini.Manajemen tentu saja tidak hendak meletakkan strategi ini pada pilihan pertama.Strategi ini hanya amat sedikit memberikan ruang gerak bagi manajemen.Perusahaan telah sampai pada soal mati atau hidup (survival), bahkan mungkin harus memilih untuk melakukan likuidasi. Sekalipun demikian, masih tersedia pilihan lain, misalnya merjer dengan perusahaan lain atau mengurangi skala operasi secara besar-besaran (Suwarsono 2008:16-19)

Selanjutnya Suwarsono (2008:25) menjelaskan bahwa SWOT tidak berlebihan jika dikatakan sebagai alat analisis yang paling sering digunakan dalam membantu mendesain rancang bangun strategi di Indonesia. Di belahan dunia yang lain posisi terpopuler tersebut juga masih dimiliki, sekalipun di sisi lain kritik keras terhadapnya juga sering dan masih terus dilontarkan. Dengan segala variasi yang

(35)

dimiliki, kesemua model analisis SWOT memiliki karakter sederhana, tidak rumit dalam penerapannya.

Menurut David (2009:327), matriks kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman adalah sebuah alat pencocokan yang penting yang membantu para manajer mengembangkan empat jenis strategi: Strategi SO (kekuatan-peluang), Strategi WO (kelemahan-peluang), Strategi ST (kekuatan-ancaman), dan Strategi WT (kelemahanancaman). Mencocokkan faktor-faktor eksternal utama merupakan bagian tersulit dalam mengembangkan Matriks SWOT dan membutuhkan penilaian yang baik dan tidak ada satu pun paduan yang paling benar.

Pertama, Strategi SO (SO strategy) memanfaatkan kekuatan internal perusahaan untuk menarik keuntungan dari peluang eksternal. Semua manajer tentunya menginginkan organisasi mereka berada dalam posisi di mana kekuatan internal dapat digunakan untuk mengambil keuntungan dari berbagai trend an kejadian eksternal. Secara umum, organisasi akan menjalankan strategi WO, ST, atau WT untuk mencapai situasi di mana mereka dapat melaksanakan strategi SO. Jika perusahaan memiliki kekuatan besar, maka perusahaan akan berjuang untuk mengatasinya dan mengubahnya menjadi kekuatan. Tatkala sebuah organisasi dihadapkan pada ancaman yang besar, maka perusahaan akan berusaha untuk menghindarinya untuk berkonsentrasi pada peluang.

(36)

Kedua, Strategi WO (WO strategy) bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan cara mengambil keuntungan dari peluang eksternal. Terkadang peluang-peluang besar muncul,tetapi perusahaan memiliki kelemahan internal yang menghalanginya memanfaatkan peluang tersebut.

Ketiga, Strategi ST (ST strategy) menggunakan kekuatan sebuah perusahaan untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal.Hal ini bukan berarti bahwa suatu organisasi yang kuat harus selalu menghadapi ancaman secara langsung di dalam lingkungan eksternal.

Keempat, Strategi WT (WT strategy) merupakan taktik defensive yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan internal serta menghindari ancaman eksternal.Sebuah organisasi yang menghadapi berbagai ancaman eksternal dan kelemahan internal benar-benar dalam posisi yang membahayakan.Dalam kenyataannya, perusahaan semacam itu mungkin harus berjuang untuk bertahan hidup, melakukan merger, penciutan, menyatakan diri bangkrut, atau memilih likuidasi.

2.3.1 Pilihan Alternatif Strategi

Freddy (18) bahwa apabila kita telah mengenal kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dan mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan, sudah dapat dipastikan bahwa kita akan memenangkan pertempuran.Dalam perkembangannya saat ini analisis SWOT tidak hanya dipakai untuk menyusun strategi di medan pertempuran, melainkan banyak dipakai untuk menyusun perencanaan strategi bisnis yang

(37)

bertujuan untuk menyusun strategi-strategi jangka panjang sehingga arah dan tujuan perusahaan dapat dicapai dengan jelas dan dapat segera diambil keputusan, berikut semua perubahannya dalam menghadapi pesaing. Lebih lanjut dijelaskan analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal peluang (opportunities) dan ancaman (threats) dengan faktor internal kekuatan (strength) dan kelemahan (weaknesses) yang menghasilkan pilihan strategi. Adapun matriks pilihan strategi dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Matriks Pilihan Strategi

1. Posisi pada kuadran I: Faktor eksternal dan internal positif, yang berarti bahwa lingkungan yang dihadapi secara relatif berpeluang lebih besar dibanding ancamannya, sedangkan kekuatannya relatif lebih unggul dibanding dengan kelemahannya. Oleh karenanya suatu lembaga atau institusi memiliki kemampuan untuk merubah potensi menjadi prestasi kinerja yang lebih

(38)

baik.Sehingga arah kebijakan yang tepat untuk dilaksanakan adalah dengan meningkatkan dan memperbesar peranan suatu lembaga atau institusi dalam berbagai kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki sekaligus untuk memperluas peran serta memanfaatkan peluang yang ada. Arah kebijakan tersebut merupakan dasar dari kebijakan dalam kondisi growth strategy dan arah kebijakan itu sendiri dapat dibedakan dengan melihat posisi sub kuadrannya. Jika pada kuadran IA, berarti pertumbuhan peran yang dilaksanakan dapat dilakukan dengan cepat (rapid growth), dan jika pada kuadran IB maka pertumbuhan peran perlu dilakukan secara bertahap sesuai skala prioritas (stable growth strategy).

2. Posisi pada kuadran II: Faktor eksternal positif tetapi faktor internal negatif, posisi ini menunjukkan bahwa peluang yang dihadapi masih lebih besar dibanding ancaman yang ada. Sedangkan di posisi internal, kekuatan atau keunggulan yang dimiliki relatif lebih kecil dibanding kelemahannya.Sehingga arah kebijakan yang harus dipilih adlah faktor internal negatif, hal ini berarti bahwa posisi yang dihadapi dalam kondisi lemah, dimana kekuatan atau keunggulan internal cenderung lebih besar. Oleh karenanya, arah kebijakan yang perlu ditempuh adalah bertahan untuk hidup (survival strategy) dalam arti bahwa pelaksanaan kegiatan tetap dilaksanakan sesuai dengan aturan yang ada dan berusaha menghindari diri (turn around strategy) dari kebijakan-kebijakan yang tidak populer menurut masyarakat atau customers (kuadran IIIA), sambil melakukan pembenahan internal dan mencari peluang (guerilla strategy) yang

(39)

memungkinkan untuk perbaikan atas kelemahan-kelemahan internal mempertahankan peran yang telah ada dan berlangsung saat ini secara agresif atau selektif di dalam melaksanakan program kerja yang memang memungkinkan. Pada kondisi ini arah kebijakan dasar yang harus dilaksanakan adalah menjaga stabilitas terhadap kegiatan yang telah ada dan telah berlangsung. Jika pada kuadran IIA, maka kebijakan yang harus dipilih adalah mempertahankan peran secara agresif (aggresif maintenance), jika pada kuadran IIB maka kebijakannya adalah mempertahankan peran secara selektif (selective maintenance strategy).

3. Posisi pada kuadran III: Faktor eksternal dan internal sama-sama negatif, kondisi ini memberikan arti bahwa perusahaan tidak lagi memiliki keunggulan bersaing, dan pasar juga tidak lagi menyediakan peluang bisnis. Yang terlihat hanya kelemahan dan ancaman.Sekalipun demikian, tidak berarti bahwa perusahaan tidak harus serta merta keluar dari pasar.Perusahaan masih memiliki kesempatan untuk memilih strategi mempertahankan hidup (survival strategy).

Jika pada kuadran IIIA ini ancaman yang datang dari lingkungan bisnis secara relatif tidak lebih besar dibanding dengan kelemahan yang dimiliki perusahaan.

Karena demikian, intens kelemahan yang dimiliki, maka perusahaan diharuskan memilih strategi penyehatan (turn arround strategy) perusahaan berusaha dapat terus bertahan hidup sembari berusaha terus melakukan penyehatan serta berharap pada perbaikan lingkungan bisnis. Jika pada kuadran IIIB, kelemahan perusahaan tidak seburuk pada kuadran IIIA dan oleh karena itu sesungguhnya

(40)

perusahaan dalam batas-batas tertentu masih mungkin melakukan manuver.

Akan tetapi di sisi lain, lingkungan bisnis yang dihadapi amat buruk, lebih buruk dibanding kuadran IIIA. Strategi yang diharapkan akan dilakukan adalah strategi gerilya (guirella strategy) yakni perusahaan mencari terobosan baru secara lebih sporadis dengan memanfaatkan keunggulan bersaing yang masi dimiliki untuk mengeksploitasi sisa-sisa peluang pasar yang mungkin masih tersedia.

4. Posisi pada kuadran IV: Faktor eksternal negatif tetapi faktor internal positif, kondisi ini memberikan arti bahwa peluang yang ada relatif lebih kecil dibanding besarnya ancaman. Namun di sisi internal kekuatan atau keunggulan yang dimiliki relatif masih lebih besar dibanding kelemahannya, sehingga yang harus dipilih adalah melaksanakan kebijakan diversifikasi. Dalam hal ini arah kebijakan tersebut diantaranya dapat melaksanakan dapat dilaksanakan dengan diversifikasi yang terkonsentrasi kepada kebijakan populis (concetric diversification strategy), populer dan merupakan prioritas, sambil melaksanakan perbaikan internal yang masih lemah atau kuadran IVA. Arah kebijakan ini perlu dilaksanakan untuk persiapan melakukan diversifikasi secara luas keberbagai kegiatan yang memberi peluang perbaikan peran suatu lembaga atau institusi (conglomerate diversification strategy) atau kuadran IVB.

(41)

Adapun tabel pilihan strategi juga dapat diperlihatkan pada Tabel 2.1.

Tabel 2.2 Pilihan Strategi

Jenis Strategi Skor Kuadran Pilihan Strategi

Growth S > O IA Rapid Growth

S < O IB Stable Growth

Survival W > T IIIA Turn Arround

W < T IIIB Guerilla

Diversification S > T IVBB Conglomerate

S < T IVA Concetric

Stability O > W IIA Aggresive

Maintenance

O < W IIB Selective

Maintenance

2.5 Review Hasil Penelitian

Adapun penelitian atau research yang berkenan dengan penelitian perancangan sistem kinerja perguruan tinggi telah dilakukan beberapa ahli. Moses L.

Singgih melakukan penilaian kinerja Program Studi dengan kriteria malcom baldrige National Quality Award dan penentuan Ranking menggunakan analytic network process. Dengan metode MBNQA, akan menghasilkan ranking yang tertinggi yaitu kriteria Result dan ranking terendah yaitu kriteria Stakeholder Focus. Rekomendasi untuk kriteria terendah yang sesuai dengan kondisi Program Studi X adalah meningkatkan target KPI untuk indikator penelitian dosen dan indikator pelayanan administrasi dengan membuat dokumen standar pelayanan. Dalam penelitian ini indikator yang saya gunakan adalahkepemimpinan dan SDM.

(42)

M. Ansyar Bora (2015) melakukan pengukuran kinerja di Perguruan Tinggi STT Ibnu Sina Batam yang menggunakan metode performance prism. Hasil pengukuran mengidentifikasi 95 KPI yang dikelompokkan dari 5 stakeholder Perguruan Tinggi Ibnu Sina Batam seperti Investor (Yayasan) yang terdiri dari 10 KPI, Customer (Mahasiswa) yang terdiri dari 30 KPI, Supplier yang terdiri dari 15 KPI, Employee (Dosen/karyawan) yang terdiri 25 KPI, dan Regulator (Pengguna Lulusan/Pemerintah) yang terdiri dari 15 KPI. Dalam penelitian ini indikator yang saya gunakan adalah pimpinan, dosen, mahasiswa.

Penelitian serupa juga dilakukan Retno Indriartiningtias (2010) di Program Studi Teknik Industri Universitas Trunojoyo, Madura. Metode yang digunakan adalah Performance Prism. Pengukuran kinerja ini memeiliki kelebihan bahwa pengukuran kinerja ini dimulai dari stakeholder, bukan dari strategi.Terbukti pada penelitian tersebut penyusunan KPI Program Studi dimulai dari mengidentifikasi kepuasan dan kontribusi para stakeholder untuk menentukan indikator kinerja dari kriteria strategi, proses dan kapabilitas Program Studi.

Hasil rancangan menunjukkan bahwa stakeholder Program Studi meliputi:

mahasiswa, dosen/pengajar, manajemen Program Studi, Fakultas dan Universitas, Orang tua mahasiswa, Pengguna lulusan, dan Pemerintah pendidikan.Sistem pengukuran kinerja memuat 40 KPI yang meliputi, 5 KPI fasilitas perkuliahan dan praktikum, 14 KPI karakteristik dosen, 15 KPI karakteristik mahasiswa, dan 6 KPI untuk Program Studi. Hasil pembobotan menunjukkan bahwa KPI dengan bobot tertinggi adalah Persentase rata-rata kehadiran dosen yaitu 0,547 dan terendah adalah

(43)

jumlah mahasiswa baru yang diterima sebesar 0,065. Dalam penelitian ini indikator yang saya gunakan adalah mahasiswa, dosen/pengajar, manajemen program studi dan pengguna lulusan.

2.6 Resume Hasil Penelitian

Setelah mereview dan membandingkan hasil penelitian-penelitian sebelumnya, maka peneliti melakukan penelitian mengenai strategi program peningkatan akreditasi Program Studi di STT Dumai. Variabel yang akan diteliti berkaitan dengan peningkatan akreditasi adalah menggunakan variabel-variabel BAN PT yaitu ada 7 variabel dengan 100 indikator yaitu: (standar 1) visi, misi, tujuan dan sasaran, serta strategi pencapaian, (standar 2) tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan penjaminan mutu, (standar 3) mahasiswa dan lulusan, (standar 4) sumber daya manusia, (standar 5) kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik, (standar 6) pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sistem informasi, (standar 7) penelitian, pelayanan/pengabdian kepada masyarakat, dan kerjasama. Ketujuh standar atau variabel inilah yang mempengaruhi kinerja program studi.

Perbandingan dengan hasil penelitian-penelitian terdahulu dilakukan untuk memperkuat peneliti, bahwa disetiap kinerja program studi dipengaruhi ketujuh standar BAN PT. Sehingga dalam penelitian ini membuat strategi program-program setiap variabel yang kinerjanya masih rendah dan belum sesuai yang diinginkan pihak Program Studi STT Dumai.

(44)

BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL

3.1 Kerangka Konseptual

Penelitian ini dilakukan berawal dengan pengukuran kinerja yang ada di Program Studi Teknik Industri STT Dumai belum sempurna dan terstruktur. Maka, pihak Perguruan Tinggi STT Dumai mengingkan perlu dilakukan evaluasi program studi yang menyeluruh dengan menggunakan variabel-variabel BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi) sehingga dapat diketahui indikator-indikator apa saja yang prioritas bagi kinerjaProgram Studi Teknik Industri STT Dumai.

Adapun kerangka konseptual penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Standar Akreditasi Tata Pamong

Mahasiswa dan Lulusan

Sumber Daya Manusia

Kurikulum, Pembelajaran dan

Suasana Akademik

Pendanaan, Sarana dan Pra

sarana

Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Visi, Misi Tujuan Dan Sasaran Serta

Strategi Pencapaian

Evaluasi

Program Kerja Analisis SWOT

Gambar 3.1. Kerangka Konseptual Penelitian

(45)

3.1. Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan penegasan arti dan makna setiap variabel dalam kerangka konseptual. Tujuannya untuk menyamakan pengertian yang dibutuhkan untuk pengukuran nilai masing-masing variabel. Adapun penjelasan tentang kerangka konseptual pada Gambar 3.1 antara lain:

1. Variabel terikat (Dependen).

Dalam penelitian ini yang termasuk variabel dependen adalah variabel standar akreditasi

2. Variabel bebas (Independen).

Adapun dalam penelitian ini yang termasuk kedalam variabel independen adalah varaibel-variabel BAN PT yaitu:

a. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran, serta Strategi Pencapaian.

b. Tata Pamong, Kepemimpinan, Sistem Pengelolaan dan Penjaminan Mutu.

c. Mahasiswa dan Lulusan.

d. Sumber Daya Manusia.

e. Kurikulum, Pembelajaran, dan Suasana Akademik.

f. Pembiayaan, Sarana dan Prasarana, serta Sistem Informasi.

g. Penelitian, Pelayanan atau Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerjasama.

(46)

Adapun ketujuh standar BAN PT adalah sebagai berikut:

a. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran, serta Strategi Pencapaian.

Visi adalah suatu pernyataan tentang gambaran keadaan clan karakteristik yangingin di capai oleh suatu lembaga pada jauh dimasa yang akan datang.

Visi yang baik adalah yang futuristik, menantang, memotivasi seluruh pemangku kepentingan untuk berkontribusi, realistik. Misi adalah suatu pernyataan tentang apa yang harus dikerjakan oleh perusahaan atau lembaga dalam usaha mewujudkan visi. Misi program studi adalah tri dharma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pelayanan/pengabdian kepada masyarakat). Tujuan dan sasaran yang baik adalah yang realistis, unik, terfokus, dan keberhasilan pelaksanaannya dapat diukur dengan rentang waktu yg jelas dan relevan terhadap misi dan visi. Strategi pencapaian sasaran yang baik ditunjukkan dengan bukti tertulis dan fakta di lapangan.

b. Tata Pamong, Kepemimpinan, Sistem Pengelolaan dan Penjaminan Mutu.

Tata pamong (governance) merupakan sistem untuk memelihara efektifitas peran para konstituen dalam pengembangan kebijakan, pengambilan keputusan, dan penyelenggaraan program studi. Tata pamong yang baik jelas terlihat dari lima kriteria yaitu kredibilitas, transparansi, akuntabilitas, tanggungjawab dan fairness.Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai

(47)

tujuan organisasi. Kepemimpinan mampu memprediksi masa depan, merumuskan dan mengartikulasi visi yang realistik, kredibel, serta mengkomunikasikan visi ke depan, yang menekankan pada keharmonisan hubungan manusia dan mampu menstimulasi secara intelektual dan arif bagi anggota untuk mewujudkan visi organisasi, serta mampu memberikan arahan, tujuan, peran, dan tugas kepada seluruh unsur dalam perguruan tinggi.Sistem pengelolaan adalah suatu pendekatan sistematik untuk mengelola sumber daya, infrastruktur, proses, dan atau kegiatan serta orang. Penjaminan mutu merupakan serangkaian proses dan sistem yang terkait untuk mengumpulkan, menganalisis, dan melaporkan data mengenai kinerja dan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, program, dan lembaga.Penjaminan mutu program studi sarjana adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan program studi sarjana secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga semua pemangku kepentingan memperoleh kepuasan.

c. Mahasiswa dan Lulusan.

Mahasiswa adalah pemangku kepentingan utama internal dan sekaligus sebagai pelaku proses nilai tambah dalam penyelenggaraan akademik yang harus mendapatkan manfaat dari proses pendidikan, penelitian, dan layanan/pengabdian kepada masyarakat. Akses layanan kemahasiswaan dan pengembangan minat dan bakat yang diusahakan program studi berupa akses

(48)

kepada fasilitas pusat kegiatan mahasiswa, layanan kesehatan, beasiswa, dan kegiatan ekstra kurikuler.

Lulusan adalah status yang dicapai mahasiswa setelah menyelesaikan proses pendidikan sesuai dengan persyaratan kelulusan yang ditetapkan oleh program studi sarjana. Sebagai salah satu keluaran langsung dari proses pendidikan yang dilakukan oleh program studi sarjana, lulusan yang bermutu memiliki ciri penguasaan kompetensi akademik termasuk hard skills dan soft skills.

d. Sumber Daya Manusia.

Sumber Daya Manusia salah satu faktor yang sangat penting bahkan tidak dapat dilepaskan dari sebuah organisasi, baik institusi maupun perusahaan..

Program studi harus mendayagunakan sumberdaya manusia yang meliputi dosen dan tenaga kependidikan yang layak, kompeten, relevan dan andal.

Dosen merupakan sumberdaya manusia utama dalam proses pembentukan nilai tambah yang bermutu pada diri mahasiswa yang dibimbingnya, bagi bidang ilmu yang diampunya, dan kesejahteraan masyarakat.

e. Kurikulum, Pembelajaran, dan Suasana Akademik.

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran. Kurikulum yang dirancang dan diterapkan harus mampu menjamin tercapainya tujuan,

(49)

terlaksananya misi, dan terwujudnya visi program studi. Proses pembelajaran yang diselenggarakan harus menjamin pebelajar untuk memiliki kompetensi yang tertuang dalam kurikulum. Suasana akademik di program studi harus menunjang pebelajar dalam meraih kompetensi yang diharapkan. Dalam pengembangan kurikulum program, proses pembelajaran, dan suasana akademik, program studi harus kritis dan tanggap terhadap perkembangan kebijakan, peraturan perundangan yang berlaku, sosial, ekonomi, dan budaya.

Suasana akademik adalah kondisi yang dibangun untuk menumbuh kembangkan semangat dan interaksi akademik antara mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, pakar, dosen tamu, nara sumber, untuk meningkatkan mutu kegiatan akademik, di dalam maupun di luar kelas.

f. Pembiayaan, Sarana dan Prasarana, serta Sistem Informasi.

Pembiayaan adalah usaha penyediaan, pengelolaan serta peningkatan mutu anggaran yang memadai untuk mendukung penyelenggaraan program- program akademik yang bermutu di program studi sarjana sebagai lembaga nirlaba.Sarana pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam penyelenggaraan proses akademik sebagai alat teknis dalam mencapai maksud, tujuan, dan sasaran pendidikan yang bersifat dapat dipindah- pindahkan, antara lain komputer, peralatan dan perlengkapan pembelajaran di dalam kelas, laboratorium, kantor, dan lingkungan akademik lainnya.

Prasarana pendidikan adalah sumber daya penunjang dalam pelaksanaan

(50)

tridarma perguruan tinggi yang pada umumnya bersifat tidak bergerak/tidak dapat dipindah-pindahkan, antara lain bangunan.Sistem Informasi (SI) adalah kombinasi dari teknologi informasi dan aktivitas orang yang menggunakan teknologi itu untuk mendukung operasi dan manajemenSistem pengelolaan informasi dan teknologi informasi (ICT) mencakup pengelolaan masukan, proses, dan keluaran informasi, dengan memanfaatkan teknologi informasi dan pengetahuan untuk mendukung penjaminan mutu penyelenggaraan akademik program studi sarjana.

g. Penelitian, Pelayanan atau Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerjasama.

Penelitian adalah salah satu tugas pokok program studi sarjana yang memberikan kontribusi dan manfaat kepada proses pembelajaran, pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta peningkatan mutu kehidupan masyarakat. Sistem pengelolaan pendidikan, penelitian, pelayanan/

pengabdian kepada masyarakat, dan kerjasama harus terintegrasi dengan penjaminan mutu program studi untuk mendukung terwujudnya visi, terselenggaranya misi, tercapainya tujuan, dan keberhasilan strategi perguruan tinggi yang bersangkutan.

Pengabdian masyarakat merupakan kegiatan yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dalam upaya memberikan sumbangan demi kemajuan masyarakat.

(51)

Pelayanan atau pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan sebagai perwujudan kontribusi kepakaran, kegiatan pemanfaatan hasil pendidikan, penelitian dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, dalam upaya memenuhi permintaan dan memprakarsai peningkatan mutu kehidupan bangsa.

(52)

BAB 4

RANCANGAN PENELITIAN

4.1. Tipe Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian tindakan (action research) karena penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan suatu rancangan strategi yang dapat mendukung meningkatkan penilaian akreditasi.

4.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini merupakan studi kasus pada Perguruan Tinggi Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Dumai yang beralamat di Jalan Utama Karya, Bukit Batrem Dumai, Riau.

4.3 Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan tahapan-tahapan, petunjuk pelaksanaan, ataupetunjuk teknis dalam melakukan pencarian masalah, penentuan solusi, dan mencari solusi dari masalah penelitian. Kerangka pikir merupakan gambaran proses berpikir dalam memecahkan permasalahan penelitian. Tahapan kerangka pikir pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Tahap penelitian ini adalah tahapan mencari indikator-indikator yang kinerjanya belum maksimal atau masih dibawah standar. Kemudian dilakukan langkah-langkah perbaikan indikator-indikator yang kinerjanya masih lemah atau belum maksimal di Program Studi Teknik Industri di STT Dumai.

(53)

4.3.1 Tahap Penelitian

Tahap penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Latar Belakang

Perumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Data Primer Wawancara

Data Sekunder dokumen borang Jurusan Teknik ,jurnal, artikel, serta

studi pustaka yang lain

Pengolahan Data

Kesimpulan Dan Saran

Selesai Analisa Dan Pembahasan

-Evaluasi Jurusan Berdasarkan Standar Penilaian BAN PT 1. Mengidentifikasi indikator jurusan BAN PT.

2. Masukkan bobot setiap indikator yang sesuai dengan BAN PT

3. Menghitung dan memberi penilaian setiap indikator berdasarkan buku penilaian jurusan BAN PT.

4. Kalikan bobot dengan skor penilaian.

5. Jumlahkan seluruh skor akhir dari semua indikator.

Pengumpulan Data

Perancangan Program

1. Membuat FGD berdasarkan hasil SWOT.

2. Memasukkan Progrm-program berdsarkan hasil FGD.

Analisis SWOT

1.Menentukan faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan maupun peluang dan ancaman.

2. Menentukan bobot masing-masing faktor 3. Hitung rating untuk masing-masing faktor.

4. Menentukan nilai skor dengan mengalikan bobot dengan rating.

5. Menjumlahkan skor pembobotan.

Gambar 4.1. Langkah-langkah Penelitian

(54)

4.4. Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini mengambil dari dua sumber, yaitu:

1. Data primer

Yaitu data yang diambil langsung dari obyek penelitian. Data-data tersebut dikumpulkan melalui teknik interview dan observasi.

2. Data Sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini merupakan data dari pihak Sekolah Tinggi Teknologi Dumai (STTD), yaitu berupa dokumen borang Program Studi Teknik Industri. Selain itu juga berasal dari jurnal, artikel, serta studi pustaka yang lain.

Teknik pengumpulan data yang dilakukan di dalam penelitian ini, yaitu:

h. Wawancara

Merupakan teknik pengumpulan data dengan melakukan interview langsung kepada pihak Sekolah Tinggi Teknologi Dumai (STTD).

i. Pemeriksaan Dokumen

Merupakan salah satu cara mendapatkan data dengan jalan mengamati atau meneliti surat-surat serta dokumen penting yang berkaitan yang sedang diteliti.

Gambar

Tabel 2.1 Matriks SWOT
Gambar 2.1 Matriks Pilihan Strategi
Gambar 3.1. Kerangka Konseptual Penelitian
Gambar 4.1. Langkah-langkah Penelitian
+6

Referensi

Dokumen terkait

Dadi kapinteranira, mung sira anggo pribadi, nora asung tetempilan, marang bangsanira sami, nrima enak ndheweki, yen mangkono kurang parlu, tan mikir mring

Surat Izin Usaha Perikanan, yang selanjutnya disebut SIUP, adalah Ijin tertulis yang harus dimiliki oleh orang atau Badan Hukum Indonesia untuk melakukan usaha

budaya lisan tersebut dilupakan begitu saja karena ditelan modernisasi. Pemikiran orang yang semakin rasional membuat masyarakat mulai tidak mempercayai dan mulai melupakan

Jika siswa tidak mengenakan pakaian dinas lapangan, kegiatan ekstrakurikuler tidak diadakan pada hari Minggue. Jika kegiatan ekstrakurikuler tidak dilakukan di luar

Hasil riset tersebut juga mempunyai kecenderungan bahwa species yang tepat (species target) sebelum dimuliakan bila ditanam dengan teknik yang benar mampu

Curah hujan rata-rata bulanan digunakan untuk menghitung ketersediaan air meteorologis tiap desa wilayah penelitian, sedangkan jumlah penduduk digunakan untuk menghitung

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau

Partus Premature adalah persalinan pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu. Pada ibu dengan jarak kehamilan terlalu dekat yang masih menyusui memungkinkan