• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMPERBAIKI AMALAN ZAKAT FITHRI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MEMPERBAIKI AMALAN ZAKAT FITHRI"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

MEMPERBAIKI AMALAN

ZAKAT FITHRI

(2)

KE-1 :

MARI GUNAKAN ISTILAH

ZAKAT FITHRI

(3)

Zakat secara bahasa berarti an-namaa’

(tumbuh), az-ziyadah (bertambah), ash- sholah (perbaikan), menjernihkan

sesuatu, dan sesuatu yang dikeluarkan dari pemilik untuk menyucikan dirinya.

Fithri sendiri berasal dari kata ifthor, artinya berbuka (tidak berpuasa). Zakat

disandarkan pada kata fithri karena

fithri (tidak berpuasa lagi) adalah sebab

dikeluarkannya zakat tersebut.

(4)

Ada pula ulama yang menyebut zakat ini juga dengan sebutan “fithroh”, yang berarti naluri. An-Nawawi mengatakan

bahwa untuk harta yang dikeluarkan sebagai zakat fithri disebut dengan

“fithroh” [Al-Majmu' 6/103]. Istilah ini digunakan oleh para pakar fikih.

Sedangkan menurut istilah, zakat fithri berarti zakat yang diwajibkan karena

berkaitan dengan waktu ifthor (tidak

berpuasa lagi) dari bulan Ramadhan.

(5)

Bilamana melihat langsung kepada hadits-hadits tentang Zakat Fithri dan

juga melihat Judul-judul Bab dalam Kitab-kitab Hadits, maka yang ditulis

adalah Bab Zakatul Fithri.

Karena adanya perbedaan makna antar kedua kata tersebut, maka marilah kita

kembali menggunakan istilah Zakat Fithri, dan hendaklah menjauhi istilah

Zakat Fitrah. WalLohu a'lam.

(6)

KE-2

SIAPA YANG

MENGAMALKAN

ZAKAT FITHRI

(7)

صوْأأ ص، صرٍمْتَ صنْمِ صا عًا صَ صرِطْفِلْأ صةَا كَزَ ص– صملسو صهيلع صهللأ صىلص ص– صهِلّلأ صلُولسُرَ صضَرَفَ

صنَمِ صرِيبِكَلْأوَ صرِيغِصّلأوَ ص، صىثَنْأألأوَ صرِكَذّلأوَ ص، صرّحُلْأوَ صدِبْعَلْأ صىلَعَ صرٍيعِشَ صنْمِ صا عًا صَ

ةِاَلاَصّلأ صىلَأإِ صسِا نّلأ صجِورُخُ صلَبْقَ صى قدّؤَتُ صنْأأ صا هَبِ صرَمَأأوَ صنَيمِلِسْمُلْأ

”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’

kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki- laki maupun perempuan, anak kecil maupun

dewasa. Zakat tersebut diperintahkan dikeluarkan sebelum orang-orang keluar

untuk melaksanakan shalat ‘ied.”

[HR. Bukhari no. 1503 dan Muslim no. 984, dari Ibnu 'Umar]

(8)

Zakat fithri ini wajib ditunaikan oleh:

(1) setiap muslim karena untuk menutupi kekurangan puasa yang diisi dengan

perkara sia-sia dan kata-kata kotor,

(2) yang mampu mengeluarkan zakat fithri.

Menurut mayoritas ulama, batasan mampu di sini adalah orang yang mempunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan yang diberi nafkah

pada malam dan siang hari ‘Ied. Jadi apabila keadaan seseorang seperti ini, berarti dia dikatakan mampu dan wajib

mengeluarkan zakat fithri.

(9)

Batas ghoni (berkecukupan) adalah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صهِلّلأ صلَولسُرَ صا يَ صأوللُا قَفَ ص« صرِا نّلأ صنَمِ صرُثِكْتَسْيَ صا مَنّا إِفَ صهِينِغْيُ صا مَ صهُدَنْعِوَ صلَا أسَ صنْمَ

مٍولْيَوَ صةٍلَيْلَ صوْأأ صةٍلَيْلَوَ صمٍولْيَ صعُبَشِ صهُلَ صنَولكُيَ صنْأأ ص» صلَا قَ صهِينِغْيُ صا مَوَ

“Barangsiapa meminta-minta, padahal dia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka

sesungguhnya dia telah mengumpulkan bara api.”

Mereka berkata, ”Wahai Rasulullah, bagaimana ukuran mencukupi tersebut?” Rasulullah

bersabda, ”Seukuran makanan yang mengenyangkan untuk sehari-semalam.”

[HR. Abu Daud no. 1435 dan Ahmad 4/180. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/80-81]

(10)

Hadits di atas sekaligus menunjukkan bahwa kepala keluarga wajib membayar zakat fithri atas orang yang ia

tanggung nafkahnya, seperti suami kepada istrinya.

Seseorang akan terkena kewajiban membayar zakat fithri, jika ia bertemu terbenamnya matahari di malam

hari Idul Fithri. Jika dia telah mendapati waktu tersebut, maka wajib baginya membayar zakat fithri.

Inilah yang menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i [Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim, 7/58]

Alasannya, karena zakat fithri berkaitan dengan hari fithri, hari dimana tidak lagi seseorang berpuasa. Oleh

karena itu, zakat ini dinamakan zakat fithri dan

hukumnya pun disandarkan pada waktu fithri tersebut.

(11)

KE-3

BESARNYA TAKARAN

ZAKAT FITHRI

(12)

Para ulama sepakat bahwa kadar wajib adalah satu sho’ dari semua bentuk zakat fithri. Hal ini sebagaimana

hadits Ibnu ‘Umar di atas, dan juga hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan,

صا عًا صَ صوْأأ ص، صمٍا عَطَ صنْمِ صا عًا صَ صمَلّسَوَ صهِيْلَعَ صهُلّلأ صىلّصَ صيّبِنّلأ صنِمَزَ صيفِ صا هَيطِعْنُ صا نّكُ

بٍيبِزَ صنْمِ صا عًا صَ صوْأأ ص، صرٍيعِشَ صنْمِ صا عًا صَ صوْأأ ص، صرٍمْتَ صنْمِ

“Dahulu di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kami menunaikan zakat fithri berupa 1 sho’ bahan makanan, 1 sho’ kurma, 1 sho’ gandum atau 1 sho’

kismis.” Dalam riwayat lain disebutkan,

طٍقِأأ صنْمِ صا عًا صَ صوْأأ

“Atau 1 sho’ keju.” [HR. Bukhari no. 1508 dan Muslim no. 985]

(13)

Satu sho’ adalah ukuran takaran yang ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama berselisih pendapat bagaimanakah ukuran takaran ini. Lalu mereka berselisih pendapat lagi

bagaimanakah ukuran timbangannya.

Satu sho’ dari semua jenis ini adalah seukuran empat cakupan penuh telapak tangan yang

sedang. [Al-Qomush Al-Muhith, 2/298]

Ukuran sho' inilah yang memiliki pijakan secara syariat, sehingga kita pun akan beramal dengan hal ini sebagaimana dahulu telah diamalkan oleh

RosululLoh dan shohabat beliau, insya Alloh.

(14)

Adapun hasil penelitian dan pembahasan tentang takaran sho' yang sampai kepada kita melalui

para Imam Mazhab adalah sebagai berikut : Mazhab Hanafi = 1 sha = 3.8 kg

Mazhab Maliki = 1 sha = 2.7 kg Mazhab Syafi’i = 1 sha = 2.75 kg Mazhab Hambali = 1 sha = 2.75 kg

Itu semua didasarkan atas penafsiran hadits Tsa'labah bin Shair al-Uzry tentang gandum hinthoh, dan sha' yang dimiliki oleh Umar ra.

(lihat Fiqh Islam wa 'Adilatuhu, Wahbah Az-Zuhaily 2 : 909)

- WalLohu a'lam -

(15)

KE-4

ZAKAT FITHRI DIBAYARKAN

BERUPA

MAKANAN POKOK

(16)

Perkataan Imam Malik :

Imam Malik mengatakan: “Tidak sah seseorang yang membayar zakat fitri dengan mata uang apapun. Tidak demikian yang diperintahkan Nabi.” (Al Mudawwanah

Syahnun)

Perkataan Imam Asy Syafi’i :

Imam Asy Syafi’i mengatakan: “Wajib dalam zakat fitri dengan satu sha’ dari umumnya bahan makanan di negeri tersebut pada tahun tersebut.” (Ad Din Al Khas)

Perkataan Imam Ahmad :

Abu Daud mengatakan: “Imam Ahmad ditanya tentang pembayaran zakat mengunakan dirham, beliau

menjawab: “Aku khawatir zakatnya tidak diterima,

karena menyelisihi sunnah Rasulullah.” (Mughni 2/671).

(17)

Dari Abu Thalib, bahwasanya Imam Ahmad berkata kepadaku :

“Tidak boleh memberikan zakat fitri dengan nilai mata uang.”

Kemudian ada orang berkomentar kepada Imam Ahmad : “Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz

membayar zakat menggunakan mata uang.”

Imam Ahmad marah dengan mengatakan : “Mereka meninggalkan hadis Nabi dan berpendapat dengan

perkataan fulan. Padahal Abdullah bin Umar

mengatakan : “Rasulullah mewajibkan zakat fitri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum.”

Allah juga berfirman: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul.”

Ada beberapa orang yang menolak sunnah dan mengatakan : fulan ini berkata demikian, fulan itu berkata demikian.”

(Al Mughni Ibn Qudamah 2/671)

(18)

KE-5

ZAKAT FITHRI DIBAGIKAN

KEPADA

FAKIR-MISKIN

(19)

Para ulama berselisih pendapat mengenai siapakah yang berhak diberikan zakat fithri. Mayoritas ulama berpendapat bahwa zakat fithri disalurkan pada 8 golongan sebagaimana disebutkan dalam surat At Taubah ayat 60. Sedangkan ulama Malikiyah, Imam Ahmad

dalam salah satu pendapatnya dan Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa zakat fithri hanyalah khusus untuk fakir miskin saja.

Karena dalam hadits disebutkan,

نِيكِا سَمَلْلِ صةًمَعْطُوَ

“Zakat fithri sebagai makanan untuk orang miskin.”

Alasan lainnya dikemukan oleh murid Ibnu Taimiyah, yaitu Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Beliau rahimahullah menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk bahwa zakat fithri hanya khusus diserahkan pada orang-orang miskin dan beliau sama

sekali tidak membagikannya pada 8 golongan penerima zakat satu per satu. Beliau pun tidak memerintahkan untuk menyerahkannya pada 8 golongan tersebut. Juga tidak ada satu orang sahabat pun yang melakukan seperti ini, begitu pula orang-orang setelahnya.”

(Lihat Zaadul Ma’ad, 2/17)

(20)

Imam Maliki berpendapat : shodaqoh fithri diberikan kepada orang merdeka, muslim dan faqir. Adapun selainnya, (seperti) orang yang mengurusinya atau menjaganya, maka tidak diberi.

Juga tidak diberikan kepada mujahid (orang yang berperang), tidak dibelikan alat (perang) untuknya, tidak diberikan kepada para mu’allaf (masuk Islam), tidak diberikan kepada ibnu sabil (dalam perjalanan) kecuali jika dia miskin di tempatnya, maka ia

diberi karena sifatnya miskin, tetapi dia tidak diberi apa yang menyampaikannya menuju kotanya (ongkos pulang), tidak

dibelikan budak dari zakat fithri itu (untuk pembebasannya), dan tidak diberikan kepada orang gharim (dibelit hutang).

(Ikhtiyarat, 2/412-413)

Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Taimiyah sebagaimana tersebut dalam Majmu Fatawa (25/71-78), Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad

(2/44), Syaikh Abdul 'Azhim bin Badawi dalam al Wajiz (hal.231), dan Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali serta Syaikh Ali bin Hasan al Halabi al Atsari di dalam Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa

sallam fi Ramadhan [hal.105-106].

(21)

KE-6

PENERIMAAN &

PENYALURAN

ZAKAT FITHRI

(22)

Zakat fithri disalurkan 1 atau 2 hari sebelum 'Idul Fithri, hal ini adalah sebagaimana riwayat :

صأولنُا كَوَ صا هَنَوللُبَقْيَ صنَيذِلّأ صا هَيطِعْيُ صا مَهُنْعَ صهُلّلأ صيَضِرَ صرَمَعُ صنُبْأ صنَا كَوَ

نِيْمَولْيَ صوْأأ صمٍولْيَبِ صرِطْفِلْأ صلَبْقَ صنَولطُعْيُ

"Dan Ibnu 'Umar biasa memberikan zakat fithri kepada orang- orang yang menerimanya, mereka itu diberi sehari atau dua hari

sebelum fithri". [HR.Bukhari 1511, Muslim 986].

Adapun pengelolaan zakat fithri dilaksanakan oleh Amil Zakat/Baytul Mal didasarkan pada riwayat :

نَا ضَمَرَ صةِا كَزَ صظِفْحِبِ صمَلّسَوَ صهِيْلَعَ صهُلّلأ صىلّصَ صهِلّلأ صلُولسُرَ صينِلَكّوَ

Telah mewakilkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

kepadaku agar menjaga zakat Ramadhan [HR.Bukhori 4624).

(23)

KESIMPULAN :

1). Mari gunakan kembali istilah Zakat Fithri.

2). Zakat Fithri wajib hukumnya bagi setiap jiwa muslim, berpuasa ataupun tidak, dengan syarat

mampu melaksanakannya.

3). Zakat Fithri banyaknya 1 sho' per jiwa

sebagaimana penetapan Rosul, yakni sekira 2,7 s/d 3 kg beras yang ditakar oleh Amil Zakat.

4). Zakat Fithri dibayarkan dengan makanan pokok, dan tidak dapat digantikan fungsinya

dengan mata uang.

5). Zakat Fithri dibagikan utamanya kepada Fakir dan Miskin, bila berlebih disalurkan ke

Ashnaf lainnya.

6). Zakat Fithri boleh diterima Amil Zakat sejak 2 hari sebelum 'Idul Fithri, dan akan disalurkan

1 hari jelang 'Idul Fithri.

Referensi

Dokumen terkait

Maka sudah jelas bahwa isu lingkungan yang di keluarkan oleh Amerika tidaklah benar, isu tersebut hanya digunakan untuk membentuk citra negative pada produk CPO Indonesia

kadar asam urat dilaporkan terjadi pada penderita darah tinggi seperti di beberapa penelitian yang telah dilakukan pada 20-89% pada penderita darah tinggi mempunyai kadar asam

Widyastuti dan Satoto (2012) juga mendapatkan genotipe padi hibrida dengan daya hasil tinggi dan stabil pada lingkungan pengujian (simpangan dari regresi tidak berbeda nyata dari

Tahap yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi pembuatan cuka umbi bit, persiapan hewan uji tikus, perhitungan dosis induksi aloksan, dosis cuka umbi bit, dan dosis obat

Pertanyaan penelitian yang muncul adalah “Bagaimana penerapan fengshui pada tata letak massa bangunan di kawasan Kelenteng Sam Poo Kong?” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

Bag Filter 547/548BF05 dilengkapi dengan Electrical Trace Heating, yaitu sebuah peralatan yang berfungsi untuk memanaskan permukaan Dust Collection Chamber pada Bag

[0260] Kota Bandung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan..

Dalam penelitian ini membahas tentang konsistensi akad sewa pada struktur akad Ijarah Asset to be Leased pada produk Sukuk Negara Ritel SR-008 di Bank Tabungan