• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Kala Manca Volume. 7 No. 1 Januari-Juni 2019 ISSN : (Online)/ (Print)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Kala Manca Volume. 7 No. 1 Januari-Juni 2019 ISSN : (Online)/ (Print)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Kala Manca Vol 7 No.1 Januari-Juni 1 Jurnal Kala Manca

Volume. 7 No. 1 Januari-Juni 2019

ISSN : 2615-4447 (Online)/ 2303-2189 (Print)

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN PENJIARAHAN SYEKH MANSYURUDDIN DI DESA SUKAMULYA KECAMATAN CIKEUSIK

Rian Fauzi1)

Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP Setia Budhi Rangkas Bitung

ABSTRAK

Seykh Mansyuruddin, bagaimanakah persepsi masyarakat terhadap makam Petilasan Seykh Mansyuruddin di Desa Sukamulya dan bagaimanakah partisipasi masyarakat dalam pelestarian makam Seykh Mansyuruddin di Desa Sukamulya.Bentuk penelitian adalah penelitian kualitatif.

Teknik sampling mengguanakan teknik purposive sampling. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif, yang meliputi tiga komponen yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.Terdapat dua persepsi masyarakat terhadap makam Seykh Mansyuruddin, yaitu persepsi positif dan persepsi negatif. Persepsi positifnya yaitu bahwa makam tersebut merupakan benda arkeologi sebagai peninggalan sejarah masa lampau yang harus dilindungi. Persepsi negatifnya yaitu bahwa makam tersebut merupakan tempat untuk mencari pesugihan dan meminta pada makam. Partisipasi masyarakat untuk melestarikan makam Seykh Mansyuruddin dapat dilihat dari tiga sisi yaitu pelestarian secara preventif, secara represif, dan secara kuratif. Kendala yang dihadapi dalam pelestarian makam Seykh Mansyuruddin yaitu bersifat psikhis.

Pada suatu hari Syekh Maulana Mansyur menyebarkan syariah agama islam di daerah selatan ke pesisir laut selatan, di dalam perjalanannya ia singgah di sutu perkampungan dan membuat situ atau bendungan mdaerah itu pun kemudian dikenal dengan sebutan Situpotong dan tepat dipetilasan Syekh maulan Mansyuruddin dijadikan Makam atau Petilasan keramat, maka komlek inipun dikenal dengan Cikaramat yang dilestaikan oleh masyrakat Situpotong atau masyrkat Desa Sukamulya.

Hingga kini makam beliau sering diziarahi oleh masyarakat dan dikeramatkan. Kemudian bayak di jiarahi oleh masyrakat. Kemudian Syekh maulan Mansyuruddin melanjutkan perjalanannya kehutan Pakuwon Mantiung Setelah sekian lama menyiarkan islam ke berbagai daerah di banten dan sekitarnya, lalu Syekh Maulana Manyuruddin dan khadamnya Ki Jemah pulang ke Cikaduen.

Akhirnya Syekh Maulana Mansyuruddin meninggal dunia pada tahun 1672 M dan di makamkan di Cikadueun Pandeglang Banten. Hingga kini makam beliau sering diziarahi oleh masyarakat dan dikeramatkan.Masyarakat ikut berpartisipasi dalam pelestarian makam (Patilasan) syekh Maulana Mansyuruddin. Partisipasi masyarakat tersebut dapat dilihat dari tiga aspek pelestarian, yaitu pelestarian secara preventif, secara represif, dan secara kuratif. Kendala yang dihadapi dalam pelestarian makam (Patilasan) syekh Maulana Mansyuruddin yaitu bersifat psikhis. Yaitu sikap meremehkan makam, akan berpengaruh terhadap orang yang kurang paham, maka akan bersifat apatis terhadap upaya pelestarian, di samping ada kepercayaan yaitu berakibat menemui celaka.

“syekh mansyuruddin penyebar agama islam banten”

Kata Kunci : Pelestarian, Syekh Mansurudin, Partisipasi Masyarakat

(2)

Jurnal Kala Manca Vol 7 No.1 Januari-Juni 2 PENDAHULUAN

Bangunan makam adalah bangunan yang berdiri di atas makam atau kubur. Di bawah bangunan makam terdapat lubang tempat menanam jenazah.

Pada pembangunan makam biasanya terdapat batu nisan yaitu benda yang terbuat dari batu dengan bentuk semacam tonggak pendek yang ditanam di atas kubur sebagai penanda bahwa dibawahnya terdapat jenazah yang ditanamkan” Petilasan adalah istilah yang diambil dari bahasa Jawa (kata dasar "tilas" atau bekas) yang menunjuk pada suatu tempat yang pernah disinggahi atau didiami oleh seseorang (yang penting). Tempat yang layak disebut petilasan biasanya adalah tempat tinggal, tempat beristirahat (dalam pengembaraan) yang relatif lama, tempat pertapaan, tempat terjadinya peristiwa penting, atau terkait dengan legenda tempat moksa.

Dalam bahasa Arab, petilasan disebut maqam (berarti "kedudukan" atau "tempat"). Istilah 'makam' dalam bahasa Indonesia dengan demikian tidak berarti sama dengan 'maqam' (Depdikbud, 1993:615).

Bangunan makam atau petilasan merupakan salah satu bukti yang dapat memberi petunjuk bahwa di Indonesia pernah hidup dan berkembang pengaruh berbagai kebudayaan. Tradisi untuk memakamkan orang-orang yang dihormati sudah menjadi bagian dari prilaku masyarakat Indonesia mulai sejak zaman kuno sampai sekarang.

Masyarakat Sunda memiliki anggapan bahwa makam atau petilasan orang-orang besar atau para leluhur memiliki nilai religius. Masyarakat Sunda yang pada hakekatnya adalah masyarakat yang berbudaya asli Indonesia memuat bangunan makam dengan bentuk punden berundak. Di pedesaan makam leluhur yang dihormati pada makam diberi cungkup yaitu bangunan untuk berteduh. Para raja yang pernah berkuasa di Pulau Jawa dibuatkan komplek pemakaman secara khusus seperti makam raja-raja Banten di Banten Lama. Makam tersebut sangat dihormati dan dipelihara.

Masyarakat Sunda merupakan masyarakat yang telah mengalami kontak budaya. Fenomena tersebut dapat dilihat dari prilaku mereka di bidang religius. Mereka sering mendatangi tempat-tempat keramat, tempat-tempat yang dianggap memiliki nilai magis, termasuk makam para wali. Tujuan datang ke tempat-tempat tersebut biasanya untuk memperoleh kemuliaan dunia seperti mendapat pangkat, mendapat rejeki yang banyak atau kekayaan, mencari jodoh, mencari kedigjayaan,

mencari pusaka atau jimat, dan sebagainya. Di samping itu mereka juga melakukan sesaji di tempat-tempat tertentu yang dianggap memiliki tuah seperti di Pantai Selatan, di Mantiung, di Ujungkulon, bersemedi di gua keramat, di tempat- tempat batu atau pohon-pohon kuno yang dianggap bertuah, dan lain-lain.

Dalam agama Islam perilaku demikian sangat dilarang, karena dianggap perbuatan menyekutukan Allah yang disebut musyrik. Agama Islam mengenal konsep ketuhanan yang bersifat monotheis, hanya mengenal satu Tuhan. Pada hakekatnya ajaran Islam juga terdapat perintah untuk berkunjung ke makam atau melakukan ziarah kubur yang hukumnya sunat, artinya jika dikerjakan akan mendapat pahala dari Tuhan dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Ziarah kubur diarahkan agar setiap orang mengingat masa kematiannya, sehingga dapat berhati-hati dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari selama hidup di dunia, tidak melanggar larangan-larangan Tuhan dan selalu mengerjakan perintah-perintah Tuhan.

Namun demikian ada pula sebagian pemeluk Islam yang memilliki paham bahwa ziarah kubur atau berkunjung ke makam adalah perbuatan yang dilarang, khawatir orang tersebut meminta sesuatu kepada kekeramatan yang dimakamkan, bukan kepada Tuhan (Sulaiman Rasjid, 1997:43).

Makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin merupakan bangunan makam yang sangat dikenal di kalangan masyarakat Desa Sukamulya Kecamatan Cikeusik dan sekitarnya. Makam tersebut selalu ramai dikunjungi peziarah terutama para pemeluk agama Islam.

Mereka datang baik secara rombongan maupun sendiri-sendiri. Di tempat pemakaman biasanya mereka melantunkan doa-doa, membaca ayat-ayat suci Al-Quran, berdzikir, dan sebagainya. Hari-hari paling ramai didatangi peziarah adalah setiap Kamis Sore atau malam Jumat. Bulan Muharam atau Sura dan bulan Syakban atau Ruwah adalah bulan-bulan yang ramai dikunjungi para peziarah.

Yang perlu diungkap melalui kegiatan penelitian yaitu bagaimanakah peran serta atau partisipasi yang telah mereka lakukan dalam upaya pelestarian makam tersebut, agar tetap terpelihara kelestariannya.

Berkaitan dengan makam yang bercorak Islam, banyak yang dihormati bahkan dikultuskan, khususnya makam para penyebar agama Islam, seperti makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin di Desa Sukamulya. Masyarakat dan para peziarah memperlakukan makam dan batu nisan dengan cara

(3)

Jurnal Kala Manca Vol 7 No.1 Januari-Juni 3 khusus, berbeda dengan makam pada umumnya.

Batu nisan ditutup dengan kain putih yang selalu dijaga kebersihan dan kesuciannya, dan penutup bagian atas makam diberi sekat sedemikian rupa sehingga orang umum tidak dapat menyentuh secara langsung. Pada waktu dan bulan tertentu kain penutup makam diganti dengan menggunakan upacara ritual.

KAJIAN TEORI Masyarakat

Pengertian masyarakat dapat ditinjau dari dua sisi yaitu dari sisi makna secara harfiah dan dari sisi pendapat para ahli. Makna secara harfiah maksudnya dilihat dari etimologis, yaitu menurut kamus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara harfiah masyarakat mengandung pengertian

“sekelompok individu atau sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama”

(Depdikbud, 1993:564).

Menurut beberapa ahli, pengertian masyarakat dapat dikemukakan seperti berikut ini:

1) Menurut J.L. Gillinp, pengertian masyarakat adalah “sekelompok manusia yang terbesar dan mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan yang sama” (Akhmadi, 1975:56).

2) Menurut Koentjaraningrat, pengertian yang lain tentang masyarakat adalah “kesatuan hidup manusia” yang berinteraksi menurut suatu system adat istiadat yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama”

(Kontjaraningrat, 1989:17).

3) Menurut Linton pengertian masyarakat yang lain lagi adalah “sekelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama sehingga dapat mengorganisasikan dirinya dan berfikir tentang dirinya sebagai kesatuan social dengan batas-batas tertentu” (Akhmadi, 1975:57).

4) Pengertian masyarakat menurut Parson dalam Sunarto (2004:54), adalah suatu sistem sosial yang swasembada, melebihi masa hidup individu normal, dan merekrut anggota secara reproduksi biologis serta melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya.

5) Menurut Sumarjan dalam Soekanto (2005:24), pengertian masyarakat adalah orang- orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.

Dari beberapa pengertian masyarakat baik pengertian secara harfiah maupun pendapat yang dikemukakan beberapa ahli, dapat disimpulkan bahwa masyarakat yaitu sekumpulan manusia yang bersifat kontinyu dan cukup lama hidup dan bekerja sama, mempunyai tujuan dan rasa identitas yang sama serta diikat oleh aturan yang disepakati bersama.

Masyarakat pendukung kebudayaan seperti yang dimaksud dalam kajian ini, menurut jenisnya maka masyarakat dalam keadaan sekarang dapat dibedakan menjadi:

1) Masyarakat desa, yaitu masyarakat yang penduduknya mempunyai mata pencaharian utama di sektor bercocok tanam, perikanan, peternakan, atau gabungan dari kesemuanya yang sistem budaya atau sistem sosialnya mendukung mata pencaharian itu.

2) Masyarakat kota, masyarakat yang penduduknya mempunyai mata pencaharian di sektor perdagangan dan industri, atau yang bekerja di sektor administrasi pemerintahan.

3) Masyarakat primitif, yaitu masyarakat yang mempunyai sistem ekonomi sederhana.

4) Masyarakat tradisional, yaitu masyarakat yang lebih banyak dikuasai adat istiadat yang lama (Depdikbud, 1993:564).

Masyarakat sebagai kelompok manusia pada hakekatnya memiliki tujuan bersama untuk mencapai kesejahteraan bersama. Kesejahteraan yang dicita-citakan manusia meliputi kesejahteraan lahir dan kesejahteraan batin. Guna mencapai kesejahteraan itu manusia melakukan aktivitas yang menghasilkan kebudayaan.

Aktivitas masyarakat untuk menghasilkan suatu kebudayaan itu identik dengan upaya manusia melaksanakan pembangunan. Aktivitas pembangunan yang dilakukan oleh manusia ada dua macam yaitu pembangunan yang bersifat material atau lahiriah, fisik dan yang kedua adalah pembangunan yang bersifat spiritual atau psikis, batiniah. Diantara keduanya merupakan satu kesatuan yang utuh tidak dapat dipisah-pisahkan.

Wajah dan potensi aktivitas masyarakat tercermin pada kehidupan masyarakat yang menyangkut aspek-aspek kehidupan di bidang agama, pendidikan, kesehatan, olahraga, kesenian dan lain- lain dengan segenap sarana dan prasarana yang mendukungnya (Ismail, 1990:50-51).

Masyarakat desa mempunyai aktivitas untuk membangun sistem pranata social guna mengelola konflik dan kepentingan. Di dalam masyarakat desa

(4)

Jurnal Kala Manca Vol 7 No.1 Januari-Juni 4 tempat orang hidup berdekatan dengan para

tetangga secara terus menerus, kesempatan untuk pertengkaran dan terjadinya ketegangan- ketegangan antara anggota masyarakat sering terjadi. Konflik dan kepentingan sering berkisar hal tanah, masalah kedudukan, hal perkawinan, perbedaan kaum tua dan muda, serta perbedaan antara pria dan wanita. Agar konflik tersebut tidak mengganggu pergaulan yang rukun dan tenang, maka dibangun sistem pranata melalui aktivitas rembung desa (Koentjaraningrat, 1989:354).

Aktivitas membangun masyarakat desa dapat dilihat dari cirinya dalam kegiatan bekerja. Untuk dapat mempertahankan hidup masyarakat desa harus bekerja keras. Masyarakat pedesaan yang secara ekonomis terbelakang, harus dibangun dengan cara menyediakan sistem perangsang, yaitu dengan bekerja keras maka akan mendapatkan penghasilan yang maksimal dan berakibat pada tercukupinya biaya hidup sehingga dapat menaikkan status sosialnya. Juga ada upaya untuk membangkitkan budaya menabung dan hemat, karena masyarakat desa punya budaya menabung hasil panen di lumbung. Dalam bekerja keras masyarakat tetap tidak meninggalkan tradisi tolong menolong dan gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat desa. Ciri khas ini baik dalam berhubungan bertetangga atau hubungan kekerabatan, maupun hubungan yang lebih luas berupa kerja bakti untuk menyelesaikan suatu proyek yang dinilai sangat bermanfaat bagi kepentingan masyarakat umum, baik kepentingan yang menyangkut pembangunan jasmani maupun rohani (Koentjaraningrat, 1989:355).

Berdasarkan kajian di atas dapat diketahui bahwa dalam aktivitas membangun masyarakat desa baik secara tersurat maupun tersirat, bahwa terdapat keseimbangan atau selalu berjalan bersama antara pembangunan yang bersifat mental dan pembangunan yang bersifat material. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa agar tujuan aktivitas pembangunan yang dilakukan masyarakat terwujud, maka diperlukan partisipasi masyarakat secara aktif. Demikian pula agar masyarakat dapat berpartisipasi aktif, maka masyarakat harus memiliki persepsi yang jelas tentang pembangunan.

2.3 Makam

Makam yaitu tempat untuk menanam orang yang sudah meninggal. Masyarakat Jawa biasanya memberi tanda yang diletakkan di atasnya, baik berupa batu nisan, kayu, atau bangunan.

“Bangunan makam adalah bangunan yang berdiri di atas makam atau kubur. Di bawah bangunan makam terdapat lubang tempat menanam jenazah.

Pada pembangunan makam biasanya terdapat batu nisan yaitu benda yang terbuat dari batu dengan bentuk semacam tonggak pendek yang ditanam di atas kubur sebagai penanda bahwa dibawahnya terdapat jenazah yang ditanamkan” (Depdikbud, 1993:615).

Batu nisan biasanya sebagai pertanda status jenazah yang ditanam di bawahnya ketika masih hidup.

Jenazah rakyat pada umumnya atau rakyat jelata menggunakan batu nisan yang sederhana, baik kualitas batu maupun ukurannya. Makin tinggi status social jenazah ketika masih hidup maka makin baik pula batu nisannya. Kualitas batu nisan bermacam-macam, ada yang dibuat dari batu biasa, batu granit, batu pualam atau marmer. Bangunan makam orang-orang terkenal, para bangsawan atau raja, di samping diberi tanda batu nisan, juga dibangun rumah yang berfungsi sebagai peneduh yang biasa disebut cungkup. Sebagaimana batu nisan, cungkup makam juga menunjukkan status social jenazah yang ditanam dibawahnya ketika ia masih hidup.

Masyarakat Jawa sejak zaman kuno telah memiliki tradisi untuk memuliakan leluhur yang telah meninggal dengan membuat bangunan pada makam. Para sejarawan mengkaji sejarah perkembangan bangsa Indonesia banyak yang berpedoman pada peninggalan bangunan makam, lebih-lebih pada masa proses islamisasi di Indonesia. Masa atau waktu awal perkembangan Islam di Indonesia dikaitkan dengan para penyebarannya yang telah dimakamkan. Pada batu nisan ditulis rangka tahun tokoh tersebut dimakamkan. Banyak pula yang ditulis tanggal lahir dan tanggal dimakamkan. Dengan demikian maka bangunan makam berfungsi sebagai artefak, sebagai bukti peninggalan sejarah aktivitas manusia masa lalu.

METODE PENELITIAN

Metode adalah suatu cara untuk melakukan mengerjakan sesuatu hal untuk mencapai tujuan penelitian. Tujuan penelitian adalah usaha untuk mengungkapkan, menggambarkan, dan menyimpulkan hasil penelitian.

Metode penelitian menurut Winarno Surakhmad (1990: 152) merupakan cara utama untuk mencapai tujuan. Jadi jelaslah untuk mencapai tujuan dalam penelitian ilmiah penentuan metode yang tepat merupakan syarat mutlak.

Suatu penelitian dianggap ilmiah apabila

(5)

Jurnal Kala Manca Vol 7 No.1 Januari-Juni 5 menggunakan metode yang berlaku dalam ilmu

pengetahuan. Meskipun banyak metode, tidak semua metode dapat digunakan untuk mencapai tujuan. Sehubungan dengan itu, kemampuan memilih metode yang tepat akan relevan dengan aspek atau objek yang diteliti.

Dalam penelitian ini, peneliti mengambil objek didalam masyarakat dan bersipat lampau, maka penulis menggunakan metode historis. Menurut Louis Gottschalk (1975: 32) metode historis adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau..

Sejalan dengan definisi tersebut, menurut Gillbert J. Garrahan yang dikutif Nugroho Notosusanto mendefinisikan bahwa “metode sejarah ialah sekumpulan prinsif dan aturan yang sistematis yang dimaksudkan untuk memberikan bantuan secara efektif dalam usaha mengumpulkan bahan- bahan bagi sejarah, menilai secara kritis dan kemudian menyajikan suatu sintesa daripada hasil- hasilnya” (1984: 10-11)

Berdasarkan definisi tersebut, metode historis adalah suatu prinsip yang sistematis untuk memberikan bantuan dalam kegiatan mengumpulkan, menguji, menganalisa dan menilai rekaman dan peninggalan masa lalu secara kritis untuk kemudikan suatu sintesa daripada hasil- hasilnya.

Ketika melakukan penelitian sejarah tahapan yang harus dilalui adalah heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. (Siti Waridah, dkk: 2003: 13).

Menurut Nugroho Notosusanto (1984: 36) tahapan-tahapan dalam metode historis meliputi : 1. Heuristik, merupakan penyelidikan untuk menemukan jejak sumber peristiwa masa lampau.

2. Kritik, merupakan proses penyelidikan terhadap keotentikan sumber dan isi sumber 3. Interpretasi, proses memaknai fakta-fakta serta mencari hubungan antara fakta tersebut guna mendapatkan cerita yang utuh.

4. Historiografi, merupakan kegiatan penyajian hasil penelitian dalam bentuk laporan secara tertulis.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Partisipasi Masyarakat dalam Pelestarian Makan (Petilasan) Syekh Mansyuruddin Masyarakat Desa Sukamulya secara umum memiliki dua macam persepsi yang berbeda tentang makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin, yaitu persepsi secara positif dan persepsi secara negatif. Persepsi secara positif yaitu tanggapan

yang diberikan oleh masyarakat tentang hakekat makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin sebagai benda arkeologi buatan manusia yang hidup di masa lampau yang memiliki nilai sejarah, karena sudah berusia ratusan tahun, sehingga harus dilestarikan baik benda maupun situsnya atau tanah dilingkungannya.

Persepsi negatif yang dimaksud tanggapan yang diberikan oleh masyarakat dari Desa Sukamulya di luar rumusan di atas, artinya bukan sebagai benda arkeologi dan berfungsi tidak sebagaimana porsinya bahkan cenderung dilebih-lebihkan seperti dikeramatkan, dapat mendatangkan celaka atau musibah, untuk mencari pesugihan atau kekayaan, bahkan dikultuskan sehingga akan membawa kemusrikan. (Baita Mulyana, Wawancara, 15 Maret 2016).

Kepala Desa Sukamulya memberikan tanggapan tentang makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin.

Beliau menjelaskan makam tersebut sudah berusia ratusan tahun, seusia dengan awal perkembangan agama Islam di Banten dan runtuhnya Pajajaran.

Makam tersebut merupakan peninggalan sejarah yang tak ternilai harganya, sehingga menjadi kebanggaan masyarakat Desa Sukamulya. Fungsi makam sebagaimana namanya, tempat (Petilasan) Syekh Mansyuruddin. Karena kebesaran nama Sang Tokoh maka banyak sekali masyarakat yang mengkultuskannya, menganggap bisa memperngaruhi nasib baik-buruknya orang yang mengunjunginya atau menzarahinya (Baita Mulyana, Wawancara, 15 Maret 2016).

Persepsi secara negatif dapat diperhatikan dari perilaku masyarakat yang mengunjunginya, sebagaimana diutarakan penjaga makam atau juru kunci makam. Dia menerangkan bahwa makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin sangat dihormati dan dikeramatkan oleh masyarakat. Makam tersebut banyak diziarahi pada setiap hari Kamis sejak pagi hari sampai malam hari yaitu malam Jumat. Selain itu juga tiap Selasa banyak para peziarah berdatangan. Yang datang berziarah tidak hanya penduduk dan warga masyarakat Desa Sukamulya, tetapi juga ada etnis lain terutama Jawa (Cirebon/Indramayu) untuk meminta keberuntungan hidup. Yang berziarah juga tidak hanya yang beragama Islam, tetapi juga dari agama lain yaitu Budha, Hindu dan Kong Hu Cu. Yang beragama Islam biasa membaca doa Tahlil dan membaca ayat-ayat suci Al Quran. Yang beragama selain Islam disediakan tempat khusus untuk membakar dupa dan membakar menyan, dupa hio atau dupa Cina (Baita Mulyana, Wawancara, 15 Maret 2016).

(6)

Jurnal Kala Manca Vol 7 No.1 Januari-Juni 6 Persepsi secara negatif dan positif juga diutarakan

pemuka masyarakat yang lain. Persepsi secara negatif tercermin dari perilaku masyarakat yang datang berkunjung. Masyarakat yang datang ke makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin memiliki berbagai macam maksud atau niat. Ada yang sekedar untuk berziarah untuk berdo’a dan membaca Al Quran tetapi banyak pula yang bermaksud untuk mendapatkan keberuntungan dan keberhasilan dalam hidupnya. Banyak yang datang berziarah merasa terkabul maksud dan hajatnya sehingga mendapatkan keberhasilan dan kekayaan.

Yang sudah berhasil biasanya tidak memutuskan ikatan dengan makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin, tetapi secara rutin melakukan ritual berziarah. Namun pada hakekatnya masyarakat tetap memiliki persepsi yang positif yaitu makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin merupakan peninggalan jejak tokoh islam yang harus dilestarikan oleh berbagai pihak, yaitu pemerintah, Dinas Purbakala dan masyarakat Desa Sukamulya (Sansan, Wawancara 19 Maret 2016).

Partisipasi masyarakat dalam melestarikan makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin terdiri atas partisipasi pelestarian secara preventif, partisipasi pelestarian secara represif, dan partisipasi pelestarian secara kuratif.

1) Partisipasi Pelestarian secara Preventif Partisipasi pelestarian secara preventif yang dimaksud di sini bersifat mencegah, supaya tidak terjadi kerusakan terhadap bangunan makam sebagai benda arkeologi (Depdikbud, 1993:3).

Pelestarian secara preventif dilakukan dengan cara mencegah agar makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin tidak mengalami kerusakan.

Tindakan ini ditempuh dengan cara warga masyarakat selalu menjaga kebersihan makam yang dilakukan masyarakat juga sekaligus membersihkan lokasi sekitarnya baik secara sendiri-sendiri maupun secara gotong-royong (SanSan, Wawancara 19 Maret 2016).

Secara sendiri-sendiri setiap anggota masyarakat Desa Sukamulya ikut berpartisipasi dalam mencegah makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin dari kerusakan. Setiap anggota masyarakat Desa Sukamulya merasa terikat dengan keberadaan makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin. Mereka merasa memiliki dan merasa punya tanggung jawab untuk ikut berperan serta menjaga kelestarian makam. Dengan demikian mereka merasa sadar untuk menjaganya dari kerusakan serta selalu menjaga kebersihan (Wahyu, Wawancara 10 April 2016).

Upaya pelestarian makam (Petilasan) yang bersifat pencegahan selalu dilakukan masyarakat secara bersama-sama. Penduduk Desa Sukamulya masih memegang erat tradisi gotong royong. Sebagaimana desa-desa lain. Secara gotong royong yaitu dengan bekerja bakti, masyarakat Desa Sukamulya selalu membersihkan komplek makam Keramat Sukamulya, dengan titik pusat pada makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin. Kerja bakti ini dilakukan terutama pada peringatan hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, awal bulan Muharam atau Sura, bulan Syakban atau Ruwah, Menjelang bulan Ramadhan, dan menjelang Idul Fitri serta Idul Adha. Dengan demikian makam tersebut tetap bersih dan selalu terjaga dari kerusakan (H Kawar, Wawancara, 20 April 2016).

Penjaga makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin menerangkan bahwa upaya pelestarian secara preventif, jika yang dimaksud yaitu pencegahan dari kerusakan, ini dilakukan karena adanya anggapan bahwa dengan menjaga kelestarian jangan sampai rusak maka akan mendapatkan keberkahan. Jadi masyarakat menjaga dengan cara bersama-sama atau sendiri-sendiri (Baita Mulyana, Wawancara, 20 April 2016).

2) Partisipasi Pelestarian secara Represif Yang dimaksud di sini upaya menekan atau menahan supaya tidak melakukan perbuatan yang bersifat merusak karena perilaku kejahatan dan pelanggaran terhadap makam sebagai benda arkeologi (Depdikbud, 1993:16-18).

Makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin selalu dijaga agar tidak terjadi kerusakan karena perbuatan manusia, dan agar benda-benda yang ada pada bangunan makam tidak dicuri orang. Kepala Desa dan warga menyepakati petugas sebagai juru kunci atau penjaga makam (Rainan, Wawancara 2 Mei 2016).

Tidak seorang pun anggota masyarakat dari Desa Sukamulya untuk berbuat kerusakan terhadap makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin, Para pemuda yang biasanya suka corat-coret di tempat- tempat lain, tidak pernah dilakukan terhadap bangunan makam. Tidak ada niat untuk merusak benda-benda yang ada di makam (Ujang, Wawancara 5 Mei 2016).

Pendapat tersebut diperkuat oleh tokoh masyarakat Desa Sukamulya yang lain. Dia menegaskan bahwa belum pernah ada anggota masyarakat yang melakukan perusakan atau pencurian terhadap benda-benda atau komponen makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin. Masyarakat sesadar-sadarnya

(7)

Jurnal Kala Manca Vol 7 No.1 Januari-Juni 7 merasa bahwa perilaku yang menyebabkan

kerusakan terhadap makam leluhur yang sangat dihormati, merupakan perbuatan yang tidak terpuji, jika melakukan pasti mendapat hukuman dari masyarakat yaitu berupa dikucilkan dari pergaulan masyrakat Desa Sukamulya karena dianggap tidak menghormati leluhur masyarakat Desa Sukamulya (H. Karnita, Wawancara 20 Mei 2016).

Penjaga makam menerangkan bahwa masyarakat tidak berani dan tidak akan pernah melakukan perbuatan yang melanggar dan menyebabkan kerusakan makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin. Melakukan pencurian terhadap benda-benda yang ada di makam pun belum pernah terjadi. Mereka takut jika melakukan hal tersebut bukannya mendapat keuntungan, tetapi sebaliknya justru mendapat kecelakaan atau musibah (Baita Mulyana, Wawancara, 15 Maret 2016).

3) Partisipasi Pelestarian secara Kuratif Partisipasi pelestarian secara kuratif yang dimaksud di sini yaitu upaya perbaikan kembali atau renovasi (Depdikbud, 1993:64).

Pelestarian secara kuratif merupakan tindakan untuk melestarikan makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin sebagai benda purbakala dengan cara membangun kembali dari kerusakan agar menjadi seperti keadaan semula.

Upaya pelestarian secara kuratif terhadap bangunan makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin, seperti dijelaskan oleh seorang tokoh masyarakat setempat yang mengutarakan bahwa partisipasi masyarakat untuk melestarikan makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin sangat baik, lebih-lebih yang sudah merasa berhasil hidupnya karena berziarah di makam tersebut.

Seorang pengusaha bernama Sarkawi (Cirebon) membangun makam, karena hidupnya sebagai seorang pengusaha merasa berhasil setelah mendapat berkah dari (Petilasan) Syekh Mansyuruddin berkat ziarah yang dilakukannya.

Sampai sekarang dia tidak pernah melupakan keberadaan makam tersebut (Muis, Wawancara, 15 Maret 2016).

B. Kendala yang Dihadapi dalam Pelestarian Makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin Kendala yang dihadapi dalam upaya pelestarian makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin, digolongkan menjadi dua macam aspek yaitu pertama aspek yang bersifat fisik atau materi dan

kedua aspek yang bersifat psikhis atau batiniah.

Aspek yang bersifat fisik atau materi tidak banyak menemui kendala, karena berbagai kalangan mulai dari pemerintah, aparat desa, para tokoh dan masyarakat, anggota masyarakat sampai dengan para peziarah dari daerah lain, semuanya memberikan dukungan, baik tenaga maupun biaya.

Hal yang demikian membuat makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin tetap lestari.

Kendala datang dari aspek yang bersifat psikis.

Adanya peziarah yang mengucapkan kata-kata yang meremehkan makam atau tokoh tertentu mengangap musyrik terhadap pelestarian makam yang sering diziarahi oleh para orang local dan pendatang. Hal ini akan mempengaruhi semangat bagi orang yang mendengarnya terutama yang belum paham hakekat kewajiban melestarikan makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin, bisa bersikap apatis terhadap upaya pelestarian (H.

Karnita, Wawancara 20 Mei 2016).

Seperti yang diutarakan seorang tokoh masyarakat Desa Sukamulya dari kalangan perempuan, bahwa kendala yang bersifat batiniah merupakan keyakinan yang dimiliki seseorang. Sekilas orang yang menganggap sepele dengan mengucapkan kata-kata kotor di komplek makam Cikaramat, tidak berpengaruh apa-apa terhadap keberadaan makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin jika dilihat dari aspek yang dilihat secara fisik. Tetapi sesungguhnya membawa pengaruh terhadap semangat orang lain untuk bertekad menjaga kelestarian makam. Oleh karena itu kami menghimbau kepada semua peziarah, agar mereka mematuhi adat yang berlaku bagi para peziarah, walaupun hanya sekedar mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Jika diperhatikan sesungguhnya hal ini akan membuat yang bersangkutan menemui celaka. Namun namanya kepercayaan, tentu saja boleh percaya boleh tidak (Ibu tini, Wawancara 22 Mei 2016).

Penjaga makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin menerangkan bahwa kendala yang dihadapi dalam upaya pelestarian makam, memang kendala yang bersifat psikhis. Adanya persepsi yang negatif dari beberapa kalangan masyarakat, yaitu menganggap berziarah ke makam (Petilasan) Syekh Mansyuruddin itu dalam rangka mencari kekayaan atau pesugihan. Hal ini sebagai akibat dari peziarah yang beragama lain, mereka membakar dupa dan Hio Swa. Sebenarnya tidak semua peziarah yang datang semata-mata bermaksud mencari keberuntungan duaniawi, tetapi mencari keberuntungan dunia dan akhirat. Maka para peziarah yang beragama Islam kebanyakan dalam

(8)

Jurnal Kala Manca Vol 7 No.1 Januari-Juni 8 rangka melaksanakan perintah agama untuk

berziarah ke kubur, lebih-lebih kuburan para ulama agar kita pun ingat bahwa kelak juga akan mati. perlu ada upaya memberikan pemahaman atau sosialisasi ke arah itu, sehingga hal ini berakibat pada persepsi yang negatif dari sebagaian kalangan tadi. Tetapi yang sudah tahu tidak memiliki anggapan yang demikian (Baita Mulyana, Wawancara, 15 Maret 2016).

KESIMPULAN

Syekh Maulana Mansyuruddin dikenal dengan nama Sultan Haji, beliau adalah putra Sultan Agung Abdul Fatah Tirtayasa (Raja Banten ke 6).

Sekitar tahun 1651 M, Sultan Agung Abdul Fatah berhenti dari kesutanan Banten, dan pemerintahan diserahkan kepada putranya yaitu Sultan Maulana Mansyurudin dan beliau diangkat menjadi Sultan ke 7 Banten, kira-kira selama 2 tahun menjabat menjadi Sultan Banten kemudian berangkat ke Bagdad Iraq untuk mendirikan Negara Banten di tanah Iraq, sehingga kesultanan untuk sementara diserahkan kepada putranya Pangeran Adipati Ishaq atau Sultan Abdul Fadhli

Pada suatu hari Syekh Maulana Mansyur menyebarkan syariah agama islam di daerah selatan ke pesisir laut selatan, di dalam perjalanannya ia singgah di sutu perkampungan dan membuat situ atau bendungan mdaerah itu pun kemudian dikenal dengan sebutan Situpotong dan tepat dipetilasan Syekh maulan Mansyuruddin dijadikan Makam atau Petilasan keramat, maka komlek inipun dikenal dengan Cikaramat yang dilestaikan oleh masyrakat Situpotong atau masyrkat Desa Sukamulya. Hingga kini makam beliau sering diziarahi oleh masyarakat dan dikeramatkan. Kemudian bayak di jiarahi oleh masyrakat. Kemudian Syekh maulan Mansyuruddin melanjutkan perjalanannya kehutan Pakuwon Mantiung Setelah sekian lama menyiarkan islam ke berbagai daerah di banten dan sekitarnya, lalu Syekh Maulana Manyuruddin dan khadamnya Ki Jemah pulang ke Cikaduen.

Akhirnya Syekh Maulana Mansyuruddin meninggal dunia pada tahun 1672 M dan di makamkan di Cikadueun Pandeglang Banten.

Hingga kini makam beliau sering diziarahi oleh masyarakat dan dikeramatkan.

Masyarakat ikut berpartisipasi dalam pelestarian makam (Patilasan) syekh Maulana Mansyuruddin.

Partisipasi masyarakat tersebut dapat dilihat dari tiga aspek pelestarian, yaitu pelestarian secara preventif, secara represif, dan secara kuratif.

Kendala yang dihadapi dalam pelestarian makam

(Patilasan) syekh Maulana Mansyuruddin yaitu bersifat psikhis. Yaitu sikap meremehkan makam, akan berpengaruh terhadap orang yang kurang paham, maka akan bersifat apatis terhadap upaya pelestarian, di samping ada kepercayaan yaitu berakibat menemui celaka.

DAFTAR PUSTAKA

Akhadi. 1975. Masyarakat Islam. Jakarta: Balai Pustaka

Depdikbud. 1993. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Balai Pustaka.

Depdikbud. 1993. Undang-undang Republik Indoneia (UURI) Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Jakarta: Depdikbud.

Depdikbud. 1993. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992. Jakarta: Depdikbud.

Ismail. 1990. Wawasan Jati Diri dalam Pembangunan Daerah. Semarang; Depdikbud.

Mutahhari, Murtadha, 2005. “Masyarakat dan Sejarah”, Mizan, Bandung,

Koentjaraningrat. 1989. Masyarakat Desa di Indonesia Masa Kini. Jakarta: Universitas Indonesia.

Sartono Kartodirdjo. 1987. Pengantar Sejarah Indonesia Baru. Yogyakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Sugiyono, 2008. “Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D”, Alfabeta, Bandung.

Sulaiman Rasjid. 1997. Fiqh Islam. Bandung: PT Sinar Baru Algensindo

Sunarto, Kamanto, 2004. ”Pengantar Sosiologi”, FEUI

_____________. 2012. Profil Desa Sukamulya.

http://www.syech maulana mansyuruddin cikadueun pandeglang.co.id

http://www.syech maulana mansyuruddin cikadueun pandeglang ulama dan pendekar banten.co.id

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menanggalkan atau menempatkan semula kantung, kupas kantung dari zon pendaratan dengan memegang tab pada gelang pelekat kantung dengan satu tangan, dan tepi

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran discovery learning berbantuan Edmodo dengan web enhanced course layak, praktis, dan

Peneliti melakukan pengamatan pada tanggal 5 Januari 2018 di kelompok B TK Aulia Surakarta, pembelajaran dilakukan dengan menerapkan tema pekerjaan yaitu dokter dan di akhiri

Perempuan merupakan seorang perempuan yang sudah menginjak masa dewasa dimana seorang perempuan ini mempunyai peran dalam kehidupan berumahtangga untuk mengatur

Pemberian tugas Review Jurnal Praktikum: Kuis, melakukan pekerjaan sesuai dengan Petunjuk Kerja 2x50 3x50 1.. Mengelu arkan pendapat

Menurut Fey dan Heid (dalam Novia, 2010: 6), penggunaan software komputer untuk kegiatan pembelajaran sangat tidak terbatas, beberapa software komputer dapat

Dari 7 kelompok pengeluaran yang ada, pada bulan Oktober 2012 masing-masing kelompok memberikan andil inflasi/deflasi sebagai berikut: Kelompok Bahan Makanan -0,43

Berdasarkan hasil penelitian dapat diberikan saran: (1) bagi pembelajaran folklor, mitos dalam tarian ritual barong kemiren yang berupa mitos kepercayaan rakyat dan