• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROBLEMATIKA KETERAMPILAN MEMBACA KITAB HADITS YAUMIYAH: STUDI KASUS MAHASISWA ZONA QUR'AN UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROBLEMATIKA KETERAMPILAN MEMBACA KITAB HADITS YAUMIYAH: STUDI KASUS MAHASISWA ZONA QUR'AN UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PROBLEMATIKA KETERAMPILAN MEMBACA

KITAB HADITS YAUMIYAH: STUDI KASUS MAHASISWA ZONA QUR'AN UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR

Fajar Nur Syah Alam Ardiman Fadhil Ummi Mahmudah Universitas Darussalam Gontor

[email protected] [email protected]

ABSTRAK

Permasalahan sering terjadi dalam pembelajaran membaca kitab turast (maharah qira’ah) adalah probematika linguistik. Pembelajaran keterampilan membaca akan lebih efektif dan efesiensi apabila pesert didik dapat menguasai segala aspek yang menjadi salah satu kesatuan dalam maharah qira’ah. Aspek tersebut mencangkup fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Dalam penelitian ini, peneliti akan meneliti problematika maharah qira’ah mahasiswa zona Qur’an universitas Darussalam Gontor dalam membaca kitab hadist yaumiyah. Adapun penelitian ini, penulis akan menggunakan methode kualitatif deskriptif dengan cara observasi, interview, dan dokumentasi. Kemudian analisa data ini menggunakan analisa kualitatif dengan methode verivikasi data , penyajian data dan reduksi data. Untuk menarik kesimpulan digunakan analisa induktif yang mana dihasilkan dari kesimpulan khusus kemudian akan menjadi kesimpulan umum. Dan hasil dari penelitian ini adalah banyak dari mahasiswa zona qur’an yang masih mengalami problem linguistik dalam pembelajarn maharah qira’ah, yaitu dari aspek pengucapan (makharijul huruf), mufradat, i’rab, sorof (morfologi) dan nahwu.

Kata Kunci : Maharah qiro’ah, Mahasiswa Zona Qur’an, Maharah Qira’ah

(2)

Pendahuluan

Sebelum kita mengkaji lebih dalam dari kata bahasa arab, sebaik nya kita harus tau terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan bahasa. Dalam bahasa inggris sendiri bahasa disebut dengan language sedangkan dalam bahasa arab disebut dengan lugah dan memiliki makna yaitu perkataan atau ucapan manusia, sehinga segala sesuatu bahasa atau suara yang keluar dari mulut manusia itu disebut lugah.(Rohman 2015:1)

Hal ini juga sempat dipaparkan leh Ibnu Jinni, menurut beliau bahasa adalah suara-suara yang diungkapkan oleh setiap manusia untu menyampaikan apa yang diinginkan oleh manusia tersebut. Ini juga di perkuat dengan pendapat dari Ibnu Khuldun, bahwa sanya bahasa adalah ungkapan seorang pembicara terkaid apa yng dia inginkan. Kata tersebut adalah pekerjaan dari salah satu bagian anggota tubuh yaitu mulut, ini didasari dengan niat dan berakhir dengan disampaikan oleh anggota tubuh yang disebut mulut.(Rohman 2015)

Namu pada dasarnya setiap pembelajaran bahasa itu memiliki problematika masing-masing. Menurut analisis fakta yang ada problematika pembelajaran bahasa arab itu di bagi menjadi dua kelompok : Problematika Linguistik dan Problematika Non Linguistik. Dua problematika yang menjadi faktor kesulitan bagi sesorang dalam mempelajari bahasa arab, maka dari itu diperlukan nya solusi serta cara untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh dua problematika tersebut.(Hidayat 2012b:82)

Aspek bahasa arab sendiri tidak luput dari buku klasik karya para ulama, mulai dari buku-buku yang membahas tentang sastra dan bahasa, serta ada juga yang membahas tentang ilmu fiqih, hadist, dan lain-lain. Salah satu kitab klasik hadist yang terkenal adalah bulughul Maram yang mana buku ini di tulis oleh Ibnu Hajar Al-Askolani yang mana di kitab hadist tersebut banyak sekali hadist yang menjelaskan tentang Hadist yaumiyah.(Qudsy and Sholahuddin 2020:3)

Pada suatu kesempatan penulis menganalisa tentang penyampai hadist yaumiyah dari kitab Bulughul maram yang sering disampaikan oleh para mahasiswa dari program zona Qur’an yang bertempat di masjid jami unida gontor. Dalam analisis penulis terdapat beberapa orang ketika dia menyampaikan hadist yaumiyah yang biasanya ini di sampaikan setelah shalah subuh berjamaah mereka cenderung terbatah-batah atau bisa kita sebut kurang lancar dalam menyampaikan atau menjelaskan tentang hadist tersebut.

Ini menjadi sangat berbahaya, mengingat bahasa arab itu sangat lah sensitif yang mana apabila satu kata saja yang kurang tepat maka akan mengubah pemahaman akan makna dari teks tersebut. Dengan bukti dan analisis yang ada maka penliti mengambil inisiatif untuk menjadikan mahsiswa zona Qur’an sebagai studi kasus

Maka dari itu dengan banyak problematika yang ada, penulis pun menganalisa bahwa banyak sekali mahasiswa yang masih kesususahan dalam malam membaca tulisan yang tidak memakai tanda baca atau harokat. Ini dibuktikan dengan masih banyak dari mahasiswa zona Qur’an yang terbatah-batah dan serta kesalahan yang penulis jumpai ketika memperhatikan penjelasan mahasiswa tersebut tentang hadist

(3)

yaumiyah yang pada dasar nya itu bisa berakibat buruk pada arti serta makna dari hadist tersebut.

Landasan Teori

1. Ketrampilan membaca

Menurut Henry Guntur Tarigan membac adalah sebuah proses yang di lakukan oleh manusia untuk memperoleh pesan, yang mau disampaikan atau dipaparkan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa yang tertulis. Bukan hanya itu saja hal sepadan juga ditemukan ole Harjasusana(Tristiantari and Sumantri 2016:5), beliau menyatakan bahwa sanya membeca iala suata pekerjaan atau kegiatan untuk mengetahui lambang-lambang yang tertulis dan memaknainya dengan benar dan tepat.

Samsu Somadayo memahami membaca sebagai suatu kegiatan interaktif untuk memetik serta memahami arti atu makna yang terkandung di dalam bahan tulis.

Pearson dan Tierney menyatakan,(Tristiantari and Sumantri 2016:6) bahwa kemampuan membaca sebagai proses mental yang aktif melibatkan pengajaran mendapatkan makna teks. Oleh sebab itu, proses memahami teks yang dibaca melibatkan aktivitas-aktivitas kognitif, khususnya yang melibatkan kesadaran metakognitif. Jika dipandang dari segi penguasaan membaca, pada dasarnya hubungan antara penguasaan kemampuan membaca dengan strategi metakognitif yang digunakan mempunyai hubungan.

Menurut Fuad Efendi, (Sudiarti 2015:30) inti dari kemahiran membaca terletak pada aspek kedua, hal ini tidak berarti kemahiran dalam aspek pertama tidak penting, sebab kemahiran dalam aspek pertama menadasari kemahiran yang kedua.

Apakah kedua aspek tersebut, yaitu: pertama mengubah lambang yang berupa tulisan menjadi sebuah bunyi yang benar, dan yang kedua memahami seluruh arti dari yang dilambangkan dengan lambang-lambang tulis dan bunyi.

Nist dan Mealey(Maziyah 2018:3) juga berpendapat tentang kemampuang seseorang dalam membaca, menurut pemaparan mereka, meyakini bahwa metakognisi dalam tugas-tugas membaca adalah hal yang paling berpengaruh. Ini menjelaskan kenapa keterampilan membaca sanggat berpengaruh bukan hanya dalam segi arti tapi juga makna yang terkandung didalam nya.

2. Kesulitan Membaca Teks Berbahasa Arab

Menuru Pearson(Wahdah 2018:5) terdapat beberpa sebab mengapa banyak orang kesulitan dalam membaca teks berbahasa arab, yaitu :

a. Faktor yang bersifat intrinsik (yang berasal dari dalam pembaca) antara lain meliputi kepemilikan kompetensi bahasa si pembaca, minat, motivasi, dan kemampuan membacanya.

(4)

b. Faktor yang bersifat ekstrinsik (berasal dari luar pembaca). dibagi menjadi dua kategori, yakni :

1. unsur yang berasal dari dalam teks bacaan 2. unsur yang berasal dari luar lingkungan bacaan

Hal serupa juga ditemukan oleh Mardiyah. Beliau berpendapat bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang dalam membaca teks berbahasa arab, yaitu kemauan para mahasiswa yang kurang semangat untuk membaca teks yang berbasis bahasa Arab, kurangnya mahsiswa dalam melatihan keterampilan membaca, mereka cenderung jarang melakukan kegiatan berdiskusi antara satu dengan lain ketika membaca teks bahasa Arab, hasil belajar yang rendah juga menjadi faktor yang mengakibatkan mahasiswa tidak semangat dalam membaca teks bahasa Arab, dan lambatnya dalam mengerjakan tugas.(Wahdah 2018:6)

Menurut dua teori diatas maka dapat disimpulkan bahsa untuk membaca teks berbahasa ara dibutuhkan minat dan pengetahuan terhadab bahasa arab. Sanggat jarang orang yang non arab lancar dan fasih dalam membaca teks atau tulisan yang notaben nya menuggunakan bahasa arab yang pada umumnya tidak memilik tanda baca atau yang sering kita sebut harokat.

Problematika Pembelajaran Bahasa

Pembelajaran bahasa Arab untuk kalangan ‘Ajamiyyin dimulai dari perama kali pada Abad -17, ketika bahasa arab mulai diajarkan di Universitas Cambrige Inggris, sementara di Amerika Serikat ,peminatan terhadap bahasa Arab dan Pembelajarannya baru dimulai pasca Perang Dunia II yaitu ditahun 1947 disekolah-sekolah tentara Amerika. Di Mesir, banyak central studi bahasa Arab, diawali dengan adanya proyek pengembangan dan centralisasi bahasa Arab yang dilengkapi dengan perencanaan materinya.(Hidayat 2012a:84)

Salahsatu faktor problematika pembelajaran bahasa Arab adalah problem linguistik yaitu kesulitan-kesulitan terhadap siswa dalam proses memahami yang diakibatkan oleh susunan kata bahasa Arab sebagai bahasa Asing itu sendiri. Problem yang datang adalah kurangnya profesionalisme guru dalam menyampaikan ilmu dan keterbatasannya komponen yangakan terlaksananya proses pembelajaran bahasa Arabbaik dari segi tujuan, materi, kegiatan belajar mengajar, methode, alat, sumber pelajaran, dan alat evaluasi.(Hidayat 2012a:85)

Ada beberapa point penting yang menjadi permasalahan dalam pembelajaran bahasa kedua, baik dari aspek kebahasaan (linguistik) maupun nonlinguistik. Dari aspek linguistik yakni; Tata Bunyi, Kosakata, Tata kalimat, tulisan. Dan dari aspek nonlinguistik yakni; faktor sosio-kultural, faktor buku ajar, faktor lingkungan sosial, faktor siswa, faktor usia, faktor bahasa pertama, metode, kurikulum, media dan sarana prasarana, guru, waktu belajar, sosial politik. Berikut akan dijelaskan masing- masingnya.(Sar’an 2019:93)

(5)

1. Permasalahan dalam Aspek Linguistik A. Tata Phonetik (Bunyi)

Perlu diketahui bahwa di berbagai madrasah, pesantren, masjid dan bahkan rumah-rumah penduduk, pembelajaran Al-Quran diiringi oleh pengajaran tata bunyi bahasa Arab yang lazim disebut makhariju huruf, sebuah istilah yang biasa dikenal dalam ilmu tajwid. Akan tetapi ilmu tajwid hanya meusatkan perhatiannya pada kepentingan kemahiran membaca Al- Quran, bukan untuk tujuan kemahiran perkembangan bahasa Arab. Padahal, tidak semua aturan tata bunyi dalam tajwid Al-Quran disamakan bagi penutur bahasa Arab.(Sar’an 2019:94)

Akibat dari kurangnya perhatian terhadap pembelajaran bahasa Arab dengan bunyi atau suara banyak melakukan kesalahan dalam menulis ketika pelajaran didiktekan.

B. Kosakata

Saat ini terdapat banyak kata dan istilah Arab yang diserap dan dimasukkan ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Sebenarnya, semakin banyak kata-kata yang berasal dari mufrodaat Arab yang kemudian menjadi perbendaharaan kata bahasa Indonnesia. Semakin mudah untuk memahami kosakata dan maknanya, serta melekatkannya ke dalam ingatan seseorang. Serapan istilah baru dan mufrodaat baru sangat menguntungkan orang-orang yang mempelajari bahasa Arab di Indonesia dari pada di Amerika, Inggris dan negara-negara lainnya karena di Indonesia pelajar lebih cepat dan lebih banyak menghimpun perbendaharan kosakata baru. Langkah ini dapat dijadikan asas untuk meng akulturasikan kosakatabaru dan pengaturan urutan penyajian materi-materi bahasa Arab. Selain keuntungan, perpindahan dan penyerapan kata-kata dari bahasa asing ke dalam bahasa pelajar juga ada kerugiannya, antara lain :

1. Terjadinya Pergeseran Arti.

Seperti kata “kasidah” yang berasal dari kata qasidah. Kasidah dalam bahasa Arab mempunyai arti sekumpulan bait syair yang mempunyai wazan qafiyah. Dalam bahasa Indonesia, kasidah memiliki arti hanya lagu-lagu Arab atau irama padang pasir dengan kata-katanya yang puitis (berbentuk syair).(Sar’an 2019:94)

2. Lafadnya Berubah dari Bunyi Aslinya tapi Artinya Tetap

Contoh kata “harakat” dalam bahasa Indonesia, sedangkan bahasa Arab melafadkan harakah dan contoh lain adalah kata “selamat” dalam bahasa Indonesia, “salamah” dalam bahasa Arab.

3. Lafadnya Tetap tapi Maknanya Berbeda.

Seperti kata “kalimat”, dalam bahasa Indonesia diartikan susunan kata-kata (jumlah), sedangkan dalam bahasa Arab mengartikannya sebagai kata-kata.Berkaitan dengan problematika kosakata tersebut perlu diketahui bahwa banyak segi-segi sharaf (morfologi) dalam bahasa Arab yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, semisal konjungsi (tashrif).(Sar’an 2019:94)

(6)

C. Tata Kalimat

Dalam membaca teks bahasa Arab, para pelajar harus memahami artinya terlebih dahulu. Dengan begitu mereka akan bisa membacanya dengan benar. Hal ini tidak lepas dari pengetahuan tentang ilmu nahwu dansharaf dalam bahasa Arab yakni untuk memberikan pemahaman bagaimana cara membaca yang benar sesuai kaidah-kaidah bahasa Arab yang benar.

Sebenarnya ilmu nahwu tidak hanya berkaitan dengan I’rab dan bina, melainkan juga penyusunan kalimat, sehingga kaidah-kaidahnya mencakup hal-hal selain I’rab dan bina seperti al-muthabaqah (kesesuaian) dan al- mauqi’iyyah (tata urut kata). Kesesuaian seperti kesesuaian mubtada’ dan khabar, sifat dan maushuf, persesuaian dari segi jenis kelamin yakni mudzakar dan muannats, persesuaian dari segi jumlah yakni mufrad, mutsanna, dan jama’, dan segi ma’rifah dan nakirah. Adapun contohnya sebagai berikut :

رضاح بلاطلا :

Tunggal Laki laki

نارضاح نابلاطلا

: dua laki-laki

: نورضاح بلاطلا Jamak lakilaki

Sedangkan al-mauqi’iyyah seperti fi‟il (kata kerja) harus terletak di depan atau mendahului fa’il (pelaku pekerjaan) dan khabar (prediket) haruslah terletak sesudah mubtada’ (subyek) kecuali apibula khabar itu zharaf (keterangan waktu/tempat) atau jar dan majrur, maka boleh mendahului mubtada’. Jadi tata kalimat bahasa Arab memang tidak mudah dipahami oleh pelajar bahasa non Arab, seperti yang ada di Indonesia, meskipun ia sudah menguasai gramatika bahasa Indonesia, ia tidak akan menemukan perbandingannya dalam bahasa Indonesia.(Sar’an 2019:96)

D. Tulisan

Tulisan Arab yang berbeda dengan tulisan latin, juga menjadi kendala tersendiri bagi pelajar bahasa Arab non Arab, khususnya di Indonesia.

Tulisan latin di mulai dari kanan ke kiri, sedagkan tulisan Arab dimulai dari kiri ke kanan. Huruf latin hanya memiliki dua bentuk, yaitu huruf kapital dan huruf kecil, sedangkan huruf Arab mempunyai berbagai bentuk, yaitu bentuk berdiri sendiri, awal, tengah, dan akhir. Misalnya huruf „ain ( ع ) bentuk berdiri sendirinya , ع bentuk awalnya ـــع., bentuk tengahnya ــعــ, dan bentuk akhirnya عـــــــ. Dengan sejumlah perbedaan tulisan yang ada antara bahasa Arab dengan bahasa Indonesia atau latin ini maka bagi para pelajar Indonesia tidak mudah menulis huruf-huruf Arab apalagi menuangkannya dalam karangan yang panjang dan memiliki nilai keindahan, kecuali para pelajar yang telah melalui proses belajar yang panjang dan teratur.(Sar’an 2019:96)

(7)

E. Morfologi (Sorf)

Morfologi adalah studi sususnan kata- kata yang terdiri dari beberapa perubahan bentuk kata, menurut sistem yang ada pada morfologi tersebut(Hidayat 2012a:86). Beberapa hal penting Problematika Morfologi ini diantaranya:

1. Banyaknya bab dan topik sharf, dimana setiap bab dan topik itu mempunyai kaidah-kaidah tertentu yang terkadang menyita waktu dan menyulitkan.

2. Integrasi antara bab sharf dan Nahw

3. Gabungan Sima’ dan Qiyas pada sebagian bab sharf, seperti: satu fiil mempunyai 2 masdar

4. Kesulitan dalam tata bunyi / phonetik, berpengaruh kepada kesulitan memahami Morfologi / Sharf.

2. Permasalahan non Linguistik

Problematika Non Linguistik ini adalah probleblematika yang muncul diluar zat bahasa itu sendiri, hal ini bisa dilihat dari beberapa unsur, diantaranya : 1. Guru / Pendidik yang kurang memiliki kompetensi sebagai pengajar Bahasa

Arab, baik kompetensi paedagogik, profesional, personal atau Sosial.

2. Peserta didik yang tidak mempunyai motivasi kuat dalam pembelajaran bahasa Arab, atau latar belakang peserta didik dalam pemahaman bahasa Arab.

3. Materi ajar yang kurang relevan lagi dengan kebutuhanyang ada bagi peserta didik.

4. Sarana dan prasarana yang kurang memadai dan mendukung dalam proses pembelajaran bahasa Arab.(Hidayat 2012a:87)

Metode Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan pendekatan studi kasus dimana peneliti terjun langsung kelapangan untuk melakukan penelitian. Penelitian yang digunakan peneliti yaitu sifatnya kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya prilaku, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik, dan dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.(Sungkar n.d.:147). Untuk memeriksa keabsahan data peneliti menggunakan metode penelitian yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan juga tes.

Hasil Penelitian

1. Asrama Zona Qur’an Universitas Darussalam Gontor

Asrama ini di asaskan pada tahun 2016, asrama khusus paraa mahasiswa yang mempunyai minat hafalan qur’annya tinggi dan mampu mencapai target

(8)

yang telah di tetapkan para musrif tahfidz Qur’an. Dan disetiap subuh tepat mereka diwajibkan untuk membaca hadist yaumiyah yang sumber nya dari buku-buku hadust turast seperti Kitab Arbain karya Imam Nawawi, dan Kitab Bulughul Maram kitab dari Abu Hajar Al Astqaliy.

Dan setelah peneliti melihat permasalahan di lapangan, bahwa ada sebagian besar mahasiswa yang kurang bisa dalam membacakan hadist tersebut, terutama dalam penempatan harakat dan mengenai Irob.

Berdasarkan dari hasil observasi, wawancara, tes dan dokumentasi di lapangan, dapat peneliti temukan bahwa pembelajaran maharah qiroah pada mahasiswa zona qur’an meliputi.

A. Tanqih qirah kepada musrif sebelum membacakan hadist yaumiy

Sebelum mahasiswa membacakan hadist yaumiy. Mereka dijadwalkan untuk mentanqih bacaanya kepada para Musrif dari kalangan dosen.

B. Tajdid bacaan secara mandiri dan diulang ulang.

Setelah mentanqih bacaannya, mahasiswa mengulang-ulang bacaannya sampai benar. Dan teman temanya yangakan menyimak dan mengoreksinya lagi.

Berdasarkan hasil wawancara, interview dan dokumentasi peneliti mendapati proses pembelajaran mahawah qira’ah di zona Qur’an :

Pembeljaran Maharah qira’ah itu meliputi A. Mufradat

1. Memperdengarkan dan mencatat mufradat baru 2. Dihafalkan

3. Digunakan untuk mentakbirkan uslub baru B. Ashwat

1. menterjemah teks Arab

2. Memperbaiki bacaan yang salah C. Qawaid

1. Menjelaskan kaidah yang terkandung dalam teks 2. Memberi contoh

3. Memberi latihan

Berdasarkan bagan diatas dapat diketahui bahwa muatan dalam pembelajaran maharah qiro’ah mencakup beberapa aspek yang saling berkaitan satu sama lain. Jika dari salah satu aspek peserta didik tidak menguasainya dengan baik maka ia kan sulit untuk mempelajari maharah qiro’ah dengan baik.

Problematika Pembelajaran Maharah Qira’ah

Adapun permasalahan pembelajaran maharah qira’ah di zona qur’an meliputi A. Mufrodat

1. Banyak dari kalangan mahasiswa yang kurang penguasaan mufrodat B. Ashwat

1. Sebagian Mahasiswa masih kesulitan dalam menentukan majrur, mansub, dan majzum

C. Qowaid

(9)

1. Sebagian peserta didik sulit memahami kaidah kata/kalimat dan menerapkan kaidah tersebut

Dari penjelasan bagan diatas dapat diketahui probem linguistik yang dihadapi oleh peserta didik dalam pembelajaran maharah qiro’ah. Jika dijabarkan sebagai berikut :

a. Aspek Fonologi (tatabunyi)

Dari segi bunyi, sebagian Mahasiswa belum mampu membedakan huruf hijaiyah yang satu dengan yang lain. Seperti : ذ dibaca زد . Huruf س dibaca ش, , dan huruf-huruf isti’la seperti ق،خ،غ,ظ,ط,ض,ص dan sebagian yang lain sudah bisa membedakan antar huruf-huruf hijaiyah akan tetapi dalam membaca kata/kalimat masih bingung dan belum lancar.

b. Aspek morfologi

Para mahasiwa masih sangat minim dalam pembendaharaan kosakata sehingga berdampa dalam membaca teks bahasa Arab. Yang mana tujuan dari pembelajaran maharah qiro’ah adalah mahassiwa mampu memaknai kata atau kalimat yang terkandung dalam teks baik itu secara tersurat ataupun tersirat.

c. Qawaid

Dari segi qawaid mahasiswa zona qur’an masih banyak yang belum mengusai sehingga masih kesulitan dalam memahami dan menerapkan kaidah yang telah dipelajari. Padahal pembelajarn qawaid ini sudah diajarkan seelah tamat dai pondok. Akan tetapi setelah diteliti kebanyakn mahasiswa hanya bisa di dalam muhadastah saja.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan maka dapat disimpulkan b Problematika linguistik dalam pembelajaran maharah qiro’ah meliputi sebagai berikut:a) Fonologi Mahasiswa masih kurang mampu mengucapkan teks bahasa Arab dengan baik dan benar sesuai dengan makhraj hurufnya khususnya pada lafadz, ،ز،ش،ذ

،ص

،ض

،ح ،ه

خ banyak yang masih sama dalam pengucapannya seperti ذ dan ز .b) ه, MorfologiMahasiswa masih kurang mampu membedakan bentuk suatu huruf dalam bahasa Arab. Dalam hal ini Shorof masih kurang, peserta didik belum mampu membedakan muannats dan mudzakkar.c) Sintaksis Mahasiswa masih belum mampu membedakan tanda baca dalam bahasa Arab dalam hal ini tentang harakat kashroh atau majrur setelah bertemu dengan huruf jar, kalimat apabila kemasukan amil. Dapat disimpulkan pengetahuan peserta didik mengenai Nahwu belum secara menyeluruh.d) SemantikMinimnya pembendaharaan kosakata yang dimiliki Mahasiswa sehingga mereka masih mengalami kesulitan untuk memahami isi bacaan dan menterjemahkan teks berbahasa Arab kedalam bahasa Indonesia.

Dari kesimpulan diatas peran linguistik dalam pembelajarn maharah qiro’ah tidak bisa dilepaskan antara aspek satu dengan aspek yang lain atau hanya menyukai satu aspek saja. Jika seperti itu maka akan sulit untuk mempelajari bahasa Arab khususnya pembelajaran maharah qiro’ah. Oleh karena itu, peserta didik harus sadar betul, dalam pembelajarah Nahwu, shorof, mufradat, hiwar, ashwat dan kitabah itu

(10)

semua merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Untuk menguasi empat maharat lughowiyah harus menguasi linguistik dalam mempelajarinya.

Daftar Pustaka

Aan Hasanah. Pengembangan Profesi Keguruan. Bandung: Pustaka Setia, 2012 Abdul Chaer. Linguistik Umum. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya, 2003

Abdul Chaer. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002 Abdul Hamid. Mengukur Kemampuan Bahasa Arab. Malang: UIN MALIKI PRESS, 2010 Ainul Haq. “Peran Linguistik Dalam Pengembangan Pengajaran Bahasa Arab”.

Jurnal OKARA. Vol. II No 7 tahun 2012

Anwar Abd Rahman. Keterampilan Membaca Dan Teknik Pengembangannya Dalam Pembelajaran Bahasa Arab, Jurnal Diwan. Vol. 3 Nomor 2/2017

Debdikbud. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang, 2002

E. Sadtono. Ontologi Pengajaran Bahasa Asing. Jakarta : DEPDIKBUD, 1987 Erlina. Implementasi Teknik Pembelajaran CIRC. IAIN Lampung : LP2M, 2013 Farida Rahim. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara: 2008 Ibn Jiny. Al-Khashaish. Muhammad Ali Al-Najjar (ed.), Libanon: Dar Al-Kitab AlAraby, 1952 Jilid 1

Lexy J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif . Bandung : Remaja Rosdakarya , 2007 M. Ramlan. Sintaksis. Yogyakarta: CV. Karyono, 1987

Muhammad Ali Al-Kulli. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab. Yogyakarta: Basan Publishing, 2010

Mulyanto Sumardi. Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Di Perguruan Tinggi Islam.

Jakarta: DEPAG, 1976 Suja’i. Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab. Semarang:

Walisongo Press, 2008

Syamsudin, dkk. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2006

Verhaar. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Pres, 2010 Wa Muna. Metode Pembelajaran Bahasa Arab. Yogyakarta : Teras, 2011

Referensi

Dokumen terkait

22) The Upper Semarang Land Conservation and Poverty Allevation Project (PMR) pada Kementerian Dalam Negeri PPID Deputi  Perekonomian Dirwas 4 Jakarta    Juni 

1) Persepsi kegunaan, persepsi kemudahan penggunaan, persepsi manfaat, dan persepsi biaya secara simultan berpengaruh terhadap niat menggunakan PC Tablet

Adapun beberapa hal pada rancangan yang perlu untuk diperbaiki dan menjadi masukkan untuk perancangan Perancangan Kampung Kebun Bersusun di Jogoyudan, dengan Pendekatan Open

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka di dapat rumusan masalah yaitu, “Bagaimana menerapkan aplikasi data mining penjualan motor

Perasaan negatif dapat muncul saat para pengurus pondok pesantren merasa gagal untuk mengendalikan atau mengarahkan santri-santri lain agar tidak melanggar

Mengikutsertakan hasil riset khususnya RIFOS (hasil yang sudah diaplikasikan) dalam kompetisi pengabdian masyarakat yang diadakan universitas tertentu. Membagikan kegiatan riset

Di antara ketentuan-ketentuan baru yang terdapat dalam Undang-Undang tentang alasan-alasan pembatalan perkawinan pada keempat negara di atas yang berbeda dengan ketentuan dalam

Lokasi yang berdekatan dengan muara sungai, tidak dianjurkan untuk pembesaran Ikan Kerapu Macan karena lokasi tersebut salinitasnya sangat berfluktuasi karena