1 1.1 Latar Belakang
Pembangunan memiliki peran yang sangat penting dalam suatu negara, dengan adanya pembangunan maka suatu negara dapat diketahui sedang mengalami kemajuan atau kemunduran. Salah satu sektor pembangunan yang paling penting dalam suatu negara adalah sektor pembangunan ekonomi.
Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang fokus melakukan pembangunan di bidang sektor perekonomian, hal ini disebabkan ekonomi Indonesia mengalami kemunduran akibat dari pelemahan ekonomi global, kemunduran ini bisa kita lihat dari diagram laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita atas dasar harga konstan 2010-2014 dibawah ini :
Gambar 1. 1 Laju Pertumbuhan PDB Sumber : Badan Pusat Statistik, 2015
Yang mana laju pertumbuhan PDB perkapita pada tahun 2014 hanya mencapai sebesar 3.6%, dan angka ini terus menurun dari tahun-tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini tentu saja berhubungan dengan melemahnya perekonomian masyarakat yang juga akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat, seperti meningkatnya jumlah pengangguran, rendahnya daya beli masyarakat, sulit menciptakan lapangan usaha dan lapangan pekerjaan. Menurut frinces, 2010 wirausaha memiliki peran penting dan menjadi solusi dalam mengatasi masalah tersebut.
David McClelland (Frinces:2010) menyatakan bahwa salah satu syarat suatu negara untuk mencapai tingkat kemakmuran yaitu diperlukan 2% dari jumlah penduduknya berprofesi sebagai wirausaha. Mengingat saat ini jumlah wirausaha yang ada diindonesia hanya 1.65% pada akhir tahun 2013 (Mopangga:2014) maka pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendorong masyarakat untuk berwirausaha, salah satu kebijakannya adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang mudah dan luas, dengan menurunkan bunga KUR dari 22% hingga 12%
(KKBPRI:2015), dengan demikian pemerintah berharap masyarakat lebih terdorong untuk berwirausaha dengan menciptakan peluang usaha untuk dirinya sendiri dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat lainnya.
Berwirausaha bisa dilakukan dengan banyak cara, salah satunya adalah bekerjasama dengan orang lain dengan membeli sistem bisnis yang sudah jadi (waralaba). Dalam bisnis waralaba, pemilik berinvestasi dan paketnya sudah siap pakai, merek mudah dikenal masyarakat, manajemen keuangan lebih mudah dan dukungan & keamanan yang kuat dari pemberi waralaba.
Selain memberikan keuntungan, bisnis waralaba juga dapat digunakan sebagai strategi pertumbuhan usaha kecil menengah (Imanullah:2012) dan sebagai strategi pengembangan usaha secara international (Robbins & Coulter:2012).
Itulah sebabnya kenapa saat ini waralaba menjadi salah satu sistem bisnis yang banyak diminati dan menjadi bagian yang tidak dapat dihindarkan lagi dalam praktik bisnis di Indonesia, siklus hidup bisnis waralaba di Indonesia sendiri sekarang berada pada tahap introduksi atau pertumbuhan (Halim, Hartono dan Kurniawan:2013).
Pada tahap pertumbuhan seperti ini menyebabkan munculnya banyak sekali bisnis yang berformat waralaba. Yang dimaksud berformat waralaba ada 3 yaitu Waralaba (memiliki Surat Tanda Pendaftaran Waralaba, sesuai dengan kriteria Kementerian Perdagangan Republik Indonesia), lalu peluang usaha (Business Opportunity) dan
Lisensi. Pertumbuhan waralaba di Indonesia bisa kita lihat dari jumlah perusahaan waralaba lokal yang mencapai 2100 perusahaan dan perusahaan asing yang mencapai 350 perusahaan, namun yang sangat disayangkan adalah dari 2100 perusahaan waralaba lokal hanya ada sekitar 100 perusahaan waralaba yang benar-benar sudah menjadi waralaba yang sesuai kriteria sebagai waralaba. Dan sisanya hanya pantas disebut sebagai peluang usaha (AFI:2014).
Bisnis waralaba di Indonesia memang didominasi oleh bidang kuliner (Halim:2015) namun untuk saat ini bidang pendidikan khususnya bimbingan belajar calistung (membaca, menulis, dan berhitung) untuk anak usia dini juga terus berkembang seiring dengan tingginya kesadaran orang tua terhadap pendidikan anaknya. Dan jika dilihat dari data BPS 5 tahun terakhir, jumlah anak di indonesia yang berusia 5-9 tahun masih banyak yang belum atau tidak mendapatkan pendidikan, bahkan jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun.
Tabel 1. 1 Data Jumlah Penduduk Yang Tidak/Belum pernah sekolah
Sumber : Badan Pusat Satistik, 2015
Sedangkan pada umur 5-9 tahun anak-anak berada pada masa produktif untuk belajar calistung. Data ini menunjukan bahwa masih banyak pasar dibidang waralaba pendidikan calistung yang belum terlayani, dan menunjukan bahwa peluang bisnis waralaba pendidikan anak usia dini di Indonesia masih sangat besar.
Data Jumlah Penduduk Yang Tidak/Belum Pernah Sekolah Dalam Persen (%)
Golongan Umur 2010 2011 2012 2013 2014
5-9 21,43 29,36 29,90 31,15 30,22
Di indonesia salah satu waralaba pendidikan anak usia dini yang cukup sukses adalah biMBA AIUEO, karena biMBA yang didirikan pada tahun 1996 itu hingga saat ini telah memiliki kurang lebih 1700 unit cabang yang tersebar diseluruh Indonesia (yunianto, 2 april 2016) meskipun angka tersebut cukup besar, tapi sebenarnya angka tersebut masih jauh dari target biMBA, dan jika dilihat dari pertumbuhan jumlah Unit setiap tahunnya pada gambar dibawah ini :
Gambar 1. 2 Pertumbuhan Jumlah Unit biMBA AIUEO Sumber : www.biMBA-aiueo.com, 2015
Menunjukan bahwa terjadi peningkatan pertumbuhan jumlah unit dari tahun 2011, 2012, 2013, dan 2014, dan pada tahun 2015 justru menurun, meskipun jumlah unit 2015 tetap bertumbuh, tetapi pertumbuhan jumlah unit tersebut lebih rendah dari tahun sebelumnya. Padahal jika dilihat dari besarnya jumlah pasar yang belum terlayani pada Tabel 1.1 dan besarnya peluang yang ada seharusnya pertumbuhan jumlah unit biMBA AIUEO bisa terus meningkat setiap tahunnya. Namun pada kenyataannya intensi untuk membeli bisnis waralaba pendidikan ini justru menurun jika dilihat dari gambar 1.2 diatas. Melihat kondisi ini bisa dikatakan bahwa biMBA AIUEO telah mencapai tahap mature dan menuju decline didalam life cycle produk.
Hal ini merupakan masalah bagi biMBA AIUEO karena bisa berdampak buruk untuk kedepannya, oleh karena itu masalah ini perlu diselesaikan agar biMBA bisa memperoleh kembali pertumbuhan penjualan yang lebih baik.
Menurunnya niat membeli bisnis waralaba ini bisa disebabkan oleh banyak hal salah satunya adalah kurangnya informasi mengenai bisnis waralaba yang ditawarkan. Pada masa sekarang ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh pemberi waralaba untuk memperkenalkan bisnisnya, salah satunya adalah melalui media internet yang dinilai lebih berpotensi karena dapat dilakukan 24 jam 7 hari dalam seminggu, dan situs web menjadi salah satu media internet yang paling banyak digunakan saat ini, termasuk biMBA yang juga menggunakan situs web sebagai media untuk memberikan informasi dan memperkenalkan bisnisnya.
Pihak biMBA menyatakan bahwa situs web merupakan salah satu media yang paling efektif untuk memperkenalkan bisnisnya karena sebagian besar calon investor dan mitra yang sudah bekerja sama mengenal bimba melalui situs web mereka. Meskipun masih menggunakan situs web sebagai media untuk memperkenalkan bisnisnya, namun untuk 1 tahun terakhir ini penjualan biMBA mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya dan menurut pengamatan mereka hal ini terjadi karena adanya penurunan dari kualitas situs web mereka, yang mana hal ini disebabkan karena keterbatasan jumlah karyawan, sehingga pada implikasinya menyebabkan situs web perusahaan menjadi tidak update karena kurang maintanance (Yunianto, 2 april 2016).
Sebagai salah satu media yang paling efektif bagi biMBA untuk memperkenalkan bisnisnya, maka penulis menilai penting untuk melakukan pengukuran dan perbaikan terhadap kualitas dari situs web biMBA untuk mengetahui informasi penting apa yang dibutuhkan dalam sebuah situs web untuk bisa mendorong niat calon investor untuk membeli bisnis waralaba pendidikan ini.
Alasan memilih kualitas situs web menjadi salah satu variabel dalam penelitian ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa kualitas situs web berpengaruh terhadap niat membeli, karena perusahaan yang memiliki kualitas situs web yang baik akan menumbuhkan niat konsumen untuk membeli (Halim:2015, Saleh:2015).
Dalam menjalankan bisnis apapun untuk bisa memenangkan kepercayaan dari konsumen adalah hal yang paling penting (Saleh:2015) termasuk juga dalam bisnis waralaba, di dalam bisnis waralaba kepercayaan penerima waralaba terhadap pemberi waralaba dapat dibedakan menjadi 2 yaitu percaya terhadap institusi (perusahaan waralaba) dan terhadap individu (pemilik bisnis waralaba) yang mana percaya itu merupakan modal utama sebelum seseorang (calon investor) ingin membeli sebuah bisnis. Percaya terhadap pemberi waralaba dianggap penting karena sebuah bisnis tidak akan berjalan apabila calon penerima waralaba tidak percaya terhadap calon pemberi waralaba (Halim,2015). Hal serupa juga dikatakan dalam penelitian sebelumnya Davies et al (2011) yang menyatakan bahwa keberhasilan sebuah bisnis waralaba sangat bergantung pada kepercayaan antara pemberi waralaba dan penerima waralaba. Untuk mengetahui apakah faktor percaya pada pemberi waralaba itu penting untuk diteliti dalam bimba maka peneliti melakukan mini survei kepada 30 orang investor biMBA dengan cara memberikan kuisioner tertutup sbb:
Tabel 1. 2 Hasil Mini Survei
Faktor yang mendorong niat saya untuk membeli bisnis waralaba adalah
Responden
Tertarik pada bidang bisnis tersebut 11
Percaya pada pemberi waralaba 16
Rekomendasi teman/saudara 3
Sumber : Peneliti, 2016
Dari hasil kuisioner sebanyak 16 orang menyatakan bahwa faktor yang mendorong niat mereka untuk membeli bisnis waralaba adalah karena percaya pada pemberi waralaba (termasuk percaya pada perusahaan dan kompetensi dari perusahaan), kemudian 11 orang menyatakan terdorong untuk membeli karena tertarik pada bidang bisnis tersebut, dan sisanya 3 orang menyatakan terdorong karena rekomendasi dari teman/saudara pentingnya. Dari hasil survei ini bisa disimpulkan bahwa faktor percaya pada pemberi waralaba ini cukup penting untuk mendorong niat calon investor untuk membeli bimba dan bisa dikatakan bahwa penurunan pertumbuhan penjualan biMBA 1 tahun terakhir ini dikarena adanya penurunan kepercayaan calon investor terhadap perusahaan.
Ajzen (1975) dalam teori planned behavior menjelaskan bahwa kendali perilaku merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi niat seseorang dalam melakukan suatu perilaku, peneliti sebelumnya juga menggunakan kendali perilaku sebagai salah satu variabel penelitian yang dapat mempengaruhi intensi dalam membeli sebuah bisnis waralaba, karena kendali perilaku merupakan kontrol yang dapat membatasi seseorang untuk melakukan sebuah niat, dan dari hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa terdapat pengaruh antara kendali perilaku terhadap niat membeli bisnis waralaba (Halim:2015).
Berdasarkan teori dan rujukan tersebut maka peneliti ingin mengunakan variabel tersebut untuk diterapkan dalam biMBA, untuk melihat apakah variabel kendali perilaku ini juga berpengaruh terhadap niat membeli bisnis waralaba pendidikan anak usia dini. Karena menurut Halim (2015) kendali perilaku yang semangkin terukur dapat meningkatkan niat untuk membeli sebuah bisnis waralaba.
Dari latar belakang dan pembahasan masalah tersebut maka menurut peneliti penting untuk meneliti seberapa besar faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi intensi dalam membeli bisnis waralaba pendidikan anak usia dini dengan judul
“Pengaruh Kualitas Situs Web, Percaya Pada Pemberi Waralaba dan Kendali Perilaku Terhadap Intensi Membeli Bisnis Waralaba Pendidikan Anak Usia Dini”.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah Kualitas Situs Web berpengaruh terhadap Intensi Membeli Bisnis Waralaba Pendidikan
2. Apakah Percaya Pada Pemberi Waralaba berpengaruh terhadap Intensi Membeli Bisnis Waralaba Pendidikan
3. Apakah Kendali Perilaku berpengaruh terhadap Intensi Membeli Binis Waralaba Pendidikan
1.3 Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah
1. Untuk mengetahui pengaruh Kualitas Situs Web terhadap Intensi Membeli Bisnis Waralaba Pendidikan
2. Untuk mengetahui pengaruh Percaya Pada Pemberi Waralaba terhadap Intensi Membeli Bisnis Waralaba Pendidikan
3. Untuk mengetahui pengaruh Kendali Perilaku terhadap Intensi Membeli Bisnis Waralaba Pendidikan
1.4 Ruang Lingkup Penelitian
Agar penelitian ini dapat memperoleh hasil yang maksimal dan relevan maka ada beberapa hal yang menjadi batasan dalam pelitian ini :
1. Variabel laten eksogen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kualitas Situs Web, Percaya Pada Pemberi Waralaba, Kendali Perilaku.
2. Variabel laten endogen yang digunakan adalah Intensi Membeli Waralaba.
3. Penelitian ini menggunakan data dari kuisioner yang disebar kepada responden, yang mana responden yang mengisi kuisioner ini adalah investor yang sudah pernah membeli waralaba pendidikan anak usia dini biMBA AIUEO didaerah jabodetabek.
1.5 Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis
Penelitian ini memberikan pengalaman, menambah pengetahuan dan wawasan penulis mengenai industri waralaba pendidikan, serta menjadi kesempatan bagi penulis untuk mempraktekkan teori - teori yang sudah didapat dibangku kuliah agar dapat melakukan riset ilmiah dan menyajikan dalam bentuk tulisan dengan baik.
2. Bagi Industri Waralaba
Penelitian ini dapat memberikan masukan kepada industri waralaba mengenai faktor penentu apa yang dapat meningkatkan intensi pembelian bisnis waralaba terutama dibidang pendidikan anak usia dini.
3. Bagi Pembaca
Diharapkan dapat memberikan informasi dan menambah wawasan bagi para pembaca yang tertarik pada bidang penelitian ini. Dan dapat dijadikan sebagai referensi dan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.
1.6 State Of The Art
Tabel 1. 3 State Of The Art
No Peneliti Judul Hasil
1 Halim (2015) Analysis of Determining Factors to Increase the Intention to Purchase Culinary Franchise Business
Keunggulan waralaba, norma subjektif, kendali perilaku, kualitas situs web dan percaya pada
pemberi waralaba memberikan pengaruh positif terhadap intensi membeli bisnis waralaba.
2 Saleh (2015) The effect of Website Quality on consumer’s Perceived Trust and the impact on purchase intention of International Franchise Business Management’s services
Website quality dan perceived trust memiliki dampak positif dan signifikan terhadap purchase intention pada International Franchise Business Management.
3 Chiou, Hsieh, dan Yang (2004)
The Effect of Franchisor’s Communication, Sevice Assistance, and Competitive Advantage on Franchisees Intentions to Remain in the Franchise System
Ada pengaruh positif percaya pada waralaba terhadap intensi bertahan dalam bisnis waralaba
Tabel 1. 3 State Of The Art
No Peneliti Judul Hasil
4 Kreitner dan Kinicki (2007)
Organizational Behavior Adanya kepercayaan kepada pemilik perusahaan dan kompetensi perusahaan
5 Jamaludin dan
Ahmad (2013)
Investigating the Relationship Between Trust and Intention To Purchase Online
Adanya pengaruh positif antara kepercayaan terhadap intensi membeli
6 Chandon, Morwitz, dan Reinartz (2004)
The Self-generated Validity of Measured Purchased Intentions
Adanya pengukuran untuk intensi membeli
7 Mohmed, Azizan dan Jali (2013)
The Impact of Trust and Past Experience on Intention to Purchase in E-Commerce
Adanya kepercayaan yang mempengaruhi intensi membeli konsumen
8 Modell (2010) Trust : Key to Successful Franchise Relationship
Kepercayaan menjadi kunci kesuksesan waralaba
9 Justis dan Judd (2002)
Franchising Adanya faktor - faktor yang dipertimbangkan dalam membeli waralaba untuk mempercepat perkembangan bisnis
10 Sherman dan Yarkin (2011)
Mergers & Acquisitions in Franchising
Adanya faktor-faktor yang mendorong permintaan waralaba dan pertimbangan perencanaannya
Sumber : Peneliti, 2016