• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Kesadaran Hukum Masyarakat Etnis Tionghoa Muslim Di Kota Surakarta Dalam Pembagian Warisan

1. Gambaran Umum Objek Penelitian

a. Eksistensi Etnis Tionghoa Muslim di Indonesia

Tionghoa adalah salah satu etnis asing yang membangun kebudayaan dan peradaban di Indonesia yang berasal dari Tiongkok (China). Sejarah mengenai keberadaan orang-orang Tionghoa di Indonesia sudah ada cukup lama. Berbagai sumber menunjukkan bahwa orang Tionghoa hadir di Indonesia yaitu sejak abad ke-5 dengan kunjungan pendeta Fa Hien di Malaka pada tahun 414, kemudian disusul Pendeta I Tsing pada tahun 671, Pendeta Ch‟ang Chun pada abad ke-7, dan Pendeta Chia Tan pada abad ke-8. Menurut Hidajat (1993: 53) pelayaran-pelayaran tersebut baru bersifat ekspedisi, bukan pelayaran migrasi. Masyarakat etnis Tionghoa memiliki kecenderungan yang begitu mencolok yaitu membuat lingkungannya sendiri, hidup secara eksklusif dengan tetap mempertahankan adat istiadat, serta melestarikan kebudayaan tradisi leluhurnya (Kong Yuanzi, 2005: 56-57). Kedatangan etnis Tionghoa ini sebagian besar dikarenakan hubungan ekonomi yaitu perdagangan. Jalur perdagangan nusantara telah menjadikan pertemuan antara etnis Tionghoa dengan masyarakat Indonesia yang menghasilkan hubungan perdagangan bahkan sampai kepada hubungan sosial, politik dan budaya. Perdagangan memainkan peranan terpenting dalam masuknya etnis Tionghoa ke wilayah nusantara. Melalui perdagangan ini pula etnis Tionghoa mulai menetap di kota-kota yang mereka singgahi dan terjadi kontak sosial yang dilakukan dengan penduduk lokal.

Hubungan etnis Tionghoa dan penduduk lokal bukan hanya sekedar kepentingan dagang, tetapi juga terjadi dalam kehidupan sosial keseharian.

(2)

2

Masyarakat etnis Tionghoa muslim adalah bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai salah satu corak dari identitas sosial Nusantara. Etnis Tionghoa muslim di Pulau Jawa sudah ada bahkan sebelum adanya masa penjajahan Belanda di Indonesia. Pada abad ke-14 hingga ke-16 di Nusantara sedang terjadi Islamisasi atau penyebaran Islam dan bersamaan dengan itu pula ada peneitian-penelitian yang menyatakan bahwa eksistensi Tionghoa muslim dan keikutsertaan mereka dalam penyebaran agaama Islam di Pulau Jawa terdapat sejak awal abad ke-15. Pada saat itu, menurut Handinoto dan Sameul Hartono (2007) orang-orang Tionghoa muslim sudah banyak bertempat tinggal di kota-kota pelabuhan, terutama di Pantai Utara. Orang-orang Tionghoa muslim disebut memiliki peran utama dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahkan dari beberapa sumber sejarah lokal daerah seperti Babad Tanah Jawa dan Serat Kanda, Tionghoa muslim mempunyai peran pokok dalam pendirian beberapa kerajaan Islam di Pulau Jawa. Kenyataan tersebut dibuktikan dengan keikutsertaan muslim Tionghoa membangun Kesultanan Demak. Dimana Kesultanan Demak merupakan pusat pemerintahan Islam di Nusantara kala itu. Bahkan beberapa wali di Jawa, yang dikenal dengan istilah Walisongo juga memiliki asal-usul keturunan Tionghoa, seperti Sunan Ampel dan Sunan Bonang.

Muslim Tionghoa berperan dalam penyebaran Islam di Nusantara, termasuk diantaranya ada seorang penjelajah asal Tiongkok yang beragama Islam bernama Cheng Ho atau Zheng He atau Sam Po Kong yang pernah berkunjung ke Indonesia. Cheng Ho mengadakan perjalanan ke Indonesia dengan tiga kali misi muhibah. Masing-masing adalah muhibah keempat (1413 M - 1415 M), muhibah keenam (1421 M - 1422 M), dan muhibah ketujuh (1431 M - 1433 M). Sejarahwan membuktikan adanya hubungan antara masyarakat Tionghoa dan kebudayaan lokal pada waktu itu dengan penggambaran gaya arsitektur masjid-masjidnya. Mereka menamakannya sebagai “subkultural Muslim Peranakan”, interaksi tersebut dilihat sebagai bentuk “persekutuan suci”

(3)

3

kosmpolitan, yang mencampurkan antara beberapa peran positif dari teologi Islam serta beberapa teknik pembangunan Tionghoa (Lombard dan Salmon, 2001). Muslim Tionghoa ini adalah para mufassir bermadzhab Hanafi yang kemudian mendirikan masjid di daerah Semarang (Rochmawati, 2004: 115). Bukti yang lain dari keterpengaruhan muslim Tionghoa pada masa itu, tampak dalam arsitektur-arsitektur di beberapa masjid dan berbagai makam tua di Pulau Jawa, seperti pada model arsitektur Masjid Demak di Jawa Tengah, model makam Sunan Giri di Gresik, dan corak dari Keraton Cirebon. Di Jakarta, Masjid Angke dan Masjid Kebon Jeruk juga memiliki ornamen Tionghoa di bagian pintu gerbang dan atapnya (Al Qurtuby, 2003).

Ketika rezim kolonial Belanda berkuasa, banyak kebijakan- kebijakannya semakin memecah belah persatuan . Rezim menciptakan batas-batas yang lebih tegas antara orang Tionghoa dan penduduk asli.

Dampaknya, semakin kecil jumlah orang Tionghoa yang memeluk Islam. Adanya pembagian warga dalam tiga kategori rasial, yang masing-masing memiliki hak hukum dan hak istimewa yang berbeda- beda. Orang-orang Eropa berada di posisi teratas, orang-orang Timur Asing (terutama Tionghoa, Arab, dan India) berada di tengah-tengah, serta orang pribumi berada di strata terbawah. Status ini kemudian menimbulkan penilaian di kalangan Tionghoa, bahwa status mereka lebih tinggi dari orang pribumi. Karena Islam rata-rata dipeluk oleh penduduk asli Indonesia, banyak orang Tionghoa beranggapan jika mereka memeluk Islam, sama saja dengan merendahkan derajat mereka.

Kendati demikian, masih ada beberapa orang Tionghoa yang memeluk Islam yang sebagian besar karena alasan keamanan dan ekonomi.

Pasca pembantaian massal penduduk Tionghoa oleh Belanda pada tahun 1740, banyak orang Tionghoa kemudian masuk Islam untuk menghindari kemungkinan menjadi korban. Ada juga yang masuk Islam agar diperlakukan sebagai pribumi dan dikenakan pajak lebih rendah.

Hal tersebut kemudian membuat Belanda mencegah konversi keagamaan bagi etnis Tionghoa karena menimbulkan kerugian yang besar bagi

(4)

4

pemerintah kolonial. Kendati terdapat ketegangan-ketegangan tersebut, keputusan memeluk Islam di kalangan Tionghoa tidak berhenti. Bahkan, beberapa dari mereka ikut terlibat dalam berbagai gerakan anti kolonial dan keagamaan di tingkat lokal. Pada awal 1930-an, ada kegiatan penyebaran Islam yang meningkat oleh Tionghoa Muslim kepada Tionghoa non-Muslim untuk masuk Islam. Bahkan di Sulawesi, Ong Kie Ho mendirikan Partai Islam yang membuatnya kemudian diasingkan ke Jawa pada 1932.

Meski demikian, pergerakan tidak berhenti. Pada 1933, didirikan Partai Tionghoa Islam Indonesia (PTII), tujuannya untuk mengangkat status etnis Tionghoa dengan cara masuk Islam. Di Medan, bersama beberapa pengikutnya Yap A Siong atau Haji Abdussomad mendirikan Persatuan Islam Tionghoa (PIT) pada 1936. Mereka berusaha mewujudkan keislaman dan identitas ketionghoaan mereka secara bersamaan. Pasca kemerdekaan, PIT yang saat itu dipimpin Abdul Karim Oei Tjeng Hien pindah ke Jakarta dan menggabungkan diri dengan perkumpulan Tionghoa Muslim yang berbasis di Bengkulu.

Mereka bergabung dan mendeklarasikan diri menjadi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) pada tanggal 14 April 1961. Namun karena situasi politik pasca 1965, PITI kemudian menghapuskan identitas Tionghoa dalam nama organisasinya.

Pada masa orde baru, pemerintahan Presiden Soeharto melarang semua bentuk ekspresi identitas etnis, budaya, dan keagamaan Tionghoa.

Pada waktu bersamaan, sistem pemerintahan juga meminggirkan etnis Tionghoa dalam arena-arena sosial, pendidikan, dan politik. PITI mengubah namanya menjadi Pembina Iman Tauhid Islam. Tidak hanya harus mengubah namanya, Presiden Soeharto juga memasukkan orang- orang militer di jajaran petinggi PITI. Bisa dikatakan, masa Orde Baru merupakan periode gelap dalam sejarah PITI. Angin segar bagi PITI baru berembus pasca runtuhnya rezim Orde Baru. Pada pertengahan Mei 2000, di bawah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid yang terkenal sangat plural, PITI diperbolehkan menggunakan kata Tionghoa

(5)

5

lagi sebagai namanya. Sejak saat itu, orang-orang Tionghoa muslim bisa lebih leluasa dalam menjalankan ibadah maupun budaya mereka.

Mereka juga menghidupkan kembali sejarah dan merawat ikatan mereka dengan umat Muslim di Tiongkok.

Pada mulanya, ketika hadir di Surakarta pada tahun 1746 masyarakat etnis Tionghoa harus tunduk kepada peraturan pemerintah kolonial yang diskriminatif. Masyarakat etnis Tionghoa diharuskan untuk mempunyai wilayah tempat tinggal mereka yang ditentukan wijkenstelsel, yaitu terpisah dari kelompok masyarakat yang lain, dan ruang geraknya juga dibatasi dengan sistem surat jalan passenstelsel (Rustopo, 2007: 62). Tempat tinggal orang Tionghoa di Surakarta dilokalisasikan di Kampung Balong. Kampung Balong adalah kampung pecinan yang dibangun pada masa kolonial Belanda. Mulai abad ke-20, orang-orang Tionghoa di Surakarta mulai menempati daerah strategis seperti Nonongan, Coyudan, dan Kelurahan Sudiroprajan atau yang lebih terkenal dengan daerah Pasar Gede dan sepanjang jalan Widuran Kelurahan Stabelan, yang terkenal dengan Pasar Legi. Menurut Rustopo (2007: 64) tahun 1960-an pedagang-pedagang Tionghoa sudah menjalar ke lokasi-lokasi strategis, seperti jalan-jalan di sekitar Pasar Legi, sekitar Pasar Gede, dan sekitar Pasar Singosaren. Pada masa Orde Baru (1966- 1998) hampir semua lokasi strategis atau jalan-jalan utama di Kota Surakarta ditempati oleh pedagang Tionghoa. Pembauran etnis Tionghoa dengan penduduk lokal lewat perkawinan menghasilkan percampuran adat yang kental. Tidak hanya dari sisi budayanya seperti adanya Grebek Sudiro namun juga menjamah pada sisi keagamanya.

Di bawah ini adalah persebaran penduduk Surakarta yang memiliki garis keturunan Tionghoa yang diperinci berdasarkan masing- masing kecamatan pada tahun 1980-2000, dan terus bertambah hingga saat ini:

Tabel 4. 1 .

Penduduk Warga Negara Republik Indonesia (WNI) Keturunan Tionghoa Diperinci Per Kecamatan Tahun 1980-2000 di Surakarta:

(6)

6

No. Kecamatan Tahun

1980 1983 1985 1988 1991 1993 1996 2000 1 Laweyan 1.880 1.880 1.887 1.880 1.833 1.764 1.715 1.161 2 Serengan 4.714 4.727 4.712 4.692 4.483 4.517 4.612 2.689 3

Pasar Kliwon

2.441 2.426 2.425 2.357 2.235 2.282 2.529 1.925 4 Jebres 9.680 9.697 9.649 9.631 9.015 8.499 8.765 6.875 5 Banjarsari 8.182 7.826 7.673 7.614 7.389 6.997 6.497 4.944 Jumlah 26.897 26.556 26.346 26.174 24.955 24.059 23.610 17.549 Sumber: Kartika Endhraswari Putri Interaksi Etnis Tionghoa Dan Jawa Di Surakarta Tahun 1980-1998 (Studi Kasus Pola Perkawinan Campur Etnis Tionghoa Dan Jawa Di Surakarta)

b. Selayang Pandang Kota Surakarta 1) Sejarah Kota Surakarta

Kota Surakarta atau yang terkenal dengan sebutan “Solo”

ataupun “Sala” berasal dari nama desa yang dipilihkan oleh Sultan Pakubuwono II ketika akan mendirikan istana yang baru, setelah perang suksesi Mataram terjadi di Kartasura. Nama “Surakarta”

mulai dipakai sebagai nama administrasi ketika Kasunanan didirikan sebagai kelanjutan monarki Kartasura. Pada masa sekarang, nama Surakarta digunakan dalam situasi formal-pemerintahan, sedangkan nama Sala/Solo lebih umum dalam penggunaannya. Kata sura dalam bahasa Jawa berarti “keberanian” dan karta berarti

“sempurna”/“penuh”. Dapat pula dikatakan bahwa nama Surakarta merupakan permainan kata dari Kartasura. Keberadaan kota Surakarta telah dimulai sejak tempat kedudukan raja dari yang semula berada di Kartasura berpindah ke ke Dusun Sala di tepi Bengawan Solo, dipindahkan oleh Kasultanan Mataram.

Melalui peresmian, tanggal 17 Februari 1745 keraton sudah mulai ditempati. Dampak dari adanya perpecahan di daerah kerajaan, di Surakarta terdapat 2 keraton yang masih berdiri yakni

(7)

7

Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran. Hal ini membuat Kota Surakarta menjadi kota dengan 2 wilayah administrasi. Baru pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah Republik Indonesia berdiri, politik kekuasaan dari 2 kerajaan tersebut dibubarkan. Kota Surakarta memiliki kedudukan setara dengan provinsi, yang terkenal dengan sebutan Daerah Istimewa Surakarta (DIS) selama 10 bulan.

Kemudian pada tanggal 16 Juni 1946 pemerintah Indonesia melikuidasi DIS karena gerakan anti monarki di Kota Solo berkembang sehingga menimbulkan kerusuhan, penculikan, dan pembunuhan para pejabat DIS, oleh karenanya kekuasaan dari 2 kerajaan Kasunanan dan Mangkunegaran dihilangkan. Kedududkan Susuhunan Surakarta dan Adipati Mangkunegara berubah menjadi rakyat pada umumnya di lingkungan masyarakat, begitu pun wilayah Keraton yang diubah menjadi pusat pengembangan seni dan budaya di Pulau Jawa. Kota Solo diputuskan sebagai daerah kedudukan dan residen yang membawahi Keresidenan Surakarta (Residentie Soerakarta) dengan daerah seluas 5.677 km2.

Keresidenan Surakarta meliputi beberapa daerah yaitu Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Sragen, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Klaten, Kabupaten Karanganyar, dan Kabupaten Boyolali. Pemerintah Kota Surakarta selalu memperingati hari jadi kota tiap tanggal 16 Juni sampai dengan sekarang. Setelah Keresidenan Surakarta dihapus pada tanggal 4 Juli 1950, Kota Surakarta menjadi kota yang masuk dalam wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah. Sejak diberlakukannya UU Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kota Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Kota Surakarta secara resmi beralih status sebagai kota otonom.

2) Status Geografis Kota Surakarta

Kota Surakarta terletak di dataran rendah pada ketinggian 105 mdpl dan di pusat kota 95 mdpl. Dengan luas wilayahnya

(8)

8

sebesar 44,04 km2 (0,14 % luas Jawa Tengah). Kota Surakarta berada sekitar 65 km timur laut Yogyakarta dan 100 km tenggara Semarang serta dikelilingi oleh Gunung Merbabu dan Merapi (3115 m) di bagian barat, dan Gunung Lawu (2806 m) di bagian timur.

Agak jauh di selatan terbentang Pegunungan Sewu. Tanah di sekitar kota ini subur karena dikelilingi oleh Bengawan Solo, sungai terpanjang di Jawa, serta dilewati oleh Kali Anyar, Kali Pepe, dan Kali Jenes. Adapun persebaran luas daerahnya adalah sebagai berikut:

Tabel 4.2.

Luas Daerah Menurut Kecamatan di Kota Surakarta Tahun 2020

No. Kecamatan Ibukota Kecamatan

Luas Total Area (km2)

1 Laweyan Penumping 8,64

2 Serengan Serengan 3,19

3 Pasar Kliwon Joyosuran 4,82

4 Jebres Jebres 12,58

5 Banjarsari Banyuanyar 14,81

Total Luas Daerah Kota Surakarta Tahun 2020 40,04 Sumber: Kota Surakarta Dalam Angka 2021

Menurut pengelompokkan iklim Koppen, Kota Solo beriklim muson tropis yang identik dengan beberapa kota lain di wilayah Indonesia. Di Kota Solo ini musim penghujan akan diawali pada bulan Oktober sampai bulan Maret, dan musim kemarau akan diawali pada bulan April sampai September. Adapun curah hujan di wilayah Kota Solo hampir sama di semua tempat yaitu 2.200 mm.

Curah hujan tertinggi akan ditemukan pada bulan Desember, Januari, dan Februari. Suhu udara rata-rata mencapai 30C yang relatif sama dan merata di sepanjang tahun. Suhu udara paling tinggi mencapai 32,5C, sedangkan suhu udara paling rendah mencapai

(9)

9

21C. Rata-rata tekanan udara di Kota Surakarta mencapai 1010,9 MBS dengan kelembaban udaranya sebanyak 75%. Kecepatan angin di Kota Surakarta mencapai 4 Knot dengan arah angin 240.

3) Batas-Batas Administasi Kota Surakarta

Kota Surakarta terletak di antara 110 45‟ 15″ - 110 45′ 35″

Bujur Timur dan 70′ 36″ - 70‟ 56″ Lintang Selatan dan berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan. Di masing-masmg batas kota terdapat gapura keraton yang didirikan sekitar tahun 1931 – 1932 pada masa pemerintahan Pakubuwono X di Kasunanan Surakarta. Surakarta dibagi menjadi 5 kecamatan yang masing-masing dipimpin oleh seorang camat dan 54 kelurahan yang masing-masing dipimpin oleh seorang lurah. Kelima kecamatan beserta kelurahan di Kota Surakarta adalah sebagai berikut:

Tabel 4.3.

Jumlah Kelurahan Menurut Kecamatan di Kota Surakarta Tahun 2016-2020

No. Kecamatan Tahun

2016 2017 2018 2019 2020

1 Laweyan 11 11 11 11 11

2 Serengan 7 7 7 7 7

3 Pasar Kliwon 9 9 9 10 10

4 Jebres 11 11 11 11 11

5 Banjarsari 13 13 13 15 15

Total kelurahan di

Kota Surakarta 51 51 51 54 54

Sumber: Kota Surakarta Dalam Angka 2021 4) Kependudukan

Jumlah penduduk kota Surakarta pada tahun 2020 adalah 522.364 jiwa, terdiri dari 257.043 laki-laki dan 265.321 wanita.

Tersebar di lima kecamatan yang meliputi 54 kelurahan dengan daerah seluas 44,04 km2. Perbandingan kelaminnya 96,88% yang

(10)

10

berarti setiap 100 orang wanita terdapat 96 orang laki-laki.

Pertumbuhan penduduk dalam kurun waktu 10 tahun terakhir berkisar 0,44 % per tahun. Tingkat kepadatan penduduk di Surakarta adalah 11.861 jiwa/km2. Jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, Kota Surakarta merupakan kota terpadat ke-2 di Jawa Tengah. Dengan luas wilayah terkecil ke-13, dan populasi terbanyak ke-30 dari 93 kota otonom dan 5 kota administratif di Indonesia.

Tabel 4.4.

Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kota Surakarta Tahun 2020

No. Kelompok Umur

Jenis Kelamin Laki-

Laki Perempuan Total

1 0-4 17.758 17.107 34.865

2 5-9 18.280 17.884 36.164

3 10-14 20.187 19.149 39.336

4 15-19 21.200 20.516 41.716

5 20-24 20.638 20.444 41.082

6 25-29 19.983 19.590 39.573

7 30-34 19.246 18.803 38.049

8 35-39 19.913 19.865 39.778

9 40-44 20.038 20.383 40.421

10 45-49 18.297 18.958 37.255

11 50-54 16.818 18.118 34.936

12 55-59 14.282 16.189 30.471

13 60-64 11.909 13.749 25.658

14 65-69 9.065 10.993 20.058

15 70-74 5.015 6176 11.191

16 75+ 4414 7397 11.811

Total Penduduk di

Kota Surakarta 257.043 265.321 522.364 Sumber: Data Administratif dan Sensus Penduduk 2020

(11)

11 5) Keberagaman

Bangunan ibadah bersejarah di Kota Surakarta sangat mencerminkan keberagamaan kepercayaan yang dianut oleh masyarakatnya. Mulai dari masjid besar dan sakral yang terletak di bagian barat kota Surakarta yaitu Masjid Agung Surakarta yang dibangun sekitar tahun 1727 atas prakarsa dari Pakubuwono X, Masjid Al Wustho di Mangkunegaran, serta masjid tertua di Solo yaitu Masjid Laweyan yang sudah ada sebelum Masjid Agung Surakarta. Masjid ini dibangun pada tahun 1546 pada masa Sultan Hadiwijaya, salah satu sultan Kesultanan Pajang, yang merupakan cikal bakal dari Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Gereja St. Petrus di Jl. Slamet Riyadi, Gereja St. Antonius Purbayan, hingga tempat Ibadah Tri Dharma Tien Kok Sie, Vihara Am Po Kian, dan Sahasra Adhi Pura.

Selain dihuni oleh suku Jawa, ada banyak pula penduduk beretnis Tionghoa, dan Arab yang tinggal di Surakarta. Walaupun tidak ada data pasti berupa jumlah masing-masing kepercayaan maupun etnis penduduk dalam sensus terakhir (2020), namun mereka banyak membaur di tengah-tengah warga Solo pada umumnya.

Perkampungan Arab menempati tiga wilayah kelurahan, yaitu Kelurahan Pasar Kliwon, Semanggi dan Kedung Lumbu di Kecamatan Pasar Kliwon. Penempatan kampung Arab secara berkelompok tersebut sudah diatur sejak jaman dulu untuk mempermudah pengurusan bagi etnis asing di Surakarta dan demi terwujudnya ketertiban dan keamanan. Etnis Arab mulai datang di Pasar Kliwon diperkirakan sejak abad ke-19. Terbentuknya perkempungan di Pasar Kliwon, selain disebabkan oleh adanya politik pemukiman di masa kerajaan, juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintah kolonial. Sementara itu perkampungan Tionghoa banyak terfokus di wilayah Balong, Coyudan, dan

(12)

12

Keprabon. Hal ini dapat dilihat dengan adanya bangunan-bangunan kelenteng dan tempat ibadah, seperti Kelenteng Tien Kok Sie.

Tabel 4.5.

Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Agama yang Dianut di Kota Surakarta Tahun 2020

Kecamatan Islam Protestan Katolik Hindu Budha Lainnya

Laweyan 87.783 9.167 5.554 105 139 14

Serengan 41.598 8.646 4.002 11 232 12

Pasar

Kliwon 76.879 5.698 4.535 14 150 6

Jebres 105.751 27.993 14.333 100 508 91

Banjarsari 144.096 28.350 12.125 133 288 37 Kota

Surakarta 456.107 79.854 40.549 363 1.317 16 Sumber: Kota Surakarta Dalam Angka 2021

c. Profil Narasumber Tionghoa Muslim Surakarta (TMS)

Objek yang menjadi bahan penelitian penulis adalah masyarakat etnis Tionghoa muslim yang berada di Kota Surakarta. Adapun deskripsi profil narasumber dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi lima bagian, yaitu: 1) jenis kelamin, 2) pendidikan, 3) pekerjaan, 4) lamanya waktu memeluk agama Islam, dan 5) hubungan waris dengan keluarga non muslim. Dari data narasumber, diperoleh hasil berikut ini:

1) Jumlah perbandingan jenis kelamin yang sama antara narasumber laki-laki yaitu 2 orang dan narasumber perempuan yaitu 2 orang.

Tabel 4.6.

Jenis Kelamin Narasumber

Jenis Kelamin Frekuensi

Laki-laki 2

Perempuan 2

Total 4

(13)

13

2) Berdasarkan perbedaan tingkat pendidikan narasumber, diketahui bahwa tingkat pendidikan SMP yaitu 1 orang, tingkat pendidikan SMA yaitu 1 orang, dan tingkat pendidikan perguruan tinggi yaitu 2 orang.

Tabel 4.7.

Tingkat Pendidikan Narasumber

Tingkat Pendidikan Frekuensi

SMP 1

SMA 1

Perguruan Tinggi 2

Total 4

3) Mengacu kepada indikator pekerjaan, 2 orang narasumber adalah pekerja baik formal maupun non formal dan 2 orang narasumber lainnya adalah seorang wiraswasta.

Tabel 4.8.

Jenis Pekerjaan Narasumber

Jenis Pekerjaan Frekuensi

Pekerja 2

Wiraswasta 2

Total 4

4) Menurut lamanya waktu narasumber dalam memeluk agama islam, terdapat perbedaan yang signifikan yaitu 1 orang narasumber memeluk agama islam < 1 tahun , 1 orang narasumber memeluk agama islam > 10 tahun , 1 orang narasumber memeluk agama islam

> 20 tahun, dan 1 orang narasumber memeluk agama islam > 30 tahun.

Tabel 4.9.

Lama Waktu Narasumber Memeluk Agama Islam

(14)

14

5) Hubungan narasumber dengan keluarga non muslim terkait dengan masalah kewarisan menunjukkan bahwa 1 orang narasumber masih memiliki hubungan kewarisan dengan keluarganya yang non muslim, sedangkan 3 orang narasumber lainnya sudah tidak memiliki hubungan kewarisan dengan keluarganya yang non muslim.

Tabel 4.10.

Hubungan Waris Narasumber Dengan Keluarga Non Muslim

Hubungan Waris Frekuensi

Ada 1

Tidak Ada 3

Total 4

6) Berdasar hasil penelitian, diketahui bahwa status pernikahan narasumber yang menikah menurut tata cara dan aturan di dalam agama Islam adalah 3 orang narasumber telah menikah secara sah dan dicatatkan pada Kantor Urusan Agama (KUA) sedangkan 1 orang narasumber lainnya belum menikah.

Tabel 4.11.

Status Pernikahan Narasumber

Status Pernikahan Frekuensi

Sudah Menikah 3

Belum Menikah 1

Total 4

Waktu Frekuensi

< 1 tahun 1

> 10 tahun 1

> 20 tahun 1

> 30 tahun 1

Total 4

(15)

15

2. Kesadaran Hukum Masyarakat Etnis Tionghoa Muslim Di Kota Surakarta Dalam Pembagian Warisan

Indonesia dikenal sebagai sebuah bangsa dan negara yang kaya dan kental dengan kehidupan pluralis masyarakatnya. Tidak sedikit ketentuan yang mengatur urusan yang sama, memiliki hasil berbeda dalam penerapannya baik yang ditinjau dari sisi adat budayanya, keagamanya, maupun norma hukumnya. Tentu tidak mudah untuk menyeragamkan nilai kehidupan yang dianut dan tumbuh dalam masyarakat, karena bisa jadi patokan baik atau buruknya suatu nilai pada kelompok masyarakat yang satu, berbeda dengan patokan baik atau buruknya suatu nilai pada kelompok masyarakat yang lain. Negara dalam hal ini yang berperan aktif sebagai alat stabilitator hendaknya ikut mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran untuk semua lapisan rakyatnya. Salah satu hal yang harus menjadi fokus perhatian pemerintah saat ini adalah adanya situasi dimana terdapat dua atau lebih kesadaran hukum yang berada dalam suatu kehidupan sosial masyarakat (pluralisme hukum) mengenai ketentuan sistem kewarisan.

Dalam praktiknya, hukum adat, hukum agama, dan hukum perdata barat akan saling mendukung dan melengkapi, saling mengabaikan atau bahkan saling mengacaukan satu dengan yang lain. Hukum yang efektif dalam masyarakat secara nyata adalah hasil dari proses kompetisi, interaksi, negosiasi dan isolasi yang bersifat kompleks yang tidak dapat diprediksi.

Secara umum masyarakat Tionghoa di Indonesia tunduk kepada hukum negara pada seluruh aspek kehidupan baik itu yang terkait dengan ranah hukum privat maupun hukum publik. Namun secara khusus, Tionghoa muslim di Surakarta dalam aspek hukum kewarisannya menggunakan aturan hukum waris sesuai ajaran agamanya yang telah tertuang di dalam Al-Quran.

Hukum waris Islam merupakan salah satu bagian dari ajaran agama Islam yang sudah sepatutnya diaktualisasikan oleh setiap pemeluknya. Agama Islam telah menetapkan hukum kewarisannya dalam sebuah sistem tata aturan yang dipandang baik, teliti, dan adil. Al-Qur‟an sebagai pedoman hidup seorang muslim telah merincikan hak kepemilikan benda baik bagi laki-laki maupun perempuan. Di dalamnya termuat hukum mengenai sistem

(16)

16

kewarisan dan berbagai ketentuan untuk setiap ahli waris dengan penjabaran yang lengkap dan sempurna tanpa meninggalkan hak bagian seseorang atau membatasi benda yang akan menjadi objek warisan. Bagi umat Islam, melaksanakan ketentuan yang berkenaan dengan hukum kewarisan merupakan suatu kewajiban yang harus dijalankan, karena itu merupakan bentuk manifestasi keimanan dan ketakwaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Pengimplementasian atau aktualisasi hukum kewarisan Islam di masyarakat tidak lepas dari kesadaran hukum mereka terhadap aturan tersebut. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Soekanto, bahwa kesadaran warga masyarakat merupakan dasar sahnya hukum positif, artinya tidak ada hukum yang mengikat mereka kecuali atas dasar kesadaran hukumnya. Kesadaran hukum masyarakat merupakan salah satu bagian dari budaya hukum yang menyangkut faktor apakah suatu ketentuan hukum itu diketahui, dimengerti, ditaati, dan dihargai. Apabila masyarakat hanya mengetahui adanya suatu ketentuan hukum, maka taraf kesadaran hukumnya lebih rendah daripada apabila mereka telah memahami aturan hukum tertentu. Kesadaran hukum itu semakin bernilai tinggi jika ternyata masyarakat memiliki sikap dan perilaku positif terhadap suatu aturan hukum.

Kesadaran hukum adalah kesadaran diri sendiri tanpa tekanan, paksaan, atau perintah dari luar untuk tunduk pada hukum yang berlaku. Kesadaran hukum yang dimiliki oleh warga masyarakat belum menjamin bahwa warga masyarakat tersebut akan menaati suatu aturan hukum atau perundang- undangan tersebut karena acapkali bertentangan antar kepentingan manusia yang banyak dan beraneka ragam.

Penelitian ini difokuskan pada aktualisasi hukum kewarisan dalam masyarakat. Hal ini sangat berkaitan dengan kesadaran hukum mereka terhadap sistem hukum kewarisan yang dipilih oleh narasumber beserta alasan mengapa sistem hukum kewarisan tersebut dipilih. Penelitian ini menyoroti kesadaran hukum masyarakat etnis Tionghoa muslim di Kota Surakarta dalam pembagian warisan. Adapun hasilnya dikemukakan melalui 4 (empat) indikator kesadaran hukum yang ditetapkan oleh Soerjono Soekanto secara berurutan tahap demi tahap sebagai berikut yaitu:

(17)

17

a. Pengetahuan tentang hukum waris di Indonesia.

Pengetahuan seseorang mengenai aturan waris yang diatur oleh hukum, baik hukum tertulis maupun hukum yang tidak tertulis. Perilaku tersebut menyangkut perilaku yang dilarang maupun perilaku yang diperbolehkan oleh hukum waris di Indonesia. Pengetahuan ini adalah salah satu indikator dalam kesadaran hukum. Untuk itu pada bagian ini akan dikemukakan pengetahuan hukum waris masyarakat etnis Tionghoa muslim di Kota Surakarta. Dari hasil wawancara dengan 4 narasumber yang berasal etnis Tionghoa muslim di Kota Surakarta, diketahui hal-hal berikut ini:

1) Pengetahuan narasumber tentang hukum waris adat Tionghoa

a) TMS D menyatakan bahwa sistem warisan dalam adat Tionghoa sangat tergantung dengan pembawa garis keturunan (marga) masing-masing keluarga.

b) TMS R menyatakan bahwa sistem kewarisan adat Tionghoa membagi bagian waris yang sama rata antara laki-laki dan perempuan. Namun hukum waris adat Tionghoa memang lebih condong memihak laki-laki sebagai pembawa garis keturunan.

c) TMS C menyatakan bahwa sama sekali tidak mengetahui tentang bagaimana sistem kewarisan adat Tionghoa.

d) TMS N menyatakan bahwa sistem kewarisan adat Tionghoa memberikan bagian harta warisannya kepada pihak laki-laki.

2) Pengetahuan narasumber tentang hukum waris Islam

a) TMS D menyatakan bahwa dalam hukum waris Islam pihak laki-laki mendapat bagian yang lebih dominan daripada pihak perempuan.

b) TMS R menyatakan bahwa sistem hukum waris Islam terdiri atas bagian-bagian yang telah ditentukan dalam Al-Qur‟an.

c) TMS C menyatakan bahwa belum mengetahui tentang sistem kewarisan Islam.

d) TMS N menyatakan bahwa sistem kewarisan Islam menetapkan laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki hak waris.

(18)

18

3) Pengetahuan narasumber tentang hukum waris KUHPdt

a) TMS D menyatakan bahwa hukum waris dalam KUHPdt membagi warisan sama rata antara laki-laki dan perempuan.

b) TMS R menyatakan bahwa hukum waris dalam KUHPdt membagi warisan sama rata antara pihak laki-laki dan pihak perempuan.

c) TMS C menyatakan bahwa aturan waris KUHPdt perbandingan bagian waris antara laki-laki dan perempuan adalah 1:1

d) TMS N menyatakan bahwa bahwa hukum waris dalam KUHPdt membagi warisan sama rata antara laki-laki dan perempuan.

Untuk lebih jelasnya mengenai kesadaran hukum masyarakat Tionghoa Muslim di Kota Surakarta tentang pengetahuan yang terkait dengan hukum waris di Indonesia, maka perhatikanlah tabel di bawah ini:

Tabel 4.12.

Pengetahuan Narasumber TMS tentang Hukum Waris di Indonesia

No Pengetahuan Hukum Waris di Indonesia

Adat Tionghoa Islam KUHPdt

1 Mengetahui 3 3 4

2 Tidak

Mengetahui 1 1 0

Jumlah 4 4 4

Sumber: Analisis Data Primer

Pengetahuan narasumber tentang hukum kewarisan adat Tionghoa bahwa sistem warisan dalam adat Tionghoa memang lebih condong memihak laki-laki sebagai pembawa garis keturunan (marga).

Pengetahuan narasumber tentang hukum kewarisan Islam bahwa sistem warisan dalam adat Islam menetapkan laki-laki dan perempuan sama- sama memiliki hak waris yang besar bagiannya telah ditentukan dalam Al-Qur‟an. Pengetahuan narasumber tentang hukum kewarisan perdata

(19)

19

barat bahwa sistem warisan dalam perdata barat membagi warisan sama rata antara laki-laki dan perempuan.

b. Pemahaman tentang hukum waris di Indonesia.

Pemahaman narasumber berkenaan dengan informasi yang dimiliki mengenai isi, tujuan, dan manfaat dari hukum waris di Indonesia. Pemahaman ini adalah salah satu indikator dalam kesadaran hukum. Untuk itu pada bagian ini akan dikemukakan pemahaman tentang hukum waris di Indonesia oleh narasumber. Dari hasil wawancara dengan 4 narasumber yang berasal etnis Tionghoa muslim di Kota Surakarta, diketahui hal-hal berikut ini:

1) Pemahaman narasumber tentang hukum waris adat Tionghoa

a) TMS D menyatakan sistem kewarisan dalam adat Tionghoa menyatakan bahwa laki-laki sebagai pembawa garis keturunan dipandang lebih berhak untuk mendapatkan harta warisan sedangkan perempuan tidak, karena saat menikah marga keluarga perempuan berpindah atau ikut kepada marga keluarga suaminya.

b) TMS R menyatakan sistem kewarisan dalam adat Tionghoa bahwa perempuan yang sudah menikah dianggap keluar dari keanggotaan keluarga karena marga keluarga asalnya berubah mengikuti marga keluarga baru milik suaminya. TMS R sendiri juga tidak yakin apakah anak perempuan dalam adat Tionghoa sama sekali tidak diberi harta warisan karena walaupun marganya berubah, ia masih tetap ahli warisnya.

c) TMS C menyatakan bahwa sama sekali tidak mengetahui tentang bagaimana sistem kewarisan adat Tionghoa.

d) TMS N menyatakan sistem kewarisan dalam adat Tionghoa bahwa laki-laki dalam keluarga Tionghoa dianggap istimewa karena ia yang akan meneruskan garis keturunan (marga keluarga). Anak perempuan dalam keluarga Tionghoa dianggap keluar dari keanggotaan keluarga saat ia menikah karena marganya akan berganti mengikuti marga keluarga suaminya,

(20)

20

sehingga laki-laki menjadi lebih berhak atas harta warisan keluarganya. Masalah apakah pihak perempuan mendapatkan bagian atau tidak mendapatkan bagian sama sekali tergantung dari keputusan keluarga masing-masing.

2) Pemahaman narasumber tentang hukum waris Islam

a) TMS D menyatakan bahwa dalam hukum waris Islam pihak laki-laki mendapat bagian yang lebih dominan daripada pihak perempuan dengan pertimbangan karena nantinya laki-laki akan menjadi imam dan memegang tanggung jawab yang lebih besar.

TMS D belum memiliki pemahaman terkait prosentase besaran hak bagian dari masing-masing ahli waris.

b) TMS R menyatakan bahwa sistem hukum waris Islam dinilai lebih simpel dan mudah karena sudah diatur siapa saja yang berhak mendapat dan berapa bagian masing-masingnya. Beliau mengetahui saat kakak laki-lakinya wafat dan meninggalkan ahli waris 2 orang istri dan 6 orang anak. Bagian 2 istri adalah 1/8 (seperdelapan) dan 7/8 (tujuh perdelapan) sisanya adalah milik anak-anaknya. Apabila ke 6 anak almarhum kakaknya semua perempuan, maka TMS R akan mendapatkan bagian harta warisan. Namun karena anak bungsu dari almarhum kakak TMS R adalah laki-laki, maka TMS R terhijab untuk mendapatkan bagian harta warisan.

c) TMS C menyatakan bahwa belum mengetahui tentang sistem kewarisan Islam.

d) TMS N menyatakan bahwa sistem kewarisan Islam yang diketahui hanya sebatas bahwa laki-laki dan perempuan sama- sama memiliki hak waris dimana bagian laki-laki lebih besar daripada bagian perempuan. Perbandingannya adalah 2:1. Tetapi berapa besaran porsi atau prosentase pembagian masing-masing TMS N tidak terlalu mengetahui secara rinci.

3) Pemahaman narasumber tentang hukum waris KUHPdt

(21)

21

a) TMS D menyatakan bahwa hukum waris dalam KUHPdt membagi warisan sama rata antara laki-laki dan perempuan.

b) TMS R menyatakan bahwa hukum waris dalam KUHPdt membagi warisan sama rata antara pihak laki-laki dan pihak perempuan.

c) TMS C menyatakan bahwa aturan waris KUHPdt perbandingan bagian waris antara laki-laki dan perempuan adalah 1:1

d) TMS N menyatakan bahwa bahwa hukum waris dalam KUHPdt membagi warisan sama rata antara laki-laki dan perempuan.

Untuk lebih jelasnya mengenai kesadaran hukum masyarakat Tionghoa Muslim di Kota Surakarta tentang pengetahuan yang terkait dengan hukum waris di Indonesia, maka perhatikanlah tabel di bawah ini:

Tabel 4.13.

Tingkat Pemahaman Narasumber TMS tentang Hukum Waris di Indonesia

No Pemahaman Hukum Waris di Indonesia

Adat Tionghoa Islam KUHPdt

1 Tinggi 2 1 0

2 Cukup 1 2 4

3 Kurang 1 1 0

Jumlah 4 4 4

Sumber: Analisis Data Primer

Pemahaman narasumber tentang hukum kewarisan adat Tionghoa bahwa laki-laki sebagai pembawa garis keturunan dipandang lebih berhak untuk mendapatkan harta warisan sedangkan perempuan tidak, karena saat menikah marga keluarga perempuan berpindah atau ikut kepada marga keluarga suaminya. Pemahaman narasumber tentang hukum kewarisan Islam bahwa dalam hukum waris Islam pihak laki-laki mendapat bagian yang lebih dominan daripada pihak perempuan dengan pertimbangan karena nantinya laki-laki akan menjadi imam dan memegang tanggung jawab yang lebih besar. Namun narasumber belum

(22)

22

memiliki pemahaman mendalam terkait prosentase besaran hak bagian dari masing-masing ahli waris. Pemahaman narasumber tentang hukum kewarisan perdata barat bahwa sistem warisan dalam perdata barat membagi warisan sama rata antara laki-laki dan perempuan dengan jumlah perbandingan 1:1.

c. Sikap terhadap hukum waris di Indonesia

Kecenderungan narasumber untuk menerima hukum waris di Indonesia karena adanya penghargaan terhadap hukum tersebut sebagai sesuatu yang bermanfaat atau menguntungkan jika hukum tersebut ditaati. Narasumber nantinya akan mempunyai kecenderungan untuk mengadakan penilaian tertentu terhadap hukum waris yang berlaku di Indonesia. Sikap terhadap hukum waris ini adalah salah satu indikator dalam kesadaran hukum. Untuk itu pada bagian ini akan dikemukakan sikap terhadap hukum waris di Indonesia masyarakat etnis Tionghoa muslim di Kota Surakarta. Dari hasil wawancara dengan 4 narasumber yang berasal etnis Tionghoa muslim di Kota Surakarta, diketahui hal-hal berikut ini:

1) TMS D

Menurut TMS D kebanyakan sistem waris yang ada di dunia lebih bersifat patriarki, seperti halnya dalam adat kewarisan Tionghoa. Adapun sistem kewarisan antara hukum positif dalam KUHPdt dan hukum Islam di Indonesia masih sangat rancu. Di satu sisi membolehkan, tapi di sisi yang lain malah sebaliknya. Seperti masalah adopsi dimana nasab anak tidak boleh dihilangkan menurut hukum islam sedangkan menurut hukum positif nasab anak yang diadopsi mengekor kepada orangtua yang mengadopsinya. Hal ini tentu saja menyulitkan dalam berbagai hal salah satunya bagaimana pembagian warisannya. Menurut TMS D seharusnya hukum waris disesuaikan dengan agama keyakinan masing-masing saja.

2) TMS R

Sistem kewarisan adat Tionghoa yang diketahui oleh TMS R, membagi bagian warisan sama rata antara pihak laki-laki dan

(23)

23

perempuan ini identik dengan aturan hukum waris dalam KUHPdt yang diperuntukkan bagi golongan Tionghoa. Yang kemudian terjadi adalah adanya negosiasi atau proses tawar menawar dengan jalan berunding untuk mencapai sebuah kesepakatan dengan seluruh anggota keluarga. Beliau menyadari betul bahwasanya muslim tidak menerima bagian harta warisan dari seorang non muslim. Sistem hukum waris Islam dinilai lebih simpel dan mudah karena sudah diatur siapa saja yang berhak mendapat dan berapa bagian masing- masingnya

3) TMS C

Menurut pendapat TMS C aturan waris di Indonesia yang mengatur golongan Tionghoa untuk tunduk pada hukum waris KUHPdt dimana perbandingan bagian waris antara laki-laki dan perempuan adalah 1:1 sudah sangat sesuai. TMS C menilai hukum kewarisan Islam yang membagi warisan lebih banyak kepada laki- laki daripada perempuan justru akan menimbulkan permasalahan.

Kewarisan adat Tionghoa yang hanya memberi pihak laki-laki juga dirasa tidak cukup adil.

4) TMS N

TMS N menegaskan baik laki-laki maupun perempuan berhak atas bagian harta waris dari orangtuanya karena kita tidak bisa memilih dilahirkan sebagai laki-laki maupun perempuan.

Perbandingan perolehan 2:1 antara laki-laki dan perempuan dalam sistem kewarisan Islam sudah sangat baik, tinggal bagaimana penerapannya di dalam masyarakat. Semua aturan dalam Al-Qur‟an bersifat dinamis sehingga tetap dapat mengikuti perkembangan zaman. Adil dalam hukum waris bukan semata-mata sama bagiannya tetapi lebih kepada nilai proporsionalitasnya. Hal ini sangat berbeda dengan sistem kewarisan adat Tionghoa yang tidak memberikan hak seorang perempuan untuk menerima harta warisan.

(24)

24

Untuk lebih jelasnya mengenai sikap hukum masyarakat Tionghoa Muslim di Kota Surakarta yang terkait dengan hukum waris di Indonesia, maka perhatikanlah tabel di bawah ini:

Tabel 4.14.

Sikap Hukum Narasumber TMS tentang Hukum Waris di Indonesia

No Sikap Hukum Waris di Indonesia

Adat Tionghoa Islam KUHPdt

1 Positif 0 2 1

2 Netral 3 1 3

3 Negatif 1 1 0

Jumlah 4 4 4

Sumber: Analisis Data Primer

Sikap narasumber terhadap hukum kewarisan adat Tionghoa dan hukum waris perdata barat sebagian besar memiliki reaksi yang netral.

Sedangkan sikap narasumber terhadap hukum kewarisan Islam sebagian besar memiliki reaksi positif karena sistem waris Islam dinilai lebih simpel dan mudah, tinggal bagaimana penerapannya di dalam masyarakat. Narasumber meyakini bahwa aturan dalam Al-Qur‟an bersifat dinamis sehingga tetap dapat mengikuti perkembangan zaman.

d. Perilaku hukum terhadap hukum waris di Indonesia

Berlaku atau tidaknya suatu aturan hukum dalam masyarakat, jika berlaku suatu aturan hukum, sejauh mana berlakunya itu dan sejauh mana masyarakat mematuhinya. Seseorang atau warga masyarakat mematuhi peraturan yang berlaku. Indikator ini merupakan indikator yang paling utama karena dalam indikator tersebut dapat dilihat apakah suatu peraturan berlaku atau tidak dalam masyarakat, sehingga seberapa jauh kesadaran hukum dalam masyarakat dapat dilihat dari pola perilaku hukum.

1) TMS D

Dalam menentukan kesadaran hukum waris mana yang akan diambil nantinya, TMS D masih merasa kebingungan. Beragamnya

(25)

25

sistem hukum kewarisan yang berlaku di Indonesia membuat TMS D belum yakin untuk menundukkan diri kepada sistem hukum yang mana. Apabila diperbolehkan menggunakan hukum waris Islam yang sesuai dengan agama maka beliau akan memilihnya. Akan tetapi apabila hukum waris Islam tidak dapat mengcover atau memberikan perlindungan hukum maka TMS D akan memilih hukum positif yang tercantum pada KUHPdt yang membagi warisan sama rata. Menurut TMS D seharusnya hukum waris disesuaikan dengan agama keyakinan masing-masing saja. Agama Islam sudah sangat rinci mengatur tentang perihal kewarisan sehingga sudah seharusnya sebagai seorang muslim untuk mengikutinya.

Menurut TMS D hukum waris Islam sudah sangat adil.

Dilihat dari latar belakang alasannya, pembagian porsi antara laki- laki dan perempuan memang disesuaikan dengan kondisi dan beban tanggung jawab yang berbeda. Karena laki-laki nantinya akan mengurus keluarga beserta anak dan istrinya, maka sudah pasti bagian yang di dapat jauh lebih besar. Berbeda halnya dengan perempuan yang menjadi tanggung jawab suaminya dimana bagian warisnya hanya diperuntukkan untuk dirinya sendiri. Namun saat ini hal tersebut tidak dapat disamaratakan karena sudah banyak kejadian dimana pihak perempuan lebih mandiri dan dapat mengurus keluarga daripada pihak laki-lakinya. Semua kembali kepada pribadi masing-masing. Tapi aturan dalam agama Islam sudah bagus dan lengkap karena terdapat maslahat dan manfaat untuk masing-masing pihak.

2) TMS R

Dalam menentukan kesadaran hukum waris mana yang akan diambil nantinya, TMS R mantab memilih untuk memakai hukum waris Islam. Alasannya karena hukum waris Islam sudah sangat jelas mengatur siapa yang berhak mendapatkan dan berapa bagian masing-masing. Menurut TMS R, perbedaan porsi peruntukan antara laki-laki dan perempuan dalam hukum waris Islam dirasa sudah adil

(26)

26

selama semua ahli waris saling ridho dan mengetahui haknya masing-masing. Apabila memang nanti ditemukan kondisi pihak perempuan membutuhkan lebih banyak harta, maka perundingan atau negosiasi harus ditempuh agar semua pihak tidak merasa dirugikan. Karena terkadang, ada anak laki-laki dalam suatu keluarga dinggap tidak cakap hukum, sedangkan anak perempuannya sangat kompeten dan bertanggung jawab terhadap keluarga.

3) TMS C

Dalam menentukan kesadaran hukum waris mana yang akan diambil nantinya, TMS C akan memilih hukum waris yang telah ditentukan dalam KUHPdt karena bagiannya sama, selain itu sebagai upaya untuk mencegah berbagai permasalahan yang timbul pasca pembagian harta warisan tersebut. Menurut pendapat TMS C aturan waris di Indonesia yang mengatur golongan Tionghoa untuk tunduk pada hukum waris KUHPdt dimana perbandingan bagian waris antara laki-laki dan perempuan adalah 1:1 sudah sangat sesuai.

4) TMS N

Dalam menentukan kesadaran hukum waris mana yang akan diambil nantinya, TMS N memilih untuk memakai hukum waris Islam. Alasannya karena hukum waris Islam tetap memberikan hak bagian harta waris kepada perempuan walaupun bagiannya lebih kecil daripada laki-laki. Hal ini sangat berbeda dengan sistem kewarisan adat Tionghoa yang tidak memberikan hak seorang perempuan untuk menerima harta warisan. Menurut beliau, seorang perempuan akan menikah dan mengikuti suami yang dalam hal ini hak bagian harta waris yang didapatkan suami juga lebih besar.

Sehingga sebenarnya tidak menjadi masalah karena laki-laki dan perempuan akan mendapat bagian yang sama apabila bersatu. Dan yang perlu digarisbawahi adalah bahwa harta adalah mutlak milik orangtua. Diwariskan atau tidak tergantung kepada keputusan

(27)

27

orangtua. Sebagai anak kita tidak boleh terlalu dominan dalam pengurusan harta warisan.

Untuk lebih jelasnya mengenai kesadaran hukum masyarakat Tionghoa Muslim di Kota Surakarta tentang pengetahuan yang terkait dengan hukum waris di Indonesia, maka perhatikanlah tabel di bawah ini:

Tabel 4. 15.

Prilaku Hukum Narasumber TMS tentang Hukum Waris di Indonesia

No Prilaku Hukum Waris di Indonesia

Adat Tionghoa Islam KUHPdt

1 Positif 0 3 2

2 Netral 3 0 2

3 Negatif 1 1 0

Jumlah 4 4 4

Sumber: Analisis Data Primer

Prilaku hukum narasumber terhadap hukum kewarisan adat Tionghoa sebagian besar memiliki reaksi yang netral. Sedangkan prilaku hukum narasumber terhadap hukum kewarisan Islam sebagian besar memiliki reaksi positif karena agama Islam sudah sangat rinci mengatur tentang perihal kewarisan sehingga sudah seharusnya sebagai seorang muslim untuk mengikutinya. Perbedaan porsi peruntukan antara laki-laki dan perempuan dalam hukum waris Islam dirasa sudah adil selama semua ahli waris saling ridho dan mengetahui haknya masing-masing.

Prilaku hukum narasumber terhadap hukum kewarisan perdata barat sebagian memiliki reaksi yang netral dan sebagian yang lain memiliki reaksi yang positif.

Berdasarkan pemaparan keempat indikator kesadaran hukum masyarakat etnis Tionghoa muslim di Kota Surakarta terhadap pembagian warisan di atas, pada sebagian besar narasumber terdapat pergeseran aturan hukum waris dari yang semula mengacu pada hukum perdata barat dalam

(28)

28

KUHPerdata/BW, menjadi hukum waris Islam yang mengacu pada ketentuan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), dan narasumber lainnya tetap dengan aturan hukum waris yang mengacu pada hukum perdata barat dalam KUHPerdata/BW. Perbedaan pemenuhan kriteria hipotesis yang berbeda ini tidak lepas dari pengaruh pluralisme hukum waris di Indonesia dimana hukum kewarisan adat, hukum kewarisan agama, dan hukum kewarisan perdata barat saling bersinggungan yang menciptakan pemahaman, pertimbangan, dan intepretasi yang beragam pada kehidupan sosial kemasyarakatan.

B. Upaya Penyelesaian Masalah Waris Pada Masyarakat Etnis Tionghoa Muslim Di Kota Surakarta

1. Masalah dalam proses pembagian harta warisan

Sengketa sebagai pertentangan di antara dua pihak atau lebih, atau sebagai bentuk manifestasi dari suatu konflik tidak mungkin dibiarkan larut berkepanjangan karena akan menimbulkan kerugian yang lebih besar sehingga harus dicarikan jalan keluar atau penyelesaiannya. Sengketa atau konflik dalam urusan kewarisan ini berarti terdapat pertentangan antara ahli waris yang satu terhadap ahli waris yang lain, yang mempunyai hubungan atau kepentingan yang sama terhadap objek harta warisan, yang kemudian menimbulkan akibat hukum antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu dibutuhkan upaya-upaya untuk menyelesaikan sengketa baik yang dilakukan melalui jalur pengadilan (ligitasi) maupun melalui jalur di luar pengadilan (non ligitasi). Pembagian harta warisan oleh pewaris baik sebelum atau sesudah pewaris meninggal dunia, dapat menimbulkan sengketa apabila salah satu pihak merasa tidak puas ataupun merasa tidak adil atas harta bagian yang di dapatkannya. Hal ini banyak disebabkan karena pengaruh materialisme akan kebendaan akibat kemajuan zaman dan banyaknya kebutuhan hidup, sehingga rasa malu, rasa kekeluargaan, dan tolong menolong sudah semakin surut (Hadikusuma, 2015).

Ditinjau dari sistem pewarisan patrilineal pada kewarisan adat Tionghoa, yang berhak mendapatkan warisan hanya ahli waris laki-laki.

(29)

29

Dalam pembagian harta warisan ini jika ahli warisnya adalah anak perempuan, maka harta warisan akan diberikan kepada keluarga dari pihak ayah. Berdasarkan informasi dari narasumber Tionghoa muslim di Kota Surakarta, apabila orang tua tidak mempunyai ahli waris laki-laki dan hanya mempunyai ahli waris perempuan, maka demi menjaga kelangsungan garis keturuanan keluarga (marga), orangtua rela untuk mengadopsi anak laki-laki dari pihak saudara ayah dan memberikan harta warisan itu kepadanya. Hal ini tentu akan menimbulkan kecemburuan dan konflik bagi ahli waris perempuan yang menilai orang tua mereka tidak adil dalam membagikan harta warisan karena sebenarnya masih bisa dilakukan dengan sistem pembagian waris Islam yang tercantum dalam KHI.

Ada begitu banyak faktor yang dapat menimbulkan sengketa harta warisan ini khususnya dalam masyarakat Etnis Tionghoa Muslim di Kota Surakarta. Beberapa jenis permasalahan yang menjadi kendala dalam proses pembagian harta warisan menurut para narasumber diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Calon pewaris tidak mengetahui ilmu tentang hukum waris sehingga pembagian waris asal tunjuk tanpa ada konsensus diantara ahli warisnya.

b. Banyak orangtua atau pewaris yang mengikrarkan wasiat dan pembagian warisannya secara lisan (kekeluargaan) tanpa ada pejabat berwenang yang menyaksikan dan menuliskannya ke dalam bentuk akta otentik.

c. Pewaris sudah membagi harta warisan secara hibah, namun dikemudian hari ahli waris masih menuntut hak bagian warisan yang lain.

d. Ahli waris tidak terima dengan pemberian bagian masing-masing harta warisnya.

e. Perebutan harta warisan karena ahli waris mempunyai keinginan untuk menguasai harta secara keseluruhan ataupun bagian yang lebih besar daripada pihak yang lain.

f. Merasa iri dan curiga terhadap hak bagian ahli waris yang lebih dekat dengan pewaris di saat akhir hayatnya.

g. Kedudukan harta warisan yang tidak diperjelas pembagiaannya secara administratif, melainkan hanya dibagi secara lisan.

(30)

30

h. Besarnya bagian hibah antara ahli waris satu dengan yang lain tidak sama persis.

i. Pengurusan harta warisan yang masih dalam sengketa dengan pihak ketiga acapkali menimbulkan masalah baru diantara para ahli waris.

j. Terdapat campur tangan pihak keluarga yang lain dalam menentukan besaran harta waris yang didapat oleh ahli waris.

2. Upaya penyelesaian masalah warisan

Bila mengkaji masalah sengketa, akan segera terbayang bagaimana hukum ditegakkan (law enforcement). Sengketa tidak akan menjadi masalah bila mekanisme penegakan hukumnya berjalan sebagaimana yang diatur dalam suatu undang-undang. Penegakan hukum bukanlah kerja otomatis logis semata, namun keberadaan manusia sangat menentukan usaha dalam menegakkan hukum. Penegakan hukum bukan lagi merupakan hasil deduksi logis, melainkan merupakan hasil dari kesadaran-kesadaran. Output dari penegakan hukum tidak dapat hanya didasarkan pada ramalan logika semata, melainkan juga hal-hal yang „tidak menurut logika‟ (Rahardjo, 2002).

Dari perspektif hukum Islam, ketika sengketa waris telah terjadi maka terdapat dua jalur penyelesaian yang dapat ditempuh, yaitu melalui hakam (Q.S. An-Nisa‟ (4): 105), dan melalui islah (Q.S. An-Nisa‟ (4): 128).

Menurut Madkur (1993), Hakam dalam bentuknya yang paling konkret menjelma menjadi qadhi (hakim) atau peradilan (qadha/ hukumah), yang memutus perkara secara hukum. Sedangkan Islah merupakan lembaga hukum yang mendamaikan, baik melalui pihak ketiga ataupun tidak. Ishlah merupakan mekanisme penyelesaian masalah dengan cara menghilangkan dan menghentikan segala konflik yang dapat membentuk permusuhan dan pertikaian antar sesama manusia. Ishlah mengisyaratkan diperlukannya pihak ketiga sebagai perantara atau mediator dalam penyelesaian konflik tersebut (al-Munawar, 2004). Adapun upaya para narasumber dalam menyelesaikan masalah kewarisan adalah sebagai berikut:

a. Menurut TMS D, upaya yang dapat ditempuh apabila terjadi masalah kewarisan adalah membicarakannya secara kekeluargaan.

(31)

31

b. Menurut TMS R, apabila nanti menemui sengketa waris adalah dibicarakan terlebih dahulu secara kekeluargaan. Jika dirasa kurang paham dengan ilmu hukum waris Islam, maka dapat mengundang orang yang dituakan/ustadz/orang yang ahli dalam bidang ilmu hukum waris.

c. Menurut TMS C, upaya dalam menyelesaikan masalah tersebut pertama kali harus dibicarakan secara matang dan kekeluargaan untuk mencari jalan keluar yang dapat diterima semua pihak.

d. Menurut TMS N, selama penyelesaian masalah waris masih bisa dilakukan secara kekeluargaan, maka tentu saja harus dibicarakan secara kekeluargaan terlebih dahulu. Namun apabila nanti prosesnya mengalami kendala, maka beliau memilih untuk tidak mendapat harta warisan karena lebih mementingkan hubungan silaturahmi yang sudah dijaga dengan baik.

Tabel 4.16.

Upaya Narasumber Dalam Menyelesaikan Masalah Kewarisan No. Upaya Penyelesaian Masalah Frekuensi

1 Musyawarah secara kekeluargaan 4

2

Meminta pendapat orang yang dituakan/ ustadz/ orang yang ahli dalam bidang ilmu hukum waris.

1

Sumber: Analisis Data Primer

Dari hasil tabel di atas, diketahui bahwa semua masyarakat etnis Tionghoa muslim di Kota Surakarta berupaya menyelesaikan sengketa waris melalui cara musyawarah secara kekeluargaan dan 1 orang narasumber menambahkan untuk meminta pendapat orang yang dituakan/ ustadz/ orang yang ahli dalam bidang ilmu hukum waris apabila terjadi masalah dalam pembagian harta warisan.

Penyelesaian sengketa waris dapat dilakukan melalui Litigasi ataupun melalui penyelesaian Non Litigasi. Penyelesaian sengketa yang melalui pengadilan/litigasi memegang pedoman pada hukum acara yang mengatur persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi agar suatu sengketa dapat diajukan serta upaya-upaya dapat dilakukan. Sedangkan, penyelesaian

(32)

32

sengketa di luar pengadilan/non litigasi adalah penyelesaian sengketa yang dilakukan berdasarkan kesepakatan para pihak dan prosedur penyelesaian atas suatu sengketa sepenuhnya diserahkan kepada para pihak yang bersengketa (Sembiring, 2011). Pandangan para narasumber untuk menyelesaikan sengketa warisan melalui jalur ligitasi (pengadilan) adalah sebagai berikut:

a. Menurut TMS D apabila para pihak tidak menemukan solusi, maka penyelesaian melalui jalur ligitasi harus ditempuh. Sebenarnya penyelesaian melalui jalur ligitasi lebih merugikan karena membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Bagian yang di dapat pun akan dikurangi dengan biaya pengurusan harta warisan.

b. Prinsip TMS R sebisa mungkin jangan sampai masalah waris ini diselesaikan melalui jalur peradilan karena sesuai pepatah “menang jadi arang kalah jadi abu”, semua pihak sama-sama akan menderita kerugian.

Semua pihak akan memerlukan banyak waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Ditambah pihak yang bersengketa masih satu keluarga, sehingga rasanya tidak etis apabila harus merusak hubungan keluarga karena masalah kewarisan.

c. Menurut TMS C, tidak baik jika urusan kewarisan diselesaikan di pengadilan.

d. Menurut TMS N, penyelesaian masalah kewarisan yang sudah sampai tahap pengadilan pasti hubungan silaturahminya rusak. Hal ini sangat ditentang TMS N karena hubungan keluarga yang sudah dijalin dengan baik tidak sepantasnya dirusak dengan masalah kewarisan.

Tabel 4.17.

Pandangan Narasumber Untuk Menyelesaikan Masalah Warisan No. Penyelesaian Masalah Waris Frekuensi

1 Litigasi (Lembaga Pengadilan) 0 2 Non Litigasi (Kekeluargaan) 4 Sumber: Analisis Data Primer

(33)

33

Dari hasil tabel di atas, diketahui bahwa semua masyarakat etnis Tionghoa muslim di Kota Surakarta memilih penyelesaikan sengketa waris melalui jalur Non Ligitasi atau secara kekeluargaan.

Memang betul bahwa salah satu fungsi hukum adalah untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di masyarakat. Hukum baru beroperasi setelah terjadi konflik, yakni bila seseorang mengaku kepentingannya telah diganggu pihak lain. Tugas pengadilan adalah membuat keputusan yang dapat mengakhiri konflik. Ketika hak yang dimiliki oleh seseorang berbenturan dengan hak orang lain, maka saat itulah terjadi konflik antar hak dari orang-orang yang terlibat didalamnya. Dalam situasi demikian, keberadaan hukum diperlukan kembali dalam rangka menyelesaikan konflik yang timbul. Penggunaan hukum yang demikian dikarenakan hukum memiliki beberapa kelebihan, yaitu hukum bersifat rasional, integrative, legitimate, dan didukung adanya mekanisme pelaksanaan dan sanksi yang jelas. Pengadilan yang akan dipilih para narasumber untuk memutus perkara kewarisan apabila terjadi sengketa waris yang tidak dapat diselesaikan melalui jalur non ligitasi (kekeluargaan) adalah sebagai berikut:

a. Menurut TMS D lembaga peradilan yang berhak untuk memutus sengketa waris para pihak yang beragama Islam adalah pengadilan agama karena putusannya akan mengacu pada aturan waris dalam agama Islam.

b. Apabila sudah tidak ada solusi untuk menyelesaikan masalah kewarisannya, TMS R lebih memilih penyelesaian di pengadilan agama karena dukungan aturannya lebih kuat dan jelas sebab bersumber langsung dari Al-Quran

c. Berdasarkan penuturan TMS C, apabila nanti terjadi sengketa waris dan tidak ditemukan jalan keluar untuk menyelesaikan urusan waris ini, maka pengadilan yang akan dipilih untuk memutus perkara kewarisan tersebut adalah Pengadilan Umum Negeri karena putusannya akan membagi bagian warisan yang sama antara pihak laki-laki dan pihak perempuan yaitu 1:1.

(34)

34

d. TMS N memilih pengadilan agama untuk menyelesaikan masalah kewarisannya karena beliau adalah pemeluk agama Islam sehingga sudah sepatutnya untuk memutus perkara warisan dengan aturan yang sudah ditetapkan dalam agama Islam.

Tabel 4.18.

Kesadaran Lembaga Peradilan Narasumber Untuk Menyelesaikan Sengketa Warisan Melalui Jalur Ligitasi

No. Kesadaran Lembaga Peradilan Frekuensi

1 Pengadilan Agama 3

2 Pengadilan Negeri 1

Sumber: Analisis Data Primer

Dari hasil tabel di atas, diketahui bahwa 3 orang masyarakat etnis Tionghoa muslim di Kota Surakarta memilih untuk berperkara di pengadilan agama dan 1 orang lainnya memilih untuk berperkara di pengadilan negeri.

Referensi

Dokumen terkait

Besarnya pengaruh variabel Intensitas Penggunaan Teknologi Komunikasi terhadap Tingkat Keintiman Komunikasi Interpersonal mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta program studi

[r]

Perilaku suatu unsur baik pada organisme maupun pada sistem ekologis tidak dapat diterangkan hanya dengan melalui jumlah kadar total unsur tersebut dalam sampel yang bersesuaian

Penilaian keterampilan dilakukan guru dengan melihat kemampuan peserta didik dalam mengkomunikasikan hasil analisis sistem pemerintahan demokrasi berdasarkan

54 tahun 2007 tentang pelaksanaan pengangkatan anak “ pengangkatan anak adalah perbuatan hukum yang mengalihkan seorang anak dari lingkungan kekuasaan orang tua, wali

Dalam penelitian ini angket digunakan untuk mengumpulkan data tentang motivasi shalat dhuha siswa hubungannya dengan akhlak mereka sehari-hari, operasional

Sistem akan menampilkan textbox untuk mengisi kode pengguna dan password. Sistem akan membatalkan proses login dan keluar dari aktivitas yang dilakukan. Kondisi Akhir Jika

• Misalkan S adalah kesamaan (identity) di dalam aljabar Boolean yang melibatkan operator +, ⋅, dan komplemen, maka jika pernyataan S* diperoleh dengan cara mengganti.. ⋅ dengan