• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Di dalam studi Hubungan Internasional, diplomasi merupakan satu kajian utama yang penting untuk dipahami. Dahulu diplomasi hanya dibutuhkan untuk bernegosiasi ketika terjadi perang dan juga untuk mencegah terjadinya sebuah perang tetapi saat ini diplomasi sudah digunakan sebagai sebuah alat untuk memenuhi kepentingan nasional dengan cara yang lebih damai tanpa perlu menghadirkan kekerasan. Melalui diplomasi juga hubungan antar negara dapat terjalin dan nilai sebuah negara dapat dilihat dari bagaimana strategi diplomasi yang diterapkan. Cara untuk melakukan diplomasi sangat variatif dan salah satu cara diplomasi yang populer dan beberapa negara sudah menerapkannya yaitu dengan diplomasi publik. Pada saat ini, isu-isu diplomasi publik semakin kompleks dan mencakup banyak ruang. Setiap negara menginginkan citra yang baik untuk dikenal oleh masyarakat internasional. Tidak hanya memiliki nama baik, diharapkan dari citra negara tersebut juga dapat mendatangkan keuntungan ekonomi.

Di era globalisasi ini muncul jenis diplomasi gaya baru, yaitu Gastrodiplomasi.

Gastrodiplomasi berada pada ranah soft power, Rockower (2012), Pham (2012), Nirwandy dan Awang (2014) memiliki satu kesatuan pemahaman bahwa kajian gastrodiplomasi berada pada kajian diplomasi publik. Gastrodiplomasi dapat memberikan dan memperkuat nation branding suatu negara. Paul S. Rockower menjelaskan bahwa gastrodiplomasi sebagai “the act of winning hearts and mind through stomachs” (Rockower, 2012). Gastrodiplomasi menjadi alat diplomasi publik dan karenanya aktor yang terlibat tidak hanya pemerintah namun juga diaspora, koki selebriti, agen pariwisata, acara TV memasak, praktisi, dan sosial media (Zhang, 2015).

Thailand menjadi negara pertama yang menerapkan praktek gastrodiplomasi yang pertama kali diabad ke-20 ini pada tahun 2002 dengan menggunakan program Global Thai dengan slogan “The Kitchen of The World”. Program Global Thai merupakan program Perdana Menteri Thaksin Shinawatra dengan tujuan untuk menduniakan masakan-masakan Thailand.

Masakan utama yang diangkat oleh Thailand yaitu Tom Yum. Program tersebut diiringi dengan strategi pemerintah yaitu membangun empat kali lipat lebih banyak dari jumlah restoran Thailand yang berada diseluruh dunia. Program tersebut berhasil memberikan penetrasi kepada negara-negara di dunia bahwa Tom Yum merupakan masakan khas Thailand. Kesuksesan

(2)

2

program Global Thai telah memberikan alternative pada negara-negara lain untuk mengembangkan gastrodiplomasinya. Banyak negara-negara yang mulai menggunakan gastrodiplomasi seperti Jepang dengan programnya yaitu Global Sushi Campaign pada tahun 2005, Korea Selatan dengan programnya yaitu Global Hansik di tahun 2009, kemudian Peru dengan Cocina Peruana Para El Mundo tahun 2008 (Zhang, 2015). Masih ada Taiwan, Malaysia, dan negara-negara lain yang mengikuti alternatif gastrodiplomasi setelah Thailand.

Berbagai langkah gastrodiplomasi negara-negara tersebut memiliki strategi kampanyenya masing-masing untuk mencapai keberhasilan gastrodiplomasinya sehingga dapat memperoleh manfaat positif dari program tersebut.

Pada tahun 2018, Menteri Pariwisata Indonesia tahun 2014 – 2019 yaitu Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc. menyampaikan pesan resminya pada laman website Kemenpar bahwa dirinya menjalankan diplomasi kuliner sebagai pendukung diplomasi sosial-ekonomi yang dapat dilakukan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia. Beliau menuturkan bahwa Diplomasi Sosial-Ekonomi sangat bermanfaat karena dapat menghadirkan dua manfaat sekaligus seperti ekspor film Hollywood yang memiliki dampak terhadap budaya dan sosial masyarakat sekaligus keuntungan ekonomi. Menteri Pariwisata Indonesia juga berpendapat bahwa kuliner merupakan salah satu alat yang strategis untuk memberikan penetrasi ke negara lain. Pada tahun 2017, dilansir dari lama berita CNN Travel, Rendang dan Nasi Goreng asal Indonesia menduduki peringkat 1 dan 2 untuk katagori makanan terbaik di dunia pilihan publik (CNN Travel, 2017). Hal ini menjadi besar bagi Indonesia untuk dapat melanggengkan program dan strategi gastrodiplomasinya karena makanan Indonesia cukup terbukti diminati oleh masyarakat Internasional melalui berita tersebut. Peluang tersebut didukung dengan besarnya kontribusi kuliner yaitu 45% di PDB Ekonomi Kreatif Indonesia yang disampaikan langsung oleh mantan Menteri Pariwisata Bapak Arief Yahya pada acara Wonderful Indonesia Gastronomy Forum 2018 (Kemenpar, 2018). Data yang dikeluarkan oleh BPS dan Bekraf yang dijelaskan pada laman Kemenparekraf Republik Indonesia pada tahun 2016 menunjukkan PDB pada bidang ekonomi kreatif Indonesia tahun 2016 mencapai sebesar Rp.923 triliun atau 7,4%

dari total PDB Indonesia. Dari nilai tersebut kontribusi kuliner menempati jumlah terbesar yaitu sekitar sebesar 41% atau senilai sekitar Rp.382 triliun. Dilihat dengan nilai besar industri kuliner Indonesia memiliki pengaruh hampir dua kali lipat lebih besar dari industri fesyen dan hampir tiga kali lipat lebih tinggi dari industri kriya. Hal ini menunjukkan betapa besarnya industri kuliner sehingga dapat dimanfaatkan lebih jauh dan terencana.

(3)

3

Di sektor pariwisata, pengeluaran wisatawan untuk kuliner adalah sekitar 30-40% dari total pengeluaran (Kemenpar, 2018). Apabila dilihat dari peluangnya, industri kuliner memang memiliki kekuatan untuk dapat dijadikan suatu alat yang ampuh dalam penyebaran penetrasi dan menguntungkan secara ekonomis. Melihat berbagai peluang yang dapat membuka jalan Indonesia dalam menjalankan gastrodiplomasi, pemerintah Indonesia perlu segera memiliki program strategi yang pasti demi memanfaatkan peluang gastrodiplomasi tersebut.

Meskipun dianggap masih terlalu lama dalam merespon adanya peluang gastrodiplomasi, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sejak tahun 2018 telah telah memiliki strategi untuk memaksimalkan bidang kuliner Indonesia yaitu program Co-Branding dengan tiga langkah utama. Pertama, penetapan National Foods yaitu lima makanan khas Indonesia yang telah ditetapkan sebagai andalan negara Indonesia antara lain Rendang, Sate, Nasi Goreng, Soto, dan Gado-Gado. Kedua, penetapan Destinasi Wisata Kuliner berstandar UNWTO. Ibu Vita Datau sebagai Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata Indonesia tahun 2014-2019 menetapkan adanya destinasi wisata kuliner Indonesia sebanyak tiga daerah yaitu Joglosemar, Bali, dan Bandung. Langkah ketiga yang paling penting adalah Co-Branding Restoran Indonesia Diaspora. Kemenpar memiliki peran pemerintah dan karenanya Kemenpar berusaha mendorong perkembangan restoran Indonesia di luar negeri dengan anggaran terbatas namun tetap efisien melalui langkah co-branding restoran-restoran Indonesia yang sudah ada di luar negeri (Kemenpar, 2018).

Strategi tersebut dipelajari Indonesia juga melalui langkah gastrodiplomasi Thailand sebelumnya.

Dari hal tersebut, penulis ingin menganalisis lebih lanjut mengenai langkah diplomasi kuliner yang dijalankan Kementerian Pariwisata Indonesia dalam mendukung upaya untuk memperkuat strategi gastrodiplomasi dari tahun 2018. Penulis ingin mengetahui apakah diplomasi kuliner yang dijalankan oleh Kementrian Pariwisata dapat menjadi langkah utama Indonesia untuk menjalankan strategi gastrodiplomasi. Penulis akan melihat program diplomasi kuliner Kementerian Pariwisata sebagai strategi gastrodiplomasi Indonesia yang mana memperjuangkan makanan sebagai nation branding melalui kacamata pariwisata lalu dianalisis sesuai strategi kampanye gastrodiplomasi menurut Juyan Zhang. Tidak hanya berhenti pada analisis strategi kampanye, penulis akan mencoba menjelaskan upaya pemerintah Indonesia dalam menjalankan program diplomasi kuliner dengan konsep Nation Branding diplomasi publik.

(4)

4

Dari hal tersebut, penulis tentunya akan berbicara mengenai bagaimana dan sejauh apa perjalanan gastrodiplomasi Indonesia dilihat dari sudut pandang pemerintah dalam negeri Indonesia yang mana dalam hal ini aktor utamanya adalah Kementerian Pariwisata melelaui program Diplomasi Kulinernya sebagai strategi gastrodiplomasi Indonesia yang menggunakan kekuatan soft power sehingga dapat mendatangkan manfaat ekonomi dan pariwisata.

1.2 Pertanyaan Penelitian

Bagaimana kebijakan Diplomasi Kuliner yang dijalankan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia sejak tahun 2018 dapat menjadi strategi gastrodiplomasi Indonesia?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan penjelasan tentang Diplomasi Kuliner sebagai strategi Indonesia dalam menjalankan Gastrodiplomasi yang dimulai pada tahun 2018 dengan menggunakan kajian diplomasi publik dan sesuai dengan indikator kampanye Gastrodiplomasi. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi jawaban mengenai langkah pemerintah Indonesia untuk memanfaatkan peluang gastronomi supaya dapat menjadi nation branding Indonesia dan memberikan pengaruh yang baik bagi citra Indonesia di

masyarakat internasional.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian mengenai gastrodiplomasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan bagi organisasi, mahasiswa, maupun masyarakat umum mengenai peluang dimulainya strategi gastrodiplomasi Indonesia yang dilaksanakan mulai tahun 2018 oleh Kementerian Pariwisata.

1.4.2 Manfaat Teoretis

Manfaat teoretis yang diharapkan dari penelitian ini yaitu dapat menjadi dukungan untuk salah satu referensi bagi pengembangan ilmu hubungan internasional, terutama dalam kajian diplomasi publik dan diplomasi kebudayaan melaui gastrodiplomasi.

1.5 Batasan penelitian

Penelitian ini akan mencakup upaya-upaya Kementerian Pariwisata yang dimulai dari tahun 2018 dalam melakukan Diplomasi Kuliner sebagai peluang awal strategi gastrodiplomasi

(5)

5

Indonesia. Aktor utama yang ada dalam penelitian ini tentunya adalah Kementerian Pariwisata.

Aktor-aktor lain yang akan hadir dalam penelitian ini yaitu Kementerian Luar Negeri, KBRI atau KJRI, diaspora, selebriti Indonesia, dan media. Penelitian ini terbatas oleh adanya pergantian masa jabatan pemerintahan Indonesia yang berakhir pada tahun 2019 dan penelitian ini tidak sampai pada tahap mengevaluasi program Diplomasi Kuliner. Penelitian ini mencoba menganalisis dan menjelaskan peran pemerintah Indonesia dalam menjawab potensi kuliner Indonesia dan peluang gastronomi sebagai branding nasional yang dapat dijadikan citra negara dengan cara yang ditempuh melalui diplomasi publik.

Referensi

Dokumen terkait

Seperti halnya penerapan ICT berdasarkan sarana dan prasarana (infrastruktur) yang ada di Museum Angkut, dimana penerapan ICT ini bertujuan untuk mempermudah

Penyerapan tenaga kerja merupakan jumlah tertentu dari tenaga kerja yang digunakan dalam suatu unit usaha tertentu atau dengan kata lain penyerapan tenaga kerja

5) Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Dalam rangka menunjang perbaikan regulasi pengusahaan UCG diperlukan litbang UCG di Indonesia. Hal ini perlu dilakukan mengingat

Menginstruksikan KPA Satker terkait agar memberikan sanksi administratif sesuai ketentuan yang berlaku kepada PPK dan Konsultan Pengawas atas kelalaiannya dalam melakukan pengawasan

anita usia subur - cakupan yang tinggi untuk semua kelompok sasaran sulit dicapai ;aksinasi rnasai bnntuk - cukup potensial menghambat h-ansmisi - rnenyisakan kelompok

Ringkasnya, meskipun struktur kristal serbuk ferit hasil sintesis telah sama dengan produk komersial, namun sifat-sifat magnetik magnet yang dihasilkan masih belum dapat

1. Adanya perasaan senang terhadap belajar. Adanya keinginan yang tinggi terhadap penguasaan dan keterlibatan dengan kegiatan belajar. Adanya perasaan tertarik yang

20 Tahun 2001 Tentang Pemilikan Saham Dalam Perusahaan yang Didirikan Dalam Rangka Penanaman Modal Asing yakni dalam rangka lebih mempercepat peningkatan dan perluasan kegiatan