• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PERSEPSI PERINGATAN KESEHATAN BERGAMBAR PADA KEMASAN ROKOK TERHADAP PERILAKU MEROKOK MAHASISWA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA TAHUN 2018 SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH PERSEPSI PERINGATAN KESEHATAN BERGAMBAR PADA KEMASAN ROKOK TERHADAP PERILAKU MEROKOK MAHASISWA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA TAHUN 2018 SKRIPSI"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PERSEPSI PERINGATAN KESEHATAN BERGAMBAR PADA KEMASAN ROKOK

TERHADAP PERILAKU MEROKOK MAHASISWA UNIVERSITAS

SUMATERA UTARA TAHUN 2018

SKRIPSI

Oleh

MEITRIE NELLA NIM. 141000546

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2019

(2)

SUMATERA UTARA TAHUN 2018

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Oleh

MEITRIE NELLA NIM. 141000546

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2019

(3)
(4)

iv TIM PENGUJI SKRIPSI

Ketua : Dr. Juanita, S.E., M.Kes.

Anggota : 1. dr. Rusmalawaty, M. Kes.

2. Puteri Citra Cinta A Nasution, S.K.M., M.Kes.

(5)

v

Pernyataan Keaslian Skripsi

Saya menyatakan dengan ini bahwa skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Persepsi Peringatan Kesehatan Bergambar pada Kemasan Rokok terhadap Perilaku Merokok Mahasiswa Universitas Sumatera Utara Tahun 2018”

beserta seluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Medan, Desember 2018

Meitrie Nella

(6)

vi

Merokok telah menjadi kebiasaan bagi masyarakat di Indonesia dan menjadikan angka konsumsi tembakau yang tinggi yang menjadi salah satu masalah kesehatan dunia. Hal ini menyebabkan prevalensi merokok di Indonesia sangat tinggi, khususnya pada remaja laki-laki. Tren usia merokok juga meningkat pada usia remaja dan tertinggi berada pada usia 15-19 tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh persepsi peringatan kesehatan bergambar pada kemasan rokok terhadap perilaku merokok mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) Tahun 2018. Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa USU angkatan 2017 dengan sampel sebanyak 179 orang. Instrumen data menggunakan kuesioner. Data univariat dianalisis dengan deskriptif dan data bivariat dianalisis dengan Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi mengenai peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok bervariasi antara persepsi negatif (44,7%) dan persepsi positif (55,3%). Hasil uji Spearman Rank menunjukkan ada pengaruh antara persepsi peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok terhadap perilaku merokok mahasiswa Universitas Sumatera Utara (p value=0,000; CI = 95%). Peringatan kesehatan bergambar dibuat agar mampu membuat masyarakat mempertimbangkan dampak merokok. Diharapkan kerjasama berbagai pihak untuk dapat mengurangi angka perilaku merokok khususnya di lingkungan institusi pendidikan.

Kata kunci: Persepsi, kemasan rokok, perilaku merokok

(7)

vii Abstract

Smoking has been a habit for people in Indonesia and made the high rate of tobacco consumption one of world’s health problem This causes the prevalence of smoking in Indonesia to be very high, especially in boys. The trend of smoking age also increases in adolescence and the highest is in 15-19 years. The purpose of this study was to know the impact of perception of pictorial health warning on cigarrette pack to smoking behaviour of the students in University of Sumatera Utara (USU) in 2018. The populations were all the students of USU year 2017 and the sample were 179 students. The instrument used was questionnaire.

Univariate data were analyzed by using by descriptive while bivariate data were analyzed by using Sperman Rank test. The results showed that perception of pictorial health warning on cigarrette pack are varied with negative perception (44,7%) and positive perception (55,3%). The Spearman Rank test showed there was correlation between perception of pictorial health warning on cigarrette pack and smoking behaviour of student in Universitas Sumatera Utara (p value = 0,000; CI = 95%). Pictorial health warning was made to make people consider the impact of smoking. It is expected for parties to work together in reducing the smoking behavior numbers especially in academy.

Keywords: Perception, cigarrette pack, smoking behaviour

(8)

viii

berkah yang telah diberikan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Persepsi Peringatan Kesehatan Bergambar pada Kemasan Rokok terhadap Perilaku Merokok Mahasiswa Universitas Sumatera Utara Tahun 2018”. Skripsi ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak baik moril maupun materil. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si., selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes., selaku Ketua Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

4. Dr. Juanita, S.E., M.Kes., selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan

waktu dan dengan sabar memberikan bimbingan, arahan, dan masukan

kepada penulis dalam penyempurnaan skripsi ini.

(9)

ix

5. dr. Rusmalawaty, M.Kes., selaku Dosen Penguji I yang telah meluangkan waktu dalam penyempurnaan skripsi ini.

6. Puteri Citra Cinta A Nasution, S.K.M., M.Kes., selaku Dosen Penguji II yang telah meluangkan waktu dalam penyempurnaan skripsi ini.

7. Isyatun Mardiyah Syahri, S.K.M., M.Kes., selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah membimbing penulis selama menjalani perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat USU.

8. Seluruh Dosen, dan Staf Pegawai Fakultas Kesehatan Masyarakat USU yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Teristimewa untuk kedua orang tua, Effendy Situmorang dan Arusma Dorma Siambaton, serta Winda Mercyta dan seluruh keluarga yang telah memberikan do’a, dukungan, motivasi serta kasih sayang kepada penulis selama menjalani pendidikan hingga menyelesaikan skripsi ini.

10. Teman-teman selama berkuliah di FKM USU atas segala semangat dan dukungan kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan kontribusi yang positif dan bermanfaat bagi pembaca.

Medan, Desember 2018

Meitrie Nella

(10)

x

Halaman Persetujuan i

Halaman Penetapan Tim Penguji ii

Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi iii

Abstrak iv

Abstract v

Kata Pengantar vi

Daftar Isi viii

Daftar Tabel x

Daftar Gambar xi

Daftar Lampiran xii

Daftar Istilah xiii

Riwayat Hidup xiv

Pendahuluan 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 7

Tujuan Penelitian 7

Manfaat Penelitian 8

Tinjauan Pustaka 9

Persepsi 9

Komponen persepsi 10

Proses persepsi 11

Konsep Rokok 15

Jenis rokok 15

Kandungan rokok 16

Jenis perokok 17

Tahapan perilaku merokok 17

Aspek-aspek perilaku merokok 18

Kebijakan pengendalian tembakau 19

Dampak positif pengendalian tembakau 22

Peringatan kesehatan bergambar pada kemasan rokok 24

Hasil Penelitian yang Relevan 26

Landasan Teori 27

Kerangka Konsep 28

Metode Penelitian 29

Jenis Penelitian 29

Lokasi dan Waktu Penelitian 29

Populasi dan Sampel 29

(11)

xi

Variabel dan Definisi Operasional 30

Metode Pengumpulan Data 31

Metode Pengukuran 31

Metode Analisis Data 33

Hasil Penelitian 34

Gambaran Umum Lokasi Penelitian 34

Hasil Analisis Univariat 35

Deskripsi karakteristik responden berdasarkan usia, usia mulai merokok, jumlah batang rokok perhari, dan alasan

tetap merokok 35

Gambaran persepsi peringatan kesehatan bergambar pada

bungkus rokok mahasiswa Universitas Sumatera Utara 37 Gambaran perilaku merokok mahasiswa Universitas

Sumatera Utara 44

Hasil Analisis Bivariat 48

Pengaruh persepsi peringatan kesehatan bergambar pada kemasan rokok terhadap perilaku merokok mahasiswa

Universitas Sumatera Utara 48

Pembahasan 50

Pengaruh Persepsi Peringatan Kesehatan Bergambar pada Kemasan Rokok terhadap Perilaku Merokok Mahasiswa

Universitas Sumatera Utara 50

Keterbatasan Penelitian 54

Kesimpulan dan Saran 55

Kesimpulan 55

Saran 55

Daftar Pustaka 57

Lampiran 60

(12)

xii

No Judul Halaman

1 Aspek Pengukuran Variabel Dependen 32

2 Aspek Pengukuran Variabel Independen 32

3 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Usia, Usia Mulai Merokok, Jenis Kelamin, Fakultas, Jumlah Batang Rokok

Perhari, dan Alasan Tetap Merokok 37

4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Peringatan

Kesehatan Bergambar pada Kemasan Rokok 38

5 Distribusi Jawaban Responden untuk Pertanyaan Variabel Persepsi Peringatan Kesehatan Bergambar pada Kemasan

Rokok 39

6 Distribusi Frekuensi Variabel Persepsi Peringatan

Kesehatan Bergambar pada Kemasan Rokok 43

7 Distribusi Jawaban Responden untuk Pertanyaan Variabel

Perilaku Merokok 44

8 Distribusi Frekuensi Klasifikasi Perilaku Merokok menurut

Smet 47

9 Analisis Pengaruh Persepsi Peringatan Kesehatan Bergambar pada Kemasan Rokok terhadap Perilaku Merokok Mahasiswa

Universitas Sumatera Utara 49

(13)

xiii Daftar Gambar

No Judul Halaman

1 Proses persepsi 12

2 Peringatan kesehatan bergambar pada kemasan rokok

di Indonesia 26

3 Kerangka konsep 28

(14)

xiv

Lampiran Judul Halaman

1 Kuesioner Penelitian 60

2 Output SPSS 62

3 Master Data 73

4 Surat Permohonan Izin Penelitian 80

5 Surat Izin Penelitian 81

6 Dokumentasi Survey Online 82

(15)

xv Daftar Istilah

ASEAN Association of Southeast Asian Nations Depkes RI Departemen Kesehatan Republik Indonesia FCTC Framework Convention on Tobacco Control GNSBQ Glover Nilsson Smoking Behavior Questionnaire RisKesDas Riset Kesehatan Dasar

SKM Sigaret Kretek Mesin

SKT Sigaret Kretek Tangan

WHO World Health organization

(16)

xvi

pada tanggal 3 Mei 1996. Penulis beragama Kristen Protestan, anak Pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Saur Effendy Hamonangan dan Ibu Arusma Dorma Siambaton.

Pendidikan formal dimulai di TK Santo Markus II Jakarta Tahun 2001.

Pendidikan sekolah dasar di SD Santo Markus II Jakarta Tahun 2002-2008, sekolah menengah pertama di SMP Negeri 128 Jakarta Tahun 2008-2011, dan sekolah menengah atas di SMA Negeri 67 Jakarta Tahun 2011-2014. Selanjutnya, penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Medan, Desember 2018

Meitrie Nella

(17)

1

Pendahuluan

Latar Belakang

Merokok telah menjadi kebiasaan bagi sebagian besar kelompok masyarakat di Indonesia. Masyarakat mencari berbagai alasan untuk membenarkan kegiatan merokok, seperti penghilang penat, salah satu kegiatan menambah relasi, dan sebagainya. Kebiasaan merokok tersebut menjadikan tingginya angka konsumsi tembakau yang menjadi salah satu masalah dunia karena sifatnya yang adiktif dan sulit diputus mata rantainya. Hasilnya, tembakau menjadi sebuah epidemi yang merupakan salah satu ancaman kesehatan masyarakat yg dihadapi dunia karena telah menelan jutaan nyawa dalam setahun.

Penggunaan tembakau yang tinggi disebabkan oleh beberapa faktor, salah satu diantaranya adalah perilaku merokok masyarakat itu sendiri. Perilaku merokok merupakan aktifitas dari membakar rokok lalu menghisap asap rokok dan mengehembuskannya dan merasa bahwa merokok merupakan aktivitas yang menyenangkan (Komasari dan Helmi, 2000). Salah satu yang mendukung perilaku merokok adalah keputusan setiap individu untuk merokok. Keputusan ini merupakan hasil dari psikologi seseorang, yaitu persepsi.

Persepsi dalam pengertian psikologi adalah proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat untuk memperoleh informasi tersebut adalah penginderaan (penglihatan, pendengaran, peraba, dan sebagainya). Sebaliknya, alat untuk memahaminya adalah kesadaran atau kognisi (Sarwono, 2002).

Menurut Sobur (2003), Persepsi dalam arti luas berarti pandangan atau

pengertian, penglihatan, yaitu bagaimana sesseorang memandang atau

(18)

mengartikan sesuatu. Menurut rumusan teori rangsangan-tanggapan, persepsi merupakan bagian dari keseluruhan proses yang menghasilkan tanggapan setelah rangsangan diterapkan kepada manusia. Persepsi adalah suatu proses otomatis yang terjadi dengan sangat cepat dan kadang tidak kita sadari, dimana kita dapat mengenali stimulus yang kita terima. Persepsi yang kita miliki ini dapat memengaruhi tindakan kita. Persepsi disebut juga sebagai proses dimana seseorang mengorganisasikan dan menginterpretasikan sensasi yang dirasakan dengan tujuan untuk memberi makna terhadap lingkungannya.

Menurut Notoatmodjo (2010), Walaupun proses mulai dari rangsangan fisik hingga interpretasi terjadi cepat, namun untuk mempelajari persepsi kita dapat membaginya menjadi dua bagian besar yaitu proses sensasi atau merasakan yang menyangkut proses sensoris dan proses persepsi yang menyangkut interpretasi kita terhadap objek yang kita lihat atau kita dengar atau kita rasakan.

Menurut Walgito (2003), indikator dalam terjadinya persepsi adalah adanya penyerapan rangsangan dari berbagai objek yang diterima indera dan berupa gambaran, tanggapan, dan kesan dalam otak untuk selanjutnya diorganisir dan diinterpretasi menjadi suatu pengertian atau pemahaman yang disebut penilaian dari individu sebagai hasil persepsi tersebut. Penilaian individu sifatnya berbeda-beda meskipun objeknya sama oleh sebab itu persepsi bersifat individual.

World Health Organization (WHO) memfokuskan masalah terkait penggunaan tembakau ke dalam suatu kesepakatan pembatasan produk tembakau.

Tujuan dari pembuatan kesepakatan ini jelas untuk mencegah dan mengurangi

beban penyakit yang diakibatkan dari penggunaan tembakau. Kesepakatan ini

(19)

3

disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Pada FCTC ini bertujuan sebagai acuan dalam implementasi berbagai kebijakan pengendalian tembakau, termasuk ketentuan dalam pelabelan bungkus rokok yang dikenal dengan peringatan kesehatan bergambar atau pictorial health warning. Ketentuan pelabelan bungkus rokok diantaranya yaitu mengharuskan setiap rokok untuk menampilkan peringatan kesehatan yang jelas dan besar dalam bentuk gambar dan menutupi sekitar 30 sampai 50 persen bungkus rokok.

Peringatan kesehatan pada bungkus rokok ini pertama kali diperkenalkan pada bungkus rokok di Kanada pada Desember 2000. Pada label bungkus rokok tersebut menampilkan berbagai peringatan kesehatan dalam bentuk gambar yang menutupi lebih dari 50% bagian depan dan belakang rokok. Pada bagian dalam rokok terdapat pesan peringatan kesehatan yang lebih detail dan informasi untuk berhenti merokok (Hammond, 2004). Hasil penelitian Hammond tersebut menunjukkan bahwa dari 432 total sampel yang diteliti, sebanyak 13% perokok merasa informasi mengenai resiko kesehatan akibat merokok tidak akurat, 27%

perokok menyatakan bahwa peringatan tersebut mengandung terlalu banyak informasi resiko kesehatan, dan 50% perokok lainnya ingin melihat informasi kesehatan yang lebih banyak lagi.

Efektifitas peringatan kesehatan dibuktikan dengan studi evaluasi di beberapa negara, seperti di Brazil, sebanyak 54% responden berubah pendapatnya tentang konsekuensi kesehatan akibat merokok dan 67% ingin berhenti merokok.

Penerapan peringatan tersebut juga mendorong keinginan perokok untuk berhenti

merokok di Singapura dan Thailand masing-masing sebesar 25% dan 92%

(20)

(Ritthiphakdee, 2008).

Penelitian mengenai ektifitas peringatan kesehatan yang dilakukan Suyasa dan Santhi (2015) di Kabupaten Badung, Bali menyatakan dari 100 responden, sebanyak 52 orang berniat untuk berhenti merokok. Hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa persepsi seseorang saat melihat peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok berpengaruh terhadap perilaku merokok seseorang tersebut.

Perilaku manusia pada hakekatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain:

berjalan, berbicara, menangis, tertawa, dan sebagainya. Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Fitriani, 2011).

Ahli psikologi Benyamin Bloom membagi perilaku manusia ke dalam tiga

domain atau ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Seiring perkembangan

waktu, teori Bloom ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan

kesehatan, salah satunya praktek atau tindakan. Suatu sikap belum otomatis

terwujud tanpa suatu tindakan. Praktek atau tindakan ini mempunyai beberapa

tingkatan. Praktek tingkat pertama yaitu persepsi untuk mengenal dan memilih

berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan duambil. Setelah

seseorang mengetahui stimulus atau objek, kemudian mengadakan penilaian atau

pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya diharapkan dapat

melaksanakan atau mempraktekkan apa yang diketahui atau disikapimya.

(21)

5

(Notoatmodjo, 2003).

Prevalensi merokok di Indonesia sangat tinggi di berbagai lapisan masyarakat, terutama pada laki-laki mulai dari anak-anak, remaja, dan dewasa.

Data WHO (2017) menyatakan sebesar 21,4% remaja laki-laki merupakan perokok aktif, 64,9% laki-laki dewasa merupakan perokok aktif, dan 62%

diantaranya merokok setiap hari. Data lainnya semakin membuktikan adanya peningkatan jumlah perokok yang signifikan dari tahun ke tahun. Proporsi penduduk umur diatas 15 tahun yang merokok cenderung meningkat, berdasarkan Riskesdas 2007 sebesar 34,2%, Riskesdas 2010 sebesar 34,7% dan Riskesdas 2013 sebesar 36,3%. Angka proporsi merokok setiap hari jika dilihat dari provinsi, maka proporsi tertinggi adalah Provinsi Riau sebesar 27,2% dan terendah adalah Provinsi Papua sebesar 16,2%. Proporsi penduduk umur diatas 15 tahun untuk Provinsi Sumatera Utara sebesar 24,2% (Riset Kesehatan Dasar, 2013).

Tren usia merokok juga meningkat pada usia remaja, yaitu 10-14 tahun dan 15-19 tahun. Hasil Riskesdas pada Tahun 2007, 2010 dan 2013 juga menunjukkan bahwa usia merokok pertama kali paling tinggi berada pada usia 15- 19 tahun. Provinsi yang proporsi angka mulai merokok pada rentang usia 15-19 tahun dan melebihi rata-rata nasional diantaranya, yaitu Provinsi Lampung, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Bengkulu, dan Jambi. Prevalensi angka perokok usia 15-19 tahun untuk Provinsi Sumatera Utara sebesar 53%, setara dengan Provinsi Aceh dan Sumatera Selatan.

Universitas Sumatera Utara merupakan salah satu perguruan tinggi negeri

yang berada di Kota Medan. Sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Kota

(22)

Medan, Universitas Sumatera Utara masih berusaha menjadi kampus tanpa rokok sesuai kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2014 meski hingga saat ini sudah ada fakultas yang menerapkan himbauan berupa spanduk atau poster yang ditempel di lingkungan kampus untuk tidak merokok di sekitarnya. Perguruan tinggi di Kota Medan yang sudah menjadikan kampusnya tanpa rokok yaitu Universitas Sari Mutiara.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di lingkungan kampus Universitas Sumatera Utara, peneliti melihat bahwa mahasiswa saat ini suka berkumpul dengan sesama mahasiswa lainnya di kantin atau warung kopi sambil bersantai, mengerjakan tugas, ataupun sekedar berdiskusi. Kegiatan tersebut dijadikan mahasiswa sebagai salah satu sarana menambah relasi pertemanan maupun melepas kejenuhan terhadap aktivitas. Observasi tersebut menarik karena hampir setiap kelompok mahasiswa yang ditemukan sedang berkumpul tidak lepas dari kegiatan merokok. Ketika peneliti menanyakan apakah mereka mengerti dampak yang diberikan dari merokok, jawaban yang diberikan sangat beragam, tetapi tidak semua mahasiswa yang merokok benar-benar paham mengenai dampaknya. Hasil observasi yang sama yang dilakukan di lingkungan kampus Universitas Sumatera Utara dengan penelitian sebelumnya tidak jauh berbeda. Mahasiswa yang menjadi sampel penelitian dalam penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2017 dengan alasan para mahasiswa tersebut berada pada rentang usia 15-19 tahun dan dianggap sesuai dengan umur angka prevalensi merokok yang tinggi.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh

(23)

7

persepsi peringatan kesehatan bergambar penyakit pada bungkus rokok terhadap perilaku merokok mahasiwa itu sendiri. Bagaimana mereka akan mempersepsikan gambar-gambar seram di bungkus rokok dan sejauh mana persepsi tersebut mempengaruhi perilaku merokok mereka.

Penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Windira (2016), mengenai Hubungan Persepsi Visual Gambar Patologi Bahaya Merokok pada Bungkus Rokok dengan Perilaku Merokok pada Remaja yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara persepsi visual yang ditampilkan pada kemasan rokok terhadap perilaku merokok remaja. Penelitian Grafiyana (2015), mengenai Pengaruh Persepsi Label Peringatan Bergambar terhadap Minat Merokok menyatakan bahwa label peringatan bergambar pada kemasan rokok berpengaruh terhadap minat merokok. Penelitian lain juga yang dilakukan oleh Pratama (2016), mengenai Pengaruh Terpaan Informasi Kemasan Rokok terhadap Minat Merokok Pelajar yang menyatakan bahwa ada pengaruh kuat dari terpaan informasi kemasan bungkus rokok terhadap minat merokok, yang berarti semakin sering frekuensi mereka melihat informasi yang tertera pada bungkus rokok, semakin rendah minat mereka untuk merokok.

Perumusan Masalah

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana persepsi mahasiswa Universitas Sumatera Utara pada peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok terhadap perilaku merokok?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi mahasiswa

(24)

Universitas Sumatera Utara yang merokok terhadap peringatan kesehatan bergambar, mengetahui perilaku merokok mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang merokok, dan mengetahui pengaruh persepsi peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok terhadap perilaku merokok pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara Tahun 2018.

Manfaat Penelitian

Bagi peneliti. Memberikan pengalaman berharga bagi peneliti dan penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman untuk penelitian selanjutnya dengan menggunakan variabel berbeda.

Bagi akademisi. Sebagai bahan pengembangan ilmu pengetahuan

kesehatan masyarakat khususnya bidang ilmu Administrasi dan Kebijakan

Kesehatan.

(25)

9

Tinjauan Pustaka

Persepsi

Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera atau juga disebut proses sensoris. Namun, proses itu tidak berhenti begitu saja, melainkan stimulus tersebut diteruskan dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi. Karena itu, proses persepsi tidak dapat lepas dari proses penginderaan dan proses penginderaan merupakan proses pendahulu dari proses persepsi.

Proses penginderaan akan berlangsung setiap saat, pada waktu individu menerima stimulus melalui alat indera, yaitu mata sebagai alat penglihatan, telinga sebagai alat pendengaran, hidung sebagai alat pembauan, lidah sebagai alat pengecapan, dan kulit pada telapak tangan sebagai alat perabaan; yang kesemuanya merupakan sebagai alat penghubung antara individu dengan dunia luarnya. Stimulus yang diindera itu kemudian oleh individu diorganisasikan dan diinterpretasikan sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang diindera itu, dan proses ini disebut dengan proses persepsi (Walgito, 2003).

Secara etimologis, persepsi atau dalam bahasa Inggris perception berasal dari bahasa Latin perceptio; dari percipere, yang artinya menerima atau mengambil. Sobur (2003), mengatakan bahwa kata ‘persepsi’ biasanya dikaitkan dengan kata lain, menjadi, persepsi diri, persepsi sosial dan persepsi interpersonal.

Dalam kepustakaan berbahasa Inggris, istilah yang banyak digunakan adalah

’social perception’. Objek fisik umumnya memberi stimulus fisik yang sama,

(26)

sehingga orang mudah membuat persepsi yang sama.

Beberapa ahli telah memberikan definisi mengenai persepsi secara beragam, meskipun pada dasarnya prinsipnya tetap sama. Menurut Epstein dan Rogers dalam Stenberg (2008), persepsi adalah seperangkat proses yang dengannya kita mengenali, mengorganisasikan, dan memahami cerapan-cerapan inderawi yang kita terima dari stimuli lingkungan.

Persepsi menurut Leavitt (1978) dalam Sobur (2003), dalam arti sempit ialah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu; sedangkan dalam arti luas ialah pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Menurut Devito dalam Sobur (2003), persepsi adalah proses ketika kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang memengaruhi indera kita,

Menurut Moskowitz dan Ogel dalam Walgito (2003), persepsi merupakan proses pengorganisasian, penginteroretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terpadu dalam diri individu. Persepsi menurut Sarwono (2002) adalah proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat untuk memperoleh informasi tersebut adalah penginderaan, dan alat untuk memahaminya adalah kesadaran atau kognisi.

Komponen persepsi. Persepsi merupakan bagian dari keseluruhan proses

yang menghasilkan tanggapan setekah rangsangan diterapkan kepada manusia,

oleh karena itu, untuk mengubah tingkah laku seseorang, harus dimulai dari

mengubah persepsinya. Sobur (2003), menjelaskan ada tiga komponen utama

(27)

11

dalam proses persepsi, yaitu:

a. Seleksi

Merupakan proses penyaringan oleh indera terhadap rangsangan dari luar, intensitas dan jenisnya dapat banyak atau sedikit.

b. Interpretasi

Merupakan proses mengorganisasikan informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang, interpretasi dipengaruhi oleh berbagai faktorm seperti pengalaman masa lalu, sistem nilai yang dianut, motivasi, kepribadian, dan kecerdasan. Interpretasi juga bergantung pada kemampuan seseorang untuk mengadakan pengkategorian informasi yang diterimanya.

Interpretasi dan persepsi kemudian diterjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi. Jadi, proses persepsi adalah melakukan seleksi, interpretasi, dan pembulatan terhadap informasi yang sampai.

Proses persepsi. Persepsi, yakni apa saja yang dialami oleh manusia, berawal dari alat sensor ditambah cara seseorang memperoleh informasi yang diterimanya. William James, psikolog terkenal dari Amerika, menyatakan: “Part of what we perceive come through the sense from the object before us; another part ...always comes...out of our own head” (Morgan dalam Sobur, 2003).

Meskipun banyak stimulus berbeda-beda yang sampai kepada kita tentang

masalah yang sama, apa yang bisa kita hayati adalah terbatas pada saat-saat

tertentu. Apa yang kita hayati tidak hanya tergantung pada stimulus, tetapi juga

pada proses kognitif yang merefleksikan minat, tujuan, dan harapan seseorang

pada saat itu. Pemusatan persepsi ini disebut “perhatian”.

(28)

DeVitto (1997), mengilustrasikan bagaimana persepsi bekerja dengan menjelaskan tiga langkah yang terlibat dalam proses ini dan ketiganya bersifat kontinyu (Sobur, 2003).

Gambar 1. Proses persepsi

Proses diatas dapat dijabarkan sebagai berikut:

a. Terjadinya stimulasi alat indera

Pada tahap pertama, alat-alat indera distimulasi (dirangsang); melalui apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita cium, maupun apa yang kita rasakan. Tetapi kita tidak selalu menggunakan alat indera meskipun memiliki kemampuan pengindraan untuk merasakan stimulus atau rangsangan. Misalnya, ketika kita terlalu banyak melamun sehingga indera pendengaran menjadi lemah dalam bekerja, dan secara tidak sadar ketika seseorang memanggil nama kita. Barulah kita sadar ketika nama kita disebut- sebut, tetapi tidak tahu sebabnya. Ini merupakan contoh yang jelas bahwa kita akan menangkap yang kelihatannya tidak bermakna.

b. Stimulasi terhadap alat indera diatur

Pada tahap kedua ini, rangsangan terhadap alat indera diatur menurut berbagai prinsip. Salah satu prinsip yang sering digunakan adalah prinsip proksimitas atau kemiripan: pesan yang secara fisik mirip satu sama lain

Terjadinya stimulasi alat indera

Stimulasi alat indera

diatur

Stimulasi

alat indera

ditafsirkan

(29)

13

dipersepsikan bersama-sama. Prinsip lain adalah kelengkapan kita memandang atau memersepsikan suatu gambar atau pesan yang dalam kenyataan tidak lengkap sebagai gambar atau pesan yang lengkap.

c. Stimulasi alat indera ditafsirkan-dievaluasi

Langkah ketiga dalam proses perseptual adalah penafsiran-evaluasi.

Kedua istilah ini digabungkan untuk menegaskan bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan dan merupakan proses subjektif yang melibatkan evaluasi di pihak penerima rangsangan. Walaupun kita semua menerima sebuah pesan, cara masing-masing orang menafsirkan atau mengevaluasinya tidaklah sama.

Perbedaan individu ini jangan sampai membutakan kita akan validitas beberapa generalisasi tentang persepsi. Meskipun generalisasi ini belum tentu berlaku untuk orang tertentu, tampaknya ia berlaku untuk sebagian besar orang.

Walgito (2003), menjelaskan proses persepsi sebagai berikut. Objek menimbulkan stimulus, kemudian stimulus tersebut mengenai alat indera atau yang dikenal dengan sebutan reseptor. Perlu diketahui, objek dan stimulus merupakan dua hal yang berbeda, tetapi ada kalanya objek dan stimulus itu menjadi satu, misalnya dalam hal tekanan. Benda sebagai objek akan langsung mengenai kulit yang merupakan alat indera, sehingga akan terasa tekanan tersebut.

Proses stimulus mengenai alat indera merupakan proses kealaman atau

proses fisik. Stimulus yang diterima oleh alat indera diteruskan oleh syaraf

sensoris ke otak. Kemudian terjadilah proses di otak sebagai pusat kesadaran

(30)

sehingga individu menyadari apa yang dilihat, atau apa yang didengar, atau apa yang diraba. Proses yang terjadi dalam otak atau dalam pusat kesadaran ini disebut sebagai proses psikologis. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tahap akhir dari proses persepsi adalah individu menyadari tentang apa yang dilihat, didengar, maupun diraba oleh individu tersebut, yaitu stimulus yang diterima oleh alat indera. Proses terakhir dari persepsi ini merupakan persepsi sebenarnya. Respon sebagai akibat dari persepsi dapat diambil oleh individu dalam berbagai macam bentuk.

Faktor yang berperan dalam persepsi. Walgito (2003), mengemukakan beberapa faktor yang merupakan syarat agar terjadi persepsi, yaitu:

a. Objek yang dipersepsi

Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor.

Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersepsi, tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan yang langsung mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor. Namun, sebagian besar stimulus datang dari luar individu.

b. Alat indera, syaraf, dan pusar susunan syaraf

Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus. Di samping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk menerukan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf, yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Sebagai alat untuk mengadakan respon diperlukan syaraf motoris.

c. Perhatian

(31)

15

Untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian, yaitu merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas indiviu yang ditujukan kepada sesuatu atau sekumpulan objek.

Konsep Rokok

Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012, dijelaskan bahwa produk tembakau adalah suatu produk yang secara keseluruhan atau sebagian terbuat dari daun tembakau sebagai bahan bakunya yang diolah untuk digunakan dengan cara dibakar, dihisap, dan dihirup atau dikunyah. Sedangkan rokok adalah salah satu produk tembakau yang dimaksudkan untuk dibakar dan dihisap dan/atau dihirup asapnya, termasuk rokok kretek, rokok putih, cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman nicotiana tabacum, nicotiana rustica, dan spesies lainnya atau sintetisnya yang asapnya mengandung nikotin dan tar, dengan atau tanpa bahan tambahan.

Jenis rokok. Jenis rokok di Indonesia dibedakan menjadi beberapa jenis menurut Jaya (2012), yaitu:

1. Rokok berdasarkan bahan pembungkus:

a) Klobot : rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun jagung b) Kawun : rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun aren c) Sigaret : rokok yang bahan pembungkusnya berupa kertas

d) Cerutu : rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun tembakau

2. Rokok berdasarkan bahan baku

(32)

a) Rokok putih : rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun tembakau yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.

b) Rokok kretek : rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau dan cengkeh yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.

c) Rokok klembak : rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau, cengkeh, dan kemenyan yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu

3. Rokok berdasarkan proses pembuatannya

a) Sigaret Kretek Tangan (SKT) : rokok yang proses pembuatannya dengan cara digiling atau dilinting dengan menggunakan tangan dan atau alat bantu seerhana

b) Sigaret Kretek Mesin (SKM) : rokok yang proses pembuatannya menggunakan mesin

4. Rokok berdasarkan penggunaan filter

a) Rokok filter : rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat gabus

b) Rokok non filter : rokok yang pada bagian pangkalnya tidak terdapat gabus

Kandungan rokok. Menurut Muhibah (2011), racun rokok yang paling utama adalah sebagai berikut:

1. Nikotin

Nikotin dapat meningkatkan adrenalin yang membuat jantung

berdebar lebih cepat dan bekerja lebih keras, frekuensi jantung meningkat dan

(33)

17

kontraksi jantung meningkat sehingga menimbulkan tekanan darah meningkat (Tawbariah, 2014).

2. Tar

Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru, mengandung bahan-bahan karsinogen (Mardjun, 2012).

3. Karbon monoksida (CO)

Merupakan gas berbahaya yang terkandung dalam asap pembuangan kendaraan. CO menggantikan 15% oksigen yang seharusnya dibawa oleh sel- sel darah merah. CO juga dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah dan meninggikan endapan lemak pada dinding pembuluh darah, menyebabkan pembuluh darah tersumbat.

Jenis perokok. Menurut Sitepoe (2000), ada tiga jenis perokok, yaitu:

a. Perokok ringan

Seseorang dikatakan perokok ringan apabila merokok sebanyak 1 sampai 10 batang perhari.

b. Perokok sedang

Seseorang dikatakan perokok sedang apabila merokok sebanyak 11 sampai 20 batang perhari.

c. Perokok berat

Seseorang dikatakan perokok berat apabila merokok lebih dari 24 batang sehari.

Tahapan perilaku merokok. Menurut Komasari dan Helmi (2000),

terdapat empat tahap dalam perilaku merokok sehingga seorang individu benar-

(34)

benar menjadi perokok, yaitu:

a. Tahap preparatory

Tahap ini merupakan tahap dimana seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok sehingga menimbulkan minat untuk merokok.

b. Tahap initiation

Tahap ini merupakan tahap dimana seseorang memilih untuk meneruskan atau tidak terhadap perilaku merokok.

c. Tahap becoming a smoker

Tahap ini merupakan tahap apabila seseorang telah mengonsumsi rokok sebanyak empat batang perhari, maka ia akan mempunyai kecenderungan untuk menjadi perokok aktif.

d. Tahap maintenance of smoking

Tahap ini merupakan tahap dimana merokok sudah menjadi salah satu cara pengaturan diri dan merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan.

Aspek-aspek perilaku merokok. Menurut Martin dan Pear (2015), ada tiga dimensi perilaku merokok yang dapat diukur, yaitu:

a. Durasi

Durasi merupakan suatu dimensi yang mengacu pada lamanya waktu yang digunakan untuk melakukan suatu perilaku. Dimensi ini digunakan untuk mengetahui lamanya seseorang menghabiskan satu batang rokok.

Menurut Caldwell (2009), rata-rata waktu yang dibutuhkan seseorang untuk

(35)

19

menghabiskan satu batang rokok adalah sepuluh menit.

b. Frekuensi

Frekuensi merupakan suatu dimensi yang digunakan untuk menghitung seberapa sering seseorang melakukan suatu perilaku. Dimensi ini dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana perilaku merokok dalam diri seseorang itu muncul, dihitung dengan melihat seberapa sering aktivitas merokok muncul dalam sehari-hari.

c. Intensitas

Intensitas merupakan suatu dimensi yang digunakan untuk menghitung seberapa dalam daya yang diberikan untuk melakukan perilaku.

Dimensi ini dapat digunakan untuk mengetahui seberapa banyak jumlah batang rokok yang dihisap setiap harinya.

Kebijakan pengendalian tembakau. Sebagian besar perokok mulai merokok ketika usianya belum mencapai 19 tahun. Pada usia yang rawan ini, remaja berhadapan dengan gencarnya iklan dan citra yang dijual oleh industri tembakau, sementara kemampuan untuk menilai dan mengambil keputusan dengan benar belum dimiliki. Umumnya orang mulai merokok sejak muda dan tidak tahu resiko mengenai bahaya adiktif rokok.

Keputusan konsumen untuk membeli rokok tidak didasarkan pada

informasi yang cukup tentang resiko produk yang dibeli, efek ketagihan dan

dampak pembelian yang dibebankan pada orang lain. Pemerintah perlu membuat

peraturan yang melindungi anak dan remaja dari upaya agresif industri tembakau

yang menjaring mereka sebagai konsumen jangka panjangnya dan merusak

(36)

generasi sekarang maupun mendatang. Upaya perlindungan anak dan remaja dari bahaya merokok untuk mengurangi akses mereka terhadap rokok yaitu antara lain dengan menaikkan harga rokok, melarang penjualan rokok kepada anak-anak kurang dari 18 tahun dan melarang penjualan rokok batangan.

Merokok menimbulkan beban kesehatan, sosial, ekonomi dan lingkungan tidak saja bagi perokok tetapi juga bagi orang lain. Perokok pasif terutama bayi dan anak-anak perlu dilindungi haknya dari kerugian akibat paparan asap rokok.

Keluarga miskin yang tidak berdaya melawan adiksinya dan mengalihkan belanja makanan keluarganya serta biaya sekolah dan pendidikan anak-anaknya untuk membeli rokok perlu mendapatkan intervensi pemerintah.

WHO beserta negara anggota memprakarsai rancangan naskah Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control/FCTC), yang selesai disusun oleh WHO pada Februari 2003. FCTC merupakan acuan bagi kerangka pengendalian tembakau di tingkat global maupun nasional. Pokok-pokok kebijakan FCTC mencakup 1) Peningkatan cukai rokok;

2) Pelarangan total iklan rokok; 3) Penerapan Kawasan Tanpa Rokok yang

komprehensif; 4) Pencantuman peringatan kesehatan berupa gambar pada

bungkus rokok; 5) Membantu orang yang ingin berhenti merokok; dan 6)

Pendidikan masyarakat. Sampai saat ini sudah 183 negara yang telah meratifikasi

FCTC. Indonesia walaupun ikut terlibat aktif dalam menyusun rancangan FCTC

baik dalam pertemuan-pertemuan internasional maupun pertemuan regional antara

negara anggota WHO kawasan Asia Tenggara, merupakan satu-satunya negara di

Asia Pasifik yang belum menandatangani FCTC. Padahal seluruh masyarakat

(37)

21

global sepakat bahwa butir-butir dalam FCTC merupakan upaya perlindungan kesehatan masyarakat yang merupakan hak asasi manusia yang bersifat universal.

Selain FCTC, guna memperluas perlawanan terhadap epidemi tembakau, pada tahun 2008, WHO memperkenalkan 6 langkah-langkah pengendalian tembakau dan kematian yang disebut dengan strategi MPOWER. Enam langkah strategi MPOWER yaitu:

1. Monitor penggunaan tembakau dan pencegahannya

Monitor penggunaan tembakau dan dampak yang ditimbulkannya harus diperkuat untuk kepentingan perumusan kebijakan. Saat ini 2/3 negara berkembang di seluruh dunia tidak memiliki data dasar penggunaan tembakau pada anak muda dan orang dewasa.

2. Perlindungan terhadap asap tembakau

Asap rokok tidak hanya berbahaya bagi orang yang menghisap rokok tetapi juga orang disekitarnya (perokok pasif). Lebih dari separuh negara di dunia, dengan populasi mendekati 2/3 penduduk dunia masih memperbolehkanmerokok di kantor pemerintah, tempat kerja dan di dalam gedung. Perlindungan terhadap asap tembakau hanya efektif apabila diterapkan Kawasan Tanpa Rokok 100%.

3. Optimalkan dukungan untuk berhenti merokok

Tiga dari empat perokok di seluruh dunia menyatakan ingin berhenti

merokok namun bantuan komprehensif yang tersedia baru dapat menjangkau

5% nya. Bantuan yang dapat diberikan adalah: a) Pelayanan konsultasi

bantuan berhenti merokok yang terintegrasi di pelayanan kesehatan primer; b)

(38)

Quitline: telepon layanan berhenti merokok yang mudah diakses dan cuma- cuma; c) Terapi obat yang murah dengan pengawasan dokter.

4. Waspadakan masyarakat akan bahaya tembakau

Walaupun sebagian besar perokok tahu bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, namun kebanyakan dari mereka tidak tahu apa bahayanya. Karena itulah, pesan kesehatan wajib dicantumkan dalam bentuk gambar.

5. Eliminasi iklan, promosi, dan sponsor terkait tembakau

Pemasaran tembakau memiliki peranan besar dalam meningkatkan gangguan kesehatan dan kematian tembakau. Larangan terhadap promosi produk tembakau adalah senjata yang ampuh untuk memerangi tembakau.

6. Raih kenaikan cukai tembakau

Dengan menaikkan cukai tembakau, harga rokok menjadi lebih mahal.

Hal ini merupakan cara yang paling efektif dalam menurunkan pemakaian tembakau dan mendorong perokok untuk berhenti (TCSC-IAKMI, 2010).

Dampak positif pengendalian tembakau. Berbagai macam upaya pengendalian tembakau juga dapat memberikan dampak positif pada penerapannya, yaitu:

1. Peningkatan cukai

Pengendalian tembakau tidak merugikan negara, namun justru

memberikan dampak positif. Peningkatan cukai sebesar 100% meningkatkan

output perekonomian sebesar Rp335 milyar, pendapatan masyarakat sebesar

Rp492 milyar dan lapangan pekerjaan sebanyak 281.135 pekerjaan baru

(Ahsan, 2007). Sementara setiap kenaikan cukai sebesar 10% hanya akan

(39)

23

mengurangi konsumsi sebesar 4% di negara maju dan 8% di Negara berkembang. Kenaikan harga rokok karena naiknya cukai hanya akan dirasakan oleh orang miskin dan remaja.

2. Larangan iklan secara menyeluruh

Larangan iklan secara menyeluruh merupakan upaya untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat khususnya anak-anak dan remaja. Anak-anak dan remaja merupakan sasaran utama produsen rokok.

Diakui oleh industri rokok bahwa anak-anak dan remaja merupakan aset bagi keberlangsungan industri rokok. Untuk itu kebijakan larangan iklan rokok secara menyeluruh harus diterapkan untuk melindungi anak dan remaja dari pencitraan produk tembakau yang menyesatkan. Pelarangan iklan rokok menyeluruh mencakup iklan, promosi dan sponsorship yang meliputi pelarangan: 1) iklan, baik langsung maupun tidak langsung di semua media massa; 2) promosi dalam berbagai bentuk, misalnya potongan harga, hadiah, peningkatan citra perusahaan dengan menggunakan nama merek atau perusahaan; 3) sponsorship dalam bentuk pemberian beasiswa, pemberian bantuan untuk bidang pendidikan, kebudayaan, olah raga, lingkungan hidup dll.

3. Penerapan kawasan tanpa rokok

Penerapan kawasan tanpa rokok melinungi hak bukan perokok untuk

menghirup udara yang bersih dan sehat, bebas dari asap rokok. Larangan

merokok perlu diterapkan di tempat-tempat umum, tempat kerja dan

transportasi umum. Penerapan kawasan tanpa rokok tidak saja untuk

(40)

memenuhi hak bukan perokok untuk menghirup udara bersih dan sehat, namun juga membantu perokok untuk dapat menahan atau menunda kebiasaan merokoknya dan sebagai langkah awal perokok untuk berhenti merokok. Penerapan kawasan tanpa rokok juga semakin menyadarkan banyak orang akan bahaya adiktif rokok dan mengembalikan norma untuk tidak merokok di tempat umum, utamanya diruangan tertutup.

4. Peringatan kesehatan bergambar

Peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok adalah sarana informasi dan edukasi yang murah dan efektif. Murah karena pemerintah tidak perlu mengeluarkan anggaran kusus untuk mendidik masyarakat akan bahaya merokok, khususnya masyarakat yang buta huruf. Gambar yang ditampilkan dapat memengaruhi perilaku dan mengubah sikap orang untuk tidak merokok. Karena peringatan kesehatan bergambar itu memberikan gambaran grafis tentang komplikasi penyakit akibat merokok. Hal ini juga secara langsung maupun tidak langsung dapat menangkal iklan rokok yang cenderung menyesatkan. Kebijakan peringatan kesehatan berbentuk gambar menunjukkan keseriusan pemerintah dalam upaya pengendalian tembakau.

Peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok. Kesadaran masyarakat akan dampak buruk merokok umumnya rendah. Sebagian besar perokok tidak dapat melihat hubungan antara merokok dan dampak kesehatan.

Salah satu penyebabnya adalah tenggang waktu yang dibutuhkan cukup lama sejak seseorang mulai merokok sampai timbulnya berbagai penyakit akibat rokok.

Perokok yang merokok sebungkus sehari dengan jumlah rokok rata-rata 16 batang

(41)

25

per bungkus akan terpapar dengan bungkusnya sebanyak hampir 6000 kali per tahun. Frekuensi tersebut cukup untuk menyampaikan pesan anti rokok secara berulang-ulang ketika bungkus rokok berisikan peringatan kesehatan yang efektif (TCSC-IAKMI, 2010).

Pertengahan Tahun 2009, telah ada 25 negara yang menerapkan peringatan kesehatan bergambar. Empat negara ASEAN yang telah memiliki undang-undang peringatan kesehatan bergambar adalah Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, dan Malaysia.

Negara ASEAN lainnya telah lebih dulu membuat kebijakan mengenai peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok, pemerintah Indonesia menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan.

Peraturan tersebut merupakan turunan dari Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009. Dalam peraturan tersebut salah satunya adalah perusahaan rokok tidak hanya mencantumkan peringatan bahaya merokok, namun juga menyertakan konten gambar dalam setiap bungkus rokok yang beredar dimana konten tersebut harus menggambarkan efek dari rokok.

Peraturan Pemerintah sebelumnya, Kementrian Kesehatan menerbitkan

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2013 tentang Pencantuman

Peringatan Kesehatan dan Informasi Kesehatan pada Kemasan Produk Tembakau

untuk mendukung PP Nomor 109 Tahun 2012 tersebut. Peraturan tersebut berisi

pasal-pasal mengenai aturan pencantuman gambar dan informasi kesehatan

lainnya pada bungkus rokok. Pada peraturan ini juga dicantumkan lima jenis

(42)

gambar dan tulisan yang harus ada pada bungkus rokok. Gambar yang harus dicantumkan pada bungkus rokok diantaranya gambar kanker tenggorokan, kanker mulut, kanker paru-paru, orang yang sedang merokok dengan asap membentuk tengkorak, dan orang yang sedang merokok dengan anaknya. Lima gambar tersebut diharapkan dapat membuat masyarakat mempertimbangkan dampak merokok sebelum merokok.

Gambar 2. Peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok di Indonesia Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Windira (2016), mengenai

Hubungan Persepsi Visual Gambar Patologi Bahaya Merokok Pada Bungkus

Rokok Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja yang menunjukkan bahwa ada

hubungan antara persepsi visual yang ditampilkan pada kemasan rokok terhadap

perilaku merokok remaja. Penelitian Grafiyana (2015), mengenai Pengaruh

Persepsi Label Peringatan Bergambar terhadap Minat Merokok menyatakan

bahwa label peringatan bergambar pada kemasan rokok berpengaruh terhadap

minat merokok. Penelitian lain juga yang dilakukan oleh Pratama (2016),

(43)

27

mengenai Pengaruh Terpaan Informasi Kemasan Rokok terhadap Minat Merokok Pelajar yang menyatakan bahwa ada pengaruh kuat dari terpaan informasi kemasan bungkus rokok terhadap minat merokok, yang berarti semakin sering frekuensi mereka melihat informasi yang tertera pada bungkus rokok, semakin rendah minat mereka untuk merokok.

Landasan Teori

Remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa.

Dalam masa ini, remaja mudah terpengaruh oleh lingkungannya dan orang-orang disekitarnya. WHO (2014), mengatakan bahwa salah satu masalah kesehatan pada remaja saat ini yaitu penggunaan tembakau.

Berdasarkan data Riskesdas dan berbagai laporan WHO yang telah dijabarkan sebelumnya, peningkatan angka jumlah perokok di Indonesia pada era modern ini semakin cepat. Meningkatnya angka perokok ini mendorong pemerintah untuk terus menekan jumlah pertumbuhan perokok baru, khususnya pada remaja. Berbagai macam upaya dilakukan pemerintah salah satunya yaitu mengeluarkan kebijakan terkait pembatasan promosi tembakau. Untuk menekan angka tersebut, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2014, diikuti Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2013 tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan dan Informasi Kesehatan pada Kemasan Produk Tembakau.

Peraturan tersebut mulai diterapkan sejak 2014 pada berbagai media iklan,

sementara pencantuman perinagatan kesehatan dan informasi kesehatan pada

bungkus rokok baru diterapkan pada bulan Juni 2014.

(44)

Proporsi gambar peringatan kesehatan bahaya rokok di Indonesia yaitu sebesar 20% luas bungkus rokok dan menutupi bagian depan dan belakang.

Gambar peringatan tersebut akan dijadikan sebagai objek yang akan di stimulus oleh alat indera, yaitu mata. Kemudian selanjutnya stimulus tersebut diorganisasikan dan diinterpretasikan menjadi sebuh persepsi. Interpretasi tersebut memberi arti pada stimulus yang diterimanya. Sehingga setelah melihat gambar- gambar yang terdapat pada bungkus rokok tersebut, masyarakat khususnya yang memiliki kebiasaan merokok, diharapkan dapat mengubah perilaku merokoknya.

Kerangka Konsep

Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:

Gambar 3. Kerangka konsep Persepsi Peringatan Kesehatan Bergambar Pada Bungkus

Rokok

Perilaku

Merokok

(45)

29

Metode Penelitian

Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode pendekatan cross sectional, yaitu penelitian diadakan dalam waktu bersamaan dengan subjek yang berbeda-beda, yang kemudian menekankan analisisnya pada data-data numerikal (angka) yang diolah dengan metode statistika.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Dalam menyusun penelitian ini, penulis melakukan penelitian di Universitas Sumatera Utara dan dimulai pada bulan Maret 2018 sampai dengan Desember 2018.

Populasi dan Sampel

Populasi. Populasi adalah kelompok besar individu yang mempunyai karakteristik umum yang sama (Siswanto, 2014). Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa Universitas Sumatera Utara angkatan 2017 yang berjumlah 6296 orang.

Sampel. Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan cara

tertentu hingga dianggap dapat mewakili populasinya (Siswanto, 2014). Dalam

penelitian ini, teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling

dengan kriteria mahasiswa Universitas Sumatera Utara angkatan 2017 yang

merokok. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan rumus

proporsi oleh Isaac & Michael sebagai berikut:

(46)

dimana :

S = jumlah sampel N = jumlah populasi

P = standard error (catatan : umumnya digunakan 1 % atau 0,01 ; 5% atau 0,05 dan 10% atau 0,1)

Jumlah mahasiswa yang masuk kriteria dalam penelitian ini sebanyak 6296 mahasiswa laki-laki angkatan 2017 dan tingkat kesalahan yang ditetapkan atau tingkat signifikansi 10% atau 0,1 maka besarnya sampel penelitian ini adalah 179 orang. Jadi, jumlah keseluruhan responden dalam penelitian ini adalah 179 mahasiswa.

Variabel dan Definisi Operasional

Variabel. Variabel independen dalam penelitian ini adalah persepsi gambar peringatan kesehatan pada kemasan rokok.Variabel dependen dalam penelitian ini adalah perilaku merokok mahasiswa Universitas Sumatera Utara.

Definisi operasional. Adapun yang menjadi definisi operasional dalam

penelitin ini adalah:

(47)

31

1. Persepsi

Persepsi adalah kemampuan untuk menerjemahkan rangsangan gambar patologi bahaya merokok pada bungkus rokok yang dilihat oleh mata yang kemudian akan menghasilkan suatu pengertian tentang gambar tersebut dan hasil tersebut merupakan penilaian dari masing-masing individu.

2. Perilaku Merokok

Perilaku merokok yaitu perilaku manusia adalah semua aktivitas dan tindakan manusia yang diamati secara langsung maupun tidak langsung, sedangkan merokok adalah kegiatan membakar dan menghisap produk tembakau yang asapnya mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan lainnya yang menjadi kebiasaan.

Metode Pengumpulan Data

Data primer. Pengumpulan data primer diperoleh langsung dari responden melalui kuesioner. Kuesioner mengenai persepsi label peringatan bergambar diadopsi dari penelitian Novarianto (2015) tentang Hubungan Persepsi Remaja tentang Peringatan Kesehatan Bergambar pada Kemasan Rokok dengan Motivasi Berhenti Merokok, dan kuesioner mengenai perilaku merokok diadopsi dari kuesioner Glover Nilsson Smoking Behavior Questionnaire (GN-SBQ).

Data sekunder. Data sekunder adalah data atau dokumen yang diperoleh dari pusat administrasi Biro Rektor Universitas Sumatera Utara.

Metode Pengukuran

Pengukuran yang dilakukan terhadap mahasiswa Universitas Sumatera

Utara pada masing-masing variabel ditentukan menurut kategori yaitu:

(48)

Tabel 1

Aspek Pengukuran Variabel Dependen

Variabel Jumlah Indikator

Kategori Jawaban dan Bobot

Kriteria Skor Skala Perilaku

Merokok

11 Pertanyaan nomor 1-2 0 = Tidak penting 1 = Kurang Penting 2 = Cukup Penting 3 = Penting 4 = Sangat Penting Pertanyaan nomor 3-11

0 = tidak pernah 1 = jarang

2 = kadang-kadang 3 = sering

4 = selalu

1. Total skor <

12= Ringan.

2. Total skor 12- 22= Sedang.

3. Total skor 23- 33 = Kuat.

4. Total skor >

33=Sangat Kuat

Ordinal

Tabel 2

Aspek Pengukuran Variabel Independen

Variabel Jumlah Indikator

Kategori Jawaban dan Bobot

Kriteria Skor Skala Objek yaitu

label peringatan bergambar

12 4 = Sangat setuju 3 = Setuju 2 = Ragu-ragu 1 = Tidak setuju 0 = Sangat tidak setuju

Dikategori kan berdasarkan cut of point data menggunakan nilai median menjadi dua kategori, yaitu data

menggunakan nilai mean. Nilai mean digunakan karena data terdistribusi normal.

Dikategorikan menjadi dua kategori adalah sebagaiberikut:

1. Persepsi negatif jika x

< 30 2. Persepsi

positif jika x >

30

Ordinal

(49)

33

Metode Analisa Data

Analisis univariat. Analisis univariat dilakukan pada tiap variabel dari hasil penelitian dan bertujuan untuk menjelaskan karakteristik setiap variabel penelitian, dimana hasilnya nanti berupa distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel dan disajikan dalam bentuk tabel untuk menggambarkan masing- masing variabel.

Analisis bivariat. Analisis Bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel dependen dan variabel independen yang diduga berhubungan atau korelasi. Untuk menjawab permasalahan apakah ada pengaruh persepsi label peringatan bergambar pada bungkus rokok terhadap perilaku merokok pada mahasiswa laki-laki Unversitas Sumatera Utara yang merokok, maka digunakan analisis uji Spearman Rank dengan tingkat kemaknaan (α) = 0,05 dengan kriteria:

a) Ho ditolak jika p<α = (0,05) maka terdapat hubungan antara variabel independen (bebas) dengan variabel dependen (terikat).

b) Ho diterima jika p>α = (0,05) maka tidak terdapat hubungan antara variabel

independen (bebas) dengan variabel dependen (terikat).

(50)

34

Universitas Sumatera Utara (USU) adalah sebuah universitas negeri yang terletak di Kota Medan, Sumatera Utara dan didirikan sebagai Yayasan Universitet Sumatera Utara pada tanggal 4 Juni 1952. Fakultas pertama adalah Fakultas Kedokteran yang didirikan pada 20 Agustus 1952, yang kini diperingati sebagai hari jadi USU. Presiden Indonesia, Soekarno kemudian meresmikan USU sebagai universitas negeri ketujuh di Indonesia pada tanggal 20 November 1957.

Universitas Sumatera Utara memiliki moto yaitu untuk Menuju

Keunggulan sebagai Universitas untuk industri dengan memiliki visi untuk

menjadi perguruan tinggi yang memiliki keunggulan akademik sebagai barometer

kemajuan ilmu pengetahuan yang mampu bersaing dalam tataran dunia global,

dan misi yaitu: (1) menyelenggarakan pendidikan tinggi berbasis otonomi yang

menjadi wadah bagi pengembangan karakter dan profesionalisme sumber daya

manusia yang didasarkan pada pemberdayaan yang mengandung semangat

demokratisasi pendidikan yang mengakui kemajemukan dengan orientasi

pendidikan yang menekankan pada aspek pencarian alternatif penyelesaian

masalah aktual berlandaskan kajian ilmiah, moral, dan hati nurani; (2)

menghasilkan lulusan yang menjadi pelaku perubahan sebagai kekuatan

modernisasi dalam kehidupan masyarakat luas, yang memiliki kompetensi

keilmuan, relevansi dan daya saing yang kuat, serta berperilaku kecendikiawanan

yang beretika; (3) melaksanakan, mengembangkan, dan meningkatkan

pendidikan, budaya penelitian dan program pengabdian masyarakat dalam rangka

(51)

35

peningkatan kualitas akademik dengan mengembangkan ilmu yang unggul, yang bermanfaat bagi perubahan kehidupan masyarakat luas yang lebih baik.

Universitas Sumatera Utara masih berusaha untuk menjadikan lingkungan kampusnya menjadi Kawasan Tanpa Rokok yang ditandai dengan sudah adanya fakultas dan fasilitas kampus yang memberikan himbauan berupa spanduk dan poster untuk tidak merokok.

Hasil Analisis Univariat

Data karakteristik responden merupakan data pribadi responden yang meliputi usia, usia mulai merokok, jumlah batang rokok yang dikonsumsi perhari, dan alasan tetap merokok.

Deskripsi karakteristik responden berdasarkan usia, usia mulai merokok, jumlah batang rokok perhari, dan alasan tetap merokok.

Responden pada penelitian ini yaitu mahasiswa Universitas Sumatera Utara angkatan 2017 yang memiliki kebiasaan merokok sebanyak 179 orang.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh gambaran karakteristik mahasiswa meliputi usia, usia mulai merokok, jumlah batang rokok yang dikonsumsi perhari, dan alasan tetap merokok. Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa angkatan 2017 yang menjadi responden berada dalam rentang usia 18 tahun sampai 20 tahun dengan usia responden yang paling banyak berada pada usia 19 tahun (77,1%) dan yang paling sedikit pada usia 20 tahun (10,6%).

Berdasarkan hasil penelitian, usia mulai merokok responden beragam, oleh

karena itu dengan menggunakan cut of point nilai median, didapat nilai tengah

untuk usia mulai merokok yaitu 16 tahun. Setelah di analisis, dari 179 orang

Referensi

Dokumen terkait

Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Label Visual pada Kemasan Rokok dan Fatwa Haram Rokok dengan Perilaku Merokok Siswa SMP Muhammadiyah 7 Surakarta ... Hubungan Persepsi Tentang

Persepsi terhadap label visual peringatan bahaya merokok pada kemasan.. rokok akan menghasilkan dampak bagi perokok, yaitu dampak positif

merokok bagi kesehatan. 2) Dapat menjadi peringatan kepada mahasiswa untuk mengurangi. aktivitas merokok. Bagi Universitas

PERBEDAAN DAMPAK GAMBAR PERINGATAN BAHAYA MEROKOK PADA KEMASAN ROKOK TERHADAP MINAT BELI ULANG ROKOK.. Diajukan untuk diuji pada tanggal 26 juni 2015 adalah karya

terhadap gambar peringatan bahaya merokok pada kemasan rokok dengan motivasi.. berhenti

Persepsi Mahasiswa Perokok Mengenai Gambar Peringatan Bahaya Merokok Pada Kemasan Rokok Bagi Mahasiswa

Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa persepsi kerentanan yang dirasakan terhadap iklan peringatan bahaya merokok pada kemasan

Dari hasil penelitian mengenai persepsi konsumen terhadap peringatan bahaya merokok pada kemasan rokok di Kelurahan Simpang Tiga, K Kecamatan Bukit Raya, Kota