• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKil..AN DAERAM REPUBUK INOONESIA PENGANTAR ARSIP DPR RI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DEWAN PERWAKil..AN DAERAM REPUBUK INOONESIA PENGANTAR ARSIP DPR RI"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKil..AN DAERAM REPUBUK·INOONESIA

. · · •··· . ·. · . ·•·· ...

PENGANTAR

PANDANGAN DAN PENDAPAT

DEWAN PERWAKILAN DAERAtl REPUBLIK INDONESIA TERHADAP RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK ·tNDONESIA

TENTANG<PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004

TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH 23 lanuari 2008

JAKARTA . 2008

ARSIP

DPR RI

(2)

DEWAN PERWA�LAN DAERAM REPUBLIK JNDONESIA

PENGANTAR . .

PANDANGAN DAN PENDAPAT

DEWAN PERWAKILAN l)AERAN REPUBLII< INDONESIA TERHADAP RANCANGAN UNDANG�UNDANG ·R:Ei>UBLIK INDONESIA

TENTANG fER.UBANAN KEDUA ATAS UNDANG-UNllANG NOMQR 32 TAHUN 2004

TENTANG PEMEl,UNTAHAN DAERAH 23 lanuari 2008

Assalamu�laikum Warahmatul/ahi -Wabarakatuh, Salam sejahtera bagi kita semua,

Om Swastiastu,

Saudara Ketua Komisi IIserta Anggota KomisllI Dewan Pe!Wakilan Rakyat Republik Indonesia yang terhof1!7at,

Saudara Menteri Dalam Negeri, Mantefi Hukum dan Hak Asasi Manusia yang kami hormati,

Serta hadirin yang berbahagia,

Puji syukur marilah kita; panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa; yang telah memberikan limpaha6: . r·;�.1 fr , i __ tahmat dan karunia-Nya sehingga kita dapat · •

berkesempatan menghadiri µ,�rtemuan. kali ini, dalam rangka Rapat Kerja DPR RI bersama Pemerintah dalam kead�an :s�hat, serta dalam suasana dan semangat kebersamaan guna mememJhi· tugas konstitusionaL Semoga Tuhan Yang Maha

ARSIP

DPR RI

(3)

Esa senantias� memberikan Rahmat dan Petunjuk-Nya sehingga agenda Rapat Kerja hari ini dapat diselesaikan dengan baik. Amiin.

Hadirin yang terhormat,

Merujuk surat Wakil Ket�a DPR RI Nomor LG.01.01/0416/DPR-RI/2008 tert:anggal 21 Januari 2008 yang ditujukan kepada Pimpinan DPD RI, disampaikan bahwa DPO RI diminta hadir untuk menyampaikan Pandangan dan Pendapat terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Sebagaimana diketahui, · perubahan kedua atas Undang-Undang sebagaimana dimaksud dilakukan. khususnya t�rhadap sub�nsi pengaturan penyelenggaraan Pilkada untuk memberikan- . hak bagi · calon perseorangan dalam Pilkada sebagaimana hak yang diberikan kepada partai politik atau gabungan partai politik. Perubahan kedua ini dilakukan untuk m�ngisi kekosongan hukum sebagai konsekuensi atas dikeluarkannya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 5/PUU­

V/2007, yang mengabulkan uji materiil atas Pasal 56 ayat (2), Pasal 59 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) Unaang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Pengabulan atas pasal-pasal tersebut dapat diartikan bahwa kehadiran calon perseorangan dalam Pilkada merupakan penyeimbang bagi partai politik. atau gabungan partai politik yang selama ini dikenal sebagai satu-satunya pintu dalam pencalonan kepala daerah.

Sesuai ruang lingkup tugas dan kewenangannya, serta untuk memenuhi kewajiban konstitusional sebagaimana amanat Pasal 22D ayat (2) Undang­

Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Pasal 43 Undang­

Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR; DPR, DPD, dan DPRD, maka DPD ·RI. melalui Panitia Ad Hoc I telah melakukan serangkaian kegiatan dalam ; rangka penyusunan Pandangan dan Pendapat terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Kedua Atas Undang­

Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dari berbagai aspirasi yang berhasil · dihinipun dari masyarakat serta mempertimbangkan

ARSIP

DPR RI

(4)

pendapat dari par� pakar maupun narasumber, DPD RI telah melakukan pembahasan _ dan. pengkajian materi secara mendalam.

Adapun Pandangan dan Pen�apat ()ewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Kedua Atas Undang­

Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah disahkan clalam Sidang Paripurna DPD RI.

Hadirin yang berbahagia,

Mengacu pada UUD 1945 Pasal 22 D ayat 3; Bab XA tentang Hak Asasi Manusia yang menyatakan " setiap warga negara berhak memperoleh kes-empatan yang sama dalam pemerintahan" maka keputusan. Mahkaman Konstitusi tentang calon perseorangan merupakan_ hakikat dan pengakuan secara mendasar terhadap hak politik masyarakat yang sejak lahir telah dimiliki. Keputusan ini pun memberikan kejelasan akan adanya ruang-ruang hukum yang masih kosong yang masih perlu dibenahi guna memperbaiki pelaksanaan Pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah sebelumnya yang· tidak mengikutsertakan calon perseorangan.

Keputusan Mahkamah Konstitusi berimplikasi pada, pertama, hasil yang akan dicapai dalam pilkada paska keputusan diperbolehkannya calon perseorangan untuk ikut dalam pilkada merupakan ukuran keberhasilan pemetintah memenuhi kepentingan politik masyarakat yang selama ini, belum maks1mal. Dengan kata Hain, pemerintah mendengar keluhan politik masyarakat terhadp sistem politik yang tidak berpihak pada mereka.

Kedua, kami memandang keputusan· Mahkamah Konstitusi telah merubah secara gradual substansi dan . mekanisme . Pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah. Perubah,an mendasar terjadi pada kesetaraan politik yang selama ini terjadi gap atau timpang diantara para pelaku politik akibat saluran politik hanya diakui jika mel�lu,i jalur partai politik. Dengan -demikian, keputusan mahkamah konstitusi menJc;1cR alat bagi setiap warga negara untuk memiliki

'

_ i�

ARSIP

DPR RI

(5)

kesetaraan politik guna melakukan kontrol terhadap keputusan publik · dan pembuat keputusan publik yang· selama ini milik partai politik.

Untuk itulah, maka upaya peningkatan demokrasi melalui kehadiran calon perseorangan dalam Pilkada perlu <;lituangkan dalam payung hukum yang mampu menjamin calon perseorangan dapat berkompetisi di arena pilkada setara dengan calon dari partai politik atau gabungan partai politik. Dengan demikian calon perseorangan; sesuai dengan fungsinya untuk memberikan keseimbangan bagi partai politik atau gabungan partai politik dalam mekanisme pencalonan kepala daerah, dapat clidefinisikan sepagai pasangan calon yang bukan diusulkan oleh partai politik c;1tal) gabungan partai politik. Untuk itu sebaiknya diberikan batasan bahwa calon perseorangan bukanlah pengurus suatu partai politik setidak-tid9knya sel�mc;1 3 tahun.

Kunci utama bagi keberhasilan d�mokratisasi adalah kerelaan partai politik untuk menerima calon perseorangan dalam mekanisme pencalonan kepala claerah.

Oleh karena itu persyaratan batas dukungan minimal masyarakat hendaknya tidak terlalu tinggi, karena akan menyebabkan tidak tercapainya tujuan dasar dibukanya pintu calon perseorangan. Sebaliknya jangan terlalu rendah, karena akan merusak bangunan partai politik sebagai pilar demokrasi dan sistem politik Indonesia. Pada prinsipnya. · persyaratan batas dukungan minimal harus ditetapkan dalam batas kewajaran, tidak terlampau berat dan terlampau ringan, sehingga mampu memberikan pembelajaran politik bagi semua pihak.

Terhadap batas dukungan rryinimal dimaksud, DPD RI berpandangan bahwa penetapan berdasarkan kluster jumlah penduduk dengan angka absolut akan lebih mudah digunakan .. Tldak ada dasar pijakan yang ideal dalam menentukan batas dukungan ini, hanya angka · psikolo.gis yang rasional, yang tidak merusak sendi-sendi politik. Adapun qatas dukungan minimal berdasarkan kluster-angka absolut dimaksud adalah se�agc1i berikut:

ARSIP

DPR RI

(6)

a. Penduduk :S 100 ribu minimal 5.000 calon pemilih

b. 100 ribu < penduduk :5 1 juta minimal 20�000 calon pemilih

C. 1 juta < penduduk :5 5 juta minimal 40.000 calon pemilih d. 5 juta < penduduk :S 10 juta minimal 60.000 calon pemilih e. 1 0 juta < penduduk � 15 juta minimal 80.000 calon pemilih f. Penduduk > 15 juta minimal 100.000 calon pemilih Penggunaan batas dukungan minimal berdasarkan kluster-angka absolut ini diharapkan dapat mengisi kelemahan peng�1:maan sistem kluster-prosentase, dimana setelah dilakul<an simulasi terhadap sistem ini terdapat persilangan angka dukungan pada kategori-katE�gori -tertentl,1. Implikasinya, beberapa daerah yang jumlah penduduknya lebih sadikit jwstru harus menyiapkan dukungan dengan jumlah yang lebih besar.

Selain jumlah penduduk, penentuan batas clukungan minimal per,u mempertimbangkan sisi pturalitas masyarakat dan kondisi geografis. Artinya proporsi persyaratan dukungan untuk masing-masing daerah tidak dapat dianggap sama. Atas dasar pertimbangan demografis dan geografis ini, DPD RI

memandang bahwa hendaknya dukungan masyarakat tersebar di 25% wilayah (bagi wilayah luar Jawa) dan SO% witayah (bagi wilayah Jawa clan Bali).

Hal yang tak kalah pentingya terkait persyaratan dukungan adalah waktu verifikasi oleh KPU. Mengingat k-eragaman kondisi demografis dan geografis,

seyogyanya verifikasi dilakukan dalam jangka waktu 30 hari untuk memberikan

1_,/

- waktu yang cukup bagi daerah yang mempunyai kondisi geografis sufit terjangkau atau yang berjur11lah. penduduk sangat padat.

Disamping syarat dukungan calon perseorangan, maka dalam kesempatan revisi terbatas UU.No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, DPD RI memandang penting untuk · nienyampaikan beberapa materi tambahan terkait dengan pelaksanaan PILKADA, yakni:

ARSIP

DPR RI

(7)

a. Perlunya pengaturan tegas mengenai akurasi data pemilih. Hal ini juga termasuk dengan mempertegas tanggungjawab disertai dengan sanksi dalam penyusunan data pemilih yang akurat, baik yang dilakukan pemerintah daerah (penyusunan daftar pemilih) maupun yang dilakukan oleh KPUD (Penetapan DPS c;lan DPT). Oleh sebab itu; UU harus memberikan jaminan terhadap kewenangari penetapan daftar pemilih termasuk pelaksanaan sosialisQsi dalam penyusunc;m daftar pemilih.

b. Pengaturan mengenai calon incumbent. Posisi stretegis dalam kepemimpinannya $ebagai Kepala 0aerah membuat calon incumbent berada dalam penguasaan dan akses strategis terhadap program dan anggaran pembangunan dan pemerintahan daerah, juga penguasaannya terhadap jaringan birokrasi dengan sumber daya manusia, dalam hal ini Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta potensi sumber daya pemerintahan daerah lainnya. Pengalaman empiris PILKADA selama ini menunjukan adanya kecendrungan calon incumbent menggunakan potensi sumber daya pemerintahan daerah untuk kepentingan jalan kemenangannya dalam PILKADA. Kondisi demikian s�ringkali menjadi penyebab terjadinya konflik PILKADA. Untuk itu diperlukan aturan yang memuat sanksi tegas terhadap calon incumbent yang selama proses PILKADA termasuk masa kampanye menggunakan sumber daya pemerintah daerahnya. Penerapan sanksi ini sangat penting di satu sisi dengan tujuan memberikan efek jera dan di sisi lain membawa pengaruh positif bagi kompetisi yang sehat dan adil bagi semua calon kepala daerah.

Guna terwujudnya pernilihan Kepala Daearah ( PILKADA ) yang adil, jujur dan sehat, DPD RI berpendapat bahwa calon incumbent harus

mengundurkan diri dari jabatannya, terhitung pada saat mendaftarkan diri sebagai calon kepala daerah.

ARSIP

DPR RI

(8)

Saudara Ketua Komisi II serta Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Repub/ik Indonesia yang terhormat,

Saudara Menteri Dalam Negeri, 1•1anteri Hukum dan Hak A5psi Manusia yang kami hormati,

Serta hadirin yang berbahagia,

Demikian pengantar Kami mengenai Pokok-Pokok Materi Pandangan . dan Pendapat Dewan Perwakilan paerah Republik Indonesia. terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sebagai bahan masukan pembahasan bagi penyempurnaan substansi RUU dimaksud. Selengkapnya Pandangan dan Pendapat Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia terhadap Rancangan Undang-Undang dimaksud kami lampirkan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pengantar ii1i. Terhnakasih.

Wassalamu-'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Om Santi, Santi, Santi, Om

Salam Sejahtera bagi kita semua I

Jakarta, 23 Januari 2008

DEWAN PERWAKJLAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA;

Pembaca Naskah, Ketua Panitia Ad Hoc I DPD Repu .

r. Marhany V.P. Pua B-93.

ARSIP

DPR RI

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan keputusan yang diperolehi daripada pembangunan dan pengujian topologi, saiz kekisi 0.380m dan jarak ke akses paling hampir digunakan dalam analisa

Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Ketiga variable independen dalam penelitian layak diigunakan untuk memprediksi variabel dependen penelitian, (2) Berdasarkan

Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui hubungan tingkat kebisingan dan gangguan pendengaran akibat bising pada pekerja beberapa diskotik di Kota Medan. Metode: Penelitian

Acceptability, grade scale, adjective ratings perlu dilakukan perbandingan hasil penilaian rata-rata responden sebesar 83,1 berdasarkan penilaian seperti pada gambar 3. Dapat

Internet Of Things (IoT) dapat diartikan sebagai sebuah solusi atau pemecahan masalah yang ada disekitar dengan menggabungkan teknologi dan masalah sosial, sementara definisi IoT

Ratumbuysang ; Indeks Kepuasan Masyarakat- Jumlah pengaduan masyarakat tentang layanan publik Rumah Sakit Jiwa

Pembelajaran PKn harus diinternalisasikan secara utuh dan menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan (baik pribadi/keluarga, sekolah, masyarakat maupun bangsa dan

Manfaat teoritis yang diharapkan dari penelitian ini adalah menambah pengetahuan mengenai membaca dan menulis kanji yang memiliki cara baca yang sama namun memiliki arti