• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS SEKATAN SESAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V ANALISIS SEKATAN SESAR"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

61 BAB V

ANALISIS SEKATAN SESAR

Dalam pembahasan kali ini, penulis mencoba menganalisis suatu prospek terdapatnya hidrokarbon ditinjau dari kondisi struktur di sekitar daerah tersebut. Struktur yang menjadi pembahasan dalam masalah ini adalah struktur sesar, dimana yang akan dianalisis disini adalah sifat dari sesar tersebut, apakah sesar ini bisa berfungsi sebagai perangkap (sealing), atau sesar ini merupakan jalur migrasi dari hidrokarbon yang ada (leaking).

Pada daerah analisis ini terdapat sebanyak 18 sesar yang diperoleh dari interpretasi seismik. Pada analisis sekatan sesar ini akan dilakukan analisis terhadap 3 sesar, yaitu Sesar Runi Norm_0601, Sesar Runi Rev_0601, dan Sesar Runi Rev_0618 yang memperlihatkan pergeseran dan panjang yang lebih besar dibandingkan dengan sesar yang lain pada daerah penelitian. Sesar ini memanjang dari Baratdaya - Timurlaut yang memiliki panjang masing-masing sekitar ± 1.5 km, ± 1 km, ± 1 km dan semuanya berada pada bagian tengah daerah penelitian.

Gambar 5.1. Kenampakan sesar-sesar secara 3D serta sesar-sesar yang menjadi fokus penelitian SESAR RUNI REV_0601

SESAR RUNI NORM_0601 SESAR RUNI REV_0618

(2)

62 Top Duri Harga Vsh ditandai dengan garis vertikal hijau Warna kelabu mencirikan litologi serpih Warna kuning mencirikan litologi pasir 5.1. Perhitungan V-Shale

Langkah pertama pada tahap ini adalah menentukan nilai kandungan serpih rata–rata pada tiap sumur untuk masing-masing lapisan batuan baik reservoar maupun non-reservoar (Yielding dkk, 1999). Selanjutnya nilai kandungan serpih tersebut diinterpolasi ke bidang sesar sehingga didapatkan atribut kandungan serpih sepanjang permukaan footwall dan hangingwall sesar (Yielding dkk, 1999). Atribut kandungan serpih bersama-sama besar throw digunakan untuk menghitung nilai SGR. Kandungan serpih (Vsh) adalah persentase dari volume detritus serpih dalam unit batuan di setiap titik kedalaman. Adapun perhitungan Vsh dilakukan seperti pada persamaan 1 yang telah ditampilkan di Bab III. Gambar 5.2 adalah contoh hasil perhitungan kandungan serpih pada Sumur #14.

Gambar 5.2. Hasil perhitungan Vsh tiap kedalaman dan rata-rata tiap lapisan berdasarkan data log

5.2. Interpretasi marker

Interpretasi batas-batas reservoar atau marker yang terpatahkan dari data sumur adalah langkah awal dalam analisis sifat sekat suatu sesar dengan metoda SGR.

Top Bekasap

(3)

63 Interpretasi batas-batas reservoar pada penelitian ini dilakukan pada beberapa sumur yang mewakili bagian footwall dan hangingwall dari bidang sesar.

Penentuan marker dilakukan berdasarkan hasil dari cut-off v-shale yang telah ditentukan yakni lapisan yang memiliki v-shale kurang dari 50% maka akan digolongkan menjadi lapisan batupasir. Apabila suatu lapisan tersebut memiliki v-shale diatas 50% maka akan digolongkan ke dalam lapisan batulempung. Interpretasi dilakukan pada sumur-sumur yang memiliki marker yang lengkap agar dalam pemodelan horizon pada perangkat lunak TrapTester FAPS 5.300 version tidak terjadi overlapping antar lapisan atau marker. Hasil interpretasi data v-shale menunjukkan terdapat beberapa reservoar yang didapatkan dari masing-masing formasi. Berikut merupakan primary dan marker horizon yang didapatkan dari Sumur Seruni #11.

Tabel 5.1. Litostratigrafi yang berisi primary dan marker horizon dari data pada Sumur #11

5.3. Pemodelan bidang sesar dan horizon

Data patahan dan horizon yang dihasilkan dari interpretasi penampang seismik masih berbentuk segmen-segmen pada penampang trace atau line. Setiap horizon

Formasi Litologi Formasi Duri Sand T_X1420 (primary) Shale B_X1420 (marker) Sand T_X1530 (marker) Shale B_X1530 (marker) Sand T_X1600 (marker) Shale B_X1600 (marker) Sand T_X1660 (marker) Shale B_X1660 (marker) Sand T_X1720 (marker) Shale B_X1720 (marker) Formasi Bekasap

(4)

64 didefinisikan sebagai batas atas atau batas bawah reservoar. Data segmen–segmen patahan, horizon dan data marker dari sumur kemudian di jadikan bidang melalui proses gridding dengan spasi grid sebesar 25m x 25m (Yielding, 1999). Proses gridding ini sendiri pada dasarnya adalah untuk mendapatkan variasi litologi yang terpotong oleh bidang sesar dengan melakukan kesejajaran litologi dari sumur pada suatu bidang sesar (Gambar 5.3). Hasil dari proses ini berupa bidang sesar, kemudian juga bidang horizon pada blok footwall dan hangingwall (Harris et al., 2002).

Gambar 5.3. Hasil dari proses pemodelan bidang sesar yang berasal dari segmen–segmen penampang seismik sampai didapatkan poligon pada bidang sesar. Hasil akhir berupa tampak proyeksi jurus dari

bidang sesar atau dikenal sebagai ‘Peta Bidang Sesar’ (Dee, 2005)

5.4. Model Hasil Analisis Sekatan Sesar

(5)

65 5.4.1. Peta Penyebaran Throw

Throw dari sesar dihitung dari dari perbedaan kedalaman horizon footwall dan hangingwall di sepanjang bidang sesar (Yielding, 1999; Harris, 2002). Perbedaan kedalaman tersebut didapatkan dari perpotongan antara bidang sesar dengan horizon pada footwall dan hangingwall. Peta throw menunjukkan dengan jelas distribusi besar pergerakan vertikal dari horizon-horizon yang terdapat di daerah penelitian yang terpotong oleh bidang sesar.

• Sesar Runi Norm_0601

Hasil analisis berupa peta throw Sesar Runi Norm_0601 memperlihatkan distribusi throw di sepanjang bidang sesar (Gambar 5.4). Dari peta throw terlihat distribusi throw yang semakin membesar (warna merah) ke bagian tengah sesar dan mengecil (warna ungu) ke bagian tepi sesar. Throw yang bernilai lebih kecil terlihat seperti membungkus throw yang bernilai besar. Pada setiap reservoar di bidang sesar ini terlihat harga throw bervariasi.

Sedangkan dari histogram distribusi throw (Gambar 5.5) menunjukkan bahwa Sesar Runi Norm_0601 memiliki nilai throw yang bervariasi, mulai dari 0 kaki sampai throw yang terbesar 179 kaki. Didapat pula nilai throw rata-rata pada sesar ini sebesar 84 kaki.

(6)

66 Gambar 5.5. Histogram distribusi throw pada Sesar Runi Norm_0601

• Sesar Runi Rev_0601

Pada peta distribusi throw Sesar Runi Rev_0601 terlihat bahwa nilai throw seragam pada bidang sesar (ditandai dengan warna ungu). Hal ini disebabkan karena Sesar Runi Rev_0601 merupakan sesar naik sehingga pergerakan vertikalnya ke atas bukan ke bawah (Gambar 5.6). Warna ungu yang hadir pada bidang sesar merupakan warna yang mengindikasikan nilai throw terkecil.

Jika dibandingkan dengan histogram distribusi throw Sesar Runi Rev_0601 terlihat bahwa nilai throw pada bidang ini bernilai negatif (Gambar 5.7). Dapat disimpulkan bahwa warna ungu yang muncul karena nilai throw yang negatif pada bidang sesar ini. Nilai throw absolut terbesar pada sesar ini bernilai 244 kaki dengan nilai terkecil 0 kaki. Adapun nilai throw rata-ratanya sebesar 112 kaki.

(7)

67 Gambar 5.6. Peta throw Sesar Runi Rev_0601. Terlihat bahwa pada bidang sesar didominasi oleh

warna ungu. Hal itu karena sesar ini merupakan sesar naik dengan nilai throw terbalik.

Gambar 5.7. Histogram distribusi throw pada Sesar Runi Rev_0601 ms

(8)

68 • Sesar Runi Rev_0618

Peta distribusi throw Sesar Runi Rev_0618 (Gambar 5.8) menunjukkan hal yang sama dengan peta distribusi throw Sesar Runi Rev_0601 karena sama-sama merupakan sesar naik. Terlihat juga pada bidang sesar ini menunjukkan satu warna yaitu ungu yang menandakan nilai throw terkecil karena nilai throw yang negatif.

Pada histogram distribusi throw Sesar Runi Rev_0618 (Gambar 5.9), juga terlihat nilai throw yang negatif. Nilai throw absolut terbesar pada sesar ini bernilai 178 kaki dan nilai terkecilnya adalah 0 kaki. Sedangkan nilai throw rata-rata pada sesar ini bernilai 78 kaki.

(9)

69 Gambar 5.9. Histogram distribusi throw pada Sesar Runi Rev_0618

5.4.2. Peta Penampang Reservoar Juxtaposition Berdasarkan Kualitasnya Peta penampang reservoar juxtaposition berdasarkan kualitasnya menunjukkan hubungan kesejajaran antar masing-masing reservoar. Hubungan kesehadapan reservoar tersebut dapat berarti kesehadapan antara reservoar-reservoar yang artinya kualitasnya bagus, kesehadapan reservoar-non reservoar yang menandakan kualitasnya kurang bagus, dan kesehadapan antara non reservoar-non reservoar yang diinterpretasikan kualitas reservoarnya buruk. Berikut adalah peta penampang dari masing-masing sesar.

• Sesar Runi Norm_0601

Pada bidang Sesar Runi Norm_0601 (Gambar 5.10) terlihat bahwa kontak kesehadapan antar reservoar yang kualitasnya bagus dicirikan oleh daerah yang berwarna hijau. Warna kuning menunjukkan hubungan kesehadapan antara reservoar yang kualitasnya bagus dengan horizon yang bukan reservoar. Sedangkan warna oranye menunjukkan hubungan kesehadapan antara horizon non reservoar dengan non reservoar.

Dari peta penampang juga terlihat bahwa warna hijau mendominasi pada horizon dari Formasi Bekasap, yaitu horizon Y1790-Y2250 yang memiliki interval

(10)

70 kedalaman 2150-2700 kaki. Sedangkan warna kuning dan oranye lebih mendominasi di sekitar horizon dari Formasi Duri, yaitu horizon X1420-X1720 yang berkedalaman 1850-2150 kaki. Dari penampang, daerah yang ditandai dengan simbol A adalah bagian tengah dari reservoar utama pada Formasi Duri yaitu horizon X1420. Daerah ini memiliki kontak kesehadapan antara lapisan di bagian hangingwall dan footwall pada reservoar yang sama yaitu X1420. Pada kontak ini nantinya akan dilakukan análisis dari nilai SGR sehingga dapat diketahui potensi sekatnya. Dari Formasi Bekasap juga akan dilihat nilai SGR untuk mengetahui potensi sekatnya, yaitu pada horizon Y1790 dan Y1920 yang menjadi reservoar utama pada formasi ini.

Gambar 5.10. Peta penampang reservoar juxtaposition Sesar Runi Norm_0601

• Sesar Runi Rev_0601

Peta penampang kesehadapan reservoar Sesar Runi Rev_0601 (Gambar 5.11) menunjukkan bahwa pada reservoar dengan interval kedalaman 1900-2250 kaki terlihat kontak horizon yang berwarna oranye mendominasi horizon-horizon pada kedalaman tersebut, yaitu horizon X1420-X1720. Hal itu menandakan bahwa kontak reservoar pada kedalaman tersebut mempunyai kualitas yang buruk. Interval kedalaman ini adalah representasi dari Formasi Duri yang ada pada daerah penelitian.

A

(11)

71 Terdapat daerah yang ditandai dengan simbol A pada reservoar utama X1420. Pada daerah tersebut posisi kesehadapannya memiliki kontak reservoar yang bagus. Kontak reservoarnya ada pada reservoar yang sama yaitu pada reservoar X1420 antara bagian hangingwall dan footwall dari reservoar tersebut. Daerah ini yang akan dilihat nilai SGR untuk mengetahui potensi sekatnya.

Warna yang berbeda terlihat pada interval horizon Y1790-Y2250 yang berada pada kedalaman 2250-2850 kaki. Warna yang mendominasi adalah warna hijau, sehingga dapat disimpulkan pada interval kedalaman tersebut horizonnya memiliki kontak reservoar dengan kualitas yang bagus. Pada interval kedalaman ini, litologinya tersusun dari batuan sedimen klastik yang berasal dari Formasi Bekasap. Dari Formasi Bekasap, pada horizon Y1790 dan Y1920 yang menjadi reservoar utama pada formasi ini juga akan dilihat nilai SGR untuk mengetahui potensi sekatnya.

Gambar 5.11. Peta penampang reservoar juxtaposition Sesar Runi Rev_0601

• Sesar Runi Rev_0618

Dari peta penampang reservoar juxtaposition Sesar Runi Rev_0618 (Gambar 5.12) terlihat dengan jelas bahwa warna oranye mendominasi kontak antar horizon

A

(12)

72 pada interval 1900-2250 kaki yang merupakan interval dari Formasi Duri. Horizonnya dimulai dari X1420 sampai X1720. Dapat diinterpretasikan bahwa pada interval ini kontak antar resevoarnya memiliki kualitas yang buruk. Tidak seperti dua sesar sebelumnya, pada penampang bidang sesar ini tidak terdapat daerah berwarna hijau pada reservoar utama X1420 sehingga menandakan pada bidang sesar ini tidak terdapat kesehadapan kontak reservoar yang bagus. Namun, pada bidang sesar ini tetap akan dilihat nilai SGR untuk melihat potensi sekat pada reservoar utama di formasi ini.

Sedangkan pada interval 2250-2850 kaki, warna yang mendominasi kontak antar reservoar pada kedalaman ini adalah yang berwarna hijau. Interval dari Formasi Bekasap ini memiliki kontak reservoar dengan kualitas yang bagus. Pada bidang sesar ini juga akan dianalisis potensi sekatnya dengan melihat nilai SGR pada horizon Y1920 dan Y2100 yang menjadi reservoar utama pada formasi ini

Gambar 5.12. Peta penampang reservoar juxtaposition Sesar Runi Rev_0618

5.5. Analisis Sekatan Sesar Dengan Pendekatan SGR 5.5.1. Perhitungan SGR

SGR pada dasarnya merupakan estimasi kandungan material lempung pada zona patahan dengan didasari asumsi bahwa material dalam zona patahan merupakan 1900 kaki

2250 kaki

(13)

73 campuran dari batuan samping yang masuk ke dalam zona patahan. SGR dapat dihitung dengan persamaan 8 yang ditampilkan di Bab III (Yielding dkk, 1997), yaitu:

dimana adalah Vsh adalah kandungan serpih, ΔZ adalah tebal lapisan reservoar maupun non reservoar yang dilalui patahan dan throw adalah besar pergerakan vertikal patahan. Nilai SGR menunjukkan persentase kandungan serpih dalam zona patahan. Nilai SGR berkisar antara 0 sampai 100%. Semakin kecil nilai SGR, patahan cenderung semakin leaking dan semakin besar nilai SGR, patahan cenderung semakin sealing. Hasil studi Yielding dkk (1997) pada batuan silisiklastik di beberapa lapangan dunia menghasilkan batas SGR 10-20% untuk kapasitas sealing patahan. Pada analisis kesekatan dengan menggunakan metode SGR ini, penulis menggunakan nilai batasan menyekat yang diajukan oleh Yielding yaitu <20% akan bersifat bocor atau leaking.

5.5.2. Peta Distribusi SGR Pada Bidang Sesar

Daerah dimana reservoar bertemu dengan reservoar, secara teoritis akan menghasilkan sifat leaking atau bocor pada bidang sesar (Smith, 1980). Namun pada kondisi tertentu, kontak reservoar dengan reservoar pada bidang sesar akan dapat bersifat sealing atau sekat (Allan, 1989). Masuknya material-material lempung ke dalam bidang sesar akan dapat menyebabkan bidang sesar menjadi bersifat sekat (sealing). Dalam analisis sekatan sesar dengan pendekatan SGR ini akan dibahas potensi sifat sekat yang dapat terbentuk di sepanjang bidang sesar akibat masuknya material-material lempung ke dalam bidang sesar. Berikut adalah analisis sekatan sesar dengan pendekatan SGR pada sesar-sesar yang menjadi fokus penelitian pada daerah Seruni.

• Sesar Runi Norm_0601

(14)

74 pada bidang sesar ini bersifat sekat semua. Namun, pada bagian Baratlaut dan Tenggara dari bidang sesar terdapat daerah yang nilai SGR <20% (Gambar 5.13). Daerah tersebut merupakan daerah kesehadapan antar reservoar Y2100 antara bagian hangingwall dan footwall, dalam gambar diwakili oleh simbol X dan Y.

Dari Gambar 5.13, Formasi Duri yang berada pada interval 1850-2150 kaki pada bidang sesar memiliki nilai rata-rata SGR >20% atau lebih tepatnya nilai SGR >60% (berdasarkan indeks warna dominan biru). Sedangkan pada Formasi Bekasap dengan interval 2150-2700 kaki juga memiliki nilai rata-rata SGR >20%. Namun jika dibandingkan dengan Formasi Duri, nilai rata-rata SGR Formasi Bekasap lebih kecil (indeks warna dominan hijau). Daerah yang bocor pada bidang sesar ini juga didapat dari horizon yang berasal dari Formasi Bekasap (simbol X dan Y).

Gambar 5.14 menunjukkan peta distribusi SGR di daerah kesehadapan reservoar-reservoar. Peta dari gambar ini juga memperlihatkan hal yang sama dengan Gambar 5.13. Berdasarkan data tersebut, dapat diinterpretasikan bahwa secara umum sesar ini bersifat sekat. Namun, ada 2 daerah yang mengindikasikan kemungkinan untuk bocor yaitu daerah di daerah Barat Laut dan Tenggara (X dan Y).

(15)

75 Gambar 5.14. Peta distibusi SGR di daerah kesehadapan reservoar-reservoar Sesar Runi Norm_0601

(16)

76 Variasi nilai SGR pada Sesar Runi Norm_0601 terlihat dari histogram plot penyebaran SGR dan frekuensi (Gambar 5.15). Nilai SGR berkisar antara 10% sampai 95%. Nilai rata-rata SGR pada sesar ini sekitar 60% dan nilai SGR dominan sekitar 65%. Frekuensi yang tinggi terdapat pada nilai SGR yang sebesar 40%-80%, sedangkan frekuensi yang kecil terdapat pada nilai SGR 10%-20%.

• Sesar Runi Rev_0601

Sedangkan dari peta distribusi SGR pada bidang Sesar Runi Rev_0601, terlihat persebaran dari harga SGR yang beragam (Gambar 5.16). Dominasi indeks warna pada bidang sesar ini adalah hijau, yang berarti nilai SGR rata-ratanya lebih kecil dari sesar sebelumnya. Namun, secara umum sesar ini masih bersifat sekat karena nilai rata-rata SGR >20%. Warna hijau yang menjadi warna dominan mewakili nilai SGR sebesar 25%-55%.

Dari Gambar 5.16, Formasi Duri yang berada pada interval 1900-2250 kaki pada bidang sesar memiliki nilai rata-rata SGR >20% atau lebih tepatnya nilai SGR 40%-70% (berdasarkan indeks warna dominan hijau-biru). Pada bagian atas Formasi Duri, terdapat bagian yang berwarna kuning yang menandakan daerah tersebut bocor. Ditandai dengan simbol A yang merupakan daerah kontak kesehadapan antar reservoar X1420 pada bagian hangingwall dan footwall. Sedangkan pada Formasi Bekasap dengan interval 2250-2850 kaki juga memiliki nilai rata-rata SGR >20%. Namun jika dibandingkan dengan Formasi Duri, nilai rata-rata SGR Formasi Bekasap lebih kecil sebesar 30%-40% (indeks warna dominan kuning-hijau). Daerah yang bocor juga didapat dari horizon yang berasal dari Formasi Bekasap yaitu pada daerah yang diberi simbol B dan C. Simbol B menandakan kontak kesehadapan pada bidang hangingwall dari horizon Y1920 dan footwall dari horizon Y2100. Sedangkan simbol C mewakili daerah dengan kontak kesehadapan antar reservoar Y2100 pada bagian hangingwall dan footwall dari reservoar tersebut.

(17)

77 Gambar 5.16. Peta distibusi SGR Sesar Runi Rev_0601

(18)

78 Gambar 5.18. Histogram SGR rata-rata dan dominan pada Sesar Runi Rev_0601

Gambar 5.18 merupakan histogram plot penyebaran SGR dan frekuensi dan menunjukkan variasi nilai SGR pada Sesar Runi Rev_0601. Nilai SGR pada bidang sesar ini berkisar antara 5% sampai 90%. Nilai rata-rata SGR pada sesar ini sekitar 48% dan nilai SGR dominan sekitar 43%. Frekuensi yang tinggi terdapat pada nilai SGR yang sebesar 30%-70%, sedangkan frekuensi yang kecil terdapat pada nilai SGR 5%-10% dan 80%-90%.

• Sesar Runi Rev_0618

Peta distribusi SGR pada bidang Sesar Runi Rev_0618, memperlihatkan persebaran dari harga SGR yang beragam (Gambar 5.19). Dominasi indeks warna pada bidang sesar ini adalah hijau-biru, yang berarti nilai SGR rata-ratanya lebih besar dari sesar sebelumnya. Secara umum sesar ini bersifat sekat karena nilai rata-rata SGR >20%, diperkirakan sebesar 40%-60%.

Dari Gambar 5.19, Formasi Duri yang berada pada interval 1900-2250 kaki pada bidang sesar memiliki nilai rata-rata SGR >20% atau lebih tepatnya nilai SGR 50%-80% (berdasarkan indeks warna dominan biru). Hampir semua horizon pada Formasi Duri bersifat sekat. Sedangkan pada Formasi Bekasap dengan interval 2250-2850 kaki juga memiliki nilai rata-rata SGR >20%. Namun jika dibandingkan dengan

(19)

79 Formasi Duri, nilai rata-rata SGR Formasi Bekasap lebih kecil sebesar 25%-40% (indeks warna dominan kuning-hijau). Daerah yang bocor juga didapat dari horizon yang berasal dari Formasi Bekasap yaitu pada daerah yang diberi simbol B dan C. Simbol B menandakan kontak kesehadapan pada bidang hangingwall dari horizon Y1920 dan footwall dari horizon Y2100. Sedangkan simbol C mewakili daerah dengan kontak kesehadapan antar reservoar Y2100 pada bagian hangingwall dan footwall dari reservoar tersebut.

Peta distribusi SGR di daerah kesehadapan reservoar-reservoar pada bidang Sesar Runi Rev_0601 (Gambar 5.20) memperlihatkan hal yang sama dengan Gambar 5.19. Berdasarkan data tersebut, dapat diinterpretasikan bahwa secara umum sesar ini bersifat sekat. Namun, ada beberapa daerah yang mengindikasikan kemungkinan untuk bocor yaitu daerah di daerah Tenggara dan bagian tengah.

Gambar 5.19. Peta distibusi SGR Sesar Runi Rev_0618 Nilai SGR

<20% (C) Nilai SGR <20% (B) 2850 kaki

(20)

80 Gambar 5.20. Peta distibusi SGR di daerah kesehadapan reservoar-reservoar Sesar Runi Rev_0618

(21)

81 Gambar 5.21 merupakan histogram plot penyebaran SGR dan frekuensi dan menunjukkan variasi nilai SGR pada Sesar Runi Rev_0618. Nilai SGR pada bidang sesar ini berkisar antara 10% sampai 98%. Nilai rata-rata SGR pada sesar ini sekitar 54% dan nilai SGR dominan sekitar 58%. Frekuensi yang tinggi terdapat pada nilai SGR yang sebesar 35%-65%, sedangkan frekuensi yang kecil terdapat pada nilai SGR 10%-20%.

5.5.3. Analisis Kesekatan Dengan Pendekatan SGR • Sesar Runi Norm_0601

(22)

82 Formasi  Reservoar  Kualitas 

Resevoar  Kesehadapan  SGR (%) 

Daya 

Sekat  Catatan 

Duri 

X1420  bagus  pasir‐serpih  60 ‐ 80  sekat  di semua bidang sesar  X1660  bagus  pasir‐serpih  60 ‐ 80   sekat  di semua bidang sesar  X1720  bagus  pasir‐serpih  55 ‐ 80   sekat  di semua bidang sesar 

Bekasap 

Y1790  bagus  pasir‐pasir  50 ‐ 70   sekat  di semua bidang sesar  Y1920  bagus  pasir‐pasir  50 ‐ 75   sekat  di semua bidang sesar 

Y2100  bagus  pasir‐pasir  15 ‐ 40   bocor‐ sekat 

bocor di Baratlaut dan  Tenggara bidang sesar  Tabel 5.2. Tabulasi analisis kesekatan sesar pada Sesar Runi Norm_0601

Gambar 5.22. Determinasi daerah yang potensial sekat dan bocor pada bidang Sesar Runi Norm_0601 Nilai SGR

<20% (X)

(23)

83 • Sesar Runi Rev_0601

Hampir sama dengan Sesar Runi Norm_0601, dari hasil analisis SGR yang diuraikan sebelumnya, daerah-daerah reservoar pada bidang Sesar Runi Rev_0601 yang memiliki nilai SGR >20% umumnya terdapat pada hampir semua daerah kesehadapan reservoar. Kondisi ini diinterpretasikan dengan kandungan serpih yang tinggi pada daerah penelitian. Namun, pada bidang sesar ini, terdapat juga daerah yang memiliki nilai SGR <20% dan terdapat pada bagian Baratlaut dan tengah (Gambar 5.23). Kontak kesehadapan reservoar pada daerah tersebut adalah berada pada daerah kesehadapan yang sama yaitu pada horizon X1420 dari Formasi Duri (ditandai oleh simbol A), pada horizon Y2100 dari Formasi Bekasap (diwakili oleh simbol C), dan kesehadapan antar reservoar yang berbeda yaitu kontak kesehadapan antara bidang hangingwall dari horizon Y1920 dan footwall dari horizon Y2100 (B). Rendahnya nilai SGR pada daerah tersebut diinterpretasikan kandungan serpihnya yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah lain. Berdasarkan data pengeboran (marked log), reservoar utama pada daerah penelitian berasal dari horizon X1420, X1660, Y1790, Y1920, dan Y2100. Berdasarkan acuan pada hasil studi Yielding (2002), maka pada interval reservoar utama tersebut, sesar bersifat menyekat atau sealing, kecuali pada bagian Baratlaut dan tengah dari bidang sesar pada interval reservoar X1420, Y1920, dan Y2100 yang diinterpretasikan bersifat bocor atau leaking karena nilai SGR <20% (Tabel 5.3).

Formasi  Reservoar  Kualitas 

Resevoar  Kesehadapan  SGR (%)  Daya  Sekat  Catatan  Duri  X1420  bagus  pasir‐serpih,  pasir‐pasir  15 ‐ 40  bocor‐ sekat  bocor di bagian tengah  bidang sesar  X1660  bagus  pasir‐serpih, 

pasir‐pasir  30 ‐ 70   sekat  di semua bidang sesar  X1720  bagus  pasir‐pasir  40 ‐ 70   sekat  di semua bidang sesar 

Bekasap 

Y1790  bagus  pasir‐pasir  30 ‐ 50   sekat  di semua bidang sesar 

Y1920  bagus  pasir‐pasir  15 ‐ 35   bocor‐ sekat 

bocor di bagian tengah  bidang sesar 

Y2100  bagus  pasir‐pasir  15 ‐ 40   bocor‐ sekat 

bocor di Baratlaut bidang  sesar 

(24)

84 Gambar 5.23. Determinasi daerah yang potensial sekat dan bocor pada bidang Sesar Runi Rev_0601

• Sesar Runi Rev_0618

Sedangkan pada Sesar Runi Rev_0618, dari hasil analisis SGR yang diuraikan sebelumnya, daerah-daerah reservoar pada bidang Sesar Runi Rev_0618 yang memiliki nilai SGR >20% umumnya terdapat pada hampir semua daerah kesehadapan reservoar. Kondisi ini diinterpretasikan dengan kandungan serpih yang tinggi pada daerah penelitian. Namun, pada bidang sesar ini, terdapat juga daerah yang memiliki nilai SGR <20% dan terdapat pada bagian Tenggara dan tengah (Gambar 5.24). Kontak kesehadapan reservoar pada daerah tersebut adalah berada pada daerah kesehadapan yang sama yaitu pada horizon Y2100 dari Formasi Bekasap (diwakili oleh simbol C) dan kesehadapan antar reservoar yang berbeda yaitu kontak kesehadapan antara bidang hangingwall dari horizon Y1920 dan footwall dari horizon Y2100 (B). Rendahnya nilai SGR pada daerah tersebut diinterpretasikan kandungan serpihnya yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah lain. Berdasarkan data pengeboran (marked log), reservoar utama pada daerah penelitian berasal dari horizon X1420, X1660, Y1790, Y1920, dan Y2100. Berdasarkan acuan pada hasil studi Yielding (2002), maka pada interval reservoar utama tersebut, sesar bersifat menyekat

Nilai SGR <20% (A)

Nilai SGR <20% (C)

(25)

85 atau sealing, kecuali pada bagian Baratlaut dan tengah dari bidang sesar pada interval reservoar Y1920 dan Y2100 yang diinterpretasikan bersifat bocor atau leaking karena nilai SGR <20% (Tabel 5.4).

Formasi  Reservoar  Kualitas 

Resevoar  Kesehadapan  SGR (%) 

Daya 

Sekat  Catatan 

Duri 

X1420  bagus  pasir‐serpih  30 ‐ 50   sekat  di semua bidang sesar 

X1660  bagus  pasir‐serpih, 

pasir‐pasir  30 ‐ 80   sekat  di semua bidang sesar  X1720  bagus  pasir‐pasir  35 ‐ 60   sekat  di semua bidang sesar 

Bekasap 

Y1790  bagus  pasir‐serpih, 

pasir‐pasir  25 ‐ 65   sekat  di semua bidang sesar  Y1920  bagus  pasir‐serpih, 

pasir‐pasir  15 ‐ 60  

bocor‐ sekat 

bocor di bagian tengah  bidang sesar 

Y2100  bagus  pasir‐pasir  15 ‐ 40   bocor‐ sekat 

bocor di Tenggara bidang  sesar 

Tabel 5.4. Tabulasi analisis kesekatan sesar pada Sesar Runi Rev_0618

Gambar 5.24. Determinasi daerah yang potensial sekat dan bocor pada bidang Sesar Runi Norm_0618 Nilai SGR

<20% (B)

(26)

86 5.6. Validasi SGR

Salah satu tujuan utama dari analisis sekatan sesar adalah penentuan nilai SGR pada daerah penelitian. Hasil dari perhitungan SGR dapat divalidasikan dengan membandingkan hasil perhitungan dengan data-data lain seperti data Original Water Contact, RFT, atau data sejarah produksi. Semakin banyak data penunjang yang tersedia, maka akan semakin valid hasil analisis sesar tersebut.

Pada penelitian kali ini penulis mendapatkan data penunjang Original Water Contact dan data RFT. Namun, data-data penunjang tersebut tidak dapat digunakan sebagai parameter karena hasil pengukuran dari data-data penunjang tersebut tidak valid.

Untuk data RFT yang didapatkan pada penelitian kali ini, nilai pressure yang didapat tidak dapat menunjukkan keadaan pressure Formasi pada kondisi saat ini. Data terbaru yang didapat berasal dari pengukuran pada tahun 2005, itupun hasil pengukuran dari 2 sumur terbaru, yaitu sumur #34 dan sumur #35. Jadi, nilai SGR yang didapat tidak dapat divalidasikan dengan data RFT pada daerah penelitian.

(27)

87 Gambar 5.25. Stick plot OWC dari beberapa sumur pada Top Formasi Duri

5.7. Kalibrasi dan Kelemahan SGR

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa angka kalibrasi 20% yang diajukan pada daerah penelitian ini tidak dapat dijadikan acuan sepenuhnya, hal itu karena lapangan minyak di dunia berbeda-beda kondisi geologinya. Salah satu solusi agar kalibrasi valid, perlu ditambahkan jumlah kalibrasinya. Misalnya, karakteristik sesar pada kalibrasi 15%, 20%, 25% atau kalibrasi lainnya sesuai dengan kondisi geologi dan data pemboran lapangan minyaknya. Jadi untuk penelitian selanjutnya pada lapangan minyak di Cekungan Sumatra Tengah ini perlu diperhatikan agar kalibrasinya tidak hanya mengacu pada kalibrasi Yielding dkk (1997) yaitu batas sealing 20%. Perlu diperhatikan kondisi geologi seperti throw, litologi dominan, dan mekanisme sesar sehingga didapatkan nilai kesekatan yang lebih valid.

Dari penelitian ini juga dapat diketahui beberapa kelemahan dari metode SGR. Metode SGR memerlukan data RFT teraktual, stickplot OWC, dan beberapa data lain agar menjadi lebih valid. Karena bumi dinamis, maka metode ini kurang menggambarkan kondisi sebenarnya pada saat minyak terperangkap oleh sesar. Hasil

-1998 kaki -1953 kaki

(28)

Gambar

Gambar 5.1. Kenampakan sesar-sesar secara 3D serta sesar-sesar yang menjadi fokus penelitian SESAR RUNI REV_0601
Gambar 5.2. Hasil perhitungan Vsh tiap kedalaman dan rata-rata tiap lapisan berdasarkan data log
Tabel 5.1. Litostratigrafi yang berisi primary dan marker horizon dari data pada Sumur #11
Gambar 5.3. Hasil dari proses pemodelan bidang sesar yang berasal dari segmen–segmen penampang  seismik sampai didapatkan poligon pada bidang sesar
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam konsentrasi yang layak, tidak berbahaya bagi manusia. Chlorida dalam jumlah kecil dibutuhkan untuk desinfektan namun apabila berlebihan dan berinteraksi dengan

Secara umum sistem pakar adalah sebuah sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke dalam komputer, agar komputer dapat menyelesaikan masalah seperti yang

Dari hasil analis kadar air tabel 2., menunjukkan bahwa perlakuan peningkatan konsentrasi Substrat pati memberikan pengaruh terhadap kadar air dan terlihat bahwa

Berat kering akar bibit kopi pada perlakuan perbandingan topsoil dengan pukan ayam dan konsentrasi POC dapat dilihat pada Tabel 2.. Sedangkan pada perlakuan P 2 (4 cc/L)

Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis di tempat dan waktu yang tepisah terhadap responden yang merupakan subjek penelitian penulis dengan menggunakan

mencapai US$ 10,1 miliar atau turun 6,4 persen dibanding Juli 2008, sedangkan selama Januari-Agustus 2008 impor di luar Kawasan Berikat mencapai US$ 73,0 miliar atau meningkat

Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa verba adalah kata yang menggambar proses, perbuatan atau keadaan, yang juga disebut kata kerja ( Poerwadarmita, 2005:1260)..

Arah opini publik ini sesuai dengan elektabilitas PDI Perjuangan yang tinggi pada pemilu legislatif 2014, yaitu 18,95%. Dengan demikian, kesimpulan dari penelitian ini