Development of the Information System Management Population Data Using the Extreme Programming Methodology Approach,
Case Study at Badal Village Government, Kediri, East Java, Indonesia
Ahmad Habib
1, Ery Sadewa Yudha W
2, Ardy Januantoro
3and Anton Breva Yunanda
41,2,3,4
Informatics Engineering, University of 17 Agustus 1945 Surabaya
[email protected], [email protected], [email protected], [email protected]
Abstract — Management information systems are currently very important in various fields to help accelerate and facilitate management. One of the implementations of the management information system is a population management information system. The population management information system helps village administrators to manage population data faster and easier. Some of the features that are the focus of this information system are population data capture, population file administration systems and web-based population data upload facilities for residents who wish to complete data without having to go to the village office. The creation of a population management information system certainly requires a fast and accurate method for its application. Based on this, the extreme programming method was chosen as a method for designing and creating a population management information system. The extreme programming method is a method that has four stages of implementation, namely planning, system design, coding, and testing. By implementing the four stages, it is hoped that it can produce a quality system and help the required processes. The results of this study are in the form of a population management information system application that can accelerate and simplify the administrative and population management processes.
Keyword — Extreme Programming, Manajemen Information System, Population Management Information System.
Abstrak — Sistem informasi manajemen saat ini menjadi hal yang sangat penting dalam berbagai bidang untuk membantu mempercepat dan memudahkan pengelolaan. Salah satu implementasi dari system informasi manajemen adalah system informasi manajemen kependudukan. System informasi manajemen kependudukan membantu admin desa untuk memanajemen data kependudukan lebih cepat dan mudah. Adapun beberapa fitur yang menjadi fokus system informasi ini adalah perekapan data kependudukan, system administrasi berkas kependudukan dan fasilitas upload data kependudukan berbasis web bagi warga yang ingin melengkapi data tanpa harus ke kantor desa. Pembuatan system informasi menejemen kependudukan tentunya membutuhkan suatu metode yang cepat dan akurat dalam penerapannya. Berdasarkan hal tersebut, metode extreme programming dipilih sebagai metode untuk merancang dan membuat system informasi manajemen kependudukan. Metode extreme programming merupakan suatu metode yang mempunyai empat tahapan pelaksanaan yaitu perencanaan, perancangan system, pengkodean dan pengujian. Dengan merapkan empat tahapan tersebut diharapkan dapat menghasilkan system yang berkualitas dan membantu proses yang dibutuhkan. Hasil dari penelitian ini yaitu berupa aplikasi system informasi manajemen kependudukan yang dapat mempercepat dan memperbudah proses administrasi dan manajemen kependudukan.
Kata kunci — Extreme Programming, Perancangan system informasi menejemen, Sistem informasi manajemen kependudukan.
I. PENDAHULUAN
Desa badal adalah salah satu desa yang terletak di kecamatan ngadiluwih, kabuapaten kediri jawa timur. Desa badal mempunyai sebuah instansi penyedia layanan kependudukan yang terdiri dari pendataan warga, pembuatan E-KTP dan pembuatan legalitas dokumen warga.
Proses pelayanan kependudukan membutuhkan kecepatan dan keakuratan memproses dokumen agar layanan dapat berjalan dengan maksimal[1].
Proses pengelolaan data kependudukan di desa badal berlandaskan UU No.24 tahun 2013 pasa 1 ayat 9 bahwa data kependudukan adalah sebuah data perseorangan/data agregat yang terstruktur sebagai hasil dari suatu kegiatan registrasi penduduk dan pencatatan sipil. Selain itu, dasar lain yang digunakan adalah UU No.23 tahun 2006 menyebutkan tentang administrai kependudukan dalam rangka meningkatkan pelayanan yang profesional, mempunyai standar teknologi informasi, tertib, dinamis dan tidak mengandung unsur diskriminatif. Dari permasalahan
tersebut maka dibuatlah suatu system informasi yang dapat membantu petugas administrasi desa badal untuk melakukan pendataan penduduk agar lebih cepat dan terdistribusi dengan baik[2][3].
Pada penelitian sebelumnya, ada beberapa metode yang dgunakan untuk membangun suatu proyek sistem informasi seperti pada sistem aplikasi pengaduan gangguan listrik PLN menggunakan metode System Development Life Cycles (SDLC)[4], rancang bangun sistem pengaduan masyarakat polri menggunakan permodelan Unified Modelling Language (UML), pengerjaan proyek perangkat lunak untuk pembangunan aplikasi seleksi peserta pelatihan kerja berbasis web yang berfokus pada sasaran, dengan mnggunakan metode extreme programming[5], metode extreme programming juga dapat digunakan untuk proyek administrasi desa[6]. rancang bangun perhotelan juga dapat di implementasikan dengan menggunakan extreme programming[7], penggunaan extreme programming dapat menghasilkan kualitas yang bagus meskipun dengan desain yang sederhana[8] serta penggunaan dalam hal proyek perangkat lunak skala kecil juga bisa diimplementasikan[9].
Berdasarkan penelitian sebelumnya, maka peneliti menggunakan metode extreme programming untuk membangun sistem informasi kependudukan. Extreme programming mengunakan 4 tahapan sebagai prosesnya yaitu perencanaan, perancangan, pengkodean dan pengujian.
Tujuan dari penelitian ini adalah membangun sebuah aplikasi sistem informasi kependudukan menggunakan metode extreme programming yang dapat meningkatkan kualitas, kecepatan dan ketepatan fungsional sistem. Hasil dari penelitian ini berupa sistem yang menjawab semua kebutuhan user secara detail dan akurat.
II. METODOLOGI PENELITIAN A. Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini, teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan observasi pada user.
Wawancara dan observasi yang dilakukan meliputi kebutuhan sistem, proses administrasi dan jenis data. Obyek yang dijadikan pengambilan data adalah petugas administrasi kependudukan di desa badal.
B. Metode Extreme Programming
Metode extreme programming adalah salah satu cabang dari metode agile dalam proses pengembangan perangkat lunak yang bertujuan untuk menyelesaikan kebeutuhan pengembangan. Extreme programming juga dapat dikombinasikan dengan metode scrum[10]. Dasar dari keseluruhan pengembangan perangkat lunak XP adalah penulisan kode dan pengujian[11]. Metodologi XP terutama dirancang untuk tim yang lebih kecil dengan dua hingga sepuluh anggota, yang mengerjakan tugas yang sering atau kurang diketahui. Selain itu extreme programming juga
cocok jika kebutuhan user tidak menentu dan terjadi perubahan kebutuhan yang sangat cepat[12].
Beberapa tahapan extreme programming dapat dijelaskan dalam gambar 1
Gambar 1. Proses siklus metode extreme programming
Dari gambar diatas, extreme programming memeliki empat tahapan penyelesaian[13] yaitu :
1) Perencanaan (Planning)
Tahapan perencanaan dimulai dengan mengumpulkan data dari hasil wawancara dan observasi kebutuhan sistem yang memberikan gambaran tentang fitur utama sistam, fungsionalitas dan keluaran yang nantinya ada pada suatu sistem yang akan dibuat. Pada tahapan ini, peneliti akan dari mengidentifikasaikan permasalahan yang ada, kemudian melakukan Analisa kebutuhan yang nantinya akan di implementasikan kedalam sistem yang akan dibangun.
2) Perancangan (Design)
Pada tahapan ini, perancangan dilakukan dengan menerapkan model sistem berdasarkan hasil dari analisa kebutuhan yang didapatkan. Selain itu digunakan juga permodelan sistem basis data untuk menggambarkan hubungan antar data. Untuk melakukan permodelan sistem basis data peneliti menggunakan UML yang terdiri dari berbagai rancangan diagram seperti diagram usecase, diagram activity, dan Entity Relationship Diagram (ERD)
3) Pengkodean (Coding)
Tahapan ini adalah penerapan dari tahapan perancangan model sistem yang telah dibuat kedalam bentuk kode program yang menghasilkan luaran berupa prototype perangkat lunak. Dalam penmbangunan sistem informasi manajemen kependudukan, peneliti menggunakan Bahasa pemrograman php sebagai back end dan juga menggunakan framework php yaitu CodeIgniter3. Pada lingkup frontend, peneliti menggunakan kombinasi HTMP, CSS dan Javascript. Dan untuk implementasi basisdata, database manajemen system yang digunakan adalah MySQL
4) Pengujian (Testing)
Tahapan ini merupakan tahapan pengujian terhadap sistem yang dibangun. Tahapan ini akan ditinjau oleh pengguna sistem dengan memperhatikan fitur utama sistem, fungsionalitas dan desain sistem apakah sesuai dengan kebutuhan atau tidak. Metode yang digunakan adalah User Acceptance Test (UAT) atau biasa disebut sebagai pengujian blackbox
III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perencanaan (Planning)
Perencanaan dilakukan berdasarkan hasil observasi user dengan dituliskan dalam bentuk user story. User story card yang baik menerapkan model INVEST yaitu Independent, Negotiable, Valuable, Estimable, Small, dan Testable[14].
Independent yaitu yang tidak ada ketergantungan sama sekali antar user story, Negotiable yaitu perolehan seluruh detail kebutuhan melalui kolaborasi, Estimable yaitu memperkirakan kebutuhan dalam segi waktu dan biaya, Testable yaitu penentuan kriteria yang sudah disetujui.
Artinya sebuah user story dapat dikatakan selesai jika acceptance criteria user story tersebut telah terpenuhi.
B. Perancangan (Design)
Pada tahapan ini, perancangan sistem akan dibuat berdasarkan hasil dari perencanaan pada tahap awal. Hasil dari dokumen rancangan tersebut dimulai dengan merancang sebuah model dari perilaku user. Perancangan model perilaku user menggunakan diagram usecase. Berikut hasil dari rancangan diagram usecase bisa dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Usecase Diagram sistem informasi kependudukan
Selain itu, digunakan diagram flowchart untuk menjelaskan perilaku user lebih detail pada setiap proses
dalam diagram usecase. Berikut beberapa hasil desain
flowchart sesuai dengan kebutuhan user
Gambar 3. Flowchart diagram pada menu user login.
Pada gambar 3, dijelaskan bahwa ada beberapa tahapan untuk melakukan autentifikasi login kedalam sistem. Mulai dari memasukkan user dan password kemudian jika user dan password sesuai dengan database maka sistem akan meneruskan menuju halaman utama sistem. Tetapi, Ketika password dan user tidak sesuai maka sistem akan kembali ke halaman login dan memunculkan notifikasi bahwa user dan password salah.
Gambar 4. Flowchart diagram akses sistem penduduk
Pada gambar 4, kita dapat melihat bagaimana proses jika penduduk melakukan penambahan dokumen kartu keluarga.
Pertama user melakukan login dan masuk kedalam menu utama, kemudian user menuju halaman kartu keluarga. Pada halaman kartu keluarga terdapat dua pilihan yaitu menambahkan anggota keluarga baru dan halaman ubah data kartu keluarga. Pada halaman tambah keluarga terdapat beberapa isian yang harus diisi oleh user. Pada halaman kartu keluarga untuk mengubah data didalamnya terdapat tiga aksi yang bisa dipilih oleh user yaitu mengubah data, menghapus data dan menampilkan detail kartu keluarga.
Gambar 5. Flowchart diagram akses admin desa
Pada gambar 5, terdapat beberapa menu yang dapat diakses oleh admin desa sebagai petugas manajemen data kependudukan. Pada halaman utama admin terdapat 2 menu yaitu master data dan penduduk. Pada menu master data, admin dapat menambahkan beberapa data kependudukan seperti upload dokumen KK, foto KTP, Ijazah dll. Selain itu juga terdapat menu menambahkan kolom agama baru, dan juga terdapat menu klasifikasi yang digunakan untuk mempermudah admin mengelompokkan kriteria tertentu sebagai acuan untuk pencarian data. Pada menu penduduk terdapat tiga sub menu yaitu menu untuk membuat laporan yang berfungsi untuk menampilkan laporan data penduduk kepada kepala desa, tambah Kartu Keluarga yang berfungsi untuk menambahkan data kartu keluarga baru apabila ada pendatang baru, kemudian terdapat menu lihat dan edit data yang berfungsi melihat detail keseluruhan data penduduk dan dapat mengubah data penduduk apabila ada kesalahan input yang dimasukkan user penduduk maupun user admin.
Gambar 6. Flowchart diagram logout user
Pada gambar 6, dijelaskan proses bagaimana proses logout user. Pada menu profil terdapat pilihan edit user yang berfungsi untuk mengubah apabila ada kesalahan data dan logout apabila ingin keluar dari sistem informasi kependudukan.
Selain desain user, peneliti juga merancang model database yang akan digunakan pada sistem informasi kependudukan menggunakan Entity Relationship Diagram (ERD). Dengan ERD hubungan antar table database dapat di simulasikan agar nantinya sistem akan lebih efisien dan efektif dalam penyimpanan data. Desain dari ERD dapat dilihat pada gambar 7.
Gambar 7. Entity Relationship Diagram
Pada gambar 7, dapat kita lihat terdapat beberapa table yang dibuat seperti table penduduk, hak akses user, klasifikasi, agama, pesan, online, kk, hak akses, klasifikasi dokuemen, file, dan dokumen. Dalam pembuatan ERD diagram setuiap tabel harus mempunyai primary key dan foreign key sebagai penghubung antar tabel. Gambar 7 menjelaskan primary key pada tabel penduduk yaitu pada kolom nik, tabel klasifikasi pada kolom id_klasifikasi, tabel agama pada kolom id_agama, tabel kk pada id_kk, tabel pesan pada kolom id_pesan, tabel online pada kolom id_online, tabel hak akses pada kolom id_akses, tabel klasifikasi pada kolom id_klasifikasi, tabel file pada kolom id_dokumen, sedangkan untuk foreign key terdapat pada tabel hak akses pada kolom nik, tabel penduduk pada kolom id_agama, tabel penduduk pada kolom kk, tabel penduduk pada kolom id_klasifikasi.
B. Pengkodean (Coding)
Pada proses pengkodean, peneliti menggunakan pemrograman berbasis web pada sistem informasi kependudukan. Dalam proses pengkodean peneliti menggunakan pemrograman bahasa php sebagai backend dan sebagai front-end nya peneliti menggunakan html, css dan javascript. Berikut hasil dari proses pengkodean berupa sistem informasi kependudukan dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 8. Form login
Pada gambar 8 terdapat dua input-text yaitu memasukkan user name dan password.
Gambar 9. Dashboar admin
Pada gambar 9, terdapat beberapa menu yang ada pada dashboard admin. Menu tersebut adalah menu master data yang berisi agama, dokumen dan klasifikasi penduduk, menu penduduk dan menu chatting. Selain itu pada dashboar admin juga menampilkan jumlah warga berdasarkan klasifikasi yaitu jumlah pendudukan anak – anak, jumlah penduduk remaja, dan jumlah penduduk dewasa. Pada tampilan selanjutnya juga terdapat informasi jumlah warga berdasarkan kelamin yaitu jumlah warga dengan kelamin perempuan dan laki laki.
Gambar 10. Dashboard penduduk
Pada gambar 10, terdapat dashboar penduduk yang didalamnya terdapat informasi detail anggota keluarga dan nomor induk kependudukan. Selain itu, dalam dashboard penduduk terdapat pilihan untuk mengubah data, menghapus data dan melihat detail data
Gambar 11. Informasi detail penduduk
Pada gambar 11, terdapat informasi detail penduduk.
Informasi yang dapat dtampilkan adalah profil foto penduduk, nomor induk kependudukan, nama, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, golongan darah,, pekerjaan, penddukan, status perkawinan, agama, klasifikas, dan nomor kartu keluarga.
D. Pengujian (Testing)
Pada tahap ini, tahapan pengujian dilakukan menggunakan metode blacbox yaitu dengan memasukkan data normal sebagai hasil masukan. Tabel 1 memperlihatkan beberapa hasil pengujian sistem informasi kependudukan
TABEL I
HASIL PENGUJIAN MENGGUNAKAN METODE BLACKBOX Data masukan Luaran/proses yang
diharapkan
Pengamatan Kesimpulan
Dashboar admin jika admin melakukan login dan menuju halaman utama, maka disana terdapat informasi detail tentang jumlah penduduk dangan klasifikasi detail
Infromasi mengenai data kependudukan terdapat pada dashboard awal admin yang menampilkan jumlah penduduk berdasarkan klasifikasi anak-anak, remaja dan dewasa. Selain itu juga terdapat klasifikasi jumlah penduduk laki laki dan perempuan
Diterima
Dashboard penduduk Jika ada kesalahan input data oleh penduduk maka penduduk dapat memperbaiki kesalahan input data tersebut bahkan juga bisa menghapus data
Fitur pada dashboard penduduk ada tiga macam yaitu mengubah data, menghapus dan melihat detail data
Diterima
Form edit penduduk Jike penduduk ingin melakukan perubahan data maka penduduk hanya bisa melakukan perubahan data diri kecuai nomor nik
Nomor nik pada form edit penduduk otomatis di tampilkan dari database dan input-text di disable agar tidak bisa di ganti
Diterima
IV.KESIMPULAN
Peda penelitian ini, metode extreme programming dapat diimlementasikan pada proyek pembuatan sistem informasi kependudukan. Dengan empat tahapan implementasi metode extreme programming dapat mengelola tahapan tahapan dengan baik. Dimulai dengan perencanaan sistem sesuai kebutuhan user, kemudian dari perencanaan dibuatlah Langkah berikutnya yaitu merancang sebuah sistem sesaui dengan perencanaan yang sudah dibuat sebelumnya. Pada tahapan selanjutnya dilakukan pengkodean sebagai implementasi selanjutnya dari proses perencanaan. Setelah proses pengkodean, sistem akan ditinjau kembali pada proses testing sebagai tolak ukur apakah sistem yang sudah dibuat sudah memenuhi kebutuhan pengguna atau belum.
Jika masih belum sesuai maka akan di lakukan peninjauan tahapan tahapan sebelumnya dimanakah titik kesalahan yang terjadi. Apabila sudah ditemukan maka akan diperbaiki dan delakukan proses berikutnya dan begitu seterusnya. Dari hasil Analisa diatas, metode extreme programming sangat cocok untuk proyek perangkat lunak yang membutuhkan kecapatan dan implementasi segera mungkin. Tetapi mempunyai kelemahan yaitu tidak cocok untuk proyek yang membutuhkan kelengkapan dokumen yang detail karena extreme programming hanya berfokus pada hasil bukan pada proses.
DAFTAR ACUAN
[1] A. Kusumawati, tacbir hendro Pudjiantoro, and D.
Nursantika, “Sistem Informasi Kependudukan Pada Kecamatan Kadungora Kabupaten Garut,” Pros. Semin.
Nas. Komput. dan Inform., vol. 2017, 2017.
[2] A. Habib, A. Darwanto, and E. Ronando, “Pump Control System Using Microcontroller and Short Message Service (SMS) Gateway for Flood Prevention,” in Springer Proceedings in Physics, 2017, pp. 607–621..
[3] S. Sujono, “Penerapan Aplikasi Sistem Informasi Kependudukan Berbasis Web Pada Kantor Kepala Desa Puput Kec. Simpangkatis,” Simetris J. Tek. Mesin, Elektro dan Ilmu Komput., vol. 9, no. 1, pp. 707–716, 2018, doi:
10.24176/simet.v9i1.2078.
[4] H. Gunawan and I. Agustian, “Aplikasi Pelayanan Gangguan Listrik Berbasisweb Di Pln Rayon Banjaran,”
Apl. Pelayanan Gangguan List. Berbas. Web Di Pln Rayon Banjaran, vol. VI, no. 2, pp. 1–15, 2014.
[5] A. Supriyatna, “Metode Extreme Programming Pada Pembangunan Web Aplikasi Seleksi Peserta Pelatihan Kerja,” J. Tek. Inform., vol. 11, no. 1, pp. 1–18, 2018, doi:
10.15408/jti.v11i1.6628.
[6] D. Krisbiantoro, M. Imron, A. D. Riyanto, T. R. Dewi, S.
Informasi, and S. A. Purwokerto, “Implementasi XP Programming Terhadap Sistem Informasi Pelayanan Publik Administrasi Desa Berbasis Web,” pp. 308–317.
[7] A. S. Akbar, “Rancang Bangun Sistem Informasi Administrasi Hotel Dengan Metode Extreme Programming,” J. Disprotek, vol. 8, no. 2, 2017.
[8] A. Habib, M. A. Jani, D. A. Pratama, and E. Ronaldo,
"Development of archives management information system with RFID and SMS gateway," Int. J. Psychosoc.
Rehabil., vol. 24, no. 4, pp. 5227–5243, Feb. 2020.
[9] T. Goto, K. Tsuchida, and T. Nishino, “An Extreme Programming Method for Innovative Software Based on Systems Design and its Practical Study,” Int. J. Softw.
Eng. Appl., vol. 5, no. 5, pp. 1–13, 2014, doi:
10.5121/ijsea.2014.5501.
[10] F. Anwer, S. Aftab, S. Shah Muhammad Shah, U.
Waheed, S. M. Shah, and U. Waheed, “Comparative analysis of two popular agile process models: extreme programming and scrum,” Int. J. Comput. Sci.
Telecommun., vol. 8, no. 2, 2017.
[11] R. Fojtik, “Extreme programming in development of specific software,” Procedia Comput. Sci., vol. 3, pp.
1464–1468, 2011, doi: 10.1016/j.procs.2011.01.032.
[12] A. Habib and R. S. Maulana, “Sistem Informasi Geografis Form upload dokumen Admin dapat mengupload
dokumen pendukung seperti kartu keluarga, ktp, ijazah
Upload dokomen yang dilakukan oleh admin dapat langsung diunggah sesuai format dokumen
Diterima
Form tambah keluarga Jika penduduk ingin menambahkan anggota keluarga, admin dapat langsung menambahkan penduduk baru dalam satu nomor kartu keluarga yang sama
Tambah penduduk baru dilakukan oleh admin langsung pada menu penduduk
Diterima
dan Adminitrasi Kependudukan Desa Padangbandung Berbasis Web,” KONVERGENSI, vol. 15, no. 1, pp. 1–
12, 2019.
[13] A. Wahid and A. Mulyanto, “Development of Task Implementation Evaluation System Online Classroom Guardians with Extreme Programming Methods at The Noble Foundation Consortium,” IJID (International J.
Informatics Dev., vol. 6, no. 1, p. 5, 2018, doi:
10.14421/ijid.2017.06102.
[14] J. Choudhari and U. Suman, “Designing RC story for software maintenance and evolution,” J. Softw., vol. 7, no.
5, 2012, doi: 10.4304/jsw.7.5.1103-1108.