• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

iv DAFTAR ISI

ABSTRAKSI ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL... vi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 4

C. Rumusan Masalah ... 5

D. Tujuan Penelitian ... 5

E. Kegunaan dan Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN TEORI... 8

A. Peran Guru dalam Meningkatkan Akhlak ... 8

1. Pengertian Guru ... 8

2. Tugas Guru ... 10

3. Peran Guru ... 11

4. Guru dalam Perspektif Islam ... 12

B. Akhlak ... 13

1. Pengertian Akhlak ... 13

2. Ruang Lingkup Akhlak ... 14

C. Upaya Pembinaan Akhlak di MAS PAB 4 Klumpang ... 17

D. Penelitian yang Relevan ... 19

BAB III METODE PENELITIAN ... 22

A. Lokasi Penelitian ... 22

B. Jenis Penelitian ... 22

C. Data dan Sumber Data ... 23

(4)

v

D. Teknik Pengumpulan Data... 25

E. Analisis Data ... 27

F. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data ... 28

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 30

A. Temuan Umum Penelitian ... 30

B. Temuan Khusus Penelitian ... 32

1. Peran guru dalam meningkatkan akhlak siswa MAS PAB 4 Klumpang Kabupaten Deli Serdang ... 32

2. Cara Meningkatkan Akhlak Pada Siswa MAS PAB 4 Klumpang Kabupaten Deli Serdang ... 38

3. Akhlak Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam MAS PAB 4 Klumpang... 56

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 58

A. Kesimpulan ... 58

B. Saran ... 59 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(5)

vi

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Data Keadaan Siswa ... 30 Tabel 4.2 Kondisi Sarana dan Prasarana ... 31

(6)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan proposal skripsi ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Selanjutnya shalawat dan salam disampaikan kepada nabi besar kita nabi Muhammad SAW, yang telah membawa risalah berupa ajaran yang baik lagi sempurna bagi manusia. Penulisan skripsi ini dilakukan sebagai salah satu syarat wajib untuk menempuh gelar strata (S-1) dalam Program Studi Pendidikan Agama Islam, pada Fakultas Agama Islam dan Humaniora Universitas Pembangunan Panca Budi Medan. Dengan judul: “Peran Guru Dalam Meningkatkan Akhlak Siswa Kelas X MAS PAB 4 Klumpang.”

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini banyak mengalami kendala, namun berkat bantuan, bimbingan, kerjasama dari berbagai pihak dan berkah dari Allah SWT, sehingga kendala yang di hadapi tersebut dapat di atasi. Penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada orang-orang yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian ini, diantaranya:

1. Kepada orang tua terkhusus mamak yang tak henti-hentinya berdo’a untuk saya dan selalu memotivasi saya untuk bisa menyelesaikan skripsi ini sebagai tugas akhir jenjang strata (S1).

2. Kepada suami tercinta yaitu Risky Handaya yang selalu mendukung penuh dalam proses pendidikan saya.

(7)

3. Kepada Bapak Manshuruddin, MA selaku Dekan Fakultas Agama Islam dan Humaniora UNPAB Medan.

4. Kepada Bapak Sakban Lubis, MA selaku pembimbing 1 yang selalu memberikan motivasi, arahan serta bimbingan sehingga penulisan skripsi ini terselesaikan tepat waktu.

5. Kepada Ibu Nurhalima Tambunan, M.Kom.I selaku pembimbing 2 serta Ka.

Prodi Pendidikan Agama Islam yang telah memberikan bimbingan dan nasehat.

6. Kepada kakak dan abang tercinta, yaitu Sri Hefni, Suhairi, Sri Juliana, Suhaili yang telah memberikan dukungan berupa motivasi untuk dapat menyelesaikan tugas akhir.

7. Kepada para sahabat ataupun rekan seperjuangan, yaitu Rizka Azizah, Wasniar, Tiur Rohani Roha, Siti Saleha, Ainun Zariah yang telah memberikan dukungan dan do’a sehingga peneliti dapat menyelesaikan tugas akhir dengan baik.

Akhirnya kepada semua pihak yang telah berpartisipasi penulis ucapkan terimakasih. Semoga kebaikan kita semua dibalas setimpal oleh Allah SWT.

Wassalam,

Medan, 29 Agustus 2019 Penulis,

SRI IDRIATI

NPM: 1510110003

iii

(8)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Dalam era globalisasi, manusia dihadapkan pada perubahan-perubahan yang tidak menentu. Dan gejala fenomenal dibalik globalisasi, direspon secara beragam oleh banyak orang, terutama oleh mereka yang telah menjadi masyarakat umum, terutama generasi muda (pelajar). Arus globalisasi semakin menunjukkan kekekarannya untuk memimpin dunia. Semua ide-ide yang bersifat bebas tak terbatas, dan sudah melingkupi masyarakat dunia. Setiap tindakan selalu dinilai dengan uang, jabatan, dan kesenangan. Pelanggaran HAM sudah tak terhitung lagi banyaknya akibat ulah manusia.

Masalah dekadensi (kemerosotan) moral telah dirasakan sangat mengglobal seiring dengan tata nilai yang sifatnya mendunia. Dibelahan bumi manapun kerap kali dapat disaksikan berbagai gaya hidup yang bertentangan dengan etika dan nilai agama.

Berbagai pendekatan telah dan sedang dilaksanakan untuk menyelamatkan peradaban manusia dari rendahnya perilaku moral. Pentingnya pendidikan akhlak bukan dirasakan oleh masyarakat yang mayoritas penduduknya beragama Islam saja, tetapi kini sudah mulai diterapkan berbagai negara.1

Masalah dekadensi moral masih banyak kita temukan dan kita lihat. Terutama pada saat di mana semakin banyak tantangan dan godaan sebagai dampak darikemajuan dari bidang IPTEK. Saat ini misalnya orang akan dengan mudah

1Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Madrasah Dan Perguruan Tinggi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005, hal. 21.

(9)

berkomunikasi dengan apa pun yang ada di dunia ini, yang baik atau yang buruk, karena ada alat telekomunikasi. Peristiwa yang baik dan yang buruk akan dapat lebih mudah di lihat melalui pesawat televisi, internet, faximile dan seterusnya. Film, buku- buku, tempat-tempat hiburan yang menyuguhkan adegan maksiat juga banyak.

Demikian pula obat-obat terlarang, minuman keras dan pola hidup materealistik dan hedonistic semakin menggejala. Semua ini jelas membutuhkan pembinaan akhlak.2

Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur manusia dalam segala aspeknya. Ajaran Islam bukannya hanya mengatur hubungan vertikal manusia, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesamanya. Karena itulah, Islam mengajarkan kepada manusia mulai dari cara makan, minum, tidur sampai bagaimana cara mengabdi kepada sang pencipta. Sejak awal agama Islam telah menanamkan kesadaran akan kewajiban pemeluknya untuk menjaga sopan santun (adab) dalam berbagai aspek kehidupan karena sopan santun (adab) menunjukkan karakteristik kualitas kepribadian seorang muslim.3

Pendidikan sebagai proses bimbingan terhadap fitrah anak yang sedang mencakup spektrum yang sangat luas. Kegiatannya dapat berlangsung dirumah tangga, sekolah, dan masyarakat yang diarahkan untuk mengembangkan potensiintelektualitas, marolitas, emosional, estetika anak sehingga berkembang secara terpadu dan optimal sebagai pribadi seutuhnya.4

2 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006, hal. 157.

3 Abdul Rohman Roli dan M. Khamzah, Menjaga Akidah dan Akhlak, Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009, hal. 30.

4 Syafaruddin dan Nurgaya Pasha, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Hiijri Pustaka Utama, 2014, hal. 39.

(10)

Kata pendidikan, dalam bahasa Indonesia, berasal dari kata didik yang mendapat awalan pe dan akhiran an. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata didik berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran,tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Dengan demikian, pendidikan diartikan “Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui uapaya pengajaran dan pelatihan”. Pengertian ini seakan menjelaskan bahwa pendidikan mengandung tiga unsur, yaitu adanya suatu proses, perbuatan dan cara mendidik. Sebagaimana pengajaran juga diartikan sebagai proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan serta segala hal yang berhubungan dengan mengajar.

Berdasarkan penjelasan itu, istilah pendidikan dan pengajaran, dalam bahasa Indonesia pada satu sisi terkadang selalu dimaknai sama.5

Dengan demikian pembentukan akhlak dapat diartikan sebagai usaha sungguh- sungguh dalam rangka membentuk anak, dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan baik dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh konsisten. Pembentukan akhlak ini dilakukan berdasarkan asumsi bahwa akhlak adalah hasil usaha pembinaan, bukan terjadi dengan sendirinya. Potensi rohaniah yang ada dalam diri manusia, termasuk di dalamnya akal, nafsu amarah, nafsu syahwat, fitrah, kata hati, hati nurani dan intuisi dibina secara optimal dengan cara dan pendekatan yang tepat.6

5Ibid., hal 26.

6 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006, hal.158

(11)

Berdasarkan hasil penelitian awal yang telah dilakukan di MAS PAB 4 Klumpang, masih banyak siswa yang memiliki akhlak yang tidak sesuai dengan ajaran-ajaran islam yang direalisasikan di kehidupan sehari-harinya, baik itu terhadap guru ataupun terhadap teman sejawatnya sendiri. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya siswa yang berbicara ataupun bermain telepon genggam ketika jam pembelajaran berlangsung. Hal lainnya dibuktikan dengan adanya siswa yang terkadang saling mengejek dan akhirnya timbul perkelahian antara keduanya. Untuk itu para dewan guru tak henti-hentinya menasehati mereka serta memberikan sangsi tegas terhadap siswa-siswa yang melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak sesuai ajaran islam.

Dalam memberikan pembinaan akhlak kepada para siswa diperlukan kerjasama dari seluruh warga sekolah, seperti: adanya kerjasama antara kepala sekolah/madrasah dengan semua guru, baik guru PAI maupun guru mata pelajaran lain dan wali kelas.

Dengan adanya kerjasama dari seluruh warga sekolah maka pembinaan akhlak kepada para siswa dapat berjalan dengan baik dan dapat meminimalisir kenalakan dari para siswa. Berdasarkan uraian diatas peneliti mengambil judul “Peran Guru dalam Meningkatkan AkhlakSiswa Kelas X MAS PAB 4 Klumpang.”

B. Identifikasi Masalah

Sesuai dengan latar belakang diatas, ada beberapa masalah yang dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1. Akhlak yang dimiliki siswa mulai berkurang.

2. Rendahnya usaha guru untuk menanamkan akhlak di setiap pembelajaran.

(12)

3. Siswa tidak merasa penting untuk memiliki akhlak.

C. Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang maslah diatas penulis menyusun rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana peran guru dalam meningkatkan akhlak siswa kelas X MAS PAB 4 Klumpang ?

2. Bagaimana cara meningkatkan akhlak siswa kelas X MAS PAB 4 Klumpang?

3. Apa saja faktor penghambat dalam meningkatkan akhlak siswa kelas X MAS PAB 4 Klumpang ?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah upaya untuk memecahkan masalah. Selain itu tujuan penelitian juga merupakan rumusan kalimat yang menunjukkan adanya suatu hal yang diperoleh setelah penelitian selesai. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui peran guru dalam meningkatkan akhlaksiswa kelasX MAS PAB 4 Klumpang.

2. Untuk mengetahui cara meningkatkanakhlak siswa kelas X MAS PAB 4 Klumpang.

3. Untuk mengetahui faktor penghambat dalam meningkatkan akhlak siswa kelas X MAS PAB 4 Klumpang.

E. Kegunaan dan Manfaat Penelitian

(13)

Dalam pelaksanaan penelitian diharapkan memperoleh manfaat sebagai berikut:

1. Teoritis

Dengan diadakannya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan konstribusi ilmu pengetahuan, dan juga dapat menambah wawasan yang lebih luas bagi peneliti tentang hal-hal yang bersangkutan dengan peran guru dalam meningkatkan akhlak pada pembelajaran akidah akhlak bagi siswa Kelas X MAS PAB 4 Klumpang. Selain itu, juga dapat menjadi masukan bagi kepala sekolah dan guru agar dapat lebih meningkatkan lagi pembelajaran akidah akhlak agar peserta didik mempunyai akhlak yang baik.

2. Praktisi

Secara praktisi penelitian ini bermanfaat bagi:

a. Bagi peneliti, penelitian ini menjadi tolak ukur seberapa dalam pengetahuan dan wawasan bagi penelitian terkait dengan peran guru dalam meningkatkan akhlak sebagai sarana untuk meningkatkan kembali akhlak peneliti agar lebih baik lagi.

b. Bagi MAS PAB 4 Klumpang, selaku subyek penelitian, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui peran guru dalam meningkatkan akhlak siswa.

c. Bagi Universitas Pembangunan Panca Budi Medan, penelitian ini dapat diharapkan memberikan sumbangan pemikiran bagi perkembangan

(14)

keilmuan khususnya pada Fakultas Agama Islam dan Humaniora Program Studi Pendidikan Agama Islam.

(15)

8 BAB II

LANDASAN TEORI A. Peran Guru dalam Meningkatkan Akhlak 1. Pengertian Guru

Kata guru berasal dalam bahasa Indonesia yang berarti orang yang mengajar.

Dalam bahasa Inggris, dijumpai kata teacher yang berarti pengajar. Selain itu terdapat kata tutor yang berarti guru pribadi yang mengajar di rumah, mengajar ekstra, memberi les tambahan pelajaran, educator, pendidik, ahli didik, lecturer, pemberi kuliah, penceramah.37

Dalam bahasa Arab istilah yang mengacu kepada pengertian guru lebih banyak lagi seperti al-alim (jamaknya ulama) atau al-muallim, yang berarti orang yang mengetahui dan banyak digunakan para ulama/ahli pendidikan untuk menunjuk pada hati guru. Selain itu ada pula sebagian ulama yang menggunakan istilah al-mudarris untuk arti orang yang mengajar atau orang memberi pelajaran. Namun dibandingkan dengan kata al-mua’allim atau al-ulama dengan kata al-mudarris ternyata penggunaan kata al-mua’allim atau al-alim lebih banyak dari penggunaan kata al-mudarris. Selain itu terdapat pula istilah al-muaddib yang merujuk kepada guru yang secara khusus mengajar di istana.38

Guru adalah orang yang memiliki waktu secara khusus untuk memberikan pendidikan dan pembelajaran kepada anak didik. Dan guru adalah orang yang

37 Abuddin Nata, M.A, Persepektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008, hal: 41

38Ibid., hal. 42

(16)

memiliki pengetahuan lebih luas, lebih mendalam atau bahkan lebih spesifik yang dapat menghantarkan anak untuk mengarungi masa depan. Allah SWT berfirman:

ََش ْخَيْل َو ََنيِذَّلا َْوَل اوُك َرَت َْن ِم َْمِهِفْل َخ َ ةَّي ِّرُذ ا فاَع ِض اوُفا َخ َْمِهْيَلَع اوُقَّتَيْلَف َََّاللّ

اوُلوُقَيْل َو َ ل ْوَق ا ديِدَس

Artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (Q.S. An-Nisa: 9).39

Dari pengertian di atas, ada beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian guru diantaranya adalah:

a. Menurut Laurence mengatakan bahwa yang dimaksud dengan guru adalah seseorang yang mempunyai kemapuan dalam menata dan mengelola sekolah b. Menurut Jeans mengatakan bahwa yang dimaksud dengan guru adalah mereka yang secara sadar mengarahkan pengalaman dan tingkah laku dari seorang individu sehingga dapat terjadi pendidikan.40

Dari penjelasan diatas, maka peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa guru bukan hanya mampu mendidik siswa seperti yang diharapkan orang tua akan tetapi, seorang guru juga mempu menjadi instrumen untuk menjadikan anak tumbuh dan berkembangn dilingkungan masyarakat.

2. Tugas Guru

39Departemen Agama RI, Al-Qur’ān al-Karim dan Terjemahnya, 2002,hal. 81.

40 Jamil Suprihatiningrum, Guru Profesional, Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2013, hal. 24

(۹)

(17)

Bila dipahami, maka tugas guru tidak hanya sebatas dinding sekolah, tetapi juga sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat. Bahkan bila dirinci lebih jauh, tugas guru tidak hanya yang disebutkan. Menurut Roestiyah N.K, bahwa guru dalam mendidik anak didik bertugas untuk:

a. Menyerahkan kebudayaan kepada anak didik berupa kepandaian, kecakapan, dan pengalaman-pengalaman.

b. Membentuk kepribadian anak yang harmonis, sesuai cita-cita dan dasar negara kita Pancasila.

c. Menyiapkan anak menjadi warga negara yang baik sesuai undang undang pendidikan yang merupakan keputusan MPR No. II Tahun 1983.

d. Sebagai perantara dalam belajar.

Dengan meneliti poin-poin tersebut, tahulah bahwa tugas guru tidak ringan.

Profesi guru harus berdasarkan panggilan jiwa, sehingga dapat menunaikan tugas dengan baik, dan ikhlas. Guru harus mendapatkan haknya secara proporsional dengan gaji yang patut diperjuangkan melebihi profesi-profesi lainnya, sehingga keinginan peningkatan kompetensi guru dan kualitas belajar anak didik bukan hanya sebuah slogan di atas kertas.41

3. Peran Guru

41 Syaiful Bahri Djamarah, Guru Dan Anak Didik dalam intraksi edukatif, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2008, hal. 37.

(18)

Guru merupakan suatu profesi yang selalu berkaitan dengan pendidikan anak- anak bangsa. Ia harus memiliki banyak pengetahuan dan keterampilan serta menguasai bahan ajar yang terdapat dalam kurikulum untuk diajarkan kepada siswa. Sebagai seorang pendidik guru merupakan panutan untuk ditiru dan diteladani oleh siswa baik dari sikap, perilaku, budi pekerti, berakhlak mulia, tekun dan mau belajar. Berharap agar membentuk kepribadian siswa di masa yang akan datang. Disisi lain guru dikatakan memiliki peran ganda. Kenapa demikian? Karena guru merupakan pendidik untuk menciptakan sikap dan perilaku yang bernilai moral dan agama serta sebagai pengajar yang bertujuan untuk menyampaikan bahan ajar, menentukan alat evaluasi belajar yang digunakan untuk menilai hasil

a. Guru sebagai pendidik

Sebagai seorang pendidik guru memiliki tugas untuk mengembangkan kepribadian dan membina budi pekerti serta memberikan pengarahan kepada siswa agar menjadi seorang anak yang berbudi luhur.

b. Guru sebagai pengajar

Mengajar yaitu memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa, melatih keterampilan, memberikan pedoman, bimbingan, merancang pengajaran, melaksanakan pembelajaran dan menilai aktivitas pembelajaran.

c. Guru Sebagai Pembimbing

Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggungjawab atas kelancaran perjalanan itu.

Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan

(19)

mental, emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks.

Sebagai pembimbing perjalanan, guru memerlukan kompetensi yang tinggi untuk melaksanakan empat hal berikut: Pertama, guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai. Kedua, guru harus melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, dan yang paling penting bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu tidak hanya secara jasmaniah, tetapi mereka harus terlibat secara psikologis. Ketiga, guru harus memaknai kegiatan belajar.Keempat, guru harus melaksanakan penilaian.

d. Guru sebagai fasilitator

Tugas utama guru sebagai fasilitator adalah memotivasi siswa, menyediakan bahan pembelajaran, mendorong siswa untuk mencari bahan ajar, membimbing siswa dalam proses pembelajaran dan menggunakan ganjaran hukuman sebagai alat pendidikan.

4. Guru dalam Perspektif Islam

Hakekat guru dalam islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan seluruh potensi anak didik, baik potensi efektif, kognitif maupun psikomotorik. Guru berarti juga orang dewasa yang bertanggung jawab memberi pertolongan pada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaannya, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaannya, mampu berdiri sendiri memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah swt dan mampu sebagai makhluk sosial, dan sebagai makhluk individu yang mandiri.

(20)

Guru dalam pendidikan Islam adalah setiap orang dewasa yang karena kewajiban agamanya bertanggung jawab atas pendidikan dirinya dan orang lain.

Sedangkan yang menyerahkan tanggung jawab dan amanat pendidikan adalah agama, dan wewenang guru dilegitimasi oleh agama, sedangkan yang menerima tanggung jawab dan amanat adalah setiap orang dewasa. Ini berarti bahwa guru merupakan sifat yang lekat pada setiap orang karena tanggung jawab atas pendidikan.42

B. Akhlak

1. Pengertian Akhlak

Dilihat dari sudut bahasa (etimologi) perkataan akhlak adalah bentuk jama’ dari kata khuluq yang artinya budi pekerti, tingkah laku, dan tabiat. Akhlak merupakan suatu perbuatan (tingkah laku) seseorang yang dilakukan dengan kehendak hati nurani.Pengertian akhlak secara istilah (terminology) dari beberapa pendapat para ulama adalah:

a. Imam Ghozali mengatakan akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dari padanya timbul perbuatan yang mudah dikerjakan tanpa melalui pertimbangan akal pikiran terlebih dahulu

b. Ibnu Maskawih mengatakan bahwa yang dimaksud akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melakukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu43

42 Syafaruddin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Hijri Pustaka Utama, 2014, hal. 53-54.

43 Humaidi Tatapangarsah, Pengantar Kuliah Akhlak, Jakarta: Bina Ilmu, 2008, hal. 14.

(21)

c. Barnawi Umary mengatakan bahwa yang dimaksud akhlak adalah ilmu yang menentukan batas baik, buruk, terpuji dan tercela tentang perbuatan, perkataan manusia lahir batin.

Allah berfirman:

ََكَّنِإَو َ ىَلَعَل َ قُل ُخ َ مي ِظَع

Artinya: Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung.

(QS. al-Qalam 68: 4).

Dari beberapa definisi di atas dapat diketahui bahwa akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang dari sifat itu timbul perbuatan-perbuatan.

Baik itu perbuatan baik maupun perbuatan tercela dengan adanya pertimbangan akal terlebih dahulu.

2. Ruang Lingkup Akhlak

Misi utama nabi Muhammad dalam tugas suci kerasulannya adalah untuk menyempurnakan akhlak. Kita sebagai orang Islam, wajib melaksanakan moral keagamaan, dengan kata lain kita harus berusaha menjadi orang yang mempunyai akhlak.

Untuk itu yang menjadi suri tauladan kita adalah pribadi Rasulullah saw, karena beliau merupakan contoh teladan bagi kita. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Ahzab:21

َََّللَّٱَ َرَكَذَوَ َرِخٓ ۡلۡٱَ َم ۡوَيۡلٱَوََ َّللَّٱَْاوُج ۡرَيَ َناَكَنَمِّلَ ٞةَنَسَحٌَةَو ۡسُأَِ َّللَّٱَ ِلوُسَرَيِفَ ۡمُكَلَ َناَكَ ۡدَقَّل

َ

َا ٗريِثَك

(22)

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab; 21).

Dalam hubungannya dengan akhlak ini penulis akan menguraikan tentang:

a. Akhlak manusia kepada Allah

Pada dasarnya, akhlak manusia kepada Allah itu hendaknya manusia itu:

1) Beriman kepada Allah.

2) Beribadah atau mengabdi kepada-Nya dengan tulus ikhlas.44

Hal-hal yang termasuk ibadah dalam arti akhlak kita kepada Allah adalah tidak mempersekutukan Allah, takut dan cinta kepada Allah, ridho dan ikhlas terhadap

“Qodho” dan “Qodar” Allah serta taubat dan bersyukur kepada Allah.45 b. Akhlak manusia terhadap sesama manusia

Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling kenal-mengenal dan tidak bermusuhan. Dalam agama Islam segala sesuatu itu ada aturannya, baik terhadap penciptanya, terhadap diri sendiri, sesama manusia maupun terhadap sesama lingkungan hidup.

Selain itu Allah juga memerintahkan kepada kita supaya berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, karib, anak yatim, tetangga, orang miskin, teman sejawat, dan hamba sahaya. Sesuai dengan firman Allah surat An-Nisa’ ayat 36:

44Ibid, hal. 20.

45Ibid., hal.22.

(23)

وُدُب ۡعٱَو

َۡيَشَ ۦِهِبَ ْاوُكِر ۡشُتَ َلَوَ َ َّللَّٱَ ْا

َِنيِك َسَمۡلٱَوَ ىَم َتَيۡلٱَوَ ىَب ۡرُقۡلٱَ ٱِذِبَوَ اٗن َس ۡحِإَ ِنۡيَدِل َوۡلِۡبَوَ وا

ََّنِإَ ۡۗۡمُكُن َمۡيَأَ ۡتَكَلَمَاَمَوَِليِبَّسلٱَِنۡبٱَوَِبۢنَجۡلِۡبَِبِحاَّصلٱَوَِبُنُجۡلٱَِراَجۡلٱَوَ ىَب ۡرُقۡلٱَٱِذَِراَجۡلٱَو

َ

َََّللَّٱ ا روُخَفَ ٗلاَت ۡخُمَ َناَكَنَمَ ن بِ ُيَ َلَ

Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak- anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”46

c. Akhlak manusia terhadap lingkungan hidup

Semua makhluk Allah mengambil tempat, waktu dan lingkungan alam sekitarnya lebih-lebih makhluk hidup. Untuk mempertahankan hidupnya ia sangat tergantung kepada alam sekitarnya.Lingkungan hidup tidak saja mendukung kehidupan dan kesejahteraan manusia tetapi juga makhluk hidup yang lain. Oleh karena itu lingkungan harus kita jaga kelestariaanya, sehingga secara berkesinambungan tetap dalam fungsinya yaitu mendukung kehidupan. Allah berfirman dalam (surah Ar-Rum 30: 41)

ََرَهَظ َُداَسَفْلا يِف َِّرَبْلا َِر ْ َبْلاَو اَمِب َْتَبَسَك ٱِدْيَأ َِساَّنلا َْمُهَقيِذُيِل ََضْعَب ٱِذَّلا اوُل ِمَع َْمُهَّلَعَل ََنوُع ِج ْرَي

46 Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahanya, 2005, hal. 84.

(24)

Artinya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Q.S. Ar-Rum 30: 41)47

Akhlak kepada lingkungan hidup dapat diwujudkan dalam bentuk perbuatan yaitu dengan menjaga kelestarian dan keserasiannya serta tidak merusak lingkungan hidup tersebut. Usaha pembangunan yang dilakukan juga harus memperhatikan masalah kelestarian lingkungan hidup. Jika kelestarian terancam maka kesejahteraan hidup manusia akan terancam pula.

Membuat kerusakan di daratan, laut maupun di udara perbuatan tercela secara moral kemanusiaan, karena dapat membahayakan kehidupan manusia, disamping perbuatan terlarang dalam agama.

C. Upaya Pembinaan akhlak di MAS PAB 4 Klumpang

Pada dasarnya sekolah merupakan suatu lembaga yang membantu bagi terciptanya cita-cita keluarga dan masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang tidak dapat dilaksanakan secara sempurna di dalam rumah dan masjid.Untuk mengatasi agar tidak terjadi penyimpangan moral bagi peserta didik, maka guru harus memberikan suri tauladan yang baik terhadap anak didik karena guru akan dan ditiru. Terutama bagi guru agama yang menjadi contoh yang baik bagi peserta didik sebagaimana dikatakan dalam peribahasa “Guru kencing berdiri, murid kencingberlari”. Hal ini berarti kesalahan yang dilakukan oleh guru akan membawa akibat yang lebih parah bagi peserta didik.

47Ibid. hal. 289

(25)

Oleh karena itu guru harus menjadi contoh dalam segala keadaannya maka guru harus menjadi model yang baik. Keinginan untuk menerapkan pendidikan budi pekerti tentu didasari atas kenyataan sosial yang berkembang ditengah-tengah masyarakat tentang timbulnya dekadensi moral dikalangan masyarakat, termasuk generasi muda. Timbulnya antar pelajar-pelajar di kota-kota besar, serta banyaknya generasi muda yang terlibat narkoba dan obat-obatan terlarang.

Pendidikan agama di sekolah adalah bermuatan keimanan, ibadah, al-Quran, akhlak, syari’ah, muamalah dan tarikh. Di dalam materi yang terkait langsung dengan budi pekerti adalah akhlak. Dengan adanya pendidikan budi pekerti, peserta didik diharapkan menerapkan nilai, sikap, dan perilaku yang positif, seperti amal sholeh, amanah, bekerja jeras, beradab, dan lain-lain.48Seperti meninggalkan perilaku yang negative seperti berbohong, boros, buruk sangka, ceroboh, curang, dengki, fitnah dan lain-lain. Maka dalam hal ini yang perlu diperhatikan dalam rangka penerapan pembinaan budi pekerti (akhlak) di sekolah adalah:

a. Kurikulum. Departemen pendidikan nasional telah merancang bahwa pendidikan budi pekerti ini direncanakan secara integrative, artinya pendidikan budi pekerti dimasukkan dalam mata pelajaran yang relevan, seperti pendidikan agama, bahasa Indonesia dan PPKn.

b. Pendidik. Pendidik atau guru hendaknya dapat dijadikan suri tauladan bagi muridnya.

48 Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, Jakarta: Prenada Media, 2007, hal. 219-220

(26)

c. Lingkungan pendidikan. Lingkungan yang dimaksud disini adalah lingkungan sosial pendidikan di sekolah. Lingkungan sekolah hendaknya dapat mengembangkan wawasan budi pekerti kearah membangun tatanan dan iklim sosial budaya dunia persekolahan yang berwawasan dan memancarkan akhlak mulia, sehingga lingkungan dan budaya sekolah menjadi teladan atau model pendidikan budi pekerti.

d. Tri pusat pendidikan. Untuk membentuk kepribadian anak didik, perlu di organisir sebuah upaya yang mengefektifkan hubungan antara pihak sekolah dengan keluarga atau orang tua.49

D. Penelitian yang Relevan

1. Istiqlaliyah Rahman (2009) dalam Perbandingan Model Penilaian Afektif Pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak Di Mts. Negeri Tuban Dan Mts. Manbail Futuh Beji Jenu Tuban, dalam skripsi ini dijelaskan bahwa Aqidah Akhlak sebagai bagian dari Pendidikan Agama Islam, sangat memperhatikan faktor pengembangan fitrah manusia (siswa), nilai-nilai agama dijadikan landasan kepribadian siswa yang dibentuk melalui proses pembelajaran, maka idealis Islam yang telah terbentuk dan menjiwai pribadi anak didik tidak dapat diketahui oleh pendidik tanpa melalui proses evaluasi atau penilaian.

2. Hamdani (2010) dalam Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak Kelas X/A Madrasah Aliyah Islamiyah Syafi’iyah Paiton Probolinggo. Dalam

49Muslim Nurdin, Moral dan Kognisi Islam, Bandung: Alfabeta, 2009, hal. 77.

(27)

skripsi ini dijelaskan bahwa di dalam proses pembelajaran, keberadaan siswa banyak dipengaruhi oleh keberadaan guru. Yang mana guru adalah sebagai salah satu sumber ilmu dan juga dituntut kemampuannya untuk dapat mentransfer ilmunya kepada para siswanya dengan menggunakan berbagai ilmu atau pun metode serta alat yang dapat membantu tercapainya suatu kegiatan pembelajaran, yang dalam hal ini salah satunya adalah adanya penerapan strategi yang beraneka macam serta cocok dan tepat untuk diterapkan kepada siswa.

3. Nur Pratiwi (2013) dalam peran guru akidah akhlak dalam meningkatkan akhlak siswa di MIN Jejeran Wonokromo Pleret Bantul. Dalam skripsi ini dijelaskan bahwa peran guru akidah akhlak dalam meningkatkan akhlak siswa adalah sebagai motivator yang memotivasi siswa agar mau melaksanakan program-program madrasah yang berkaitan dengan peningkatan akhlak siswa dan tidak ada paksaan.

(28)

A. Lokasi Penelitian

Lokasi atau tempat penelitian ini dilakukan di MAS PAB 4 Klumpang. Alasan memilih sekolah ini dari segi keinginan dan ketertarikan peneliti untuk meneliti dan mendeskripsikan Peran guru dalam meningkatkan akhlaksiswa pada pembelajaran akidah akhlak. Selain itu, penelitian mengenai hal tersebut juga belum pernah dilakukan oleh peneliti lain di sekolah tersebut.

B. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah menggunakan jenis penelitian kualitatif yang dilakukan dengan pengamatan, dan pencarian data secara data langsung di lokasi penelitian dan objek yang diteliti.Menurut Bogdan dan Taylor sebagaimana yang dikutip oleh LexyMoleong menyebutkan bahwa penelitian kualitatif adalah prosedur penelitianyang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orangorangdan prilaku yang diamati.50

Jenis metode penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Pemilihan ini didasarkan pada penelitian yang bertujuan untuk meneliti dan menemukan informasi sebanyak- banyaknya dari suatu fenomena. Teorisasi dan hipotesis dalam penelitian jenis ini kurang diperlukan. Kualitatif deskriptif dimaksudkan untuk mendeskripsikan suatu situasi atau area populasi tertentu yang bersifat faktual secara sistematis.Suatu

50 Lexy Moleong, Metode Penelitian Kualitatif,Bandung: Rosdakarya, 2010, hal. 4.

22

(29)

fenomena dan kebijakan-kebijakan yang ditemukan melalui informasi dan pengamatan yang dilakukan ditempat penelitian ini dideskripsikan secara faktual dan sistematis.

C. Data dan Sumber Data 1. Sumber Data

Dalam penelitian kualitatif deskriptif ini, data yang terkumpul berbentuk kata- kata, gambar dan bukan angka-angka. Kalau pun misalnya ada angka-angka, sifatnya hanya sebagai penunjang. Data yang diperoleh meliputi transkip interview, catatan lapangan, foto, dokumen pribadi dan lain-lain.

Sesuai dengan judul, maka populasi penelitian ini adalah guru-guru akidah akhlak, kepala sekolah, dan wakil bidang kesiswaan di MAS PAB 4 Klumpang.

Sedangkan sampel dari penelitian ini adalah guru akidah akhlak yang ada di MAS PAB 4 Klumpang.

Adapun alasan penulis menarik sampel terhadap MAS PAB 4 Klumpang, karena lokasi penelitian dekat dengan tempat tinggal peneliti, sehingga peneliti mudah untuk melakukan observasi dan wawancara.Oleh karena itu, sumber data yang di dapatkan juga dari berbagai macam seperti:

a. Informan

Informan adalah orang-orang tertentu yang dapat dijadikan sebagai sumber informasi yang dilakukan oleh peneliti dalam proses penelitiannya, karena orang tersebut dianggap memiliki pengetahuan tentang data-data atau informasi yang berkaitan dengan masalah yang telah dirumuskan dalam penelitian tersebut. Dalam penelitian ini teknik penentuan informan dilakukan dengan cara purposive sampling dan

(30)

snowball sampling. Purposive sampling teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu. Sedangkan snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel yang ada awalnya jumlahnya sedikit, lama-lama menjadi besar.51

Menentukan informan penelitian kualitatif tidak dipilih secara acak. Tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Unsur populasi yang dipilih menjadi sampel bisa disebabkan karena kebetulan atau karena faktor lain yag sebelumnya sudah direncanakan peneliti.52

b. Peristiwa

Peristiwa atau kejadian yang berkaitan dengan masalah atau fokus penelitian yang akan diobservasi, yaitu peran guru dalam meningkatkan akhlak pada pembeajaran akidah akhlak.

c. Dokumen

Dokumen sebagai sumber data lainnya yang bersifat melengkapi data utama yang relevan dengan masalah dan fokus penelitian. Dokumen yang akan diperoleh anatara lain meliputi sejarah berdirinya MAS PAB 4 Klumpang, keadaan jumlah guru, jumlah siswa, dan lain sebagainya.

d. Foto

Sekarang ini foto lebih banyak dipakai sebagai alat untuk keperluan penelitian kualitatif karena dapat dipakai dengan berbagai keperluan. Penggunaan foto untuk

51 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Bandung: Alfabeta, 2008, hal. 218.

52 Masganti Sitorus, Metodologi Penelitian Pendidikan Islam, Medan: IAIN PRESS, 2011, hal.

167.

(31)

melengkapi sumber data jelas besar sekali manfaatnya. Hanya perlu diberikan catatan khusus tentang keadaan dalam foto yang biasanya, apabila diambil secara sengaja,

sikap dan keadaan dalam foto menjadi sesuatu yang sudah di poles, sehingga tidak menggambarkan keadan sebenarnya. Peneliti harus menyadari hal ini. Selain itu, hubungan peneliti dengan subjek jangan sampai terganggu dengan usaha suntuk mengambil foto. Seyogyanya adalah pengambilan foto sudah diketahui subjek, dan subjek tidak keberatan serta merelakan dirinya difoto.

2. Jenis Data

Sesuai denganjenis data yang dipilih, maka jenis data penelitian kualitatif dibagi kedalam tindakan, tulisan dan foto. Jenis data tersebut dapat digunakan sebagai informasi yang diperlukan.Keterangan berupa cerita dari informan penelitian yang diwawancarai dan tindakan yang diamati, dalam penelitian data kualitatif dijadikan sebagai data utama, sedangkan tulisan, foto dari berbagai dokumen yang relevan dengan fokus penelitian dijadikan sebagai data pelengkap.

Dengan kata lain, data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumberutama atau informan yang diwawancarai. Sedangkan data sekunder adalah data primer yang diolah lebih lanjut dan telah disajikan oleh pihak lain.

D. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data memerlukan sebuah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data diperoleh melalui prosedur yang telah dan akan ditetapkan. Dalam metode penelitian kualitatif, peneliti perlu instrumen utama. Dikarenakan penelitian ini

(32)

menggunakan penelitian yang besifat kualitatif dan lapangan, maka peneliti menggunakan tiga macam metode atau teknik pengumpulan data, yaitu:

1. Observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja, sistematis, mengenai fenomena sosial dengan gejala-gejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan. Observasi sebagai alat pengumpulan data dapat dilakukan secara spontan, dapat pula dengan daftar isian yang telah disiapkan.53

Dengan teknik observasi ini, peneliti harus banyak memainkan peran selayaknya yang dilakukan oleh subyek peneliti, pada situasi yang sama atau berbeda.

Pada saat tercipta hubungan baik antara peneliti dan subyek, peneliti bisa berperan serta dalam kegiatan-kegiatan subyek itu. Kemudian peneliti bisa menarik diri lagi dari peran sertanya sehingga ia tidak kehilangan tujuan utamanya.

2. Wawancara

Selain menggunakan teknik pengamatan (observasi) berperan serta, teknik wawancara juga digunakan untuk mengumpulkan data. Wawancara merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dimana pertanyaan diajukan oleh seseorang yang berperan sebagai pewawancara.54Menurut Margono, interview adalah pengumpulan informasi denngan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan dan dijawab secara lisan pula.55

53 Subgyo, Metode Penelitian Dalam Teori Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 2006, hal. 63.

54 Salim dan Syahrum, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Cipta Pustaka Media, 2007, hal.120.

55 Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2006, hal. 165.

(33)

3. Dokumentasi

Suharsimi Arikunto, menjelaskan bahwa metode dokumentasi adalah metode mencari data mengenai hal-hal yang variabelnya berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti notulen rapat, leger, agenda, dan lain sebagainya.56

E. Analisis Data

Bogdan dan Taylor dalam Moleong mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secra formal untuk menemukan tema dan hipotesis kerja yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis kerja itu. Dengan demikian definisi tersebut dapat disintesiskan menjadi:

analisis data adalah proses pengorganisasian dan mengurutkan data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.57

Mengelola atau menganalisa data adalah usaha konkrit untuk membuat data berbicara, sebab besar jumlahnya data, tinggi nilai data yang terkumpul sebagai hasil pelaksanaan pengumpulan data, apabila tidak disusun dalam suatu sistematika yang baik niscaya data itu merupakan bahan yang bisu bahasa.58

Karena peneliti menggunakan penelitian kualitatif, maka analisa datanya dilakukan saat melakukan pengumpulan data dan setelah pengumpulan data selesai. Di mana data tersebut dianalisa secara cermat dan teliti sebelum disajikan dalam bentuk

56 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Bumi Aksara, 2008, hal. 114.

57 Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Rosdakarya,2010, hal. 280.

58 Winarno Surahman, Pengantar Metodologi Ilmiah, Bandung: Tarsiti, 2008, hal. 15.

(34)

laporan yang utuh dan sempurna.Untuk menganalisa data yang diperoleh dan terkumpul, selanjutnya penulis menggunakan analisis sesuai dengan data yang ada

yaitu diawali dengan memilah-milah data, mana data yang patut disajikan dan mana data yang tidak patut disajikan. Kemudian mengklasifikasikan data untuk dianalisis, dan yang terakhir adalah menganalisis data untuk ditarik suatu kesimpulan.

F. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data

Pengecekan keabsahan data dilakukan agar memperoleh hasil yangvalid dan dapat dipertanggung jawabkan serta dipercaya oleh semua pihak.Untuk mengetahui keabsahan data, peneliti menggunakan beberapa teknik,antara lain:

1. Perpanjangan Keikutsertaan

Keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data.

Keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan keikutsertaan pada latar penelitian. Hal ini berarti peneliti tinggal di lapangan penelitian sampai kejenuhan pengumpulan data tercapai.59

Maksud perpanjangan keikutsertaan dalam penelitian ini adalah usaha peneliti dalam melibatkan diri dalam komunitas sekolah. Setelah peneliti banyak memperoleh informasi tentang data yang diperlukan dalam kurun waktu penelitian maka peneliti akan menambah waktu keterlibatan penelitian dalam proses kehidupan keseharian sampai dinyatakan bahwa data yang telah diperoleh dirasa dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya.

59 Lexi J. Moleong, Op. Cit, hal. 327.

(35)

A. Temuan Umum Penelitian

Sekolah MAS PAB 4 Klumpang di dirikan pada tahun 1994. Pendiri sekolah ini adalah Bapak Drs. Irwansyah, MA. pada tahun 1994 - 2007 Bapak Drs. Irwansyah, MA menjabat sebagai kepala sekolah. Kemudian pada tahun 2007 – sekarang di gantikan oleh Bapak Anhar, S.H.I sebagai kepala sekolah. Sekolah ini beralamatkan di Kecamatan Klumpang Deli Serdang. Adapun visi dari sekolah ini adalah: beriman, berilmu, dan berakhlaqul karimah. Sedangkan misi dari sekolah ini adalah: (1) Membentuk kepribadian yang beriman kepada Allah dan Rasulnya, (2) Membenuk kepribadian yang berilmu pengetahuan, (3) Membentuk kepribadian yang kreatif dan inovatif, (4) Membentuk kepribadian yang selalu komitmen dalam beribadah kepada Allah swt., (5) Membentuk kepribadian yang selalu melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar. Sedangkan tujuan dari sekolah ini adalah: menjadikan peserta didik berilmu pengetahuan, beriman dan berakhlaqul karimah.

TABEL 4.1 Data Keadaan Siswa

Tahun KELAS

JUMLAH

X XI XII

2016/2017 35 39 36 110

2017/2018 42 35 39 116

2018/2019 40 42 35 117

2019/2020 38 40 42 120

Sumber Data: Tata Usaha MAS PAB 4 Klumpang

30

(36)

Berdasarkan pengamatan peneliti melalui observasi bahwa keseluruhan guru di MAS PAB 4 Klumpang berjumlah 17 orang. Keseluruhan guru di sekolah ini berpendidikan Strata 1.

TABEL 4.2

Kondisi Sarana dan Prasana

No Jenis Jumlah Luas M

Per Unit

Kepemilikan Kondisi

1 Lahan 1 5725 m2 Milik Sendiri Baik

2 Bangunan 3 120 m2 Milik Sendiri Baik

3 Ruang Kepala Sekolah 1 Milik Sendiri Baik

4 Ruang Tata Usaha 1 Milik Sendiri Baik

5 Ruang Kelas 5 Milik Sendiri Baik

6 Ruang Guru 1 5 x 5 M Milik Sendiri Baik

7 Kantin 4 Milik Sendiri Baik

8 Kamar Mandi Guru 4 2 x 2 M Milik Sendiri Baik

9 Kamar Mandi Sisiwa 1 2 x 2 M Milik Sendiri Cukup Baik 10 Kamar Mandi Siswi 1 2 x 2 M Milik Sendiri Cukup Baik 11 Papan Majalah Dinding 5 3 x 1,5 M Milik Sendiri Baik

12 Tong Sampah 10 Milik Sendiri Baik

13 Tiang Bendera 1 Milik Sendiri Baik

Sumber Data: Tata Usaha MAS PAB 4 Klumpang

(37)

B. Temuan Khusus Penelitian

1. Peran guru dalam meningkatkan akhlak siswa MAS PAB 4 Klumpang Kabupaten Deli Serdang.

Guru merupakan suatu profesi yang selalu berkaitan dengan pendidikan anak- anak bangsa. Ia harus memiliki banyak pengetahuan dan keterampilan serta menguasai bahan ajar yang terdapat dalam kurikulum untuk diajarkan kepada siswa.

a. Guru Sebagai Pendidik

Menurut Kepala Sekolah MAS PAB 4 Klumpang, yaitu Bapak Anhar S.H.I mengatakan:

Guru bukan suatu profesi yang hanya bertugas untuk mengajar saja, tetapi guru juga bertugas untuk mendidik siswa/i agar menjadi lebih baik lagi dan juga mampu membangun karakteristik dari si anak didik. Guru juga harus mampu mengarahkan anak didik kepada hal-hal yang membangun kreatifitasnya dan tidak membiarkan si anak didik terjerumus kepada hal- hal yang membuat pelajaran terganggu. Dan juga guru itu harus mampu mengembangkan kepribadian dan membina budi pekerti siswa.60

Dari hasil wawancara diatas peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa kepala sekolah menekankan bahwa setiap guru yang ada di sekolahnya tersebut harus mampu menjadi guru yang profesional, bukan hanya menjadi guru yang tahunya mengajar saja melainkan juga harus bisa mendidik siswa menjadi lebih baik lagi.

Kemudian peneliti mewawancarai guru pendidikan agama islam, beliau mengatakan:

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Guru merupakan pekerjaan yang sangat harus diperhatikan oleh permerintah. Karena guru itu mampu mendidik seorang anak manusia yang dari ia tidak tahu apa-apa sampai ia mengenal segala yang ada didunia ini. Namun tidak semua guru yang

60 Wawancara dengan Bapak Anhar, S.H.I, Kepala MAS PAB 4 Klumpang, 25 Juli 2019, Jam 10.00 WIB.

(38)

mampu mendidik siswanya dengan baik dan benar, karena mungkin guru tersebut tidak menjadi pekerjaan guru ini sebagai profesiyang sangat terpandang. Terkadang ada juga guru yang tahunya hanya memberikan soal pertanyaan kepada siswa, tanpa menjelaskan pelajaran itu dengan baik. Padahal menjadi seorang guru itu tidak hanya menjelaskan pelajaran dan memberi soal atau tugas saja, melainkan guru itu sebagai pendidikya, yang dimana akan mampu mengembangkan kepribadian dan budi pekerti siswa tersebut.61

Dari hasil wawancara diatas peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa guru merupakan profesi yang sangat berpengaruh kepada semua manusia, karena dengan gurulah manusia-manusia hebat yang berada diluar sana bisa menjadi orang-orang yang hebat dan terpandang. Namun tidak semua guru itu sukses mendidik anak didiknya, karena kemampuan guru itu ada batasnya juga. Dan tidak semua guru juga yang gagal dalam mendidik anak muridnya.

b. Guru Sebagai Pengajar

Menurut Kepala Sekolah MAS. PAB 4 Klumpang, yaitu Bapak Anhar S.H.I mengatakan:

Guru itu dikatakan pengajar bukan berarti guru itu tugasnya mengajar saja, tetapi guru itu juga mampu memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa dengan cara melatih keterampilannya. Contohnya saja dengan keterampilan mambaca puisi, guru harus aktif mengajarkan keterampilan puisi tersebut kepada siswa. Kemudian anak didik itu diberikan pedoman bagaimana cara membaca puisi itu dengan baik dan benar.62

Dari hasil wawancara diatas peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa guru itu harus mampu juga dalam hal memberikan ilmu keterampilan kepada siswanya.

61 Wawancara dengan Ibu Irwayani, S.Ag, Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di MAS PAB 4 Klumpang, 25 Juli 2019, Jam 11.00 WIB.

62 Wawancara dengan Bapak Anhar S.H.I. Kepala MAS PAB 4 Klumpang, 25 Juli 2019, Jam 10.00 WIB.

(39)

Karena dengann ilmu keterampilan itu akan tumbuh kepribadian si anak dan akan nampak apa bakat yanng ia miliki. Selanjutnya peneliti juga mewawancarai guru pendidikan agama islam, beliau mengatakan:

Mengajar itu bagi saya seperti ibadah, jadi ibarat sholat 5 waktu. Jadi harus dilaksanakan, kalau tidak dilaksanakan seperti ada yang kurang, seperti tidak tercapai begitulah kira-kira. Dalam mengajar guru itu harus dekat kepada siswanya. Mereka itu butuh perhatian bukan hanya dirumah melainkan disekolah juga. Bahkan kita ini tempat curhatan mereka. Jadi kita sebagai guru sama anak murid itu harus dekat. Caranya saya menilai anak ini satu persatu, saya panggil untuk maju kedepan, lalu saya tanya kepada dia. Ya bagaiamanalah pokoknya cara kita menyampaikan agar dia mau jujur dan terbuka sama kita dan agar dia nyaman. Nah kalau diluar pelajaran kita buat cerita-cerita sama dia, tertawa sama dia agar dia pun dekat sama kita.63

Dari hasil wawancara diatas, peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa ibu guru tersebut mengibaratkan mengajar itu sebagai 5 waktu, yang harus selalu dilaksanakan dan dikerjakan. Kemudian dalam mengajar juga kita harus pintar-pintar dalam mengambil hati anak murid kita, karena seorang anak didik itu sangat butuh perhatian dari orang yang lebih dewasa darinya.

c. Guru Sebagai Pembimbing

Menurut Kepala Sekolah MAS PAB 4 Klumpang, yaitu Bapak Anhar S.H.I mengatakan:

Sangat benar sekali kalau guru itu dikatakan sebagai pembimbing, karena selain guru itu mengajarkan didepan kelas, ia harus selalu membimbing anak muridnya dalam pelajaran tersebut. Agar si anak didik tidak melakukan kesalahan yang akan menyebabkan ilmu yang ia dapatkan itu salah. Jadi tugas guru disini adalah membimbing anak didik dalam hal

63 Wawancara dengan Ibu Irwayani, S.Ag, Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di MAS PAB 4 Klumpang, 25 Juli 2019, Jam 11.00 WIB.

(40)

mengerjakan soal atau pun memberikan penjelasan-penjelasan yang akurat dan yang mampu di cerna dengan baik oleh si anak didik.64

Dari hasil wawancara di atas peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa guru itu juga dikatakan pembimbing, karena guru itu harus mampu membimbing anak murid dalam hal menyelesaikan permaslahan yang ada di soal pelajaran. Jadi guru itu tidak hanya memberi soalatau tugas kepada siswa. Selanjutnya peneliti juga mewawancarai guru pendidikan agama islam, beliau mengatakan:

Guru itu jika ingin dikatakan sebagai pembimbing, ia harus mampu mengembangkan kreatifitas murid didalam kelas. dengan membimbing anak murid untuk berkreatifitas, kita akan tahu bakat apa yang mereka miliki. Jika kita sudah tahu bakat yanng mereka miliki, kita sudah gampang untuk membimbing mereka dengan bakat-bakat yang mereka miliki.65

Dari hasil wawancara diatas peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa guru itu harus dapat mengembangkan kreatifitas murid di dalam kelas dan dapat melahirkan bakat-bakat terpendam yang dimiliki siswa, barulah bisa di namakan gur itu sebagai pembimbing.

d. Guru Sebagai Fasilitator

Menurut Kepala Sekolah MAS PAB 4 Klumapang, yaitu Bapak Anhar S.H.I mengatakan:

Saya selalu mengatakan kepada seluruh guru di sekolah ini, jika ingin mengajar selalulah membawa bahan-bahan ajar yang akan diberikan kepada anak murid nantinya. Hal itu dilakukan agar sistem belajar mengajar akan lebih baik lagi dan lebih menarik diikuti oleh anak murid.66

64 Wawancara dengan Bapak Anhar, S.H.I, Kepala MAS PAB 4 Klumpang, 25 Juli 2019, Jam 10.00 WIB.

65 Wawancara dengan Ibu Irwayani, S.Ag, Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di MAS PAB 4 Klumpang, 25 Juli 2019, Jam 11.00 WIB.

(41)

Dari hasil wawancara diatas peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa kepala sekolah selalu menghimbau kepada seluruh guru yang ada disekolahnya agar selalu membawa bahann ajar atau pun media kedalam kelas ketika ingin melakukan proses belajar mengajar. Selanjutnya peneliti juga mewawancarai guru pendidikan agama islam, beliau mengatakan:

Kepala sekolah selalu mengingatkan kepada guru-guru disini agar selalu membawa bahan ajar kedalam kelas jika ingin melakukan proses belajar mengajar. Jadi saya setiap malam selalu berfikir untuk membuat bahan ajar yang akan saya berikan kepada anak murid keesokan harinya.

Terkadang saya membuat media yang dari kertas untu bahan ajar saya agar pembelajaran itu jadi lebih menarik lagi.67

Dari penjelasan diatas peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa guru-guru disekolah ini memang dihimbau oleh kepala sekolah agar selalu membuat bahan ajar yang menarik agar siswa didalam kelas tidak cepat jenuh dan bosan. Apalagi kalau sudah siang hari, pasti anak murid itu sudah lelah dan tidak bersemangat lagi.

Mengenai tentang peran yang diberikan guru dalam meningkatkan akhlak siswa MAS PAB 4 Klumpang, Bapak Anhar S.H.I mengatakan:

Guru bukan lah tugasnya hanya mengajar ilmu pengetahuan saja kepada siswa, tetapi guru juga dituntut untuk membangun akan kepribadian siswa dengan menjadikan akhlak mereka menjadi lebih baik lagi. Tidak semua siswa yang mudah untuk dirubah kepribadiannya, itu dikarenakan faktor dari lingkungan dan juga keluarga (orang tua).68

66 Wawancara dengan Bapak Anhar, S.H.I, Kepala MAS PAB 4 Klumpang, 25 Juli 2019, Jam 10.00 WIB.

67 Wawancara dengan Ibu Irwayani, S.Ag, Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di MAS PAB 4 Klumpang, 25 Juli 2019, Jam 11.00 WIB.

68 Wawancara dengan Bapak Anhar, S.H.I, Kepala MAS PAB 4 Klumpang, 25 Juli 2019, Jam 10.00 WIB.

(42)

Dengan demikian Bapak Kepala Sekolah juga menghimbau kepada seluruh guru-guru yang ada di sekolah MAS PAB 4 Klumpang, untuk menjadi guru yang profesional, bukan menjadi guru yang hanya mengajari murid, tetapi bisa menjadi contoh kepada siswa/i di sekolahnya.

Dari hasil interview dengan bapak Kepala Sekolah dapat disimpulkan bahwa peran guru sekolah dalam meningkatkan akhlak siswa sangat lah berpengaruh, karena tidak semua akhlak siswa itu baik, tetapi ada juga yang akhlaknya itu kurang baik.

Jadi, guru lah yang bertugas untuk merubah akhlak siswa yang buruk menjadi baik dan akhlak siswa yang baik menjadi lebih baik lagi dan menjadi manusia yang berakhlakul karimah.

Peneliti juga melakukan interview dengan guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Ibu Irwayani, S.Ag ia menyatakan bahwa:

Sebagian ada yang masih bisa saya berikan arahan, tetapi sebagian besarnya lagi tergantung pada lingkungannya juga, makanya akhlak siswa itu ada yang bagus dan ada yang jugamkurang bagus. Kalau dari pengawasan sekolah sendiri sudah kami berikan arahan yang baik, tetapi ada juga siswa tersebut yang tidak merespon akan arahan kami tersebut.

Dan mungkin juga dari keluarganya (orang tua) tidak mendukung atau kurang memperhatikan anaknya dirumah.69

Dari hasil interview dengan ibu Irwayani, S.Ag selaku guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dapat disimpulkan bahwa dari guru akidah akhlak sendiri sekkolah sendiri pun sudah memberikan pengawasannya selama di sekolah, tetapi dalam hal ini faktor yang paling mendukung itu adalah orang tua itu sendiri.

69 Wawancara dengan Ibu Irwayani, S.Ag, Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di MAS PAB 4 Klumpang, 25 Juli 2019, Jam 11.00 WIB.

(43)

Kemudian peneliti juga mewawancarai seorang murid yang bernama Shela Anggraini, ia mengatakan:

Sangat baik, karena guru PAI kami sangat sabar mengajari kami didalam kelas. Contohnya saja jika ada sampah berserakan, guru mengajak kami untuk bersama-sama mengutip sampah yang berserakan tersebut dan kami pun dengan senangnya mengutip sampah tersebut.70

Dari hasil interview dengan Shela Anggraini siswi kelas X dapat disimpulkan bahwa guru pendidikan agama islam di sekolah ini sangatlah baik dalam mengajar didalam kelas, karena guru disekolah ini bisa mencontohkan salah satu akhlak yaitu membuang sampah pada tempatnya. Namun gurunya tersebut tidak hanya menyuruh saja tetapi juga ikut mengutip atau mengumpulkan sampah tersebut bersama dengan siswa di sekolah ini.

2. Cara Meningkatkan Akhlak Pada Siswa MAS PAB 4 Klumpang Kabupaten Deli Serdang.

a. Berbaik Sangka

Berbaik sangka dapat dilakukan dengan cara berprasangka baik pada diri sendiri serta pada orang lain. Mereka yang dalam keadaan putus asa, umumnya cenderung, berburuk sangka pada sang pencipta. Hal ini merupakan tindakan yang harus dihindari. Bersikap optimis dan tidak lantas berputus asa merupakan cara kita dalam berbaik sangka kepada pencipta. Segala sesuatu yang telah Allah tentukan adalah jalan terbaik bagi kita. Tugas kita hanyalah bersabar dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi

70 Wawancara dengan Shela Anggraini, Siswi Kelas X di MAS PAB 4 Klumpang, 25 Juli 2019, Jam 12.00 WIB.

(44)

sehingga target yang ingin kita capai bisa segera didapatkan. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Irwayani S.Ag:

Saya akan selalu berbaik sangka dengan seluruh anak didik saya, walaupun saya tahu ada siswa yang tingkat kepintarannya itu rendah bahkan dibawah rata-rata. Namun saya tetap berbaik sangka dengan siswa tersebut karena saya yakin mereka pasti akan mampu untuk mengejar prestasi seperti teman-temannya yang lain.71

Dari hasil wawancara diatas peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa Ibu guru tersebut merupakan salah satu contoh guru yang patut di tiru oleh guru-guru yang lainnya, karena beliau memiki perilaku yang sangat baik kepada anak didik untuk menyakini bahwa anak didik nya itu akan bisa memperoleh hasil belajar yang baik sama seperti teman-temannya yang lain.

Tanamkan pada diri untuk selalu percaya jika kegagalan yang anda alami hari ini, mengandung hikmah yang dapat kita ambil pelajaran darinya. Allah selalu memiliki maksud tersendiri saat memberikan cobaan bagi para umatnya. Jangan lantas bersedih saat gagal meraih cita-cita dan jangan lantas berburuk sangka jika Allah tidak sayang pada hambanya ketika anda berada dalam keterpurukan. Dalam keadaan apapun, kita sebaiknya senantiasa melontarkan kalimat syukur atas kebesaran Allah yang maha kuasa. Kemudian peneliti juga mewawancarai seorang siswa yang bernama Shela Anggraini, ia mengatakan:

Menurut saya, guru-guru disekolah ini sangat baik dalam mengajari kami didalam kelas. Ibu ataupun Bapak guru selalu memotivasi siswa/i nya agar bisa memahami apa yang ia ajarkan. Seluruh siswa khususnya saya merasa kalau guru-guru disekolah ini sudah berupaya untuk memberikan ilmu- ilmu

71 Wawancara dengan Ibu Irwayani, S.Ag, Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di MAS PAB 4 Klumpang, 25 Juli 2019, Jam 11.00 WIB.

(45)

pengetahuan kepada siswa/i nya. Saya tidak pernah berpikir kalau ada seorang guru itu akan menjerumuskan anak didiknya menjadi bodoh, tetapi guru itu pasti akan memberikan penngajaran yang terbaik kepada siswa/i nya.72

Dari hasil wawancara, peneliti dapat menyimpulkan bahwa seluruh guru-guru disekolah tersebut sudah menjalankan tugasnya sebagaimana tugasnya menjadi seorang seorang guru atau seorang pendidik. Dan Faturrahman sendiri sudah bisa mencontohkan perilaku berbaik sangka kepada gurunya, bahwa seorang guru itu tidak akan menjerumuskan anak didiknya menjadi bodoh. Selanjutnya peneliti juga mewawancarai kepala sekolah, Beliau mengatakan:

Saya yang menjabat menjadi kepala sekolah disekolah ini juga sebagai guru di sekolah ini. Tanggung jawab saya bukan hanya kepada guru dan sekolah saja, tetapi siswa/i juga sudah menjadi tanggung jawab saya, walaupun sudah ada guru-guru lain yang bertanggung jawab dalam hal itu.

Didalam kelas siswa/i tidak akan ada yang sama dalam hal menangkap pelajaran yang diberikan oleh guru. Semua itu tergantung bagaimana soerang guru itu mampu memberikan ilmu kepada siswanya dan juga tergantung pada siswanya yang bagaimana ia serius dalam hal pelajaran tersebut. Saya selalu mengulang sampai 3 kali dalam hal menyampaikan materi, karena seperti yang saya katakan sebelumnya tidak semua siswa yang cepat dalam hal menangkap ilmu yang disampaikan guru. Dengan mengulang sampai 3 kali saya yakin siswa/i yang saya ajarkan pasti akanmampu untuk menerima apa yang saya sampaikan.73

Dari hasil wawancara diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa menjadi seorang kepala sekolah itu tidaklah mudah, karena tugasnya yang sangat berat. Tugas kepala sekolah itu bukan hanya untuk mengatur sekolah saja, namun juga harus paham akan kinerja guru dan prestasi siswa/i nya yang ada didalam kelas. Makanya seorang

72 Wawancara dengan Shela Anggraini, Siswi Kelas X di MAS PAB 4 Klumpang, 25 Juli 2019, Jam 12.00 WIB.

73 Wawancara dengan Bapak Anhar, S.H.I, Kepala MAS PAB 4 Klumpang, 25 Juli 2019, Jam 10.00 WIB.

(46)

kepala sekolah itu juga diwajibkan mengajar didalam kelas agar kepala sekolah tersebut tahu akan prestasi siswanya sendiri.

b. Bertaubat

Setiap manusia tentu pernah yang namanya berbuat salah. Bahkan mereka yang dicap sebagai orang baik pun, tentu tidak luput dari yang namanya dosa. Dosa yang dibiarkan berlarut-larut dan terus menerus dilakukan merupakan hal yang buruk dan harus dijauhi. Dalam hal ini, segera bertaubat merupakan langkah baik bagi anda untuk memperbaiki kesalahan yang telah anda lakukan. Taubat merupakan kembalinya manusia dari berbuat buruk ke arah yang lebih baik dengan cara menata sifat serta kelakuannya supaya kembali bersih. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Irwayani, S.Ag

Didunia ini tidak ada seorang pun yang luput dari dosa dan salah, termasuk para nabi dan rasul. Oleh sebab itu, Allah swt. membuka pintu taubat selebar-lebarnya bagi setiap orang yang telah melakukan perbuatan dosa dan kesalahan. Itu yang sering saya katakan kepada siswa disaat jam pelajaran sudah mau berakhir. Selalu lah meminta maaf kepada Allah setiap selesai sholat karena dalam sehari itu kita tidak mungkin tidak melakukan dosa atau kesalahan dan juga meminta maaf kepada orang tua.

Jika kita selalu meminta maaf kepada orang tua, insya Allah, Allah swt.

akan mempermudah segala urusann kita. Dan terlebihnya sebagai siswa akan dipermudahkan dalam urusan belajar danmenangkap semua ilmu yang diberikan oleh guru.74

Dari hasil wawancara diatas peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa Allah swt. akan tetap membuka pintu taubat kepada hambanya yang benar-benar meminta ampunan kepada Nya dan tidak mengulangi semua kesalahannya kembali dan akan berjanji untuk selalu mengerjakan apa yang diperintahkannya dan meninggalkan semua

74 Wawancara dengan Ibu Irwayani, S.Ag, Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di MAS PAB 4 Klumpang, 25 Juli 2019, Jam 11.00 WIB.

Gambar

TABEL 4.1  Data Keadaan Siswa

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini ditinjau dari ciri-ciri guru yang profesional yang meliputi: (1) mampu menunjukan sikap dan pengetahuan yang berkualitas dalam menjalankan tugas-tugas

Nonaka’s knowledge creation theory was developed based on the notion that knowledge is created through a transforma- tional process between explicit and tacit

Setiap bangsa mendapatkan anugerah Tuhan berupa Alam dengansegala Isinya yang berbeda antar satu wilayah dengan wilayahlain. Demikianpula manusia sebagai Ciptaan Yang

Paket pengadaan ini terbuka untuk penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan (ijin usaha perdagangan umum, klasifikasi barang Meubelair dan kualifikasi kecil yang

Akuakultur merupakan sistem produksi yang mencakup input produksi (prasarana dan sarana produksi), proses produksi (persiapan hingga pemanenan) dan output produksi (pascapanen

H UMUR 21 TAHUN G2P0A1 DARI KEHAMILAN DENGAN SUSPECT LETAK LINTANG, PERSALINAN DENGAN SUSPECT CPD, MASA NIFAS, BAYI BARU LAHIR, DAN KELUARGA BERENCANA DI

(2) Prinsip terbuka sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dimaksudkan bahwa peserta umroh dan wisata ro harii terbuka untuk kaum muslim dan non muslim

Pada grafik tampak bahwa sistem yang menggunakan R-22 dengan penambahan pre-cooling menunjukkan nilai nilai koefisien yang lebih besar yaitu rata-rata 4,788 apabila