(Allium cepa var. ascalonicum)
(Kasus : Kecamatan Medan Marelan Kota Medan)
SKRIPSI
OLEH :
NURUL NADHILAH 150304094
AGRIBISNIS
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
(Allium cepa var. ascalonicum)
(Kasus : Kecamatan Medan Marelan Kota Medan)
SKRIPSI
OLEH :
NURUL NADHILAH 150304094 AGRIBISNIS
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mendapatkan Gelar Sarjana Pertanian di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
“ Analisis Risiko Produksi, Harga dan Pendapatan pada Usaha Pembenihan Bawang Merah (Allium cepa var. ascalonicum) (Kasus : Kecamatan Medan Marelan Kota Medan”. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2019 dibawah bimbingan Ibu Dr. Ir. Salmiah, MS, dan Bapak Ir. Thomson Sebayang, MT.
Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Bawang merah merupakan salah satu komoditas pertanian yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Produksi bawang merah yang bagus berasal dari benih bawang merah yang bagus. Tujuan penelitian ini adalah : (1) menganalisis kondisi produksi, harga dan pendapatan usaha pembenihan bawang merah, (2) menganalisis kelayakan usaha pembenihan bawang merah, dan (3) menganalisis besarnya tingkat risiko produksi, harga dan pendapatan usaha pembenihan bawang merah. Penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive.
Pengambilan jumlah responden ditentukan dengan metode sensus yaitu sebanyak 30 responden. Metode analisis yang digunakan di dalam penelitian ini adalah analisis pendapatan, R/C, BEP produksi, BEP harga, dan koefisien variasi (CV).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) produktivitas usaha pembenihan bawang merah, harga jual dan pendapatan usaha relatif tinggi, (2) usaha pembenihan bawang merah sudah efisien dan menguntungkan serta dinyatakan layak unuk dijalankan, (3) risiko terbesar dari usaha pembenihan bawang merah adalah risiko pendapatan (KV = 0,33), disusul oleh risiko produksi (KV = 0,23) dan risiko harga (KV = 0,06).
Kata kunci : Benih Bawang Merah, Risiko, Koefisien Variasi
"Production Risk, Price and Revenue Analysis on Shallot Hatchery Business (Allium cepa var. ascalonicum) (Case: Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan", conducted in 2019 under guidance by Ibu Dr. Ir. Salmiah, MS, and Bapak Ir. Thomson Sebayang, MT, Agribusiness Study Program, Faculty of Agriculture, University of North Sumatra.
Shallot is an agricultural commodity that has a high economic value. Good production of shallots comes from good shallots seeds. The objectives of this study are: (1) to analyze the conditions of production, price and income of shallots hatchery business, (2) to analyze the feasibility of shallots hatchery business, and (3) to analyze the level of risk of production, price and income for onion hatchery business. The location of the study was determined purposively or deliberately taken with certain considerations in accordance with the objectives of the study.
Retrieving the number of respondents was determined by the census method as many as 30 respondents. The analytical methods used in this study are income analysis, R/C, B/C, BEP production, BEP prices, and Coefficient Variation (CV).
The results showed that (1) productivity of shallot hatchery business, selling price and operating income is relatively high, (2) the shallot hatchery business was feasible to run, (3) the biggest risk of onion seeding was income risk (CV = 0.33), followed by production risk (CV = 0.23) and price risk (CV = 0.06).
Keywords: Shallot Seeds, Risk, Coefficient Variation
Januari 1998 dari Ayahanda Alm. H. M. Halem dan Ibunda Elfina, S.Pd., M.Pd.
Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Pendidikan formal yang pernah diikuti penulis adalah sebagai berikut:
1. Tahun 2009 lulus dari Sekolah Dasar Negeri 067253 Medan Deli, 2. Tahun 2012 lulus dari Sekolah Menengah Pertama Negeri 16 Medan, 3. Tahun 2015 lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Medan,
4. Tahun 2015 diterima di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara melalui jalur SBMPTN.
Kegiatan yang pernah diikuti penulis selama masa perkuliahan antara lain sebagai berikut:
1. Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Desa Medang Baru, Kecamatan Medang Deras, Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2018.
2. Bulan April 2019 Penulis melakukan penelitian skripsi di Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.
3. Anggota Ikatan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (IMASEP) Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Analisis Risiko Produksi, Harga dan Pendapatan pada Usaha Pembenihan Bawang Merah (Allium cepa var. ascalonicum) (Kasus : Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan”. Yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan, dukungan, dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Dr. Ir. Salmiah, MS, selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan, saran, dan memotivasi penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, dan Bapak Ir. Thomson Sebayang, MT, selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah banyak membimbing, mengarahkan, dan memberi kemudahan kepada penulis selama penulisan skripsi ini.
2. Kepada Dosen Penguji Ibu Dr. Ir. Tavi Supriana, MS, selaku dosen penguji I yang telah memberikan kritik dan saran dalam penyempurnaan skripsi ini.
3. Kepada Dosen Penguji Ibu Siti Khadijah, SP, M.Si, selaku dosen penguji II yang telah memberikan kritik dan saran dalam penyempurnaan skripsi ini.
4. Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M. Ec. selaku Ketua Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan Bapak Ir. M. Jufri, M.Si. selaku Sekretaris Program Studi Agribisnis,
5. Seluruh dosen di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, khususnya di Program Studi Agribisnis yang telah mengajarkan ilmu pengetahuan kepada penulis untuk menjadi bekal penulis di masa yang akan datang.
6. Seluruh staff dan pegawai di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, khususnya di Program Studi Agribisnis yang telah membantu penulis dalam urusan administrasi akademik sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
7.
Teristimewa buat orang tua tercinta Ayahanda Alm. H. M. Halem, Ibunda Elfina, S.Pd., M.Pd., Kakak Dian Arian Ningsih, S.Kom., Adik Silvina Hannum, dan Om H. M. Saleh Arifin, S.E., yang senantiasa memberikan doa, perhatian, kasih sayang, dukungan, semangat dan materi yang tiada batas kepada penulis.8. Buat sahabat Tercinta saya Putri Khoiroh, Yusnita Farida, Ainun Habibi Hrp, Adidah Hannum Hsb, Nanda Aliefsa Putri, Putri Mawaddah Siahaan, Fanny Namira, Riski Dwi Saputri, Khairi Sabrina Sitorus, Dwiki Tiarif Manalu dan Robby Hermawan.
9. Teman-teman seperjuangan Agribisnis 2015 yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah banyak direpotkan, memberikan motivasi, meluangkan waktu dan pemikiran kepada penulis selama masa perkuliahan sampai penulisan skripsi.
10. Seluruh instansi dan responden penelitian yang terkait dengan penulisan skripsi ini yang telah meluangkan waktu dan kesempatannya untuk
Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis menyampaikan terima kasih dan berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
Medan, Juli 2019
Penulis
ABSTRACT ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Identifikasi Masalah ... 5
1.3. Tujuan Penelitian ... 6
1.4. Kegunaan Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka ... 8
2.1.1. Pembenihan ... 8
2.1.2. Bawang Merah ... 9
2.2. Landasan Teori ... 15
2.2.1. Usahatani ... 15
2.2.1.1. Biaya ... 16
2.2.1.2. Penerimaan ... 17
2.2.1.3. Pendapatan ... 18
2.2.1.4. Kelayakan Usahatani ... 19
2.2.2. Risiko Usahatani ... 21
2.3. Penelitian Terdahulu ... 25
2.4. Kerangka Pemikiran ... 27
2.5. Hipotesis Penelitian ... 30
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode Penentuan Daerah Penelitian ... 31
3.2. Metode Penentuan Responden ... 31
3.3. Metode Pengumpulan Data ... 32
3.4. Metode Analisis Data ... 32
3.5. Definisi Operasional dan Batasan Operasional... 37
3.5.1. Definisi ... 37
3.5.2. Batasan Operasional ... 38
4.1.1. Leta Geografis, Batas dan Luas Wilayah ... 39
4.1.2. Keadaan Penduduk ... 40
4.1.3. Sarana Dan Prasarana ... 42
4.2. Karakteristik Petani Responden ... 44
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Produksi, Harga dan Pendapatan Usaha Pembenihan Bawang Merah ... 46
5.1.1. Produksi Benih ... 46
5.1.2. Biaya Produksi Benih ... 51
5.1.3. Pendapatan Bersih Usaha Pembenihan Bawang Merah .... 53
5.2. Kelayakan Usaha Pembenihan Bawang Merah ... 55
5.3. Tingkat Risiko Usaha Pembenihan Bawang Merah ... 58
5.3.1. Risiko Produksi ... 58
5.3.2. Risiko Harga ... 60
5.3.3. Risiko Pendapatan ... 62
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 65
6.2. Saran ... 65 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1.1 Produksi (Ton), Luas Panen (Ha), dan Produktivitas (Ton/Ha) Bawang Merah di Indonesia Tahun 2013-2017
2 1.2 Volume Ekspor dan Impor Bawang Merah di Indonesia Tahun
2013-2017
2 1.3 Produksi, Luas Panen dan Harga Benih Bawang Merah di
Kecamatan Medan Marelan tahun 2017-2018
4 3.1 Produksi Bawang Merah (Ton) Per Kecamatan di Kota Medan
Tahun 2017
31 4.1 Jumlah Penduduk, Rumah Tangga, Rata-Rata Anggota Rumah
Tangga, Luas Kelurahan, dan Kepadatan Penduduk Per Km2 Menurut Kelurahan di Kecamatan Medan Marelan Tahun 2017
40
4.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Kecamatan Medan Marelan Tahun 2017
41 4.3 Banyaknya Warga Negara Indonesia Keturunan Cina Menurut
Jenis Kelamin Dan Kelurahan di Kecamatan Medan Marelan Tahun 2017
42
4.4 Sarana dan Prasarana di Kecamatan Medan Marelan Tahun 2017 42 4.5 Karakteristik Petani Responden di Kecamatan Medan Marelan
Tahun 2019
44 5.1 Rata-Rata Biaya Tetap Produksi Usahatani Pembenihan Bawang
Merah Per Petani/Tahun Dan Per Ha/Tahun di Kecamatan Medan Marelan
51
5.2 Rata-Rata Biaya Variabel Produksi Usahatani Pembenihan Bawang Merah Per Petani/Tahun dan Per Ha/Tahun di Kecamatan Medan Marelan
52
5.3 Rata-Rata Biaya Tenaga Kerja (Upah) Usahatani Pembenihan Bawang Merah Per Petani/Tahun dan Per Ha/Tahun di Kecamatan Medan Marelan
53
5.4 Rata-Rata Total Biaya Produksi Usahatani Pembenihan Bawang Merah Per Petani/Tahun Dan Per Ha/Tahun di Kecamatan Medan Marelan
53
5.5 Rata-Rata Biaya Produksi, Penerimaan dan Pendapatan Usahatani Pembenihan Baawang Merah Per Petani/Tahun dan Per Ha/Tahun di Kecamatan Medan Marelan
54
5.6 R/C Rasio, B/C Rasio, BEP Produksi Dan BEP Harga Per Petani/Tahun dan Per Ha/Tahun Pada Usaha Pembenihan Bawang Merah di Kecamatan Medan Marelan
56
5.7 Risiko Produksi Per Ha/Tahun Usaha Pembenihan Bawang Merah di Kecamatan Medan Marelan
59 5.8 Risiko Harga Per Ha/Tahun Usaha Pembenihan Bawang Merah di
Kecamatan Medan Marelan
61 5.9 Risiko Pendapatan Per Ha/Tahun Usaha Pembenihan Bawang
Merah di Kecamatan Medan Marelan
63
2.1 Kerangka Pemikiran 29
5.1 Lahan Penanaman Bawang Merah 47
1 Karakteristik Petani Responden
2 Biaya Penggunaan Benih Bawang Merah Per Petani Per Tahun 3 Biaya Penggunaan Pupuk Di Daerah Penelitian Per Petani Per Tahun 4 Biaya Penggunaan Obat-Obatan Di Daerah Penelitian Per Petani Per
Tahun
5 Biaya Tenaga Kerja Di Daerah Penelitian Per Petani Per Tahun
6 Biaya Penyusustan Peralatan Pertanian Di Daerah Penelitian Per Petani Per Tahun
7 Biaya Usahatani Per Petani Per Tahun 8 Penerimaan Usahatani Per Petani Per Tahun 9 Pendapatan Per Petani Per Tahun
10 Kelayakan Usahatani (R/C) Per Petani Per Tahun 11 Kelayakan Usahatani (B/C) Per Petani Per Tahun 12 Kelayakan Usahatani (BEP) Per Petani Per Tahun
13 Penilaian Risiko Produksi, Harga, dan Pendapatan Pada Usaha Pembenihan Bawang Merah
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sektor pertanian mencakup sub sektor tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan dan perikanan telah ikut mendukung perekonomian, baik skala nasional maupun skala daerah. Salah satu komoditi holtikultura yang menjadi perhatian adalah bawang merah.
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari, bawang merah tidak pernah ketinggalan sebagai bahan pelengkap bumbu dalam masakan. Bawang merah juga dibutuhkan sebagai bahan baku industri bawang goreng yang semakin tahun semakin bertambah jumlahnya (Ridha dan Mudya, 2016).
Bawang merah merupakan salah satu komoditas pertanian yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Keunggulan bawang merah dibanding komoditas pertanian lain adalah mempunyai daya simpan lebih lama. Bawang merah sangat dibutuhkan masyarakat sebagai bahan sayuran dan bumbu dapur. Selain itu, bawang merah dapat digunakan untuk mengobati beberapa macam penyakit, seperti mag, masuk angin, menghilangkan lendir di tenggorokan, mengobati luka, menurunkan kadar gula darah, dan menurunkan kadar kolestrol (Kaleka, 2016).
Selain itu, bawang merah memiliki kandungan beberapa zat yang bermanfaat bagi kesehatan, misalnya sebagai zat-anti kanker dan pengganti antibiotik yang dapat menurunkan tekanan darah, kolestrol dan kadar gula darah. Dengan banyaknya manfaat dan nilai ekonominya yang tinggi, bawang merah kini menjadi salah satu komoditas pokok di Indonesia (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, 2016).
Di Indonesia, bawang merah berkembang dan diusahakan petani mulai di dataran rendah sampai dataran tinggi. Produksi bawang merah sampai saat ini memang belum optimal dan masih tercermin dalam keragaman cara budidaya yang bercirikan spesifik agroekosistem tempat bawang merah diusahakan (Sartono dan Suwandi, 1996).
Tabel 1.1. Produksi (Ton), Luas Panen (Ha), dan Produktivitas (Ton/Ha) Bawang Merah di Indonesia Tahun 2013-2017
Tahun Produksi (Ton) Luas Panen (Ha) Produktivitas (Ton/Ha)
2013 1.010.773 98.937 10,22
2014 1.233.984 120.704 10,223
2015 1.229.184 122.126 10,06
2016 1.446.860 149.635 9,67
2017 1.470.155 158.172 9,31
Sumber : Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hotikultura, 2018
Bedasarkan Tabel 1.1, diketahui perkembangan jumlah produksi bawang merah dari tahun 2013-2017 mengalami peningkatan setiap tahunnya. Namun, pada produktivitas menglami fluktuasi dari tahun 2013-2017. Produktivitas tertinggi terdapat pada tahun 2014 sebesar 10,223 (Ton/Ha).
Saat ini produksi bawang merah di Indonesia semakin meningkat sehingga menyebabkan peningkatan ekspor bawang merah dan juga menyebakan penurunan volume impor bawang merah ke Indonesia.
Tabel 1.2. Volume Ekspor dan Impor Bawang Merah di Indonesia Tahun 2013-2017.
Tahun Ekspor (Ton) Impor (Ton)
2013 4.982 96.139
2014 4.439 74.903
2015 8.418 17.429
2016 736 1.219
2017 7.623 194
Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS), 2018
Dari tabel 1.2 dapat dilihat volume ekspor mengalami fluktuasi dari tiap tahunnya dimana pada tahun 2016 merupakan volume ekspor terendah sebesar 736 ton.
Sedangkan pada tahun 2015 merupakan ekspor terbesar dengan jumlah sebanyak 8.418 ton. Berdasarkan data BPS, pada tahun 2014 Indonesia masih mengimpor bawang merah untuk konsumsi dan benih sebesar 74.903 ton. Kemudian di tahun 2015 total impor sebesar 17.429 ton untuk bawang merah konsumsi dan benih, namun mulai tahun 2016 tidak ada impor (NOL) untuk bawang merah Konsumsi tetapi masih melakukan impor untuk benih bawang merah.
Pada dasarnya, Indonesia mampu untuk memproduksi benih bawang merah sendiri. Namun, varietas yang dihasilkan benih bawang merah lokal tidak sebagus benih yang diimpor. Benih lokal yang kualitasnya tidak sama dengan kualitas benih impor disebabkan karena berbagai macam faktor salah satunya faktor risiko (masalah) yang ada di lapangan seperti risiko pada saat pengolahan. Padahal usaha pembenihan bawang merah memiliki prospek yang bagus untuk para petani.
Namun, untuk melakukan pembenihan ini memerlukan perhatian yang lebih intensif sehingga tidak banyak petani yang mau melakukan usaha pembenihan ini.
Oleh karena itu, pemerintah Kota Medan membuat program untuk mengajak petani menanam bawang merah agar petani mau mulai menanam bawang merah.
Kota Medan merupakan salah satu daerah di Sumatera Utara yang memproduksi bawang merah. Mulai tahun 2013 pemerintah kota medan membuat program swadaya dimana petani di Kecamatan Medan Marelan diminta untuk mulai menanam bawang merah dan terus berkembang hingga saat ini. Untuk pembenihan bawang merah itu sendiri sudah mulai dilakukan sejak tahun 2017
Tabel 1.3. Produksi, Luas Panen dan Harga Benih Bawang Merah di Kecamatan Medan Marelan tahun 2017-2018.
Tahun Produksi (Ton)
Luas Panen (Ha)
Produktivitas
(Ton/Ha) Harga (Rp)
2017 8,5 1,1 7,7 50.000-55.000
2018 10 1,2 8,3 45.000-50.000
Sumber : PPL Kecamatan Medan Marelan, 2019
Dari tabel 1.3. dapat dilihat bahwa perkembangan produksi benih bawang merah meningkat namun, untuk harga jual bawang merah tersebut turun untuk tahun 2018 dan produktivitas bawang merah meningkat dari tahun 2017-2018.
Pada awalnya petani di Kecamatan Medan Marelan ini tidak menanam bawang merah karena risiko yang cukup tinggi. Seperti ketinggian daerah karena biasanya bawang merah ditanam di dataran tinggi, iklim, dan pasokan bawang merah impor. Walaupun untuk melakukan usaha pembenihan bawang merah banyak hal yang perlu diperhatikan dan banyak risiko yang harus di ambil tetapi masih ada petani yang melakukan usaha ini walaupun banyak risiko yang harus ditanggung.
Produksi bawang merah yang bagus berasal dari benih bawang merah yang juga bagus. Sayangnya ketersediaan benih yang bermutu di Indonesia sangat kurang, kalaupun ada harganya sangat mahal, terutama pada musim tanam (bulan April hingga Juli). Budidaya benih bawang merah memerlukan perhatian yang lebih intensif dan dukungan teknologi yang memadai.
Akibat tingginya risiko dalam melakukan usaha pembenihan bawang merah dan lamanya waktu yang diperlukan selama masa pembenihan membuat petani tidak terlalu tertarik untuk melakukan usaha pembenihan bawang merah. Padahal keuntungan yang diperoleh oleh bisnis budidaya benih bawang merah jauh lebih besar dibandingkan budidaya bawang merah untuk konsumsi. Walaupun sudah
ada beberapa petani yang mulai melakukan usaha pembenihan bawang merah ini dengan mengikuti program pemerintah atau anjuran dari PPL, namun masih banyak petani yang tidak mau melakukan usaha ini karena risiko yang ditanggung.
Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian risiko pada usaha pembenihan bawang merah agar dapat mengetahui risiko apa saja yang terdapat di dalam usaha pembenihan bawang merah. Dan juga untuk di masa mendatang agar dapat meminimalisir risiko usaha pembenihan bawang merah dengan memperhatikan risiko sehingga dapat menghasilkan benih yang bagus agar produktivitas bawang merah meningkat.
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang maka dirumuskan beberapa permasalan sebagai berikut :
1. Bagaimana kondisi produksi, harga dan pendapatan usahatani pembenihan Bawang Merah (Allium cepa var. ascalonicum) di daerah penelitian?
2. Apakah usaha pembenihan Bawang Merah (Allium cepa var. ascalonicum) layak diusahakan di daerah penelitian?
3. Berapa besar tingkat risiko produksi, risiko harga, dan risiko pendapatan pada usaha pembenihan Bawang Merah (Allium cepa var. ascalonicum) di daerah penelitian?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Menganalisis kondisi produksi, harga dan pendapatan usaha pembenihan Bawang Merah (Allium cepa var. ascalonicum) di daerah penelitian.
2. Menganalisis kelayakan usaha pembenihan bawang merah (Allium cepa var.
ascalonicum) di daerah penelitian.
3. Menganalisis besarnya tingkat risiko produksi, risiko harga dan risiko pendapatan usaha pembenihan Bawang Merah (Allium cepa var.
ascalonicum) di daerah penelitian.
1.4. Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah : 1. Bagi Peneliti
Bagi peneliti adalah sebagai salah satu syarat utama untuk bisa lulus dari Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara serta menambah pengetahuan dan pengalaman dalam menerapkan ilmu yang telah diperoleh.
2. Bagi Petani
Bagi petani, sebagai bahan informasi mengenai resiko usaha pembenihan bawang merah yang harus diperhatikan sehingga dapat meminimalisirkan kerugian dan dapat menghasilkan benih dengan mutu yang baik.
3. Bagi Pemerintah
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan pemerintah dalam mengambil kebijakan membuat program untuk membantu para petani dalam melakukan usaha pembenihan bawang merah agar Indonesia tidak lagi
mengimpor benih bawang merah dan lebih mengutamakan menggunakan benih lokal.
4. Bagi Peneliti Lain
Sebagai bahan referensi bagi peneliti berikutnya, khusus yang berkaitan dengan risiko pada usaha pembenihan bawang merah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI,
KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Pembenihan
Menurut Oxford dalam Nurwardani (2008), pembenihan adalah rangkaian proses budidaya tanaman untuk menghasilkan benih. Sedangkan tanaman adalah tumbuhan yang dibudidayakan. Oleh karena itu, teknik perbenihan tanaman adalah suatu keterampilan khusus yang harus dikuasai seseorang agar dapat memproduksi benih tanaman, baik benih vegetatif (bibit) maupun benih generatif sehingga tanaman berproduksi secara optimal.
Proses produksi tanaman dimulai dengan benih ditanam, kemudian tanaman dipelihara dan hasil tanaman (akar, umbi, batang, pucuk, daun, bunga, dan buah) dipanen. Kegiatan produksi pertanian memerlukan unit pembibitan tanaman.
Pembibitan tanaman adalah suatu proses penyediaan bahan tanaman yang berasal dari benih tanaman (biji tanaman berkualitas baik dan siap untuk ditanam) atau bahan tanaman yang berasal dari organ vegetatif tanaman untuk menghasilkan bibit (bahan tanaman yang siap untuk ditanan di lapangan (Nurwardani, 2008).
Benih merupakan produk akhir dari suatu program pemuliaan tanaman, yang pada umumnya memiliki karakteristik keunggulan tertentu, mempunyai peranan yang vital sebagai penentu batas-atas produktivitas dan dalam menjamin keberhasilan budidaya tanaman. Benih tanaman sangat berperan dalam pengembangan bidang pertanian. Benih adalah faktor penentu keberhasilan budidaya tanaman. Benih
dengan kualitas baik dan seragam akan menghasilkan produk dengan kualitas tinggi.
Perbenihan tanaman merupakan bidang yang memerlukan banyak tenaga kerja.
Dengan demikian sektor perbenihan merupakan bagian dari penyediaan tenaga kerja di bidang pertanian. Benih tanaman sebagai langkah awal dari kegiatan pertanian, telah berperan dalam bidang ekonomi dengan adanya peningkatan penambahan devisa dari ekspor benih dan peningkatan pendapatan petani yang beralih dari petani budidaya menjadi penangkar benih (Nurwardani, 2008).
2.1.2. Bawang Merah
Tanaman Bawang Merah diperkirakan berasal dari Asia Tengah, yaitu India dan Pakistan hingga Palestina. Tanaman Bawang Merah tersebar mulai dari Eropa ke berbagai negara, temasuk daerah Equator. Di daerah tropis, Bawang Merah dibudidayakan di dataran rendah pada wilayah 10O Lintang Utara dan 10O Lintang Selatan (Kaleka, 2016).
Bukan hanya bumbu penyedap masakan saja tetapi bawang merah juga dapat digunakan untuk pengobatan. Baik digunakan secara sendirian, maupun menggunakan bahan lain. Untuk obat luka lama misalnya bawang merah digunakan bersama sedikit minyak kelapa dan garam dapur. Bagi mereka yang sakit maag pun dapat diobati dengan bawang merah ini. Anak-anak yang masuk angin atau meriang badannya sering juga diobati dengan bawang merah. Untuk pengobatan semacam ini bawang dapat diberikan dalam bentuk utuh, mentah dan dapat juga dimasak dulu dan juga dibuat sari bawang (Wibowo, 2008).
Bawang merah merupakan tanaman dataran rendah yang paling luas dibandingkan dengan jenis sayuran lainnya, dan hasilnya pun paling tinggi. Di dataran rendah masih banyak tanah yang dapat ditanami bawang merah. Uluran tangan dari pihak berwajib dapat menggerakkan semangat petani untuk menanam bawang merah untuk keperluan ekspor (Rismunandar, 1986).
Bunga bawang merah termasuk bunga sempurna, terdiri dari 5-6 benang sari dan sebuah putik. Daun bunga berwarna agak hijau bergaris keputih-putihan atau putih, bakal buah duduk di atas membentuk bangunan segitiga hingga tampak jelas seperti kubah (Rahayu dan Nur, 1999).
Pembenihan Bawang Merah
Faktor bibit memegang peranan penting untuk menunjang keberhasilan produksi tanaman bawang merah. Penggunaan bibit bermutu tinggi merupakan langkah awal peningkatan produksi (Rahayu dan Nur, 1999). Bibit yang baik akan tumbuh menjadi tanaman yang sempurna sehingga produksinya meningkat. Penanaman juga akan berpengaruh pada hasil produksi bawang merah (Kaleka, 2016).
Tanaman bawang merah umumnya diperbanyak dengan menggunakan umbinya.
Sebenarnya dapat juga diperbanyak dengan biji, tetapi kebanyakan tanaman bawang merah di Indonesia sulit menghasilkan biji. Penyediaan bibit bawang merah dapat diperoleh dengan mengusahakan bibit sendiri atau dengan membeli (Rahayu dan Nur, 1999).
Menurut Kaleka (2016), pembibitan dari umbi lebih mudah dan lebih praktis.
Oleh karena itu, lebih banyak petani bawang merah yang menggunakan bibit dari
umbi. Umbi yang akan digunakan sebagai bibit harus memenuhi kriteria tertentu agar bisa tumbuh dengan baik sehingga dapat menekan biaya pembibitan.
Cara penanaman bawang merah untuk bibit sama dengan penanaman untuk konsumsi. Akan tetapi, jarak tanam yang digunakan lebih rapat, yaitu 10 x 10 cm atau 10 x 15 cm. Penanaman dengan jarak tanam tersebut akan menghasilkan lebih banyak umbi yang berukuran sedang dan hasil umbi per satuan luas lebih banyak. Bila jarak tanam terlalu rapat, umbi yang dihasilkan lebih kecil dan tanaman mudah rebah (Rahayu dan Nur, 1999).
Umbi yang dipanen untuk bibit harus sudah cukup tua. Umbi yang sudah tua dapat diperoleh dari tanaman yang berumur 70-90 hari. Setelah dipanen, umbi lalu dikeringkan. Pengeringan umbi bawang merah biasa dilakukan dengan cara menjemur dibawah sinar matahari. Penjemuran dilakukan selama 5-8 hari.
Syarat Tumbuh
Ada 2 hal yang harus diperhatikan untuk memulai budidaya tanaman bawang merah yaitu adalah faktor iklim dan tanah. Bawang merah membutuhkan syarat iklim dan tanah yang sesuai untuk pertumbuhannya.
1. Iklim
Iklim yang perlu diperhatikan adalah sinar matahari, suhu, ketinggian tempat, dan curah hujan. Curah hujan yang cocok untuk tanaman bawang merah adalah 300-1.500 mm per tahun. Tanaman bawang merah sangat rentan terhadap curah hujan yang tinggi. Curah hujan yang tinggi menyebabkan daun mudah rusak sehingga dapat menghambat pertumbuhan tanaman.
Tanaman bawang merah membutuhkan sinar matahari sekitar 10 jam perhari untuk proses fotosintesis. Sinar matahari juga dibutuhkan dalam pembentukan umbi bawang merah. Angin merupakan faktor iklim yang mempengaruhi terhadap tanaman bawang merah. Angin kencang yang berhembus terus-menerus secara langsung dapat merobohkan tanaman karena sistem perakaran tanaman bawang merah sangat dangkal (Kaleka, 2016).
2. Tanah
Yang perlu diperhatikan pada tanah adalah sifat fisik dan sifat kimia. Tanaman bawang merah memerlukan tanah berstruktur remah, tekstur sedang sampai liat, dengan draenase atau aerasi baik, mengandung bahan organic yang cukup yaitu
> 2,5 %, dan reaksi tanah agak masam sampai normal (6,0-6,8). Tanah ber pH 5,5-7,0 masih dapat digunakan untuk penanaman bawang merah.
pH sangat berpengaruh pada persedian unsur hara sehingga mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Akar tanaman akan mudah menyerap unsur hara bila pH tanah berada di sekitar netral (6-7). Bawang merah menghendaki struktur tanah remah. Tanah yang subur dapat diartikan sebagai kesanggupan tanah untuk menyediakan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman (Kaleka, 2016).
Varietas Bawang Merah
Hasil tanaman yang diperoleh dipengaruhi oleh bibit bawang merah yang digunakan. Beberapa varietas bawang merah unggul di Indonesia sebagai berikut :
1. Bima Brebes
Varietas lokal asal Brebes ini sudah bisa dipanen pada umur 60 hari setelah tanam, jumlah produksinya tergolong tinggi, yakni mencapai 10 ton/ha umbi
kering dengan susut bobot umbi 22% dari bobot panen basah. Daunnya berwarna hijau, berbentuk silindris, dan berlubang. Umbinya berwarna merah muda, berbentuk lonjong, dan bercincin kecil pada leher cakramnya. Bima brebes resisten terhadap penyakit busuk daun (Phytophtora porii). Daerah penanamannya lebih cocok di dataran rendah (Rahayu dan Nur, 1999).
2. Sumenep
Varietas bawang merah ini berasal dari Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur.
Bawang merah Sumenep cocok ditanam di dataran rendah dengan ketinggian 500-700 m dpl dan suhu udara 20-250C. Bawang merah sumenep mempunyai daun yang lebih besar dan kaku daripada jenis bawang merah lainnya. Panen dapat dilakukan pada umur 70 hari. Varietas ini jarang berbunga terutama bila ditanam di daerah dataran tinggi.
3. Ampenan
Dari namanya kita dapat mengetahui bahwa varietas bawang merah ini berasal dari daerah Ampenan, Lombok, Nusa Tenggara Barat merupakan sentra bawang merah yang penting di Indonesia. Varietas ini cocok ditanam di daerah dataran rendah dan hanya cocok ditanam di musim kemarau karena sangat peka terhadap hujan. Produktivitas varietas ini mencapai 7 ton per hektar panen dapat dilakukan pada umur 70 hari. Bawang merah Ampenan termasuk jenis bawang merah yang cukup banyak ditanam masyarakat Indonesia (Kaleka, 2016).
4. Medan
Bawang merah medan merupakan bawang merah lokal yang cocok ditanam di segala musim. Produktivitas bawang merah ini sekitar tujuh ton per hektar.
Bawang merah medan dapat dipanen setelah tanaman berumur 80 hari. Bawang merah ini berwarna merah dan berbentuk meruncing.
5. Varietas Impor
Varietas impor yang sudah ditanam di Indonesia adalah Bangkok, Filipina, dan Australia. Bawang merah impor dipanen tidak jauh berbeda dengan varietas lokal, yaitu 60-70 hari setelah tanam. Akan tetapi dalam budidayanya perlu penanganan yang lebih hati-hati karena tanaman masih memerlukan adaptasi dengan kondisi ekologis di sekitarnya (Rahayu dan Nur, 1999).
Varietas ini umumnya memiliki sifat-sifat yang lebih unggul dibanding varietas lokal. Beberapa keunggulan varietas bawang merah impor yaitu :
- Memiliki bentuk umbi yang bulat dan berukuran besar dengan warna merah memikat,
- Jumlah anakan umbi banyak, lebih dari 10 anakan,
- Hasil produksinya lebih tinggi, rata-rata mencapai 15 ton umbi kering per hektar,
- Daya simpan lebih tinggi, serta
- Nilai penyusutan dalam pemasaran (ekspor) lebih kecil, sekitar 10% (varietas lokal mencapai 15%).
Menurut Redaksi Agromedia (2011) kebijakan pemerintah yang menerapkan tarif rendah terhadap impor bawang menjadi salah satu risiko dalam beragrobisnis bawang. Harga bawang impor yang relatif lebih murah dari pada harga bawang lokal, serta mutu dan penampakan fisik yang jauh lebih bagus, cerah dan lebih
besar dibandingkan bawang lokal membuat konsumen lebih tertarik membeli bawang impor.
Dengan adanya kondisi dan kebijakan pemerintah tersebut, bawang produksi dalam negeri menjadi terdesak dan kalah bersaing. Karena itu perlu dilakukan perbaikan terhadap kondisi bawang di Indonesia dengan beberapa cara sebagai berikut :
1. Penyediaan benih varietas unggul bawang berkualitas impor untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan bawang impor.
2. Pengembangan industri benih bawang merah dalam rangka menjaga kontinuitas pasokan benih bermutu.
3. Pengolahan pascapanen dengan mengembangkan diversifikasi produk bawang.
2.2. Landasan Teori 2.2.1. Usahatani
Ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Dikatakan efektif bila petani atau produsen dapat mengalokasikan sumber daya yang mereka miliki (yang dikuasai) sebaik-baiknya. Dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumber daya tersebut menghasilkan keluaran (output) yang melebihi masukan (input) (Soekartawi, 1995).
Sedangkan menurut Kadarsan dalam Shinta (2011), Usahatani adalah suatu tempat dimana seseorang atau sekumpulan orang berusaha mengelola unsur-unsur
produksi seperti alam, tenaga kerja, modal dan ketrampilan dengan tujuan berproduksi untuk menghasilkan sesuatu di lapangan pertanian.
Mempelajari usahatani merupakan salah satu cara untuk melihat, menafsirkan, menganalisa, memikirkan dan berbuat sesuatu (penyuluhan, penelitian, kunjungan, kebijakan dll) untuk keluarga tani dan penduduk desa yang lain sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan keluarganya. Kesulitan utama dalam menganalisis perekonomian rumah tangga tani di negara berkembang seperti Indonesia karena sifat dwifungsinya : produksi dan konsumsi yang kadang tidak terpisahkan, serta kuatnya peranan desa sebagai unit organisasi sosial dan perekonomian (Shinta, 2011).
2.2.1.1. Biaya
Dalam usaha tani biaya diklarifikasikan menjadi dua, yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Biaya tetap ini umumnya didefenisikan sebagai biaya yang relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak maupun sedikit. Jadi besarnya biaya tetap tidak tergantung pada besar kecilnya produksi yang diperoleh. Misalnya biaya pajak yang akan tetap dibayar walaupun usahatani itu besar atau gagal sekalipun.
Di sisi lain biaya tidak tetap atau biaya variabel biasanya didefinisikan sebagai biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. Contohnya biaya untuk sarana produksi. Kalau menginginkan produksi yang tinggi, maka tenaga kerja perlu ditambah, pupuk juga perlu ditambah dan sebagainya, sehingga biaya ini sifatnya berubah-ubah tergantung dari besar kecilnya produksi yang diinginkan (Soekartawi, 1995).
Karena total biaya (TC) adalah jumlah dari biaya tetap (FC) dan biaya variabel (VC) maka :
TC = FC + VC Keterangan :
TC : Total cost (biaya total) FC : Fix cost (biaya tetap)
VC : Variable cost (biaya variabel)
2.2.1.2. Penerimaan
Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Pernyataan ini dapat dituliskan sebagai berikut (Soekartawi, 1995).
TR = Y . Py Keterangan
TR : Total Revenue (penerimaan total) Y : Hasil Produksi
Py : Harga Y
Beberapa istilah yang sering digunakan dalam melihat penerimaan usahatani adalah
1. Penerimaan Tunai Usahatani (farm receipt), yang didefinisikan sebagai nilai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani. Penerimaan tunai tidak mencakup yang berupa benda. Sehingga, nilai produk usahatani yang dikonsumsi tidak dihitung sebagai penerimaan tunai usahatani. Penerimaan tunai usahatani yang tidak berasal dari penjualan produk usahatani seperti pinjaman tunai, harus ditambahkan.
2. Tunai Luar Usahatani, yang berarti penerimaaan yang diperoleh dari luar aktivitas usahatani seperti upah yang diperoleh dari luar usahatani.
3. Penerimaan Kotor Usahatani (gross return), yang didefenisikan sebagi penerimaan dalam jangka waktu (biasanya satu tahun atau satu musim), baik yang dijual (tunai) maupun yang tidak dijual (tidak tunai seperti konsumsi keluarga, bibit, pakan, ternak). Penerimaan kotor juga sama dengan pendapatan kotor atau nilai produksi (Soekartawi dkk, 1986).
2.2.1.3. Pendapatan
Pedapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya. Maka : (Soekartawi, 1995).
Π = TR – TC Keterangan :
Π : Pendapatan Usahatani TR : Total Penerimaan TC : Total Biaya
Dijelaskan oleh Soekartawi dkk (1986) bahwa selisih antara penerimaan tunai usahatani dan pengeluaran tunai usahatani disebut pendapatan tunai usahatani (farm net cash flow) dan merupakan ukuran kemampuan usahatani untuk menghasilkan uang tunai. Pendapatan usahatani dibedakan menjadi pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total. Dimana pendapatan atas biaya tunai merupakan pendapatan yang diperoleh atas biaya-biaya yang benar-benar dikeluarkan oleh petani, sedangkan pendapatan atas biaya total merupakan pendapatan setelah dikurangi biaya tunai dan biaya diperhitungkan.
2.2.1.4. Kelayakan Usahatani
Keputusan untuk menanamkan modal merupakan tindakan yang mempunyai konsekuensi besar dalam suatu kegiatan investasi karena modal merupakan salah satu faktor produksi yang langka sehingga di dalam usaha untuk memiliki, menguasai dan menggunakannya harus ditangani secara ekonomis. Analisis kelayakan investasi dalam kegiatan investasi pada suatu proyek perlu dilakukan (Shinta, 2011). Menurut Soetrisno dalam Shinta (2011) menyatakan bahwa studi kelayakan usahatani adalah suatu studi apakah suatu proyek apabila dilaksanakan dapat berjalan dan berkembang sesuai dengan tujuannya atau tidak. Kelayakan usaha dapat diketahui dengan menggunakan beberapa kriteria umum dikenal sebagai berikut : R/C, B/C dan BEP.
R/C adalah singkatan dari return cost ratio, atau dikenal sebagai perbandingan atau nisbah antara penerimaan dan biaya. R/C bertujuan untuk mengetahui sejauh mana hasil yang diperoleh dari usaha yang menguntungkan pada periode tertentu atau untuk melihat keuntungan relative. Secara matematika dapat dituliskan sebagai berikut (Soekartawi, 1994).
R/C =
Keterangan : R = Penerimaan C = Biaya
Kriteria Penilaian :
R/C > 1, berarti usaha sudah dijalankan secara efisien.
R/C = 1, berarti usaha yang dijalankan dalam kondisi titik impas/Break Event Point (BEP).
R/C < 1, usaha tidak menguntungkan dan tidak layak.
( Soekartawi, 1994)
B/C ratio (Benefit/Cost Ratio) adalah penilaian yang dilakukan untuk melihat tingkat efisiensi penggunaan biaya berupa perbandingan jumlah nilai bersih sekarang yang positif dengan jumlah nilai bersih sekarang yang negative (Gray dalam Shinta, 2011). B/C bertujuan untuk melihat berapa besar manfaat yang diperoleh dari biaya yang dikeluarkan.
B/C =
Keterangan : B = Pendapatan C = Biaya
Kriteria Penilaian :
B/C > 1, berarti manfaat yang diperoleh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan sehingga suatu proyek layak dan efisien untuk dilaksanakan.
B/C < 1, berarti manfaat yang diperoleh tidak cukup untuk menutupi biaya yang dikeluarkan sehingga proyek tidak layak dan efisien untuk dilaksanakan.
(Shinta, 2011).
Analisis break even adalah suatu teknik analisis untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan (Riyanto dalam Shinta, 2011). Analisis Break Event Point dalam perencanaan keuntungan merupakan suatu pendekatan perencanaan keuntungan yang
mendasarkan pada hubungan antara cost (biaya) dengan revenue (penghasilan penjualan) (Shinta, 2011). Yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
a. BEP Produksi
BEP =
Keterangan :
BEP = Break even point FC = Total cost (biaya total) P = Price per kg (harga per kg)
b. BEP Harga
BEP =
Keterangan :
BEP = Break even point TC = Total cost (biaya total)
Q = Quantity (jumlah barang (kg))
2.2.2. Risiko Usahatani
Usahatani adalah suatu organisasi produksi dimana petani sebagai usahawan yang mengorganisir lahan atau tanah, tenaga kerja dan modal yang ditujukan pada produksi dalam lapangan pertanian, bisa berdasarkan pada pencarian pendapatan maupun tidak. Sebagai usahawan, dimana petani berhadapan dengan berbagai permasalahan yang perlu segera diputuskan (Shinta, 2011). Salah satu masalah dalam dunia usahatani adalah risiko dalam usahatani itu sendiri.
Menurut Kasidi (2010), risiko adalah kemungkinan terjadinya penyimpangan dari harapan yang dapat menimbulkan kerugian. Risiko tidak cukup dihindari, tetapi harus dihadapi dengan cara-cara yang dapat memperkecil kemungkinan terjadinya suatu kerugian. Risiko dapat datang setiap saat, agar risiko tidak menghalangi kegiatan, maka risiko harus dikelola secara baik.
Risiko secara umum dapat dikelompokkan menjadi :
1. Risiko Spekulatif, adalah risiko yang mengandung dua kemungkinan yaitu kemungkinan yang menguntungkan atau kemungkinan yang merugikan. Risiko ini biasanya berkaitan dengan risiko usaha atau bisnis.
2. Risiko Murni, adalah risiko yang hanya mengandung satu kemungkinan yaitu kemungkinan rugi saja.
Menurut Kasidi (2010) sumber risiko dapat diklasifikasikan menjadi :
1. Risiko sosial. Sumber utama risiko ini adalah masyarakat. Artinya, tindakan orang-orang menciptakan kejadian yang menyebabkan penyimpangan merugikan
2. Risiko fisik. Ada banyak sumber risiko fisik, sebagian merupakan fenomena alam dan seagian karena tingkah laku manusia.
3. Risiko ekonomi. Banyak risiko yang dihadapi oleh manusia itu bersifat ekonomi, misalnya : inflasi, resesi, fluktuasi harga dan lain-lain.
Sumber ketidakpastian yang penting di sektor pertanian adalah adanya fluktuasi hasil pertanian dan fluktuasi harga (Soekartawi, 1993). Sebagai contoh, ketidakpastian akibat fluktuasi hasil pertanian dalam agribisnis kedelai disebabkan faktor alam seperti hama dan penyakit, curah hujan yang deras pada saat panen.
Sedangkan ketidakpastian akibat fluktuasi harga disebabkan oleh ketergantungan harga kedelai lokal terhadap kedelai impor yang terus mengalami perubahan (Shinta, 2011).
Sikap petani terhadap resiko berpengaruh terhadap pengambilan keputusan dalam mengalokasikan faktor-faktor produksi yaitu apabila petani berani menanggung resiko maka akan lebih optimal dalam mengalokasikan faktor produksi sehingga efisiensi juga lebih tinggi (Shinta, 2011).
Pentingnya sektor pertanian dalam konteks ekonomi Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Walaupun kontribusi sektor pertanian terhadap produk domestic bruto (PDB) terus menurun secara relatif, namun nilai absolutnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Pentingnya sektor pertanian juga bukan saja karena kontribusinya terhadap PDB tetapi juga masih mampunya sektor pertanian ini terhadap penyerapan tenaga kerja.
Mengembangkan sektor pertanian yang berpotensi dan yang mempunyai keunggulan komparatif adalah tidak mudah karena dalam banyak kenyataan pengembangan sektor pertanian dihadapkan pada masalah risiko (risk) dan ketidakpastian (uncertainty). Masalah iklim seperti musim kemarau panjang, hujan tidak menentu, masalah serangan hama dan penyakit tanaman yang sulit diduga sebelumnya, masalah bencana alam banjir, gempa dan gunung berapi, masalah kekurangan air irigasi atau air hujan atau masalah yang lain adalah contoh betapa kehidupan tanaman itu sebenarnya tunduk pada aspek risiko dan ketidakpastian (Soekartawi, dkk, 1993).
Dikatakan “risiko” (risk) bila kita tidak mengetahui berapa besarnya peluang terjadinya risiko tersebut. Bila tahun depan dikatakan akan ada musim kemarau panjang, sehingga taksiran produksi menurun 30%, maka secara tidak langsung peluang terhadap besarnya risiko adalah 30% atau 0,3. Jadi peluang terjadinya risiko adalah 0,3 yang dapat diartikan bahwa bila petani tetap akan menanam padi maka mereka mengetahui dan sadar kalau produksi yangakan diperoleh adalah akan berkurang sebesar 30%.
Risiko dan ketidakpastian dalam usaha pertanian atau agribisnis sering datang bersama-sama karena memang suitnya kejadian yang dapat dicari besarnya suatu kejadian atau mana yang tidak dapat dicari. Oleh karena itu, dalam banyak
literatur risiko dan ketidakpastian selalu dibahas bersamaan (Soekartawi, dkk, 1993).
Menurut Ichsa dalam Shinta (2011), untuk menganalisis risiko yang dialami dalam usahatani, dapat dilakukan melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif.
Pendekatan kualitatif lebih berdasarkan pada penelitian subjektif dari pengambilan keputusan. Sedangkan pendekatan kuantitatif dapat dihitung dengan menggunakan nilai hasil yang diharapkan sebagai indikator probabilitas dari investasi dan ukuran ragam (variance) dan simpangan baku (standart deiviation) sebagai indikator risikonya.
Pengetahuan tentang hubungan antara risiko dengan pendapatan merupakan bagian yang penting dalam pengelolaan usahatani. Hubungan ini biasanya diukur dengan koefisien variasi dan batas bawah. koefisien variasi atau tingkat resiko terendah merupakan perbandingan antara risiko yang harus ditanggung oleh petani
dengan jumlah pendapatan yang akan diperoleh sebagai hasil dari sejumlah modal yang ditanamkan dalam proses produksi, koefisien variasi dapat juga digunakan untuk memilih alternatif yang memberikan risiko paling sedikit dalam mengharapkan suatu hasil (Kadarsa dalam Shinta, 2011).
Menurut Salvatore (2005), distribusi yang mengandung nilai yang diperkirakan atau rata-rata terbesar sangat mungkin memiliki deviasi standar yang lebih besar (ukuran sebaran absolut) tetapi tidak selalu memiliki dispersi (tingkat sebaran) relatif terbesar. Untuk mengukur dispersi relatif menggunakan koefisien variasi.
Koefisien variasi merupakan dari suatu distribusi dibagi dengan nilai yang diperkirakan atau rata-ratanya.
2.3. Penelitian Terdahulu
Anjelina Putri, Ratna Komala Dewi, dan I Dewa Ayu Sri Yudharidesa (2018), meneliti Analisis Risiko Produksi Bawang Merah di Desa Songan B, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Desa Songan B memiliki kelompok tani yang tersebar dari dataran rendah ke dataran tinggi. Masalah yang dihadapi berada pada fluktuasi produktivitas bawang yang menunjukkan bahwa pertanian bawang menghadapi risiko produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis- jenis risiko dan menganalisis risiko produksi bawang merah. Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil menunjukkan bahwa jenis risiko produksi yang dihadapi dalam pertanian bawang merah di dataran tinggi dan daerah dataran rendah di desa Songan B, yaitu kondisi iklim, hama, dan serangan penyakit. Risiko produksi bawang merah di daerah dataran tinggi (KV = 3.09) dan daerah dataran rendah (KV = 2,46) relatif tinggi, di mana tingkat risiko
rendah. Ini karena untuk produksi yang diharapkan, varian, dan standar deviasi produktivitas bawang merah di daerah dataran tinggi lebih besar daripada di daerah bawah. Saran yang bisa diberikan dalam penelitian ini adalah bahwa petani perlu mengenali jenis risiko produksi yang dihadapi untuk mengantisipasi penurunan produksi.
Marfin Lawalata, Dwidjono Hadi Darwanto, Slamet Hartono (2017), meneliti Risiko Usahatani Bawang Merah di Kabupaten Bantul. Penelitian ini bertujuan mengukur risiko produksi dan risiko pendapatan usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan mengetahui perilaku petani terhadap risiko usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dilakukan terhadap 60 petani bawang merah di Kabupaten Bantul. Metode penelitian yang digunakan untuk mengukur risiko produksi dan pendapatan menggunakan nilai koefisien variasi (CV), dan perilaku petani terhadap risiko menggunakan metode Moscardi dan de Janvry. Selanjutnya menggunakan analisis regresi Ordinary Least Squares (OLS) untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku petani terhadap risiko usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko produksi sebesar 0,8518 (85,18%) dan risiko pendapatan sebesar 1,2416 (124,16 %). Petani bawang merah di Kabupaten Bantul mayoritas memiliki perilaku menolak risiko sebanyak 44 petani (73,33%) walaupun usahatani bawang merah berisiko. Umur petani, pendidikan, pendapatan usahatani bawang merah dan pendapatan luar usahatani bawang merah siginifikan dan mempengaruhi perilaku petani terhadap risiko.
Muhammad Maftukin, Dewi Hastuti, Endah Subekti (2015) meneliti Analisis Kelayakan Pembenihan Umbi Bawang Merah (Studi Kasus di Penangkar Benih Sentani Desa Kelompok Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan penyemaian umbi bawang merah dilihat dari BEP, NPV, IRR di Sentani Seed Breeder. teknik penentuan lokasi menggunakan purposive, data dikumpulkan dengan teknik sensus. Daerah sampel diambil Desa Klampok. Jumlah responden sebanyak 20 orang dari Grup Sentani Pembibitan Bibit. hasil penelitian menunjukkan dari rata-rata biaya investasi Rp.
12.042.225, - dengan biaya operasi rata-rata setiap produksi Rp. 15.575.721, - dan pendapatan rata-rata Rp. 30.190.752, - / produksi sedangkan penghasilan rata-rata Rp. 14.615.031, - / produksi. Jumlah rata-rata produksi responden adalah 1.776 kg / produksi. Jumlah rata-rata produksi per hektar (Ha) sebesar 5.523,36 kg. Harga rata-rata jual benih sebesar Rp. 17.121 /kg. Pendapatan rata-rata per hektar (Ha) sebesar Rp. 45.452.746,4. Rata-rata perhitungan BEP produksi adalah 648 kg / produksi. Ini berarti bahwa produksi telah melebihi BEP. Level SOCC 19%
menghasilkan nilai NPV positif sebesar Rp. 36.288.145,27, - dan IRR sebesar 85,79%. Berdasarkan ketiga analisis tersebut, usaha pembibitan umbi bawang merah di Pemulia Benih Sentani layak untuk dibudidayakan.
2.4. Kerangka Pemikiran
Dalam melakukan usaha pembenihan bawang merah petani harus memperhatikan setiap proses produksi dimana setiap prosesnya memerlukan biaya produksi yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap (biaya variabel). Dengan biaya produksi maka suatu usahatani dapat dijalankan. Dari usahatani yang dijalankan akan menghasilkan suatu produk pertanian. Produksi yang dihasilkan dari usahatani
dikali dengan harga penjualan akan menghasilkan penerimaan. Dimana jika penerimaan tersebut dikurangi dengan biaya produksi maka akan menghasilkan pendapatan bagi para petani.
Penerimaan yang diterima petani merupakan pendapatan kotor. Sedangkan penerimaan yang sudah dikurangi biaya produksi merupakan pendapatan bersih yang diterima oleh petani.
Pada usahatani memiliki ketentuan apakah usahatani tersebut layak atau tidak layak untuk dilakukan. Untuk menganalisis kelayakan suatu usahatani dapat menggunakan R/C, B/C dan BEP. Jika suatu usahatani dikatakan layak maka usahatani tersebut dapat dijalankan untuk jangka waktu yang cukup lama.
Pada proses usahatani juga terdapat risiko yang tidak pasti. Risiko yang mempengaruhi diantaranya risiko produksi, risiko harga, dan risiko pendapatan.
Maka untuk menganalisis risiko tersebut digunakan antara lain analisis ragam (variance), analisis koefisien variasi dan analisis batas bawah hasil tertinggi.
Analisis risiko ini dilakukan untuk melihat seberapa besar peluang terjadinya kerugian.
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Keterangan :
= Mempengaruhi
Usahatani
Pembenihan Bawang Merah
Biaya Produksi
Penerimaan
Pendapatan
Analisis Risiko : - Risiko Produksi - Risiko Harga - Risiko
Pendapatan Analisis
Kelayakan
2.5. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah dan landasan teori yang telah disebutkan di atas, maka hipotesis dari penelitian ini adalah :
1. Diduga produksi, harga dan pendapatan usaha pembenihan bawang merah tergolong tinggi
2. Diduga usaha pembenihan bawang merah layak untuk dilakukan
3. Diduga risiko pendapatan lebih besar di bandingkan risiko produksi dan harga pada usaha pembenihan bawang merah
3.1. Metode Penentuan Daerah Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Sumatera Utara yang merupakan salah satu kecamatan sentra produksi sayuran di kota Medan. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive atau sengaja yang diambil dengan pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan penelitian. Adapun pertimbangan penentuan daerah penelitian karena kecamatan tersebut adalah kecamatan yang memproduksi bawang merah terbanyak di Kota Medan pada tahun 2017.
Tabel 3.1. Produksi Bawang Merah (Ton) per Kecamatan di Kota Medan Tahun 2017
No Kecamatan Produksi (Ton)
1 Medan Tuntungan 0,9
2 Medan Selayang 0,9
3 Medan Deli 0,3
4 Medan Labuhan 3,5
4 Medan Marelan 20
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Medan, 2018
3.2. Metode Penentuan Responden
Populasi dalam penelitian ini adalah petani yang mengusahakan pembenihan bawang merah di Kecamatan Medan Marelan. Jumlah populasi yang mengusahakan pembenihan bawang merah sebesar 30 orang. Pengambilan responden untuk penelitian ini dilakukan secara sensus artinya seluruh populasi petani yang melakukan usaha pembenihan bawang merah di Kecamatan Medan Marelan dijadikan responden. Dengan demikian besar responden yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 30 orang.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara secara langsung kepada responden yakni petani yang melakukan usaha pembenihan bawang merah di Kecamatan Medan Marelan dengan menggunakan daftar kuesioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Adapun data sekunder diperoleh melalui instansi dan dinas terkait seperti Badan Pusat Statiska (BSP) dan Kantor Camat.
3.4 Metode Analisis Data
Identifikasi masalah 1 diuji dengan analisis deskriptif untuk melihat kondisi produksi dan harga, dan menggunakan analisis pendapatan usahatani untuk meneliti seberapa besar biaya, penerimaan dan pendapatan usaha pembenihan bawang merah di daerah penelitian. Dengan menggunakan rumus :
TC = FC + VC Keterangan :
TC : Total Cost (biaya total) FC : Fix Cost (biaya tetap)
VC : Variable Cost (biaya variabel)
TR = Y . Py Keterangan
TR : Total Revenue (penerimaan total) Y : Hasil Produksi
Py : Harga Y
Π = TR – TC
Keterangan :
Π : Pendapatan Usahatani TR : Total Penerimaan TC : Total Biaya
Identifikasi masalah 2, diuji dengan analisis kelayakan. Yaitu untuk menganalisis apakah usaha pembenihan bawang merah layak atau tidak layak untuk diusahakan. Dengan menggunakan :
1. R/C
R/C =
Keterangan : R = Penerimaan C = Biaya
Kriteria Penilaian :
R/C > 1, maka usaha sudah dijalankan secara efisien dan layak.
R/C = 1, maka usaha yang dijalankan dalam kondisi titik impas/Break Event Point (BEP).
R/C < 1, maka usaha tidak menguntungkan dan tidak layak.
( Soekartawi, 1994).
2. B/C
B/C = Keterangan :
B = Pendapatan
C = Biaya
Kriteria Penilaian :
B/C > 1, berarti manfaat yang diperoleh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan sehingga suatu proyek layak dan efisien untuk dilaksanakan.
B/C < 1, berarti manfaat yang diperoleh tidak cukup untuk menutupi biaya yang dikeluarkan sehingga proyek tidak layak dan efisien untuk dilaksanakan.
(Shinta, 2011).
Analisis Break Even Point adalah suatu teknik analisis untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan.
Yang dapat dirumuskan sebagai berikut : a. BEP Produksi
BEP =
Keterangan :
BEP = Break Even Point TC = Total cost (biaya total) P = Price per kg (harga per kg)
b. BEP Harga
BEP =
Keterangan :
BEP = Break Even Point TC = Total cost (biaya total) Q = Quantity (jumlah barang (kg)
Identifikasi masalah 3, diuji dengan analisis risiko. Untuk menganalisis risiko produksi, risiko harga dan risiko pendapatan dapat dihitung dengan cara :
1. Ragam
Menurut Ichsa dalam Shinta (2011), untuk mengukur penyebaran risiko yang menggunakan pendekatan kuantitatif dapat dihitung dengan menggunakan nilai hasil yang diharapkan sebagai indikator probabilitas dari investasi dan ukuran ragam (variance) dan simpangan baku (standart deiviation) sebagai indikator resikonya. Ragam dapat dihitung dengan rumus :
Vα2 = ∑
Keterangan :
Vα2 = Ragam (Variance)
Q = Hasil Produksi (Kg/Ha)/Harga (Rp/Kg)/Pendapatan (Rp/Ha)
Qi = Hasil Produksi Rata – Rata (Kg/Ha)/Harga Rata-Rata (Rp/Kg)/
Pendapatan Rata-Rata (Rp/Ha) n = Jumlah Sampel Petani
Simpangan baku (standard deviation) dapat dihitung dengan rumus : Vα = √
Semakin tinggi nilai ragam (Vα2) dan simpangan baku (Vα) , maka semakin
tinggi pula tingkat risiko. Ragam dan simpangan baku digunakan untuk mengukur risiko produksi, harga dan pendapatan.
2. Koefisien Variasi (KV)
Menurut Kadarsa dalam Shinta (2011), koefisien variasi atau tingkat resiko terendah merupakan perbandingan antara resiko yang harus ditanggung oleh petani dengan jumlah pendapatan yang akan diperoleh sebagai hasil dari sejumlah modal yang ditanamkan dalam proses produksi. Koefisien variasi merupakan ukuran risiko relatif yang diperoleh dari suatu usahatani. Semakin tinggi nilai koefisien variasi maka semakin tinggi risiko pada suatu usahatani, begitupun sebaliknya. Sehingga dapat dikatakan usahatani yang memiliki koefisien variasi yang paling tinggi adalah usahatani yang paling berisiko.
Kriteria koefisien variasi :
Nilai koefisien variasi (KV) < 1, maka usahatani memiliki risiko yang kecil Nilai koefisien variasi (KV) > 1, maka usahatani memiliki risiko yang besar (Fauziah, 2011).
KV =
Keterangan :
KV = Koefisien Variasi V = Simpangan Baku
Qi = Hasil Produksi Rata – Rata (Kg/Ha)/Harga Rata-Rata (Rp/Kg)/
Pendapatan Rata-Rata (Rp/Ha)
3. Batas Bawah Hasil Tertinggi (L)
Batas bawah hasil tertinggi atau batas atas pendapatan menurut Hernanto dalam Shinta (2011), adalah menunjukkan nilai nominal pendapatan terendah yang mungkin diterima oleh petani. Apabila nilainya kurang dari nol, maka
kemungkinan besar akan mengalami kerugian. Batas bawah hasil tertinggi dapat dihitung dengan rumus :
L = Qi – 2Vα Keterangan :
L = Batas Bawah Hasil Tertinggi
Qi = Hasil Produksi Rata – Rata (Kg/Ha)/Harga Rata-Rata (Rp/Kg)/
Pendapatan Rata-Rata (Rp/Ha) Vα = Simpangan Baku
3.5.Definisi Operasional dan Batasan Operasional 3.5.1. Definisi
1. Usaha pembenihan bawang merah adalah suatu usaha mengolah tanah untuk ditanami bawang merah kemudian hasilnya akan dijual.
2. TC (total cost) atau biaya total adalah total biaya yang harus dibayarkan selama proses usahatani berlangsung.
3. FC (fixed cost) atau biaya tetap adalah biaya usahatani per musim tanam yang besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh produksi.
4. VC (variable cost) atau biaya tidak tetap adalah biaya usahatani per musim tanam yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi.
5. Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan selama proses usahatan berlangsung.
6. Produksi merupakan hasil akhir yang diperoleh dari usahatani.
7. Harga adalah satuan nilai yang diberikan pada suatu komoditi.
8. Penerimaan adalah pendapatan kotor yang diterima petani yang diperoleh dari perkalian antara total produksi dengan harga pada saat itu.
9. Pendapatan adalah selisih dari total penerimaan dengan seluruh biaya yang di keluarkan oleh petani.
10. Kelayakan adalah suatu penilaian apakah suatu usahatani dapat dilanjutkan atau tidak.
11. Risiko adalah bahaya, akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang.
12. Risiko produksi adalah akibat oleh adanya ketergantungan aktivitas pertanian pada alam dimana pengaruh buruk alam telah banyak mempengaruhi total hasil panen pertanian.
13. Risiko harga adalah adanya perubahan harga jual benih bawang merah yang di akibatkan perubahan jumlah produksi.
14. Risiko pendapatan adalah akibat dari banyaknya biaya produksi yang dikeluarkan namun, hasil produksi tidak efisien.
3.5.2. Batasan Operasional
1. Daerah penelitian adalah Kecamatan Medan Marelan.
2. Sampel penelitian adalah petani yang mengusahakan pembenihan bawang merah di Kecamatan Medan Marelan.
3. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2019.
DAN KARAKTERISTIK PETANI RESPONDEN
4.1. Deskripsi Daerah Penelitian
4.1.1. Letak Geografis, Batas dan Luas Wilayah
Daerah penelitian dilakukan di Kecamatan Medan Marelan. kecamatan Medan Marelan merupakan salah satu Kecamatan di Kota Medan yang mempunyai luas sekitar 44,47 km2 dengan ketinggian wilayah 5 meter di atas permukaan laut.
Jarak kantor kecamatan ke kantor walikota Medan yaitu sekitar 22 km.
Kecamatan Medan Marelan terdiri dari 5 kelurahan yaitu Kelurahan Tanah Enam Ratus, Kelurahan Rengas Pulau, Kelurahan Terjun, Kelurahan Paya Pasir, Kelurahan Labuuhan Deli. Dari 5 kelurahan di Kecamatan Medan Marelan, Kelurahan Terjun memiliki luas wilayah yang terluas yaitu sebesar 16,05 km2 sedangkan Kelurahan Tanah Enam Ratus mempunyai luas terkecil yakni 3,42 km2. Ditinjau dari jarak antara kantor kelurahan dan kantor kecamatan, kantor Kelurahan Labuhan Deli memiliki jarak terjauh dari kantor Kecamatan Medan Marelan yaitu sekitar 4 km sedangkan kantor kelurahan yang terdekat yaitu Kelurahan Terjun. Berdasarkan letak geografisnya, Kecamatan Medan Marelan memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Medan Belawan.
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang.
3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang.
4. Sebelah Timur berbatasan dengan Medan Belawan.
4.1.2. Keadaan Penduduk
Jumlah penduduk Kecamatan Medan Marelan tahun 2017 adalah sebanyak 169.342 jiwa yang terdiri dari 83.552 laki-laki dan 85.790 perempuan dengan kepadatan penduduk 3.808 jiwa per km. Jumlah rumah tangga di Kecamatan Medan Marelan adalah sebanyak 36.069 dengan rata-rata anggota rumah tangga sebanyak 5 jiwa. Tercatat sebanyak 370 penduduk yang lahir sepanjang tahun 2017 di Kecamatan Medan Marelan, sedangkan hanya 178 jiwa yang meninggal.
Sebagian besar warga Kecamatan Medan Marelan berprofesi sebagai pegawai swasta. Keadaan jumlah penduduk menurut Kelurahan dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.1. Jumlah Penduduk, Rumah Tangga, Rata-Rata Anggota Rumah Tangga, Luas Kelurahan, dan Kepadatan Penduduk per km2 Menurut Kelurahan di Kecamatan Medan Marelan Tahun 2017 No. Kelurahan
Jumlah Penduduk
(Jiwa)
Rumah Tangga
Rata-rata Anggota
RT
Luas Wilayah
(Km2)
Kepadatan Penduduk
Per Km2 1 Tanah
Enam Ratus
34.125 7.334 5 3,42 9.978
2 Rengas Pulau
64.226 13.877 5 10,50 6.116
3 Terjun 37.398 3.984 5 16,05 2.330
4 Paya Pasir 13.937 2.736 5 10,00 1.393
5 Labuhan Deli
19.656 4.138 5 4,50 4.368
Jumlah 169.342 36.069 25 44,47 24.185
Sumber : Kecamatan Medan Marelan Dalam Angka, 2018
Dari tabel 4.1 dapat dilihat jumlah penduduk terkecil ada di Kelurahan Paya Pasir yakni sebanyak 13.937 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 1.393 jiwa tiap km2 sedangkan penduduk terbanyak ada di Kelurahan Terjun yakni sebanyak 64.226 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 6.116 jiwa tiap km2. Bila dibandingkan antara jumlah penduduk serta luas wilayahnya, maka Kelurahan