4. HASIL DAN ANALISA PENELITIAN
4.1. Analisis Deskripsi
Data pada penelitian ini diperoleh dari hasil penyebaran 60 kuesioner yang merupakan manajer perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia. Pada bagian berikut akan dideskripsikan profil responden penelitian serta jawaban responden penelitian mengenai variabel-variabel penelitian.
4.1.1 Deskripsi Profil Responden
Deskripsi profil responden penelitian meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, dan lama bekerja pada manajer perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia yang menjadi responden pada penelitian ini, selanjutnya akan dijelaskan pada tabel-tabel di bawah ini:
Tabel 4.1
Deskripsi Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis kelamin Jumlah Prosentase (%)
Laki-laki 32 53,3
Perempuan 28 46,7
Total 60 100
Sumber: Lampiran 2
Berdasarkan Tabel 4.1 diatas diketahui bahwa responden laki-laki pada penelitian ini ada sebanyak 32 orang (53,3%) dan responden perempuan ada sebanyak 28 orang (46,7%). Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa mayoritas manajer perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia yang menjadi responden pada penelitian ini adalah laki-laki.
Tabel 4.2
Deskripsi Profil Responden Berdasarkan Usia Umur Frekuensi Prosentase 22 ≤ x < 27 tahun 16 26,7 27 ≤ x < 32 tahun 10 16,7 32 ≤ x < 37 tahun 18 30,0
≥ 37 tahun 16 26,7
Total 60 100
Sumber: Lampiran 2
Berdasarkan Tabel 4.2 diatas diketahui bahwa responden yang berusia antara 22 tahun hingga 27 tahun ada sebanyak 16 orang (26,7%), responden yang berusia antara 27 tahun hingga 32 tahun ada sebanyak 10 orang (16,7%), responden yang berusia antara 32 tahun hingga 37 tahun ada sebanyak 18 orang (30%) dan responden yang berusia diatas 37 tahun ada sebanyak 16 orang (26,7%). Disimpulkan dari hasil tersebut bahwa mayoritas manajer perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia yang menjadi responden pada penelitian ini berusia antara 32 hingga 37 tahun.
Tabel 4.3
Deskripsi Profil Responden Berdasarkan Pendidikan Pendidikan Jumlah Prosentase (%)
S1 60 100
Total 60 100
Sumber: Lampiran 2
Berdasarkan Tabel 4.7 diatas diketahui bahwa responden semuanya memiliki tingkat pendidikan terakhir S1 (100%), sehingga disimpulkan bahwa semua manajer perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia yang menjadi responden pada penelitian ini berpendidikan sarjana.
Tabel 4.4
Deskripsi Profil Responden Berdasarkan Lama Bekerja Lama Bekerja Frekuensi Prosentase
< 5 tahun 30 50,0
6 - 10 tahun 20 33,3
11 - 15 tahun 9 15,0
> 15 tahun 1 1,7
Total 60 100
Sumber: Lampiran 2
Berdasarkan Tabel 4.4 diatas diketahui bahwa responden yang telah bekerja kurang dari 5 tahun ada sebanyak 30 orang (50,0%), responden yang telah bekerja antara 6 tahun hingga 10 tahun ada sebanyak 20 orang (33,3%), responden yang telah bekerja antara 11 tahun hingga 15 tahun ada sebanyak 9 orang (15%) dan responden yang telah bekerja diatas 15 tahun ada sebanyak 1 orang (1,7%). Disimpulkan dari hasil tersebut bahwa mayoritas manajer perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia yang menjadi responden pada penelitian ini memiliki masa kerja kurang dari 5 tahun
4.1.2 Deskripsi Jawaban Responden
Pada bagian ini akan dijelaskan jawaban-jawaban responden mengenai variabel competitive advantage, strategic leadership, dan intellectual capital.
Deskripsi jawaban dilakukan dengan menghitung nilai rata-rata (mean) jawaban responden terhadap masing-masing pertanyaan dan secara keseluruhan. Untuk mengkategorikan rata-rata jawaban responden, peneliti menggunakan interval kelas yang dicari dengan rumus sebagai berikut:
8 , 5 0
1 5 Kelas
Jumlah
Terendah Nilai
Tertinggi Nilai
Kelas
Interval
4.1. Rumus interval kelas
Dengan interval kelas 0,8 kemudian disusun kriteria rata-rata jawaban responden yang disajikan pada Tabel di bawah ini:
Tabel 4.5
Kategori Rata-Rata Jawaban Responden
Interval Kategori
4,20 < a =< 5,00 Sangat Setuju (SS) 3,40 < a =< 4,20 Setuju (S) 2,60 < a =< 3,40 Netral (N) 1,80 < a =< 2,60 Tidak Setuju (TS) 1,00 < a =< 1,80 Sangat Tidak Setuju (STS)
Sumber: Hasil Perhitungan
Adapun deskripsi jawaban responden mengenai variabel competitive advantage, strategic leadership, dan intellectual capital dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Deskripsi Variabel Competitive Advantage
Berikut adalah deskripsi jawaban manajer perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia yang menjadi responden penelitian mengenai variabel competitive advantage:
Tabel 4.6
Deskripsi Jawaban Responden Mengenai Competitive Advantage
Indikator Item Keterangan STS TS N S SS Mean Std.
Deviasi
Price CA.1
Organisasi kami senantiasa menawarkan harga yang kompetitif dibandingkan
dengan pesaing.
0 0 35 6 19 3,73 0,92
Quality CA.2
Organisasi kami selalu menawarkan produk yang
berkualitas tinggi.
0 4 24 24 8 3,60 0,81
Delivery Dependa- bility
CA.3
Organisasikami selalu menyediakan produk atau
jasa kepada konsumen tepat waktu.
0 1 15 41 3 3,77 0,56
CA.4 Organisasi kami selalu 0 1 8 39 12 4,03 0,64
Indikator Item Keterangan STS TS N S SS Mean Std.
Deviasi memberikan barang kepada
konsumen sesuai dengan jumlah dan pesanan.
Product Innovation
CA.5
Organisasi kami selalu menyediakan produk atau
jasa yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan
pelanggan.
0 1 29 23 7 3,60 0,72
CA.6
Organisasi kami selalu melakukan inovasi produk
atau jasa seiring dengan perubahan pelangggan.
0 0 20 34 6 3,77 0,62
CA.7
Organisasi kami selalu menyediakan produk- produk atau jasa dengan
keunggulan (fitur) baru dibandingkan pesaing.
0 1 29 19 11 3,67 0,80
Time to Market
CA.8
Organisasi kami merupakan pelopor dalam
memperkenalkan produk atau jasa baru kepada
pelanggan.
0 9 18 26 7 3,52 0,89
CA.9
Organisasi kami bergerak cepat dalam perkembangan
produk atau jasa baru dibandingkan dengan
pesaing.
0 19 21 18 2 3,05 0,87
Sumber: Lampiran 2
Tabel 4.7
Deskripsi Indikator Variabel Competitive Advantage
Sumber: Lampiran 2
Secara keseluruhan variabel competitive advantage dari table 4.7 menghasilkan nilai rata-rata sebesar 3,639 dengan kategori setuju artinya perusahaan manufaktur yang menjadi obyek pada penelitian ini memiliki keunggulan bersaing yang baik. Pada masing-masing indikator akan dijelaskan bahwa indikator price memberikan rata-rata sebesar 3,733 yang mengindikasikan bahwa responden setuju perusahaan telah memberikan penawaran harga yang kompetitif kepada konsumen, indikator berikutnya adalah quality yang rata-ratanya sebesar 3,60 dimana responden setuju bahwa kualitas dan performa produk perusahaan mampu menciptakan nilai yang lebih tinggi kepada konsumen, indikator delivery dependability memiliki rata- rata yaitu 3,90 dimana responden juga setuju bahwa perusahaan mampu menyediakan tipe dan jumlah produk secara tepat waktu sesuai dengan yang diinginkan oleh konsumen, indikator product innovation menghasilkan rata-rata sebesar 3,676 dimana responden juga setuju bahwa perusahaan mampu mengenalkan produk baru dan fitur baru kepada pasar, sedangkan indikator time to market yang memiliki rata-rata sebesar 3,283 pada kategori netral dimana responden menilai kemampuan perusahaan dalam mengenalkan produk baru yang lebih cepat dibandingkan dengan pesaing masih dikatakan biasa saja.
Dari keseluruhan indikator pada variabel competitive advantage yang memiliki nilai mean terendah adalah time to market, sedangkan mean yang tertinggi pada variabel tersebut adalah delivery depandability.
b. Deskripsi Variabel Strategic Leadership
Berikut adalah deskripsi jawaban manajer perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia yang menjadi responden penelitian mengenai variabel strategic leadership:
Tabel 4.8
Deskripsi Jawaban Responden Mengenai Strategic Leadership
Indikator Item Keterangan STS TS N S SS Mean Std.
Deviasi
Determining strategic direction
SL.1
Dalam organisasi kami, manajemen puncak berperan signifikan dalam menentukan visi
organisasi.
0 1 7 37 15 4,10 0,66
Exploiting and maintaining
core competition
SL.2
Dalam organisasi kami, manajemen puncak berperan
signifikan mengidentifikasi, mengeksplorasi dan
menajamkan kompetensi utama
yang dimiliki perusahaan.
0 0 13 31 16 4,05 0,70
Developing human capital
SL.3
Dalam organisasi kami, manajemen puncak berperan
signifikan mengembangkan sumberdaya manusia
yang dimiliki perusahaan.
0 1 27 17 15 3,77 0,85
Substaining SL.4 Dalam organisasi 0 0 21 34 5 3,73 0,61
Indikator Item Keterangan STS TS N S SS Mean Std.
Deviasi an effective
corporate culture
kami, manajemen puncak berperan signifikan mendukung
budaya organisasi yang efektif.
Emphasising ethical practice
SL.5
Dalam organisasi kami, manajemen puncak berperan
signifikan memperhatikan praktek bisnis yang
beretika.
0 0 7 45 8 4,02 0,50
Establishing strategic
controls
SL.6
Dalam organisasi kami, manajemen puncak berperan signifikan dalam pencapaian tujuan organisasi dengan cara mengembangkan
pengendalian jangka panjang yang bersifat
strategik.
0 0 9 44 7 3,97 0,52
Sumber: Lampiran 2
Tabel 4.9
Deskripsi Indikator Variabel Strategic Leadership
Sumber: Lampiran 2
Secara keseluruhan variabel strategic leadership menghasilkan nilai rata-rata sebesar 3,939 dengan kategori setuju artinya responden menilai perusahaan manufaktur yang menjadi obyek pada penelitian ini memiliki strategic leadership yang baik. Pada masing-masing indikator akan dijelaskan bahwa indikator determining strategic direction memberikan rata-rata sebesar 4,10 yang mengindikasikan bahwa manajemen perusahaan memiliki fokus yang baik terhadap pengembangan visi jangka panjang, indikator berikutnya adalah exploiting and maintaining core competition yang rata-ratanya sebesar 4,050 mengindikasikan manajemen perusahaan mampu mengembangkan, memelihara dan memperkuat kompetensinya, indikator developing human capital memiliki rata-rata yaitu 3,767 yang perusahaan mampu mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan kerja karyawan, indikator substaining an effective corporate culture menghasilkan rata-rata sebesar 3,733 yang mengindikasikan manajemen memiliki fokus yang baik untuk memperbaiki nilai-nilai perusahaan dan tenaga kerja, indikator emphasising ethical practice yang memiliki rata-rata sebesar 4,017 pada kategori setuju mengindikasikan manajemen perusahaan memiliki peranan yang baik untuk memperhatikan praktek yang beretika, sedangkan indikator establishing strategic controls yang memiliki rata-rata sebesar 3,967 pada kategori setuju mengindikasikan manajemen puncak berperan baik dalam pencapaian tujuan perusahaan dengan cara mengembangkan pengendalian jangka panjang yang bersifat strategik.
Dari keseluruhan indikator pada variabel strategic leadership yang memiliki nilai mean terendah adalah substaining an effective corporate culture, sedangkan mean yang tertinggi pada variabel tersebut adalah determining strategic direction.
c. Deskripsi Variabel Intellectual Capital
Berikut adalah deskripsi jawaban manajer perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia yang menjadi responden penelitian mengenai variabel intellectual capital:
Tabel 4.10
Deskripsi Jawaban Responden Mengenai Intellectual Capital
Indikator Item Keterangan STS TS N S SS Mean Std.
Deviasi
Human capital IC.1
Karyawan kami sangat terampil dan
berbakat.
0 3 24 32 1 3,52 0,62
IC.2
Karyawan kami dikenal secara luas
sebagai salah satu yang terbaik dibandingkan dengan karyawan perusahaan
lain pada industri yang sejenis.
0 3 27 28 2 3,48 0,65
IC.3
Karyawan kami sangat kreatif dan
inovatif.
0 2 18 38 2 3,67 0,60
IC.4
Karyawan kami memiliki pengetahuan
dan keterampilan yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.
0 0 6 54 0 3,90 0,30
IC.5
Karyawan kami pada umumnya menggunakan ide dan
pengetahuan baru untuk memecahkan
masalah.
0 1 31 21 7 3,57 0,72
Social capital
IC.6
Karyawan kami terampil bekerjasama
antara satu dengan yang lain untuk mendeteksi dan memecahkan
masalah.
0 0 5 53 2 3,95 0,34
IC.7
Karyawan kami saling belajar dan berbagi
informasi dengan karyawan lain di
0 11 26 21 2 3,23 0,79
Indikator Item Keterangan STS TS N S SS Mean Std.
Deviasi dalam tim dan
departemen mereka masing-masing.
IC.8
Karyawan kami berinteraksi dan bertukar ide-ide dengan divisi dan departemen lainnya.
0 1 5 52 2 3,92 0,42
IC.9
Karyawan kami bekerjasama dengan pelanggan, pemasok,
dan mitra lainnya dalam mencari solusi.
0 0 20 37 3 3,72 0,56
IC.10
Karyawan kami menerapkan pengetahuan dari satu
area untuk mengangani masalah
dan peluang yang muncul pada area lain
dalam perusahaan.
0 1 33 23 3 3,47 0,62
Organisational capital
IC.11
Organisasi kami mendokumentasikan
pengetahuan yang dimiliki organisasi dalam bentuk laporan
resmi, studi kasus, dan paten.
0 0 17 38 5 3,80 0,58
IC.12
Banyak pengetahuan organisasi yang kami miliki dimasukan dalam bentuk manual
maupun data komputerisasi
(database).
0 0 8 45 7 3,98 0,50
IC.13
Organisasi kami memiliki Portal E-
learning atau E- knowledge dimana
semua karyawan
0 7 21 26 6 3,52 0,83
Indikator Item Keterangan STS TS N S SS Mean Std.
Deviasi dapat mengakses
pengetahuan yang sesuai dengan bidang
yang mereka butuhkan.
IC.14
Budaya organisasi kami merupakan cerminan dari cara kami menjalankan
bisnis.
0 2 7 50 1 3,83 0,49
IC.15
Perusahaan kami menanamkan banyak
pengetahuan dan informasi yang dimiliki pada struktur,
sistem, dan proses perusahaan.
0 3 30 21 6 3,50 0,75
Sumber: Lampiran 2
Tabel 4.11
Deskripsi Indikator Variabel Intellectual Capital
Sumber: Lampiran 2
Secara keseluruhan variabel intellectual capital menghasilkan nilai rata-rata sebesar 3,670 dengan kategori setuju artinya responden menilai perusahaan manufaktur yang menjadi obyek pada penelitian ini memiliki intellectual capital yang baik. Pada masing-masing indikator akan dijelaskan bahwa indikator human capital memberikan rata-rata sebesar 3,627 yang mengindikasikan karyawan mampu
melakukan inovasi dan penyelesaian tugasnya, indikator berikutnya adalah social capital yang rata-ratanya sebesar 3,657 yang mengindikasikan perusahaan mampu menjaga hubungan yang baik dengan mitra maupun dengan karyawan, sedangkan indikator organisational capital yang memiliki rata-rata sebesar 3,727 mengindikasikan perusahaan mampu memenuhi proses rutinitas dan strukturnya yang mendukung usaha karyawan untuk bekerja lebih maksimal.
Dari keseluruhan indikator pada variabel intellectual capital yang memiliki nilai mean terendah adalah human capital, sedangkan mean yang tertinggi pada variabel tersebut adalah organisational capital.
4.2. Analisis Partial Least Square
Untuk menguji hipotesis penelitian digunakan analisis Partial Least Square (PLS) dengan program Smart PLS. Gambar structural untuk memvisualisasikan hubungan antar variable-variabel penelitian ini disajikan pada gambar di bawah ini:
Gambar 4.1. Model Struktural PLS
Sumber: Lampiran 3
4.2.1 Evaluasi Outer Model (Model Pengukuran) a. Convergent Validity (Validitas Konvergen)
Evaluasi pertama pada outer model adalah convergent validity. Convergent validity diukur dengan melihat nilai outer loading dari masing-masing indikator.
Suatu indikator dikatakan memenuhi convergent validity jika memiliki nilai outer loading ≥ 0,500.
Berikut adalah nilai outer loading masing-masing indikator pada variabel penelitian:
Tabel 4.12 Nilai Outer Loading
Indikator Strategic
Leadership
Intelectual Capital
Competitive Advantage Determining strategic
direction 0,732
Exploiting and maintaining
core competition 0,795 Developing human capital 0,750
Substaining an effective
corporate culture 0,763 Emphasising ethical practice 0,696 Establishing strategic controls 0,758
Human capital 0,917
Social capital 0,930
Organisational capital 0,953
Price 0,733
Quality 0,864
Delivery depandability 0,817
Product innovation 0,894
Time to market 0,815
Sumber:Lampiran 4
Berdasarkan Tabel 4.12 diatas diketahui nilai outer loading untuk masing- masing indikator pada variabel competitive advantage, strategic leadership, dan
intellectual capital semuanya memiliki nilai lebih dari 0,50. Hal ini berarti indikator- indikator yang digunakan dalam penelitian ini telah memenuhi convergent validity dan selanjutnya dapat digunakan untuk menyusun model penelitian.
b. Discriminat Validity (Validitas Diskriminan)
Evaluasi kedua pada outer model adalah discriminant validity. Discriminant validity diukur dengan menggunakan cross loading. Suatu indikator dikatakan memenuhi discriminant validity jika nilai cross loading indikator terhadap variabelnya adalah yang terbesar dibandingkan terhadap variabel lainnya.
Tabel 4.13 Nilai Cross Loading
Indikator Strategic
Leadership
Intelectual Capital
Competitive Advantage Determining strategic
direction 0,732 0,215 0,389
Exploiting and maintaining
core competition 0,795 0,336 0,469
Developing human capital 0,750 0,139 0,273
Substaining an effective
corporate culture 0,763 0,288 0,405
Emphasising ethical practice 0,696 0,175 0,343 Establishing strategic controls 0,758 0,235 0,436
Human capital 0,258 0,917 0,614
Social capital 0,328 0,930 0,600
Organisational capital 0,318 0,953 0,659
Price 0,419 0,491 0,733
Quality 0,447 0,630 0,864
Delivery depandability 0,477 0,602 0,817
Product innovation 0,425 0,575 0,894
Time to market 0,407 0,433 0,815
Sumber: Lampiran 4
Berdasarkan Tabel 4.13 diatas diketahui nilai cross loading semua indikator yang menyusun masing-masing competitive advantage, strategic leadership, dan intellectual capital (nilai yang dicetak tebal) telah memenuhi discriminant validity
karena memiliki nilai cross loading terbesar untuk variabel yang dibentuknya dan tidak pada variabel yang lain. Dengan demikian semua indikator di tiap variabel competitive advantage, strategic leadership, dan intellectual capital telah memenuhi discriminant validity.
Metode lain yang dapat digunakan untuk mengetahui discriminant validity adalah dengan membandingkan nilai dari akar AVE tiap variabel dengan korelasi yang melibatkan variabel yang bersangkutan dengan variabel yang lainnya di dalam model. Jika nilai dari akar AVE lebih besar dibandingkan korelasi-korelasi yang terjadi maka variabel tersebut, maka dapat dikatakan variabel memenuhi discriminant validity.
Berikut adalah pengujian discriminant validity menggunakan perbandingan antara akar AVE dan korelasi antar variabel:
Tabel 4.14
Pengujian Discriminant Validity dengan Akar AVE
Variabel AVE Akar
AVE
Korelasi Antar Variabel
CA IC SL
Competitive Advantage (CA) 0,683 0,826 CA 1
Intelectual Capital (IC) 0,871 0,933 IC 0,670 1
Strategic Leadership (SL) 0,562 0,749 SL 0,529 0,324 1 Sumber: Lampiran 4
Berdasarkan Tabel 4.14 diatas diketahui bahwa setiap variabel competitive advantage, strategic leadership, dan intellectual capital memiliki nilai akar AVE yang lebih besar apabila dibandingkan dengan nilai korelasi antara variabel tersebut dengan variabel lainnya di dalam model, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel competitive advantage, strategic leadership, dan intellectual capital telah memiliki discriminant validity yang baik.
c. Composite Reliability
Evaluasi terakhir pada outer model adalah composite reliability. Composite reliability menguji kekonsistenan indikator-indikator dalam mengukur suatu konstruk. Suatu konstruk atau variabel dikatakan memenuhi composite reliability jika memiliki nilai composite reliability ≥ 0,700.
Berikut adalah nilai composite reliability masing-masing variabel:
Tabel 4.15
Nilai Composite Reliability
Variabel Composite
Reliability Competitive Advantage 0,915
Intelectual Capital 0,953 Strategic Leadership 0,885
Sumber: Lampiran 4
Tabel 4.15 diatas menunjukkan bahwa nilai composite reliability dari setiap variabel penelitian memiliki nilai lebih dari 0,70. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masing-masing variabel competitive advantage, strategic leadership, dan intellectual capital telah memenuhi composite reliability.
4.2.2. Evaluasi Inner Model (Model Struktural) a. Nilai R-Square
Evaluasi pertama pada inner model dilihat dari nilai R-Square atau koefisien determinasi. Berdasarkan pengolahan data dengan PLS, dihasilkan nilai R-Square sebagai berikut:
Tabel 4.16 Nilai R-Square
Variabel R-square
Competitive Advantage 0,557 Intelectual Capital 0,105
Strategic Leadership -
Sumber: Lampiran 4
Nilai R-Square untuk intellectual capital adalah sebesar 0,105 memiliki arti bahwa prosentase besarnya pengaruh strategic leadership terhadap intellectual capital adalah sebesar 10,5% sedangkan sisanya yaitu sebesar 89,5% dijelaskan oleh variabel lain.
Nilai R-Square untuk competitive advantage adalah sebesar 0,557 memiliki arti bahwa prosentase besarnya pengaruh strategic leadership dan intellectual capital terhadap competitive advantage adalah sebesar 55,7% sedangkan sisanya yaitu sebesar 44,3% dijelaskan oleh variabel lain.
Pada model PLS, penilaian goodness of fit diketahui dari nilai Q2. Nilai Q2 memiliki arti yang sama dengan koefisien determinasi (R-Square) pada analisis regresi, dimana semakin tinggi R-Square, maka model dapat dikatakan semakin fit dengan data. Dari Tabel 4.16 dapat dihitung nilai Q2 sebagai berikut:
Nilai Q2 = 1 – (1– 0,557) x (1– 0,105) = 0,6033
Dari hasil perhitungan diketahui nilai Q2 sebesar 0,6033, artinya besarnya keragaman dari data penelitian yang dapat dijelaskan oleh model struktural yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah sebesar 60,33%.
b. Pengujian Hipotesis dengan Inner Weight
Pengujian hipotesis penelitian dengan menggunakan analisis PLS dilakukan dengan menggunakan tabel inner weight. Hipotesis penelitian dapat diterima jika nilai t hitung (t-statistic) ≥ t tabel pada tingkat kesalahan (α) 5% yaitu 1,96.
Berikut adalah nilai koefisien path (original sample estimate) dan nilait hitung (t- statistic) pada inner model:
Tabel 4.17
Hasil Nilai Koefisien Path dan t-hitung Pengaruh Antar Variabel Original
Sample (O)
T Statistics (|O/STERR|) Strategic Leadership Competitive Advantage 0,348 2,966
Strategic Leadership Intelectual Capital 0,324 2,839 Intelectual Capital Competitive Advantage 0,557 6,663
Sumber: Lampiran 4
Nilai koefisien path pengaruh strategic leadership terhadap competitive advantage adalah 0,348 dengan t hitung 2,966 yang lebih besar dari t tabel 1,96. Hal ini menunjukkan terdapat pengaruh positif dan signifikan antara strategic leadership terhadap competitive advantage, jadi semakin baik strategic leadership semakin tinggi competitive advantage perusahaan. Berdasarkan hasil ini hipotesis pertama penelitian yang menduga bahwa strategic leadership memiliki pengaruh positif terhadap competitive advantage dalam perusahaan manufaktur terbuka dapat diterima dan terbukti kebenarannya.
Nilai koefisien path pengaruh strategic leadership terhadap intellectual capital adalah 0,324 dengan t hitung 2,839 yang lebih besar dari t tabel 1,96. Hal ini menunjukkan terdapat pengaruh positif dan signifikan antara strategic leadership terhadap intellectual capital, jadi semakin baik strategic leadership semakin baik pula intellectual capital perusahaan. Berdasarkan hasil ini hipotesis kedua penelitian yang menduga bahwa strategic leadership memiliki pengaruh positif terhadap
intellectual capital dalam perusahaan manufaktur terbuka dapat diterima dan terbukti kebenarannya.
Nilai koefisien path pengaruh intellectual capital terhadap competitive advantage adalah 0,557 dengan t hitung 6,663 yang lebih besar dari t tabel 1,96. Hal ini menunjukkan terdapat pengaruh positif dan signifikan antara intellectual capital terhadap competitive advantage, jadi semakin baik intellectual capital perusahaan maka semakin tinggi competitive advantage-nya. Berdasarkan hasil ini hipotesis ketiga penelitian yang menduga bahwa intellectual capital memiliki pengaruh positif terhadap competitive advantage dalam perusahaan manufaktur terbuka dapat diterima dan terbukti kebenarannya.
c. Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung
Hasil pengujian pengaruh langsung (direct effect) dan pengaruh tidak langsung (indirect effect) berdasarkan nilai koefisien pengaruh antar variabel disajikan pada Tabel 4.18 di bawah:
Tabel 4.18
Nilai Koefisien Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung
Pengaruh Direct
effect Indirect effect Strategic Leadership Competitive Advantage 0,348
Strategic Leadership Intelectual Capital Competitive Advantage
0,324 x 0,557
= 0,180 Sumber: Lampiran 4
Hasil pengujian pengaruh langsung (direct effect) dan pengaruh tidak langsung (indirect effect) seperti pada Tabel 4.18 di atas dapat dikatakan bahwa variable intellectual capital tidak efektif sebagai variavel intervening competitive advantage karena pengaruh langsung pada strategic leadership terhadap competitive advantage lebih besar dengan nilai 0,348, sedangkan pengaruh strategic leadership terhadap
competitive advantage secara tidak langsung melalui intelectual capital adalah sebesar 0,180.
4.3. Pembahasan
4.3.1 Pengaruh Strategic Leadership Terhadap Competitive Advantage
Hasil statistik deskriptif menjelaskan bahwa perusahaan manufaktur yang menjadi obyek pada penelitian memiliki strategic leadership yang baik, dengan mean 3,939. Hasil pengujian outer model menyatakan bahwa keenam indikator semuanya memiliki peranan yang penting dalam menciptakan strategic leadership perusahaan, yang perlu menjadi perhatian adalah mengenai substaining an effective corporate culture, karena indikator tersebut dipersepsikan paling rendah dibandingkan indikator lainnya, artinya manajemen perusahaan perlu lebih fokus lagi untuk menciptakan budaya organisasi yang efektif.
Sedangkan dari hasil statistik deskriptif juga menjelaskan bahwa perusahaan manufaktur yang menjadi obyek pada penelitian memiliki competitive advantage yang baik. Hasil pengujian outer model menyatakan bahwa lima indikator semuanya memiliki peranan yang penting dalam menciptakan keunggulan bersaing perusahaan, yang perlu menjadi perhatian adalah mengenai time to market, karena indikator tersebut dipersepsikan paling rendah dibandingkan indikator lainnya, artinya manajemen perusahaan harus ditingkatkan dalam mengenalkan produk baru yang lebih cepat dibandingkan dengan pesaing.
Hasil analisis partial least square memberikan kesimpulan bahwa strategic leadership berpengaruh positif dan signifikan terhadap competitive advantage pada perusahaan manufaktur, sehingga semakin baik strategic leadership maka semakin tinggi competitive advantage perusahaan. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Ireland dan Hitt (1999) bahwa strategic leadership akan membantu organisasi untuk mencapai kinerja yang unggul dibanding dengan pesaing yang lain, dengan strategic leadership yang dimiliki oleh sebuah organisasi maka organisasi akan mampu mencapai competitive advantage. Pendapat tersebut juga didukung oleh Porter (2008) yang menjelaskan bahwa competitive advantage
hanya dapat dicapai apabila perusahaan memiliki strategic leadership dalam bersaing. Perusahaan yang mampu menerapkan strategic leadership dengan baik maka perusahaan dapat mencapai competitive advantage dalam persaingan.
Menciptakan competitive advantage dapat dilakukan dengan memperbaiki strategic leadership perusahaan, terutama berkaitan dengan time to market, yaitu kemampuan manajemen perusahaan dalam mengenalkan produk baru yang lebih cepat.
4.3.2. Pengaruh Strategic Leadership Terhadap Intellectual Capital
Hasil statistik deskriptif pada variabel strategic leadership menjelaskan bahwa perusahaan manufaktur yang menjadi obyek pada penelitian memiliki strategic leadership yang baik, sedangkan indikator yang perlu menjadi perhatian adalah mengenai substaining an effective corporate culture, yaitu manajemen perusahaan perlu lebih fokus lagi untuk menciptakan budaya organisasi yang efektif.
Sedangkan dari hasil statistik deskriptif pada variabel intellectual capital juga menjelaskan bahwa perusahaan manufaktur yang menjadi obyek pada penelitian memiliki intellectual capital yang baik. Hasil pengujian outer model menyatakan bahwa tiga indikator semuanya memiliki peranan yang penting dalam menciptakan intellectual capital perusahaan, yang perlu menjadi perhatian adalah mengenai social capital, karena indikator tersebut dipersepsikan paling rendah dibandingkan indikator lainnya, artinya kemampuan sosial karyawan perlu ditingkatkan lagi.
Hasil analisis partial least square memberikan kesimpulan bahwa strategic leadership berpengaruh positif dan signifikan terhadap intellectual capital pada perusahaan manufaktur, sehingga semakin baik strategic leadership maka semakin tinggi intellectual capital perusahaan. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Ireland dan Hitt (2005) bahwa sumber daya intangible memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sebuah organisasi, oleh sebab itu organisasi perlu mampu untuk mengelola sumber daya berkualitas melalui strategic leadership.
Strategic leadership mampu mengelola sumber daya yang dimiliki menjadi nilai tambah bagi perusahaan. Ireland dan Hitt (2005) menambahkan bahwa tujuan dari menerapkan strategic leadership ialah memaksimalkan intellectual capital yang
dimiliki oleh organisasi untuk menciptakan nilai tambah bagi perusahaan. Mahdi and Almsafir (2013) menambahkan bahwa strategic leadership memberikan tempat bagi karyawan untuk dapat mengembangkan bakat yang dimiliki oleh karyawan.
Menciptakan intellectual capital dapat dilakukan dengan memperbaiki strategic leadership perusahaan, terutama berkaitan dengan time to market, yaitu kemampuan manajemen perusahaan dalam mengenalkan produk baru yang lebih cepat.
4.3.3. Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Competitive Advantage
Hasil statistik deskriptif pada variabel intellectual capital menjelaskan bahwa perusahaan manufaktur yang menjadi obyek pada penelitian memiliki intellectual capital yang tinggi, sedangkan dari hasil statistik deskriptif pada variabel competitive advantage juga menjelaskan bahwa perusahaan manufaktur yang menjadi obyek pada penelitian memiliki competitive advantage yang baik. Hasil pengujian outer model menyatakan bahwa tiga indikator semuanya memiliki peranan yang penting dalam menciptakan intellectual capital perusahaan, yang perlu menjadi perhatian adalah mengenai social capital, karena indikator tersebut dipersepsikan paling rendah dibandingkan indikator lainnya, artinya kemampuan sosial karyawan perlu ditingkatkan lagi.
Hasil analisis partial least square memberikan kesimpulan bahwa intellectual capital berpengaruh positif dan signifikan terhadap competitive advantage pada perusahaan manufaktur, sehingga semakin baik intellectual capital maka semakin tinggi competitive advantage perusahaan. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Jardon dan Martos (2012) yang menjelaskan bahwa intellectual capital dan aset tangible yang tepat dapat menciptakan core competencies yang akan meningkatkan organizational capabilities. Organizational capabilities dapat mengembangkan strategic factor dengan mengkombinasikannya bersama letak perusahaan (territory). Pengembangan strategic factor tersebut akan digunakan untuk menghasilkan performa perusahaan yang lebih baik. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa intellectual capital merupakan salah satu komponen dari organizational capabilities, dimana organizational capabilities merupakan
komponen yang dapat mempengaruhi competitive advantage sebuah organisasi dalam lingkungan bisnis.
Menciptakan competitive advantage dapat dilakukan dengan memperbaiki intellectual capital perusahaan, terutama berkaitan dengan social capital, yaitu melalui peningkatan keterampikan karyawa dalam bekerjasama antara satu dengan yang lain, kemauan untuk saling belajar dan berbagi informasi, sering mengadakan kegiatan interaksi dan bertukar ide-ide dengan divisi dan departemen lainnya, serta bekerjasama dengan pelanggan, pemasok, dan mitra lainnya dalam mencari solusi.