• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1994). Proses pembangunan memerlukan Gross National Product (GNP) yang tinggi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1994). Proses pembangunan memerlukan Gross National Product (GNP) yang tinggi"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kemiskinan yang meluas merupakan tantangan terbesar dalam upaya Pembangunan (UN, International Conference on Population and Development, 1994). Proses pembangunan memerlukan Gross National Product (GNP) yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Di banyak negara syarat utama bagi terciptanya penurunan kemiskinan adalah adanya pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi memang tidak cukup untuk mengentaskan kemiskinan tetapi biasanya pertumbuhan ekonomi merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan, walaupun begitu pertumbuhan ekonomi yang bagus pun menjadi tidak akan berarti bagi masyarakat miskin jika tidak diiringi dengan penurunan yang tajam dalam pendistribusian atau pemerataannya.

Kemiskinan terus menjadi masalah fenomena sepanjang sejarah, kemiskinan

telah membuat jutaan anak-anak tidak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas,

kesulitan membiayai kesehatan, kurangnya tabungan dan tidak adanya investasi,

kurangnya akses ke pelayanan publik, kurangnya lapangan pekerjaan, kurangnya

jaminan sosial dan perlindungan terhadap keluarga, menguatnya arus urbanisasi, dan

yang lebih parah, kemiskinan menyebabkan jutaan rakyat memenuhi kebutuhan

pangan dan sandang secara terbatas.

(2)

Kemiskinan telah membatasi hak rakyat untuk (1) Memperoleh pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan; (2) Hak rakyat untuk memperoleh perlindungan hukum; (3) Hak rakyat untuk memperoleh rasa aman; (4) Hak rakyat untuk memperoleh akses atas kebutuhan hidup (sandang, pangan, dan papan) yang terjangkau; (5) Hak rakyat untuk memperoleh akses atas kebutuhan pendidikan;

(6) Hak rakyat untuk memperoleh akses atas kebutuhan kesehatan; (7) Hak rakyat untuk memperoleh keadilan; (8) Hak rakyat untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan publik dan pemerintahan; (9) Hak rakyat untuk berinovasi; (10) Hak rakyat untuk menjalankan spiritual dengan Tuhannya; dan (11) Hak rakyat untuk berpartisipasi dalam menata dan mengelola pemerintahan dengan baik (Sahdan, 2004).

Fenomena kemiskinan telah berlangsung sejak lama, walaupun telah

dilakukan berbagai upaya dalam menanggulanginya, namun menurut catatan Bank

Dunia diperkirakan pada tahun 2001 terdapat 1,1 miliar orang di dunia

mengkonsumsi kurang dari $1/hari dan 2,7 miliar orang di dunia mengkonsumsi

kurang dari $2/hari. Berdasarkan standar tersebut 21 persen penduduk dunia berada

dalam keadaan sangat miskin dan lebih dari setengah penduduk dunia masih disebut

miskin. Mereka hidup di bawah tingkat pendapatan riil minimum internasional. Garis

tersebut tidak mengenal tapal batas antar negara, tidak tergantung pada tingkat

pendapatan perkapita di suatu negara dan juga tidak memperhitungkan perbedaan

tingkat harga antar negara. Terlebih bagi Indonesia, sebagai sebuah negara

(3)

berkembang, masalah kemiskinan adalah masalah yang sangat penting dan pokok dalam upaya pembangunannya.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Maret 2009, jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 32,53 juta jiwa atau 14,15 persen dari jumlah penduduk Indonesia, jumlah ini turun dari 34,96 juta atau 15,42 persen pada bulan maret 2008. Masyarakat miskin sering menderita kekurangan gizi, tingkat kesehatan yang buruk, tingkat buta huruf yang tinggi, lingkungan yang buruk dan ketiadaan akses infrastruktur maupun pelayanan publik yang memadai. Daerah kantong- kantong kemiskinan tersebut menyebar di seluruh wilayah Indonesia dari dusun- dusun di dataran tinggi, masyarakat tepian hutan, desa-desa kecil yang miskin, masyarakat nelayan ataupun daerah-daerah kumuh di perkotaan.

Sebelum masa krisis pada tahun 1997, Indonesia menjadi salah satu model pembangunan yang diakui karena berhasil menurunkan angka kemiskinan secara signifikan. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dari BPS, dalam kurun waktu 1976-1996 jumlah penduduk miskin di Indonesia menurun dari 54,2 juta jiwa atau sekitar 40 persen dari total penduduk menjadi 22,5 juta jiwa atau sekitar 11 persen. Keberhasilan menurunkan tingkat kemiskinan tersebut adalah hasil dari pembangunan yang menyeluruh yang mencakup bidang pertanian, pendidikan, kesehatan termasuk KB serta prasarana pendukungnya.

Salah satu akar permasalahan kemiskinan di Indonesia yakni tingginya

disparitas antar daerah akibat tidak meratanya distribusi pendapatan, sehingga

kesenjangan antara masyarakat kaya dan masyarakat miskin di Indonesia semakin

(4)

melebar. Misalnya saja tingkat kemiskinan antara Nusa Tenggara Timur dan DKI Jakarta atau Bali, disparitas pendapatan daerah sangat besar dan tidak berubah urutan tingkat kemiskinannya dari tahun 1999-2002.

Pemerintah sendiri selalu mencanangkan upaya penanggulangan kemiskinan dari tahun ketahun, namun jumlah penduduk miskin Indonesia tidak juga mengalami penurunan yang signifikan, walaupun data di BPS menunjukkan kecenderungan penurunan jumlah penduduk miskin, namun secara kualitatif belum menampakkan dampak perubahan yang nyata malahan kondisinya semakin memprihatinkan tiap tahunnya.

Dengan terjadinya krisis moneter pada tahun 1997 telah mengakibatkan jumlah penduduk miskin kembali membengkak dan kondisi tersebut diikuti pula dengan menurunnya pertumbuhan ekonomi yang cukup tajam. Berbagai upaya penanggulangan kemiskinan yang telah diambil pemerintah berfokus pada:

(1) peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas melalui upaya padat karya,

perdagangan ekspor serta pengembangan UMKM, (2) peningkatan akses terhadap

kebutuhan dasar seperti pendidikan dan kesehatan (KB, kesejahteraan ibu,

infrastruktur dasar, pangan dan gizi), (3) pemberdayaan masyarakat lewat Program

Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) yang bertujuan untuk membuka

kesempatan berpartisipasi bagi masyarakat miskin dalam proses pembangunan dan

meningkatkan peluang dan posisi tawar masyarakat miskin, serta (4) perbaikan sistem

bantuan dan jaminan sosial lewat Program Keluarga Harapan (PKH). Beberapa

proyek pemberdayaan masyarakat antara lain Program Pembangunan Prasarana

(5)

Pendukung Desa Tertinggal (P3DT), Program Pengembangan Sarana Pedesaan (P2D), Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), Program Pengembangan Kecamatan (PPK), Community Empowerment for Rural Development (CERD), Support for Poor and Disadvantaged Areas Project (SPADA), Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP), Water Supply and Sanitation for Low Income Communities (WSSLIC), dan Proyek Pemberdayaan Masyarakat dan

Pemerintah Daerah (P2MPD), Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW), Program Kredit Ketahanan Pangan (KKP)

Permasalahan utama dalam upaya pengurangan kemiskinan di Indonesia saat ini terkait dengan adanya fakta bahwa pertumbuhan ekonomi tidak tersebar secara merata di seluruh wilayah Indonesia, ini dibuktikan dengan tingginya disparitas pendapatan antar daerah. Selain itu kemiskinan juga merupakan sebuah hubungan sebab akibat (kausalitas melingkar) artinya tingkat kemiskinan yang tinggi terjadi karena rendahnya pendapatan perkapita, pendapatan perkapita yang rendah terjadi karena investasi perkapita yang juga rendah. Tingkat investasi perkapita yang rendah disebabkan oleh permintaan domestik perkapita yang rendah juga dan hal tersebut terjadi karena tingkat kemiskinan yang yang tinggi dan demikian seterusnya, sehingga membentuk sebuah lingkaran kemiskinan sebagai sebuah hubungan sebab dan akibat (teori Nurkse) dan telah dibuktikan untuk contoh kasus lingkar kemiskinan di Indonesia (Jaka Sumanta, 2005).

Salah satu wilayah otonom di Indonesia yang juga mengalami permasalahan

pengurangan kemiskinan adalah Kabupaten Karo. Menurut data BPS Provinsi

(6)

Sumatera Utara jumlah penduduk miskin di Kabupaten Karo dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2008, bahwa persentase penduduk miskin di Kabupaten Karo cenderung mengalami penurunan, yakni dari 23,79 persen pada tahun 2003 turun menjadi 21, 73 persen pada tahun 2004, dan persentase penurunan penduduk miskin ini bukan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya, karena bila dilihat dari data diketahui bahwa telah terjadi kenaikan jumlah penduduk miskin dari tahun 2005 ke tahun 2006 yakni sebesar 67.420 orang pada tahun 2005 menjadi 69.610 orang pada tahun 2006, angka penduduk miskin turun kembali pada tahun berikutnya, yakni dari 69.610 orang pada tahun 2006 menjadi sebesar 50.500 orang pada tahun 2007, terjadi lagi penurunan pada tahun 2008 yakni menjadi 48.490 orang. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1.1. Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Karo Tahun 2003 s/d 2008

No Uraian Tahun

2003 2004 2005 2006 2007 2008 1 Jumlah Penduduk Miskin (ribu orang) 74,30 68,71 67,42 69,61 50,50 48,49 2 Persentase penduduk miskin (persen) 23,79 21,73 19,68 19,81 13,63 12,98

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara (2009)

Menurut data yang dipublikasikan BPS Provinsi Sumatera Utara pada tahun

2007 penduduk Kabupaten Karo memiliki angka kemiskinan pada tingkat menengah

yakni berada di bawah Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kota Medan, Kota

Pematang Siantar, Kota Tebing Tinggi, Kota Sibolga, Kabupaten Padang Sidempuan,

Kota Tanjung Balai, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Labuhan Batu, dan

berada di atas Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Tapanuli Tengah,

(7)

Kabupaten Samosir, Kabupaten Pakpak Barat, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Mandailing Natal, dan beberapa kabupaten lainnya di Sumatera Utara.

Dari data yang disajikan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2004 – 2007

juga diketahui bahwa persentase tingkat kemiskinan penduduk Kabupaten Karo pada

tahun 2004 sampai dengan tahun 2006 berada di atas persentase tingkat kemiskinan

penduduk Provinsi Sumatera Utara yakni persentase tingkat kemiskinan penduduk

di Kabupaten Karo 21,73% pada tahun 2004 dan 19,81% pada tahun 2006 sedangkan

persentase tingkat kemiskinan penduduk Provinsi Sumatera Utara hanya 14,93% pada

tahun 2004 dan 15,66% pada tahun 2006, namun pada tahun 2007 persentase tingkat

kemiskinan penduduk Kabupaten Karo telah lebih baik dibandingkan tingkat

kemiskinan Provinsi Sumatera Utara yakni 13,63%, sedangkan tingkat kemiskinan

penduduk Provinsi Sumatera Utara sebesar 13,90%. Data tersebut dapat kita lihat

pada tabel berikut ini:

(8)

Tabel 1.2. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Kabupaten/Kota di Sumatera Utara (Tahun 2004 s/d 2007)

No Kabupaten/Kota Jumlah (000 Jiwa/Orang) Persentase (%) 2004 2006 2007 2004 2006 2007

1 Nias 135,8 159,9 139,3 31,58 36,19 31,75

2 Mandailing Natal 80,2 84,4 77,44 21,31 20,4 18,74 3 Tapanuli Selatan 135,5 152,1 128,4 22,08 24,17 20,33

4 Tapanuli Tengah 87,1 93,1 83,1 31,47 31,26 27,47

5 Tapanuli Utara 48,9 55,7 52,4 19,16 21,73 20,06

6 Toba Samosir 32,2 30,2 25,6 19,21 17,85 15,28

7 Labuhan Batu 131,3 140,2 123,4 14,16 14,2 12,33

8 Asahan 129,6 138,9 91,8 12,91 13,38 13,17

9 Simalungun 146,3 163,1 124,4 17,94 19,39 14,84

10 Dairi 54,6 59,3 42,2 21,16 22,16 15,82

11 Karo 68,71 69,61 50,5 21,73 19,81 13,63

12 Deli Serdang 117,7 102,8 94,8 7,72 6,29 5,67

13 Langkat 189,2 199,2 185,8 19,89 19,65 18,23

14 Nias Selatan 90,2 102,1 91,1 32,15 37,66 33,84

15 Humbang Hasundutan 30,7 33,8 28,4 20,11 22,14 18,84

16 Pakpak Barat 7,7 8,2 8,6 22,62 23,67 22,42

17 Samosir 26,2 39,9 36,1 21,89 30,59 22,76

18 Sedang Bedagai 47,8 74,7 72,6 8,2 12,34 11,84

19 Batu Bara x x 67,7 x x 17,89

20 Padang Lawas Utara x x x x x x

21 Padang Lawas x x x x x x

22 Sibolga 7,8 9,3 9 9,01 10,09 9,73

23 Tanjung Balai 18,6 19,6 18,2 12,53 12,51 11,52

24 Pematang Siantar 26,2 28,4 22 11,55 12,07 9,46

25 Tebing Tinggi 13,5 14,4 13,4 10,1 10,42 9,67

26 Medan 142,6 160,7 148,1 7,13 7,77 7,17

27 Binjai 14,7 15,6 14 6,4 6,38 5,72

28 Padang Sidempuan 23,6 22,2 20 13,65 12,22 10,92

Sumatera Utara 1806,71 1977,41 1768,34 14,93 15,66 13,90

Sumber: BPS Survei Sosial Ekonomi Nasional 2004 - 2007

Dalam upaya pengurangan kemiskinan Pemerintah Kabupaten Karo telah

memuat beberapa fokus, sasaran, program dan kegiatan di dalam perencanaan

pembangunan di daerah. Dalam RPJM tahun 2006-2011 telah ditetapkan prioritas

(9)

pembangunan yang berkaitan dengan pengurangan kemiskinan di Kabupaten Karo, adapun fokus yang telah ditetapkan:

1. Pengurangan kemiskinan

Melalui fokus pengurangan kemiskinan ini ditetapkan sasaran yakni;

berkurangnya jumlah penduduk miskin, terwujudnya percepatan pembangunan ekonomi wilayah tertinggal; pengurangan angka pengangguran, meningkatnya partisipasi masyarakat dan perantauan dalam penanggulangan kemiskinan, tersedianya data tipologi kemiskinan di seluruh wilayah kecamatan dan kelurahan.

Sasaran yang telah ditetapkan di atas direncanakan akan dicapai melalui kebijakan memperluas akses masyarakat miskin terhadap hak atas pangan;

meningkatkan pelayanan pelayanan pendidikan terhadap keluarga miskin;

mengoptimalkan perlindungan sosial kepada keluarga miskin, meningkatkan kesempatan kerja dan diversifikasi usaha; menyempurnakan data base dan kelembagaan penanggulangan kemiskinan; mengendalikan terpadu penanganan kemiskinan; menyediakan dukungan pengembangan usaha mikro.

2. Pengembangan ekonomi kerakyatan

Dengan sasaran mempermudah, memperlancar dan memperluas akses

UMKM kepada sumber daya produktif agar mampu memanfaatkan kesempatan yang

terbuka dan potensi sumber daya lokal serta menyesuaikan skala usahanya sesuai

dengan tuntutan efisiensi; meningkatkan pendapataan masyarakat yang bergerak

dalam kegiatan usaha ekonomi di sektor informal yang berskala usaha mikro,

terutama yang masih berstatus keluarga miskin dalam rangka memperoleh

(10)

pendapatan yang tetap melalui upaya peningkatan kapasitas usaha sehingga menjadi unit usaha yang lebih mandiri, berkelanjutan dan siap untuk tumbuh dan bersaing.

Pencapaian fokus tersebut direncanakan akan dicapai melalui arah kebijakan membangun lembaga keuangan mikro, memberikan pelatihan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), mengembangkan usaha kecil dan menengah (UKM) yang diarahkan untuk memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pendapatan masyarakat. Berikut ini disajikan indikator makro kependudukan Kabupaten Karo Tahun 2003-2008:

Tabel 1.3. Indikator Makro Kependudukan Kab. Karo Tahun 2003-2008

No Indikator TAHUN

2003 2004 2005 2006 2007 2008 1. Jumlah Penduduk (Ribu Jiwa) 312.300 316.207 342.555 351.368 370.619 373.539 2. Persentase Penduduk Miskin

(Persen)

23,79 21,73 19,68 19,81 13,63 12,98 3. Persentase Tkt Kesakitan

(Persen)

46,54 56,41 16,1 15,3 14,5 14,1 4. Angka Harapan Hidup (Thn) 72,8 70,7 71,7 72,8 72,9 72,9 5. Total Fertility Rate (TFR)

(Rata-rata Kelahiran)

2,61

2,28

2,41

2,25

2,24 2,21 6. Infant Mortality Rate (IMR)

(Per 1.000 Kelahiran Hidup)

19,00

18,60

16,60

16,21

16,07 15,89

7. IPM 71,9 72,3 73,5 74 74,1 74,2

8. Tingkat Melek Huruf (Persen) 97,6 96,6 97,2 98,1 98,1 98,3

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara (2009)

Untuk mengetahui tepat atau tidaknya berbagai kebijakan dalam pengurangan

kemiskinan di Kabupaten Karo maka perlu diketahui faktor-faktor yang melingkupi

kemiskinan itu sendiri sehingga dapat diramalkan penurunan tingkat kemiskinan

di masa yang akan datang.

(11)

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaruh inflasi terhadap jumlah penduduk miskin di Kabupaten Karo?

2. Bagaimana pengaruh jumlah pengangguran terhadap jumlah penduduk miskin di Kabupaten Karo?

3. Bagaimana pengaruh anggaran bidang kesehatan terhadap jumlah penduduk miskin di Kabupaten Karo?

4. Bagaimana pengaruh pajak daerah terhadap jumlah penduduk miskin di Kabupaten Karo?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisis pengaruh pengaruh inflasi terhadap jumlah penduduk miskin di Kabupaten Karo.

2. Untuk menganalisis pengaruh jumlah pengangguran terhadap jumlah penduduk miskin di Kabupaten Karo.

3. Untuk menganalisis pengaruh anggaran bidang kesehatan tehadap jumlah penduduk miskin di Kabupaten Karo.

4. Untuk menganalisis pengaruh pajak daerah terhadap jumlah penduduk miskin

di Kabupaten Karo.

(12)

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:

1. Sebagai bahan masukan bagi Pemerintah Kabupaten Karo dan pihak terkait lainnya sebagai pengambil keputusan untuk dapat membuat kebijakan yang tepat dalam perekonomian kabupaten.

2. Sebagai bahan referensi bagi pihak pihak lain yang berniat untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang masalah kemiskinan secara lebih luas dan mendalam.

3. Menambah informasi ilmiah dan wawasan pengetahuan penulis tentang faktor-

faktor yang mempengaruhi kemiskinan di Kabupaten Karo.

Referensi

Dokumen terkait

Aiesopimus saattaa tulla kysymykseen etenkin rakennuttamissopimusten yhteydessä. Tyypillisintä on tilanne, jossa rakentamisen aloittaminen on sidoksissa

Dari pengertian pemberian, layanan informasi dan informasi karier yang disebutkan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian layanan informasi karier

Puji dan Syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, Dzat yang menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya dan pemilik dari segala ilmu pengetahuan, karena berkat

Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang keragaman dan bagian tumbuhan yang dimanfaatkan secara tradisional oleh Suku Mee di Distrik Kamuu Kabupaten

Responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah pihak Bank Sumsel Babel Capem Sako Kenten Palembang sebagai pelaku kegiatan perbankan yang memberikan fasilitas

Layanan konseling kelompok pada hakekatnya adalah suatu proses antar pribadi yang dinamis, terpusat pada pikiran dan perilaku yang disadari, dibina dalam suatu

Sedangkan karakter kuantitatif yang diamati meliputi tinggi tanaman, diameter batang yang terdiri dari diameter atas, tengah, bawah dan diameter kayu, panjang

Atas dasar history di atas, maka penulis akan memaparkan tentang kondisi di era disrupsi; media sosial dengan permasalah dan etika penggunaannya; serta mengkaji