• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Model Pembelajaran Pendidikan Kristen: Integrasi Wawasan Dunia Kristen Dalam Blended Learning

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Analisis Model Pembelajaran Pendidikan Kristen: Integrasi Wawasan Dunia Kristen Dalam Blended Learning"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 3, No 1, Tahun 2021

p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma

Analisis Model Pembelajaran Pendidikan Kristen:

Integrasi Wawasan Dunia Kristen

Dalam Blended Learning

Asnita Basir Leman

Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Jakarta Email: [email protected]

Abstract:

Learning is feeding the soul. When Jesus gave the great commission to make disciples of all nations, it was complemented by the words and “teach them tērein (to observe, keep, preserve) all that He commanded the disciples.” Difficulties and obstacles in Christian education often occured due to fail in understanding the essence, purpose, content, concepts and context of learning that create chaos in its application. Meanwhile, the rapid growth in the field of educational psychology has caused lessons content and the teaching methods to be strongly influenced by secularism with the philosophy of humanism and relativism. The technological developments were triggered by the unpredictable global Covid-19 pandemic situation in 2020, forcing educators to immediately reformulate learning patterns to be more conducive. This article aims to analyze the blended learning model for Christian education, bya integrating educational psychology theories with the Biblical truth based on concept of christian worldview. The findings and conclusions are expected to contribute to the preparation of Christian education programs, applications and learning modules.

Keywords: christian education; christian worldview; cultural mandate; gospel mandate; covid-19

pandemic; blended learning; mete cognitive.

Abstrak:

Belajar ialah memberi makanan bagi jiwa. Ketika Yesus memberi amanat agung untuk menjadikan segala bangsa murid-Nya, itu dilengkapi dengan kata dan “ajarlah mereka tērein (memperhatikan, menyimpan, melestarikan) semua yang telah diperintahkan-Nya kepada murid-murid.” Banyak kali kesulitan dan kendala dalam pendidikan kristen terjadi karena kegagalan dalam memahami esensi, tujuan, konten, konsep dan konteks pembelajaran menyebabkan kekacauan dalam penerapannya. Sementara itu pertumbuhan pesat di bidang psikologi pendidikan menyebabkan konten pelajaran dan metode pengajaran sangat dipengaruhi oleh sekularisme dengan filosofi humanisme dan relativisme. Perkembangan teknologi dipicu situasi pandemi covid-19 yang tak terduga secara global tahun 2020, memaksa kalangan pendidik segera melakukan formasi ulang pola pembelajaran yang lebih kondusif. Artikel ini bertujuan menganalisis model pembelajaran blended learning bagi pendidikan kristen, dengan mengintegrasikan teori-teori psikologi pendidikan dengan kebenaran Alkitab berdasarkan konsep wawasan dunia kristen. Temuan dan kesimpulan diharapkan dapat memberi kontribusi bagi penyusunan program, aplikasi dan modul-modul pembelajaran pendidikan kristen ke depan.

Kata Kunci: pendidikan Kristen; wawasan dunia Kristen; mandat budaya; mandat penginjilan;

(2)

I. PENDAHULUAN

Tujuan dan Esensi Pembelajaran

Belajar adalah proses seumur hidup yang usianya setua peradaban manusia itu sendiri. Tujuan belajar ialah adanya perubahan perilaku seseorang pada periode waktu tertentu yang diperoleh dari pengalaman, praktek atau kegiatan yang disengaja. Hasil dari belajar terwujud dengan bertambahnya pengetahuan, penguasaan perilaku baik kognitif, afektif dan psikomotorik (KAP) yang mengacu pada perbaikan kepribadian secara holistik.1 Pendidikan merupakan tindakan-tindakan belajar yang sistematis dan terencana yang bertujuan untuk membangun proses pertumbuhan secara berkelanjutan.2 Pendidikan dilaksanakan oleh pendidik kepada peserta didik melalui strategi dan pendekatan tertentu. Strategi dilakukan secara bertahap sesuai periode dan tingkat pertumbuhan hingga mencapai perkembangan optimal sebagai seorang pribadi di tengah-tengah masyarakat 3. Hal ini mencakup manusia sebagai pribadi dalam berbagai

dimensi kehidupan manusia yaitu dari aspek teologis, filosofis, etis, biologis, psikologis, sosiologis, hukum, politik, ekonomi dan aspek sejarah.4 Dengan memahami esensi

manusia sebagai sebagai pribadi yang diciptakan dengan gambar dan rupa Allah, ia memiliki kemandirian relatif dan pilihan atas kehendaknya sendiri, tapi di sisi lain sebagai pribadi yang diciptakan, manusia memiliki relasi, bergantung dan bertanggung jawab kepada Pencipta dan kehendak-Nya.5 Tujuan pendidikan tak terpisahkan dari mandat budaya Allah kepada manusia untuk bertambah banyak, memenuhi dan menaklukkan bumi, menguasai ikan-ikan, burung dan segala binatang merayap di bumi (Kej 1:28), yaitu mandat penciptaan (creation mandate), mandat masyarakat (society

mandate) dan mandat kekuasaan (dominion mandate).6 Kendala yang sering terjadi

adalah kesulitan untuk mengintegrasikan, pertama. pendidikan yang dianggap sekuler dengan kebenaran Firman Tuhan, dan kedua, bahkan pendidikan agama kristen dengan realitas kehidupan peserta didik. Jika situasi ini berlangsung terus tanpa solusi, maka bukan saja mandat penginjilan yaitu amanat agung akan terkendala, tetapi juga generasi kristen akan terancam dengan pengaruh sekularisme dan liberalisme, karena firman Tuhan hanya sekedar menjadi pengetahuan dan bukan aplikasi di realitas kehidupan.

1Oda Judithia Widianing, “Pengantar Psikologi Pendidikan” (Jakarta: STTII Jakarta, 2021). 2Whiterington H.C and M. Buchori, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Aksara Baru, 1978). 3Widianing, “Pengantar Psikologi Pendidikan.”

4Ibid. 5Ibid.

(3)

Volume 3, No 1, Tahun 2021

p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma

Urgensi Pembelajaran Masa Kini

Dalam Introducing Christian Education: Foundations for the Twenty-first

Century dikatakan bahwa karakteristik abad ke-21 adalah berkembangnya tekonologi

komunikasi, pasar internasional yang pesat, ekonomi global, pasar bebas, dan relasi yang multinasional. Sehingga menjadi tantangan bagi pendidikan kristen ialah menghadapi serangan faham filosofis humanistik sekuler dan di sisi lain bagaimana mendidik generasi kristen dengan kebenaran absolut dari Alkitab.7

Di sisi lain, dunia dilanda dengan berbagai pemahaman ilmiah luar biasa mengenai pola kerja pikiran dan otak selama pembelajaran menyangkut proses pengembangan kompetensi peserta didik. Revolusi studi tentang pikiran beberapa dekade ini memiliki implikasi penting dalam pendidikan, teori pembelajaran baru difokuskan pada pendekatan yang sangat berbeda untuk desain kurikulum, pengajaran dan penilaian dibanding dengan pola-pola konvensional yang sering dijumpai selama ini.

Penelitian psikologi kognitif telah meningkatkan berbagai pemahaman mengenai kinerja kompetensi, bahwa prinsip pengorganisasian pengetahuan meningkatkan kemampuan untuk penuntasan masalah (problem solving) di berbagai bidang studi. Peneliti perkembangan menunjukkan bahwa anak kecil cukup mampu memahami banyak hal dari prinsip dasar biologi dan kausal fisika, sehingga kurikulum pendidikan dapat dikembangkan lebih inovatif. Penelitian di bidang pembelajaran dan transfer ilmu telah mengungkapkan prinsip-prinsip penting dalam menyusun pengalaman belajar, memungkinkan orang untuk menggunakan dan menata kembali apa yang telah dipelajarinya dalam pengaturan baru. Studi kolaboratif antara psikolog, pendidik kognitif dan perkembangan menghasilkan pengetahuan baru tentang pola-pola belajar mengajar dengan berbagai pengaturan (settings) 8 Dan masih banyak studi lainnya, namun satu hal penting adalah kemajuan teknologi informasi telah memberi berbagai peluang baru untuk memandu dan meningkatkan pembelajaran.

7Michael J. Anthony, Introducing Christian Education: Foundations for the Twenty-First Century

(Grand Rapids: Baker Academic, 2001).

8National Research Council, How People Learn: Brain, Mind, Eperience and School: Expanded

Edition (2000), The National Academies Press, 2000th ed. (Washington, D.C: The National Academy Press, 2000).

(4)

Pembelajaran elektronik (E-learning) sudah populer sejak 1980 an antara lain bentuk modul-modul pelatihan, kelas virtual, materi belajar dari website, pembelajaran terpadu.9 Dengan perkembangan teknologi informasi komunikasi (TIK) makin sangat pesat dalam kemampuan merekam, menyimpan dan memroses data dan informasi, sehingga penggunaan TIK sangat prospek pada proses pembelajaran; mencakup pembuatan dan pengiriman konten dari komunikasi multijalur, kolaborasi, kerjasama, eksperimen, informasi real time/kapan saja/dimana saja.10

Situasi pandemi covid-19 sejak awal 2020 juga secara global telah membuat dunia pendidikan harus menyusun kembali cara pembelajaran dari pola tatap muka ke penggunaan media elektronik. Keragaman kondisi di Indonesia dan ketidaksiapan semua pihak dengan bencana yang mendadak ini menimbulkan berbagai kesulitan di dunia pendidikan Indonesia, terlebih di tingkat dasar menengah.

Data survei pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) berbasis pengaduan Komisi Pengaduan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2020 yang dilakukan pada 246 pengadu KPAI sebagai responden utama dan 1700 siswa responden pembanding (SD 1,9%, SMP 33,6%, SMA 64,5%), meliputi 20 propinsi di 54 kabupaten/kota menunjukkan:

1) Menggunakan hanya handphone (95,40%) selebihnya ada yang juga menggunakan laptop (23,90%) dan komputer pc (2,40%).

2) Tidak pernah menggunakan platform gratis “rumah belajar” (76,60%), pernah (23,40%).

3) Tidak ada interaksi dengan guru (79,90%), ada interaksi (20,10).

4) Bentuk interaksi chatting (87,20%), zoom meeting (20,20%), video call (7,60%). 5) Mengerjakan tugas dari guru merasa berat (73,20%), tidak merasa berat (26,80%) 6) Bentuk tugas yang tidak disukai; menjawab banyak soal (44,50%, menuliskan

soal 25,60%), merangkum isi Bab (39,40%) dan membuat video (55,50%)

7) Cara mengajar guru; diskusi (11,30%), pemberian materi (43,00%), Tanya jawab (17,90%), hanya mengerjakan tugas (81,80%)

8) Tidak senang PJJ (76,70%), senang PJJ (23,30%).

Beberapa usulan dari siswa yaitu; agar guru mengurangi tugas-tugas dan

9William Horton, E-Learning by Design, TechTrends, vol. 48 (San Fransisco: Pfeiffer, 2006). 10Tassos Anastasios Mikropoulos, ed., Research on E-Learning and ICT in Education:

Technological, Pedagogical and Instructional Perspectives, Research on E-Learning and ICT in Education (Ioannina, Greece: Springer International Publisher, 2018).

(5)

Volume 3, No 1, Tahun 2021

p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma

sebaiknya dikoordinasikan mungkin ada pelajaran yang tugasnya bisa terpadu, agar guru tidak hanya memberi tugas saja tetapi ada penjelasan materi secara daring, guru memberi materi yang bisa dipelajari secara mandiri, dan himbauan ke pemerintah agar internet digratiskan karena pembelajaran daring butuh kuota besar.11

Salah satu survei tentang problematika guru pendidikan agama Kristen di Ambon dengan PJJ pada masa pandemi covid-19 menyimpulkan beberapa kendala; diantaranya kondisi ekonomi siswa (tidak mampu menyediakan sarana elektronik yang memadai seperti laptop), kurangnya pemahaman penggunaan teknologi, masalah jaringan, kurang perhatian orang tua terhadap pembelajaran anak, mentalitas murid cenderung menjadi malas dan tidak jujur dalam mengerjakan tugas-tugas mereka.12 Berbagai kondisi ini

menunjukkan urgensi untuk memikirkan kembali pola pembelajaran yang lebih efektif dan kondusif terhadap para peserta didik ke depannya.

Kemenristekdikti pada tahun 2018 telah meluncurkan sebuah proyek percontohan yang disebut SPADA-Indonesia (Sistem Pembelajaran Daring Indonesia) yang bertujuan meningkatkan akses mahasiswa ke pendidikan berkualitas tinggi lewat penerapan pembelajaran terpadu/blended lerning. Dosen-dosen dari universitas tertentu di Indonesia didorong menawarkan modul perkuliahan terpadu. Modul kuliah ini dapat diambil oleh mahasiswa dari universitas lain sebagai kredit transfer melalui program pembelajaran terpadu (blended learning).13

Model blended learning yang dikembangkan dari konteks SPDA-Indonesia ini dapat menjadi opsi untuk disesuaikan dan diaplikasikan pada pembelajaran di tingkat dasar menengah ketika pandemi covid-19 memaksa para siswa melakukan school from

home dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

11 Bank Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia, “Survei Pelaksanaan Pembelajaran Jarak

Jauh (PJJ) dan Sistem Penilaian Jarak Jauh Berbasis Pengaduan KPAI.” Jakarta, 2020. https://bankdata.kpai.go.id/files/2021/02/Paparan-Survei-PJJ-KPAI-29042020_Final-update.pdf

12Prilly Manuputty and Novia Lakoruhut, “Problematika Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam

Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19 Problematics Of Teachers Of Christian Religion Education In Learning In The Pandemic Time Covid-19,” Jurnal Pendidikan 1, no. 2 (2020): 54–61.

13Uwes Anis Chaeruman, Basuki Wibawa, and Zulfiati Syahrial, “Determining the Appropriate

Blend of Blended Learning: A Formative Research in the Context of Spada-Indonesia,” American Journal of Educational Research 6, no. 3 (2018): 188–195.

(6)

Konteks Studi Dan Tujuan Analisis

Studi ini mencoba menganalisis proses desain model pembelajaran blended

learning bagi pendidikan kristen khususnya di tingkat dasar dan menengah. Beberapa

adaptasi dilakukan terhadap penelitian sebelumnya, khususnya konsep SPADA-Indonesia yang dilakukan oleh Kemenristekdikti. Menerapkan teori-teori psikologi pendidikan dengan penekanan pada dasar-dasar kebenaran Firman Tuhan dan pandangan dunia kristen serta mencoba menyajikan bentuk-bentuk opsi aktifitas

blended learning terkait kendala-kendala yang ditemui di Indonesia. Diharapkan hasil

studi dapat menjadi model sebagai pedoman guru dalam menentukan dan menyusun strategi blended learning khususnya bagi pendidikan kristen baik di sekolah, di sekolah Minggu maupun edukasi kristiani di gereja-gereja di Indonesia. Temuan dan kesimpulan dapat digunakan lebih lanjut untuk mengembangkan desain program belajar pendidikan dengan menerbitkan aplikasi atau modul-modul yang lebih komprehensif

II. METODE PENELITIAN DAN KERANGKA KONSEPTUAL

Studi ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggabungkan beberapa metode analisis sesuai jenis data atau informasi yang akan diteliti. Analisis konten

literatur dilakukan terhadap teori-teori pendidikan dan psikologis termasuk juga

literatur mengenai integrasi wawasan dunia kristen. Analisis komparatif dilakukan terhadap studi dan penelitian serupa yang sudah dilakukan dari sumber jurnal pendidikan, sosial dan humaniora. Prinsip dasar Alkitab mengenai pendidikan akan disajikan secara ringkas dari hasil eksegesis praktis dengan analisis literal kontekstual dan teologikal kanonik.

Untuk merangkum hasil studi analisis dari berbagai sumber tersebut dan bagaimana integrasi Alkitab di dalamnya dilakukan secara deskripsi dan sintesis dengan menggunakan metode tinjauan matriks (matrix review method)14 untuk menyusun formasi model pembelajaran. Studi dilengkapi dengan pembahasan mengenai pola pembelajaran secara terpadu yaitu blended learning.

III. PEMBAHASAN DAN ANALISIS LITERATUR

Pentingnya Integrasi Alkitab Dalam Konsep Pendidikan Kristen

Para pendidik kristen sepakat bahwa Alkitab harus memegang peranan yang

14Erni Murniarti et al., “Writing Matrix and Assessing Literature Review: A Methodological

(7)

Volume 3, No 1, Tahun 2021

p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma

penting di dalam pendidikan kristen. Dalam hal ini pendidikan kristen bukan berarti pendidikan agama kristen saja, namun secara luas mencakup mandat budaya Allah saat penciptaan manusia (Kej 1:28) dan mandat penginjilan dari Kristus dengan perintah untuk mengajar dan menjadikan segala bangsa murid-Nya (Mat 28:19-20). Tetapi banyak pendidik dan sekolah-sekolah kristen mengalami kesulitan untuk menunjukkan kepada siswa bagaimana Alkitab relevan dalam pembelajaran dan kehidupan mereka. Disamping itu berbagai penemuan di bidang psikologi pendidikan yang berkembang sangat pesat juga memberi pengaruh sekularisme yang kuat, sehingga kebenaran Alkitab semakin terpinggirkan.

Dua hal yang menjadi fokus perhatian dalam pendidikan kristen, yaitu bagaimana pendidikan umumdilaksanakan secara kristiani di sekolah-sekolah kristen, dan bagaimana pendidikan agama kristendiajarkan di sekolah-sekolah kristen maupun non kristen. Untuk mengatasi masalah ini, Bryan Smith mengatakan perlunya integrasi Alkitab dalam dunia pendidikan dengan membangun konsep wawasan dunia kristen, dan menolak adanya pemisahan antara kehidupan rohani dengan kehidupan sekuler.15

Pemisahan ini tidak sekedar membuat kebenaran Firman Tuhan menjadi tidak nyata dalam kehidupan siswa sehari-hari, tetapi justru dampak pemahaman sekuler yang mendasari penyusunan program studi umum lain yang akan mempengaruhi pembelajaran dan pola pikir mereka.

Penelitian yang dilakukan oleh Caglar mengenai mengapa intelektualitas dapat melemahkan atau membangun iman, menunjukkan hubungan yang erat antara pemahaman dan ketidakpercayaan terkait dengan proses metakognisi seseorang dalam periode usia perkembangan16 Studi dilakukan terhadap dua paradigma manusia yaitu, percaya (belief) dan tidak percaya (unbelief), yang diidentifikasi dari dua pola kognitif yang berbeda yaitu memahami (knowing/undoubted) dan meragukan (doubt). Studi ini dilakukan oleh seorang peneliti non-religius, dimana untuk pemahaman dogma religius ia mengakui bahwa ada semacam kuasa supranatural yang disebut sebagai insight yang meneguhkan keyakinan seseorang atas pengetahuan religius yang diterimanya. Dalam

15Smith, “Biblical Integration: Pitfalls and Promise.”

16Mustafa Emre Çağlar, “Why Does Intellectuality Weaken Faith and Sometimes Foster It?,”

(8)

tabel berikut akan ditunjukkan bahwa peranan pembelajaran dan supervisi insight akan menolong siswa memetakan kembali secara metakognisi pemahaman pengetahuan dogma (Firman Tuhan) yang telah diperolehnya jika ia menemukan hal-hal yang tidak sinkron dalam proses pembelajaran. Amsal 9:10 permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian. Inilah fondasi kristen bahwa iman dan pengetahuan bukan hal terpisah, tetapi satu sesuai Alkitab.

Tabel berikut menunjukkan bagaimana proses pembelajaran mempengaruhi dogma atau aksioma.17

Paradigma PEMETAAN DOGMATIK

Memiliki Konsistensi Lemah Bagi Yang Skeptis Pengaturan Informasi

Pernyataan iman Dogma bagi pemercaya, Aksioma bagi atheis PROSES PEMBELAJARAN &

PERKEMBANGAN

Percaya

Knower Tuhan ada

insight

a) Menerima dogma, timbul pemahaman dan percaya

b) Hal utama secara rohani tak dapat diganggu gugat

c) Ketidaksesuaian pengetahuan akan dipertimbangkan lagi oleh informasi baru di bawah supervise insight

Diteguhkan oleh dogma

Skeptis Tuhan

ada budaya

a) Menerima dogma dari tradisi saja b) Tidak ada upaya melanggar atau mempertimbangkan bagian manapun. Tidak ada masalah bila ada hal yang meragukan atau tergantikan dengan pemahaman baru Sebagian besar yakin aksioma, daripada dogma Tidak percaya

Atheis akulah tuhan

a) Lazimnya dari awal demikian b) Jika dibutuhkan semua bagian

pengetahuan dapat ditinggalkan atau dipertimbangkan kembali oleh kumpulan informasi baru

Diyakinkan oleh aksioma

Sedangkan pemercaya yang skeptis, jika tidak dibantu oleh insight dan supervisi dalam pembelajaran khususnya dalam hal dogma (Firman Tuhan), maka dengan sendirinya akan bersikap tidak peduli terhadap semua pemahaman pengetahuan baru yang diterimanya, dan pada akhirnya sebagian besar akan diyakinkan aksioma atheisme. Hal ini menjawab pertanyaan mengapa negara-negara mayoritas kristen saat ini, sebagian besar generasi muda mereka telah menjadi atheis atau dilanda pengaruh

(9)

Volume 3, No 1, Tahun 2021

p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma

sekularisme humanisme.18 Pada usia muda, seorang anak di bawah 10 tahun memiliki waktu yang terbaik menerima Firman Tuhan seiring dengan perkembangan kognitifnya. Dengan memahami konsep pembelajaran metakognitif atau pengalaman belajar secara menyeluruh, maka penting sekali untuk mengintegrasikan kebenaran Firman Tuhan dalam proses pembelajaran. Pemisahan antara pengetahuan rohani dan pengetahuan umum, akan membuat paradigma berpikir siswa juga akan mengalami gap dan kesulitan dalam menyusun pemahaman dari proses metakognisi. Akibatnya adalah, menjadi rohani namun tanpa pengertian atau tidak cerdas, ataukah menjadi cerdas namun tidak rohani atau malah dapat undur dari iman karena pengetahuan umum sekuler yang diterima dari pembelajaran tidak diintegrasikan dengan kebenaran Firman Tuhan dan

insight yaitu Roh Kudus.

Wawasan dunia kristen yang disajikan oleh BJU Press secara ringkas membagi tiga konteks dimensi manusia menurut Alkitab yaitu penciptaan, kejatuhan dan penebusan, dan semua konsep pembelajaran mengacu kepada tiga kondisi tersebut. Kebenaran Alkitab diintegrasikan dalam empat level integrasi, yaitu : Level 0 Tidak ada hubungan yang jelas antara Alkitab dan hal-hal akademis;

Level 1 mereferensikan pengajaran Alkitab yang mirip dengan mata pelajaran; yang pertama adalah analogi biblikal, misal lingkaran – mengingatkan siswa tentang kasih Allah yang tak berkesudahan, dan kedua, mengenai pandangan dunia kristen dalam pelajaran sejarah, geografi, atau menceritakan contoh-contoh dalam Alkitab. Level 2 meresponi Alkitab, di level ini guru menunjukkan bagaimana Alkitab menuntunnya dalam situasi sehari-hari. Dan Level 3 Merombak paradigma berpikir siswa yang keliru dan menyusun kembali dengan paradigma yang benar menurut Alkitab.19 Hal ini mewajibkan para pendidik kristen agar mampu memahami Alkitab serta mengajarkan nilai-nilai kebenarannya secara baik dan benar, karena Alkitab bukan hanya sejumlah ayat yang dihafalkan dan diyakini secara mitis, melainkan secara logis dengan kebenaran yang dapat diaplikasikan.

18Sherwood H (2018) Christianity as default is gone: the rise of a non-Christian Europe. The

Guardian, 21 March.

(10)

Kitab Amsal 22:6 (ITB) mengatakan didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. Kata “didik” menggunakan kata Ibrani ḥă-nōḵ yang berarti “melatih, mendidik, mendedikasikan”, kamus BDB (Brown- Driver- Briggs) membandingkan dengan kata bahasa Arab yang berarti mengoles langit-langit anak dengan kurma yang dikunyah, atau bidan mengoles langit-langit bayi dengan minyak (zaitun) sebelum mulai menyusui. Lane dalam BDB, “menjadikan berpengalaman dan taat seperti seseorang menaruh tali kekang pada mulut kuda”. Ini menunjukkan berbagai perlakuan dalam proses pendidikan di usia dini mengacu pada konsep stick and carrot atau punishment

and reward berdasarkan sistem limbik, sebelum pemahaman secara kognitif

berkembang. Bandingkan dengan Galatia 4:1-5 rasul Paulus menjelaskan tentang pertumbuhan rohani dengan analogi pertumbuhan dan pelatihan seorang anak. Kalimat kunci berikut adalah “menurut jalan yang patut” (in the way he should go, Eng). Perjalanan jarah jauh di padang gurun dengan keledai atau unta pada jaman kuno merupakan upaya yang berani karena kehilangan arah bisa berakibat fatal dan membawa kematian.20Dimana orang-orang kuno jaman dahulu memetakan jalan dengan

membuat ritual ibadah (bandingkan; Ul 27:6 mezbah batu bagi Allah) dan membuat jalur jalan fungsional seperti jalur irigasi atau titik-titik oase. Mereka harus mampu memahami jalur-jalur jalan lewat pemetaan secara kognitif dan menggunakan arah matahari dan tanda-tanda bintang di langit. Kata “jalan yang patut” dalam bahasa Ibrani adalah pîḏar-kōw dari akar kata “jalan”derek̲ berarti “jalan”, jalur jalan, perjalanan, perilaku, tindakan.21 Mengacu pada konsep wawasan dunia kristen, maka Amsal 22:6 dapat ditinjau dari dua sisi, pertama, dari konteks “kejatuhan manusia” bahwa segala kecenderungan manusia itu jahat semata-mata, dan Kedua, dari konteks “Penebusan” maka pemulihan manusia ditujukan ke arah rupa dan gambar Allah.

Sehingga pendidikan kristen berarti pembelajaran dimana secara psikologi, peserta didik dibimbing sesuai tingkat perkembangan usia dan esensi keunikan karakter pribadi masing-masing, dan secara Alkitabiah eksistensi mereka di didik untuk bertumbuh ke dalam pengetahuan kebenaran Allah.

20Heiko Riemer, Desert Road, 2013.

21Brown, Francis, 1849-1916. (1996). The Brown, Driver, Briggs Hebrew and English lexicon :

with an appendix containing the Biblical Aramaic : coded with the numbering system from Strong's Exhaustive concordance of the Bible. Peabody, Mass.: Hendrickson Publishers,

(11)

Volume 3, No 1, Tahun 2021

p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma

Blended Learning

Blended learning berasal dari istilah yang selama ini dikenal sebagai e-learning.

Sedangkan e-learning ialah istilah umum yang dikenal sejak tahun 2002 dan digunakan untuk mengakomodasi semua pola pembelajaran yang terkait dengan penggunaan perangkat elektronik. E-learning sering dianggap sebagai bagian yang dipadukan dengan pembelajaran lain misalnya pendekatan tradisional, dan disebut pembelajaran terpadu (blended learning). Istilah pembelajaran terpadu sangat luas dan merupakan seni mengintegrasikan sumber materi dan aktifitas dari lingkup konteks lingkungan belajar dimana peserta didik berinteraksi dan membangun dirinya.22Bentuk apapun untuk menyampaikan materi pelatihan, pendidikan atau pembelajaran yang menggunakan perangkat elektronik seperti pembelajaran virtual (virtual learning), pembelajaran daring (online learning), kelas virtual (virtual class), instruksi berbasis web (web-based instruction) atau pembelajaran seluler (mobile learning) dan lain-lain disebut e-learning. Singkatnya e-learning adalah pembelajaran berbasis teknologi elektronik.23Naidu, mendefinisikan e-learning proses pendidikan yang memanfaatkan

TIK untuk menjembatani kegiatan belajar mengajar sesuai setting pembelajaran sinkron dan asinkron.24

Chaeruman, dkk menyusun konsep model quadrant of blended learning setting gambar Tabel 1.

Gambar 1. Quadrant of Blended Learning Setting 25

22Allison Littlejohn and Chris Pegler, Preparing for Blended E-Learning, Preparing for Blended

E-Learning (Oxford, England: Routledge, 2007).

23Anis Chaeruman, Wibawa, and Syahrial, “Determining the Appropriate Blend of Blended

Learning: A Formative Research in the Context of Spada-Indonesia.”

24Som Naidu, E-Learning A Guidebook of Principles, Procedures and Practices, E-Learning

(Melbourne: CEMCA, 2006).

25Anis Chaeruman, Wibawa, and Syahrial, “Determining the Appropriate Blend of Blended

(12)

 Live Synchronous Learning (LSL) ialah pembelajaran tatap muka; pelajaran di kelas, diskusi kelompok, studi lapangan dan lain-lain.

 Virtual Synchronous Learning (VSL) ialah pembelajaran dari pendidik kepada para peserta didik pada waktu yang bersamaan di tempat yang berbeda. Setting pembelajaran menggunakan sarana belajar jarak jauh seperti, video conference, zoom

meeting, moodle class,aplikasi mobile atau sarana TIK dan lainnya.

 Collaborative Asynchronous Learning (CAL) ialah proses pembelajaran di setiap tempat dan waktu oleh para peserta didik secara bersama-sama dengan sumber materi belajar.

 Self-directed Asynchronous Learning (SAL) merupakan pembelajaran mandiri dari peserta didik dan sumber materi belajar di setiap waktu dan tempat yang ditentukan sendiri oleh peserta didik. SAL dapat difasilitasi berbagai macam obyek pembelajaran berkualitas tinggi dengan media yang sesuai seperti pesan teks, audio, visual, audio visul, animasi atau simulasi.

Mengacu pada konsep kuadran pengaturan blended learning (Quadrant of Blended Learning Setting) para pendidik dapat menyusun dan menggabungkan bentuk-bentuk pembelajaran untuk mendapatkan potensi terbaik dari suatu program pembelajaran. Melalui prinsip analisis matriks, Chaeruman, dkk menyusun model konseptual pembelajaran terpadu yang telah diintegrasikan dengan prinsip-prinsip psikologi pendidikan dari Taksonomi Bloom yang telah direvisi26 dan bentuk pembelajaran27 serta referensi dari sistem belajar aktif dari Anderson.28

Gambar 2. Model of Criteria for Determining Appropriate Blended Learning Strategy 29

26H.M Anderson (2010) (Queen’s University)

https://www.queensu.ca/teachingandlearning/modules/home.html

27Sharon E Smaldino et al., Instructional Media and Technologies for Learning (7th Edition) (New

Jersey: Pearson Education, Inc., 2002).

28Queen’s University T & L, “Focus on Active Learning” (2013): 8. 29Anis Chaeruman, Wibawa, and Syahrial 2018. p 192.

(13)

Volume 3, No 1, Tahun 2021

p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma

Model tersebut menunjukkan beberapa pertimbangan dalam menentukan pengaturan pembelajaran terpadu (blended learning) yaitu :

 Apakah tujuannya perlu pengalaman nyata dan langsung untuk mencapai hasil belajar? Jika ya, maka hal ini akan dicapai lewat aktifitas tatap muka (live synchronous

learning - LSL).

 Jika jawabannya tidak, maka pertanyaan selanjutnya ialah apakah perlu partisipasi aktif dan situasi role play? Jika ya, maka akan dicapai dari kegiatan pembelajaran virtual langsung (virtual synchronous learning – VSL)

 Jika jawaban untuk pertanyaan pertama ialah tidak, maka tujuan pembelajaran akan dicapai dengan kegiatan pembelajaran asinkron, baik secara mandiri (self-directed

asynchronous learning – SAL) ataupun sinkron kelompok (collaborative asynchronous learning – CAL).

Proses menentukan model pembelajaran sesuai sasaran yang diharapkan dapat dilihat pada tabel ini.

Sasaran Pembelajaran (Anderson &Krathwol Bentuk Pembelajaran (Smaldion et.al) Pengalaman Belajar (Dale) Strategi Pembelajaran Terpadu Sinkron Asinkron (CAL/SAL) LSL VSL Mengingat Memahami Membaca Abstrak - - Mendengar - -

Menganalisis Melihat Simbolik - -

Mengaplikasikan Mengevaluasi Menciptakan

Partisipasi aktif Aktivasi - -

Mencontoh dan

mengaplikasikan Konkrit / nyata

-

Praktek langsung, pengalaman nyata

- -

Tabel 1. Opsi Strategi Pembelajaran Terpadu 30

Tabel berikut menunjukkan contoh bentuk-bentuk aktivitas dalam pembelajaran terpadu.

Pengaturan Pembelajaran Terpadu

Pembelajaran Sinkron Pembelajaran Asinkron

Tatap muka langsung (LSL)

Virtual langsung (VSL)

Virtual asinkron mandiri (SAL)

Virtual asinkron kelompok (CAL)

(14)

Ragam Aktivitas Pembelajaran Pelajaran di kelas Diskusi Praktek Workshop Seminar Praktek laboratorium Karya wisata, dll. Kelas virtual Audio Conference Video Conference Web based Conference (Webinar) dll. Membaca

Menonton (video, film) Mendengar (radio, audio) Belajar daring

Simulasi

Latihan dan praktek Ujian, Tes /Kuis

Jurnal/publikasi (wiki, blog) dll.

Partisipasi forum diskusi

Tugas-tugas daring (individu atau group) Penelitian kelompok, dll.

Tabel 2. Bentuk Aktivitas dalam Pembelajaran Terpadu31

IV. APLIKASI MODEL PEDIDIKAN KRISTEN DALAM BLENDED LEARNING

Pembelajaran dalam konteks pendidikan kristen adalah proses pemuridan dengan Alkitab sebagai dasar kebenaran. Perjalanan kekristenan seseorang dapat diawali sejak lahir, dan menerima pelajaran Firman Tuhan usia dini sebagai pra-penginjilan, lalu kelahiran baru dan iman dalam Kristus kemudian proses pemuridan seumur hidup dan bertumbuh hingga menjadi dewasa dalam Kristus.32 Kebenaran

bersifat absolut dan universal bersumber dari Allah dimana Allah sendiri Kebenaran itu (Maz 119:60; Yes 45:23; II Sam 7:28; Yoh 14:6 dan 17:17). Kebenaran diterapkan dalam diri pribadi secara personal terkait dengan perilaku, etika, moral, relasi, keadilan.33 Lima tahap belajar Alkitab seorang murid menurut Lawrence O.Richard yang mengacu pada kemampuan psikologis mereka adalah; Rote, Recognition,

Restatement, Relation, Realization. Tabel berikut menunjukkan penerapan opsi tahap

murid belajar Alkitab dalam pembelajaran terpadu (blended learning).

Tahap Murid Belajar Alkitab (Lawrence O.Richard) 34 Bentuk Pembelajaran (Smaldion et.al) Pengalaman Belajar (Dale) Strategi Pembelajaran Terpadu Sinkron Asinkron (CAL/SAL) LSL VSL

Mengingat/mengulang Membaca, mendengar

Abstrak

- -

Mengenali Melihat, menonton - -

Mengekspresikan konsep Partipasi Simbolik - -

Menghubungkan/merespon Partisipasi aktif Aktivasi - -

31Ibid.

32Lois E. LeBar, “Education that is Christian.” TerjemahanBahasa Indonesia (Malang: Gandum

Mas, 2006) p 205.

33Oda Judithia Widianing, “Belajar&Pembelajaran” Materikuliah S2 STTII Jakarta. 2021. 34Ibid.

(15)

Volume 3, No 1, Tahun 2021

p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma

Menyadari/menerapkan Mempraktekkan/mengaplikasikan Konkrit / √ *) -

Tabel 3. Opsi Strategi Pembelajaran Terpadu Pendidikan Kristen *) Dapat dilakukan dengan melibatkan peran orang tua dalam keluarga.

Sementara itu childrenministry.com menyajikan enam model pendidikan kristen, yaitu Model Pendidikan Kristen dan kemungkinan pelaksanaan secara Pembelajaran Terpadu.

Model Aktivitas Spesifikasi Kegiatan Guru/Tutor LSL VSL CAL SAL Kelas mandiri Kelas belajar sesuai tingkat usia Guru tetap - Group besar dan

kecil

Group besar paralel ibadah & Firman, group kecil pemuridan dan sharing

Guru, fasilitator

- -

Gereja Anak Serupa ibadah dewasa, tapi khusus anak Pastor, pelayan - - - Sekolah Minggu Rotasi

Topik sama, aktifitas/ruang tematik dan berbeda tiap minggu per program topik

Guru, fasilitator

- -

Learning Centers Variatif, bisa offline maupun online

Tutor

Mezbah Keluarga *) Kesatuan keluarga dan peran orang tua

Orang tua - -

Tabel 4. Model Pendidikan Kristen dan kemungkinan pelaksanaan secara Pembelajaran Terpadu

*) Dilakukan bersama orang tua / keluarga.

Sesungguhnya Alkitab merupakan sumber hikmat yang tidak terselami dan tak pernah habis jika kebenarannya digali dan direnungkan. Yesus Sang Guru Agung sudah memberi berbagai teladan dalam hal pengajaran kepada murid-murid-Nya. Teori

Experiential Learning yang dikemukakan oleh David Kolb dengan siklus

pembelajarannya (Kolb’s Learning Cycle) sudah dilakukan oleh Yesus dalam pengajaran kepada murid-murid-Nya.35 Yesus mengajar serta memperlihatkan pengamatan langsung kepada murid-murid-Nya (reflective observation), lalu bertanya kembali bukan karena Ia tidak tahu tetapi untuk membuat para murid berpikir dan memahami makna (konsep) pengajaran Yesus (abstract conceptualization). Dalam

35HeeKap Lee, “Jesus Teaching Through Discovery”. International Community of Teacher

(16)

perjalanan pelayanan, Ia menunjukkan dan mengajak para murid untuk mempraktekkan secara langsung (active experimentation), merasakan dan mengalami bersama apa yang Yesus rasakan (experience). Yesus mengajarkan kebenaran dengan berbagai perumpamaan dan analogi kepada murid-murid, dan terbukti analogi dan perumpamaan sangat efektif untuk tetap diingat dan dokumentasi kebenaran selama berabad-abad.36 Rasul Paulus telah menerapkan prinsip pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui surat-surat apostolik yang dikirim untuk mengajar, mendidik dan menegur jemaat Tuhan di berbagai kota. Jika kita menyimak bagaimana Yesus telah mempersiapkan murid-murid-Nya ketika Ia memberikan Amanat Agung kepada mereka, tahap-tahap itu dijelaskan secara ilmiah dalam teori Self Regulated Learning oleh B. J. Zimmerman dan Martinez Pons (dalam Mulyani, 2016) diantaranya tahap-tahap evaluasi diri (self

evaluation) murid-murid berduka ketika Yesus disalibkan, mengatur dan mengubah

(organizing and transforming concept) dari pelayanan Kristus kepada murid-murid, menetapkan tujuan dan perencanaan (goal setting and planning) – perintah Yesus, mencari informasi, meyimpan data dan seterusnya. Sehingga mandat penginjilan tetap terselenggara hingga saat ini karena secara sempurna Yesus telah melakukannya. Dan secara khusus dalam konteks pembelajaran, pengajaran Yesus dengan menggunakan perumpamaan dan analogi itu merupakan proses transfer konsep secara metakognisi dengan melibatkan aspek kognitif juga aspek afeksi dan konasi.37 Dan masih banyak lagi hal-hal luar biasa mengenai pendidikan, psikologi dan pembelajaran kristen

Perkembangan teknologi tidak hanya mendukung para pendidik dan pengajar untuk lebih efektif dalam pendidikan kristen, tetapi juga memberi peluang besar bagi para curriculum designer, program designer, ITprogrammer, content creator, script

writer, graphic designer, e-learning tutors untuk bekerja profesional sekaligus berkarya

bagi pemenuhan mandat penciptaan dan penginjilan. Melalui model pembelajaran

Blended learning ini para pengajar Kristiani mampu menjawab mandat Tuhan Yesus

secara maksimal dan sekaligus menjadi jawaban bagi banyak orang di tengan kesulitan, seperti pandemi covid-19 sekarang ini.

36 Philip Chia, “Analysis of the Effectiveness of Jesus Parable: A cognitive Psychology

Approach.” Journal of Research on Christian Education, v29 n3 p272-284 2020.

37Kevin Zook Ph.D., “Teaching and Learning by Analogy: Psychological Perspectives on the

(17)

Volume 3, No 1, Tahun 2021

p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma

V. KESIMPULAN

Kendala selalu dapat diatasi bersama-sama dengan hati dan pikiran yang lapang. Kesulitan mendorong kita untuk menemukan solusi dan jalan keluarnya, serta tidak ada yang terlalu sulit untuk dilakukan bersama dengan Kristus. Perkembangan tekonologi informasi dan komunikasi ditambah dengan pandemi covid-19 menjadi pemicu bagi dunia pendidikan kristen untuk segera melakukan pembenahan dan penyusunan kembali model dan program pendidikan kristen secara terpadu. Saatnya gereja-gereja di Indonesia memberi perhatian dan dukungan bagi perkembangan pendidikan kristen bukan hanya dalam hal penggalian konten materi pelajaran Alkitab dengan wawasan dunia kristen. Guru-guru kristen perlu diberi pelatihan dan pemahaman Alkitab yang baik agar mampu mentransfer pengajaran Alkitab kepada peserta didik dengan baik dan benar. Gereja dapat mendukung program pemerintah dengan memberi perhatian lebih besar kepada pelayanan anak-anak sekolah Minggu baik melalui media sinkron maupun program asinkron.

Dengan memahami kebenaran Firman Tuhan dan menerapkan pendidikan berwawasan dunia kristen, peserta didik mampu menerima pengajaran secara terintegrasi dimana Alkitab menjadi dasar dan parameter dalam menerima semua ilmu pengetahuan umum. Dengan demikian paradigma murid dapat terorganisasi dengan sinkron dan selaras secara metakognitif, dan siswa dapat membangun dirinya secara maksimal dan cerdas sesuai potensi yang dimilikinya dan bertumbuh ke arah Kristus. Model pembelajaran terpadu melalui media elektronik dapat diatur dan didesain sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam materi pengajaran baik secara sinkron tatap muka atau virtual, ataupun asinkron secara mandiri atau kolektif. Guru-guru dapat menyusun rencana pembelajaran secara lebih efektif dan variatif, juga sekali-kali dapat melibatkan peran orang tua melalui instruksi yang praktis.

DAFTAR PUSTAKA

Anis Chaeruman, Uwes, Basuki Wibawa, and Zulfiati Syahrial. “Determining the Appropriate Blend of Blended Learning: A Formative Research in the Context of Spada-Indonesia.” American Journal of Educational Research 6, no. 3 (2018): 188–195.

(18)

Anthony, Michael J. Introducing Christian Education: Foundations for the

Twenty-First Century. Grand Rapids: Baker Academic, 2001.

Çağlar, Mustafa Emre. “Why Does Intellectuality Weaken Faith and Sometimes Foster It?” Humanities and Social Sciences Communications 7, no. 1 (2020): 1–17. Chia, Philip Suciadi. “Analysis of the Effectiveness of Jesus’ Parable: A Cognitive

Psychology Approach.” Journal of Research on Christian Education 29, no. 3 (2020): 272–284.

H.C, Whiterington, and M. Buchori. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Aksara Baru, 1978. Horton, William. E-Learning by Design. TechTrends. Vol. 48. San Fransisco: Pfeiffer,

2006.

Lee, Heekap. “Jesus Teaching Through Discovery.” International Christian Community

of Teacher 1, no. 2 (2006).

Littlejohn, Allison, and Chris Pegler. Preparing for Blended E-Learning. Preparing for

Blended E-Learning. Oxford, England: Routledge, 2007.

Manuputty, Prilly, and Novia Lakoruhut. “Problematika Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19 Problematics Of Teachers Of Christian Religion Education In Learning In The Pandemic Time Covid-19.” Jurnal Pendidikan 1, no. 2 (2020): 54–61.

Mikropoulos, Tassos Anastasios, ed. Research on E-Learning and ICT in Education:

Technological, Pedagogical and Instructional Perspectives. Research on E-Learning and ICT in Education. Ioannina, Greece: Springer International

Publisher, 2018.

Murniarti, Erni, Bernard Nainggolan, Hulman Panjaitan, L.Elly AM Pandiangan, I Dewi Ayu Widyani, and Saniago Dakhi. “Writing Matrix and Assessing Literature Review: A Methodological Element of a Scientific Project.” Journal of Asian

Development 4, no. 2 (2018): 133.

Naidu, Som. Learning A Guidebook of Principles, Procedures and Practices.

E-Learning. Melbourne: CEMCA, 2006.

National Research Council. How People Learn: Brain, Mind, Eperience and School:

Expanded Edition (2000). The National Academies Press. 2000th ed. Washington,

D.C: The National Academy Press, 2000.

Queen’s University T & L. “Focus on Active Learning” (2013): 8. Riemer, Heiko. Desert Road, 2013.

Smaldino, Sharon E, Robert Heinich, Michael Molenda, and James D Russel.

Instructional Media and Technologies for Learning (7th Edition). New Jersey:

Pearson Education, Inc., 2002.

Smith, Bryan. “Biblical Integration: Pitfalls and Promise.” BJUPress (2012). Widianing, Oda Judithia. “Pengantar Psikologi Pendidikan,” 2021.

Zook Ph.D., Kevin. “Teaching and Learning by Analogy: Psychological Perspectives on the Parables of Jesus.” International Christian Community of Teacher Educators

Gambar

tabel  berikut akan ditunjukkan bahwa peranan pembelajaran dan supervisi insight akan  menolong  siswa  memetakan  kembali  secara  metakognisi  pemahaman  pengetahuan  dogma (Firman Tuhan) yang telah diperolehnya jika ia menemukan hal-hal  yang tidak  sin
Gambar 1. Quadrant of Blended Learning Setting  25
Gambar 2. Model of Criteria for Determining Appropriate Blended Learning Strategy  29
Tabel  berikut  menunjukkan  contoh  bentuk-bentuk  aktivitas  dalam  pembelajaran  terpadu
+3

Referensi

Dokumen terkait

(ii) Memberikan kuasa dengan hak substitusi kepada Direksi Perseroan untuk melakukan segala dan setiap tindakan yang diperlukan sehubungan dengan keputusan tersebut, termasuk

Gambar 3.5 merupakan proses dimana user diminta untuk mengisikan data yakni nama, jenis kulit, dan sensitivitas kulit.. Jika semua data telah diisi

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan melakukan penghitungan matematis dalam menilai estetika desain layout surat kabar, dengan diambil beberapa sampel surat

Hasil penelitian Anggreni (2020) menunjukkan bahwa terdapat efektivitas desain model pembelajaran Blended Learning. Hasilnya menunjukkan 1) Pembelajaran Blended

Pelaksanaan program ini bertujuan untuk meningkatkan peran aktif dan kerjasama antara Tim dalam Kelompok Tani Wanita Anggrek dalam mengolah hasil pertanian yang

Dalam Agenda 21 Indonesia (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, 1997), strategi nasional untuk pembangunan berkelanjutan memuat empat program pokok saling mengisi, yaitu

Subjek Pungutan Leges adalah orang pribadi atau Badan yang memakai jasa ketatausahaan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah..

Prinsip kerja cara pengupasan sentrifugal (Tabel 11) adalah bahwa mete gelondong mendapat tekanan berupa tenaga hempasan yang bersal dari gaya sentrifugal yang diberikan