HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA USIA 12-24 BULAN DI Hubungan Antara Status Gizi Dan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Dengan Kejadian Diare Pada Balita Usia 12 – 24 Bulan Di Wilayah Puskesma

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA USIA 12-24 BULAN DI

WILAYAH PUSKESMAS COLOMADU 1 KABUPATEN KARANGANYAR

NASKAH PUBLIKASI

Disusun Oleh:

DEVI PROBOWATI J 310 110 015

PROGRAM STUDI ILMU GIZI FAKULTAS ILMU KESEHATAN

(2)
(3)

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA USIA 12-24 BULAN DI

WILAYAH PUSKESMAS COLOMADU 1 KABUPATEN KARANGANYAR

Devi Probowati (J 310 110 015) Pembimbing : Elida Soviana, S.Gz., M.Gizi

Tri Wibowo Anang S.B,S. KM, M.Gizi

Program Studi Ilmu Gizi Jenjang S1 Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta

Jl. A. Yani Tromol Pos I Pabelan Surakarta 57102

Email :devi.probowati@gmail.com

ABSTRACTS

The prevalence of diarrhea in toddlers at Central Java as much as 5.4%. The prevalence of diarrhea in 12-24 months toddlers at Colomadu 1 Primary Health Service, Karanganyar of the months October 2014-January 2015 as much as 22%. Diarrhea in infants is due to several factors: poor nutrition status and PHBS unfavorable. To determine the relationship between of nutritional status about diarrhea and healthy hygiene behaviors to incidence of diarrhea in 12-24 monthstoddlers at primary health service, Karanganyar. This is a cross sectional study conducted service center in Primary Health Service Colomadu 1. In total, 45 respondents, were surveyed using simple random sampling. The research instruments were a questionnaires incidence of diarrhea and healthy hygiene

behaviors. Analysis Techniques used Rank Spearman's test. The respondents

have no diarrhea status of 91.1%. Of respondents had good not status and 97.8%. Have good PHBS 86.7%. Toddlers with good nutritional status and no was diarrhea 87.7%, while and toddlers who has malnutrition 50%. Mothers with good PHBS has toddlers no diarrhea is 84.4% while mothers with normal and PHBS has no diarrhea is 2.2%. There was norelationship between nutritional status with incidence of diarrhea in toddlers aged 12-24 months and there was norelationship between healthy hygiene behaviors with incidence of diarrhea in toddlers aged 12-24 months. Therefore, it is suggested that health professionals further improve supervision and counseling about diarrhea and healthy hygiene behaviors in the public.

Keywords :Toddler, Nutritional Status, Healthy Hygiene Behaviors, Incident of Diarrhea

(4)

2   

ABSTRAK

Prevalensi kejadian diare pada kelompok umur balita di Jawa Tengah sebanyak 5.4%. Prevalensi kejadian diare pada balita 12-24 bulan di Puskesmas Colomadu 1 Kabupaten Karanganyar dari bulan Oktober 2014-Januari 2015 sebanyak 22%. Diare pada balita salah satunya disebabkan beberapa faktor yaitu status gizi kurang dan PHBS yang kurang baik. Tujuan penelitian ini adalahmengetahuihubungan antara status gizi dan PHBS dengan kejadian diare pada balita usia 12-24 bulan di Wilayah Puskesmas Colomadu 1 Kabupaten

Karanganyar. Penelitian ini menggunakan rancangan studi cross sectional di

posyandu wilayah Colomadu 1. Total sampel pada penelitian ini sebanyak 45

responden yang diambil dengan teknik Simple Random Sampling. Instrumen

penelitian berupa kuesioner kejadian diare dan PHBS. Analisis menggunakan uji

statistic RankSpearman’s.Hasil penelitian ini sebagian besar balita memiliki

status gizi baik sebesar 91.1%. PHBS ibu baik sebesar 97.8%. Jumlah balita yang tidak mengalami diare sebesar 86.7%. Balita dengan status gizi baik tidak menderita diare lebih tinggi sebesar 87.7% dibanding dengan balita yang memiliki status gizi kurang menderita diare sebesar 50%. Ibu balita dengan PHBS baik mempunyai balita tidak diare lebih tinggi sebesar 84.4% dibanding ibu balita dengan PHBS sedang mempunyai balita tidak diare sebesar 2.2%. Kesimpulan Tidak ada hubungan antara status gizi dengan kejadian diare pada balita usia 12-24 bulan dan tidak ada hubungan antara PHBS dengan kejadian diare pada balita usia 12-24 bulan.Oleh karena itu disarankan agar tenaga kesehatan lebih meningkatkan pengawasan dan penyuluhan tentang diare dan PHBS di masyarakat.

(5)

PENDAHULUAN

Penyebab timbulnya masalah gizi salah satunya yaitu status gizi yang dipengaruhi oleh berbagai hal diantaranya umur, tingkat pendidikan, status gizi balita dan sanitasi lingkungan yang meliputi kualitas sumber air dan kebersihan jamban (Suharyono, 2008). Salah satu masalah gizi yang menyerang bayi atau balita itu sendiri adalah penyakit diare.

Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya dengan perubahan peningkatan volume, keenceran dan frekuensi lebih dari 3 kali/hari dengan atau tanpa lendir dan darah (Hidayat, 2009). Diare dapat menyebabkan kurang gizi dan dapat memperburuk keadaan, karena selama diare akan mengalami kehilangan zat gizi dari tubuh dan tidak merasa lapar, pada balita yang menderita diare terjadi penundaan pemberian makanan atau tidak diberikan makanan (Suharyono, 2008).

Menurut WHO (2011), diare menduduki urutan kedua penyebab kematian pada bayi dan balita setelah kematian neonatus. Kejadian diare pada kelompok umur balita di

Indonesia sebanyak 5.2%. Kejadian diare di Indonesia tergolong penyakit menular tertinggi kedua pada balita usia 12-24 bulan yaitu sebanyak 7.6%. Kejadian diare pada kelompok umur balita di Jawa Tengah sebanyak 5.4% (Riskesdas, 2013).

Diare pada bayi atau balita kebanyakan disebabkan beberapa faktor di antaranya yaitu faktor penyebab (agent), penjamu (host), dan faktor lingkungan (environment)

(Suharyono, 2008). Faktor penyebab

(agent) yang dapat menyebabkan

diare pada balita antara lain; faktor infeksi, faktor malabsorbsi dan faktor makanan (Ngastiyah, 2005). Faktor penjamu (host) diantaranya dari faktor status gizi balita dan faktor perilaku hygiene yang kurang baik sedangkan faktor lingkungan

(environment) yaitu dari kondisi sanitasi yang kurang baik. (Soegijanto, 2002).

(6)

mempengaruhi proses penyerapan zat gizi yang berakibat menurunnya status gizi (Said, 2008).

Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 14 Februari 2015, prevalensi kejadian diare pada balita usia 12-24 bulan di Puskesmas Colomadu 1 Kabupaten Karanganyar dari bulan Oktober 2014 - Januari 2015 sebanyak 22%. Berdasarkan data status gizi balita BB/U di Puskemas Colomadu 1 di dapatkan status gizi baik sebanyak 1120 balita (92,6%), status gizi kurang 56 balita (4,6%), status gizi lebih 25 balita (2,1%) dan status gizi buruk 9 balita (0,7%).

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti akan meneliti hubungan antara status gizi dan perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian diare pada balita usia 12-24 bulan di wilayah Puskesmas Colomadu 1 Kabupaten Karanganyar.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah Observasional dengan rancangan studi cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 4 November - 4 Desember 2015, dilaksanakan di posyandu wilayah Puskesmas Colomadu 1 Karanganyar. Populasi

dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang berusia 12-24 bulan yang bertempat tinggal di wilayah Puskesmas Colomadu 1. Jumlah sampel diperoleh 45 responden, dengan menggunakan cara simple

random sampling. Variabel

penelitian ini meliputi variabel bebas yaitu status gizi dan PHBS dan variabel terikatnya yaitu kejadian diare pada balita usia 12-24 bulan. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu form karakteristik responden, form kuesioner kejadian diare dan form kuesioner lama kejadian diare. Analisis bivariat menggunakan uji Rank Spearman’s dengan α=0,05 dan tingkat kepercayaan 95%.

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Puskesmas

Puskesmas Colomadu 1 memiliki fasilitas kesehatan yang terdiri dari Puskesmas Induk, (PKD) Poli Klinik Desa dan Puskesmas Pembantu. Jumlah posyandu yang ada di Puskesmas Colomadu 1 sebanyak 47 posyandu yang tersebar di 6 desa.

(7)

mendapat perawatan, kadarzi, garam beryodium memenuhi syarat, distribusi kapsul Vit A Balita (6-59 bulan), distribusi Fe 90 Bumil, pemberian ASI Eksklusif, D/S (partisipasi masyarakat) dan N/D (hasil penimbangan). Lingkungan di wilayah Puskesmas Colomadu 1 Kabupaten Karanganyar memiliki lingkungan PHBS yang baik dengan persentase 99,5% pada indikator air bersih.

1. Karakteristik Subyek Penelitian

a. Karakteristik balita

Tabel 1 Karakteristik Balita

Variabel F Persentase

(%) menunjukkan bahwa sebagian besar balita memiliki usia 16-20 bulan sebesar 66,7% dengan jenis kelamin perempuan yaitu 64,4%. Usia tersebut dibagi atas dasar usia berdasarkan perhitungan likert (Azwar, 2012).

b. Karakteristik Ibu

Karakteristik ibu meliputi usia ibu, tingkat pendidikan dan pekerjaan ibu.

Tabel 2

Karakteristik Ibu Balita

Variabel F Persentase

(%)

Responden dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita usia 12-24 bulan di Wilayah Puskesmas Colomadu 1 Kabupaten Karanganyar. Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar usia ibu yang menjadi responden yaitu 19-39 tahun sebanyak (95,6%). Usia tersebut dibagi atas dasar usia berdasarkan perhitungan likert (Azwar, 2012). Menurut Siagian (1995), semakin usia bertambah dewasa maka seseorang semakin meningkat pula kedewasaan teknisnya demikian juga psikologisnya akan menunjukkan kematangan jiwa.

(8)

responden berdasarkan pendidikan terakhir ibu, distribusi tertinggi adalah SMA yaitu sebesar 57,8%. Menurut Notoatmodjo (2003), tingkat pendididkan seseorang dapat meningkatkan pengetahuannya tentang kesehatan. Salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah tingkat pendidikan. Pendidikan akan memberikan pengetahuan sehingga terjadi perubahan perilaku positif yang meningkat.

Menurut Muhiman (1996), tingkat pendidikan mempengaruhi kesadaran akan pentingnya arti kesehatan bagi diri dan lingkungan yang dapat mendorong akan kebutuhan akan pelayanan kesehatan. Hal ini berarti bahwa pendidikan menengah akan mempengaruhi perilaku ibu dalam mengakses informasi tentang penerapan PHBS untuk mencegah diare pada balita.

Berdasarkan Tabel 2, menunjukkan bahwa karakteristik responden berdasarkan pekerjaan, distribusi tertinggi adalah ibu rumah tangga (51,1%). Pekerjaan juga meningkatkan resiko terjadinya infeksi, dalam hal ini tingkat pekerjaan akan mempengaruhi status sosial ekonomi dalam

keluarga. Keluarga dengan status sosial ekonomi yang rendah akan meningkatkan faktor resiko terhadap terjadinya penyakit termasuk diare (Depkes RI, 2007).

2. Analisis Univariat

a. Distribusi Status Gizi Balita

Penilaian status gizi dibagi dalam empat kategori, yaitu status gizi buruk, status gizi kurang, status gizi lebih dan status gizi baik.

Tabel 3

Distribusi Status Gizi Balita

Variabel F Persentase

(%) menunjukkan bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi baik yaitu 91,1%. Distribusi karakteristik statistik deskriptif status gizi balita berdasarkan BB/U dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4

(9)

Berdasarkan Tabel 4, mean

atau rata-rata BB/U pada balita menunjukkan angka 0,30 yang berarti bahwa rata-rata balita memiliki status gizi baiik.

Nilai minimum dari penelitian ini merupakan -2,21 yang termasuk dalam status gizi baik karena nilai terletak antara z-score -2 s/d +2 SD. Nilai maksimum yang ditunjukkan oleh data tabel diatas merupakan 2,59 yang berarti bahwa status gizi balita termasuk dalam status gizi lebih karena berdasarkan nilai z-score BB/U menunjukkan angka >+2 SD.

b. Distribusi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Berdasarkan hasil penelitian, distribusi PHBS dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Distribusi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Variabel Frekuensi Persentase

(%) menunjukkan bahwa sebagian besar PHBS responden baik (97,8%). Menurut Notoatmodjo (2012) PHBS dipengaruhi oleh perilaku seseorang yang meliputi pengetahuan, sikap

dan praktek masyarakat yang sudah cukup baik. PHBS masyarakat di Wilayah Puskesmas Colomadu 1 tergolong baik. Distribusi karakteristik statistik deskriptif berdasarkan PHBS dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6

Karakteristik Statistik Deskriptif Berdasarkan PHBS Statistik Deskriptif Skor PHBS

Mean rata-rata skor PHBS ibu balita 27,26 yang berarti bahwa ibu balita memiliki PHBS yang baik. Nilai minimum dari skor PHBS ibu menunjukkan angka 19,56 yang berarti PHBS ibu dalam ketegori sedang, sedangkan nilai maksimum dari skor PHBS ibu diatas menunjukkan angka 31,95 yang berarti bahwa ibu memiliki PHBS baik.

c. Distribusi Kejadian Diare Balita

(10)

1 Kabupaten Karanganyar dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7

Distribusi Kejadian Diare

Variabel Frekuensi Persentase

(%) Kejadian

Diare

Diare Tidak diare

6 39

13,3 86,7

Berdasarkan Tabel 7, distribusi kejadian diare pada balita usia 12-24 bulan di Wilayah Puskesmas Colomadu I sebagian besar tidak maengalami diare (86,7%). Distribusi karakteristik deskriptif berdasarkan kejadian diare dapat dilihat pada tabel 8.

Tabel 8

Karakteristik Statistik Deskriptif Berdasarkan Kejadian

Diare

Statistik Deskriptif Kejadian Diare

Mean

Standar Deviasi Nilai Minimum Nilai Maksimum

0,49 1,272

0 4

Berdasarkan Tabel 8, mean atau rata-rata kejadian diare pada balita termasuk dalam kategori baik yaitu dengan angka 0,49. Nilai minimum dari kejadian diare pada balita yaitu 0 yang berarti baik sedangkan nilai maksimum dari kejadian diare pada balita dalam penelitian ini adalah 4 yang menunjukkan bahwa angka tersebut tidak baik. Kejadian diare

pada balita dikatakan baik apabila diare <3 kali dalam sehari yang disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair), dengan/tanpa darah dan/atau lendir yang diukur dalam sebulan 4 kali pengukuran.

Diare disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu infeksi, malabsorbsi, makanan, status gizi dan hygiene yang buruk. Berdasarkan hasil penelitian, faktor yang menyebabkan diare di Wilayah Puskesmas Colomadu 1 Kabupaten Karanganyar adalah dimungkinkan karena alergi susu formula dan kurang minum (kurang cairan).

(11)

3. Analisis Bivariat

a. Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Diare

Tabel 9

Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Diare

Variabel

Kejadian diare

Total

Uji korelasi Spearman’s nilai p>0,05

Kejadian diare yang diuji adalah lama terjadinya diare balita. Berdasarkan Tabel 9, hasil penelitian mununjukkan bahwa dari 41 balita yang memiliki status gizi baik terdapat 36 balita tidak menderita diare. Berdasarkan hasil analisa uji korelasi Spearman’s, didapatkan nilai p=0,93 (p>0,05) maka Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara status gizi dengan kejadian diare pada balita usia 12-24 bulan di wilayah Puskesmas Colomadu 1.

Hal ini disebabkan karena anak balita yang sakit diare memperoleh asupan makan yang baik atau lebih dari orang tua sehingga tidak berpengaruh terhadap status gizi balita yang sedang sakit. Balita yang sedang sakit cenderung mendapat perhatian lebih dari orangtua terutama dalam

hal makanan yang bergizi dan segera membawa anaknya ke tenaga kesehatan, sehingga hal ini dapat berdampak pada status gizi balita yang sakit tetap baik.

(12)

sehingga hal tersebut juga bisa menyebabkan status gizi anak yang sakit tetap terjaga dan baik.

Menurut penelitian Rosari, dkk (2013), yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara kejadian diare dalam satu bulan terakhir dengan status gizi balita di Kelurahan Lubuk Buaya (p>0,05). Hal ini dikarenakan sebagian besar ibu melakukan tindakan yang cepat dalam menaggulangi diare dengan membawa berobat ke tempat pelayanan kesehatan seperti bidan/dokter dan memberikan oralit atau cairan sehingga tindakan tersebut akan memperkecil terjadinya gangguan keseimbangan elektrolit pada anak. Frekuensi diare yang jarang, durasi diare yang singkat serta pemberian tindakan penanggulangan yang tepat menyebabkan diare yang terjadi tidak mempengaruhi status gizi balita secara bermakna.

Menurut Rahmawati (2008), semakin baik status gizi balita maka semakin besar peluang tidak menderita penyakit infeksi. Menurut Nuryanto (2012), status gizi baik umumnya akan meningkatkan resistensi tubuh terhadap penyakit-penyakit infeksi.

Diare pada balita dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, tidak hanya status gizi saja. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pudiastuti (2011) dan Aziz (2006), diare dapat dipengaruhi oleh infeksi virus, faktor lingkungan, kependudukan, pendidikan, keadaan sosial ekonomi, dan perilaku masyarakat.

Diare pada balita dapat disebakan oleh infeksi virus, personal hygiene dan sanitasi lingkungan. Virus yang menyebabkan diare adalah rotavirus

dan adenovirus. Virus ini melekat pada sel-sel mukosa usus yang mengakibatkan sel-sel mukosa usus menjdai rusak sehungga kapasitas reabsorbsi menurun dan sekresi air maupun elektrolit meningkat (Pudiastuti, 2011).

Faktor lingkungan yang dimaksud adalah kebersihan lingkungan dan perorangan seperti kebersihan puting susu, kebersihan botol susu dan dot susu, maupun kebersihan air yang digunakan untuk mengelola susu dan makanan. (Aziz, 2006).

(13)

atau kumuh sedangkan faktor perilaku orang tua dan masyarakat misalnya adalah kebiasaan ibu yang tidak mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan, setelah buang air besar atau membuang tinja anak. Kesemua faktor yang tersebut diatas terkait erat dengan faktor ekonomi masing-masing keluarga (Soegeng, 2002).

Penyebab diare juga dapat bermacam macam tidak selalu karena infeksi dapat dikarenakan faktor malabsorbsi seperti malabsorbsi karbohidrat, disakarida (inteloransi laktosa, maltosa, dan sukrosa) monosakarida (inteloransi

glukosa, fruktosa, dan galaktosa), karena faktor makanan basi, beracun, alergi karena makanan dan diare karena faktor psikologis, rasa takut dan cemas (Vila dkk, 2000).

Penyebab terbanyak diare akut pada anak usia di bawah 5 tahun adalah virus rota (Elliott, 2007; Breese dkk, 2004). Virus ini akan menyebabkan gangguan pada mukosa usus sehingga terjadi sekresi dan motilitas berlebih yang menyebabkan terjadinya diare (Elliott, 2007; Marromichalis, 1977).

b. Hubungan PHBS dengan Kejadian Diare .

Tabel 10

Hubungan PHBS dengan Kejadian Diare

Variabel

Uji korelasi Spearman’s nilai p>0,05

Kejadian diare yang diuji adalah lama terjdinya diare balita. Berdasarkan Tabel 10, diketahui bahwa keluarga dengan PHBS baik mempunyai balita tidak diare 38 balita dengan persentase 84,4%. Tidak adanya hubungan ditunjukkan dari hasil analisa uji korelasi

Spearman’s dengan nilai p=0,179

karena p>0,05 maka Ha ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara PHBS dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Colomadu 1 Kabupaten Karanganyar.

(14)

Colomadu 1 dimungkinkan karena faktor pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat sudah baik yang dibuktikan dengan PHBS masyarakat di Wilayah Puskesmas Colomadu 1 yang tergolong sudah cukup baik dan didukung pendapat Notoatmodjo (2012) bahwa PHBS dipengaruhi oleh perilaku seseorang yang meliputi pengetahuan, sikap dan praktik.

Nilai p diatas menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara PHBS dengan kejadian diare pada balita usia 12-24 bulan di Puskesmas Colomadu 1 Kabupaten Karanganyar. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ona, dkk (2012) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara sanitasi lingkungan rumah dengan kejadian penyakit diare pada balita. Penelitian yang dilakukan oleh Handayani (2009), menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara sanitasi lingkungan dengan diare pada balita.

Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nuraini (2012) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan penerapan PHBS keluarga dengan kejadian diare pada balita. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki PHBS keluraga

yang baik (70,8%). Penerapan PHBS yang baik dapat berdampak pada perilaku untuk mencegah terjadinya diare pada balita. Kondisi tersebut secara langsung akan berdampak pada penurunan insiden diare di masyarakat. Pencegahan PHBS yang dapat mencegah terjadinya diare adalah memberikan ASI Eksklusif, menimbang balita secara rutin setiap bulan dan membiasakan mencuci tangan sedangkan untuk faktor lingkungan adalah menggunakan air bersih dan jamban yang sehat.

Menurut Soegijanto (2002), banyak faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menjadi faktor pendorong terjadinya diare. Penyebab tidak langsung terjadinya diare adalah status gizi, pemberian ASI Eksklusif, lingkungan, PHBS dan sosial ekonomi. Penyebab langsung atara lain infeksi bakteri, virus dan parasit, malabsobsi alergi, keracunan bahan kimia maupun keracunan oleh racun yang diproduksi oleh jasad renik, ikan, buah dan sayur-sayuran.

(15)

memelihara dan meningkatkan status kesehatan antara lain pencegahan penyakit, kebersihan diri, pemilihan makanan sehat dan bergizi serta kebersihan lingkungan. Keadaan kesehatan yang tidak baik mempengaruhi terhdap terjadinya penyakit diare dibandingkan dalam kesehatan yang baik (Suriadi, 2001).

Diare pada balita tidak hanya terkait dengan sanitasi lingkungan saja melainkan ada faktor lain yang terkait dengan diare pada balita antara lain faktor sosial ekonomi. Keluarga yang berstatus ekonomi rendah bisanya bertempat tinggal di daerah yang tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga mudah terpapar penyakit infeksi (Soemirat, 2005).

Ibu yang memiliki PHBS yang baik kemungkinan disebabkan oleh

pendidikan yang mayoritas adalah

SMA. Pendidikan juga

mempengaruhi perilaku yang akan dilakukan ibu terhadap PHBS. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kusumawati (2011) bahwa ada keterkaitan antara pendidikan dengan PHBS dengan tingkat kesehatan, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin mudah ibu menerima arti hidup sehat secara

mandiri, kreatif dan

berkesinambungan. Perilaku ibu juga dapat menurunkan angka kejadian diare dengan cara ibu membiasakan mencuci tangan dengan baik sehingga balitanya kecil kemungkinan untuk terkena diare dibandingkan dengan ibu yang mencuci tangan kurang baik.

KESIMPULAN

1. Status gizi balita di wilayah Puskesmas Colomadu 1 dalam kategori baik sebanyak 91,1%, kategori kurang dan lebih sebanyak 4,4%.

2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada anggota keluarga yang memiliki PHBS baik sebanyak 97,8% sedangkan anggota keluarga yang memiliki PHBS sedang 2,2%.

3. Balita usia 12-24 bulan yang mengalami diare di wilayah Puskesmas Colomadu 1 sebanyak 13,3% sedangkan balita yang tidak mengalami diare sebanyak 86,7%.

(16)

5. Tidak ada hubungan antara PHBS dengan kejadian diare pada balita usia 12-24 bulan di wilayah Puskesmas Colomadu 1.

SARAN

1. Diharapkan lebih meningkatkan frekuensi penyuluhan kesehatan kepada masyarakat khususnya tentang penyakit diare dan PHBS.

2. Diharapkan ibu balita untuk lebih meningkatkan dan menjaga kebersihan disekitar rumah dan lingkungannya karena kebersihan lingkungan salah satu untuk mencegah penyakit infeksi terutama diare. 3. Hasil penelitian ini dapat

memberikan referensi untuk mengembangkan penelitian-penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita.

REFERENSI

Aziz, A. 2006. Pengantar Ilmu

Keperawatan Anak. Jakarta:

Salemba Medika.

Azwar, S. 2012. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Departemen Kesehatan RI. 2007.

Riset Kesehatan Dasar

(Riskesdas) 2007. Badan

Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Jakarta

Elliot, E. J. 2007. Acute Gastroenteritis in Children. BMJ 2007; 334:35-40.

Hidayat, A. A. 2009. Metode

Penelitian Keperawatan dan

Teknik Analisa Data. Salemba Medika. Jakarta.

Kusumawati, Oktania. 2011.

Hubungan Perilaku Hidup

Bersih dan Sehat dengan

Kejadian Diare pada Balita Usia 1 -3 Tahun Studi Kasus di Desa

Tegowanu Wetan.

Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit Edisi 2. EGC. Jakarta.

Notoatmodjo, S. 2003. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Rineka Cipta. Jakarta.

Nuraeni. 2012. Faktor-faktor yang

Berhubungan Dengan

Kejadian Diare Pada Balita di Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogon Provinsi Jawa Barat

Tahun 2012. Fakultas

Kesehatan Masyarakat Program Sarjana Kesehatan Masyarakat. Depok.

Nuryanto. 2012. Hubungan Status

Gizi Terhadap Terjadinya

Penyakit Infeksi Saluran

Pernapasan Akut pada Balita. Jurnal Ilmiah Pembangunan Manusia Vol. 6. No. 2.

Ona, D.M.D., Nugroho, A., Wahyuningsih, S. 2012.

Hubungan Antara Sanitasi

(17)

Kejadian Diare Pada Balita Dengan Status Gizi Balita Di

Puskesmas Berbah

Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman Yogyakarta. Ilmu Gizi Universitas Respati Yogyakarta. Yogyakarta

Pudiastuti, D. R. 2011. Waspada

Penyakit Pada Anak. PT

Indeks. Jakarta.

Rahmawati. 2008. Hubungan Antara Status Gizi dengan Kejadian ISPA pada balita di URJ Anak RSU Dr Soetomo Surabaya. Buletin Penelitian RSU Dr Soetomo. Vol. 10. No. 3. September.

Riekesdas. 2013. Laporan Riset

Kesehatan Dasar. Departemen

Kesehatan Republik Indonesia.

Rosari, A., Rini EA., Masrul. 2013.

Hubungan Diare dengan

Status Gizi Balita di Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tengah Kota Padang. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Said, M. 2008. Pneumonia. In: Rahajoe N.N., Supriyatno B., Setyanto D.B. (eds). Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi I. Jakarta: Badan Penerbit IDAI, pp 350-364.

Santoso, H. 2011. Dermatitis Atopik. Buku Ajar Alergi-Imunologi

Anak Edisi Kedua. Balai Penerbit IDAI. Jakarta.

Siagian, P. S. 1995. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi Aksara. Jakarta.

Suharyono. 2008. Diare Akut, Klinik dan Laboratorik. Rineka Cipta. Jakarta.

Suriadi. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak Edisi 1. CV.Sagung

Seto. Jakarta

Soegeng, S. 2002. Ilmu Penyakit

Anak, diagnosa dan

penatalaksanaan. Salemba

medika. Jakarta.

Soegijanto. 2002. Ilmu Penyakit Anak Edisi 1. Medika. Jakarta.

Soemirat, J. 2005. Epidemiologi Lingkungan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Vila, J., Vargas, M., Ruiz, J., Corachan, M., De Anta, MTJ., Gascon, J. 2000. Quinolon Resisten in Enterotoxigenic E.colli causing Diarrhea in

Travelers to India in

Comparison with other

Geographycal Areas.

Antimicrobial Agents and

Chemotherapy June 2000.

World Health Organization. 2011.

Figur

Tabel 2 (partisipasi masyarakat) dan N/D Karakteristik Ibu Balita

Tabel 2

(partisipasi masyarakat) dan N/D Karakteristik Ibu Balita p.7

Referensi

Memperbarui...