vii Abstrak
Pemenuhan terhadap basic needs satisfaction akan mendukung siswa untuk dapat berfungsi secara optimal dalam mencapai educational outcomes. Menggunakan teori basic need satisfaction oleh Deci & Ryan, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh parent involvement terhadap basic need satisfaction.
Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 231 siswa. Alat ukur parent involvement disusun oleh Tisza dan tim (2015) didasari oleh teori Grollnick (2009). Sedangkan alat ukur basic need satisfaction merupakan hasil adaptasi dan translasi dalam bahasa Indonesia berdasarkan alat ukur basic needs satisfaction in General Scale (BNSG-S). Berdasarkan uji validitas menggunakan Pearson Correlation dan uji reliabilitas menggunakan Cronbach Alpha diperoleh bahwa seluruh item BNSG-S valid dengan reliabilitas 0,736.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis menggunakan regresi linear berganda dan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parent involvement berperan signifikan terhadap basic need satisfaction (R2 = 0,044, F = 3,442 , ρ = 0,018). Secara spesifik parent involvement memiliki peran signifikan dalam pemenuhan need for competence (R2 = 0,042, F = 3,294 , ρ = 0,021) dan tipe parent involvement yang paling berperan signifikan adalah Cognitive involvement terhadap need for competence (β =
0,187 dan ρ = 0,016).
viii Abstract
Basic needs satisfaction will support students to be able to function optimally in achieving educational outcomes. Using the theory of basic need satisfaction by Deci & Ryan, this study aims to determine the effect of parent involvement on basic need satisfaction..
Participants in this research were 231 students. Parent involvement questionaires aranged by the Tisza and parent involvement team (2015) based on the parent involvement theory by Grollnick (2009). The basic need satisfaction questionaires adapted and translated in Indonesian based on basic needs satisfaction in General Scale (BNSG-S). Using Pearson Correlation test and reliability test using Cronbach Alpha obtained that the entire item of BNSG-S is valid with a reliability of 0.736.
The data were analyzed using multiple linear regression and simple linear regression. The results show that parent involvement significantly influence the basic need satisfaction
(R2 = 0.044, F = 3.442, ρ = 0.018). Specifically parent involvement has a significant role in fulfilling the need of competence (R2 = 0.042, F = 3.294, ρ = 0.021) and the most significant role is Cognitive involvement to fullfilling need of competence (β = 0.187 and ρ = 0.016).
ix DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ··· i
LEMBAR PENGESAHAN ··· ii
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS LAPORAN PENELITIAN ··· iii
LEMBAR PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN PENELITIAN ··· iv
KATA PENGANTAR ··· v
ABSTRAK ··· vii
ABSTRACT ··· viii
DAFTAR ISI ··· ix
DAFTAR TABEL ··· xiii
DAFTAR BAGAN ··· xiv
DAFTAR LAMPIRAN ··· xv
BAB I Pendahuluan ··· 1
1.1. Latar Belakang masalah ··· 1
1.2. Identifikasi masalah ··· 5
x
1.3.1.Maksud penelitian ··· 5
1.3.2.Tujuan penelitian ··· 5
1.4. Kegunaan penelitian ··· 6
1.4.1.Kegunaan ilmiah ··· 6
1.4.2.Kegunaan praktis ··· 6
1.5. Kerangka pikir ··· 6
1.6. Asumsi Penelitian ··· 11
1.7. Hipotesa Penelitian··· 11
BAB II Tinjauan Pustaka ··· 2.1. Parent’s Involvement ··· 14
2.1.1.Pengertian Parent Involvement ··· 15
2.1.2.Tipe Parent Involvement ··· 16
2.1.2.1.School involvement ··· 16
2.1.2.2.Personal involvement ··· 17
2.1.2.3.Cognitive involvement ··· 17
2.1.3.Dampak Parent Involvement ··· 18
2.2. Self-Determination Theory ··· 19
2.2.1.Konsep kebutuhan dasar (Basic Needs) dalam SDT ··· 20
2.2.1.1.Jenis Kebutuhan Dasar Psikologis (Basic Needs) ··· 21
2.2.1.1.1. Need for autonomy ··· 21
2.2.1.1.2. Need For Competence ··· 22
2.2.1.1.3. Need for Relatedness ··· 23
xi
2.2.1.3 Dinamika Parent Involvement dengan Basic Needs
Satisfaction··· 25
2.3. Perkembangan anak ··· 26
2.3.1. Tahap Perkembangan Usia sekolah menurut Erikson ··· 26
2.3.2.2. Kompetensi, kekuatan dasar sekolah ··· 27
BAB III Metodologi Penelitian ··· 28
3.1. Rancangan dan Prosedur Penelitian ··· 28
3.3. Variable penelitian ··· 30
3.3.1.Definisi Operasional ··· 30
3.3.1.1. Definisi operasional Parent Involvement ··· 30
3.3.1.2. Definisi operasional Basic Needs Satisfaction ··· 30
3.4. Populasi sasaran dan karakteristik populasi ··· 31
3.4.1 Populasi sasaran ··· 31
3.4.2. Karakteristik Populasi ··· 31
3.5 Alat ukur ··· 31
3.5.1. Alat ukur Parents Involvement ··· 32
3.5.2. Kisi-kisi alat ukur Parent Involvement ··· 32
3.5.3. Alat ukur Basic Needs Satisfaction in General ··· 33
3.5.4. Kisi-kisi alat ukur Basic Needs Satisfaction in General ··· 33
3.5.5 Data Pribadi ··· 34
xii
3.5.6.1 Validitas Alat Ukur ··· 35
3.5.6.2. Reliabilitas Alat Ukur ··· 36
3.6. Teknik Analisis Data ··· 37
3.7. Hipotesa Statistik ··· 39
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ··· 42
4.1. Gambaran sample penelitian ··· 42
4.2. Hasil Penelitian ··· 43
4.3. Pembahasan ··· 46
4.4. Diskusi ··· 50
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ··· 52
5.1. Simpulan ··· 52
5.2. Saran ··· 53
5.2.1. Saran Teoritis ··· 53
5.2.2. Saran Praktis ··· 53
DAFTAR PUSTAKA ··· 54
DAFTAR RUJUKAN ··· 57
xiii DAFTAR TABEL
Tabel 3.1. Alat ukur Parent Involvement ... 32
Tabel 3.2 Alat ukur Basic Needs Satisfaction In General ... 33
Tabel 4.1 gambaran responden berdasarkan jenis kelamin ... 42
Tabel 4.2 gambaran responden berdasarkan tingkat kelas ... 42
Tabel 4.4 tabel signifikansi korelasi antara parent involvement dengan basic need satisfaction. ... 43
Tabel 4.5 Tabel uji regresi linier berganda parents involvement (PI) dengan basic needs satisfaction ... 44
Tabel 4.6 Tabel uji regresi linier berganda antara parents involvement (PI) dengan komponen need for autonomy ... 45
Tabel 4.7 Tabel uji regresi linier berganda antara parents involvement (PI) dengan komponen need for competence ... 45
xiv DAFTAR BAGAN
Bagan 1.1 Bagan kerangka pikir ... 11
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Kisi-kisi Alat ukur Parent Involvement ... 58
A. School involvement ... 58
B. Personal Involvement ... 59
C. Cognitive Involvement ... 60
Lampiran 2. Tabel Perhitungan Try Out Kuesioner Parent Involvement... 63
Lampiran 3. Kisi-Kisi Alat Ukur Basic Needs Satisfaction ... 68
A. Need for autonomy ... 68
B. Need for competence ... 69
C. Need for relatedness ... 70
Lampiran 4. Tabel perhitungan Try out kuesioner Basic Need Satisfaction ... 72
Lampiran 5. Kuesioner Parent Involvement ... 78
Lampiran 6. Kuesioner Basic Need Satisfaction ... 82
xvi
Lampiran 8. Hasil korelasi parent involvement terhadap basic need satisfaction 87
Lampiran 9. Hasil regresi parent involvement terhadap basic need satisfaction .. 89
A. Regresi dimensi parent involvement terhadap basic need satisfaction ... 89
B. Regresi Dimensi parent involvement dengan need for autonomy ... 90
C. Regresi Dimensi parent involvement dengan need for competence ... 91
1
Universitas Kristen Maranatha BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Orang tua berperan untuk membentuk sikap dan perilaku anak agar dapat mencapai
pola perilaku yang diharapkan. Kesadaran akan peran orang tua bergeser seiringnya
perkembangan kondisi sosial ekonomi masa kini. Orang tua masa kini cenderung lebih
banyak menghabiskan waktu untuk bekerja daripada terlibat dalam kegiatan belajar anak di
rumah. Seperti yang dilansir oleh kompas.com (2011), Penelitian yang diadakan oleh
Organisation for Economic Co-operation and Development yang mengumpulkan data selama 11 tahun, mulai 1998-2009. Menunjukkan bahwa dari 21 negara yang dianalisa, orang tua
yang bekerja menghabiskan waktu 105 menit (ibu) dan 69 menit (ayah) untuk bersama
anaknya per hari. Padahal, pembahasan mengenai keterlibatan orang tua ini dipersepsikan
sebagai hal yang penting oleh guru-guru di sekolah. Berdasarkan data angket mengenai
pentingnya keterlibatan orang tua yang dilakukan oleh Jane & Nydia (2015), menunjukkan
bahwa 100% guru berpendapat bahwa keterlibatan orang tua itu sangat penting.
Tidak hanya itu, hasil jajak pendapat yang diselenggarakan Kompas pada 22-24 April
2015 menunjukkan, mayoritas publik menyadari pentingnya peran orang tua dalam
pendidikan anak. Pengumpulan pendapat ini dilakukan terhadap 326 responden yang dalam
keluarganya terdapat anak usia sekolah. Tak kurang dari 85 persen responden menyatakan
bahwa orangtua dan keluarga memiliki peran paling penting dalam proses pendidikan anak.
Hanya 15 persen responden yang menilai peran ini ada di tangan guru dan lingkungan di luar
2
Universitas Kristen Maranatha
satunya dengan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif di rumah. Rata-rata dua dari
tiga responden mengaku menerapkan waktu khusus belajar bagi anak dan melakukan
pendampingan saat anak belajar. (Sugihandari, 2015).
Beberapa peneliti juga mengemukakan bahwa, keterlibatan orang tua (parent’s
involvement) dalam kehidupan anak mempunyai potensi untuk meningkatkan bagaimana anak mencapai prestasi. Alasan pertama, karena parent’s involvement dapat membantu anak untuk memberikan kemampuan untuk merasa kompeten (feelings of competence). Kedua, parent’s
involvement juga mampu membangun perasaan keterhubungan (sense of relatedness) antara orang tua dan anak, karena orang tua yang menunjukkan bahwa dirinya menanamkan sesuatu
kepada anaknya, mampu membina hubungan yang dekat antara anak dengan orang tua
(Grollnick & Slowiaczeck, 1994 dalam Elliot & Dweck, 2005). Ketiga, parent’s involvement dapat mendukung anak untuk lebih mampu memahami dirinya, karena orang tua mampu
memberitahukan bahwa anak terlibat dalam kegiatan yang berharga (Elliot & Dweck, 2005).
Keterlibatan orang tua menjadi sarana penting pembelajaran pada anak usia sekolah dasar.
Anak-anak pada usia sekolah dasar masih memerlukan keterlibatan orang tua terutama
anak kelas IV, V, dan VI yang berusia 10 tahun hingga 13 tahun. Menurut Piaget,
anak-anak usia 10 tahun hingga 12 tahun sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan
menggunakan pola berpikir "kemungkinan". Mereka sudah mampu mempersepsikan apakah
orang tua terlibat dalam kegiatan belajarnya atau tidak. Pada usia ini pula, terdapat
perubahan-perubahan pra-pubertas dimana dunia sosial anak meluas di luar keluarga, mencakup
kelompok teman, guru, dan panutan dewasa lainnya. Keinginan mereka untuk mengetahui
sesuatu menjadi lebih kuat dan lebih percaya diri untuk menggunakan kemampuan fisik dan
kognitif dalam menyelesaikan masalah yang mengiringi usia sekolah (Erikson, 1968, 126
dalam Feist, 2006 dengan perubahan). Perubahan-perubahan dan tugas perkembangan yang
3
Universitas Kristen Maranatha
perubahan yang terjadi mengarah ke hal-hal yang positif dan berkembang secara optimal.
Semisal meningkatkan prestasi di bidang akademik dan lebih aktif dalam pembelajaran di
sekolah.
Seperti pada lingkungan di SD „X‟ yang menerapkan sistem dimana orang tua siswa
diperkenankan untuk ikut serta dalam kegiatan di sekolah. Setiap satu tahun, sekolah
mengundang orang tua secara formal sebanyak lima kali, yaitu: awal tahun ajaran,
pertengahan semester pertama (mid 1), akhir semester pertama, pertengahan semester kedua
(mid 2), dan akhir tahun ajaran. Pertemuan di awal semester diperuntukan untuk
memberitahukan orang tua mengenai kurikulum, dan agenda besar pembelajaran murid di
sekolah. Pertemuan pertengahan semester diperuntukan untuk pembagian raport “bayangan”.
Raport “bayangan” yang dimaksud ialah gambaran kasar prestasi akademik siswa di sekolah
selama 3 bulan. Hal ini dilakukan agar orang tua mendapatkan gambaran mengenai prestasi
anaknya tidak hanya pada akhir semester dan dapat melakukan pencegahan apabila prestasi
anaknya menurun.
Pada akhir semester pertemuan dengan orang tua diperuntukan untuk pembagian
raport dan memberikan evaluasi mengenai kelemahan dan kelebihan anak apabila diperlukan.
Tidak hanya pertemuan orang tua secara formal, SD “X” mengadakan beberapa acara
informal dimana orang tua dapat terlibat dalam kegiatan sekolah. Dalam 1 tahun terakhir, SD
“X” mengadakan science fair dimana masing-masing kelas dari tiap angkatan mengadakan
proyek IPA dan dipertunjukkan secara terbuka untuk umum di sekolah. Pada saat science fair
ini, orang tua siswa diperkenankan memberikan ide, masukan, dan materi kepada guru
mengenai proyek yang akan dikerjakan oleh anaknya. Orang tua juga diperkenankan untuk
dapat berperan serta dalam kegiatan lain seperti acara reatreat, menginap di sekolah, ataupun
lomba 17 Agustus dimana sempat diadakan pertandingan guru melawan orang tua dengan
4
Universitas Kristen Maranatha
sekalipun sekolah sudah mencoba terbuka dengan memberikan kesempatan pada orang tua
untuk terlibat dalam berbagai kegiatan di sekolah, hanya sekitar 20% orang tua siswa (dari 6
jenjang) yang ikut serta dalam kegiatan-kegiatan diatas. Berkaitan dengan prestasi, sekalipun
sudah adanya perubahan kurikulum dan metode pengajaran, kepala sekolah SD “X”
berpendapat prestasi siswa cenderung tidak berubah. Fenomena ini dikarenakan rata-rata
siswa di SD “X” memiliki orang tua yang sibuk dengan pekerjaan dan mengejar tuntutan
ekonomi saat ini..
Kurangnya motivasi anak untuk dapat meningkatkan prestasi akademiknya berdampak
pada penghayatannya akan kegiatan di sekolah. Salah satu peneliti dalam dunia pendidikan,
Deci & Ryan mengungkapkan dalam jurnalnya proses pembelajaran. Pendidikan saat ini tidak
memusatkan tendensi siswa untuk belajar, melainkan pemusatan sistem pembelajarannya
dengan kontrol secara eksternal, pemantauan, evaluasi dan pemberian hadiah untuk
meningkatkan minat belajar. Sebagai dampak dari strategi tersebut, belajar bukanlah hal yang
menyenangkan namun dirasakan terpaksa –aktivitas yang cenderung dihindari daripada dicari
(Ryan & Deci, 2009 dalam Grollnick 2010). Menjawab permasalahan tersebut, Ryan dan
Deci (2000) mencetuskan gagasan teori self-determination. Teori self-determination,
mengusulkan bahwa individu akan cenderung lebih mudah menginternalisasikan nilai-nilai
dan aturan dari lingkungan karena di fasilitasi oleh orang tua untuk memenuhi tiga macam
kebutuhan yaitu kebutuhan terhubung (need for relatedness) dengan lingkungannya,
kebutuhan kompetensi (need for competence), dan juga kebutuhan untuk mandiri (need for
autonomy) (Ryan & Deci ,2000). Apabila ketiga kebutuhan (needs) tersebut terpenuhi, siswa cenderung termotivasi dan lebih menghayati serta terlibat dalam kegiatan belajar akademik di
sekolah.
Adapun penelitian yang akan dilakukan ini bermaksud mengetahui peran parent’s
5
Universitas Kristen Maranatha
sumbangan dalam menjelaskan dinamika peran keterlibatan siswa (School engagement)
dengan parents involvement, yang mengacu pada penelitian Grollnick pada variable parents
involvement. Pada penelitiannya mengenai Students Outcomes dan Self-regulation, didapat bahwa Basic needs Satisfaction yang berbasis pada Self-determination theory merupakan
jembatan bagi parent’s involvement dengan komponen-komponen pada School Engagement. Dari permasalahan mengenai teori dan sampel yang sudah ada inilah peneliti tertarik untuk
mencari peran antara parent’s involvement dengan Basic needs Satisfaction lebih lanjut.
1.2 Identifikasi masalah
Dari penelitian ini ingin diketahui peran parent involvement dengan Basic needs
Satisfaction siswa SD “X” kelas IV,V, dan VI kota Bandung.
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1 Maksud Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan gambaran mengenai
peran parent involvement dengan basic needs satisfaction siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI
kota Bandung.
1.3.2 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besar peran dan signifikansi parent
6
Universitas Kristen Maranatha
1.4 Kegunaan Penelitian
1.4.1 Kegunaan Ilmiah
- Sebagai masukan bagi ilmu Psikologi, khususnya Psikologi pendidikan dan
Psikologi perkembangan yang berhubungan dengan parent’s involvement dan Basic needs Satisfaction.
- Hasil dari penelitian ini dapat memberikan informasi tambahan bagi peneliti lain
yang ingin meneliti topik yang sama mengenai parent’s involvement dan/atau Basic needs Satisfaction.
1.4.2 Kegunaan Praktis
- Bagi orang tua siswa di SD “X”, diharapkan penelitian ini dapat memberikan
sumbangan pemikiran mengenai keterlibatan orang tua (parent’s involvement) dalam pembelajaran anak.
- Bagi para guru dan pimpinan sekolah SD “X”, diharapkan penelitian ini dapat
menjadi sumber atau inspirasi dalam merancang program parenting di sekolah.
1.5 Kerangka Pikir
Setiap individu akan mengalami perkembangan semasa dia hidup. Siswa di jenjang
SD kelas IV hingga kelas VI berada pada tahap perkembangan Late Childhood. Dalam buku
Feist (2005), Erikson (1982) berpendapat pada usia ini, dunia sosial anak meluas di luar
keluarga, mencakup kelompok teman, guru, dan panutan dewasa lainnya. Untuk anak usia
sekolah, keinginan mereka untuk mengetahui sesuatu menjadi lebih kuat dan terikat dengan
usaha dasar akan kompetensi. Anak usia sekolah mengembangkan kekuatan dasar kompetensi,
7
Universitas Kristen Maranatha
menyelesaikan masalah yang mengiringi usia sekolah. Kompetensi memberikan landasan
untuk “partisipasi kooperatif dalam kehidupan dewasa yang produktif” (Erikson, 1968, 126
dalam Feist, 2006). Perubahan-perubahan dan tugas perkembangan yang terjadi memerlukan
dukungan dari lingkungan yang terlibat dengan siswa. Agar perubahan yang terjadi mengarah
ke hal-hal yang positif dan berkembang secara optimal, orang tua siswa SD “X” masih
diperlukan untuk terlibat dalam kegiatan belajar anak.
Secara umum keterlibatan orang tua (parent involvement) dideskripsikan dalam
literatur perkembangan anak sebagai sejauh mana orang tua “berkomitmen” terhadap dirinya
atau perannya sebagai orang tua untuk menumbuhkan perkembangan anak yang optimal
(Maccoby & Martin 1983, p.48 dalam Grolnick & Slowiaczek 1994). Cara orang tua siswa
terlibat bermacam-macam, Grollnick membagi keterlibatan orang tua (parent’s involvement) menjadi 3, yaitu:
Orang tua yang terlibat secara nyata dalam kegiatan di sekolah (school involvement).
Hal ini ditunjukkan oleh perilaku hadir pada pertemuan formal maupun informal yang
diadakan di sekolah SD “X”. Orang tua siswa SD “X” nampak bersedia pergi ke sekolah
dengan mengantar anaknya ke sekolah, menemui wali kelas, maupun bersedia mengambil
raport untuk anaknya. Tidak hanya itu, orang tua juga menunjukkan partisipasinya dalam
kegiatan yang sudah diselenggarakan sekolah SD “X” dengan memberikan usul/tenaga pada
kegiatan sekolah seperti science fair, menghadiri kegiatan-kegiatan yang diadakan, dan
memberikan dana atau uang untuk keperluan sekolah. Apabila orang tuanya bersedia pergi ke
sekolah dan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah, lalu anak mengetahui perilaku orang
tuanya tersebut, maka anak akan mempersepsikan bahwa orang tua terlibat secara nyata di
dalam kegiatan sekolah SD “X” (School involvement).
Selanjutnya, orang tua terlibat dengan memberikan perhatian terhadap sekolah dan
8
Universitas Kristen Maranatha
sekolah (parent’s personal involvement). Dalam parent personal involvement, anak akan mempersepsikan pengalaman-pengalaman afektif dari orang tua yang menyediakan sumber
daya untuk kegiatan belajar di SD “X”. Orang tua akan menunjukkan pada anaknya bahwa
dirinya memiliki perhatian terhadap sekolah dengan mengetahui apa saja kegiatan yang
diadakan oleh sekolah SD “X”, mengetahui peristiwa yang terjadi pada anaknya, mengenal
siapa saja yang menjadi teman anaknya, dan menyediakan waktu untuk mengecek tugas yang
diberikan pada anaknya selama belajar di sekolah SD “X”. Selain itu, orang tua siswa SD “X”
juga menunjukkan bahwa dirinya mampu berkomunikasi dengan anaknya mengenai perasaan
dan pengalaman selama bersekolah di SD “X” seperti menanyakan perlengkapan sekolah
yang perlu dibawa, menolong saat kesulitan mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah),
memberikan semangat agar giat belajar, menanyakan relasi anaknya dengan guru, dan
menanyakan aktivitas hingga perasaan anaknya saat bersekolah di SD “X”.
Orang tua juga dapat terlibat dalam kegiatan yang dapat menstimulasi kognitif anak
(cognitive involvement). Hal ini akan dipersepsikan Siswa SD “X” sebagai orang tua yang
sering memfasilitasi dirinya dengan materi-materi dan pengetahuan yang berkaitan dengan
pembelajaran di sekolah. Dengan mengizinkan anak untuk mengikuti pelajaran tambahan,
berdiskusi mengenai strategi pembelajaran, dan mengajak anaknya pergi ke toko buku atau
museum, orang tua menunjukkan bahwa dirinya menstimulasi kognitif anaknya. Tidak hanya
itu, orang tua juga menunjukkan bahwa dirinya menunjang materi yang diperlukan anak agar
kognitifnya terstimulasi seperti menyediakan kamus, internet, hingga buku-buku yang sesuai
dengan pelajaran di sekolah SD “X”
Dengan mengetahui apa saja yang akan dilakukan siswa di sekolah, orang tua
diasumsikan mampu memahami perspektive anak dan mampu memenuhi kebutuhan anak
dalam belajar di sekolah SD “X”. Dalam diri siswa SD “X” terdapat 3 kebutuhan mendasar
9
Universitas Kristen Maranatha
(needs for autonomy) dimana siswa SD X merasa bahwa dirinya mampu memilih dan
mempersepsikan bahwa segala perilaku berasal dari dirinya sendiri, Orang tua siswa yang
mampu memahami keadaan perasaan siswanya cenderung memberikan pilihan-pilihan pada
siswa sebagai bentuk dukungan kemandirian anak. Apabila orang tua menunjukkan perilaku
bahwa dirinya mendukung kemandirian anak, maka siswa SD “X” akan merasa bahwa needs
for autonomy yang ada dalam dirinya terpuaskan. Selain itu, pemberian izin kepada anaknya ketika anaknya ingin mengikuti pelajaran tambahan, ialah salah satu contoh bahwa orang tua
memenuhi need for autonomy anaknya dengan memberikan kesempatan pada anak atas
pilihannya sendiri.
Kedua, kebutuhan untuk kompeten (needs for competence) dimana siswa SD “X”
merasa berhasil dan efektif serta mendapatkan kesempatan untuk melakukan dan
menunjukkan kapasitas diri. Apabila orang tua terlibat dalam kegiatan sekolah, orang tua juga
memperoleh informasi yang dapat membantu baik orang tua dan anak dalam mengikuti
kegiatan di sekolah. Ketika siswa SD “X” mempersepsikan bahwa orang tuanya ikut
berpartisipasi dalam kegiatan yang dia lakukan di sekolah, orang tua mampu menjadi
pedoman yang jelas mengenai kehadiran di sekolah.. Perilaku orang tua yang berdiskusi
mengenai strategi pembelajaran menunjukkan adanya pembahasan mengenai
pedoman-pedoman ataupun cara-cara yang jelas dapat dilakukan oleh siswa SD “X”. Hal ini menjadi
bentuk terpuaskannya need for competence. need for competence siswa juga dapat terpuaskan
ketika siswa SD “X” merasa bahwa dirinya diberikan feedback ketika orang tuanya datang
menolong saat kesulitan mengerjakan PR..
Ketiga, kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain (need for Relatedness) dimana
siswa SD “X” merasa terhubung dengan orang lain, seperti halnya, menjadi anggota dalam
sebuah kelompok Tidak hanya itu, siswa juga akan mempersepsikan bahwa orang tuanya
10
Universitas Kristen Maranatha
terpenuhinya needs for relatedness. Lalu ketika orang tua menunjukkan bahwa dirinya
perhatian, siswa SD “X” akan merasa bahwa dirinya tidak sendirian. Tidak hanya itu dengan
pemberian materi-materi yang dibutuhkan anak untuk pembelajarannya di sekolah, siswa SD
“X” akan merasa bahwa orang tuanya memperhatikan kebutuhan dirinya untuk belajar
sebagai tanda terpuaskannya needs for relatedness pada diri siswa SD “X”.
Penelitian yang dilakukan oleh Nye, Turner dan Schwartz (2006) menunjukkan bahwa
siswa SD akan mengalami peningkatan performa dalam kegiatan membaca, matematika, dan
juga performa akademis secara keseluruhan apabila orang tuanya turut terlibat di dalam
kegiatan-kegiatan yang sifatnya memperkaya kemampuan akademik mereka.
Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain memberikan contoh perilaku mengerjakan Pekerjaan rumah
(yang selanjutnya akan disingkat PR) yang baik atau memberikan bantuan langsung apabila
mereka mengalami kesulitan dalam mengerjakan PR (Patall, 2008). Topor, Keane, Shelton
dan Calkins (2010) bahkan menjelaskan bahwa pada jenjang ini, keterlibatan orang tua
memiliki peran lebih besar terhadap performa akademik anak dibandingkan intelegensi anak
itu sendiri. (Eky Ilmastuti, 2014)
Pada akhirnya akan dilihat apakah parent’s involvement yang sudah dilakukan orang tua siswa SD “X” mampu memenuhi 3 Basic Psychological needs yang sudah ada dalam diri
siswa SD “X”. Diasumsikan apabila ketiga Basic needs terpenuhi, siswa SD “X” akan
melakukan kegiatan pembelajaran di sekolah atas dasar kemauan diri sendiri, berperan aktif,
dan mempunyai afek yang positif terhadap kegiatan pembelajaran akademik maupun
11
Universitas Kristen Maranatha
agar lebih jelasnya, dapat dilihat pada skema:
1.1 Bagan Kerangka Pikir
1.6 Asumsi Penelitian:
parent involvement orang tua siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI kota Bandung dilihat
berdasarkan School involvement, personal involvement, dan cognitive involvement.
basic psychological needs siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI kota Bandung dilihat
berdasarkan need for autonomy, need for competence, dan need for Relatedness.
Tipe-tipe parent involvement mempunyai peran terhadap basic needs satisfaction siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI kota Bandung.
1.7 Hipotesa Penelitian
Mayor: “Terdapat pengaruh antara Parent’s Involvement terhadap Basic
12
Universitas Kristen Maranatha
Minor:
1. Terdapat pengaruh antara Parent Involvement terhadap pemenuhan Need for autonomy
pada siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI kota Bandung.
2. Terdapat pengaruh antara Parent Involvement terhadap pemenuhan Need for
Competence pada siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI kota Bandung.
3. Terdapat pengaruh antara Parent Involvement terhadap pemenuhan Need for
Relatedness pada siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI kota Bandung.
4. Terdapat pengaruh antara School involvement terhadap pemenuhan Need for
Autonomy pada siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI kota Bandung.
5. Terdapat pengaruh antara Personal involvement terhadap pemenuhan Need for
Autonomy pada siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI kota Bandung.
6. Terdapat pengaruh antara Cognitive involvement terhadap pemenuhan Need for
Autonomy pada siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI kota Bandung.
7. Terdapat pengaruh antara School involvement terhadap pemenuhan Need for
Competence pada siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI kota Bandung.
8. Terdapat pengaruh antara Personal involvement terhadap pemenuhan Need for
Competence pada siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI kota Bandung.
9. Terdapat pengaruh antara Cognitive involvement terhadap pemenuhan Need for
Competence pada siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI kota Bandung.
10.Terdapat pengaruh antara School involvement terhadap pemenuhan Need for
Relatedness pada siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI kota Bandung.
11.Terdapat pengaruh antara Personal involvement terhadap pemenuhan Need for
Relatedness pada siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI kota Bandung.
12.Terdapat pengaruh antara Cognitive involvement terhadap pemenuhan Need for
52
Universitas Kristen Maranatha
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan
Dari pembahasan mengenai peran parent involvement (school involvement, personal
involvement, cognitive involvement) terhadap basic need satisfaction (need for autonomy, need for competence, need for relatedness) siswa kelas IV, V, dan VI di SD “X” kota Bandung, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1) Terdapat peran parent involvement terhadap basic psychological needs satisfaction.
Namun tidak terdapat peran yang signifikan antara parent involvement dengan need
for autonomy, need for competence, dan need for relatedness pada siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI kota Bandung.
2) Tidak terdapat peran antara tipe –tipe parent involvement (school involvement,
personal involvement, dan cognitive involvement) terhadap pemenuhan need for autonomy. siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI kota Bandung.
3) Terdapat peran parent involvement terhadap pemenuhan need for competence siswa.
Secara spesifik cognitive involvement memiliki peran yang signifikan terhadap
pemenuhan need for competence sedangkan school involvement dan personal
involvement tidak memiliki peran yang signifikan terhadap need for competence
siswa SD “X” kelas IV, V, dan VI kota Bandung.
4) Tidak terdapat peran parent involvement terhadap pemenuhan need for relatedness
siswa. Secara spesifik school involvement memiliki peran signifikan berbanding
terbalik terhadap pemenuhan need for relatedness siswa dan personal involvement
serta cognitive involvement tidak memiliki peran yang signifikan terhadap pemenuhan
53
Universitas Kristen Maranatha
5.2. Saran
5.2.1 Saran Teoritis
Saran bagi peneliti selanjutnya yang tertarik melakukan penelitian lanjutan adalah:
Meneliti peran social context selain parent involvement yaitu structure dan autonomy
support terhadap masing-masing basic need satisfaction (need for autonomy, need for competence, need for relatedness).
Memperluas sample tidak hanya terbatas di SD “X” melainkan di sekolah dasar lain
agar mendapat gambaran data yang lebih holistik mengenai peran parent involvement
terhadap basic need satisfaction pada tingkat sekolah dasar.
5.2.2 Saran Praktis
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diajukan saran yang
diharapkan memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan:
Orangtua siswa dapat mempertimbangkan keterlibatan dirinya dalam aktivitas belajar
siswa agar siswa merasa lebih mampu mengerjakan tugas-tugas dari sekolah, memiliki
pilihan dalam memulai, mempertahankan, dan meregulasi kegiatan yang dilakukan
disekolah, serta merasa diperhatikan oleh orang tuanya.
Para guru dan pimpinan sekolah merancang program parenting mengenai perlunya
memiliki perhatian terhadap kegiatan sekolah siswa, berkomunikasi dengan siswa
mengenai perasaan dan pengalaman siswa di sekolah, menyediakan kegiatan yang
menstimulasi kognitif siswa, dan menyediakan material penunjang yang menstimulasi
kognitif siswa, agar siswa lebih merasa mandiri, memiliki kedekatan dengan orangtua,
54
Universitas Kristen Maranatha
merasakan ketiga hal tersebut, maka siswa akan cenderung lebih termotivasi untuk
belajar di sekolah.
i
STUDI PERAN PARENT INVOLVEMENT TERHADAP BASIC
PSYCHOLOGICAL NEEDS SATISFACTION PADA
SISWA SD “
X
”
KELAS IV, V, DAN VI KOTA BANDUNG
SKRIPSI
Diajukan untuk menempuh sidang sarjana pada Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung
Oleh:
WHISNU NUGROHO 1030069
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BANDUNG
v
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur yang sebesar-besarnya penulis haturkan kepada Tuhan atas berkat dan
rahmat-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penelitian ini dalam rangka
memenuhi tugas akhir dari mata kuliah Skripsi di Fakultas Psikologi Universitas Kristen
Maranatha. Adapun judul penelitian ini adalah STUDI PERAN PARENT INVOLVEMENT
TERHADAP BASIC NEEDS SATISFACTION PADA SISWA SD “X” KELAS IV, V, DAN
VI KOTA BANDUNG.
Penulis menyadari hasil dari karya tulis ini masih jauh dari sempurna, karena
keterbatasan, pengetahuan, kemampuan, informasi dan pengalaman yang dimiliki oleh
penulis. Oleh karena itu, penulis juga ingin mengucapkan rasa terimakasih atas dukungan,
bimbingan, penemanan, dan pengarahan dari semua pihak yang membantu penulis dalam
menyelesaikan usulan penelitian ini, yaitu:
1. Jane Savitri, M.Si, Psikolog selaku pembimbing utama penelitian payung mengenai
Student engagement atas masukan-masukan yang diberikan kepada penulis mengenai penyusunan laporan penelitian ilmiah ini.
2. Cindy Maria, M.Psi., Psikolog, selaku dosen ko-pembimbing yang bersabar dan
memberikan bantuan serta kesempatan kepada penulis selama membuat laporan
ilmiah ini. Terima kasih atas waktu yang diberikan kepada penulis di dalam
penyusunan rancangan penelitian ini.
3. Drs. Paulus H.Prasetya, M.Si., Psikolog selaku dosen konselor atas masukan mengenai
vi
4. Bapak Henndy Ginting, Ibu Eveline Sarintohe, Bapak Tery Setiawan, serta segenap
dosen lain yang sudah membantu pengalihan bahasa alat ukur basic need satisfaction.
5. Saudara Irvan yang memberikan data-data dan jurnal-jurnal yang dibutuhkan saat
penulis membuat karya tulis ilmiah ini.
6. Ibu Lanni, selaku kepala sekolah SD “X” beserta staff guru SD “X” yang sudah
memberikan kesempatan bagi penulis untuk melakukan penelitian.
7. Siswa SD “X” yang telah bersedia membantu dan bekerjasama serta meluangkan
waktu kepada penulis dalam menjalankan penelitian.
8. Erika dan anggota keluarga Erika yang sudah membantu dalam berbagai aspek,
dukungan moral, finansial, dan mendukung kegiatan yang dilakukan pada saat
menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.
9. Kepada semua teman-teman psikologi yang sudah bersedia memberikan dukungan
dalam berbagai macam bentuk kepada penulis.
10.Untuk semua orang yang turut terlibat mendukung penulis dalam menyelesaikan karya
tulis ilmiah ini yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu.
Semoga kiranya Tuhan memberkati kalian semua. Akhir kata penulis berharap agar
karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Bandung, Mei 2016
54
Universitas Kristen Maranatha DAFTAR PUSTAKA
Christenson, S., L., Reschly, A., L., & Wylie, C. (2012). Handbook of Research on Student Engangement.New York: Spinger Science+Business media.
Connell, J.P., & Wellborn.J.G. (1991).Competence, Autonomy, and Relatedness: A Motivational Analysis of Self - esteem Processes. Dalam M. Gunnar & L.A Sroufe (Eds.), Minnesota Symposium on Child Psychology. Vol. 23. Self process in development (43 – 47). Chicago: University of Chicago Press.
Dancey, C. P., & Reidy, J. (2004). Statistic without math for psychology. USA: Prentice hall.
Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “What” and “Why” of Goal Pursuits: Human Needs
and The Self – Determination of Behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227 – 268. Diunduh dari http://www.jstor.org/.
Deci, E. L., & Vansteenkiste, M. (2004). Self – determination Theory and Basic Need Satisfaction: Understanding Human Development in Positive Psychology. Ricerche di Psicologia, 27, 23 – 40.
Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2008). Facilitating Optimal Motivation and Psychological Well –
being Across Life’s Domains. Canadian Psychology, 49(1), 14 – 23. DOI 10.1037/0708-5591.49.1.14
Elliot, A., J., & Dweck, C., S. (2005). Handbook of Competence and Motivation. The Guilford Press.
Farkas, M., S., & Grolnick, W. (2010). Examining the components and concomitants of parental structure in the academic domain. DOI 10.1007/s11031-0100917607
Fauzie, F., M. (2012). Skripsi: Hubungan Antara Pemenuhan Kebutuhan Dasar Psikologis dan keterlibatan Siswa dalam Belajar. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Feist, J., & Feist, G., J. (2010). Teori kepribadian buku 1. Jakarta: Penerbit Salemba.
Grolnick, W., S. (2009). The role of parents in facilitating autonomous self – regulation for education. USA, Massachusentts: Clark University.
Grolnick, W., S., et. Al. (2014). Parental Provision of Academic Structure and the Transition to Middle School. Journal Of Research of Adolescence.
Grolnick, W., S., Ryan, R. M., & Deci, E. L. (1991). Inner Resources for School
Achievement: Motivational Mediators of Children’s Perceptions of Their Parents.
Journal of Educational Psychology. American Psychological Association, Inc.
55
Universitas Kristen Maranatha
Hurlock, B.Elizabeth.1980.Developmental Psychology.5th ed. Tata Mcgraw-hill publishing company. New delhi
Johnston, M.,M., & Finney, S., J. (2010). Measuring basic needs satisfaction: Evaluating previous research and conducting new psychometric evaluations of the Basic Needs Satisfaction in General Scale. Contemporary Educational Psychology.
Kumar, R. (2005). Research Methodology: A Step by Step Guide For Beginners. London: SAGE Publications.
Niemiec, C.P., Ryan, R.M., & Deci, E.L. (2009). The Path Taken: Consequences of attaining Intrinsic and Extrinsic Aspirations in Post – College Life. Journal of Research in Personality.43, 291 – 306. Diunduh dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov
Nye C, Turner H, Schwartz J (2006). Approaches to Parent Involvement for Improving the Academic Performance of Elementary School Age Children. The Campbell Collaboration Reviews of Intervention and Policy Evaluations (C2-RIPE). Philadelphia, Pennsylvania: Campbell Collaboration.
Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. O. (2009) Human Development (11th. ed). New York: McGraw-Hill International.
Patall, E. A., Cooper, H. & Robinson, J. C. (2008). Parent involvement in homework: A research synthesis. Review of Educational Research, 78, 1039-1101.
Reeve, J. (2002). Self – Determination Theory Applied to Educational Settings. Dalam E. L. Deci & R. M. Ryan (Eds.), Handbook of Self – Determination Research (pp. 183-203). Ryan, R. M., & Connell, J. P. (1989). Perceived Locus of Casuality and Internalizaton:
Examining Reasons of Acting in Two Domains. Journal of Personality and Social Psychology 57(5), 749-761. Diunduh dari http://search.proquest.com/psyarticles
Ryan, R. M., & Powelson, C. L. (1991). Autonomy and Relatedness as Fundamental to motivation and education. The Journal of Experimental Education, 60(1), 49 – 60. Diunduh dari http://www.jstor.org/.
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Intrinsic and Extrinsic Motivations Classic Definitions and New Directions. Journal of Educational Psychology, 25, 54-67. DOI: 10.1006/ceps. 1999.1020.
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2002). Overview of Self – Determination Theory: An Organismic Dialectical Perspective. Dalam Deci, E. L., & Ryan, R. M (Eds.), Handbook of Self Determination Research (pp. 3 – 33). New York: University of Rochester Press.
56
Universitas Kristen Maranatha
Sanjaya, W. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Sheldon, K. M., & Niemiec, C. P. (2006). It’s Not Just the Amount that Counts; Balanced Need Satisfaction also Affects Well – Being. Journal of Personality and Social Psychology, 91, 331 – 341. DOI 10.1037/0022-3514.91.2.331.
Skinner, E. A., & Belmont, M., J. (1993). Motivation in The Classroom: Reciprocal Effects of Teacher Behavior and Student Engagement Across The School Year, Journal of Educational Psychology, 85, 571 – 581. Diunduh dari http://search.proquest.com
Skinner, E. A., Wellborn., J. G., & Connell, J. P. (1990). What It Takes to Do Well in School and Whether I’ve Got It; The Role of Perceived Control in Children’s Engagement and School Achievement. Journal of Educational Psychology, 82, 22 – 32. Diunduh dari http://search.proquest.com
Syah, M. (2004). Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Tu’u, T. (2004). Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa. Jakarta: Grasindo.
Yulia, A. (2007). Work Mom & Kids. Jakarta: Elex Media Komputindo.
57
Universitas Kristen Maranatha
DAFTAR RUJUKAN
Gertsman, B. Statprimer., (http://www.sjsu.edu/faculty/gerstman/StatPrimer/hyp-test.pdf diakses tanggal 23 februari 2016
Irvan, M. (2014). Usulan Penelitan: Penelitian Terhadap Siswa dengan Kurikulum 2013 dan Kurikulum KTSP. Bandung: Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha.
Septiani (2013) PENGARUH MINAT DAN CARA BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INTERACTIVE CONCEPTUAL INSTRUCTION (ICI). Fakultas KIP, Universitas Lampung.
Sugihandari. “Pentingnya Partisipasi Keluarga dalam Pendidikan Anak”. 6 Juni 2015. http://print.kompas.com/baca/2015/05/05/Pentingnya-Partisipasi-Keluarga-dalam-Pendidikan-A
Tolada, T. (2012). Skripsi: Hubungan Keterlibatan Orang Tua dengan Prestasi Belajar Anak Usia Sekolah di SDIT Permata Hati, Banjarnegara. Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.