2020
DINAS LINGKUNGAN HIDUP
KABUPATEN BANTUL
12/30/2020
LAPORAN PEMANTAUAN
KUALITAS AIR
GAMBARAN UMUM KUALITAS AIR SUNGAI
DI KABUPATEN BANTUL
Menurut Peraturan Gubernur DIY No. 22 tahun 2007 tentang Penetapan Kelas Air Sungai di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagaian besar sungai – sungai yang mengalir di wilayah Kabupaten Bantul adalah sungai kelas 2 menurut peruntukannya, kecuali Sungai Code yang ditetapkan sebagai sungai kelas tiga mulai dari aliran kampung Surokarsan, Wirogunan, Mergangsan, Yogyakarta kearah hilir sampai Dusun Kembangsongo, Trimulyo, Jetis, Bantul (pertemuan dengan sungai Opak).
Jika diperbandingkan terhadap Baku Mutu Air di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sesuai dengan Peraturan Gubernur DIY No. 20 tahun 2008, kualitas air dari sungai-sungai yang mengalir di wilayah Kabupaten Bantul tidak memenuhi syarat mutu air kelas II untuk Sungai Bedog, Winongo, Gajah Wong, Opak dan Sungai
Code.
Berdasarkan hasil pemantauan di lima sungai dengan jumlah titik pantau sebanyak enam puluh (60) titik pantau dari empat periode pemantauan Bulan April, Juni, Oktober dan November. Dari 23 parameter yang diperiksa, menunjukkan bahwa beberapa parameter telah melebihi baku mutu air kelas II. Parameter – parameter tersebut meliputi parameter Fisika, Kimia dan Mikrobiologi. Adapun Parameter Fisika meliputi : Suhu, Residu Terlarut (TDS) dan Residu Tersuspensi (TSS). Parameter Kimia meliputi : pH, BOD, COD, DO, Total Fosfat, Ammonia, Cadmium, Chrom Heksavalen, Tembaga, Besi, Timbal, Mangan, Seng, Nitrit, Sulfat, Klorin Bebas, Minyak dan Lemak dan Detergen. Parameter Mikrobiologi meliputi : Fecal Coliform dan Total Coliform.
HASIL PEMANTAUAN
Metode Sampling
Metode sampling untuk pemantauan kualitas air sungai prioritas adalah pengambilan sampel air sungai secara langsung menggunakan water sampler di titik – titik samping yang sudah ditentukan dengan metode grab. Beberapa parameter (fisik) lapangan langsung diuji di tempat dan selanjutnya untuk parameter kimia dan biologi, sampel diuji di pihak ketiga Green Lab yang sudah bersertifikat KAN. Periode pengambilan sampel air sungai adalah empat kali dalam setahun yaitu pada bulan April, Juni, Oktober dan November. Adapun lokasi 15 titik sampling air sungai prioritas adalah sebagai berikut :
No Sungai Lokasi Keterangan 1 Bedog Menayu Kidul, Tirtonirmolo, Kasihan Hulu
2 Winongo Sindon, Guwosari, Pajangan Tengah
3 Mangir Kidul, Sendangsari Pajangan Hilir
4 Jomegatan, Tirtonirmolo, Kasihan Hulu
5 Kweni, Panggungharjo, Sewon Tengah
6 Manding, Sabdodadi, Bantul Tengah
7 Gading Lumbung, Donotirto, Kretek Hilir
8 Winongo Kecil Nyemengan, Tirtonirmolo, Kasihan Hulu
9 Code Ngoto, Bangunharjo, Sewon Hulu
10 Kembangsongo, Trimulyo Jetis Hilir
11 Gajah Wong Bodon, Jagalan, Banguntapan Hulu
12 Kanggotan, Wonokromo, Pleret Hilir
13 Opak Klenggotan, Sitimulyo, Piyungan Hulu
14 Kloron, Segoroyoso, Pleret Tengah
Hasil Analisa Pemantauan Kualitas Air Sungai a. Sungai Bedog
1. Total Suspended Solid (TSS)
April Juni Oktober November
HULU 40 16 48 64
TENGAH 32 16 44 62.5
HILIR 34 24 38 50
BML 50 50 50 50
Dari gambar tabel diatas, dapat dilihat konsentrasi hasil pengujian untuk parameter TDS (Padatan Terlarut) tertinggi di pemantauan di titik Menayu Kidul pemantauan bulan November sebesar 64 mg/l sedangkan konsentrasi terendah di titik pantau Menayu Kidul dan Sindon di Bulan Juni. TSS merupakan salah satu parameter kualitas air sungai yang menunjukkan padatan tersuspensi pada air sungai.
Kandungan TSS memiliki hubungan yang erat dengan kecerahan perairan. Keberadaan padatan tersuspensi akan menghalangi penetrasi cahaya yang masuk ke perairan sehingga hubungan antara TSS dengan kecerahan akan menunjukkan hubungan yang berbanding terbalik.
1 2 3 4 Series1 40 16 48 64 Series2 32 16 44 62,5 Series3 34 24 38 50 Series4 50 50 50 50 0 10 20 30 40 50 60 70 m g/l Periode sampling
TSS
2. Parameter Disolve Oksigen
April Juni Oktober November
HULU 7.6 7.3 7.2 7.3
TENGAH 7.6 7 7.4 9
HILIR 7.8 6.8 7.6 8.1
BML 5 5 5 5
Dari tabel diatas, dapat dilihat DO merupakan salah satu parameter kualitas air sungai, DO menunjukkan oksigen terlarut pada air sungai. Hasil pengujian tertinggi terpantau di titik Mangir Kidul di bulan November, sedangkan terendah di titik Sindon di bulan Juni.
Oksigen terlarut yang dipersyaratkan dalam baku mutu air kelas II adalah minimal 5 mg/l, semakin tinggi nilai DO semakin baik kualitas air tersebut. Konsentrasi DO dipengaruhi pencemaran air oleh limbah organik dan an organik dari pemukiman maupun industri. Selain itu konsentrasi DO juga dipengaruhi oleh debit air sungai dan kondisi lingkungan lainnya.
3. Parameter Biological Oksigen Demand (BOD)
April Juni Oktober November
HULU 0.8 1.2 1.6 4.1 TENGAH 0.8 1.9 0.8 3.9 HILIR 2.4 1.2 1.6 5.8 BML 3 3 3 3 1 2 3 4 Series1 7,6 7,3 7,2 7,3 Series2 7,6 7 7,4 9 Series3 7,8 6,8 7,6 8,1 Series4 5 5 5 5 0 2 4 6 8 10 m g/l Periode Sampling
DO
Hasil pengujian tertinggi terpantau di titik Mangir Kidul di bulan November dan pengujian terendah terpantau di titik Menayu Kidul dan Sindon pada bulan April. BOD merupakan salah satu parameter kualitas air sungai yang menunjukkan kebutuhan oksigen untuk proses degradasi pencemar organik pada air sungai. Parameter BOD ini semakin tinggi konsentrasinya menunjukkan bahwa air sungai tersebut tercemar limbah organik.
4. Parameter Chemical Oksigen Demand (COD)
April Juni Oktober November
HULU 7.8 7.8 23.9 18.6 TENGAH 4.6 7.8 14.2 14.6 HILIR 14.2 4.6 20.6 30.2 BML 25 25 25 25 1 2 3 4 Series1 0,8 1,2 1,6 4,1 Series2 0,8 1,9 0,8 3,9 Series3 2,4 1,2 1,6 5,8 Series4 3 3 3 3 0 1 2 3 4 5 6 7 m g/l Periode Sampling
BOD
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa konsentrasi hasil pengujian masih memenuhi BML, hanya satu titik yang diatas Baku Mutu Lingkungan yaitu di titik Mangir Kidul di bulan November.
COD merupakan oksigen (mg O2) yang diperlukan untuk mengoksidasi senyawa organik secara kimawi, yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat organik dalam 1 liter air dengan menggunakan oksidator kalium dikromat selama 2 jam pada suhu 150°C. Akibat dari konsntrasi COD yang tinggi dalam badan air menunjukkan bahwa adanya bahan pencemar organik dalam jumlah tinggi jumlah mikroorganisme baik secara patogen dan tidak patogen yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit untuk manusia. Konsentrasi COD yang tinggi dapat menimbulkan dan menyebabkan kandungan oksigen terlarut didalam badan air menjadi rendah, bahkan habis. Faktor ini dapat mengakibatkan oksigen sebagai sember kehidupan bagi makhluk yang berada didalam air seperti hewan dan tumbuhan air, tidak dapat terpenuhi sehingga makhluk air tersebut bisa terancam mati dan tidak dapat berkembang biak dengan baik
1 2 3 4 Series1 7,8 7,8 23,9 18,6 Series2 4,6 7,8 14,2 14,6 Series3 14,2 4,6 20,6 30,2 Series4 25 25 25 25 0 5 10 15 20 25 30 35 m g/l Periode Sampling
COD
5. Parameter Fosfat
April Juni Oktober November
HULU 0.12 0.1 0.12 0.29
TENGAH 0.16 0.12 0.07 0.27
HILIR 0.17 0.09 0.09 0.25
BML 0.2 0.2 0.2 0.2
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa konsentrasi hasil pengujian Fosfat sedikit diatas baku mutu lingkungan pada semua titik di bulan November.
Keberadaan fosfat yang berlebihan pada badan air dapat menyebabkan kondisi penyuburan unsur hara perairan (eutrofikasi). Kondisi eutrofik perairan dapat memicu terjadinya fenomena blooming algae (ledakan populasi fitoplankton), yaitu pada kondisi perairan yang tenang dan tidak mengalir seperti di danau, kolam, dan laut.
6. Fecal Coli dan Total Coliform
Untuk parameter Fecal Coli dan Total Coliform, hasilnya tidak ada yang memenuhi Baku Mutu Lingkungan. BML untuk Fecal Coli adalah 1000 jml/100ml dan BML untuk Total Coliform adalah 5000 jml/100ml.
1 2 3 4 Series1 0,12 0,1 0,12 0,29 Series2 0,16 0,12 0,07 0,27 Series3 0,17 0,09 0,09 0,25 Series4 0,2 0,2 0,2 0,2 0 0,050,1 0,150,2 0,250,3 0,35 m g/l Periode Sampling
Fosfat
b. Sungai Winongo
1. Total Suspended Solid (TSS)
Hulu Tengah Tengah Hilir Hulu
April 28 32 28 26 34
Juni 30 44 16 26 16
Oktober 40 43 33 41 36
November 147 62 63 65 73
BML 50 50 50 50 50
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa hasil pengujian tertinggi terpantau di titik Kweni di bulan November, dan terendah terpantau di titik Manding dan Nyemengan di bulan Juni. Dari hasil pengujian dapat dilihat bahwa pada bulan November, semua titik pantau hasilnya diatas Baku Mutu yaitu 50 mg/l, hal ini bisa disebabkan pada bulan ini intensitas curah hujan tinggi sehingga mengakibatkan banyaknya lumpur/keruh.
2. Parameter Disolve Oksigen
Hulu Tengah Tengah Hilir Hulu
April 7.6 7.6 7.2 7.2 7.6
Juni 7 6.8 7.4 7.2 7.4
Oktober 7.4 7.6 7.2 7.2 7.4
November 8.6 8.7 8.7 8.7 6.8
BML 5 5 5 5 5
Dari tabel diatas dapat dilihat nilai DO di Sungai Winongo diatas Baku Mutu Lingkungan. Oksigen terlarut yang dipersyaratkan dalam baku mutu air kelas II adalah minimal 5 mg/l, semakin tinggi nilai DO semakin baik kualitas air tersebut. Ini menandakan bahwa parameter DO di sungai Winongo masih bagus.
3. Parameter BOD (Biological Oksigen Demand)
Hulu Tengah Tengah Hilir Hulu
April 1.6 1.1 1 0.5 1.4
Juni 1.2 2.7 1.9 1.2 1.2
Oktober 0.8 1.6 1 0.8 0.8
November 3.9 5.8 3.9 5.8 3.9
BML 3 3 3 3 3
Dari tabel diatas dapat dilihat nilai tertinggi BOD ada di titik pantau Jomegatan dan Gading Lumbung di Bulan November, dan titik terendah ada di titik pantau Manding di bulan April dan Oktober.
BOD merupakan salah satu parameter kualitas air sungai yang menunjukkan kebutuhan oksigen untuk proses degradasi pencemar organik pada air sungai. Parameter BOD ini semakin tinggi konsentrasinya menunjukkan bahwa air sungai tersebut tercemar limbah organik. Dapat ditarik kesimpulan, di bulan November terjadi pencemaran limbah organik lebih tinggi dibandingkan dengan bulan – bulan sebelumnya.
4. Parameter Chemical Oksigen Demand (COD)
Hulu Tengah Tengah Hilir Hulu
April 7.8 11 14.2 20.6 17.4
Juni 4.6 14.2 11 7.8 4.6
Oktober 7.8 14.2 11 4.6 4.6
November 12.8 17.4 4.6 27.1 7.8
BML 25 25 25 25 25
Dari tabel diatas dapat dilihat nilai tertinggi ada di titik pantau Gading Lumbung di bulan November dan terendah ada di titik pantau Jomegatan dan Manding di bulan April, Juni dan Oktober. Hal ini menunjukkan hasil yang fluktuatif di tiap bulan, akan tetapi terdapat sedikit kenaikan di titik pantau Gading Lumbung di bulan November.
COD merupakan salah satu parameter kualitas air sungai yang menunjukkan kebutuhan oksigen kimiawi, jika konsentrasinya semakin
tinggi dari Baku Mutu Lingkungan sebesar 25 mg/l menunjukkan air sungai tersebut tercemar limbah organik dan anorganik.
5. Parameter Posfat
Hulu Tengah Tengah Hilir Hulu
April 0.16 0.13 0.17 0.19 0.15
Juni 0.1 0.12 0.14 0.07 0.11
Oktober 0.11 0.11 0.11 0.12 0.13 November 0.07 0.29 0.17 0.11 0.25
BML 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2
Dari data tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai tertinggi terdapat di titik pantau Jomegatan di bulan November dan terendah ada di titik pantau Kweni di bulan November dan Gading Lumbung di bulan Juni.
Nilai konsentrasi fosfat di Sungai Winongo cenderung di bawah Baku Mutu Lingkungan, hanya beberapa titik yang melebihi BML.
6. Parameter Fecal Coli dan Total Coliform
Untuk parameter Fecal Coli dan Total Coliform di sungai Winongo, hasilnya tidak ada yang memenuhi Baku Mutu Lingkungan. BML untuk Fecal Coli adalah 1000 jml/100ml dan BML untuk Total Coliform adalah 5000 jml/100ml.
c. Sungai Gajah Wong
1. Total Suspended Solid (TSS)
TSS DO BOD COD Posfat
Hulu Hilir Hulu Hilir Hulu Hilir Hulu Hilir Hulu Hilir
April 34 36 7.6 7.2 1.3 0.5 4.6 14.2 0.19 0.19
Juni 14 16 7 6.8 1.2 1.9 4.6 7.8 0.1 0.13
Oktober 39 33 7.6 7.6 0.8 1.6 20.6 17.4 0.17 0.15
November 85 67 8.7 6.1 21.3 3.9 72 4.6 0.24 0.31
BML 50 50 5 5 3 3 25 25 0.2 0.2
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai tertinggi di titik pantau Bodon Bulan November, sedangkan nilai terendah di titk pantau Bodon pada bulan
Juni. Tingginya parameter TSS di bulan November dikarenakan intensitas curah hujan yang tinggi menyebabkan sungai keruh oleh lumpur.
2. Parameter Disolve Oksigen
Dari tabel diatas, untuk parameter DO, semua titik pantau berada diatas 5 mg/l, artinya Oksigen terlarut di sungai Winongo masih bagus, semakin tinggi nilai DO semakin baik kualitas air tersebut.
3. Parameter Biological Oksigen Demand
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai tertinggi di titik pantau Bodon di bulan November dan terendah di titik pantau Bodon bulan Oktober. Pada bulan November, terjadi lonjakan yang cukup tajam untuk parameter BOD, ini semakin tinggi konsentrasinya menunjukkan bahwa air sungai tersebut tercemar limbah organik.
4. Parameter Chemical Oksigen Demand
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai tertinggi di titik pantau Bodon bulan November dan terendah di titik pantau Bodon bulan Juni. Pada bulan November, kadar COD jauh melebihi Nilai Baku Mutu yaitu 25 mg/l.
5. Parameter Posfat
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai tertinggi di titik pantau Kanggotan di bulan November dan terendah di titik pantau Bodon di bulan Juni. Tingginya nilai Posfat akan menyebabkan kondisi penyuburan unsur hara perairan (eutrofikasi).
6. Parameter Fecal Coli dan Total Coliform.
Untuk parameter Mikrobiologi, semuanya melebihi nilai Baku Mutu, hasilnya tidak ada yang memenuhi Baku Mutu Lingkungan. BML untuk Fecal Coli adalah 1000 jml/100ml dan BML untuk Total Coliform adalah 5000 jml/100ml.
d. Sungai Code
TSS DO BOD COD Posfat
Hulu Hilir Hulu Hilir Hulu Hilir Hulu Hilir Hulu Hilir
April 38 32 7 7.6 1.3 1.1 17.4 14.2 0.15 0.16
Juni 12 14 7 7.2 1.2 1.9 4.6 7.8 0.1 0.13
Oktober 34 37 7.4 7.6 0.8 1.2 7.8 4.6 0.16 0.13
November 68 54 10.7 63.1 9.7 0.3 8.3 1.4 0.25 0.19
BML 50 50 5 5 3 3 25 25 0.2 0.2
1. Parameter Total Suspended Solid (TSS)
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai tertinggi di titik pantau Ngoto pada bulan November, sedangkan titik terendah di titik pantau Ngoto pada bulan Juni. Tingginya TSS di sungai Code dikarenakan intensitas curah hujan tinggi, sehingga mengakibatkan sungai keruh.
2. Parameter Disolve Oksigen (DO)
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai tertinggi di titik Kembangsongo di bulan November, dan titik terendah di titik Ngoto di bulan April dan Juni. Ini mengindikasikan bahwa kandungan Oksigen di sungai Code masih bagus, karena semua titik pantau melebihi Nilai Ambang Batas yaitu minimal 5 mg/l.
3. Parameter Biological Oksigen Demand (BOD)
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai tertinggi di titik Ngoto di bulan November, sedangkan nilai terendah di titik Kembangsongo bulan November. BOD (Biological Oxygen Demand) adalah banyaknya oksigen yang diperlukan oleh bakteri untuk menguraikan zat organik dalam kondisi aerobic. Selama pemantauan terjadi satu kali lonjakan pada bulan November di Ngoto, selebihnya nilai BOD masih dibawah Baku Mutu.
4. Chemical Oksigen Demand (COD)
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai tertinggi di titik Ngoto di bulan April sedangkan titik terendah di Kembangsongo bulan November. Dari
pengamatan uji sampel, semua titik pantau dibawah Baku Mutu Lingkungan sebesar 25 mg/l.
5. Parameter Posfat
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai tertinggi di titik Ngoto bulan November sedangkan titik terendah ada di titik pantau Ngoto bulan Juni. Perairan dikatakan eutrofikasi jika konsentrasi total fosfat berada dalam rentang konsentrasi 35-100 µg/L. Dari pengamatan hasil uji sampel ada satu titik pantau yang melebihi Nilai Ambang Batas, akan tetapi tidak sampai mengakibatkan eutrofikasi (batas maksimal 0.25mg/l)
6. Parameter Total Coliform dan Fecal Coli
Untuk parameter Total colifor dan Fecal Coli semua titik pantau telah melebihi Nilai Baku Mutu. hasilnya tidak ada yang memenuhi Baku Mutu Lingkungan. BML untuk Fecal Coli adalah 1000 jml/100ml dan BML untuk Total Coliform adalah 5000 jml/100ml.
e. Sungai Opak
TSS DO BOD COD Posfat
Hulu Tengah Hilir Hulu Tengah Hilir Hulu Tengah Hilir Hulu Tengah Hilir Hulu Tengah Hilir April 30 20 44 7.6 7.6 7.6 2.5 2.2 0.6 23.9 11 20.6 0.18 0.18 0.17
Juni 10 14 12 7 7.2 7 0.4 1.9 1.2 1.4 4.6 1.4 0.18 0.18 0.16
Okt 36 42 39 7.6 7.6 7.6 1.6 1.6 0.8 11 14.2 11 0.17 0.17 0.13
Nov 72 67 7.6 8.4 8.5 8.7 3.8 0.3 3.9 15.8 1.4 4.6 0.26 0.26 0.3
BML 50 50 50 5 5 5 3 3 3 25 25 25 0.2 0.2 0.2
1. Parameter Total Suspended Solid (TSS)
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai tertinggi di titik Klenggotan bulan November, sedangkan titik terendah di titik Klenggotan bulan Juni. Hasil Uji parameter TSS, terdapat 2 kali pemantauan yang melebihi Baku Mutu, hal ini dikarenakan tingginya intensitas hujan sehingga aliran sungai menjadi keruh.
2. Parameter Disolve Oksigen (DO)
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai tertinggi di titik Putat pada bulan November sedangkan nilai terendah di titik Putat dan Klengotan pada bulan Juni. Dari semua titik pengujian semua hasilnya diatas 5 mg/l, ini mengindikasikan bahwa Sungai Opak konsentrasi Oksigen masih tergolong bagus.
3. Parameter Biological Oksigen Demand (BOD)
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai tertinggi di titik pantau Putat di bulan November, sedangkan nilai terendah di titik pantau Kloron di bulan November. BOD merupakan salah satu parameter kualitas air sungai yang menunjukkan kebutuhan oksigen untuk proses degradasi pencemar organik pada air sungai. Parameter BOD ini semakin tinggi konsentrasinya menunjukkan bahwa air sungai tersebut tercemar limbah organik.
4. Parameter Chemical Oksigen Demand (COD)
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai tertinggi di titik pantau Klenggotan bulan April dan terendah di titik pantau Kloron bulan November. Konsentrasi COD yang tinggi dapat menimbulkan dan menyebabkan kandungan oksigen terlarut didalam badan air menjadi rendah, bahkan habis. Dari hasil uji diatas tidak ada titik pantau yang melebihi Baku Mutu yaitu 25 mg/l.
5. Parameter Posfat
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai tertinggi di titik pantau Klenggotan dan Kloron di bulan November, sedangkan nilai terendah di titik pantau Putat di bulan November. Nilai tertinggi adalah 0.26 mg/l, nilai ini melebihi Baku Mutu tetapi tidak sampai mengakibatkan eutrofikasi, yaitu fenomena blooming algae (ledakan populasi fitoplankton), pada kondisi perairan yang tenang dan tidak mengalir seperti di danau, kolam, dan laut.
6. Parameter Parameter Total Coliform dan Fecal Coli
Untuk parameter Total colifor dan Fecal Coli semua titik pantau telah melebihi Nilai Baku Mutu. hasilnya tidak ada yang memenuhi Baku Mutu Lingkungan. BML untuk Fecal Coli adalah 1000 jml/100ml dan BML untuk Total Coliform adalah 5000 jml/100ml.
CAPAIAN IKLH 2014 s/d 2020 KABUPATEN BANTUL
2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Target RPJMD 2020 % Capaian IKU 72.44 82.98 87.76 82.31 85.66 90.90 85.18 80.00 106.48 IKA 16.67 30.69 34.00 32.67 34.67 39.63 51.80 50.00 103.60 IKTL 24.29 24.29 27.50 27.51 43.15 53.09 54.82 52.93 103.58 IKLH 36.449 32.86 47.53 45.50 53.36 60.40 63.02 63.00 100.04
IKLH = (30% x IKA) + (30% x IKU) + (40% x IKTL)
Dari Perhitungan Capaian IKLH Bantul tahun 2020 dihasilkan nilai 63,02 capaian ini diatas dari target RPJMD tahun 2020 yaitu 63,00 dan masuk kategori Sedang.