• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP DAN SIKAP ILMIAH SISWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP DAN SIKAP ILMIAH SISWA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING

TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP

DAN SIKAP ILMIAH SISWA

Medi Sastrawan

1

, I Made Tegeh

2

, Ni Nym. Garminah

3 1,3

Jurusan PGSD,

2

Jurusan TP, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected]

1

, [email protected]

2

,

[email protected]

3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara pemahaman konsep IPA dan sikap ilmiah siswa dengan menggunakan model pembelajaran Genius Learning dan model pembelajaran langsung pada siswa kelas VI SD di Desa Busungbiu tahun pelajaran 2013/2014. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi experiment). Penelitian ini dilaksanakan dalam 5 kali pertemuan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VI SD di desa Busungbiu. Sampel penelitian adalah siswa kelas VI SD No. 6 Busungbiu dan SD No. 8 Busungbiu sebagai kelas kontrol yang terdiri dari 23 orang siswa serta SD No. 9 Busungbiu sebagai kelas eksperimen terdiri dari 23 orang. Variabel penelitian adalah pemahaman konsep IPA dan sikap ilmiah sebagai variabel terikat serta model pembelajaran Genius Learning dan model pembelajaran langsung sebagai variabel bebas. Pengumpulan data dilakukan dengan metode tes dan kuesioner. Data yang dikumpulkan menggunakan metode tes untuk mengetahui pemahaman konsep dan kuesioner untuk mengetahui sikap ilmiah yang dianalisis menggunakan, statistik deskriptif, SPSS uji-t dan manova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan pemahaman konsep antara kelompok siswa yang belajar dengan pembelajaran Genius Learning dan pembelajaran langsung (sig=0,001 < 0,05), (2) terdapat perbedaan sikap ilmiah antara kelompok siswa yang belajar dengan pembelajaran Genius Learning dan pembelajaran langsung (sig=0,000 < 0,05), (3) terdapat perbedaan pemahaman konsep dan sikap ilmiah antara kelompok siswa yang belajar dengan pembelajaran Genius Learning dan pembelajaran langsung (sig=0,000 < 0,05)

Kata Kunci: genius learning, pemahaman konsep, sikap ilmiah

Abstract

This study aims to determine the difference between the understanding of science concepts and scientific attitude of students using the Learning Genius learning model and learning model directly on sixth grade students in the school year 2013/2014 Busungbiu village. This research is a quasi-experiment (quasi-experiment). This study was conducted in 5 sessions. The population in this study were all sixth grade students in the village Busungbiu. Samples were six graders No. 6 Busungbiu and SD No. 8 Busungbiu as the control class consisting of 23 students and elementary school No. 9 Busungbiu as an experimental class consisted of 23 people. Variables research is the understanding of science concepts and scientific attitude as the dependent variable and Learning Genius learning models and learning models directly as independent variables. Data collection was performed by the method of tests and questionnaires. Data were collected using a test method to determine the understanding of the concept and to determine the attitude questionnaire were analyzed using scientific, descriptive statistics, t-test and SPSS manova. The results showed that: (1) there is a difference between understanding the concept of a group of students who learn by Genius Learning learning and direct instruction (sig = 0.001 < 0.05), (2) there is a difference between the scientific attitude with a group of students who

(2)

study learning and direct instruction Genius Learning (sig = 0.000 < 0.05), (3) there are differences in the understanding of scientific concepts and attitudes among a group of students who learn by Genius Learning learning and direct instruction (sig = 0.000 < 0.05). Keywords: genius learning, conceptual understanding, scientific attitude

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan bagian yang paling penting dan utama dalam konteks pembangunan Bangsa dan Negara Indonesia. Sebagaimana dalam Pembukaan UUD 1945 alenia IV menegaskan bahwa salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Melalui tujuan tersebut diharapkan hasil pendidikan akan dapat menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas guna menunjang pembangunan bangsa.

Menurut berita dari Kompas tanggal 5 Desember 2013, kemampuan anak Indonesia usia 15 tahun di bidang matematika, sains, dan membaca dibandingkan dengan anak-anak lain di dunia masih rendah. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2012, Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 65 negara yang berpartisipasi dalam tes. Penilaian itu dipublikasikan the Organization for Economic Cooperation and

Development (OECD), Rabu (4/12).

Indonesia hanya sedikit lebih baik dari Peru yang berada di ranking terbawah. Rata-rata skor matematika anak-anak Indonesia 375, rata-rata skor membaca 396, dan rata-rata skor untuk sains 382. Padahal, rata-rata skor OECD secara berurutan adalah 494, 496, dan 501. PISA mengukur kecakapan anak-anak usia 15 tahun dalam mengimplementasikan masalah-masalah di kehidupan nyata. Sedangkan, menurut Ivo Indra Gunawan, pendidikan Indonesia berada di peringkat ke-64 untuk pendidikan di seluruh dunia dari 120 negara. Data indeks pembangunan pendidikan atau

Education Development Index (EDI)

Indonesia, pada 2011 Indonesia berada di peringkat ke-69 dari 127 negara. Total nilai EDI itu diperoleh dari rangkuman perolehan empat kategori penilaian, yaitu angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan gender,

angka bertahan siswa hingga kelas V Sekolah Dasar. Berdasarkan kedua berita diatas, kondisi pendidikan di Indonesia masih memrihatinkan sehingga perlu suatu solusi yang mampu memberikan perubahan yang lebih baik terhadap kualitas pendidikan di Indonesia

Pendidikan mengandung proses pembelajaran. Proses pembelajaran berperan penting dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan. Pendidikan tidak lepas dari tenaga pendidik atau guru. Guru dalam melaksanakan tugasnya secara profesional memerlukan wawasan tentang penggunaan pola mengajar yang sesuai dengan tujuan belajar yang telah dirumuskan dalam kurikulum, silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Keberhasilan pembelajaran ditandai dengan perolehan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap positif pada diri individu, sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Keberhasilan ini sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, dan salah satunya adalah penggunaan model pengajaran.

Untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran diperlukan suasana yang kondusif agar siswa dapat mengikuti pembelajaran secara aktif dan menyenangkan di setiap mata pelajaran, termasuk IPA. Mata pelajaran IPA merupakan program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai ilmiah pada siswa. Asy’ari (2006:8), menyatakan bahwa, “Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah suatu kumpulan pengetahuan tentang gejala-gejala alam yang tersusun secara sistematik, yang diperoleh dengan menggunakan metode yang berdasarkan observasi”. Seyogyanya pada pembelajaran diciptakan kondisi agar siswa selalu aktif untuk mencari pengetahuan dalam bentuk investigasi terhadap alam sekitar dengan cara terjun langsung ke lingkungannya masing-masing. Melalui investigasi, siswa

(3)

diharapkan mampu meningkatkan kemampuannya berpikirnya terutama pada aspek pemahaman dan sikap ilmiah dalam belajar IPA.

Aspek pemahaman merupakan kemampuan untuk membuktikan hubungan yang sederhana diantara fakta-fakta atau konsep. Dalam hal ini, pebelajar tidak hanya hafal secara verbalistis, tetapi memahami konsep dari masalah atau fakta yang ditanyakan. Dalam proses mengajar, hal terpenting adalah pencapaian pada tujuan yaitu agar siswa mampu memahami sesuatu berdasarkan pengalaman belajarnya. Pemahaman juga merupakan dasar untuk mencapai hasil belajar, sebab daya memahami mencakup kemampuan untuk menangkap makna dari arti dari bahan yang dipelajari, yang dinyatakan dengan menguraikan isi pokok dari suatu bacaan sehingga hasil belajar yang tinggi menunjukkan pemahaman siswa yang tinggi, begitu pula sebaliknya. Hal ini sangat berdampak pada kualitas pendidikan yang diselenggarakan.

Setelah melakukan wawancara dengan beberapa guru mata pelajaran IPA kelas VI SD di Desa Busungbiu, ada beberapa masalah yang dihadapi saat kegiatan pembelajaran. Masalah tersebut diantaranya kurangnya kemampuan siswa dalam memahami konsep yang telah disampaikan guru, pembelajaran yang tidak seimbang antara proses dan produk menyebabkan siswa tidak dapat menerima konsep atau materi IPA secara utuh. Permasalahan tersebut menyebabkan siswa kurang antusias dalam mengikuti pelajaran sehingga siswa menjadi pasif dan tidak menunjukkan sikap ilmiah yang diperlukan dalam pembelajaran IPA. Sikap ilmiah berkaitan erat dengan kegiatan IPA yang dilaksanakan di sekolah. Misalnya, ketika seorang siswa mengamati sesuatu sikap siswa tersebut teliti, ceroboh, ada hasrat ingin tahu, dan sikap positif lainnya yang berhubungan dengan kegiatan yang dilakukan. Keadaan ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental siswa. Masalah ini perlu segera ditangani supaya tidak terjadi secara terus menerus.

Perlu solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut untuk

meningkatkan kualitas output atau kualitas siswa setelah lepas dari jenjang pendidikan sekolah dasar. Salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah dengan menerapkan model pembelajaran Genius Learning.

Genius Learning adalah model

pembelajaran yang membangun dan mengembangkan lingkungan pembelajaran yang positif dan kondusif. Kondisi kondusif ini merupakan syarat mutlak demi tercapainya hasil belajar yang maksimal. Pada model pembelajaran ini guru harus memberikan kesan bahwa kelas merupakan suatu tempat yang menghargai siswa sebagai seorang manusia yang pemikiran dan idenya dihargai sepenuhnya.

Menurut pendapat Gunawan (2012:2), “Genius Learning adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan suatu rangkaian model praktis dalam upaya meningkatkan hasil pembelajaran dengan menggunakan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu”. Model Genius Learning membantu anak didik untuk bisa mengerti kekuatan dan kelebihan mereka sesuai dengan gaya belajar mereka masing-masing dengan satu jalinan yang sangat efisien yang meliputi diri anak didik, guru, proses pembelajaran, dan lingkungan belajar. Selain itu, model Genius Learning membantu anak didik untuk menciptakan proses belajar yang efektif, efisien dan menyenangkan yang sesuai dengan karakter dan kondisi pendidikan di Indonesia.

Tujuan dari pembelajaran melalui

Genius Learning adalah menciptakan

proses pembelajaran menjadi efisien, efektif, dan menyenangkan. Model Genius

Learning telah memasukkan dan

mempertimbangkan kondisi masyarakat Indonesia secara umum, kebudayaan bangsa yang sangat beragam, kondisi sosial dan ekonomi, sistem pendidikan nasional, dan tujuan pendidikan utama yaitu menyiapkan anak-anak untuk bisa menjalani hidupnya dengan berhasil setelah mereka meninggalkan sekolah formal.

Pada penerapan model Genius

Learning ini berangkat dengan satu

keyakinan dan pengharapan bahwa setiap anak didik dapat dimotivasi dengan tepat dan diajar dengan cara yang benar,

(4)

menghargai keunikan mereka maka mereka akan dapat mencapai suatu hasil pembelajaran yang maksimal. Model yang digunakan dalam Genius Learning membantu anak didik untuk bisa mengerti kekuatan dan kelebihan mereka masing-masing. Anak didik akan memahami proses belajar yang benar. Mereka akan belajar cara belajar yang benar, sesuai dengan kepribadian dan keunikan mereka masing-masing.

Adapun lingkaran sukses genius learning sebagai berikut:

Gambar 1. Lingkaran Sukses Genius Learning

Berikut adalah sintaks model pembelajaran Genius Learning yang akan diterapkan dalam penelitian.

1. Suasanan Kondusif

A. Guru menyambut siswa saat masuk kelas dengan senyuman atau memberikan salaman dan mengatur tempat duduk yang sesuai, dengan menempatkan meja guru dekat dengan meja siswa untuk memberikan kesan bahwa guru dan siswa berada satu level yang merupakan satu kesatuan dalam proses pembelajaran.

B. Guru bertanggung jawab untuk menciptakan suasana kondusif untuk masuk ke dalam proses pembelajaran sehingga siswa berada dalam kondisi yang nyaman

dan mendukung dan tercipta elemen PARTIS (Perasaan diterima, Aspirasi, Rasa Aman, Tantangan, Identitas, dan sukses).

2. Hubungkan

A. Guru memotivasi siswa dengan meminta perwakilan beberapa siswa untuk mendemokan sebuah percobaan kecil dengan menggunakan trainer dan siswa lain memperhatikan.

B. Guru memberikan gambaran peristiwa atau fenomena bahkan sesuatu yang dialami siswa menyangkut materi standar kompetensi memahami matahari sebagai pusat tata surya dan interaksi bumi dalam tata surya 3. Gambaran Besar

Guru memberikan gambaran besar pada papan tulis dari materi standar kompetensi memahami matahari sebagai pusat tata surya dan interaksi bumi dalam tata surya

4. Tetapkan Tujuan

A. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran sehingga diharapkan siswa memiliki semangat dalam mengikuti pelajaran.

B. Guru menyajikan informasi materi pembelajaran dan menjelaskan tentang materi pada buku.

5. Pemasukan Informasi

A. Guru meminta siswa untuk membentuk kelompok belajar masing 4-5 siswa

B. Guru meminta siswa untuk menggali informasi dari buku dengan menggarisbawahi ide-ide penting atau melakukan highlighting (memberi warna pada bagian yang dianggap penting) dan guru meminta siswa menuliskan kembali kata yang diberi ruang kosong dalam paragraf sehingga menjadi konsep utuh atau memberi tanda pada poin-poin penting dalam buku siswa

6. Aktivasi

A. Guru memperhatikan umpan balik yang akan diberikan pada siswa dengan teknik “bumi dan bulan” yaitu memberi masing-masing siswa tiga lembar kertas bulat yang berwarna:

(5)

Kuning (bulan) = saya mengerti Biru (bumi) = saya minta dijelaskan lagi

B. Guru memperhatikan umpan balik yang akan diberikan pada siswa dengan teknik “bumi dan bulan” yaitu memberi masing-masing siswa tiga lembar kertas bulat yang berwarna:

Kuning (bulan) = saya mengerti Biru (bumi) = saya minta dijelaskan lagi.

C. Guru menyampaikan informasi atau penjelasan ulang kepada siswa yang mengangkat kertas kuning 7. Demonstrasi

Guru memberikan umpan balik dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan secara langsung untuk mengetahui pemahaman siswa setelah melakukan proses pembelajaran

8. Tinjau Ulang dan Jangkarkan

A. Guru bersama siswa (seluruh kelompok) mengulangi hal yang penting untuk memperkuat koneksi saraf tentang informasi dari materi dengan teknik tambahan yang dapat digunakan guru dalam melakukan proses peninjuan ulang atau pengulangan dan penjangakaran, misalnya, membicarakan topik, “ngobrol” santai dan operan kertas ide.

B. Guru meminta siswa mengerjakan lembar evaluasi

C. Guru memberikan penghargaan bagi siswa yang berprestasi

D. Guru bersama siswa (seluruh kelompok)

Genius Learning menawarkan suatu sistem yang terancang dengan satu jalinan yang sangat efisien yang meliputi diri anak didik, guru, proses pembelajaran dan lingkungan pembelajaran. Genius Learning menempatkan anak sebagai pusat dari proses pembelajaran. Dengan adanya seorang guru dan anak didik di dalam kelas, tidak berarti proses pendidikan dapat berlangsung secara otomatis. Bila ada proses pengajaran, tidak berarti diikuti dengan proses pembelajaran. Kedua proses ini memang diusahakan untuk bisa

dicapai secara bersamaan. Untuk itulah

Genius Learning dirancang untuk

menjembatani jurang yang memisahkan antara proses mengajar dan proses belajar.

Setiap model memiliki kelebihan dan kelemahan, adapun kelebihan dan kelemahan dari model Genius Learning adalah sebagai berikut.

Kelebihan model pembelajaran tipe Genius Learning adalah (1) mendapatkan kerangka pikiran yang benar (relaks, percaya diri dan siap untuk belajar), (2) memperoleh informasi dalam cara-cara yang paling sesuai, (3) menyelidiki makna, implikasi dan arti persoalannya, (4) mampu memicu memori ketika membutuhkannya, (5) dapat memperoleh makna suatu topik secara cepat dengan menggunakan peta konsep.

Kekurangan tipe Genius Learning dalam pembelajaran adalah (1) tipe Genius Learning ini menggunakan gaya belajar secara visual, guru dianjurkan menggunakan peta konsep, (2) kemungkinan ada siswa yang belum memahami secara jelas tentang perolehan informasi yang begitu singkat. Sehingga untuk mengantisipasi kekurangan ini, guru mengkombinasikan model pembelajaran yang sesuai supaya siswa dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan jelas.

Bertolak dari teori tersebut, tampak bahwa pembelajaran dengan menggunakan model Genius Learning memungkinkan anak mampu menggunakan pikiran, perasaan dan badan mereka dalam proses pembelajaran untuk menciptakan proses pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa. Melalui model Genius Learning, diharapkan kegiatan siswa dapat meningkat dalam pembelajaran sehingga pemahaman dan sikap ilmiah siswa akan meningkat karena siswa akan belajar dengan kemampuan pengetahuan dan pengalaman, seperti pengetahuan tentang kepribadian, kecerdasan, gaya belajar, emosi dan pengetahuan lainnya yang membantu efektivitas proses belajar mengajar. Maka dari itu, penelitian ini ditujukan untuk mengetahui pengaruh model Genius Learning pada pembelajaran IPA terhadap pemahaman konsep dan sikap

(6)

ilmiah pada siswa kelas VI di SD Desa Busungbiu.

METODE

Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu (quasi experiment). Penelitian ini menggunakan rancangan post-test only control group design. Sugiyono (2007:112) menerangkan bahwa “dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random.

Kelas Treatment Post-test

E X O1

K – O2

(Sugiyono, 2007:112) Keterangan:

E = kelompok eksperimen (Genius Learning)

K = kelompok kontrol

O1 = post-test terhadap kelompok

eksperimen

O2 = post-test terhadap kelompok kontrol

X = treatment terhadap kelompok

eksperimen (model Genius Learning) – = treatment terhadap kelompok

kontrol (model pengajaran langsung) Rancangan analisis penelitian ini adalah multivariat analysis of variant (manova) satu jalur. Penelitian ini menyelidiki pengaruh satu variabel bebas terhadap dua variabel terikat. Berikut adalah rancangan analisis penelitian ini.

A B

Y1 Y2 Y1 Y2

(dimodifikasi dari Rosalina, 2013)

Keterangan :

A : Model pembelajaran Genius Learning yang diterapkan pada kelompok eksperimen

B : Pembelajaran langsung yang diterapkan pada kelompok kontrol AY1: skor pemahaman konsep siswa pada

kelas eksperimen

AY2: skor sikap ilmiah siswa pada kelas eksperimen

BY1: skor pemahaman konsep siswa pada kelas kontrol

BY2: skor sikap ilmiah siswa pada kelas kontrol

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VI SD di Desa Busungbiu. Adapun yang dimaksud SD di Desa Busungbiu adalah SD No. 1 Busungbiu, SD No. 2 Busungbiu, SD No. 3 Busungbiu, SD No. 4 Busungbiu, SD No. 5 Busungbiu, SD No. 6 Busungbiu, SD No. 8 Busungbiu, SD No. 9 Busungbiu dengan jumlah populasi adalah 167 orang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling. Hasil random sampling didapatkan sekolah yang setara yaitu SD No. 9 Busungbiu sebagai kelompok eksperimen dan SD No. 6 Busungbiu sebagai kelompok kontrol.

Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data tentang pemahaman konsep IPA adalah tes essay dengan butir pertanyaannya adalah 10 soal. Skor setiap jawaban kemudian dijumlahkan dan jumlah skor tersebut merupakan skor variabel pemahaman konsep IPA. Rentang skor yang mungkin diperoleh siswa adalah 0-40. Skor 0 merupakan skor minimal ideal dan skor 40 merupakan skor maksimal ideal pemahaman konsep.

Untuk mengetahui sikap ilmiah siswa digunakan instrumen kuesioner dengan jumlah soal 20 butir. Penskoran menggunakan skala likert, yaitu skor berkisar 1 sampai 5 dengan skor maksimal 100 dan skor minimal 20. Pengisian kuisioner sikap ilmiah menggunakan tanda (√) pada salah satu kolom alternatif jawaban yang paling sesuai dengan pilihan siswa (responden). Penyusunan instrumen sikap ilmiah, berpedoman pada kisi-kisi kuesioner yang telah disusun berdasarkan kompetensi yang akan dicapai.

Dalam menganalisis data ini digunakan metode analisis statistik deskriptif, SPSS uji normalitas, uji homogenitas, uji-t dan manova. Agung (dalam Agung, 2005) mengemukakan bahwa metode analisis statistik deskriptif ialah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menerapkan rumus-rumus statistik deskriptif seperti: skor rata-rata (Mean), median (Me), modus (Mo),

(7)

standar deviasi (SD) termasuk didalamnya persentase.

Uji normalitas sebaran data dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa data sampel benar-benar berasal dari populasi yang berdistribusi normal sehingga uji hipotesis dapat dilakukan. Pengujian normalitas dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya suatu distribusi data. Hal ini penting diketahui berkaitan dengan ketetapatan pemilihan uji statistik yang akan dipergunakan. Uji normalitas data penelitian ini menggunakan statistik Kolomogrov-Smirnov dengan menggunakan bantuan program SPSS-PC 16 for Windows.

Uji homogenitas varians antara kelompok dilakukan untuk mengetahui varians antara setiap kelompok mempunyai varians yang sama antara anggota kelompok tersebut. Uji homogenitas diperlukan terutama pada pengujian beda rata-rata yang saling independen. Uji homogenitas data penelitian ini menggunakan statistik Levene’s Test of Equality of Error Variance (Levene’s Test) dengan menggunakan bantuan program SPSS-PC 16 for Windows.

Jika data berdistribusi normal dan homogen, maka dilakukan analisis uji-t (t-test) pada taraf signifikan 5%. T-test yang digunakan adalah test of between-subjects effects. Untuk variabel terikat pemahaman konsep IPA, jika memiliki harga F dengan signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka H02

ditolak dan HA2 diterima. Selain

menggunakan t-test dalam penelitian ini juga menggunakan MANOVA yang terdiri dari uji Pillai’s Trace, Wilk’s Lambda, Hotteling’s Trace, dan Roys Largest Root. Uji MANOVA ini dilakukan dengan bantuan bantuan program SPSS-PC 16 for Windows

HASIL DAN PEMBAHASAN

Rata-rata pemahaman konsep dari kelas eksperimen adalah 33,61 dengan varians 28,34 dan standar deviasi 5,32. Sedangkan pada kelas kontrol didapatkan rata-rata pemahaman konsep siswa adalah 28,70 dengan varians 21,68 dan standar deviasi 4,66. Pada aspek sikap ilmiah rata-rata pada kelas eksperimen adalah 89,83 dan pada kelas kontrol adalah 83,48.

Pada uji normalitas pemahaman konsep didapatkan skor signifikansi normalitas pemahaman konsep kelas kontrol adalah 0,200, dan kelas eksperimen adalah 0,200. Signifikansi dari kedua kelas melebihi 0,05 sehingga data pemaahaman konsep siswa dinyatakan berdistribusi normal. Begitu pula pada skor signifikansi normalitas sikap ilmiah kelas kontrol adalah 0,200, dan kelas eksperimen adalah 0,151. Signifikansi dari kedua kelas melebihi 0,05 sehingga data sikap ilmiah siswa dinyatakan berdistribusi normal.

Pada uji homogenitas didapatkan data pemahaman konsep siswa kelas eksperimen dengan kelas kontrol, menunjukkan angka-angka signifikansi Levene Statistic lebih besar dari 0,05. Dengan demikian, maka kelompok varian data pemahaman konsep siswa adalah sama atau homogen. Begitu pula pada variabel sikap ilmiah yang menunjukkan angka-angka signifikansi Levene Statistic lebih besar dari 0,05.

Hasil uji hipotesis pertama dengan menggunakan uji-t dengan bantuan SPSS didapatkan nilai sig. (2-tailed) pada pemahaman konsep siswa kelompok eksprimen dan kontrol adalah 0,001. Ini berarti bahwa 0,001 < 0,05. Begitu pula pada hipotesis kedua nilai sig. (2-tailed) pada pemahaman konsep siswa kelompok eksprimen dan kontrol adalah 0,000. Ini berarti bahwa 0,000 < 0,05. Sehingga kedua hipotesis tersebut dapat dikatakan terdapat perbedaan yang signifikan.

Pada hipotesis ketiga menggunakan analisis multivariate terdiri dari uji Pillai’s Trace, Wilks’ Lamda, Hotelling’s Trace, Roy’s Largest, dan Root. Hasil analisis multivariate signifikansi semuanya adalah 0,000.

Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa kelas eksperimen yang belajar dengan model pembelajaran Genius Learning memperoleh skor rata-rata pemahaman konsep IPA adalah 33,61 sedangkan untuk kelompok siswa yang berada di kelas kontrol yang belajar dengan model pembelajaran langsung memperoleh skor rata-rata pemahaman konsep IPA adalah 28,70. Hasil tersebut menunjukkan bahwa model

(8)

pembelajaran Genius Learning lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran langsung dalam pencapaian pemahaman konsep IPA. Selisih skor rata-rata pemahaman konsep IPA antara kelas eksperimen yang belajar dengan model pembelajaran Genius Learning dengan kelas kontrol yang belajar dengan model pembelajaran langsung adalah 4,91

Berdasarkan uji-t yang digunakan untuk menguji hipotesis pertama didapatkan hasilnya bahwa uji-t independent pada pemahaman konsep siswa kelas eksperimen dan kontrol menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan data pemahaman konsep siswa kelas ekperimen yang belajar melalui model pembelajaran Genius Learning dan kontrol yang belajar melalui penerapan pembelajaran langsung dengan signifikansi yang didapat sebesar 0,001 < 0,05, sehingga H1 diterima.

Secara teoritik, tingginya pemahaman konsep siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Genius Learning dikarenakan model pembelajaran Genius

Learning membangun dan

mengembangkan lingkungan pembelajaran yang positif dan kondusif. Tanpa lingkungan yang mendukung, strategi apapun yang diterapkan di dalam kelas akan sia-sia. Proses ini tidak terjadi begitu saja, guru bertanggung jawab untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif sebagai persiapan untuk masuk ke dalam proses pembelajaran yang sesungguhnya. Siswa harus terbebas dari rasa takut dan tekanan psikologis. Siswa harus berada dalam kondisi fisik yang nyaman dan mendukung. Model Genius Learning telah memasukkan dan mempertimbangkan kondisi masyarakat Indonesia secara umum, kebudayaan bangsa yang sangat beragam, kondisi sosial dan ekonomi, sistem pendidikan nasional, dan tujuan pendidikan utama yaitu menyiapkan anak-anak untuk bisa menjalani hidupnya dengan berhasil setelah mereka meninggalkan sekolah formal.

Penerapan model Genius Learning berawal dengan keyakinan dan pengharapan bahwa setiap anak didik dapat dimotivasi dengan tepat dan diajar

dengan cara yang benar, menghargai keunikan mereka maka mereka akan dapat mencapai suatu hasil pembelajaran yang maksimal. Model yang digunakan dalam Genius Learning membantu anak didik untuk bisa mengerti kekuatan dan kelebihan mereka masing-masing. Anak didik akan memahami proses belajar yang benar. Mereka akan belajar cara belajar yang benar, sesuai dengan kepribadian dan keunikan mereka masing-masing.

Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya oleh Martin Indah tentang peningkatan keterampilan menulis puisi bebas berorientasi pembelajaran Genius Learning Strategy dapat dikatakan relevan dengan penelitian ini. Hasil penelitian Indah (2006) dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas tersebut menunjukkan bahwa pengembangan perangkat pembelajaran yang berorientasi Genius Learning Strategy dapat meningkatkan kualitas kegiatan belajar.

Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa kelas eksperimen yang belajar dengan model pembelajaran Genius Learning memperoleh skor rata-rata sikap ilmiah adalah 89,83 dan skor rata-rata sikap ilmiah pada model pembelajaran langsung adalah 83,48 sedangkan selisih skor rata-rata sikap ilmiah antara kelas eksperimen yang belajar dengan model pembelajaran Genius Learning dengan kelas kontrol yang belajar dengan model pembelajaran langsung adalah 6,35. Pada aspek sikap ilmiah didapatkan bahwa dengan model pembelajaran Genius Learning, sikap ilmiah siswa lebih baik dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran langsung. Berdasarkan hasil analisis, rata-rata sikap ilmiah siswa pada kelompok eksperimen adalah 89,83 dengan kategori sangat tinggi sedangkan pada kelompok kontrol adalah 83,48 dengan kategori tinggi.

Berdasarkan uji-t yang digunakan untuk menguji hipotesis pertama didapatkan hasilnya bahwa uji-t independent pada sikap ilmiah siswa kelas eksperimen dan kontrol menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan data sikap ilmiah siswa kelas ekperimen yang belajar melalui model

(9)

pembelajaran Genius Learning dan kontrol yang belajar melalui penerapan pembelajaran langsung dengan signifikansi yang didapat sebesar 0,000 < 0,05, sehingga H1 diterima.

Secara teoritik, sikap ilmiah yang sangat tinggi pada kelas eksperimen tersebut diakibatkan oleh pembelajaran Genius Learning yang melatih siswa untuk memperoleh informasi dengan cara-cara yang paling sesuai yaitu dengan melalui tahapan pembelajaran yang sangat mengutamakan aktivitas siswa yang menunjang proses pembelajaran untuk menggali ilmu pengetahuan, dan mampu memicu memori siswa ketika membutuhkannya karena siswa diajak untuk meningkatkan rasa ingin tahu terhadap permasalahan-permasalahan yang ditemukan selama pembelajaran berlangsung.

Namun, pada pembelajaran langsung guru cenderung menggunakan metode ceramah yang diselingi beberapa metode lainnya yang membuat sikap ilmiah siswa kurang tereksplorasi. Model pembelajaran langsung menempatkan pengetahuan sebagai hal yang objektif, pasti, dan tetap. Pengetahuan telah tersusun dengan rapi dan pembelajaran dilaksanakan dengan memindahkan pengetahuan tersebut ke orang yang belajar. Hasil dari pembelajaran yang demikian adalah siswa akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, pemahaman yang dimiliki pengajar, hal itulah juga yang dipahami oleh siswa yang belajar. Selain itu, proses belajar juga dihadapkan pada aturan yang sudah pasti dan pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Model pembelajaran langsung yang diterapkan di kelas membuat siswa kurang tertarik untuk belajar. Walaupun model ini sudah digabungkan dengan model lain, namun yang masih mendominasi adalah metode ceramah. Di dalam kelas, memang ada pengelompokan, selanjutnya siswa diberikan soal dalam kelompok. Setelah siswa mendapatkan tugas berupa soal, selanjutnya diberikan penjelasan oleh guru, penjelasan dari guru inilah yang paling mendominasi pembelajaran dan tugas soal

tersebut cenderung diselesaikan di rumah. Selain itu, model pembelajaran langsung juga jarang menyertakan kegiatan eksperimen di laboratorium.

Berbeda dengan uji hipotesis pertama dan kedua, uji hipotesis ketiga dilakukan dengan analisis Manova. Pada analisis ini didapatkan bahwa signifikansi semuanya (lima jenis analisis: uji Pillai’s Trace, Wilks’ Lamda, Hotelling’s Trace, Roy’s Largest, dan Root) 0,000 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh model pembelajaran terhadap pemahaman konsep dan sikap ilmiah siswa kelas eksperimen dengan penerapan pembelajaran Genius Learning dan kelas kontrol dengan penerapan pembelajaran langsung. Uji selanjutnya pada analisis Manova ini adalah uji probabilitas (signifikansi) untuk menyelidiki ada tidaknya perbedaan. Uji ini menghasilkan pencapaian signifikansi kurang dari 0,05 sehingga dikatakan terdapat perbedaan pemahaman konsep dan sikap ilmiah antara siswa kelas eksperimen yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran Genius Learning dan siswa kelas kontrol yang belajar dengan menggunakan pembelajaran langsung.

Dari hasil analisis yang dilakukan, terdapat berbagai hal yang menyebabkan perbedaan pemahaman konsep dan sikap ilmiah siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Secara teori, Trianto (2009) menyatakan bahwa menurut teori konstruktivisme, salah satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah guru tidak hanya sekadar memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Pada pembelajaran langsung guru cenderung menggunakan metode ceramah yang diselingi beberapa metode lainnya yang membuat sikap ilmiah siswa kurang tereksplorasi. Model pembelajaran langsung menempatkan pengetahuan sebagai hal yang objektif, pasti, dan tetap. Pengetahuan telah tersusun dengan rapi dan pembelajaran dilaksanakan dengan memindahkan pengetahuan tersebut ke orang yang belajar. Hasil dari pembelajaran yang demikian adalah siswa akan memiliki

(10)

pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, pemahaman yang dimiliki pengajar, hal itulah juga yang dipahami oleh siswa yang belajar.

Berbeda dengan model pembelajaran Genius Learning membangun dan mengembangkan lingkungan pembelajaran yang positif dan kondusif. Tanpa lingkungan yang mendukung, strategi apapun yang diterapkan di dalam kelas akan sia-sia. Proses ini tidak terjadi begitu saja, guru bertanggung jawab untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif sebagai persiapan untuk masuk ke dalam proses pembelajaran yang sesungguhnya. Siswa harus terbebas dari rasa takut dan tekanan psikologis. Selain itu, pada pembelajaran Genius Learning setiap anak didik jika dapat dimotivasi dengan tepat dan diajar dengan cara yang benar, menghargai keunikan mereka maka mereka akan dapat mencapai suatu hasil pembelajaran yang maksimal. Model yang digunakan dalam Genius Learning membantu anak didik untuk bisa mengerti kekuatan dan kelebihan mereka masing-masing. Anak didik akan memahami proses belajar yang benar. Mereka akan belajar cara belajar yang benar, sesuai dengan kepribadian dan keunikan mereka masing-masing.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pemaparan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan beberapa hal yaitu sebagai berikut.

1. Terdapat perbedaan pemahaman konsep antara siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran Genius Learning dengan siswa yang belajar menggunakan pembelajaran langsung pada siswa kelas VI Sekolah Dasar di Desa Busungbiu Tahun Pelajaran 20013/2014

2. Terdapat perbedaan sikap ilmiah antara siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran Genius Learning dengan siswa yang belajar menggunakan pembelajaran langsung pada siswa kelas VI Sekolah Dasar di Desa

Busungbiu Tahun Pelajaran 20013/2014 3. Pemahaman konsep dan sikap ilmiah siswa pada kelas eksperimen dan kontrol menghasilkan signifikansi 0,000 pada lima uji yaitu uji Pillai’s Trace, Wilks’ Lamda, Hotelling’s Trace, Roy’s Largest, dan Root, sehingga kesimpulan yang didapat yaitu terdapat pengaruh model pembelajaran terhadap pemahaman konsep dan sikap ilmiah siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol yang signifikan. Kemudian pengujian probabilitas (signifikansi) yang didapat semuanya kurang dari 0,05 sehingga kesimpulan yang dapat ditarik adalah terdapat perbedaan pemahaman konsep dan sikap ilmiah antara siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran Genius Learning dengan siswa yang belajar menggunakan pembelajaran langsung pada siswa kelas VI Sekolah Dasar di Desa Busungbiu Tahun Pelajaran 20013/2014

DAFTAR RUJUKAN

Agung, A.A. Gede. 2011. Pengantar

Evaluasi Pendidikan. Singaraja:

Undiksha

---. 2005. Metodologi Penelitian

Pendidikan. Fakultas Ilmu

Pendidikan Institut Keguruan dan Keilmuan Negeri Singaraja.

Asy’ari, Muslichach. 2006. Penerapan

Pendekatan Sains Teknologi

Masyarakat dalam Pembelajaran

Sains di Sekolah Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Gunawan, Adi. 2012. Genius Learning

Strategy: Petunjuk Praktis untuk

Menerapkan Accerelated Learning.

Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Kompas. 2013. Peringkat Sistem

Pendidikan Indonesia Terendah di

Dunia. Tersedia pada

http://www.kopertis12.or.id/2013/12/05/ skor-pisa-posisi-indonesia-nyaris-jadi-juru-kunci.html, (diakses pada tanggal 17 Maret 2014)

(11)

Indra Gunawan, Ivo. 2013. Posisi Indonesia Nyaris Jadi Juru Kunci Kemampuan Matematika dan Sains di Urutan ke-64

dari 65 Negara. Tersedia pada

http://liranews.com/berita-3236- peringkat-pendidikan-indonesia-di-dunia-menempati-peringkat-ke64.html, (diakses pada tanggal 8 Desember 2013)

Rosalina, Ida Ayu Kade Dewi. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) terhadap Sikap Sosial dan Hasil Belajar IPS pada Siswa Kelas IV SD Gugus I Bona, Kabupaten Gianyar Tahun Pelajaran 2012/2013. Tesis (tidak diterbitkan). Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Sugiyono. 2001. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran

Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka

Gambar

Gambar 1. Lingkaran Sukses Genius  Learning

Referensi

Dokumen terkait

Permasalahan yang diakibatkan oleh gaya hidup biasanya mengalami perkembangan yang cepat seiring dengan perkembangan dari gaya hidup tersebut, begitu juga

Dari hasil analisis sistem yang berjalan diketahui bahwa terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi oleh kementerian bidang kerjasama dan jaringan asdep urusan

Proses kerangka kerja penyesuaian model kualitas perangkat lunak dilakukan dengan mengkombinasikan metode penyesuaian yang telah dilakukan oleh peneliti (Sibisi

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) manakah yang menghasilkan aspek pengetahuan dan aspek keterampilan yang lebih baik antara model pembelajaran

Kebijakan untuk membuat peraturan- peraturan hukum pidana (UU K3) yang baik pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari tujuan penanggulangan tindak pidana

Setelah masuk baru kita dapat mendapatkan kode hash dari password Administrator dengan bantuan software cain and able , jika hast password telah di dapat, maka kita dapat

Dari dua makna tersebut, tibanya masa Written Torah namun diperhadapkan dengan keterpilihan model kepemimpinan Yosua yang memasuki tanah terjanji patut menjadi tanda tanya

...laporan keuangan konsolidasian yang kami sebut diatas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang materil...Grup mengalami defisit sebesar Rp 1.213.491.601.495...hal-hal