• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. ANALISIS DAN TINJAUAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. ANALISIS DAN TINJAUAN TEORI"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

2. ANALISIS DAN TINJAUAN TEORI

2.1. Studi Literatur

Studi literatur merupakan sebuah acuan data dan sumber yang digunakan dalam melakukan sebuah proses penelitan atau perancangan. Dengan adanya data dan sumber yang kongkrit maka, kredibilitas dari perancangan tersebut dapat diuji kredibilitasnya. Dalam perancangan buku mengenai Barong Ket sebagai seni pertunjukan wisata ritual di Bali, maka perlu adanya dasar-dasar literatur yang dapat mendukung proses perancangan buku ini. Berikut merupakan dasar literatur yang digunakan untuk mendukung perancangan buku ini, diantaranya : seni pertunjukan, seni pertunjukan di Bali, Barong, dan sampai dengan hubungan kepariwisataan dengan masyarakat setempat.

2.1.1. Seni Pertunjukan

Seni pertunjukan di Indonesia dikatakan dalam buku Indonesian Heritage, dipengaruhi oleh keadaan sosial politik yang khas di setiap daerah. Seni pertunjukan merupakan sebuah bentuk ungkapan budaya, wahana untuk menyampaikan nilai-nilai budaya, dan perwujudan norma-norma estetik-artistik yang berkembang sesuai dengan zaman. Proses akulturasi berperan besar dalam melahirkan perubahan dan transformasi dalam banyak bentuk tanggapan budaya, termasuk juga seni pertunjukan (Sedyawati 1) .

Seorang antropolog, J. Maquet mengajukan seni pertunjukan sebagai art

by metamorphosis, yakni sebuah seni yang mengalami banyak sekali perubahan.

Tak jarang istilah art by metamorphosis juga disebut sebagai art of acculturation yang dalam penggarapannya mengalami proses akulturasi. Salah satu bentuk akulturasi yang terjadi dalam sebuah seni pertunjukan adalah akulturasi antara selera seniman setempat dan dengan selera para wisatawan. Seni akulturasi semacam ini disebut juga sebagai seni pseudo-tradisional, oleh karena bentuknya masih tetap mengacu kepada bentuk serta kaidah-kaidah tradisional, akan tetapi nilai-nilai tradisionalnya yang biasanya sakral, magis, dan simbolis dihilangkan atau dibuat semu (Soedarsono 119-120) .

(2)

Meskipun demikian, bagi penikmat seni berpandangan bahwa seni ini masih memiliki nilai estetis yang cukup tinggi dan berbeda . Tak mengherankan, ketika masuk dalam industri wisata maka akan banyak seni yang diperuntukkan bagi wisatawan. Dalam buku Indonesia Indah – Tari Tradisional Indonesia juga menuliskan bahwa, karya seni ini pun dapat dikategorikan sebagai seni wisata (tourist art). Seni pertunjukan khususnya pertunjukan tari bagi wisatawan memiliki ciri khas, yaitu : (1) bentuk mini atau lebih singkat daripada seni tradisional yang ada; (2) tiruan dari aslinya; (3) penuh variasi; (4) tidak memiliki nilai sakral dan nilai simbolis; dan (5) relatif murah harganya (Atmadi 61-62) .

Dituliskan juga dalam buku Indonesia Indah – Tari Tradisional Indonesia contoh bentuk pertunjukan tari yang pseudo-traditional bagi para wisatawan adalah yang digarap oleh para seniman Bali yaitu:

Drama Tari Barong, dimana Barong sendiri bagi masyarakat Bali dipercaya memiliki kekuatan melindungi. Setiap desa umumnya memiliki Barong. Barong pun dianggap sebagai sesuatu yang sakral dan dihormati bagi masyarakat Bali. Namun dengan berkembangnya industri wisata, maka drama seni Barong Ket pun diciptakan, yang umumnya dipadu dengan Rangda, tari Keris, serta tari Legong yang diberi bingkai cerita mengenai kebaikan melawan keburukan (62) .

2.1.1.1. Seni Pertunjukan di Bali

Seni pertunjukan Barong, yang kini dikenal sebagai salah satu pertunjukan favorit para wisatawan yang datang ke Bali, sebenarnya merupakan sebuah kesenian yang bernilai sakral dan memiliki fungsi yang penting bagi masyarakat Bali. Tak jarang masyarakat bingung dalam membedakan seni pertunjukan Barong, apakah termasuk dalam seni sakral ataupun seni tontonan. Karena tidak hanya nilai yang dibawa oleh Barong menjadi penting untuk dibedakan, namun dari fungsi tarian Barong itu sendiri.

Sehingga untuk membedakan fungsi dari kesenian Bali, diadakan pengklasifikasian dalam Seminar Seni Sakral dan Profan bidang seni Kebudayaan Daerah Bali yang diselenggarakan pada tanggal 24 Maret 1971, di Denpasar.

(3)

Hasil keputusan seminar tersebut antara lain sebagai berikut (Yudabakti & Watra 64-65) :

a. Seni Tari Wali (Scared, religious dance), yaitu seni tari yang dipertunjukan di pura-pura dan di tempat-tempat yang ada hubungnanya dengan upacara/ upakara agama. Pada umumnya kesenian wali ini tidak memakai lakon. Adapun yang termasuk dalam kategori Seni Tari Wali yaitu: Tari Rejang, Tari Pendet, Tari Sanghyang dan Tari Baris upacara. b. Seni Tari Bebali (Ceremonial Dance), yaitu seni tari yang berfungsi

sebagai pengiring upacara dan upakarayang bertempat di pura-pura dan diluar pura, serta pada umumnya kesenian ini mempergunakan lakon. Adapun yang termasuk dalam klasifikasi seni Bebali yaitu: Seni Pewayangan, Topeng, Gambuh, serta segala seni tari yang diciptakan berlandasan ketiga tari-tarian tersebut.

c. Seni Tari Balih-balihan (Seculer Dance), yaitu segala seni yang mempunyai unsur dan dasar dari seni tari yang luhur. Dalam hal ini tidak tergolong dalam seni Tari Wali dan Bebali. Ciri khas seni Tari Balih-balihan ini yaitu bersifat inovasi bahkan sangat kotemporer (mengandung seni yang serius dan penuh dengan hiburan). Adapun yang termasuk dalam klasifikasi seni tari Balih-balihan adalah semua aktivitas seni yang dipertunjukan untuk hiburan masyarakat.

2.1.2.2. Karakteristik Seni Pertunjukan berdasarkan Fungsi

Adanya pengklasifikasian tersebut, kita dapat melihat ukuran kesakralan sebuah seni pertunjukan yang ada di Bali. Sehingga apa yang menjadi fungsi serta nilai yang terkandung di dalamnya tidak menjadi rancu. Berikut merupakan apa yang menjadi ciri khas sebuah seni yang termasuk dalam kategori sakral/ ritual :

a. Harus diselenggarakan pada tempat terpilih, biasanya tempat yang dianggap sakral.

b. Harus diselenggarakan pada saat yang terpilih, sesuai dengan maksud serta tujuan dari ritual itu

c. Ditarikan oleh penari atau penari-penari terpilih yang umumnya mereka dianggap suci atau yang dalam keadaan “tidak kotor”.

(4)

d. Biasanya memerlukan seperangkat sesaji

e. Tidak ada yang namanya penonton, sebab yang hadir dalam upacara tersebut dianggap sebagai peserta upacara/ jemaah.

Sedangkan tari yang disajikan sebagai tontonan, yang membedakannya secara dasar adalah dalam manajemen pementasannya. Dimana manajemen tersebut mengatur segala kebutuhan yang diperlukan dalam sebuah pertunjukkan, sehingga seni pertunjukkan tersebut dapat dimainkan. Umumnya pendanaan seni pertunjukan ini diperoleh dengan hasil penjualan karcis ataupun lembaga yang berkepentingan (Atmadi 55) .

2.1.2. Barong

2.1.2.1. Sejarah Asal-usul Barong

Barong merupakan sebuah kesenian sakral Bali. Dalam “Esiklopedia Musik & Tari Daerah Bali” disebutkan bahwa Barong merupakan salah satu tari Bebali yang amat angker di Bali dan diduga juga peninggalan kebudayaan pra-Hindu. Secara mitologi, kata Barong berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu kata

b(h)arwang yang di dalam Bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia sejajar dengan

kata Beruang, yaitu nama seekor binatang hidup di daerah Asia, Amerika, dan Eropa. Kata Beruang ini disamakan pula dengan wujud bintang yang lain seperti : Singa, Macan, Babi ataupun Gajah (Pandji 70) .

Pendapat lain mengartikan kata Barong berasal dari urat kata ba-ru-ang. Dalam bahasa Indonesia huruf u dan a berasimilasi menjadi o, sehingga ru dan

a(ng) menjadi ro(ng) yang berarti dua. Rong mengandung makna ruang, jadi dua rong yang dimaksud dua ruang. Pengertian inipun dapat diterima karena pada

umumnya Barong mempunyai dua ruang sebagai tempat penarinya, kecuali Barong jenis Blas-blasan. Bertitiktolak dari pengertian diatas, maka secara umum wujud Barong mengambil wujud binatang. Apabila kemudian ada wujud lain, maka itu hanya kreasi seniman dan masyarakat penyungsungnya (Segara 10) .

Asal-usul kebudayaan Barong, hingga saat ini masih belum diketahui pasti, karena Barong tidak hanya ada di Bali. China dan Jepang juga menggenal kesenian Barong meskipun berbeda rupa. Namun terlepas dari kuat tidaknya

(5)

pengaruh luar terhadap Barong yang berkembang di Bali, sebuah Barong lahir dari kreasi seni dari masyarakat penyungsungnya.

Menurut sejarah estetika, lahirnya seni disebabkan 3 macam, yaitu : 1. Theory of Play

Lahirnya seni itu semata-mata untuk kesenangan saja dan untuk mengisi waktu yang terluang

2. Theory of Utility

Semua kesenian artistik yang dilakukan manusia ditunjukan untuk kepentingan praktis dan kebutuhan sosial.

3. Theory of Magi and Religi

Kelahiran seni itu guna memperoleh tenaga gaib untuk keperluan berburu dan keperluan lain.

Bila dilihat dari teori diatas, kelahiran seni Barong memiliki kecenderungan karena hal yang ketiga diatas. Berdasarkan data sejarah, abad XVI terutama pada masa pemerintahan Dalem Waturengong di Bali, adalah masa seni budaya Bali mencapai puncak keemasannya. Adanya relief Boma (wujud dari Barong Ket) di Bali dan penyelidikan secara filologi terhadap data-data berupa kata-kata Banaspati, Calonarang dan yang lainnya, cukup menguatkan hal ini.

Kemungkinan lain seperti adanya pengaruh China juga didapatkan dari data sejarah yang ada. Adanya gambaran ketika Raja Jayapangus memperistri wanita China. Kemungkinan dalam perkawinan ini, wanita China tersebut membawa kebudayaannya ke Bali. Sehingga ketika Raja Jayapangus dari Putri China ini meninggal, rakyat Bali membuatkan simbol Barong yaitu Barong Landung. Yang dimana Barong Landung wanita menggunakan pakaian longdress, pakaian ciri khas budaya China.

Sumber-sumber lain juga banyak menyebutkan keberadaan Barong adalah sumber tertulis lontar, cerita rakyat dan asumsi yang didasarkan pada keyakinan umat. Dimana keyakinan umat Hindu mempercayai bahwa dewa-dewa mempunyai binatang peliharaan atau lingga sthana seperti lembu, macan, singa, dan lain-lain. Kepercayaan ini pun sangat kuat pengaruhnya dalam kehidupan agama, sehingga apabila suatu saat mereka melihat binatang seperti itu di sekitar pura ataupun tempat suci lainnya pada hari tertentu, mereka akan mengkaitkannya

(6)

dengan binatang kepunyaan dewa-dewa. Barong pun dipercayai melalui proses penghayatan seperti ini (Segara, 8-15) .

2.1.2.2. Peranan Barong

Adanya ungkapan filsafat yang berbunyi, yaitu: “Rame ing gawe sepi ing

pamri“ yang artinya : bekerja penuh dengan pengorbanan. Filsafat tersebut

menjelaskan bahwa dalam berkarya masyarakat Bali melakukannya penuh dengan tanggung jawab, karena dibingkai oleh nilai keagamaan. Sehingga tanggung jawab mereka diserahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa (Yudabakti & Watra 27). Singkatnya, berkarya merupakan sebuah media persembahan/ pemujaan pada Tuhan. Sehingga karya kreatifitas yang mereka hasilkan merupakan salah satu media untuk menjembatani diri mereka dengan Ida Sang Hyang Widhi. Media tersebut disebut dengan Upakara. Upakara umumnya terdapat dalam setiap pelaksanaan upacara keagamaan, wujudnya dapat berbentuk : canang, banten, dan alat-alat upacara lainnya.

Selain sebagai refleksi wujud bakti, bentuk kesenian juga difungsikan sebagai alat konsentrasi pada saat bersembahyang, karena Ida Sang Hyang Widhi dengan segala kemahakuasaan-Nya sangat sulit untuk dibayangkan terlebih dipikirkan. Sehingga, para umat menciptakan kreasi berupa benda atau alat sebagai simbolisasi, yang dimana kretivitas tersebut dapat berupa kesenian tari, patung, tapel/ pralingga. Pralingga merupakan sebuah kreasi yang diciptakan dari kayu pilihan yang diyakini memiliki aspek magis, kadang dihias dengan emas yang dikeramatkan sedemikian rupa.

Barong merupakan salah satu bentuk pralingga yang beraspek religius sehingga secara simbolis Barong diagungkan dan disucikan serta disungsung karena diyakini akan memberikan kebaikan dan keselamatan. Keberadaan Barong sering dimaknai sebagai konsepsi Rwa Bhineda. Maka Barong pun dianggap sebagai simbolisasi Tuhan yang hadir dengan aspek religius (Segara, 4-6) .

Selain itu Barong juga dianggap sebagai binatang pelindung bagi masyarakat Bali. Barong dipercayai memiliki ilmu gaib putih. Tak jarang bilamana di suatu desa terdapat bencana ataupun terserang penyakit, maka tak lama Barong akan segera dimainkan. Ataupun langkah awal yang dilakukan

(7)

adalah merendam janggut dari Barong itu dengan secangkir air bersih dan kemudian air tersebut telah mengandung kekuatan ilmu gaib putih Barong. Sehingga dapat digunakan sebagai penangkal bencana ataupun penyakit yang berlangsung. Di desa Singapadu, terdapat sebuah Barong yang mengeluarkan minyak dari matanya dan dipakai untuk mengobati anak-anak atau orang yang diserang kudis dan ternyata berhasil. (Ensiklopedia Musik & Tari Daerah : Bali 70-71) .

Kepercayaan masyarakat akan fungsi dari Barong ini sendiri, tidak terlepas dari konsepsi Rwa Bhineda yang dilekatkan pada wujud Barong. Dimana Barong dilihat sebagai benda suci, maka aspek magis dan religiusnya diyakini sebagai pengikat sradha Ketuhanan yang mampu memberikan kerahayuan bagi masyrakat penyungsungnya. Dengan kata lain Barong merupakan penunggalan dari Tuhan yang dijadikan sandaran terakhir manusia bila menemui masalah yang tidak dapat dipecahkan dengan akal dan rasio. Mengingat demikian tingginya kedudukan serta nilai agama yang terkandung pada wujud Barong pada suatu acara keagamaan, maka Barong pun disakralkan sebagai benda suci maupun sebagai hasil budaya seni (Segara 6) .

Pengertian sakral sendiri adalah kesenian yang dipentaskan pada saat adanya pelaksanaan persembahan (yajna) dan disesuaikan dengan keperluannya. Dalam pertunjukannya seni sakral ini sangat disucikan dan dikeramatkan oleh masyarakat Bali. Sehingga dalam pelaksanaannya terdapat aturan yang mengikat. Keyakinan ini memberikan keterikatan tersendiri dalam masyarakat dalam menjaga dan melestarikan seni budaya sakral. Karena mereka mempercayai bahwa seni budaya sakral tidak hanya sebagai hiburan jasmani dan rohani semata, namun sebagai salah satu media penerangan/ penyampaian ajaran agama (Yudabakti & Watra 26-35) .

2.1.2.3. Jenis-Jenis Barong

Saat ini di Bali terdapat berjenis-jenis Barong dan tiap-tiap desa mempunyai bentuk Barong yang berlainan sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Umumnya dalam tiap enam bulan sekali, Barong akan diarak

(8)

kelaut ataupun ditarikan. (Esiklopedia Musik & Tari Daerah : Bali 72) . Berikut merupakan beberapa jenis Barong, diantaranya :

1. Barong Ket

Sering juga disebut Barong Ketket, Barong Rentet atau Barong Ketet. Barong ini merupakan penggambaran dari Banaspati Raja (raja hutan). Wujud Barong Ket merupakan kombinasi dari Singa, Macan ataupun Sapi yang dimana binatang tersebut memiliki kekuatan magis (super natural

power). Barong ini dikeramatkan dan biasanya disimpan di Pura Dalem.

Jenis Barong Ket hampir terdapat di setiap desa adat di Bali, biasanya disertai dengan Rangda sebagai pendampingnya. Barong Ket memiliki pakaian atau bulu-buu dari praksok atau ijuk, bahkan ada yang dibuat dari bulu bangau ataupun gagak. Barong Ket memakai hiasan sekartaji yang dibuat dari kulit yang berukir. Ekornya yang panjang dibuat dari kulit memakai belahan kaca dan gongseng.

2. Barong Bangkal

Bangkal adalah babi yang berumur tua di Bali. Bangkal merupakan salah satu binatang mitos yang mempunyai kekuatan. Barong Bangkal diusung oleh dua orang. Barong ini biasanya dipertunjukkan pada hari raya Galungan dan Kuningan dan mengambil tempat pada jalan-jalan di desa. Masyarakat di kampung merasa kehidupannya dilindungi oleh Bhatara/

Bhatari jika didatangi oleh Barong Bangkal. Biasanya pertunjukan Barong

Bangkal diiringi dengan gamelan Batel Bebarongan yang terdiri kendang,

klenang, tawa-tawa kempur. Barong Bangkal umumnya menggunakan

warna hitam atau putih. Bentuknya sendiri berbentuk kepala babi yang terlihat ganas. Pakaian dari Barong ini dibuat dari kain beludru hitam atau putih.

3. Barong Asu

Asu dalam Basa Bali alus dari kata anjing. Secara leksikal Asu berarti

anjing dan tapelnya menyerupai kepala anjing. Barong Asu merupakan Barong yang angker dan sangat amat disakralkan. Barong ini biasanya digunakan untuk ngelawang yang lamanya 42 hari, dan bagi rumah penduduk yang dilalui menghaturkan prani/ sejajen. Barong Asu ini dapat

(9)

kita jumpai di daerah Pacung Tabanan. Pertunjukan Barong Asu hanya terjadi ketika hari odalan di Pura Pacung, khususnya pada hari raya Galungan & Kuningan.

4. Barong Macan

Merupakan Barong dengan bentuk tapelnya menyerupai Macan. Macan juga merupakan binatang yang mempunyai mitologi tersendiri dalam cerita Tantri. Barong Macan dapat dijumpai di Pura Pacung, Tabanan-Bali. Busana Barong Macan terbuat dari beludru yang warnanya oranye menyala sehingga hampir menyerupai bulu Macan yang asli.

5. Barong Gajah

Barong ini menyerupai gajah-gajah dari India, dan Barong ini sangat dikeramatkan. Barong ini dibawa keliling setiap hari raya Galungan. 6. Barong Landung

Barong Landung merupakan sebuah Barong yang lain sekali bentuknya jika dibandingkan dengan Barong lainnya. Barong Landung tidak ditarikan oleh dua orang seperti terdapat dalam Barong yang berupa binatang buas. Barong Landung diwujudkan dengan dua buah boneka raksasa, laki dan perempuan. Masing-masing boneka ditarikan oleh seorang laki-laki. Boneka laki-laki bernama Jero Gede dan yang perempuan bernama Jero Luh. Jero Gede berwarna coklat tua dan menakutkan. Sedangkan Jero Luh berwarna putih kekuning-kuningan.

7. Barong Brutuk

Barong ini terdapat di desa Trunyan, Kintamani, Bangli. Tapel dari Barong ini menyerupai raksasa yang merupakan simbol dari laskat (bala) dari Dewa Ratu Pancering Jagat Mahadewa dari Pura Penalaman. Penari Barong Brutuk dilakukan oleh laki-laki yang bersenjatakan cemeti dari lidi tanpa diiringi gamelan. Bulu dari Barong ini dibuat dari daun pisang yang sudah kering (kraras). Barong Brutuk dapat berupa pria sebagai simbol Ratu Pancering Jagat, sedangkan Barong Brutuk perempuan sebagai simbol Dewa Ayu Pinggit. Puncak dari pertunjukan dari Barong Brutuk adalah bertemunya Brutuk Laki dan Brutuk Perempuan. Tujuan dari pementasan ini adalah untuk memohon kesuburan.

(10)

Disamping jenis-jenis Barong tersebut, masih ada jenis-jenis lain seperti Barong Dawang-dawang, Barong Sae, Barong Blas-blasan dan lain-lainnya (Segara 30; Esiklopedia Musik & Tari Daerah : Bali 71-73) .

Adapun dari jenis Barong yang ada, jenis tarian Barong yang sering ditarikan adalah Barong Ket. Khususnya dalam pertunjukkan kesenian yang ditampilkan sebagai seni pertunjukan wisata ritual Bali. Namun di kalangan wisatawan mancanegara tontonan wisata ini diberi nama Barong and Keris Dance. 2.1.3. Barong Ket

2.1.3.1. Sejarah Barong Ket

Menurut Drs. Soedarsono, Barong Ket merupakan figur mitologi yang berbentuk semacam binatang buas berkaki empat. Barong merupakan binatang totem ataupun pelindung bagi orang Bali sebelum agama Hindu masuk ke Bali. Dan dikarenakan fungsinya sebagai pelindung inilah maka Barong Ket dianggap pula perwujudan dari kekuatan baik yang akan selalu bertarung dengan perwujudan kekuatan jahat yaitu Rangda yang berupa seorang raksasa wanita yang menakutkan (Candrawati 8).

Barong Ket menurut sejarah yang tercatat dalam Kirtimukha, menyebutkan bahwa pada saat Sang Hyang Siwa sedang bertapa, dirinya diganggu oleh raksasa. Oleh karena pertapaannya diganggu, Sang Hyang Siwa marah dan dari kemarahannya dipancarkan seberkas sinar yang akhirnya berbentuk wujud makhluk yang sangat mengerikan, rambutnya panjang, taringnya melingkar, siap menerkam mangsanya. Makhluk tersebut adalah Kirtimukha. Sebelum Sang Hyang Siwa memerintahkan Kirtimukha memakan raksasa Rahu tersebut, raksasa Rahu memohon ampun atas kesalahannya, namun oleh karena Sang Hyang Siwa terlanjur menciptakan Kirtimukha, akhirnya Kirtimukha harus memakan dirinya sendiri dan tinggal mukanya saja. Untuk menghormati kesetiaan Kirtimukha, maka ia diangkat menjadi pelindung candi pada tiap-tiap pintu gerbang Candi Siwa. Kirtimukha adalah Banaspati yang ada didalam India kuno. Banaspati adalah raja hutan dan sebagai pelindung binatang buas, juga sebagai raja tumbuh-tumbuhan (Segara 19) .

(11)

Sedangkan sumber lain yang berkaitan dengan bentukan awal dari Barong Ket di Gianyar tidak terlepas dari tokoh seniman ternama Cokorda Gede Api. Beliau ditenggarai sebagai pencetus ataupun pencipta awal bentuk dari wujud Barong Ket 100 tahun yang lalu. Menurut keturunan dari Cokorda Gede Api, yakni Cokorda Raka Tisnu bahwa leluhurnya tersebut ditugaskan untuk membuat sebuah tapel/ topeng yang mencitrakan Raja Banaspati, yang dikenal sebagai raja hutan. Karena tidak ada yang mengetahui bagaimana rupa dari Raja Banaspati tersebut, sehingga Cokorda Gede Api memutuskan untuk melakukan meditasi di tengah hutan, untuk mendapatkan gambaran akan wujud dari Raja Banaspati tersebut. Dirinya pun pergi ke hutan dan memohon petunjuk dari Dewa Siwa untuk diberikan gambaran wujud dari Raja Banaspati. Tak lama kemudian, terbentuklah sebuah gambaran wujud topeng pada lantai pura Dalem, tempat beliau melakukan meditasi di dalam hutan, yang muncul secara tiba-tiba dan gaib. Gambaran tersebut merupakan gambaran awal bagaimana rupa dari Raja Banaspati dan sejak hari itu gambar tersebut menjadi prototipe dari ribuan bentuk Barong Ket yang ada sampai sekarang (personal interview with Tjokorda Raka Tisnu) .

2.1.3.2. Fungsi Barong Ket

Barong Ket bila ditelisik dari fungsinya, memiliki fungsi sebagai pengiring upacara, karena ditarikan sehubungan dengan upacara-upacara agama. Umumnya tarian Barong Ket ini akan dilakukan dalam lingkungan pura.

Selain itu Barong Ket juga dipercayai memiliki sebagai pemberi keselamatan bagi masyarakat penyungsungnya. Tak jarang bila ada masyarakat yang sakit, maka mereka akan mendatangi Barong Ket dan memohon kesembuhan dari Barong Ket yang dikeramatkan.

Tidak hanya untuk penyakit, Barong Ket juga dipercayai dapat menolak

bala yang ditarikan dalam upacara agama. Barong Ket akan ditarikan

mengelilingi desa untuk mengusir roh-roh jahat yang mengganggu ketentraman masyarakat yang berupa Bhuta Kala. Sesuai dengan fungsinya sebagai penolak

bala hingga kini masyarakat setempat masih tetap mengadakan iring-iringan

(12)

2.1.3.3. Simbolisasi Barong Ket

Setiap aktifitas keagamaan, membawa maksud dan tujuan tertentu. Maksud dan tujuan ini terkadang tidak sepenuhnya tergambar melalui gerak/ aktifitas secara konkrit, namun juga tergambar melalui simbol-simbol tertentu. Fenomena ini pula yang selanjutnya melahirkan kreatifitas seni, tentu seni yang bernafaskan nilai religius. Yang kemudian dikenal sebagai simbolisasi religius yang juga kaya akan kreatifitas seni budaya.

Dalam kehidupan beragama Hindu, simbol-simbol memegang peranan penting. Tujuan dari arti simbol-simbol adalah untuk menyampaikan hakekat dalam kultural yang bersifat mental spiritual. Kemampuan untuk membuat simbol-simbol itu sudah ada sejak jaman pra-sejarah. “Dalam pandangan Hindu : arca adalah simbol, gambar adalah simbol, rupa adalah simbol, warna adalah simbol, sikap adalah simbol, sikap tangan adalah simbol semata-mata.” (G. Pudja 1977:50). Jadi keberadaan Barong dapat dikatakan sebagai simbol religius dan juga sebagai simbol pemersatu umat. Sedangkan bila keberadaan Barong Ket dalam cerita disimbolkan sebagai pertarungan kekuatan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan).

Barong Ket sebagai salah satu benda simbolisasi dari kekuatan Tuhan dalam melindungi dan menjaga wilayah dan masyarakat penyungsungnya, terletak pada wujud tapel (topeng). Kekuatan terbesar terdapat pada mata dan jenggotnya. Berdasarkan keyakinan, Barong dalam cerita dianggap sebagai wakil kebenaran/

dharma. Kekuatan dharma ini terdapat pada penggelannya (muka) yang

dipusatkan pada mata dan jenggot yang bahannya dari rambut manusia (Segara 37-51) .

2.1.3.4. Perkembangan Barong Ket

Tari Barong Ket semula merupakan tari sakral yang dipentaskan hanya untuk upacara agama Hindu di Bali, tetapi dalam perkembangannya tari ini juga dipentaskan untuk hiburan wisatawan. Seperti yang ditulis oleh I Gusti Ngurah Sudiana, dalam Jurnal Kebudayaan Vol. 4 No. 1, dikatakan bahwa dalam perkembangannya, terdapat desakralisasi pada tarian Barong Ket. Baik dari segi

(13)

pertunjukan sampai dengan proses pembuatan sebuah Barong Ket. Pada awalnya kesenian Barong Ket tergolong sebagai tari sakral, namun dalam perkembangan dan sekaligus perubahan dalam berbagai unsurnya. Yang pada awalnya digunakan sebagai pengiring upacara, namun kini juga diperuntukan untuk sajian wisatawan. Menurut Sudiana, perubahan ini muncul karena adanya perubahan pada struktur sosial masyarakat Bali. Dimana ketika struktur kekuasan dipegang oleh raja, kesenian Barong Ket dimanfaatkan oleh raja untuk menanamkan ide serta alat untuk memperkuat kekuasaannya. Sedangkan ketika pada pemerintahan kolonial Belanda, tarian ini digunakan untuk menyambut tamu-tamu penting para penjajah. Hal ini berlanjut sampai saat ini, dimana para seniman dan masyarakat Bali menggunakan kesenian Barong Ket untuk menghibur para wisatawan.

Awalnya perubahan ini memunculkan pertentangan idealisme dan kepentingan lima kelompok masyarakat Bali. Lima kelompok tersebut diantaranya seniman, pelaku pariwisata, adat, agama dan pemerintah. Kelima kelompok ini terbagi atas dua kubu, yaitu kubu yang melarang pementasan barong sakral untuk wisawatan – yakni kelompok agama, adat, dan pemerintah. Sedangkan kelompok seniman dan pelaku pariwisata menghendaki pementasan barong sakral untuk wisatawan. Dari perdebatan tersebut, maka dibuatlah klasifikasi jenis dan fungsi kesenian, yang dimana pada akhirnya diciptakanlah seni pertunjukan Barong Ket yang menyerupai pertujukan sakral untuk para wisatawan.

2.1.3.5. Lakon Barong Ket

Pada tarian Barong akan dipertunjukan, perkelahian antara kebaikan (Barong) melawan kejahatan yang disimbolkan dengan Rangda. Tetapi tidak satupun dari mereka ada yang menang ataupun kalah. Semua itu merupakan cerminan dari kehidupan masyarakat sehari-hari dimana baik dan buruk atau positif dan negatif selalu ada dalam kehidupan kita. Walaupun pada dasarnya setiap orang ingin mendapatkan hal-hal yang baik. Inti dari cerita tarian Barong diambil dari cerita pewayangan Hindu terbesar dari India yaitu Mahabarata.

(14)

Dalam kisah ini diceritakan, salah satu dari Panca Pandawa (5 bersaudara) yaitu Sahadewa, akan dikorbankan oleh ibunya (Dewi Kunthi) untuk dipersembahkan kepada Dewi Durga (istri Dewa Siwa yang mempunyai wajah sangat menyeramkan). Tetapi saatnya untuk dikorbankan Dewi Kunthi merasa sangat sedih dan tidak rela anaknya dipersembahkan dan dia ingin membatalkannya. Oleh karena kelicikan Dewi Durga akhirnya Dewi Kunthi seketika berubah pikiran dan menjadi sangat marah kepada Sahadewa. Dan akhirnya Sahadewa diikat dibawah pohon, sambil menunggu waktu yang tepat untuk dipersembahkan. Pada saat itulah datang Dewa Wisnu memberikan anugerah kepada Sahadewa sehingga menjadikan dia tak terkalahkan. Dan tiba saatnya Dewi Durga turun untuk membunuh Sahadewa, namun semua itu tidak mampu dilakukan. Bahkan akhirnya Dewi Durga meminta Sahadewa untuk membunuh dirinya sendiri (Dewi Durga) agar dia bisa kembali ke surga.

Gambar 2.1. Barong Ket dalam salah satu adegan pertunjukan Sumber : Dokumentasi Pribadi

Setelah dia terbunuh, datanglah Kalika (murid dewi Durga) dan mencoba untuk membunuh Sahadewa. Tetapi Kalika kalah dan dia menjelma menjadi seekor babi hutan, karena diburu oleh masyarakat kemudian dia menjelma lagi menjadi Burung (burung yang besar) dan selanjutnya mencoba mengalahkan Sahadewa. Lagi-lagi Kalika kalah dan terakhir dia menjelma menjadi Dewi Durga dengan wujud Rangda. Pada saat itu juga Sahadewa merubah dirinya menjadi Barong dan bertempur dengan Kalika. pada perkelahian ini tidak ada satupun

(15)

yang kalah atau menang. Tari ini diakhiri dengan tarian Keris, yang diperankan oleh beberapa orang laki-laki yang mencoba menusuk dirinya sendiri dengan keris tetapi tidak satupun dari mereka ada yang terluka, karena tubuh mereka telah dimasuki oleh kekuatan yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Itulah secara singkat cerita dari tarian Barong.

2.1.3.6. Pementasan Barong Ket

Barong Ket ditarikan oleh dua orang penari yang disebut Juru Saluk atau

Juru Bapang. Juru Bapang pertama menarikan bagian kepala, Juru Bapang yang

lainnya di bagian ekor. Biasanya Barong Ket ditarikan berpasangan dengan Rangda, yaitu sosok seram yang melambangkan adharma (keburukan). Barong Ket sendiri dalam tarian tersebut melambangkan dharma (kebajikan). Pasangan Barong Ket dan Rangda melambangkan pertempuran abadi andara dua hal yang berlawanan (Rwa Bhineda) di semesta raya ini. Tari Barong Ket diiringi dengan gamelan Semar Pagulingan (“Barong-barong Bali”, para. 1) . Berikut merupakan urutan lakon yang dimainkan dalam pementasan Tari Barong Ket & Kris :

Gambar 2.2. Adegan pembukaan Barong Ket - Gending Pembukaan

Barong dan kera sedang berada di dalam hutan yang lebat. Sang Kera bermain-main dengan Barong Ket. Lalu tak lama kemudian muncullah tiga orang bertopeng, dimana ke tiga orang tersebut sedang membuat tuak di tengah-tengah hutan. Salah satu dari ketiga orang tersebut, memiliki

(16)

seorang anak yang telah dimakan oleh Harimau. Ketiga orang tersebut pun merasa marah dan dendam pada sang Harimau, lalu kemudian memutuskan untuk menyerang Barong. Dalam perkelahian tersebut, salah satu hidung dari ketiga orang tersebut digigit oleh sang Kera. Ketiga orang tersebut memutuskan untuk meninggalkan hutan.

- Babak Pertama

Dua orang penari muncul dimana kedua orang penari tersebut merupakan pengikut dari Rangda yang sedang mencari pengikut Dewi Kunti yang sedang dalam perjalanan untuk menemui Patihnya.

- Babak Kedua

Pengikut-pengikut Dewi Kunti tiba. Salah satu dari pengikut Rangda berubah menjadi setan dan memasukkan roh jahat kepada pengikut Dewi Kunti yang menyebabkan mereka bisa menjadi marah. Lalu kedua orang tersebut pun menemui Patih dan kemudian menghadap Dewi Kunti.

Gambar 2.3. Adegan Patih dan Sadewa - Babak Ketiga

Muncullah Dewi Kunti dan anaknya Sadewa. Dewi Kunti sebelumnya pernah berjanji kepada Rangda untuk menyerahkan anaknya, Sadewa sebagai korban. Namun pada kenyataanya, Dewi Kunti sama sekali tidak sampai hati untuk mengorbankan anaknya Sadewa kepada Rangda. Namun Rangda memasukkan roh jahat ke dalam tubuh Dewi Kunti

(17)

sehingga, Dewi Kunti pun menjadi marah dan berniat untuk mengorbankan anaknya. Sadewa pun diserahkan kepada Patih untuk membuang Sadewa kedalam hutan. Sang Patih ini pun telah dimasuki kekuatan jahat Rangda, sehingga Sang Patih dengan tiada perasan menggiring Sadewa sampai tengah hutan lalu kemudian mengikatnya dimuka istana Sang Rangda.

- Babak Keempat

Turunlah Dewi Siwa dan memberikan keabadian hidup kepada Sadewa dan kejadian ini tidak diketahui oleh Rangda. Tak lama berselang Rangda pun datang untuk mengoyak-ngoyak dan membunuh sadewa tetapi selalu gagal. Kekebalan yang diberikan Dewa Siwa menyebabkan Sadewa menjadi kekal. Rangda pun menyerah kepada Sadewa dan memohon untuk diselamatkan agar dengan demikian dia dapat masuk sorga. Permintaan inipun dipenuhi oleh Sadewa.

Gambar 2.4. Adegan Tari Keris - Babak Kelima

Kalika salah satu pengikut Rangda menghadap Sadewa untuk diselamatkan, namun permintaan tersebut ditolak Sadewa. Penolakan ini menimbulkan perkelahian. Kalika pun berubah wujud menjadi “babi hutan”. Dalam pertarungan tersebut Sadewa berhasil memenangkannya. Namun Kalika tidak mau diam begitu saja menghadapi kekalahannya. Dirinya pun berubah menjadi “burung”, tetapi tetap saja tidak dapat

(18)

mengalahkan Sadewa, akhirnya Kalika pun berubah wujud menjadi Rangda. Kemudian tak lama muncullah pengikut Barong, dengan tiap orang membawa keris di tangannya. Mereka hendak menolong Barong dalam pertarungan melawan Rangda. Mereka pun tidak berhasil melumpuhkan kesaktian Rangda. Pertarungan ini pun terus abadi, karena kebajikan dan kejahatan selalu hidup berdampingan satu sama lain.

2.1.4. Seni Pembuatan Barong Ket 2.1.4.1. Tapel Barong Ket

Indonesian Heritage menjelaskan bahwa topeng di Indonesia dikenal

karena ragam bentuk dan fungsinya. Diyakini bahwa topeng merupakan salah satu hasil budaya yang umurnya sama tuanya dengan tradisi para pembuatnya. Alasan utama penggunaan topeng adalah untuk menampilkan seluruh diri.

Secara umum topeng dapat diartikan sebagai tiruan wajah, terbuat dari bahan tipis atau ditipiskan, dan dapat digambarkan melalui lambang rupa yang terpusat pada wajah. Setiap guratan, setiap sifat yang ditampilkan, diperhitungkan agar menampilkan seluruh sifat dan pribadi sosok yang mewakilinya. Tokoh yang digambarkan tidak selalu berbentuk manusia, tetapi dapat juga mahluk surgawi yang bercitra menyerupai manusia dan mahluk berderajat lebih rendah dari manusia.

Gambar 2.5. Macam Topeng Bali

(19)

Fungsi budaya topeng meliputi segi keagamaan dan kesenian. Dipercayai topeng merupakan sarana perlambang untuk mewujudkan konsep-konsep agama, terutama yang berhubungan dengan kekuatan gaib tertentu. Disisi lain topeng merupakan ungkapan perlambang untuk menyalurkan tanggapan kesan dan sifat-sifat serta konsep budaya tertentu yang digambarkan melalui bentuk-bentuk rupa terencana (Indonesian Heritage : Seni Pertunjukan 39-42) .

2.1.4.2. Wujud Barong

Adapun bentukan dari Barong Ket terdiri atas dua bagian, yaitu

punggalan/ tapel/ topengnya, badan (pareraga) yang dipenuhi dengan hiasan.

- Punggalan/ Tapel/ Topeng terdiri atas jenggot, gigi, mulut dan taring, mata yang besar, alis yang dihias dengan kekembangan.

- Badan/ Pareraga terdiri dari bahu (bagian depan dimana tempat pererai digantungkan), buntut (bagian belakang) yang berbentuk ekor yang menjulang. Didalamnya terdapat kerangka yang diikat-ikat yang terbuat dari anyaman bambu, rotan, dan tali. Sedangkan bagian luarnya menggunakan bulu ijuk.

Berikut merupakan bentuk dan nama hiasan yang terdapat pada Barong Ket. Pada umumnya hiasan-hiasan ini dibuat dari kulit sapi yang diukir dan

diprada, dilengkapi dengan kaca sebagai permata yang dibungkus dengan

permata.

a. Sekar Taji

Merupakan hiasan yang melekat pada pererai atau tapel. Gelungan kekendon yang dilengkapai dengan garuda mungkur dan karang manuk.

b. Hiasan badan depan hingga belakang atau ekor yang terdiri dari : - Kekapa (bahu).

- Badong yang dipasang di muka dan di belakang ekor.

- Serawe yang panjang dan pendek, yang ditempel antara dada sampai pinggang.

- Turangga yang dipasang di punggung. - Karang manuk yang dipasang di bawah ekor.

(20)

- Belatung merupakan duri-duri sebagai perhiasan ekornya. - Genta yang biasanya tergantung di ujung ekor.

- Penangkeb ekor (hiasan penutup ekor). 2.1.4.3. Pembuatan Barong Ket

Barong terdiri dari unsur topeng dan badan barong. Mengenai bahan yang digunakan dalam pembuatan Barong Ket biasanya diadakan musyawarah dengan terlebih dahulu. Proses pembuatan Barong Ket dibagi menjadi dua tahap antara lain :

1. Pembuatan topeng Barong Ket

Bahan utama berasal dari sebuah punggalan kayu. Dalam hal ini kayu yang dipilih merupakan kayu yang bersifat ringan, kayu yang dianggap memiliki suatu kesucian, tidak mudah pecah, dan kayu yang tidak mudah dimakan rayap. Kemudian diolah sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Kayu yang biasa digunakan adalah : kayu pule, kapuh (rangdu), jaran,

kapan, waruh teluh.

2. Pembuatan kerangka atau badan Barong Ket

Kerangka Barong Ket pada umumnya terbuat dari bambu (keranjang) dan berbingkai rotan. Yang dibuat melalui beberapa tahapan. Berikut merupakan penjelasan singkat mengenai proses pembuatan badan Barong Ket.

Keranjang yang telah dibuat dengan ukuran-ukuran sedemikian rupa dipasang di bagian pundak (berbentuk lingkaran), di bagian pantat juga berbentuk lingkaran. Di bagian perut (antara dada dengan pinggul) dipasang keranjang yang bentuknya memanjang. Keseluruhan keranjang tersebut dijalin sehingga mewujudkan suatu bentuk kerangka barong. Tinggi ataupun besar sebuah Barong Ket, tergantung pada kebutuhan serta permintaan yang bersangkutan. Ekor Barong Ket terdiri dari daun batang enau (lidi) yang diikat dengan tali, lalu kemudian dibungkus dengan kain dan ditambah dengan ijuk. Semua kerangka tersebut dibungkus dengan kain berwarna hitam yang akhirnya dipasang bulu Barong Ket dan dihiasi dengan ukiran-ukiran meniru keinginan.

(21)

2.4.1.4. Alat Pembuatan Barong Ket

Dalam mengerjakan pembuatan Barong Ket diperlukan alat-alat seperti:

kandik dengan segala ukuran; Timpas, blakas dan gergaji yang gunanya untuk

memotong kayu untuk membentuk bentuk dasar yang masih kasar; Pahat, alat yang digunakan untuk memahat pada bagian tapel; Semeti, alat yang digunakan untuk memukul pahat yang berguna untuk membantu membentuk ukiran pada kayu; Temutik merupakan alat yang digunakan untuk menghaluskan hasil pahatan, dan ukir-ukiran lainnya; Pusut digunakan untuk membuat lobang; Amplas, alat yang dipakai untuk menghaluskan tapel yang telah jadi agar mudah diwarnai (Cemeng 16) .

Secara garis besar proses pembuatan tapel Barong Ket dilakukan atas beberapa tahap:

a. Tahap Permulaan

Pada tahapan ini tukang akan bekerja pada tahapan memotong dan membentuk kayu sehingga membentuk bentukan dasar. Peralatan yang digunakan pada tahapan ini berupa alat-alat belakas seperti : kandik,

timpas dan alat sejenis lainnya.

b. Memperhalus

Pada tahapan ini, tukang akan memulai bentuk dasar tapel, sesuai dengan wujud yang diinginkan. Peralatan yang digunakan seperti alat pahat,

temutik dan alat bantu pahat lain yang diperlukan untuk membentuk hiasan

dan ukir-ukiran. Pada sentuhan akhir, akan dilakukan proses amplas untuk menghaluskan bagian-bagian ukiran.

c. Pewarnaan

Pada tahapan ini, merupakan tahap akhir dalam proses pembuatan tapel. Pemberian warna menjadi hal yang penting karena pada tahapan ini pembentukan citra Barong ditentukan agar sesuai dengan karakternya. Alat yang digunakan seperti kuas, cat warna dan beberapa alat lainnya yang diperlukan dalam proses pewarnaannya.

(22)

2.4.1.5. Pewarnaan Barong Ket

Tahap pewarnaan pada Barong Ket merupakan tahap yang paling sulit. Tahapan ini sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam membuat tapel Barong Ket. Warna dasar yang digunakan dalam tahapan ini adalah warna hitam, putih, kuning dan merah. Empat warna tersebut kemudian akan dicampur satu sama lain untuk menghasilkan warna lain. Keempat warna tersebut diperoleh dari bahan Prada (bahan untuk menghasilkan warna kuning emas); Mangsi (warna hitam yang diperoleh dari asap lampu); Ancur (campuran berupa susu untuk warna hitam); Kencu (bahan untuk warna merah, berupa bubuk). Bahan diatas merupakan bahan tradisional Bali. Saat ini tidak semua Barong Ket menggunakan alat warna tradisional, dikarenakan harga yang tinggi serta kepraktisan yang diberikan oleh alat warna modern (personal interview with I Wayan Laja) .

Tahapan selanjutnya, topeng Barong akan dipasang menjadi satu dengan badannya yang disertai dengan upacara yang disesuaikan dengan adat daerah setempat. Biasanya akan diadakan upacara melaspasin, setelah itu akan dibawa ke pura ataupun kuburan untuk mendapatkan keangkeran/ keramat dari Barong Ket tersebut. Proses ini merupakan salah satu bentuk sakralisasi dari Barong Ket. 2.1.4.5. Proses Sakralisasi Barong Ket

Tidak setiap benda berwujud seperti Barong Ket dapat disebut Barong. Hal ini berkaitan dengan ada tidaknya proses sakralisasi melalui upacara. Proses ini menjadi penting karena dengan Barong menunjukkan nilai magisnya, maka masyarakat penyungsung makin merasa dekat dan percaya akan kekuatan Barong secara rohaniah.

Proses penghidupan ini disebut pula dengan Upacara Utpeti, upacara keagamaan ini dilakukan dalam beberapa tahap. Diantaranya :

1. Tingkat Prayascitta dan Mlaspas

Upacara ini bertujuan untuk menghapuskan noda (leteh, papa klesa) baik yang bersifat sekala maupun niskala yang terdapat pada kayu ataupun benda yang digunakan dalam pembuatan Barong. Noda ini dapat ditimbulkan oleh sangging ataupun bahan itu sendiri. Dengan adanya upacara Prayascitta diharapkan bahan

(23)

kayu tersebut menjadi bersih dan suci serta siap untuk diberikan kekuatan. Adapun upakara yang lengkap dari Upacara Prayascitta adalah :

• Pendagingan yang terdiri atas emas, perak, dan tembaga yang dimana ketiga bahan tersebut dijadikan satu (aworatna dadia matunggal).

• Pudi mirah (sejenis permata) yang ditempatkan di ubun-ubun serta dilengkapi dengan rerajahan dengan bertuliskan Ang, Ung, Mang.

2. Tingkat Ngatep dan Masupati

Upacara ini merupakan upacara penyambungan topeng dengan tubuhnya ataupun peyambungan bagian yang lain seperti mahkota dengan busana lainnya. Dengan upacara ini terjadilah Utpeti terhadap Barong dan mulai saat itu dapat difungsikan sebagai personifikasi dari roh atau kekuatan gaib yang diharapkan penyungsungnya.

3. Tingkat Masuci dan Ngerehin

Merupakan tingkat upacara yang terakhir dengan maksud Barong menjadi suci, keramat. Tujuan upacara ini adalah untuk memasukkan kekuatan gaib dari Tuhan. Dengan demikian diharapkan Barong Ket dapat menjadi pelindung masyarakat setempat. Upacara ini biasanya dilakukan pada dua tempat yakni pura dan kuburan. Ngereh biasanya dilakukan pada tengah malam terutama pada hari-hari keramat seperti kajeng kliwon dan bulan mati. Sebagai puncak keberhasilan proses ini adalah adanya kontak dari alam gaib yaitu berupa seberkas sinar yang jatuh pada pemundut/ pengereh dan pada Barong.

Dengan melewati ketiga rangkaian acara tersebut maka Barong Ket telah menjadi suci, keramat, dan mengandung nilai magis yang beraspek religius yang nantinya menjadi objek keagamaan dan memantapkan nilai rasa bakti umat.

Sebelum ketiga tahapan tersebut dilakukan, terlebih dahulu dilakukan beberapa kegiatan, yaitu :

1. Menentukan hari baik

Pembuatan Barong untuk menjadi sakral sangat ditentukan pada pemilihan hari yang baik.

(24)

2. Menentukan jenis kayu

Umumnya kayu yang digunakan adalah kayu yang diyakini mempunyai kekuatan magis seperti kayu pule, kapuh (rangdu), jaran, kapan, waruh

teluh.

3. Pemberian warna

Pemberian warna pada sebuah topeng Barong merupakan hal yang sangat penting, karena dengan pewarnaan yang baik serta cocok akan memberikan kesan hidup dan berwibawa serta agung.

4. Membuat kerangka Barong 5. Pemasangan bulu

Bulu yang umum digunakan sekal dulu adalah :

• Bulu burung Gagak untuk mendapatkan warna hitam • Buku Kokokan untuk mendapatkan warna putih • Ijuk, untuk warna hitam

• Bulu burung Merak

• Daun pisang yang sudah kering, khusus untuk Barong brutuk • Kain berwarna yang disesuaikan dengan wujud Barong. • Praksok / dami : pemasangan busana Barong dan Rangda

(25)

2.1.5. Pariwisata

Dikatakan dalam buku Sosiologi Pariwisata, bahwa pariwisata saat ini telah menjadi salah satu industri andalan dalam menciptakan devisa di berbagai negara. Data perkembangan pariwisata dunia menunjukkan bahwa pada saat terjadi krisis minyak pada tahun 1970-an, maupun pada saat terjadinya resesi dunia, pariwisata dunia tetap melaju, baik bila dilihat dari jumlah wisatawan internasional maupun penerimaan devisa dari sektor pariwisata ini. Namun demikian, sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai apa itu wisatawan dan pariwisata. Tetapi pada akhirnya terdapat beberapa pokok yang secara umum disepakati di dalam memberikan batasan mengenai pariwisata, yaitu : (1)

Traveller, orang yang melakukan perjalanan antar dua atau lebih lokalitas; (2) Visitor, orang yang melakukan perjalanan ke daerah yang bukan tempat

tinggalnya, kurang dari 12 bulan dan tujuan perjalanannya bukanlah untuk terlibat dalam kegiatan untuk mencari nafkah, pendapatan, atau penghidupan di tempat tujuan; (3) Tourist, bagian dari visitor yang menghabiskan waktu paling lama tidak satu malam di daerah yang dikunjungi (Pitana & Gayatri 42-43) .

2.1.5.1. Jenis-jenis Pariwisata

Menurut Pendit (1994), pariwisata dapat dibedakan menurut motif wisatawan untuk mengunjungi suatu tempat (“Konsep Pariwisata” para.3-4). Jenis-jenis pariwisata tersebut adalah sebagai berikut :

1. Wisata Maritim atau Bahari

2. Wisata Cagar Alam (Taman Konservasi) 3. Wisata Konvensi

4. Wisata Pertanian (Agrowisata) 5. Wisata Buru

6. Wisata Ziarah

7. Wisata Budaya/ Ritual Wisata Budaya/ Ritual

Yaitu perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan hidup seseorang dengan jalan mengadakan kunjungan atau

(26)

peninjauan ketempat lain atau ke luar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan adat istiadat mereka, cara hidup mereka, budaya dan seni mereka. Seiring perjalanan serupa ini disatukan dengan kesempatan–kesempatan mengambil bagian dalam kegiatan–kegiatan budaya, seperti eksposisi seni (seni tari, seni drama, seni musik, dan seni suara), atau kegiatan yang bermotif kesejarahan dan sebagainya.

2.1.5.2. Kepariwisataan

Kepariwisataan adalah hal-hal yang berhubungan dengan pariwisata.Hal-hal yang berhubungan dengan pariwisata hendaknya memenuhi syarat Sapta

Pesona Pariwisata, yaitu (“Dasar Pengertian Pariwisata” par. 6) :

1. Aman

Wisatawan akan senang berkunjung ke suatu tempat yang dirasanya aman, tentram, terlindungi.

2. Tertib

Kondisi yang tertib merupakan sesuatu yang sangat didambakan oleh setiap orang termasuk wisatawan. Kondisi tersebut tercermin dari suasana yang teratur, rapi dan lancar serta menunjukkan disiplin yang tinggi dalam semua segi kehidupan masyarakat.

3. Bersih

Bersih merupakan suatu keadaan lingkungan yang menampilkan suasana bebas dari kotoran, sampah, limbah, penyakit dan pencemaran.

4. Sejuk

Lingkungan yang serba hijau, segar, rapi memberi suasana atau keadaan sejuk, nyaman dan tenteram. Kesejukan yang dikehendaki tidak saja harus berada di luar ruangan atau bangunan, akan tetapi juga di dalam ruangan, misalnya ruangan kerja/belajar, ruangan makan, ruangan tidur dan lain sebagainya.

5. Indah

Keadaan atau suasana yang menampilkan lingkungan yang menarik dan sedap dipandang disebut indah. Indah dapat dilihat dari berbagai segi, seperti dari: segi tata warna; tata letak; tata ruang bentuk ataupun gaya dan

(27)

gerak yang serasi dan selaras, sehingga memberi kesan yang enak dan cantik untuk dilihat.

6. Ramah Tamah

Ramah tamah merupakan suatu sikap dan perilaku seseorang yang menunjukkan keakraban, sopan, suka membantu, suka tersenyum dan menarik hati.

7. Kenangan

Kenangan adalah kesan yang melekat dengan kuat pada ingatan dan perasaan seseorang yang disebabkan oleh pengalaman yang diperolehnya. Kenangan dapat berupa yang indah dan menyenangkan, akan tetapi dapat pula yang tidak menyenangkan.

2.1.5.3. Tipologi Wisatawan

Menurut Pitana, tipologi wisatawan perlu diketahui untuk tujuan perencanaan, termasuk dalam pengembangan kepariwisataan, tipologi yang lebih sesuai adalah tipologi berdasarkan atas kebutuhan riil wisatawan sehingga pengelola dalam melakukan pengembangan objek wisata sesuai dengan segmentasi wisatawan (Pitana & Gayatri 53) .

Pada dasarnya sesesorang melakukan perjalanan dimotivasi oleh beberapa hal. Macintosh (1977) dan Murphy (1985) membaginya dalam 4 kelompok besar, sebagai berikut (Pitana & Gayatri 59):

- Physical or physiological motivation (motivasi yang bersifat fisik atau fisiologis) antara lain untuk relaksasi, kesehatan, kenyamanan, berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, bersantai dan sebagainya. - Cultural motivation (motivasi budaya), yaitu keinginan untuk

mengetahui budaya, adat, tradisi, dan kesenian daerah lain. Termasuk tertarik pada objek peninggalan budaya.

- Social motivation (motivasi yang bersifat sosial), melakukan sesuatu karena adanya hubungan yang bersifat sosial, kekerabatan, pelarian dari situasi yang membosankan, dan seterusnya.

- Fantasy motivation (motivasi karena fantasi), yaitu adanya fantasi akan daerah tertentu yang memungkinkan sesesorang lepas dari

(28)

keseharian yang menjemukan, dan ego-enhancement yang memberikan kepuasan psikologis. Disebut juga status dan prestige

motivation.

Menurut Marheison dan Wall (1982) dalam buku Sosiologi Pariwisata, mengatakan bahwa pengambilan keputusan untuk melakukan perjalanan, umumnya para wisatawan akan mengalami 5 fase yang sangat penting, yaitu (Pitana & Gayatri 72-73) :

- Kebutuhan atau keinginan untuk melakukan perjalanan. Tujuan dari perjalanan dirasakan oleh calon wisatawan, yang selanjutnya ditimbang-timbang apakah perjalanan tersebut memang harus dilakukan apa tidak.

- Mencari dan menilai sesuai informasi yang ada mengenai tempat tujuan wisata. Seperti, menghubungi agen perjalanan, mempelajari bahan-bahan promosi seperi (brosur, leaflet, media masa), bertanya dan berdiskusi dengan mereka yang telah melakukan perjalanan tersebut, mengevaluasi ketersediaan dana.

- Kemudian pada pemutusan perjalanan wisata. Keputusan ini melipuuti tujuan wisata yang akan dikunjungi, jenis akomodasi, transportasi, dan aktivitas apa yang akan dilakukan di daerah tujuan wisata tersebut.

- Persiapan perjalan dan pengalaman wisata. Wisatawan melakukan

booking, dengan segala persiapan pribadi, dan akhirnya perjalanan

wisata dilakukan.

- Evaluasi kepuasan perjalanan wisata. Selama perjalanan, tinggal di daerah tujuan wisata. Dan setelah kembali ke negara asal, wisatawan secara sadar maupun tidak sadar, selalu melakukan evaluasi terhadap perjalanan wisatawanya, yang akan mempengaruhi keputusan perjalanan wisata di masa yang akan datang.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan di atas, antara lain sebagai berikut :

(29)

a. Karakteristik wisatawan, baik karakteristik sosial, ekonomi (umur, pendidikan, pendapatan, dan pengalaman sebelumnya), maupun karakteristik perilaku.

b. Kesadaran akan manfaat perjalanan, pengetahuan terhadap destinasi yang akan dikunjungi, citra destinasi.

c. Gambaran perjalanan, yang meliputi jarak, lama tinggal di daerah tujuan wisata, kendala waktu dan biaya. Bayangan akan resiko, dan tingkat kepercayaan terhadap biro perjalanan wisata.

d. Keunggulan daerah tujuan wisata, yang meliputi jenis dan sifat atraksi yang ditawarkan, kualitas layanan, lingkungan fisik dan sosial, situasi politik, aksesbilitas dan perilaku masyarakat lokal terhadap wisatawan . 2.2. Tinjauan Judul Perancangan

Judul perancangan untuk tugas akhir ini adalah perancangan buku mengenai Barong Ket sebagai seni pertunjukan wisata ritual di Bali. Pengambilan judul rancangan tersebut tersusun dari kata perancangan, buku, Barong Ket, seni pertunjukkan, dan wisata ritual.

Perancangan merupakan sesuatu yang bersifat komunikatif dan informatif yang dimana disusun oleh pemberi pesan agar informasi yang ingin disampaikan kepada penerima pesan dapat tersampaikan secara tepat dan efektif yang menurut penulis hal itu dapat dilakukan melalui suatu proses, cara dan perbuatan merancang.

Media yang akan digunakan dalam perancangan ini berupa buku. Dimana buku memiliki definisi kumpulan kertas atau bahan lain yang tersusun menjadi satu yang berisi tulisan dan gambar. Nantinya buku ini akan menjadi informasi yang berisikan mengenai Barong Ket, yang menceritakan nilai-nilai yang terkandung didalam kesenian Barong Ket, baik dari prosesi pembuatan topeng sampai dengan pementasan Barong Ket sebagai seni pertunjukan wisata ritual di Bali.

(30)

2.3. Tinjauan Buku 2.3.1. Sejarah Buku

Pada zaman kuno, tradisi komunikasi masih mengandalkan lisan. Penyampaian informasi, cerita-cerita, nyanyian, doa-doa, maupun syair, disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut. Karenanya, hafalan merupakan ciri yang menandai tradisi ini. Semakin banyak yang dihafal, orang merasa kewalahan alias tidak mampu menghafalkannya lagi. Hingga, terpikirlah untuk menuangkannya dalam tulisan. Maka, lahirlah apa yang disebut sebagai buku kuno. Buku kuno ketika itu, belum berupa tulisan yang tercetak di atas kertas modern seperti sekarang ini, melainkan tulisan-tulisan di atas keping-keping batu (prasasti) atau juga di atas kertas yang terbuat dari daun papyrus.Mesir merupakan bangsa yang pertama mengenal tulisan yang disebut hieroglif. Mereka menuliskannya di batu-batu atau pun di kertas papyrus. Kertas papyrus bertulisan dan berbentuk gulungan ini yang disebut sebagi bentuk awal buku atau buku kuno. Kesulitan menggunakan gulungan papyrus, di kemudian hari mengantarkan perkembangan bentuk buku mengalami perubahan. Perubahan itu selaras dengan fitrah manusia yang menginginkan kemudahan. Dengan akalnya, manusia terus berpikir untuk mengadakan peningkatan dalam peradaban kehidupannya. Maka, pada awal abad pertengahan, Gulungan diganti oleh codex.

Perkembangan selanjutnya, orang-orang Timur Tengah menggunakan kulit domba yang disamak dan dibentangkan. Lembar ini disebut pergamenum yang kemudian disebut perkamen, artinya kertas kulit. Perkamen lebih kuat dan lebih mudah dipotong dan dibuat berlipat-lipat sehingga lebih mudah digunakan.

Di Cina dan Jepang, perubahan bentuk buku gulungan menjadi buku berlipat yang diapit sampul berlangsung lebih cepat dan lebih sederhana. Bentuknya seperti lipatan-lipatan kain korden. Inilah bentuk awal dari buku yang berjilid. Buku-buku kuno itu semuanya ditulis tangan. (”Sejarah” par. 1-5) . 2.3.1.1. Perkembangan Buku

Di era moden sekarang ini perkembangan teknologi semakin canggih. Mesin-mesin offset raksasa yang mampu mencetak ratusan ribu eksemplar buku dalam waktu singkat telah dibuat. Hal itu diikuti pula dengan penemuan mesin

(31)

komputer sehingga memudahkan untuk setting (menyusun huruf) dan layout (tata letak halaman). Diikuti pula penemuan mesin penjilidan, mesin pemotong kertas,

scanner (alat pengkopi gambar, ilustrasi atau teks yang bekerja dengan sinar laser

sehingga dapat diolah melalui komputer), dan juga printer laser (alat pencetak yang menggunakan sumber sinar laser untuk menulis pada kertas yang kemudian ditaburi dengan serbuk tinta).

Semua penemuan menakjubkan itu telah menjadikan buku-buku sekarang ini mudah dicetak dengan sangat cepat, dijilid dengan sangat bagus, serta hasil cetakan dan desain yang sangat bagus pula. Tak mengherankan bila sekarang ini kita dapati berbagai buku terbit silih berganti dengan penampilan yang semakin menarik. Bahkan sampai sekarang ini pun, di Indonesia, kendati sdang diterpa krisis, kondisi ekonomi masih tidak meneru, namun penerbit-penerbit buku masih terus bermunculan. (“Sejarah” par.1-3)

2.3.2. Tinjauan Buku Referensi

Menurut Trimo (1997) definisi buku referensi adalah :

Suatu buku atau sejumlah publikasi kepada siapa orang berkonsultasi untuk mencari fakta-fakta atau informasi tentang latar belakang suatu objek, orang, dan atau peristiwa secara cepat dan mudah. Buku sumber ini bukan untuk dibaca secara menyeluruh, seperti kamus,

ensiklopedi, handbook,direktori,guidebooks, almanak-almanak, peta, buku

biografi, buku indeks dan abstrak, publikasi penelitian dan publikasi pemerintahan. Pada intinya buku teks yang mengandung informasi yang dibatasi oleh tujuan-tujuan yang ingin dicapainya dan biasanya ditulis komprehensif dilengkapi dengan indeks-indeks alfabetis sehingga orang mudah dan cepat mencari data yang dibutuhkannya (Setiawati par. 2) . 2.3.2.1. Karakteristik Buku Referensi

Merupakan daftar subyek tentang berbagai macam bidang yang disusun secara alfabetis, disertai uraian, sejarah, latar belakang masalah, dsb. Untuk menjaga otoritas suatu ensiklopedia dan mengingat perkembangan ilmu

(32)

pengetahuan itu cepat sekali, maka tiap tahun diterbitkan tambahan (suplemen). Contoh : Encyclopedia of Brittanica, Encyclopedia of Religion.

Menurut Kokasih, dari definisi buku referensi dapat kita simpulkan bahwa karakteristik buku referensi secara umum adalah buku yang cangkupannya bersifat komprehensif; disajikan secara pada dan disusun menurut suatu rancangan tertentu untuk mempermudah dan mempercepat penelusuran informasi (“Layanan”, par. 5) .

Berikut merupakan jenis buku referensi, diantaranya : (1) Kamus; (2) Ensiklopedi; (3) Buku Pegangan; (4) Alamanak; (5) Direktori; (6) Biografi; (7) Bibliografi; (8) Indeks dan Abstrak; (9) Sumber Geografi (Setiawati par. 3) . 2.3.2.2. Buku Referensi Esiklopedi

Berdasarkan klasifikasi buku referensi diatas, maka tujuan dan bentuk rancangan buku mengenai Barong Ket sebagai seni pertunjukan wisata ritual di Bali termasuk sebagai buku referensi ensiklopedia. Hal ini berdasarkan atas jenis informasi yang terdapat pada rancangan buku mengenai Barong Ket berdasarkan klasifikasi jenis informasi yang ditulis oleh Trimo Sujono (1997) yakni : segala sesuatu tentang istilah, objek, peristiwa, penemuan yang dibahas secara menyeluruh mulai dari latar belakang, sampai dengan perkembangannya, dimana keseluruhan data tersebut merupakan fakta dan memiliki relevansi satu sama lain yang dapat dipertanggungjawabkan merupakan kriteria dari buku referensi ensiklopedia (Setiawati par.4) .

2.3.3. Tinjauan Kondisi Buku Ensiklopedi Budaya di Indonesia

Di Indonesia, khususnya kota-kota besar, untuk menemukan buku ensiklopedia budaya bukanlah hal yang sulit. Terdapat banyak pilihan baik dari segi jenis dan isi dari buku referensi. Peminatnya pun beragam, datang dari berbagai golongan dan berbagai macam latar belakang tujuan. Kebanyakan saat ini, buku referensi yang tersedia berbentuk teks, namun tak sedikit pula yang telah mengalami perkembangan baik dari segi isi maupun tampilan. Untuk referensi mengenai kebudayaan, saat ini sudah mulai banyak buku yang membahas

(33)

mengenai kebudayaan Indonesia, seperti Batik, Wayang, dan kesenian lainnya (personal coversation with Periplus Bali Galeria, 3 March 2010) .

Saat ini, buku mengenai kebudayaan didominasi oleh kebudayaan Bali. Sebagaian besar bestseller yang ada di beberapa toko buku terkemuka yang ada di Indonesia, adalah buku mengenai Bali. Baik dari segi arsitektural sampai dengan kesenian menjadi topik yang dicari konsumen. Tingginya permintaan akan buku sejenis ini adalah tak lepas dari dikenalnya Bali sebagai tempat tujuan wisata.

Ketertarikan masyarakat dunia akan kebudayaan yang dimiliki Bali, memberikan dampak pada bentuk buku referensi kebudayaan yang ada di Indonesia. Kebanyakan buku referensi yang tersedia di pasaran menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar informasi. Hal ini juga didasari keadaan dimana peminat buku mengenai kebudayaan merupakan para wisatawan mancanegara. Kebanyakan para wisatawan tersebut tertarik akan keunikan yang dimiliki oleh kebudayaan Bali, ataupun mereka membeli buku tersebut untuk dijadikan souvenir selepas mereka melakukan kegiatan wisata (personal

conversation with Periplus Bali Galeria, 4 March 2010).

2.3.3.1. Potensi Buku Ensiklopedi di Indonesia

Berdasarkan survei (wawancara) yang dilakukan, ditemukan bahwa animo wisatawan, khususnya para wisatawan mancangera adalah cukup tinggi, bila menyangkut informasi mengenai kebudayaan yang ada di Indonesia, Bali pada khususnya. Para wisatawan tersebut, memiliki ketertarikan untuk mempelajari lebih dalam mengenai budaya yang mereka saksikan selama menjalani kegiatan wisata mereka di Bali. Selain itu tak jarang para wisatawan tersebut membeli terlebih dahulu untuk mempelajari suatu kebudayaan dari suatu tempat, sebelum melakukan perjalanan wisata. Di lain sisi, banyak para wisatawan menggunakan buku sebagai salah satu souvenir yang akan mereka berikan kepada relasi mereka disana, sehingga mereka bisa dapat membagi pengalaman yang mereka peroleh selama perjalanan wisata tersebut.

Sedangkan untuk para wisatawan lokal, diperoleh kesimpulan bahwa tak sedikit dari mereka yang memiliki motivasi yang sama dengan para wisatawan mancanegara. Namun mereka kadang kala memiliki masalah pada bahasa, karena

(34)

sebagian besar buku yang membahas kebudayaan Indonesia, menggunakan bahasa Inggris.

2.3.3.2. Potensi Pasar Buku Ensiklopedi Budaya menurut 4P

Menurut Renald Kasali, pemasaran mempunyai empat elemen dasar yaitu

product, price, place, dan promotion . Sehingga kita dapat melihat potensi pasar

atas perancangan buku ini berdasarkan 4P tersebut . a. Product (produk)

Belum ada buku yang membahas mengenai Barong Ket secara mendetail dari proses awal pembuatan tapel sampai dengan pementasan Barong Ket. Selama ini, buku yang membahas tentang kesenian Barong Ket hanya sedikit dan berbentuk buku teks sederhana. Selain itu masih belum banyak buku kebudayaan yang menggunakan bilingual bahasa dalam penyampaian informasinya. Sehingga hal ini memberikan nilai lebih pada buku ini.

Saat ini di pasaran, terdapat banyak buku yang membahas mengenai Bali, baik mengenai kebudayaan seperti tarian, topeng, rumah adat, bahasa sehari-hari, hingga dengan panduan wisata kuliner Bali dapat kita temukan pada toko buku terkemuka di Indonesia. Rata-rata buku tersebut menggunakan bahasa Inggris. Kalaupun terdapat buku yang berbahasa Indonesia, hanya sebatas buku panduan wisata. Tidak terlalu banyak buku yang membahas kebudayaan Indonesia, khususnya Bali yang menggunakan bahasa Indonesia. Berikut merupakan beberapa contoh buku yang ada di pasaran :

b. Price (harga)

Selama ini buku yang membahas mengenai kebudayaan Indonesia, khususnya Bali dikategorikan sebagai buku import (personal conversation

with Periplus Bali Galeria, 4 March 2010), sehingga harga dari

buku-buku tersebut menjadi lebih mahal. Sedangkan buku-buku ini nantinya akan ditawarkan pada harga yang lebih ekonomis dibanding buku sejenis.

(35)

c. Distribution (distribusi)

Buku ini nantinya akan ditempatkan pada toko-toko buku terkemuka yang ada di Indonesia. Seperti, Gramedia, Toko Gunung Agung, Periplus & Kinokuniya. Pemilihan toko buku didasarkan atas survei lapangan dan wawancara, dimana toko-toko tersebut merupakan salah satu referensi toko buku para wisatawan dalam mencari buku mengenai kebudayaan.

Umumnya, para penerbit buku ataupun supplier buku import menempatkan buku mereka pada toko buku yang telah biasa dijadikan acuan tempat untuk berbelanja buku import. Hal ini disesuaikan dengan kebiasaan target market.

d. Promotion (promosi)

Dari obeservasi lapangan, ditemukan bahwa untuk beberapa toko seperti Periplus, Kinokuniya, jarang mengadakan promosi yang berhubungan dengan pemberian diskon ataupun bentuk promo lainnya. Bentuk promo hanya pada sebatas anggota member.

2.4. Tinjauan Aspek Kultural

Dalam setiap kegiatan beragama, tiap umat memiliki kepercayaan dan keyakinannya dalam menjalankan ajaran-ajaran yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, maupun dengan alam hingga hubungan manusia dengan Tuhan. Begitu pula dengan agama Hindu, yang memberikan kebebasan pada umatnya untuk menghayati keyakinannya. Pada dasarnya perbedaan tersebut tidaklah menjadi masalah, bila tidak mengakibatkan pengaburan makna dalam pelaksanaanya. Hasilnya, sifat agama Hindu yang luwes dan fleksibel tersebut pada akhirnya melahirkan kreatifitas dalam umatnya dalam meyakini keyakinan mereka. Tidaklah mengherankan bila umat Hindu yang (khususnya) berkembang di Bali kaya dengan kreasi yang bermuatan religius, etika dan estetika tinggi. Keseluruhan kreasi tersebut tentunya berkembang subur karena akar budaya yang tumbuh dijiwai oleh nilai-nilai agama (Segara, 2-4) .

Salah satu bentuk kreatifitas dari proses penghayatan keyakinan umat Hindu dalam menjalani keyakinannya adalah Barong. Barong pada dasarnya

(36)

merupakan sebuah seni pertunjukkan yang mengandung nilai yang kompleks, karena mengandung beberapa aspek didalamnya. Baik dari aspek religius, magis hingga tradisi. Dimana tiap aspek tersebut memiliki fungsi terkait satu sama lain. 2.5. Tinjauan Aspek Kehidupan

Bila ditinjau dari aspek kesenian Barong Ket memiliki fungsi lebih dari sekedar seni pertunjukan bagi masyarakat Bali. Kesenian ini memiliki nilai lebih dari sekedar tarian, melainkan sebuah wadah bagi mereka untuk bersosialisasi dengan individu lainnya, media pembelajaran dan penyampaian ajaran agama, sehingga mereka dapat selalu mengingat ajaran tentang nilai-nilai kehidupan.

Dalam kesenian Barong Ket pertunjukan tersebut selalu diselipi oleh keadaan yang terjadi disekitar kita, apa yang sedang berlaku dalam masyarakat, permasalah tersebut dijadikan salah satu bahan percakapan kepada audience dan kemudian dihubungkan dengan nilai dasar kehidupan. Bahwa dimana dalam menjalani kehidupan kita harus bersikap seimbang. Tidak akan ada habisnya bila kita memaksakan sesuatu secara berlebihan, karena hidup adalah proses. Dan sebagaimana kerasnya kita berusaha untuk mencapai hasil yang baik, pasti akan ada sesuatu yang buruk dalam usaha tersebut. Yang harus kita sadari bahwa itu adalah keseimbangan, kita lalui yang buruk tersebut dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menang.

Gambar

Gambar 2.1. Barong Ket dalam salah satu adegan pertunjukan  Sumber : Dokumentasi Pribadi
Gambar 2.2. Adegan pembukaan Barong Ket
Gambar 2.3. Adegan Patih dan Sadewa
Gambar 2.4. Adegan Tari Keris
+3

Referensi

Dokumen terkait

Setelah dilakukan reduksi data dan penyajian data yang peneliti lakukan kemudian peneliti menyimpulkan dari hasil temuan data analisis tentang perekrutan karyawan bagian

atas segala nikmat cahaya ilmu pengetahuan, kemudahan serta petunjuk yang telah diberikan sehingga dapat terselesaikan dengan baik penulisan tesis dengan Pengujian Keseragaman

EFEKTIFITAS FLASH CARD DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL HURUF PADA SISWA TUNARUNGU KELAS TK-A2 DI SLB NEGERI CICENDO KOTA BANDUNG.. Universitas Pendidikan Indonesia |

Laporan Tugas Akhir ini mengkaji tentang masalah potensi wisata yang terdapat di Pasar Jumat Karanganyar, strategi pengembangan Pasar Jumat Karanganyar, dan

dalam penelitian ini yaitu: (1) lembar validasi perangkat pembelajaran untuk mengukur validitas konstruks dari pakar; (2) lembar pengamatan keterlaksanaan perangkat

Untuk mengukur berbagai keberhasilan kinerja pemerintah provinsi Riau Priode 2008- 2013 yang disampaikan dalam LKPj-AMJ tersebut, tentu dilihat dari indicator keberhasil yang

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam kolom asit it Garis" surat kabar harian Singgalang Padang.. Masalah

Spektrofotometri yang digunakan tepatnya adalah spektrofotometri cahaya tampak, karena logam besi mempunyai panjang gelombang lebih dari 400nm, sehingga jika menggunakan