www.pa‐jakartapusat.com
2009
Halaman 1 dari 6
LEMBAGA EKONOMI ISLAM,
PELUANG DAN TANTANGAN
MOHAMMAD NOOR
Calon Hakim
Staf Kepaniteraan Pengadilan Agama Jakarta Pusat
Perkembangan lembaga-lembaga ekonomi Islam semakin semarak di Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir. Dimulai dari perbankan syari’ah, disusul lembaga asuransi syari’ah, reksadana syari’ah, dan pegadaian syari’ah. Kondisi ini didukung dengan perkembangan
political will dari pemerintah dan otoritas terkait yang dari waktu ke waktu semakin membuka
peluang untuk memposisikan lembaga ekonomi Islam tersebut sejajar dengan lembaga-lembaga ekonomi yang sudah ada.
Untuk kasus di Indonesia, fenomena kelahiran lembaga-lembaga keuangan syari’ah ini dapat ditinjau dari dua aspek pokok. Pertama, pendekatan pragmatis (pragmatical approach), yang berusaha menghubungkan antara kemestian ummat Islam untuk melaksanakan ajaran-ajaran Islam secara totalitas, termasuk dalam bidang perekonomian (mu’amalah maliyah). Ini paling tidak disebabkan oleh suatu kenyataan bahwa masyarakat Muslim di Indonesia merupakan masyarakat Muslim terbesar di seluruh dunia.
Menurut Monzer Kahf, setidak-tidaknya ada tiga asumsi yang melandasi perlunya lembaga-lembaga ekonomi syari’ah bagi umat Islam, termasuk di Indonesia. Pertama, tidaklah mungkin untuk mencapai suatu masyarakat Islam (Islamic society) tanpa adanya upaya secara gradual untuk mengimplementasikan pandangan-pandangan dan cita-cita Islam. Asumsinya,
www.pa‐jakartapusat.com
2009
Halaman 2 dari 6 implementasi bagian-bagian tersebut dapat membawa masyarakat lebih dekat kepada pencapaian tersebut. Kedua, keberadaan lembaga-lembaga ekonomi tersebut dapat menyelesaikan masalah ummat Islam secara individual yang menghindari transaksi berbasis bunga. Dan ketiga, lembaga-lembaga keuangan syari’ah sangat potensial untuk mencapai keberhasilan dan popularitas, karena mereka tidak ingin untuk melanggar pelarangan Islam terhadap bunga.
Kedua, pendekatan ekonomis (economical approach), yang berusaha untuk melihat
bagaimana keunggulan komparatif (comparative advantage) dan keunggulan kompetitif (competitive advantage) lembaga keuangan syari’ah tersebut dibanding lembaga-lembaga keuangan konvensional yang sudah terlebih dahulu berkembang di Indonesia. Pendekatan kedua ini, dalam beberapa hal, banyak berangkat dari realitas perekonomian nasional yang terpuruk akibat krisis multidimensional yang melanda bangsa Indonesia semenjak tahun 1997 yang lalu. Salah satu gagasan yang lahir dalam upaya memulihkan kembali kegiatan perekonomian (economic recovery), adalah diperlukannya institusi-institusi ekonomi yang memiliki daya
survival yang tinggi terhadap krisis, dan tidak membawa bangsa ini ke jurang yang sama untuk
kedua kalinya. Dan ekonomi Islam (dengan perangkat-perangkat institusionalnya) banyak diajukan sebagai alternatif.
Alternatif ini sesungguhnya tidak berlebihan, karena pada kenyataannya perbankan syari’ah, misalnya, mampu menunjukkan ketahanan yang lebih baik terhadap krisis dibandingkan perbankan konvensional, sebagaimana dilansir harian The Jakarta Post, yang kemudian dikutip oleh Mervyn K. Lewis dan Latifa M. Algaoud dalam buku mereka, Islamic
Banking.
Sementara Bank Indonesia dalam salah satu publikasinya, Cetak Biru Pengembangan
Perbankan Syari’ah di Indonesia menyebutkan bahwa FDR (Financing to Deposit Ratio)
perbankan syari’ah yang merupakan indikator besaran penyaluran dana kepada pihak ketiga menunjukkan trend yang lebih baik dari perbankan konvensional. Bahkan beberapa waktu terakhir, Bank Indonesia sering melansir bahwa return tabungan pada perbankan syari’ah selama beberapa waktu menunjukkan indikator yang lebih baik pula.
Dengan demikian, secara fungsional dalam perspektif internal lembaga ekonomi Islam, pendekatan kedua ini terkait dengan bagaimana kemampuan lembaga-lembaga ekonomi Islam menciptakan basis keunggulan dalam meraih pangsa pasar yang lebih besar. Diakui atau tidak, potensi pasar lembaga ekonomi tidak selalu menggunakan pendekatan emosional (emotional
www.pa‐jakartapusat.com
2009
Halaman 3 dari 6
approach), sepert aliansi keagamaan sebagai dasar preferensi, tetapi justeru yang lebih dominan
adalah mereka yang menggunakan pendekatan rasional (rational approach), yang mengandaikan kepercayaan (trust) secara ekonomis.
Terkait dengan asumsi-asumsi di atas, produk-produk lembaga keuangan syari’ah, paling tidak dihadapkan pada dua persoalan penting. Pertama, bagaimana agar produk-produknya dapat memenuhi syarat-syarat atau kaidah-kaidah ke-syari’ah-an, sehingga layak dan pantas disebut berbasis syari’ah (shari’ah based). Kedua, bagaimana juga agar produk-produknya memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif dibanding poduk-produk konvensional, sehingga mendorong pangsa pasar untuk memilihnya sebagai preferensi, khususnya mereka yang berfikir lebih dari sekedar perlunya suatu produk berbasis syari’ah.
Menurut survey dari Karim Business Consulting (KBC), potensi pasar asuransi syari’ah di Indonesia, setidak-tidaknya dapat digolongkan menjadi tiga kelompok potensial. Pertama, mereka yang menghendaki agar transaksi asuransinya benar-benar memiliki orientasi syari’ah (Syari’ah loyalist). Jumlahnya tidak terlalu besar, mengingat tingkat kesadaran terhadap produk-produk asuransi bernilai syari’ah masih belum signifikan. Kedua, mereka yang potensial untuk melakukan perpindahan (switching) dari satu model asuransi ke model lainnya (floating mass). Mereka ini lebih menginginkan profit dan benefit ketimbang nilai syari’ahnya. Jumlahnya sangat dominan dan umumnya berasal dari kelas menengah. Ketiga, mereka yang selama ini setia kepada suatu model asuransi konvensional dan sukar untuk berpindah ke model lain, karena sudah merasa comfort dan percaya. Satu-satunya persyaratan mereka untuk melakukan perpindahan (switching) adalah apabila kualitas model asuransi tersebut sama atau lebih dari model yang selama ini mereka preferensikan.
Fenomena yang sama sesungguhnya terjadi pada pasar perbankan syari’ah dan tidak tertutup kemungkinan terjadi pada lembaga-lembaga keuangan Islam lainnya. Persaingan antar bank Syari’ah dan bank konvensional tidak lepas dari segmentasi yang di pasar perbankan itu sendiri yang dapat dibagi menjadi 3 (tiga) segmen, yaitu segmen konventional, segmen floating dan segmen Syari’ah loyalist. Segmen ini berlaku baik untuk pasar pembiayaan dan pasar pendanaan. Dari segi pasar pembiayaan maka perbedaan segmen ini terletak pada pandangan terhadap biaya yang harus dibayarkan oleh nasabah suatu bank (pasar pembiayaan), atau penghasilan yang diterima (pasar pendanaan). Segmen konventional memilih bunga, karena bunga dianggap mencerminkan cost yang menguntungkan dari segi pembiayaan atau return yang
www.pa‐jakartapusat.com
2009
Halaman 4 dari 6 menguntungkan dari segi pendanaan. Sedangkan segmen Syari’ah Loyalist akan memilih bank
Syari’ah walaupun selisih rate bank Syari’ah lebih besar 1-2% di atas bunga bank konventional
atau lembaga keuangan bukan bank (Non Bank Financial Institution) dari segi pembiayaan, maupun lebih rendah dari segi pedanaan.
Sebaliknya segmen floating mass hanya akan cenderung memilih biaya yang paling rendah atau return yang paling tinggi. Pilihan terhadap bank syari’ah akan dilakukan apabila selisih rate bank syari’ah lebih kecil atau lebih besar 2-3% dari bank konvensional atau lembaga keuangan non bank. Dari segi market size maka segmen yang terbesar justru ada pada segmen
floating mass. Sebaliknya segmen terkecil ada pada segmen syari’ah loyalist. Di samping market size dari segmen floating mass yang sangat besar, segmen ini mencerminkan suatu segmen yang
memiliki perilaku yang dapat bergerak memilih (switching) produk-produk bank konvensional atau memilih produk-produk bank syari’ah
Ini berarti, pangsa pasar potensial lembaga-lembaga ekonomi Islam justeru banyak terletak pada mereka yang sebenarnya tidak terlalu mementingkan nilai ke-syari’ah-an. Barangkali atas dasar pertimbangan inilah perusahaan-perusahaan, baik asuransi maupun perbankan berlomba-lomba untuk mengkreasikan produk-produk dan layanan mereka untuk merebut pangsa pasar tersebut.
Pertanyaannya kemudian, mungkinkah untuk melakukan rekayasa kontruktif yang diarahkan untuk memperlebar besaran pangsa pasar di kalangan syari’ah loyalist yang diharapkan lebih menentukan preferensi pada lembaga ekonomi Islam ? Bukankah mayoritas bangsa kita terdiri atas masyarakat Muslim ?
Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan lembaga ekonomi Islam, seperti perbankan, asuransi, reksadana, bahkan pegadaian merupakan sesuatu yang baru dan pada tataran teknis tidak ada dalam khazanah Islam klasik, seperti kitab-kitab fiqh klasik. Penelitian tentang Bank
Syari’ah, Potensi, Preferensi dan Perilaku Masyarakat yang dilakukan Bank Indonesia di
beberapa wilayah di Indonesia, paling tidak dapat dijadikan sebagai salah satu tolok ukur bahwa masyarakat kita belum sepenuhnya reseptif terhadap sesuatu yang baru, sekalipun dengan label atau jargon Islam. Untuk itu, kita membutuhkan sebuah pendekatan komunikasi yang memungkinkan masyarakat dapat memahami lebih jauh akan hal ihwal lembaga ekonomi Islam tersebut. Patut disambut gembira dan diberikan apresiasi terhadap upaya-upaya yang dilakukan oleh Bank Syari’ah Mandiri untuk membina hubungan yang dialogis antara para ulama atau
www.pa‐jakartapusat.com
2009
Halaman 5 dari 6 tokoh agama dengan para praktisi perbankan syari’ah dalam rangka saling memberikan pemahaman mengenai ekonomi Islam dan perbankan syari’ah. Apresiasi yang sama juga patut diberikan kepada Bank Indonesia yang dalam salah satu publikasinya Cetak Biru Pengembangan
Perbankan Syari’ah di Indonesia, yang telah menggariskan langkah-langkah strategis bagi
pembudayaan perbankan syari’ah di tengah-tengah masyarakat yang berarti pula upaya memperbesar market share lembaga ekonomi Islam tersebut. Tampaknya lembaga-lembaga ekonomi Islam lainnya perlu mengikuti jejak langkah positif tersebut ke depan. Dengan begitu, paling tidak, dapat diketahui perkembangan resepsi masyarakat dari waktu ke waktu terhadap lembaga ekonomi Islam.
Di samping itu, harus juga disadari bahwa lembaga-lembaga ekonomi Islam, seperti perbankan, reksadana, asuransi, bahkan pegadaian masih merupakan “milik” mereka yang memiliki kelebihan secara finansial. Sementara di sisi lain, kita tidak bisa menutup mata bahwa sebagian besar masyarakat kita masih mengalami kesulitan-kesulitan secara finansial untuk berinteraksi dengan lembaga-lembaga di atas. Bahkan untuk menjadi pengguna akhir (final user) pun untuk sebagian masih belum memungkinkan. Katakanlah untuk menjadi nasabah pemakai dana perbankan. Sektor usaha yang digeluti oleh masyarakat kita banyak yang masih tergolong
unbankable (tidak layak secara perbankan), karena belum memenuhi persyaratan-persyaratan
yang ditetapkan, seperti prinsip 5 C (Capital, Capacity, Character, Collateral, dan Condition). Untuk merubah status usaha-usaha yang dikelola oleh kebanyakan masyarakat kita dari
unbankable menjadi bankable (layak secara perbankan) sebenarnya masih ada lembaga ekonomi
Islam lainnya yang dapat dikembangkan, misalnya lembaga zakat. Sebagaimana diketahui zakat merupakan built in system dalam kerangka redistribusi dan realokasi sumber daya ekonomi produktif. Penyaluran zakat kepada sektor-sektor produktif masyarakat, apabila dikelola secara profesional akan dapat mengembangkan sektor-sektor produktif tersebut ke tingkat yang lebih baik. Untuk itu, pemikiran-pemikiran strategis dalam rangka pengembangan zakat perlu dikembangkan, termasuk perlunya membuat semacam cetak biru (blue print) orientasi, arah dan strategi pengembangan zakat.
Upaya lainnya yang perlu dikembangkan untuk mendekati kalangan syari’ah loyalist yang unbankable tersebut adalah dengan mendorong lahirnya kerjasama strategis antara lembaga-lembaga seperti perbankan dengan lembaga-lembaga sejenis yang lebih mikro, seperti Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah (BPRS) atau yang lebih mikro, seperti BMT (Baitul Mal Wat
www.pa‐jakartapusat.com
2009
Halaman 6 dari 6 Tamwil) yang kini tumbuh bak jamur di musim hujan dengan kinerja yang masih pas-pasan. Adanya kerja sama strategis ini, paling tidak akan memiliki arti penting bagi tiga hal. Pertama, mendekatkan lembaga ekonomi Islam yang berskala besar dengan yang berskala kecil yang berarti pula lebih mendekat dengan masyarakat kebanyakan. Kedua, mengupayakan adanya
transfer of technical know how secara tidak langsung bagi lembaga ekonomi Islam yang berskala
kecil, sehingga dapat memperbaiki kinerjanya di kemudian hari. Ketiga, memperbesar kemungkinan keterlibatan masyarakat yang syari’ah loyalist untuk berpartisipasi dalam lembaga ekonomi yang lebih besar di kemudian hari.
Namun demikian, upaya-upaya ini juga tidak harus mengalahkan langkah-langkah penting bagi pengembangan lembaga ekonomi Islam berskala besar untuk meraih pangsa pasar yang lebih besar pada kategori floating mass, bahkan conventional loyalist. Secara simultan juga tetap perlu untuk dikembangkan strategi-strategi yang berorintasi kepuasan konsumen (consumer
satisfaction oriented), seperti peningkatan mutu, pelayanan, aksesibilitas, dan lain-lain yang akan
semakin mempermudah konsumen untuk berinteraksi dengan lembaga ekonomi Islam dengan preferensi yang rasional. Semoga.