• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kolom Edisi 040, Desember P r o j e c t ISLAM BAGHDAD. i t a i g k a a n. Luthfi Assyaukanie

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kolom Edisi 040, Desember P r o j e c t ISLAM BAGHDAD. i t a i g k a a n. Luthfi Assyaukanie"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

k a a n

D

ig

it

a

l

P roje

ct

ISLAM BAGHDAD

(2)

P

er

p us

t a

D

e

m

oc

ra c

y

Islam Baghdad

K

ekhalifahan Abbasiyah adalah

model era keemasan Islam. Baghdad yang dijadikan ibu kota kerajaan ini, merepresentasikan kota modern seperti New York, Paris, atau London di dalam

peradaban Barat modern. Kita tak perlu melebih-lebihkan kenyataan ini. Cukuplah kesaksian yang

diberikan oleh Marshal Hodgson dalam karya monumentalnya, The Venture of Islam, yang mengatakan bahwa Baghdad merupakan bintang cemerlang di semua gugus kota yang ada di

(3)

k a a n

D

ig

it

a

l

P roje

ct

planet bumi saat itu.

Islam Baghdad adalah Islam peradaban, Islam yang mencapai puncak keemasannya di mana berbagai aspek kehidupan kaum Muslim mengalami artikulasi. Salah satu aspek yang kerap dijadikan tolok ukur kemegahan Baghdad dan sekaligus sebagai standar kesuksesan peradaban Islam adalah pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologinya. Seperti direkam dalam berbagai buku sejarah, Islam Baghdad adalah Islam yang gemilang yang menandakan pencapaian agama yang dibawa Nabi Muhammad ini. Tanpa Baghdad, agama Islam tetaplah menjadi sebuah agama padang pasir yang tak banyak menarik perhatian orang.

Di antara arsitek kota Baghdad yang sangat berjasa dalam

menyusun batu-bata peradaban Islam adalah Harun Al-Rasyid

(4)

P

er

p us

t a

D

e

m

oc

ra c

y

dan Al-Ma’mun, dua khalifah paling masyhur dalam sejarah Abbasiyah. Rasyid dan Al-Ma’mun dikenal sebagai khalifah-khalifah yang arif dan bijak. Pada era kekuasaan mereka, peradaban Islam mengalami kemajuan pesat dalam berbagai bidang keilmuan, kesenian, dan kebudayaan.

Keduanya dikenal sangat

mendukung ilmu pengetahuan. Keduanya mendirikan lembaga-lembaga ilmiah dan mengundang para sarjana Muslim dan non-Muslim untuk melakukan penelitian dan penterjemahan buku-buku asing. Nama Al-Ma’mun sangat erat dikaitkan dengan Darul Hikmah, pusat intelektualitas Islam. Pada

zamannyalah, karya-karya penting filsafat dan sains dari Yunani, Persia, dan India diterjemahkan secara luas ke dalam bahasa Arab. Al-Rasyid dan Al-Ma’mun adalah dua tipikal pemimpin Muslim

(5)

k a a n

D

ig

it

a

l

P roje

ct

yang berusaha membangun Islam sebagai peradaban dunia

Bagdad di masa kejayaannya

adalah kota model bagi peradaban dunia saat itu. Simbol-simbol kemegahan seperti perpustakaan, klinik kesehatan, laboratorium sains, dan berbagai fasilitas

publik, menjadi tolok ukur sebuah kota maju di abad pertengahan. Kota-kota lain seperti Khurasan, Isfahan, dan Kairo, berusaha meniru dan membangun simbol-simbol tersebut.

Kota lain yang berusaha mati-matian untuk menyaingi

Baghdad—dalalam semua hal— adalah Cordova, Granada, dan Sevilla, tiga kota penting di

Spanyol yang dikuasai oleh puak Umayah. Setelah digulingkan Abbasiyah, sebagian anggota

keluarga Umayah lari ke Spanyol— yang telah takluk di bawah

(6)

P

er

p us

t a

D

e

m

oc

ra c

y

dinasti Umayah di sana.

Sama seperti Baghdad—dan dalam beberapa hal mengunggulinya— ketiga kota itu merupakan

mercusuar peradaban Islam di masa silam. Cordova sebagai ibu kota adalah penjelmaan Baghdad di belahan Barat kekaisaran Islam. “Islam Baghdad” dan “Islam

Cordova” adalah dua model peradaban yang telah menjadi fakta obyektif. Kedua model Islam ini adalah penjelmaan ajaran

Islam dalam maknanya yang paling luas. Pencapaiannya, tentu saja jangan dibandingkan dengan fantasi-fantasi utopia para penulis Muslim revivalis yang cenderung menolak dan bahkan mengecam kedua model Islam ini.

Kalangan Muslim revivalis sebenarnya mengagumi

pencapaian Islam, tapi tak mau menerima proses kesejarahan yang

(7)

k a a n

D

ig

it

a

l

P roje

ct

membentuknya. Bagi mereka, Islam yang ideal adalah Islam yang dijalankan secara suci, tanpa dosa, dan bersifat ilahi. Tentu saja, Islam jenis ini hanya ada dalam literatur utopisme Islam yang sejak abad ke-20 diproduksi besar-besaran oleh para penulis revivalis semacam Abul A’la Al-Maududi, Sayyid Qutb, Sa’id Hawwa, dan Muhammad Qutb. Di dunia nyata, bahkan Nabi pun tak luput dari kesalahan dan dosa.

Menganggap Islam Baghdad atau Islam Cordova sebagai sebuah Islam yang lebih progresif, lebih lengkap, dan secara inheren lebih ideal, bukan berarti menafikan kekurangan-kekurangannya. Bahwa kehidupan di dunia ini tidak sempurna adalah

sebuah altruisme yang tak perlu ditekankan berlebihan, khususnya ketika kita berbicara tentang

(8)

P

er

p us

t a

D

e

m

oc

ra c

y

Kita tentu tak bisa mengukur “humanisme” Baghdad dengan standar “humanisme” Barat modern. Bahkan standar

humanisme Barat modern sendiri tak akan bisa bekerja untuk masa-masa silam dalam peradaban yang sama, maksudnya masa kekaisaran Romawi dan kejayaan Yunani. Islam dan humanisme Baghdad akan mempunyai arti sebagai sebuah model kemajuan jika kita meletakkannya pada konteks zamannya, sebagaimana orang-orang Barat meletakkan kejeniusan Socrates dan

Ariestoteles pada masanya.

Dari banyak sisi, Islam Baghdad lebih unggul dari Islam-Islam yang pernah dipraktikkan sebelumnya, termasuk Islam Madinah. Dengan meminjam istilah Alqur’an, Islam Baghdad lebih kaffah atau lebih holistik.Kalaulah Islam sering dianggap sebagai agama yang tak memisah-misahkan urusan dunia

(9)

k a a n

D

ig

it

a

l

P roje

ct

dan akherat, maka Baghdadlah model yang pas untuk ini.

Pada era kejayaan Baghdadlah hidup manusia-manusia “suci” semacam Rabi’ah Al-Adawiyah, al-Hallaj, Al-Bustami, dan Ibn Arabi (yang terakhir ini lahir di Cordova dan hijrah ke tanah Abbasiyah). Di era itu pulalah para “heretis” jenius Al-Farabi, Al-Razi, dan Ibn Sina, hidup dan mengekspresikan pemikiran-pemikiran filosofis mereka.

Para pemikir dan penulis

keagamaan (ulama dan fuqaha) juga hidup dan menelurkan karya-karya jenius mereka pada masa ini. Di atas itu semua, Baghdad juga menelurkan erotisme “kisah seribu satu malam,” harem, dan pabrik-pabrik anggur. Meminjam istilah Ulil Abshar-Abdalla, Islam seperti diperlihatkan Baghdad dapat menampung “energi kesalihan” dan “energi kemaksiatan”

(10)

P

er

p us

t a

D

e

m

oc

ra c

y

sekaligus.

Baghdad adalah “kota manusia” dan bukan “kota Tuhan.” Jika Islam diturunkan oleh Allah ke muka bumi ini untuk dipeluk dan dijalani manusia, maka sebuah “kota manusia” (dengan segala kekurangan dan kelebihannya) yang paling layak dibangun untuk agama ini, bukan kota Tuhan. “Kota Tuhan” adalah sebuah kota yang penuh dengan simbol-simbol kesucian, penuh dengan larangan-larangan.

Sebuah agama yang mengklaim dapat menaungi dan merahmati semua jenis manusia (rahmatan lil ‘alamin), sudah selayaknya memiliki fondasi teologis yang dapat mendukung itu. Basis teologis ini, selanjutnya, juga harus bisa diterapkan dan bisa bekerja pada tataran empiris. Sebuah teologi yang sangat

(11)

k a a n

D

ig

it

a

l

P roje

ct

kertas tak ada gunanya jika ia berbenturan dengan persoalan-persoalan nyata umat manusia ketika dijalankan.

Peradaban Islam di Baghdad dibangun berdasarkan basis teologi yang intinya diambil dari pesan-pesan universal Alquran. Alquran adalah basis teologi dan moral paling orisinal dan paling otoritatif dalam Islam. Yang lain hanyalah penafsiran terhadap kitab suci ini. Salah satu keuntungan Baghdad adalah bahwa pada masa-masa awal dinasti ini, kodifikasi teologi dan hukum Islam belum diciptakan, atau paling tidak belum tersebar luas.

Semangat universalitas dan fleksibilitas Alquranlah yang memungkinkan orang-orang seperti Hallaj, Abu Bakar Al-Razi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd, muncul, dengan tetap mengaku

(12)

P

er

p us

t a

D

e

m

oc

ra c

y

© 2011

Kolom ini diterbitkan oleh Democracy Project,

Yayasan Abad Demokrasi. Untuk berlangganan, kunjungi www.abad-demokrasi.com Kode kolom: 040K-LAS008

Sumber gambar: www. constructionweekonline.com

Muslim, menyembah Allah, dan memberikan sumbangan pengetahuan yang berharga buat kemanusiaan.[]

Referensi

Dokumen terkait

Di Indoesia maupun di negara asalnya punk dikategorikan sebagai bentuk wujud sebuah subkultur yang dimana subkultur memiliki nilai-nilai esensi yang

7 bahaya kesehatan lingkungan yang teridentifikasi adalah perilaku rumah tangga yaitu perilaku tidak sehat, yang mencakup perilaku tidak cuci tangan pakai sabun (CTPS), perilaku

Puji syukur kehadirat Allah Swt, karena atas rahmat dan ridho-Nya maka penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Teknik Relaksasi Autogenik terhadap

Sistem vertiminaponik adalah penggabungan budidaya hortikultura dengan budidaya ikan dalam satu system pertanian hidroponik.

Sesuai dengan tugas dan fungsinya sebagai instansi yang melaksanakan perumusan, koordinasi, dan pelaksanaan kebijakan serta penerapan standar teknis di bidang

Jayapura-Elelim- Wamena (61,8 km) Waropko-Oksibil (41,3 km) Dekai-Oksibil (3 km) Kenyam-Dekai (167 km) Wamena-Mulia-Ilaga-Enarotali (127,2 km) Wagete-Timika (7,1

Renstra ini akan menjadi pedoman dan arahan bagi seluruh civitas akademika di Poltekkes Kemenkes Kupang dalam penyelenggraan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam

Seorang wanita, usia 50 tahun, datang ke puskesmas dengan keluhan kaki tidak dapat berjalan sejak 3 minggu yang lalu. Riwayat sebelumnya pasien sering keputihan berbau