Laporan
Laporan Beda Beda Tinggi Tinggi Memanjang Memanjang Page Page 11
BAB I
BAB I
PENGUKURAN MEMANJANG
PENGUKURAN MEMANJANG
Cara Pengukuran Cara Pengukuran Sipat datar (Sipat datar (levellinglevelling) adalah suatu operasi untuk ) adalah suatu operasi untuk menentukan beda tinggi antara dua titik di permukaan tanah. menentukan beda tinggi antara dua titik di permukaan tanah. Sebuah bidang datar acuan, atau datum, ditetapkan dan elevasi Sebuah bidang datar acuan, atau datum, ditetapkan dan elevasi diukur terhadap bidang tersebut. Beda elevasi yang ditentukan diukur terhadap bidang tersebut. Beda elevasi yang ditentukan dikurangkan dari atau ditambah dengan nilai yang ditetapkan dikurangkan dari atau ditambah dengan nilai yang ditetapkan tersebut, dan hasilnya adalah elevasi titik-titik yang di ukur tersebut, dan hasilnya adalah elevasi titik-titik yang di ukur tadi.
tadi.
Pengukuran sipat datar memanjang digunakan apabila Pengukuran sipat datar memanjang digunakan apabila jarak
jarak antara antara dua dua stasiun stasiun yang yang akan akan ditentukan ditentukan beda beda tingginyatingginya sangat berjauhan. Sedang pengukuran sipat datar memanjang sangat berjauhan. Sedang pengukuran sipat datar memanjang double stand
double stand merupakan salah satu jenis dari sekian banyak merupakan salah satu jenis dari sekian banyak macam pengukuran sipat datar memanjang. Pengukuran sipat macam pengukuran sipat datar memanjang. Pengukuran sipat datar memanjang
datar memanjang doubledouble stand stand dilakukan untuk mendapatkandilakukan untuk mendapatkan hasil yang lebih teliti, karena dengan mengadakan dua kali hasil yang lebih teliti, karena dengan mengadakan dua kali pengukuran.
pengukuran.
Pengukuran sipat datar profil memanjang adalah Pengukuran sipat datar profil memanjang adalah pengukuran yang dilakukan untuk menentukan tinggi pengukuran yang dilakukan untuk menentukan tinggi rendahnya tanah atau untuk mendapatkan bentuk permukaan rendahnya tanah atau untuk mendapatkan bentuk permukaan titik sepanjang garis tertentu. Kegunaan dari pengukuran ini titik sepanjang garis tertentu. Kegunaan dari pengukuran ini adalah sebagai dasar dalam menentukan
adalah sebagai dasar dalam menentukan volumevolume galian dangalian dan timbunan dalam perencanaan pembuatan jalan-jalan yang timbunan dalam perencanaan pembuatan jalan-jalan yang berada
berada ditambang ditambang dsb. dsb. PengukuraPengukuran n sipat sipat datar datar profilprofil memanjang sendiri digunakan untuk menentukan tinggi memanjang sendiri digunakan untuk menentukan tinggi rendahnya tanah sepanjang garis memanjang yang tegak lurus rendahnya tanah sepanjang garis memanjang yang tegak lurus dengan garis sumbu proyek.
dengan garis sumbu proyek.
Operasi sifat datar membutuhkan kerja sama dari dua Operasi sifat datar membutuhkan kerja sama dari dua petugas, yaitu pemegang alat dan pemegang rambu ukur pada petugas, yaitu pemegang alat dan pemegang rambu ukur pada saat pembacaan demi dicapainya hasil yang konsisten. saat pembacaan demi dicapainya hasil yang konsisten. Ketepatan survey tergantung dari ketelitian membuat garis Ketepatan survey tergantung dari ketelitian membuat garis bidik
bidik horizontalhorizontal, kemampuan pemegang rambu ukur dalam, kemampuan pemegang rambu ukur dalam memegang rambu ukur secara
memegang rambu ukur secara verticalvertical, dan presisi rambu ukur, dan presisi rambu ukur yang dibaca. Ketepatan alat yang memakai nivo
juga harus memperhatikan penyetelan tabung nivo dan presisi sejajar suatu nivo dan garis bidik. Tidak boleh terjadi penurunan alat di antara waktu bidik belakang dan bidik muka pada stasiun alat. (Wirshing, 1995)
Laporan Beda Tinggi Memanjang Page 3
BAB II
TEORI
Pengukuran beda tinggi dilakukan dengan menggunakan alat sipat datar (waterpass). Alat didirikan pada suatu titik yang diarahkan pada dua buah rambu yang berdiri vertical. Maka beda tinggi dapat dicari dengan menggunakan pengurangan antara bacaan muka dan bacaan belakang.
Gambar Cara Pengukuran
Rumus Beda Tinggi Antara 2 Titik : BT = BTB
–
BTAKeterangan :
BT : Benang Tengah BTA : Benang Tengah A BTB : Benang Tengah B
Sebelum mendapatkan bedatinggi antara dua titik, diperlukan dulu pembacaan benang tengah titik tersebut, dengan menggunakan rumus : BT = (BA + BB) / 2 Keterangan : BT : Benang Tengah BA : Benang Atas BB : Benang Bawah
Untuk mencari jarak optis antara dua titik dapat digunakan rumus sebagai berikut
J = (BA
–
BB) x 100 Keterangan :J = Jarak Datar Optis BA = Benang atas
BB = Benang bawah 100 = Konstanta pesawat
Untuk mencari jarak antara Pesawat dengan rambu/titik A, gunakanlah rumus:
dA=(BA A
–
BB A)x100 Keterangan :dA = Jarak Pesawat ke Titik A BA A = Benang Atas Titik A BB A = Benang Bawah Titik A 100 = Konstanta Pesawat
Laporan Beda Tinggi Memanjang Page 5
Jarak dari Pesawat ke Titik/Rambu B dapat juga dihitung dengan rumus :
dB=(BA B
–
BB B)x100 Keterangan :dB = Jarak Pesawat ke Titik B BA B = Benang Atas Titik B BB B = Benang Bawah Titik B 100 = Konstanta Pesawat Menghitung jarak antara kedua titik (A dan B) :
AB=dA+dB
Keterangan :
AB = Jarak Titik A ke Titik B
dA = Jarak dari Pesawat ke Titik A dB = Jarak dari Pesawat ke Titik B
BAB III
PERALATAN
a) Pesawat Penyipat Datar (PPD)
Gambar Alat Penyipat Datar
Merupakan Alat dan sekaligus syarat utama dalam melakukan pengukuran.
Kelebihan dari alat sipat datar ini yaitu teleskopnya hanya bergerak pada suatu bidang yang menyudut 90o terhadap sumbu rotasinya. Alat ini adalah alat yang paling sederhana.
Bagian dari alat ini meliputi:
Landasan alat ini terletak di atas dari tripod (statif ) dan
merupakan landasan datar tempat alat ukur tersebut diletakan dan diatur sebelum melakukan pengukuran.
Sekrup penyetel berfungsi untuk mendatarkan alat ukur di
atas landasan alat tersebut, juga untuk mendatarkan sebuah bidang nivo yaitu bidang yang tegak lurus terhadap garis gaya gravitasi.
Tribach adalah platform ataupun penghubung statip dan
Laporan Beda Tinggi Memanjang Page 7
Teropong ini duduk di atas tribach dan kedudukan
mendatarnya diatur oleh ketiga sekrup penyetel yang terdapat pada tribach diatas. Teropong ini dilengkapi dengan sekumpulan peralatan optis dan peralatan untuk dapat memperbesar bayangan, reticule dengan benang diafragma, serta peralatan penyetel lainnya.
Nivo, pada alat ukur sipat datar ini umumnya terdapat dua buah nivo. Dari jenis kotak yang terletak pada tribach dan jenis tabung yang terletak di atas teropong. Nivo kotak tersebut digunakan untuk mendatarkan bidang nivo dari alat tersebut, yaitu agar tegak lurus pada garis gravitasi dan nivo tabung digunakan untuk mendatarkan teropong pada jurusan bidikan.
b) Statif
Penyangga atau yang biasa kita sebut sebagai kaki tiga, berfungsi sebagai penyelaras PPD dengan bentuk Bumi.
c) Rambu Ukur ( Minimal 2)
Memiliki fungsi seperti meteran, namun selain berbeda dalam hal fisik, juga berbeda penggunaannya. Dalam pengukuran ini, rambu yang digunakan minimal dua. Hal ini disebabkan karena ada dua titik yang harus dibaca sekaligus, yaitu yang terletak dibagian depan PPD dan yang berada dibagian belakang PPD.
Gambar Alat Ukur d) Kertas dan Alat Hitung (additional)
Kertas untuk mencatat hasil pembacaan benang pada PPD, karena kita dapat membawa data hasil pembacaan dan menghitungnya di rumah.
e) Data Board dan Alat Tulis
Data Board akan sangat berguna bila lapangan tempat kita mengambil data merupakan tempat yang tidak rata. Sedangkan alat tulis untuk mencatat hasil pengukuran.
f) Payung
Payung akan menjadi syarat yang sangatlah penting ketika kita akan pergi melakukan pengukuran. Keterjaminannya kondisi alat PPD tentu merupakan tanggung jawab yang begitu besar bagi kita. fungsi
Laporan Beda Tinggi Memanjang Page 9
BAB IV
LANGKAH KERJA
1. Menentukan letak titik yang akan dibidik dengan jarak antar titik adalah (contoh) 25m. Titik awal (P1) adalah titik BM dan untuk titik selanjutnya (P2) berjarak 25m dari titik P1. Kemudian tandai titik tersebut dengan cat.
2. Sket lokasi titik yang telah ditentukan pada selembar kertas.
3. Mendirikan PPD di antara kedua titik tersebut, kemudian menyetel PPD hingga siap untuk digunakan.
4. Membidik rambu ukur pada titik pertama (P1), kemudian catat bacaan benangnya pada tabel sebagai bacaan benang belakang stand 1.
5. Membidik rambu ukur pada titik kedua (P2), kemudian catat bacaan benangnya pada tabel sebagai bacaan benang muka stand 1.
6. Pindahkan PPD ke arah depan atau ke arah belakang, kemudian menyetel PPD hingga siap untuk digunakan.
7. Membidik rambu ukur pada titik pertama (P1), kemudian catat bacaan benangnya pada tabel sebagai bacaan benang belakang stand 2.
8. Membidik rambu ukur pada titik kedua (P2), kemudian catat bacaan benangnya pada tabel sebagai bacaan benang muka stand 2.
9. Lakukan pembidikan bak ukur ke arah memanjang titik kedua dengan cara pindahkan rambu ukur ke arah kanan dan kiri titik kedua.
10. Catat bacaan benang setiap pembidikan arah memanjang, kemudian ukur jarak antar titik-titik memanjang dan sket lokasi titik-titik melintang.
11. Lakukan langkah-langkah tersebut di atas untuk membidik rambu ukur pada titik-titik selanjutnya hingga titik terakhir (P16)
12. Setelah kegiatan praktek selesai, lakukan pengolahan data untuk mendapatkan beda tinggi antar titik, tinggi tiap titik, dan jarak optis antar titik.
BAB V
KESELAMATAN KERJA
1. Menggunakan pakaian kerja (wearpack ) dan helm.
\
Gambar Wearpack dan Helm
2. Pergunakan alat sesuai dengan kegunaan dan fungsinya. 3. Menggunakan sepatu untuk melindungi kaki.
Laporan Beda Tinggi Memanjang Page 11
4. Melindungi PPD dari sinar matahari langsung dengan menggunakan payung.
Gambar Payung
5. Serius dan tidak bersenda gurau ketika praktek serta melaksanakan praktek sesuai dengan instruksi guru pembimbing.
BAB VI
DATA HASIL PENGUKURAN
Tabel Hasil Pengukuran
NO. TTK BELAKANG (A) MUKA (B) SUDUT BB BT BA BB BT BA 1. 1. 1240 1275 1310 0659 0662 0665 2. 2. 1690 1705 1720 1160 1188 1215 3. 3. 1330 1345 1360 0991 0992 0993 4. 4. 3630 3670 3710 0222 0224 0225 5. 5. 1132 1135 1138 1200 1245 1290 6. 6. 1499 1515 1530 1131 1134 1136 7. 7. 0333 0367 0400 2010 2055 2100 BT = (BA + BB) / 2
Laporan Beda Tinggi Memanjang Page 13
BAB VII
ANALISA DATA
a) Benang Tengah BT = (BA + BB) / 2 = (1310 + 1240) / 2 = 2550 / 2 = 1275 b) Beda Tinggi BT = BTB – BTA = 613 - 517 = 96 c) Jarak Optis J = (BA – BB) x 100 = (1310 – 0659) x 100 = 651 x 100 = 65.100 ( 65 m) d) Jarak P ke Titik A dA = (BA A – BB A) x100 = ((1310 – 1240) x 100 = 70 x 100 = 7000 ( 7 m) e) Jarak P ke Titik B dB = (BA B – BB B) x 100 = (665 – 659) x 100 = 6 x 100 = 600 ( 0,6 m) f) Jarak Titik A ke Titik BAB = dA + dB = 7000 + 600 = 7600 (7,6 m)
BAB VIII
DATA HASIL PERHITUNGAN
NO TTK JARAK BENANG TENGAH BEDA TINGGI TINGGI TITIK Muka Belakang Muka Belakang
1. 1 600 7000 0662 1275 613 1613 2. 2 5500 3000 1188 1705 517 2130 3. 3 200 3000 0992 1345 353 2483 4. 4 300 8000 0224 3670 3446 5929 5. 5 9000 600 1245 1135 (110) 5819 6. 6 500 3100 1134 1515 381 6200 7. 7 9000 6700 2055 0367 (1688) 4512
Laporan Beda Tinggi Memanjang Page 15
BAB IX
DAFTAR PUSTAKA
a) http://listiyonobudi.blogspot.com/2011/09/pengukuran-sipat-datar-memanjang-dan.html b) http://geomatika07.wordpress.com/2008/07/18/pengukuran-beda-tinggi/ c) http://geomatika07.files.wordpress.com/2008/08/bedatinggi1 .jpg d) http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_ukur_tanah e) http://belajar-teknik-sipil.blogspot.com/2010/03/ilmu-ukur-tanah.html f) http://www.anneahira.com/contoh-pendahuluan-karya-tulis.htmg) Buku Catatan Pelajaran “Pengukuran Beda Tinggi dengan PPD Cara Memanjang”. Oleh : Rahman Rachmadhani dan Bersumber dari : Paulus M,Pd.