MINI PROJECT
GAMBARAN PENGETAHUAN MENGENAI
DETEKSI DAN INTERVENSI DINI DIABETES MELITUS PADA
KADER KESEHATAN KELURAHAN SANAN WETAN, KOTA BLITAR
PROVINSI JAWA TIMUR
Disusun oleh:
Pembimbing:
Puskesmas Sanan Wetan
Kota Blitar, Jawa Timur
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar BelakangTujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan secara berkelanjutan. Tujuan pembangunan tersebut dapat dicapai dengan menyelenggarakan program pembangunan nasional secara berkelanjutan, terencana dan terarah. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Visi pembangunan nasional yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan adalah mewujudkan Indonesia sehat tahun 2010. Tujuan diselenggarakannya pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. (Depkes RI, 2004).
Menurut American Diabetes Association (ADA) 2003, diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, dan disfungsi beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah. Diabetes melitus adalah suatu penyakit metabolik yang ditandai adanya hiperglikemia yang disebabkan karena defek sekresi insulin, gangguan kerja insulin atau keduanya.
Di Indonesia, prevalensi DM mencapai 15,9-32,73%, dimana diperkirakan sekitar 5 juta lebih penduduk Indonesia menderita DM. Di masa mendatang, diantara penyakit degeneratif diabetes adalah salah satu diantara penyakit tidak menular yang akan meningkat jumlahnya di masa mendatang. WHO membuat perkiraan bahwa pada tahun 2000 jumlah pengidap diabetes di atas umur 20 tahun berjumlah 150 juta orang dan dalam kurun waktu 25 tahun kemudian, pada tahun 2025 jumlah tersebut akan membengkak menjadi 300 juta orang (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III, 2006).
Prevalensi diabetes mellitus makin meningkat pada usia lanjut. Di Indonesia, prevalensi DM mencapai 15,9-32,73%, dimana diperkirakan sekitar 5 juta lebih penduduk Indonesia menderita diabetes mellitus. Menurut penelitian epidemiologi yang sampai saat ini dilaksanakan di Indonesia, kekerapan diabetes di Indonesia berkisar
antara 1,4 dengan 1,6%. Terjadi tendensi kenaikan kekerapan diabetes secara global terutama disebabkan oleh karena peningkatan kemakmuran suatu populasi, maka dengan demikian dapat dimengerti bila suatu saat atau lebih tepat lagi dalam kurun waktu 1 atau 2 dekade yang akan datang kekerapan DM di Indonesia akan meningkat dengan drastis. Indonesia akan menempati peringkat nomor 5 sedunia dengan jumlah pengidap diabetes sebanyak 12,4 juta orang pada tahun 2025, naik 2 tingkat dibanding tahun 1995.
Menurut penjelasan di buku Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Bab Diabetes Mellitus di Indonesia, dikatakan bahwa dalam jangka waktu 30 tahun penduduk Indonesia akan naik sebesar 40% dengan peningkatan jumlah pasien diabetes yang jauh lebih besar yaitu 86-138% yang disebabkan oleh karena :
a) faktor demografi
b) gaya hidup yang kebarat-baratan
c) berkurangnya penyakit infeksi dan kurang gizi
d) meningkatnya pelayanan kesehatan hingga umur pasien diabetes semakin panjang
Mengingat jumlah pasien yang akan membengkak dan besarnya biaya perawatan diabetes yang terutama disebabkan oleh karena komplikasinya, maka upaya yang baik adalah pencegahan. Menurut WHO tahun 1994, upaya pencegahan pada diabetes ada tiga jenis, antara lain :
a) Pencegahan primer. Semua aktivitas yang digunakan untuk mencegah timbulnya hiperglikemia pada inividu yang beresiko mengidap diabetes mellitus atau pada populasi.
b) Pencegahan sekunder. Menemukan pengidap DM sedini mungkin, misalnya dengan tes penyaringan. Dengan demikian pasien diabetes yang sebelumnya tidak terdiagnosis dapat terjaring.
c) Pencegahan tersier. Semua upaya untuk mencegah komplikasi atau kecacatan akibat komplikasi tersebut.
masyarakat yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat umum dan pendekatan individu beresiko tinggi yang dilakukan pada individu yang beresiko mengidap diabetes (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III, 2006).
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat merupakan salah satu tataran pelaksanaan pendidikan dan pemantauan kesehatan masyarakat. Pemantauan dan deteksi diabetes mellitus sedini mungkin merupakan bagian dari tugas tenaga kesehatan puskesmas di wilayah kerjanya masing-masing.
Mengingat pentingnya tugas tenaga kesehatan puskesmas dalam pemantauan dan deteksi diabetes melitus, maka pemahaman dan keterampilan setiap petugas tenaga kesehatan puskesmas dalam konsep teknis deteksi dan intervensi dini diabetes melitus menjadi sangat penting. Atas latar belakang tersebut dilaksanakan mini project sosialisasi dan pelatihan deteksi dan intervensi diabetes mellitus kepada kader kesehatan di Kelurahan Sanan Wetan.
1.2 Rumusan Masalah
- Bagaimana gambaran pengetahuan kader kesehatan terkait diabetes mellitus di Puskesmas Sananwetan?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
- Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat di
Puskesmas Sanan Wetan. 1.3.2 Tujuan Khusus
- Mengetahui gambaran pengetahuan kader kesehatan terkait diabetes mellitus di Puskesmas Sananwetan?.
1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat bagi Penulis
- Berperan serta dalam upaya deteksi dan intervensi dini diabetes melitus
- Mengaplikasikan pengetahuan mengenai program deteksi dan intervensi dini diabetes melitus.
- Melaksanakan mini project dalam rangka program internship dokter
Indonesia
1.4.2 Manfaat bagi Puskesmas
- Menambah pemahaman para tenaga kesehatan puskesmas
mengenai karakteristik dan deteksi diabetes melitus.
- Sebagai bahan evaluasi bagi Puskesmas Sananwetan tentang gambaran pengetahuan para kader kesehatan mengenai Diabetes Mellitus.
1.4.3 Manfaat bagi Masyarakat
- Masyarakat terfasilitasi dalam program deteksi dan intervensi dini
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Sedangkan menurut WHO 1980 dikatakan bahwa diabetes melitus sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi yang merupakan akibat dari sejumlah faktor di mana didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin. 4
2.2 Klasifikasi
Klasifikasi Diabetes Melitus menurut American Diabetes Association (ADA), 2005, yaitu1 :
1. Diabetes Melitus Tipe 1
DM ini disebabkan oleh kekurangan insulin dalam darah yang terjadi akibat kerusakan dari sel beta pankreas. Gejala yang menonjol adalah sering kencing (terutama malam hari), sering lapar dan sering haus, sebagian besar penderita DM tipe ini berat badannya normal atau kurus. Biasanya terjadi pada usia muda dan memerlukan insulin seumur hidup.
2. Diabetes Melitus Tipe 2
DM ini disebabkan insulin yang ada tidak dapat bekerja dengan baik, kadar insulin dapat normal, rendah atau bahkan meningkat tetapi fungsi insulin untuk metabolisme glukosa tidak ada atau kurang. Akibatnya glukosa dalam darah tetap tinggi sehingga terjadi hiperglikemia, dan 75% dari penderita DM type II ini dengan obesitas atau kegemukan dan biasanya diketahui DM setelah usia 30 tahun.
3. Diabetes Melitus Tipe lain
a. Defek genetik pada fungsi sel beta b. Defek genetik pada kerja insulin c. Penyakit eksokrin pankreas
d. Endokrinopati
e. Diinduksi obat atau zat kimia f. Infeksi
g. Imunologi 4. DM Gestasional
A
2.3 Prevalensi
World Health Organization (WHO) memperkirakan, prevalensi global diabetes
melitus tipe 2 akan meningkat dari 171 juta orang pada 2000 menjadi 366 juta tahun 2030. WHO memperkirakan Indonesia menduduki ranking ke-4 di dunia dalam hal jumlah penderita diabetes setelah China, India dan Amerika Serikat. Pada tahun 2000, jumlah penderita diabetes mencapai 8,4 juta dan diperkirakan pada tahun 2030 jumlah penderita diabetes di Indonesia akan berjumlah 21,3 juta. Tetapi, hanya 50% dari penderita diabetes di Indonesia menyadari bahwa mereka menderita diabetes, dan hanya 30% dari penderita melakukan pemeriksaan secara teratur.2
2.4
Patogenesis
2.4.1 Diabetes mellitus tipe 1
Pada saat diabetes mellitus tergantung insulin muncul, sebagian besar sel pankreas sudah rusak. Proses perusakan ini hampir pasti karena proses autoimun, meskipun rinciannya masih samar. Ikhtisar sementara urutan patogenetiknya adalah: pertama, harus ada kerentanan
KLASIFIKASI DIABETES MELITUS PERKENI 1998
DM GESTASIONAL DM TIPE LAIN :
1. Defek genetik fungsi sel beta : Maturity onset diabetes of the young Mutasi mitokondria DNA 3243 dan lain-lain 2. Penyakit eksokrin pankreas :Pankreatitis Pankreatektomy
3.Endokrinopati : akromegali, cushing, hipertiroidisme
4.akibat obat : glukokortikoid, hipertiroidisme 5.Akibat virus: CMV, Rubella
6.Imunologi: antibodi anti insulin
7. Sindrom genetik lain: sdr. Down, Klinefelter
DM TIPE 2 : Defisiensi insulin relatif : 1, defek sekresi insulin lebih dominan daripada resistensi insulin. 2. resistensi insulin lebih dominan daripada defek sekresi insulin. DM TIPE 1: Defisiensi insulin absolut akibat destuksi sel beta, karena: 1.autoimun 2. idiopatik
genetik terhadap penyakit ini. Kedua, keadaan lingkungan seperti infeksi virus diyakini merupakan satu mekanisme pemicu, tetapi agen noninfeksius juga dapat terlibat. Tahap ketiga adalah insulitis, sel yang menginfiltrasi sel pulau adalah monosit/makrofag dan limfosit T teraktivasi. Tahap keempat adalah perubahan sel beta sehingga dikenal sebagai sel asing. Tahap kelima adalah perkembangan respon imun. Karena sel pulau sekarang dianggap sebagai sel asing, terbentuk antibodi sitotoksik dan bekerja sama dengan mekanisme imun seluler. Hasil akhirnya adalah perusakan sel beta dan penampakan diabetes.5
2.4.2 Diabetes Melitus Tipe 2
Pasien DM tipe 2 mempunyai dua defek fisiologik : sekresi insulin abnormal dan resistensi terhadap kerja insulin pada jaringan sasaran (target). Abnormalitas yang utama tidak diketahui. Secara deskriptif, tiga fase dapat dikenali pada urutan klinis yang biasa. Pertama, glukosa plasma tetap normal walaupun terlihat resistensi insulin karena kadar insulin meningkat. Pada fase kedua, resistensi insulin cenderung memburuk sehingga meskipun konsentrasi insulin meningkat, tampak intoleransi glukosa dalam bentuk hiperglikemia setelah makan. Pada fase ketiga, resistensi insulin tidak berubah, tetapi sekresi insulin menurun, menyebabkan hiperglikemia puasa dan diabetes yang nyata.5
2.5 Manifestasi Klinik
Berdasarkan keluhan klinik, biasanya pasien Diabetes Melitus akan mengeluhkan apa yang disebut 4P : polifagi dengan penurunan berat badan, Polidipsi dengan poliuri, juga keluhan tambahan lain seperti sering kesemutan, rasa baal dan gatal di kulit 1.
Kriteria diagnostik :
Gejala klasik DM ditambah Gula Darah Sewaktu ≥200 mg/dl. Gula darah sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memerhatikan waktu makan terakhir, atau
Kadar Gula Darah Puasa ≥ 126 mg/dl. Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan sedikit nya 8 jam, atau
Kadar gula darah 2 jam pada TTGO ≥200 mg/dl. TTGO dilakukan dengan standard WHO, menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75 gram glukosa anhidrus yang dilarutkan dalam air.8
Gejala tidak klasik ditambah hasil pemeriksaan gula darah abnormal minimal 2x.3
Dengan cara pelaksanaan TTGO berdasarkan WHO ’94
Tiga hari sebelum pemeriksaan tetap makan seperti kebiasaan sehari-hari (dengan karbohidrat yang cukup) dan tetap melakukan kegiatan jasmani seperti biasa.
Berpuasa paling sediikt 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan, minum air putih tanpa gula tetap diperbolehkan.
Diperiksa kadar glukosa darah puasa
Diberikan glukosa 75 gram (dewasa) atau 1,75 g/kg BB (anak-anak) , dilarutkan dalam 250 ml air dan diminum dalam 5 menit.
Berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan 2 jam setelah minum larutan glukosa selesai
Diperiksa kadar gula darah 2 jam setelah beban glukosa
Selama proses pemeriksaan tidak boleh merokok dan tetap istirahat
Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM, maka dapat digolongkan ke dalamkelompok TGT (toleransi glukosa terganggu) atau GDPT (glukosa darah puasa terganggu) dari hasil yang diperoleh
TGT : glukosa darah plasma 2 jam setelah pembenanan antara 140-199 mg/dl GDPT : glukosa darah puasa antara 100-125 mg/dl
2.6 Komplikasi
a. Penyulit akut1. Ketoasidosis diabetik
KAD adalah suatu keadaan dimana terdapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan penningkatan hormon kontra regulator (glukagon, katekolamin, kortisol dan hormon pertumbuhan). Keadaan tersebut menyebabkan produksi glukosa hati meningkat dan penggunaan glukosa oleh sel tubuh menurun dengan hasil akhir hiperglikemia. Berkurangnya insulin mengakibatkan aktivitas kreb cycle menurun, asetil Ko-A dan Ko-A bebas akan meningkat dan asetoasetil asid yang tidak dapat diteruskan dalam kreb cycle tersebut juga meningkat. Bahan-bahan energi dari lemak yang kemudian di oksidasi untuk menjadi sumber energi akibat sinyaling sel yang kekurangan glukosa akan mengakibatkan end produk berupa benda keton yang bersifat asam. Disamping itu glukoneogenesis dari protein dengan asam amino yang mempunyai ketogenic
effect menambah beratnya KAD. Kriteria diagnosis KAD adalah GDS > 250 mg/dl, pH <7,35, HCO3 rendah, anion gap tinggi dan keton serum (+). Biasanya didahului
gejala berupa anorexia, nausea, muntah, sakit perut, sakit dada dan menjadi tanda khas adalah pernapasan kussmaul dan berbau aseton.
2. Koma Hiperosmolar Non Ketotik
Ditandai dengan penurunan kesadaran dengan gula darah lebih besar dari 600 mg% tanpa ketosis yang berartidan osmolaritas plasma melebihi 350 mosm. Keadaan ini jarang mengenai anak-anak, usia muda atau diabetes tipe non insulin dependen karena pada keadaan ini pasien akan jatuh kedalam kondisi KAD, sedang pada DM tipe 2 dimana kadar insulin darah nya masih cukup untuk mencegah lipolisis tetapi tidak dapat mencegah keadaan hiperglikemia sehingga tidak timbul hiperketonemia
3. Hipoglikemia
Ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah < 60 mg% tanpa gejala klinis atau GDS < 80 mg% dengan gejala klinis. Dimulai dari stadium parasimpatik: lapar, mual, tekanan darah turun. Stadium gangguan otak ringan : lemah lesu, sulit bicara gangguan kognitif sementara. Stadium simpatik, gejala adrenergik yaitukeringat dingin pada muka, bibir dan gemetar dada berdebar-debar. Stadium gangguan otak berat, gejala neuroglikopenik : pusing, gelisah, penurunan kesadaran dengan atau tanpa kejang.
b. Penyulit menahun 1. Mikroangiopati
Terjadi pada kapiler arteriol karena disfungsi endotel dan trombosis • Retinopati Diabetik
retinopati diabetik nonproliferatif, karena hiperpermeabilitas dan inkompetens vasa.
Kapiler membentuk kantung-kantung kecil menonjol seperti titik-titik mikroaneurisma dan vena retina mengalami dilatasi dan berkelok-kelok. Bahayanya dapat terjadi perdarahan disetiap lapisan retina. Rusaknya sawar retina darah bagian dalam pada endotel retina menyebabkan kebocoran cairan dan konstituen plasma ke dalam retina dan sekitarnya menyebabkan edema yang membuat gangguan pandang.
Pada retinopati diabetik prolferatif terjadi iskemia retina yang progresif yang
merangsang neovaskularisasi yang menyebabkan kebocoran protein-protein serum dalam jumlah besar. Neovaskularisasi yang rapuh ini berproliferasi ke bagian dalam korpus vitreum yang bila tekanan meninggi saat berkontraksi maka bisa terjadi perdarahan masif yang berakibat penurunan penglihatan mendadak. Dianjurkan penyandang diabetes memeriksakan matanya 3 tahun sekali sebelum timbulnya gejala dan setiap tahun bila sudah mulai ada kerusakan mikro untuk mencegah kebutaan. Faktor utama adalah gula darah yang terkontrol memperlambat progresivitas kerusakan retina.
• Nefropati Diabetik
Ditandai dengan albuminura menetap > 300 mg/24 jam atau > 200 ig/menit pada minimal 2x pemeriksaan dalam waktu 3-6 bulan. Berlanjut menjadi proteinuria akibat hiperfiltrasi patogenik kerusakan ginjal pada tingkat glomerulus. Akibat glikasi nonenzimatik dan AGE, advanced glication product yang ireversible dan menyebabkan hipertrofi sel dan kemoatraktan mononuklear serta inhibisi sintesis nitric oxide sebagai vasadilator, terjadi peningkatan tekanan intraglomerulus dan bila terjadi terus menerus dan inflamasi kronik, nefritis yang reversible akan berubah menjadi nefropati dimana terjadi keruakan menetap dan berkembang menjadi chronic kidney disease.9
• Neuropati diabetik
Yang tersering dan paling penting adalah neuropati perifer, berupa hilangnya sensasi distal. Berisiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki dan amputasi. Gejala yang sering dirasakan kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri dan lebih terasa sakit di malam hari. Setelah diangnosis DM ditegakkan, pada setiap pasien perlu dilakukan skrining untuk mendeteksi adanya polineuropati distal dengan pemeriksaan neurologi sederhana, dengan monofilamen 10 gram, dilakukan sedikitnya setiap tahun.6
• Pembuluh darah jantung atau koroner dan otak
Kewaspadaan kemungkinan terjadinya PJK dan stroke harus ditingkatkan terutama untuk mereka yang mempunyai resiko tinggi seperti riwayata keluarga PJK atau DM • Pembuluh darah tepi
Penyakit arteri perifer sering terjadi pada penyandang diabetes, biasanya terjadi dengan gejala tipikal intermiten atau klaudikasio, meskipun sering anpa gejala. Terkadang ulkus iskemik kaki merupakan kelainan yang pertama muncul.9
2.7 Penatalaksanaan
Tujuan pengobaan mencegah komplikasi akut dan kronik, meningkatkan kualitas hidup dengan menormalkan KGD, dan dikatakan penderita DM terkontrol sehingga sama dengan orang normal. Pilar penatalaksanaan Diabetes mellitus dimulai dari :
1. Edukasi
Pemberdayaan penyandang diabetes memerlukan partisipasi aktif pasien, keluarga dan masyarakat.
2. Terapi gizi medis
Terapi gizi medik merupakan ssalah satu dari terapi non farmakologik yang sangat direkomendasikan bagi penyandang diabetes. Terapi ini pada prinsipnya melakukan pengaturan pola makan yang didasarkan pada status gizi diabetes dan melakukan modifikasi diet berdasarkan kebutuhan individual.
Tujuan terapi gizi ini adalah untuk mencapai dan mempertahankan : 1. Kadar glukosa darah yang mendekati normal
a) Glukosa darah berkisar antaara 90-130 mg/dl b) Glukosa darah 2 jam post prandial < 180 mg/dl c) Kadar HbA1c < 7% 2. Tekanan darah <130/80 3. Profil lipid : a) Kolesterol LDL <100 mg/dl b) Kolesterol HDL >40 mg/dl c) Trigliserida <150 mg/dl
4. Berat badan senormal mungkin, BMI 18 – 24,9
Beberapa faktor yang harus diperhatikan sebelum melakukan perubahan pola makan diabetes antara lain, tinggi badan, berat badan, status gizi,, status kesehatan, aktivitas fisik dan faktor usia. Selain itu ada beberapa faktor fisiologi seperti masa kehamilan, masa pertumbuhan, gangguan pencernaan pada usia tua, dan lainnya. Pada keadaan
infeksi berat dimana terjadi proses katabolisme yang tinggi perlu dipertimbangkan pemberian nutrisi khusus. Masalah lain yang tidak kalah pentingnya adalah masalah status ekonomi, lingkungan kebiasaan dan tradisi dalam lingkungan yang bersangkutan serta kemampuan petugas kesehatan yang ada.
Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari :
Komposisi nutrien berdasarkan konsensus nasional adalah Karbohidrat 60-70%, Lemak 20-25% dan Protein 10-15%.
KARBOHIDRAT (1 gram=40 kkal)
Kandungan total kalori pada makanan yang mengandung karbohidrat lebih ditentukan oleh jumlahnya dibandingkan jenis karbohidrat itu sendiri.
Total kebutuhan kalori perhari, 60-70 % diantaranya berasal dari sumber karbohidrat Jika ditambah MUFA sebagai sumber energi maka jumlah karbohidrat maksimal 70% dari
total kebutuhan perhari Jumlah serat 25-50 gram/hari.
Penggunaan alkohol dibatasi dan tidak boleh lebih dari 10 ml/hari.
Pemanis yang tidak meningkatkan jumlah kalori sebagai penggantinya adalah pemanis buatan seperti sakarin, aspartam, acesulfam dan sukralosa. Penggunaannya pun dibatasi karena dapat meningkatkan resiko kejadian kanker.
Fruktosa tidak boleh lebih dari 60 gr/hari
Makanan yang banyak mengandung sukrosa tidak perlu dibatasi. PROTEIN
Kebuthan protein 15-20% dari total kebutuhan energi perhari.
Pada keadaan kadar glukosa darah yang terkontrol, asupan protein tidak akan mempengaruhi konsentrasi glukosa darah .
Pada keadaan kadar glukosa darah yang tidak terkontrol, pemberian protein sekitar 0,8-1,0 mg/kg BB/hari .
Pada gangguan fungsi ginjal, jumlah asupan protein diturunkan sampa 0,85 gr/kg BB/hari dan tidak kurang dari 40 gr.
Jika terdapat komplikasi kardiovaskular maka sumber protein nabati lebih dianjurkan dibandingkan protein hewani.
Batasi konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh, jumlah maksimal 10% dari total kebutuhan kalori perhari.
Jika kadar kolesterol LDL ≥ 100 mg/dl, asupan asam lemak jenuh diturunkan sampai maksimal 7% dari total kalori perhari.
Konsumsi kolesterol maksimal 300 mg/hari, jika kadar kolesterol LDL ≥100 mg/dl, maka maksimal kolesterol yag dapat dikonsumsi 200 mg perhari.
B. Kebutuhan Kalori
Menetukan kebutuhan kalori basa yang besarnya 25-30 kalori/ kg BB ideal ditambah atau dikurangi bergantung pada beberapa factor yaitu jenis kelamin, umur, aktivitas, berat badan dan lain-lain.
PENENTUAN KEBUTUHAN KALORI Kebutuhan basal :
Laki-laki = berat badan ideal (kg) x 30 kalori Wanita = berat badan ideal (kg) x 25 kalori
Koreksi : umur • 40-59 th : -5% • 60-69 : -10% • >70% : -20 aktivitas • Istirahat : +10% • Aktivitas ringan : +20% • Aktivitas sedang : +30% • Aktivitas berat : +50%
berat badan
• Kegemukan : - 20-30%
• Kurus : +20-30%
stress metabolik : + 10-30%
Makanan tersebut dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi 20%, makan siang 30% dan makan malam 25%, serta 2-3 porsi ringan 10-15% diantara porsi besar.
Berdasarkan IMT dihitung berdasarkan berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan kuadrat (m2).
Kualifikasi status gizi : BB kurang : < 18,5 BB normal : 18,5 – 22,9 BB lebih : 23 – 24,9
3. Latihan Jasmani
Kegiatan fisik bagi penderita diabetes sangat dianjurkan karena mengurangi resiko kejadian kardiovaskular dimana pada diabetes telah terjadi mikroangiopati dan peningkatan lipid darah akibat pemecahan berlebihan yang membuat vaskular menjadi lebih rentan akan penimbunan LDL teroksidasi subendotel yang memperburuk kualitas hidup penderita. Dengan latihan jasmani kebutuhan otot akan glukosa meningkat dan ini akan menurunkan kadar gula darah.
Aktivitas latihan :
5-10 menit pertama : glikogen akan dipecah menjadi glukosa
10-40 menit berikutnya : kebutuhan otot akan glukosa akan meningkat 7-20x. Lemak juga akan mulai dipakai untuk pembakaran sekitar 40%
> 40 menit : makin banyak lemak dipecah ±75-90% .
Dengan makin banyaknya lemak dipecah, makin banyakk pula benda keton yang terkumpul dan ini menjadi perhatian karena dapat mengarah ke keadaan asidosis. Latihan berat hanya ditujukan pada penderita DM ringan atau terkontrol saja, sedangkan DM yang agak berat, GDS mencapai > 350 mg/dl sebaiknya olahraga yang
ringan dahulu. Semua latihan yang memenuhi program CRIPE : Continous, Rhythmical, Interval, Progressive, Endurance. Continous maksudnya berkesinambungan dan dilakukan terus-menerus tanpa berhenti. Rhytmical artinya latihan yang berirama, yaitu otot berkontraksi dan relaksi secara teratur. Interval, dilakukan selang-seling antara gerak cepat dan lambat. Progresive dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan dari intensitas ringa sampai sedang hingga 30-60 menit. Endurance, latihan daya tahan untuk meningkatkan kemampuan kardiopulmoner seperti jalan santai, jogging dll.
4. Intervensi Farmakologis
Intervensi farmakologis ditambahkan jika sasaran glukosa darah belum tercapai degan pengaturan makanan dan latihan jasmani.
1. obat hipoglikemik oral a. insulin secretagogue :
sulfonilurea : meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Merupakan obat pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal dan kurangm namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. Contohnya glibenklamid.
Glinid : bekerja cepat, merupakan prandial glucose regulator. Penekanan pada peningkatan sekresi insulin fase pertama.obat ini berisiko terjadinya hipoglikemia. Contohnya : repaglinid, nateglinid.
b. insulin sensitizers
Thiazolindindion. Mensensitisasi insulin dengan jalan meningkatkan efek insulin endogen pada target organ (otot skelet dan hepar). Menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa, sehingga ambilan glukosa di perifer meningkat. Agonis PPARγ yang ada di otot skelet, hepar dan jaringan lemak.
c. glukoneogenesis inhibitor
Metformin. Bekerja mengurangi glukoneogenesis hepar dan juga memperbaiki uptake glukosa perifer. Terutama dipakai pada penyandang diabetes gemuk. Kontraindikasi pada pasien dengan gangguan ginjal dan hepar dan pasien dengan kecendrungan hipoksemia. d. Inhibitor absorbsi glukosa
α glukosidase inhibitor (acarbose). Bekerja menghambat absorbsi glukosa di usus halus sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan. Obat ini tidak menimbulkan efek hipoglikemi
Hal-hal yang harus diperhatikan :
OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan decara bertahap sesuai respon kadar glukosa darah, dapat diberikan sampai dosis maksimal.sulfonilurea generasi I dan II 15-30 menit sebelum makan. Glimepirid sebelum/sesaat sebelum makan. Repaglinid, Nateglinid sesaat/sebelum makan. Metformin sesaat/pada saat/sebelum makan. Penghambat glukosidase α bersama makan suapan pertama. Thiazolidindion tidak bergantung jadwal makan.
2. Insulin
Sekresi insulin fisiologis terdiri dari sekresi insulin basal dan sekresi insulin prandial. Terapi insulin diupayakan mampu meniru pada sekresi insulin yang fisiologis.
Defisiensi insulin mungkin hanya berupa defisiensi insulin basa, insulin prandial atau keduanya. Defisiensi insulin basal menyebabkan timbulnya hiperglikemia pada keadaan puasa, sedangkan defisiensi nsulin prandial akan menimbulkan hiperglikemia setelah makan.
Terapi insulin untuk substitusi ditujukan untuk melakukan koreksi terhadap defisiensi yang terjadi.
Terapi insulin dapat diberikan secara tunggal berupa insulin kerja cepat (rapid insulin), kerja pendek (short acting), kerja menengah (intermediate acting) atau insuli campuran tetap (premixed insulin)
Insulin diperlukan dalam keadaan : penurunan berat badan yang cepat, hiperglikemia yang berta disertai ketosis, ketoasidosis diabetik, hiperglikemia hiperosmolar non ketotik, hiperglikemia dengan asidosis laktat, gagal dengan kombinasi OHO dengan dosis yang hampir maksimal, stress berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA, stroke), kehamilan dengan DM/DM Gestasional yang tidak terkendali dengan perencanaan makan, gangguan fungsi hepar atau ginjal yang berat, kontraindikasi atau alergi OHO.
Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah untuk kemudian diinaikan secara bertahap sesuai dengan respon kadar glukosa darah. Untuk kombinasi OHO dengan insulin, yang banyak dipakai adalah kombinasi OHO dan insulin basal (kerja menengah atau kerja lama) yang divberikan pada malam hari atau menjelang tidur. Dengan pendekatan terapi tersebut pada umumnya dapat diperoleh kendali glukosa yag baik dengan dosis insulin yang cukup kecil. Dosis awal insulin kerja menengah adalah 6-10 unit yang diberikan sekitar jam 22.00, kemudian dilakukan evaluasi dosis tersebut dengan menilai kadar gula darah puasa keesokan harinya. Bila dengan cara seperti ini kadar gula darah sepanjang hari masih tidak terkendali, maka OHO dihentikan dan diberikan insulin
2.8. PENCEGAHAN
• Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan pada kelompok yang memiliki faktor resiko, yakni mereka yang belum terkena tetapi berpotensi untuk mendapat DM dan kelompok intoleransi glukosa. Materi penyuluhan meliputi program penurunan berat badan, diet sehat, latihan jasmani dan menghentikan kebiasaan merokok. Perencanaan kebijakan kesehatan ini tentunya diharapkan memahami dampak sosio-ekonomi penyakit ini, pentingnya menyediakan fasilitas yang memadai dalam upaya pencegahan primer6.
• Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat timbulnya penyulit pada pasien yang telah menderita DM. Program ini dapat dilakukan dengan pemberian pengobatan yang cukup dan tindakan deteksi dini penyulit sejak awal pengelolaan penyakit DM. Penyulihan ditujukan terutama bagi pasien baru, yang dilakukan sejak pertemuan pertama dan selalu diulang pada setiap pertemuan berikutnya. Pemberian antiplatelet dapat menurunkan resiko timbulnya kelainan kardiovaskular pada penyandang Diabetes.
• Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penyandang diabetes yang telah mengalami penyulit dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan lebih menlanjut. Pada pencegahan tersier tetap dilakukan penyuluhan kepada pasien dan juga kelurganya dengan materi upaya rehabilitasi yang dapat dilakakukan untuk mencapai kualitas hidup yang optimal. Upaya rehabilitasi pada pasien dilakukan sedini mungkin sebelum kecacatan menetap, misalnya pemberian aspirin dosis rendah80-325 mg/hari untuk mengurangi dampak mikroangiopati. Kolaborasi yang baik antar para ahli di berbagai disiplin, jantung, ginjal, mata, bedah ortopedi, bedah vaskular, radiologi, rehabilitasi medik, gizi, pediatrist dll sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan pencegahan tersier.
2.9. Gambaran Wilayah Kecamatan Sanan Wetan
2.9.1.1 Batas wilayah
Kecamatan Sananwetan berbatas wilayah sebelah utara dengan Kecamatan.Kepanjenkidul Kota Blitar , sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Garum Kabupaten Blitar dan Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar, sebelah selatan dengan Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar dan Kec. Kanigoro Kabupaten Blitar, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar dan Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar.
2.9.1.2 Pembagian wilayah administrasi
Kecamatan Sananwetan terdiri dari 7 Kelurahan pada lahan seluas 12,149 km2 yang
Wilayah Kecamatan Sananwetan terletak pada ketinggian 156 meter dpl,suhu rata-rata 29 0C, dan curah hujan rata-rata 13,75 mm per tahun. Secara administratif wilayah
Kecamatan Sananwetan terbagi dalam 7 Kelurahan, 74 RW dan 249 RT. Dilihat dari komposisi RW dan RT, Kelurahan Sananwetan memiliki jumlah RW dan RT terbanyak, yaitu 17 RW dan 60 RT, sedangkan kelurahan yang memiliki wilayah paling besar adalah Kelurahan Gedog yakni 2,65 km2.
2.9.1.3 Data penduduk
Jumlah penduduk Kecamatan Sananwetan pada tahun 2013 telah mencapai 54.945 jiwa, bertambah 382 jiwa dibandingkan dengan tahun 2012. Jumlah penduduk laki-laki sebesar 27.389 jiwa atau sebesar 49,84 persen dan penduduk perempuan 27.556 jiwa atau sebesar 50.16 persen dari total penduduk kecamatan Sananwetan.
Berikut merupakan tabel data penduduk di 7 desa di Kecamatan Sananwetan
Jumlah Penduduk sampai dengan tahun 2014 berdasarkan data statistik tiap kelurahan di Kecamatan Sananwetan sejumlah 53.821 jiwa dengan jumlah KK 17.995 serta mayoritas penduduk memeluk agama Islam. Adapun jumlah Penduduk Gakin / non Gakin dapat dilihat pada tabel berikut :
Distribusi jumlah penduduk gakin dan non gakin di Wilayah Kecamatan Sananwetan tahun 2014 (berdasarkan data survei tahun 2009)
Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar masyarakat di Wilayah Kecamatan Sananwetan merupakan masyarakat non gakin (88.23%), sedangkan jumlah masyarakat miskin sebesar 11,77% untuk data tahun 2010 belum diadakan pendataan ulang maskin 2010.
2.9.2 Profil Kelurahan Terpilih 2.9.2.1. Kondisi geografis
Kelurahan Sananwetan berbatas wilayah sebelah utara dengan Kelurahan Bendogerit dan Kelurahan Gedog. Desa ini berbatas wilayah sebelah utara Sungai Lahor Kecamatan Sumberpucung, sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Gedog, sebelah selatan dengan Kelurahan Karangtengah dan Kelurahan Plosokerep.
2.9.2.2. Topografi
Kelurahan Sananwetan secara umum memiliki wilayah yang cukup padat yang ditunjang sarana jalan propinsi dan jalan kota yang rata – rata hampir jalan aspal meskipun sebagian kecil belum di aspal, dan untuk sarana transportasi menggunakan kendaraan milik pribadi serta tersedia sarana telekomunikasi. Ketinggian wilayah Kecamatan Sananwetan dari permukaan air laut lebih kurang 156 dpl dengan jenis tanah dataran.
2.9.2.3. Kondisi demografis
Kelurahan Sananwetan memiliki luas wilayah 2,1279 km2 dengan lahan pertanian yang terdiri dari tanah sawah 64 Ha, lahan kering 146,985 Ha, lahan lainnya 0,835 Ha.
2.9.2.4. Kependudukan
Kelurahan Sananwetan merupakan kelurahan dengan jumlah KK dan penduduk terbanyak yaitu 4.241 KK dengan 18.175 orang yang terdiri dari laki-laki 13.934 orang, perempuan 4.241 orang.
3. Pusat Kesehatan Masyarakat ( Puskesmas ) 3.1. Gambaran Umum Puskesmas
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Pembangunan kesehatan meliputi pembangunan yang berwawasan kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan keluarga serta pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bermutu.2
Wilayah kerja adalah batasan wilayah kerja Puskesmas dalam melaksanakan tugas dan fungsi pembangunan kesehatan, yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota berdasarkan keadaan geografis, demografi, sarana transportasi, masalah kesehatan setempat, keadaan sumber daya, beban kerja Puskesmas dan lain-lain. Selain itu juga harus memperhatikan upaya untuk meningkatkan koordinasi, memperjelas tanggung jawab pembangunan dalam wilayah kecamatan, meningkatkan sinergisme pembangunan dalam wilayah kecamatan, meningkatkan sinergisme kegiatan dan meningkatkan kinerja. Apabila dalam satu wilayah kecamatan terdapat lebih dari satu Puskesmas maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat menunjuk salah satu Puskesmas sebagai koordinator pembangunan kesehatan di kecamatan. 2
Puskesmas memiliki tanggung jawab dalam hal mempromosikan kesehatan kepada seluruh masyarakat sebagai upaya untuk memberikan pengalaman belajar, menyediakan media informasi, dan melakukan edukasi baik untuk perorangan, kelompok, dan masyarakan guna meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat. Dengan berjalanannya program kesehatan yang dijalankan oleh setiap Puskesmas, di harapkan pada akhirnya akan berpengaruh pada perubahan kepada setiap individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara prilaku sehat serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.3
3.2. Profil Puskesmas Sanan Wetan 3.2.1 Keadaan Geografi
UPTD. Puskesmas Sananwetan terletak di Kelurahan Sananwetan dengan alamat Jl. Jawa No 07 Blitar. Akses transportasi ke Puskesmas Sananwetan cukup mudah karena bersebelahan dengan jalan raya Bali sehingga mempermudah jangkauan masyarakat untuk menggunakan Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Sananwetan.
3.2.2 Visi dan Misi Puskesmas Sanan Wetan Visi
UPTD Puskesmas Kecamatan Sananwetan Kota Blitar sebagai salah satu dari penyelenggara pembangunan kesehatan mempunyai visi : ” Terwujudnya pelayanan kesehatan dasar yang bermutu untuk mencapai masyarakat
berPerilaku Hidup Bersih dan Sehat di Kecamatan Sananwetan tahun 2015”. Pelayanan kesehatan dasar yang bermutu adalah pelayanan kesehatan dasar yang ramah, profesional dan partisipatif sedangkan Masyarakat yang Berperilaku Hidup Bersih dan sehat adalah suatu kondisi dimana masyarakat Kota Blitar menyadari, mau, dan mampu untuk mengenali, mencegah dan mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi, sehingga dapat bebas dari gangguan kesehatan, baik yang disebabkan karena penyakit termasuk gangguan kesehatan akibat bencana, maupun lingkungan dan perilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat.
Misi
Berdasarkan Visi UPTD. Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, maka misi pembangunan kesehatan di Kota Blitar khususnya Wilayah Kecamatan Sananwetan adalah :
1. Mewujudkan pelayanan kesehatan dasar yang transparan dan profesional 2. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau dalam bentuk promotif, preventif dan kuratif
3. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat
4. Membangun citra pelayanan dengan memberlakukan pengguna layanan sebagai pusat perhatian
3.2.3. Struktur Organisasi Puskesmas Sananwetan
Struktur Organisasi Puskesmas menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no : 128/MENKES/SK/III/2004 tergantung dari kegiatan dan beban tugas masing-masing Puskesmas. Pola struktur organisasi Puskesmas adalah sebagai berikut :
Kepala Puskesmas Ka Subbag Tata Usaha Unit Tata Usaha
1. Data dan informasi
2. Perencanaan dan Penilaian
3. Keuangan
4. Umum dan kepegawaian
5. Pengelola sarpras
6. Loket
7. Caraka
Upaya Kesehatan Masyarakat dan Perorangan Upaya Kesehatan Wajib
Upaya Kesehatan Pengembangan Upaya pelayanan Penunjang
1. Unit GAwat darurat 24 jam dan Rawat Inap
2. Laboratorium
3. Apotik
Upaya Pelayanan Inovasi
1. PONED
2. MTBS
3. PKPR/Jiwa
Jaringan Pelayanan Puskesmas Puskesmas Pembantu
3.2.4. Susunan Kepegawaian dan Perlengkapan a. Susunan Kepegawaian
Adapun Distribusi jumlah dan jenis tenaga kesehatan yang ada di UPTD. Puskesmas Kecamatan Sananwetan Kota Blitar dapat dilihat pada tabel berikut :
Distribusi Jenis Tenaga Kesehatan di UPTD. Puskesmas Kecamatan Sananwetan Kota Blitar tahun 2014
b. Perlengkapan
Sarana Fisik Gedung Puskesmas
o. BANGUNAN KONDISI FISIK
TAHU N DAYA J ML BUA H LUAS TANAH LUAS BANGUNAN DIBA NGUN LISTR IK m2 m2 ( WAT T ) Pusk.Induk 1 2136.4 496.5 1975 1300 Rawat Inap 1 420 2005 3000 Puskesmas Pembantu 6 a. Pustu Bendil 1 336 70 1980 1300 b. Pustu Bendogerit 1 660 70 1990 900 c. Pustu Gedog 1 0 0 0 0 d. Pustu Plosokerep 1 155.26 56 1979 900 e. Pustu Klampok 1 450 70 1996 900 f. Pustu Rembang 1 308 70 1990 900 Poskesdes 7 Posyandu 5 9
Sarana Transportasi Puskesmas N
O Jenis
Jum
lah KONDISI KELAYAKAN
B AIK SED ANG RUS AK YA TIDA K 1 Kendaraan 4 2 1 1 4 Roda 4 ( Empat ) 2 Kendaraan Roda 9 3 5 1 8 1 2 ( dua ) a. Alat-alat Kesehatan
Alat – alat kesehatan yang ada di UPTD puskesmas Sananwetan terdiri dari : 1. PERALATAN UNTUK DIAGNOSTIK KLINIK
2. PERALATAN UNTUK KESEHATAN GIGI 3. PERALATAN UNTUK LABORATORIUM 4. PERALATAN UNTUK TINDAKAN MEDIS 5. LINEN
6. PERALATAN UNTUK PENYULUHAN 7. PERALATAN NON-MEDIK
3.2.5. Program Kesehatan Puskesmas Kecamatan Sananwetan
Berdasarkan Penilaian Kinerja Puskesmas program pelayanan kesehatan Puskesmas dapat dibagi menjadi 3 Program dasar sebagai berikut :
1. Upaya Kesehatan Wajib
Upaya Kesehatan Wajib puskesmas di Puskesmas Sananwetan terdiri dari : a. Promosi Kesehatan
b. Kesehatan lingkungan c. Upaya Perbaikan gizi
d. Kesehatan Ibu Dan Anak Termasuk Keluarga Berencana e. Upaya Pencegahan Dan Pemberantaasan Penyakit Menular f. Pengobatan
2. Program Manajemen Puskesmas
Program manajemen puskesmas di Puskesmas Sananwetan terdiri dari : a. Manajemen Operasional Puskesmas
b. Manajemen Alat Dan Obat
c. Manajemen Keuangan Di Puskesmas d. Manajemen Ketenagaan
e. Manajemen Pengolahan Barang/Aset 3. Program Pengembangan / inovatif
Program pengembangan / inovatif di Puskesmas Sananwetan terdiri dari : a. Upaya Kesehatan Usia Lanjut
b. Upaya kesehatan Mata/pencegahan kebutaan
c. Upaya Kesehatan Telinga / Pencegahan Gangguan Pendengaran d. Kesehatan Jiwa
e. Kesehatan Olah Raga
f. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Gigi g. Perawatan Kesehatan Masyarakat
h. Bina Kesehatan Tradisional i. Bina Kesehatan Kerja
j. Pemberdayaan Masyarakat Dalam Phbs
k. Pengembangan Ukbm
BAB III
METODE PENGUMPULAN DATA, PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
3.1 Metode Pengumpulan Data 3.1.1 Rancangan Pengumpulan Data
Pengumpulan data digunakan untuk mengetahui pengetahuan tentang Diabetes Mellitus bagi para kader Posyandu Kelurahan Sananwetan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner.
3.1.2 Populasi dan Sampel
a. Populasi target adalah seluruh kader Posyandu Kelurahan Sananwetan b. Sampel
Kriteria sampel yang memenuhi syarat yaitu : 1. Kriteria inklusi
Sampel merupakan kader UKS Posyandu Lansia Kelurahan Sananwetan 2. Kriteria eksklusi
- Sampel yang tidak mengikuti pertemuan kader - Sampel yang tidak bersedia mengisi kuisioner
Jadi total sampel dalam mini project ini adalah 50 orang 3.1.3 Waktu dan Tempat Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan ketika kegiatan pertemuan kader Posyandu Kelurahan Sananwetan yaitu tanggal 30 Mei 2015 bertempat di Ruang Pertemuan Kelurahan Sananwetan
3.1.4 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data pada mini project ini adalah kuisioner, yang terdiri atas data tentang pengetahuan terkait definisi, tanda dan gejala, komplikasi serta pencegahan Diabetes Mellitus
3.1.5 Cara Pengumpulan Data
Semua jenis data yang dikumpulkan pada mini project ini adalah data berupa hasil
intervensi. Pengumpulan data yang dilakukan dengan pengisian kuesioner dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Pelaksana dalam hal ini dokter internship Puskesmas Sananwetan meminta persetujuan responden untuk melakukan pengisian kuesioner.
b. Memberikan penjelasan tentang tujuan pengumpulan data dan sifat keikutsertaan responden dalam hal ini.
c. Membagikan kuesioner kepada responden yaitu kader Posyandu Kelurahan Sananwetan.
d. Memberikan penjelasan kepada responden pada masing-masing pertanyaan yang belum jelas dan mendampingi selama pengisian kuesioner.
e. Kuesioner yang telah diisi, dikumpulkan dan diperiksa kelengkapannya. 3.2 Perencanaan dan Pemilihan Intervensi
3.2.1 Metode Intervensi
Metode intervensi yang digunakan dalam mini project ini adalah penyuluhan group
discussion dengan alat bantu slide dengan kuesioner yang dibagikan sebelumnya.
Kuesioner akan diberikan dalam bentuk soal pilihan ganda. 3.2.2 Petugas Penyuluhan
Petugas penyuluhan dari kegiatan mini project ini adalah :
1. Dokter Internship Puskesmas Sananwetan periode Februari-Juni 2015 dalam hal ini dr. Dimas Bagus Respati selaku narasumber.
2. Petugas kesehatan lain dari Puskesmas Sananwetan 3.2.3 Lokasi dan Waktu Penyuluhan
Kegiatan mini project ini bertempat di Ruang Pertemuan Kelurahan Sananwetan. Pelaksanaan pada tanggal 30 Mei 2015, pukul 10.00-12.00 WIB.
3.2.4 Sasaran Penyuluhan
BAB IV HASIL
Berdasarkan hasil test yang diperoleh dari total lima puluh orang subjek, ditemukan kenaikan nilai sebagai berikut.
Perbandingan Nilai pada Tes Pengetahuan mengenai Diabetes Mellitus
Nilai 22 Nilai 57 Nilai 71 Nilai 85 Nilai 100
Berdasarkan hasil test, nilai terendah didapatkan pada komponen untuk mengenali tanda dan gejala diabetes mellitus, walaupun sebenarnya tingkat pengetahuan para kader sudah sangat baik.
Definisi Sign Symptom Komplikasi Pencegahan
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Rerata Nilai tiap Komponen Tes
Komposisi Hasil Tes terhadap Pengertian Diabetes Mellitus
Nilai 50 Nilai 100
Komponen berikutnya, yakni tanda dan gejala, menunjukkan pemahaman yang sudah cukup baik.
Komposisi Hasil Tes terhadap Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus
Nilai 0 Nilai 50 Nilai 100
Komponen berikutnya, yakni komplikasi, menunjukkan pemahaman peserta yang juga cukup baik.
Komposisi Hasil Tes terhadap Komplikasi Diabetes Mellitus
Nilai 0 Nilai 50 Nilai 100
Komponen berikutnya, yakni pencegahan, menunjukkan pemahaman peserta yang sudah sempurna.
Komposisi Hasil Tes terhadap Pencegahan Diabetes Mellitus
BAB V KESIMPULAN
Berdasarkan kegiatan penyuluhan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa:
Tingkat pengetahuan para kader kesehatan Kelurahan Sanan Wetan
sudah cukup memadai untuk melakukan sosialisasi terhadap warga sekitar. Meskipun begitu terdapat peserta yang masih belum memahami sepenuhnya tentang definisi, tanda dan gejala serta komplikasi diabetes melitus.
Perlu dilakukan evaluasi secara berkala untuk menjaga dan meningkatkan pengetahuan para kader kesehatan Kelurahan Sanan Wetan antara lain dengan melakukan penyuluhan berkala dan penilaian rutin perkembangan pengetahuan para kader kesehatan mengenai diabetes melitus.
DAFTAR PUSTAKA
1. Gustaviani R. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Dalam : buku ajar ilmu penyakit dalam. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I dkk, editor. Jilid III. Edisi IV. Jakarta : balai penerbit FKUI, 2006; 1857.
2. Persi.Faktor Lingkungan dan Gaya Hidup Berperan Besar Memicu Diabetes.2008 [ diakses tanggal 12 Januari 2011] http: //pdpersi.co.id
3. Waspadji S. Komplikasi kronik diabetes : mekanisme terjadinya, diagnosis dan strategi pengelolaannya. Dalam : buku ajar ilmu penyakit dalam. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I dkk, editor. Jilid III. Edisi IV. Jakarta : balai penerbit FKUI, 2006; 1906.
4. Soegondo S. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus tipe 2 di Indonesia 2011. Jakarta : PERKENI, 2011
5. Foster DW.Diabetes melitus. Dalam : Harrison Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Asdie, A, editor. Volume 5. Jakarta : EGC, 2000; 2196.
6. PERKENI. Konsensus Pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di Indonesia. 2006. Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Jakarta. 2006
7. Waspadji S. Komplikasi Kronik Diabetes : Mekanise Terjadinya, Diagnosis, dan Strategi Pengelolaan. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi III. Departemen Ilmu Panyakit Dalam FKUI; 2006; hal. 1920
8. Gustavani R. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi III. Departemen Ilmu Panyakit Dalam FKUI; 2006; hal. 1873
9. Price, Sylvia Aderson. Pankreas: Metabolisme glukosa dan diabetes mellitus. Patofisiologi : Konsep klinis proses-proses/ Sylvia Anderson price, Lorraine Mc Carty Wilson; alih bahasa, Brahm U. Pendit[et.al.]editor bahasa Indonesia. Jakarta;2005; hal.1259