• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

24 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Kerangka

Pikir

Hal yang ingin dicapai di dalam penulisan ini adalah suatu konsep rancangan sistem informasi berupa portfolio yang dapat dikembangkan berdasarkan kebutuhan dari organisasi di mana penelitian dilaksanakan. Pada pelaksanaannya saat ini, uji pemeriksaan kesehatan (urikes) terdapat banyak kelemahan yang terjadi di lapangan, sehingga pada akhirnya mempengaruhi proses dan pengolahan data untuk menjadi informasi yang selalu akurat dan up to date.

Dalam pelaksanaannya, urikes dibagi menjadi dua bagian, pertama untuk Perwira tinggi (Pati), Perwira menengah (Pamen) dan PNS setingkat di Rumah Sakit (RSAL) dan kedua untuk Perwira pertama (Pama), Bintara, Tamtama dan PNS setingkat di Dinas Kesehatan (Diskes). Data personel tetap berada di Diskes dan RSAL, karena laporan ke Komandan Satuan berasal dari Diskes terkait.

Di dalam penelitian ini, penulis akan melihat pertama kali dari sistem yang berjalan sekarang ini, baik melalui survey ataupun wawancara dengan nara sumber yang berkaitan dengan kegiatan tersebut. Dari hasil penelitian tersebut akan dirumuskan permasalahan yang terjadi pada sistem saat ini. Pada prosesnya, terdapat faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi di dalam pengembangan sistem informasi urikes ini. Untuk faktor internal, kebijakan Komandan Satuan sangat mempengaruhi kesuksesan di dalam pelaksanaan urikes, karena tanpa pengawasan dan evaluasi dari Komandan Satuan beserta staff

(2)

pelaksanaan urikes terkadang tidak berjalan dengan baik. Selain itu, dari sisi jumlah personel medis juga tidak memenuhi syarat karena dengan sifat pelayanan yang harus menghadapi sekian banyak orang dengan jumlah dan kemampuan medis yang terbatas. Infrastruktur juga sangat mempengaruhi di dalam pelaksanaan urikes, seperti alat-alat medis yang terbatas, komputer terbatas, serta alat tulis kantor yang salah satunya adalah kertas, alat tulis, dan sebagainya. Selain itu, sistem penyelesaian pekerjaan yang masih dilakukan secara manual sangat tidak mendukung di dalam proses urikes ini. Pada faktor eksternal, ketetapan Pemerintah merupakan faktor yang secara tidak langsung mempengaruhi, diantaranya adalah permasalahan anggaran yang disediakan dan ketentuan jumlah personel dengan spesifikasi keahlian medis yang bertugas di lingkungan militer.

Dari segala keterbatasan yang ada, maka timbullah permasalahan-permasalahan yang selalu terjadi, seperti kecepatan pemrosesan data, kesulitan dalam pencarian data, kecepatan pembuatan laporan, data yang sulit diakses dan sebagainya. Untuk itulah mengapa diperlukan suatu sistem informasi yang dapat mendukung pelaksanaan urikes dengan tetap menggunakan peralatan pemeriksaan yang ada, agar tingkat kesehatan personel militer dapat selalu terpantau dan terawasi dengan baik. Kemudian dengan membandingkan pada literatur review yang juga telah dilakukan, perancangan sistem urikes dilakukan. Pada akhirnya, rancangan sistem ini akan dievaluasi dengan menggunakan Technology Acceptance Model (TAM).

(3)

Gambar 3.1. Kerangka Pikir Penelitian

3.2. Struktur

Organisasi

Struktur organisasi Diskes berdasarkan pada Surat Keputusan Kasal Nomor Kep/45/III/2009 tanggal 23 Maret 2009. Kedudukan dari Kasi (Kepala seksi) Urikes berada di bawah Kasubdis Kesum (Kepala Sub Dinas Kesehatan Umum) (Gambar 3.2).   Faktor Intern : • Pimpinan • Personel • Infrastruktur • Sistem

Analisa kebutuhan sistem informasi urikes

Faktor Ekstern : Ketetapan Pemerintah

Permasalahan timbul : ¾ Sulit akses data ¾ Waktu proses laporan ¾ Data tidak up to date ¾ Tidak terintegrasi

Sistem urikes saat ini

Perancangan Sistem Informasi Urikes ™ Tinjauan Literatur / Teori ™ Wawancara nara sumber

Evaluasi Rancangan Sistem Urikes

(4)

Gambar 3.2. Bagan struktur organisasi Diskes Armabar

Sedangkan untuk struktur organisasi Departemen Urikes pada RSAL terdapat di bawah naungan Depkesla (Departemen Kesehatan TNI AL), dengan berdasarkan pada Surat Keputusan Kasal Nomor Kep.155/II/2009 tanggal 12 Februari 2009 (Gambar 3.3)

Kadiskes Armabar

Kataud

Kasubdis Kesla Kasubdis Kesum Kasubdis Minkes

Kasi Kestasair Kasi Kesbair Kasi Kesud Kasi Dukkes Kasi Kurehab Kasi Kesprev Kasi Urikes &

Luhkes Kaur Urikes Ur Urikes 1 Ur Urikes 2 Ur Luhkes Kasi Minpers Kasi Matkes Kasi Urkes Ka BK Ka TU Kasi Kesla Kasi Kesum Kasi Urlat Kasi Polgi

(5)

Gambar 3.3 Bagan Organisasi Departemen Kesla RSAL Dr.Mintohardjo

3.3. Analisa Sistem Berjalan

Adapun sistem yang berjalan sekarang ini masih secara manual, dengan menggunakan microsoft excel untuk pengumpulan data, dan microsoft word untuk pembuatan laporan. Pelaksanaan urikes pada Diskes dimulai dari pendaftaran, pelaksanaan urikes dengan bercabang pada pemeriksaan mata, gigi, laboratorium, postur dan umum. Kemudian untuk pemeriksaan tersebut akan dilaksanakan tanpa nomor antrian, dimana tempat yang kosong akan dilaksanakan lebih dahulu, agar

Karumkital Dr.Mintohardjo Kadepkesla Kasubdep Dukkes Kasubdep Urikes Kasubdep UGD Kasubdep KUBT (hiperbarik) Kasi Opslat Kasi Rik

Umum Kasi Gigi Kasi Jangklin Kasi Rik Spesialis Kasi Buku / Riwayat Kesehatan Kasi Bedah Kasi Medis Kasi Pol Um Kasi Minlog Kasi KUBT Faslog

(6)

pada seluruh klinik terjadi kegiatan pemeriksaan. Untuk personel yang menjadi anggota pasukan khusus terdapat pemeriksaan yang merupakan uji kemampuan setelah melaksanakan urikes umum. Setelah itu, data akan diproses untuk menentukan stakes (status kesehatan), jika hasilnya ternyata ada gejala untuk penyakit tertentu yang butuh perawatan khusus, maka akan dirujuk untuk melakukan perawatan ke RSAL. Setelah melakukan perawatan di RSAL, personel tadi harus melaporkan kembali hasilnya ke Diskes untuk direkap dan diproses menjadi laporan hasil urikes ke pimpinan. Tetapi bagi personel yang memiliki gejala penyakit tertentu tetapi dapat ditangani di Diskes, maka tidak ada rujukan ke RSAL. Pemeriksaan klinik seperti ECG (Electrocardiograph) dan rontgen dilaksanakan apabila dari penilaian dokter terdapat suatu indikasi tertentu. Semua proses tersebut berjalan bertahap sesuai dengan jadwal yang sudah dibuat per satuan kerja (satker). Untuk pemeriksaan kesehatan jiwa dilaksanakan tiap 5 tahun sekali.

Namun secara terpisah, untuk tingkat Pati dan Pamen, urikes dilaksanakan langsung di RSAL. Proses pelaksanaan sama dengan di Diskes, hanya laporan hasil urikes akan dikirimkan ke Diskes sebagai data untuk pembuatan laporan. Pemeriksaan pada tingkatan ini lebih lengkap dari yang terjadi di Diskes, karena terdapat rongent dan ECG yang harus dilaksanakan.

Kelemahan yang ada bahwa proses dan prosedur dilaksanakan di kedua lokasi dilakukan secara manual. Pengiriman hasil proses urikes dari Rumkit ke Diskes dilaksanakan melalui kurir dan proses pelaporan terjadi dalam waktu yang relatif lama. Disamping itu, sistem tersebut berjalan secara terpisah dan tidak ada integrasi sama sekali. Terkadang personel yang mendapatkan rujukan perawatan

(7)

di Rumkit tidak melaporkan ke Diskes sehingga pihak dari Diskes sendiri tidak akan mengetahui jika personel tersebut sudah melakukan perawatan sesuai rujukan atau tidak. Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya pantauan dan pengawasan terhadap perbaikan tingkat kesehatan personel yang didasarkan pada hasil urikes ini.

Pencarian datapun sangatlah sulit, misalnya jika terdapat permintaan akan daftar personel berdasarkan pangkat dan status kesehatan (stakes), maka tidak akan dapat langsung diproses, tetapi harus memilih dahulu satu persatu dan kemudian baru dimasukkan ke format tabel laporan. Stakes merupakan keterangan status kesehatan personel dalam tingkatan berikut :

Tabel 3.1. Jenis stakes No Jenis

stakes

Stakes puan/matra

Keterangan stakes Keterangan

1. I B Baik Jika terdapat kekurangan,

menjadi +P, yg berarti dengan Perawatan. 2. II C Cukup 3. III K Kurang 4. IV KS Kurang Sekali

Untuk personel yang mendapatkan hasil urikes dengan +P, dapat melakukan urikes ulang untuk menghilangkan status +P-nya, dengan melaksanakan perawatan sesuai dengan hasil konsultasi dokter terlebih dahulu. Penambahan +P, dapat berpengaruh kepada hasil urikes bagi personel yang harus menjalankan dinas tertentu, kenaikan pangkat ataupun pendidikan lanjutan. Karena dengan adanya +P, berarti personel tersebut harus melakukan perawatan atau penyembuhan terhadap suatu kondisi yang tidak baik pada tubuhnya.

(8)

 

31   

Gambar 3.4. Proses pelaksanaan urikes di Diskes

 

Gambar 3.5. Proses urikes di Rumkit 

(9)

3.4. Proses

Klinik

Pada setiap klinik, akan dilaksanakan proses pemeriksaan tertentu sesuai dengan bagiannya. Proses ini pada pelaksanaannya adalah sama, baik di Diskes maupun di Rumkit. Adapun proses tersebut dapat terlihat pada gambar berikut :

Objek Proses Kegiatan Proses lanjut

Gambar 3.6. Proses Klinik di Diskes dan Rumkit

Selain itu, terdapat pula uji kemampuan yang diperuntukkan bagi personel tertentu, seperti pasukan khusus dan yang berdinas di kapal perang. Untuk uji kemampuan terbagi menjadi 2 macam, yaitu :

Analisa Dokter Konsultasi keluhan Pemeriksaan Dokter Umum Catat hasil Treadmil 12 menit

Cetak grafik Catat hasil Test baca Catat hasil

Ambil sampel darah Proses laboratorium Catat hasil Periksa gigi dan mulut Catat hasil

Proses foto Cetak foto Catat

(10)

a. Uji Kemampuan Tempur, merupakan tes yang diperuntukkan bagi personel yang berdinas di kapal perang dan pasukan khusus (Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Penyelam bawah air (Lambair)) yang memiliki stakes I dan II, dengan berlokasi di Pondok Dayung serta dilaksanakan oleh Diskes. Melakukan tes kesehatan yang terdiri dari anthropometri, ergometri, spirometri, dan dinamometri (Gambar 3.7). Jenis laporan yang dihasilkan adalah stakes puan.

Gambar 3.7. Proses uji kemampuan tempur

b. Uji Kemampuan Matra, merupakan tes kesehatan bagi personel yang berdinas di satuan khusus, seperti Kopaska dan Lambair yang memiliki tanda keahlian / brevet. Pelaksanaan uji kemampuan ini di RSAL setelah pelaksanaan stakes puan, dengan personel yang telah direkap oleh Diskes, dengan pemeriksaan yang terdiri dari anthropometri, ergometri, spirometri, dinamometri, Oxygen Tolerance Test (OTT) dan audiometric (Gambar 3.8). Jenis laporan yang dihasilkan adalah stakes matra dan dikirimkan ke Diskes. Tes : 9 Anthropometri 9 Ergometri 9 Spirometri, 9 Dinamometri,

(11)

Laksanakan urikes puan Tes: • Anthropometri • Ergomettri • Spirometri • Dinamometri • OTT • Audiometri

Catat hasil Analisa dokter Urikes

puan?

no 

yes 

Gambar 3.8. Proses uji kemampuan matra

Adapun hasil yang didapat dari tes tersebut dapat terlihat pada tabel berikut : Tabel 3.2. Lingkup yang dihasilkan pada urikes untuk puan dan matra

No. Jenis Tes Hasil Pemeriksaan

1. Anthropometri Berat badan / tinggi badan

Indeks golongan

(massa tubuh) Lemak tubuh 2. Spirometri

(Paru-paru) Forced expiratory volume (FEV)

Forced vital capacity (FVC)

3 Ergometri

(Jantung) ECG VO2 Max

4. Dinamometri

Genggam tangan

kanan

Genggam

tangan kiri Punggung Tungkai Jml Otot

Waktu reaksi

5. Audiometri Ketajaman pendengaran

6. OTT Kekuatan pernafasan khususnya di bawah air

3.5. Perancangan

Sistem

Berdasarkan pada permasalahan yang dihadapi dan melihat pada kebutuhan pengguna terhadap suatu sistem informasi, maka flow proses yang merupakan kerangka pikir dari rencana perancangan sistem informasi urikes dapat dilihat pada Gambar 3.9. Pada kerangka ini, akan terlihat proses yang sudah

(12)

terintegrasi antara Diskes dan RSAL serta database server yang berada di RSAL. Dengan sistem yang sudah terintegrasi, maka antara Diskes dan RSAL untuk pengiriman serta penerimaan data dan laporan akan tersaji secara on-line, disamping itu kemampuan untuk akses data akan lebih up to date dan dapat dilaksanakan secara real time dan sharing.

Untuk permasalahan mengenai tidak terpantaunya personel yang harus mengalami perawatan, terdapat suatu notifikasi terhadap personel tersebut, baik secara langsung kepada personel tersebut maupun tidak langsung melalui Kepala Satuan Kerja (Kasatker). Hal ini, dapat dilakukan dengan melalui media komunikasi ataupun media elektronik yang ada, sehingga pengawasan terhadap perawatan kesehatan dapat terus berjalan dengan melibatkan semua aspek yang ada. Selain itu, dengan jumlah personel yang terbatas pada departemen urikes, maka dengan adanya sistem informasi ini masalah beban biaya, waktu dan keakuratan data serta informasi dapat teratasi.

Diketahui pula bahwa dalam pelaksanaan urikes terlalu dokumen atau paperwork yang kurang efisien. Pada saat dilakukan urikes, tiap personel perlu membawa lembar pemeriksaan yang akan diisi secara manual oleh petugas di tiap klinik. Kemudian dokumen ini akan di serahkan pada petugas Diskes untuk di-input-kan dalam data urikes. Setelah semua data di-input, dokumen tersebut tidak digunakan lagi, sehingga terjadi penumpukan dokumen yang tidak perlu. Hal ini menunjukan tidak efisiennya proses urikes. Karena itu, dengan sistem informasi yang akan dirancang akan dapat mengurangi penggunaan kertas dan dokumen yang merupakan sumber biaya. Petugas urikes dapat secara langsung meng-input-kan hasil pemeriksaan melalui komputer. Dengan database yang terintegrasi, hasil

(13)

pemeriksaan kesehatan personel dapat diketahui maupun di-update, sehingga tidak terjadi redundansi input data. Petugas Diskes dapat membuat laporan secara langsung dengan fitur yang disediakan, rekap data tidak perlu dilakukan secara manual, serta dapat diketahui jumlah personel yang telah melakukan urikes dan maupun yang belum, sehingga dapat diberi notifikasi atau peringatan. Sedangkan bagi para personel yang memerlukan hasil pemeriksaan urikes dapat membuka pada portal yang disediakan dan mencetak hasil atau membuat laporan.

Seperti yang dikatakan diatas, bahwa terdapat dua jenis pemeriksaan, yaitu urikes dan uji kemampuan. Urikes dilakukan oleh seluruh personel, sedangkan uji kemampuan dilakukan oleh pasukan khusus saja. Dengan menggunakan sistem ini, personel telah digolongkan berdasarkan strata, sehingga dapat diketahui personel tersebut harus melakukan uji kemampuan atau tidak. Bentuk form pemeriksaan juga berbeda antar strata, karena uji kemampuan memiliki prosedur pemeriksaan yang berbeda dengan urikes umum.

Berhubungan dengan hasil urikes di tiap klinik, sistem yang dirancang akan secara otomatis menunjukkan status stakes para personel. Petugas Diskes hanya perlu menginputkan hasil pemeriksaan dan secara otomatis sistem akan menyesuaikan dengan standar yang ada. Kemudian berdasarkan penilaian tersebut, status kesehatan personel dapat dihitung dan diketahui. Jika personel tersebut memerlukan perawatan, maka diperlukan keterangan tertentu dari dokter yang dapat ditulis pada bagian tersendiri (kotak keterangan) yang menjelaskan alasan personel harus melakukan perawatan.

(14)

 

 

(15)

3.6. Jenis

Penelitian

Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian kualitatif. Sehingga penelitian dilakukan dengan pengamatan, wawancara mendalam dan diskusi dengan narasumber. Disamping itu, penelitian ini tidak menggunakan hipotesa di dalam pembuktian suatu masalah, namun menggunakan kerangka konseptual di dalam menjelaskan dan mengklarifikasi rancangan yang diajukan.

3.7. Populasi dan Sampel

Di dalam penelitian ini populasi dan sampel untuk wawancara dan survey akan diambil dari personel yang termasuk di dalam anggota dari satuan kerja yang terdapat di Koarmabar (Komando Armada TNI AL Kawasan Barat) dan personel yang melakukan urikes di RSAL, serta karyawan atau personel yang bertindak sebagai personel medis terkait. Sedangkan untuk evaluasi perancangan sistem, responden yang dituju adalah kepala bagian terkait, yaitu Kepala Sub Dinas Pengembangan Sistem Disinfolata Armabar, Kadiskes Armabar, Kasi urikes, Kasubdep Urikes, Kepala Administrasi Urikes Diskes Armabar dan Rumkit, dan Kasi Urikes, sehingga jumlah sampel adalah 7 (tujuh) orang.

3.8. Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan di lokasi penelitian adalah wawancara dengan nara sumber, yaitu Diskes Armabar dan RSAL Dr. Mintohardjo. Pihak-pihak yang menjadi subjek di dalam wawancara adalah pihak yang berada dalam lingkup satker terkait ataupun personel yang melaksanakan urikes itu sendiri. Hasil

(16)

wawancara akan diekstrak dan dikategorikan untuk melihat kecenderungan jawaban responden.

Disamping itu, juga dilakukan tinjauan terhadap literatur yang terdiri dari jurnal penelitian internasional dan teori-teori yang mendukung baik yang berasal dari pustaka maupun secara online, atau yang sering disebut dengan studi pustaka.

3.9. Model

Penelitian

Untuk model penelitian yang digunakan adalah prescriptive research model, dengan model incremental dalam perancangan software. Selain itu, menggunakan model Health Care sebagai pendekatan untuk pelaksanaan penelitian dan pengembangan sistem informasi. Rancangan sistem informasi yang dihasilkan melalui penelitian ini akan dibandingkan dengan sistem yang sudah ada untuk pemeriksaan kesehatan pada Diskes dan RSAL, serta akan dilakukan perbandingan pula dengan literatur review yang dilakukan.

3.10. Metode Perancangan

Menggunakan metode konseptual dengan UML (Unified Modelling Language), pada konsep rancangan desain sistem informasi menggunakan class diagram, use case diagram, sequence diagram, dan activity diagram (Kendall dan Kendall, 2003). Selain itu, akan dibuat user interface sebagai contoh tampilan dari portal yang digunakan.

Gambar 3.10 Diagram-Diagram UML (Kendall dan Kendall, 2003) Class  diagram Usecase Sequence  diagram Activity  diagram User  Interface

(17)

Kendall dan Kendall (2003) mengatakan bahwa UML menyediakan peralatan yang berguna untuk analisis dan perancangan sistem. Dengan menggunakan UML, akan memiliki pemahaman yang lebih besar antara IT dan bisnis mengenai kebutuhan sistem dan proses-proses yang dibutuhkan untuk pencapaian kebutuhan sistem.

3.11. Analisa Desain Sistem

Sistem yang dirancang akan dianalisa berdasarkan dimensi-dimensi dependability system, yang terdiri dari availability, reliability, safety, dan security (Sommerville, 2008).

Gambar 3.11. Dependability System Dimensions (Sommerville, 2008) Availability  The ability of system to deliver  services when requested  Security  The ability of the system to  protect itself against accidental or  deliberate intrusion  Safety  The ability of the system to  operate without catastrophic  failure  Reliability  The ability of the system to  deliver services as specified    Dependability 

(18)

3.12. Metode Evaluasi Rancangan Sistem

Setelah dilakukan perancangan sistem urikes, maka kemudian akan dilakukan evaluasi rancangan sistem dengan menggunakan metode TAM (Technology Acceptance Model) untuk menilai atau memperoleh umpan balik dari pihak-pihak yang bersangkutan, seperti personel, petugas, maupun kepala bagian Diskes dan Rumkit atas rancangan sistem dalam penelitian ini.

Davis (1993) mengatakan bahwa untuk mengetahui kecenderungan sikap user untuk menggunakan atau dalam penggunaan teknologi dapat digunakan model TAM. Model ini menjelaskan faktor-faktor perilaku pengguna terhadap penerimaan penggunaan teknologi (Wibowo, 2008). Terdapat beberapa dimensi yang mempengaruhi penerimaan teknologi oleh user, yaitu perceived ease of use, perceived usefulness, attitude toward using, intention to use, dan actual usage. perceived ease of use dan perceived usefulness adalah sebagai prediktor terhadap attitude toward using, intention to use, dan actual usage.

Gambar 3.12. Technology Acceptance Model Dimensions (Davis, 1993)

Dalam penelitian ini, evaluasi hanya akan menggunakan 4 (empat) dimensi TAM, yaitu perceived ease of use, perceived usefulness, attitude toward using, dan

(19)

intention to use, karena penelitian ini hanya berupa rancangan proses. Sebelum mengisi kuesioner TAM, hasil dari penelitian ini akan dipresentasikan pada user, sehingga user dapat melihat proses dan tampilan yang ditawarkan, berserta manfaat dan perubahan dari proses sebelumnya yang manual menjadi sistem urikes yang terkomputerisasi. Berdasarkan penjelasan tersebut, user diminta untuk mengisi kuesioner TAM untuk melihat pandangannya terhadap rancangan sistem urikes.

Terdapat beberapa pertanyaan atau pernyataan untuk masing-masing dimensi TAM, yang akan dinilai oleh responden berdasarkan skala Likert 1 (satu) hinggal 5 (lima), dari sangat setuju (1) hingga sangat tidak setuju (5).

• Perceived Ease of Use (PEOU) adalah pandangan user tentang kemudahan dalam menggunakan teknologi, mudah dipahami, dipelajari, dan digunakan.

o I found the portal easy to use

o Learning to use this portal would be easy for me

o My intraction with the portal was clear and understandable o It would be easy for me to find information at the site

• Perceived Usefulness (PU) adalah kepercayaan user bahwa teknologi dapat memberikan manfaat jika digunakan.

o Using this portal would enhance effectiveness in medical checkup o Using this portal would improve medical checkup performance o Using this portal would increase productivity

(20)

• Attitude Toward Using (ATU) adalah sikap user baik berupa penerimaan atau penolakan untuk menggunakan teknologi.

o I dislike the idea of using this portal

o I gave a generaly favorable attitude toward using this portal o I believe it would be a good idea to use this portal for medical

checkup process

o Using this portal is a foolish idea

• Intention to Use (ITU) adalah keinginan user untuk memakai teknologi tersebut. Tingkat penggunaan teknologi komputer dapat dilihat dari perhatian user atas teknologi tersebut, seperti penambahan perangkat, motivasi untuk menggunakan, dan keinginan untuk memotivasi pengguna lain (Wibowo, 2008).

o I intend to use the portal when medical checkup in process

o I would return to this portal often when medical checkup in process

o I intend to visit this portal frequently

   

Gambar

Gambar 3.1. Kerangka Pikir Penelitian
Tabel 3.1. Jenis stakes  No  Jenis
Gambar 3.4. Proses pelaksanaan urikes di Diskes
Gambar 3.6. Proses Klinik di Diskes dan Rumkit
+4

Referensi

Dokumen terkait

Gambar 3.22 merupakan rancangan antarmuka halaman daftar tanaman yang ada pada database pada rancangan antarmuka halaman terdapat sebuah data table yang berisi kolom nama

5.18 Perhitungan Faktor Konversi Waktu Proses Tiap Obat Per Outer Dengan Mesin Sama untuk Proses. Pengisian 5

Metode Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu proses pembelajaran yang menekankan kepada peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam menemukan

Dalam metode penelitian ini langkah pertama yang harus dilakukan yaitu melakukan perhitungan penyesuaian harga sesuai dengan surat Nomor 06220.285 dari Badan Pusat

Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yakni suatu metode penelitian yang bersifat reflektif dengan melaksanakan

Adanya peningkatan keaktivan karena penambahan logam tertentu menunjukkkan bahwa ion logam diperlukan sebagai komponen dalam sisi aktif enzim. Mekanisme ion logam dapat

Sebagaimana kita tau pasar adalah sebuah tempat bertemunya pembeli dengan penjual guna melakukan transaksi ekonomi yaitu untuk menjual atau membeli suatu barang

Analisis deskriptif variable lingkungan kerja berdasarkan pada delapan pertanyaan yang dapat digunakan untuk mengukur seberapa berpengaruhnya variabel lingkungan kerja, Dari