Volume 2, No.1, Juni 2020 (70-80)
htttp://e-journal.sttaw.ac.id/index.php/kaluteros
GEREJA
DAN KEKUDUSAN ANGGOTA GEREJA Farida Tawuru May, S.Pd.K., M. Th
STT SOE
Abstract
The research describes about God and His holiness that demands to believers the Characteristic of God in their lives. 1 Peter 1:14-16, “so be ye holy in all manner of conversation” The Lord ask the holiness to be a purpose for a believers. Holiness become the main priority in Christianity lives
Abstrak
Penelitian ini memaparkan tentang Allah dan Kekudusan Allah yang menuntut supaya orang-orang Kristen mencerminkan sifat Allah dalam gaya hidup. Dalam 1 Ptr. 1:14-16 “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu”. Allah menuntut kekudusan menjadi tujuan para orang beriman. Kekudusan adalah sebuah prioritas atau tujuan hidup yang tertinggi.
Pendahuluan
Kehidupan manusia telah berubah. Kemajuan pengetahuan dan teknologi memberikan dampak yang positif bagi kehidupan manusia. Proses kemajuan ini adalah bagian daripada modernisasi. Selain memberikan dampak yang positif, modernisasi juga memberikan pengaruh negatif bagi manusia. Gaya hidup modern seperti hedonisme, materialisme, narsisme dan konsumerisme telah mempengaruhi seluruh sendi-sendi kehidupan manusia bahkan gaya hidup modern ini telah masuk ke dalam gereja. Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia (http://id.wikipedia.org/wiki/Hedonisme). Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata, dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra. Sementara itu, orang-orang yang hidupnya berorientasi kepada materi disebut sebagai "materialis". Orang-orang ini adalah para pengusung paham (ajaran) materialisme atau juga orang yang mementingkan kebendaan semata (harta,uang,dsb) (http://id.wikipedia.org/wiki/Materialisme). Narsisme, apabila seseorang yang narsis biasanya memiliki rasa percaya diri yang sangat kuat, namun apabila narsisme yang dimilikinya sudah mengarah pada kelainan yang bersifat patologis, maka rasa percaya diri yang kuat tersebut dapat digolongkan sebagai bentuk rasa percaya diri yang tidak sehat, karena hanya memandang dirinya sebagai yang paling hebat dari orang lain tanpa bisa menghargai orang lain. Selain itu, seseorang dengan sifat narsis yang berlebihan memiliki kecenderungan untuk meninggikan dirinya di hadapan orang lain, menjaga harga dirinya dengan merendahkan orang lain saat orang lain memiliki kemampuan atau hal yang lebih baik darinya, bahkan tidak segan
untuk mengasingkan orang lain untuk memperoleh kemenangan (http://id.wikipedia.org/wiki/Narsisisme). Konsumerisme adalah paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan. Hal tersebut menjadikan manusia menjadi pecandu dari suatu produk, sehingga ketergantungan tersebut tidak dapat atau susah untuk dihilangkan. Sifat konsumtif yang ditimbulkan akan menjadikan penyakit jiwa yang tanpa sadar menjangkit manusia dalam kehidupannya
http://id.wikipedia.org/wiki/Konsumerisme).
Kekudusan bukan lagi menjadi prioritas dan tujuan hidup manusia. Kekudusan menjadi hal yang langka bahkan hilang atau dihilangkan dan diganti dengan gaya hidup yang lebih modern. Sebagian orang Kristen lebih memilih kehidupan ini agar mereka tidak dikatakan tertinggal. Kecemaran atau mencemarkan kehidupan dengan dosa menjadi sebuah gaya hidup. Gaya hidup hedonisme, materialisme, dan konsumerisme bertentangan dengan standar gaya hidup yang telah Tuhan Yesus ajarkan. Kekudusan memiliki kata dasar kudus, yang mana kata ini tidak asing lagi bagi umat Kristen. Kata kudus berasal dari kata
qados atau qadosi yang berarti dikhususkan atau suci dalam
Perjanjian Lama, sedangkan dalam Perjanjian Baru adalah hagios yang berarti dengan memisahkan dan menjadikan milik Allah. Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku (Im. 20:26).
Dalam hal ini peran gereja sangat penting di dalam memberikan pengajaran benar kepada jemaat. Paulus mengatakan kepada jemaat di Roma, “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka”! (Rm.16:17).
Gereja Dan Kekudusan Anggota Gereja A. Definisi Gereja
Gereja menunjuk pada semua orang yang menjadi milik Tuhan, yaitu mereka yang telah dibeli oleh darah Kristus. Ada berbagai macam gambaran dan ekspresi yang digunakan untuk menjelaskan gereja. Gereja antara lain disebut tubuh Kristus, keluarga Allah, umat Allah, orang pilihan, mempelai perempuan Kristus, kumpulan orang-orang yang telah ditebus dan Israel yang baru.
Kata Perjanjian Baru untuk gereja, dari mana kita mendapatkan kata ekklesiatikal, artinya “mereka yang dipanggil keluar”. Gereja dilihat sebagai kumpulan atau jemaat pilihan, yaitu mereka yang dipanggil oleh Allah keluar dari dunia, pergi dari dosa dan masuk ke dalam wilayah anugerah.
St. Augustine mengatakan bahwa gereja di atas dunia ini adalah “suatu percampuran dari tubuh”, maka perlu dibedakan antara gereja yang kelihatan dan gereja yang tidak kelihatan. Gereja yang kelihatan terdiri dari orang-orang yang telah mengakui iman, dibaptis, dan terdaftar menjadi anggota suatu lembaga gereja. Tuhan Yesus menyatakan bahwa ada lalang yang akan tumbuh bersama-sama dengan gandum. Meskipun gereja adalah “kudus”, tetapi dalam zaman ini selalu ada yang tidak kudus bergabung didalamnya. Tidak semua orang yang memuliakan Kristus dengan mulut mereka, memuliakan Dia dengan hati mereka. Hanya Allah yang dapat membaca hati manusia. Oleh karena itu orang pilihan sejati akan terlihat oleh Tuhan, tetapi pada tingkat tertentu tidak dapat terlihat oleh kita. Gereja yang tidak kelihatan adalah transparan dan dapat dilihat sepenuhnya oleh Allah. Tugas orang pilihan adalah untuk membuat gereja yang tidak kelihatan menjadi kelihatan.1
Gereja adalah satu, kudus, katolik, dan apostolik. Gereja adalah satu. Meskipun terdiri dari berbagai macam denominasi,
1
R. C. Sproul, Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen. (Malang: SAAT, 2002) 285
orang pilihan disatukan oleh satu Tuhan, satu iman dan satu baptisan. Gereja adalah kudus oleh karena dikuduskan oleh Allah dan didiami oleh Roh Kudus. Gereja adalah Katolik (artinya universal) dalam arti keanggotaannya mencakup semua orang dari berbagai macam suku bangsa di seluruh permukaan bumi ini. Gereja adalah apostolik dalam arti pengajaran para rasul yang berisi Firman Tuhan yang kudus merupakan dasar dari gereja dan gereja itu harus dikelola dengan otoritas dari para rasul.
Merupakan tugas dan kehormatan bagi setiap orang Kristen untuk dipersatukan dalam gereja Kristus. Hal ini merupakan tanggung jawab kita yang penting untuk tidak mengabaikan persekutuan dengan saudara-saudara seiman kita dalam ibadah bersama-sama dan juga untuk berada di bawah penggembalaan gereja, serta secara aktif terjun sebagai saksi di dalam misi gereja.
Gereja bukan merupakan organisasi, tetapi suatu organisme. Gereja terdiri anggota-anggota yang hidup. Gereja disebut sebagai tubuh Kristus. Sebagaimana halnya dengan tubuh manusia yang disusun untuk berfungsi di dalam kesatuan dengan bekerja sama dan saling bergantung di antara anggota yang satu dengan yang lain, demikian pula halnya dengan gereja sebagai tubuh yang memperlihatkan kesatuan dan keragaman. Meskipun dikepalai oleh satu kepala yaitu Kristus, tubuh memiliki banyak anggota, setiap anggota dikaruniakan dan dipercayakan oleh Allah untuk memberikan sumbangsih pada pekerjaan dari seluruh tubuh.
B. Relevansi Gereja Dan Kekudusan Anggota Gereja Gereja pada masa sekarang adalah sebuah Gereja yang militan, maksudnya ialah bahwa Gereja dipanggil dan terikat kepada suatu pertempuran kudus. Tentu saja hal ini bukan berarti bahwa Gereja harus menghabiskan tenaganya dalam pergumulan-pergumulan yang menghancurkan diri sendiri, tetapi sesungguhnya Gereja terikat pada tugas untuk berperang melawan dunia yang jahat dalam bentuk kejahatan yang dinyatakan, baik di dalam maupun di luar Gereja, dan melawan
semua kuasa spiritual dari kegelapan. Gereja tidak boleh hanya menghabiskan seluruh waktunya untuk berdoa dan bermeditasi, betapapun kedua hal itu memang sangat perlu dan penting. Gereja pun tidak boleh hanya menikmati semua kesenangan warisan spiritual bagi dirinya saja. Gereja harus terus berjuang dengan sekuat tenaga dalam perjuangan Tuhannya, berperang untuk bertahan dan menyerang.2 Sebaliknya tidak ada gereja yang bebas
dari kesalahan dan dosa. Hanya di surga gereja akan sempurna. Ada perbedaan yang berarti antara pencemaran yang mempengaruhi semua institusi dan kemurtadan. Oleh karena itu, adalah penting untuk mendefinisikan tanda-tanda dari gereja yang sejati untuk memelihara, melindungi, dan menggembalakan umat Allah. Secara historis tanda-tanda dari gereja yang sejati telah didefinisikan sebagai berikut:3 (1) memberitakan Firman
Tuhan dengan benar, (2) menggunakan sakramen sesuai dengan institusi mereka, dan (3) menjalankan disiplin gereja.
1. Pemberitaan Firman Tuhan dengan benar.
Meskipun gereja-gereja berbeda secara rinci dalam teologi dan di dalam tingkatan kemurnian doktrin, gereja yang sejati mengakui semua hal yang esensial bagi iman Kristen. Demikian pula gereja dinyatakan palsu atau sesat, apabila gereja itu menyangkali secara resmi esensi inti dari iman Kristen, misalnya keilahian Kristus, Tritunggal, pembenaran karena iman, penebusan Kristus, atau doktrin lain yang esensial bagi keselamatan. Contohnya, Reformasi tidak mempermasalahkan hal yang tidak prinsipil, melainkan tentang masalah doktrin keselamatan kardinal (yang pokok).
2. Pelaksanaan sakramen.
Gereja yang menyangkali atau menyepelekan sakramen yang diperintahkan oleh Kristus merupakan gereja yang salah. Pelecehan Perjamuan Tuhan atau mengizinkan
2
Louis Berkhof, Teologi Sistematika, Vol. 5, Doktrin Gereja. (Surabaya: Momentum, 2008) 25
3
orang tidak percaya untuk mengikuti Perjamuan Kudus akan menunjukkan bahwa gereja tersebut bukan gereja yang sejati.
3. Disiplin gereja.
Pelaksanaan disiplin gereja yang kadang-kadang dapat salah, baik dalam petunjuknya, kekerasannya atau cakupannya, dapat terlihat kesalahannya sehingga kesalahannya tidak diakui. Contohnya, apabila sebuah gereja secara terbuka dan tanpa pertobatan mendukung pelaksanaan atau menolak mendisiplin dosa yang sangat keji dan menjijikkan, maka gereja itu telah gagal untuk memperlihatkan tanda dari gereja yang sejati.
Gereja yang sejati mempunyai peran penting untuk memelihara, melindungi dan menggembalakan umat Allah. Umat Kristen perlu diingatkan untuk tidak memiliki sifat memecah belah, atau bertengkar satu dengan yang lain, tetapi mereka juga harus diperingatkan untuk bertanggung jawab memisahkan diri mereka dari perkumpulan orang-orang yang sesat. Ada beberapa alasan yang sederhana agar orang Kristen hidup di dalam kekudusan, yakni:4
1. Karena kita dipanggil untuk menjadi kudus
Dalam 1 Tes. 4:7 dikatakan Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Manusia bukan hanya dipanggil tetapi juga dipilih, dikhususkan, disucikan, dan dipisahkan untuk menjadi suatu umat yang kudus bagi Allah (Kel. 19:6, Im. 20:26, 1 Pet. 2:9).
2. Kita adalah Bait Allah
Bait Allah merupakan suatu tempat yang kudus dan hadirat Allah akan hadir di dalamnya, untuk itulah seharusnya kita memelihara tubuh kita yang merupakan bait Allah yang hidup, agar selalu suci dan bersih dari segala kenajisan dan kecemaran.
3. Kita adalah anak-anak-Nya
4
Th. C. Vriezen, Agama Israel Kuno. (Jakarta: Gunung Mulia, 2003) 20
Dalam Mat. 5:48 dikatakan “karena itu haruslah kamu sempurna”. Alkitab mengatakan sebagai Anak Allah, kita duduk bersama-sama dengan Tuhan Yesus di surga, disebelah kanan Allah (Mrk. 16:19). Kekudusan menunjukkan kita sebagai Anak Allah.
4. Kita adalah anggota-anggota tubuh-Nya
Dalam 1 Kor. 12:27 “kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggota-Nya” untuk itu sebagai anggota tubuh Kristus kita harus hidup sesuai dengan kehendak Kristus. Dalam 1 Tes. 4:7 dikatakan Allah memanggil kita bukan untuk melakukan yang cemar, melainkan apa yang kudus. Manusia bukan hanya dipanggil tetapi juga dipilih, dikhususkan, disucikan, dan dipisahkan untuk menjadi suatu umat yang kudus bagi Allah (Kel. 19:6, Im. 20:26, 1 Pet. 2:9).
Kehidupan yang kudus adalah syarat yang mutlak bagi umat Kristen. Dalam Perjanjian Lama dan Baru sifat Allah yang paling khas adalah kekudusan-Nya. Walaupun bangsa-bangsa dan tempat-tempat disebut kudus, tetapi hanyalah dalam artian dikhususkan bagi Allah, karena hanya Allah yang kudus (bnd. Yes. 6). Kekudusan itu berarti bahwa Dia betul-betul murni dalam sikap dan pikiran.5 Orang Israel
sebagai umat Allah yang harus menjadi bangsa yang kudus selaku umat Allah dan hal ini harus nyata dalam hidup sehari-hari, dengan menjauhkan diri dari segala kenajisan. Tahir berarti bersih dari segala dosa. Ketahiran barulah berarti suci jika hati menggambarkan dan disertai oleh kesucian batin, disertai oleh hati yang bersih dari dosa. Itulah sebabnya Allah memberikan berbagai syarat-syarat yang harus diikuti oleh bangsa Israel, jika mereka hendak hidup dalam persekutuan dengan Allah. Mereka juga dituntut untuk hidup dalam ketahiran pada kehidupan sehari-hari, misalnya syarat ketahiran jika terkena kepada mayat (bnd. Bil. 19), dalam persoalan makanan juga mereka
5
Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru I. (Jakarta: Gunung Mulia, 1995) 77
diatur (Bnd. Im. 11 dan Ul. 14:1-21). Alasan syarat-syarat ini diberikan dalam Im. 20:25, 26. Israel adalah umat Allah yang diasingkan dari bangsa-bangsa lain; pengasingan ini harus nyata dari hal, bahwa bangsa Israel dalam segala hal melakukan kemauan Allah, taat dan menurut kepada Allah.6
Selanjutnya, Israel yang suatu bangsa yang dikhususkan bagi Allah diantara semua bangsa di bumi, gaya hidupnya dan sebenarnya karakternya harus menyatakan kepada semua bangsa makna dari identitas dan misi Allah. Allah menuntut kekudusan yang mutlak bagi umat Israel.
Sebagai orang yang dikuduskan oleh Allah, secara tegas Allah mengatakan supaya setiap orang harus menunjukkan bahwa dia adalah orang yang sudah dikuduskan. Harus dinyatakan dalam setiap saat dengan menaati perintah yang diberikan-Nya. Jika setiap saat umat-Nya menaati perkataan-Nya mereka akan aktif menguduskan kehadiran Allah ditengah-tengah mereka. Allah akan menguduskan mereka dan umat itu diberikan kepada Allah yang kudus. Sebagai umat yang menaati perintah Tuhan, Israel harus bersikap seperti yang Allah lakukan, supaya layak dipanggil sebagai umat yang kudus, demikianlah juga kita.7
Bila kita lihat pemilihan yang dilakukan Allah kepada imam, terlihat bahwa sebagai seorang hamba yang khusus, imam harus ditetapkan dan dikuduskan (Im. 8), diajar tentang cara perantaraan yang benar untuk membawa kurban (Im. 9:1-10:7); untuk memahami jabatan dan pelayanannya yang istimewa menuntut norma-norma untuk berkaitan dengan integritas dan perilaku (10:8-15). Dengan perkataan lain, imam adalah orang yang kudus yang
6
F.L. Baker, Sejarah Kerajaan Allah I. (Jakarta: Gunung Mulia , 2007) 370
7
C. H. Mackintosh, Notes On The Book Of Leviticus. (New York: : Loizeaux Brother, 1959) 307
melayani Allah yang kudus untuk kepentingan umat yang kudus.
Kekudusan Allah menuntut supaya orang-orang Kristen mencerminkan sifat Allah dalam gaya hidup. Dalam 1 Ptr. 1:14-16 “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu”. Allah menuntut kekudusan menjadi tujuan para orang beriman. Kekudusan adalah sebuah prioritas atau tujuan hidup yang tertinggi. Paulus berkata, “Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan” (II Tim. 2:19) dan menurut Ibrani 12:10 Allah amat mendambakan kekudusan kita: Dia “menghajar” kita “supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya”.8 Allah memiliki standar di dalam
kekudusan karena Allah adalah kudus.
Penutup
Gereja dan kekudusan anggota gereja tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling berhubungan karena gereja menunjuk pada semua orang yang menjadi milik Tuhan dan gereja juga adalah tubuh Kristus. Umat Kristen atau anggota gereja dipanggil oleh Tuhan untuk hidup kudus, didalam surat Paulus untuk jemaat di Tesalonika, Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus (1Tes. 4:7).
Beberapa alasan yang sederhana agar orang Kristen hidup di dalam kekudusan. Pertama, umat Kristen dipanggil menjadi kudus. Kedua, menjadi tempat yang kudus bagi
8
Tony Evans, Teologi Allah (Allah Kita Maha Agung). (Malang: Gandum Mas, 1999) 101
Allah (Bait Allah). Ketiga, Alkitab mengatakan sebagai Anak Allah, kita duduk bersama-sama dengan Tuhan Yesus di surga, disebelah kanan Allah (Mrk. 16:19). Keempat, menjadi anggota-anggota tubuh-Nya yang mana harus sesuai dengan kehendak Kristus.
Gereja yang sejati memiliki peran yang sangat penting di dalam memelihara, melindungi dan menggembalakan umat Allah. Umat Kristen perlu diingatkan untuk hidup dalam kekudusan. Tanda-tanda dari gereja sejati adalah memberitakan Firman Tuhan dengan benar, menggunakan sakramen sesuai dengan institusi mereka, dan menjalankan disiplin gereja.
Daftar Pustaka
Baker, F.L. Sejarah Kerajaan Allah I. Jakarta: Gunung Mulia, 2007
Berkhof,Louis. Teologi Sistematika, Vol. 5, Doktrin Gereja. Surabaya: Momentum, 2008
Evans,Tony. Teologi Allah (Allah Kita Maha Agung). Malang: Gandum Mas, 1999
Guthrie, Donald. Teologi Perjanjian Baru I. Jakarta: Gunung Mulia, 1995
Mackintosh, C. H. Notes On The Book Of Leviticus. New York: Loizeaux Brother, 1959
Sproul, R. C. Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen.
Malang: SAAT, 2002 Vriezen,Th. C. Agama Israel Kuno. Jakarta: Gunung Mulia,