PENAJAMAN KARAKTERISTIK PRIBADI KONSELOR PADA MAHASISWA JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENAJAMAN KARAKTERISTIK PRIBADI KONSELOR PADA MAHASISWA JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Galang Surya Gumilang Universitas Nusantara PGRI Kediri

galangsuryagumilang@yahoo.com Abstrak

Artikel ini membahas mengenai karakteristik pribadi konselor, pembelajaran kooperatif, tujuan pembelajaran kooperatif, prosedur pembelajaran kooperatif, tahap pembelajaran kooperatif dan penajaman karakteristik pribadi konselor dengan pembelajaran kooperatif bagi mahasiswa jurusan bimbingan dan konseling. Konselor dikatakan profesional wajib memberikan layanan yang maksimal dan mampu menciptakan hubungan efektif karena hal tersebut merupakan kunci keberhasilan konseling. Mahasiswa sebagai calon konselor harus memiliki karakteristik pribadi yang mulia karena sangat penting dalam konseling. Penajaman karakteristik pribadi dengan menggunakan strategi pembelajaran pembelajaran kooperatif membantu dosen dalam memahami mahasiswa agar mampu mempertajam karakteristik pribadi seorang konselor selama menempuh perkuliahan.

Kata Kunci: pribadi konselor, pembelajaran kooperatif, bimbingan dan konseling. PENDAHULUAN

Unjuk kerja konselor saat ini belum menunjukkan hasil yang maksimal, sehingga masih banyak kesalahpahaman pada masyarakat mengenai pekerjaan seorang konselor sekolah. Masyarakat masih menganggap bahwa BK hanya sebagai polisi sekolah, seringkali orang tua siswa yang dipanggil ke sekolah berfikir bahwa anaknya bermasalah. Di banyak sekolah gambaran kondisi konselor adalah guru yang paling enak pekerjaannya, sering tugas kunjungan rumah, tugasnya ringan, kurang kerjasama dengan guru lain dan guru, ruang BK kurang data tentang perkembangan siswa, kurang eksistensinya karena datang terlambat dan pulang cepat (Rasiyo, 2008). Ditambahkan Juga oleh Triyono (2012) bahwa kesalahpahaman yang sering terjadi karena konselor senang bekerja sendiri tanpa kolaborasi dengan guru, suka menunggu perintah, kurang disukai siswa, kurang inovatif, menangani pelanggaran siswa saja, dan bergantung pada sumber daya sistem.

Guru dan konselor pun sendiri juga memiliki kesalahpahaman mengenai BK, menurut Rasiyo (2008) beberapa kesalahan persepsi dari kepala sekolah atau guru tersebut antara lain di antaranya konselor dianggap polisi sekolah, BK dianggap semata-mata sebagai proses menasihati, BK dibatasi hanya menangani masalah yang bersifat insidental, BK bekerja sendiri, konselor harus aktif sedang pihak lain pasif, menganggap pekerjaan BK bisa dilakukan oleh siapa saja, menganggap hasil pekerjaan BK harus bisa segera dilihat, dan memusatkan usaha BK pada instrumentasi BK.

Unjuk kerja yang kurang maksimal, maka kurang berdampak juga pada kemandirian siswa secara keseluruhan, utamanya yang berdampak langsung terhadap prestasi akademik siswa. Wawancara yang dilakukan kepada beberapa mahasiswa praktikan BK yang telah melakukan praktikum bimbingan dan konseling di beberapa SMP dan SMA di Kota Malang, pada Kamis, 15 Nopember 2012, menunjukkan bahwa masih banyak konselor sekolah yang melakukan pekerjaan sebagai konselor yang belum menunjukkan karakter pribadi dan integritas profesional konselor seperti menganggap

(2)

siswa yang datang ke BK selalu bermasalah, memiliki pikiran negatif terhadap salah satu siswa yang dianggap nakal, dan proses konseling yang dilakukan berkutat pada proses menasihati. Hal ini juga diperkuat pendapat Setyowati (2011) bahwa penyelenggaraan layanan konseling keempat sekolah yang menjadi subjek penelitiannya di Kota Malang masih jauh dibawah standar yang ditetapkan oleh ABKIN. Demikian juga pendapat Triyono (2005) yang mengutarakan bahwa dalam praktik sering dijumpai konselor yang mengikuti alur teoretik terfiksasi pada upaya menerapkan prosedur secara benar, sehingga kurang memperhatikan kondisi konseli. Pada saat bersamaan, banyak konseli melaporkan bahwa konselor tidak menyelami “dunia dalam” pribadi mereka.

Hal tersebut menunjukkan bahwa konselor di lapangan belum memenuhi ekspektasi kinerja konselor. Ekspektasi kinerja konselor dalam menyelenggarakan pelayanan ahli bimbingan dan konseling senantiasa digerakkan oleh motif altruistik, sikap empatik, menghormati keragaman, serta mengutamakan kepentingan konseli, dengan selalu mencermati dampak jangka panjang dari pelayanan yang diberikan (Depdiknas, 2007). Hal ini menujukkan bahwa seorang konselor pribadi harus memadukan karakter pribadi dan keterampilan teoritik dalam melaksanakan layanan ahli bimbingan dan konseling. Ditambahkan juga oleh Rogers (1961) mengenai pentingnya kualitas pribadi konselor. Menurut Rogers, persepsi konseli tentang sikap konselor lebih penting daripada teori-teori dan metode yang dimiliki konselor.

Uraian mengenai pentingnya seorang konselor memiliki karakteristik pribadi yang kuat bermuara kepada pentingnya mahasiswa S1 Bimbingan dan Konseling sebagai calon sarjana bimbingan dan konseling untuk memahami dan patut untuk dipersiapkan agar mampu menginternalisasi karakter pribadi konselor dan menjadi sosok konselor yang memiliki integritas profesional. Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang sebagai LPTK yang menghasilkan calon konselor sekolah yang profesional, telah memiliki kurikulum yang komprehensif, yaitu 144 SKS matakuliah yang terdiri dari matakuliah teori, praktik, dan pengalaman lapangan.

Namun kurikulum yang telah disusun sedemikian rupa tidak disertai dengan sistem pengajaran yang cukup untuk membantu mahasiswa menghayati proses pembelajaran. Hidayah (2009) menyatakan bahwa pembelajaran di LPTK 2 (Universitas Negeri Malang) dalam subjek penelitiannya masih menggunakan paradigma penerusan informasi (content transmission paradigm). Ditambahkan juga, pada pembelajaran rumpun konseling cenderung mengutamakan penguasaan kognitif dan mengabaikan pembentukan sikap dan nilai serta keterampilan sebagai upaya pembentukan karakter. Hal tersebut juga diperkuat pendapat Triyono (2005) ” Tekanan pembelajaran konseling bagi calon konselor cenderung ke penguasaan keterampilan kognitif dan mengabaikan pengembangan aspek sikap dan afeksi calon konselor.”

Hal ini menunjukkan implementasi kurikulum S1 Bimbingan dan Konseling belum menggambarkan pengalaman belajar yang secara spesifik ditunjukkan sebagai wahana pembentukan penguasaan kompetensi. Hal ini merupakan suatu kesenjangan yang menimbulkan keprihatinan. Triyono (2012) mengemukakan ”Mahasiswa calon konselor harus memperoleh pengalaman belajar yang dihayati untuk memperoleh expected competency profile maupun required exit competency profile dengan pengalaman yang diperoleh dari hasil konstruksi pengetahuannya sendiri” hal diatas hanya akan diperoleh apabila mahasiswa diberi kesempatan untuk secara spesifik dan aktif untuk mengkonstruksi pemahamannya sendiri. Hal ini juga diperkuat pendapat Rosjidan (2002) bahwa pendidikan konselor bukan hanya pada tataran akademik dan intelektual saja atau segi kognitif dan ketrampilan tetapi juga lebih mengutamakan segi afektif atau sikap pribadi konselor. Pengembangan program pendidikan BK agaknya tidak cukup memadai jika hanya menstandarisasi daftar mata kuliah yang diperlukan mahasiswa sarjana S1 BK tetapi juga harus menstandarisasikan pengorganisasian

(3)

pengalaman belajar mahasiswa yang memungkinkan tercapainya pembentukan sikap pribadi dan kompetensi profesional BK (Rosjidan, 2002).

Adanya kesenjangan antara sosok utuh konselor profesional dengan kenyataan di lapangan saat ini menujukkan bahwa proses pembelajaran di jurusan BK perlu mendapat perhatian lebih. Kurikulum yang telah disusun harus disertai dengan proses pembelajaran yang mendukung. Agar mampu menghasilkan sarjana konseling profesional, utamanya yang memiliki karakteristik pribadi yang mendukung kinerja profesional.

Salah satu cara untuk membentuk pribadi konselor yang unggul adalah dengan adanya penajaman karakteristik pribadi konselor oleh mahasiswa bimbingan dan konseling. penajaman karakteristik pribadi mahasiswa BK dapat menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran yang membantu mahasiswa mengkonstruksi pemahamannya. Hal ini juga dikemukakan oleh Triyono (2012) bahwa pemeliharaan mutu pendidikan prajabatan diantaranya melalui pemberian pengalaman belajar yang dihayati oleh peserta didik yang implikasinya terhadap proses pembelajaran adalah partisipasi dosen dalam membentuk pengetahuan, keterampilan secara individual atau kelompok, bukan sekedar menyampaikan pengetahuan.

KARAKTERISTIK PRIBADI KONSELOR

1. Karakter Pribadi dan Identitas Konselor Profesional

Konselor adalah tenaga pendidik profesional yang telah menyelesaikan pendidikan akademik strata satu program studi bimbingan dan konseling dan program pendidikan profesi konselor dari LPTK yang teraktreditasi (Depdiknas, 2007). Terminologi karakter pribadi dan konselor profesional merupakan hal seringkali ditemukan bersamaan, yang menujukkan bahwa karakter pribadi merupakan hal penting yang menjadi bagian dari konselor profesional. Hal tersebut ditegaskan oleh Engles (2004) ”Konselor profesional memiliki komitmen kuat pada profesi konseling dan memiliki karakter pribadi yang mampu membangun dan memelihara hubungan terapiutik yang memfasilitasi perkembangan konseli yang bertanggung jawab secara etis.”

American Counseling Association (ACA) memberikan deskripsi konselor profesional, konselor profesional harus menguasai kompetensi utama yaitu Professional identity, social and cultural diversity, human growth and development, career development, helping relationship, group work, assessment and research and program evaluation, dan bagi konselor sekolah ditambahkan foundation of school counseling, contextual dimensions of school counseling, knowledge and skill requirement for school counselor (Engels, 2004).

Engels (2004) juga secara rinci memberikan daftar karakteristik pribadi konselor profesional yang meliputi genuine, terbuka, memahami persepektif belajar, memiliki self worth yang kuat, tidak takut atas kesalahan dan berupaya mengkaji, mengikuti perkembangan peserta didik, peka, hangat, dan harmonis.

Senada dengan hal diatas, di dalam negeri juga dikenal sosok utuh konselor profesional yang merujuk Standar Kompetensi Konselor Indonesia (SKKI). SKKI juga menempatkan pribadi konselor sebagai salah satu bagian penting dari konselor profesional, dijelaskan bahwa konselor profesional harus memiliki penguasaan konsep, penghayatan dan perwujudan nilai, penampilan pribadi yang sangat membantu, dan unjuk kerja profesional yang akuntabel. Kompetensi konselor dibangun dari landasan filosofis tentang hakekat manusia dan kehidupannya sebagai makhluk Tuhan, pribadi, dan warga negara yang ada dalam konteks kultur Indonesia (ABKIN, 2007).

Standar konselor di Indonesia terdiri atas dua komponen yang berbeda namun terintegrasi dalam praksis sehingga tidak bisa dipisahkan yaitu kompetensi akademik dan kompetensi profesional. Standar tersebut dijabarkan menjadi: Konselor professional memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani; Konselor professional menguasai landasan teoretik bimbingan dan konseling; Konselor profesional

(4)

menyelenggarakan bimbingan konseling yang memandirikan; dan Konselor profesional mengembangkan pribadi dan profesionalitas secara berkelanjutan (Depdiknas, 2007). 2. Peran Karakter Pribadi dalam Mendukung Keberhasilan Konseling

Pribadi konselor adalah penentu keberhasilan layanan kepada konseli, sedangkan kemampuan akademik dan teknik keterampilan keilmuan adalah faktor eksternal yang mendukung. Ivey, dkk (2010) menyatakan bahwa Konselor harus mampu memadukan kekuatan-kekuatan pribadi sebagai internal skills dan keterampilan-keterampilan yang dipelajari sebagai external skills. Dalam bukunya, digambarkan sebuah kerucut kemampuan konseling, yang mana kerucut tersebut menggambarkan keberadaan motif membantu dan mind skills yang melandasi kinerja Konselor. Keterampilan eksternal yang secara umum terdiri atas keterampilan memperhatikan, keterampilan mendengarkan, dan keterampilan mempengaruhi harus dikuasai agar konselor mampu menjadi kepercayaan konseli. Konselor yang memiliki/menguasai internal skills dan external skills dan menginternalisasikan sebagai bagian pribadinya, diharapkan akan mampu membantu konseli secara tepat, sebab orientasi membantunya akan didasarkan pada internal frame of reference dari setiap konseli yang dibantunya.

Senada dengan pendapat diatas, Rogers (1961) menegaskan bahwa konselor harus memiliki karakteristik pribadi yang baik untuk mendapatkan hasil konseling yang efektif, diantaranya ketulusan (congruence), pengertian berdasar empati (emphaticunderstanding), dan penerimaan tanpa syarat (unconditionalpositifregard). Kualitas kepribadian konselor adalah kepribadian yang matang dan terus berkembang yang memungkinkan konselor dapat melaksanakan konseling individu yang sedang dalam tahap-tahap perkembangannya.

Senada dengan pendapat diatas, Gladding (2009) menyatakan ”konselor efektif adalah orang yang berhasil mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan kedalam kehidupannya, yang mana mereka memiliki keseimbangan antara kompetensi teknis dan kemampuan interspersonal”.

Kualitas pribadi konselor adalah memiliki minat yang natural pada diri sesesorang (Curiosity and inquisitiveness); memiliki keterampilan untuk mendengarkan (Ability to listen); dapat menikmati percakapan verbal (Comfort with conversation);memiliki kemampuan untuk memahami dan menempatkan diri dalam diri orang lain (Emphatic and understanding); merasa nyaman dengan berbagai perasaan, mulai dari marah sampai gembira (Emotional insightfulness); memiliki kemampuan untuk melihat atau merasakan secara dalam (Introspection); memiliki kemampuan untuk mengkesampingkan kebutuhan pribadi dalam rangka untuk mendengarkan dan mengutamakan kebutuhan-kebutuhan orang lain (Capacity for self-denial); memiliki kemampuan untuk mempertahankan kedekatan emosional (Tolerance of intimacy); bersedia menerima kekuatan pada tingkatan tertentu (Comfort wish power); dan memiliki kapabilitas untuk melihat peristiwa kehidupan yang pahit dan humor di dalamnya(Ability to laugh)(Foster, 1996; Guy, 1987; dalam Gladding, 2009). Neukrug (2003) Juga menyatakan bahwa konselor yang efektif memiliki beberapa karakteristik antara lain empati, genuineness, acceptance, berpikiran terbuka, mawas diri, memiliki penyesuaian psikologis, mampu membangun hubungan, dan berkompetensi.

PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Pembelajaran kooperatif atau bisa disebut dengan student-team learning, adalah pembelajaran yang menekankan belajar dalam seting-seting kelompok (Slavin, 2006). Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan pembelajaran kelompok yang pembagian kelompoknya dilakukan secara asal-asalan (Widiani, 2010). Pembelajaran kooperatif didasari oleh teori social interdependence, yang diprakarsai oleh teori psikoterapi gestalt pada awal 1900an (Johnson & Johnson, 2009a). Saling ketergantungan sosial adalah satu

(5)

peristiwa saat hasil dari seorang individu diperoleh dari hasil kerjanya sendiri dan dipengaruhi orang disekitarnya (Johnson & Johnson, 2009b). Terdapat dua tipe saling ketergantungan sosial, yaitu tipe saling ketergantungan positif jika aksi seorang individu membantu mencapai prestasi/tujuan individu lain dan ketergantungan negatif ketika aksi seseorang menghalangi pencapaian tujuan yang individu lain. Saling ketergantungan sosial harus dibedakan dari ketergantungan sosial, kemandirian, dan ketidakberdayaan. Ketergantungan sosial muncul ketika pencapaian tujuan A dipengaruhi oleh perilaku B, tapi tidak sebaliknya. Kemandirian sosial muncul saat pencapaian tujuan A tidak dipengaruhi B, begitu juga sebaliknya. Ketidakberdayaan sosial muncul saat individu tersebut dan juga orang lain tidak dapat mempengaruhi pencapaian tujuan (Johnson & Johnson, 2009a).

Aplikasi teori saling ketergantungan sosial dalam pendidikan telah menjadi aplikasi dari teori psikologi sosial dan pendidikan yang paling sukses dan banyak digunakan. Meskipun pembelajaran dalam kelompok kecil telah banyak digunakan sebelum teori ini muncul, penggunaan pembelajaran kooperatif pada masa modern baru dimulai pada 1966 saat pelatihan para guru di Universitas Minessota (Johnson & Johnson, 2009a). Pembelajaran kooperatif sendiri merupakan suatu strategi belajar-mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih. Hal ini diperkuat pendapat Johnson & Johnson (2009b) bahwa dalam situasi pembelajaran kooperatif, terjadi saling ketergantungan positif diantara pencapaian tujuan siswa. Siswa merasa bahwa mereka dapat mencapai tujuan belajarnya jika dan hanya jika siswa lain dalam kelompok juga mencapai tujuan mereka. Dengan demikian, keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri (Widiani, 2010).

Penggunaan kelompok-kelompok kecil dalam pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan pembelajaran masing-masing anggota (Johnson & Johnson, 2009b). Dalam pembelajaran kooperatif, siswa mendiskusikan materi yang dipelajarai dengan temannya, menolong seseorang atau yang lain dalam kelompok untuk memahami materi tersebut, dan menyemangati yang lain untuk bekerja keras.

Terdapat berbagai jenis strategi pembelajaran kooperatif yang diperoleh dari hasil penelitian seperti yang diungkapkan Johnson & Johnson (2009a) terdapat beberapa bentuk pembelajaran kooperatif yaitu Teams-Games-Tournament, Student Teams Achievement Divisions, group investigation, academic controversy, jigsaw, Team Assisted Individualization, complex instruction, the structural approach, Cooperative Integrated Reading and Composition Program, dan sebagainya.

TUJUAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok konvensional yang menerapkan sistem kompetisi, yang mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 2006). Anita Lie (2008) menyebutkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran dapat mengembangkan:

1. Hasil belajar akademik

Pembelajaran kooperatif mencakup beragam tujuan sosial dan juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan

(6)

dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

2. Penerimaan terhadap perbedaan individu

Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.

3. Pengembangan keterampilan sosial

Tujuan ketiga pembelajaran kooperatif yaitu mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh mahasiswa sebagai wujud internalisasi konsep karakter pribadi konselor. PROSEDUR PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Prosedur pembelajaran kooperatif ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja bersama dalam kelompok kecil, dan memberikan ganjaran atas keberhasilan kolektif. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Menurut Johnson & Johnson (2009a) pembelajaran kooperatif mempersyaratkan lima elemen, yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab pribadi, keterampilan interpersonal, interaksi tatap muka, dan berproses kelompok.”

Strategi pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang paling sering dijadikan objek penelitian. Penelitian selama empat puluh tahun terakhir mennjukkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang paling efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa dan pencapaian teman sekelas mereka dibanding strategi pembelajaran yang lain (Johnson & Johnson, 2009b). Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dua kelebihan, yaitu keuntungan akademis dan keuntungan sosial-emosional.

Untuk menciptakan kebersamaandalam belajar, guru harus merancang program pembelajarannya dengan mempertimbangkan aspek kebersamaan peserta didik, sehingga mampu mengkondisikan dan memformulasikan kegiatan belajar peserta didik dalam interaksi yang aktif interaktif dalam suasana kebersamaan. Kebersamaan ini bukan saja di dalam kelas, tetapi juga di luar lingkungan kelas (Widiani, 2010).

TAHAP PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Berikut ini adalah tahap-tahap pembelajaran kooperatif secara umum seperti yang ditulis Johnson & Johnson (2009b) bahwa dalam pembelajaran kooperatif terdapat beberapa tahapan:

1. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan pebelajar untuk siap belajar. 2. Memberikan informasi kepada para pebelajar secara verbal.

3. Mengorganisir pebelajar kedalam kelompok-kelompok belajar. Menjelaskan tentang tata cara pembentukan kelompok belajar dan membantu kelompok melakukan transisi yang efisien.

4. Membantu kelompok-kelompok dalam belajar selama pebelajar mengerjakan tugasnya

5. Mengevaluasi pengetahuan pebelajar mengenai berbagai materi pembelajaran atau kelompok-kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

(7)

6. Memberikan pengakuan atau pengharagaan atas usaha dan presentasi individu maupun kelompok.

PENAJAMAN KARAKTERISTIK PRIBADI KONSELOR DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF BAGI MAHASISWA JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Proses pembelajaran yang banyak dipraktikkan di perguruan tinggi sekarang ini sebagian besar berbentuk penyampaian secara tatap muka (lecturing), searah. Pada saat mengikuti kuliah atau mendengarkan ceramah, mahasiswa akan kesulitan untuk mengikuti atau menangkap makna esensi materi pembelajaran, sehingga kegiatannya sebatas membuat catatan yang kebenarannya diragukan (Depdiknas 2008). Pola pembelajaran seperti diatas kurang memadai untuk mencapai tujuan pendidikan berbasis kompetensi. Diperlukan perubahan pola pembelajaran yang mampu meningkatkan kompetensi para peserta didik.

Jurusan bimbingan dan konseling saat ini menggunakan kurikulum berbasis kompetensi. Perubahan dari content transmission paradigm menuju competency based instructionmelibatkan penciptaan lingkungan dan pengalaman yang memungkinkan para mahasiswa mencari, menemukan, dan mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Pengajar diharapkan menjadi pembimbing dan mentor, membantu mahasiswa untuk mengakses, menginterpretasikan, mengorganisasikan, dan mentransfer pengetahuan untuk memecahkan masalah yang sesungguhnya, sementara itu mahasiswa memperoleh tambahan keahlian bukan hanya dari materi yang dipelajarinya melainkan juga pengalaman pembelajaran (Pedersen & Liu, 2003).

Kepribadian konselor bukanlah suatu sikap yang bisa diajarkan kepada mahasiswa melalui kegiatan perkuliahan biasa atau diajarkan dalam matakuliah khusus pengembangan pribadi konselor akan tetapi harus dihayati dan dibangun sendiri oleh mahasiswa calon konselor dari materi-materi yang berkaitan dengan karakter pribadi tersebut. Rosjidan (2002) menyatakan bahwa pengembangan program pendidikan BK tidak cukup memadai jika hanya menstandarisasi daftar mata kuliah yang diperlukan sarjana BK, tetapi juga harus menstandarisasikan pengorganisasian pengalaman belajar mahasiswa yang memungkinkan tercapainya pembentukan sikap pribadi dan kompetensi profesional BK.

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu metode yang bisa digunakan dalam competency based instruction(Depdiknas, 2008). Pembelajaran kooperatif adalah metode belajar berkelompok yang dirancang oleh dosen untuk memecahkan suatu masalah/kasus atau mengerjakan suatu tugas. Kelompok ini terdiri atas beberapa orang mahasiswa, yang memiliki kemampuan akademik yang beragam. Depdiknas (2008) menjelaskan bahwa metode pembelajaran kooperatif ini sangat terstruktur, karena pembentukan kelompok, materi yang dibahas, langkah-langkah diskusi serta produk akhir yang harus dihasilkan, semuanya ditentukan dan dikontrol oleh dosen. Mahasiswa dalam hal ini hanya mengikuti prosedur diskusi yang dirancang oleh dosen. Pada dasarnya pembelajaran kooperatif seperti ini merupakan perpaduan antara teacher-centered dan student-centered learning.

Penggunaan pembelajaran kooperatif berguna agar dosen dapat membantu mahasiswa melalui berbagai strategi pembelajaran agar mereka mampu mempertajam karakteristik pribadi konselor selama menempuh perkuliahan. Proses kelompok yang ada pada tahapan pembelajaran kooperatif akan mampu meningkatkan sikap empati, penerimaan, dan ketulusan mahasiswa terhadap sesama teman, setelah karakteristik ini mulai terasah tajam pada mahasiswa, saat melakukan praktik konseling akan mampu terbawa untuk menyelami dunia dalam konseli.

Dengan penajaman karakteristik pribadi konselor pada mahasiswa bimbingan dan konseling, diharapkan melakukan praktikum bimbingan dan konseling di sekolah,

(8)

mahasiswa tidak hanya bertindak berbasis penguasaan teoritis dan aplikasi tetapi juga mampu mengambil keputusan-keputusan yang bersifat gawat darurat dan menyangkut kemaslahatan konseli secara mandiri dan bertanggung jawab. Tetapi hendaknya ditekankan agar mahasiswa selalu termotivasi bukan oleh profil konselor yang dikehendaki tetapi termotivasi oleh kebutuhan dasar untuk menjadi pribadi konselor yang memadai menuju konsep diri (self concept) yang utuh sebagai seorang konselor profesional (Rosjidan, 2002).

KESIMPULAN

Salah satu usaha untuk memperbaiki kinerja konselor profesional dalah dengan memperbaiki sistem pembelajaran di perguruan tinggi. Saat ini kurikulum yang diterapkan di perguruan tinggi yaitu kurikulum berbasis kompetensi. Hanya saja belum disertai strategi-strategi pembelajaran yang mendukung pelaksanaan kurikulum ini.

Dalam pendidikan konselor prajabatan, diperlukan pola pembelajaran konstruktivis yang dapat memfasilitasi proses belajar mahasiswa. Sehingga mahasiswa tidak hanya menguasai ranah kognitif, tetapi juga memiliki afeksi dan sikap yang mendukung. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu pembelajaran konstruktivis yang mendukung penajaman karakteristik pribadi konselor, karena pada pembelajaran kooperatif, mahasiswa dibiasakan untuk bekerja dan belajar dalam seting kelompok. Sehingga bukan hanya hasil belajar akademik yang diperoleh, namun juga penerimaan terhadap sesama dan peningkatan keterampilan interpersonal mahasiswa. Hal tersebut akan mempertajam karakteristik pribadi yang mendukung keberhasilan kerja konselor.

Kurikulum berbasis kompetensi tidak dapat berjalan dengan baik jika proses pembelajarannya masih menggunakan content transmission paradigm, sehingga dosen perlu menggunakan strategi pembelajaran yang cocok dengan kurikulum berbasis kompetensi.Dosen dapat menggunakan pembelajarn kooperatif, pembelajaran kooperatif adalah paduan dari teacher centered dan student centered, sehingga pembelajaran lebih bermakna dan bisa dihayati oleh mahasiswa.

DAFTAR RUJUKAN Anita Lie. 2008. Cooperative Learning. Jakarta: Gramedia.

Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. 2007. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN

Depdiknas. 2007. Rambu-Rambu Penyelenggaraan BK dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Ditjen PMPTK Depdiknas.

Depdiknas. 2008. Buku Panduan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Tinggi. Jakarta. Ditjen Dikti Depdiknas.

Engels D.W. 2004. The Professional Counselor: Competencies, Performance Guidelines, and Assessment. 3rd edition. Alexandria: American Counseling Association.

Gladding, S.T. 2009. Counseling: a Comprehensive Profession. 6th Edition. New Jersey:

Pearson.

Ivey, A. E., Ivey, M.B., & Zalaquett, C.P. 2010. Intentional Interviewing and Counseling. Belmont: Brooks/Cole.

(9)

Johnson, D.W. & Johnson, R.T. 2009a. An Educational Psychology Success Story: Social Interdependence Theory and Cooperative Learning.Educational Researcher. Vol. 38, No. 5, 365-379.

Johnson D.W. & Johnson F.P. 2009b. Joining Together: Group Theory and Group Skills. 10th Edition. New Jersey: Pearson.

Neukrug, E. 2003. The World of The Counselor: an Introduction to the Counseling Profession.2nd Edition. California: Thomson Brooks/Cole.

Hidayah, N. 2009. Process Audit dalam Penyelenggaraan Pendidikan Akademik S1 BK. Disertasi Tidak Diterbitkan. Malang: Pascasarjana UM.

Pedersen, S. & Liu, M. 2003. Teachers’ Beliefs about Issues in the Implementation of a Student-Centered Learning Environment. ETR&D, Vol. 51, No. 2, 57-76. Rasiyo. 2008. Pengembangan Diri Konselor. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional

Bimbingan dan Konseling, Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Kanjuruhan, Malang, 4 April 2008.

Rogers, C.R. 1961. On Becoming a Person. Boston: Houston-Mifflin.

Rosjidan. (2002). Rekonseptualisasi Konsep BK dan Implikasinya pada Pola Pendidikan Konselor. Makalah disajikan pada Seminar dan Lokakarya Nasional Standardisasi Profesi BK, Jurusan PPB FIP UNY. Yogyakarta, 24-25 Oktober 2002.

Setyowati, A. J. 2011. Riset Evaluatif Penyelenggaraan Layanan Konseling di SMA se-Kota Malang.Jurnal Bimbingan dan Konseling, Vol. 24, No. 2, 150-166. Slavin, R.E. 2006. Educational Psychology: Theory And Practice (Edisi ke-8). Boston:

Pearson.

Triyono. 2005. Efektifitas Pendekatan Konseling Peduli Kemaslahatan (Wisdom-Oriented Counseling Approach) untuk Membatasi Perilaku Agresif Konseli. Disertasi Tidak Diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana UM.

Triyono. 2012. Prospek Bimbingan dan Konseling dalam Konteks Pendidikan di Indonesia. Disajikan pada Kunjungan Mahasiswa Prodi BK UNS, Jurusan Bimbingan dan Konseling UM. Malang, 27 Pebruari 2012.

Widiani, M. (Eds.). 2010. Bahan Belajar Mandiri: Model Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Pendidikan Kementerian Pendidikan Nasional.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :