• Tidak ada hasil yang ditemukan

T PKKH 1302968 Chapter5

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "T PKKH 1302968 Chapter5"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

66

Acep Ovel Novari Beny, 2016

PENGEMBANGAN PROGRAM LATIHAN ORIENTASI DAN MOBILITAS TEKNIK PENDAMPING AWAS BAGI KELUARGA SISWA TUNANETRA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Isi bab ini adalah akhir dari penulisan tesis, yang berisi tentang paparan

kesimpulan dan rekomendasi.

A.Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian mengenai pengembangan

program latihan teknik pendamping awas bagi keluarga siswa tunanetra.

Maka dapat di simpulkan sebagai berikut :

1. Pendamping awas adalah keterampilan yang dimiliki oleh tunanetra

untuk bepergian dengan orang awas, keluarga memiliki kesempatan

yang lebih banyak untuk berinteraksi dan bepergian dengan anggota

keluarga lainnya dalam hal ini adalah siswa tunanetra.

Mengenai kondisi faktual yang peneliti temukan di lapangan

menggambarkan kekurangan pahaman keluarga terhadap ketunanetraan

dan orientasi dan mobilitas teknik pendamping awas maka hal ini

berdampak kepada keterampilan keluarga dalam mendampingai siswa

tunanetra dalam berkativitas khususnya menemani siswa tunanetra

berjalan, keluarga tidak menggunakan teknik pendamping awas, teknik

yang digunakan keluarga adalah teknik mandiri.

2. Faktor penghambat dan faktor pendukung adalah dua faktor yang

berpengaruh dalam pelaksanaan orientasi dan mobilitas teknik

pendamping awas bagi keluarga siswa tunanetra. Masing-masing dari

kedua faktor itu berasal dari faktor internal dari individu dan faktor

eksternal yang terdiri dari keluarga, lingkungan dan sekolah.

Faktor internal individu merasa malu apabila menggunakan teknik

pendamping awas karena selain itu kurangnya kerjasama antara

tunanetra dan pendamping awas, faktor kebiasaan dari dalam

individupun menjadi salah satu faktor penghambat dalam pelaksanaan

(2)

67

Acep Ovel Novari Beny, 2016

PENGEMBANGAN PROGRAM LATIHAN ORIENTASI DAN MOBILITAS TEKNIK PENDAMPING AWAS BAGI KELUARGA SISWA TUNANETRA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Faktor penghambat lainnya datang dari eksternal, yaitu dari

keluarga, lingkungan dan sekolah, keluarga yang memiliki anggapan

atau paradigma ketika berjalan dengan menggunakan teknik

pendamping awas seperti “pengemis” yang biasa mereka temui di pusat

keramaian seperti pasar, dengan paradigma tersebut maka muncul rasa

malu, selain itu faktor kebiasaan menjadi faktor lainnya yang ada dalam

kelurga, kurangnya pengetahuan tentang orientasi dan mobilitas teknik

pendamping awas adalah faktor lainnya yang menjadi penghambat

dalam pelaksanaan teknik pendamping awas. Faktor lingkungan yang

kurang mendukung dapat terlihat ketika berjalan di lingkungan ramai

seperti pasar tunanetra menjadi pusat perhatian dan faktor dari sekolah

yaitu tidak adanya program kerjasama antara sekolah dan orangtua

dalam pelaksanaan orientasi dan mobilitas teknik pendamping awas.

Faktor pendukung dapat di simpulkan bahwa faktor pendukung

datang dari internal adalah dari individu dan eksternal yang terdiri dari

keluarga, lingkungan dan sekolah. Faktor internal dari individu yaitu

adanya kemauan dari dalam diri siswa untuk belajar dan menggunkan

orientasi dan mobilitas teknik pendamping awas.

Faktor eksetrnal keluarga yaitu adanya kemauan yang sama untuk

belajar dan menggunkan orientasi dan mobilitas teknik pendamping

awas dan dari lingkungan adanya penerimaan dari lingkungan sekitar

akan keberadaan tunanetra dan dari pihak sekolah adanya program

latiihan orientasi dan mobilitas teknik pendamping awas bagi siswa.

3. Perumusan pengembangan program latihan teknik pendamping awas

bagi keluarga siswa tunanetra di validasi melalui kegiatan Focus Group

Discussion (FGD).

Pengembangan program ini di rumuskan berdasarkan

kebutuhan-kebutuhan keluarga di lapangan. Isi dari pengembangan program ini

adalah mengenai pemahaman keluarga tentang pemahaman

(3)

68

Acep Ovel Novari Beny, 2016

PENGEMBANGAN PROGRAM LATIHAN ORIENTASI DAN MOBILITAS TEKNIK PENDAMPING AWAS BAGI KELUARGA SISWA TUNANETRA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dan mobilitas teknik pendamping awas, dan praktek teknik pendamping

awas.

4. Uji coba terbatas pelaksanaan pengembangan program latihan teknik

pendamping awas bagi keluarga siswa tunanetra disimpulkan bahwa

program dapat memenuhi kebutuhan keterampilan orientasi dan

mobilitas teknik pendamping bagi keluarga.

Adanya implementasi penggunaan teknik pendamping awas, hasil

uji coba terbatas ini menghasilkan pemahaman tentang ketunanetraan,

dampak dari ketunanetraan dan tentunya keluarga memperoleh

keterampilan teknik pendamping awas dan di implementasikan di

lapangan, terlihat adanya kerjasama dan teknik yang digunakan dengan

benar ketika keluarga mendampingi siswa berjalan.

B.Rekomendasi

Pada penelitian yang peneliti lakukan ini tentunya telah mencapai target

penulisan karya ilmiah. Namun peneliti tetap menyadari masih terdapat

kekurangan di bagian-bagian tertentu. Untuk mencapai hasil yang sempurna

maka peneliti mengharapkan adanya penerus dalam mengamati

pengembangan program latihan orientasi dan mobilitas teknik pendamping

awas bagi keluarga siswa tunanetra selanjutnya. Berdasarkan hasil

penelitian ini, berikut rekomendasi yang diberikan peneliti :

1. Bagi Guru

Adanya kerjasama antara guru dan keluarga dalam melaksanakan

pembelajaran dan pelatihan teknik pendamping awas. Agar tercapainya

pembelajaran yang sejalan antara di sekolah dan di rumah.

2 Bagi Sekolah

Memberikan masukan dalam membuat layanan dan program latihan teknik

pendamping awas bagi keluarga untuk mengoptimalkan kebutuhan anak

1. Bagi Keluarga

Keluarga mampu melaksanakan teknik pendamping awas bagi siswa

(4)

69

Acep Ovel Novari Beny, 2016

PENGEMBANGAN PROGRAM LATIHAN ORIENTASI DAN MOBILITAS TEKNIK PENDAMPING AWAS BAGI KELUARGA SISWA TUNANETRA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

2. Peneliti Selanjutnya

Pada penelitian ini peneliti berkesimpulan pengembangan program latihan

orientasi dan mobilitas teknik penamping awas bagi keluarga siswa

tunanetra dapat dipraktekkan oleh keluarga namun masih perlu kegiatan

lanjutan sebagai bentuk pendampingan sampai nantinya keluarga mampu

Referensi

Dokumen terkait

menjadi seorang guru pendamping (shadow teacher ) di sekolah ini adalah sudah. selesai menempuh pendidikan minimal

baik untuk kebutuhan pendidikan atau pun tes penerimaan pegawai baru, terutama untuk tunanetra yang ingin menjadi pegawai. Kelebihan dari LJPGB ini, selain dapat

Guru BK agar mempertimbangkan adanya kendala dalam pengembangan keterampilan sosial siswa tunanetra di SMPN 47 Kota Bandung, khususnya layanan pembelajaran yang

Berdasarkan karakteristik tunanetra tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa pembelajaran atau pelatihan tentang orientasi obyek atau benda di lingkungan akan mudah

ruang ditata sedemikian rupa sehingga siap digunakan untuk intervensi/latihan. Dalam ruang sebagai tempat latihan orientasi tidak ada orang lain selain subyek,

Cara guru dalam mengatasi kesulitan menulis Braille dengan reglet pada anak tunanetra kelas I SD di SLBN A Bandung, adalah : Guru memberikan penanaman menghafalkan

PROBLEMATIKA YANG DIHADAPI KELUARGA IBU DAN ANAKNYA MENGALAMI TUNAGRAHITA DITINJAU DARI FAMILY QUALITY OF LIFE.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Tidak adanya tempat kursus atau tempat latihan bagi pendamping awas ini salah satu hal yang menyebabkan ketidakmampuan orang awas dalam mendampingi tunanetra,