• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

0

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

Provinsi Sulawesi Utara

Triwulan I – 2010

(2)

1

Kata Pengantar

Sesuai Pasal 7 UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, dijelaskan bahwa tujuan

Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Guna mencapai

tujuan tersebut, Bank Indonesia mempunyai 3 (tiga) tugas yaitu menetapkan dan

melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran

serta mengatur dan mengawasi bank. Sejalan dengan itu dan diperkuat oleh momentum

otonomi daerah, setiap Kantor Bank Indonesia (KBI) yang berada di daerah, termasuk KBI

Manado dituntut berperan sebagai ”economic intelligent and research unit” yang

diharapkan mampu memberikan informasi ekonomi dan keuangan daerah yang akurat,

menyeluruh, dan terkini sebagai bahan masukan Kantor Pusat Bank Indonesia dalam

perumusan dan penetapan kebijakan moneter yang tepat sasaran. Penyajian informasi

ekonomi dan keuangan daerah tersebut, disusun dalam bentuk Kajian Ekonomi Regional

(KER) Provinsi Sulawesi Utara secara triwulanan, yang berisi analisis mengenai kondisi makro

ekonomi regional, tingkat harga, perbankan, sistem pembayaran, keuangan daerah, tingkat

kesejahteraan dan kemiskinan serta prospeknya ekonomi di triwulan mendatang.

Di samping itu, dalam rangka meningkatkan akuntabilitas Bank Indonesia melalui

penyampaian informasi mengenai kondisi perekonomian dan keuangan kepada stakeholder

maka KBI perlu menyampaikan informasi dimaksud kepada stakeholder di daerah seperti pemerintah daerah, lembaga pendidikan, institusi keuangan, dan lembaga lainnya di

daerah. Kami senantiasa mengharapkan masukan dan saran untuk meningkatkan kualitas

dan manfaat laporan di masa yang akan datang. Akhir kata, kiranya laporan ini dapat

memberikan manfaat bagi yang berkepentingan dan kepada pihak-pihak yang telah

membantu dalam penyusunan laporan ini kami ucapkan terima kasih.

Manado, 31 Maret 2010

BANK INDONESIA MANADO

(3)

2

Daftar Isi

RINGKASAN EKSEKUTIF halaman 5

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL halaman 13 Sisi Permintaan halaman 14 Sisi Penawaran halaman 23

Boks 1. Kondisi Sektor Industri Pengolahan di Triwulan I-2010 dan Prospeknya Dalam

Menghadapi Perdagangan Bebas ASEAN Cina (ASEAN China Free Trade Area)

halaman 32

PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH halaman 38 Inflasi Tahunan (yoy) halaman 38 Inflasi Triwulanan (qtq)

Inflasi Bulanan (mtm)

halaman 39 halaman 40

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH halaman 43 Fungsi Intermediasi halaman 44 Risiko Kredit halaman 53 Perkembangan Bank Perkreditan Rakyat halaman 55

Boks 2. Pengaruh Perdagangan Bebas ASEAN Cina Terhadap Potensi Pembiayaan

Daerah

Halaman 57

PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH halaman 59 Dana Perimbangan halaman 59 Perkembangan APBD Provinsi halaman 61

PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN halaman 65 Perkembangan Aliran Uang Kartal halaman 65 Penemuan Uang Palsu halaman 68 Perkembangan Kliring Lokal (Tunai) halaman 69 RTGS (Real Time Gross Settlement) halaman 69

PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN

KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

halaman 71

(4)

3

PERKIRAAN PERTUMBUHAN EKONOMI DAN INFLASI halaman 80 Prospek Pertumbuhan Ekonomi halaman 80 Prakiraan Inflasi halaman 82 Prospek Perbankan Halaman 83

(5)

4

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi : Kantor Bank Indonesia Manado

Jl. 17 Agustus No. 56

Ph. 0431-868102, 868103, 868108 Fax. 0431 - 866933

(6)

5

RINGKASAN EKSEKUTIF

Perkembangan Makro Ekonomi Regional

Secara umum, perekonomian nasional pada triwulan I-2010 terus

menunjukan perkembangan yang semakin baik. Perbaikan tersebut

ditopang oleh meningkatnya optimisme terhadap pertumbuhan

ekonomi domestik dan global, serta terjaganya kestabilan

makroekonomi domestik. Sejalan dengan hal tersebut, kinerja

pasar keuangan global terus membaik, dampak krisis utang Dubai

World dan krisis fiskal Yunani berlangsung singkat dan

rambatannya bersifat minimal terhadap pasar keuangan dunia. Di

sisi domestik, kinerja ekspor diperkirakan mengalami peningkatan

seiring dengan perbaikan ekonomi global dan membaiknya harga

komoditas internasional. Konsumsi rumah tangga masih tumbuh

pada level tinggi, didorong oleh stabilnya daya beli masyarakat

serta ekspektasi konsumen yang masih terjaga. Sejalan dengan hal

tersebut, investasi diperkirakan juga akan membaik didukung oleh

peningkatan investasi swasta dan upaya pemerintah untuk

mendorong proyek infrastruktur dalam bidang energi, transportasi

dan telekomunikasi. Dengan semakin membaiknya kondisi

tersebut, ekonomi domestik secara tahunan di triwulan I-2010

diperkirakan tumbuh 5,7%.

Berbagai indikator ekonomi Provinsi Sulawesi Utara pada triwulan

I-2010 tak terlepas dari perkembangan kondisi makro ekonomi

Indonesia yang menunjukan perkembangan positif. Optimisme

masyarakat terhadap pemulihan ekonomi nasional dan regional

menunjukan peningkatan tercermin dari indeks keyakinan

konsumen (IKK) dari hasil Survey Ekspektasi Konsumen (SEK) Kota

Manado. Peningkatan rasa optimisme ini didorong oleh adanya

kenaikan UMP dan aktivitas persiapan pilkada yang pada tahap

berikutnya akan mendorong peningkatan kegiatan konsumsi.

Tanda-tanda pemulihan ekspor dan meningkatnya kegiatan

Secara umum, perekonomian nasional pada triwulan I-2010 terus mnenunjukan

perkembangan yang semakin baik.

(7)

6

konsumsi masyarakat mendorong pelaku usaha untuk

menanamkan investasinya di Sulawesi Utara. Mengacu data baik

primer maupun sekunder serta merujuk hasil survei yang dilakukan

oleh Kantor Bank Indonesia Manado, maka laju pertumbuhan

ekonomi Sulawesi Utara pada triwulan I-2010 diperkirakan berada

pada level 6,7% (yoy) masih lebih tinggi dibandingkan perkiraan

laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Berdasarkan sektor ekonominya, pertumbuhan ekonomi pada

triwulan I-2010 disumbangkan secara merata oleh seluruh sektor

yang ada. Kinerja sektor pertanian dan industri pengolahan

diperkirakan akan mengalami peningkatan dibandingkan periode

yang sama tahun lalu. Peningkatan ini salah satunya didorong oleh

pemberlakuan ASEAN China Free Trade Area (ACFTA) yang

memberikan peluang bagi komoditi unggulan di Sulut khususnya

ikan olahan dan produk kelapa dan turunannya untuk memperluas

pasarannya ke negara China dan ASEAN. Sementara itu, kinerja

sektor perdagangan, hotel dan restaurant (PHR), sektor bangunan

dan sektor pengangkutan dan komunikasi pada triwulan I-2009

diperkirakan akan mengalami sedikit perlambatan. Hal ini antara

lain disebabkan oleh ketiadaan even berskala besar dibandingkan

periode yang sama tahun lalu sehingga aktivitas pembangunan

infrastruktur, sarana/prasarana lainnya menunjukan tren

perlambatan, yang pada tahap selanjutnya akan berdampak

terhadap perlambatan kegiatan perdagangan dan kunjungan

wisatawan.

Perkembangan Inflasi Daerah

Laju inflasi tahunan Kota Manado pada triwulan I – 2010

cenderung menurun bila dibandingkan periode sebelumnya. Inflasi

Kota Manado pada triwulan I – 2010 tercatat sebesar 1,84% (yoy)

lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya dan periode yang

sama tahun lalu yang tercatat 8,85% (yoy). Penurunan laju inflasi

tahunan Sulawesi Utara selama triwulan I – 2010 disebabkan baik

Berdasarkan sektor ekonominya, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2010 disumbangkan oleh seluruh sektor...

(8)

7

oleh faktor fundamental maupun non fundamental. Faktor

fundamental diantaranya adalah apresiasi rupiah terhadap dollar

AS seiring dengan semakin derasnya aliran modal dari luar negeri

masuk ke Indonesia, kembali stabilnya harga beras setelah

dipenghujung Tahun 2009 lalu sempat meningkat seiring dengan

tingginya kebutuhan menjelang dan pada saat perayaan

keagamaan dan Tahun Baru 2010 serta kembali normalnya pola

permintaan masyarakat selama triwulan I - 2010. Sedangkan faktor

non fundamental yang menyebabkan melemahnya tekanan inflasi

adalah tidak adanya kebijakan pemerintah terkait harga yang

signifikan mempengaruhi laju inflasi barang dan jasa secara umum.

Berdasarkan kelompoknya, penurunan inflasi selama Triwulan I –

2010 terutama disumbangkan oleh kelompok bahan makanan

yang mengalami deflasi -2,19% (yoy). Sedangkan kelompok

makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mencatat inflasi

tertinggi selama triwulan laporan yang mencapai 8,13% (yoy) yang

disusul oleh kelompok kesehatan sebesar 4,98% (yoy). Inflasi

terendah dicatat oleh kelompok perumahan, air, listrik, gas dan

bahan bakar yang tercatat sebesar 1,45% (yoy).

Perkembangan Perbankan Daerah

Secara umum perkembangan berbagai indikator perbankan di

Sulawesi Utara pada triwulan I-2010 menunjukan perkembangan

yang cukup baik. Laju pertumbuhan dari total aset, dana pihak

ketifa (DPK) dan kredit tercatat mengalami pertumbuhan yang

positif, walaupun lebih rendah dibandingkan periode yang sama

tahun lalu. Sementara itu, fungsi intermediasi perbankan

memperlihatkan tren peningkatan sejak awal triwulan II-2009

sampai dengan triwulan laporan, yang tercermin dari

meningkatnya prosentase Loan To Deposit Ratio (LDR) yang

mencapai 106,12% di triwulan I-2010. Sejalan dengan hal

tersebut, kualitas kredit yang disalurkan perbankan semakin

membaik, yang ditunjukan oleh turunnya rasio kredit bermasalah

(Non Performing Loan) dari 3,86% pada Triwulan I-2009 menjadi

Secara umum perkembangan berbagai indikator perbankan di Sulawesi Utara pada triwulan I-2010 menunjukkan

(9)

8

3,57% pada triwulan I-2010. Sementara itu, kredit UMKM juga

terus menunjukan perkembangan yang cukup signifikan, ditandai

dengan meningkatnya pangsa kredit UMKM terhadap total kredit

yang mencapai 80,83%, disertai oleh membaiknya kualitas kredit

UMKM yang pada triwulan laporan tercatat sebesar 3,49%.

Kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di wilayah Sulawesi Utara

selama triwulan I-2010 mengalami peningkatan jika dibandingkan

periode yang sama tahun lalu, tercermin dari naiknya total aset,

DPK, dan jumlah kredit yang berhasil disalurkan. Peningkatan

beberapa indikator ini juga dibarengi dengan membaiknya rasio

Loan To Deposit Ratio (LDR). Namun demikian, kenaikan rasio LDR ini tidak diiringi dengan perbaikan pada kualitas kreditnya, hal ini

tercermin dari kenaikan rasio Non Performing Loan (NPL) BPR.

Perkembangan Keuangan Daerah (APBD)

Alokasi transfer dana dari pemerintah pusat yang bersumber dari

Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) ke Provinsi/Kab/Kota

di wilayah Sulawesi Utara pada Tahun 2010 diperkirakan mencapai

Rp5,68 Triliun atau naik 0,12% dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan komponen penyusunnya, kenaikan transfer dana dari

pemerintah pusat terutama berasal dari Dana Perimbangan (Dana

Alokasi Umum) yang naik 9,17% (yoy) mencapai jumlah Rp4,43

Triliun. Sementara itu Dana Penyesuaian dan Otonomi khusus

justru mengalami penurunan sebesar 43,88% dibandingkan tahun

sebelumnya.

Kinerja keuangan pemerintah provinsi pada triwulan I-2010 relatif

lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sampai dengan 31 Maret 2010, realisasi belanja pemerintah

mencapai Rp137,24 miliar atau hanya sebesar 12,6% dari target

pengeluaran dalam APBD sebesar Rp1.094 miliar. Sementara itu,

realisasi pendapatan pemerintah pada triwulan laporan sebesar

Rp319 miliar atau baru mencapai 29,9% dari target pendapatan

Alokasi transfer dana dari

pemerintah pusat yang bersumber dari APBN ke Provinsi/Kab/Kota di wilayah Sulawesi Utara pada Tahun 2010 diperkirakan mencapai Rp5,68 Triliun...

Kinerja keuangan pemerintah provinsi pada triwulan I- 2010 relatif lebih rendah...

Kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di wilayah Sulawesi Utara selama triwulan I-2010

(10)

9

dalam APBD sebesar Rp1.066 miliar. Sedangkan untuk Tahun

2010, pembiayaan pemerintah Provinsi menunjukkan penurunan

dibandingkan tahun sebelumnya, atau hanya sebesar Rp27 miliar.

Perkembangan Sistem Pembayaran

Aliran uang kartal di khasanah Kantor Bank Indonesia Manado

pada triwulan I-2010 berada pada kondisi net inflow. Artinya

jumlah aliran uang kartal yang masuk ke Bank Indonesia (inflow) lebih besar dibandingkan dengan jumlah aliran uang kartal yang

keluar ke masyarakat (outflow) . Aliran uang masuk meningkat 0,62% (yoy) atau sebesar Rp3,8 miliar sedangkan aliran uang

keluar mengalami penurunan yang signifikan sebesar 95,80% (yoy)

atau sebesar Rp17,47 miliar.

Penemuan uang palsu di wilayah kerja Kantor Bank Indonesia

Manado pada triwulan laporan menunjukan penurunan dibanding

periode yang sama tahun sebelumnya. Total uang palsu yang

ditemukan dan dilaporkan ke Bank Indonesia Manado pada

triwulan I-2010 sebanyak 37 lembar yang terdiri dari 14 lembar

uang pecahan Rp100.000,-, 19 lembar uang pecahan Rp50.000, 1

lembar uang pecahan Rp10.000,- dan 3 lembar uang pecahan

Rp5.000,-. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan posisi yang sama

tahun sebelumnya sebesar 41 lembar. Penurunan temuan ini

mengindikasikan pemahaman masyarakat terhadap ciri-ciri keaslian

uang rupiah sudah cukup baik.

Perkembangan kliring di wilayah Sulawesi Utara selama triwulan

I-2010 mengalami peningkatan, jumlah warkat yang dikliringkan

sebanyak 75.799 lembar dengan nilai Rp1.658 miliar atau

meningkat jumlahnya sebesar 10,75% (yoy) dibandingkan periode

yang sama tahun sebelumnya. Jika dilihat berdasarkan rata-rata

harian lembar warkat yang dikliringkan selama periode laporan

tercatat sebanyak 1.221 lembar dengan nilai sebesar Rp26,73

miliar atau tumbuh sebesar 5,24% (yoy). Peningkatan rata-rata

jumlah nominal kliring tersebut semakin menegaskan bahwa

Aliran uang kartal di khasanah Kantor Bank Indonesia Manado pada triwulan I-2010 berada pada kondisi net inflow.

Penemuan uang palsu di wilayah kerja KBI Manado pada triwulan laporan menunjukan penurunan...

(11)

10

perekonomian Sulawesi Utara mengalami pertumbuhan yang

positif.

Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan

Kesejahteraan Masyarakat

Kinerja yang cukup baik dari berbagai indikator makro ekonomi

regional, perbankan, sistem pembayaran dan fiskal, berimplikasi

pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat dalam bentuk

penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan di Sulawesi

Utara. Tingkat pengangguran di Sulawesi Utara pada Agustus

2009 mengalami perbaikan tercermin dari rasio TPT (Tingkat

Pengangguran Terbuka) sebesar 10,56% atau turun tipis (0,09%)

dibandingkan dengan periode Agustus 2008 lalu sebesar 10,65%.

Berdasarkan jenis lapangan pekerjaan, pertanian masih menjadi

sektor lapangan pekerjaan utama, walaupun telah terjadi

pergeseran ke sektor lainnya, terutama sektor perdagangan dan

sektor jasa. Berdasarkan persebarannya, Manado masih menjadi

daerah dengan jumlah angkatan kerja terbesar dan angka

pengangguran tertinggi.

Seiring dengan itu, tingkat kesejahteraan masyarakat Sulawesi

Utara di tahun 2009 menunjukkan perbaikan, salah satunya

tercermin dari penurunan jumlah penduduk miskin. Pada Maret

2009 jumlah penduduk miskin di Sulawesi Utara tercatat sebesar

219,57 ribu (9,79%), sedikit lebih rendah dibandingkan jumlah

penduduk miskin pada Maret 2008 yang berjumlah 223,5 ribu

(10,10%). Penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin

selama periode Maret 2008 - Maret 2009 antara lain disebabkan

oleh perkembangan pesat pertumbuhan ekonomi selama periode

tersebut yang mendorong bertambahnya luasnya kesempatan kerja

akibat banyak berdirinya hotel, restoran, ataupun

perusahaan-perusahaan baru lainnya.

Kinerja yang cukup baik dari berbagai indikator makro ekonomi regional, perbankan, sistem pembayaran dan fiskal berimplikasi pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat...

(12)

11

Outlook Pertumbuhan Ekonomi

Perekonomian Sulawesi Utara pada triwulan II – 2010 diperkirakan akan mengalami pertumbuhan sebesar 7,4%±0,5%, lebih baik

dibandingkan triwulan sebelumnya. Faktor pendorong

pertumbuhan diantaranya adalah penyelenggaraan Pemilihan

Kepala Daerah (Pilkada) di 7 kabupaten/kota dan provinsi yang

direncanakan akan dilaksanakan secara serentak paling akhir

triwulan II - 2010. Penyelenggaraan Pilkada diperkirakan tidak

hanya meningkatkan aktivitas konsumsi swasta namun juga

belanja pemerintah. Masa liburan sekolah di akhir triwulan II –

2010 diperkirakan juga akan mendorong peningkatan aktivitas

konsumsi khususnya konsumsi rumah tangga. Selain itu, mulai

direalisasikannya kenaikan gaji PNS, TNI dan Polri sebesar 5% pada

April 2010 juga diprediksi akan mendorong potensi pembelanjaan

masyarakat sehingga akan meningkatkan aktivitas ekonomi.

Kinerja perdagangan luar negeri diperkirakan juga akan mengalami

peningkatan. Sementara itu, implementasi ACFTA belum

berpengaruh terhadap menurunnya permintaan dunia terhadap

komoditas ekspor Sulawesi Utara. Hal ini diperkuat dengan hasil

Survei Liason yang menunjukan bahwa sebagain besar debitur

bank umum dan BPR di Sulawesi Utara belum merasakan pengaruh

ACFTA. Demikian pula halnya dengan beberapa perusahaan yang

bergerak di sektor pertanian dan perikanan yang tetap optimis

bahwa pemberlakuan ACFTA akan meningkatkan kinerja ekspor

perusahaan mereka

Beberapa sektor yang diperkirakan akan mengalami percepatan

pertumbuhan pada triwulan mendatang adalah sektor

Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR), sektor jasa-jasa dan sektor

bangunan. Perkiraan ini didukung antara lain oleh Hasil Survei

Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang mengindikasikan bahwa

ekpektasi realisasi kegiatan usaha di triwulan II - 2010 diperkirakan

akan meningkat bila dibandingkan periode yang sama tahun

sebelumnya.

Prospek perekonomian Sulawesi Utara pada triwulan II-2010 diperkirakan akan mengalami pertumbuhan sebesar 7,4%±0,5%...

Kinerja perdagangan luar negeri diperkirakan juga akan mengalami peningkatan.

Beberapa sektor yang

(13)

12

Outlook Inflasi Regional

Tekanan inflasi Kota Manado selama triwulan II–2010 diperkirakan akan cenderung meningkat seiring dengan dikeluarkannya

kebijakan pemerintah berupa kenaikan harga pupuk bersubsidi per

tanggal 9 April 2010 rata-rata sebesar ±35%. Kenaikan harga

pupuk bersubsidi ini berpotensi akan meningkatkan biaya produksi

produk pertanian yang pada tahap berikutnya akan mendorong

kenaikan harga jual. Faktor lain yang berpotensi memberikan

tekanan terhadap harga adalah meningkatnya aktivitas konsumsi

selama masa kampanye Pilkada Gubernur dan 7 walikota/bupati

baik berasal dari konsumsi rumah tangga, perusahaan maupun

belanja pemerintah.

Prospek Perbankan

Perkembangan berbagai indikator perbankan di Sulawesi Utara

pada triwulan II – 2010 diperkirakan masih cukup baik. Kebijakan

Bank Indonesia untuk tetap mempertahankan suku bunga

acuannya (BI rate) sebesar 6,5% mendorong perbankan untuk

lebih ekspansif dalam melakukan pembiayaan yang didukung oleh

kecenderungan menurunnya suku bunga kredit. Sementara itu,

jumlah Dana Pihak Ketiga yang berhasil dihimpun pada triwulan

mendatang diperkirakan akan mengalami peningkatan. Hal ini

didorong oleh potensi meningkatnya tingkat pendapatan

masyarakat seiring dengan realisasi kenaikan gaji PNS, TNI/Polri

sebesar 5% pada April 2010, dimulainya panen raya cengkeh, dan

potensi membaiknya kinerja ekspor Sulawesi Utara.

Dari sisi penyaluran kredit, perbankan Sulawesi Utara optimis untuk

terus meningkatkan pertumbuhan hingga 25 – 30%, lebih tinggi

dibandingkan target penyaluran kredit secara nasional yang hanya

berada pada kisaran 17%. Menurut sektor ekonominya, sektor

PHR (Perdagangan, Hotel dan Restoran), sektor konstruksi, sektor

jasa dunia usaha dan konsumsi masih menjadi fokus utama dalam

portofolio kredit di Sulawesi Utara

Tekanan Inflasi Kota Manado selama triwulan II-2010 diperkirakan akan cenderung meningkat...

Perkembangan berbagai indikator perbankan di Sulawesi Utara pada triwulan II-2010 diperkirakan masih cukup baik.

(14)

13

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

Secara umum, perekonomian nasional pada triwulan I-2010 terus menunjukkan

perkembangan yang semakin baik. Perbaikan tersebut ditopang oleh meningkatnya

optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi domestik dan global, serta terjaganya

kestabilan makroekonomi domestik. Di tengah-tengah pemulihan pasca krisis global,

berbagai kinerja yang cukup positif tersebut tidak terlepas dari daya tahan permintaan

domestik yang kuat, sektor perbankan yang tetap sehat dan stabil, ekspektasi pemulihan

ekonomi global yang semakin optimis, serta respons kebijakan fiskal dan moneter yang

akomodatif dalam mendukung terjaganya perekonomian domestik. Sejalan dengan hal

tersebut, kinerja pasar keuangan global terus membaik. Meskipun sempat mengalami

tekanan akibat kembali menurunnya kepercayaan investor terkait krisis utang Dubai World

dan krisis fiskal Yunani, dampak kedua krisis tersebut berlangsung singkat dan rambatannya

bersifat minimal terhadap pasar keuangan dunia. Hal ini tercermin dari Indeks harga saham

yang mulai kembali menguat di pasar saham Amerika Serikat, Eropa dan Jepang.

Di sisi domestik, perbaikan ekonomi global mendukung kinerja ekspor dan peningkatan

investasi. Kinerja ekspor diperkirakan mengalami peningkatan seiring dengan perbaikan

ekonomi global dan membaiknya harga komoditas internasional. Konsumsi rumah tangga

masih tumbuh pada level tinggi, didorong oleh stabilnya daya beli masyarakat serta

ekspektasi konsumen yang masih terjaga. Sejalan dengan peningkatan ekspor dan konsumsi

rumah tangga, investasi diperkirakan juga akan membaik didukung oleh peningkatan

investasi swasta dan upaya pemerintah untuk mendorong proyek infrastruktur dalam

bidang energi, transportasi dan telekomunikasi. Dengan semakin membaiknya kondisi

tersebut, ekonomi domestik secara tahunan di triwulan I-2010 diperkirakan tumbuh 5,7%.

Membaiknya berbagai indikator makro ekonomi nasional berdampak pula pada

perkembangan berbagai indikator makro ekonomi regional termasuk di Provinsi Sulawesi

Utara. Hal ini antara lain ditandai dengan pertumbuhan ekspor antar daerah yang lebih

tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan semakin minimalnya tingkat

ketergantungan terhadap daerah lain yang tercermin dari melambatnya permintaan impor

(15)

14

nasional dan regional menunjukan peningkatan tercermin dari indeks keyakinan konsumen

(IKK) dari hasil Survey Ekspektasi Konsumen (SEK) Kota Manado. Peningkatan rasa

optimisme ini didorong oleh adanya kenaikan UMP dan aktivitas persiapan pilkada yang

pada tahap berikutnya akan mendorong peningkatan kegiatan konsumsi. Tanda-tanda

pemulihan ekspor dan meningkatnya kegiatan konsumsi masyarakat mendorong pelaku

usaha untuk menanamkan investasinya di Sulawesi Utara. Mengacu data baik primer

maupun sekunder serta merujuk hasil survei yang dilakukan oleh Kantor Bank Indonesia

Manado maka, laju pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara pada triwulan I-2010

diperkirakan berada pada level 6,7% (yoy) masih lebih tinggi dibandingkan perkiraan laju

pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya berada pada 5,7% (yoy).

A. SISI PERMINTAAN

Dari sisi permintaan, kegiatan perekonomian selama triwulan I-2010 diperkirakan lebih

banyak disumbangkan oleh kegiatan konsumsi dan kinerja ekspor yang menunjukkan

perkembangan yang cukup membaik. Meningkatnya kegiatan konsumsi seiring dengan

peningkatan optimisme masyarakat yang tercermin dari hasil Survei Ekspektasi Konsumen

(SEK) dan hasil penjualan ritel berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE). Sementara

itu, kegiatan ekspor khususnya ekspor antar daerah pada triwulan laporan menunjukan tren

yang meningkat. Kondisi ini didukung pula oleh neraca perdagangan luar negeri yang

secara neto mengalami net ekspor sebesar USD14,05 juta.

Tabel 1.1.

Pertumbuhan Provinsi Sulawesi Utara Menurut Penggunaan (%)

1. Konsumsi

Kegiatan konsumsi selama Triwulan I-2010 diperkirakan tumbuh 5,6% (yoy) dengan

kontribusi sebesar 3,8% terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Dibandingkan pencapaian

Ket :

1

Data Proyeksi Bank Indonesia

Sumber: BPS Provinsi Sulawesi Utara

Q1 Sumb. Q4 Sumb. Q1 1 Sumb.

Konsumsi 4,1 8,5 5,8 3,8 2,4 5,6 5,6 3,8

Konsumsi Swasta 3,4 5,1 2,4 2,5 1,0 4,0 5,8 2,4

Konsumsi Pemerintah 5,3 15,9 3,4 6,1 1,4 8,7 5,2 1,2

PMTB 11,7 10,0 2,0 5,0 1,2 7,2 5,3 1,1

Stok 40,5 -19,9 -0,3 7,6 0,1 -22,6 -20,4 -0,2

Ekspor 18,4 6,0 2,9 13,5 6,0 3,9 11,1 5,4

Impor 18,4 7,9 3,1 5,2 1,8 -3,0 8,7 3,4

PDRB 7,6 7,5 7,5 8,0 8,0 7,9 6,7 6,7

2010

2008 2009 2009

(16)

15

periode yang sama tahun sebelumnya maka kinerja kegiatan konsumsi selama triwulan

laporan tercatat mengalami perlambatan. Hal ini antara lain disebabkan oleh ketiadaan even

berskala besar serta turunnya realisasi belanja pemerintah selama triwulan I-2010. Namun,

terdapat beberapa faktor pendorong yang menyebabkan kegiatan konsumsi masih tumbuh

positif, diantaranya kenaikan Upah Minimun Regional dan berbagai aktivitas persiapan

pilkada.

Berdasarkan komponen penyusunnya, kegiatan konsumsi dapat digolongkan pada

konsumsi swasta dan konsumsi pemerintah. Konsumsi swasta pada triwulan I-2010 tumbuh

5,8% (yoy) dengan kontribusi sebesar 2,4% terhadap pertumbuhan ekonomi pada triwulan

laporan. Peningkatan konsumsi swasta khususnya konsumsi rumah tangga antara lain dapat

dikonfirmasi melalui beberapa indikator penuntun konsumsi rumah tangga yang

mengindikasikan perbaikan. Salah satu diantaranya adalah hasil Survei Ekspektasi

Konsumen (SEK) Kota Manado periode Maret 2010 dimana sebagian besar konsumen yakin

bahwa kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasinya ke depan masih cukup baik terindikasi

dari kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari 105,92 pada Maret 2009 menjadi

145,42 pada Maret 2010 (optimis > 100). Membaiknya kondisi ekonomi saat ini, didorong

oleh kenaikan indeks pada seluruh komponen penyusunnya yaitu aspek penghasilan,

pembelian barang tahan lama dan ketersediaan tenaga kerja dimana sebagian besar

responden menyatakan bahwa kondisinya saat ini lebih baik dibandingkan 3 – 6 bulan yang lalu.

Peningkatan kegiatan konsumsi selama triwulan laporan tak lepas pula dari relatif

terjaganya daya beli masyarakat khususnya para petani tercermin dari Nilai Tukar Petani

(NTP) untuk posisi Februari 2010 yang tercatat pada level 100,85. Pencapaian ini relatif lebih

lambat jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, namun demikian indeks NTP pada

triwulan laporan masih berada dalam kategori sejahtera (indeks > 100). Sebagaimana

diketahui, berdasarkan komposisinya hampir 40% masyarakat di Sulawesi Utara bermata

pencaharian bertani, sehingga tingkat kesejahteraan petani mampu memberikan dampak

(17)

16

Peningkatan kegiatan konsumsi selama

triwulan laporan juga dapat dikonfirmasi dari

data perkembangan penjualan ecaran

berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE).

Nilai penjualan riil selama triwulan laporan

mengalami peningkatan 12,42% dari Rp146,7

miliar selama triwulan I-2009 menjadi Rp164,9

miliar selama triwulan I-2010. Dorongan

peningkatan pendapatan (UMR), sebagian besar

diprediksikan akan direalisasikan melalui

kenaikan daya beli masyarakat. Sejalan dengan

Grafik 1.1.

Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen

Grafik 1.2.

Komponen Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini

Sumber : Survey Konsumen (SK) Kota Manado Sumber : Survey Konsumen (SK) Kota Manado

Grafik 1.3.

Perkembangan Nilai Tukar Petani

Grafik 1.4.

Perkembangan Upah Minimum Regional (Rp)

Sumber : BPS Provinsi Sulawesi Utara Sumber : Disnaker Provinsi Sulawesi Utara 95  97  99  101  103  105 

J F M A M J J A S O N D J F M A M J J A S O N D J F

2008 2009 2010

713.500 750.000

845.000 929.000

1.000.000

0 200.000 400.000 600.000 800.000 1.000.000 1.200.000 2006 2007 2008 2009 2010 Grafik 1.5.

Perkembangan Nilai Penjualan Riil

Sumber : Survey Penjualan Eceran (SPE) Kota Manado ‐ 20  40  60  80  100  120  140  160  180 

Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1

2008 2009 2010

Milliar Rp

50  70  90  110  130  150  170 

J F M A M J J  A S O N D J F M

2009 2010

Kondisi Ekonomi Saat Ini Ekspektasi Konsumen Indeks Keyakinan Konsumen

40  60  80  100  120  140  160 

J F M A M J J  A S O N D J F M

2009 2010

(18)

17

hal tersebut, ekspektasi yang tetap terjaga terbukti mampu menopang kestabilan

pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2010.

Sementara itu, kegiatan konsumsi pemerintah selama triwulan I-2010 diperkirakan akan

mengalami perlambatan atau hanya tumbuh sebesar 5,2% (yoy) dibandingkan pada

triwulan I-2009 yang tumbuh 15,9% (yoy). Perlambatan ini antara lain dapat dikonfirmasi

dengan penurunan anggaran belanja pada APBD 2010 yang turun sebesar 2,52%

dibandingkan anggaran belanja pada APBD 2009. Sejalan dengan itu, persentase realisasi

belanja pemerintah pada triwulan laporan baru mencapai Rp137 miliar (12,6%) dari total

anggaran belanja yang ditargetkan sebesar Rp1.093 miliar.

2. Investasi

Pada triwulan I-2010, investasi di Sulawesi Utara diperkirakan akan tumbuh sebesar 5,3%

(yoy), relatif lebih lambat dibandingkan pada triwulan I-2009 yang tercatat sebesar 10%.

Perlambatan ini diantaranya diprediksi sebagai dampak dari ketiadaan even berskala besar

sehingga pembangunan berbagai sarana dan prasarana fisik oleh pemerintah maupun

swasta semakin berkurang, ditambah dengan kondisi infrastruktur yang kurang memadai

terutama jalan dan pelabuhan. Kinerja investasi selama triwulan laporan, antara lain dapat

dikonfirmasi melalui data volume penjualan semen di Sulawesi Utara yang memperlihatkan

penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Volume penjualan semen pada 2

bulan pertama di triwulan 2010 baru mencapai 61% dari pencapaian pada triwulan

I-2009. Dari sisi penyaluran kredit, jumlah kredit yang disalurkan untuk investasi selama

triwulan I-2010 sebesar Rp1.035 miliar atau hanya tumbuh 17,44% (yoy). Pertumbuhan

kredit investasi ini jauh lebih lambat dibandingkan kinerja triwulan I-2009 yang tumbuh

31,77% (yoy).

Grafik 1.7.

Pertumbuhan Kredit Produkif (%) Grafik 1.6.

Perkembangan Penjualan Semen

Sumber : Asosiasi Semen Sumber : Laporan Bulanan Bank Umum Basel II

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

-200 400 600 800 1.000 1.200

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1

2008 2009 2010

Investasi gInvestasi

%

(19)

18

Ket: Sumber: Ditjen Binamarga Dep. PU Sementara itu, kondisi infrastruktur yang kurang

memadai juga turut mendorong perlambatan

investasi, tercermin dari kondisi jalan rusak yang

mencapai 47,5% dari total jalan yang ada di

Sulawesi Utara. Jalan yang rusak ringan dan berat

termasuk dalam katagori jalan yang rusak,

sedangkan untuk jalan yang tidak rusak adalah

kondisi jalan yang masih baik dan sedang.

Namun demikian, kinerja investasi masih menunjukkan pertumbuhan yang positif,

pencapaian ini diantaranya dapat dikonfirmasi oleh data volume impor barang modal dan

indikator dini volume penjualan listrik yang diperkirakan akan mengalami peningkatan.

Volume impor barang modal sampai dengan Februari 2010 diperkirakan mencapai 2.371

ton atau mengalami ekspansi sangat signifikan (2.277%) dibandingkan periode yang sama

tahun lalu. Indikator dini yang menunjukkan arah positif dari kinerja investasi juga

ditunjukkan oleh volume penjualan listrik yang diproyeksikan akan mengalami peningkatan

sebesar 11,71% (yoy) selama triwulan I-2010.

Grafik 1.8. Kondisi Infrastruktur Jalan

‐500 0 500 1.000 1.500 2.000 2.500

0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1

2009 2010

Capital (ton)

gCapital (%)

Grafik 1.9.

Perkembangan Volume Impor Barang Modal

Sumber : Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter

Grafik 1.10. Volume Penjualan Listrik

Sumber : Kanwil PLN Sulutenggo

52,50% 47,50%

(20)

19

3. Ekspor – Impor

Sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian domestik dan daerah mitra dagang

Sulawesi Utara, kinerja ekspor pada triwulan I-2010 diperkirakan masih akan tumbuh

positif. Indikasi membaiknya kinerja ekspor terutama disumbang oleh perdagangan antar

daerah/provinsi yang ditunjukkan oleh tren peningkatan permintaan ekspor dari daerah lain.

Sementara itu, untuk pasar luar negeri masih menunjukkan adanya perlambatan

permintaan bahkan pertumbuhannya diproyeksikan akan mengalami kontraksi di akhir

triwulan I-2010.

Kinerja ekspor Sulawesi Utara selama

triwulan I-2010 diperkirakan masih akan

mencatat pertumbuhan yang positif

sebesar 11,1% (yoy). Salah satu indikator

untuk mengkonfirmasi kinerja ekspor pada

triwulan laporan adalah perkembangan

volume ekspor baik ke luar negeri maupun

ke pasar domestik (antar daerah).

Perkembangan kegiatan ekspor antar

daerah/provinsi dapat dikonfirmasi dengan

kegiatan muat barang melalui pelabuhan

Bitung. Kegiatan muat didefinisikan

sebagai kegiatan pengiriman barang dari Sulawesi Utara ke luar provinsi. Selama triwulan

I-2010, volume barang asal Sulawesi Utara yang dikirim (muat) ke pasar domestik mencapai

250,3 ribu ton atau meningkat 9,5% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, kegiatan ekspor luar negeri sampai dengan bulan Februari 2010 menunjukan

perlambatan. Volume ekspor Sulawesi Utara ke luar negeri hanya mencapai 18 ribu ton

atau turun 79,1% (yoy) dengan nilai ekspor sebesar USD29,69 juta atau turun 63,1% (yoy).

Berdasarkan jenisnya, komoditi utama ekspor luar negeri terutama dalam bentuk Food & Live Animals serta Animals & Vegetable Oils & Fats khususnya olahan dari produk kopra, minyak kelapa (Virgin Coconut Oil) dan ikan dengan negara tujuan utama adalah Amerika Serikat, Belanda, Malaysia, Australia dan Jerman.

-8 -4 0 4 8 12

0 150 300

Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1*)

2008 2009 2010

% Ribu Ton

Muat gMuat

Grafik 1.11.

Perkembangan Volume Ekspor Sulawesi Utara

(21)

20 Grafik 1.12.

Perkembangan Nilai Ekspor Sulawesi Utara

Tabel 1.2.

Komoditi Utama Ekspor Sulut (dlm Ribu Ton)

Sumber : Direktorat Statistik, Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia *) s.d. Februari 2010

Sumber : Direktorat Statistik, Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia *) s.d Februari 2010

Grafik 1.13.

Perkembangan Volume Ekspor Sulawesi Utara

-80 -60 -40 -20 0 20 40 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180

Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1*)

2008 2009 2010

Ekspor_Value gEkspor_Value

Juta USD %

2010

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1*)

Food and Live Animals 36,27 71,82 43,54 66,47 4,92

Animal and Vegetable Oils&Fats 48,13 132,62 114,83 128,47 11,85

Others 1,53 9,86 1,79 11,65 1,22

Total 85,94 214,30 160,16 206,59 18,00

Komoditi 2009 21% 19% 16% 8% 7% 6% 23% Belanda China Amerika Serikat Korea Selatan Jepang Jerman Negara Lainnya 11,11% 26,49% 20,24% 9,27% 4,69% 9,64% 18,55% US Australia Belanda Jerman Malaysia Korsel Lainnya Grafik 1.14.

Negara Tujuan Utama Ekspor Tahun 2009

Grafik 1.15.

Negara Tujuan Utama Ekspor Januari-Februari 2010

Sumber : Direktorat Statistik, Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia

-100 -80 -60 -40 -20 0 20 40 0 50 100 150 200 250

Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1*)

2008 2009 2010

Ekspor_Vol gEkspor_Vol

(22)

21

Berbeda dengan ekspor, kinerja impor luar negeri ke Sulawesi Utara pada triwulan I-2010

diperkirakan mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Peningkatan kinerja impor

luar negeri merupakan salah satu konsekuensi dari diberlakukannya ACFTA pada awal

Januari 2010. Penurunan tarif impor sampai dengan 0% berdampak pada maraknya

barang-barang impor yang masuk wilayah Sulawesi Utara. Perkembangan kinerja impor luar

negeri ini antara lain dapat dikonfirmasi dengan data volume impor selama bulan Januari

dan Februari 2010 yang mencapai 2,48 ribu ton atau meningkat 947,02% (yoy) dengan

total nilai impor mencapai USD15,64 juta. Meskipun demikian, secara agregat, neraca

perdagangan luar negeri Sulawesi Utara masih berada pada kondisi surplus perdagangan.

Hal ini berarti bahwa nilai ekspor luar negeri lebih tinggi dibandingkan nilai impor dari luar

negeri ke Sulawesi Utara.

Grafik 1.18.

Perkembangan Net Nilai Ekspor-Impor Sulawesi Utara

Sumber : Direktorat Statistik, Ekonomi dan Monter Bank Indonesia *) s.d. Februari 2010

Grafik 1.16.

Perkembangan Nilai Impor Sulawesi Utara

Grafik 1.17.

Perkembangan Volume Impor Sulawesi Utara

Sumber : Direktorat Statistik, Ekonomi dan Monter Bank Indonesia *) s.d. Februari 2010

Grafik 1.19.

Perkembangan Net Volume Ekspor-Impor Sulawesi Utara

-200 0 200 400 600 800 1.000 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1*)

2008 2009 2010

Impor_Vol gImpor_vol

ribu ton %

-2.500 0 2.500 5.000 7.500 0 5 10 15 20 25

Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1*)

2008 2009 2010

Impor_Value gImpor_Value

Juta USD %

-100 -80 -60 -40 -20 0 20 40 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180

Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1*)

2008 2009 2010

NetExim_Value gNetExim_Value

Juta USD %

-100 -80 -60 -40 -20 0 20 40 0 50 100 150 200 250

Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1*)

2008 2009 2010

NetExim_Vol gNetExim_Vol

(23)

22

2010

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1*)

Machinery and Transport Equipment 100 2.510 10.700 105 2.393

Manufactured Goods 1 350 3.333 665 30

Chemical 6 37 637 262 5

Animal and Vegetable Oils & Fats 0 15 803 40 42

Food and Lived Animals 0 10 93 20 0

Others 6 44 33 8 8

Total 113 2.966 15.597 1.100 2.479

Komoditi 2009

Berdasarkan strukturnya, kegiatan impor luar negeri masih didominasi oleh impor barang

modal dengan pangsa 96% dari total impor. Beberapa produk barang modal tersebut

antara lain mesin, perkakas, alat transportasi, dlsb-nya. Meningkatnya komposisi barang

impor dalam bentuk mesin, peralatan dan material ini mengindikasikan terus meningkatnya

kegiatan investasi di Sulawesi Utara. Berdasarkan negara asal barangnya, barang impor

sepanjang Tahun 2009 sampai dengan Februari 2010 lebih banyak didatangkan dari negara

China, Australia dan Filipina.

Grafik 1.20.

Negara Asal Impor Sulawesi Utara

Sementara itu, perkembangan kegiatan impor antar provinsi selama triwulan laporan masih

mencatat pertumbuhan yang positif. Hal ini dapat dikonfirmasi dengan kegiatan bongkar

barang melalui pelabuhan Bitung. Kegiatan bongkar didefinisikan sebagai masuknya barang

dari luar provinsi ke Sulawesi Utara. Selama triwulan I-2010, volume barang asal Sulawesi

Tabel 1.4.

Komoditi Utama Impor Sulut (dlm Ton)

Sumber : Direktorat Statistik, Ekonomi dan Monter Bank Indonesia *) s.d. Februari 2010

15,99%

11,34%

7,29%

37,90% 21,02%

6,46%

Filipina

Malaysia

Jepang

China

Australia

Lainnya

0,34%

94,20% 3,58%

1,88%

Malaysia

China

Australia

Lainnya

2009 Jan - Feb 2010

(24)

23

Utara yang dikirim (muat) ke pasar

domestik mencapai 250,3 ribu ton atau

meningkat 9,5% (yoy) dibandingkan

periode yang sama tahun lalu. Jika

dilihat perkembangannya, tingkat

ketergantungan Sulawesi Utara

terhadap daerah/provinsi lainnya di luar

Sulawesi Utara sudah mulai

menunjukan adanya tren penurunan,

yang tercermin dari pertumbuhan

volume barang yang masuk ke Sulawesi

Utara (bongkar) yang mengalami

perlambatan.

B. SISI PENAWARAN

Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2010 disumbangkan oleh

seluruh sektor yang ada dengan proyeksi laju pertumbuhan sebesar 6,7% (yoy), lebih

lambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (7,5%). Potensi perlambatan ini

diantaranya disebabkan oleh ketiadaan even berskala besar dibandingkan periode yang

sama tahun lalu sehingga aktivitas pembangunan infrastruktur, sarana/prasarana lainnya

menunjukan tren perlambatan, yang pada tahap selanjutnya akan berdampak terhadap

perlambatan kegiatan perdagangan dan kunjungan wisatawan.

Tabel 1.5.

Laju Pertumbuhan Sulawesi Utara Menurut Sektor Ekonomi (%)

Sumber : BPS Provinsi Sulawesi Utara, diolah *) Proyeksi Bank Indonesia Manado

Grafik 1.21.

Perkembangan Kegiatan Bongkar dan Muat di Pelabuhan Bitung

2010

Q1 Sumb. Q4 Sumb. Q1*)

Pertanian 2,7 4,7 0,9 0,6 0,1 2,1 5,0

Pertambangan & Penggalian 9,4 5,7 0,3 5,1 0,3 5,5 7,1

Industri Pengolahan 6,2 5,4 0,4 7,5 0,6 7,0 5,4

Listrik, Gas & Air Bersih 7,5 17,8 0,1 9,8 0,1 14,9 10,0

Bangunan 10,7 7,9 1,3 4,2 0,7 6,1 7,2

PHR 10,9 12,4 1,8 12,9 2,2 12,3 10,4

Pengangkutan & Komunikasi 11,0 8,7 1,1 21,2 2,4 16,9 8,1

Keu., Sewa & Jasa Perusahaan 7,3 7,0 0,5 8,0 0,5 7,6 6,3

Jasa-Jasa 5,4 6,5 1,1 7,2 1,1 6,9 4,3

PDRB 7,6 7,5 7,5 8,0 8,0 7,9 6,7

2009

Lapangan Usaha 2008 2009

0 5 10 15 20 25

-1.000 500 2.000 3.500

Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1*)

2008 2009 2010

% Ribu Ton

Bongkar gBongkar

(25)

24 Tabel 1.6.

Produksi, Produktivitas dan Luas Panen Tanaman Padi dan Palawija di Provinsi Sulawesi Utara

1. Pertanian

Kinerja sektor pertanian pada triwulan I-2010 diperkirakan sedikit lebih baik dibandingkan

periode yang sama Tahun 2009. Pada triwulan ini, sektor pertanian diperkirakan akan

tumbuh 5,0% (yoy). Berdasarkan pangsanya, pertumbuhan sektor pertanian terutama

disumbangkan oleh sub sektor perkebunan, tanaman bahan makanan, sub sektor

peternakan dan kemudian disusul oleh sub sektor perikanan.

Sementara itu, untuk sub sektor lainnya yaitu sub sektor kehutanan laju pertumbuhannya

rendah sehingga kontribusinya relatif terbatas. Rendahnya pertumbuhan sub sektor

kehutanan antara lain disebabkan oleh semakin terbatasnya lahan kehutanan yang bisa

dimanfaatkan serta gencarnya proses penegakan hukum terhadap pelaku illegal logging

yang menyebabkan masyarakat dan pengusaha harus extra hati-hati dalam memanfaatkan

lahan yang ada.

Perkembangan kinerja sektor

pertanian antara lain dapat

dikonfirmasi dengan data angka

ramalan (Aram) I Tahun 2010 untuk

produksi padi dan palawija. Jumlah

produksi padi pada triwulan I-2010

diperkirakan mencapai 584.647 ton

atau naik 6,51% (yoy) dibandingkan

periode yang sama tahun lalu.

Demikian pula dengan komoditi

jagung, kedelai, kacang tanah dan

ubi kayu yang diprediksikan akan

mengalami pertumbuhan

masing-masing sebesar 8,40%, 19,56%,

7,59% dan 14,75%. Seperti halnya

jumlah produksi, angka produktivitas

dan luas panen dari tanaman padi

dan jagung juga tercatat mengalami

peningkatan.

Jenis Tanaman ATAP 2008 ASEM 2009 ARAM I-2010 Perubahan (%)

Padi (Sawah+Ladang) 520.193 548.912 584.647 6,51

Jagung 466.041 450.989 488.859 8,40

Kedelai 7.217 7.667 9.167 19,56

Kacang Tanah 8.640 8.493 9.138 7,59

Kacang Hijau 2.381 2.680 2.164 -19,25

Ubi Kayu 83.656 77.206 88.591 14,75

Ubi Jalar 42.062 53.121 50.063 -5,76

Padi (Sawah+Ladang) 47,31 47,84 48,71 1,82

Jagung 35,36 35,69 36,48 2,21

Kedelai 13,81 13,57 13,28 -2,14

Kacang Tanah 13,14 13,17 13,12 -0,38

Kacang Hijau 13,29 12,62 12,71 0,71

Ubi Kayu 130,96 130,70 130,70 0,00

Ubi Jalar 98,34 97,83 97,93 0,10

Padi (Sawah+Ladang) 109.951 114.745 120.018 4,60

Jagung 131.791 126.349 133.991 6,05

Kedelai 5.227 5.652 6.903 22,13

Kacang Tanah 6.573 6.450 6.965 7,98

Kacang Hijau 1.791 2.123 1.702 -19,83

Ubi Kayu 6.388 5.907 6.778 14,75

Ubi Jalar 4.277 5.430 5.112 -5,86

Produksi (Ton)

Produktivitas (Ku/Ha)

Luas Panen (Ha)

(26)

25

Sumber : Lapoaran Bulanan Bank Umum (LBU) Basel II

Dari sisi pembiayaan, peran perbankan untuk membiayai sektor pertanian masih relatif

terbatas. Sampai dengan Maret 2010, jumlah kredit yang disalurkan pada sektor pertanian

hanya mencapai Rp140 milliar atau hanya 1,29% dari total kredit yang disalurkan. Belum

terlalu optimalnya penyaluran kredit di sektor pertanian antara lain disebabkan oleh relatif

tingginya resiko usaha di sektor tersebut tercermin dari tingginya NPL (Non Performing Loan). Selain itu, belum terlalu kondusifnya kondisi usaha di sektor riil sebagai dampak krisis ekonomi global menyebabkan saat ini perbankan lebih berhati-hati dalam menyalurkan

pembiayaan termasuk di sektor pertanian. Hal ini terbukti dengan terus melambatnya

pertumbuhan kredit di sektor ini dari sebelumnya tumbuh pada kisaran 35-40% (yoy) pada

triwulan I Tahun 2009 sampai menyentuh level kontraksi sebesar 66,89% (yoy) di triwulan

I-2010.

2. Sektor Bangunan (Konstruksi)

Kinerja sektor bangunan (konstruksi) selama triwulan I-2010 diperkirakan akan mengalami

perlambatan dari 7,9% (yoy) pada triwulan 2009 menjadi 7,2% (yoy) pada triwulan

I-2010. Perlambatan kinerja sektor bangunan diperkirakan dipengaruhi oleh ketiadan even

berskala besar sehingga terjadi penurunan aktivitas pembangunan. Selain itu, realisasi

belanja pemerintah khususnya untuk pekerjaan proyek fisik yang masih cenderung rendah

di awal triwulan juga turut mendorong perlambatan kinerja sektor bangunan. Beberapa

variabel ekonomi yang bisa mengkonfirmasi perkembangan sektor ini diantaranya adalah

data perkembangan volume penjualan semen yang pada 2 bulan pertama triwulan I-2010

baru mencapai 60% pencapaian pada periode triwulan I-2009. Namun demikian, kinerja

Grafik 1.22. Pertumbuhan Kredit Pertanian

-80 -60 -40 -20 0 20 40 60 80 100 120

-100 200 300 400 500 600

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1

2008 2009 2010

Pertanian gPertanian %

(27)

26

sektor ini masih relatif baik tercermin dari angka pertumbuhan yang positif. Dari sisi

pembiayaan, posisi kredit perbankan ke sektor bangunan pada triwulan I-2010 juga

menunjukan tren yang melambat bahkan menyentuh level kontraksi sebesar 4,89% dengan

jumlah nominal Rp459 miliar.

.

Sumber : Asosiasi Semen Indonesia Sumber : LBU Bank Umum Basel II

3. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR)

Sektor PHR pada triwulan I-2010 diprediksi akan tumbuh 10,4% (yoy). Kinerja ini relatif

lebih lambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tumbuh 12,4% (yoy).

Ketiadaan even internasional telah berdampak terhadap perlambatan kinerja sektor PHR.

Perlambatan ini antara lain dapat dikonfirmasi melalui perkembangan data pariwisata yang

secara umum memperlihatkan tren penurunan diantaranya adalah data wisatawan

mancanegara, data jumlah tamu dan lama tamu menginap, Tingkat Penghunian Kamar

(TPK), dan jumlah kamar terjual.

Grafik 1.23.

Volume dan Pertumbuhan Penjualan Semen

Grafik 1.24.

Perkembangan Kredit Konstruksi

Grafik 1.25. Kunjungan Wisman ke Sulut

Grafik 1.26. Jumlah Tamu Menginap

-10 0 10 20 30 40 50 60 70 -2.000 4.000 6.000 8.000 10.000

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1*)

2008 2009 2010

%

orang Wisman gWisman (y.o.y)

-5 0 5 10 15 20 25 30 -10.000 20.000 30.000 40.000 50.000

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1*)

2008 2009 2010

% orang Kmr Terjual gKmr Terjual (y.o.y)

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sulut, diolah *) estimasi Maret 2010.

-30 -20 -10 0 10 20 30 40 50 60 70 -100 200 300 400 500 600

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1

2008 2009 2010

Konstruksi gKonstruksi

(28)

27

Selain itu, kinerja sektor PHR selama triwulan I-2010 antara lain dapat dikonfirmasi melalui

nilai penjualan riil dari hasil Survey Penjualan Eceran (SPE) yang meningkat 12,42% (yoy)

yaitu dari Rp146,71 miliar di triwulan I-2009 naik menjadi Rp164,93 miliar di triwulan

laporan.

Sumber : Survey Penjualan Eceran (SPE) Kota Manado Sumber : Laporan Bulanan Bank Umum (LBU) Basel II

Dari segi pembiayaan, sektor PHR merupakan sektor terbesar kedua setelah sektor konsumsi

yang mendapatkan alokasi pembiayaan dari perbankan yaitu sebesar Rp2.456 miliar di

Grafik 1.30.

Perkembangan Kredit Sektor PHR Grafik 1.27.

TPK dan Lama Menginap

Grafik 1.28. Jumlah Kamar Terjual

-1 2 3 4 5 6 -10 20 30 40 50 60

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1*)

2008 2009 2010

hari % TPK Ratas Menginap

0 10 20 30 40 50 60 -5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000 40.000

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1*)

2008 2009 2010

% orang

Menginap gMenginap (y.o.y)

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sulut, diolah *) estimasi Maret 2010.

‐ 20  40  60  80  100  120  140  160  180 

Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1

2008 2009 2010

Milliar Rp

Grafik 1.29.

Perkembangan Nilai Penjualan Riil

‐20 ‐10 0 10 20 30 40 50 60 ‐ 500  1.000  1.500  2.000  2.500  3.000  3.500 

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1

2008 2009 2010

PHR gPHR

(29)

28

triwulan I-2010. Jika dibandingkan periode yang sama tahu lalu yang tumbuh 25,02%

(yoy), jumlah penyaluran kredit di sektor ini mengalami penurunan bahkan menyentuh level

kontraksi sebesar 7,37% (yoy). Hal ini mengindikasikan bahwa pengurangan jumlah kredit

yang disalurkan pihak perbankan di sektor PHR turut mendorong perlambatan kinerja sektor

ini.

4. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi

Salah satu multiplier effect dari adanya penyelenggaraan berbagai even berskala

internasional di Tahun 2009 adalah semakin dikenalnya Kota Manado sebagai salah satu

kota tujuan wisata oleh masyarakat luar. Hal ini berpengaruh pada meningkatkan minat

wisatawan untuk berkunjung ke Sulawesi Utara hingga pada tahap lanjut mampu

mendorong kinerja sektor pengangkutan dan telekomunikasi. Sektor pengangkutan dan

komunikasi pada triwulan I-2010 diproyeksikan akan tumbuh 8,1% (yoy). Menurut sub

sektornya, pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi terutama berasal dari sub

sektor pengangkutan dengan kontribusi diatas 80% sedangkan sisanya disumbangkan oleh

sub sektor komunikasi (±20%).

Sementara itu, relatif tingginya

pertumbuhan sub sektor komunikasi

dalam triwulan laporan terutama

disebabkan oleh dibukanya rute baru

penerbangan (Manado-Gorontalo) serta

dijadikannya Kota Manado sebagai

home base bagi salah satu maskapai penerbangan domestik (Lion Air)

khususnya untuk rute penerbangan di

wilayah timur. Sejalan dengan hal

tersebut, pesatnya penggunaan sarana

telepon selular oleh masyarakat yang

didukung oleh semakin luasnya wilayah jangkauan, disamping pesatnya pembangunan

sejumlah menara BTS (Base Transceiver System) di beberapa lokasi pada daerah yang

sebelumnya terisolir sehingga dapat meningkatkan kenyamanan pelanggan dalam

berkomunikasi. Selain itu perkembangan berbagai macam fasilitas/ fitur baru dan gencarnya

promosi yang dilakukan oleh para provider telekomunikasi semakin memudahkan dan

memanjakan para pengguna jasa telekomunikasi.

Grafik 1.31.

Perkembangan Kredit Sektor Angkutan (%)

‐40 ‐20 0 20 40 60 80

‐ 10  20  30  40  50  60  70  80  90  100 

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1

2008 2009 2010

Angk&Kom gAngk&Kom

Rp Miliar %

(30)

29

5. Sektor Jasa-Jasa

Pada triwulan I-2010 sektor jasa-jasa diperkirakan tumbuh positif sebesar 4,3% (yoy).

Pencapaian ini antara lain disebabkan persentase realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD)

selama triwulan laporan yang mencapai Rp87,91 miliar atau 25,1% dari total PAD yang

ditargetkan pada APBD Tahun 2010 sebesar Rp350,03 miliar, atau mengalami kenaikan bila

dibandingkan realisasi PAD pada periode yang sama tahun lalu sebesar 23,3%.

6. Sektor Lainnya

Kinerja sektor industri pengolahan selama triwulan I-2010 relatif stabil sehingga sektor

industri pengolahan diprediksikan tumbuh 5,4% (yoy). Dari hasil Quick Survey “Kondisi

Sektor/Produk Unggulan di Sulawesi Utara Saat ini & Prospeknya (Peluang/Ancaman) dalam

Menghadapi Perdagangan Bebas ASEAN-China” yang dilakukan kepada 5 responden yakni

4 perusahaan ekpor komoditi tepung kelapa dan 1 perusahaan minyak kelapa (Crude

Coconut Oil) diperoleh kesimpulan bahwa dengan pemberlakuan ACFTA merupakan

peluang bagi komoditi tepung kelapa untuk memperluas pasarannya ke negara China dan

ASEAN, karena selama ini target pemasaran produk mereka hanya ke pasar Eropa, Timur

Tengah dan Afrika. Selain kelapa dan produk turunannya, komoditi ikan dan produk

olahannya juga menjadi andalan ekspor Sulawesi Utara ke mancanegara. Semakin

terbukanya pasaran ekspor di ASEAN dan China diperkirakan akan mendorong kinerja

ekspor dan sektor industri pengolahan sebagaimana tercermin dari hasil Survei Kegiatan

Dunia Usaha (SKDU) di triwulan IV-2009 yang memprediksikan perkembangan kegiatan

industri pengolahan pada triwulan I-2010 akan cenderung mengalami peningkatan

tercermin dari nilai SBT yang naik sebesar 7,38%.

Perkembangan sektor industri pengolahan tak lepas pula dari dukungan pembiayaan oleh

perbankan, sampai dengan akhir triwulan I-2010 jumlah kredit yang disalurkan pada sektor

ini mencapai Rp251 miliar atau tumbuh signifikan sebesar 28,63% (yoy), lebih tinggi

(31)

30

Sementara itu, sektor listrik, gas dan air bersih pada triwulan I-2010 diperkirakan akan

tumbuh 10% (yoy). Peningkatan kinerja sektor ini, tak lepas dari pulihnya pasokan listrik di

Sulawesi Utara seiring dengan kembali beroperasinya beberapa mesin pembangkit yang

sebelumnya mengalami kerusakan dan pemeliharaan. Namun demikian, jumlah antrian

calon pelanggan PLN masih tetap tinggi. Hal ini disebabkan oleh relatif terbatasnya pasokan

listrik oleh PLN di Sulawesi Utara. Kinerja sektor listrik, gas dan air besih antara lain dapat

dikonfirmasi dengan perkembangan jumlah pemakaian listrik.

Sumber : PLN Kanwil Sulutenggo Grafik 1.32.

Ekspektasi Kegiatan Dunia Usaha Per Sektor Ekonomi Tw.I-2010

Grafik 1.33.

Perkembangan Kredit Sektor Industri

Grafik 1.34.

Penggunaan Listrik di Sulawesi Utara

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 50.000 55.000 60.000 65.000 70.000 75.000

Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1

2008 2009 2010

MWh % (10,00) (8,00) (6,00) (4,00) (2,00) -2,00 4,00 6,00

8,00 Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan

Pertambangan dan Penggalian

Industri Pengolahan

Listrik, Gas dan Air Bersih

Bangunan

Perdagangan, Hotel dan Restoran

Pengangkutan dan Komunikasi

Keuangan, Persewaan dan Jasa Keuangan

Jasa-Jasa %

Sumber : Survei Kegiatan Dunia Usaha Kota Manado Sumber : Laporan Bulanan Bank Umum Basel II

0 10 20 30 40 50 60 ‐ 50  100  150  200  250  300 

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1

2008 2009 2010

Inds_Pengolahan gInds_Pengolahan

(32)

31

Sektor pertambangan dan penggalian pada triwulan I-2010 diperkirakan tumbuh 7,1%

(yoy). Berdasarkan sub sektornya, pertumbuhan sektor ini disumbangkan oleh seluruh sub

sektor yang ada yaitu sub sektor minyak dan gas, pertambangan tanpa migas dan

penggalian. Berdasarkan pelaku usahanya, sub sektor penggalian ini lebih banyak dilakukan

oleh penambangan tradisional/rakyat dan bukan industri berskala besar. Sementara itu,

untuk kinerja sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan pada triwulan laporan

diperkirakan akan tumbuh 6,3% (yoy). Perkembangan sektor keuangan, persewaan dan

jasa antara lain tercermin dari maraknya pembangunan jaringan kantor dan fasilitas

perbankan antara lain: pembukaan kantor cabang pembantu baru, penambahan ATM

(Anjungan Tunai Mandiri), serta penawaran produk-produk baru yang memberikan

(33)

32

BOKS 1.

KONDISI SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN DI TRIWULAN I-2010 DAN

PROSPEKNYA DALAM MENGHADAPI PERDAGANGAN BEBAS ASEAN-CINA

(

ASEAN-CHINA FREE TRADE AREA

)

Perkembangan sektor industri pengolahan selama Triwulan I-2010 di wilayah kerja KBI Manado diperoleh dengan melakukan wawancara terhadap 7 perusahaan yang selanjutnya disebut contact dengan orientasi pasar domestik maupun luar negeri yang tersebar di wilayah kota/kabupaten di Sulawesi Utara. Mulai diberlakukannya ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) tahun 2010 diperkirakan akan memberi dampak positif bagi sebagian besar pelaku usaha di Sulut. Kecenderungan ke arah positif ini terutama disebabkan karena sebagian besar sektor usaha di Sulut bergerak dalam memproduksi jenis komoditi primer, sehingga dengan terbukanya peluang pasar ke negara-negara anggota ACFTA yang bebas tarif akan memacu pelaku usaha untuk lebih gencar mempromosikan produknya.

Kinerja ekspor cenderung mengalami pertumbuhan. Contact yang berorientasi ekspor menyatakan bahwa kinerja penjualan produk ekspor pada triwulan I-2010 menunjukkan indikasi pertumbuhan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Peningkatan penjualan terutama disebabkan karena semakin luasnya pasar tujuan ekspor yang diikuti dengan tingkat permintaan yang masih cukup tinggi. Sementara untuk contact dengan orientasi domestik menyatakan bahwa nilai penjualan di awal tahun 2010 menunjukkan adanya sedikit penurunan akibat telah kembalinya tingkat permintaan ke posisi normal, setelah sebelumnya mengalami masa peak di akhir tahun 2009.

Kapasitas utilisasi masih berada dalam posisi normal dengan kecenderungan sedikit

meningkat. Rata-rata kapasitas utilisasi sebesar 80% dari total kapasitas terpasang yang tersedia. Peningkatan kapasitas utilisasi terutama untuk industri pengolahan ikan yang menyesuaikan peningkatan permintaan ekspor. Sementara untuk contact yang berorientasi domestik cenderung mempertahankan tingkat kapasitas utilisasi pada level normal.

Investasi baru masih belum direncanakan oleh sebagian besar contact. Contact yang berorientasi ekspor cenderung tidak melakukan investasi baru, melainkan melakukan tindak lanjut atas investasi yang dilakukan sebelumnya serta melakukan perbaikan dan perawatan mesin. Sementara contact yang berorientasi domestik melakukan investasi dalam bentuk differensiasi usaha. Tingginya tingkat persaingan menyebabkan contact berusaha untuk mengembangkan produknya guna meraih market yang lebih luas.

(34)

33

normal berdampak pada margin perusahaan yang terkoreksi ke kembali ke level normal.

Pembiayaan internal masih menjadi prioritas sumber pembiayaan contact. Sebagian besar contact masih kurang berminat untuk menambah sumber pembiayaan dari perbankan. Alasan utama yang melatar belakanginya adalah karena tingkat suku bunga perbankan dinilai masih terlalu tinggi untuk menjalankan usaha. Rata- rata tingkat suku bunga yang diterima contact masih di atas 12% per tahun.

Penambahan tenaga kerja belum menjadi prioritas utama perusahaan. Mayoritas contact baik yang berorientasi ekspor maupun domestik menyatakan masih akan tetap mempertahankan jumlah tenaga kerja yang ada sementara melihat perkembangan kondisi pasar. Contact menilai bahwa tenaga kerja yang tersedia saat ini masih cukup memadai bahkan masih bisa ditingkatkan produktivitasnya.

Trend penguatan nilai tukar rupiah memangkas margin sebagian contact. Sebagian besar contact yang berorientasi ekspor menyatakan penguatan nilai rupiah sepanjang tahun 2009 yang berlanjut hingga awal tahun 2010 berdampak terhadap margin yang diperolehnya.

P

P

a

a

s

s

a

a

r

r

D

D

o

o

m

m

e

e

s

s

t

t

i

i

k

k

Kinerja penjualan domestik contact pada triwulan I-2010 menunjukkan perlambatan

dibandingkan periode sebelumnya sebagai dampak faktor musiman. Tingginya tingkat penjualan di akhir tahun 2009 menyebabkan kondisi awal tahun berikutnya menjadi cenderung melambat. Jika dibandingkan dengan kondisi tahun sebelumnya, perlambatan di awal tahun ini juga disebabkan oleh berkurangnya aktivitas perekonomian. Pada tahun 2009, aktivitas perekonomian cenderung bergerak di atas level normal akibat adanya persiapan penyelenggaraaan event berskala internasional. Sementara dengan ketiadaan event berskala internasional pada tahun 2010 maka aktivitas ekonomi masyarakat kembali pada posisi normal. Harga jual produk berada pada kondisi stabil. Contact menyatakan bahwa harga jual produk dipertahankan pada level tetap. Keputusan untuk mempertahankan tingkat harga ini disesuaikan dengan permintaan pasar yang cenderung melambat.

Di masa mendatang, contact memperkirakan akan terjadi peningkatan permintaan

masyarakat. Contact mengkonformasi perkiraan peningkatan permintaan masyarakat pada triwulan berikutnya akan membaik. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan contact dalam memperkirakan peningkatan permintaan antara lain meningkatnya pertumbuhan ekonomi daerah yang tercermin dari perkiraan peningkatan konsumsi akibat adanya kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan pelaksanaan Pemilihan Kepala daerah (Pilkada).

P

P

a

a

s

s

a

a

r

r

E

E

k

k

s

s

p

p

o

o

r

r

Permintaan pasar ekspor pada triwulan I-2010 masih menunjukkan pertumbuhan

(35)

34

Tabel.1

Perkembangan Ekspor Sulut ke China

TAHUN

 

VOLUME

 

NILAI

SHARE

 

DARI

 

TOTAL

 

EKSPOR

2008

84325

 

Ton

US$74,70

 

juta

10,09%

2009 124553

 

Ton

US$

 

71,85

 

juta

13,50%

laporan masih menunjukan pertumbuhan positif.

Pemberlakuan ACFTA 2010 disinyalir akan memberi dampak positif terhadap pelaku perdagangan internasional di Sulawesi Utara. Hal ini tidak terlepas dari peran Sulawesi Utara sebagai penghasil komoditas primer, dengan produk utama kelapa dan turunannya serta produk ikan dan olahannya. Salah satu kesepakatan ACFTA yang dinilai akan menguntungkan bagi penghasil komoditas primer adalah ditetapkannya bea masuk 0 (nol) % atau tanpa pajak sama sekali untuk produk dari sektor pertanian. Adanya kesepakatan ACFTA juga dinilai akan dapat membuka peluang pasar baru bagi eksportir Sulut yang selama ini cenderung lebih banyak melakukan kegiatan ekspor dengan negara tujuan non ASEAN-China. Walaupun China belum menjadi negara tujuan utama ekspor Sulut, namun demikian terlihat adanya trend peningkatan baik dalam hal volume maupun nilai ekspor dari Sulut ke China pada periode waktu 2008-2009.

Tingkat harga jual khususnya untuk produk tepung kelapa telah kembali ke posisi

normal. Harga jual tepung kelapa yang sempat mengalami periode peak sepanjang tahun 2008, telah berangsur normal pada tahun 2009. Pada awal tahun 2010 ini, tingkat harga telah kembali stabil di posisi USD 1/kg. Sementara itu, untuk produk ikan, tingkat harga ikan beku mulai kembali meningkat, setelah di akhir tahun 2009 mengalami penurunan akibat melimpahnya pasokan di negara tujuan ekspor.

Gambar. 1

Nilai Ekspor Sulut Berdasarkan Negara Tujuan (ribu USD)

Sumber : SEKDA

Tabel.2

Komoditi Ekspor Sulut ke China

Sumber : Disperindag Prov Sulut

1.Minyak kelapa kasar 7.Sabut kelapa 2.Minyak goreng kelapa 8.Serbuk sabut kelapa 3.Minyak sawit kasar 9.Arang tempurung 4.Minyak goreng sawit 10.Tuna segar 5.Bungkil kopra 11.Tuna beku 6.Tepung kelapa 12.Ikan kayu.

KOMODITI EKSPOR SULUT KE CHINA

0 50000 100000 150000 200000 250000 300000

(36)

35

K

K

a

a

p

p

a

a

s

s

i

i

t

t

a

a

s

s

U

U

t

t

i

i

l

l

i

i

s

s

a

a

s

s

i

i

Kapasitas utilisasi mayoritas contact yang berorientasi pada pasar ekspor maupun domestik pada triwulan I - 2010 masih sama dengan periode sebelumnya, yaitu pada kisaran 80% dari total kapasitas terpasang yang ada. Khusus untuk industri pengolahan ikan, contact menyatakan telah meningkatkan kapasitas utilisasinya untuk memenuhi peningkatan permintaan ekspor.

P

P

e

e

r

r

s

s

e

e

d

d

i

i

a

a

a

a

n

n

Tingkat persediaan mayoritas contact yang berorientasi ekspor masih sama dengan kondisi triwulan sebelumnya, yaitu berada dalam kondisi normal. Sementara contact yang berorientasi domestik menyatakan bahwa tingkat persediaan cenderung meningkat.

Pada triwulan I-2009, contact yang berorientasi domestik mengkonfirmasi meningkatnya persediaan sebagai akibat kembalinya kondisi perekonomian ke posisi normal setelah sebelumnya meningkat di akhir tahun.

I

I

n

n

v

v

e

e

s

s

t

t

a

a

s

s

i

i

Contact yang berorientasi domestik menyatakan akan melakukan kegiatan investasi dalam rangka mengembangkan kegiatan usahanya. Fokus pengembangan usaha terutama untuk differensiasi produk guna meraih pasar yang lebih luas. Sementara itu, mayoritas contact yang berorientasi ekspor tidak melakukan kegiatan investasi baru, melainkan hanya melanjutkan proyek investasi sebelumnya serta melakukan perawatan dan perbaikan mesin.

P

P

e

e

m

m

b

b

i

i

a

a

y

y

a

a

a

a

n

n

d

d

a

a

n

n

T

T

i

i

n

n

g

g

k

k

a

a

t

t

S

S

u

u

k

k

u

u

B

B

u

u

n

n

g

g

a

a

Mayoritas contact liaison pada triwulan I-2010 menggunakan sumber pembiayaan internal dalam rangka memenuhi pendanaan modal kerja. Masih cukup tingginya suku bunga pinjaman perbankan saat ini menyebabkan mayoritas contact cenderung menggunakan pembi

Gambar

Grafik 1.32.
Gambar. 1Nilai Ekspor Sulut Berdasarkan Negara Tujuan (ribu USD)
Grafik 2.4.
Grafik 3.5.
+7

Referensi

Dokumen terkait

DBD umumnya dimulai dengan peningkatan suhu tubuh secara tiba-tiba yang disertai dengan kemerahan pada wajah.. serta gejala spesifik nonspesifik lain. DBD biasanya

bahwa dalam rangka menindaklanjuti ketentuan Pasal 14 dan Pasal 15 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan yang pada intinya menyebutkan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit Daun Gambir yang didapat dari Sumatera Barat.. Piranti yang digunakan antara lain piranti gelas, mortar,

Perbedaan yang nyata yang terjadi pada minggu ke-2 dan 11 ini tidak cukup untuk membuktikan bahwa perlakuan PGPR 50 berpengaruh terhadap besar diameter tanaman, tetapi

Pada lokasi yang memiliki ketinggian tempat lebih tinggi, kedua jenis merbau akan cenderung membentuk pola sebaran mengelompok serta berasosiasi dengan jenis lainnya, sedangkan

Penetapan sanksi organisasi berupa skorsing dikenakan terhadap personalia Pimpinan karena melakukan tindakan dan atau pelanggaran berat, sesuai kriteria yang

Setelah semua data lulusan mahasiswa Fakultas Teknik tahun 2013 sampai 2015 didapatkan dengan jumlah 466 record, setelah data diseleksi sesuai dengan atribut yang akan

Dalam hal konstruksi mesin perbedaan mesin bensin dan mesin diesel ini mesin diesel lebih cenderung simple tidak terlalu rumit seperti mesin bensin akan tetapi dari segi bobot