• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLA BIMBINGAN ROHANI ISLAM PADA UNIT BINA ROHANI RUMAH SAKIT ISLAM AHMAD YANI SURABAYA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "POLA BIMBINGAN ROHANI ISLAM PADA UNIT BINA ROHANI RUMAH SAKIT ISLAM AHMAD YANI SURABAYA."

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

i

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh Gelar

Sarjana Ilmu Sosial Islam (S.Sos.I)

Oleh:

BAGUS PUTRA BUDIARTO NIM. B73212098

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM JURUSAN DAKWAH

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id ABSTRAK

Bagus Putra Budiarto (B73212098), 2016.Pola Bimbingan Rohani Islam Pada Unit Bina Rohani Rumah Sakit Islam Ahmad Yani Surabaya.

Fokus permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah bagaimana pola yang dilakukan oleh unit Bina Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya dalam memberikan bimbingan rohani islam terhadap pasien ?. Kemuadian, bagaimana tanggapan pasien terhadap pola Bimbingan Rohani Islam yang dilakukan oleh unit Bina Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya ?

Maka, untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti menggunakan metode penelitian Kualitatif dan Kuantitatif (mix method) yang berfungsi untuk memeriksa fakta dan data mengenai pola Bimbingan Rohani Islam yang dilakukan oleh unit Bina Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya serta tanggapan pasien akan terhadap proses pemberian bimbingan rohani Islam yang dilakukan oleh unit Bina Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya. Kemudian data dan fakta tersebut dianalisis untuk mengetahui pola dan tanggapan pasien terhadap bimbingan rohani islam yang dilakukan oleh unit Bina Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerepan Bimbingan Rohani Islam di rumah sakit, khususnya rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya yang telah lama memiliki layanan tersebut. Selain itu, peneliti juga berharap dari penelitian ini bisa memunculkan gagasan baru dalam memberikan bimbingan rohani islam kepada pasien.

Dari data dan fakta yang telah dikumpulkan dan kemudian dianalisis dengan 2 teknik analisis data sehingga sampai pada hasil dan kesimpulan bahwa pola bimbingan rohani islam yang dilakukan unit Bina Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya sudah cukup baik dan variatif. Tidak hanya berhenti pada pasien, karyawan, pengunjung, dan keluarga pasien juga menjadi sasaran penerapan bimbingan rohani Islam. Adapun bila melihat hasil angket, terdapat 18 pasien dari 22 pasien yang menjadi responden beranggapan cukup baik terhadap unit bina rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya dalam memberikan Bimbingan Rohani Islam.

(7)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN OTENTISITAS SKRIPSI ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Definisi Oprasional ... 8

F. Metode Penelitian ... 9

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 9

2. Sasaran dan Lokasi Penelitian ... 10

3. Populasi dan Sampel ... 10

4. Jenis dan Sumber Data ... 12

5. Tahap-tahap Penelitian ... 13

6. Teknik Pengumpulan Data ... 14

7. Teknik Analisis Data ... 18

8. Teknik Pemerikasa Keabsahan Data ... 23

G. Sistematika Pembahasan ... 24

BAB II : KAJIAN PUSTAKA A. Bimbingan Rohani Islam 1. Pengertian Bimbingan Rohani Islam... 26

2. Dasar Pelaksanaan Bimbingan Rohani Islam ... 28

3. Tujuan Bimbingan Rohani Islam ... 30

4. Fungsi Bimbingan Rohani Islam ... 31

5. Metode Bimbingan Rohani Islam ... 32

6. Materi Bimbingan Rohani Islam ... 38

(8)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id xi

BAB III : PENYAJIAN DATA

A. Deskripsi Rumah Sakit Islam Ahmad Yani Surabaya

1. Gambaran Umum dan Sejarah Singkat Tentang Rumah Sakit Islam Ahmad Yani Surabaya ... 44 2. Visi, Misi, Motto,dan Tujuan Rumah Sakit Islam Ahmad Yani

Surabaya ... 46 3. Pelayanan Rumah Sakit Islam Ahmad Yani Surabaya ... 47 4. Struktur Organisasi Rumah Sakit Islam Ahmad Yani Surabaya... 49 5. Latar Belakang Keberadaan Bina Rohani di Rumah Sakit Islam

Ahmad Yani Surabaya ... 49 6. Visi, Misi, Motto, dan Tujuan Bina Rohani Rumah Sakit Islam

Ahmad Yani Surabaya ... 50 7. Struktur Organisasi Bina Rohani Rumah Sakit Islam Ahmad Yani

Surabaya ... 51

B. Deskripsi Hasil Penelitian Pola Bimbingan Rohani Islam Pada Unit Bina Rohani Islam Rumah Sakit Islam Ahmad Yani Surabaya

1. Pola Bimbingan Rohani Islam Unit Bina Rohani Rumah Sakit Islam Ahmad Yani Surabaya ... 59 a. Layanan dan Prosedur Unit Bina Rohani Rumah Sakit Islam

Ahmad Yani Surabaya ... 59 b. Pelaksanaan Bina Rohani di Rumah Sakit Islam Ahmad Yani

Surabaya ... 72 c. Metode Bimbingan Rohani Islam Pada Unit Bina Rohani

Rumah Sakit Islam Ahmad Yani Surabaya ... 74 d. Materi Bimbingan Rohani Islam Pada Unit Bina Rohani

Rumah Sakit Islam Ahamd Yani Surabaya ... 77 2. Tanggapan Pasien Terhadap Proses Pemberian Bimbingan

Rohani Islam yang Dilakukan Oleh Unit Bina Rohani

Rumah Sakit IslamAhmad Yani Surabaya ... 81

BAB IV : ANALISIS DATA

A. Analisis Pola Bimbingan Rohani Islam Pada Unit Bina Rohani Rumah Sakit Islam Ahmad Yani Surabaya

1. Analisis Pelaksanaan Bimbingan Rohani Islam Pada Unit Bina Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya ... 85 2. Analisis Metode Bimbingan Rohani Islam Pada Unit Bina Rohani

rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya ... 86

(9)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id xii

BAB V : PENUTUP

(10)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Populasi ... 10

Tabel 1.2. Sampel ... 12

Tabel 3.1. Struktur Jabatan ... 45

Tabel 3.2. Jam Kunjung ... 46

Tabel 3.3. Persyaratan Menjadi Bina Rohani ... 52

Tabel 3.4. Jam Kerja Bina Rohani ... 70

Tabel 3.5. Data Responden (Pasien) ... 79

Tabel 3.6. Kreteria Tanggapan Pasien ... 80

Tabel 3.7. Hasil Skor Tanggapan Pasien ... 80

(11)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id xiv

DAFTAR LAMPIRAN 1. Lampiran Data Verbatim

2. Dokumentasi Lapangan 3. Lampiran Buku Saku

4. Surat Ijin Pengambilan Data Awal dan Penelitian 5. Form Pernytaan Pemberian Bimbingan Rohani 6. Form Permintaan Pelayanan Rohani

7. Lampiran Hasil Rekapitulasi Perhitungan “Angket Tanggapan Pasien Terhadap Bimbingan Rohani Islam Yang Dilakukan unit Bina Rohani Rumah Sakit Islam Ahmad Yani Surabaya

(12)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id 1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Terdapatnya konsentrasi baru dalam program studi (Prodi) bimbingan

konseling Islam (BKI) yakni konsentrasi komunitas memunculkan beberapa mata

kuliah baru yang diantaranya adalah konseling rumah sakit. Hal tersebut menarik

perhatian penulis untuk dijadikan tema peneletian skrispsi sarjana strata 1 (S1).

Dalam perjalanan waktu penulis menemukan sebuah konsep yang hampir sama

dengan konseling rumah sakit yakni, Bimbingan Rohani. Bimbingan rohani

adalah sebuah konsep yang sama dengan konseling rumah sakit, hanya saja

terdapat sedikit perbedaan dalam penerapannya.

Pada tahun 1984 Organisasi Kesehatan se-Dunia (WHO) telah

menambahkan, dimensi agama sebagai salah satu dari empat pilar kesehatan yaitu

kesehatan manusia seutuhnya meliputi: sehat jasmani/fisik (biologi), sehat secara

kejiwaan (psikiatrik/psikologi), sehat secara sosial, dan sehat secara spiritual

(kerohanian/agama). Bila sebelumnya pada tahun 1947 WHO memberikan 3

aspek saja yaitu sehat dalam arti fisik (organobiologi), sehat dalam arti mental

(psikologik/psikiatrik) dan sehat dalam arti sosial, sejak 1984 batasan tersebut

sudah ditambah dengan aspek agama (spiritual), yang oleh American Psychiatric

Assosiation (APA) dikenal dengan rumusan “bio-psiko-sosio-spiritual.1

(13)

Pada dasarnya manusia tersusun dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani.

Jasmani adalah bentuk fisik atau lahiriah manusia yang disebut dengan raga.

Sedangkan rohani adalah hakekat dan substansi manusia yang sering disebut jiwa

atau roh.2 Pendapat lain mengatakan bahwa manusia merupakan makhluk dinamik

yang dapat mengalami perubahan dari segi fisiologis maupun psikologis. Al- Qur’an

menyebutkan bahwa manusia tidak hanya terdiri dari aspek fisiologis (jasmaniah) dan

aspek psikis (nafsiah) saja, tetapi ada tiga aspek utama dalam diri manusia yaitu

aspek jasmaniah yang merupakan keseluruhan organ fisik-biologis, system belajar,

dan sistem syaraf.Aspek nafsiah adalah keseluruhan kualitas insaniah yang khas milik

manusia, berupa pikiran, perasaan, dan kemauan.Aspek ruhaniah adalah keseluruhan

potensi luhur psikis manusia yang memancar dari dua dimensi yaitu dimensi al-ruh

dan dimensi al fitrah.Aspek yang terakhir ini merupakan khas milik psikologi Islami.3

Dari kedua pernyataan diatas bahwa rangkaian tubuh dan perjalanan kehidupan

manusia didukung oleh beberapa unsur yang saling berkaitan, apabila salah satu

unsur tersebut mengalami gangguan atau tidak terpenuhi kebutuhannya maka yang

akan terjadi adalah sakit. Menurut KBBI sakit adalah berasa tidak nyaman di tubuh

atau bagian tubuh karena menderita sesuatu.4 Sedangkan sakit dapat didefinisikan

suatu keadaan yang disebabkan oleh berbagai macam hal, bisa suatu kejadian,

2 Nurul Aeni ,Studi Komparatif Model Bimbingan Rohani dalam Memotivasi Kesembuhan Pasien di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus dan Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus (Skripsi, Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang, 2008), hal. 1

3Nisa Vira Zumrotun, Bimbingan Rohani Islam melalui Terapi Do’a bagi Pasien Rawat Inap di RSI NU Demak, (Skripsi Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Walisongo Semarang, 2014), hal 3

(14)

kelainan yang dapat menimbulkan gangguan terhadap susunan jaringan tubuh baik

fungsi maupun jaringan tubuh itu sendiri.5

Apabila manusia sedang sakit akan sangat berpengaruh pada kehidupannya,

selain merasa sakit, tidak produktif, dan juga merasa kurang percaya diri .6

Kekurangan kepercayaan diri pada pasien yang sakit akan mempengaruhi terhadap

perasaan optimism yang dapat mengganggu proses penyembuhan. Sebab rasa percaya

diri (self confident) dan optimis amat perlu bagi penyembuhan suatu penyakit

disamping obat-obatan dan tidankan medis yang diberikan.7 Rasa kepercayaan diri

dan optimis pasien dapat ditumbuhkan dengan Psikoreligius terapi melalui doa.

Banyak penelitian ataupun riset yang dilakukan oleh para ahli mengenai efek

doa atau tindakan religious kepada proses penyembuhan diantaranya, Dr. Dale A

Matthews (1996) dari Universitas Georgetown, Amerika Serikat mengatakan dalam

pertemuan tahunan “The American Psychiartic Association”, antara lain bahwa

mungkin suatu saat para dokter akan menuliskan doa pada kertas resep, selain resep

obat pada pasien. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa dari 212 studi yang telah

dilakukan oleh para ahli, ternyata 75% menyatakan bahwa komitment agama (doa)

5 Sholeh, Mo, Berobat Sambil Bertobat (Rahasia Ibadah untuk Mencegah dan Menyembuhkan Berbagai Penyakit), (Jakarta: PT Mizan Publika, 2008),hal.198.

6 Lilhayatis Saadah"Respon Pasien Gagal Ginjal terhadap Pelaksanaan Bimbingan Rohani Islam di RSI Sultan Agung Semarang, (Skripsi, Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Walisongo Semarang, 2013) hal.1

(15)

\menunjukkan pengaruh positif pada pasien.8 Di San Fransisco dilakukan studi

terhadap 393 pasien jantung untuk mengetahui sejauh mana efektivitas doa.

Kelompok pasien jantung di bagi 2 kelompok secara acak (random), mereka

yang memperoleh terapi doa dan tidak mendapat terapi doa. Hasilnya menunjukan

bahwa mereka yang memperoleh terapi doa ternyata sedikit sekali yang mengalami

komplikasi, sementara yang tidak banyak timbul berbagai kompikasi dari penyakit

jantungnya itu. Selain itu suatu survey yang dilakukan oleh majalah Time dan CNN

(1996), juga oleh USA weekend (1996), menyatakan bahwa lebih dari 70% pasien

percaya bahwa keimanan terhadap Tuhan Yang maha Esa dan doa dapat membantu

proses penyembuhan,9 sebab dokter yang member obat dan Tuhan yang

menyembuhkan.

Bila melihat hasil survey doa yang juga berperan dalam proses penyembuhan,

maka bimbingan rohani sangatlah perlu adanya di rumah sakit untuk membantu

dokter dan petugas media dalam melakukan proses penyembuhan pasien. Karena

tujuan bimbingan rohani di rumah sakit yaitu untuk membantu pasien yang

mengalami problem psikis, sosial dan religius yang sebagian besar juga dialami

pasien disamping penyakit yang diderita. Layanan bimbingan rohani yang berupa

pemberian nasehat, motivasi, sampai pada pemecahan masalah pribadi pasien

diharapkan dapat mengatasi problem-problem di luar jangkauan medis sehingga pada

8 Haji Dadang Hawari, Al-Qur’an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1999), hal .478.

(16)

akhirnya pasien dapat mencapai kesehatan yang menyeluruh baik dari aspek fisik,

psikis, sosial maupun religius serta diharapkan dapat menciptakan loyalitas pelanggan

untuk komunitas beragama.10

Dalam mekanisme kerja bimbingan rohani, bertugas mendatangi

bangsal-bangsal rumah sakit dengan memberikan dorongan moral, motivasi, pendidikan

agama, doa dan mengetahui sejauhmana perkembangan pasien dalam proses

penyembuhan.11 Selain hal di atas, dalam melaksanakan bimbingan rohani terdapat

metode dan materi yang digunakan yakni, metode komunikasi langsung (metode

langsung), metode komunikasi tak langsung (metode tak langsung) dan materi yang

disampaikan meliputi ajaran agama sesuai dengan keyakinan pasien. Adapun ajaran

agama Islam materi yang disampaikan meliputi adalah aqidah, tauhid, ketaqwaan dan

keimanan yang bersumber dari al-Qur’an dan hadist.

Rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya merupakan salah satu rumah sakit

yang memberikan layanan kerohanian atau bimbingan rohani terhadap pasien dengan

cara atau biasa disebut dengan bimbingan rohani Islam yang dilakukan oleh unit Bina

Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya. Dari pemaparan informasi tentang

pentingnya bimbingan rohani terhadap proses penyembuhan pasien dan terdapatnya

layanan bimbingan rohani di rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya yang

dilakukan oleh unit Bina Rohani, membuat penulis menjadi penasaran dan

10 Agus Riyadi, Dakwah Terhadap Pasien: Telaah Terhadap Model Dakwah Melalui Sistem Layanan Bimbingan Rohani Islam di Rumah Sakit, Konseling Religi: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, Vol. 5, No. 2, (http://bki-dakwah.stainkudus.ac.id diakses 08 April 2016), Hal.247

(17)

berkeinginan untuk mengetahui proses bimbingan rohani Islam yang dilakukan oleh

unit Bina Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya sebagai bahan konsep

penelitian skripsi yang dituangkan dalam judul “Pola Bimbingan Rohani Islam Pada

Unit Bina Rohani Rumah Sakit Islam Ahmad Yani Surabaya”.

B. Rumusan Masalah

Dari pemaparan latar belakang diatas merumuskan masalah yang akan diteliti

peneliti, yaitu :

1. Bagaimana pola bimbingan rohani islam pada unit bina rohani rumah sakit Islam

Ahmad Yani Surabaya ?

2. Bagaimana tanggapan pasien terhadap pola bimbingan rohani islam pada unit

bina rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas tujuan yang dicapai oleh peneliti dalam

penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui pola bimbingan rohani Islam yang dilakukan unit bina rohani

di rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya.

2. Untuk mengetahui tanggapan pasienterhadap bimbingan rohani Islam yang

dilakukan unit bina rohani di rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya.

D. Manfaat Penelitian

Dan manfaat yang hendak dicapai peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai

(18)

1. Manfaat teoritis

a. Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai bahan acuan teoritik bagi peneliti

selanjutnya khususnya bagi peneliti -peneliti yang mengkaji tentang

bimbingan rohani Islam.

b. Hasil penelitian ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan di bidang Bimbingan

dan Konseling Islam, khususnya dalam pengembangan teoritis tentang studi

pelaksanaan bimbingan rohani Islam.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi peneliti, dapat menambah pengalaman dan pengetahuan tentang studi

pelaksanaan bimbingan rohani Islam di rumah sakit.

b. Bagi lembaga, dapat dijadikan acuan atau pedoman dalam memberikan

bimbingan rohani Islam pada pasien di rumah sakit Islam Ahmad Yani

Surabaya.

c. Bagi Fakultas, penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat bagi Fakultas

Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya dan peneliti

lainyang meneliti bimbingan rohani Islam untuk dijadikan rujukan.

d. Bagi Prodi, Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi program studi (prodi)

Bimbingan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN

Sunan Ampel Surabaya untuk dijadikan pembahasan dalam mata kuliah

(19)

E. Definisi Oprasional

1. Bimbingan Rohani Islam

Menurut Djumhur dan Moh. Suryo, bimbingan adalah suatu proses

pemberian bantuan yang bersifat terus menerus, sistematis kepada individu

dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.12Sedangkan menurut jumhur

ulama, al-ruh berarti roh yang ada dalam badan, hal ini sesui dalam al-Qur’an:

              



Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit" (Qs. Al-Isra’: 85)

Sedangkan Islam berasal dari bahasa Arab yang mengandung arti

selamat, sentosa dan damai.13 Islam adalah orientasi hidup (yang benar).

Puncaknya adalah kesabaran dan kesabaran adalah ketundukan. Ketundukan

adalah keyakinan, dan keyakinan adalah pembenaran. Pembenaran adalah

pengakuan, dan pengakuan adalah pelaksanaan. Pelaksanaan adalah perbuatan,

dan perbuatan adalah perilaku, dan perilaku adalah sabar.14 Dari penjelasan

ketiga term diatas dapat ditarik garis besarnya, bahwa bimbingan rohani islam

12 Siradj Shahudi, Pengantar Bimbingan & Konseling, (Surabaya:PT Revka Petra Media, 2012), hal.7

13 Asy,ari, Akhwan Mukarrom, Nur Hamim, dkk, Pengantar Studi Islam, (Surabaya: IAIN AMPEL PRESS, 2008), hal. 2

(20)

adalah proses pemberian bantuan kepada individu untuk memecahkan masalah

yang terkait dengan keadaan jiwa / rohani, bersifat terus menerus, selaras dengan

petunjuk dan ketentuan ajaran agama Islam agar mendapat keselamatan berupa

rasa sabar dalam menghadapi masalah.

F. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Peneltian

Dalam mengumpulkan dan mengungkapkan berbagai masalah serta tujuan

yang hendak dicapai, maka penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif

dan kuantitatif atau biasa disebut dengan Metode Kombinasi.Metode kombinasi

adalah penelitian yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif atau

sebaliknya.15

Metode kombinasi memiliki beberapa model, dan pada kegiatan penelitian

ini peneliti menggunakan model Concurrent Embedded sebagai metode

penelitian yang akan digunakan untuk meneliti atau didalam refrensi yang lain

juga disebut Embedded Konkuren. Embedded konkuren adalah metode penelitian

yang menggabungkan antara metode penelitian kualitatif dan kuantitaif atau

sebaliknya dengan mencampur kedua metode tersebut secara tidak berimbang.16

Dalam hal ini metode kualitatif adalah sebagai metode primer yang akan

digunakan, sedangkan metode kuantitaif menjadi metode sekunder sebagai

15 Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods), (Bandung: ALFABETA, 2015). Hal 404

(21)

pelengkap dengan perbanding prosentase antara 75% metode kualitaif dan 25%

metode kuantitatif.

2. Sasaran dan Lokasi Penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah:

a. Petugas unit Bina Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya yang

melakukan bimbingan rohani Islam

b. Pasien rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya yang telah diberikan

bimbingan rohani Islam oleh petugas unit Bina Rohani.

Adapun Lokasi penelitian yaitu di rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya

yang terletak di Jl. Jend. A. Yani 2 – 4 Surabaya.

3. Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

mempelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.17 Yang menjadi populasi

dalam penelitian adalah seluruh pasien rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya

yang terdapat di ruangan wajib kungjung oleh petugas Bina Rohani rumah sakit

Islam Ahmad Yani Surabaya. Berikut gambar tabel populasi pasien yang terdapat

di rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya sesuai dengan jumlah tempat tidur

pada masing-masing ruangan.

Tabel Populasi 1.1

(22)

No. Nama Jumlah Populasi

1 Muzdalifah 6

2 Shofa 10

3 Tan’im 6

4 Mina 18

5 Marwah 9

6 Multazam 12

7 Arofah 14

8 Hijir Ismail 21

9 Bayi 6

10 Recovery Room 3

11 ICU 4

Total Jumlah 109

Sumber dari Ustadz Nurul Huda, S.Sy

Sampel adalah sebagain saja dari seluruh jumlah populasi, yang diambil dari

populasi dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat dianggap mewakili seluruh

anggota populasi.18 Dalam kegiatan penelitian ini peneliti menggunakan teknik

pengambilan sampel Proposional Non Random Sampling yakni, pengambilan

sampel dengan perwakilan berimbang dari populasi yang terdapat pada populasi

area atau populasi cluster dengan pertimbangan20% dari seluruh jumlah

populasi.19 Hal ini untuk menjawab rumusan masalah nomor 2 yakni, tanggapan

pasien terhadap bimbingan rohani Islam yang diberikan oleh petugas Bina Rohani

rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya. Berikut gambar table sampel yang

akan diambil.

Tabel 1.2 Sampel

18Jusuf Soewadji, Pengantar Metodologi Penelitian, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2012) hal.132

(23)

No. Nama Jumlah Sampel

1 Muzdalifah 1

2 Shofa 2

3 Tan’im 1

4 Mina 4

5 Marwah 2

6 Multazam 2

7 Arofah 3

8 Hijir Ismail 2

9 Bayi 1

10 Recovery Room 1

11 ICU 1

Total Jumlah 22

4. Jenis dan Sumber Data

Dalam penelitian ini jenis data yang digunakan adalah kualitatif dan

kuantitatif. Data yang meliputi kualitatif gambaran umum lokasi penelitian,

seputar tentang rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya, gambaran umum

pelaksanaan Bina Rohani dalam melaksanakan bimbingan rohani Islam

sedangkan data yang meliputi kuantitatif adalah tanggapan pasien terhadap

bimbingan rohani Islam yang diberikan oleh Bina Rohani rumah sakit Islam

Ahmad Yani Surabaya.

Terdapat dua sumber data dalam penelitian ini, yakni data primer dan data

sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari petugas Bina

Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya yang melakukan bimbingan

(24)

diberi bimbingan rohani Islam oleh petugas Bina Rohani rumah sakit Islam

Ahmad Yani Surabaya.

5. Tahap-tahap Penelitian

Adapun tahapan-tahapan yang harus dilakukan menurut buku metode

penelitian Lexy J. Moleong adalah:20

a. Tahap Pra-Lapangan

Dalam tahap Pra-Lapangan ada beberapa Kegiatan yang harusdi

tempuh yakni Menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan mengurus

surat ijin, menjajaki dan menilai keadaan lapangan, memilih dan

memanfaatkan informasi dan menyiapkan perlengkapan penelitian.

1) Menyusun rancangan penelitian

Penelitian atau proposal yang terdiri dari latar belakang masalah,

alasan melaksanakan pengumpulan data, rancangan analisi data

pengesahan keabsahan data.

2) Memilih lapangan penelitian

Peneliti perlu mempertimbangkan keterbatasan waktu, biaya, dan

tenaga serta kemudahan memperoleh perizinan untuk melakukan

penelitian di lapangan.

3) Mejajaki dan Menilai Lapangan

(25)

Untuk menjajaki dan menilai lapangan peneliti melakukan

wawancara terhadap petugas Bina Rohani di rumah sakit Islam Ahmad

Yani Surabaya.

b. Tahap Pekerjaan Lapangan

Dalam tahapan ini peneliti melakukan pendekatan terhadap petugas

Bina Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya melalui wawancara

untuk mencari informasi dan melakukan observasi untuk melihat lebih dalam

pola pemberian bimbingan rohani Islam kepada pasien, serta melakukan

pemberian angket kepada pasien untuk mengetahui tanggapan pasien akan

bimbingan rohani Islam yang diberikan oleh Bina Rohani rumah sakit Islam

Ahmad Yani Surabaya.

c. Tahapan Analisa Intensif dan Analisa Data

Setelah Peneliti mendapatkan data dari lapangan, kemudian peneliti

menyajikan data yang telah didapatkan dengan tujuan untuk

mendeskripsikan proses pola bimbingan rohani Islam dan tanggapan pasien

yang dilakukan petugas Bina Rohani di rumah sakit Islam Ahmad Yani

Surabaya.

6. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penggunaan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif (mix

method), peneliti menggunakan teknik pengumpulan data, sebagai berikut:

(26)

Observasi atau Pengamatan merupakan suatu unsur penting dalam

penelitian kualitatif, observasi dalam konsep yang sederhana adalah sebuah

proses atau kegiatan awal yang dilakukan oleh peneliti untuk bisa

mengetahui kondisi realitas lapangan penelitian. Menurut Black dan

Champion.21 Observasi adalah mengamati dan mendengar perilaku

seseorang selama beberapa waktu, tanpa melakukan manipulasi atau

pengendalian serta mencatat penemuan yang memungkinkan atau memenuhi

syarat untuk digunakan kedalam tindakan analisis.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan observasi partisipasif.

Dalam observasi ini peneliti terlibat langsung dengan para petugas Bina

Rohani di rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya dalam melaksanakan

kegiatan sehari – hari dan mencatat segala aktivitas yang dilakukan petugas

Bina Rohani di rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya, kemudian

dilakukan interpretasi dari hasil pengamatan tersebut.

b. Wawancara

Wawancara merupakan bagian penting dalam penelitian kualitatif

sehingga peneliti dapat memperoleh data dari berbagai informan secara

langsung.Penelitian kualitatif sangat memungkinkan untuk penyatuan teknik

observasi dengan wawancara.Sebagaimana yang diungkapkan oleh

(27)

Nasution22 bahwa dalam sebuah penelitian kualitatif observasi saja, belum

memadai itu sebabnya observasi harus dilengkapi dengan

wawancara.Menurut Hadi wawancara merupakan metode pengumpulan data

dengan jalan tanya-jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematis dan

berlandaskan tujuan penelitian.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik wawancara

terstruktur. Wawancara struktur adalah wawancara yang bebas di mana

peniliti menggunakan pedoman wawancara. Dalam melakukan wawancara

struktur ini digunakan peneliti untuk mencari data yang berkaitan dengan

aktivitas petugas Bina Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya,

demografi rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya, dan tanggapan pasien

terhadap pemberian bimbingan rohani Islam yang yang dilakukan oleh

petugas Bina Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya, untuk

mendukung data penelitian.

c. Dokumentasi

Merupakan suatu metode atau teknik yang digunakan dalam penelitian

kualitatif untuk mengungkapkan atau mencari berbagai informasi dari

sumber-sumber yang berkaitan dengan masalah penelitian. Dokumentasi

merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.23 Biasanya dokumentasi ini

berupa pengambilan foto atau video aktifitas dari subyek yang ditelitinya.

(28)

Kemudian dari foto-foto itulah diolah sehingga menjadi sebuah catatan

lapangan, dan dari foto-foto itu bisa diketahui bagaimana kenyataan di

lapangan. Dalam penelitian ini peneliti mendokumentasikan tentang kegiatan

sehari-hari yang dilakukan Bina Rohani di rumah sakit Islam Ahmad Yani

Surabaya dan keadaan sekitar serta suasana rumah sakit Islam Ahmad Yani

Surabaya.

d. Angket

Metode Angket juga disebut dengan metode kuesioner atau dalam

Bahasa Inggris disebut Quentionnaire (daftar pertanyaan). Angket/

Kuesioner adalah teknik pengumpulan data melalui formulir-formulir yang

berisi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara tertulis pada seseorang

atau sekumpulan orang untuk mendapatkan jawaban atau tanggapan dan

informasi yang diperlukan.24 Angket merupakan serangkaian atau daftar

pertanyaan yang disusun secara sistematis, kemudian dikirim kembali atau

dikembalikan ke petugas atau peneliti.25 Metode angket merupakan

serangkaian atau daftar pertanyaan yang disusun secara sistematis, kemudian

dikembalikan ke petugas atau peneliti.26

Dalam pengisian angket ini responden atau pasien cukup menyilang

(x) atau mencoret (/) ataupun juga melingkari (o) butir jawaban yang telah

24 Lexy J Meleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005),hal.216-220

(29)

tersedia dan pada kuesioner tersebut peneliti menggunakan pertanyaan

tertutup yang jawabannya telah disediakan yakni, Ya dan Tidak. Setelah data

terkumpul kemudian dilakukan penjumlahan yang nantinya dari

penjumlahan tersebut akan dildeskripsikan.

7. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian kualitatif proses analisis data berlangsung sebelum peneliti

ke lapangan, kemudian selama di lapangan dan setelah di lapangan, sebagaimana

yang diungkapkan Sugiyono bahwa analisis data telah dimulai sejak dirumuskan

dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan dan terus berlanjut sampai

penulisan hasil penelitian. 27 Oleh karena itu, analisis data yang digunakan dalam

penelitian ini yakni proses mengumpulkan dan menyusun secara baik data-data

yang didapatkan melalui observasi, wawancara, dan dokumen serta berbagai

bahan lain yang berkaitan dengan fokus penelitian.

a. Analisis sebelum di lapangan

Sebelum terjum ke lapangan peneliti melakukan analisis terhadap

berbagai data yang berkaitan dengan bimbingan rohani islamdi rumah Sakit,

baik skripsi, tesis, tulisan dalam bentuk buku, jurnal maupun tulisan lepas

lain yang ditemukan di berbagai media cetak maupun elektronik.

(30)

Proses analisis data dilakukan secara terus-menerus untuk menemukan

hal-hal penting untuk membantu mempermudah dalam mengkaji penelitian

ini. Namun, proses analisis dilakukan pada tahap ini masih bersifat

sementara, dan akan berkembang setelah berada di lapangan dan

mengumpulkan data-data yang terkait dengan masalah penelitian.

b. Analisis di lapangan dengan menggunakan model Miles dan Huberman

Miles dan Huberman menyatakan bahwa aktifitas dalam analisis data

pada kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus-menerus

sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktifitas analisis data

sebagaimana yang diungkapkan tersebut meliputi tiga unsur yaitu reduksi

data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

1) Reduksi Data (Reduction Data)

Merupakan langkah awal dalam menganalisis data dalam penelitian

ini.Kegiatan reduksi data bertujuan untuk mempermudah peneliti dalam

memahami data yang telah dikumpulkan. Data yang telah dikumpulkan

dari lapangan memalui observasi dan wawancara direduksi dengan cara

merangkum, memilih hal-hal yang pokok dan penting, mengklarifikasi

sesuai fokus yang ada pada masalah dalam penelitian ini. Proses

mereduksi data merupakan bagian dari analisis untuk menajamkan,

(31)

mengorganisir data dengan baik sehingga proses kesimpulan akhir nanti

terlaksana dengan baik.

Dalam penelitian ini, aspek-aspek yang direduksi adalah hasil

observasi maupun wawancara kepada petugas Bina Rohani rumah sakit

Islam Ahmad Yani Surabaya dan angket yang disebar dan diisi oleh

pasien yang telah diberikan bimbingan rohani Islam oleh petugas Bina

Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya. Hal tersebut dimaksud

untuk memudahkan dalam melakukan penyajian data dan berujung pada

penarikan kesimpulan dari hasil penelitian ini.

2) Penyajian Data (Display Data)

Merupakan tahapan kedua dalam aktivitas menganalisa data seperti

yang dikemukakkan oleh Miles dan Huberman.28 Dalam proses penyajian

data peneliti menyajikan data secara jelas dan singkat untuk memudahkan

dalam memahami masalah yang diteliti, baik secara keseluruhan maupun

bagian demi bagian. Untuk itu menurut Nasutionbahwa data yang

bertumpuk dan laporan yang tebal akan sulit dipahami, oleh karena itu

agar dapat melihat gambaran atau bagian-bagian tertentu dalam penelitian

harus diusahakan membuat berbagai macam matriks, uraian singkat,

networks, chart dan grafik.29

(32)

Sementara itu Miles dan Huberman mengungkapkan bahwa yang

paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif

adalah teks yang bersifat naratif. Sebagaimana dengan proses reduksi

data, penyajian data dalam penelitian ini tidaklah terpisah dari analisis

data. Hal pertama yang dilakukan dalam proses penyajian data pada

penelitian ini adalah penggambar secara umum hasil penelitian yang

dimulai dari lokasi penelitan yaitu di rumah sakit Islam Ahmad Yani

Surabaya.

3) Penarikan Kesimpulan (Konklusi)

Penarikan kesimpulan dan verifikasi adalah tahapan terakhir dalam

teknik analisis data pada peneltian kualitatif. Dari proses pengumpulan

data, peneliti mulai mencatat semua fenomena yang muncul dan melihat

sebab akibat yang terjadi sesuai dengan masalah penelitian ini. Dari

berbagai aktifitas dimaksud maka peneliti membuat kesimpulan

berdasarkan data-data awal yang ditemukan, data-data dimaksud masih

bersifat sementara. Penarikan kesimpulan ini berubah menjadi

kesimpulan akhir yang akurat dan kredibel karena proses pengumpulan

data oleh peneliti menemukan bukti-bukti yang kuat, valid dan konsisten

dalam mendukung data-data yang dimaksud.

Kesimpulan yang ada kemudian diverifikasi selama penelitan

berlangsung, yaitu berupa pemikiran kembali yang melintas dalam

(33)

data), tinjauan ulang pada catatan-catatan selama masa penelitian di

lapangan, tinjauan kembali dengan seksama berupa tukar pikiran dengan

para ahli (pembimbing) untuk mengembangkan kesepakatan

intersubjektif, serta membandingkan dengan temuan-temuan data lain

yang berkaitan dengan pola bimbingan rohani Islam pada unit Bina

Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya.

c. Analisis Data Penelitian Deskriptif

Dikarenakan penelitian ini menggunakan metode kombinasi antara

kualitatif dan kuantitatf, maka dilakukan 2 analisis yang berbeda sebagai

kesimpulan dari kegiatan penelitian ini. Bila data kualitatif memakai analisis

oleh teknik Miles dan Huberman maka teknik analisis data kuantitatif akan

menggunakan analisis dengan Teknik Analisis Data Penelitian Deskriptif

yang terdapat dalam buku Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik

karangan Prof. Dr. Suharsimi Arikunto.

Teknik analisis ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data terlebih

dahulu yang berupa angket yang telah diisi oleh pasien yang telah diberikan

bimbingan rohani Islam oleh petugas Bina Rohani rumah sakit Islam Ahmad

(34)

yang nantinya akan diprosentasekan. Dari hasil penjumlah prosentase

tersebut akandideskripsikan secara naratif.30

Dengan demikian keempat unsur dalam analisis data merupakan satu

kesatuan yang penting dalam menganalisis sebuah hasil penelitian metode

kombinasiini,sebagaimana yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman dan

Prof. Dr. Suharsimi Arikunto. Maka analisis data dalam penelitian ini

merupakan sebuah proses untuk mencari serta menyusun data secara

sistematik yang didapat dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi dan

angket sehingga berakhir dengan kesimpulan yang mudah dipahami.

8. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

Pemeriksaan keabsahan data dalam kualitatif sangat diperlukan untuk

menguji ataupun memeriksa akurasi data yang telah dikumpulkan dari proses

penelitian ini berlangsung. Menurut Nasution pemeriksaan keabsahan data

diperlukan untuk membuktikan hasil yang diamati sudah sesuai dengan

kenyataan dan memang sesuai dengan sebenarnya ada atau kejadiannya. Teknik

yang digunakan dalam pemeriksaan keabsahan data penelitian ini adalah

Triangulasi Data.

Triangulasi adalah teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan

data yang diperoleh dari beberapa teknik penggaliaan data yang digunakan,

seperti observasi, wawancara, pencatatan lapangan (field note) dan

(35)

dokumentasi.31 Triangulasi data ini biasanya ada dua cara yang dilakukan oleh

peneliti yaitu:

a. Membandingkan semua hasil data yang diperoleh dari lapangan mulai dari

data observasi, wawancara, dokumentasi dan angket, hal ini dilakukan untuk

mencari keabsahan dari data-data yang telah diperoleh.

b. Membandingkan hasil wawancara dengan hasil dokumentasi, yang

tujuannya untuk mengkomparasikan antara kedua data tersebut.

Oleh karena itu dalam penelitian ini diadakan pengecekan terhadap validasi

data yang telah diperoleh dengan mengkonfirmasi antara data atau informasi

yang diperoleh dari sumber lain yaitu Peneliti membandingkan data hasil

wawancara dari subjek penelitian dengan data hasil observasi dan

mencocokkannya kemudian menganalisis.

G. Sistematika Pembahasan

Untuk mempermudah dalam pembahasan dan penyusunan skripsi, maka

peneliti menyusun sistematika pembahasannya, sebagai berikut:

Bagian awal, Bagian awal terdiri dari Judul Penelitian (sampul), Persetujuan

Pembimbing Skripsi, Pengesahan Tim Penguji, Motto, Persembahan, Penyataan

Otentisitas Skripsi, Abstrak, Kata Pengantar, Daftar Isi, dan Daftar Tabel.

Bab I Pendahuluan, yaitu terdiri dari pendahuluan, yang berisi tentang: latar

belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi

konsep, metode penelitian yang meliputi: pendekatan dan jenis penelitian, subyek

(36)

penelitian, jenis dan sumber data, tahap-tahap penelitian, teknik pengumpulan data,

teknik analisis data, teknik pemeriksaan keabsahan data. Kemudian pembahasan

tentang sistematika pembahasan.

Bab II Kajian Pustaka,yaituterdiri dari kajian teoritik yang membahas tentang

Bimbingan Rohani Islam, Tujuan dan Fungsi Bimbingan Rohani Islam, Metode

Bimbingan Rohani Islam, Materi Bimbingan Rohani Islam.

BabIII Penyajian Data, yaitu terdiri dari penyajian data terdiri dari deskriptif

umum objek penelitian. Deskriptif umum objek penelitian membahas tentang:

gambaran lokasi penelitian, deskripsi pelaksanaan Bina Rohani di rumah sakit Islam

Ahmad Yani Surabaya. Sedangkan deskripsi proses penelitian membahas tentang:

pola bimbingan rohani Islam yang diberikan petugas Bina Rohani rumah sakit Islam

Ahmad Yani Surabaya dan tanggapan pasien terhadap pola bimbingan rohani Islam

yang diberikan petugas Bina Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya.

Bab IV Analisis Data, yaitu berisi tentang analisis data yang mana analisis

data yaitu analisis data mengenai proses dan pola bimingan rohani Islam yang

dilakukan Bina Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya di rumah sakit Islam

Ahmad Yani Surabaya dan tanggapan pasien terhadap pola bimbingan rohani Islam

yang diberikan oleh petugas Bina Rohani rumah sakit Islam Ahmad Yani Surabaya

berdasarkan prosentase hitungan dari angket yang disebarkan.

Bab V Penutup,yakni penutup yang meliputi kesimpulan dan saran dari hasil

penelitian yang telah dilakukan dan beberapa saran terkait skripsis ini.

(37)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id 26

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Bimbingan Rohani Islam

1. Pengertian Bimbingan Rohani Islam

Kata bimbingan dalam bahasa Indonesia memberikan dua pengertian yang

mendasar, Pertama, memberi informasi, yaitu memberikan suatu pengetahuan

yang dapat dimanfaatkan untuk mengambi keputusan, atau memberikan sesuatu

dengan memberikan nasehat. Kedua, mengarahkan, menuntun ke suatu

tujuan.Tujuan yang hanya diketahui oleh orang yang mengarahkan dan yang

meminta arahan.1 Untuk mengetahui lebih lanjut tentang makna bimbingan

secara umum, berikut pendapat dari para ahli:

a. Menurut Dunsmorr & Miller dalam Mc Daniel, bimbingan adalah proses

layanan yang diberikan kepada individu-individu guna membantu mereka

memperoleh pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan

dalam membuat pilihan-pilhan, rencana-rencana dan interplasi yang

diperlukan untuk menyesuaikan diri yang baik.2

b. Crow & Crow, bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh

seseorang laki-laki atau perempuan, yang memiliki kepribadian yang

memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu setiap usia untuk

1 Shahudi Siradj, Pengantar Bimbingan & Konseling, (Surabaya: PT. Revka Petra Media, 2012), Hal. 5

(38)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan

pandangan hidupnya sendiri, membuat keputusan sendiri dan menanggung

bebannya sendiri.3

c. Bimo Walgito memberikan batasan mengenai bimbingan adalah bantuan atau

pertolongan yang diberikan kepada individu dalam menghindari atau

mengatasi kesulitan di dalam kehidupanya, agar individu atau sekumpulan

individu itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya.4

Rohani adalah bagian dari tubuh yang sangat sulit untuk menjabarkannya

namun bila penulis mengartikan rohani atau ruh, maka ruh adalah sebuah aspek

yang penting dalam kelangsungan kehidupan manusia yang bila tanpanya

manusia tidak bisa hidup atau bergerak.

Pengertian Islam berasal dari bahasa Arab yang berarti selamat, sentosa,

dan damai. Dari kata salima diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah

diri. Dengan demikian, arti Islam adalah berserah diri, selamat, dan kedamaian.5

Ajaran Islam bersumber dari al-Qur’an dan Hadist yang mana kedua sumber

tersebut dalam praktiknya harus disampaikan atau didakwahkan kepada seluruh

manusia demi menggapai tujuan dari pengertian Islam itu sendiri.

Jadi bimbingan rohani Islam adalah proses pemberian bantuan kepada

individu berupa informasi, rencana, dan tindakan melalui lisan dan tulisan

3 Priyanto, Erman Anti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1999), Hal.94

4 Elfi Mu’awanah, Rifa Hidaya, Bimbingan dan Konseling Islam di Sekoalha Dasar, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), hal. 54

(39)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id bersumber dari al-Qur’an dan hadist dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi

berkaitan dengan rohani individu, agar mendapatkan perasaan kesabaran dalam

menghadapi masalahnya yang berujung kepada keselamatan dan kedamaian

individu.

Adapun bimbingan rohani Islam pada pasien di rumah sakit adalah

kegiatan yang di dalamnya terjadi proses bimbingan dan pembinaan rohani

kepada pasien di rumah sakit sebagai upaya penyermpurnaan ikhtiar medis dan

ikhtiar spiritual. Proses bimbingan dilakukan sebagai usaha untuk memotivasi

untuk tetap bersabar, bertawakkal, dan senantiasa menjalankan kewajiban

sebagai hamba Allah SWT.6

2. Dasar Pelaksanaan Bimbingan Rohani Islam

Sesuai dengan konsep yang di bawakan yakni Islam, dan Islam bersumber

kepada adalah al-Qur’an dan al-Sunnah.7 Jadi pelaksanaan bimbinngan rohani

Islam berlandaskan al-Qur’an dan al-Sunnah / Hadis Nabi SAW. Adapun

landasan dari al-Qur’an al-Sunnah/ Hadis Nabi SAW mengenai bimbingan

rohani Islam adalah sebagai berikut:

a. Firman Allah SWT :

























6 Mohamad Thohir, Konseling Rumah Sakit, (Draft: Buku Perkuliahan Program S-1 Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi, IAIN Sunan Ampel), hal. 6

(40)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan

dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah

Amat berat siksa-Nya.” (QS: al-Maidah ayat 2)8































Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam

dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS:

Yunus ayat 57)9

b. al-Sunnah/Hadis Nabi SAW

Dari Ibn Abbas ia berkata, aku pernah dating menghadap rasulullah

SAW, saya bertanya ya Rasulullah ajarkan kepadaku sesuatu doa yang akan

aku baca dalam doaku. Nabi menjawab: mintalah kepada Allah ampunan

dan kesehatan, kemudian aku menghadap lagi pada kesempatan yang lain

lalu bertanya: ya Rasulullah ajarakn sesuatu doa yang akan aku baca dalam

doaku, Nabi menjawab: “wahai Abbas pama Rasulullah SAW, mintalah

kesehatan kepada Allah di dunia dan akhirat (HR: Ahmad, al-turmudzi, dan

al-Bazzar)10

8 Mohamad Thohir, Konseling Rumah Sakit, (Draft: Buku Perkuliahan Program S-1 Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi, IAIN Sunan Ampel), hal. 7

9 Ahmad Muhammad Diponegoro, Konseling Islami Panduan Lengkap Menjadi Muslim yang Bahagia, (Yogyakarta: Gala Ilmu Semesta, 2011), hal.13

(41)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id Dari kedua ayat suci al-Qur’an dan satu hadis Nabi diatas menjelaskan

bahwa kita sesema manusia khususnya sesama muslim haruslah

tolong-menolong dalam kebajiakan seperti, menyembuhkan penyakit dengan cara

yang baik layaknya bimbingan rohani Islam yang memberi bantuan kepada

orang yang sakit dengan salah satu caranya yakni berdoa minta kepada Allah

SWT akan kesehatan dan kesembuhan dunia dan akhirat sebagai penennag

batin.

3. Tujuan Bimbingan Rohani Islam

Dalam hal ini peneliti memadukan beberapa pendapat para ahli tentang

tujuan bimbingan rohani Islam, sebagai berikut:

a. Untuk menghasilakan suatu perubahan, perbaikan, dan kebersihan jiwa dan

mental. Jiwa menjadi tenang, jinak, dan damai (muthmainah), bersikap lapang

dada (radhiyah), dan mendapat pencerahan taufik dan hidayah Tuhan-Nya

(Mardhiyah).

b. Memberikan pertolongan kepada setiap individu agar sehat jasmani dan

rohani, atau sehat mental, spiritual, dan moral atau sehat jiwa dan raganya.

c. Meningkatkan kualitas keimanan, keislaman, dan keikhsanan dan ketauhidan

dalam kehidpan sehari-hari.11

d. Membantu individu mengatasi masalah yang sedang dihadapinya12

11 Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Psikoterapi dan Konseling Islam, (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2001), hal. 167 & 272-273

(42)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id e. Memberikan ketenangan batin dan keteduhan hati kepada pasien dalam

menghadapi pasiennya

f. Memberikan motivasi dan dorongan untuk tetap bertawakal dalam

menghadapi ujian dari Allah SWT13

g. Menyadarkan penderita agar dapat memahami dan menerima cobaan yang

sedang dideritanya dengan ikhlas.

h. Memberikan pengertian dan bimbingan penderita dalam melaksanakan

kewajiban keagamaan harian yang harus dikerjakan dalam batas

kemampuan14

Dengan demikian tujuan dari bimbingan rohani Islam adalah memberikan

bantuan kepada pasien (sebagai klien) bersifat motivasi keagamaan yang

membuat pasien muncul rasa tawakkal, ikhlas dan sabar dalam menghadapi

penyakit yang dideritanya, selain itu ikut serta memecahkan dan meringankan

problem yang sedang dideritanya sebagai wujud perhatian dan penguat bagi

pasien.

4. Fungsi Bimbingan Rohani Islam

Fungsi bimbingan rohani Islam sebagaimana dijelaskan oleh Aunur Rahim

Faqih dalam bukunya Bimbingan dan Konseling dalam Islam, mempunyai fungsi

yang serupa, sebagai berikut:

13Mohamad Thohir, Konseling Rumah Sakit, (Draft: Buku Perkuliahan Program S-1 Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi, IAIN Sunan Ampel), hal. 10

(43)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id a. Fungsi Preventif: yakni membantu individu menjaga atau mencegah

timbulnya masalah bagi dirinya.

b. Fungsi kuratif atau korektif: yakni membantu individu memecahkan masalah

yang sedang dihadapi dan dialami.

c. Fungsi preseratif: yakni membantu individu menjaga agar situasi dan kondisi

yang semula tidak baik (mengandung masalah) menjadi baik (terpecahkan)

dan kebaikan itu bertahan lama (in state of good)

d. Fungsi developmental: yakni membantu individu memelihara dan

mengembangkan situasi dan kondisi yang telah baik agar tetap baik atau

menjadi lebih baik, sehingga tidak memungkinkannya menjadi sebab

munculnya masalah baginya. 15

Adapun fungsi bimbingan rohani Islam kepada pasien di rumah sakit adalah:

a. Sebagai sarana peningkat religusitas pasien yang berdampak kepada

kesembuhan pasien.

b. Sebagai pelengkap pengobatan dan pelayanan medi di rumah sakit.16

Jika dilihat secara lebih teliti lagi fungsi bimbingan rohani Islam adalah

sebagai pengontrol emosi dan perasaan pasien dalam menjalani dan pelengkap

proses pengobatan medis.

5. Metode Bimbingan Rohani Islam

(44)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id Dalam proses bimbingan rohani Islam selalu menggunakan komunikasi

antara pembimbing (warois) dengan klien / pasien untuk itu peneliti

mengklasifikasikan metode bimbingan rohani Islam berdasarkan dari segi

komunikasi yang dibagi menjadi 2 yaitu: (1) metode komunikasi langsung atau

disingkat metode langsung dan (2) metode komunikasi tak langsung atau metode

tak langsung.

a. Metode Langsung

Metode langsung (metode komunikasi langsung) adalah metode di

mana pembimbing melakukan komunikasi langsung (bertatap muka) dengan

orang yang membimbingnya. Metode ini dapat dirinci lagi menjadi:

1) Metode individual

Pembimbing dalam hal ini melakukan komunikasi langsung secara

individual dengan pihak yang dibimbingnya. Hal ini dapat dilakukan

dengan mempergunakan teknik:

a) Percakapan pribadi, yakni pembimbing melakukan dialog langsung

tatap muka dengan pihak yang dibimbing;

b) Kunjungan ke rumah (home visit), yakni pembimbing mengadakan

dialog dengan kliennya tetapi pelaksanaanya di rumah klien sekaligus

untuk mengamati keadaan rumah klien dan lingkungannya;

c) Kunjungan dan observasi kerja, yakni pembimbing jabatan,

melakukan percakapan individual sekaligus mengamati kerja klien

(45)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id 2) Metode kelompok

Pembimbing melakukan komunikasi langsung dengan klien dalam

kelompok. Hal ini dapat dilakukan dengan teknik-teknik:

a) Diskusi kelompok, yakni pembimbing melaksanakan bimbingan

dengan cara mengadakan diskusi dengan / bersama kelompok klien

yang mempunyai masalah yang sama;

b) Karyawisata, yakni bimbingan kelompok yang dilakukan secara

langsung dengan mempergunakan ajang karyawisata sebagai

forumnnya;

c) Sosiodrama, yakni bimbingan yang dilakukan dengan cara bermain

peran untuk memecahkan/mencegah timbulnya masalah;

d) Group teaching, yakni bimbingan dengan memberikan materi

bimbingan tertentu kepada kelompok yang telah disiapkan;

b. Metode tidak langsung

Metode tidak langsung (metode komunikasi tidak langsung) adalah

metode bimbingan yang dilakukan melalui media komunikasi masa. Hal ini

dapat dilakukan secara individual maupun kelompok, bahkan masal.

1) Metode individual

a) Melalui surat menyurat;

b) Melalui telephon dsb;

2) Metode kelompok/missal

(46)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id b) Melalui surat kabar/majalah;

c) Melalui brosur;

d) Melalui radio (media audio);

e) Melalui televise.17

Dalam refrensi yang lain metode penyampaian bimbingan rohani Islam dapat

dikelompokkan sebagai berikut:

a. Dengan lisan

Metode ini dapat disampaikan dengan cara:

1) Face to face

Karena penderita sangat hetrogen, santunan spiritual cara ini sangat

efektif. Disamping itu penderita yang dilarang berjalan dapat juga

didatangi.Efektivitasnya dapat lebih ditingkatkan lagi apabila hubungan

antara penyantun dan penderita tidak dilakukan secara formal.Soal jawab

dapat dilakukan secaran bebas dan lebih akrab, apabila santunan agama

dilayani oleh penyantun yang sejenis dengan yang disantuni.

2) Massal

Tentunya materi santunan yang disampaikan harus bersifat umum

dan dapat diterima oleh segala lapisan. Pelaksanaan cara ini dianjurkan

agar dibatasi, jangan terlalu sering diselenggarakan; misalnya pengajian

tujuh menit sesudah sholat dhuhur dan peringatan hari besar Islam.

(47)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id kesulitannya adalah mengenai tempat dan harus diperhitungkan bahwa

belum tentu semu penderita dapat ikut datang.

b. Dengan tulisan

Tentunya ditujukan kepada mereka yang tidak buta huruf. Metode ini

serupa dengan cara lisan yang massal, bedanya adalah dengan tulisan dan

dibutuhkan pembiayaan. Penyantunan cara ini dapat dilaksanakan antara lain

dengan:

1) Tulisan-tulisan dan gambar-gambar yang bernafaskan Islam, ayat-ayat

suci al-Qur’an, ungkapan hadis dan lain-lain yang bertemakan kesehatan,

dipasang di dalam ruangan-ruangan tempat perawatan, ruang-ruang

tempat kerja, ruang-ruang tempat tunggu, penderita jalan, ruang rawat

inap dan lain-lain.

2) Memberi buku “Tuntunan Agama untuk Orang Sakit”. Buku ini antara

lain berisi tuntunan agama harian yang praktis, tuntunan ibadah khusus

orang sakit, tuntunan doa dan lain-lain. Buku ini dibagikan kepada

penderita yang dirawat tanpa pungutan bayaran

3) Membuat selembaran “bacaan ringan” (folder) yang disediakan untuk

orang-orang yang datang di poliklinik dan rumah sakit dan dibagikan

kepada penderita yang dirawat.

4) Menyelenggarakan perpustakaan yang dilengkapi dengan buku dan

(48)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id diperbolehkan meninggalkan tempatnya, maka diikhtiarkan adanya

perpustakaan berjalan.

c. Dengan suara

Tiap-tiap ruangan perawatan, ruangan tempat bekerja, raungan tunggu

di kompleks rumah sakit dan di tempat-tempat lain yang strategis, dipasang

pengeras suara. Sumber siaran disentralisir. Pelaksanaanya agak sulit karena

dibutuhkan pembiayaan yang besar. Metode ini serupa dengan cara lisan

yang massal, bedanya isi siaran dapat sampai kepada penderitra di tempat

masing-masing. Bilamana diperlukan isi siaran dapat direkam lebih dahulu,

baru kemudian disiarkan bila waktunya telah tiba. Disarankan isi siaran

adalah:

1) Bacaan-bacaan al-Qur’an dan terjemahannya

2) Adzan di setiap waktu sholat tiba

3) Music dan nyanyian yang bernafaskan Islam

4) Uraian ringkas dan ringan tentang Islam

d. Dengan Audio Visual

Dibutuhkan banyak biaya sangat besar, jika mampu ada baiknya

diselenggarakan. Metode ini dapat dilaksanakan antara lain dengan jalan:

a) Pemasangan pesawat TV. Lebih sempurna bila dilengkapi dengan

(49)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id b) Pemutaran film.18

Dengan demikian metode cara penyampaian bimbingan rohani Islam

sangatlah beragam hampir semua metode penyampaian sangat bisa menunjang

kenyamanan dan ketenangan pasien dalam menjalani proses pengobatan, hanya

saja proses metode komunikasi langsung / face to face bisa menjadi alternative

yang paling efektif untuk kita mengetahui keadaan pasien sehingga kita bisa

memerlakukan pasien secara tepat dan baik.

6. Materi Bimbingan Rohani Islam

Materi adalah semua bahan yang disampaikan terhadap pasien dengan

bersumber pada al-Qur’an dan hadist.19Materi bimbingan rohani Islam yang

dimaksud adalah pesan-pesan yang disampaikan kepada pasien baik verbal

maupun non-verbal yang mengandung nilai-nilai ajaran agama

Islam.Penyampaian materi langsung pada rohaniawan melakukan kunjungan

terhadap pasien di rumah sakit, materi disini untuk memberikan bimbingan

kepada pasien agar mempunyai ketabahan, kesabaran, dan tawakkal kepada-Nya

serta tidak putus asa dalam menghadapi cobaan.20

Adapun secara lengkap materi bimbingan rohani yang disampaikan

meliputi:

18 Ahmad Watik Pratiknya, Abdul Salam m. Sofro, Islam, Etika, dan Kesehatan,(Jakarta: CV. Rajawali, 1986),hal.262-264

19 Mohamad Thohir, Konseling Rumah Sakit, (Draft: Buku Perkuliahan Program S-1 Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi, IAIN Sunan Ampel), hal. 14

(50)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id a. Akidah

Akidah berasal dari bahasa arab ‘aqidah yang bentuk jamaknya adalah

‘aqa’id dan berarti faith, belief (keyakinan, kepercayaan); sedang menurut

Louis Ma’luf ialah ma’uqidah ‘alayh al-qalb wa al-dlamiryang artinya

sesuatu yang mengikat hati dan perasaan. Dari etimologi di atas bisa

diketahui bahwa yang dimaksud dengan akidah adalah keyakinan atau

keimanan; dan hal itu diistilahkan sebagai akidah karena ia mengikat hati

sesorang kepada sesuatu yang diyakini atau diimaninya dan ikatan itu tidak

boleh dilepaskan selama hidupnya.21

Dalam bidang pelayanan bimbingan akidah, pelayanan diarahkan

untuk membantu klien menemukan, mengembangkan dan memantapkan

iman dan taqwa kepada Allah SWT, sehingga terwujud sikap dan

kemantapan berke-Tuhanan yang baik. Bidang pelayanan bimbingan ini

terdiri atas beberapa bagian:

1) Pemantapan keyakinan terhadap eksistensi Allah SWT, dengan segala

buktinya.

2) Pemantapan keyakinan bahwa ala mini beserta isinya adalah kepunyaan

Allah SWT.

(51)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id 3) Pemantapan penerimaan hanya Allah SWT penguasa dan pemilik alam

semesta.

4) Pemantapan penerimaan Allah sebagai wali atau penology dan hakim

yang adil bagi makhluknya.

5) Pemantapan kepatuhan dan ketundukan kepada Allah SWT yang terurai

dalam rukun iman.22

Dari penjelasan diatas mengenai arti dan makna akidah dan beberapa

point mengenai akidah yang disampaikan pada saat proses pembimbingan

berlangsung, diharapkan dapat terwujud sikap yakin, sabar, dan tabah dalam

menghadapi penderitaan dengan cara menyerahkan semua persoalan kepada

Allah yang dinyatakan dalam do’a karena do’a adalah sebaik-baiknya untuk

orang sakit. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Ar-Rad ayat 28:

























Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

b. Akhlak

Menurut Ibrahim Anis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa,

yang dengannya lahirlah perbuatan-perbuatan, baik atau buruknya, tanpa

(52)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.23 Materi tentang akhlak ini juga

sangat perlu, dari materi ini pasien bisa diberikan pengarahan sikap sebagai

hamba Allah dalam menghadapi penyakit yang menjadi ujian dalam hidup

yang tertulis dalam al-Qur’an :

















155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. 156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"

c. Ibadah

Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta

tunduk, sedangkan menurut syara’ (terminology), ibadah mempunyai banyak

definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain:

1) Ibadah adalah taat

Gambar

Tabel Populasi 1.1
Tabel 1.2 Sampel
Tabel 3.1 Struktur Jabatan
Tabel 3.2 Jam Kunjung
+6

Referensi

Dokumen terkait

Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, tehnik

Pihak rumah sakit bekerjasama dengan bagian bagian bimbingan dan pelayanan Islam (BPI) memberikan pelatihan kepada pembimbing rohani Islam untuk terus meningkatkan

Untuk menjawab permasalahan tersebut metode penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara

Ada 8 solusi yang bisa dilakukan Rumah Sakit Islam Surabaya dalam mengatasi permasalahannya yaitu melalui penerapan sistem reward dan punishment, penyesuaian jadwal dokter,

Untuk mencapai pribadi muslim yang sejati rumah sakit Islam Sultan Agung Semarang atau rumah sakit yang peduli dengan ibadah atau dikenal dengan sebutan ibadah

Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan datanya dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, 268.. Dalam menguji keabsahan data ini peneliti menggunakan uji kredibilitas yang mana terdapat

Adapun pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik yang digunakan untuk menggali informasi yang akan menjadi dasar dari rancangan dan teori yang muncul,