• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE Ekstrak Daun Ciplukan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAHAN DAN METODE Ekstrak Daun Ciplukan"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

# Ko re sp o n d e n si: Ju r u san Akuaku lt u r, Unive r sit as Ban g ka Be lit u n g . Jl. Kam p u s Te r p ad u UBB, Kel. Balu n iju k, Ke c. Me r awang , Balu n Iju k, Me r awan g , Kab . Ban g ka, Ke p u lau an Ba n g ka Be lit u n g 3 3 1 7 2

Tersedia online di: ht t p://ej ournal-balit bang.kkp.go.id/index.php/j ra

EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN CIPLUKAN (Physalis angulata L.)

TERHADAP SISTEM KEKEBALAN TUBUH IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

Yusrika Octarina, Eva Prasetiyono#, Dwi Febrianti, dan Robin

Jurusan Aku akultur, Universitas Bangka Belit ung

Jl. Kam pus Terp adu UBB, Kel. Balunijuk, Kec. Merawang, Balun Ijuk, Me rawang, Kab . Bangka, Kep ulau an Bangka Belitun g 33172

(Naskah dit erima: 11 M ei 2018; Revisi final: 24 Okt ober 2018; Diset ujui publikasi: 25 Okt ober 2018)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetah ui efektivitas ekstrak daun cip lukan (Physalis angulat a) seb agai imunostimulan dalam meningkatkan jumlah leukosit dan aktivitas fagositosis pada ikan nila. Ikan nila yang digunakan berukuran panjang 10-12 cm dan bobot 70-90 g. Ikan tersebut diperoleh dari pembudidaya ikan nila di Desa Rid ing Panjang Ke camat an Merawang. Pene litian ini me nggunakan Rancangan Acak Lengkap tunggal. Rancangan ini terdiri atas lima perlakuan (P), yaitu P1= kontrol positif (penyuntikkan dengan larutan fisiologis), P2= 4% (v/v) (1 mL ekstrak + 24 mL akuades), P3= 8% (v/v) (2 mL ekstrak + 23 mL akuades), P4= 12% (v/v) (3 mL ekstrak + 22 mL akuades) dan P5= kontrol negatif (tanpa penyuntikan). Ekstrak ciplukan diinjeksikan sebanyak 0,1 mL pada setiap ekor ikan secara intra-muskular. Indikator imun yang diamati adalah jumlah total leukosit dan aktivitas fagositosis. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA). Hasil yang menunjukkan pengaruh antara perlakuan, selanjutnya dianalis dengan uji wilayah bergan da du ncan. Hasil pen elitian men unjukkan b ahwa e kstrak cip lukan dapat meningkat kan jumlah leukosit dan aktivitas fagositosis. Dosis terbaik dalam meningkatkan respon imun adalah dosis ekstrak P4= 12% (v/v) ekstrak dengan jumlah total leukosit (12,43 x 108 sel/mL) dan aktivitas fagositosis (46,67%).

KATA KUNCI: Physalis angulata; respon imun; aktivitas fagositosis; jumlah leukosit

ABSTRACT: The efectiveness of the extract ciplukan leaves (Physalis angulat a L.) on the immune system of nile

tilapia (Oreochromis nilot icus). By: Yusrika Octarina, Eva Prasetiyono, Dwi Febrianti, and Robin

The aim of t his research was t o det ermined t he effect ivit y of t he ext ract Physalis angulat a as immunostimulant on t he amount of t ot al leucocyt e count and phagocytosis act ivity of nile t ilapia. The test ed fishes were nile t ilapia wit h size of, 10-12 cm in t ot al lengt h, and 70-90 g in weight . The fish were obt ained from fish farmers in Riding Panjang village M erawang Sub Dist rict . The research was designed in single complet ely randomized design. There were five levels of t reat ment (P), wit h P= posit ive cont rol (inject ed wit h physiological solut ion), P2= 4% (v/v) (1 mL ext ract + 24 mL aquadest ), P3= 8% (v/v) (2 mL ext ract + 23 mL aquadest ), P4= 12% (v/v) (3 mL ext ract + 22 mL aquadest ) and P5= negat ive cont rol (wit hout inject ion). The ext ract Physalis angulat a L. was inject ed int ramuscularly at a dose of 0.1 mL per fish. The immune indicat ors observed were t ot al leucocyt e count and phagocyt osis act ivit y). Dat a analyzed by using analysis of variant (Anova). if t here were any significant different bet ween t he t reat ment , analysis cont inued by duncan” s mult iple range t est . The result s of t he research showed t hat t he ext ract could increase t he amount of t ot al leucocyt e count and phagocyt osis act ivit y. The ciplukan leaves at a dose of 12% (v/v) were t he most effect ive dose in enhancing t ot al leucocyt e (12.43 x 108 cell/mL) and phagocyt osis act ivit y (46.67%).

(2)

PENDAHULUAN

Ikan nila (Oreochromis nilot icus) merupakan salah satu ikan budidaya air t awar yang mempunyai pro spek ya n g b a ik . Ik a n n ila m e m illik i s ifa t ya n g mengunt ungkan ant ara lain mudah berkembang biak dan p ert umb uhan nya re lat if cep at . Kelebihan yang dimiliki ikan nila ini menyebabkan ikan nila banyak dibud idayakan dan me miliki permin t an pasar yang cukup t inggi. Oleh karena it u, banyak pembudidaya mene rapkan sist em budidaya secara int ensif u nt uk meningkat kan jumlah pro duksi ikan nila (Pasaribu et al., 2015).

Usaha budidaya secara int ensif dapat menyebabkan mu nculnya p erub ah an lingku ngan bu didaya akib at t in ggin ya p e nce m aran d an ke salahan p e n an ganan b u d id a ya , s e h in g g a m e m icu t im b u ln ya m as a la h penyakit . Serangan penyakit pada ikan budidaya akan menyebabkan kerugian eko no mi bagi pembudidaya. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan beberapa ca r a s e p e r t i p e m b e r ia n a n t ib io t ik , va k s in , d a n imuno st imulan (Payung & Hengky, 2015).

De wasa in i, ko nt ro l pen yakit ban yak dilakukan dengan menggunakan bahan alami at au t anaman obat se bagai sum ber imu no st imu lan . Tanam an ciplukan (Physal i s ang ul at a L.) m e r u p a k a n t a n a m a n ya n g berpo t ensi sebagai imuno st imulan. Kandungan kimia yang terdapat dalam daun ciplukan antara lain flavonoid se ban yak 0 ,3 3 %; t an in 0 ,9 3%; sapo n in 0,3 0 %; d an p o life n o l 0 ,2 3 % (As t u t i, 2 0 1 6 ). Pe n e lit ia n ya n g dilakukan o leh Effendi & Hart i (2014) menggunakan ekst rak et ano l daun ciplukan yang diberikan melalui pakan pada mencit dengan do sis 4%, 8%, 12% v/v dapat m e n in g k a t k a n a k t ivit a s Ig M (im u n o g lo b u lin ). Kandungan yang t erdapat dalam daun ciplukan sepert i fla vo n o id , s a p o n in , d a n t a n in m e m ilik i s ifa t im u n o s t im u la t o r. Im u n o s t im u la t o r m e r u p a ka n se n yawa ya n g d ap at m e n in gkat kan sist e m im u n , se pe rt i h aln ya p ad a m e ncit yan g d it an d ai d e ngan m e n in g ka t k at n ya ak t ivit a s Ig M (im u n o glo b u lin ). Pe n e lit ian in i p e rlu d ilaku kan u n t u k m e n ge t ah u i t ingkat e fekt ivit as ekst rak daun ciplukan t e rhad ap sist em kekebalan t ubuh ikan nila secara no n spesifik yang diberikan melalui met o de injeksi.

BAHAN DAN M ETODE

Ekstrak Daun Ciplukan

Daun ciplukan yang digunakan dalam penelit ian ini adalah daun keempat dan kelima dari pucuk. Daun yang t elah dikumpulkan, dicuci bersih kemudian dit iriskan. Pengeringan daun dilakukan dengan cara dianginkan

selama 5 hari. Daun yang t elah dikeringkan selanjut nya dihaluskan menggunakan blender dan disaring sehingga dipero leh serbuk halus (simplisia).

Pembuatan ekst rak daun ciplukan dilakukan secara meserasi dengan merendam simplisia dalam alko ho l 96%, selama 3 hari. Simplisia disaring set elah 3 hari. Ekst rak yang dipero leh diuapkan dengan rot ar y evapo-rat or pada t ekanan 175 mbar, suhu 60°C dan kecepatan put aran 80 rpm (Arifin et al., 2009). Ekst rak alko ho l ciplukan dibuat dalam do sis 4% (v/v), 8% (v/v), dan 12% (v/v) (Effendi & Hart i, 2014). Pembuat an do sis 4% (v/v) daun ciplukan adalah dengan melarut kan 1 mL ekst rak cair daun ciplukan ke dalam akuades hingga 25 mL. Pembuat an ekst rak dengan do sis 8% (v/v) dan 12% (v/ v) d ilakukan de ngan cara yang sam a yait u de ngan melarut kan 2 mL dan 3 mL ekst rak cair daun ciplukan ke dalam akuades hingga 25 mL.

Ikan Uji

Hewan uji yang digunakan adalah ikan nila yang sehat dengan panjang 10-12 cm dan bo bo t 70-90 g. Ikan berasal dari pembudidaya ikan nila di Desa Riding Pan jang Kecamat an Me rawan g. Seb anyak 180 e ko r ikan diaklimat isasi dalam akuarium dengan ukuran 90 cm x 60 cm x 50 cm selama 14 hari.

Uji in vivo

Pengujian in vivo pemberian ekst rak daun ciplukan pada ikan nila dilakukan dengan t iga perlakuan do sis berbeda dan dua perlakuan ko nt ro l (P). Pe mberian ekst rak daun ciplukan dilakukan dengan cara injeksi sebanyak 0,1 mL secara int ramuskular (Yuhana et al., 2008; Sat yant ini et al., 2016). Perlakuan P1 dilakukan dengan menyunt ikkan larut an fisio lo gis sebanyak 0,1 mL/eko r. Perlakuan P2, P3, dan P4 dilakukan dengan penyunt ikan ekst rak daun ciplukan dengan do sis 4% (v/v), 8% (v/v), dan 12% (v/v) pada masing-masing ikan nila sebanyak 0,1 mL/eko r. Sedangkan perlakuan P5 tanpa penyuntikan (t anpa perlakuan). Jumlah ikan yang digunakan pada masing-masing ulangan t erdiri at as 12 eko r ikan nila. Ikan dipelih ara dalam akuarium dengan ukuran 90 cm x 60 cm x 50 cm, selama 14 hari. Pakan yan g dib erikan b eru pa pakan ko me rsil d e n g a n k an d u n g an p r o t e in s e b e s a r 2 5 %. Pa k a n diberikan sebanyak 2 kali sehari yaitu pada pukul 07.00 dan 16.00 WIB.

(3)

mL akuades), P3= 8% (v/v) (2 mL ekst rak + 23 mL aku ad e s), P4 = 1 2 % (v/v) (3 m L e kst rak + 2 2 m L a k u a d e s ), d a n P5 = Ko n t r o l n e g a t if (t a n p a penyunt ikan).

Parameter Pengam at an

Paramet er darah yang diamat i dalam penelit ian ini a d a la h Tot al Leucocyt e Count (TLC) d an ak t ivit a s fago sito sis. Pengambilan sampel darah dilakukan pada hari ke-0 sebelum ikan diinjeksi dan hari ke-1, 4, 7, dan 14 hari set e lah dib eri perlakuan. Pe ngambilan darah dilakukan menggunakan spuit 1 mL yang sudah diberi ant iko agulan nat rium sit rat 3,8%. Sampel darah diambil melalui int ra-vena (Lengka et al., 2013). TLC dihit ung menggunakan haemocyt ometer. Darah dihisap dengan pipet sampai skala 0,5 dan dtambahkan larut an Turk’s sampai skala 11, pipet diayunkan membent uk angka delapan selama 5 menit hingga darah bercampur rat a. Laru t an t e rse b u t ke m u d ian d it e t e skan p ad a hem ocyt om et er k e m u d ia n d it u t u p d e n g a n g e las s penut up (Blaxhall & Deasley, 1973).

Akt ivit as fagosito sis dilakukan mengikut i prosedur yang t elah dilapo rkan sebelumnya o leh Ut ami (2009). Sebelumnya, sebanyak 0,05 mg ragi yang digunakan unt uk uji akt ivit as fago sit o sis diakt ifkan dulu dengan penambahan 0,10 g gula pasir. Kemudian ditambahkan air yang t elah dipanaskan dengan suhu 70°C sebanyak 25 mL. Ragi ini berfungsi sebagai mikro o rganisme, untuk melihat kemampuan akt ivit as fago sito sis. Secara

ringkas, sebanyak 50 µL darah dimasukkan ke dalam

m i cr ot u be, d it a m b a h k a n 5 0 ìL r a g i ya n g s u d a h d ia k t ifk a n . Su s p e n s i r a g i d ih o m o g e n k a n d a n d iin k u b as i d ala m su h u ru a n g se la m a 1 5 m e n it , k e m u d ia n s e b a n ya k 5 ìL d ib u a t s e d ia a n u la s dikeringkan di udara. Ulasan difiksasi dengan met ano l se lam a 5 me nit d an dikeringkan. Ulasan dirend am dalam pewarna giemsa selama 15 menit , kemudian dicuci dengan air mengalir dan dikeringkan dengan t issue. Dihit ung jumlah sel yang menunjukkan pro ses fago sit o sis dari 100 sel fago sit yang t eramat i.

Pe n g e lo la a n k u a lit a s a ir d ila k u k a n d e n g a n pen yipo nan set iap 2 h ari sekali dan pe rgant ian air dilakukan sebanyak 30%. Paramet er kualit as air yang d iam at i ad alah su hu , d e rajat ke asam an (p H), d an o ksigen t erlarut (DO).

Dat a h asil p e ngam at an m e lip u t i TLC, akt ivit as fa go s it o sis d io lah m e n gg u n a ka n Ms.Exce l 2 0 1 0 , kem udian dianalisis dengan menggunakan ANOVA. Hasil t abel sidik ragam yang menunjukkan pengaruh yang berbeda, dilanjut kan dengan uji duncan dengan t araf kepercayaan 95%.

HASIL DAN BAHASAN

TLC (Total Leucocyte Count)

Jumlah sel darah putih pada berbagai perlakuan dan rent ang pengamat an dit unjukkan pada Gambar 1.

Pe n g a m a t a n p a d a h a r i k e -1 t e la h t e r ja d i peningkatan leuko sit . Perlakuan P4 (12,60 x 108sel mL -1) berbeda nyat a (P< 0,05) dengan P1 (3,88x 108 sel mL-1) dan P5 (5,73 x 108 sel mL-1), namun t idak berbeda nyat a dengan P2 (8,02 x 108sel mL-1) dan P3 (8,21 x 108 sel mL-1

). Pengamat an hari ke-4, diket ahui bahwa P4 (18,51 x 108 sel mL-1) berbeda nyat a (P< 0,05) dengan P1 (6,11 x 108 sel mL-1), P2 (7,68 x 108sel mL-1), P3 (1,64 x 108sel mL-1), dan P5 (3,90 x 108sel mL-1).

Pengamat an hari ke-7 set elah diberi perlakuan, P4 (16,18 x 108

sel mL-1

) t idak memberikan respo n yang berbeda nyat a dengan P1 (17,02 x 108sel mL-1) t et api berbeda nyat a (P< 0,05) dengan P2 (v/v) (6,56 x 108sel mL-1), P3 (7,35 x 108sel mL-1), dan P5 (4,75 x 108sel mL -1). Pengamat an pada hari ke-14 setelah diberi perlakuan diket ahui bahwa P4 (12,43 x 108sel mL-1) berbeda nyat a (P< 0,05) dengan P1 (4,85 x 108sel mL-1), P2 (7,12 x 108sel mL-1), P3 (7,90 x 108sel mL-1), dan P5 (6,72 x 108sel mL-1).

Do sis 1 2% (v/v) (P4 ) m e mb e rikan re spo n s yan g berbeda nyat a (P< 0,05) dibandingkan ko nt ro l negat if di semua pengamat an. Respo ns ini disebabkan adanya bahan akt if berupa flavonoid, saponin, dan tanin dalam ekst rak daun ciplukan (Effendi & Hart i, 2014). Bahan akt if yang masuk segera dikenali o leh ikan sehingga pada hari ke-1 ikan langsung mempro duksi leuko sit . Pen in gkat an le u ko sit in i d iawali ket ika m asu knya ekst rak daun ciplukan (ant igen) ke dalam t ubuh ikan. Ant igen adalah semua benda asin g yang masuk ke dalam t ubuh ikan di luar bagian dari tubuh ikan sendiri. Namun, antigen yang masuk yaitu berupa ekstrak daun ciplukan ini t idak berbahaya bagi t ubuh ikan karena t idak bersifat pat o gen. Met o de injeksi yang diberikan ju ga d id u ga m e n jad i p e nye b ab re sp o n sifn ya ikan t e rh a d ap an t ige n . Hal in i d id u k u n g o le h Olga & Fat mawat i (2013) yang menyebut kan bahwa met o de injeksi m erupakan met o de yang efekt if unt uk ant i-gen m asu k ke d alam t u bu h secara sist e mik, yait u melalui pembuluh darah dan beredar ke seluruh t ubuh, sehingga respo ns yang diberikan akan semakin cepat .

(4)

Sat yantini et al. ( 2016) menggunakan ekstrak air panas

Peningkat an leuko sit di semua perlakuan bekerja o pt imal pada hari ke-4. Hal ini sesuai dengan pendapat Effendi & Hart i (2014) yang mengat akan bila ant igen pertama kali masuk ke dalam tubuh, terjadilah respons im un hum o ral yang dit and ai den gan dihasilkann ya ant ibo di (IgM) 6-7 hari set elah pemaparan. Respo ns pembent ukan ant ibo di merupakan respo ns imun hu-mo ral yang art inya ket ika t erpapar ant igen, ikan lebih d ahu lu akan m elalu i re spo n s im u n se cara se lu lar. Respo ns imun selular biasa t erjadi 1-5 hari set elah pemaparan (Effendi & Hart i, 2014).

Penurunan jumlah leuko sit t erjadi pada hari ke-7 dan ke-14. Hal ini berkaitan dengan lama dosis bereaksi di dalam t ubuh. Menurut penelitian Anderson & Siwiski (1993), menggunakan glucan dan chito san dengan cara p e m b e r ia n d is u n t ik a t a u d ir e n d a m p a d a ik a n mengalami penurunan kualit as efek o bat pada hari ke-14 dan ke-21. Penurunan ini juga diduga karena ikan t idak t erpapar pat o gen sehinggga ikan akan berhent i mempro duksi leuko sit secara berlebihan dan kembali

Jumlah leuko sit pada ikan yang no rmal menurut Angka et al. (1985) berkisar ant ara 2-15 (x 107

sel mL-1 ) atau pada penelitian ini (3,78 x 108sel mL-1). Pemberian ekst rak daun ciplukan secara injeksi memberikan efek p o s it if t e r h a d a p p e n in g k a t a n t o t a l le u k o s it . Hakikat nya ikan yang t erp ap ar p at o ge n ju ga akan mengalami peningkat an jumlah leuko sit. Peningkat an ini t erjadi unt uk mengeliminasi pat o gen yang masuk, sehingga jumlah leuko sit yang dipro duksi o leh t ubuh ikan akan langsung t ermanfaat kan. Berbeda h alnya d e n ga n p e n in gk at an le u ko sit yan g t e rjad i k e t ika d ib e r ik a n e k s t r a k d a u n c ip lu k a n , in i a k a n men yebabkan ikan mem pro du ksi leuko sit sebe lum t e rjad in ya p ap aran p e n ya kit , se h in gga ik an le b ih t anggap apabila t erpapar pat o gen. Menurut Efendi & Hart i (2014), ciplukan mengandung senyawa sapo nim dan flavonoid yang bersifat imunostimulator yang dapat (leuko sit granular), yait u sel-sel fago sit ik yang t erdiri at as m o n o sit d an m akro fag. Makro fag m erup akan

Hari pengam at an (Observat ion days)

(5)

bakt eri. Mo no sit berfungsi sebagai fago sit t erhadap b e n d a -b e n d a a sin g, t e rm as u k an t ig e n . Akt ivit a s fa g o s it o s is b ia s a d ija d ik a n p a r a m e t e r u n t u k menent ukan sist em ket ahanan t ubuh ikan. Akt ivit as fago sit o sis p ad a p e n gam at an h ari k e -0 (1 6 ,2 0 %) merupakan ko ndisi no rmal ikan pada awal sebelum diberi perlakuan.

Pe ngam at an hari ke-1 P4 (4 2,17 %) me mb erikan respo n berbeda nyat a (P< 0,05) dibandingkan dengan P5 (21,50%), P1 (28,67%), dan P2 (28,83%), namun t idak berbeda nyat a dengan P3 (40,83%). Pengamat an pada hari ke -4 b erbe da n yat a (P< 0,05 ) an t ar perlakuan. Akt ivit as fago sit o sis t ert inggi pada P4 yait u sebanyak 67,00%. Pengamat an pada hari ke-7 diket ahui bahwa P4 (42 ,3 3%) b erbe da n yat a (P < 0 ,0 5) d en gan P5 (27,67%), P2 (v/v) (34,00%) dan P1 (37,17%) t et api t idak berbeda nyat a dengan P3 (40,33%). Pengamat an pada hari ke-14 P4 (46%) berbeda nyat a (P < 0,05) dengan P5 (38,83%) dan P1 (39,00%), namun tidak berbeda nyata dengan P2 (41,83%) dan P3 (43,17%).

Berd asarkan d at a pe n gam at an dap at d ike t ahu i bahwa pemberian ekstrak daun ciplukan secara injeksi ke t u b u h ikan n ila d ap at m e n in gkat kan akt ivit as fagosito sis. Uji lanjut duncan yang dilakukan diketahui bahwa do sis 12% (v/v) (P4) memberikan respo ns yang b e r b e d a n yat a (P> 0 ,0 5 ) d e n gan ko n t ro l n e gat if. Me n in g k a t n ya a k t ivit a s fa g o s it o s is m e r u p a k a n ind ikat o r p en in gkat an kekeb alan t ub uh . Alifud din (1999) menyatakan peningkatan kekebalan tubuh dapat diketahui dari peningkat an aktivit as sel fagosit. Pro ses

ini memberi perlindungan segera dan efekt if t erhadap infeksi.

Pr o se s fago sit o sis m e n u ru t An d e r so n (1 9 9 2 ), a p a b ila t e r ja d i k o n t a k a n t a r a p a r t ik e l d e n g a n permukaan sel fago sit o sis. Membran sel kemud ian mengalami invaginasi di mana dua lengan sit o plasma m en e lan p art ike l asin g seh ingga t erku run g d alam sit o plasma sel, t erlet ak dalam vakuo la yang dilapisi m e m b ra n (fa go lis o so m ). En z im p e n ce r n a an d a n sen yawa ant imikro ba yang t erdapat dalam liso so m dapat mendegradasi sel mikro ba yang t ert elan.

Ha sil p e n e lit ian in i ju ga m e n u n ju kkan b ah wa ekst rak daun ciplukan dapat meningkat kan akt ivit as fago sit o sis ikan n ila t e rh adap ragi se cara in vit r o. Penelit ian yang dilakukan o leh Fit riant i et al. (2011) d ike t ah ui bah wa e kst rak d au n ciplu kan m e miliki efektivitas sebagai antimikro ba t erhadap bakt eri MRSA secara in vit ro. Penelit ian serupa juga dilakukan o leh Sudart o (2009) diket ahui bahwa ekst ak daun ciplukan dengan ko nsent rasi 30% mampu membunuh bakt eri Pseudomonas aeruginosa dengan met o de dilusi t abung dan penggo resan media NAP. Berdasarkan beberapa p e ne lit ian in i d ap at d ike t ahi b ahwa ekst rak dau n ciplukan memiliki sifat ant imikro ba.

Me n u ru t Fit r ia n t i et al. (2 0 1 1 ), e ks t r ak d au n c ip lu k a n m e m p u n ya i s ifa t a n t im ik r o b a . Sifa t ant imikro ba ini disebabkan o leh adanya zat -zat akt if ya n g la r u t k e t ik a d a u n c ip lu k a n d ie k s t r a k menggunakan pelarut alko ho l. Zat -zat akt if t ersebut ant ara lain flavo no id, alkalo id, dan fo lifeno l.

a

Gambar 2. Akt ivit as fago sit o sis (%) ikan nila pada pada berbagai perlakuan (P1= ko nt ro l po sit if, P2= 4% (v/v), P3= 8% (v/v), P4= 12% (v/v), dan P5= ko nt ro l negat if).

(6)

Gambar 3 Kelangsungan hidup ikan nila yang dipelihara selama 14 hari.

Figure 3. The survival rat e of nile t ilapia during 14 days rearing Sint asan (SR)

Ke la n g s u n g a n h id u p ik a n n ila s e la m a m a s a pemeliharaan 14 hari dit unjukkan pada Gambar 3.

Be r d a s a r k a n Ga m b a r 3 , d ik e t a h i b a h w a ke lan gs u n ga n h id u p ikan n ila t id ak m e m b e rik an pengaruh yang berbeda nyat a ( 0,05) ant ar perlakuan selama masa pemeliharaan 14 hari. Kelangsungan hidup ikan nila pada penelit ian ini bisa dikat akan cukup baik karena lebih dari 50%. Kelangsungan hidup yang cukup t inggi ini dikarenakan do sis perlakuan yang diberikan t idak t erlalu t inggi, sehingga masih bisa dit o leransi oleh ikan. Ikan dipelihara dalam wadah yang terkontrol yait u dalam ruangan sehingga flukt uasi kualit as air dapat dit e kan. Men urut Tau fik (1 98 4), ku alit as air san gat m e m p e n gar u h i ke la n gsu n gan h id u p ik an , karena pe rubahan sat u paramet er kualit as air akan mempengaruhi paramet er lainya.

Kualitas Air

Da t a k u a lit a s a ir ya n g t e r u k u r s e la m a m a s a pemeliharaan pada Tabel 1.

Berdasarkan dat a pad a Tabe l 1, dapat diket ahui bahwa kualitas air yaitu suhu, pH, dan DO selama masa pemeliharaan 14 hari dalam ko ndisi yang baik. Hal ini dikarenakan paramet er yang t erukur t elah memenuhi St andar Nasio nal Indo nesia (SNI) pemeliharaan ikan nila. Suh u yang t erukur selama pemeliharaan ant ar p e r la k u a n s a m a ya it u b e r k is a r a n t a r a 2 6 -2 9 °C. Pe r u b ah an su h u a k an m e m p e n ga ru h i ke ce p a t a n p e r k e m b a n g a n m e k a n is m e p e r t a h a n a n d a n pembentukan ant ibodi, perubahan suhu dapat menjadi penyebab st res yang mempengaruhi kesehat an ikan (Abdullah, 2008). Oksigen t erlalut yang t erukur selama m asa pe me liharaan yait u 5,1–6,1 mg L-1. Men u ru t Taufik (1 984 ), kadar o ksige n yan g o pt imu m u nt uk menjaga kesehat an ikan dalam media pemeliharaan harus berada dalam kisaran 6,5-12,5 mg L-1. pH yang t erukur selama penelit ian yait u berkisa 6,9-7,5 yang sesuai dengan st andar nasio nal ikan nila. Kualit as air yang t erukur selama penelit ian dalam ko ndisi yang baik unt uk mendukung st at us kesehat an ikan.

Tabel 1. Dat a kualit as air ikan nila selama 14 hari pemeliharaan Table 1. Wat er qualit y of nile t ilapia during 14 days rearing

a

a a

a a

0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00

P1 P2 P3 P4 P5

Perlakuan (Treatment)

S

in

ta

sa

n

(

S

u

rv

iv

a

l r

a

te

)

Suhu (Temperature) (°C) pH D O (m g L-1 )

P1 26 -29 7 .1 -7.4 6 .1 -6 .3

P2 26 -29 7 .1 -7.3 5 .4 -6 .1

P3 26 -29 6 .9 -7.3 5 .1 -5 .4

P4 26 -29 7 .1 -7.5 6 .0 -6 .4

Perlakuan

Treatment

(7)

KESIM PULAN

Injeksi ekst rak daun ciplukan dengan do sis 4% (v/ v), 8% (v/v), dan 12% (v/v) sebanyak 0,1 mL per eko r secara int ra musku lar dapat m emberikan pe ngaruh yang nyat a t erhadap sist em kekebalan tubuh ikan nila. Do s is 1 2 % (v/v) m e r u p a k an d o s is t e rb a ik d a la m m e n in g k a t k a n ju m la h le u k o s it d a n a k t ivit a s fago sit o sis. Jumlah leuko sit dan akt ivit as fago sit o sis pada hari ke-14 masing-masing sebesar 12,43 x 108 sel mL-1 dan 46,67%.

UCAPAN TERIM A KASIH

Ucapan t erima kasih disampaikan unt uk Jurusan Akuakult ur, Universit as Bangka Belit ung dan SMK N 4 Pan gkalpin an g at as fasilit as yan g t elah dib erikan selama pro ses penelit ian yang dilakukan.

DAFTAR ACUAN

Abdullah, Y. (2008). Efekt ivit as ekst rak daun paci-paci Leucas la vandula efolia unt uk penceg ahan dan p en g ob at an p enyak i t M AS M ot i l e Aer om ona d Sept i cem i a.Sk r ip s i. In s t it u t Pe r t a n ia n Bo g o r : Fakult as Perikanan dan Ilmu Kelaut an.

Alifu dd in , M. (1 9 99 ). Im un o st im u lasi p ad a h e wan akuat ik. Jurnal Akuakulur Indonesia, 1(2), 87-92. Anderso n, D.P. (1992). Immuno stimulant,adjuvant and

vaccine carrier in fish: Applicatio ns t o aquacult ure. Annual Review of Fish Diseases, 21, 281-307. An d e r s o n , D. P. & Siw ic k i A. K. (1 9 9 3 ). Ba s ic

h ae mat o lo gy and sero lo gy fo r fish he alt h p ro -grams. Paper present ed in seco nd sympo sium o n diseases in asian aquaculture. Aquat ic Animal Healt h and t he Environment . Phuket , Thailand 185-202. Angka, S.L., Wo ngkar G.T., & Kar wani, W. (1985). Bloo d

pict u re and bact e ria iso lat ed fro m ulcere d and cro o ked back Clarias bat hrachus. Biot rop Special Publishing, (2), 129.

Arifin , M.F., Nu rh id ayat i, L., Syarm alin a, & Re n sy. (2009). Fo rmulasi edible film ekst rak daun sirih (Piper bet le L.)sebagai ant ihalit o sis. Kongres Ilmiah, 17, 7-9.

As t u t i, S. (2 0 1 6 ). Uj i akt ivit as ant ioksidan ekst r ak klor ofor m daun t omat (Solanum lycopersicum l.), daun cabai merah (Capsicum annum l.) dan daun ciplukan (Physalis angulata l.) dengan met ode dpph. s k r ip s i. Un ive r s it a s Se b e la s Ma r e t , Fa k u lt a s Mat emat ika dan Ilmu Penget ahuan.

Blaxa ll & De a s le y, K.W. (1 9 7 3 ). Da s le y: Ro u t in e Haemat o lo gical Met ho ds fo r Use Wit h Fish Blo o d. Journal of Fish Biology, p. 577-581.

Effend i, N. & Hart i W. (201 4). Id ent ifikasi akt ivit as imu no glo bu lin M (Ig.M) e kst rak e t ano lik d au n ciplukan(Physalis minima linn.) pada mencit. Jurnal Kesehat an, 7, 353-359.

Fit riant i, D.A.R., No o hamdani, A.S., & Set yawat i, S.K. (2011). Efekt ivit as ekst rak daun ciplukan sebagai ant imikro ba t erhadap met hicilli-resist ant St aphy-lococcus aureus in vit ro. Jurnal Kedokt eran Brawij aya, 26(4), 212-214.

Le ngka, K., Mano p o , H., & Ko lo pit a, M.E.F. (2 013 ). Pe nin gkat an respo n imu n n o n spe sik ikan m as (Cyprinus carpio L) melalui pemberian bawang put ih (Allium sat ivum). Budidaya Perairan, 1(2), 21-28. Olg a & Fa t m a w a t i. (2 0 1 3 ). Efik a s i r u t e va k s in

Aeromonas hydrophilaasb-0 1 pada ikan gab us (Ophiocephalus st riat us). Fish Scientiae, 4(6), 138-140. Pasaribu, W., Sammy, N.J., Lo ngdo ng, & Jo ppy, D.M. (2015). Efekt ivit as ekst rak daun pacar air ( Impa-t iens balsamina L.) u nt uk m eningkat kan re sp o n imun no n spesifik ikan nila (Oreochromis nilot icus). Jurnal Budidaya Perairan, 3(1), 83-82.

Payung, C.N. & Hengky, M. (2015). Peningkat an respo n keb al n o n-spe sifik d an p ert u mb u han ikan n ila (Oreochromis nilot icus) ssmelalui pemberian jahe, (Zing i ber of f i ci nale). Jur nal Budi daya Per ai r an, 1(3), 12.

Sat yant ini, W.H., Agust o no , Arimbi, Emy, K.S., Budi, M., & Lina, W.A. (2016). Peningkat an respo n imun spesifik ikan gurami pasca pemberian ekst rak air panas mikro alga Spirulina platensis. Jurnal Vateriner, 17, 349.

Su d ar t o . (2 0 0 9 ). Sensivit as Ekst r ak Daun Cepl ukan seb a g ai Ant i m i k r oba t er h a da p Pseu dom ona s aeruginosa. Skripsi. Universitas Brawijaya: Malang. Taufik, P. (1984). Fakt or kualit as air dapat mempengaruhi t i m bu l nya sua t u penyak i t pada i kan. Ma ja la h Pert anian. Jakart a.

Ut ami, W.P. (2009). Efekt ivit as ekst rak paci-paci (Leucas lavandulaefolia) yang diberikan lewat pakan unt uk pen ceg ah an da n pen g obat a n penyaki t M ot i l e Aeromonas Sept icemia (M AS) pada ikan lele dumbo (Clar ia s sp.).Sk rip s i. In s t it u t Pe rt an ia n Bo go r, Fakult as Perikanan dan Ilmu Kelaut an.

Gambar

Gambar 1.Total leukosit ikan nila pada berbagai perlakuan ( P1=  kontrol positif,
Gambar 2. Aktivitas fagositosis (%) ikan nila pada pada berbagai perlakuan
Gambar 3Kelangsungan hidup ikan nila yang dipelihara selamaFigure 3.14 hari.The survival rate of nile tilapia during 14 days rearing

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu untuk melihat potensi aktivitas antioksidan pada bagian daun perlu dilakukan penelitian dengan menggunakan ekstrak daun tomat ( Solanum lycopersicum

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat efektivitas ekstrak daun salam dengan penambahan daun mint sebagai obat kumur alami serta mengetahui kualitas

Kesimpulan : Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% daun ciplukan (Physalis angulata L.) memiliki efek penurunan kadar glukosa darah pada tikus jantan galur

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh jenis pelarut terhadap karakteristik fitokimia dan toksisitas dari ekstrak buah ciplukan matang (Physalis angulata

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya sebagai imunostimulan dapat meningkatkan respon imun udang vaname.. Konsentrasi terbaik yaitu

Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut untuk menentukan mekanisme efek relaksasi ekstrak etanol daun ciplukan (EEDC) terhadap kontraksi

BINTA ISNAENI SALMA pada penelitian Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Lamtoro (Leucaena Leucocephala) Terhadap Aktivitas, Kapasitas Makrofag Dan Jumlah Sel Leukosit,

Dokumen ini membahas tentang penggunaan ekstrak daun Ciplukan dan batang Kayu Manis sebagai adjuntif untuk pengobatan ulkus