Hubungan Sipil-Militer Korea Utara Pada Masa Kim il-Sung
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hubungan sipil-militer tidak terlepas dari latar belakang sejarah dan perkembangan bangsa dan negara. Keikutsertaan Militer dalam kegiatan politik sering menjadi suatu pembahasan yang menarik untuk dibahas.Istilah “intervensi Militer” dalam kegiatan politik dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan kehidupan demokrasi yang dikendalikan oleh pemerintahan sipil.
Runtuhnya Uni Soviet yang menandai berakhirnya Perang Dingin memberi implikasi yang lebih rumit bagi kondisi hubungan internasional. Ketegangan maupun persaingan antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet pada saat Perang Dingin berlangsung tidak lagi mewarnai sistem politik internasional. Kondisi sistem internasional yang tidak stabil karena mengalami perubahan dari bipolar menjadi multipolar menjadi suatu masalah tersendiri karena akan berpengaruh terhadap negara-negara anggota system internasional tersebut. Ketidakstabilan kondisi sistem internasional tersebut ditandai dengan mulai merebaknya konflik antar etnis dan agama, proliferasi senjata pemusnah massal, maupun terorisme. Asia Timur sebagai salah satu kawasan dalam sistem internasional juga terpengaruh oleh adanya ketidakstabilan sistem internasional yang diawali sejak berakhirnya Perang Dingin. Dengan kondisi sistem internasional yang tidak stabil membuat negara-negara di Asia Timur mulai mengarahkan perhatian pada perkembangan keadaan sekitarnya yang dianggap dapat menjadi sumber ancaman dan mencari cara untuk mengatasinya.
Dinamika keamanan regional di kawasan Asia Timur berkisar pada tiga isu:1
masalah hubungan Jepang dengan negara-negara tetangganya, ketegangan hubungan antara Cina dan Taiwan, dan perang yang tak terselesaikan antara dua negara Korea. Potensi konflik regional merupakan hal yang dirasakan oleh negara Asia Timur sebagai ancaman yang besar. Oleh sebab itu, negara-negara di Asia Timur saling berusaha untuk terus meningkatkan pertahanan nasionalnya dengan meningkatkan pembelanjaan militer maupun modernisasi persenjataan karena ada rasasaling curiga satu sama lain.
Dari seluruh negara di Asia Timur, Korea Utara merupakan negara yang paling selalu berusaha mengembangkan nuklir. Sebenarnya kapabilitas kekuatan militer konvensional yang dimiliki Korea Utara lemah. Ini terlihat dari usangnya tank-tank yang dimiliki Korea Utara. Begitu pula dengan sistem udara statisnya. Walaupun lemah, Korea Utara selalu berusaha meningkatkan kekuatan militer. Dari pengembangan kekuatan militer tersebut terlihat bahwa terdapat suatu hubungan sipil-militer, namun kekuasaan pemerintahan berada ditangan militer. Dalam makalah ini penulis tertarik untuk meninjau bagaimana hubungan sipil-militer di Korea Utara pada masa Kim Il Sung dan strategi apakah yang digunakan Kim Il Sung dalam mempertahankan kekuasaan militernya yang mampu menguasai sipil?
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian Latar Belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah dalam makalah ini :
1. Bagaimana bentuk hubungan Sipil-Militer yang terjadi pada masa Kim Il Sung Berkuasa di Korea Utara?
1.3. Batasan Masalah
Berdasarkan uraian Latar Belakang dan Rumusan Masalah, maka penulis memberikan Batasan Masalah dalam makalah ini :
1 Barry Buzan and Ole Waever, Regions and Power The Structure of International Security,
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Sejarah dan Teori Hubungan Militer-Sipil
Sejarah hubungan sipil-militer dapat ditinjau secara garis besar dalam tiga waktu, yaitu era sebelum Perang Dingin, era Perang dingin, dan era sesudah Perang Dingin. Perpindahan dari satu era ke era lain tidak hanya menunjukkan perubahan konteks yang menuntut pengembangan dan perubahan karakter hubungan Sipil-Militer, tetapi juga menggambarkan perbedaan ciri hubungan sipil-militer sebagai hasil dari perubahan-perubahan itu.
Pada era sebelum Perang Dingin, hubungan sipil-militer sangat jelas dan tegas mengacu kepada pemisahan tugas dan tanggung jawab militer dari tugas dan tanggung jawab kaum sipil. Tugas dan tanggung jawab militer adalah membela dan mempertahankan eksistensi, dan bahkan perluasan eksistensi negara. Militer berurusan dengan strategi dan perang. Militer tidak berurusan dengan masalah-masalah politik yang menjadi bagian pokok tugas dan tanggung jawab sipil. Hubungan antara militer dan politik dinyatakan oleh Carl Von Clausewitz pada tahun 1832 “Perang bukan sekedar tindakan dari suatu kebiijakan, tetapi alat politik yang sebenarnya, suatu kelanjutan politik dengan cara lain.”2
Pada era Perang Dingin, perkembangan menunjukkan bahwa antara perang dan damai sulit dipisahkan yang mengakibatkan menyatunya urusan-urusan strategi dan politik. Strategi (perang) bukan lagi merupakan kelanjutan dari politik, melainkan instrumen dari politik. Militer tidak lagi memiliki wewenang penuh dalam mengembangkan strategi (perang), untuk menentukan kalah atau
menang. Dalam hal ini, perang dibatasi oleh politik yang mencakup waktu, wilayah, sasaran dan senjata yang digunakan. Dalam batas-batas itu mulai berlaku political ataupun bukan civilian supremacy atas militer.3
Era Pasca-Perang Dingin ditandai dengan berakhirnya konflik dominasi dua ideologi besar dalam persaingan kekuatan antara dua negara adikuasa. Hal ini tidak berarti bahwa dunia kemudian berkembang tanpa konflik dan perang sama sekali. Tetapi konflik dan perang telah beralih dari tataran global ke tataran regional dan lokal. Pada tataran regional, konflik dan ancaman perang antar negara tetap berlangsung. Sementara pada tataran lokal, negara seringkali dihadakan pada persoalan-persoalan kerusuhan dalam negeri atau internal insurgencies, atau lebih dikenal dengan dengan istilah ancaman militer nontradisional, yaitu unconventional atau non-traditional military threat. Musuh yang dihadapi oleh negara adalah kekacauan dan gejolak dalam negeri. Sejalan dengan sejarah hubungan militer diatas, pemikiran atau teori hubungan sipil-militer mengalami suatu perkembangan. Dalam pembahasan makalah ini, penulis akan mengambil beberapa dasar teori yang telah dihasilkan oleh para pemikir dalam teori hubungan sipil-militer.
Ada beberapa sebab yang mendorong militer secara aktif memasuki arena politik dan memainkan peranan politik.4 Pertama, rangkaian sebab yang
menyangkut adanya ketidakstabilan system politik. Hal ini akan menyebabkan terbukanya kesempatan dan peluang yang besar untuk menggunakan kekerasan didalam kehidupan politik. Ketidak stabilan system politik ini termasuk ada tidaknya pola-pola legitimasi yang secara umum diterima dalam masyarakat yang menyangkut jalannya lembaga-lembaga sipil dan pemerintahan.
Kedua, kemampuan golongan militer untuk mempengaruhi atmosfir (keadaan) kehidupan politik. Hal ini biasanya terjadi disaat kepemimpinan sipil mengambil keputusan untuk memperbesar jumlah personil angkatan bersenjatanya atau meningkatkan persenjataan militer karena diperlukan untuk menghadapi
3Lemhanas, Hubungan Sipil-Militer: Peran, Kontribusi dan tanggungjawab Sipil-Militer dalam Penyelenggaraan Negara, Jakarta, PT. Grasindo, 1999, hlm. 6.
musuh dari luar ataupun mengatasi pergolakan didalam negeri. Kapasitas militer dalam mempengaruhi kehidupan politik bergantung pada kecakapan, perlengkapan, dan persenjataan yang dimilik. Ketiga, berkaitan dengan political perspectives kaum militer. Diantara perspektif politik kaum militer adalah yang berhubungan dengan peranan dan status militer didalam masyarakat, dan berkenaan dengan persepsi militer terhadap kepemimpinan sipil dan terhadap system politik secara keseluruhan. Ketiga factor keterlibatan militer dalam politik pada tiap Negara berbeda-beda.
Berdasarkan ketiga factor tersebut, berkuasanya militer dalam pemerintahan di Korea Utara disebabkan oleh ketidak stabilan keadaan politik dan kemampuan golongan militer untuk mempengaruhi atmosfir kehidupan politik. Paska pecahnya perang antara Korea Utara dan Korea Selatan pada tahun 1950, Kim Il Sung semakin mendominasi dan menguatkan posisinya dalam pemerintahan dengan menyingkirkan pesaing-pesaing politiknya. Kim Il Sung semakin berkuasa dengan menguatkan seluruh kekuatan militernya sebagai instrument politik bagi pelaksanaan kehidupan pemerintahannya.
Dalam pandangan S. E. Finer5 terdapat tiga jenis atau bentuk militer. Pertama, keterlibatan militer dalam kehidupan politik sangat diminimalisir sehingga terjadi suatu peningkatan dalam kemampuan strategi pertahanan militer (skill) dan modernisasi peralatan militer. Peningkatan kemampuan dan modernisasi militer merupakan suatu bentuk professional militer. Bentuk Profesional militer ini merupakan suatu control sipil terhadap militer, sehingga keterlibatan militer dalam politik maupun pemerintahan tidak terlalu banyak. Kedua, adanya kekuasaan militer yang mendominasi di dalam kehidupan politik merupakan suatu bentuk Proterian Militer. Timbulnya suatu otoriter militer merupakan sebagai akibat lemahnya kemampuan sipil dalam menjaga kestabilan politik, sehingga militer dengan mudah memasuki (intervensi) dalam pemerintahan. Dalam hal ini, militer memegang secara penuh kendali kehidupan politik. Bentuk Proterian Militer, banyak terjadi di Negara Kawasan Asia
Tenggara, seperti Myanmar pada masa Junta Militer, Indonesia pada masa Soeharto, Korea Utara dll.
Ketiga, Militer revolusioner merupakan suatu bentuk hubungan sipil-militer dimana antara sipil dan sipil-militer memiliki suatu kesamaan tujuan dalam politik. Militer revolusioner biasanya terjadi diawali dengan perubahan secara besar-besaran terhadap bentuk pemerintahan yang monarkhi atau absolut. Militer mendukung terhadapan gerakan perubahan tersebut yang bertujuan untuk membentuk suatu tatanan kehidupan negara yang lebih baik dari sebelumnya. Namun, militer revolusioner dapat menjadi otoriter (protarian) apabila paska perubahan tersebut sipil tidak dapat mengendalikan kehidupan politik negara. Sebagai contoh, militer Revolusioner terjadi pada masa revolusi China yang dilakukan oleh Sun Yat Sen, dimana militer mendukung terhadap gerakan revolusi yang dilakukan oleh Sun Yat Sen terhadap kekuasaan kekaisaran Manchu.
Dalam pandangan Huntington,6 hubungan sipil-militer terbagi dalam dua
jenis kendali sipil atas militer, yaitu pengawasan sipil secara subyektif (subjective civilian control) dan pengawasan sipil secara obyektif (obyektive civilian control). Subjective civilian control menjelaskan pada dasarnya keberhasilan suatu kekuatan dalam masyarakat yang mampu mengontrol militer yang bertujuan untuk memenuhi kepentingan dan tujuan politiknya. Keberhasilan dapat dicapai dengan cara mensipilkan militer (civilianizing the military), yang meniadakan otonomi pada profesi militer dan menjadikan militer hanya sebagai alat bagi penguasa untuk memenuhi kepentingan-kepentingan politik pribadi atau golongannya.
Sedangkan Objective civilian control menjelaskan tentang pengakuan umum atas otonomi profesi militer. Otonomi ini menyebabkan militer menjadi golongan profesional yang hanya menjalankan tugas-tugas negara. Model ini dicapai dengan cara memiliterkan militer dan menjadikan militer sebagai alat negara dan militer tidak berurusan dengan politik. Tetapi politik tidak dapat lepas dari urusan-urusan militer seperti kebijakan tentang keamanan nasional. Objective
civilian control menjelaskan bahwa militer berkewajiban menjalankan tugas-tugas pengamanan negara atas dasar kebijakan-kebijakann yang ditentukan oleh politik.
BAB 3
SEJARAH MILITER KOREA UTARA
3.1. Bentuk Administrasi Korea Utara
Setiap negara di dunia memiliki sistem administrasi negara masing-masing. Menurut Gabriel A. Almond dan Bingham G. Powell, “a system implies the interdependence of parts, and a boundary between it and its environment. By interdependence we mean that when the characteristics of one part in a system change, all the other parts and the system as whole are affected.” Definisi tersebut dipahami bahwa suatu sistem memperlihatkan hubungan antar bagian dan pembatasan antar bagian tersebut dengan lingkungannya. Adapun administrasi negara adalah manajemen dan organisasi daripada manusia dan peralatannya guna mencapai tujuan pemerintah (Dwight Waldo). Administrasi negara sebagai sebuah sistem mengendalikan setiap unsur atau bagian dalam kehidupan suatu bangsa sehingga berlangsung sebagai satu keseluruhan yang bergerak pada pencapaian tujuan nasionalnya. Dengan demikian, sistem administrasi negara adalah keseluruhan daripada perundang-undangan, peraturan, praktek-praktek penyelenggaraan, hubungan-hubungan, kode-kode dan adat-adat kebiasaan yang berlaku pada setiap daerah wewenangnya (jurisdiction) untuk menunaikan dan menegakkan kebijaksanaan negara (Leonard D. White).
bagiannya, dan sikap terhadap peranan warga negara di dalam sistem itu (G. A. Almond dan S. Verba).
Menurut Almond dan Verba, budaya politik memiliki tipe masing-masing. Tipe budaya politik berarti jenis kecenderungan individu di dalam sistem politik. Tipe-tipe budaya politik yang ada adalah:
1. Budaya Politik Parokial, merupakan budaya politik dimana ikatan seorang individu terhadap sebuah sistem politik tidaklah begitu kuat, baik secara kognitif maupun afektif. Di dalam tipe budaya politik ini, tidak ada peran politik yang bersifat khusus. Individu tidak mengharapkan perubahan apapun dari sistem politik. Ini diakibatkan karena individu tidak merasa bahwa mereka adalah bagian dari sebuah bangsa secara keseluruhan.
2. Budaya Politik Subyek, merupakan budaya politik dimana individu merasa bahwa mereka adalah bagian dari warga suatu negara. Individu yang berbudaya politik subyek juga memberi perhatian yang cukup atas politik akan tetapi sifatnya pasif. Mereka kerap mengikuti berita-berita politik tetapi tidak bangga atasnya, dalam arti, secara emosional mereka tidak merasa terlibat dengan negara mereka. Saat membicarakan masalah politik, cenderung ada perasaan tidak nyaman karena mereka tidak mempercayai orang lain begitu saja. Pada sisi lain, saat berhadapan dengan institusi negara mereka merasa lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Budaya politik subyek banyak berlangsung di negara-negara yang kuat (strong government) tetapi bercorak otoritaritarian atau totalitarian.
mendirikan organisasi politik baik untuk memprotes ataupun mendukung pemerintah, hingga pada tingkatan tertentu dapat mempengaruhi jalannya perpolitikan negara.
Di setiap negara, budaya politik memiliki cerminan yang merepresentasikan kehidupan politik negara bersangkutan, khususnya dalam proses penyelenggaraan pemerintahan. Budaya politik setiap negara berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Salah satu negara yang memiliki kekhasan dalam kehidupan politik adalah negara Korea Utara. Korea Utara adalah negara yang terletak di kawasan Asia Timur. Negara dengan sistem pemerintahan Republik Sosialis-Komunis tersebut merupakan negara yang berkarakteristik unik dalam kehidupan perpolitikan bangsanya.
Kehidupan politik di Korea Utara diwarnai dengan doktrin sebuah ideologi yang dinamakan dengan Juche.7 Juche adalah ideologi resmi rezim Korea Utara
dan merupakan teori yang mengadilkan sistem penguasaan tunggal di bawah Kim Il sung (Presiden pertama Korea Utara) hingga Juche dapat dikatakan sebagai pemujaan personal untuk Kim Il-sung. Ideologi ini pertama kali dicetuskan oleh Kim Il-sung pada tanggal 28 Desember 1955. Dalam sidang Partai Buruh Korea ke-5 tahun 1970, Juche diresmikan sebagai ideologi resmi partai di negara komunis. Selanjutnya, ideologi tersebut didukung oleh konstitusi yang mana menurut konstitusi yang direvisi pada tahun 1982, Juche ditetapkan sebagai ideologi nasional resmi Korea Utara. Pada tahun 1974, Juche resmi dinamakan ‘Kim Il-sung-isme’ (atau Kimisme) sebagai sistem ideologi revolusioner yang baru dan unik.
Munculnya ideologi tersebut menjadikan rakyat Korea Utara sangat mendewakan sosok Kim Il-sung yang mana semasa hidup dipercaya oleh rakyatnya menjadi pemimpin tertinggi. Hal ini didukung pula oleh ajaran Juche yang mengungkapkan bahwa untuk mencapai sebuah kesejahteraan maka dibutuhkan suatu kepemimpinan yang mengatur segala aspek kehidupan, agar dalam implementasi kebijakan tidak akan saling berbenturan dan akhirnya akan
membentuk sebuah sinambung. Dengan demikian, rezim Korea Utara telah menciptakan sistem ideologi tunggal, yaitu ideologi Juche yang berarti perwujudan kesatuan politik dan ideologi di masyarakat Korea Utara.
Ideologi Juche yang merupakan ideologi resmi Korea Utara dan menjadi pengaruh besar dalam segi kehidupan politik rakyat Korea Utara secara otomatis menjadi ideologi partai politik yang berkuasa di Korea Utara. Korea Utara adalah negara yang menganut sistem satu partai (monopartai). Partai berkuasa yang memusatkan ideologi menempati posisi teratas dalam struktur kekuatan nasional, dimana secara nyata menguasai kekuatan legislatif, administratif dan yudikatif secara keseluruhan. Partai bukan hanya menguasai tiga lembaga itu, melainkan juga memimpin organisasi sosial dan kehidupan rakyat. Oleh karena itu, Korea Utara dapat dikatakan sebagai negara yang dipimpin partai. Walaupun terdapat lebih dari satu partai, partai tersebut bukan kubu oposisi, tetapi mitra partai yang berkuasa. Partai berkuasa di Korea Utara adalah Partai Buruh Korea.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Korea Utara memiliki sistem pemerintahan terpusat (sentralistik) dimana kekuasaan negara terkonsentrasi pada satu partai yang merupakan penguasa tunggal.8 Kekuasaan di dalam partai
tersebut dimiliki oleh satu orang secara eksklusif, sehingga hal ini mencirikan kediktatoran. Pembagian kekuasaan di Korea Utara dibagi menjadi tiga kekuasaan, yakni: eksekutif sebagai pelaksana undang-undang dipegang oleh perdana menteri; legislatif sebagai pembuat undang-undang dipegang oleh Ketua Majelis Rakyat Tertinggi (MRT); dan yudikatif sebagai pengawas undang-undang yang dipegang oleh para hakim agung yang dipilih oleh MRT. Dengan demikian, jelas bahwa pemerintah/negara memiliki kekuatan yang besar dibandingkan rakyatnya.
3.2. Sistem & Kebijakan Militer Kim Il Sung
Sistem dan kebijakan Militer yang dimiliki Kim Il Sung tidak lepas dari pengaruh pendidikan yang pernah dijalaninya di China Hwasong Uisuk. Hwasong Uisok adalah sekolah dua tahun militer dan politik milik Jongui-bu. Sekolah ini
didirikan pada awal 1925 dengan tujuan untuk pelatihan kader untuk Angkatan Darat Kemerdekaan. Kim Il Sung masuk ke Sekolah Uisuk Hwasong sesuai dengannya ide untuk memenangkan kemerdekaan negara melalui perjuangan bersenjata.
Korea Utara mulai meningkatkan kekuatan militernya pada tahun 1960-an. Doktrin dan struktur kekuatan militer Korea Utara saat itu berorientasi ofensif.9
Secara keseluruhan, pada tahun 1960-an, Korea Utara berusaha memproduksi ataupun memperoleh roket, rudal, dan pengembangan sumber daya manusia guna mendukung program rudalnya. Ada beberapa alasan politis dan keamanan yang mendorong Korea Utara pada masa ini untuk mengembangkan kapabilitas rudal dan nuklirnya. Dari segi eksternal, alasan keamanan pertama adalah intervensi AS pada Perang Korea menghalangi tujuan Kim Il Sung dalam menyatukan Korea melalui kekuatan militer. Kim Il Sung beranggapan bahwa nuklir merupakan senjata yang dapat menangkal atau mengalahkan pasukan AS dalam situasi konflik. Kedua, aliansi Korea Utara dengan Uni Soviet dan Cina yang sering mengalami pasang surut membuat Kim Il Sung mempertanyakan kredibilitas komitmen Moscow serta Beijing untuk membantu Korea Utara menghadapi perang lainnya.10
Alasan keamanan lainnya dari segi internal dikarenakan Korea Utara memiliki ideologi yang disebut juche. Juche pertama kali diperkenalkan oleh Kim Il Sung pada tahun 1950-an sebagai ideologi resmi negara yang kemudian menonjol pada tahun 1960-an. Juche diartikan sebagai kepercayaan diri yang lebih luas lagi dipahami sebagai sikap mandiri dalam memenuhi kebutuhan sendiri tanpa tergantung negara lain. Juche merupakan inti dari kontrol politik yang dimiliki Kim Il Sung. Perang Korea memberikan kesempatan baik bagi Korea Utara untuk memperdalam militerisasi dan ideologi juche karena militer merupakan tulang punggung rezim Kim Il Sung.
9Byung-joon Ahn, “Semenanjung Korea dan Keamanan Asia Timur,” Masalah Keamanan Asia,
(CSIS, 1990), hlm. 159.
Sepanjang tahun 1950-an miiliter Uni Soviet telah membantu Korea Utara meningkatkan military-industrial-complex yang pada masa itu telah mencapai 300.000 pasukan.11 Selain ideologi juche tersebut, Korea Utara juga memiliki
Empat Garis Besar Militer guna mendukung rezim pemerintahan Kim Il Sung maupun pertahanan negara. Empat Garis Besar Militer Korea Utara yang dikeluarkan oleh Kim Il Sung:12
1. Mempersenjatai semua warga negara. 2. Memperkuat seluruh negeri,
3. Melatih semua anggota angkatan darat menjadi “cadre army” (kader tentara)
4. Melakukan modernisasi semua angkatan darat, doktrin, dan taktik di bawah prinsip kepercayaan diri terhadap pertahanan nasional.
Tiga ciri khas utama untuk memahami rejim Korea Utara adalah: Politik dikuasai oleh satu partai, kekuasaan tunggal, dan kekuasaan yang diwariskan. Korea Utara dijalankan oleh Kim Il Sung dengan prinsip berdikari, berusaha hidup tanpa bantuan negara lain walaupun kenyataan di lapangan lebih pahit karena pertumbuhan ekonomi yang lemah, sementara lahan pertanian sangat terbatas. Akibatnya Korea Utara banyak terbantu oleh bantuan dari negara Uni Soviet. Akan tetapi Uni Soviet runtuh di tahun awal 90 an, membuat Korea Utara harus bekerja ekstra keras, di antaranya dengan kamp-kamp pekerja yang tak manusiawi. Runtuhnya Uni Soviet yang juga memberi perlindungan selama ini, membuat Korea Utara mencari alternatif untuk mempertahankan dirinya, di antaranya melirik teknologi rudal dan senjata nuklir. Peningkatan kekuatan militer dan senjata bahkan harus membayar mahal kesejahteraan rakyatnya.
Melalui perjuangan ini, Kim Il Sung yakin dari sebelumnya bahwa kekuatan massa yang tidak habis-habisnya dan bahwa mereka akan menampilkan kekuatan tak terkalahkan jika mereka diorganisir dan dimobilisasi dengan benar. Program penguatan militer Korea Utara dianggap banyak pihak mengorbankan
11Etel Solingen, Nuclear Logics: Contrasting Paths in East Asia and the Middle East, (Princeton: Princeton University Press, 2007), hlm . 126.
kepentingan peningkatan kesejahteraan rakyatnya yang dilansir banyak hidup susah. Selain sumber daya yang terbatas, Korea Utara juga terkena embargo dunia internasional di berbagai bidang menyangkut kebijakan program senjata nuklirnya. Untuk menunjang kekuatan militer konvensional yang lemah, maka Korea Utara berusaha untuk mengembangkan nuklir. Program nuklir yang dilakukan Korea Utara memiliki tujuan:13
1. Meningkatkan kekuatan untuk mencapai posisi setara dengan Korea Selatan.
2. Menambah kewibawaan dan pengaruh Korea Utara dalam hubungan antar negara di dunia.
3. Digunakan sebagai sarana pemerasan agar mendapatkan keuntungan dari Korea Selatan.
4. Sebagai strategi penyeimbang terhadap persenjataan Korea Selatan.
Tahun 1965 ditandai dengan pendirian Akademi Militer Hamhung, dimana para tentara Korea Utara menerima pelatihan pengembangan rudal.14 Uni Soviet
pada tahun ini juga mulai menyediakan bantuan secara meluas kepada Korea Utara dalam membangun pusat penelitian di Yongbyon. Fasilitas nuklir yang dikembangkan pertama kali oleh Korea Utara ini adalah reaktor nuklir model Uni Soviet yang dioperasikan untuk tujuan penelitian di Yongbyon, Korea Utara. Di tempat ini Uni Soviet membantu Korea Utara untuk menjalankan reaktor nuklir berdaya 5MW. Reaktor ini sangat kecil sehingga tidak menjadi perhatian negara-negara sekitar karena membutuhkan waktu bertahun-tahun bagi reaktor tersebut untuk memproduksi plutonium yang cukup dan menjadi sebuah bom nuklir.
Fasilitas nuklir ini juga dilaksanakan secara independen dan terfokus pada lingkaran bahan bakar nuklir (penyulingan bahan bakar nuklir dan perubahan). Dengan adanya fasilitas nuklir di Yongbyon, Korea Utara memperoleh plutonium dan mulai menguasai teknologi nuklir yang mendorong Kim Il Sung memutuskan untuk membangun senjata nuklir. Bagi Korea Utara, senjata nuklir akan membuat
13 Alexander Y. Mansourouv, “The Origins, Evolution and Future of The North Korean Nuclear Program”, dalam Korea and World Affairs, Vol. XIX No. 1, Spring 1995, hlm. 50.
Korea Utara lebih kuat dari Korea Selatan. Selain itu senjata nuklir dapat menangkal serangan AS dan memperkecil ketergantungan Korea Utara terhadap Uni Soviet dan Cina. Senjata nuklir juga memberikan jaminan keamanan bagi Korea Utara yang selama ini tidak ditawarkan oleh negara manapun dalam komunitas internasional. Lebih jauh lagi, dikarenakan Korea Utara menghadapi situasi keamanan yang lemah terutama sepanjang Perang Korea, pengembangan senjata nuklir menjadi sumber keamanan rezim bagi Kim Il Sung dan pemimpin-pemimpin berikutnya.15
15 Jessica Kuhn, ”Global Security Issues in North Korea,” Multilateralism in Northeast Asia,
BAB 4
KESIMPULAN
Dalam sistem pemerintahan Korea Utara, partai memimpin negara, dan ketuanya memimpin partai. Itulah prinsip dasar pelaksanaan sistem rezim Korea Utara secara keseluruhan. Bagi rakyat Korea Utara pemimpin adalah lambang perwujudan tekad dan keinginan partai, serta merupakan pusat kekuatan untuk mengorganisir dan memimpin kegiatan sosiopolitik secara terpadu dan secara utuh. Peranan dan kekuatan pemimpin ditempatkan pada posisi teratas dan posisi yang tidak bisa ditantang. Budaya politik di negara Korea Utara dapat dikategorikan sebagai budaya politik subyek, yang mana orientasi warga negara bersifat pasif dalam kaitannya dengan kehidupan negara. Rakyat Korea Utara hanya menyadari sebagai warga negara yang taat dan patuh terhadap negara yang menerima segala bentuk kebijakan dan keinginan pemerintah. Tidak ada ruang bagi publik untuk bersuara memperjuangkan hak-haknya karena tidak dapat melakukan aktivitas politik dengan bebas, apalagi untuk turut campur tangan dalam aktivitas pemerintahan.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Ahn, Byung-joon, “Semenanjung Korea dan Keamanan Asia Timur,” Masalah Keamanan Asia, (CSIS, 1990).
Buzan, Barry and Ole Waever, Regions and Power The Structure of International Security, (Cambridge: Cambridge University Press, 2003).
Finer, Samuel E., The Man On Horseback: The Role of Military in Politics, Transaction Publisher: New Jersey, 2006.
Huntington, Samuel P., The Soldier and The State, Theory and Politicz of Civil Military Relations, Cambridge: London, Harvard University Press, 1981. Kuhn, Jessica, ”Global Security Issues in North Korea,” Multilateralism in
Northeast Asia, (Task Force, 2010).
Lemhanas, Hubungan Militer: Peran, Kontribusi dan tanggungjawab Sipil-Militer dalam Penyelenggaraan Negara, Jakarta, PT. Grasindo, 1999. Lovell, John P. & C.I. Eugene Kim, The Military and Political Change in Asia,
Pacific Affairs, Spring-Summer, 1967.
Muhaimin, Yahya A., Perkembangan Militer dalam Politik di Indonesia 1945-1966, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2002.
Solingen, Etel, Nuclear Logics: Contrasting Paths in East Asia and the Middle East, (Princeton: Princeton University Press, 2007).
Von, Carl Clausewitz, On War, Edited and Translated by Michael Howard and Paret, Princeton University Press, New Jersey, 1976.
JURNAL
Bermudez, Joseph S., Jr., “A History of Ballistic Missile Development in the DPRK,” Occasional Paper No. 2, (Center for Nonproliferation Studies, 1999).
WEB
http://world.kbs.co.kr/indonesian/event/nkorea_nuclear/general_04b.htm http://world.kbs.co.kr/indonesian/event/nkorea_nuclear/general_03a.htm “Missile Overview,” http://www.nti.org/e_research/profiles/NK/Missile