• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ijtihad dan Penerapannya dalam Ekonomi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ijtihad dan Penerapannya dalam Ekonomi "

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Ijtihad dan Penerapannya dalam Ekonomi

Keuangan

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Mata Kuliah : Ushul Fiqih Keuangan

DISUSUN O L E H

Kelompok 5

SEMESTER 1 Perbankan Syariah 1. Al Hafiz Fuazan 2. Fariz Arkhan 3. Nova Armaya 4. Syahrian

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM

JAM’IYAH MAHMUDIYAH

(2)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah Ushul Piqih Keuangan yang berjudul “Ijtihad dan Penerapannya dalam Ekonomi Keuangan “

Dalam penyelesaian makalah ini penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari beberapa pihak, untuk itu melalui kata pengantar ini penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini. Dan tidak pula penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah Ushul Piqih Keuangan. Sebagai bantuan dan dorongan serta bimbingan yang telah diberikan kepada penulis dapat diterima dan menjadi amal sholeh dan diterima Allah sebagai sebuah kebaikan. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan semua pembaca pada umumnya.

Tanjung Pura Oktober 2017

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...1

C. Tujuan Penulisan...1

BAB II PEMBAHASAN...2

A. Pengertian Ijtihad Perkembangan Ijtihad...2

B. Syarat-syarat mujtahid dan Kualifikasi mujtahid...6

C. Peranan Ijtihad dalam Ekonomi Islam Kontemporer...8

BAB III PENUTUP...14

A. Kesimpulan...14

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ijtihad merupakan upaya untuk menggali suatu hukum yang sudah ada pada zaman Rasulullah SAW. Hingga dalam perkembangannya, ijtihad dilakukan oleh para sahabat, tabi’in serta masa-masa selanjutnya hingga sekarang ini. Meskipun pada periode tertentu apa yang kita kenal dengan masa taqlid, ijtihad tidak diperbolehkan, tetapi pada masa periode tertentu pula (kebangkitan atau pembaharuan), ijtihad mulai dibuka kembali. Karena tidak bisa dipungkiri, ijtihad adalah suatu keharusan, untuk menanggapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks problematikanya.

Sekarang, banyak ditemui perbedaan-perbedaan madzab dalam hukum Islam yang itu disebabkan dari ijtihad. Misalnya bisa dipetakan Islam kontemporer seperti Islam liberal, fundamental, ekstrimis, moderat, dan lain sebagainya. Semuanya itu tidak lepas dari hasil ijtihad dan sudah tentu masing-masing mujtahid berupaya untuk menemukan hukum yang terbaik. Justru dengan ijtihad, Islam menjadi luwes, dinamis, fleksibel, cocok dalam segala lapis waktu, tempat dan kondisi. Dengan ijtihad pula, syariat Islam menjadi “tidak bisu” dalam menghadapi problematika kehidupan yang semakin kompleks.

B. Rumusan Masalah

1. Apa itu Ijtihad dan bagaimana Perkembangan Ijtihad ?

2. Bagaimana Syarat-syarat mujtahid dan Kualifikasi mujtahid ?

(5)

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui Ijtihad dan Perkembangan Ijtihad

2. Mengetahui Syarat-syarat mujtahid dan Kualifikasi mujtahid

3. Mengetahui Peranan Ijtihad dalam Ekonomi Islam Kontemporer

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Ijtihad Perkembangan Ijtihad

a.

Pengertian Ijtihad

Secara etimologi, ijtihad diambil dari kata al-jahd atau al-juhd, yang berarti al-masyaqat (kesulitan dan kesusahan) dan ath-thaqat (kesanggupan dan kemampuan). Dengan kata lain, Ijtihad secara etimologi adalah pencurahan segenap kesanggupan untuk mendapatkan sesuatu urusan atau sesuatu perbuatan. Dalam Al-Qur’an disebutkan:1

(6)

… م

م ههددهمجه للإإ ن

د ُودهج

إ يد لد ن

د يذإللَاُود …

Artinya:

“Dan (mencela) orang yang tidak memperoleh (sesuatu untuk disedekahkan) selain kesanggupan.” Q.S. At-Taubah:79)

Kata al-jahd bbeserta seluruh derivasinya menunjukkan pekerjaan yang dilakukan lebih dari biasa dan sulit untuk dilaksanakan atau disenangi.

Dalam pengertian inilah, Nabi mengungkapkan kata-kata:

ءءَاعع دد لا ِىفء وو اددهءتعجووع يي لععع اوولدصع

Artinya:

Bacalah salawat padaku dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa.”

ءءَاعع دد لا ِىفء اووددهءتعجوَافع ددووجدسد لاَاميأع وع

Artinya:

Pada waktu sujud, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa.”

Demikian pula pada jihad (perang) yang derivasinya sama dengan ijtihad mengandung arti sungguh-sungguh dan tidak disenangi.

(7)

lebih kuat dan sungguh-sungguh”. Oleh sebab itu, ijtihad berarti usaha keras atau pengerahan daya upaya (istifragh al-wus’ atau badzl al-wus’). Dengan demikian, ijtihad berarti usaha maksimal untuk mendapatkan atau memperoleh sesuatu. Sebaliknya, suatu usaha yang dilakukan tidak maksimal dan tidak menggunakan daya upaya yang keras tidak disebut ijtihad, melainkan daya nalar biasa, ar-ra’y atau at-tafkir.

b. Perkembangan Ijtihad

1. Ijtihad Fiqih pada Masa Nabi SAW

Umat Islam pada masa rasul tidak melakukan ijtihad bila menghadapi suatu masalah yang baru, mereka medatangi Nabi untuk bertanya. Mereka bertanya, lalu Nabi menjawab dengan petunjuk wahyu yang diturunkan kepadanya, atau dengan pet unjuk Ijtihadnya yang mendapat kebenaran dari wahyu. Mereka hanya mempwegunakan ijtihad bila mereka tak dapat bertanya. Ijtihad itu mereka sampaikan kepada Nabi, lalu Nabi memberikan putusannya.

Sesudah Nabi wafat, para ulama mulai melakukan Ijtihad, karena dirasa sangat perlu. Mereka mulai memutar otak (nadhar) memikirkan soal-soalyang terjadi karena wahyu telah putus. Memang mereka memerlukan ijtihad karena Al Quran sebagai Undang-undang dasar yang kulli hanya menetapkan pokok-pokok undang-undang yang umum (qawaaid kulliyah) yang dapat dipersesuaikan dengan segala masa dan tempat, yang semuanya itu bertujuan menyelamatkan manusia baik dunia ataupun di akhirat.2

2. Periode-periode Ijtihad sesudah Nabi SAW

(8)

Dengan meneliti perjalanan sejarah Islam, terutama sejarah tasyri’nya, kita dapat menetapkan, bahwa Ijtihad sesudah Nabi wafat adalah memlalui tiga periode:

a) Periode sahabat bsar, periode Khulafaur Rasyidin

b) Periode sahabat kecil, pemuka tabi’in di Masa bani Umayyah

c) Periode tabiin dan Imam Mujtahiddin di permulaan masa bani abbas

3. Ijtihad dan Fiqih di Masa Khulafaur Rasidin

Para sahabat besar, sepeninggal Rasul mengahadapi berbagai permasahalan baru. Maka mereka melakukan istinbat terhadap permasalahan tersebut, namun tidak menetapkan masalah-masalah yang belum terjadi dan tidak member jawaban (fatwa) terhadap yang belum timbul.

Bila terjadi satu masalah, barulah mereka melakukan Ijtihad. Mereka berpegang dalam urusan tersebut, kepada:

1) Al Quran, merupakan sendi Islam, yang telah mereka pahami dengan sempurna karena Al Quran itu diturunkan dalam bahasa merka disamping itu mereka pun dapat menyaksikan sebab-sebab turunnya.

2) Sunatur Rasul, mereka telah bermufakat mengikuti sunnah yang mereka

(9)

seksama, beliau lalu bertanya kepada sahabat. Jika ada seseorang sahabat yang memberitahukan tentang putusan nabi, beliaupun berpegang kepadanya.3

Umar juga menuruti jejak itu. Apabila Umar tidak mendapatkan hokum dalam Al Quran dan Al Hadits, beliau bertanya tentang penetapan yang dilakukan oelh Abu Bakar dan beliau mengamalkannya jika penetapan Abu bakar itu tidak beliau temukan dalam sumber lain

Utsman dan Ali bersikap demikian pula. Mereka sangat berhati-hati menerima riwayat. Diantaranya ada yang menerima riwayat sesudah perawi disumpah dan ada yang meminta saksi.

Adapun cara Ijtihad yang mereka terapkan adalah, sebagai berikut:

a) Mengeluarkan hokum dengan dasar ra’yu perseorangan (Ijtihad Fardi)

b) Menetapkan hokum dengan cara mengadakan ijma’ (Ijtihad Jama’i)

Apabila timbul soal-soal yang tidak ada nash nya di dalam Al Quran dan Al hadits,para sahabat itu menjalankan ra’yu atau mempergunakan pikiran dan daya akal, yakni “mendasarkan, hokum pada kemaslahatan dengan bersendikan kaidah-kaidah umum.”

Apabila tidak mendapat hokum dalam Kitab dan Sunnanh, abu Bakar mengumpulkan para ulama di kalangan sahabat dan merembukkan permasalahan itu. Kemudian bila para ulama itu bermufakat menetapkan suatu pendapat, Abu Bakar pun menghukumi masalah itu menurut pendapat yang disepakati. Pendapat yang diambil dengan perembukan harus diikuti oleh rakyat. Mengeluarkan pendapat (menetapkan hukum) dengan jalan berkumpul itu dinamakan ijma’.

(10)

Pada masa tersebut, jumlah mereka yang dikumpulkan untuk berunding, masih sedikit. Tegasnya, melakukan ijma’ (menyatukan pendapat) sebagaimana yang dikehendaki ulama ushul masih dapat dijalankan dengan mudah, yang sesuai dengan kehendak ahli politik.

Sikap Abu Bakar itu tidak ubahnya seperti yang dilakukan oleh kepala Negara pada saat inin, yaitu memerintahkan badan eksekutif dan legislatif bersidang untuk menetapkan undang-undang yang harus dipatuhi oleh Negara dan masyarakat. Penetapan badan-badan itu yang diambil dengan suara bulat dinamai ijma’. menentukan hokum untuk masalah yang belum terjadi. Karena itu, pemakaian qiyas kurang terjadi dalam masaini. Bahkan sebagaian mereka mencela pemakaian qiyas (dengan tdak memakai batas) dalam urusan menetapkan hokum. Dan perlu ditegaskan bahwa hokum-hukum yang mereka tetapkan secara pribadi dengan kekuatan Ijtihad mereka masing-masing, tidak harus dituruti oleh rakyat.4

Abu Bakar apabila berijtihad mengatakan, “Ini pendapatku. Jika benar maka dia dari Allah. “Umar apabila berijtihad mengatakan, “Inilah pendapat Umar. Jika benar maka dia dari Allah. Jika salah, maka dia dari Umar sendiri. Sunah itu, hanyalah yang di sunahkan Allah dan Rasul Nya; jangan kamu menjadikan pikiran yang salah, sunah bagi rakyat.”

(11)

Adapun para ulama setelah masa sahabat menetapkan pokok-pokok dengan memperhatikan sikap-sikap para sahabat dalam menetapkan hokum bahwa “pokok-pokok pegangan” dalam menetapkan hokum dan menciptakan hokum fiqih ada empat perkara.

1) Kitabullah

2) Sunatur Rasul

3) Al Ijtihad (Ar Ra’yu) ; menetapkan suatu hokum berdasarkan kemaslahatan dan berdasarkan kaidah syara’ yang umum dan illat-illat hokum.

4) Al Ijma ; menetapkan hokum dengan dimusyawarahkan bersama-sama, baik penetapan itu berdasarkan kaidah pada keterangan Kitab, ataupun keterangan Sunah, maupun ketetapan Ra’yu, Al Ijma adalah cara membuahkan hokum yang di istinbatkan dari Al Quran dan As Sunah, secara tersendiri dan secara bersama.5

B. Syarat-syarat mujtahid dan Kualifikasi mujtahid

a. Syarat-syarat mujtahid

Berbicaratentang syarat-syarat ijtihad tidak lain dari berbicara tentang syarat-syarat mujtahid. Demikian pula sebaliknya, yaitu berbicara syarat-syarat mujtahid tidak lain berbicara

ilmu syara’, mampu melihat yang dzon didalam hal-hal yang syar’i, tentang syarat-syarat ijtihad.

Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Mustasyfa [5](II/102) menyatakan mujtahid mempunyai dua syarat :

(12)

1. Mengetahui dan menguasai mendahulukan apa yang wajib didahulikan dan membelakangkan apa yang mesti dikemudiankan.

2. Ia hendaknya sorang yang adil. Menjauhi segala ma’siyat membuat cemarkan sifat dan sikap keadilan (‘adalah). Ini yang penting karena syarat ini menjadi landasan apakah fatwanya dapat dijadikan pegangan atau tidak. Orang yang tidak mempunyai sifat yang demikian , fatwanya tidak boleh dijadikan pegangan. Adapun sifat yang tidak adil untuk dirinya sendiri, artinya fatwa atau ijtihadnya itu untuk dirinya sendiri, sifat tidak adil itu tidaklah menjadi halangan. Artinya didalam ia bersifat tidak adil itu boleh saja boleh saja berijtihad untuk dirinya sendiri, dan fatwanya menjadi pegangan untuk dirinya sendiri.

adapun syarat lebih rincinya pendapat ulama ushul terhadap orang yang mengemukakan ijtihad adalah sebagai berikut:

a. Mempunyai pengetahuan yang luas tentang al-Qur’an serta memahaminya mencakup ilmu yang berkaitan denganya, seperti nasikh mansukh, asbabu al-Nuzul mujmaldan mubayyan, muthlaq muqayyad, mantuq dan mafhum lafadz ‘amm khas.

b. Hafal al-Qur’an seluruhnya (Imam syafi’i )

c. Mempunyai pengetahuan Sunnah Nabi meliputi al-Jarh wata’dil, asbabulwurud al-Hadist, ilmu hadist dirayah wa riwayah dan ilmu lain yang berhubungan dengan hadist.

(13)

e. Mengetahui bahasa Arab dengan baik dan sempurna, paham ilmu nahwu dan lainya.

f. Mengetahui Ushul fiqh

g. Mengetahui maqashid as-Syari’ah

h. Iman, cerdas dan lainya6

b. Kualifikasi mujtahid

Tanpa memenuhi syarat, seseorang tidak dapat dikategorikan sebagai mujtahid yang berhak melakukan ijtihad. Dikalangan ulama yang melakukan ijtihad ada beberapa tingkatan. Dan tingkatan ini tergantung pada aktivitas yang dilakukan mujtahid itu sendiri. Tingkatan-tingkatan dikalangan mujtahid itu sebagai berikut:

1. Mujtahid muthlaq mustaqil ( mujtahid Independen), yaitu mujtahid yang membangun teori dan istinbath sendiri tanpa bersandar kepada kaidah istinbat pihak lain. Yang termasuk dalam jajaran ini adalah Imam 4 Madzhab, laist ibn sa’ad. Al-‘auza’I, sufyan al-Sauri , Abu Saur dan lainya

2. Mujtahid Muntasib ( Mujtahid Berafiliasi ) yaitu para ulama yang berijtihad dengan menggunakan kaidah Imam madzhab yang diikutinya. Tapi, dalam masalah furu’ biasanya ia berbeda dengan ulama madzhab yang diikutinya. Diantaranya adalah Abu Yusuf, Hanafiyyah, malikiyyah, syafi’iyyah, ibnu taimiyah dan lainya.

3. Mujtahid fi al-Madzhab ialah mujtahid yang mengikuti ulama madzhabnya baik dalam kaidah istimbat dan furu’

(14)

4. Mujtahid Murajjih ialah mujtahid yang tidak mengistimbatkan hukum furu’. Mereka sebatas membandingkan pemikiran hukun mujtahid sebelumnya, kemudian memilih yang dianggap (rajjih) paling kuat.

C. Peranan Ijtihad dalam Ekonomi Islam Kontemporer

Di Indonesia tidak bisa dipungkiri bahwa kontribusi Islam (Syariah) dan pemikiran umat Islam sangat besar terhadap kelangsungan dan perkembangan pemikiran hukum khususnya dalam ekonomi yang membahas tentang aktualisasi atau reaktualisasi hukum Islam dalam bidang Muamalah, di Indonesia masih terus digemborkan dan masih sangat relevan untuk dibicarakan dan diskusikan bagi setiap orang baik dari kalangan muslim bahkan non muslim, apalagi jika dikaitkan dengan hukum bisnis Islam atau hukum ekonomi Islam pembahasan ini sangat menarik dan mendapatkan tempat di hati pemikir-pemikir ekonomi, karena dibidang ini sangat diperlukan adanya pembaharuan dan usaha reaktualisasi.

Perlunya penemuan-penemuan baru tersebut, karena akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, berakibat pula menggeser cara pandang dan membentuk pola alur berfikir yang membawa konsekuensi logis dan membentuk norma baru dalam kehidupan masyarakat. Maka tidak semestinya kemajuan IPTEK dan peradaban manusia itu dihadapkan secara konfrontatif dengan nash saja, akan tetapi harus dicari pemecahannya secara ijtihadi. Dalam banyak hal pada aktivitas ekonomi, Islam memberikan skala normatifnya secara global.7

Secara substansial, hukum Islam (Syariah) adalah bagian dari hukum positif Indonesia yang bersumber dari Al-Quran, Al-Sunnah, dan Al-Ijtihad, terutama yang mengatur tentang Al-Aqdu sebagai dasar timbulnya hak dan kewajiban pihak-pihak dalam perjanjian (transaksi) Islam. Perjanjian/perikatan Islam dan kegiatan bisnis Islam selalu berdasarkan prinsip-prinsip Islam (syariah) yang harus bebas dari unsur ketidakjelasan (gharar), perjudian (maisir), bunga (riba), dan penzaliman terhadap hak-hak orang lain. Tetapi secara formal dari segi bentuk usaha (badan usaha) dalam kegiatan bisnis Islam bersumber dari hukum

(15)

perundang-undangan. Oleh karena itu, kedudukan hukum Islam (syariah) secara yuridis adalah kuat dan legal dalam sistem hukum Indonesia, dan secara bisnis operasional memperoleh dukungan kuat dari masyarakat karena di dasarkan pada akad yang benar, adil, jujur, transparan, bebas dari ketidakjelasan (gharar) , perjudian (maisir), bunga (riba), dan jauh dari penzaliman.

Sehubungan dengan itu, dapat kita lihat berbagai jenis transaksi telah muncul dan berkembang keseluruh penjuru dunia, terutama di Indonesia. Banyak jenis transaksi baru yang di tawarkan yang juga menjanjikan keuntungan yang berlipat ganda, di samping itu terdapat pula ketentuan-ketentuan hukum yang dikeluarkan oleh otoritas pemerintah untuk menertibkan kegiatan-kegiatan bisnis modern tersebut secara konvensional. Di sisi lain, untuk melindungi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, perlu dikaji kejelasan hukum dari transaksi tersebut dipandang dari segi hukum Islam (syariah).8

Adapun Ijtihad sebagai sumber hukum Islam ketiga memberi peluang untuk berkembangnya pemikiran umat Islam dalam menghadapi segala permasalahan di era globalisasi ini. Jika kita lihat kataIjtihadini berasal dari bahasa arab artinya, Aljuhdu ialah bersungguh sungguh. Menurut para ulama di Istilahkan, ialah bersungguh-sungguh memeriksa, menggali dan memahami secara mendalam akan keterangan dari Al-Quran dan Al-Hadits, hingga jika di temui pertanyaan yang sulit-sulit dan suatu kejadian-kejadian yang luar biasa, bisa didapatkan hukumnya dari Al-Quran dan Al-Hadits atas jalan pemahaman dengan susah payah atau jalan Qiyas. Orang yang berusaha semacam itu tersebut juga dengan Mujtahid.

Fungsi Ijtihad itu sendiri ialah sebagai solusi hukum jika ada suatu permasalahan yang harus diterapkan hukumnya, tetapi tidak dijumpai dalam Al-Quran maupun Al-Hadits. Maka jika dilihat dari fungsi Ijtihad tersebut, untuk mendapatkan kedudukan dan legalitas dalam Islam (Syariah). Meskipun demikian, Ijtihad tidak bisa dilakukan oleh setiap orang, tetapi hanya orang yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang boleh berijtihad.

(16)

Sebagai kesimpulanialah bahwa Ijtihad itu bersungguh sungguh memeriksa dan dan menggali serta memahami dalam-dalam akan keterangan dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, hingga buat pertanyaan yang sulit-sulit dan buat kejadian-kejadian yang luar biasa itu, bisa mereka dapatkan hukumnya dari Al-Qur’an dan Al-Hadits atas jalan faham dengan susah payah atau jalan Qiyas. Orang berusaha seperti itu dinamakan Mujtahid.Imam Syafi’i mengatakan bahwa seorang mujtahid tidak boleh mengtakan “tidak tahu” dalam suatu permasalahan sebelum ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti, menelaah, menggali dan tidak boleh mengatakan “aku tahu” seraya menyebutkan hukum yang diketahui itu sebelum ia mencurahkan kemampuan dan mendapatkan hukum itu.

Sedangkan aplikasi Ijtihad itu dapat di terapkan pada empat cara dalam bentuk transaksi yaitu;

1. Lisan. Para pihak mengungkapkan kehendaknya dalam bentuk perkataan secara jelas.

2. Tulisan. Adakalanya, suatu perikataan (transaksi) dilakukan secara tertulis. Hal ini dapat dilakukan oleh para pihak yang tidak dapat bertemu langsung dalam melakukan transaksi, atau untuk transaksi-transaksi yang sifatnya lebih sulit, seperti yang dilakukan oleh badan hukum.

3. Isyarat. Suatu transaksi tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang normal, orang yang cacat pun dapat melakukan transaksi (Al-Aqdu). Apabila cacatnya adalah tuna wicara maka dimungkinkan akadnya dengan isyarat, asalkan terdapat sepemahaman dalam transaksi tersebut.

(17)

saling memahami perbuatan transaksi tersebut dengan segala akibat hukumnya. Hal ini sering terjadi di supermarket yang tidak ada proses tawar menawar. Pihak pembeli telah mengetahui harga barang yang secara tertulis dicantumkan pada barang tersebut. Pada saat pembeli datang ke meja kasir menunjukkan bahwa di antara mereka akan melakukan transaksi jual-beli.9

a. Inovasi Produk Perbankan Syariah di Indonesia

Dengan menyediakan beragam produk serta layanan jasa perbankan yang beragam dengan skema keuangan yang lebih bervariatif, perbankan syariah menjadi alternatif sistem perbankan yang kredibel dan dapat dinimati oleh seluruh golongan masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.

Dalam konteks pengelolaan perekonomian makro, meluasnya penggunaan berbagai produk dan instrumen keuangan syariah akan dapat merekatkan hubungan antara sektor keuangan dengan sektor riil serta menciptakan

harmonisasi di antara kedua sektor tersebut. Semakin meluasnya penggunaan produk dan instrumen syariah disamping akan mendukung kegiatan keuangan dan bisnis masyarakat juga akan mengurangi transaksi-transaksi yang bersifat spekulatif, sehingga mendukung stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan, yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian kestabilan harga jangka menengah-panjang. Maka jelaslah bahwa urgensitas lembaga perbankan syariah di Indonesia ini setidaknya mencakup empat hal, yaitu;

sebagai alternatif jasa keuangan, transaksi non spekulatif, reattachment, dan fungsi social.

b. Program Pengembangan Perbankan Syariah

(18)

Berbagai program konkrit dilakukan sebagai tahap implementasi dari grand strategy pengembangan pasar keuangan perbankan syariah, antara lain adalah sebagai berikut:

Pertama, menerapkan visi baru pengembangan perbankan syariah pada fase I tahun 2008 membangun pemahaman perbankan syariah sebagai Beyond Banking, dengan pencapaian target asset sebesar Rp.50 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 40%, fase II tahun 2009 menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah paling atraktif di ASEAN, dengan pencapaian target asset sebesar Rp.87 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 75%. Fase III tahun 2010

1 Bank Indonesia, Laporan Pengembangan Perbankan Syariah 2010, Jakarta:10

Direktorat Perbankan Syariah, 2011.hal 32.Fahrur UlumAl-Qānūn, Vol. 17, No. 1, Juni 2014/ menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah terkemuka di ASEAN, dengan pencapaian target asset sebesar Rp.124 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 81%.

Kedua, program pencitraan baru perbankan syariah yang meliputi aspek positioning, differentiation, dan branding. Positioning baru bank syariah sebagai perbankan yang salin. menguntungkan kedua belah pihak, aspek diferensiasi dengan keunggulan kompetitif dengan produk dan skema yang

beragam, transparans, kompeten dalam keuangan dan beretika, teknologi informasi yang selalu up-date dan user friendly, serta adanya ahli investasi keuangan syariah yang memadai. Sedangkan pada aspek branding adalah “bank syariah lebih dari sekedar bank atau beyond banking”.

Ketiga, program pemetaan baru secara lebih akurat terhadap potensi pasar perbankan syariah yang secara umum mengarahkan pelayanan jasa bank syariah

(19)

sebagai layanan universal atau bank bagi semua lapisan masyarakat dan semua segmen sesuai dengan strategi masing-masing bank syariah.

Keempat, program pengembangan produk yang diarahkan kepada variasi produk yang beragam yang didukung oleh keunikan value yang ditawarkan (saling menguntungkan) dan dukungan jaringan kantor yang luas dan penggunaan standar nama produk yang mudah dipahami.11

Kelima, program peningkatan kualitas layanan yang didukung oleh SDM yang kompeten dan penyediaan teknologi informasi yang mampu memenuhi kebutuhan dan kepuasan nasabah serta mampu mengkomunikasikan produk dan jasa bank syariah kepada nasabah secara benar dan jelas, dengan tetap memenuhi prinsip syariah; dan

Keenam, program sosialisasi dan edukasi masyarakat secara lebih luas dan efisien melalui berbagai sarana komunikasi langsung, maupun tidak langsung (media cetak, elektronik, online/web-site), yang bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang kemanfaatan produk serta jasa perbankan syariah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.Inovasi Produk Perbankan Syariah di Indonesia

Untuk menunjang perkembangan bank syariah, maka sosialisasi perbankan syariah kepada masyakarat luas terus dilakukan dengan berbagai strategi, antara lain strategi sosialisasi berbasis komunitas yaitu strategi komunikasi lebih terfokus terhadap segmen nasabah sesuai dengan grand strategy pengembangan pasar perbankan syariah (5 segmen nasabah : segmen pokoknya syariah, segmen ikut arus, segmen sesuai manfaat dan kebutuhan, segmen terpaksa dan segmen pokoknya konvensional). Untuk tahun 2010 kemarin prioritas komunitas yang menjadi sasaran utama kegiatan sosialiasasi adalah: komunitas wanita dan pemuda (women and youth), komunitas pengusaha (entrepreneurs) dan komunitas pengguna internet (netizen) 12

11 Harjan Syuhada et.al. op cit hal. 102

(20)
(21)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Ijtihad merupakan upaya untuk menggali suatu hukum yang sudah ada pada zaman Rasulullah SAW. Hingga dalam perkembangannya, ijtihad dilakukan oleh para sahabat, tabi’in serta masa-masa selanjutnya hingga sekarang ini. Meskipun pada periode tertentu apa yang kita kenal dengan masa taqlid,

(22)

DAFTAR PUSAKA

Rachmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqih. Bandung: Pustaka Setia.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penentuan pengembangan proyek maka menurut (Nasiri, 2011) harus memenuhi kriteria yaitu proyek yang bisa mewakili model proses pengembangan sistem informasi

Hal-hal yang tertulis dalam refleksi diri ini sangatlah belum mewakili apa yang praktikan dapatkan selama praktik pengalaman lapangan di Lab school.. JADWAL PPL PAUD

Tarif penggunaan kendaraan, tarif bimbingan, pendidikan dan pelatihan, dan penelitian dan pengembangan, tarif penggunaan bantuan kesehatan, dan tarif penggunaan lahan, gedung,

Pengujian hipotesis minor 2 (H0 2 ) yaitu pengujian kelas eksperimen 2 dengan kelas control, nilai F yang diperoleh dari perhitungan (F-hitung = 6.48) lebih

Dataset sebagai input yang digunakan dalam makalah ini adalah data potensi desa tahun 2011 dengan 205 fitur (variabel numerik) dan class desa tertinggal atau tidak

Bata merah dibuat dari tanah liat atau lempung dengan atau tanpa campuran bahan lain, yang dibakar pada suhu yang tinggi sehingga tidak hancur lagi bila direndam air.. Material

Memperoleh pengetahuan mengenai hambatan yang dialami masyarakat sebagai penerima kredit dan UPK sebagai pelaksana kegiatan atau pemberi kredit dalam proses pemberian

Regulasi diri memegang peranan penting dalam diri narapidana karena dengan memiliki regulasi diri yang bagus seorang narapidana akan lebih siap dalam